• Tidak ada hasil yang ditemukan

MODEL PENGEMBANGAN SISTEM PEMBELAJARAN D

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "MODEL PENGEMBANGAN SISTEM PEMBELAJARAN D"

Copied!
93
0
0

Teks penuh

(1)

BAHRUR ROSYIDI | MODEL PENGEMBANGAN DICK AND CARREY 1 MODEL PENGEMBANGAN SISTEM PEMBELAJARAN DICK & CAREY

Dick Walter, Carey Lou dan Carey James. 2001.

The Systematic Design Of Instruction. Addison-Wesley Educational Publishers. New York.

Dick, Carey, dan Carey (2001) memandang desain pembelajaran sebagai sebuah sistem dan menganggap pembelajaran adalah proses yang sitematis. Pada kenyataannya cara kerja yang sistematis inilah dinyatakan sebagai model pendekatan sistem. Dipertegas oleh Dick, Carey, dan Carey (2001) bahwa pendekatan sistem selalu mengacu kepada tahapan umum sistem pengembangan pembelajaran

(Instructional Systems Development /ISD). Jika berbicara masalah desain maka masuk ke dalam proses, dan jika menggunakan istilah instructional design (ID) mengacu kepada instructional system development (ISD) yaitu tahapan analisis, desain,

pengembangan, implementasi, dan evaluasi. Instructional desain inilah payung bidang (Dick, Carey, dan Carey, 2001).

Komponen model Dick, Carey, dan Carey meliputi; pembelajar, pebelajar, materi, dan lingkungan. Demikian pula dilingkungan pendidikan non formal

meliputi; warga belajar (pebelajar), tutor (pembelajar), materi, dan lingkungan pembelajaran (Ditjen PMPTK PNF, 2006). Semua berinteraksi dalam proses

pembelajaran untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Bila melihat komponen bekerja dengan memuaskan atau tidak maka perlu mengembangkan format evaluasi (Dick, Carey, dan Carey, 2001). Jika dari hasil evaluasi menunjukkan unjuk kerja pebelajar tidak memuaskan maka komponen tersebut direvisi untuk mencapai kriteria efektif dalam mencapai tujuan pembelajaran.

Komponen model Dick, Carey, dan Carey dipengaruhi oleh Condition of Learning hasil penelitian Robert Gagne yang dipublikasikan pertama kali pada tahun 1965. Condition of learning ini berdasarkan asumsi psikologi behavioral, psikologi

cognitive, dan konstruktivisme yang diterapkan secara eklektic (Dick, Carey, dan Carey, 2001).Tiga proyek utama yang dihasilkan oleh Gagne (Bostock, 1996) yaitu

1) instructional events, 2) types of learning outcomes, 3) internal conditions and external conditions.Ketiganya merupakan masukan yang penting dalam memulai kegiatan

desain pembelajaran.

Komponen dan tahapan model Dick, Carey, dan Carey lebih kompleks jika dibandingkan dengan model pembelajaran yang lain seperti Morrison, Ross, & Kemp (2001). Walaupun model Morrison, Ross, & Kemp juga memandang desain

pembelajaran sebagai sebuah sistem, tetapi sedikit berbeda. Mereka menyebutkan desain pembelajaran sebagai metode yang sistematistetapi bukan pendekatan

(2)

BAHRUR ROSYIDI | MODEL PENGEMBANGAN DICK AND CARREY 2 methods,dan evaluation yang selanjutnya dikembangkan menjadi 9 (sembilan) rencana desain pembelajaran.

Pada umumnya, tahap pertama dalam desain pembelajaran adalah analisis untuk mengetahui kebutuhan dalam pembelajaran, dan mengidentifikasi masalah-masalah apa yang akan dipecahkan. Model Dick, Carey, dan Carey menerapkan tahapan ini, dengan demikian pengembangan yang dilakukan berbasis kebutuhan dan pemecahan masalah. Produk yang direkomendasikan dalam model ini yaitu sebuah produk yang dapat digunakan untuk belajar mandiri (Nasution, 1995; Dick, Carey, dan Carey, 2001; Heinich, Molenda, Russel, & Smadino, 2002). Model ini juga

memungkinkan warga belajar menjadi aktif berinteraksi karena menetapkan strategi dan tipe pembelajaran yang berbasis lingkungan. Dengan bentuk pembelajaran yang berbasis lingkungan, yang disesuaikan dengan konteks dan setting lingkungan sekitar atau disebut juga sebagai situational approach oleh Canale & Swain (1980)

memungkinkan pebelajar bahasa (sebagaimana dinyatkan oleh Sadtono, 1987) dapat mengoptimalkan kompetensi komunikatif.

Seperti yang diuraikan sebelumnya, tahapan model pengembangan sistem pembelajaran (Instructional Systems Develovment / ISD) Dick, Carey, dan Carey (2001) terdiri dari 10 tahapan. Tahapan tersebut dapat dicermati sebagaimana dalam gambar 2.2. Khusus tahapan ke 10 tidak dimasukkan dalam gambar, karena itu landasan teori penelitian ini dikembangkan berdasarkan 9 tahapan. Berikut dijelaskan tahapan

pengembangan sistem pembelajaran Dick, Carey, and Carey:

1. Analisis Kebutuhan Untuk Menentukan Tujuan

Analisis kebutuhan untuk menentukan tujuan pembelajaran adalah langkah pertama yang dilakukan untuk menentukan apa yang anda inginkan setelah warga belajar melaksanakan pembelajaran. Tujuan pembelajaran dapat diperoleh dari serangkaian tujuan pembelajaran yang ditemukan dari analisis kebutuhan, dari kesulitan-kesulitan warga belajar dalam praktek pembelajaran, dari analisis yang dilakukan oleh orang-orang yang bekerja dalam bidang, atau beberapa keperluan untuk pembelajaran yang aktual.

2. Melakukan Analisis Pembelajaran

Setelah mengidentifikasi tujuan-tujuan pembelajaran, langkah selanjutnya adalah menentukan langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk mencapai tujuan

(3)

BAHRUR ROSYIDI | MODEL PENGEMBANGAN DICK AND CARREY 3 3. Menganalisis Warga Belajar Dan Lingkungannya

Analisis pararel terhadap warga belajar dan konteks dimana mereka belajar, dan konteks apa tempat mereka menggunakan hasil pembelajaran. Keterampilan-keterampilan warga belajar yang ada saat ini, yang lebih disukai, dan sikap-sikap ditentukan berdasarkan karakteristik atau setting pembelajaran dan setting lingkungan tempat keterampilan diterapkan.Langkah ini adalah langkah awal yang penting dalam strategi pembelajaran.

4. Merumuskan Tujuan Khusus

Menuliskan tujuan unjuk kerja (tujuan pembelajaran). Berdasarkan analisis tujuan pembelajaran dan pernyataan tentang perilaku awal, catatlah pernyataan khusus tentang apa yang dapat dilakukan oleh warga belajar setelah mereka menerima pembelajaran. Pernyataan-pernyataan tersebut diperoleh dari analisis pembelajaran. Analisis pembelajaran dimaksudkan untuk mengidentifikasi keterampilan-keterampilan yang dipelajari, kondisi pencapaian unjuk kerja, dan kriteria pencapaian unjuk kerja.

5. Mengembangkan instrumen penilaian,

Berdasarkan tujuan pembelajaran yang tertulis, kembangkan produk evaluasi untuk mengukur kemampuan warga belajar melakukan tujuan pembelajaran. Penekanan utama berada pada hubungan perilaku yang tergambar dalam tujuan pembelajaran dengan untuk apa melakukan penilaian.

6. Mengembangkan Strategi Pembelajaran

Strategi pembelajaran meliputi; kegiatan prapembelajaran (pre-activity), penyajian informasi, praktek dan umpan balik (practice and feedback, pengetesan (testing), dan mengikuti kegiatan selanjutnya.Strategi pembelajaran berdasarkan teori dan hasil penelitian, karakteristik media pembelajaran yang digunakan, bahan pembelajaran, dan karakteristik warga belajar yang menerima pembelajaran.Prinsip-prinsip inilah yang digunakan untuk memilih materi strategi pembelajaran yang interaktif.

7. Mengembangkan Materi Pembelajaran

Mengembangkan dan memilih materi pembelajaran, produk pengembangan ini meliputi petunjuk untuk warga belajar, materi pembelajaran, dan soal-soal. Materi pembelajaran meliputi : petunjuk untuk tutor, modul untuk warga belajar, transparansi OHP,

(4)

BAHRUR ROSYIDI | MODEL PENGEMBANGAN DICK AND CARREY 4 8. Merancang & Mengembangkan Evaluasi Formatif

Dalam merancang dan mengembangkan evaluasi formative yang dihasilkan adalah instrumen atau angket penilaian yang digunakan untuk mengumpulkan data.Data-data yang diperoleh tersebut sebagai pertimbangan dalam merevisi pengembangan

pembelajaran ataupun produk bahan ajar. Ada tiga tipe evaluasi formatif : uji perorangan (one-to-one), uji kelompok kecil (small group) dan uji lapangan (field evaluation).

9. Merevisi pembelajaran

Data yang diperoleh dari evaluasi formative dikumpulkan dan diinterpretasikan untuk memecahkan kesulitan yang dihadapi warga belajar dalam mencapai tujuan.Bukan hanya untuk ini, singkatnya hasil evaluasi ini digunakan untuk merevisi pembelajaran agar lebih efektif.

10. Mengembangkan Evaluasi Sumatif

(5)

BAHRUR ROSYIDI | MODEL PENGEMBANGAN DICK AND CARREY 5

Langkah 1

ANALISIS KEBUTUHAN UNTUK MENGIDENTIFIKASI TUJUAN PEMBELAJARAN

(Assessing Need to Identify Instructional Goal(s))

A. Latar Belakang

Mungkin hal yang paling kritis dalam proses desain Pembelajaran adalah

mengidentifikasi tujuan Pembelajaran. Pada perancangan desain Pembelajaran yang sistematika merekomendasikan untuk menggunakan pendekatan teknologi kinerja, di mana tujuan Pembelajaran didasarkan pada analisis kinerja, penilaian kebutuhan dari permasalahan yang ada. Tidak ada solusi yang mudah dan tunggal perlu ada proses yang sistematis untuk memecahkan masalah secara efektif.

B. Konsep Pengembangan

Analisis kebutuhan untuk menentukan tujuan pembelajaran adalah langkah pertama yang dilakukan untuk menentukan apa yang inginkan setelah warga belajar

melaksanakan pembelajaran.

Tujuan pembelajaran dapat diperoleh dari serangkaian tujuan pembelajaran yang ditemukan dari analisis kebutuhan, dari kesulitan-kesulitan warga belajar dalam praktek pembelajaran, dari analisis yang dilakukan oleh orang-orang yang bekerja dalam

bidang, atau beberapa keperluan untuk pembelajaran yang aktual.

Dick and Carrey menjelaskan bahwa tujuan pembelajaran adalah untuk menentukan apa yang dapat dilakukan oleh anak didik setelah mengikuti kegiatan pembelajaran.

Komponen-komponen tujuan menurut Degeng (1989), Uno (1993) adalah audience, behavioral, conditions, dan degree atau yang lebih mudah dikenal dengan sebutan ABCD.

Secara garis besar proses untuk mendapatkan informasi tentang tujuan yang

(6)

BAHRUR ROSYIDI | MODEL PENGEMBANGAN DICK AND CARREY 6 1. Analisis Kinerja (Performance Analysis)

Maksud dari studi performance analysis adalah untuk mendapatkan informasi pada masing masing komponen dalam model tersebut supaya menjawab

persoalan-persoalan dan mengidentifikasi kemungkinan solusi yang diambil. Jika solusi tersebut diterapkapkan pada ketrampilan yang baru atau memperbaharui/membangkitkan

ketrampilan yang lama kemudian direncakan untuk mendesain pembelajaran yang akan dibuat.

2. Penilaian Kebutuhan (Need Assessment)

Penilaian kebutuhan adalah sebuah pengamatan yang dilakukan untuk melihat atau mengkaji antara harapan dan kenyataan.Ada tiga komponen dalam logika penilaian kebutuhan, Komponen pertama menetapkan suatu standar atau tujuan yang disebut sebagai status yang diinginkan.

3. Analisis Pekerjaan (Job Analysis)

Job Analysis (Analisa pekerjaan) adalah sebuah proses pengumpulan, menganalisis, dan mensintesis deskripsi tentang apa yang dilakukan orang dalam pekerjaan mereka. Proses analisis pekerjaan dimulai menginventarisir pekerjaan yang biasa dilakukan oleh pekerjaan, kemudian digolongkan dalam kategori tugas-tugas yang memerlukan solusi dengan menggunakan Pembelajaran.

4. Memperjelas Tujuan Pembelajaran (Clarifying Instructional Goals)

Pada proses mengumpulkan informasi tujuan terkadang terdapat beberapa pernyataan tujuan yang samar atau tidak jelas tujuan. Sering muncul tujuan yang sulit diukur seperti

mengandung kata “menghargai”, “memiliki kesadaran dan seterusnya. Pada konteks ini

perancang harus melakukan beberapa prosedur untuk memperjelas tujuan yang samar tadi.

5. Pembelajar, Lingkungan dan Alat (Learner, Context and Tools)

Sedangkan aspek yang paling penting dari sebuah tujuan Pembelajaran adalah

deskripsi dari apa yang pelajar akan dapat melakukannya, deskripsi yang tidak lengkap tanpa indikasi (l) siapa pelajar, (2) di mana mereka akan menggunakan keterampilan , dan (3) alat-alat yang akan tersedia.

6. Kriteria dalam Menetapkan Tujuan Pembelajaran (Criteria for Establishing

(7)

BAHRUR ROSYIDI | MODEL PENGEMBANGAN DICK AND CARREY 7 Kadang-kadang proses penetapan tujuan yang tidak sepenuhnya rasional, yaitu tidak mengikuti proses penilaian kebutuhan sistematis. Faktor lain misalnya pertimbangan politik dan ekonomi serta teknis atau yang akademis.

C. Hasil Pengembangan Mengenali Tujuan Pembelajaran (Identify Instructional

Goals)

Untuk mengenali tujuan Pembelajaran pendidikan seni budaya yang akan diberlakukan di sekolah menengah pertama kelas VII dilakukan beberapa analisis, antara lain :

1. Daftar Tujuan hasil analisis tujuan.

Hasil Analisis dari Kepala Sekolah :

1. Anak mampu menyanyikan lagu wajib nasional 2. Anak mengenal lagu-lagu daerah NTT

3. Anak mampu menyanyikan lagu daerah NTT 4. Anak mampu menyanyikan lagu bebas

5. Anak mampu memainkan salah satu alat musik 6. Anak mampu menggambar

7. Anak mampu menari tarian daerah seperti likurai, tebe, ja‟i, gawi, dll 8. Anak mampu membuat seni kriya

9. Anak mengenal hasil karya seni NTT 10. Anak mencintai seni NTT

11. Pemerintah perlu membantu pengadaan sarana dan prasarana kesenian, antara lain : Pakaian adat NTT, alat musik tradisional NTT, dan CD musik lagu-lagu khas NTT

Guru Kesenian :

1. Anak mampu menyanyikan lagu wajib nasional 2. Anak mengenal lagu-lagu daerah

3. Anak mampu menyanyikan lagu daerah NTT 4. Anak mampu menyanyikan lagu bebas

5. Anak mampu memainkan salah satu alat musik 6. Anak mampu menggambar

7. Anak mampu menari tarian daerah 8. Anak mampu membuat seni kriya 9. Anak mengenal hasil karya seni NTT 10. Anak mencintai seni NTT

(8)

BAHRUR ROSYIDI | MODEL PENGEMBANGAN DICK AND CARREY 8 Pembelajar :

1. Anak menghendaki bisa menggambar

2. Anak menghendaki bisa menyanyi terutama lagu-lagu pop 3. Anak menghendaki bisa mengenal menari

4. Anak menghendaki bisa menggambar 5. Anak menghendaki bisa menggambar

2. Need Assessment

Langkah kedua adalah mengadakan penilaian kebutuhan untuk kegiatan

pembelajaran Pendidikan Seni dan Budaya di SMP Giovani Kupang dengan hasil sebagai berikut :

1. Pendidikan Seni merupakan mata pelajaran untuk menyalurkan bakat dan minat, mengembangkan kreatifitas dalam karya seni peserta didik SMP Giovani Kupang.

2. Pendidikan Seni dan Budaya memberikan bekal pada seluruh peserta didik dalam hal ketrampilan dalam berkarya yang akan berguna bagi dirinya sendiri setelah peserta didik lulus dari lembaga.

Berkaitan dengan hal tersebut diatas , SMP Giovani Kupang sebagai lembaga pendidikan perlu memasukkan pendidikan seni dalam kurikulum.

3. Job Analysis

Secara umum lulusan dari Lembaga pendidikan menengah pertama belum memiliki ketrampilan yang cukup terutama ketrampilan kriya yang akan menjadi salah satu bekal ketrampilan dalam hidupnya di masyarakat. Dari fakta tersebut di atas perlu peningkatan kemampuan peserta didik, yaitu dengan menerapkan ketrampilan seni kriya pada mata pelajaran pendidikan seni budaya.

4. Memperjelas Tujuan Pembelajaran

Tujuan pembelajaran harus (1) jelas, pernyataan umum hasil pelajar (2) berkaitan dengan Identifikasi masalah dan penilaian kebutuhan, dan (3) dapat dicapai dengan pembelajaran daripada beberapa cara yang lebih efisien seperti meningkatkan motivasi karyawan.

Apa tujuan pembelajaran?

(9)

BAHRUR ROSYIDI | MODEL PENGEMBANGAN DICK AND CARREY 9 Apa hubungan antara tujuan dan penilaian kebutuhan belajar?

Tujuan pembelajaran secara langsung terkait dengan penilaian kebutuhan ketrampilan seni kriya. Hal ini juga berhubungan langsung dengan bukti bahwa ketrampilan seni kriya sangat berkorelasi dengan mutu lulusan,

Apakah instruksi cara yang paling efektif untuk mencapai tujuan?

Mengembangkan keterampilan seni kriya dengan pembelajaran dan praktek praktek secara langsung.

Siapa pembelajarnya?

Pebelajar adalah siswa kelas VII Sekolah Menengah Pertama Giovani Kupang yang telah setuju untuk menerima pembelajaran ketrampilan seni kriya.

Dalam konteks apa keahlian akan dia gunakan?

Pebelajar akan menggunakan keterampilan seni kriya mereka dalam masyarakat, untuk diaplikasikan sesuai dengan fungsinya.

5. Kriteria untuk menetapkan tujuan pembelajaran

Tujuan pembelajaran ketrampilan seni kriya dirancang dengan menggunakan kriteria ini.

Apakah tujuan pembelajaran yang dapat diterima oleh administrator?

Dalam hal ini, tim desain mewawancarai lembaga pendidikan, dan personel yang ada untuk menentukan persepsi mereka akan pentingnya dan kelayakan untuk penerapan ketrampilan. Desainer juga mewawancarai beberapa personil siswa untuk

berpartisipasi dalam penerapan ketrampilan seni kriya. Tanggapan positif tentang kemungkinan instruksi diterima dari semua diwawancarai.

Apakah ada sumber daya yang memadai (waktu, uang, dan personil) untuk mengembangkan instruksi?

Sekolah menyediakan dana yang cukup untuk pengembangan Pembelajaran dan untuk mengembangkan bahan-bahan yang diperlukan.

Apakah isi stabil?

(10)

BAHRUR ROSYIDI | MODEL PENGEMBANGAN DICK AND CARREY 10 Apakah pelajar tersedia?

Pebelajar tersedia, yaitu siswa kelas VII Sekolah Menengah Pertama untuk

berpartisipasi dalam pelaksanaan pembelajaran baik secara teori maupun praktik.

(11)

BAHRUR ROSYIDI | MODEL PENGEMBANGAN DICK AND CARREY 11

Langkah ke-2

MELAKUKAN ANALISIS PEMBELAJARAN

(Conduct Instructional Analysis)

A. Latar Belakang

Analisis Pembelajaran merupakan langkah kedua dari desain Pembelajaran model Dick and Carey. Tujuan utama dari analisis Pembelajaran adalah menentukan komponen utama dari tujuan pembelajaran serta mengidentifikasi keterampilan bawahan dari setiap langkah untuk mencapai tujuan Pembelajaran tersebut.Komponen utama dari tujuan Pembelajaran berisi langkah-langkah yang pebelajar harus mampu lakukan untuk mencapai tujuan Pembelajaran.Langkah kedua dari analisis Pembelajaran analisis keterampilan bawahan sampai menemukan perilaku masukan.

B. Konsep Analisis Pembelajaran.

Secara umum analisis Pembelajaran ada dua langkah, yaitu analisis tujuan (goal analysis) dan analisis keterampilan bawahan (subordinat skill analysis). Sebuah Analisis Tujuan adalah suatu analisis untuk menghasilkan langkah-langkah utama dalam mencapai tujuan pembelajaran dan Analisis Keterampilan Bawahan adalah sebuah analisis keterampilan yang diperlukan pebelajar untuk mencapai tujuan sampai pada keterampilan paling dasar (paling murni) serta ditentukannya sebuah garis entry behaviors.

Langkah utama adalah langkah-langkah keterampilan yang diperlukan oleh pembelajar untuk dapat menguasai tujuan pembelajaran.Keterampilan bawahan adalah

keterampilan yang secara sendiri mungkin tidak penting tetapi secara keseluruhan sebagai merupakan keterampilan-keterampilan yang secara berurutan untuk mencapai keterampilan yang lebih tinggi atau keterampilan super-ordinat. Garis perilaku masukan (entry behavior) adalah garis yang menjadi batas antara keterampilan yang akan

diajarkan dengan keterampilan yang sudah dikuasai oleh pebelajar sebelum melakukan pembelajaran.

1. Analisis Tujuan

Analisis Tujuan mencakup dua langkah mendasar.Yang pertama adalah

(12)

BAHRUR ROSYIDI | MODEL PENGEMBANGAN DICK AND CARREY 12 Paragraf berikut akan menjelaskan empat rana belajar gagne dan menentukan langkah-langkah umum dalam mencapai sebuah tujuan.

a. Informasi Verbal.

Informasi Verbal adalah kapabilitas seseorang untuk mengungkapkan informasi, fakta, atau label yang tersimpan dalam bentuk bahasa baik secara lisan maupun

tertulis.Dalam informasi verbal tidak ada manipulasi simbolik, tidak ada penyelesaian masalah atau juga tidak ada aturan penerapan.Informasi verbal hanya menyimpan informasi itu dan menariknya kembali untuk dites. . Teknik analisa Pembelajaran yang digunakan bagi informasi verbal disebut analisa rumpun (cluster analysis).

Contohnya : mengenal bahan-bahan yang digunakan untuk membuat kartu ucapan.

b. Keterampilan Intelektual.

Keterampilan intelektual adalah keterampilan yang memerlukan aktivitas kognitif yang khas dalam arti bahwa pelajar harus dapat memecahkan masalah atau melakukan suatu kegiatan dengan informasi atau contoh yang tidak dijumpai

sebelumnya.Keterampilan intelektual terdiri dari tiga macam, yaitu membentuk konsep, menerapkan aturan, dan memecahkan masalah.Analisa yang digunakan untuk

mendapatkan keterampilan bawahan intelektual menggunakan pendekatan hierarki.

Contohnya : mampu menentukan letak titik yang menjadi perpotongan antara kedua titik yang saling berpotongan dalam bidang gambar.

c. Keterampilan Psikomotor.

Keterampilan psikomotorik adalah keterampilan yang harus dikuasai pebelajar yang memerlukan aktivitas motorik (tindakan otot atau fisik), dengan atau tanpa

perlengkapan, walaupun harus disertai dengan tindakan mental / kognitif untuk mencapai tujuan tertentu.Analisa yang digunakan untuk mengenali keterampilan psikomotor adalah analisa prosedural.

Contohnya : Mampu menempel accesoris pada media yang akan dijadikan kartu ucapan.

d. Sikap.

Tujuan sikap adalah tujuan yang mengharuskan pebelajar memilih mengerjakan

(13)

BAHRUR ROSYIDI | MODEL PENGEMBANGAN DICK AND CARREY 13 memilih makanan yang bergizi, dan sebagainya. Ciri Tujuan sikap yang lain ialah bahwa tujuan itu barangkali tidak akan tercapai pada akhir Pembelajaran. Itu kerap kali merupakan tujuan jangka panjang yang sangat penting, tetapi sangat sulit menilainya dalam jangka pendek.

Tujuan sikap terkadang menyertai tujuan kemampuan intelektual atau keterampilan psikomotorik, atau informasi verbal.

e. Strategi Kognitif

Strategi kognitif adalah meta processes yang digunakan untuk mengatur cara kita berpikir tentang hal-hal dan memastikan belajar kita sendiri, mengingat dan berpikir serta belajar teknik berpikir, cara menganalisis masalah, ancangan untuk memecahkan masalah. Cara mengingat nama, cara mengirit bensin. Keterampilan berada lebih tinggi dibandingkan dengan keterampilan intelek. Karena pada strategi kognitif kita sudah menggunakan keterampilan intelek untuk mencari cara dalam memecahkan masalah.

f. Prosedur Menganalisis Tujuan

Prosedur menganalisis tujuan adalah daftar langkah-langkah spesifik yang akan dilakukan pebelajar saat mewujudkan tujuan Pembelajaran. Setiap langkah ini dinyatakan dalam sebuah kotak seperti ditunjukkan pada diagram alur di bawah ini:

Seorang pebelajar yang ingin menguasai tujuan Pembelajaran harus mengerjakan langkah-langkah tersebut. Setelah melakukan langkah 1, para pelajar akan kemudian melakukan langkah 2, lalu 3, 4, dan 5. Setelah melakukan langkah 5, proses akan lengkap, dan jika dilakukan dengan benar, akan dianggap sebagai demonstrasi kinerja tujuan.

(14)

BAHRUR ROSYIDI | MODEL PENGEMBANGAN DICK AND CARREY 14 Dalam rangka menganalisis tujuan Pembelajaran tidak semudah yang dibayangkan, kadang kita sulit sekali mendefinisikan langkah-langkah pencapaian tujuan.Namun secara umum langkah itu minimal 3 atau 5 dan paling banyak 15 langkah. Jika kurang dari 3 maka perlu dianalisa ulang dan jika lebih dari 15 juga perlu dianalisa ulang mungkin terlalu detil.

Pada kasus lain, jika ada langkah balikan maka perlu kita buat garis putus-putus sebagai tanda arus balik/revisi. Dan jika dalam penulisan tidak cukup dalam satu baris maka kita bisa memutus dan menyambung di bagian bawah.

a. Analisis Sub-Step

Dalam mengidentifikasi terkadang dalam satu langkah kita perlu membuat sub langkah yang mewakili langkah tersebut. Misal pada langkah 2 kita membuat sub langkah 2.1, 2.2 dan 2.3 serta pada langkah 5 juga dibuat sub langkah 5.1 dan 5.2.

2. Analisis Keterampilan Bawahan

(15)

BAHRUR ROSYIDI | MODEL PENGEMBANGAN DICK AND CARREY 15 Selanjutnya kita akan melakukan mengidentifikasi keterampilan bawahan. Keterampilan bawahan adalah semua keterampilan yang mendukung tercapainya keterampilan-keterampilan pada langkah-langkah hasil analisa tujuan.

Keterampilan bawahan seringkali melibatkan beberapa domain belajar, identifikasi keterampilan bawahan sampai pada keterampilan paling bawah dan

murni.Keterampilan bawahan tersebut bisa berbentuk konsep, teori, aturan, pengertian, definisi, hukum, atau fakta.Terkadang secara sendiri keterampilan bawahan tidak begitu berarti tetapi dalam rangka mendukung tercapainya keterampilan diatas (super-ordinat) sangatlah berfungsi. Tanpa keterampilan itu mungkin tujuan Pembelajaran tidak akan tercapai. Keterampilan bawahan dalam peta analisis ditempat pada kotak-kotak di bawah kotak-kotak langkah-langkah analisis tujuan.

Bagan diatas menggambar posisi keterampilan bawahan dalam peta

analisa.Keterampilan pada langkah 1, langkah 2, langkah 3, langkah 4 dan langkah 5 merupakan keterampilan super-ordinat.Keterampilan bawahan pada langkah 1

(16)

BAHRUR ROSYIDI | MODEL PENGEMBANGAN DICK AND CARREY 16 hasil analisis rumpun.Dan Keterampilan bawahan pada langkah 3 merupakan hasil analisa prosedural. Analisa keterampilan bawahan ini akan dibahas berikut.

a. Analisis Hierarki

Analisa hierarkis digunakan untuk menganalisis langkah-langkah individu dalam analisis tujuan intelektual atau psikomotorik. Setelah kita mengidentifikasi seluruh keterampilan bawahan yang mendukung tercapainya tujuan.. Kemudian keterampilan-keterampilan bawahan ditulis kotak-kotak untuk memudahkan dalam penyusunan dalam peta konsep yang akan dibuat.

Pendekatan dengan analisa hierarki adalah sebuah analisa yang memperhatikan bahwa keterampilan-keterampilan disusun dari keterampilan tertinggi sampai pada titik keterampilan terendah.Ada satu hal yang harus dipertimbangkan bahwa keterampilan bawahan merupakan syarat untuk keterampilan di atas.Hal ini yang merupakan ciri dari analisa hierarki.

Setelah anda merasa puas sudah mengidentifikasikan semua sub-keterampilan yang diperlukan pebelajar untuk dapat menguasai tujuan Pembelajaran anda, anda

kemudian memeriksa hasil analisa anda, dan membeberkannya dalam satu peta analisa.

Dalam mendiagramkan analisa hierarki digunakan cara kebiasaan berikut:

1) Tujuan akhir Pembelajaran diletakkan di dalam kotak di puncak susunan hierarki. 2) Semua keterampilan intelek subordinat diperlihatkan di dalam kotak-kotak yang

dihubungkan dengan garis-garis yang berasal dari kotak-kotak atas dan bawahnya.

3) Keterampilan-keterampilan informasi verbal dan sikap dihubungkan dengan garis-garis mendatar, sebagaimana juga diperlihatkan dalam. bagian-bagian berikutnya. 4) Anak-anak panah harus menunjukkan bahwa alur keterampilan arahnya ke atas

menuju ke tujuan akhir.

5) Rumusan semua keterampilan subordinat harus menggunakan kata kerja yang menunjukkan apa yang pebelajar harus mampu lakukan. Hindari rumusan yang hanya menggunakan kata benda.

6) Dalam kenyataan sebenarnya, hierarki tidak perlu simetri. Bentuknya bisa segala macam.Tidak ada “satu” wujud penampakan hierarki yang benar.

Adalah penting untuk memeriksa kembali analisa anda beberapa kali, untuk memastikan bahwa anda telah mengenali semua keterampilan bawahan yang

(17)

BAHRUR ROSYIDI | MODEL PENGEMBANGAN DICK AND CARREY 17 diperlukan oleh pebelajar-pebelajar anda. Ini akan memungkinkan anda menentukan apakah anda sudah memasukkan semua keterampilan bawahan yang perlu.

b. Analisis Prosedural

Analisa prosedural ialah satu teknik yang digunakan untuk mengenali langkah-langkah keterampilan bawahan dalam analisis untuk tujuan intelektual atau keterampilan

psikomotorik.Setelah keterampilan bawahan atau lebih pas mungkin rincian

keterampilan untuk mencapai keterampilan diatas.Keterampilan ini lebih merupakan rincian langkah untuk mencapai tujuan diatasnya, setiap langkah ibawahnya bukan merupakan syarat untuk langkah selanjutnya. Analisa prosedural merupakan jenis analisis subskills seperti terlihat di bawah

(18)

BAHRUR ROSYIDI | MODEL PENGEMBANGAN DICK AND CARREY 18 langkah prosedural dari langkah 4. Langkah 4.2.1 adalah langkah hierarkis dari langkah 4.2. Kotak-kotak keterampilan bawahan dalam analisa prosedural disusun sejajar dimulai dari sebelah kanan sebagai keterampilan paling bawah atau prosedur pertama.

c. Analisis Rumpun

Analisa rumpun (cluster analysis) biasa digunakan pada tujuan informasi verbal. Analisa rumpun lebih berfungsi mengidentifikasi kategori atau komponen-komponen utama dari tujuan informasi verbal yang akan dicapai. Setiap kategori dalam informasi verbal

tersebut hampir tidak memiliki hubungan baik secara hierarki maupun prosedural, tetapi mungkin hanya memiliki kemiripan atau memiliki fungsi sama dalam pencapaian tujuan yang dianalisa. Contohnya : tujuan menuliskan nama-nama profinsi di pulau sumatra

Langkah yang harus dilakukan dalam analisa rumpun adalah menempatkan kotak-kotak keterampilan bawahan hasil Identifikasi pada posisi yang sama seperti pada analisis prosedural tetapi bukan, hubungannya dengan keterampilan super-ordinat seperti dalam analisis hierarki tetapi bukan.

d. Perilaku Masukan

Proses analisis Pembelajaran juga berfungsi membantu perancang mengidentifikasi Pembelajaran tentang apa yang sudah harus tahu atau mampu lakukan pembelajar sebelum mereka mulai belajar, keahlian ini disebut sebagai perilaku masukan.

(19)

BAHRUR ROSYIDI | MODEL PENGEMBANGAN DICK AND CARREY 19 mempelajari keterampilan ini?”Jawaban atas pertanyaan ini adalah satu atau lebih keterampilan bawahan. Jika Anda melanjutkan proses ini dengan masing-masing berturut-turut set keterampilan bawahan, bagian bawah hirarki akan berisi keterampilan yang sangat dasar.

(20)

BAHRUR ROSYIDI | MODEL PENGEMBANGAN DICK AND CARREY 20 Semua keterampilan dalam peta analisis adalah bagian yang akan kita belajarkan sedangkan yang dibawah garis disebut perilaku masukan tidak perlu di belajarkan, karena sudah dikuasai oleh pembelajar.

e. Sifat Kesementaraan

(21)

BAHRUR ROSYIDI | MODEL PENGEMBANGAN DICK AND CARREY 21 keterampilan yang ada pada peta. Kalau tingkah laku masukan yang dianggap sudah ada itu ternyata belum dikuasai oleh sebagian besar populasi sasaran, maka material Pembelajaran itu kehilangan fungsinya bagi banyak pebelajar. Tanpa persiapan yang memadai untuk menguasai keterampilan masukan, usaha-usaha para pebelajar

menjadi tidak berdaya guna dan materialnya tidak berhasil guna.

Kesalahan kedua terjadi apabila garis putus-putus itu ditarik terlalu rendah pada bagan analisa Pembelajaran. Dalam keadaan ini praduganya ialah pebelajar-pebelajar sedikit saja atau sama sekali tidak memiliki keterampilan-keterampilan yang diperlukan untuk mencapai tujuan Pembelajaran. Kesalahan seperti ini bisa berakibat fatal dari sudut pengembangan material Pembelajaran yang sebenarnya tidak diperlukan para

pebelajar, dan dari sudut waktu yang diperlukan bagi para pebelajar untuk mempelajari hal-hal guna mencapai tujuan yang sebenarnya sudah mereka kuasai.

1. Simpulan

Proses tujuan analisis dimulai hanya setelah Anda memiliki pernyataan yang jelas dari tujuan Pembelajaran. Langkah-langkah dalam proses analisis tujuan adalah :

1. Mengklasifikasikan tujuan menjadi salah satu dari empat wilayah belajar, yaitu sikap, keterampilan intelektual, informasi verbal dan keterampilan psikomotorik. 2. Mengidentifikasi langkah-langkah utama yang harus dilakukan peserta didik

untuk mencapai tujuan. Produk awal Anda harus dipandang sebagai draft dan harus tunduk pada evaluasi dan perbaikan.

3. Mengidentifikasi keterampilan bawahan dari semua langkah-langkah utama dalam pencapaian tujuan. Langkah ini harus sampai kepada keterampilan yang paling dasar dan murni.

4. Melakukan analisis keterampilan bawahan terhadap langkah-langkah utama.

1) Analisis klaster dilakukan pada langkah informasi verbal.

2) Analisis hirarkis dilakukan pada keterampilan intelektual dan psikomotorik. 3) Analisis prosedural dilakukan pada keterampilan intelektual dan

psikomotorik.

1. Proses analisis kadang perlu diulang – proses step-down digunakan sampai Anda percaya bahwa tidak ada keterampilan bawahan lebih lanjut masih harus diidentifikasi.

(22)
(23)
(24)
(25)

BAHRUR ROSYIDI | MODEL PENGEMBANGAN DICK AND CARREY 25

Langkah ke

3

MENGANALISIS PEMBELAJAR DAN LINGKUNGAN

(Analyze Learner and Context)

A. Latar Belakang

Kenyataan di lapangan banyak ditemui adanya ketidakcocokan antara Pembelajaran dengan kemampuan pebelajar, dengan lingkungan tempat belajar dan dengan

lingkungan setelah pembelajar menggunakan keterampilan. Oleh karena itu perancang tidak hanya menganalisis dan menentukan apa yang akan diajarkan, tetapi juga

menganalisis karakteristik dari peserta didik, konteks di mana belajar akan dilakukan, dan konteks di mana keterampilan pada akhirnya akan digunakan. Untuk keperluan ini kita melakukan analisis pembelajar dan analisis konteks.

Alasan lain bagi perancang untuk menganalisis pembelajar dan konteks adalah bahwa analisis ini tidak dapat dilakukan dalam satu kantor. Desainer harus berbicara dengan pembelajar, instruktur, dan manajer; mereka harus mengunjungi ruang kelas, fasilitas pelatihan, dan peserta didik tempat kerja untuk menentukan keadaan di mana peserta didik akan mendapatkan dan menggunakan keterampilan baru mereka. Seperti pada langkah 2 analisa Pembelajaran dan analisa pebelajar dan konteks sering digunakan secara simultan sebagai satu kesatuan, sehingga informasi dikumpulkan dari setiap komponen

B. Konsep Pengembangan

Untuk melakukan analisis pembelajar dan konteks ada tiga analisis yang dilakukan, yaitu analisis pembelajar, analisis konteks performansi dan analisis konteks learning.

1. Menganalisis Pembelajar (Analyze Learner)

Sebelum kita membahas analisis pembelajar, baik kita tahu dulu siapa pembelajar dalam desain yang akan dibuat. Pembelajar disini kadang disebut sebagai populasi target atau kelompok sasaran. Mari kita mulai dengan mempertimbangkan bahwa pebelajar mendapatkan seperangkat Pembelajaran. Kita akan mengacu pada pebelajar ini sebagai target population yaitu mereka adalah orang-orang yang akan dikenai

Pembelajaran secara tepat.

Informasi yang berguna yang akan didapat meliputi (1). Entry behaviour (Perilaku awal), (2).Pengetahuan awal tentang topik tertentu, (3).Sikap terhadap isi dan sistem

(26)

BAHRUR ROSYIDI | MODEL PENGEMBANGAN DICK AND CARREY 26 Pembelajaran, dan (8).Karakteristik kelompok. Paragraf berikut akan membahas secara lengkap informasi tersebut.

1) Perilaku Masukan.

Perilaku masukan maksudnya anggota populasi sasaran harus telah menguasai keterampilan tertentu sebelum proses Pembelajaran dimulai. Pada peta konsep perilaku masukan berada di bawah garis entry behaviors.

2) Pengetahuan Sebelumnya Tentang Topik.

Menekankan pentingnya menentukan apa yang peserta didik sudah tahu tentang topik yang akan diajarkan secara parsial. Mereka membangun pengetahuan baru dengan membangun pemahaman mereka sebelumnya, sehingga hal ini sangat penting bagi desainer untuk menentukan jangkauan dan sifat pengetahuan sebelumnya.

3) Sikap Terhadap Isi dan Sistem Penyampaian.

Sikap atau kesan pebelajar terhadap isi materi dan bagaimana akan disajikan akan mempengaruhi keberhasilan pembelajaran. Harapan populasi tentang cara

penyampaian materi akan menimbulkan motivasi.

4) Motivasi Akademik.

Tingkat motivasi pebelajar merupakan faktor yang sangat penting dalam mencapai pembelajaran yang sukses. Ketika pebelajar mempunyai tingkat motivasi atau interest yang rendah terhadap topik tertentu, pembelajaran hampir tidak terjadi.Keller (1987) mengembangkan sebuah model motivasi ARCS (perhatian, relevansi, kepercayaan dan kepuasan) yang diperlukan dalam kesuksesan belajar tersebut.

5) Pendidikan Dan Tingkat Kemampuan.

Menentukan tingkat prestasi dan kemampuan umum pebelajar. Informasi ini akan membantu mendapatkan gambaran jenis pengalaman pembelajaran yang mereka alami dan mungkin kemampuan mereka dalam mengatasi masalah terhadap pendekatan baru dan berbeda dalam pembelajaran.

6) Pembelajaran yang disukai.

Temukan keterampilan belajar dan kesukaan serta minat pebelajar untuk mendapatkan model pembelajaran yang sesuai. Dengan kata lain, apakah pebelajar menyukai

pendekatan ceramah atau diskusi dalam belajar atau apakah mereka mengalami

(27)

BAHRUR ROSYIDI | MODEL PENGEMBANGAN DICK AND CARREY 27 7) Sikap Terhadap Organisasi Pelatihan / Pendidikan

Populasi sasaran yang mempunyai sikap positif dan konstruktif terhadap organisasi yang menyediakan belajar.Beberapa penelitian telah mengindikasikan bahwa sikap-sikap yang menunjang terhadap kesuksesan pembelajaran adalah berkaitan dengan keterampilan baru yang dapat diterapkan di tempat kerja.

8) Karakteristik Kelompok.

Analisa pebelajar secara benar akan menghasilkan dua jenis informasi tambahan yang dapat mempengaruhi dalam merancang pembelajaran. Pertama, tingkat keragaman populasi pebelajar.Kedua, interaksi langsung yang terjadi pada populasi pebelajar. Hal ini untuk mendapatkan dan mengembangkan kesan terhadap apa yang mereka ketahui dan bagaimana perasaan mereka.

Semua Variabel pembelajar ini akan digunakan untuk memilih dan mengembangkan tujuan Pembelajaran, dan mereka akan sangat mempengaruhi berbagai komponen dari strategiPembelajaran. Mereka akan membantu para desainer mengembangkan strategi motivasi untuk Pembelajaran dan akan menyarankan berbagai jenis contoh yang dapat digunakan untuk mengilustrasikan poin, cara-cara di mana belajar dapat (atau tidak) akan disajikan, dan cara untuk membuat praktek keterampilan yang relevan bagi pembelajar.

Mengumpulkan Data untuk Analisis Learner

Pengumpulan data tentang pembelajar dilakukan dengan melakukan wawancara terstruktur dengan manajer, instruktur, dan peserta didik dengan pola survei dan

kuesioner. Bisa juga dengan mengelola pretest untuk mengetahun perilaku masukan

pembelajar.

Keluaran Hasil dari analisis pebelajar termasuk deskripsi tentang peserta didik (1) entry sebelumnya perilaku dan pengetahuan tentang topik, (2) sikap terhadap konten dan potensi sistem pengiriman, (3) motivasi akademik, (4) sebelum pencapaian dan tingkat kemampuan, (5) belajar preferensi, (6) umum sikap terhadap organisasi memberikan pelatihan, dan (7) karakteristik kelompok.

1. 2. Analisis Konteks Performansi (Analysis of Performance Context)

(28)

BAHRUR ROSYIDI | MODEL PENGEMBANGAN DICK AND CARREY 28 1). Pengelolaan atau Dukungan Supervisor

Kita harus belajar tentang pengorganisasian yang mendukung terhadap pengharapan pebelajar untuk menerima keterampilan-ketrampilan tersebut.Penelitian menegaskan bahwa satu indikator kuat dalam penggunaan keterampilan baru tersebut adalah pengaturan (disebut Transfer of training) yang harus diterima oleh pebelajar.

2). Aspek Fisik

Aspek fisik dimana keterampilan tersebut akan diterapkan adalah apakah mereka menggunakannya berdasarkan perlengkapan, fasilitas, peralatan, waktu, atau sumber-sumber yang lain ?Data-data ini dapat digunakan untuk merancang sebuah

pembelajaran sehingga keterampilan tersebut dapat diterapkan pada lingkungan atau situasi yang mirip dengan tempat kerja.

3). Aspek Sosial

Pemahaman terhadap konteks sosial seperti bekerja sendiri atau merupakan anggota tim? Apakah pebelajar bekerja secara mandiri atau apakah mereka bekerja

mempresentasikan konsep atau idenya dalam pertemuan staf atau supervisor ?

4). Keterampilan Yang Relevan Dengan Tempat Kerja.

Untuk memastikan bahwa keterampilan baru yang akan diterima oleh pebelajar sesuai dengan kebutuhan yang sudah diidentifikasi, kita seharusnya memprediksikan

keterampilan-ketrampilan yang relevan yang akan dipelajari oleh pebelajar tersebut dengan situasi tempat mereka bekerja.

Pengumpulan Data untuk Pelaksanaan Analisis Konteks

Pengumpulan data dilakukan dengan kunjungan langsung ke lokasi yang tujuannya mengumpulkan data dari para pebelajar dan pengelola yang potensial dan mengamati lingkungan kerja, dimana keahlian-keahlian baru akan digunakan. Rangkaian prosedur pengumpulan data dasar ini mencakup wawancara dan observasi.

Hasil utama penelitian pada tahap ini adalah (1) suatu deskripsi lingkungan fisik dan organisasi, dimana keahlian tersebut digunakan, dan (2) rangkaian faktor khusus yang memudahkan atau bercampur dengan pemanfaatan keahlian baru oleh para pebelajar..

1. 3. Analisis Konteks Pembelajaran (Analysis of Learning Environment)

(29)

BAHRUR ROSYIDI | MODEL PENGEMBANGAN DICK AND CARREY 29 pelatihan bersama, atau salah satu dari banyaknya lokasi yang dihadiri oleh seorang klien.Bagaimana seharusnya di sini dapat berupa fasilitas, perlengkapan, dan sumber yang cukup mendukung instruksi yang diinginkan.

Dalam analisis konteks pembelajaran, fokusnya meliputi unsur-unsur berikut ini:

1). Penyesuaian lokasi dengan Kebutuhan Pembelajaran

Dalam pernyataan sasaran pembelajaran yang dirancang pada tahap awal model ini, peralatan dan item pendukung lainnya juga diperlukan untuk menunjukkan sasaran yang disusun.Apakah lingkungan pembelajaran yang Anda kunjungi mencakup

sasaran-sasaran ini?Dapatkah lingkungan tersebut sesuai dengan sasaran yang ada?

2. Penyesuaian Lokasi untuk Mendorong Lokasi Kerja.

Persoalan lain adalah penyesuaian lingkungan pelatihan dengan lingkungan kerja. Dalam lingkungan pelatihan, suatu upaya yang harus dilakukan untuk mendorong faktor-faktor dari lingkungan kerja yang secara kritis memang untuk ditampilkan.Apakah hal tersebut memungkinkan untuk dilakukan dalam konteks pelatihan yang telah

dirancang?Apakah yang harus diubah atau ditambahkan?

3). Penyesuaian untuk Pendekatan Penyampaian

Susunan kebutuhan peralatan dari pernyataan sasaran menunjukkan bagaimana seharusnya berkaitan dengan konteks pembelajaran, dan juga, konteks pelaksanaan.

4). Batasan-batasan Lokasi Pembelajaran yang Mempengaruhi Rancangan dan Penyampaian.

Seorang instruktur mengajar dua puluh hingga dua puluh empat pebelajar dalam suatu ruang kelas yang masih menggunakan metode pelatihan bersama.Pendidikan umum sendiri dipimpin oleh guru dengan dua puluh hingga dua puluh empat pebelajar.

(30)

BAHRUR ROSYIDI | MODEL PENGEMBANGAN DICK AND CARREY 30 Pengumpulan Data untuk Analisis Konteks Pembelajaran

Dalam banyak cara, analisis konteks pembelajaran bersifat sama terhadap lokasi kerja. Tujuan utama analisis ini adalah untuk mengenali fasilitas dan batasan yang ada dari lokasi tersebut.

Prosedur yang diikuti dalam menganalisa konteks pembelajaran adalah untuk merencanakan wawancara dengan instruktur, pengelola lokasi, dan pebelajar, jika memungkinkan.Begitu juga dengan analisis konteks pelaksanaan, maka rangkaian pertanyaan wawancara juga harus disiapkan.

Hasil-hasil pokok dari analisis konteks pembelajaran ini adalah sebagai berikut: (1) sebuah deskripsi tentang sejauh mana tingkat lokasi yang digunakan untuk

(31)

BAHRUR ROSYIDI | MODEL PENGEMBANGAN DICK AND CARREY 31

No Kategori informasi Sumber Data Diskripsi Karakteristik Pebelajar 1 Entry Behavior Pembelajaran langsung

Ujian

Rekaman Ujian Pengalaman sendiri

Pebelajar sudah mampu menggunakan jarum , menggunakan gunting , memotong kain, menjahit, mencari bahan kain strimin.

2 Sikap terhadap Materi dan sistem penyajian

Pembelajaran langsung Ujian

Rekaman Ujian Pengalaman sendiri

Pebelajar sudah mengetahui dan menyukai pembuatan sulaman dan praktik membuatnya.

3 Motivasi Pembelajaran langsung Ujian

Rekaman Ujian Pengalaman sendiri

Pebelajar memiliki motivasi yang tinggi terhadap materi pembuatan sulaman.

4 Pendidikan dan Tingkat Kemampuan

Pembelajarnya adalah murid yang sudah duduk di kelas VII SMP Negeri 2 Mojokerto.

Kemampuan pebelajar agak beragam mengenai materi pembuatan sulaman.

5 Gaya Belajar Pembelajaran langsung Ujian

Rekaman Ujian Pengalaman sendiri

Pebelajar lebih suka diberikan demonstrasi pembuatan sulaman.

6 Sikap terhadap Lembaga Pembelajaran langsung Ujian

Rekaman Ujian Pengalaman sendiri

Pebelajar pada umumnya bersikap positif terhadap lembaga.

7 Karakteristik Kelompok Umum

Pembelajaran langsung Ujian

Rekaman Ujian Pengalaman sendiri

Heterogernitas: Pebelajar memiliki latar belakang yang berbeda. Rata-rata usia peserta didik 11 tahun – 13 tahun.

Ukuran : Jumlah pebelajar kelas VII berjumlah 32 orang.

(32)

BAHRUR ROSYIDI | MODEL PENGEMBANGAN DICK AND CARREY 32 1. C. Hasil Pengembangan

1. Analisis pebelajar

2. Analisis Konteks Performansi

No Kategori informasi Sumber Data Karakteristik Pebelajar

1 Dukungan Kepala Sekolah Pembelajaran langsung Penghargaan: Kepala sekolah memberikan reward pada pebelajar. Bentuknya berupa reinforcement, set ifikat atau piagam. 2 Aspek fisik dari performansi

tempat

Pengalaman pribadi pebelajar Sekolah menyiapkan fasilitas, sarana

prasarana, waktu untuk pebelajar. Pebelajar bertanggungjawab untuk menyiapkan

seluruhnya.

3 Aspek sosial Pengalaman pribadi pebelajar Interaksi: Pebelajar langsung belajar dilokasi yang berbeda dan didukung oleh kelompok kerja atau keluarga atau kawannya yang tahu materi pembuatan sulaman.

4 Aspek relevansi skills to workplace. (.5)

Pengalaman pribadi pebelajar Identifikasi Kebutuhan: Pebelajar

membutuhkan Identifikasi kebutuhan yang diperlukan untuk pembuatan sulaman.

Aplikasi: Pebelajar mengidentifikasi bahan dan alat yang dibutuhkan untuk membuat sulaman.

Aplikasi yang akan datang: Pebelajar dapat membuat dan memprodusikan sulaman untuk mengembangkan kreatifitas, produktifitas, dan aspek ekonomis.

(33)

BAHRUR ROSYIDI | MODEL PENGEMBANGAN DICK AND CARREY 33 3. Analisis Konteks Pembelajaran

1.

No Kategori informasi Sumber Data Karakteristik Pebelajar

1 Lokasi/ tempat Belajar Pengalaman pribadi pebelajar Pebelajar melengkapi tugas belajar dari rumah . Pebelajar mengerjakan tugasnya dari

pengalaman yang berbeda dalam pembuatan sulaman.

2 Kesesuaian kebutuhan pembelajaran

Pengalaman pribadi pebelajar Strategi pembelajaran: Pebelajar melengkapi tugas belajar dari rumah . Pebelajar

mengerjakan tugasnya dari pengalaman yang berbeda dalam pembuatan sulaman.

Waktu: Pertemuan 3 kali X 40 menit. Peserta : 32 orang

Lokasi : SMP Negeri 2 Mojokerto 3 Kesesuaian kebutuhan

pebelajar

Pengalaman pribadi pebelajar Lokasi: SMP Negeri 2 Mojokerto

Kenyamanan: Pebelajar merasa nyaman/ senang belajar di sekolah

Ruang: Kelas VII

Pelengkapan: Gunting, jarum, benang, kain strimin..

4 Kelayakan tempat belajar Pengalaman pribadi pebelajar Karakteristik Pengawas : Pebelajar mengatur dirinya sendiri dalam proses belajar .

(34)

BAHRUR ROSYIDI | MODEL PENGEMBANGAN DICK AND CARREY 34

Langkah ke-4

MERUMUSKAN TUJUAN PEMBELAJARAN

( Write Instructional Goal )

A. Latar Belakang

Komponen yang paling terkenal dalam model desain pembelajaran adalah menulis tujuan performansi, atau sering disebut dengan behavioral objectives (tujuan perilaku). Robert Mager (1962). Tujuan penulisan tujuan performansi adalah untuk menjawab pernyataan tentang kemampuan apa yang akan dilakukan pebelajar ketika mengikuti dan menyelesaikan proses pembelajaran.

Ketika guru dilatih untuk merumuskan tujuan intruksional khusus, terhadap dua kesulitan utama yang dihadapi ketika proses mendefinisikan tujuan tidak termasuk dalam komponen yang integral pada model desain pembelajaran. Pertama, tanpa sebuah model yang jelas para guru menemui kesulitan untuk menentukan bagaimana memperoleh tujuan pembelajaran.Meskipun para pengajar dapat menguasai

mekanisme penulisan tujuan, tidak ada konsep dasar yang dapat mengarahkan dalam mendapatkan tujuan. Sebagai hasilnya beberapa guru kembali kepada isi yang terdapat dalam teks books untuk mengidentifikasi topik-topik yang akan mereka tulis sebagai behavioral objectives. Kedua, mungkin lebih sebagai kritikan adalah apa yang dilakukan dengan tujuan tersebut setelah ditulis oleh para guru. Tujuan ini hanya sebatas tulisan yang hanya berfungsi sebagai dokumen administrasi bagi seorang guru.

B. Konsep Pengembangan

1. Tujuan Performansi (Performance Objective)

Tujuan Performansi adalah sebuah gambaran detail tentang apa yang akan dapat dilakukan oleh pebelajar setelah menyelesaikan pembelajaran. Titik pertama mengacu pada 3 istilah yang sering digunakan ketika mendeskripsikan performance pebelajar. Robert Mager 1975 pertama kali mengunakan istilah behavioral objectives

,performance objectives dan instructional objectives. Anda seharusnya tidak memiliki pengertian yang keliru mengenai instructional objectives.Instructional objectives

menggambarkan jenis pengetahuan, keterampilan, atau sikap yang akan dipelajari oleh pebelajar.

Seperti yang telah di jelaskan sebelumnya tujuan pembelajaran mendeskripsikan mengenai apa yang akan dapat dilakukan oleh pebelajar ketika mereka menyelesaikan materi pembelajaran. Hal ini mendeskrpsikan situasi nyata, situasi belajar diluar,

dimana pebelajar akan menggunakan keterampilan dan pengetahuan tersebut. Ketika tujuan intruksional umum di ubah dalam Tujuan Kinerja disebut sebagai terminal

(35)

BAHRUR ROSYIDI | MODEL PENGEMBANGAN DICK AND CARREY 35 Performance objective diperoleh dari keterampilan dalam analisis intruksional.Satu atau lebih objective seharusnya ditulis dalam setiap skill yang di identifikasi dalam analisis pembelajaran.Kadang-kadang penulisan objektif tersebut di indetifikasikan sebagai entry behavior (sikap awal) karena objektif merupakan dasar pengembangan tes item untuk menentukan apakah pelajar memilki entry behavior seperti yang telah kita asumsikan.

2. Komponen Tujuan.

Bagaimana objektif ditulis sebagai goal statement, langkah-langkah dalam tujuan, subordinat skill dan entry behavior ?karya Robert Mager selanjutnya dijadikan sebagai standar dalam pengembangan objektif, model tersebut merupakan pernyataan yang meliputi tiga komponen utama, yaitu : kemampuan yang diukur, kondisi yang menjadi syarat, dan kriteria penilaian.

1). Derivations of Behaviors (Prilaku)

Dalam penyusunan tujuan diperlukan kata kerja operasional yang terukur dari masing masing ranah ( Kognitif, psikomotor, dan afektif). Penulisan tujuan ini harus mampu mengungkapkan jenis perilaku yang dirumuskan melalui proses identifikasi dalam analisis pembelajaran.

Keterampilan intelektual dapat dijelaskan dengan kata kerja operasional seperti mengidentifikasi, mengklasifikasi, menunjukkan, atau menghasilkan. Kata kerja ini mengacu pada kegiatan khusus seperti sebagai pengelompokan objek serupa,

membedakan satu hal dari yang lain, atau memecahkan masalah.( Golas, dan Keller , 2004) Gagne tidak menggunakan kata kerja seperti tahu, mengerti, atau menghargai karena kata kerja itu sulit untuk diukur.

Tujuan performansi yang berhubungan dengan keterampilan psikomotorik dapat dilakukan dengan memilih kata kerja yang dinyatakan dalam bentuk perilaku (misalnya, berlari, melompat, menari , atau mengemudi).

Ketika tujuan melibatkan aspek sikap, pelajar biasanya diharapkan untuk memilih

alternatif tertentu. Di sisi lain, hal itu mungkin melibatkan pelajar membuat pilihan dari di antara berbagai kegiatan.

2). Derivations of Conditions (Kondisi)

Komponen kedua dari tujuan menetapkan kondisi-kondisi tertentu yang menjadi bagian dari tujuan tersebut.Kondisi mengacu pada lingkungan dan sumber-sumber yang tersedia pada saat tujuan ditetapkan. Dalam pemilihan kondisi yang tepat

(36)

BAHRUR ROSYIDI | MODEL PENGEMBANGAN DICK AND CARREY 36 a. Syarat-syarat yang disediakan dimana siswa akan mengunakannya dalam

mendapatkan informasi (stimulus).

b. Karakteristik dari sumber-sumber materi yang di perlukan untuk mengerjakan tugas. Beberapa sumber materi sebagai berikut;

 Ilustrasi seperti table, grafik,

 Materi tertulis seperti; artikel surat kabar, story,

 Objek secara fisik seperti batu, daun, mesin atau alat

 Materi referensi, kamus, teks book, data base, web

c. Cakupan dan kompleksitas tugas, menyesuaikan dengan kemampuan dan pengalaman siswa.

d. Konteks yang relevan dengan dunia nyata adalah untuk membantu transfer pengetahuan dan penampilan dari pengajaran kedalam kinerja.

3). Derivations of Criteria

Bagian akhir dari objektif adalah kriteria dalam memutuskan keterampilan performance yang dapat diterima.dalam menetapkan kriteria yang logis, anda harus

mempertimbangkan tugas yang dilaksanakan. Beberapa tugas intelectual skill dan verbal information hanya mempunyai satu respon yang dianggap benar.Beberapa tugas intelectual skill dan verbal information tidak menghasilkan jawaban tunggal dan respon siswa yang bervariasi.

3. Langkah Penulisan Tujuan.

Disamping menentukan tujuan dan seperangkat pembelajaran yang sesuai dengan analisis konteks, para desainer seharusnya mereview pernyataan tujuan sebelum menetapkan tujuan. Langkah-langkah dalam menulis tujuan adalah sebagai berikut :

1. Edit tujuan untuk merefleksikan performance konteks.

2. Tulis terminal objective yang mencerminkan konteks learning environment.

3. Tulis tujuan untuk setiap langkah dalam analisis tujuan jika tidak terdapat substep.

4. Tulis tujuan untuk setiap substep.

5. Tulis tujuan untuk seluruh subordinate skill.

6. Tulis tujuan untuk entry behaviour jika terdapat siswa yang tidak memiliki kompetensi yang tercakup dalam entry behavior.

4. Evaluasi Tujuan.

(37)

BAHRUR ROSYIDI | MODEL PENGEMBANGAN DICK AND CARREY 37 peserta didik dalam pencapaian tugas. Jika tidak dapat menghasilkan barang logis sendiri, maka tujuan harus dipertimbangkan kembali.

Cara lain untuk mengevaluasi kejelasan tujuan adalah dengan meminta seorang rekan untuk membangun tes item yang sama dan sebangun dengan perilaku dan kondisi yang ditentukan. Jika item tidak diproduksi sangat mirip dengan salah satu yang ada dalam pikiran, maka tujuan tidak cukup jelas untuk berkomunikasi .

Di juga harus mengevaluasi kriteria yang telah ditetapkan dalam tujuan.Hal ini dapat dilakukan dengan menggunakan kriteria untuk mengevaluasi contoh-contoh yang ada kinerja yang diinginkan atau respons.

Sementara tujuan menulis, perancang harus sadar bahwa pernyataan-pernyataan ini kriteria yang akan digunakan untuk mengembangkan penilaian untuk pengajaran. Perancang mungkin lagi memeriksa kejelasan dan kelayakan tujuan dengan bertanya, “Bisakah desain item atau tugas yang menunjukkan apakah seorang pelajar dapat berhasil melakukan apa yang digambarkan dalam tujuan?”Jika sulit membayangkan bagaimana hal ini dapat dilakukan dalam fasilitas yang ada dan lingkungan, maka tujuan harus dipertimbangkan kembali.

Saran bermanfaat lainnya adalah sebaiknya tidak ia enggan untuk menggunakan dua atau bahkan tiga kalimat untuk secara memadai menggambarkan tujuan Tidak ada persyaratan untuk membatasi tujuan ke satu kalimat. Diasumsikan bahwa siswa akan mempelajari bahan-bahan sebelum melakukan keterampilan.

C. Hasil Pengembangan

Tujuan Istructional : Mengapresiasi karya seni rupa

No Keterampilan Subordinat Tujuan Performansi 1.1 Siswa dapat

mengekspresikan karya seni rupa

1. Dengan menyiapkan bahan dan alat siswa dapat mengumpulkan bahan yang sesuai untuk pembuatan kartu ucapan.

1.2 Siwa dapat membuat karya seni kriya berupa kartu ucapan dengan memanfaatkan barang bekas dilingkungannya

2. Melalui diskusi siswa dapat menyebutkan bebrapa alat untuk membuat seni kriya.

3. Dengan menyiapkan alat dan bahan siswa dapat memilih bahan dan alat yang sesuai untuk pembuatan kartu ucapan.

4. Melalui eksplorasi tentang bahan bahan bekas siswa dapat menuliskan macam-macam bahan bekas untuk membuat karya seni kriya.

(38)

BAHRUR ROSYIDI | MODEL PENGEMBANGAN DICK AND CARREY 38 membuat desain kartu ucapan.

6. Dengan latihan menbuat pola kartu ucapan siswa dapat membuat bagian-bagian kartu ucapan.

7. Melalui kerja kelompok siswa dapat mrenggabubgkan bagian-bagian pola kartu ucapan.

(39)

BAHRUR ROSYIDI | MODEL PENGEMBANGAN DICK AND CARREY 39

Langkah ke-5

MENGEMBANGKAN INSTRUMENT PENILAIAN

( Develop Assessment Instruments )

A. Latar Belakang

Konsep baru dalam pengukuran proses pembelajaran yang berpusat pada pembelajar (learned-centered) adalah penilaian yang berpusat pada pembelajar (learner-centered assessment ). Definisi learner-centered assessment sejajar dengan definisi tradisional test acuan patokan, sebagai element inti dari pembelajaran yang didesain secara sistematis. Tipe test ini penting untuk mengevaluasi perkembangan pebelajar dan kualitas pembelajaran. Hasil dari tes acuan patokan memberikan indikasi instuktur seberapa baik pebelajar mampu mencapai setiap tujuan pembelajaran, dan

mengindikasikan komponen mana dari pembelajaran yang bisa berjalan dengan baik, dan komponen mana yang perlu direvisi.Selain itu juga, tes acuan patokan

memungkinkan pebelajar untuk merefleksikan diri dengan mengaplikasikan kriteria untuk menilai hasil kerja mereka sendiri.

Berhubungan dengan hal tersebut di atas perlu dibahas bagaimana menyusun dan membangun aspek penilaian dalam pembelajaran yang mencakup semua jenis kegiatan yang digunakan untuk mengukur kemampuan peserta didik setelah menyelesaikan unit pembelajaran.

B. Konsep Pengembangan

Pengembangan tes muncul di point ini dan bukannya di setelah pembelajaran karena tes harus sesuai dengan tujuan performance.Performance yang ingin dicapai dalam tujuan harus sesuai dengan performance yang ingin dicapai dalam tes atau penugasan. Penilaian acuan patokan terbentuk dari item-item atau tugas-tugas performance yang langsung mengukur ketrampilan yang dideskripsikan dalam satu atau lebih tujuan performance.

1. Empat Tipe Tes yang dapat digunakan.

a. Entry behaviors test

Tes ini diberikan kepada pebelajar sebelum memulai pembelajaran. Tes ini berguna untuk mengukur ketrampilan syarat atau ketrampilan yang harus sudah dikuasai sebelum pembelajaran dimulai. Keterampilan syarat akan muncul di bawah garis entry behavior.

b. Pretest

(40)

BAHRUR ROSYIDI | MODEL PENGEMBANGAN DICK AND CARREY 40 untuk efisiensi.Jika semua ketrampilan sudah dikuasai maka tidak perlu ada

pembelajaran.Namun jika hanya sebagian materi yang sudah dikuasai maka data tes ini memungkinkan desainer untuk lebih efisien. Mungkin hanya review atau pengingat yang dibutuhkan.

Biasanya pretest dan entry behavior test dijadikan satu. Hasil dari tes entry behavior dapat digunakan desainer untuk mengetahui apakah pebelajar siap memulai

pembelajaran, sedangkan dari hasil pretest desainer dapat memutuskan apakah pembelajaran akan menjadi terlalu mudah untuk pebelajar.

c. Practice test

Tujuan tes ini adalah untuk membuat pebelajar lebih aktif berpartisipasi selama

pembelajaran. Tes ini memungkinkan pebelajar untuk menampilkan pengetahuan dan ketrampilan baru dan untuk refleksi diri sampai level berapa ketrampilan dan

pengetahuan mereka. Tes ini berisi ketrampilan yang lebih sedikit dan lebih fokus pada materi per pertemuan daripada per unit.Hasil tes ini digunakan instruktur untuk

memberikan feedback dan untuk memonitor pembelajaran.

d. Posttest

Tes ini paralel dengan pretes.Sama dengan pretes, posttest mengukur tujuan

pembelajaran.Postest harus menilai semua objektif dan terutama fokus pada objektif terakhir.Namun jika waktu tidak memungkinkan, maka hanya tujuan akhir dan

ketrampilan penting saja yang diujikan.

Postest mungkin digunakan untuk menilai performance pebelajar dan untuk memberi kredit karena telah menyelesaikan program.Tujuan yang terutama dari tes ini adalah agar desainer dapat mengidentifikasi area pembelajaran yang tidak bisa dilakukan dengan baik. Jika pebelajar gagal dalam tes, desainer harus dapat mengidentifikasi dalam proses pembelajaran yang mana tidak dimengerti oleh siswa.

Test Type Designers decicion Objectives Typically Tested

Tes entry behavior

 Apakah siswa siap

mengikuti pembelajaran?  Apakah siswa telah

memiliki ketrampilan prasarat?

 Ketrampilan prasarat atau keterampilan yang

ditandai dalam analisis pembelajaran

(41)

BAHRUR ROSYIDI | MODEL PENGEMBANGAN DICK AND CARREY 41 sebelumnya ?

 Ketrampilan manakah yang sebelumnya dikuasai ?

 Bagaimana dapat efesian mengembangkan

pembelajaran ?  Objek akhir

 Langkah utama dari analisis tujuan

Practice test Apakah siswa memiliki pengetahuan dan ketrampilan?

 Apakah kesalahan dan miskonsepsi mereka bentuk? ketrampilan sub objek tanpa tujuan

 Tipe skop pada pelajaran

Posttest Apakah pembelajar telah mencapai tujuan?

 Apaka pembelajaran lebih efektif pada setisp

(42)

BAHRUR ROSYIDI | MODEL PENGEMBANGAN DICK AND CARREY 42 Pertimbangan pertama adalah menyesuaikan bidang pelajaran dengan item atau tipe tugas penilaian.Verbal information biasanya di tes dengan objectif tes.Tes bentuk objektif meliputi format seperti jawaban singkat, jawaban alternatif, mencocokkan, dan pilihan ganda.

Objektif untuk intelektual skill lebih kompleks dan biasanya menggunakan model objektif, kreasi produk atau pertunjukan langsung.

Penilaian untuk ranah afektif juga kompleks. Biasanya tidak ada cara langsung untuk mengukur tingkah laku seseorang. Penilaian di ranah ini biadanya dilakukan dengan observasi.

Penilaian ranah psikomotor biasanya dilakukan dengan mendemonstrasikan

tugas.Untuk melihat apakah setiap langkah telah dilakukan dengan baik oleh pebelajar, guru membuat check-list atau rating-scale.

1. 3. Menentukan Level Penguasaan

Peneliti yang meneliti sistem penguasaan pelajaran menyarankan bahwa penguasaan equivalent dengan level keberhasilan yang diharapkan dari pebelajar yang terbaik. Metode untuk menentukan level penguasaan menggunakan acuan norma.

Pendekatan yang kedua, bisa digunakan cara statistik. Jika desainer ingin memastikan bahwa pebelajar benar-benar mengerti ketrampilan sebelum mereka melanjutkan tahap pembelajaran selanjutnya, maka kemungkinan-kemungkinan harus disediakan untuk menampilkan ketrampilan sehingga hampir tidak mungkin keberhasilan menjadi hasil utama.Jika menggunakan soal pilihan ganda sangat mudah untuk menghitung

probabilitas kesempatan keberhasilan. Dengan tipe soal yang lain, lebih sulit dilakukan penghitungan tapi lebih mudah untuk meyakinkan orang lain bahwa keberhasilan bukan sekedar kesempatan saja

4. Menulis Item Tes

Ada empat kategori tes yang berkualitas, yaitu:

a. Berpusat pada Tujuan (Goal-Centered Criteria)

Soal tes dan penugasan harus sesuai dengan tujuan utama pembelajaran.Soal dan penugasan harus sesuai dengan perilaku termasuk konsep dan action.Untuk

menyesuaikan jawaban soal tes dengan perilaku yang diharapkan dalam tujuan, desainer harus mempertimbangkan tugas belajar atau kata kerja yang ditunjukkan dalam tujuan.Butir soal harus mengukur perilaku yang sesungguhnya yang

dideskripsikan dalam tujuan.

(43)

BAHRUR ROSYIDI | MODEL PENGEMBANGAN DICK AND CARREY 43 Tes item dan penilaian tugas harus disesuaikan dengan kharakteristik dan kebutuhan siswa, meliputi kosa kata, bahasa, tingkat kompleksitas tugas, motivasi siswa, dan tingkat ketertarikan siswa, pengalaman siswa, dan latar belakang siswa serta kebutuhan khusus siswa.

c. Berpusat pada Kontek (Context-Centered Criteria)

Dalam membuat tes item dan penilaian tugas, desainer harus mempertimbangkan seting kinerja dan juga lingkungan belajar atau lingkungan kelas. Tes item dan tugas harus realistis atau relevan dengan seting kinerja. Kriteria ini membantu untuk

memastikan transfer pengetahuan dan skill dari belajar ke dalam lingkungan kinerja.

d. Berpusat pada Penilaian (Assessment-Centered Criteria)

Siswa akan merasa cemas selama assessment, penyusunan tes item dan penilaian tugas yang baik dapat menghilangkan rasa cemas siswa. Cetakan tes yang berkualitas meliputi kebahasaan baik, pengucapan dan tanda baca tepat dan tulisan jelas, petunjuk jelas, sumber materi dan pertanyaan jelas.Kriteria ini membantu siswa untuk melakukan dengan tenang.

1. Seting Penguasaan Kriteria

Terdapat beberapa saran yang dapat membantu anda dalam menentukan berapa banyak tes item pilihan yang diperlukan. Jika tes item memerlukan sebuah format respon yang memungkinkan siswa dapat menebak jawaban dengan benar anda dapat memasukkan beberapa tes item paralel untuk tujuan yang sama jika kemungkinan menebak jawaban yang benar kecil kemungkinan, anda dapat memutuskan satu atau dua item untuk menentukan kemampuan siswa

1. Jenis-jenis Item

Pertanyaan penting lainnya adalah jenis tes item atau penilaian tugas apa yang paling baik dalam menilai kinerja siswa? Perilaku tertentu dalam objektif memberikan point-point penting terhadap jenis item atau tugas yang dapat digunakan untuk menguji perilaku.

Contoh, jika point penting yang ditanyakan kepada siswa adalah mengingat fakta, maka tanyakan kepada siswa tersebut dengan jawaban siswa yang menyatakan fakta-fakta daripada memberikan pertanyaan yang meminta reaksi siswa seperti pada pertanyaan pilihan ganda.gunakan objektif sebagai guide, dalam menyeleksi jenis tes item yang memberi kesempatan kepada siswa untuk mendemonstrasikan kinerja tertentu yang terdapat dalam objektif. Setiap jenis test items mempunyai kelebihan dan

(44)

BAHRUR ROSYIDI | MODEL PENGEMBANGAN DICK AND CARREY 44 diperlukan untuk menganalisis dan memutuskan jawaban, suasana ujian, dan kemungkinan dalam menebak jawaban yang benar.

1. Menulis Petunjuk

Test harus terdapat petunjuk yang jelas, singkat. Permulaan tes biasanya menyebabkan kecemasan pada siswa yang akan dinilai. Oleh karena itu tes

seharusnya mengurangi keraguan pada pikiran siswa mengenai apa yang akan mereka kerjakan dalam menyelesaikan test.

Dibawah ini informasi petunjuk test yang biasanya ditemukan dalam test :

a. Judul test seharusnya memberikan kesan kepada siswa mengenai content atau isi daripada kata-kata sederhana seperti Pretest atau Test I

b. Pernyataan singkat yang menerangkan objective atau performance yang diujikan.

c. Siswa diberitahu untuk menebak jawaban jika mereka tidak yakin dengan jawaban yang benar.

d. Petunjuk khusus seharusnya diucapkan dengan benar.

e. Siswa diberitahu agar menulis nama mereka atau identitas mereka.

f. Siswa seharusnya diberitahu mengenai penggunaan perlengkapan khusus dalam menyelesaikan test seperti penggunan pensil, lembar jawaban mesin, teks-teks tertentu atau perlengkapan khusus lainnya.

1. Mengevaluasi Test dan Item Test.

Arah dan uji test item untuk tes objektif harus diujicobakan terlebih dulu sebelum digunakan untuk evaluasi formatif. Agar tidak terjadi kesalahan pada instrumen tes , perancang harus memastikan hal hal berikut:

1. arah tes jelas, sederhana, dan mudah diikuti;

2. masing-masing item tes jelas dan menyampaikan kepada peserta didik yang dimaksud dipembentukan atau stimulus;

3. kondisi-kondisi dimana dibuat tanggapan yang realistis;

4. metode respon jelas bagi peserta didik; dan

(45)

BAHRUR ROSYIDI | MODEL PENGEMBANGAN DICK AND CARREY 45 Test item yang tidak terjawab oleh sebagian besar pelajar harus dianalisis, direvisi, atau bahkan diganti sebelum tes diberikan lagi. Ketika membangun item tes, dan tes pada umumnya, perancang harus diingat bahwa tes mengukur kecukupan

(l) pengujian itu sendiri,

(2) bentuk tanggapan,

(3) bahan-bahan pengajaran,

(4) lingkungan pengajaran dan situasi, dan

(5) pencapaian pelajar.

C. Hasil Pengembangan

Tabel Desain Evaluasi Seni Rupa Kelas VII SMP Giovani Kupang

Sub Ketrampilan Intelektual

No Ketrampilan Tujuan Performance Test Item 1 Melalui eksplorasi tentang bahan

bahan bekas siswa dapat menuliskan macam-macam bahan bekas untuk membuat karya seni kriya.

2 Melalui diskusi siswa dapat menyebutkan bebrapa alat untuk membuat seni kriya.

Tuliskan 4 alat untuk membuat karya seni kriya!

Tabel Desain Evaluasi Seni Rupa Kelas VII SMP Giovani Kupang

Sub Ketrampilan Psikomotor

No Ketrampilam Tujuan Performance Test Item 1 Dengan menyiapkan bahan dan

alat siswa dapat mengumpulkan bahan yang sesuai untuk

pembuatan kartu ucapan.

Kumpulkan bebrapa bahan untuk membuat kartu ucapan minimal 10 macam !

2 Dengan menyiapkan alat dan bahan siswa dapat memilih bahan dan alat yang sesuai untuk pembuatan kartu ucapan.

Siapkan alat-alat yang digunakan untuk pembvuatan kartu ucapan minimal 4 buah! 3 Dengan mengamati beberapa

contoh pola / desain yang

Gambar

Tabel   Desain Evaluasi Seni Rupa Kelas VII SMP Giovani Kupang
Tabel Keputusan Perancang
Tabel   Desain Evaluasi Seni Rupa Kelas VII SMP Giovani Kupang
Tabel   Desain Evaluasi Seni Rupa Kelas VII SMP Giovani Kupang
+5

Referensi

Dokumen terkait

Model pembelajaran D-TAI bagi siswa dapat digunakan untuk:. 1) meningkatkan aktivitas siswa dalam proses pembelajaran; 2)

Berdasarkan analisis awal, hasil belajar mahasiswa mata kuliah Pemrograman Berorientasi Objek menunjukkan angka yang relatif masih rendah, diperkirakan rendahnya

Research and Development sebagai Model Pengembangan Sistem Pembelajaran Apakah sistem pembelajaran yang diasumsikan relevan untuk mengembangkan sistem pembelajaran bagi

kecerdasan sosial sedang mempunyai prestasi belajar matematika yang sama dengan siswa. yang mempunyai kecerdasan sosial

Tahap ini meliputi analisis awal akhir yang menemukan fakta hasil belajar peserta didik yang rendah disebabkan motivasi belajar yang rendah, buku peserta didik yang

Penelitian ini berlatar belakang dari diketahui bahwa motivasi siswa selama kegiatan pembelajaran masih kurang sehingga motivasi peserta didik rendah dan

Suasana ruang kelas kondusif ketika siswa belajar menggunakan flipbook interaktif 100 Berdasarkan hasil pengisian angket motivasi dan hasil observasi tersebut, dapat diketahui bahwa