Kata Pengantar
Buku “Reformasi Intelijen Negara” yang diterbitkan oleh PACIVIS FISIP-UI bekerja sama dengan Friedrich Ebert Stiftung merupakan salah satu upaya untuk memperkuat keinginan masyarakat sipil untuk memulai proses reformasi sistem intelijen nasional. Reformasi intelijen merupakan bagian integral dari proses reformasi nasional yang tampaknya belum menjadi agenda prioritas dalam sistem politik nasional. Padahal, gelombang kekerasan yang melanda Indonesia sejak orde reformasi bergulir membutuhkan suatu sistem peringatan dini yang tangguh yang dapat mengantisipasi kemungkinan merebaknya aksi-aksi kekerasan sistematis. Sistem peringatan dini tersebut memerlukan pengawalan dinas-dinas intelijen negara yang tangguh.
Tentunya, setiap ayunan pendulum untuk memperkuat dinas intelijen (sebagai bagian dari aktor keamanan) akan selalu diimbangi dengan tarikan kencang kelompok masyarakat sipil yang secara naluriah akan mengedepankan masalah HAM, Demokrasi, dan kebebasan sipil. Gerak pendulum ini harus bisa dikurangi deviasinya sehingga didapat suatu titik tengah yang akan meredam konfrontasi sporadis antara dua perspektif yang berbeda. Pencarian titik tengah tersebut merupakan salah satu tujuan utama dari Reformasi Intelijen Negara.
Pokja berlatar belakang peneliti dan/atau dosen, buku ini sarat dengan perspektif akademik yang diharapkan dapat mengisi kekosongan kajian teoritik tentang Intelijen Negara di Indonesia.
Kajian teoritik yang dimunculkan di buku ini terdiri dari tiga kelompok kajian. Kajian pertama dilakukan oleh Edy Prasetyono, Hariyadi Wirawan, Ikrar Nusa Bhakti, dan Makmur Keliat yang melihat adanya kebutuhan mutlak negara atas dinas-dinas intelijen yang tangguh. Kajian kedua dilakukan oleh Mohammad Fajrul Falaakh dan Rudi Satriyo Mukantardjo yang mencari bingkai-bingkai yuridis untuk membatasi ruang gerak intelijen negara. Kajian ketiga dilakukan oleh Aleksius Jemadu, Andi Widjajanto, Cornelis Lay, dan Kusnanto Anggoro yang meletakkan inisiasi reformasi intelijen negara dalam kerangka konsolidasi demokrasi.
Semoga, “buku hitam” intelijen negara karya para anggota Pokja ini dapat mengawali perluasan wacana reformasi intelijen negara di Indonesia.
Depok, November 2005
Andi Widjajanto
Direktur Eksekutif, PACIVIS FISIP-UI
Daftar Isi
Kata Pengantar oleh Andi Widjajanto (Direktur Eksekutif PACIVIS)i
Daftar Isi iii
Biodata Penulis v
Satu
Intelijen dan Keamanan Negara Ikrar Nusa Bhakti
1
Dua
Evolusi Intelijen Indonesia Hariyadi Wirawan
23
Tiga
Negara, Globalisasi dan Intelijen Makmur Keliat 50 Empat Intelijen Pertahanan Edy Prasetyono 84
Enam
Tindakan Intelijen Bukan Tindakan yang “Melawan Hukum”
Rudy Satriyo Mukantardjo
120
Tujuh
Konsolidasi Negara, Politik Transisi, dan Fungsi Intelijen
Kusnanto Anggoro
141
Delapan
Reformasi Intelijen dalam Konteks Konsolidasi Demokrasi di Indonesia Aleksius Jemadu
182
Sembilan
Menjaring Bayang-bayang: Dilema
Pengawasan Intelijen dalam Masyarakat Demokratis
Cornelis Lay
215
Sepuluh
Intel Juga Manusia; Bisa Direformasi! Andi Widjajanto
262
Biodata Penulis
Aleksius Jemadu
, Anggota Kelompok KerjaIndonesia untuk Reformasi Intelijen Negara, Ketua Jurusan Hubungan Internasional, FISIP-Universitas Parahyangan. Ia memperoleh gelar Ph.D dari Department of Political Sciences, Faculty of Social Sciences, KU Leuven Belgia.
Andi Widjajanto
, Fasilitator Kelompok Kerja Indonesia untuk Reformasi Intelijen Negara, Direktur Eksekutif PACIVIS FISIP-UI, Staf Pengajar Departemen Hubungan Internasional FISIP-UI untuk mata ajaran Pengkajian Strategi serta Perang dan Damai, dan staf pengajar di SESKO-TNI. Ia memperoleh gelar S.Sos dari Jurusan Hubungan Internasional, FISIP-UI (1996), Postgraduate Diploma (PGDipl.) dari London School of Oriental and African Studies (1997), MSc di bidang Teori dan Sejarah Hubungan Internasional dari London Schools of Economics and Political Sciences (1998), serta MS di bidang Kajian Pertahanan dari National Defense University, Washington D.C., USA (2003).(UGM), Yogyakarta, dan juga mengajar di Program Pascasarjana di Universitas yang sama. Di samping itu, ia menjabat sebagai Peneliti Senior di institusi-institusi seperti: Pusat Antar Universitas Studi Sosial (PAU-SS), UGM, Yogyakarta; Institute for Research and Empowerment (IRE), Yogyakarta; dan Center for Local Politics and Development Studies, Yogyakarta. Ia memperoleh gelar B.A. (1984) dari Jurusan Ilmu Pemerintahan, FISIPOL, UGM, Yogyakarta. Tiga tahun kemudian memperoleh gelar Drs. dari jurusan yang sama. Lalu pada tahun 1991 memperoleh gelar MA, pada bidang International Development Studies, dari St Marry’s University, Halifax, Canada.
Edy Prasetyono
, Ketua Kelompok Kerja Indonesia untuk Reformasi Intelijen Negara, Ketua Departemen Hubungan Internasional CSIS Jakarta. Memperoleh gelar Ph.D. dari International Relations Department, University of Birmingham, Inggris. Sejak tahun 1994, ia aktif mengajar sebagai Dosen Tamu SESKO-AL, Cipulir, SESKO-AU Lembang, dan SESKO-TNI, Bandung. Selain itu, ia juga aktif mengajar di Departemen Ilmu Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Indonesia.Hariyadi Wirawan
, Anggota Kelompok KerjaIndonesia untuk Reformasi Intelijen Negara, Ketua Departemen Hubungan Internasional, FISIP-UI. Ia mengajar di, sekaligus menjabat Sekretaris Program Pascasarjana, Departemen Ilmu Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Indonesia, Depok. Selain itu, ia juga menjabat sebagai Pemimpin Redaksi GLOBAL, Jurnal Politik Internasional dan Wakil Direktur Centre for East Asian Cooperation Studies, Jakarta. Ia memperoleh gelar Doktorandus dari Fakultas yang sama pada tahun 1986. Pada tahun 1991 memperoleh gelar Master of Social and Science dari Centre of Russian and East European Studies, University of Birmingham, UK. Tiga tahun kemudian memperoleh Postgraduate Diploma in Diplomatic Studies dari London Diplomatic Academy, University of Westminster, London, UK. Pada tahun 2004 memperoleh gelar Doctor of Philosophy dari School of International Studies, Jawaharlal Nehru University, New Delhi, India.
Ikrar Nusa Bhakti
, Anggota Kelompok Kerja Indonesia untuk Reformasi Intelijen Negara, Ahli Peneliti Utama (APU) di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Memperoleh gelar S1 dari Departemen Ilmu Politik, Program Studi Hubungan Internasional, FISIP UI, pada tahun 1983. Lalu memperoleh gelar Ph.D. dari School of Modern Asian Studies, Griffith University, Australia. Aktif mengajar di Departemen Ilmu Hubungan Internasional FISIP UI, Fakultas Ilmu Budaya UI, Ilmu Pemerintahan Universitas Padjajaran, Program S2 dan S3 Universitasdengan MIZAN dan GRASINDO.
Kusnanto Anggoro
, Anggota Kelompok Kerja Indonesia untuk Reformasi Intelijen Negara. Peneliti Senior pada Centre for Strategic and International Studies (CSIS) dan pengajar pada Program Pasca Sarjana Ilmu Hubungan Internasional, FISIP Universitas Indonesia, yang memusatkan perhatiannya pada masalah-masalah strategi dan keamanan. Dengan latarbelakang elektroteknik (Institut Teknologi Bandung) dan ilmu politik (FISIP, Universitas Indonesia), Kusnanto Anggoro menyelesaikan doktoralnya di bidang Kremlinologi dan Politik Rusia pada Institute of Russian and East European Studies, University of Glasgow, Kerajaan Inggris Raya (1994).Makmur Keliat
, Anggota Kelompok Kerja Indonesia untuk Reformasi Intelijen Negara, Direktur Eksekutif Center for East Asia Cooperation Studies (CEACoS). Ia memperoleh gelar Doctor of Philosophy dari School of International Studies, Jawaharlal Nehru University, New Delhi, India. Ia juga merupakan staf pengajar di Departemen Ilmu Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Indonesia.Mohammad Fajrul Falaakh
, Anggota KelompokKerja Indonesia untuk Reformasi Intelijen Negara, mengajar bidang hukum tata negara pada program S-1 dan S-2 di Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada dan anggota Komisi Hukum Nasional. Fajrul Falaakh menempuh pendidikan tinggi hukum di UGM, menyelesaikan program studi masyarakat dan kebudayaan Islam di London School of Oriental and African Studies serta mendalami perbandingan politik dan pemerintahan di London School of Economic and Political Science. Ia pernah bertugas sebagai anggota Komisi Konstitusi RI (2003-2004), Wakil Dekan Bidang Akademik di Fakultas Hukum UGM (2001-2004), National Governance Advisor (1998-1999) dan Justice Sector Advisor (2000) pada kantor UNDP Jakarta. Publikasi laporan penelitian, antara lain, Implikasi Hukum Reformasi TNI-POLRI (UGM, 2001).