• Tidak ada hasil yang ditemukan

Juklis Pemantauan Garam Beryodium

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Juklis Pemantauan Garam Beryodium"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

Juklis Pemantauan Garam Beryodium

Juklis Pemantauan Garam Beryodium

PEDOMAN

PEDOMAN

PEMANTAUAN GARAM BERYODIUM

PEMANTAUAN GARAM BERYODIUM

DI RUMAH TANGGA

DI RUMAH TANGGA

A. Latar Belakang

A. Latar Belakang

Masalah kekurangan yodium sudah sejak lama dikenal di Indonesia. Yodium

Masalah kekurangan yodium sudah sejak lama dikenal di Indonesia. Yodium

merupakan zat gizi mikro penting untuk pertumbuhan fisik dan perkembangan mental.

merupakan zat gizi mikro penting untuk pertumbuhan fisik dan perkembangan mental.

Masalah GAKY merupakan masalah yang serius mengingat

Masalah GAKY merupakan masalah yang serius mengingat dampaknya secaradampaknya secara

langsung atau tidak langsung mempengaruhi kelangsungan hidup dan kualitas

langsung atau tidak langsung mempengaruhi kelangsungan hidup dan kualitas

sumber daya manusia yang mencakup 3 aspek, yaitu aspek perkembangan

sumber daya manusia yang mencakup 3 aspek, yaitu aspek perkembangan

kecerdasan, aspek perkembangan sosial dan aspek perkembangan ekonomi.

kecerdasan, aspek perkembangan sosial dan aspek perkembangan ekonomi.

Hasil Riskesdas tahun 2007, secara keseluruhan (perkotaan dan pedesaan) rumah tangga yang Hasil Riskesdas tahun 2007, secara keseluruhan (perkotaan dan pedesaan) rumah tangga yang mengonsumsi garam mengandung cukup yodium mencapai 62,3%, yang mengonsumsi garam kurang mengonsumsi garam mengandung cukup yodium mencapai 62,3%, yang mengonsumsi garam kurang mengandung yodium sebesar 23,7% dan yang tidak mengandung yodium sebesar 14,0%. Berkaitan mengandung yodium sebesar 23,7% dan yang tidak mengandung yodium sebesar 14,0%. Berkaitan dengan itu Direktur Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat, mengeluarkan Surat Edaran Nomor : dengan itu Direktur Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat, mengeluarkan Surat Edaran Nomor : JM.03.03/BV/2195/09 tertanggal 3 Juli 2009, mengenai Percepatan Penanggulangan Gangguan Akibat JM.03.03/BV/2195/09 tertanggal 3 Juli 2009, mengenai Percepatan Penanggulangan Gangguan Akibat Kurang Yodium yang antara

Kurang Yodium yang antara lain menginstruksikan kepada seluruh Dinas Kesehatan Kabupatelain menginstruksikan kepada seluruh Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota agar n/Kota agar  meningkatkan kerjasama dengan instansi terkait dalam peningkatan garam beryodium dan menghentikan meningkatkan kerjasama dengan instansi terkait dalam peningkatan garam beryodium dan menghentikan suplementasi kapsul minya

suplementasi kapsul minyak yodium pada sasaran (WUS, ibu hamil, k yodium pada sasaran (WUS, ibu hamil, ibu menyusui dan anak SD/MI). Hal ibu menyusui dan anak SD/MI). Hal iniini diperkuat

diperkuat dengan dengan Peraturan Peraturan Menteri Menteri DalDalaam m Negeri Negeri Nomor Nomor 63 63 tahun tahun 2010 2010 tentang tentang PedomanPedoman Penanggulangan Gangguan Akibat Kekurangan Yodium di Da

Penanggulangan Gangguan Akibat Kekurangan Yodium di Daerah.erah.

Pemerintah melalui Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional

Pemerintah melalui Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional

(RPJMN) 2010-2014 telah menetapkan 4 sasaran pembangunan kesehatan yaitu

(RPJMN) 2010-2014 telah menetapkan 4 sasaran pembangunan kesehatan yaitu

meningkatkan umur harapan hidup dari 70,7 ( Proyeksi BPS, 2008) menjadi 72,

meningkatkan umur harapan hidup dari 70,7 ( Proyeksi BPS, 2008) menjadi 72,

menurunkan angka kematian bayi dari 34 ( SDKI, 2007) menjadi 24 per 1000

menurunkan angka kematian bayi dari 34 ( SDKI, 2007) menjadi 24 per 1000

kelahiran hidup, menurunkan angka kematian ibu dari 228 ( SDKI, 2007) menjadi 118

kelahiran hidup, menurunkan angka kematian ibu dari 228 ( SDKI, 2007) menjadi 118

per 100 ribu kelahiran h

(2)

18,4% (Riskesdas, 2007 ) menjadi kurang dari 15% dan menurunkan balita pendek dari 36,8% ( Riskesdas, 2007) menjadi kurang dari 32%.

Untuk mencapai sasaran RPJMN 2010 – 2014 Bidang Kesehatan, Kementerian Kesehatan telah menetapkan RENSTRA Kementerian Kesehatan 2010-2014, yang memuat indikator keluaran yang harus dicapai. Salah satu dari 8 indikator keluaran di bidang Perbaikan Gizi yang harus dicapai pada tahun 2014 yaitu 90 % rumah tangga mengonsumsi garam beryodium dengan kadungan yodium cukup. Oleh karena itu program penanggulangan GAKY difokuskan pada peningkatkan konsumsi garam beryodium.

Untuk meningkatkan konsumsi garam beryodium tersebut perlu disusun

Pedomam Pemantauan Garam Beryodium di Rumah Tangga sebagai acuan para pengelola program di pusat maupun daerah. Pedoman ini ini digunakan untuk menilai keberhasilan program, perencanaan dan menetapkan kebijakan dalam rangka

penanggulangan GAKY melalui konsumsi garam beryodium dengan kadungan yodium cukup .

B. Tujuan

Tujuan Umum :

Tersedianya informasi secara terus menerus setiap tahun tentang konsumsi garam

beryodium rumah tangga di tingkat Kabupaten/Kota

Tujuan Khusus :

1. Mendapatkan data rumah tangga yang mengonsumsi garam dengan kandungan yodium cukup (>=30 ppm), kurang ( < 30 ppm) dan tidak mengandung yodium.

2. Diperolehnya informasi tentang :

a. Jenis garam yang digunakan di rumah tangga. b. Merk garam yang digunakan di rumah tangg c. Konsumsi garam beryodium pada ibu hamil

(3)

d. Cara penyimpanan garam beryodium e. Lokasi penyimpanan

f. Tempat membeli

C. Manfaat

1. Tersedianya informasi rumah tangga yang mengonsumsi garam beryodium6(enam) bulan untuk keperluan dan evaluasi.

2. Terpantaunyakonsumsi garam beryodium secara berkala setiap enam bulan di tingkat rumah tangga berguna untuk peningkatan program penanggulangan GAKY termasuk perencanaan, dan penetapan kebijakan.

3. Tersedia dan tersebar luasnya informasi persentase rumah tangga yang mengonsumsi garam beryodium kepada penentu kebijakan dan pengambil keputusan, lintas program, lintas sektor, lembaga donor, lembaga penelitian, institusi pendidikan, LSM dan media massa.

4. Menindaklanjuti masalah konsumsi garam beryodium di tingkat rumah tangga di berbagai tingkatan administrasi pemerintahan.

D. Dasar Hukum

1. Undang-undang Nomor 7 Tahun 1996 tentang Pangan

2. Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah 3. Undang-undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan

4. Peraturan Pemerintah Nomor 69 tahun 1999 tentang Label dan Iklan Pangan

5. Peraturan Pemerintah No. 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintah Antara Pemerintah Daerah Provinsi dan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota.

6. Peraturan Presiden No. 5 Tahun 2010 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2010-2014

7. Keputusan Presiden Nomor 69 tahun 1994 tentang Pengadaan Garam Beryodium 8. Peraturan Presiden No. 29 Tahun 2010 tentang Rencana Kerja Pemerintah

9. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 63 tahun 2010 tentang Pedoman Penanggulangan Gangguan  Akibat Kekurangan Yodium di Daerah

(4)

PELAKSANAAN

Pelaksanaan Pemantauan Garam Beryodium di Rumah Tangga meliputi beberapa tahapan sebagai berikut :

2.1 Pemilihan Klaster 

Pemilihan klaster dilakukan oleh Pengelola Program Gizi kabupaten/kota, dengan langkah sebagai berikut:

1. Buat daftar seluruh desa yang ada di kabupaten/kota sesuai dengan daftar yang ada

di kabupaten/kota.

2. Beri nomor urut untuk desa yang sudah didaftar secara kumulatif. Contoh: Misalnya

Kecamatan A ada 10 desa, maka beri nomor urut desa 1-10. Kecamatan B ada 15 desa beri nomor urut 11-25 dan seterusnya.

3. Hitung interval dengan cara membagi jumlah seluruh desa dengan 30 klaster.

Contoh: Di Kabupaten A ada 400 desa, jumlah klaster (desa) yang diperlukan untuk sampel adalah 30. Maka, intervalnya adalah 400:30 = 13,3. Angka ini digunakan untuk memilih desa sampel dengan cara meloncat sebanyak 13,3 desa.

4. Tentukan desa sebagai titik awal untuk memilih sampel desa secara acak dan

sistematis, dilakukan dengan cara:

a. Buatlah gulungan kertas yang diberi nomor sesuai dengan jumlah interval. Dalam hal ini dari nomor 1 sampai nomor 13

b. Masukkan ke dalam wadah, kemudian dikocok sampai keluar 1 gulungan kertas (seperti pada undian)

c. Nomor yang keluar adalah sebagai nomor desa awal dilanjutkan denganmemilih desa-desa berikutnya. Contoh: Keluar nomor 7, berarti desa nomor urut 7

menjadi desa pertama dalam sampel klaster 

d. Pilih desa berikutnya dengan cara menambahkan nomor awal (7) dengan 13,3 (interval) seperti berikut:

 Desa kedua adalah : desa nomor 7+13,3 = 20,3 dibulatkan menjadi desa nomor urut

20

(5)

 Desa keempat adalah: desa 33,6+13,3 = 46,9 dibulatkan menjadi 47

 Desa kelima adalah: desa 46,9+13,3 = 60,2 dibulatkan menjadi 60

 Dan seterusnya sehingga didapat 30 desa yang diperlukan menjadi

sampel klaster 

Catatan: cara pembulatan bila angka desimal 0,5 atau lebih dibulatkan keatas, bila

kurang dari 0,5 dibulatkan ke bawah.

5. Informasikan hasil penentuan klaster kepada TPG Puskesmas yang desanya

terpilih sebagai klaster. Contoh pemilihan desa sebagai klaster terpilih seperti pada Tabel 1.

Tabel 1. Contoh Pemilihan Sampel Desa (Klaster)

Kecamatan Nama Desa

No. Urut Desa (Klaster) Langkah ke Desa (Klaster) Terpilih SindangBarang 1 Sindang Laya 2 Sindang Laut 3 Sindang Reret 4 Sindang Sari 5

Sindang Maju 6 30 Sindang Maju

Sindang Rame 7 1 Sindang Rame

Sindang Haur  8 2. Kuala Kuala Hati 9 Kuala Sari 10 Kuala Barito 11 Kuala Hulu 12

(6)

Kuala Tani 13

Kuala Hilir  14

Kriuk Sari 340 25 Kriuk Sari

Kriuk Wati 341 Kriuk Krupuk 342 Kriuk Djoko 343 Kriuk Titin 344 Kriuk Abas 345 Kriuk Itje 346 Kriuk Andry 347 Kriuk Basuki 348 Pawitan

Pawitan Kulon 393 29 Pawitan Kulon

Pawitan Pusat 394 Pawitan Wetan 395 Pawitan Hilir  396 Pawitan Tengah 397 Pawitan Timur  398 Pawitan Kaler  399 Pawitan Legi 400

2.2 Pemilihan Titik Pusat Klaster 

Pemilihan titik pusat klaster dilakukan oleh TPG Puskesmas, dengan langkah sebagai berikut:

a. Buat daftar titik pusat klaster di masing-masing desa yang terpilih pada butir  2.1 (Pemilihan Klaster) di atas. Titik pusat klaster dapat berupa: kantor 

(7)

Tempat-tempat seperti bandara, pelabuhan, stasiun, pasar, dll jangan dipilih sebagai titik pusat klaster.

b. Beri nomor untuk setiap titik pusat klaster dari 1 sampai dengan nomor sejumlah titik pusat klaster yang teridentifikasi, seperti pada contoh pada Tabel 2.

Tabel 2. Daftar Titik Pusat Klaster 

Titik Pusat Klaster  Nomor urut

Kantor RW 01 1

Kantor RW 02 2

Masjid Nurul Huda 3

Pura 4

Balai Pengobatan ”Melati” 5

Puskesmas Melati 6

SDN 01 Pagi 7

SMPN1 8

Gereja Santa Ursula 9

c. Penentuan titik pusat kluster dilakukan dengan cara :

 Buat gulungan kertas yang diberi nomor 1 sampai sejumlah titik pusat klaster.

Misalnya ada 9 titik pusat klaster, maka nomor yang dituliskan pada gulungan kertas adalah nomor 1 sampai 9.

 Masukkan gulungan kertas tersebut ke dalam wadah, kemudian kocok sampai keluar 

1 gulungan kertas (seperti pada undian)

 Nomor yang keluar adalah sebagai nomor titik pusat klaster yang terpilih. Contoh:

Keluar nomor 5, berarti titik pusat klaster nomor 5 (Balai Pengobatan

”Melati”) menjadi titik pusat untuk penentuan sampel rumah tangga ( Lihat Tabel 3). Tabel 3. Hasil Penentuan Titik Pusat Klaster 

Titik Pusat Klaster  Nomor urut Keterangan

Kantor RW 01 1

Kantor RW 02 2

Masjid Nurul Huda 3

(8)

Balai Pengobatan ”Melati” 5 Titik Pusat Klaster Terpilih

Puskesmas Melati 6

SDN 01 Pagi 7

SMPN1 8

Gereja Santa Ursula 9

2.3 Pemilihan 10 Sampel Rumah Tangga

Pemilihan 10 sampel rumah tangga dilakukan dengan langkah sebagai berikut: a. Tentukan rumah tangga sebagai sampel pertama, yaitu rumah yang berada di

depan titik pusat klaster terpilih.

b. Rumah tangga sampel kedua, dipilih dengan bergerak melingkar searah jarum jam, sampai didapat 10 rumah (Gambar 1).

Gambar.1

Contoh Pengambilan 10 Sampel Rumah Tangga di Desa Sindang Maju

Keterangan:

TP adalah Titik Pusat Klaster terpilih di Desa Sindang Maju, yaitu Balai Pengobatan “”Melati” yaitu nomor urut 5 pada daftar penentuan titik pusat klaster 

c. Jika kelompok rumah tangga berjajar mengikuti alur jalan atau sungai, maka

pengambilan sampel dimulai dari titik pusat klaster ke kanan sebanyak 5 (lima) rumah dan ke kiri sebanyak 5 (lima) rumah (lihat Gambar 2.).

(9)

Gambar 2.

Pengambilan 10 Sampel Rumah Tangga di Desa Kriuk Sari

2.4 Pengumpulan data

Data dikumpulkan dengan cara wawancara, pengamatan dan pengujian garam beryodium.

a. Wawancara

Wawancara dilakukan kepada ibu rumah tangga atau yang mengetahui tentang penggunaan garam sehari-hari di rumah tangga (pembantu rumah tangga, nenek, anak atau bapak, kerabat). Wawancara meliputi identitas lokasi, identitas rumah tangga dan pertanyaan terkait garam (Formulir 1).

b. Pengujian Garam:

 Petugas meminta izin kepada ibu untuk mengambil garam yang biasa digunakan

memasak sehari hari.

 Petugas mengambil ½ sendok teh garam setelah garam diaduk secara merata

(10)

 Petugas meneteskan 2 – 3 tetes yodium tes pada garam

  Amati dan catat perubahan warna yang terjadi pada garam seperti pada Tabel 4.

Tabel 4. Perubahan warna garam setelah ditetesi yodium tes

No. Warna garam  Artinya

1. Ungu pekat Garam mengandung cukup

yodium

2. Ungu pucat Garam tidak mengandung cukup

yodium

3. Putih (tidak berubah) Garam tidak mengandung

(11)

c. Cara pengisian formulir:

Sebaiknya, sebelum mengisi Formulir 1 untuk pengumpulan data di setiap klaster, dilakukan pemeriksaan terhadap garam terlebih dahulu. Cara pengisian Formuli 1 seperti pada Tabel 5 di bawah ini

Tabel 5. Cara pengisian Formulir 1

No. Judul Kolom Cara Pengisian:

1 Kolom 1 Nomor Urut Rumah Tangga Diisi secara berurutan sesuai urutan kunjungan dari nomor 1 s.d. 10 di setiap

2 Kolom 2 Nama Responden Ditulis nama responden yang diwawancara

3 Kolom 3 Status Responden Isi hubungan dengan Kepala RT: ri

bantu ek k/Bapak abat

4 Kolom 4, 5 dan 6 Hasil Pemeriksaan Yodium dalam garam

Contreng pada kolom yang sesuai dengan hasilpengamatan test yodium, bila u pekat, contreng kolom (4)

u pucat, contreng kolom (5) ih, contreng kolom (6)

5 Kolom 7, 8 dan 9 Jenis garam ram bata, contreng kolom (7) ram halus, contreng kolom (8) ram krosok, contreng kolom (9)

(12)

6 Kolom 10, 11 dan 12 Tempat penyimpanan garam Botol, adalah tempat dari kaca, melamin atau botol plastik yang tertutup, con kolom (10)

Plastik adalah tempat yang terbuka atau hanya bungkusnya, contreng kolom Lainnya adalah tempat penyimpanan bukan botol atau plastik, contreng kolo

7 Kolom 13, 14 dan 15 Lokasi Penyimpanan s/para-para, contreng kolom (13)

Di bawah/samping perapian tungku/kompor,contreng kolom (14) nnya, contreng kolom (15)

8 Kolom 16 Merek dagang Tulis sesuai dengan jawaban responden atau hasil p engamatan. Contoh Mer  Tiga Biru, Kapal layar, Kuda Terbang.

 Ada merek, tulis merek Tidak ada merek Lupa

Jika ada lebih dari 1 merek, tulis yang p aling sering digunakan

9 Kolom 17, 18, 19 dan 20 Tempat membeli Jika jawaban : o, contreng kolom (17 ) rung, contreng kolom (18)

ar, contreng (19)

agang keliling, contreng kolom (20)

10 Kolom 21, 22 dan 23

Kolom-kolom ini hanya diisi bila ada ibu hamil di dalam rumah tangga.

Rumah tangga ada ibu hamil. Contreng kolom 21 jika kolom 4 dicontreng; Contreng kolom 22 jika kolom 5 dicontreng Contreng kolom 23 jika kolom 6 dicontreng.

(13)

Pengolahan data dilakukan oleh kabupaten/kota, provinsi dan pusat. a. Tingkat Kabupaten/Kota

 Pindahkan angka-angka dari Formulir 1 (pengisian data tingkat desa) yang berada

pada baris jumlah (baris terbawah), ke dalam Formulir tingkatkabupaten (Formulir  2), mulai dari klaster nomor 1 sampai dengan klasternomor 30 sehingga jumlah seluruhnya sebanyak 30 klaster.

 Jumlahkan tiap kolom (kecuali kolom ’merk’), dan isikan pada baris jumlah

paling bawah

 Lakukan perhitungan persentase sbb:

a) Rumah tangga yang mengonsumsi garam beryodium cukup dan tidak cukup

b) Rumah tangga yang menggunakan garam bata, krosok dan garam halus.

c) Rumah tangga yang menyimpan garam di botol, plastik dan lainnya

d) Rumah tangga yang menggunakan merek garam beryodium

e) Rumah tangga yang menggunakan merk garam beryodium tertentu caranya sbb:

1. Buat daftar semua merk garam beryodium yang berbeda dari jawaban yang diberikan responden

2. Lakukan tally untuk menghitung jumlah RT yang menggunakan merk garam beryodium

3. Hitung persentase 10 merek garam beryodium yang paling banyak digunakan

f) Rumah tangga yang meletakkan wadah garam di atas atau di bawah para-para

g) Ibu hamil yang mengonsumsi garam yang tidak beryodium

 Hasil penjumlahan dari formulir tingkar desa (Formulir 1) salin ke dalam Formulir 2

(Formulir rekapituilasi 30 klaster di tingkat kabupaten/kota).

 Kirimkan Formulir 2 ke Direktorat Bina Gizi, Ditjen Bina Gizi dan KIA Kemenkes RI dengan tembusan ke

Dinas Kesehatan Provinsi.

 Pengiriman dari kabupaten/kota dapat dilakukan melalui faximili , e-maildengan

alamat:

(14)

Direktorat Bina Gizi Ditjen Bina Gizi dan KIA Kemenkes RI

Jl. HR. Rasuna Said Blok X5 Lt. 7 Blok A Kav. 4-9 , Jakarta Selatan 12950 Faximili : (021) 5210176

Email: [email protected] cc: [email protected]

(15)

Interpretasi dan Alternatif Pemecahan Masalah

Bilamana di suatu wilayah beredar garam konsumsi tidak mengandung yodiumsegera lakukan penanganan oleh Dinas Kesehatan setempat.

Penanganan dilakukan dalam bentuk penyuluhan kepada masyarakat dan koordinasi dengan institusi terkait lainnya untuk distribusi garam berydium. Alternatif pemecahan masalah seperti pada Tabel 6

Tabel 6

Alternatif Pemecahan Masalah

Hasil Pemantauan Interpretasi Intervensi Wilayah 10% garam krosok

yang beredar tidak beryodium

Siaga Penyuluhan/sosialisasi/advokasi

Distribusi garam beryodium

Pemantauan lebih ketat pada ibu hamil

30% garam yang beredar tidak beryodium

Waspada Koordinasi dengan pemangku kepentingan Pencegahan beredarnya garam tidak beryodium

Pemantauan ditingkatkan

Dikeluarkan PERDA Garam Beryodium Rumah tangga 10% rumah tangga

tidak mengonsumsi garam beryodium

Siaga Penyuluhan

Pengawasan peredaran garam beryodium di masyarakat

20% rumah tangga tidak mengonsumsi garam beryodium

Waspada Penyuluhan

Pengendalian garam beryodium di masyarakat Distribusi garam beryodium

(16)

You're Reading a Preview

Unlock full access with a free trial.

Gambar

Tabel 1. Contoh Pemilihan Sampel Desa (Klaster)
Tabel 2. Daftar Titik Pusat Klaster 
Tabel 4. Perubahan warna garam setelah ditetesi yodium tes
Tabel 5. Cara pengisian Formulir 1

Referensi

Dokumen terkait

penyimpanan garam beryodium) yang dikonsumsi wanita usia subur. c) Mengukur status yodium pada wanita usia subur dengan. menggunakan kadar TSH (Thyroid Stimulating Hormone). d)

Analisis hubungan antara sikap ibu rumah tangga dengan penggunaan garam beryodium di Desa Selo dapat dijelaskan bahwa dari 58 responden yang mempunyai sikap kurang

HUBUNGAN ANTARA PENGETAHUAN IBU TENTANG GARAM BERYODIUM DAN POLA KONSUMSI ZAT GOITROGENIK TERHADAP KADAR EKSKRESI YODIUM URIN SISWA SDN 4 KREBET KECAMATAN JAMBON KABUPATEN

Tujuan umum dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan pemilihan dan penyimpanan garam beryodium dengan status yodium pada wanita usia subur di Desa Selo, Keca- matan

Tujuan umum penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara tingkat pendidikan ibu dan tingkat pengetahuan ibu tentang garam beryodium dengan pemilihan garam di Kelurahan

Meningkatkan produksi garam beryodium yang memenuhi syarat secara nasional melalui peningkatan produksi di sentra garam rakyat melalui yodisasi bergerak ( mobile iodization )

Pada garam yang beredar di pasaran ternyata masih ditemukan garam yang tidak bermutu (garam dengan kadar yodium kurang dari standar SNI dan garam yang tidak

Tujuan umum dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan pemilihan dan penyimpanan garam beryodium dengan status yodium pada wanita usia subur di Desa Selo, Keca- matan