• Tidak ada hasil yang ditemukan

GAMBARAN UMUM DAN ANALISIS PELAKSANAAN PROGRAM ITTARA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "GAMBARAN UMUM DAN ANALISIS PELAKSANAAN PROGRAM ITTARA"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

VI.

GAMBARAN UMUM DAN ANALISIS

PELAKSANAAN PROGRAM ITTARA

6.1. Gambaran Umum Program ITTARA

Program ITTARA merupakan kebijakan yang dikeluarkan oleh Pemerintah Daerah Propinsi Lampung sebagai upaya peningkatan pendapatan petani. Upaya ini dilaksanakan melalui pemberdayaan petani ubi kayu dengan disertai pembinaan petani dalam kerjasama kelompok tani. Pemberdayaan ini diharapkan akan meningkatkan mutu sumber daya manusia, bahkan meningkatkan kesejahteraan petani di pedesaan.

Dengan demikian, penerapan teknologi ITTARA akan turut mensukseskan gerakan "Desaku Maju Sakai Sambaian" yang telah digalakkan di Propinsi Larnpung (Dinas Perindustrian Propinsi Lampung, 1998). Proyek ini mulai dicanangkan pada tahun 1998, melalui pembangunan ITTARA skala kecil yang diarahkan sebagai basis kekuatan ekonomi rakyat di pedesaan.

Pengembangan ITTARA dalam rangka pemberdayaan petani di Propinsi Lampung bertujuan:

1. Meningkatkan produksi, harga jual dan pendapatan petani ubi kayu.

2. Meningkatkan kemampuan petani ubi kayu dalam ha1 teknologi budidaya dan pengaturan pola tanam, pengolahan ubi kayu serta meningkatkan kemampuan sumber daya dalam manajemen ITTARA.

3. Menumbuhkembangkan kegiatan pada skala pedesaan yang dapat menciptakan lapangan kerja.

4. Membuka peluang bagi petani ubi kayu guna menekan ketergantungannya terhadap pabrik tepung tapioka skala besar.

(2)

6.1.1. Manajemen dan Pola Pengembangan I T T A M

Pengelolaan ITTARA secara teknis diserahkan kepada koperasi yang meliputi satu atau beberapa kelompok tani. Petani selaku anggota mempunyai hak dan kewajiban yang sama, seperti membayar simpanan pokok, mengikuti Rapat Anggota Tahunan dan pembagian Sisa Hasil Usaha tiap tahun, didasarkan pada jumlah ubi kayu yang diusahakan dan diolah masing-masing ITTARA.

Koperasi dipimpin oleh seorang Manajer Umum yang sekaligus menjadi manajer ITTARA. Manajer U n ~ u ~ n dibantu oleh beberapa orang manajer seperti Manajer Operasional, Keuangan, Pemasaran dan manajer lainnya sesuai dengan kebutuhan. Manajer Umum dapat melakukan negosiasi langsung dengan pihak lain, misalnya pihak konsumen.

Selain koperasi, bagi petani ubi kayu yang belum membentuk koperasi dapat mempersiapkannya melalui pembentukan kelompok masyarakat (Pokmas). Selanjutnya, Poknlas diorganisir sebagai embrio kelompok tani/koperasi dan dimungkinkan untuk membentuk satu unit ITTARA.

Pembinaan ITTARA dilakukan oleh Tim Pembinan Propinsi (TPP) di Propinsi dan Tim Pelaksana ITTARA di kabupaten, sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya. Dinas Perindustrian Daerah Tingkat I Propinsi Lampung bertanggung jawab dalam pembinaan sehari-hari (Pemda Propinsi Lampung, 1999). Untuk mengakselerasikan tugas di lapangan, diterbitkan Surat Tugas Gubernur Lampung Nomor 841.1/0406/05/1999 tanggal 22 Pebruari 1999 guna memacu percepatan pembentukan ITTARA di Propinsi Larnpung

Pengembangan ITTARA diawali kerjasama dengan PT Ajinomoto, dimana hasil produksi yang dihasilkan akan digunakan sebagai pasokan bahan baku

(3)

43 produk bumbu masak. Pembangunan ITTARA dilaksanakan melalui sumber dana Pemerintah (APBD), maupun Swadaya Masyarakat /swasta.

6.1.2. Kelompok Sasaran Program ITTARA

Semua petani ubi kayu di wilayah pengembangan menjadi sasaran utama program. Kepada mereka akan diupayakan pembinaan yang mengarah pada penguasaan teknologi budidaya, manajemen dan pemasaran, serta pengaturan pola tanam ubi kayu sebagai bahan baku ITTARA.

Anggota kelompok tani yang terpilih akan diikutsertakan dalam pelatihan dan pemagangan untuk menjadi manajer ITTARA, operator mesin dan tenaga kerja lain dalam pengolahan ubi kayu menjadi tepung tapioka.

6.1.3. Pengaturan Pola Tanam Ubi Kayu sebagai Bahan Baku ITTARA Permasalahan utama petani ubi kayu di Larnpung adalah produktivitas rendah 1 3 tonlha (Pemda Propinsi Lampung, 1999), disebabkan pertanaman petani yang masih dilakukan secara tradisional dengan menggunakan bibit varietas lokal dan belum dipupuk. Selain itu, harga jual ubi kayu yang rendah dan fluktuatif akibat jadwal panen yang serentak, sehingga pada waktu-waktu tertentu produksi tidak terkendali (over supply)

.

Untuk mengatasi permasalahan tersebut, dikembangkan ITTARA berskala kecil dengan kapasitas produksi 2-5 ton tepung tapioka per hari di daerah sentra produksi ubi kayu dengan sumber dana pembangunan (APBD). Sehingga diharapkan petani di wilayah lainnya akan termotivasi untuk berkelompok dan bekerjasama menbentuk unit-unit ITTARA tersendiri.

(4)

44 Melalui ITTARA, petani diatur melakukan penanaman sesuai jadwal yang telah ditentukan, dengan teknik budidaya penggunaan varietas unggul dan pemupukan yang diterapkan pada masing-masing kelompok. Tujuan utama pola tanam lahan pendukung ITTARA adalah guna memenuhi kebutuhan bahan baku ITTARA secara berkesinambungan. Pola tanam yang dimaksudkan adalah tata tanarn atau tata urutan tanam ubi kayu selama satu tahun secara bergiliran pada lahan tertentu. Hal ini dilakukan terutama untuk menghindari penawaran ubi kayu yang fluktuatif dan untuk memenuhi kebutuhan bahan baku ITTARA secara berkesinambungan.

Setiap petani bersama dengan anggota kelompok tani yang lain secara bergiliran melakukan penanaman sesuai dengan jadwal yang ditentukan. Penanaman pada bulan Oktober seluas 45 hektar, dipanen sejak bulan Agustus sampai dengan Oktober. Penanaman pada bulan Januari seluas 15 hektar, dipanen pada bulan Nopember. Penanaman pada bulan Pebruari seluas 30 hektar, dipanen pada bulan Desember dan Januari. Selanjutnya, penanaman pada bulan April seluas 30 hektar, dipanen pada bulan Pebruari dan Maret. Penanaman pada bulan Mei seluas 45 hektar, dipanen pada bulan April sampai dengan Juni. Dengan demikian diharapkan pasokan ubi kayu akan merata sepanjang tahun.

6.1.4. Teknologi Budidaya Ubi Kayu

Teknologi budidaya yang dianjurkan program adalah penggunaan varietas unggul dan pemupukan. Program ini menganjurkan bibit ubi kayu dengan varietas Aldira, Gading, Valenca, Muara, Bogor, Malang dan Darul Hidayah.

(5)

45 Panjang stek adalah 20 sampai dengan 25 cm, ditanam tegak lurus dengan permukaan tanah.

Pengolahan tanah dilakukan dengan dibajak atau dicangkul satu kali, kedalaman 20 cm. Waktu tanam sesuai dengan pola tanam yang dianjurkan. Pemupukan dilakukan sesuai dengan dosis yang dianjurkan yaitu: pupuk urea 200-300 kg/ha dan pupuk kandang 2 500-5 000 kgfha. Waktu pemupukan dilakukan pada saat tanam sebagai pupuk dasar, dengan dosis pupuk urea 50% dan pupuk kandang 100%. Pupuk susulan yang diberikan adalah pupuk urea 50%, diberikan saat tanaman berumur 2-3 bulzn. Penyiangan dilakukan sebanyak 2 sampai 3 kali pada umur 1 bulan sampai 3 bulan sejak ditanam.

Panen dilakukan antara umur 9-1 1 bulan, sesuai dengan varietas yang di tanam. Untuk menjaga terpenuhinya kebutuhan ubi kayu dalam proses produksi dan agar pasokan ubi kayu berkesinambungan sehingga produksi dapat berlangsung secara optimal, masing-masing kelompok tani anggota ITTARA melaksanakan pola tanam selama satu tahun secara bergiliran.

6.1.5. Pemasaran Hasil ITTARA

Ubi kayu yang dihasilkan selanjutnya diolah menjadi pati ubi kayu (tepung tapioka). Ubi kayu yang baik untuk digunakan sebagai bahan baku tapioka yaitu yang dipanen umur 9-1 1 bulan. Tepung tapioka selanjutnya akan digunakan sebagai bahan baku industri besar seperti industri glukosa, bumbu masak, serta sebagai bahan penolong pada industri tekstil, kertas dan farmasi. Selain itu industri kecil seperti industri kerupuk dan bihun yang ada di Lampung.

(6)

6.2. Analisis Pelaksanaan Program lTTARA

Analisis terhadap pelaksanaan Program ITTARA terbagi menjadi tiga bagian. Pertama, analisis terhadap aspek manajemen dan pola pengembangan ITTARA. Kedua, analisis terhadap aspek pengaturan pola tanam dan budi daya ubi kayu sebagai bahan baku ITTARA. Ketiga, analisis terhadap aspek pemasaran hasil ITTARA di Wilayah A, yang memiliki 4 (empat) ITTARA berstatus operasional (Lampiran 5).

6.2.1. Analisis Aspek Manajemen dan Pola Pengembangan ITTARA

Berdasarkan hasil wawancara kepada responden, didapatkan bahwa keberhasilan pelaksanaan ITTARA di wilayah ini tidak terlepas dari kemampuan pengelola ITTARA dalam memberdayakan petani dan kelompok taninya. Disamping pembinaan yang terus menerus dilakukan oleh pemerintah melalui tim pembina di tingkat kecamatan terhadap para pengelola ITTARA.

Pembinaan teknis Program ITTARA merupakan kegiatan yang bertujuan untuk memotivasi dan menggerakkan masyarakat, dalam ha1 ini adalah petani ubi kayu dalam kelompoknya. Dengan demikian, sasaran yang ingin dicapai dalam memberikan bekal pengetahuan kepada angota kelompok tani terpilih diharapkan dapat meningkatkan produktivitas dan pendapatan. Pola pengembangan dan pembinaan pada awalnya dilakukan dengan membentuk kelompok masyarakat, yang pada dasarnya merupakan kelompok tani yang sudah ada.

Untuk mempermudah dalam manajemen kelompok, diadakan perubahan kepengurusan pada kelompok tani tersebut sesuai dengan kebutuhan. Struktur dan manajemen kelompok secara umum mengacu pada petunjuk pelaksanaan

(7)

47

yang diberikan oleh ti111 pembina yang terdiri atas Ketua Pokmas, Bagian Operasi, Kei~angan dan Pemasaran (Gambar 3).

Ketua

Bagian Keuangan

I

-1

1

Bagian Pemasaran

I

Sumber: Pemda Propinsi Lampung, 1999.

Galnbar 3. Struktur Organisasi ITTARA

Pembinaan selanjutnya dilakukan dengan memberikan pelatihan dan kursus bagi pengelola ITTARA. Berdasarkan hasil wawancara didapatkan bahwa sejak berdirinya ITTARA telah dilaksanakan sedikitnya 4 kali pelatihan bagi pengelola. Tujuannya adalah selain iintuk menyampaikan informasi kepada kelompok juga untuk mengetahui perkembangan usaha pada setiap kelompok.

Dalam ha1 budidaya dan pengaturan pola tanam ubi kayu, pembinaan dilakukan oleh Dinas Pertanian Tanaman Pangan, dengan frekuensi pembinaan satu kali dalam tiga bulan selama dua hari pembinaan. Penanaman ubi kayu dilaksanakan berdasarkan rencana dan jadwal penanaman masing-masing kelompok, dengan varietas dan cara tanam yang direkomendasikan. Selanjutnya, ubi kayu yang dihasilkan diproses dalam sistem produksi menggunakan teknis dipariit (blades). Hasil parutan ini kemudian dipisahkan antara pati dan cairannya, dikeringkan dengan mesin pengering. Kegiatan operasional pabrik ini dibina oleh Dinas Koperasi, Perindustrian dan Perdagangan (KOPERINDAG).

(8)

4 8

Masil pengolahan limbah cair dilakukan dengan pengendapan, padatan kemudian dikumpulkan untuk dijadikan pupuk dan cairan dialirkan ke kolam penampungan. Selain limbah cair, pabrik ITTARA juga menghasilkan limbah padat berupa arnpas tepung tapioka yang dapat dikeringkan untuk pakan hewan. Sebagai penanggungjawab pembinaan dalam ha1 ini adalah Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah (BAPEDALDA).

6.2.2. Analisis Aspek Pengaturan Pola Tanam dan Budi Daya Ubi Kayu Berdasarkan hasil pengamatan, survei dan wawancara, didapatkan informasi bahwa setiap petani dalam kelompoknya secara bergiliran melakukan pola tanam sesuai dengan anjuran. Sistem pola tanam yang dianjurkan adalah sistem tumpang gilir (switch cropping) antara tanaman padilpalawija lain, dengan ubi kayu monokultur.

Setiap petani bergabung membentuk satu kelompok, dengan luas areal tanam minimal 15 hektar dan maksimal45 hektar. Selanjutnya, secara bersama- sama setiap petani dalam kelompoknya melakukan penanaman ubi kayu sesuai dengan jadwal dan teknik budidaya yang dianjurkan. Teknik anjuran tersebut adalah teknik pengolahan tanah dengan kedalaman 20 cm, penggunaan bibit unggul, pemupukan sesuai dengan dosis dan jadwal yang ditetapkan, serta jarak tanam sesuai anjuran. Demikian pula dalam penlanenan, setiap kelompok melakukan panen sesuai jadwal dan varietas yang ditanam, berkisar antara 9- 11 bulan. Dengan demikian, kebutuhan akan pasokan ubi kayu yang merata sepanjang tahun terpenuki. Meratanya produksi ubi kayu dl wilayah program sejak dikeluarkannya kebijakan, tertera pada Tabel 20.

(9)

Tabel 20. Produksi Ubi Kayu Per Bulan di Wilayah A, B dan C, Tahun 1997--2001

(Ton)

Suttrber: Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura, 200 1 Produksi Wilayah A 1997 1998 1999 2000 2001 Whyah B 1997 1998 1999 2000 2001 Wilayah C 1997 1998 1999 2000 2001 Jan 3 250 2 250 4500 7500 10 125 829 2 286 1 085 1 440 1 293 2 048 2 268 2 000 0 1 420 Peb 0 0 4625 5 250 12000 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 Mar 0 0 15750 12750 17280 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 Apr 5 125 2 5 0 0 12000 17250 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 Mei 0 0 7 0 0 0 2 3 0 0 0 30000 22000 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 Jun 0 0 14000 12350 18400 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 Jul 15750 4 500 21250 27500 32500 0 0 0 0 0 0 0 0 0 9 120 Okt 0 0 6000 8050 17000 0 0 0 0 500 0 0 0 0 0 Agt 17270 10 125 25500 28600 24000 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 Sep 7000 5 910 12000 10000 16000 8 025 8 250 10 000 6735 4 125 4 320 4 125 5 100 2 250 14 898 Nop 0 4750 13500 11250 13 125 0 0 0 0 500 0 0 0 0 0 Des 17460 10500 19725 21000 21 450 0 0 1 000 0 0 0 0 0 0 0 , , Koefvar(%) 1,3 1,1 0,5 0,5 0,3 3,7 2,7 2,8 2,8 2,2 2,5 2,5 2,6, 3 3 . 4 5

(10)

50 Berdasarkan Tabel 20, terlihat bahwa tingkat produksi ubi kayu di Wilayah A sebelum ada program tahun 1998, tidak merata setiap bulannya sepanjang tahun dibandingkan dengan setelah ada program (tahun 1999-2001). Hal ini dapat dilihat dari nilai koefisien varian yang rendah dan cenderung turun sejak tahun 1999 sampai dengan tahun 200 1.

Lebih lanjut dapat dilihat perbandingan tingkat produksi ubi kayu per bulan di Wilayah A, dengan Wilayah B dan C. Tingkat produksi ubi kayu di Wilayah B dan C menunjukkan kondisi yang tidak merata baik sebelum ada program, maupun setelah ada program. Pada bulan tertentu terjadi kelebihan, dan pada bulan lainnya terjadi kelangkaan produksi.

Tingkat produksi yang merata sepanjang tahun mengindikasikan bahwa pola tanam yang diterapkan cukup berhasil. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa Program ITTARA dapat menjamin meratanya produksi ubi kayu sehingga tidak terjadi lagi kelangkaan maupun kelebihan produksi ubi kayu.

Penawaran ubi kayu yang fluktuatif cenderung mengakibatkan fluktuasi harga yang tajam. Oleh karena itu, program ini lebih menekankan pada pengaturan pola tanam agar produksi merata sepanjang tahun dan teknologi budidaya agar produktivitas dapat ditingkatkan. Dengan demikian harga ubi kayu dapat dipertahankan pada kondisi yang lebih baik.

6.2.3. Analisis Aspek Pemasaran Hasil ITTARA

Sebagai suatu kebijakan pemberdayaan ekonomi di pedesaan, program ini diharapkan marnpu meningkatkan taraf hidup dan pendapatan petani khususnya petani ubi kayu.

(11)

Berdasarkan hasil wawancara didapatkan bahwa sebeluin ada ITTARA, sebagian besar petani menjual produknya ke pedagang p e n g ~ ~ m p u l (37.5%). Sebagian lagi (30.0%) menjual langsung ke pabrik tapioka skala besar yang ada di sekitar lokasi dan sebagian lagi (7.5%) tidak menjawab, tertera pada Tabel 21.

Tabel 21. Pemasaran Ubi Kayu di Wilayah A Sebelu~n ada ITTARA berdasarkan Hasil Wawancara, Tahun 2002

Sebelum ada ITTARA, petani menjual ubi kayunya ke pedagang pengumpul Tempat menjual/memasarkan ubi kayu

1. Menjual langsung ke pabrik tapioka 2. Menjual Ice pedagang pengumpul desa 3. Tidak menjawab

Jumlah

dan ke pabrik tapioka skala besar yang cenderung monopoli. Pada keadaan ini, petani merupakan pihak penerima harga, karena tidak ada alternatif lain bagi

Jumlah (orang)

12 15 3 4 0

petani dalam memasarkan ubi kayunya. Setelah ada ITTARA, selain harga dapat Persentase (%> 30.0 37.5 7.5 100.0

dipertahankan pada tingkat yang lebih baik (dapat dilihat dari perbedaan harga ubi kayu di Wilayah A, B dan C pada Lampiran 9, 10 dan 1 I), petani dapat langsung menjual hasil produksinya ke ITTARA. Hal ini dapat dilihat dari ringkasan hasil wawancara sebagaimana tertera pada Tabel 22.

Tabel 22. Pemasaran Ubi Kayu di Wilayah A Setelah ada ITTARA berdasarkan Hasil Wawancara, Tahun 2002

Tempat menjual/memasarkan ubi kayu 1. Menjual langsung ke ITTARA 2. Menjual ke pabrik tapiokal ke agen

3. Tidak menjawab Jumlah Jumlah (orang) 40 0 0 40 Persentase (%) 100.0 0.0 0.0 100.0

(12)

Berdasarkan Tabel 22, terlihat bahwa setelah ada ITTARA petani tidak lagi menjual ubi kayunya ke pabrik tapioka skala besar maupun Ice agen yang ada di tingkat desa. Hal ini ditunjukkan dari persentase responden yang menjawab langsung menjual ke ITTARA (100%). Dengan demikian, monopoli harga oleh pabrik tepung tapioka skala besar maupun pedagang pengumpul dapat ditekan.

Adanya jaminan pemasaran hasil produk olahan ITTARA melalui koperasi tepung tapioka rakyat Lampung (KOPITARAL), menjadi faktor pendorong bagi pengelola dalam menampung hasil produksi ubi kayu petani anggota. Hasil pengamatan dan wawancara tentang manfaat ITTARA, menunjukkan bahwa ITTARA telah bermanfaat bagi petani terutama dalam mengangkat harga di tingkat petani. Adapun ringkasan hasil wawancara tertera pada Tabel 23.

Tabel 23. Manfaat ITTARA bagi Petani di Wilayah A berdasarkan Hasil Wawancara, Tahun 2002

Berdasarkan Tabel 23, terlihat bahwa sebagian besar responden menyatakan bahwa ITTARA bermanfaat bagi petani. Hal ini dapat dilihat dari tingginya persentase responden yang menjawab bahwa I'ITARA bermanfaat yaitu sebesar 95% dan sisanya 5% menjawab tidak tahu.

Pabrik ITTARA membeli ubi kayu dari petani berdasarkan harga pasaran setempat, berkisar antara Rp190 - Rp 2 10 per kilogram ubi kayu basah tergantung

varietasnya. Kondisi harga ini, di atas harga beli pedagang pengumpul dan di atas Manfaat lTTARA a. Bermanfaat b. Tidak bermanfaat c. Tidak tahu Jumlah Jumlah (orang) 3 8 0 2 40 Persentase (%) 95.0 0.0 5.0 100.0

(13)

harga beli pabrik tepung tapioka skala besar. ITTARA memperoleh bahan baku baik dari petani anggota kelompok, maupun dari petani disekitar lokasi ITTARA dan dari agen untuk pasokan dari kecamatan lain disekitar lokasi.

Untuk mengetahui apakah sejak dikeluarkannya kebijakan ini fluktuasi harga ubi kayu dapat ditekan, dapat dilihat dari perkembangan harga riel ubi kayu di tingkat petani sejak tahun 1992-2001 (Gambar 4).

1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001

Tahun

Sumber: Tim E\/aluasi ITrAIIA I'ropinsi I,ampung, 2000.

Gambar 4. Perkembangan Harga Riel Ubi Kayu di Tingkat Petani, Tahun 1992-2001

Berdasarkan Perkembanganliya, terlihat bahwa harga riel ubi kayu periode sebeluni ada program (1992-1997) sangat fluktuatif. Harga menurun sangat tajam tahun 1993 dan 1996, kemudian meningkat tajam tahun 1994. Tingkat perkembangan harga yang fluktuatif ini disebabkan oleh kondisi pasar yang dikuasai oleh monopoli pabrik tapioka skala besar, disamping fluktuasi penawaran ubi kayu akibat panen yang serentak. Setelah ada program, harga ubi kayu meningkat dengan perkembangan yang relatif stabil, karena ada alternatif lain bagi petani untuk menjual hasil produksinya.

(14)

5 4 Program ITTARA mengakibatkan pasar dan harga ubi kayu dapat lebih terjamin, sehingga motivasi petani untuk meningkatkan produktivitas lahannya akan meningkat. Peningkatan Produktivitas lahan akhirnya akan meningkatkan pendapatan petani.

6.3. Faktor yang Menyebabkan Keberhasilan Program ITTARA

Berdasarkan hasil analisis terhadap pelaksanaan Program ITTARA, dapat disimpulkan dua faktor yang menyebabkan keberhasilan pelaksanaan Program ITTARA di Wilayah A. Pertama, kemampuan pengelola dalam ha1 ini ketua kelompok ITTARA memberdayakan petani dalam kelompoknya. Kedua, kedisiplinan dan kerjasama petani dalam kelompok ITTARA.

6.3.1. Kemampuan Pengelola dalam Memberdayakan Petani

Penilaian anggota kelompok terhadap kepemimpinan ketua kelompok dalam mengarahkan anggotanya pada umumnya sudah baik. Hal ini ditunjukkan oleh tingginya persentase responden yang menjawab sudah baik (75%), sebagian menjawab kurang baik (15%) dan sebagian lagi menjawab tidak baik (lo%), tertera pada Tabel 24.

Tabel 24. Penilaian Kepemimpinan Ketua Kelompok ITTARA di Wilayah A berdasarkan Hasil Wawancara, Tahun 2002 Kepernimpinan a. Sudah baik b. Kurang baik c. Tidak baik Jumlah Jumlah (orang) 30 6 4 4 0 Persentase (%) 75.0 15.0 10.0 100.0

(15)

Berdasarkan hasil pengalnatan dan wawancara sebagaimana tertera pada Tabel 24, terlihat bahwa ITTARA yang diarnati dipimpin oleh seorang keti~a yang rnampu mengarahkan anggotanya dalarn pencapaian tujuan kelompok. Disamping itu, kemampuan dalam mengambil keputusan kelompok yang tepat didasarkan pada saran dan pendapat anggotanya, serta adanya pengarahan bagi anggota dalarn bekerjasama juga mendukung terlaksananya program di lapangan.

Adanya bimbingan dan pengarahan dari ketua kelompok, dapat dilihat dari jawaban responden yang sebagian besar menjawab ada (90%), sebagian menjawab tidak ada (5%) dan sebagian lagi menjawab tidak tahu (5%), sebagairnana tertera pada Tabel 25.

Tabel 25. Pengarahan dan Bimbingan bagi Anggota Kelompok ITTARA di Wilayah A berdasarkan Hasil Wawancara, Tahun 2002

6.3.2. Kedisiplinan dan Kerjasama Petani dalam Kelompok Tani

Karakteristik kelompok tani menentukan tingkat kedisiplinan dan kerjasama diantara anggotanya. Adanya kesamaan tujuan kelompok merupakan salah satu aspek yang mendukung terjalinnya kerjasama yang baik. Berdasarkan hasil wawancara, didapatkan bahwa tujuan kelompok telah sesuai dengan keinginan petani. Hal ini dapat dilihat dari tingginya persentase responden yang

Persentase (%)

90.0 5.0 5.0 100.0 Pengarahan dan Bimbingan dari

ketua kelompok a. Ada b. Tidak ada c. Tidak tahu Jumlah Jumlah (orang) 36 2 2 40

(16)

menyatakan sesuai (82.5%), dan hanya 12.5% menyatakan tidak sesuai dan 5% menjawab tidak tahu, tertera pada Tabel 26.

Tabel 26. Kesesuaian Tujuan Kelompok dengan Tujuan Pribadi Petani di Wilayah

k

berdasarkan Hasil Wawancara, Tahun 2002

Kesanlaan tiljuan kelompok dan pribadi mendorong petani untuk abekerjasama dalam mencapai tujuan, yaitu peningkatan produksi dan pendapatan anggota. Tidak ada perselisihan diantara anggota yang dapat mengganggu jalannya kerjasama kelompok. Suasana kelompok yang saling menghargai satu dengan yang lain semakin membawa anggota dalam keterikatan kelompok dan mendorong petani untuk memberikan kontribusi dalam pelaksanaan program.

Kekompakan dan kedisiplinan dapat dilihat dari kerjasama petani dalam pengaturan pola tanam ubi kayu sesuai jadwal masing-masing kelompok, menyebabkan teraturnya jadwal panen. Dengan demikian kebutuhan ubi kayu sebagai bahan baku dapat terjamin, ITTARA dapat beroperasi optimal.

Keseuaian Tujuan Kelompok a. Sesuai b. Tidak sesuai c. Tidak tahu Jumlah Jumlah (orang) 3 3 5 2 4 0 Persentase (%) 82.5 12.5 5.0 100.0

Gambar

Tabel  20.  Produksi Ubi Kayu Per Bulan di Wilayah A,  B dan  C,  Tahun  1997--2001
Tabel 21.  Pemasaran  Ubi  Kayu  di  Wilayah  A  Sebelu~n ada  ITTARA berdasarkan Hasil  Wawancara, Tahun 2002
Tabel 23.  Manfaat  ITTARA bagi  Petani di Wilayah A berdasarkan  Hasil  Wawancara, Tahun 2002
Gambar  4.  Perkembangan Harga Riel Ubi  Kayu  di Tingkat Petani,  Tahun  1992-2001
+2

Referensi

Dokumen terkait

Variabel profitabilitas (ROA) dianggap berpengaruh karena ROA menunjukkan tingkat kemampulabaan perusahaan terhadap aset yang dimilikinya sehingga semakin tinggi nilai ROA

“Bahasa yang disampaikan oleh Prof Ali menurut saya mudah diterima karena menurut saya, tidak semua orang memberikan pelajaran tentang sholat itu bisa, seperti baju itu belum di

Pemerintah provinsi dan kabupaten/kota menyelenggarakan perpustakaan umum daerah yang dalam pengembangan koleksinya wajib menyimpan bahan perpustakaan berupa karya

In order to respond these offers, he wrote both companies and asked his chances were for raises over the next 5 years.. The first company replied that it would guarantee a raise of

Jika tidak, bisa terlepas dari mesin secara tidak sengaja, menyebabkan luka pada Anda atau orang di sekitar Anda... • Jangan dipaksakan ketika

Berbagai bencana alam yang kerap terjadi di Jawa Tengah tidak menjadikan sektor ini pertumbuhannya negatif, tapi sebaliknya menjadi sektor yang dapat tumbuh lebih cepat

Pelepah tanaman pisang biasa dimanfaatkan oleh beberapa masyarakat di Indonesia sebagai obat luka, beberapa bagian lain dari tanaman pisang telah diteliti manfaatnya

Penelitian yang menyeluruh tentang potensi dan ancaman sumberdaya dapat digunakan untuk pengambilan keputusan dalam pengelolaan wilayah di Semenanjung Muria