Peraturan Kepala Badan Penelitian
dan Pengembangan Kehutanan
Nomor:
P.01/VIII-P3KR/2012
untuk Pendugaan
Biomassa dan
Stok Karbon Hutan di Indonesia
Pedoman
Penggunaan Model
Peraturan Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan
Nomor: P.01/VIII-P3KR/2012
untuk Pendugaan
Biomassa dan
Stok Karbon Hutan di Indonesia
Pedoman
Penggunaan Model
KEMENTERIAN KEHUTANAN
BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KEHUTANAN KEMENTERIAN KEHUTANAN
BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KEHUTANAN PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KONSERVASI DAN REHABILITASI
Peraturan Kepala Badan Penelitian
dan Pengembangan Kehutanan
Nomor:
P.01/VIII-P3KR/2012
untuk Pendugaan
Biomassa dan
Stok Karbon Hutan di Indonesia
Pedoman
Penggunaan Model
KEMENTERIAN KEHUTANAN
BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KEHUTANAN PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN
Peraturan Kepala Badan Penelitian
dan Pengembangan Kehutanan
Nomor:
P.01/VIII-P3KR/2012
untuk Pendugaan
Biomassa dan
Stok Karbon Hutan di Indonesia
Pedoman
Penggunaan Model
KEMENTERIAN KEHUTANAN
BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KEHUTANAN PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN
ii Pedoman
Penggunaan Model Alometrik untuk Pendugaan Biomassa dan Stok Karbon Hutan di Indonesia
© 2013 Pusat Penelitian dan Pengembangan Konservasi dan Rehabilitasi, Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan
ISBN: 978-979-3145-97-6 Diterbitkan oleh:
Pusat Penelitian dan Pengembangan Konservasi dan Rehabilitasi,
Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan – Kementerian Kehutanan Jl. Gunung Batu No. 5, Bogor 16610, Indonesia
Telp/Fax: +62-251 8633234/+62-251 8638111
“Pedoman Penggunaan Model Alometrik Untuk Pendugaan Biomassa dan Stok Karbon Hutan di Indonesia” merupakan kebijakan teknis (operasional) Kementerian Kehutanan yang didasarkan atas hasil penelitian model-model alometrik untuk pendugaan biomassa pohon pada berbagai tipe ekosistem hutan di Indonesia (dimuat dalam Buku Monograf), yang dilakukan oleh para peneliti Puslitbang Konservasi dan Rehabilitasi (PusKonseR) – Badan Litbang Kehutanan selama 3 (tiga) tahun. Penetapan ini merupakan langkah lanjutan setelah Launching Monograf pada bulan Juli, 2012 dan penerbitan versi bahasa Inggrisnya pada bulan November, 2012. Pedoman ini diharapkan menjadi perangkat yang sangat penting bagi pengembangan Sistem Perhitungan Karbon Nasional Indonesia, sehingga tingkat akurasi pendugaan biomassa pohon dan stok karbon hutan di Indonesia semakin tinggi. Pedoman ini tentunya melengkapi kebijakan-kebijakan teknis lain terkait alometrik pendugaan biomassa pohon di Indonesia, seperti SNI 7724:2011 dan SNI 7725:2011.
Langkah strategis lebih lanjut, untuk menjamin penerapan pedoman secara benar, adalah pendidikan dan pelatihan terhadap para tenaga teknis/praktisi yang akan banyak terlibat dalam penghitungan dinamika karbon hutan di Indonesia. Tenaga-tenaga teknis tersebut dapat berasal dari UPT-UPT Kementerian Kehutanan, para akademisi muda perguruan tinggi, penyuluh, peneliti, widyaiswara, serta tenaga teknis badan usaha negara atau swasta. Lembaga atau institusi diklat, secara mandiri atau bekerjasama dengan pihak lain, perlu segera mengambil peran nyata untuk percepatan peningkatan kapasitas tenaga dimaksud. PusKonseR– Badan Litbang Kehutanan tentunya akan mendukung melalui keterlibatan para penelitinya dalam memberikan teori dan praktek yang diperlukan.
Dengan terbitnya buku pedoman ini, kami sampaikan penghargaan dan terima kasih kepada IAFCP (Indonesia-Australia Forest Carbon Partnership) yang telah membantu penyusunan buku ini melalui rangkaian Focus Group Discussion
(FGD), serta kepada para peneliti Badan Litbang Kehutanan dan praktisi hukum Kementerian Kehutanan yang telah membantu mencermati format dan isi pedoman. Kepada para pembaca dan pengguna, kami mohon kritik dan saran apabila masih terdapat kekurangan atau kelemahan pada bagian-bagian buku ini.
Semoga pedoman ini bermanfaat sebagai bahan rujukan para pihak yang berkepentingan.
Bogor, 28 Januari 2013
Kepala Pusat Litbang Konservasi dan Rehabilitasi,
Ir. H. Adi Susmianto, M.Sc
Daftar Isi
Kata Pengantar ...iii
Daftar Isi ... v
PERATURAN KEPALA BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KEHUTANAN, Nomor: P. 01/VIII-P3KR/2012 TENTANG PEDOMAN PENGGUNAAN MODEL ALOMETRIK UNTUK PENDUGAAN BIOMASSA DAN STOK KARBON HUTAN DI INDONESIA ... 1
Lampiran 1. PROSEDUR PENDUGAAN BIOMASSA DAN PERHITUNGAN STOK KARBON HUTAN ... 5
Lampiran 2. PENYAJIAN HASIL PENDUGAAN BIOMASSA DAN PERHITUNGAN STOK KARBON HUTAN ... 31
1. Ketentuan ... 5
2. Proses Pendugaan ... 5
2.1 Persiapan ... 6
2.2 Pemilahan data dasar ... 6
2.3 Pemilahan model alometrik ... 6
2.4 Pendugaan Biomassa ... 7
2.5 Perhitungan Stok Karbon ... 28
1. Prinsip ... 31
PERATURAN
KEPALA BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KEHUTANAN
Nomor: P. 01/VIII-P3KR/2012 TENTANG
PEDOMAN PENGGUNAAN MODEL ALOMETRIK UNTUK PENDUGAAN BIOMASSA DAN STOK KARBON
HUTAN DI INDONESIA
KEPALA BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KEHUTANAN,
Menimbang : a.
b.
bahwa untuk meningkatkan akurasi hasil dugaan biomassa dan stok karbon hutan diperlukan model pendugaan yang sesuai dengan tipe ekosistem hutan Indonesia;
bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, perlu menetapkan Peraturan Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan tentang Pedoman Penggunaan Model Alometrik untuk Pendugaan Biomassa dan Stok Karbon Hutan di Indonesia;
Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang
Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya;
2. Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan;
3. Peraturan Pemerintah Nomor 12 Tahun 2010 tentang Penelitian dan Pengembangan serta Pendidikan dan Pelatihan Kehutanan;
4. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 61 Tahun 2011 tentang Rencana Aksi Nasional Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca;
KEMENTERIAN KEHUTANAN
BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KEHUTANAN J A K A R T A
5. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 71 Tahun 2011 tentang Penyelenggaraan Inventarisasi Gas Rumah Kaca Nasional;
6. Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.68/Menhut-II/2008 tentang Penyelenggaraan Demonstration Activities Pengurangan Emisi Karbon dari Deforestasi dan Degradasi Hutan;
7. Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.30/Menhut-II/2009 tentang Pengurangan Emisi Karbon dari Deforestasi dan Degradasi Hutan;
8. Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.20/Menhut-II/2012 tentang Penyelenggaraan Karbon Hutan;
Memperhatikan : SNI 7725:2011 tentang Penyusunan Persamaan
Alometrik untuk Penaksiran Cadangan Karbon Hutan Berdasar Pengukuran Lapangan (ground based forest carbon accounting).
MEMUTUSKAN:
Menetapkan: PERATURAN KEPALA BADAN PENELITIAN DAN PEN GEM B ANG AN KEHUTA NA N TE N TA NG PEDOMAN PENGGUNAAN MODEL ALOMETRIK UNTUK PENDUGAAN BIOMAS SA DAN STOK KARBON HUTAN DI INDONESIA.
Pasal 1 Dalam peraturan ini yang dimaksud dengan:
1. Model alometrik adalah model regresi yang menyatakan hubungan antara ukuran atau pertumbuhan dari salah satu komponen individu pohon dengan keseluruhan komponen dari individu pohon tersebut.
2. Biomassa adalah total berat kering dari vegetasi, dinyatakan dalam satuan kilogram (kg) atau ton.
3. Biomassa pohon bagian atas (aboveground biomass) adalah total berat
kering tanur bagian pohon di atas permukaan tanah yang meliputi batang, cabang, ranting, daun, bunga dan buah (jika ada), dinyatakan dalam satuan kilogram (kg) atau ton.
4. Biomassa tegakan adalah akumulasi biomassa pohon per satuan luas area, dinyatakan dalam satuan ton per hektar (ton/ha).
5. Stok karbon adalah karbon yang tersimpan dalam biomassa atau ekosistem hutan.
6. Tegakan adalah komunitas tumbuhan (pohon) pada area tertentu.
7. BEF (Biomass Expansion Factor) pohon adalah faktor yang digunakan
untuk menggandakan biomassa batang ke biomassa pohon bagian atas. 8. BEF (Biomass Expansion Factor) tegakan adalah faktor yang digunakan
untuk menggandakan biomassa batang per satuan luas suatu tegakan (Σ volume*berat jenis kayu) ke biomassa tegakan bagian atas.
9. BCEF (Biomass Conversion and Expansion Factor) adalah faktor yang
digunakan untuk mengkonversi volume (volume komersial) tegakan hasil inventarisasi ke biomassa batang dan menggandakannya menjadi biomassa tegakan bagian atas, dinyatakan dengan satuan per hektar. 10. Berat jenis kayu (wood density atau specific gravity) adalah bilangan yang
menyatakan perbandingan antara berat kering (oven-dry weight) per
satuan volume kayu, dinyatakan dalam satuan kilogram per meter kubik (kg/m3) atau gram per sentimeter kubik (gr/cm3).
11. Dbh (diameter at breast height) adalah diameter pohon setinggi dada yang
diukur pada ketinggian kurang lebih 1,3 m di atas permukaan tanah, dinyatakan dengan satuan sentimeter (cm) dengan ketelitian satu angka di belakang koma.
12. Tinggi bebas cabang adalah tinggi pohon yang diukur sampai percabangan pertama, dinyatakan dalam satuan meter (m) dengan ketelitian satu angka di belakang koma.
13. Tinggi total adalah panjang pohon yang telah rebah ditambah dengan tinggi tunggak yang tertinggal, dinyatakan dalam satuan meter (m) dengan ketelitian satu angka di belakang koma.
14. Faktor bentuk (form factor) adalah nilai koreksi untuk perhitungan volume
pohon berdiri, karena rumus untuk menghitung volume pohon berdiri didasarkan pada rumus perhitungan silinder, sedangkan bentuk batang pohon pada dasarnya tidak pernah berbentuk silinder.
Pasal 2
Model Alometrik digunakan untuk pendugaan biomassa pohon dan tegakan hutan di Indonesia sebagai dasar perhitungan stok karbon hutan dan penentuan faktor emisi gas rumah kaca, terutama karbon dioksida (CO2) dari sektor berbasis lahan.
Pasal 3
Prosedur pendugaan biomassa dan stok karbon hutan di Indonesia dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut:
a. persiapan;
b. pemilahan data dasar; c. pemilihan model;
d. pendugaan biomassa; dan e. perhitungan stok karbon.
Pasal 4
Pedoman penggunaan model alometrik untuk pendugaan biomassa dan stok karbon hutan di Indonesia mencakup:
a. Prosedur pendugaan biomassa dan perhitungan stok karbon hutan sebagaimana tercantum pada lampiran 1 peraturan ini;
b. Penyajian hasil pendugaan biomassa dan perhitungan stok karbon sebagaimana tercantum pada lampiran 2 peraturan ini.
Pasal 5
Peraturan Kepala Badan ini mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan. Ditetapkan di : Jakarta
Pada tanggal : 26 November 2012
KEPALA BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KEHUTANAN, ttd.
IMAN SANTOSO
Salinan Peraturan ini disampaikan kepada Yth.: 1. Menteri Kehutanan;
2. Pejabat Eselon I lingkup Kementerian Kehutanan;
Lampiran 1. Peraturan Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan
Kehutanan
Nomor : P. 01/VIII-P3KR/2012 Tanggal : 26 November 2012
PROSEDUR PENDUGAAN BIOMASSA DAN PERHITUNGAN STOK KARBON HUTAN
1. Ketentuan
Ketentuan yang perlu diperhatikan dan merupakan persyaratan yang harus dipenuhi dalam pendugaan biomassa dan stok karbon hutan adalah sebagai berikut:
1.1 Pedoman ini digunakan untuk melakukan pendugaan biomassa dan stok karbon terhadap obyek berupa individu pohon ataupun tegakan hutan.
1.2 Obyek dapat dipilah berdasarkan satuan jumlah pohon (N), satuan luasan (ha), dan/atau tipe ekosistem hutan.
1.3 Untuk mendapatkan hasil pendugaan biomassa dan stok karbon hutan diperlukan data dasar berupa jenis pohon, diameter setinggi dada (D) dan tinggi pohon (H), serta informasi letak/lokasi dimana obyek tersebut berada.
1.4 Model-model alometrik yang belum tercakup dalam pedoman ini dapat digunakan sepanjang memenuhi kaidah ilmiah.
2. Proses Pendugaan
Proses pendugaan biomassa dan stok karbon hutan dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut:
2.1 Persiapan
2.1.1 Tentukan obyek yang akan diduga biomassa dan stok karbonnya, mencakup:
a. Obyek, apakah berupa pohon atau tegakan?
b. Jenis (spesies) vegetasi penyusun dari obyek tersebut, apakah satu jenis atau bermacam jenis?
c. Tipe ekosistem hutan tempat keberadaan obyek tersebut. d. Letak/lokasi dimana obyek tersebut berada, meliputi:
• letak geografis,
• letak berdasarkan administrasi pengelolaan hutan, • letak berdasarkan administrasi pemerintahan (desa,
kecamatan, kabupaten/kota, provinsi).
Informasi letak/lokasi akan sangat membantu dalam menentukan jenis/tipe ekosistem ketika pengguna tidak memiliki data/informasi jenis/tipe ekosistem.
2.1.2 Siapkan seluruh data dan informasi berkaitan dengan obyek yang akan diduga biomassa dan stok karbonnya tersebut.
2.2 Pemilahan data dasar
Terdapat 4 (empat) kemungkinan kondisi ketersediaan data dasar, yaitu:
a. tersedia data jenis pohon, diameter pohon (D), dan tinggi pohon (H),
b. tersedia data jenis pohon dan diameter pohon (D), c. tersedia data diameter pohon (D) dan tinggi pohon (H), d. tersedia data diameter pohon (D) saja.
2.3 Pemilahan model alometrik
a. Tersedia model alometrik biomassa pohon yang sesuai dengan jenis/ekosistem hutan tempat obyek berada dan pada lokasi obyek tersebut.
b. Tersedia model alometrik biomassa pohon yang sesuai dengan jenis/ekosistem hutan tempat obyek berada tetapi tidak pada lokasi obyek tersebut.
c. Tersedia model alometrik volume pohon yang sesuai dengan jenis/ekosistem hutan tempat obyek berada dan pada lokasi obyek tersebut.
d. Tersedia model alometrik volume pohon yang sesuai dengan jenis/ekosistem hutan tempat obyek berada tetapi tidak pada lokasi obyek tersebut.
e. Tidak tersedia model alometrik biomassa pohon maupun model alometrik volume pohon.
2.4 Pendugaan Biomassa
Prosedur penggunaan model-model alometrik untuk pendugaan biomassa pohon dan tegakan yang terdapat dalam monograf “Model-Model Alometrik untuk Pendugaan Biomassa Pohon pada Berbagai Tipe Ekosistem Hutan di Indonesia”, dijadikan sebagai acuan dalam rangka pendugaan biomassa (Gambar 1). Berdasarkan Gambar 1 tersebut, secara keseluruhan terdapat 85 alur-urutan yang merupakan prosedur pemanfaatan basis data model-model alometrik untuk pendugaan biomassa berdasarkan ketersediaan data yang dimiliki (Tabel 1).
DATA INVENTARISASI HUTAN (Jenis Pohon, Diameter (D) dan Tinggi)
Apakah tersedia model alometrik biomassa di
lokasi tersebut?
Apakah sebaran Dbh hasil inventarisasi berada pada kisaran
Dbh pohon contoh model alometrik biomassa tersebut?
Apakah model alometrik biomassa yang tersedia sesuai dengan jenis/ekosistem di lokasi tersebut? GUNAKAN MODEL ALOMETRIK BIOMASSA TERSEBUT B = f (D), B = f (D, H)
Apakah tersedia model alometrik volume di
lokasi tersebut?
Apakah sebaran Dbh hasil inventarisasi berada pada kisaran
Dbh pohon contoh model alometrik volume tersebut? Apakah model alometrik volume yang tersedia sesuai dengan jenis/ekosistem di lokasi tersebut? GUNAKAN MODEL ALOMETRIK VOLUME TERSEBUT V = F (D), V=F (D,H)
Apakah tersedia model alometrik biomassa di lokasi lain yang sesuai dengan jenis/ekositem di lokasi tersebut?
Apakah sebaran Dbh hasil inventarisasi berada pada kisaran
Dbh pohon contoh model alometrik biomassa di lokasi lain
tersebut?
GUNAKAN MODEL ALOMETRIK BIOMASSA DI
LOKASI LAIN TERSEBUT B = f (D), B = f (D, H)
Apakah tersedia model alometrik volume di lokasi lain yang sesuai dengan jenis/ekosistem
di lokasi tersebut?
Apakah sebaran Dbh hasil inventarisasi berada pada kisaran
Dbh pohon contoh model alometrik volume di lokasi lain
tersebut?
GUNAKAN MODEL ALOMETRIK VOLUME DI LOKASI LAIN TERSEBUT V = f (D), V = f (D, H)
Apakah tersedia data diameter dan tinggi
pohon?
GUNAKAN RUMUS GEOMETRIK V = ¼π x D2x H x F
Susun model alometrik baru dengan berpedoman pada
SNI 7725:2011
Apakah tersedia data
BEF pohon tersebut?
Ya
Tidak
Apakah tersedia data wood density?
BIOMASSA POHON DI ATAS PERMUKAAN TANAH (kg)
GUNAKAN RUMUS B = Vtegakanx BCEF 1 2 3 4 5 6 8 9 10 11 12 13 14 15 16 19 20 21 22 23 24 25 GUNAKAN RUMUS B = Vpohonx WD x BEFpohon
GUNAKAN RUMUS B = Σ(Vpohonx WD) x
BEFtegakan
BIOMASSA TEGAKAN DI ATAS PERMUKAAN TANAH (ton/ha)
7 17 18 Ya Tidak Ya Tidak Ya Tidak Ya Tidak Ya Tidak Ya Tidak Ya Tidak Ya Tidak Ya Tidak Ya Tidak Ya Ya Tidak Tidak
Gambar 1. Diagram prosedur penggunaan model-model alometrik
untuk pendugaan biomassa pohon dan tegakan
DATA INVENTARISASI HUTAN (Jenis Pohon, Diameter (D) dan Tinggi)
Apakah tersedia model alometrik biomassa di
lokasi tersebut?
Apakah sebaran Dbh hasil inventarisasi berada pada kisaran
Dbh pohon contoh model alometrik biomassa tersebut?
Apakah model alometrik biomassa yang tersedia sesuai dengan jenis/ekosistem di lokasi tersebut? GUNAKAN MODEL ALOMETRIK BIOMASSA TERSEBUT B = f (D), B = f (D, H)
Apakah tersedia model alometrik volume di
lokasi tersebut?
Apakah sebaran Dbh hasil inventarisasi berada pada kisaran
Dbh pohon contoh model alometrik volume tersebut? Apakah model alometrik volume yang tersedia sesuai dengan jenis/ekosistem di lokasi tersebut? GUNAKAN MODEL ALOMETRIK VOLUME TERSEBUT V = F (D), V=F (D,H)
Apakah tersedia model alometrik biomassa di lokasi lain yang sesuai dengan jenis/ekositem di lokasi tersebut?
Apakah sebaran Dbh hasil inventarisasi berada pada kisaran
Dbh pohon contoh model alometrik biomassa di lokasi lain
tersebut?
GUNAKAN MODEL ALOMETRIK BIOMASSA DI
LOKASI LAIN TERSEBUT B = f (D), B = f (D, H)
Apakah tersedia model alometrik volume di lokasi lain yang sesuai dengan jenis/ekosistem
di lokasi tersebut?
Apakah sebaran Dbh hasil inventarisasi berada pada kisaran
Dbh pohon contoh model alometrik volume di lokasi lain
tersebut?
GUNAKAN MODEL ALOMETRIK VOLUME DI LOKASI LAIN TERSEBUT
V = f (D), V = f (D, H)
Apakah tersedia data diameter dan tinggi
pohon?
GUNAKAN RUMUS GEOMETRIK V = ¼π x D2x H x F
Susun model alometrik baru dengan berpedoman pada
SNI 7725:2011
Apakah tersedia data
BEF pohon tersebut?
Ya
Tidak
Apakah tersedia data wood density?
BIOMASSA POHON DI ATAS PERMUKAAN TANAH (kg)
GUNAKAN RUMUS B = Vtegakanx BCEF 1 2 3 4 5 6 8 9 10 11 12 13 14 15 16 19 20 21 22 23 24 25 GUNAKAN RUMUS B = Vpohonx WD x BEFpohon
GUNAKAN RUMUS B = Σ(Vpohonx WD) x
BEFtegakan
BIOMASSA TEGAKAN DI ATAS PERMUKAAN TANAH (ton/ha)
7 17 18 Ya Tidak Ya Tidak Ya Tidak Ya Tidak Ya Tidak Ya Tidak Ya Tidak Ya Tidak Ya Tidak Ya Tidak Ya Ya Tidak Tidak
Gambar 1. Diagram prosedur penggunaan model-model alometrik
Catatan: angka yang dicetak miring dan digaris-bawahi menunjukkan arah panah dengan garis putus (Gambar 1), yang berarti alur dilanjutkan meskipun data yang diperlukan tidak tersedia.
Untuk menentukan atau memilih model alometrik biomassa atau volume yang bisa digunakan dalam pendugaan biomassa, terlebih dahulu kita identifikasi cakupan data dan informasi yang tersedia berkaitan dengan obyek yang akan diduga. Hal ini perlu dilakukan agar pemilihan model alometrik biomassa atau volume yang akan digunakan sesuai dengan ketersediaan data dan informasi yang dimiliki.
Tabel 1. Alur urutan untuk menentukan pendekatan (metodologi)
pendugaan biomassa No Alur Urutan 1 1-2-3-4-5-6-7 2 1-2-3-4-5-6-7 3 1-2-3-4-8-9-10-6-7 4 1-2-3-4-8-9-10-6-7 5 1-2-3-4-8-9-11-12-13-14-15-16-17-6-7 6 1-2-3-4-8-9-11-12-13-14-15-16-18-7 7 1-2-3-4-8-9-11-12-13-14-15-19-7 8 1-2-3-4-8-9-11-12-13-14-15-16-17-6-7 9 1-2-3-4-8-9-11-12-13-14-15-18-7 10 1-2-3-4-8-9-11-12-13-14-15-19-7 11 1-2-3-4-8-9-11-12-20-21-22-15-16-17-6-7 12 1-2-3-4-8-9-11-12-20-21-22-15-16-18-7 13 1-2-3-4-8-9-11-12-20-21-22-15-19-7 14 1-2-3-4-8-9-11-12-20-21-22-15-16-17-6-7 15 1-2-3-4-8-9-11-12-20-21-22-15-16-18-7 16 1-2-3-4-8-9-11-12-20-21-22-15-19-7 17 1-2-3-4-8-11-12-20-23-24-15-16-17-6-7 18 1-2-3-4-8-11-12-20-23-24-15-16-18-7 19 1-2-3-4-8-11-12-20-23-24-15-19-7 20 1-2-3-4-8-11-12-20-23-25-6-7 21 1-2-3-4-8-11-12-20-21-22-15-16-17-6-7 22 1-2-3-4-8-11-12-20-21-22-15-16-18-7 No Alur Urutan 23 1-2-3-4-8-11-12-20-21-22-15-19-7 24 1-2-3-4-8-11-12-20-21-22-15-16-17-6-7 25 1-2-3-4-8-11-12-20-21-22-15-16-18-7 26 1-2-3-4-8-11-12-20-21-22-15-19-7 27 1-2-3-4-8-11-23-24-15-16-17-6-7 28 1-2-3-4-8-11-23-24-15-16-18-7 29 1-2-3-4-8-11-23-24-15-19-7 30 1-2-3-4-8-11-23-25-6-7 31 1-2-3-8-9-10-6-7 32 1-2-3-8-9-10-6-7 33 1-2-3-8-9-11-12-13-14-15-16-17-6-7 34 1-2-3-8-9-11-12-13-14-15-16-18-7 35 1-2-3-8-9-11-12-13-14-15-19-7 36 1-2-3-8-9-11-12-13-14-15-16-17-6-7 37 1-2-3-8-9-11-12-13-14-15-18-7 38 1-2-3-8-9-11-12-13-14-15-19-7 39 1-2-3-8-9-11-12-20-21-22-15-16-17-6-7 40 1-2-3-8-9-11-12-20-21-22-15-16-18-7 41 1-2-3-8-9-11-12-20-21-22-15-19-7 42 1-2-3-8-9-11-12-20-21-22-15-16-17-6-7 43 1-2-3-8-9-11-12-20-21-22-15-16-18-7 44 1-2-3-8-9-11-12-20-21-22-15-19-7 No Alur Urutan 45 1-2-3-8-11-12-20-23-24-15-16-17-6-7 46 1-2-3-8-11-12-20-23-24-15-16-18-7 47 1-2-3-8-11-12-20-23-24-15-19-7 48 1-2-3-8-11-12-20-23-25-6-7 49 1-2-3-8-11-12-20-21-22-15-16-17-6-7 50 1-2-3-8-11-12-20-21-22-15-16-18-7 51 1-2-3-8-11-12-20-21-22-15-19-7 52 1-2-3-8-11-12-20-21-22-15-16-17-6-7 53 1-2-3-8-11-12-20-21-22-15-16-18-7 54 1-2-3-8-11-12-20-21-22-15-19-7 55 1-2-3-8-11-23-24-15-16-17-6-7 56 1-2-3-8-11-23-24-15-16-18-7 57 1-2-3-8-11-23-24-15-19-7 58 1-2-3-8-11-23-25-6-7 59 1-2-11-12-13-14-15-16-17-6-7 60 1-2-11-12-13-14-15-16-18-7 61 1-2-11-12-13-14-15-19-7 62 1-2-11-12-13-14-15-16-17-6-7 63 1-2-11-12-13-14-15-18-7 64 1-2-11-12-13-14-15-19-7 65 1-2-11-12-13-14-15-25-6-7 66 1-2-11-12-20-21-22-15-16-17-6-7
Berdasarkan ketersediaan data dasar yang dimiliki, dari 85 alur-urutan tersebut dapat disederhanakan menjadi sebanyak 7 (tujuh) pendekatan utama dalam memilih model alometrik untuk pendugaan biomassa, yaitu:
No Alur Urutan 23 1-2-3-4-8-11-12-20-21-22-15-19-7 24 1-2-3-4-8-11-12-20-21-22-15-16-17-6-7 25 1-2-3-4-8-11-12-20-21-22-15-16-18-7 26 1-2-3-4-8-11-12-20-21-22-15-19-7 27 1-2-3-4-8-11-23-24-15-16-17-6-7 28 1-2-3-4-8-11-23-24-15-16-18-7 29 1-2-3-4-8-11-23-24-15-19-7 30 1-2-3-4-8-11-23-25-6-7 31 1-2-3-8-9-10-6-7 32 1-2-3-8-9-10-6-7 33 1-2-3-8-9-11-12-13-14-15-16-17-6-7 34 1-2-3-8-9-11-12-13-14-15-16-18-7 35 1-2-3-8-9-11-12-13-14-15-19-7 36 1-2-3-8-9-11-12-13-14-15-16-17-6-7 37 1-2-3-8-9-11-12-13-14-15-18-7 38 1-2-3-8-9-11-12-13-14-15-19-7 39 1-2-3-8-9-11-12-20-21-22-15-16-17-6-7 40 1-2-3-8-9-11-12-20-21-22-15-16-18-7 41 1-2-3-8-9-11-12-20-21-22-15-19-7 42 1-2-3-8-9-11-12-20-21-22-15-16-17-6-7 43 1-2-3-8-9-11-12-20-21-22-15-16-18-7 44 1-2-3-8-9-11-12-20-21-22-15-19-7 No Alur Urutan 45 1-2-3-8-11-12-20-23-24-15-16-17-6-7 46 1-2-3-8-11-12-20-23-24-15-16-18-7 47 1-2-3-8-11-12-20-23-24-15-19-7 48 1-2-3-8-11-12-20-23-25-6-7 49 1-2-3-8-11-12-20-21-22-15-16-17-6-7 50 1-2-3-8-11-12-20-21-22-15-16-18-7 51 1-2-3-8-11-12-20-21-22-15-19-7 52 1-2-3-8-11-12-20-21-22-15-16-17-6-7 53 1-2-3-8-11-12-20-21-22-15-16-18-7 54 1-2-3-8-11-12-20-21-22-15-19-7 55 1-2-3-8-11-23-24-15-16-17-6-7 56 1-2-3-8-11-23-24-15-16-18-7 57 1-2-3-8-11-23-24-15-19-7 58 1-2-3-8-11-23-25-6-7 59 1-2-11-12-13-14-15-16-17-6-7 60 1-2-11-12-13-14-15-16-18-7 61 1-2-11-12-13-14-15-19-7 62 1-2-11-12-13-14-15-16-17-6-7 63 1-2-11-12-13-14-15-18-7 64 1-2-11-12-13-14-15-19-7 65 1-2-11-12-13-14-15-25-6-7 66 1-2-11-12-20-21-22-15-16-17-6-7 No Alur Urutan 67 1-2-11-12-20-21-22-15-16-18-7 68 1-2-11-12-20-21-22-15-19-7 69 1-2-11-12-20-21-22-15-16-17-6-7 70 1-2-11-12-20-21-22-15-16-18-7 71 1-2-11-12-20-21-22-15-19-7 72 1-2-11-12-20-23-24-15-16-17-6-7 73 1-2-11-12-20-23-24-15-16-18-7 74 1-2-11-12-20-23-24-15-19-7 75 1-2-11-12-20-23-25-6-7 76 1-2-11-12-20-21-22-15-16-17-6-7 77 1-2-11-12-20-21-22-15-16-18-7 78 1-2-11-12-20-21-22-15-19-7 79 1-2-11-12-20-21-22-15-16-17-6-7 80 1-2-11-12-20-21-22-15-16-18-7 81 1-2-11-12-20-21-22-15-19-7 82 1-2-11-23-24-15-16-17-6-7 83 1-2-11-23-24-15-16-18-7 84 1-2-11-23-24-15-19-7 85 1-2-11-23-25-6-7
2.4.1 Pendekatan-1 digunakan apabila model alometrik biomassa pohon yang dikembangkan untuk suatu jenis atau tipe ekosistem yang akan diduga di lokasi tertentu tersedia.
a. Apabila model alometrik biomassa untuk jenis pohon atau tipe ekosistem spesifik di lokasi yang akan diduga tersedia, maka selanjutnya dilakukan pengecekan apakah sebaran diameter (D) pohon hasil inventarisasi berada pada kisaran diameter pohon contoh yang digunakan untuk menyusun model alometrik biomassa pohon tersebut.
b. Apabila diameter pohon hasil inventarisasi berada pada kisaran diameter pohon contoh, maka model alometrik biomassa tersebut dapat diaplikasikan langsung untuk menduga biomassa pohon hasil inventarisasi.
c. Pendugaan biomassa pada tingkat pohon dengan menggunakan model alometrik biomassa pohon (Tabel 2) dilakukan dengan memasukkan peubah penduga (diameter setinggi dada (D); diameter setinggi dada
dan tinggi pohon (D, H); diameter setinggi dada, tinggi
pohon dan berat jenis kayu (D, H, ρ)) kedalam model
alometrik biomassa pohon terpilih, atau dirumuskan dengan bentuk umum:
B = f (D); B = f (D, H); atau B = f (D, H, )
d. Apabila diameter pohon hasil inventarisasi berada di luar kisaran diameter pohon contoh, maka validasi perlu dilakukan untuk menguji nilai dugaan biomassa pohon yang dihasilkan oleh model. Apabila nilai dugaan menunjukkan kecenderungan over atau under-estimate,
maka pendekatan-2 dapat digunakan.
e. Biomassa tegakan kemudian dapat dihitung dengan cara menjumlahkan biomassa individu-individu pohon penyusun tegakan.
Tabel 2. Model Alometrik Biomassa Pohon
Tipe
Eko-sistem Jenis Pohon Lokasi Model Alometrik
Jumlah pohon contoh
DBH (cm) R2
HLK Campuran KALTENG lnBBA = -3,408 + 2,708 lnDpkl
40 1,1-115,0 0,98 HLK Campuran KALTIM lnBBA = -1,201 + 2,196 lnD 122 6,0-200,0 0,96 HLK Intsia sp. Papua lnBBA = - 0,762 + 2,51
logD 13 5,5-40,0 0,99 HLK Pometia sp. Papua logBBA = -0,841 + 2,572
logD 15 5,0-40,0 0,99 HLKs Campuran Jambi lnBBA = -2,75 + 2,591 lnD 29 7,6-48,1 0,95 HLKs Campuran Jambi BBA = 0,11 D2+0,62 29 7,6-48,1 tad
HLKs Campuran KALTIM BBA = 0,19999 D2,14 63 2,0-24,2 0,93
HLKs Campuran Jambi BBA = 0,0639 D2,3903 21 10,3-48,0 0,97
HLKs Schima wallichii SUMSEL BBA = 0,459 D1,364 15 3,0-24,6 0,92
HKr Campuran KALBAR lnBBA = -1,861 + 2,528 lnD 12 2,6-30,3 0,99 HM Avicennia marina JABAR BBA = 0,1848 D2,3524 47 6,4-35,2 0,98
HM Bruguiera
gymnorrhiza KALBAR logBBA = -0,552 + 2,244 logD 33 5,0-60,9 0,99 HM Rhizophora apiculata KALBAR logBBA = -1,315 + 2,614
logD 37 2,5-67,1 0,96 HM Xylocarpus granatum KALBAR logBBA = -0,763 + 2,23 logD 30 5,9-49,4 0,95 HRG Campuran KALTENG BBA = 0,064 D2,657 119 2,5-71,6 0,975
HRGs (setelah kebakaran)
Campuran SUMSEL BBA = 0,153 D2,40 20 2,0-30,2 0,98
HRGs (setelah tebangan)
Campuran SUMSEL BBA = 0,206 D2,451 30 5,3-64,0 0,96
HT Acacia auriculiformis DIY BBA = 0,078 (D2H)0,902 10 tad 0,96
HT Acacia crassicarpa SUMSEL BBA = 0,027 D2,891 10 6,0-28,0 0,96
HT Acacia mangium JABAR BBA = 0,199 D2,148 22 1,4-18,9 0,99
HT Acacia mangium SUMSEL BBA = 0,070 D2,58 30 8,69-28,3 0,97
HT Dalbergia latifolia DIY BBA = 0,7458 (D2H)0,6394 10 tad 0,89
HT Eucalyptus grandis SUMUT BBA = 0,0678 D2,5794 18 2,4-27,2 0,99
Tipe
Eko-sistem Jenis Pohon Lokasi Model Alometrik
Jumlah pohon contoh DBH (cm) R2 HT Paraserianthes
falcataria JABAR BBA = 0,1126 D
2,3445 34 2-30 0,94
HT Paraserianthes
falcataria JATENG logBBA = -1,239 + 2,561 logD 30 < 43,8 0,97 HT Paraserianthes
falcataria JATIM BBA = 0,3196 D
1,9834 35 16,6-31,2 0,87
HT Pinus merkusii JABAR BBA = 0,0936 D2,4323 80 0,4-44 0,95
HT Pinus merkusii JABAR logBBA = -0,686 + 2,26
logD 30 17,8-57 0,94 HT Shorea leprosula JABAR BBA = 0,032 D2,7808 18 9,9-20 0,98
HT Swietenia macrophylla
JABAR logBBA = -1,32 + 2,65 logD 30 14,3-36,9 0,96 HT Swietenia mahagoni JATENG BBA = 0,903 (D2H)0,684 10 tad 0,99
HT Tectona grandis JABAR BBA = 0,054 D 2,579 32 4,8-26,2 0,98
HT Tectona grandis JATENG BBA = 0,015 (D2H)1,084 10 tad 0,98
HT Tectona grandis DIY BBA = 0,370 D2,125 15 5,1-27,1 0,92
Keterangan: HKr (Hutan Kerangas), HLK (Hutan Lahan Kering), HLKs (Hutan Lahan Kering Sekunder), HM (Hutan Mangrove), HRG (Hutan Rawa Gambut), HRGs (Hutan Rawa Gambut Sekunder), HT (Hutan Tanaman), BBA (Biomassa Bagian Atas, dalam satuan kg), D (Diameter setinggi dada, dalam satuan cm), H (Tinggi pohon, dalam satuan m), (berat jenis kayu, dalam satuan kg/m3), Dpkl (Diameter pangkal batang, dalam satuan cm), tad (tidak ada data).
Kotak 1: Contoh Pendekatan 1 dan 2
Data hasil kegiatan inventarisasi:
Lokasi : Kuala Kapuas, Kalimantan Tengah Tipe Hutan : Hutan rawa gambut
Hasil pengukuran : No Jenis D (cm) 1 Ramin 23,2 2 Ramin 33,1 3 Ramin 33,4 4 Meranti 23,9 5 Bintangur 21,6 6 Bintangur 28,3 7 Jangkang 22,3 8 Pantung 25,5 9 Kapur naga 25,5 10 Mertibu 24,5 Olah Data :
Berdasarkan data dan informasi tersebut, penghitungan biomassa tingkat pohon bagian atas dapat menggunakan pendekatan sebagai berikut:
Tersedia model alometrik spesifik di Hutan Rawa Gambut Daerah Kalimantan Tengah dengan kisaran diameter pohon hasil pengukuran tercakup dalam model, yaitu:
BBA = 0,064 (D)2,657
Maka, biomassa tingkat pohon bagian atas hasil pengukuran tersebut dapat dihitung dengan menggunakan model alometrik biomassa terpilih tersebut dengan memasukkan nilai-nilai diameter hasil pengukuran kedalam model:
2.4.2 Pendekatan-2 digunakan apabila model alometrik biomassa pohon yang dikembangkan untuk suatu jenis atau tipe ekosistem yang akan diduga di lokasi tertentu tidak/belum tersedia, tetapi model alometrik biomassa pohon untuk jenis atau tipe ekosistem tersebut sudah tersedia atau dikembangkan di lokasi lain.
a. Apabila model alometrik biomassa untuk jenis pohon atau tipe ekosistem yang sama sudah tersedia dari lokasi lain, maka selanjutnya dilakukan pengecekan apakah sebaran diameter pohon hasil inventarisasi berada pada kisaran diameter pohon contoh yang digunakan untuk menyusun model alometrik biomassa pohon tersebut. b. Apabila diameter pohon hasil inventarisasi berada pada
kisaran diameter pohon contoh, maka model alometrik biomassa yang dikembangkan di lokasi lain tersebut dapat diaplikasikan langsung untuk menduga biomassa pohon hasil inventarisasi.
c. Pendugaan biomassa pada tingkat pohon dengan menggunakan model alometrik biomassa pohon (Tabel 2) dilakukan dengan memasukkan peubah penduga (diameter setinggi dada (D); diameter setinggi dada
dan tinggi pohon (D, H); diameter setinggi dada, tinggi
pohon dan berat jenis kayu (D, H, ρ)) kedalam model
alometrik biomassa pohon terpilih, atau dirumuskan dengan bentuk umum:
B = f (D); B = f (D, H); atau B = f (D, H, )
d. Apabila diameter pohon hasil inventarisasi berada di luar kisaran diameter pohon contoh, maka validasi perlu dilakukan untuk menguji nilai dugaan biomassa pohon yang dihasilkan oleh model. Apabila nilai dugaan menunjukkan kecenderungan over atau under-estimate,
maka pendekatan-3 dapat digunakan.
e. Biomassa tegakan kemudian dapat dihitung dengan cara menjumlahkan biomassa individu-individu pohon penyusun tegakan.
2.4.3 Pendekatan-3 digunakan apabila model alometrik biomassa pohon yang dikembangkan untuk suatu jenis atau tipe ekosistem tertentu tidak/belum tersedia (baik di lokasi tersebut maupun di lokasi lain) tetapi model alometrik volume pohon yang spesifik untuk jenis atau tipe ekosistem yang akan diduga sudah dikembangkan di lokasi tersebut.
a. Sebelum menggunakan model alometrik volume pohon tersebut, terlebih dahulu dilakukan pengecekan apakah sebaran diameter pohon hasil inventarisasi berada pada kisaran diameter pohon contoh yang digunakan untuk menyusun model alometrik volume tersebut.
b. Apabila diameter pohon hasil inventarisasi berada pada kisaran diameter pohon contoh, maka model alometrik volume dapat diaplikasikan langsung untuk menduga volume pohon hasil inventarisasi.
c. Apabila diameter pohon hasil inventarisasi berada di luar kisaran diameter pohon contoh, maka validasi perlu dilakukan untuk menguji nilai dugaan volume pohon yang dihasilkan dari model. Apabila nilai dugaan menunjukkan kecenderungan over- atau under-estimate,
maka Pendekatan-4 dapat digunakan.
d. Pendugaan biomassa tingkat pohon dengan pendekatan volume dibutuhkan informasi tambahan berupa berat jenis pohon dan nilai BEF (biomass expansion factor)
pohon.
e. Apabila nilai berat jenis kayu untuk jenis pohon yang akan diduga tidak tersedia, maka dapat digunakan nilai berat jenis rata-rata untuk genus tersebut.
f. Nilai BEF pohon diperoleh dari perbandingan atau rasio
biomassa di atas permukaan tanah terhadap biomassa batang. Beberapa nilai BEF pohon sudah dikembangkan
untuk beberapa jenis atau tipe ekosistem hutan di Indonesia (Tabel 3).
Tabel 3. Nilai BEF (biomass expansion factor) Pohon
Jenis/Ekosistem Nilai BEF pohon Jenis/Ekosistem Nilai BEF pohon Acacia mangium 1,33 Hutan Rawa Gambut Sekunder 1,33
Bruguiera gymnorrhiza 1,61 Macaranga gigantea 1,43
Bruguiera spp. 1,57 Macaranga spp. 1,16
Elmerrillia celebica 1,58 Melastoma malabathricum 1,06
Elmerrillia ovalis 1,61 Nauclea sp. 1,16
Endospermum diadenum 1,66 Paraserianthes falcataria 1,34
Eucalyptus grandis 1,33 Pinus merkusii 1,31
Evodia sp. 1,42 Piper aduncum 1,07
Ficus sp. 1,11 Rhizophora apiculata 1,55
Fordia sp. 1,32 Rhizophora mucronata 1,61
Gardenia anysophylla 1,82 Rhizophora spp. 1,68
Geunsia pentandra 1,11 Schima wallichii 1,37
Gonystylus bancanus 1,67 Swietenia macrophylla 1,36
Hevea brasiliensis 1,73 Tectona grandis 1,46
Hutan Kerangas 1,23 Trema sp. 1,14
Hutan Lahan Kering
Sekunder 1,49 Xylocarpus granatum 1,81
g. Pendugaan biomassa tingkat pohon dengan menggunakan model alometrik volume (Tabel 4) dilakukan dengan memasukkan peubah penduga (diameter setinggi dada, tinggi pohon) kedalam model alometrik volume sehingga diperoleh nilai volume pohon. Nilai volume pohon ini kemudian dikalikan dengan berat jenis kayu dan nilai
BEF pohon jenis tersebut, atau dirumuskan:
B = .BEFpohon.(V = f (D, H))
h. Biomassa tegakan kemudian dapat dihitung dengan cara menjumlahkan biomassa individu-individu pohon penyusun tegakan.
Tabel 4. Model Alometrik Volume Pohon
Tipe
Ekosistem Jenis Lokasi Model Alometrik
Jumlah Pohon Contoh DBH (cm) R2 HLK Dipterocarpaceae
(Non Shorea) Maluku V = 0,0002134 D
2,4613 50 tad 0,99 HLK Dipterocarpus cornutus KALBAR V = 0,000417 D2,21 268 23-139 0,98 HLK Dipterocarpus cornutus KALSEL V = 0,000141 D 2,5141 129 20->100 tad HLK Dipterocarpus cornutus KALTIM V = 0,0001075 D 2,145 H0,557 130 12-140 tad HLK Dryobalanops lanceolata KALBAR V = 0,0000893 D 2,619 105 20-94 0,97 HLK Dryobalanops spp. KALBAR V = 0,000661 D2,1 268 22,5-118 0,97 HLK Duabanga sp. NTB V = 0,000107 D2,5541 68 tad 0,99 HLK Eusideroxylon zwageri SUMSEL V = 0,0001049 D 2,5728 262 8-33 tad
HLK Jenis lainnya non
Dipterocarpaceae Maluku V = 0,000168 D
2,507 55 tad 0,99
HLK Jenis lainnya non
Duabanga dan Toona
NTB V = 0,000051464 D2,5874 204 tad 0,95
HLK Shorea leprosula KALSEL V = 0,73 + 0,000045(D2H) tad tad tad
HLK Shorea spp. Jambi V = 0,0003053 D2,3035 134 20-100 tad
HLK Shorea spp. KALBAR V = 0,000372 D2,25 268 23-140 0,97
HLK Shorea spp. KALSEL V = 0,0001865 D2,4257 204 20-154 tad
HLK Shorea spp. KALTENG V = 0,0002427 D2,3894 172 20->105 0,97
HLK Shorea spp. KALTIM V = 0,000331 D2,332 188 20-124 0,97
HLK Shorea spp. Lampung V = 0,000942 D2,0647 tad tad 0,92
HLK Shorea spp. Maluku V = 0,000239 D2,4329 50 tad 0,99
HLK Shorea spp. Riau V = 0,000507 D2,1894 100 20-84 0,95
HLK Shorea spp. dan
Dipterocarpus spp. KALTENG V = 0,000261 D
2,37847 61 10->60 0,99
HLK Shorea sumatrana SUMBAR V = 0,0001546 D2,4664 tad tad tad
HLK Toona sureni NTB V = 0,00013 D2,5017 68 tad 0,97
HLK Vatica celebencis SULSEL V = 0,000313 D2,2656 200 20-79 tad
Tipe
Ekosistem Jenis Lokasi Model Alometrik
Jumlah Pohon Contoh DBH (cm) R2 HM Rhizophora conjugata KALTIM V = 0,0000675 D
1,947 H0,714 tad tad tad
HM Rhizophora spp. KALBAR V = 0,0000534 D2,097 H0,739 180 tad tad
HM Rhizophora spp. Papua Barat
V = 0,00029 D1,890 H0,462 tad tad tad
HRG Dactylocladus
stenostachys KALTENG V = 0,000156 D
2,107 H0,445 233 29-79,5 tad
HRG Dipterocarpacea
(Non Shorea) KALTENG V = 0,000136 D
2,5035 tad tad 0,97
HRG Gonystylus sp. KALTENG V = 0,000124 D2,538 tad tad 0,97
HRG Jenis lainnya non
Dipterocarpaceae
dan Gonystylus
KALTENG V = 0,000166 D2,438 tad tad 0,97
HRG Intsia sp. PABAR V = 0,000141 D2,477 246 tad 0,97
HRG Shorea spp. KALTENG V = 0,000101 D2,5844 tad tad 0,98
HRG Vatica spp. PABAR V = 0,0002953 D2,2705 246 tad 0,78
HRW Calopyllum sp. KALBAR logV = -1,005 + 2,556 logD 107 20-75 0,98 HT Acacia auriculiformis JATENG logV = -4,155 + 2,605 logD tad tad 0,95 HT Acacia mangium JABAR logV = -3,321 + 1,99 logD 46 5-35 0,98 HT Acacia mangium KALBAR V = 0,000253 D2,292 51 10-35 0,94
HT Acacia mangium KALSEL V = 0,000328 D2,2764 tad tad 0,98
HT Acacia mangium SUMSEL V = 0,000122 D2,4697 103 tad tad
HT Agathis loranthifolia JATENG logV = -3,824 + 2,447 logD tad tad 0,96 HT Alstonia sp. SUMSEL V = 0,000081 D2,06 H0,662 61 tad 0,92
HT Altingia excelsa JABAR V = 0,000257 D2,2563 tad tad tad
HT Dalbergia latifolia Bali V = 0,0004757 D2,0449 59 tad 0,91
HT Dalbergia latifolia JATIM logV = -3,568 + 2,115 logD tad tad 0,83 HT Dalbergia sisoides NTT V = 0,0000723 D2,4646 125 tad 0,98
HT Eucalyptus spp. NTT V = 0,00006598 D2,5056 130 tad 0,98
HT Gmelina arborea SUMSEL V = 0,0000669 D1,952 H0,794 103 5->30 0,99
HT Manilkara kauki Bali V = 0,00122 D1,7445 90 tad 0,84
HT Paraserianthes falcataria
Banten V = 0,00011 D2,5414 tad tad 0,94
Tipe
Ekosistem Jenis Lokasi Model Alometrik
Jumlah Pohon Contoh DBH (cm) R2 HT Paraserianthes
falcataria JABAR logV = -3,859 + 2,48 logD tad tad tad
HT Paraserianthes
falcataria JATIM logV = -3,702 + 2,423 logD tad tad 0,98
HT Pinus merkusii JABAR
& JATIM V = 0,0000305 D
1,642 H1,356 tad tad tad
HT Pinus merkusii JATENG V = 0,00000831 D3,254 100 tad 0,97
HT Pometia acuminata PABAR V = 0,000002 D2,394 H1,511 tad tad tad
Keterangan: HKr (Hutan Kerangas), HLK (Hutan Lahan Kering), HLKs (Hutan Lahan Kering Sekunder), HM (Hutan Mangrove, HRG (Hutan Rawa Gambut), HRGs (Hutan Rawa Gambut Sekunder), HT (Hutan Tanaman), V (Volume, dalam satuan m3), D (Diameter setinggi dada, dalam satuan cm), H (Tinggi pohon, dalam satuan m), tad (tidak ada data).
Kotak 2: Contoh Pendekatan 3 dan 4
Data hasil kegiatan inventarisasi:
Lokasi : Kalimantan Tengah jenis : Gonystylus bancanus
Hasil pengukuran : No Jenis D (cm) T-tot (m) 1 Gonystylus bancanus 26,1 24,5 2 Gonystylus bancanus 27,4 25,5 3 Gonystylus bancanus 36,9 22,0 4 Gonystylus bancanus 34,7 25,8 5 Gonystylus bancanus 33,4 19,5 6 Gonystylus bancanus 22,9 20,0 7 Gonystylus bancanus 22,9 20,5 8 Gonystylus bancanus 21,7 13,5 9 Gonystylus bancanus 14,9 8,5 10 Gonystylus bancanus 19,4 21,5 Olah Data :
Berdasarkan data dan informasi tersebut, penghitungan biomassa tingkat pohon bagian atas dapat menggunakan pendekatan sebagai berikut:
Tidak tersedia model alometrik biomassa tetapi tersedia model alometrik volume pohon
Gonystylus bancanus spesifik di daerah Kalimantan Tengah, yaitu: V = 0,000124 D2,5379
Serta terdapat informasi: Berat jenis : 630 kg/m3
BEF pohon : 1,67
Maka, biomassa tingkat pohon bagian atas hasil pengukuran tersebut dapat dihitung dengan menggunakan pendekatan model volume.
2.4.4 Pendekatan-4 digunakan apabila model alometrik volume pohon yang dikembangkan untuk suatu jenis atau tipe ekosistem yang akan diduga di lokasi tertentu tidak/belum tersedia, tetapi model alometrik volume pohon untuk jenis atau tipe ekosistem tersebut sudah tersedia atau dikembangkan di lokasi lain.
a. Apabila model alometrik volume untuk jenis pohon atau tipe ekosistem yang akan diduga sudah tersedia dari lokasi lain, maka selanjutnya dilakukan pengecekan apakah sebaran diameter pohon hasil inventarisasi berada pada kisaran diameter pohon contoh yang digunakan untuk menyusun model alometrik volume pohon tersebut. b. Apabila diameter pohon hasil inventarisasi berada pada
kisaran diameter pohon contoh, maka model alometrik volume yang dikembangkan di lokasi lain tersebut dapat diaplikasikan langsung untuk menduga volume pohon hasil inventarisasi.
c. Apabila diameter pohon hasil inventarisasi berada di luar kisaran diameter pohon contoh, maka validasi perlu dilakukan untuk menguji nilai dugaan volume pohon yang dihasilkan oleh model. Apabila nilai dugaan menunjukkan kecenderungan over- atau under-estimate,
maka Pendekatan-5 dapat digunakan.
d. Pendugaan biomassa tingkat pohon dengan pendekatan volume dibutuhkan informasi tambahan berupa berat jenis pohon dan nilai BEF (biomass expansion factor)
pohon.
e. Apabila nilai berat jenis kayu untuk jenis pohon yang akan diduga tidak tersedia, maka dapat digunakan nilai rata-rata berat jenis kayu untuk genus tersebut.
f. Nilai BEF pohon diperoleh dari perbandingan atau rasio
biomassa di atas permukaan tanah terhadap biomassa batang. Beberapa nilai BEF pohon sudah dikembangkan
untuk beberapa jenis atau tipe ekosistem hutan di Indonesia (Tabel 3).
g. Pendugaan biomassa tingkat pohon dengan menggunakan model alometrik volume (Tabel 4) dilakukan dengan memasukkan peubah penduga (diameter setinggi dada, tinggi pohon) kedalam model alometrik volume sehingga diperoleh nilai volume pohon.
Nilai volume pohon ini kemudian dikalikan dengan berat jenis kayu dan nilai BEF pohon jenis tersebut, atau
dirumuskan dengan bentuk umum: B = .BEFpohon.(V = f (D, H))
h. Biomassa tegakan kemudian dapat dihitung dengan cara menjumlahkan biomassa individu-individu pohon penyusun tegakan.
2.4.5 Pendekatan-5 digunakan apabila model alometrik biomassa maupun model alometrik volume pohon yang dikembangkan untuk suatu jenis atau tipe ekosistem yang akan diduga tidak/belum tersedia, tetapi tersedia data tinggi (selain diameter) dari hasil pengukuran atau inventarisasi pohon dalam tegakan.
a. Apabila data pengukuran tinggi tersedia, maka dugaan volume pohon dapat diperoleh dengan cara pendekatan rumus geometrik (volume pohon merupakan hasil perkalian antara volume silinder dengan angka bentuk batang).
b. Angka bentuk (F) merupakan faktor koreksi, yang
dihitung dari perbandingan antara volume batang sebenarnya dengan volume silinder pada diameter dan tinggi yang sama. Apabila informasi angka bentuk batang untuk spesifik jenis yang diduga tidak tersedia, nilai angka bentuk batang umum 0,6 dapat digunakan. c. Pendugaan biomassa pada tingkat pohon dengan
menggunakan rumus geometrik volume dilakukan dengan memasukkan hasil pengukuran diameter setinggi dada, tinggi pohon dan angka bentuk batang kedalam rumus:
V = 0,25π.(D/100)2.H.F
d. Nilai volume pohon kemudian dikalikan dengan berat jenis dan nilai BEF jenis pohon tersebut (Tabel 3).
B = .V. BEFpohon
e. Biomassa tegakan kemudian dapat dihitung dengan cara menjumlahkan biomassa individu-individu pohon penyusun tegakan.
Kotak 3: Contoh Pendekatan 5
Data hasil kegiatan inventarisasi:
Lokasi : Kalimantan Timur Jenis : Macaranga gigantea
Hasil pengukuran : No Jenis D (cm) H (m) 1 Macaranga gigantea 14,9 10,0 2 Macaranga gigantea 19,4 11,0 3 Macaranga gigantea 21,7 11,5 4 Macaranga gigantea 22,9 11,5 5 Macaranga gigantea 22,9 11,5 6 Macaranga gigantea 26,1 12,0 7 Macaranga gigantea 27,4 12,0 8 Macaranga gigantea 33,4 13,0 9 Macaranga gigantea 34,7 13,0 10 Macaranga gigantea 36,9 13,5 Olah Data :
Berdasarkan data dan informasi tersebut, penghitungan biomassa bagian atas pohon dapat menggunakan pendekatan sebagai berikut:
Tidak tersedia persamaan alometrik biomassa maupun volume untuk pohon Macaranga gigantea sehingga dapat digunakan pendekatan volume dengan menggunakan rumus geometrik dengan tambahan informasi angka bentuk, berat jenis dan nilai BEFpohon.
Angka bentuk : 0,6 Berat jenis : 370 kg/m3
2.4.6 Pendekatan-6 digunakan apabila terdapat kondisi berikut: (a) tidak tersedia model alometrik biomassa pohon untuk suatu jenis atau tipe ekosistem yang akan diduga, tetapi (b) tersedia model alometrik volume atau data tinggi (selain diameter) yang dapat digunakan sebagai perangkat untuk mendapatkan nilai dugaan volume sesuai dengan jenis pohon dan tipe ekosistem yang akan diduga tersebut; dan (c) tersedia data berat jenis kayu, tetapi (d) tidak tersedia data BEFpohon.
a. Apabila nilai BEFpohon yang dikembangkan secara spesifik untuk jenis pohon atau tipe ekosistem yang akan diduga tidak tersedia, maka dapat digunakan pendekatan nilai
BEFtegakan.
b. Jika informasi tambahan nilai BEFpohon tidak tersedia tetapi berat jenis pohon tersedia, pendugaan biomassa pada tingkat tegakan untuk jenis daun lebar dapat menggunakan nilai BEFtegakan (FAO, 1997) sebesar 1,74 untuk Biomassa batang berdasarkan volume tegakan (BV) ≥ 190 ton/ha atau BEFtegakan = exp {3,213 - 0,506*ln(BV)} untuk BV < 190 ton/ha, dimana
BV=∑Vpohon.berat jenis luas areal
Sedangkan untuk tegakan konifer (pinus) dapat menggunakan nilai BEFtegakan sebesar 1,3 (IPCC, 2003)
Biomassategakan = BV.BEFtegakan
Kotak 4: Contoh Pendekatan 6 dengan BEFtegakan
2.4.7 Pendekatan-7 digunakan apabila terdapat kondisi berikut: (a) tidak tersedia model alometrik biomassa pohon untuk suatu jenis atau tipe ekosistem yang akan diduga, tetapi (b) tersedia model alometrik volume atau data tinggi (selain diameter) yang dapat digunakan sebagai perangkat untuk mendapatkan nilai dugaan volume sesuai dengan jenis pohon dan tipe ekosistem yang akan diduga tersebut; dan (c) tidak tersedia nilai berat jenis kayu, baik untuk spesifik jenis atau kelompok jenis (genus) yang akan diduga
a. Jika informasi tambahan berat jenis pohon tidak tersedia, pendugaan biomassa pada tingkat tegakan dapat menggunakan nilai BCEFtegakan, dengan rumus:
Biomassategakan=Vtegakan.BCEF
b. Nilai BCEF default dapat diperoleh dari Panduan IPCC
Tabel 5. Nilai BCEF (ton/m3) default menurut Panduan IPCC (2006)
Zona Iklim HutanTipe Volume tegakan (m
3/ha) <10 11-20 21-40 41-60 61-80 80-120 120-200 >200 Tropis lembab Konifer 4 (3-6) 1,75 (1,4-2,4) 1,25 (1-1,5) 1 (0,8-1,2) 0,8 (0,7-1,2) 0,76 (0,6-1) 0,7 (0,6-0,9) 0,7 (0,6-0,9) Hutan alam 9 (4-12) 4 (2,5-4,5) 2,8 (1,4-3,4) 2,05 (1,2-2,5) 1,7 (1,2-2,2) 1,5 (1-1,8) 1,3 (0,9-1,6) 0,95 (0,7-1,1)
Kotak 5: Contoh Pendekatan 7 dengan BCEF
2.5 Perhitungan Stok Karbon
2.5.1 Pendugaan stok karbon berdasarkan biomassa dibutuhkan nilai faktor konversi biomassa ke stok karbon yang disebut dengan fraksi karbon, dirumuskan:
Stok karbon = Fraksi karbon x Biomassa
2.5.2 Nilai fraksi karbon sebaiknya menggunakan nilai yang sesuai dengan jenis dan tipe ekosistem (Tabel 6) yang diduga.
Tabel 6. Fraksi karbon beberapa jenis pohon di Indonesia
No Jenis/tipe hutan Fraksi karbon pohon (%)
1 Acacia crassicarpa 38 2 Acacia mangium 45 3 Arenga pinnata 38 4 Bruguiera gymnorrhiza 47 5 Camellia sinensis 43 6 Cotylelobium burckii 52 7 Dipterocarpus kerrii 53 8 Eucalyptus grandis 45 9 Hevea brasiliensis 40
10 Hutan Lahan Kering 48
11 Hutan Rawa Gambut 45
12 Hutan Rawa Gambut (fire) 45
13 Nypa fruticans 39 14 Paraserianthes falcataria 44 15 Rhizophora spp (anakan) 39 16 Elaeis guineensis 55 17 Shorea parvifolia 54 18 Shorea spp. 55 19 Tectona grandis 49
2.5.3 Apabila nilai fraksi karbon yang spesifik jenis atau tipe ekosistem tidak tersedia, nilai default IPCC sebesar 0,47
dapat digunakan.
2.5.4 Konversi stok karbon ke CO2-ekuivalen dapat menggunakan perbandingan massa atom relatif C (12) dengan massa molekul relatif CO2 (44), dirumuskan:
Kotak 6. Contoh Perhitungan Stok Karbon dan CO2-ekuivalen
Lampiran 2. Peraturan Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan
Nomor : P. 01/VIII-P3KR/2012
Tanggal : 26 November 2012
PENYAJIAN HASIL PENDUGAAN BIOMASSA DAN PERHITUNGAN STOK
KARBON HUTAN
1. Prinsip
1.1 Penyajian hasil dilakukan dalam rangka penyampaian data dan informasi hasil pelaksanaan kegiatan sebagai bahan sumber informasi.
1.2 Penyajian hasil hendaknya disajikan secara ringkas, sederhana dan jelas dengan memperhatikan kaidah dan prinsip-prinsip sebagai berikut:
1.2.1 Keterbukaan (transparency): informasi tersedia dengan
mudah, terbuka dan mudah diakses untuk keperluan kaji ulang dan verifikasi.
1.2.2 Keakuratan (accuracy): tingkat akurasi dan ketidakpastian
dari data harus diketahui dan diinformasikan.
1.2.3 Kekonsistenan (consistency): metode pendekatan dalam
pengukuran dilakukan secara sistematik dan konsisten. 1.2.4 Kelengkapan (completeness): data, sumber informasi,
metode pengambilan contoh dan pengumpulan data, hasil analisa dan asumsi yang digunakan, disampaikan secara lengkap.
1.2.5 Dapat diperbandingkan (comparability): data dan hasil
analisa harus dapat diperbandingkan dengan data dan hasil analisa dari lokasi lainnya.
2. Jenis Data dan Informasi
2.1 Jenis data dan informasi yang disajikan setidaknya terdiri dari: 2.1.1 Kondisi umum lokasi: letak administrasi, geografis, kondisi
lingkungan dan kondisi hutan
2.1.2 Metode: Plot sampling, pendekatan dan model alometrik yang digunakan
2.1.3 Nilai dugaan: Biomassa, stok karbon dan CO2-ekuivalen 2.2 Penyajian hasil dibuat secara ringkas dalam bentuk spreadsheet
untuk selanjutnya dikompilasi dalam basis data.
Contoh: Penyajian Hasil
Prosedur Pendugaan Biomassa dan Perhitungan Stok Karbon Hutan
Peraturan Kepala Badan Penelitian
dan Pengembangan Kehutanan
Nomor:
P.01/VIII-P3KR/2012
untuk Pendugaan
Biomassa dan
Stok Karbon Hutan di Indonesia
Pedoman
Penggunaan Model
Peraturan Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan
Nomor: P.01/VIII-P3KR/2012
untuk Pendugaan
Biomassa dan
Stok Karbon Hutan di Indonesia
Pedoman
Penggunaan Model
KEMENTERIAN KEHUTANAN
BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KEHUTANAN
PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KONSERVASI DAN REHABILITASI
KEMENTERIAN KEHUTANAN
BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KEHUTANAN PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KONSERVASI DAN REHABILITASI
ISBN: 978-979-3145-97-6