• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kata Kunci : Peralihan Hak Milik Atas Tanah, Hibah, Akta Pengikatan Hibah, Hak Tanggungan.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Kata Kunci : Peralihan Hak Milik Atas Tanah, Hibah, Akta Pengikatan Hibah, Hak Tanggungan."

Copied!
50
0
0

Teks penuh

(1)

bentuk akta hibah yang dibuat dihadapan Pejabat Pembuat Akta Tanah dan mendaftarkannya selambat-lambatnya 7 hari kerja sejak ditanda tanganinya akta tersebut. Hal ini tertuang di dalam ketentuan Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 Tentang Pendaftaran Tanah pada Pasal 37 ayat (1) juncto Peraturan Menteri Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 3 Tahun 1997 Tentang Ketentuan Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 Tentang Pendaftaran Tanah pada Pasal 103 ayat (1). Konsep hibah itu sendiri yang tertuang di dalam ketentuan Pasal 1666 juncto Pasal 1682 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, hibah dapat dituangkan ke dalam akta yang dibuat dihadapan notaris, maka dalam prakteknya, dalam hal-hal tertentu Notaris membuat suatu perjanjian pendahuluan berupa akta pengikatan hibah, namun akta pengikatan hibah ini belum diatur dalam suatu norma hukum tertulis berupa Peraturan Kepala Badan Pertanahan Nasional mengenai batas waktu pendaftaran dan keharusan pendaftaran ke Badan Pertanahan Nasional. Hal ini menimbulkan akibat hukum yaitu tidak adanya kepastian hukum kepada para pihak yang terkait baik yang sudah ada maupun yang akan ada dikemudian hari. Permasalahan yang dapat diangkat dalam penelitian ini adalah bagaimanakah eksistensi kedudukan akta pengikatan hibah dalam proses hibah hak milik atas tanah dan bagaimanakah akibat hukum pengikatan jaminan hak tanggungan terhadap objek tanah yang telah dihibahkan melalui akta pengikatan hibah.

Penelitian ini menggunakan metode penelitian hukum normatif dengan jenis pendekatan yang digunakan meliputi pendekatan perundang-undangan, pendekatan kasus, dan pendekatan konseptual. Sumber bahan hukum yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari bahan hukum primer, bahan hukum sekunder, dan bahan hukum tersier. Sedangkan, teknik pengumpulan bahan hukum dalam penelitian ini adalah teknik studi kepustakaan. Setelah semua bahan terkumpul, maka bahan tersebut dianalisis dengan menggunakan teknik analisis deskriptif, evaluasi, dan kontruksi dan sistematisasi.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa eksistensi keberadaan akta pengikatan hibah dalam praktek kenotariartan sudah semakin banyak dlakukan, selain itu akta pengikatan hibah merupakan suatu perbuatan hukum yang sah dalam membuat suatu perjanjian pengalihan hak milik atas tanah apabila telah mengindahkan ketentuan di dalam Pasal 1320 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata. Akan tetapi, harus segera dibuatkannya suatu aturan hukum tertulis berupa Peraturan Kepala Badan Pertanahan mengenai keharusan pendaftaran ke Badan Pertanahan Nasional guna mengisi kekosongan hukum yang ada dan menciptakan suatu kepastian hukum bagi para pihak. Kekosongan hukum tersebut, menimbulkan adanya celah untuk mengalihkan objek tanah kepada pihak lain contohnya dengan melalukan pengikatan hak tanggungan yang akan memberikan kerugian kepada pihak kreditur, maka dari itu kreditur dalam hal ini harus diberikan perlindungan baik perlindungan preventif maupun perlindungan represif.

Kata Kunci : Peralihan Hak Milik Atas Tanah, Hibah, Akta Pengikatan Hibah, Hak Tanggungan.

(2)

into a grant deed made before the Land Deed Authority and its arrangements within 7 working days from the signing of the deed. This is stated in the provisions of Government Regulation No. 24/1997 concerning Land Registration in Article 37 paragraph (1) juncto Regulation of the Minister of Agrarian Affairs / Head of National Land Agency Number 3 of 1997 on Government-Based Arrangement No. 24/1997 on Land Registration in Article 103 paragraph (1). However, looking at the concept of the grant itself, the grant can be poured into a deed made before a notary, then in practice, in certain cases the Notary makes an exclusive agreement as a deed of grant binding, but the binding deed of its members is not enough from the legal norm of scope and registration of registration to the National Land Agency. This resulted in legal consequences of the lack of legal certainty to the parties concerned that will exist in the future. In addition, do so in order to transfer those items to other parties by binding of Mortgage Rights. The issue that can be raised in this research is how is a reasonable reasoning in the form of a grant in the process of land rights grant and how the law of binding, the mortgage rights to the land granted by the deed of grant binding.

This study uses normative legal research methods with types of approaches that include rule-approach, case approach, and conceptual approach. The sources of legal materials used in this study consist of basic materials, secondary legal materials, and tertiary legal materials. Meanwhile, the technique of material publishing in this research is a study technique using the card system. After all the materials are collected, they are analyzed using analysis, evaluation, and construction and systematization techniques. The results of this study indicate that the existence of deed of binding of grant in kenotariartan practice has more and more, besides, deed of binding, holder, legal establishment in creation, Civil Law. However, immediate legal provisions should be made for the National Land Agency to fill the existing legal vacuum and make the agency certainty for the parties. The void of the law, it is possible to change the objects of the land to another person with the right to give the loss to the creditor, therefore the creditor in this case must provide protection both from prevention and from error.

(3)

tanggungan terhadap objek tanah yang telah dihibahkan melalui akta pengikatan hibah.

Bab I menguraikan latar belakang masalah mengenai ekeistensi akta pengikatan hibah di dalam peralihan hak milik atas tanah, namun terdapat kekosongan hukum mengenai keharusan pendaftaran ke Badan Pertanahan Nasional. Hal ini menyebabkan adanya celah untuk mengalihkan objek tanah tersebut kepada pihak lain contohnya dengan melakukan pengikatan jaminan hak tanggungan, yang akan menimbulkan kerugian bagi para pihak yang terkait.

Bab II menguraikan tinjauan umum tentang akta, peralihan hak milik atas tanah, hibah, hak tanggungan.

Bab III menguraikan tentang hasil penelitian untuk rumusan masalah pertama yang diuraikan dalam dua sub bab. Sub bab pertama menguraikan keberadaan akta pengikatan hibah guna mewujudkan kemanfaatan dan kepastian hukum. Sedangkan, sub bab kedua menguraikan tentang keabsahan peralihan hak milik atas tanah dengan akta pengikatan hibah.

Bab IV menguraikan tentang hasil penelitian untuk rumusan masalah kedua yang diuraikan dalam dua sub bab. Sub bab pertama menguraikan tentang akibat hukum hak tanggungan terhadap onjek tanah yang telah dihibahkan melalui akta pengikatan hibah. Sedangkan, sub bab kedua menguraikan tentang upaya perlindungan hukum bagi kreditur terhadap peralihan hak milik atas tanah dengan akta pengikatan hibah.

Bab V sebagai penutup yang menguraikan mengenai kesimpulan dan saran. Adapun kesimpulan dari pembahasan terkait penelitian ini adalah eksistensi kta pengikatan hibah didalam praktek kenotariatan sudah sangat banyak dilakukan. Dasar hukum dibuatnya akta pengikatan hibah sebagai perjanjian pendahuluan tercermin dari ketentuan pasal 1313 juncto pasal 1338 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, sedangkan mengenai keabsahan dari akta pengikatan hibah diukur dari ketentuan pasal 1320 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata. Namun kekosongan hukum mengenai keharusan pendaftaran ke Badan Pertanahan Nasional membuat adanya celah untuk mengalihkan objek tanah tersebut kepada pihak lain dengan pengikatan hak tanggungan. Hal ini menyebabkan kerugian bagi pihak kreditur, maka dari itu harus diberikan suatu perlindungan kepada kreditur baik perlindungan preventif maupun perlindungan represif. Sedangkan, saran yang dapat ditarik yaitu eksistensi dari keberadaan akta pengikatan hibah dapat menciptakan kepastian dan kemanfaatan hukum bagi seluruh elemen masyarakat dan diharapkan kepada pemerintah khususnya Kepala Badan Pertanahan Nasional/ Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia untuk membuat suatu aturan tertulis berupa Peraturan Kepala Badan Pertanahan terkait ketentuan pelaksana mengenai keharusan pendaftaran kepada Badan Pertanahan nasional.

(4)

HALAMAN JUDUL ... i

PRASYARAT GELAR ... ii

LEMBAR PENGESAHAN ... iii

LEMBAR PANITIA PENGUJI ... iv

PERNYATAAN BEBAS PLAGIAT ... v

UCAPAN TERIMA KASIH ... vi

ABSTRAK ... ix

ABSTRACT ... x

RINGKASAN ... xi

DAFTAR ISI ... xii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang Masalah ... 1

1.2 Rumusan Masalah ... 10

1.3 Ruang Lingkup Masalah ... 10

1.4 Orisinalitas Penelitian ... 10 1.5 Tujuan Penelitian ... 12 1.5.1 Tujuan Umum ... 13 1.5.2 Tujuan Khusus ... 13 1.6 Manfaat Penelitian ... 14 1.6.1 Manfaat Teoritis ... 14 1.6.2 Manfaat Praktis ... 14

(5)

1.7.1.2 Teori Perlindungan Hukum ... 22

1.7.1.3 Teori Kepastian Hukum ... 24

1.7.1.4 Teori Penemuan Hukum ... 26

1.7.1.5 Teori Keadilan ... 29

1.7.1.6 Konsep Hibah ... 30

1.7.1.7 Konsep Hak Tanggungan ... 31

1.7.2 Kerangka Pemikiran ... 33

1.8 Metode Penelitian ... 34

1.8.1 Jenis Penelitian ... 34

1.8.2 Jenis Pendekatan ... 35

1.8.3 Sumber Bahan Hukum ... 38

1.8.4 Teknik Pengumpulan Bahan Hukum ... 41

1.8.5 Teknik Analis Bahan Hukum ... 41

BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG AKTA NOTARIIL, PERALIHAN HAK MILIK ATAS TANAH, HIBAH, DAN PENGIKATAN JAMINAN HAK TANGGUNGAN ... 43

2.1 Akta Notariil ... 43

2.1.1 Pengertian Akta ... 43

2.1.2 Bentuk-Bentuk Akta ... 46

2.1.3 Kekuatan Hukum Akta Otentik Dalam Hal Pembuktian 55 2.2 Peralihan Hak Milik Atas Tanah ... 58

(6)

2.2.2 Proses Peralihan Hak Milik Atas Tanah ... 62

2.2.3 Pendaftaran Hak Milik Atas Tanah ... 63

2.3 Hibah ... 69

2.3.1 Pengertian Hibah ... 69

2.3.2 Unsur-Unsur Hibah... 71

2.3.3 Prosedur Hibah ... 72

2.4 Pengikatan Jaminan Hak Tanggungan ... 76

2.4.1 Pengertian Hak Tanggungan ... 76

2.4.2 Asas-Asas Hak Tanggungan ... 81

2.4.3 Objek dan Subjek Hak Tanggungan ... 85

2.4.4 Pendaftaran Hak Tanggungan ... 87

BAB III EKSISTENSI KEDUDUKAN AKTA PENGIKATAN HIBAH DALAM PROSES HIBAH HAK MILIK ATAS TANAH ... 89

3.1 Keberadaan Akta Pengikatan Hibah Guna Mewujudkan Kemanfaatan dan Kepastian Hukum ... 89

3.2 Keabsahan Peralihan Hak Milik Atas Tanah Dengan Akta Pengikatan Hibah ... 97

BAB IV AKIBAT HUKUM PENGIKATAN JAMINAN HAK TANGGUNGAN TERHADAP OBJEK TANAH YANG TELAH DIHIBAHKAN MELALUI AKTA PENGIKATAN HIBAH ... 116

4.1 Akibat Hukum Hak Tanggungan Terhadap Objek Tanah Yang Telah Dihibahkan Melalui Akta Pengikatan Hibah ... 116

(7)

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 148 5.1 Kesimpulan ... 148 5.2 Saran ... 150 DAFTAR PUSTAKA

(8)

1.1 Latar Belakang Masalah

Di era globalisasi seperti saat ini, menyebabkan kebutuhan manusia meningkat secara pesat. Mengingat pertumbuhan penduduk dan perkembangan dalam pembangunan yang semakin maju, akan berdampak pada meningkatnya kebutuhan manusia dalam berbagai aspek. Salah satunya adalah kebutuhan terhadap tanah yang kian hari semakin dibutuhkan. Oleh karena itu, dewasa ini tanah dijadikan sebagai salah satu sumber kebutuhan hidup manusia yang harus dipenuhi. Terkait dalam hal kebutuhan akan tanah yang semakin meningkat dan menjadi suatu kebutuhan pokok manusia, maka menimbulkan semakin meningkatnya upaya untuk menguasai objek tanah tersebut menjadi hak milik secara pribadi.

Tanah mempunyai arti penting dalam kehidupan manusia karena tanah mempunyai fungsi ganda sebagai social asset dan capital asset. Tanah sebagai social asset berarti tanah sebagai suatu sarana untuk mengikat kesatuan sosial di kalangan masyarakat Indonesia. Sedangkan tanah sebagai capital asset berarti tanah telah tumbuh menjadi suatu benda yang bernilai ekonomi, yang tidak saja sebagai bahan perniagaan tetapi juga sebagai objek spekulasi. Namun di sisi lain tanah juga harus dipergunakan dan dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kesejahteraan dan kemakmuran rakyat serta harus dijaga kelestariannya.1

1Achmad Sodiki, 1997, Pembaharuan Hukum Pertanahan Nasional Dalam Rangka

(9)

Tanah dapat dikatakan sebagai salah satu sumber kemakmuran rakyat tercermin dari bunyi Pasal 33 Ayat (3) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang menyatakan bahwa “Bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.” Dalam hal kata dikuasai oleh negara tersebut berarti negara mempunyai peranan yang penting dalam penegakan yang berkaitan dengan tanah.

Di dalam penguasaan suatu objek hak milik atas tanah diperlukannya upaya dalam peralihan hak milik atas tanah. Peralihan hak atas tanah adalah suatu perbuatan hukum dimana berpindahnya hak atas tanah dari pemegang hak yang lama kepada pemegang hak yang baru. Peralihan hak atas ini dapat beralih dan dapat dialihkan. Perbedaannya terdapat pada apabila hak atas tanah tersebut beralih, maka tidak ada perbuatan-perbuatan hukum yang dilakukan oleh pemegang hak atas tanah kepada pemegang hak atas tanah yang baru, misalnya hak atas tanah beralih karena pewarisan. Sedangkan apabila hak atas tanah tersebut dapat dialihkan merujuk pada definisi pemindahan hak atas tanah tersebut melalui perbuatan hukum pemegang hak atas tanah yang lama kepada pemegang hak atas tanah yang baru, misalnya dengan cara jual beli dan hibah.

Pentingnya suatu peranan hak-hak atas tanah dalam kehidupan manusia, maka diperlukannya status hukum yang pasti dengan adanya landasan hukum yang kuat, untuk memastikan dan menjamin kepastian hukum dibidang pertanahan maka memerlukan beberapa cara yaitu dengan :

1. Menyediakan perangkat hukum tertulis yang lengkap, jelas, dan dilaksanakan secara konsisten.

(10)

2. Penyelenggaraan pendaftaran yang efektif.2

Khususnya, dalam peralihan objek hak milik atas tanah melalui hibah, diperlukan suatu perbuatan hukum yang dapat membuktikan bahwa peralihan tersebut telah terjadi dan telah sah dimata hukum. Hal tersebut dapat dilakukan dengan cara peralihan hak atas tanah dan hak milik atas satuan rumah susun melalui hibah, didaftarkan dengan akta yang dibuat oleh Pejabat Pembuat Akta Tanah. Sebagaimana yang tercantum di dalam ketentuan Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 Tentang Pendaftaran Tanah pada Pasal 37 ayat (1) disebutkan bahwa :

“Peralihan hak atas tanah dan hak milik atas satuan rumah susun melalui jual beli, tukar menukar, hibah, pemasukan dalam perusahaan dan perbuatan hukum pemindahan hak lainnya, kecuali pemindahan hak melalui lelang hanya dapat di daftarkan jika dibuktikan dengan akta yang dibuat oleh PPAT yang berwenang menurut ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku”.

Selanjutnya dalam ketentuan Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 Tentang Pendaftaran Tanah pada Pasal 40 ayat (1) disebutkan bahwa :

“Selambat-lambatnya 7 (tujuh) hari kerja sejak tanggal ditandatanganinya akta yang bersangkutan, PPAT wajib menyampaikan akta yang dibuatnya berikut dokumen-dokumen yang bersangkutan kepada Kantor Pertanahan untuk didaftarkan”

Kemudian diikuti dengan ketentuan dalam Peraturan Menteri Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 3 Tahun 1997 Tentang Ketentuan Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 Tentang Pendaftaran Tanah pada Pasal 103 ayat (1) yang menyebutkan bahwa :

2Boedi Harsono, 2005, Hukum Agraria Indonesia-Sejarah Pembentukan Undang-Undang

(11)

“PPAT wajib menyampaikan akta PPAT dan dokumen-dokumen lain yang diperlukan untuk keperluan pendaftaran peralihan hak yang bersangkutan kepada Kantor Pertanahan, selambat-lambatnya 7 (tujuh) hari kerja sejak ditandatanganinya akta yang bersangkutan.”

Dilihat dari ketiga ketentuan norma tersebut, sudah sangat jelas bahwa akta hibah yang dibuat oleh Pejabat Pembuat Akta Tanah harus segera didaftarkan selambat-lambatnya 7 (tujuh) hari kerja sejak ditanda tangani akta tersebut agar dapat segera dilaksanakannya proses pendaftaran oleh Kepala Kantor Pertanahan dan memberikan kepastian hukum bagi para pihak yang terkait dan yang akan terkait pada objek hak milik atas tanah tersebut.

Dari ketentuan peraturan tersebut, maka dapat dikatakan peranan dalam peralihan hak milik atas tanah maupun pendaftaran hak milik atas tanah melalui hibah dilakukan dan dibuat dengan akta PPAT. Mengenai hal tersebut ditegaskan dalam ketentuan Peraturan Pemerintah Nomor 37 Tahun 1998 Tentang Peraturan Jabatan Pembuat Akta Tanah pada Pasal 2 dimana menyebutkan bahwa “PPAT bertugas pokok melaksanakan sebagian kegiatan pendaftaran tanah dengan membuat akta sebagai bukti telah dilakukannya perbuatan hukum tertentu mengenai hak atas tanah atau hak milik atas satuan rumah susun, yang akan dijadikan dasar bagi pendaftaran perubahan data pendaftaran tanah yang diakibatkan oleh perbuatan hukum itu.”

Disisi lain, dalam kegiatan peralihan hak milik atas tanah, banyak ditemukan kendala dan masalah hukum yang dapat merugikan pihak-pihak yang terkait. Pada dasarnya tanah merupakan suatu kebutuhan pokok umat manusia, sejak manusia itu dilahirkan sampai meninggal dunia. Tanah dalam hal ini

(12)

digunakan oleh umat manusia untuk kebutuhan tempat tinggal ataupun sumber kehidupan. Seperti yang kita ketahui tanah merupakan suatau objek yang mempunyai nilai ekonomis yang tinggi. Maka dari itu tanah dalam hal ini adalah objek yang menjadi harta istimewa yang semakin hari menjadi pemicu berbagai masalah sosial.

Dalam suatu kondisi dan alasan tertentu, notaris membuatkan akta notariil berupa akta pengikatan hibah sebagai alat pembuktian bahwa telah terjadi peralihan hak milik atas tanah dari pihak pemberi hibah kepada pihak penerima hibah. Di dalam suatu akta pengikatan hibah tidak ada peraturan khusus yang mengatur mengenai kelanjutan dari pendaftaran objek tanah yang telah dihibahkan tersebut kepada badan yang berwajib yaitu kepada Kepala Badan Pertanahan, baik mengenai keharusan pendaftaran maupun batas waktu dalam pendaftaran objek hak milik atas tanah. Hal ini justru menimbulkan suatu celah untuk melakukan suatu perbuatan pelanggaran hukum contohnya dengan mengalihkan objek tanah tersebut dari pemberi hibah kepada pihak ketiga seperti bank dalam hal objek tanah sebagai jaminan kredit.

Tanah merupakan barang jaminan untuk pembayaran utang yang paling disukai oleh lembaga keuangan yang memberikan fasilitas kredit, karena pada umumnya tanah mudah dijual, harganya terus meningkat, mempunyai tanda bukti hak, sulit digelapkan dan dapat dibebani hak tanggungan yang memberikan hak istimewa kepada kreditur.3 Hak tanggungan dalam hal ini adalah suatu perjanjian jaminan yang dilakukan pada saat proses pemberian kredit, karena pada saat

3Effendi Perangin, 1991.Praktek Penggunaan Tanah Sebagai Jaminan Kredit. Rajawali Pers, Jakarta. h.9

(13)

nasabah ingin meminjam sejumlah uang kepada bank, pihak bank (kreditur) tidak serta merta memberikan kredit kepada nasabah (debitur), maka dari itu debitur atau nasabah diwajibkan untuk menjaminkan harta bendanya, dalam hal ini berupa sertifikat hak milik atas tanah yang kemudian diikatkan perjanjian jaminan berupa hak tanggungan tersebut.

Perjanjian jaminan berupa hak tanggungan ini adalah suatu simbol dari pengikatan yang dilakukan oleh debitur dan kreditur. Hak tanggungan merupakan suatu jaminan yang diberikan kepada pihak bank (kreditur) atas kesanggupan yang diberikan oleh nasabah (debitur) untuk pelunasan kredit sesuai dengan apa yang telah dijanjikan. Maka dari itu hak tanggungan bernilai yang sepadan dengan jumlah kredit yang diberikan oleh kreditur. Hak tanggungan dalam hal ini akan memberikan keyakinan kepada pihak kreditur apabila tidak dipenuhinya prestasi dari pihak kreditur dikemudian hari. Dengan kata lain pembebanan hak tanggungan dari objek jaminan kredit tersebut bertujuan untuk penjamin bahwa utang debitur kepada kreditur akan dilunasi. Apabila dikemudian hari pihak debitur lalai ataupun tidak dapat melunasi utangnya yang dipinjam dari pihak kreditur, maka kreditur berhak untuk melakukan penjualan kepada objek jaminan yang bersangkutan.

Pembebanan hak tanggungan atas objek jaminan yang dalam hal berupa tanah berarti pihak debitur atau pemilik hak atas tanah yang bersangkutan tidak lagi menjadi pemilik tunggal atas objek tanah yang bersangkutan, melainkan terdapat pihak lain yang berhak atas objek tanah yang sedang dalam pembebanan hak tanggungan yaitu pihak bank. Hak tanggungan telah diatur di dalam suatu peraturan perundang-undangan tersendiri yaitu Undang-Undang Republik

(14)

Indonesia Nomor 4 Tahun 1996 Tentang Hak Tanggungan Atas Tanah Beserta Benda-Benda Yang Berkaitan Dengan Tanah (selanjutnya disebut dengan Undang-Undang Hak Tanggungan), namun sebelum diatur tersendiri di dalam Undang-Undang Hak Tanggungan, pembebanan atas benda-benda yang tidak bergerak diatur di dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata pada buku Kedua yang disebut dengan Hipotek. Hipotek terdapat dalam pasal 1162 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, yang mana memberikan definisi mengenai hipotek yaitu:

“Hipotek adalah suatu hak kebendaan atas benda-benda tak bergerak untuk mengambil penggantian daripadanya bagi pelunasan suatu perikatan.”

Definisi hak tanggungan menurut Undang-Undang Hak Tanggungan diatur di dalam pasal 1 angka 1 yang menyatakan bahwa :

“hak tanggungan atas tanah beserta benda-benda yang berkaitan dengan tanah, yang selanjutnya disebut hak tanggungan, adalah hak jaminan yang dibebankan pada hak atas tanah sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 Tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria, berikut atau tidak berikut benda-benda lain yang merupakan suatu kesatuan dengan tanah itu, untuk pelunasan utang tertentu, yang memberikan kedudukan yang diutamakan kepada kreditor.”.

Dalam sertifikat hak tanggungan mengandung kekuatan eksekutorial yang berarti mempunyai kekuatan hukum yang sama dengan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap dan berlaku sebagai pengganti Groose

Acte Hypotheek sepanjang mengenai hak atas tanah. Dalam sertifikat hak

tanggungan mencantumkan irah-irah yang dimaksudkan untuk menegaskan adanya kekuatan eksekutorial pada sertifikat hak tanggungan. Maka dari itu apabila terjadi cidera janji oleh debitur, maka objek hak tanggungan berhak untuk dieksekusi seperti halnya telah mendapat putusan pengadilan mempunyai kekuatan hukum tetap. Eksekusi tersebut dilakukan dengan tata cara dan

(15)

menggunakan bantuan lembaga parate executie sesuai dengan peraturan hukum acara perdata.4

Sebelum memberikan pembebanan hak tanggungan atas objek tanah yang akan dijadikan jaminan kredit, kreditur atau bank terlebih dahulu melakukan beberapa prosedur yang dijelaskan dalam ketentuan penjelasan umum angka 7 Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1996 tentang hak tanggungan. Di dalam proses pembebanan hak tanggungan dilaksanakan dengan dua tahap kegiatan, yaitu : 1. Tahap pertama pemberian hak tanggungan dengan dibuatkannya Akta

Pemberian Hak Tanggungan oleh Pejabat Pembuat Akta Tanah, yang sebelumnya dibuatkan perjanjian utang-piutang dari objek yang dijaminkan. 2. Tahap kedua yaitu dengan melakukan pendaftaran dan pengecekan oleh

Kantor Pertanahan atas Surat Hak Milik dari objek jaminan tersebut, dan tahapan ini adalah saat lahirnya hak tanggungan yang dibebankan.

Dari hal-hal tersebut diatas, maka penulis menarik suatu problematika dari penulisan ini, yaitu berawal dari adanya kekosongan norma mengenai ketentuan pelaksanaan dari akta pengikatan hibah, yang terkait dengan keharusan pendaftaran dan batas waktu pendaftaran peralihan objek hak milik atas tanah, dari pemberi hibah kepada penerima hibah, memberikan suatu celah untuk mengalihkan objek hak milik atas tanah tersebut kepada pihak lain, contohnya kepada bank. Dengan tidak dilakukannya proses pendaftaran hak milik atas tanah tersebut kepada Badan Pertanahan, maka Surat Hak Milik atas objek tanah tersebut masih atas nama pemberi hibah, dan dengan hal tersebut, pihak kreditur

4Adrian Sutedi, 2010, Hukum Hak Tanggungan, Sinar Grafika, Jakarta (selanjutnya disingkat Adrian Sutedi I), h. 12

(16)

atau bank tidak dapat mengetahui adanya suatu perbuatan hukum yaitu hibah yang telah dilakukan terlebih dahulu sebelum dilakukannya pembebanan hak tanggungan.

Hal ini menimbulkan suatu polemik, yaitu mengenai akibat hukum hak tanggungan yang terjadi setelah objek hak milik atas tanah tersebut, telah lebih dulu dihibahkan melalui akta pengikatan hibah. Masalah ini akan menimbulkan suatu kerugian baik kepada pihak bank (kreditur) sebagai pihak yang telah memberikan sejumlah pinjaman dana kepada pemberi hibah, atapun kerugian kepada pihak penerima hibah, yang telah terlebih dahulu mempunyai hak atas peristiwa hukum yang telah terjadi dengan peralihan hak milik atas tanah melalui akta pengikatan hibah tersebut.

Oleh karena itu, dengan adanya kekosongan norma mengenai ketentuan pelaksana dari akta pengikatan hibah tersebut, maka akan menyebabkan terganggunya penegakan fungsi hukum maupun keabsahan dan kekuatan hukum dari akta pengikatan hibah dalam proses hibah hak milik atas tanah, yang mana akta pengikatan hibah dalam prakteknya sangat diperlukan dalam hal-hal tertentu. Selain itu, hal ini akan menimbulkan celah untuk dapat melakukan pengalihan terhadap objek tanah tersebut kepada pihak lain.

Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan diatas, maka penulis tertarik untuk menuangkan hasil penelitian dalam bentuk tesis dengan judul

“AKIBAT HUKUM PENGIKATAN JAMINAN HAK TANGGUNGAN TERHADAP OBJEK TANAH YANG TELAH DIHIBAHKAN MELALUI AKTA PENGIKATAN HIBAH”

(17)

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan dari latar belakang yang dipaparkan diatas, terdapat dua permasalahan yang dapat di kaji dari dari penelitian ini, yaitu :

1. Bagaimanakah eksistensi kedudukan akta pengikatan hibah dalam proses hibah hak milik atas tanah?

2. Bagaimanakah akibat hukum pengikatan jaminan hak tanggungan terhadap objek tanah yang telah dihibahkan melalui akta pengikatan hibah?

1.3 Ruang Lingkup Masalah

Masalah yang akan dibahas nantinya dalam penulisan tesis ini terbatas pada eksistensi kedudukan dari akta pengikatan hibah dalam proses hibah hak milik atas tanah dan akibat hukum pengikatan jaminan hak tanggungan terhadap objek tanah yang telah dihibahkan melalui akta pengikatan hibah.

1.4 Orisinalitas Penelitian

Berdasarkan hasil penelusuran kepustakaan yang telah dilakukan penulis ditemukan beberapa penelitian yang berkaitan dengan hibah dan hak tanggungan. Oleh karena itu untuk menunjukkan orisinalitas dari penelitian ini, maka beberapa penelitian tesis yang terkait akan disebutkan di bawah ini, yaitu :

1. Tesis dari I GUSTI AYU PUTU OKA CAHYANING MUSTIKA, mahasiswa Magister Kenotariatan, Program Pasca Sarjana Universitas Udayana. Tahun penelitian 2014 dengan judul penelitian “PERALIHAN HAK ATAS TANAH BERDASARKAN HIBAH WASIAT OLEH PELAKSANA WASIAT DI KABUPATEN BADUNG” dalam penelitian ini menggunakan metode penelitian empiris, dengan rumusan masalah pertama “bagaimanakah

(18)

peralihan hak atas tanah berdasarkan hibah wasiat di kabupaten badung?” kedua “bagaimanakah kepastian hukum penerima hibah wasiat dalam peralihan ha katas tanah berdasarkan hibah wasiat?”

Dapat dilihat dengan jelas bahwa penelitian ini berbeda dengan penelitian yang di lakukan oleh I GUSTI AYU PUTU OKA CAHYANING MUSTIKA walaupun sama-sama membahas mengenai peralihan hak atas tanah, namun cara peralihannyanya berbeda yaitu dalam penelitian yang dilakukan penulis membahas mengenai pengalihan hak milik atas tanah melalui hibah, namun dalam penelitian oleh I GUSTI AYU PUTU OKA CAHYANING MUSTIKA membahas mengenai hibah wasiat dan perbedaannya juga berada pada metode penelitian yang digunakan, dimana dalam penulisan penelitian ini menggunakan metode penelitian normatif dan pada penulisan penelitian oleh I GUSTI AYU PUTU OKA CAHYANING MUSTIKA menggunakan metode penelitian empiris.

2. Tesis dari WIWIN EKA EMAYANTI, Mahasiswa Magister Kenotariatan, Program Pasca Sarjana Universitas Udayana, tahun penelitian 2014 dengan judul “PENGALIHAN HAK ATAS TANAH YANG SEDANG DBEBANKAN HAK TANGGUNGAN” dengan rumusan masalah yang pertama “bagaimanakah penyelesaian sengketa yang timbul dari pembelian tanah yang sedang dibebankan hak tanggungan?” yang kedua “bagaimanakah perlindungan hukum terhadap kedudukan pihak pembeli tanah yang beritikad baik atas pembelian dengan pembayaran lunas tanah yang telah dibebankan hak tanggungan?”

(19)

Dapat dilihat bahwa penelitian yang dilakukan oleh WIWIN EKA EMAYANTI berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh penulis. Perbedaan yang pertama ada pada objek hak tanggungan, dimana penelitian yang dilakukan oleh WIWIN EKA EMAYANTI objek hak tanggungan peralihannya dari jual beli dan dilakukan setelah proses hak tanggungan terjadi. Sedangkan dalam penelitian yang dilakukan oleh penulis objek hak tanggungan peralihannya dari proses hibah dan peralihan hak atas tanahnya dilakukan sebelum terjadinya proses hak tanggungan, perbedaan yang kedua adalah dimana subjek yang dilindungi dalam kedua penelitian ini juga berbeda, di dalam penelitian yang dilakukan oleh WIWIN EKA EMAYANTI subjek yang dilindungi adalah pembeli tanah yang masih dibebankan hak tanggungan, sedangkan didalam penelitian yang ditulis oleh penulis menitik beratkan pada perlindungan pemegang hak tanggungan dalam hal ini bank.

Dari uraian dan penelusuran orisinalitas penelitian yang telah dilakukan dapat dilihat secara jelas bahwa penelitian yang ditulis oleh penulis dengan judul

“AKIBAT HUKUM PENGIKATAN JAMINAN HAK TANGGUNGAN TERHADAP OBJEK TANAH YANG TELAH DIHIBAHKAN MELALUI AKTA PENGIKATAN HIBAH” berbeda dengan penelitian yang telah

dilakukan dan yang telah dimuat sebelumnya, sehingga orisinalitas penelitian ini dapat dipertanggungjawabkan keasliannya.

1.5 Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian yang dapat diberian dalam penulisan tesis ini terbagi atas tujuan umum dan tujuan khusus, yaitu sebagai berikut :

(20)

1.5.1 Tujuan Umum

Adapun tinjauan umum dari penulisan ini yaitu berupaya untuk dapat melakukan pengembangan ilmu hukum yang ada sejalan dengan paradigm science

as a process (ilmu sebagai suatu proses). Dengan paradigma ini, ilmu tidak akan

pernah final dalam panggilannya atas kebenaran di bidang objeknya masing-masing. Melalui penulisan ini turut diupayakan untuk melakukan pengembangan pada bidang ilmu kenotariatan serta untuk lebih memahami mengenai aturan-aturan yang terkait tentang eksistensi kedudukan dari akta pengikatan hibah dalam proses hibah hak milik atas tanah dan akibat hukum pengikatan jaminan hak tanggungan terhadap objek tanah yang telah dihibahkan melalui akta pengikatan hibah. Sehingga diharapkan untuk dikemudian dapat terciptanya fungsi hukum yang baik untuk menjamin pihak-pihak yang terkait dalam proses hibah melalui akta pengikatan hibah.

1.5.2 Tujuan Khusus

Berdasarkan pada tinjauan umum yang telah dipaparkan diatas, adapun tujuan khusus yang dapat diberikan dalam penelitian ini dan sesuai dengan permasalahan yang akan dibahas, yaitu :

1. Untuk mendeskripsikan dan menganalisis eksistensi kedudukan dari akta pengikatan hibah dalam proses hibah hak milik atas tanah. akibat hukum pengikatan jaminan hak tanggungan terhadap objek tanah yang telah dihibahkan melalui akta pengikatan hibah.

(21)

2. Untuk mendeskripsikan dan menganalisis akibat hukum pengikatan jaminan hak tanggungan terhadap objek tanah yang telah dihibahkan melalui akta pengikatan hibah.

1.6 Manfaat Penelitian

Manfaat dari penelitian yang diperoleh dalam penulisan tesis ini adalah sebagai berikut :

1.6.1 Manfaat Teoritis

Secara teoritis, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran dalam pengembangan ilmu hukum, khususnya dalam bidang ilmu kenotariatan, dalam rangka pengembangan wawasan dan pengkajian tentang eksistensi kedudukan dari akta pengikatan hibah dalam proses hibah hak milik atas tanah dan akibat hukum pengikatan jaminan hak tanggungan terhadap objek tanah yang telah dihibahkan melalui akta pengikatan hibah.

1.6.2 Manfaat Praktis

Secara praktis, hasil dari penelitian hukum ini diharapkan dapat menjadikan pedoman dalam pembuatan karya-karya tulis lainnya, baik itu pembuatan makalah maupun penulisan hukum dan memberikan pengalaman belajar serta melakukan penulisan bagi mahasiswa mengetahui jalannya praktek hukum dimasyarakat secara langsung. Secara praktis manfaat penulisan ini diharapkan dapat dijadikan pedoman bagi penegak hukum untuk membuat suatu aturan atau norma hukum untuk mengisi kekosongan hukum dalam hal keharusan dan batas waktu pendaftaran akta pengikatan hibah pada proses hibah hak milik

(22)

atas tanah. Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai sumbangan karya ilmiah dari penulis dalam perkembangan Hukum Kenotariatan khususnya dan bermanfaat menjadi refrensi bagi penulis dalam penulsan pada masa yang akan datang.

1.7 Landasan Teoritis dan Kerangka Pemikiran 1.7.1 Landasan Teoritis

Landasan teoritis adalah adalah suatu upaya untuk mengidentifikasikan teori hukum umum atau teori khusus, konsep-konsep hukum, asas-asas hukum, aturan hukum, norma-norma dan lain-lain yang akan dipakai sebagai landasan untuk membahas permasalahan penelitian. Adanya hubungan timbal bailik yang sangat erat diantara teori dan kegiatan pengumpulan dan pengolahan data, analisa, serta kontruksi data tersebut, maka di dalam setiap penulisan penelitian harus diikuti dan disertai dengan pemikirann-pemikiran teoritis.5

Berkaitan dengan hal ini yang dikemukakan melalui konsep, dan asas-asas hukum serta pandangan sarjana yang berpengaruh mengenai permasalahan yang timbul dari keberadaan akta pengikatan hibah serta akibat hukum pengikatan jaminan hak tanggungan terhadap objek yang telah dihibahkan melalui pengikatan hibah.

Menurut pandangan dari Snellbecker, teori adalah sebagai perangkat proposisi yang terintegrasi secara simbolis dan berfungsi sebagai wahana umtuk meramalkan dan menjelaskan fenomena yang diamati.6 Adapula pandangan yang dikemukakan oleh kerlinger yaitu menberikan definisi teori sebagai : A Theory is

5Magister Kenotariatan, 2013, Buku Pedoman Pendidikan Program Studi Magister

Kenotariatan Universitas Udayana, Universitas Udayana Denpasar, h. 58.

6 Nasution Bahder Johan, 2008, Metode Penelitian Ilmu Hukum, Mandar Maju, Bandung, H.140.

(23)

a set of interrelated constructs (concept), definitions, and propositions that present asystematic view of phenomena by specifying relations among variables, with the purpose of explaining and predicting the phenomena. Teori adalah suatu

rangkaian konsep, definisi, dan proposisi yang dipresntasikan secara sistematis dengan mespesifikan hubungan antara variable, dengan tujuan menjelaskan dan memprediksi suatu fenomena.7

Maka dari itu dapat disimpulkan bahwa teori-teori akan menjadi landasan untuk membahas permasalahan-permasalahan dari penelitian itu sendiri, sehingga di dalam penulisannya dapat mewujudkan suatu ilmu yang sebenar-benarnya yang diperoleh dari rangkaian penelusuran teori-teori itu sendiri. Jadi semakin banyaknya teori yang dapat dijabarkan dan diidentifikasikan sebagai penunjang penulisan suatu penelitian ilmiah, maka semakin tinggi kebenaran yang akan dicapai dalam hasil penelitian tersebut.

Di dalam penulisan penelitian ini, mempergunakan teori-teori dan konsep-konsep antara lain : Teori Perjanjian, Teori Perlindungan Hukum, Teori Kepastian Hukum, Teori Penemuan Hukum, Teori Keadilan, Konsep Hibah, Konsep Hak Tanggungan.

1.7.1.1 Teori Perjanjian

Di dalam ketentuan Kitab Undang-Undang Hukum Perdata di sebutkan di dalam pasal 1313 yang memberikan pengertian mengenai perjanjian. “perjanjian adalah suatu perbuatan dengan mana satu pihak atau lebih mengikatkan dirinya terhadap satu orang lain atau lebih”. Maka dapat disimpulkan dari pengertian

(24)

dalam pasal 1313 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata bahwa suatu perjanjian lahir apabila adanya dua orang atau lebih yang sepakat untuk membuat suatu perjanjian dan mengikatkan dirinya kepada perjanjian yang dibuat.

Teori Hukum perjanjian pertama kali dikemukakan oleh John Locke ketika ia menjelaskan bahwa terbentuknya sebuah negara didasari adanya perjanjian dari masyarakat yang mengiginkan berdirinya suatu Negara tersebut.Perjanjian atau

verbintenis mengandung pengertian suatu hubungan hukum terhadap kekayaan

atau harta benda antara dua orang atau lebih pihak yang memberi kekuatan hak kepada salah satu pihak untuk memperoleh prestasi dan mewajibkan pada pihak lainnya untuk memberi prestasi.8Mengenai perjanjian dalam bahasa Belanda diistilahkan dengan overeenkomst dan dalam bahasa inggris diistilahkan dengan

contract. Van Dunne sebagai pencetus teori baru mengartikan perjanjian sebagai :

Suatu hubungan hukum antara dua pihak atau lebih berdasarkan kata sepakat untuk menimbulkan akibat hukum’. Teori baru tersebut tidak hanya melihat perjanjian semata-mata, tetapi juga harus dilihat perbuatan sebelumnya atau yang mendahuluinya. Ada tiga tahap dalam membuat perjanjian menurut teori hukum baru, yaitu :

1. Tahap pracontractual, yaitu adanya penawaran dan penerimaan;

2. Tahap contractual, yaitu adanya persesuaian pernyataan kehendak antara para pihak;

3. Dan tahap post contractual, yaitu pelaksanaan perjanjian.9

Salah satu teori dari hukum kontrak adalah teori kehendak. Menurut Gr. Van der Burght mengemukakan bahwa selain teori kehendak sebagai teori klasik yang tetap dipertahankan, terdapat beberapa teori yang dipergunakan untuk timbulnya suatu kesepakatan, yaitu:

8M Yahya Harahap,1986, Segi-Segi Hukum Perjanjian, Alumni, Bandung, h.4.

9Salim H.S., 2011, Hukum Kontrak Teori & Tehnik Penyusunan Kontrak, Cet. VIII, Sinar Grafika, Jakarta, h. 26.

(25)

a. Ajaran kehendak (Wilsleer), dimana ajaran ini mengutarakan bahwa faktor yang menentukan terbentuk tidaknya suatu persetujuan adalah suara batin yang ada dalam kehendak subyektif para calon kontrakan;

b. Pandangan Normatif Van Dunne, dalam ajaran ini kehendak sedikit pun tidak memainkan peranan; apakah suatu persetujuan telah terbentuk pada hakikatnya tergantung pada suatu penafsiran normatif para pihak pada persetujuan ini tentang keadaan dan peristiwa yang dihadapi bersama;

c. Ajaran kepercayaan (Vetrouwensleer), ajaran ini mengandalkan kepercayaan yang dibangkitkan oleh pihak lawan, bahwa ia sepakat danoleh karena itu telah memenuhi persyaratan tanda persetujuannya bagi terbentuknya suatu persetujuan.10

Linda A. Spagnola berpendapat mengenai perjanjian, bahwa “A contract

must be certain in its terms. It is generally accepted that there are four elements that must be certain in a contract in order for order for there to be a valid offer : parties, price, subject matter, and time for peformance”.11

Wirjono Prodjodikoro memberikan definisi perjanjian itu adalah suatu perbuatan hukum mengenai harta benda kekayaan antara dua pihak, dimana satu pihak berjanji atau dianggap berjanji untuk melakukan suatu hal atau tidak melakukan suatu hal, sedang pihak yang lain berhak menuntut pelaksanaan janji itu.12 Dapat dikatakan bahwa hubungan hukum akan timbul saat ditandatanganinya sebuah perjanjian oleh dua orang atau lebih, hal tersebut dinamakan perikatan.

10Johanes Ibrahim dan Lindawaty Sewu, 2004. Hukum Bisnis Dalam Persepsi Manusia

Modern, PT. Reflika Aditama, Bandung. h.40

11Linda A. Spagnola, 2008 Contacts For Paralegals (Legal Principles and Practical

Application), Mcgraw-Hill Companies, United States, h.4

12Wirjono Prodjodikoro, 1985. Hukum Perdata Tentang Persetujuan Tertentu. Cet. VIII,

(26)

Perjanjian adalah suatu peristiwa dimana seorang berjanji kepada seorang lain atau dimana dua orang itu saling berjanji untuk melaksanakan sesuatu hal.13

Menurut pandangan dari Catherine Elliott dan Frances Quinn, definisi dari perjanjian sama dengan kontrak14 : Normally a contract is formed when a

effective acceptance has been communicated to be offeree. A communication will be treated as an offer if it indicates the terms on which the offeror is prepared to make a contract, such as the price of the goods for sale. And give a clear indication that the offeror intends to be bound by those terms if they are accepted by the offeree. Acceptance of an offer means unconditional agreement to all the terms of that offer.

Dalam Pandangan tersebut berarti bahwa dalam sebuah pembentukan

kontrak biasanya terjadi apabila penerimaan efektif telah dikomunikasikan kepada pihak penerima penawaran. Dapat dikatakan bahwa apabila dalam penawaran tersebut telah membuat suatu persyaratan yang dibuat oleh yang mewarkan untuk membuat suatu kontrak maka komunikasi dianggap telah dianggap menjadi suatu bentuk penawaran. Sebagai contoh, terkait mengenai harga barang yang akan dijual. Apabila telah adanya kesepakatan dalam memberikan suatu pernyataan yang jelas bahwa pihak yang menawarkan bersedia untuk terikat dengan persyaratan-persyaratan tersebut apabila telah diterima oleh pihak penerima penawaran, maka dari itu, penerimaan dari suatu penawaran telah berarti bahwa adanya kesepakatan tanpa syarat terhadap semua persyaratan yang ditawarkan tersebut.

Menurut Bachsan Mustafa, Bewa Ragawino dan Yaya Priatna memberikan definisi bahwa perjanjian adalah hubungan hukum kekayaan antara beberapa pihak, dimana pihak yang satu (kreditur) berhak menuntut atas suatu jasa

13Wirjono Prodjodikoro, 2000, Azas-Azas Hukum Perjanjian, Mandar Maju, Bandung, h.4. (Selanjutnya disebut Wirjono II)

14Catherine Elliot and Francess Quinn, 2005, Contract Law, Perason Education Limited, England, h. 10

(27)

(prestasi) sedangkan pihak lainnya (debitur) berkewajiban untuk memenuhi tuntutan tersebut (schuld) dan bertanggung jawab atas prestasi itu.15Asas bahwa setiap orang bertanggung jawab terhadap hutangnya, tanggung jawab mana berupa menyediakan kekayaan baik benda bergerak maupun tetap jika perlu dijual untuk melunasi hutang-hutangnya (asas Schuld dan Haftung).16 Menurut Darus Badrulzaman bahwa asas ini sangat adil, sesuai dengan asas kepercayaan di dalam hukum perikatan, dimana setiap orang yang memberikan hutang kepada seseorang percaya bahwa debitur akan memenuhi prestasinya dikemudian hari, setiap orang wajib memenuhi janjinya merupakan asas moral yang oleh pembentuk Undang-Undang dikuatkan sebagai norma hukum.17 Menurut pendapat dari Suchitra Vasu, tujuan dari dibuatnya suatu perjanjian adalah : “The purpose of setting down the

terms of contract are : firstly, it stipulates the rights and obligations of the parties. Secondly, in the event of a dispute between parties, it enables the court to decide which is the defaulting party so that the dispute can be resolved.”18 Yang artinya bahwa Tujuan menetapkan syarat-syarat kontrak adalah pertama, menetapkan hak dan kewajiban para pihak. Kedua, jika terjadi perselisihan antar para pihak, itu memungkinkan pengadilan untuk memutuskan pihak mana yang gagal sehingga perselisihan dapat diselesaikan.

Perjanjian itu menerbitkan suatu perikatan antara dua orang yang membuatnya. Dalam perjanjian yang dibuat oleh nasabah dengan bank yang dinamakan perjanjian kredit dan telah sepakat mengikatkan hak milik atas tanah

15Bachsan Mustafa, Bewa Ragawino, Yaya Priyatna, 1982. Azas-Azas Hukum Perdata

dan Hukum Dagang. Edisi Pertama, Armico, Bandung. h.53

16Mariam Darus Badrulzaman, 1997. Mencari Sistem Hukum Benda Nasional. Alumni, Bandung. (selanjutnya disingkat Mariam Darus Badrulzaman I), h.85

17Ibid.

(28)

yang dimiliki oleh nasabah selaku debitur menjadi jaminan, meskipun tanah tersebut telah dibangun rumah-rumah yang telah ditempati pihak ketiga, terdapat hubungan hukum diantara kesemuanya tersebut. Akibat hukumnya bagi masing-masing para pihak secara timbal balik, maka perjanjian demikian itu termasuk kategori perjanjian obligatoir dan karenanya melahirkan hak perorangan yang diatur dalam Buku III Burgelijk Wetboek (selanjutnya disingkat B.W.).19

Menurut Salim H.S. unsur-unsur perjanjian menurut teori lama adalah sebagai berikut :

1. Adanya perbuatan hukum;

2. Persesuaian pernyataan kehendak dari beberapa orang; 3. Persesuaian kehendak harus dipublikasikan/dinyatakan;

4. Perbuatan hukum terjadi karena kerja sama antara dua orang atau lebih; 5. Pernyataan kehendak (wilsverklaring) yang sesuai harus saling bergantung

satu sama lain;

6. Kehendak ditujukan untuk menimbulkan akibat hukum;

7. Akibat hukum itu untuk kepentingan yang satu atas beban yang lain atau timbal balik; dan

8. Persesuaian kehendak harus dengan mengingat peraturan perundang-undangan.20

Dari pemaparan-pemaparan diatas pengenai teori perjanjian, maka teori ini digunakan sebagai acuan untuk menganalisis permasalahan dari permasalahan yang berkaitan dengan penulisan dalam penelitian ini dimana, terjadi perjanjian mengenai pengalihan hak atas tanah yang dituangkan kedalam bentuk akta pengikatan hibah dan yang kedua telah terjadi perjanjian pengikatan jaminan hak tanggungan yang dilakukan oleh bank selaku pemegang hak tanggungan atau kreditur dan pemberi hak tanggungan selaku debitur. Teori perjanjian ini di

19Herowati Poesoko, 2007. Parate Executive Obyek Hak Tanggungan (Inkonsistensi,

Konflik Norma dan Kesehatan Penalaran Dalam UUHT). LaksBang PRESSindo. Yogyakarta.

H.84

(29)

harapkan dapat mengalisis sahnya perjanjian-perjanjian yang dibuat para pihak yang terikat, khususnya dalam hal ini sahnya perjanjian yang dibuat dalam bentuk akta pengikatan hibah dalam proses hibah hak milik atas tanah.

1.7.1.2 Teori Perlindungan Hukum

Menurut Philipus M. Hadjon memberkan teori perlindungan hukum dalam kepustakaan hukum bahasa Belanda dikenal dengan sebutan “rechtbescherming van de burgers”. Philipus M. Hadjon membedakan perlindungan hukum bagi rakyat kedalam 2 macam yaitu :

1. Perlindungan hukum preventif artinya ketentuan hukum dapat dihadirkan sebagai upaya pencegahan terhadap tindakan pelanggaran hukum. Upaya ini diimplementasikan dengan membentuk aturan hukum yang bersifat normatif.

2. Perlindungan hukum represif yang mana sebuah perlindungan yang bertujuan untuk mencegah terjadinya sengketa, yang mengarahkan tindakan pemerintah bersikap hati-hati dalam pengambilan keputusan berdasarkan diskresi. Perlindungan hukum yang represif bertujuan untuk menyelesaikan terjadinya sengketa, termasuk penanganannya di lembaga peradilan.21

Soejono Soekanto memberikan pandangan mengenai fungsi hukum sebagai alat untuk mengatur hubungan antara negara atau masyarakat dengan warganya, dan hubungan antara sesama warga masyarakat tersebut, yang bertujuan untuk meweujudkan kehidupan dalam masyarakat berjalan dengan tertib dan lancar. Untuk mencapai kepastian hukum untuk menciptakan suatu ketertiban dan keadilan di dalam masyarakat maka mengharuskan suatu tugas hukum didalam peningkatkan penegakkannya. Selanjutnya diperlukannya suatu kepastian hukum yang mengharuskan diciptakannya peraturan umum atau kaidah umum

21Philipus M.Hadjon, 1987, Perlindungan Hukum Bagi Rakyat Indonesia: Sebuah Studi

Tentang Prinsip-Prinsipnya, Penanganannya Oleh Pengadilan Dalam Lingkungan Peradilan Umum Dan Pembentukan Peradilan Administrasi Negara, Bina Ilmu, Surabaya, h.1

(30)

yang berlaku umum. Hal ini bertujuan untuk menciptakan suatu keadaan yang aman dan tentram di dalam kehidupan bermasyarakat, untuk itu kaidah dimaksud harus ditegakkan serta dilaksanakan dengan tegas.22

Selanjutnya Satjipto Raharjo memberikan pandangan bahwa, hukum diciptakan untuk melindungi kepentingan seorang dengan cara mengalokasikan suatu kekuasaaan kepadanya untuk bertindak dalam rangka kepentingannya tersebut. Dalam pengalokasian kekuasaan ini dilakukan secara terukur, yang berarti bahwa ditentukannya keluasan dan kedalamnya. Kekuasaan yang telah disebutkan tersebut adalah suatu hak. Namun tidak setiap kekuasaan yang diberikan di dalam masyarakat dapat disebut dengan hak, tetapi terbatas hanya pada kekuasaan tertentu tolak ukut dilekatkannya kekuasaan tersebut kepada seseorang.23 Adapula pendapat dari Setiono, yang mana memberikan definisi tentang perlindungan hukum sebagai tindakan atau upaya untuk memberikan melindungi kepada masyarakat dari tindakan sewenang-wenang yang dilakukan oleh penguasa yang tidak sesuai dengan aturan-aturan hukum yang berlaku, maka dari itu diharapkan perlindungan hukum dapat mewujudkan suatu ketertiban dan ketentraman yang dapat mewujudkan martabat manusia.24 Selain itu menurut Muchsin perlindungan hukum adalah suatu upaya untuk memberikan perlindungan kepada individu guna menyerasikan hubungan bilai-nilai maupun

22Soerjono Soekanto, 1999, Penegakkan Hukum, Bina Cipta, Bandung, h.15 (selanjutnya disebut Soerjono I)

23Satjipto Rahardjo, 2012, Ilmu Hukum, Citra Aditya Bakti, Bandung, h. 53

24Setiono, 2004, Rule Of Law (Supremasi Hukum), Magister Ilmu Hukum Program Pasca Sarjana Universitas Sebelas Maret, Surakarta, h.3

(31)

kaidah-kaidah yang diwujudkan ke dalam suatu sikap dan tindakan untuk terciptanya suatu ketertiban dalam pergaulan hidup antar sesama manusia.25

Dilihat dari definisi-definisi dari perlindungan hukum yang telah dipaparkan sesuai dengan pendapat para sarjana maka dapat disimpulkan bahwa setiap pihak yang menjalankan suatu ikatan hukum berhak atas suatu perlindungan hukum baik yang menjalankan kewajiban maupun yang menerima hak. Maka dapat disimpulkan bahwa perlindungan hukum kepada pihak-pihak yang melakukan hubungan hukum terjamin kepastian hukumnya dan diharapkan dapat menimbulkan rasa aman dan tentram. Sehubungan dengan penelitian yang ditulis dimana adanya suatu hubungan hukum antara pemberi hibah dan penerima hibah serta pihak-pihak yang akan muncul dikemudian hari dalam hubungannya terkait dengan proses pengalihan hak milik atas tanah melalui akta pengikatan hibah harus mendapatkan perlindungan yang sesuai.

1.7.1.3 Teori Kepastian Hukum

Suatu kepastian dan kemanfaatn hukum adalah suatu bentuk dari tujuan hukum yang mendekati realistis. Penganut paham Positivisme lebih menekankan pada kepastian hukum, sedangkan penganut paham Fungsionalis lebih mengutamakan kemanfaatan hukum, hal ini berarti bahwa “summum ius, summa

injuria, summa lex, summa crux” yang memiliki pengertian bahwa sebagai hukum

yang keras dapat melukai, kecuali keadilan yang dapat menolongnya, maka dapat

25 Muchsin, 2003, Perlindungan dan Kepastian Hukum bagi Investor di Indonesia, Magister Ilmu Hukum Program Pascasarjana Universitas Sebelas Maret, Surakarta, h.14

(32)

dikatakan tujuan hukum yang bersifat substantif adalah keadilan, walaupun keadilan bukan merupakan suatu tujuan hukum satu-satunya..26

Teori Kepastian Hukum mengandung 2 (dua) pengertian, yang pertama harus adanya aturan yang bersifat umum, kepastian hukum yang bersifat umum ini akan menciptkan setiap individu mengetahui mana perbuatan yang boleh dilakukan dan mana perbuatan yang tidak boleh dilakukan. Pengertian yang kedua, kepastian hukum memberikan suatu keamanan hukum bagi masyarakat dari kesewang-wenangan pemerintah. Dengan adanya aturan hukum yang bersifat umum tersebut, maka setiap individu dalam komponen masyarakat dapat mengetahui apa saja yang boleh dibebankan atau dilakukan oleh negara kepada setiap individu. 27 Kepastian hukum berkaitan dengan suspensi hukum, karena hukumlah yang berdaulat. Teori kedaulatan hukum menurut Krabbe28 : bahwa hukumlah memiliki kedaulatan tertinggi. Bahwa hukum dalam konteks kredit adalah Perjanjian Kredit yang telah dibuat oleh para pihak (Kreditur-Debitur), sehingga para pihak terikat dan tunduk dalam suatu perjanjian yang telah mereka buat.

Menurut pandangan Utrecht, kepastian hukum memberikan dua definisi, yaitu pertama, aturan hukum yang bersifat umum memberikan batasan kepada masyarakat mana perbuatan yang boleh dan yang tidak boleh untuk dilakukan, dan definisi yang kedua, berupa keamanan hukum bagi individu dari kesewenangan pemerintah karena dengan adanya aturan yang bersifat umum itu individu dapat mengetahui apa saja yang boleh dibebankan atau dilakukan oleh

26Dominikus Rato, Filsafat Hukum Mencari : Memahami dan Memahani Hukum, Laksbang Pressindo, Yogyakarta, 2010, h.59

27Peter Mahmud Marzuki, 2008. Pengantar Ilmu Hukum. Kencana Predana Media Group, Jakarta. (selanjutnya disingkat Peter Mahmud Marzuki I), h.137

(33)

Negara terhadap individu.29 Hukum sebagai sesuatu yang otonom, yang mandiri, karena bagi penganut pemikiran ini, hukum tak lain hanya kumpulan aturan adalah wujud dari ajaran kepastian hukum yang berasal dari ajaran Yuridis-Dogmatik yang didasarkan pada aliran pemikiran positivistis di dunia hukum. Orang-orang yang menganut paham ini mempercayai bahwa tujuan hukum tidak hanya sekedar menjamin terwujudnya kepastian hukum.. Sifat umum dari aturan-aturan hukum membuktikan bahwa hukum tidak bertujuan untuk mewujudkan keadilan atau kemanfaatan, melainkan semata-mata untuk kepastian.30

Dari pemaran diatas dapat disimpulkan bahwa sangat diperlukannya suatu perbuatan hukum yang diikuti dengan kepastian hukum. Hal ini dimaksudkan agar dikemudian hari kepastian hukum tersebut akan membuat suatu perbuatan hukum menjadi terarah. Dikaitkan dengan permasalahan dalam penulisan ini, dimana tidak adanya suatu kepastian hukum mengenai prosedur dan peraturan yang mengikat mengenai ketentuan pendaftaran dan batas waktu pendaftaran kepada Badan Pertanahan setelah terjadinya proses peralihan hak atas tanah melalui akta pengikatan hibah, telah menimbulkan permasalahan yang nyata. Maka dari itu teori kepastian hukum sangat penting dalam menjawab rumusan permasalahan yang kedua dalam penulisan ini.

1.7.1.4 Teori Penemuan Hukum

Indonesia menganut sistem hukum warisan dari penjajahan Belanda, maka berdasarkan atas dasar asas konkordasi, Indonesia ikut menganut sistem hukum

29Riduan Syahrani, Rangkuman Intisari Ilmu Hukum, Penerbit Citra Aditya Bakti, Bandung, 1999, hlm.23.

30Achmad Ali, Menguak Tabir Hukum (Suatu Kajian Filosofis dan Sosiologis), Penerbit Toko Gunung Agung, Jakarta, 2002, h.82-83.

(34)

Eropa Kontinental (civil law). Hakim di Indonesia dalam memeriksa, mengadili dan memutus perkara dipengadilan yang terkait dengan masalah penemuan hukum dipengaruhi oleh sistem hukum Eropa Kontinental atau civil law

Di dalam sistem hukum civil law mempunyai suatu karakteristik yang ditandai dengan adanya suatu kodifikasi atau pembukuan hukum atau undang-undang dalam suatu kitab (code). Dalam suatu kodifikasi dihimpun sebanyak-banyaknya ketentuan-ketentuan hukum yang disusun secara sistematis. Dalam sistem hukum dii Indonesia mengenal adanya penemuan hukum heteronom sepanjang hakim terikat pada undang-undang, tetapi penemuan hukum ini mempunyai unsur-unsur otonom yang kuat, karena seringkali hakim harus menjelaskan atau melengkapi undang-undang menurut pandangannya sendiri.31

Pada dasarnya suatu penemuan hukum merupakan suatu proses penemuan hukum baru yang belum ada sebelumnya dan dilakukan oleh hakim atau legislatif. Di dalam merumuskan suatu penemuan hukum baru, hakimaselalu dihadapkan pada peristiwa konkrit-konkrit atau kasus yang harus diselesaikan atau dipecahkan. Maka dari itu perlu adanya suatu peraturan untuk mencari solusi dalam kasus-kasus tersebut.

Menurut Paul Scholten bahwa yang dimaksud dengan penemuan hukum adalah sesuatu yang lain daripada hanya penerapan peraturan-peraturan pada peristiwanya. 32 Kadang-kadang dan bahkan sangat sering terjadi bahwa peraturannya harus ditemukan, baik dengan jalan interpretasi maupun dengan analogi ataupun dengan penghalusan/pengkonkretan hukum (rechvervijning). Penemuan hukum menurut Mauwissen, merupakan pengembangan hukum yakni

31Ahmad Rifai, 2011, Penemuan Hukum Oleh Hakim Dalam Perspektif Hukum Progresif, Sinar Grafika, Jakarta, hal. 21.

(35)

kegiatan manusia berkenaan dengan adanya dan berlakunya hukum di masyarakat, yang meliputi kegiatan membentuk, melaksanakan, menerapkan, menemukan, menafsirkan secara sistematis, mempelajari, dan mengajarkan hukum.33

Dari pendapat para ahli hukum di atas, penemuan hukum mempunyai cakupan wilayah kerja hukum yang sangat luas, karena dapat dilakukan oleh siapa saja, baik itu perorangan (individu), ilmuwan/peneliti hukum, para penegak hukum (hakim, jaksa, polisi, advokat), dosen, Notaris dan lainnya.34 Akan tetapi, problematika yang berhubungan dengan penemuan hukum umumnya dipusatkan pada hakim yang setiap harinya selalu dihadapkan dengan peristiwa konkret atau konflik yang harus diselesaikan, dan pembentuk undang-undang. Hakim pada hakikatnya melengkapi ketentuan hukum tertulis melalui penemuan hukum (rechtvinding) yang mengarah kepada penciptaan hukum baru (creation of new

law). Fungsii menemukan hukum tersebut diartikan sebagai mengisii kekosongan

hukum (recht vacuum) dan mencegah tidak ditanganinya suatu perkara dengan alasan hukumnya (tertulis) tidak jelas atau tidak ada.35 Dalam upaya penemuan hukum, sumber utamanya adalah peraturan perundang-undangan, kemudian hukum kebiasaan, yurisprudensi, perjanjian internasional, dan doktrin.36

Sehubungan dengan penulisan ini, teori penemuan hukum sangat mempunyai keterkaitan di dalam menjawab rumusan masalah pertama yang mana di dalam pembuatan akta notariil berupa akta pengikatan hibah belum diatur di dalam suatu aturan hukum khususnya mengenai peraturan tentang keharusan

33Ibid, hal. 23.

34Jazim Hamidi, 2005, Hermeneutika Hukum, Teori Penemuan Hukum Baru dengan

Intrepretasi Teks, UII Press, Yogyakarta, hal. 51.

35Mochtar Kusumaatmaja, 2002, Konsep-Konsep Hukum dalam Pembangunan, Alumni, Bandung, hal. 99.

36Sudikno Mertokusumo, 2009, Penemuan Hukum Sebuah Pengantar, Liberty, Yogyakarta, hal. 48.

(36)

pendaftaran dan batas waktu pendaftaran ke Badan Pertanahan setelah akta pengikatan hibah tersebut dibuat. Pentingnya suatu penemuan hukum dalam masalah ini agar terciptanya suatu kepastian hukum dan keadilan bagi para pihak yang terkait dalam kasus tersebut.

1.7.1.5 Teori Keadilan

Indonesia sebagai negara hukum memiliki tujuan untuk menyelengarakan ketertiban hukum, yakni tata tertib yang umumnya berdasarkan hukum. Negara hukum menjaga ketertiban hukum agar semua berjalan menurut hukum dan terciptanya keadilan.37Aristoteles menyatakan bahwa kata adil mengandung lebih

dari satu arti. Adil dapat berarti menuntut hukum, dan apa yang sebanding yaitu yang semestinya.38 Keadilan adalah salah satu tujuan hukum, teori ini biasanya dijadikan alat untuk menganalisis dan memecahkan suatu permasalahan.

Teori keadilan menurut Aristoteles berdasar pada prinsip persamaan, keadilan terlaksana terhadap hal-hal yang sama diperlakukan sama dan hal-hal yang tidak sama diperlakukan secara tidak sama secara proporsionalitas (justice

consist in treatingequals equally and unequals unequally in proportion to their inequality).39 Aristoteles membedakan keadilan menjadi:40

1. Keadilan universal (umum) yaitu keadilan yang terbentuk bersamaan dengan perumusan hukum;

2. Keadilan partikular diidentikkan dengan kejujuran (fairness atau

equalitas). Keadilan partikular ini dibedakan menjadi:

a. Keadilan distributif adalah keadilan proporsional

37Juniarso Ridwan& Ahmad Sodik Sudrajat, 2009, Hukum Administrasi Negara Dan

Kebijakan Pelayanan Public, Nuansa, Bandung, hal.24.

38Darji Darmadiharjo dan Shidarta, Pokok-pokok Filsafat Hukum (Apa dan Bagaimana

Filsafat Hukum Indonesia),Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, hal.156.

39E. Sumaryono, 2002, Etika Hukum Relevansi Teori Hukum Kodrat Thomas Aquinas, Kanisius, Yogyakarta, hal.256.

(37)

b. Keadilan rektifikatoris disebut juga keadilan remedia,

c. Keadilan korektif ataupun keadilan kompensatoris, yaitu keadilan di dalam hubungan hukum antarpersona pada suatu transaksi bisnis atau kontrak yang di dalamnya termuat pengertian equalitas.

Sementara itu, Thomas Aquinas membedakan keadilan atas dua kelompok, yaitu keadilan umum (Justitia Generalis) dan keadilan khusus. Keadilan umum adalah keadilan menurut kehendak undang-undang, yang harus ditunaikan demi kepentingan umum. Sedangkan, keadilan khusus adalah keadilan atas dasar kesamaan atau proporsionalitas.41

Berdasarkan pemaparan mengenai teori keadilan tersebut, maka di dalam penulisan ini, teori keadilan mempunyai relevansi dengan rumusan masalah kedua. Di dalam menjawab rumusan masalah kedua tersebut, di jelaskan bahwa adanya pihak-pihak yang mungkin akan dirugikan akibat peralihan hak milik atas tanah hibah melalui akta pengikatan hibah yang belum ada pengaturan norma. Pihak-pihak tersebut baik penerima hibah maupun pihak ketiga seperti bank harus diberikan keadilan yang sesuai agar terciptanya fungsi hukum yang baik.

1.7.1.6 Konsep Hibah

Pengaturan mengenai hibah diatur di dalam ketentuan pasal 1666 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, yang mana memberikan definisi sebagai :

“sesuatu persetujuan dengan mana si penghibah di waktu hidupnya, dengan cuma-cuma dan dengan tidak dapat ditarik kembali, menyerahkan suatu benda guna keperluan si penerima hibah yang menerima penyerahan itu. Undang-undang tidak mengakui lain-lain hibah selain hibah-hibah diantara orang-orang yang masih hidup.”

Selanjutnya setelah hibah tersebut dilangsungkan, demi kepastian hukum yang tetap maka peralihan hak berupa hibah tersebut harus di buatkan akta hibah

(38)

sebagaimana yang diatur di dalam ketentuan Pasal 1682 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata yang berbunyi :

“tiada suatu hibah, kecuali yang disebutkan dalam pasal 1687, dapat atas ancaman batal, dilakukan selainnya dengan suatu akta notaris, yang aslinya disimpan oleh notaris itu.”

Dalam penjabaran konsep hibah diatas, dapat ditarik kesimpulan mengenai unsur-unsur hibah, antara lain :

1. Hibah merupakan suatu perjanjian yang dilakukan sepihak oleh si penghibah kepada si penerima hibah dengan cuma-cuma dan tidak ada penuntutan prestasi dari pengalihan hak atas hibah tersebut.

2. Di dalam ketentuan hibah, bahwa si penghibah bertujuan untuk memberikan keuntungan kepada penerima hibah tanpa menuntut suatu prestasi.

3. Objek perjanjian hibah adalah semua harta milik penghibah yang dihibahkan kepada penerima hibah dan dituangkan dalam akta hibah baik berwujud tidak berwujud, bergerak atau tidak bergerak yang melekat pada objek hibah tersebut. 4. Hibah yang telah diberikan oleh penghibah kepada penerima hibah sifatnya

tidak dapat ditarik kembali

5. Hibah yang dilakukan harus dituangkan kedalam akta notaris.

1.7.1.7 Konsep Hak Tanggungan

Dalam ketentuan pasal 1 angka 1 Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1996 Tentang Hak Tanggungan Atas Tanah Beserta Benda-Benda Yang Berkaitan Dengan Tanah, memberikan definisi mengenai hak tanggungan itu sendiri sebagai berikut :

“hak tanggungan atas tanah berserta benda-benda yang berkaitan dengan tanah, yang selanjutnya disebut hak tanggungan adalah hak jaminan yang dibebankan pada hak atas tanah sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 Tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria,

(39)

berikut atau tidak berikut benda-benda lain yang merupakan satu kesatuan dengan tanah itu, untuk pelunasan utang tertentu, yang memberikan kedudukan yang diutamakan kepada kreditor tertentu terhadap kreditor-kreditor lain.”

Di dalam serangkaian pembebanan hak atas tanah tersebut sangat berhubungan dengan profesi pejabat pembuat akta tanah atau yang disingkat PPAT, sebagaimana yang tertuang di dalam ketentuan pasal 1 angka 4 dan angka 5 Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1996 Tentang Hak Tanggungan Atas Tanah Beserta Benda-Benda Yang Berkaitan Dengan Tanah, yang menyebutkan bahwa : Pasal 1 angka 4 : “pejabat pembuat akta tanah selanjutnya disebut dengan PPAT, adalah pejabat umum yang diberikan wewenang untuk membuat akta pemindahan hak atas tanah, akta pembebanan ha katas tanah, dan akta pemberian kuasa membebankan hak tanggungan menurut peraturan perundang-undangan.”

Selanjutnya dalam pasal 1 angka 5 : “Hak Tanggungan adalah akta PPAT yang berisi pemberian Hak Tanggungan kepada kreditor tertentu sebagai jaminan untu pelunasan utangnya.”

Dari pengertian Hak tanggungan yang telah dijabarkan diatas, maka dapat ditemukannya unsur-unsur di dalam hak tanggungan, yaitu :

1. Hak tanggungan merupakan suatu hak jaminan untuk suatu pelunasan hutang. 2. Objek Hak tanggungan adalah hak atas tanah sesuai yang tertuang di dalam

ketentuan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 Tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria.

3. Hak tanggungan dapat dibebankan pada objek tanah yang dijaminkan dan atau kepada benda-benda lain yang melekat menjadi satu kesatuan diatas tanah yang bersangkutan.

4. Hutang yang dijaminkan adalah hutang tertentu

5. Kreditur dalam hal ini adalah pihak yang kedudukannya paling diutamakan dibandingkan dengan kreditur lainnya.

(40)

6. Hak tanggungan dituangkan kedalam akta otentik yang dibuat dihadapan Pejabat Pembuat Akta Tanah.

1.7.2 Kerangka Pemikiran

s

Latar Belakang Rumusan Masalah Landasan

Teoritis 1. Teori Kepastian Hukum 2. Teori perjanjian 3. Teori Penemuan Hukum 4. Konsep Hibah Bagaimanakah eksistensi kedudukan akta pengikatan hibah dalam proses hibah hak milik atas tanah?

1. Teori Perjanjian 2. Teori Perlindungan Hukum 3. Teori keadilan 4. Konsep Hak Tanggungan Bagaimanakah akibat hukum pengikatan jaminan hak tanggungan terhadap

objek tanah yang telah dihibahkan

melalui akta pengikatan hibah? Beranjak dari kekosongan

norma dalam proses hibah pengalihan hak milik atas

tanah melalui akta pengikatan hibah, baik itu

berupa ketentuan yang mengharuskan penyampaiakan pendaftaran

akta kepada kantor pertanahan maupun batas

waktu dalam melalukan proses pendaftaran setelah

ditandatanganinya akta pengikatan hibah, mengakibatkan adanya celah (loopholes) yang memungkinkan terjadinya

perbuatan yang dapat menimbulkan kerugian bagi

para pihak. Contohnya dengan penjaminan objek

hak milik atas tanah oleh pemberi hibah kepada pihak

ketiga seperti bank.

PEMBAHASAN KESIMPULAN DAN SARAN

Referensi

Dokumen terkait

[r]

arsip yang ada.indikasi kinerja pegawai perpustakaan masih rendah dapat dilihat. dari kehadiran pada jam kerja yang sudah ditentukan dan efektivitas jam

Kepada para peserta seleksi yang berkeberatan atas Pengumuman ini diberikan kesempatan untuk mengajukan sanggahan sesuai ketentuan berdasarkan Peppres No.. Demikian

Diharapkan pengalaman yang didapat dari kegiatan lesson study ini bermanfaat untuk merubah budaya guru dari pengajaran yang berpusat pada guru (teacher centered)

Negara berkembang merupakan Negara yang sedang dalam proses dalam kemajuan dari setiap aspek Negara tersebut.. Komponen-komponen dari aspek Negara

Jika diketahui juga bahwa tidak ada dua kontestan yang memperoleh jumlah suara yang sama, maka perolehan terbesar yang mungkin untuk kontestan dengan suara paling sedikit adalah

Posisi dalam klaster yang saling berjauhan untuk keenam spesies tersebut kemungkinan terjadi karena urutan nukleotida pada gen RubisCO yang mereka miliki

Penerapan Metode Penginderaan Jauh dan Sistem Informasi Geografis untuk Analisa Perubahan Penggunaan Lahan (Studi Kasus: Wilayah Kali Surabaya). Analisis Perubahan