41
DAFTAR PUSTAKA
1. Ariadji, T. (2005) : Effect Of Vibration On Rock And Fluid Properties: On Seeking The Vibroseismic Technology Mechanisms, SPE 93112.
2. Beni, Setiawan, (2007): mathematical modelling of oil production performance under vibration stimulation, Thesis.
3. Beresnev, I.A., Johnson, P.A (1994) : Elastic Wave Stimulation of Oil Production, A Review of Methods and Results, Geophysics, Vol. 59, No.6,1000-1017.
4. Biot, M.A. (1956) : Theory of Propagation of Elastic Waves in a Fluid-Saturated Porous Solid, Low-Frequency Range, Journal Acoustic Society of America, Vol. 28, 168-178.
5. Biot, M.A. (1956) : Theory of Propagation of Elastic Waves in a Fluid-Saturated Porous Solid, High-Frequency Range”, Journal Acoustic Society of America, Vol. 28, 179-191.
6. Beresnev, I.A., Vigil, R.D., Wenqing Li, Pennington, W.D., Turpening, R.M., Iassonov, P., and Ewing, R.P. (2005) : Elastic Waves Push Organic Fluids From Reservoir Rock, GEOPHYSICAL RESEARCH LETTERS, VOL. 32. 7. Beresnev, I.A., Pennington, W.D., Turpening, R.M. (2005) : Capillary-physics
Mechanism of Elastic-wave Mobilization of Residual Oil, Society of Exploration Geophysicist.
8. Del Rio, J. A., Poire, E. C. (2002) : Possible Gigantic Variations on the Width of Viscoelastic Fingers, Europhysics Letters.
9. Iassonov, P., Beresnev, I.A. (2003) : A model for Enhanced fluid Percolation in Porous Media by Application of Low-frequency Elastic wave, Journal of Geophysical Research, Vol.108.
10. Johnson, D. L., Koplik, J. and Dashen, R. (1987) : Theory of Dynamic Permeability and Tortousity in a Fluid-saturated Porous Media, Journal Fluid. Mechanic. 176, 379–402.
11. L.H. Zang, Peter Ho, Y. Li, Shengning He (1999) : Low Frequency Vibration Recovery Enhancement Process Simulation, SPE 51914.
12. Prasad M., Manghnani M.K., (1997): The Effect of Pore and Differential Pressure on Compressional Wave Velocity and Quality Factor in Berea and Michigan Sandstones, Geophysics 62.
13. Sadovsky, M., A., Nikolaev, A., V. (1993) : Seismic Vibrating Stimulation to Oil Reservoir, Russian Academy of Sciences Order of Lenin Institut of Physics, Moscow.
14. Tsiklauri, D. and Beresnev, I (2001) : Enhancement in The Dynamic Response of a Viscoelastic Fluid Flowing Through a Longitudinally Vibrating Tube, Phys. Rev. E 63, 046304-1-4, Paper I.
15. Tsiklauri, D. and Beresnev, I. (2001) : Non-Newtonian Effects in The Peristaltic Flow of Maxwellian Fluid, Phys. Rev. E 63, 046304-1-4, Paper II. 16. Weqing Li, R.D. Virgil, Beresnev, I., Iassonov, P., Ewing, R. (2005) :
Vibration-induced Mobilization of Trapped Oil Ganglia in Porous Media: Experimental validation of Capillary-physics Mechanism, Journal of Colloid and Interface Sciences.
43
LAMPIRAN A
Tabel A.1. Contoh Pengambilan data sampel core: R-7.2 pada F = 0 Hz
Tabel A.2. Contoh pengambilan data sampel core: R-7.2 pada F = 15 Hz Time Cumulative Production (cc)
Oil Water Total
34 0.00 0.00 0.00 36 0.20 0.00 0.20 38 0.45 0.00 0.45 40 0.48 0.12 0.60 42 0.48 0.52 1.00 44 0.48 0.77 1.25 46 0.48 1.22 1.70 48 0.48 1.72 2.20 50 0.48 2.22 2.70 52 0.48 2.72 3.20 54 0.48 3.42 3.90 56 0.48 4.02 4.50 58 0.48 4.52 5.00 60 0.48 5.12 5.60 62 0.48 5.82 6.30 64 0.48 6.52 7.00 66 1.10 6.70 7.80 Density : 0.8337 gr/cc W dry : 41.16 gr W Saturated : 44.22 gr Volume oil : 3.670385 cc
Time Cumulative Production (cc)
Oil Water Total
0 0.00 0.00 0.00 2 0.75 0.25 1.00 4 1.05 0.55 1.60 6 1.21 0.99 2.20 8 1.33 1.37 2.70 10 1.40 1.90 3.30 12 1.44 2.16 3.60 14 1.48 2.52 4.00 16 1.50 3.00 4.50 20 1.52 3.88 5.40 22 1.54 4.26 5.80
Time Cumulative Production (cc) Oil Water Total
24 1.55 4.75 6.30 26 1.56 5.34 6.90 28 1.56 5.84 7.40 30 1.56 6.24 7.80 32 1.57 6.73 8.30 34 1.58 7.22 8.80 36 1.58 7.62 9.20 38 1.58 8.12 9.70 40 1.58 8.62 10.20 42 1.58 9.12 10.70 44 1.58 9.52 11.10 Time Cumulative Production (cc)
Oil Water Total
90 1.53 15.67 17.20 92 1.53 16.27 17.80 94 1.57 16.93 18.50 96 1.57 17.43 19.00 98 1.60 18.00 19.60 102 1.60 19.50 21.10 104 1.60 20.10 21.70 106 1.65 20.85 22.50 108 1.65 21.55 23.20 110 1.70 22.30 24.00 112 1.70 22.90 24.60 114 1.70 23.50 25.20 116 1.75 24.25 26.00 118 1.75 24.85 26.60 120 1.78 25.42 27.20 122 1.78 26.02 27.80 126 1.78 27.22 29.00 128 1.82 27.68 29.50 130 1.82 28.28 30.10 132 1.82 29.08 30.90 136 1.82 30.38 32.20
68 1.17 7.33 8.50 70 1.23 8.37 9.60 72 1.27 9.23 10.50 74 1.30 9.90 11.20 76 1.30 10.80 12.10 78 1.37 11.73 13.10 80 1.42 12.58 14.00 82 1.42 13.18 14.60 84 1.45 13.95 15.40 86 1.45 14.55 16.00 88 1.50 15.10 16.60 138 1.85 30.85 32.70 140 1.85 31.65 33.50 144 1.85 32.65 34.50 146 1.85 33.85 35.70 148 1.88 34.32 36.20 154 1.88 35.82 37.70
45 LAMPIRAN B
Prosedur pengukuran porositas dan permeabilitas menggunakan UltraporeTM 300 Helium Pycnometer System dan Ultra PermeameterTM 400.
Lampiran B.1. Prosedur pemakaian Ultra PermeameterTM 400
Pemakaian alat Ultra-PermTM 400 perlu memperhatikan hal-hal yang berkaitan dengan safety karena Ultra-PermTM 400 terdiri dari seperangkat komputer, seperangkat alat Ultra-PermTM 400 , tabung gas berisi N2, dan core holder. Untuk itu prosedur pemakaian alat dibagi menjadi 3 bagian:
1. Persiapan
Sebelum melakukan pengukuran dilakukan perlu beberapa persiapan agar pada saat pengukuran alat berfungsi dengan baik. Periksalah terlebih dahulu valve pada core holder, front panel (source) yang terletak pada unit Ultra-PermTM 400, dan blitz dibelakang core holder dalam keadaan tertutup. Kemudian periksalah apakah gas nitrogen masih terdapat di tabung dengan membuka kran pada kepala tabung. Apabila tekanan pada gauge masih ada (mencukupi untuk confining pressure ± 300 psig), maka dapat dipastikan bahwa gas nitrogen tersebut masih ada dan layak dipakai.
Sebelum menyalakan komputer pastikan kontak listrik terhubung dengan stabilizer agar pada saat tegangan listrik drop tidak merusak alat dan mengakibatkan komputer off sehingga pengukuran diulang dari awal.
2. Pengukuran
Apabila prosedur persiapan Ultra-PermTM 400 telah dilakukan, pengukuran permeabilitas core dapat dilakukan melalui tahapan sebagai berikut:
a. Buka kran pada tabung N2. Apabila pada gauge tekanan confining pressure belum disetting 300 psig, putar kran valve sampai posisi jarum menunjuk angka 300 psig.
b. Nyalakan terlabih dahulu Ultra-PermTM 400 sebelum menyalakan computer agar gas yang masuk ke unit Ultra-PermTM 400 mencapai kestabilan
c. Nyalakan komputer, buka software UltraPerm. Buka file new, set diameter pada centimeter, barometer pada mmHg, dan temperature pada centigrade. Ketik nama file yang dikehendaki, isi header seperti ID, diameter, panjang, confining pressure, barometer, dan jumlah pengukuran (set 3).
d. Masukkan core diameter 1 inchi (panjang maksimum 2.5 inchi) kedalam karet selubung, tutup dengan penutup selubung (terbuat dari besi atau stainless), masukkan kedalam core holder, dan kunci dengan memutar pengunci diatas core holder. Pastikan penutup selubung berlubang dua berada diatas sebagai input gas N2 dan berlubang satu diposisi bawah sebagai output.
e. Buka valve paling kiri disamping core, dan buka valve front panel (source) pada unit Ultra-PermTM 400
f. Set pada front panel (source) pada unit Ultra-PermTM 400 metering valve dan posisi high. Apabila bacaan flow pada kecil ditandai warna merah pada bacaan flow, putar posisi pada low.
g. Biarkan bacaan pada differential pressure dan upstream pressure stabil, klik proceed to next step. Diperoleh satu kali pengukuran permeabilitas h. Turunkan flow dengan memutar tombol flow sampai setengah aliran
pertama. Tunggu sampai differential pressure dan upstream pressure stabil i. Naikkan Upstream pressure dengan cara memutar tombol Upstream
pressure sampai differential pressure dan atau flow sama seperti pengukuran awal. klik proceed to next step. Diperoleh satu kali pengukuran permeabilitas.
j. Lakukan kembali seperti point h dan point i
k. Pindahkan data ke folder dengan cara klik pada accept data
l. Baca kinf, diperoleh permeabilitas absolut yang telah dikoreksi klinkernberg.
3. Penutupan
Setelah pengukuran selesai, tutup saluran gas N2 pada tabung gas dan pada front panel. Buka valve pada core holder, sampel core dapat dikeluarkan. Untuk pengukuran sampel core yang lain, lakukan seperti prosedur pengukuran point 2.
47
Apabila telah selesai, tutup saluran gas N2 pada tabung gas dan pada front panel. Buka valve pada core holder. Buang gas yang masih tersisa di saluran dan tutup semua valve.
Lampiran B.2. Prosedur pemakaian UltraporeTM 300 Helium Pycnometer
System
Perlu diingat bahwa pengukuran porositas menggunakan UltraporeTM 300 Helium Pycnometer System memakai dua macam gas yaitu Nitrogen dan Helium.
1. Nyalakan komputer yang menggunakan software windows ME 2. Buka tabung gas Nitrogen dan Helium
3. Nyalakan control unit UltraporeTM 300 4. Nyalakan software UltraporeTM 300
5. Kaliberasi terlebih dahulu agar kondisi alat ukur dan tabung ukur yang berisi lempengan (disk volume - 5 buah) benar-benar dalam kondisi normal (ditandai dengan hasil kaliberasi R2 = 1)
6. Pilih menu calibration GV, set untuk 6 kali pengukuran kaliberasi
7. Masukkan tabung kosong (pengukuran pertama) pada tempat pengukuran 8. Cek list kotak disk volume pada tempat yang disediakan disoftware (cek
volume nol – 0), klik OK
9. Tunggu sampai alat menunjukkan stability detected
10. Isi tabung ukur dengan disk 1, lakukan pekerjaan no. 8 dengan mengisi cek disk volume pada volume disk 1
11. Lakukan terus sampai diskke-5
12. Apabila R2 pada kaliberasi menunjukkan angka 1, maka kaliberasi alat sudah bagus dan pengukuran sampel core dapat dilakukan
13. Masukkan sampel core kedalam tabung ukur. Apabila sampel core tidak memenuhi tabung ukur, tambahkan disk volume sampai tabung terisi penuh tetapi tidak melebihi tinggi tabung
14. Pilih menu measure pada menu, cek list nomor volume disk yang ditambahkan ke tabung ukur, klik OK
15. Tunggu sampai alat menunjukkan stability detected 16. Klik menu calculate, pilih system GV
17. Klik menu calculate Bulk Volume
18. Porositas terbaca di display software. Untuk menyimpan, klik send data into grid
49 LAMPIRAN C
Prosedur pemakaian alat vibroseismik.
Prosedur Pemakaian Alat Vibroseismik
I. Persiapan alat dan bahan
Siapkan alat dan bahan-bahan yang akan dipakai sebalum pengukuran agar pada saat pengukuran berjalan dengan lancar.
1. Tempatkan sensor-sensor pada alat vibroseismik pada posisinya seperti pada gambar diatas.
2. a. Setting pengukuran menggunakan circular vibrator
- Masukkan jack pada ujung kabel circular vibrator ke konektor vibra exciter dibelakang unit vibroseismik exciter
- Masukkan jack pada ujung kabel X-Y receiver ke konektor accelerometer Sumber Gel. P (Axial) Sumber Gel. S (Circular) X‐Y Receiver X‐Z Receiver Ultrasonic Core Holder Overburden Line Saluran Produksi Injection Valve
- Set vibration mode pada vibroseismik exciter ke mode C (sirkular)
- Hubungkan vibroseismik exciter ke osiloskop dengan kabel yang telah tersedia
- Sambungkan unit vibroseismik exciter dan osiloskop ke listrik 220 V
- Nyalakan osiloskop, atur frekuensi yang dikehendaki pada unit vibroseismik exciter dan baca frekuensi pada osiloskop dengan cara sebagai berikut:
* Atur Volt/Div pada osiloskop sampai tinggi gelombang tidak melewati batas maksimum display, kalikan jumlah kotak dengan nilai Volt/Div diperoleh amplitudo
* Atur Time/Div sampai 1 (satu) panjang gelombang (λ, jarak antar puncak ke puncak atau jarak antar lembah ke lembah) dapat diukur, kalikan jumlah kotak dengan nilai Time/Div diperoleh perioda (biasanya dalam satuan ms). Frekuensi diperoleh dari 1000/perioda.
b. Setting pengukuran menggunakan vibrator aksial
- Masukkan jack pada ujung kabel aksial vibrator ke konektor amplifier dibelakang unit amplifier. Masukkan jack pada lubang/pasangan yang cocok
- Hubungkan amplifier dengan vibroseismik exciter, masukkan jack ke konektor vibra exiter
- Masukkan jack pada ujung kabel X-Z receiver ke konektor accelerometer
- Set vibration mode pada vibroseismik exciter ke mode L (longitudinal)
51
- Hubungkan vibroseismik exciter ke osiloskop dengan kabel yang telah tersedia
- Sambungkan unit vibroseismik exciter, amplifier, dan osiloskop ke listrik 220 V
- Nyalakan osiloskop, atur frekuensi yang dikehendaki pada unit vibroseismik exciter dan baca frekuensi pada osiloskop dengan cara sebagai berikut:
* Atur Volt/Div pada osiloskop sampai tinggi gelombang tidak melewati batas maksimum display, kalikan jumlah kotak dengan nilai Volt/Div diperoleh amplitudo
* Atur Time/Div sampai 1 (satu) panjang gelombang (λ, jarak antar puncak ke puncak atau jarak antar lembah ke lembah) dapat diukur, kalikan jumlah kotak dengan nilai Time/Div diperoleh perioda (biasanya dalam satuan ms). Frekuensi diperoleh dari 1000/perioda.
3. Setting laju injeksi pompa merkuri
Hubungkan pompa merkuri dengan listrik (lihat voltase pada pompa), atur pada tombol forward untuk injeksi, tarik tombol tersebut untuk menyalakan pompa. Atur pada tombol speed untuk mengatur laju injeksi sampai laju yang diinginkan (biasanya 0.3 cc/menit). Setelah diperoleh laju yang diinginkan, matikan pompa. Pompa siap dipakai.
II. Pengukuran
Setelah setting dan pemilihan frekuensi dilakukan, tahap pengukuran dapat dilakukan. Jangan masukkan core ke dalam core holder yang telah terhubung dengan alat vibroseismik apabila pengaturan frekuensi belum dilakukan. Tahap pengukuran
1. Siapkan core holder, masukkan core yang akan diukur kedalam core holder
2. Tempatkan core holder pada alat vibroseismik seperti pada posisi gambar diatas. Putar core holder sampai terhubung kuat
3. Sambungkan selang dari tabung N2 ke valve overburden, jangan lupa drat diberi seal tape sebelum dihubungkan
4. Sambungkan injection valve ke selang pada Hassler core holder yang berisi air formasi dan telah terhubung pompa injeksi (telah diatur laju injeksi yang diinginkan)
5. Nyalakan pompa yang telah diatur laju injeksinya
6. Buka valve pada injection valve, pengukuran dapat dimulai. Waktu awal (t=0) pengukuran dimulai pada saat valve injeksi dibuka.