BAB I PENDAHULUAN. bara merupakan bagian dari sumber daya alam tersebut.

Teks penuh

(1)

1

A. Latar Belakang

Negara Indonesia memiliki kekayaan sumber daya alam yang besar, di mana batu bara merupakan bagian dari sumber daya alam tersebut.

Salah satu kegiatan yang mempunyai peranan besar dalam pertambangan batu bara adalah peledakan. Pekerjaan peledakan berfungsi untuk memecah atau membongkar batuan padat untuk menghasilkan batuan lepas yang dinyatakan dalam derajat fragmentasi, di mana dalam proses peledakan tersebut dibutuhkan material berupa bahan peledak.

Kebutuhan akan bahan peledak ini cukup besar di Indonesia yaitu sekitar 650 ribu ton per tahun1 meskipun sebagian perusahaan pertambangan menunda penambangan baru bahkan menghentikan produksi dikarenakan penurunan harga batu bara.

Saat ini ada 8 (delapan) badan usaha yang diizinkan melakukan produksi/pengadaan termasuk impor dan pendistribusian bahan peledak komersial untuk memenuhi kebutuhan pengguna akhir bahan peledak di Indonesia, yaitu:

1. PT Dahana (Persero) 2. PT Pindad (Persero) 3. PT Multi Nitrotama Kimia 4. PT Tridaya Esta

5. PT Armindo Prima

1 Separuh Kebutuhan Bahan Peledak Indonesia Masih Diimpor, http://www.pikiran-rakyat.com/node/281062,

(2)

6. PT Pupuk Kaltim Tbk 7. PT Trifita Perkasa

8. PT Asa Karya Multi Pratama

Dalam rangka upaya meningkatkan efektivitas kerja, Pemilik Tambang di suatu area pertambangan di Indonesia akan melakukan aktivitas peledakan atau blasting. Rencana aktivitas peledakan tercermin dalam kesepakatan biaya peledakan pada kontrak Pengangkutan Tanah di Atas Lapisan Batu Bara atau Overburden Removal antara PT X sebagai Pemilik Tambang dengan PT Y sebagai Kontraktor Batu Bara di suatu area pertambangan di Indonesia. Penggunaan inisial atau kode pada perusahaan dalam penulisan karya ilmiah ini adalah untuk menjaga privacy dari pihak-pihak yang terlibat.

Disebabkan di sekitar area pertambangan tersebut terdapat pipa gas milik Pertamina, maka dilakukanlah koordinasi dengan pihak-pihak terkait sehubungan dengan rencana kegiatan peledakan. Pada tanggal 19 Januari 2012, disaksikan oleh BP Migas2 dan Pertamina, PT X sebagai Pemilik Tambang membuat pernyataan secara tertulis bahwa:

1. Pemilik Tambang akan melakukan kegiatan peledakan di area yang telah ditentukan;

2. Pemilik Tambang akan mengutamakan Keselamatan, Kesehatan Kerja dan Lindungan Lingkungan (K3LL);

2 Berdasarkan Putusan MK No.36/PUU-X/2012 tanggal 5 Nopember 2012 tentang Pembubaran BP Migas dimana

untuk menanggapi Putusan MK tersebut, Presiden menerbitkan 2 Peraturan Presiden yaitu Peraturan Presiden No. 95 Tahun 2012 tertanggal 13 Nopember 2012 dan Peraturan Presiden No. 9 Tahun 2013 tentang Penyelenggaraan Pengelolaan Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi tertanggal 10 Januari 2013 yang mana salah satu intinya adalah menetapkan SKK Migas sebagai penyelenggara pengelolaan kegiatan usaha hulu minyak dan gas bumi sampai diterbitkannya undang-undang baru di bidang minyak dan gas bumi.

(3)

3. Pemilik Tambang akan bertanggung jawab atas segala kerusakan akibat peledakan.

Sebagai tindak lanjut dari rangkaian persiapan yang telah dilakukan oleh PT X, maka pada bulan Juli hingga Agustus 2014, PT Y selaku kontraktor melakukan tender untuk menentukan penyedia Bahan Peledak dan Jasa Peledakan.

Pada tanggal 24 Oktober 2014 diterbitkan Letter of Intent (selanjutnya di sebut LOI) oleh PT Y yang berisi penunjukan PT Z sebagai pemenang yang akan bertanggung jawab dalam penyediaan bahan peledak dan jasa peledakan di area tambang milik PT X. Disebutkan juga dalam LOI tersebut bahwa PT Z sebagai Subkontraktor akan melakukan upaya terbaik agar hari pertama peledakan terlaksana paling lambat pada 01 Januari 2014. Selain itu, tercantum juga informasi periode dari pelaksanaan jasa dimulai dari 01 Januari 2014 hingga 31 Desember 2018.

Akan tetapi dalam kenyataannya terjadi keterlambatan sekitar 2 (dua) bulan yang berakibat mundurnya pelaksanaan peledakan pertama atau first blast dari jadwal yang direncanakan.

Setelah peledakan pertama kali dilaksanakan, terjadi protes dari warga sekitar yang tidak menyetujui dilaksanakannya aktivitas peledakan di tambang tersebut yang mana mengakibatkan kegiatan peledakan tidak dapat dilanjutkan.

Penundaan pelaksanaan kegiatan peledakan terjadi selama lebih dari 1 (satu) bulan, sehingga pada tanggal 19 April 2014 dilakukan pertemuan antara PT X/Pemilik Tambang, PT Y/Kontraktor, PT Z/Subkontraktor, perwakilan masyarakat dan disaksikan oleh pihak Kepolisian. Dengan mengacu pada pertemuan tersebut, PT Y/Kontraktor mengirimkan Surat Pemberitahuan kepada PT Z/Subkontraktor bahwa akan dilakukan evaluasi terhadap

(4)

pelaksanaan peledakan di mana evaluasi tersebut melibatkan Polisi, Dinas Lingkungan, dan masyarakat.

Setelah menerima informasi tersebut, pada tanggal 06 Mei 2014, PT Z/Subkontraktor mengirimkan surat kepada PT Y/Kontraktor berisi klaim stand by rate sejak Maret 2014 sampai akan dimulainya kembali aktivitas peledakan di mana ketentuan mengenai stand by rate tidak tertuang di dalam kontrak.

Memasuki bulan Juni 2014, PT Y/Kontraktor menerima informasi dari PT X selaku Pemilik Tambang bahwa negosiasi dengan warga tidak berhasil dilakukan sehingga kegiatan peledakan dibatalkan dan PT X menginstruksikan kepada PT Y/Kontraktor untuk mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk mengurangi kerugian yang lebih besar lagi.

Atas dasar tersebut, PT Y/Kontraktor menginformasikan kepada PT Z/Subkontraktor bahwa PT X telah menginstruksikan penghentian rencana aktivitas peledakan di area tambang PT X.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang tersebut, perumusan masalah yang ditampilkan penulis adalah sebagai berikut:

1. Apa yang menjadi kendala terjadinya keterlambatan pelaksanaan kontrak penyediaan bahan peledak dan jasa peledakan oleh PT Z/Subkontraktor dan bagaimana penyelesaian terhadap kendala tersebut?

2. Bagaimana tanggung jawab PT Y/Kontraktor terhadap klaim “stand by rate” yang diajukan oleh Subkontraktor selama dihentikannya pelaksanaan jasa peledakan?

(5)

3. Apakah sudah tepat penggunaan klausula “Pengakhiran untuk Kenyamanan atau

Termination for Convenience” pada kondisi kontrak tersebut?

C. Tujuan Penelitian

Penulisan ini bertujuan untuk mengetahui kepastian hukum dan keadilan atas pelaksanaan kontrak penyediaan bahan peledak dan jasa peledakan di suatu area pertambangan batu bara. Secara terperinci, tujuan yang ingin dicapai oleh penulis dalam melakukan penelitian ini antara lain:

1. Untuk mengetahui dan memahami kendala terjadinya keterlambatan pelaksanaan kontrak penyediaan bahan peledak dan jasa peledakan oleh PT Z selaku Penyedia Jasa/Subkontraktor dan penyelesaian terhadap kendala tersebut.

2. Untuk mengetahui dan memahami tanggung jawab PT Y/Kontraktor terhadap klaim

“stand by rate” yang diajukan oleh Subkontraktor selama dihentikannya pelaksanaan

jasa peledakan.

3. Untuk mengetahui dan memahami ketepatan penggunaan klausula “Pengakhiran untuk Kenyamanan atau Termination for Convenience” pada kondisi kontrak Penyediaan Bahan Peledak dan Jasa Peledakan tersebut.

D. Keaslian Penelitian

Kajian tentang kontrak baik di dalam maupun di luar industri pertambangan pada umumnya sudah cukup banyak dilakukan.

Kajian-kajian yang pernah dilakukan seperti pengkajian pedoman rasio hutang dengan modal di perusahaan kontrak karya suatu perusahaan pertambangan oleh Elina

(6)

Magdalena D dari Fisip Universitas Indonesia tahun 2009, selanjutnya pelaksanaan kontrak karya antara Pemerintah RI dengan Perseroan Terbatas oleh Made Ester Ida Oka Patty, S.H. dari Universitas Diponegoro pada tahun 2008 dan pembahasan mengenai sistem karyawan kontrak di perusahaan batubara oleh Ahmad Ma’sum dari UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta.

Untuk kajian kontrak di luar industri pertambangan seperti kajian oleh Vony Sulitiyorini dari Magister Hukum Universitas Gadjah Mada pada tahun 2011mengenai tinjauan hukum terhadap klaim penyesuaian nilai kontrak pada industri konstruksi transmisi ketenagalistrikan, selanjutnya perlindungan hukum terhadap konsumen dalam transaksi jual beli rumah susun oleh Fanny van Sasongko dari Magister Hukum Unversitas Gadjah Mada pada tahun 2011 dan penyelesaian wanprestasi prinsipal dalam pengadaan barang dan jasa untuk perusahaan migas oleh Endang Retnowati dari Magister Hukum Universitas Gadjah Mada pada tahun 2008.

Akan tetapi penulis belum menemukan penelitian yang membahas secara spesifik tentang aspek yuridis klaim “stand by rate” pada kontrak penyediaan bahan peledak dan jasa peledakan di area pertambangan batu bara.

E. Kegunaan Penelitian

Dari pengkajian dan analisis data yang diperoleh dari penelitian ini, diharapkan dapat bermanfaat terhadap ilmu pengetahuan serta menambah literatur. Secara lebih rinci, kegunaan penelitian ini terutama dapat memberikan kontribusi baik yang bersifat teoritis maupun bersifat praktis sebagai berikut:

(7)

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan pemikiran yang berarti bagi perkembangan substansi ilmu hukum, khususnya dalam bidang kontrak bisnis.

2. Kontribusi Praktis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan pemikiran yang berarti bagi kalangan praktisi seperti pelaku bisnis dalam menyepakati dan menyikapi syarat-syarat dan ketentuan di dalam kontrak sehingga diharapkan dapat menciptakan kepastian hukum dan keadilan bagi para pelaku bisnis tersebut.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :