• Tidak ada hasil yang ditemukan

Vol. 1, Tahun ke-1, April 2009 ISSN;

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Vol. 1, Tahun ke-1, April 2009 ISSN;"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

Vol.

1,

Tahun ke-1

,

April 2009

ISS

N;

2085-0743

Memahami dan Memanfaatkan Pcnclitian dalam Karya-Karya Keagamaan Pro/Dr.John Tondowidjojo. CM

Oosar Pclayanan dan Tujuan Pclayanan Pastoral Gcrcja Ors. DB. Kanur11 Ardija11to .. \IA. Pr

Praktek llidup Kcagamaan Blaize P;iscnl: Anrnrio Atcisme dan Tcismc {RcOeksi Krilis Partial Tcrhadap Pr:oktek Hidup Keagamaan Manusia l\lodcrn) Hipoliws K Kewuel. 5.Ag. !vi.Hum ~lcnumbuhkan Kcrukunan dalam Hidup Beragama

)1cnuru1 Pandangan Agama Katolik Suparco. S.Ag. M.Pd.

Musik Katekctis: AlternatifMenjadikan Katekese Lebih Menarik Aloysius Sulwrdi. S.Pd

Model Pembelajaran Koopcratifscbagai Sahoh Satu Al1enrn1ive dalam Prose> Pcmbclajanm Pendidikan Agarna Katolik di Sekolah (Jahnel S.1111.row. S. Pd

Le

mbaga

Penelilian

Seko

lah Tinggi

Kegu

r

uan dan llmu Pend

i

dikan Teolog

i

Katolik

(2)

JPAK

JURNALP

E

NDIDIKAN AGAMA

KATOLIK

Jurnal Pendidiklln Agama Katolik (JPAK) adalah media komunikasi ilmiah yang dimaksudkan untuk mewadahj basil penelitian, basil studi, atau kajian ilmiah yang berkaitan dengan Pendidikan Agama Katolik sebagai salah satu bentuk sumbangan STKIP Widya Yuwana Madiun bagi pengcmbangan Pendidikan Agama Katolik pada umurnnya.

Penasehat

Ketua Yayasan Widya Yuwana Madiun Pelindung

Ketua STI<IP Widya Yuwana Madiun Penyelenggara

Lembaga Penelitian STKIP Widya Yuwana Madiun Ketua Penyunting

Hipolirus Kristoforus Kewuel, S.Ag, M.Hum Peoyuntiog Pelaksana

Hardi Aswinarno, MA, Pr

Ors. DB. Karn:m Ardijanto, MA, Pr

Penyunting Ahli

Prof.

Dr.

Tondowidjojo, CM

Dr.

Ola Rongan Wilhelmus, SF, MS

Dr.

Armada Riy:mto, CM Sekretaris Gabriel Sunyoto, S.Pd

Alamat Redaksi STKIP Widya Yuwana

Jin. Mayjend Panjaitan. Tromolpos: 13. Telp. 0351-463208. Fax. 0351-483554 Madiun 63102 - Jawa Timur - Indonesia

(3)

Vol. 1, Tahun ke-1,

April 2009

IS

SN;

2085-0743

DAFTARISI

02

Editorial

0 3

Memabami dan Memanfaatkan

P

ene

litian dalam

Karya-Karya

Keagamaan

Prof. Dr. John Tondowidjojo. CM

0 9

Dasar dan Tujuan Pelayanan Petuga_, Putoral Gereja

Drs. DB.

Karnan

Ardijanto

,

MA, Pr

2 2

Praktek

bidup

keagamaan Blaiz

e

Pascal:

An

t

araAt

eis

me

dan

Teisme

(Refleksi Kritis Partial terbadap Praktek

Hid up Keagamaan Manusia

Modern)

Hipolitus

K

Kewuel, S.Ag

..

M

.

Hum

.

34

M

e

oumbubkan Kerukunao

dalam

Hldup Beragama

Meourut

PandaoganAgama Katolik

Suparto

,

S.Ag.

41

Muslk Kateketis: AlteroatifMenjadikan Katekese

Lebib

Menarik

Aloysius Suhardi, S.Pd.

5

7

Model

P

e

mbelajaran K

ooperatif se

ba

gai

Sa

lab

Sa

tu

Alternative

dalam Proses Pembelajaran

Pendldikan

Agama

Kato

li

k

di Sekolah

(4)

PRAKTEKHIDUPKEAGAMAAN

BLAIZEPASCAL:ANTARAATEISMEDANTEISME

(Refleksi

Kritis Partial Terhadap Praktek Hidup

Keagamaan Manusia Modern)

Hipolitus K Kewuel

Sekolah Tinggi Keguruan dan

Il

mu Pendldikan Agama Katolik

(STKIP) Widya Yuwana Madiun

Abstract

The aim of this article

is

to describe the Pascal's religious life

in practice

.

As

a Christians, his life describe the Christians

general style oflife otomaticaly. Therefore, critical opinions

toward Pascal's

religious life in practicemeanscrilical opinions

toward christian 's religious life in gener.il

.

In

the modem world,

th.is

reflection

is important to give new paradigm for man and

woman how to

make ideal religious life comes true. Some

problems of theism like Deism, Theodicea, Sceptisism and

the

concept of religion as an individual and interiorist

i

c problem

have

some implications for the the

i

stic and atheistic

simultanously.

Key Words :

Prakrek hidup keagamaan. Deisme,

Theodicea,

Sceprisisme,

Theisme,

Atheisme Po/iris, Atheisme Humanistik,

Atheisme

Saintifik

I.

P

engantar

Ada

I

ah menarik

bahwa sepanjang sejarah h.idup manus

i

a,

konsep

tentang Tuhan ibarat

s

uatu

bahan

baku yang selalu siap untuk dikaji.

Dikatakan

demikian karena selain memilik.i konsep universal,

dalam

setiap

periode zaman, konsep Tuhan selalu dipahami secara konkrel

dalam

gejo

lak

zaman bersangkutan.

Sepanjang

periode

modemisme,

konsep Tuhan

(5)

-

-

-ateisme yang tidak terperikan

.

Melalui tulisan ini, berturut-turut

akan

ditunjukkan

pergolakan

rasio manusia tentang

eksistensi Tuhan

yang

tanpa

disengaja t

emyata

di dalamnya tcrdapat

benih-benih

ateisme yang kemudian

berkembang

pcsal

hingga

hari

ini.

a.

Rene D

escartes:

Tuban

bersifat

D

eistis

Pola pikir ini dikembangkan oleh

Rene Descartes (

1596- I 650)

sebagai reaksi atas dominasi teologi yang berkembang selama abad

pertengahan. Menun1tnya, manusia yang bebas harus bisa menentukan

segala sesuatu bagi dirinya

sendiri dan tidak boleh lagi diilcat oleh dogma

atau wahyu apa pun.

Dengan konsep dcisme, masih ada keyakinan bahwa Tuhan itu

sungguh-sungguh ada

tctapi Diasudah

tidak

lagi

tcrlibat dalam dunia. Tuhan

dipahami hanya sebagai penycbab awal (pencipta) manusia dan alam

semesta. Setelah pcnciptaan, diyakini bahwa

Tuhan mengundurkan diri

dari

sejarah penciptaan karena segala scsuatu sudah bisa terjadi sesuai

denganhuktun alam. Dunia

ini

ibarat mcsin yang sekali waktu

pemahdJbuat

clan

kcmudian bisa

berada

clan

bckerja

sendiri

sesuai

dengan mekanismenya

sendiri.(Hick,

1973:

74). Maka, menurut kaum deistis, untuk mengenal

Tuhan,

man11~ia

c

1kup mc:nggunak:m kemampuan rasionyasaja, tan

pa

harus ada pcwabyuan khusus dari 1\1han. Dengan kemampuan rasio,

manusia sudah bisa mengolah

alam

dan berjalan sendiri tanpa hams

bergantung pada

Tuhan

lagi. Tuhan hanya ikut campurtangan dalam dalam

bentuk mukjizat.

b.

Blaise

Pascal:

Tub

an bersifat

lndi~idualistik

dan

Interioristik

Pandangan ini muncul sebagai reaksi Blai1e Pascal (I

623-1662)

atas pola pikir Deismeala Descartes. Pascal menilai bahwadengan

po

la

p

i

kir Deis me,

Descartes hanya membuktikan kebcradaan

Tuhan, namun

lupa merenungkan apa

sebetulnya kehendak Tuhan bagi manusia dan

bagaimana

caranya

agar

manusia sungg11h bisa mencintai Tuhan.

Bagi

Pascal,

pengetahuan tentang Tuhan tanpa cinta

terhadapNya

hanya

akan

mcnghasilkan kesombongan dan

tidak

akan

mampu menyempumakan

kodrat manusia. Rasionalisme

ydllg

dikembangkan Descartes,

menun11

Pascal bukan satu-satunya metode bagi selurub pengctahuan manusia.

Pase.ii

berp<."!ldapat

bah'\

a manusia

dengan segala dimensi hid11pnya tidak

mungkin

dise

lam

i semata-mata

hanya

secara rasional saja.

Bagi11ya, selain

23

(6)

rasio, manusia juga barus bisa

memberi 1empat bagi dimensi

hati

karena

bati adalah

pusat kepribadiandan kerobanian

manusia (Copleston,

1979: 161-162. Bdk. Kung, 1980: 49).

Menun11 Pascal, rasio hanya bisa memberi pengelahuan dari

segi

eksterior sedangkan hati memberi pengetahuan

yang bisa menembus segi

batin(intcrior)S<:Saltlamanusiadalamwajlldcinta. Denganrasio,manusia

mempelajari ilmu

pasti

dan ilmu alam, namun dengan hati,

manusia

bisa

mencapai kebcnaran-kebenaran

yang

lebih tinggi dan penting yakni

kebenaran tentangsesamadan tentangTuhan.

Dengao

po

la pikir scmacam

ini,

Pao;cal

hendak mengajak manusia modem untuk mau mcncari dan

mencintai Tuhan.

Ia

mau mengusahakan

suatu

dialog

antara

manusia

dengan

Tuhan yang hid up

.

Dengan cara

ini,

ia y.ikin akan terjadi rela:;i personal

antaramanusia dengan Tuhan Xamun, relasi

per.;onal

itu

baru

al.an tetjalin

dengan

bail.: kalau manusia telah mengenal dirinya sendiri. Artinya, kalau

manusia sudah mengenal kondisi hidupnya yang

stjati

scbagai

insan yang

paradoks,

sebagai

insan

yang hid up di antara dua

ln1tub ketidakbcrhinggaan.

yakni kutub

makrok~

yang tidak

berhingga

besamyadi

lll3IJ3

r=usia

hanyalah sebuah entitas kecil di tengah luasnya alan1 semesta

serta kutub

mikrokosmos yang

tidak

berhingga keciln)a di mana manu<ia menjadi

mhkluk yang 1idak h.::rhinw besa'

'l) ..

bila dih. n..lingkan dengan ciptaan

lail' yan,i: tidal.: ber!· ingg. kcciln)a (Kung

,

1980. 52-53. Bdk. Tonnard,

1956: 527).

Pola pildr ini membawa pengaruh bagi kehidupan bcragama waktu

itu Dengan

beragarna,

orang berkeinginan mcnjalin hubungan

pnbadi yang

mcsra dcngan Tuhan.Ag81lla dipandang menjadi urusan rohani yang

harus

dipisabkansecara t1.-gasdari segi keludupandunia\\i Hubuni;;m manusia

dengan Tuhan menjadi suatu rclasi eksklusif di tcngabdwiia yang

berciri

sosial dan material ini. Relasi mausia dengan Tuhan dianikan sangat

individualistik (pribadi) dan interiorostik (robani) sehingga agak

mengabaikan aspek

sosial serta

material kehidupan y.uigsebenamya waktu

itu sedang diagung-agungkan oleh rasio manusia jug;t.

2. Alasan-alasan Penolakan Ekslstensl Tub an

Sccara umum dikenal ada dua problem klas1k yangmencgasikan

adanya Tuhan, yakni problem skeptisisme dan p

r

oblem theodicea. Di

samping itu, dalam dunia modem 1lcwa.'3. ini, muncul bcbcrapa model

(7)

'

a.

Problem

Skeptisisme

Problem inimWlCul

karena

kesulitanepistemologisdalam mmgalami

senamemahami

Tuhan.

Mereka

berasumsi bahwa pengalaman-pengalaman

inderawi manusia tidakbisa

mengalami

realitas

Tuhan

.

Tuhan tidak bisa

dialami

secara

manusiawi. Tuhan tidak bisa masuk dalam pol

a pikir (world

view)

orang

modem

ya

ng

sangat

rasional

itu.

Dal am ha! ini,

skcptisisme

bisa dibandingkan dengan metode keraguan universal yang dicanangkan

Descartes

.

Hal yang mau dicapai dalam keraguan universal Descartes

adalah

Claro

et

Distmaa,

sedangkan

dala!n

skeptisisme, yang mau dicapai

adalah soalfaklual11as.

Mulanya. sikap skcp1is ini diterapkan dalam

konteks

keraguan

terhadap ilmu pcngctahuan karena bcbcrapa alasan.

Pc

1-tama, karcna

pen gal am

an

bahwa temyata ada pcngctahuan yang pemah salah total.

Misalnya, pcnga

l

aman Galileo-Gali lei saat

menentang

visi gercja yang

geosentris dan mcngajukan visi

baru

yang

heliosentris.

Kedua

, knrcna

pengalaman bahwa

sepanjang

sejarah sclalu sajaada

konflik

pcndapat.

Memang scmua orang sepakat untuk mencapai

konsensus

demi

kehannonisan dan kcdamaian hidup . .:-lamun, kenyataan menunjukkan

bahwa yang lcbih

sering terjadi

justcru konflik. Ketiga, kcrena

pengalaman

menunjukkan bah" a peng.:tahuan sulit

m~mp..wleh

kriteria kebenar.in.

Orang ccnderung tenggelam dalam kctidakpastian atau keraguan yang

mendalam hingga mereka kehilangan semua harapan unn1k mencapai

pcngctal1uan tentang segala sesuatu.

ltu

bcrarti, bagi orang skeptis, tidak

mungl<i.n tcrdapat

kcbenaran

serta kepastian

apa

pw1.

Mustahillah

manusia

mencapai kcpastian dalam pengetahuan serta membuktikan kcpastian

kcbenaran itu.

Keempat,

karena tidak terdapat relasi intrinsik antara

pcmyalaan

dcngan kenyataan. Seriap orang larut dalam opini obyckti f atau

doxa-nya. Singkatnya, skeprisisme mau mcmproklamirkan bahwa tidak

ada pengetahuan yang obyektif dan universal (episteme). Padahal,

obyektivitas dan universalitas ada

lah

duaciri pokok

pengetahuan.

Obyck'tif

kalau

sclaras dengan

kenyataan,

Universal

bila bisa disepakari

dan

ditcrima

oleh

orang

lain juga.

Pola pikirini, kernudian

diterapkan

dalam usahamemahami Tuhan.

Oleh

k:iwn

skeptis, keberadaan

Tuhan

<.litolak karena dianggap tidak

ada

relasi antara konsep

Tuhan dengan

rcalitas

Tuhan.

Kcnyatazn

menwtjukkan

bahw:idal:im

ha!

ini

JustIU

lebih seringditemukan kontradiksi. Pcngetahuan

saja y:ing bisadiperumggungjawabklln

sccara

ilmiah

pun oleh

kaum

skeptis

(8)

masih d1ragukan apalagi

menerima

dan memahami Tuhan yang tidak

kelihatan dan tidak bisa dibuktikan secara empiris.

!tu

adalah sesuatu yang

mustahil. Untuk

apa

mempersulit diri dengan mempertahankan

hal

-

hal

yang

jclas-jelas tidak ada? ltulah kira-kira argumen kaum skeptis.

b.

P

roblem T

b

eodicea

Problem

theodicea

ymg

dimaksud

adalah

benih

penolakan

terhadap

Tuhan

yang

bertumpub pada persoalan penderitaan dan kejahatan yang

dinilai

bertolak

belakang

dcngan

dengan gagasan Tuhan sebagai

wujud

Mahasempurna dan Mahabaik. Kejahatan dan pcnderitaan adalah problem

klasik

yang terus

menerus

mcngganjal

dan mcnggoncang

iman scrta

kepcrcayaan orang bcragama.

Sejak dahu

Ju

kala,

scmua agama

tan

pa

kecuali

mengak'lli bah\\ a Tuhan yang diimaninya adalah Tuhan yang

menyandang

semua

sifat baik dan

sekaligus

mcngatasi segala-galanya.

Namun,

kcbaikan

dan

kcmahakuasaan Tuban

itu seakan-akan tidak

berarti

bi

la

berhadapan dengan

kenyataan

akan adanya kejahatan (evel) dan

pendcritaan (suffering). Kejahatan dan penderitaan dinilai sangat

bertcntangan dengan eksistensi Tuban.

Kejahatan dan

pendcritaan membuat

manusia

muak

terhadap

hidup

dan SCSJ!lla

Kejahatan

dan penderitaan mcmbawa manusia

kcpada

sikap

curiga satu sama

lain. Bahkan,

disinyalir bahwa gcjala anonimitas yang

merajalcla

di dunia dcwasa

ini

bermula dari

sikap curiga

ini.

Orang tidak

mau lagi secara spontan

atau

naluriah sebagai makluk sosial berhubungan

dcngan

orang

lain yang

tidak

dikenalatau

yang

tidak ada urusan dcngan

dirinya

karena

takut

menjadi

korban kejahatan.

Hal

ini

tel ah membangkitkan

kesadaran semua

agama akan fcnomena

kebejatan

(comptio),

yakni

niat

dan akhlak manusia yang

terungkap

dalarn gcjala egoisme

pribadi dan

kolcktif (primordialisme),

kepalsuan dan kemunafikan sikap,

kecendcrungan untukmelarikan diri dari tanggungjawab, kellll11Jluhan untuk

bcrkorban, scrta ketidakpcdulian terhadap hak sesama.

Kejahatan dan penderitaan bagi orang yang beriman teguh

scakan-akan membawa kepada

sikap

pasrah tidak berdaya serentak menuntut

suatu penycrahan total tanpa mendapatjawaban pasti.

Akhimya,

kejahatan

dan pcndcri1aan mcnjadi problem tcologi ognm:i :igamajustni k:irena

problem

ini

membawa manusia

kepada pertanyaan-pertanyaan mendasar

tcntang cksistcnsi

Tuhan.

Derkenaan

dengan benih ateisme ini, pcrtanyaan

pokok

yang

perlu diajukan adalal1

:

Jika Tuhan sungguh-sungguh ada,

(9)

mengapa Ia mcmhiarkan penderitaan, kejahatan, dan ketidakadilan

rnerajalcladi muka bumi ini? Di mana

keadilan

Tuhan? (:vlorris,

2002:

65-73)

Memang coba dimengerti bahwa kejahatan dan pendcritaan itu

kadang-kadang muncul

karena

ulah

manusia

sendiri. Namun, tidak jarang

juga ada kasus pcndcritaau

dan kcjahatau

yang tidak bisa dimcngerti sccar.i

akal sehat.

Dari

sini mwicul pcrtanyaan-pertanyaan mendasar tentang

eksistensi Tuhan

.

Tuhan yangdari dahulu diyakini sebagai

\iahabaik,

Maha

Pemurah, Mahaadil, Mahacinta, Mahabijaksana, kinijarang ditemukan

lagi

dalam

pengalaman keseharian

hidup manusia.

Banyak

orang kccewa

dan hilangkcpcrca)aaJ1

hingga

lahirpcnanyaan-pertanyaan

fundamental

tent:mg cksistensi

1 uhan. David Hume pcmah merumuskaru1ya dengan

cukup taj am;

Is God willing to

prevent

evil but

1101

able? Then

God is

impoten.

Is

God able ro preve111 evil

hw

not willing?

Tlre11

God is

malevolent. Is

(,ad

both willi11g and able to prevem e.-i/

1

Then

why is there any evil i11 this world?

(Komonchak,

1982

:

360.

Bdk,

Bcrstain,

2002:

9-17)

c.

P

ro

b

lemAte

i

sme

M

odern

Secara

umuw dapat dikatakan bahwa atcisme

modem

muncul

sebagai

reaksi

atas

gagasan

filsafat Pascal

yang mengatakan bahwa

relasi

manusia

dengan Tuhan bersifat individ

u

alistik

dan

interioristik. Dikenal

ada

tiga

model ateisme

modem, yakni atcisme humanistik, ateismc politis, dm

ateismesaintifik.

Ateisme

H

umanistik

muncul oleh dua sikap Pascal.

Pertama,

Sikap

lntoleransi

Pascal.

Sebenamy.i, Pascal

adalah

tokoh

yang cen1erlaug

baik secara intclektual

maupun

sccara moral. Namun. lam bat laun. ia

m<.inperlihatkan sikap

inteoleransi

bahkan

agresi f tcrhadap orang yang

tidak

scpahan1 dengau dia Sebagai contoh dapat d1rujuk polemiknya dcngan

J.

Fonon

Imam Capusin

-

soal rahrnat Tuhan.

la

menilai Forton

terlalu

menekankan

rasiosena moral manusia sehingga

menimbulkan kesai1

scakan-akan manusia tidak membutuhkan rahmat Tuhan. Polemik ini

lx...-langsung cukup lama dan l>Clli;jt.

Sikap

Pascal

yang demikian justru menimbulkan penanyaan:

Bukankah sebagai orang

yang

bcragama

manusia

harus

bcrsikap toleran

dengan

orang

yang bergagasai1

lain? Bukankah

dcngan memasuki wilayah

(10)

Ilahi yang mengatasi kemampuan rasio, manusia tidak boleh memaksakan

pcndapat melainkan memberi kesempatan kepada orang lain untuk

memilih sesuatu secara bebas berdasarkan kata nuraninya? Hal ini

mau

menunjukkan bahwa ada bahaya ateisme yang selalu mengintai orang

beragama yang sering menunjukkan sikap intoleran, fanatik, dan agresif.

Ini

bertentangan dengan manabat manusia untuk

berlaku

bebas. Agan1a

lantas menjadi semacam lembaga penindasan hak asasi manusia. Maka,

untuk membela manabat manusia,

di

zaman modem ini, ban yak orang

terpaksa menyerang bahkan meninggalkan agama.

Sebagai contoh penolakan eksistensi Tuhan atas nama kebebasan

ini dapat dilihat dalam beberapa yang terns dihadapi oleh gereja-gereja

barat hingga dewasa ini. Gereja memproklamirkan diri sebagai lembaga

keselamatan. Ide

ini

ditentang oleh orang modern. Bagi mereka, sebagai

lembaga,

berarti ada struktur dan hicrarkhi serta aturan-aturan. Pada titik

inilah sebcnarnya letak penolakan mercka. Mcnurut mcrcka, di

mana-mana dalan1 hidup ini sudah penuh dengan struktur, hierarklli, aturan, dan

bahkan sanksi bagi yang melanggarnya. Jadi, mereka sudah cukup jenuh

dengan hal-hal yang berbau struktur. Maka, sebagaian waktu di luar jam

kerja, lebih cenderungmerekagunakan untuk bersantai dan urusanpnbadi.

Kalau ag-.!Jlla mas

i

h menyita waktu mereka untuk strukturdan aturan lagi,

mereka mcrasa hidup

ini

tidak santai lagi.

Kedua, S

i

kap Asketisme Pascal yang berlebihan. Setelah mcndapat

pengalaman mistik, malam Sen in, 23 November 1654 (the year of Grace)

tentang kesadaran mengenai Tuhan sebagai pribadi yang hidup serta

mengenai tempat Yesus dalam karya penyelamatan umat manusia. Pascal

mulai melakukan asketisme

yang keras. la

melakukannmunsiasi (kerelaan

untuk melepaskan barang-barang dan relasi),

mortifikasi (mati raga), dan

negasi diri (penyangkalan

diri). Sikap-sikap

ini

menimbulkan

pertanyaan-pertanyaan: Apakah relasi dengan Tuhan menuntut manusia untuk

menginggalkan rclasi dengan sesarna? Apakah mati raga dan pengendaliaan

nafsu itu berarti bahwa manusia harus menyiksa diri dan bersikap anti

terhadap keindahan, kerapihan, dan kenikmatan duniawi? Apakah

menyangkal diri berarti melipatgandakan kesengsaraan pribadi?

Sikap-sikap ini justru memperlihatkan gejala

-

gejala yang anti

manusiawi. Asketisme yang berlcbihan berpotensi menindas kecenderungan

spontas dan tanggungjawab manusia atas kondisi material hidupnya.

Dengan demikian, asketisme sebagai benruk penghayatan agama dianggap

(11)

-

-

-bencntangan dcngan kcmanusiaan. Bahkan Ludwigfeucrbach

(1804-1872)

pemah mcngatakan bahwa orang yang beragama-sccara khusus

dalam abad XVIl-

tidak mencintai scsama karena sesamanya itu

scndiri

tetapi karena takul kepada Tuhan

dan mengharapkan balas jasa yang

dijanjikan Tuhan kepada orang saleh. Maka, demi kemanusiaanjuga,

banyak

pihak merasaharus bangkit

melawan

agama. Tuhan

dan agama

ditolak karcna dianggap merugikan martabat manusia.

Agama tidak lain adalah

penyembahan

manusia atas

c1ptaannya

sendiri, yakni kodrat w1ggul manusia

sendiri yang

sungguh

diproyeksikan

keluar. Jadi, bukan

Tuhan

yang telah menciptakan manusia. tetap1 Tuhanlah

yJ.ng

merupakan cipl3<ll1

angan-angan

manusia .

.\ilcnurut

Feuerbach. a!'.aina

tidak

lain

dari pro)eksi c!Jmbaan ideal manus1a. Hakikat llahi sebcnaranya

ridak Jain dari hakikat manusia yang diasing

dari manusia

oleh manusia itu

sendiri. Feuerbach menolak agama justru karena hakikat unggul manusia

dan kcmanus

i

aan yang diproycksikan. Manusia \erasing dari hakikat

unggulnya

karena

dan dcngan agama. Terhadap

kodua sikap JX.'flghayatan

agama yang demikian. muncullah

atcisme humanistik

yang hendak

merundungj

kemanusiaan

kita

dari beban agama. Tokoh-tokohnya adalah

Ludwig Fcuerbach, Frederich Nievsche, Jean Paul Sartre,

dan Sigmund

Freud.

Ate

i

s

me P

o

lit

is

.

Tahun-tahun tcrakhir menjclang akhir hidupnya.

Pascal

sungguh

mengamalkan

kasih kepada sesama, khususnya kepada

kaum fakir miskin. Ia bahkan pcrnah menulis dalam bukunya Memorial

(I

654)

sebagaimana

yang

dikutip von Balthazar, Hans

Urs;

"I love poveny because

He

(Christ)

loved it. I love

goods

because they afford me the means

of

helping the needy ....

I love all men as

brothers because they are all redeemed. "

"!

am

tired of

heanng that twefre men

were able to prove that

one is capable of destroying it.

"

(Baltazar,

1986: 172.

Bdk.

Connor,

1964: 277)

Kasih kepada sesama dipraktekkan Pascal terutama dalam bentuk

karitatif, mclayani

scrta

merawat orang sakit dan susah. la bahkan pernah

menampung

s

cbuah kc

l

uarga miskin di rumahnya. la

j

uga terus menerus

membcri uang kcpada banyak orang

miskin dan lapar bahkan dengan

mcngortankan (menjual) harta miliknya scndiri. Mes

k

ipundemikian, di

batik kemuliaan hati Pascal

ini,

ada dua sikap

yang memungkinkan

mw1culnya ateisme

po

litis.

(12)

Pertama.

SikapApolitis Pascal. Meskipun ia memiliki perhatian

tu

I us terhadap orang miskin, namun rupanya ia

tidak

menyadari dimensi

po

Ii

tis yang tersimpan dalam problem kepemimpinan itu. Artinya, Pascal

tidak menyadari bahwa

kemisk

inan itu pada hakikatnya adalah suatu

konstruksi sosial. Ketidakadilan

struktural

yang melekatdalarn masyarakat.

Misalnya, kemiskinan para petani pada waktu i!u

te

rutama

disebabkan

oleh pajak

yang

berat scrta cara hisup royal kawn bangsawan.

Kekeliruan Pascal adalah bahwa dalam situasi seperti itu, ia

bukannya

bergabwig

dengan revolusi

rakyat untuk melawan penguasa yang

sewenang-wenang

.

Ia malah hanya

menampung satu keluarga

melarat di

rumahnya. la mcnganggap bahwa gerakan sosial (revolusi) semacam

itu

hanya

akan

mcnjadi sumber

kekacauan

dalam masyarakat,

bukan untuk

mengubah masyarakat mcnja<li

Jebih baik. Sikap enggan bcrgabung <lalarn

perkara politik scperti

itu

denu perubahan

dan penyclcng.,,oaraan kekuasaan

yang lebih adil

telal1 men

y

ebabkan

bahwa

agama itu melegitimasi

status

quo hingga rnengakihatkan rnunculnya ateismc po

Ii

tis. Artinya, sikap anti

agama bahkan Tuhan demi transfonnasi sosial. Tokoh

-

tokohnya antara

lain; Karl Marx, .lean Le

Rend

D' Alembert, Denis Diderot, Julien Offroy

de la Metrrie, Paul Thi1y Baron d

'Holbach,

dan Francois MarieAruet de

Volaire.

Kedua,

Sikap Pascal yang kurang pcka akan manipulasi agama

demi kcpcntingan politik. Harus diakui bahwa Pascal mernang memiliki

kepekaan yang sangat tajarn akan penderitaan individu. Namun, di sisi

lain, tampaknya ia kurang menyadari dimenasi sosial penderitaan. Hal ini

tcrutama disebabkan oleh penghayatan irnan yang terlalu individualistik

dan interioristik. Dalan1

pola

penghayatan seperti ini, agama dipallanli

terutama berurusan dengan watak

dan

moral individu. Maka dianjurka.11,

unruk mengamalkan kasih kepada sesama tanpa

tcrlibat

dalam kegiatan

politik.

Tidak

disadari, pola penghayatan seperti

ini

membuat agama bisa

dimanipulasi demi kcuntungan pihak tertentu,

yakni

golongan penguasa.

Dengan demikian, agama hanya berperan sebagai al at kontrol sosial guna

mengekang dan menindas masyarakat. Sikap inilah yang mendorong

munculnya ateisme politis yakni sikap anti agama karena dipandang

berpihak

JY<lda

dan

melestarikan status quo. Hal lain lagi yangmcnycbabkan

kurangnya kesadaran akan adanya dimensi sosial penderitaan adalah

masalah keterbatasan historik.Artinya, zamandi manaPascal hidup (abad

17)

ditandai oleh pola kekuasaan absolut di

bawah kekuasaan

(13)

tokoh diktator seperu .Kaisar Louis

xrv.

Dalam situasi seperti

ini,

memang

Pascal tidak bisadiruntut untuk secara l3J1tang dan terns terang menunjuk

kejahatan pcnguasa atau mcnuntut dihormatinya

prosedur

hukum.

Singkatnya, peluang untukmelancarkan

kritik

sosial

pada

waktu

itu

s:mgat

terbatas. Dcmikian pula, kesadaran akan dimcnsi sosial pcndcritaan di

abad itu mcnjadi

kurang karcna

gerakan-gerakan sosial yang lazim terjadi

pada waktu itu masih seiring dimotivasi oleh kehausan akan kekuasaan

dan bukann)-a oleh keprihatinan akan keadilan dan demok.rasi.

Atel

s

me Sain

t

lfik.

Pascal

adalah seorang ilmuan genial.

Berbcda

dengan Descancs, ia melak-ukan eksperimen ilmiah bukan untuk mcncari

kepastian intelektual-apakah rasio manusia mampu mengctahui realitas

atau

tidak

-

mclainkan

terutama

mencari kepastian escnsial-apakah

manusia bisa menikmati keselamatan lahir batin atau tidak-. Oleh kercna

itu baginya, harus

ada

dialektika dan kescirnbangan antara rasio

dan

iman.

Namun sejarah menunj

uk

kan bahwadalam praktik hidup, Pascal lcbih

mcmutlakkan iman scbagai sikap hidup yang paling berharga. Bahkan

tcrkesan, adasemacam absolutisme iman sambil meremehkan ilmu dan

rnsio. Sikap ini sekalii,'lis

mcrangsangkita untuk

bcrtanya:

Apakah manusia

pcrlu meningg;tlkan

u.sahanya

untuk mcmahami misteri alam agarmampu

membaktikan diri

sep...'Tluhnya bagi

misteri

Allah? Apakah ilmu bertcntangan

dcngan iman? Pertanyaan reflcktifini telah coba dijawab olch berbagai

pihak. Salah satu diantaranya adalah Paus Yohanes Paulus II. Melalui

cnsikliknya

Iman da11 Ratio (Fi des et Ratio),

ia

mcncgaskan bahwa antara

iman dan rasio tak

terdapat

pertentangan. Bahkan ia dcngan tegas

mcnyatakan bahwa antara

keduanya ada kaitan crat sekali. Ada saling

kctergantungan yang saling mcnguntungkan. Oleh karena itu,

atas

nama

gcrcja, ia bahkan mcngucapkan terima kasih kepada lilsafat yang

mcnurutnya tel

ah

mcmikul tanggungja\\

ab

besar

untuk mcmbentuk ilmu

pcngetahuan dan

kcbudayaan

(Leahy,

1991:

81-109)

SikapPascalyangdemikianakhimyamenjcrumuskandirinyascndiri

serta orang-orang beragama Laman itu pada an absolutism of faith dan

mcmbangkitkan atcisme

sainti

fik

.

Artinya, muncul sikap anti agama dan

Allahkarcnaagamadipandangmcmusuhisain.sdanteknologi.Agamadmilai

membatasi prakar.;a manusia

1n1tuk

mm'lb:mgun

dni,

masyar:ikat,

dan alam.

Akhirnya, agama

tidak

lagi dipandang sebagai pcrkara rasional melainkan

pctkara emosional saja. Bahkan agama bisa lenyap dari kehidupan pribadi

manusia

(14)

Sclain absolutisme

iman,

kita juga bisa melihat

bahwa pada

zaman

Pascal adakccenderungan bersikap naif(berpikirsederllana).

Konkre1nya,

sccara radikal

Pascal

membedakan Allah para

filsuf dari

Allah orang

beragama Terhadap sikap ini, kita b1sa mclontarkan

beberapa

pertanyaan

kritis: Apakah pemisahan secara rndikal

:mlnr:l

Allah religius dcnganAllah

filosofisinijustruakanmemiskinkanpcngcni:mkit1tcntangAIJah?Bukankah

kitab suci sekalipun harus dapat d!rcflcksikan sccara

rasional supaya

kita

tidak

terjerumus ke dalam

fundam~'lltalismc

(sikap

kaku

terhadap tradisi)

dan literalisme (pencrimaan sabda secara

hartiah)? Singkatnya, tanpa

rcflcksi

rasional

atas

iman dan kitab

suci,

kita cenderungjatuh

dalam

konscpsi

Allah

yang bersifat antropomortis1ik

secara

praktik kcagamaan

yang mcnjurus ke

arah

takhayul.

Secara

tak

sadar,

Pascal

dalam

penghaya1an agamanya tel ah terjerumus kc dalam bahaya ini. Akibatnya

olch kaum rasionalis. agarna cenderung dipandang dengan penuh rasa

curiga karcna dianggap b1sa benentangan dengan prosedur sena hasil

pcnelitian ilmiah.

Maka muncullah aleisme

samnfikdemi

mcn1perjuangl<an

keabsahan prosedur ilmiah

mercka.

Sclain iru, adajuga

s1

kap

Pascal

yangkurangmemberi kesempatan

1"..>r.ipresiasi bagi agama-agama lain. Kon.<epSi Pascal tentangagamasangat

bcrs1fa1 krisrosemris yang

lebih

parah lagi karena dianikan bahwa d1 luar

Krist

us

tidak

ada

keselamatan. Akibatn)a, agama kristiani menjadi

satu-satunya

agarna

sejati.

Di luar Kristus hanya ada kesesatan.

Sikap

yang

scmpit dan fanatik ini

menyulut

munculnya atcisme saintifik. Orang

mcninggalkan

agama bahkan

Allah knrcna

di

sana

sarat

dengaa

pcnentangan baik

intern

maupun ckstcm di kalangan umat beragan1a

scndiri. Merck a ccnderung ber.ilih kepada ilmu yang

lebih

bersifat toleran

tcrhadap perbedaan pendapat dan tcrbuka tcrhadap fakta-fak-ia.

3.

P

enutup

Apa yang dilak-ukan Pascal pasti buk:m demi ateisme tetap1 demi

theisme yang radikal. Pascal mgm habis-habisan mengungkapkan

pemahamannya dalam prak1c·k hidup supaya nama Tuhaa dimuliakan.

:-Jamw1,

sctelal1 scmuanya berlalu dan wok tu berganti

zaman,

semua yang

dilakukan

Pascal

temyata

bisa

1"..'Tl11akna

ganda

hahkan benolak belakang

'''"" sckali. Praktck kcagamaan yang dijalnninyn dalam iman penuh

keyakinan kepada Tuhan tcmyata tclah ditcrjemahkan

kedalam

kotak-kotak

ateisme

yangsangat

tajam, realist

is, dan rasional

dalam

konteks

?

.

aman.

(15)

lni bcrarti pcnghayatan hidup bcragama di zaman im perlujuga

dipcthitungkan efckjangka panjangnya bagi gencrasi mcndatang. Apa yang

dianggap baik dan benar saat ini belum tentu baik dan benar di masa

mendatang.

Praktek

hid

u

p

beragama

ymg

dianggap suci

dan

mu

Lia saat

ini

be

I

um

bisa dijanun bahwa itu stcril bagi perkembangan iman gcnerasi di

masa yangakandatang. Im berartijuga bahwa betapa

p

unsuci

dan

mulianya

tindakan kita saat ini harus tc

t

ap diwaspadai efck jangka panjangnya.

DAFTAR PUSTAKA

Berstein, Peter

I..,

2002.

Ag(lin~t

The God (

t

e

r

j.), Batarn Centre:

lnteraksara

Connor,

D.J.0,

1964

A Critical History of

ll~tem

Philosoph,1: Kew

Yor

k

: Th

e

Free Press

Copleston, Frcdnck,

1979.

A History of Philosopli,1: Vo. IV. London·

BumsandOatcsLimt

F. J

Tonnard,

1956 .• 1

Sharl llistol)'Of

Phi/o~oplt,1:

XewYork: Desclcc

Company

Hick, John, 1973. Philo.mphyo/Rl'ligio11, New Jersey: P

r

entice Hall

Komonchak. Joseph

A ..

(editor).

1980.

The .\e" f)ictionary ofnu:alqo·

Kung. Hans.

1980.

Docs God Exist? A11 Answer For

f(}(/uy

Translated

by Ed"

ard Quinn. London: Cillins

Louis Leahy,

1991.

Filsafat w1111k Mase1

Kini:

Te/aah Ma.mlah

Roh-Materi Berdasarkan Data Empiris Bani, Grafiti: Jakarta

Morris, Thomas \'.,

2002.

Our Idea of God: An

!111roductio11 10

Pltilosopll)cal

171ro/OI/): Do"11ers Grove, Illinois: Inter Var&ity Press

von Balthwar, Hans l'rs.

1986.

17ic Glory of the lord Ill,

San

Fransisco:

Ignatius Press

(16)

PERSYARATAN PENULISAN ILMIAH

DI JURNAL JPAK WIDYA YUWANA MADIUN

01. Jumal llmiah JPAK Widya Yuwana memuat hasil-hasil Penelitian, Hasil Refleksi, atau Hasil Kajian Kritis tentang Pendidikan Agama Katolik yang belum pernah dimuat atau dipublikasikan di Majalah/Jumal llmiah lainnya.

02. Artikel ditulis dalam Bahasa Indonesia atau lnggris sepanjang 7500-10.000 kata dilengkapi denganAbstrak sepanjang 50-70 kata dan 3-5 kata kunci.

03. Artikel Hasil Refleksi atau Kajian Kritis memuat: Judul Tulisan, Nama Penulis, lnstansi tempat bernaung Penulis, Abstrak (lndonesia/lnggris), Kata-kata Kunci, Pendahuluan (tanpa anak judul), lsi (subjudul-subjudul sesuai kebutuhan), Penutup (kesimpulan dan saran), Daftar Pustaka.

04. Artikel Hasil Penelitian memuat: Judul Penelitian, Nama Penulis, lnstansi tempat bernaung Penulis, Abstrak (lndonesia/lnggris), Kata-kata Kunci, Latar Belakang Penelitian, Tinjauan Pustaka, Metode Penelitian, Hasil Penelitian, Penutup (kesimpulan dan saran), Daftar Pustaka

05. Catatan-catatan berupa referensi disajikan dalam model catatan lambung.

Contoh: Menurut Caputo, makna religius kehidupan harus berpangkal pada pergulatan diri yang terus menerus dengan ketidakpastian yang radikal yang disuguhkan oleh masa depan absolut (Caputo, 2001 : 15)

06. Kutipan lebih dari em pat baris diketik dengan spasi tunggal dan diberi baris baru. Contoh: Religions claim that they know man an the world as these really are, yet

they they differ in their views of reality. Question therefore arises as to how the claims to truth by various religions are related. Are they complementary? Do they contradict or overlap one another? What -according to the religious traditions themselves-is the nature of religious knowledge?(Vroom, 1989: 13)

07. Kutipan kurang dari empat baris ditulis sebagai sambungan kalimat dan dimasukkan dalam teks dengan memakai tanda petik.

Contoh: Dalam kedalaman mistiknya, Agustinus pernah mengatakan "saya tidak tahu apakah yang saya percayai itu adalah Tuhan atau bukan." (Agustinus, 1997: 195)

08. Daftar Pustaka diurutkan secara alfabetis dan hanya memuat literature yang dirujuk dalam artikel. Contoh;

Tylor, E. B., 1903. Primitive Culture: Researches Into the Development of Mythology, Philosophy, Religion, Language, Ert, and Custom, John Murray: London Aswinarno, Hardi, 2008. "Theology of Liberation As a Constitute of Consciousness,·

dalam Jumal RELIGIO No. I, April 2008, hal. 25-35.

Borgelt, C., 2003. Finding Association Rules with the Apriori Algorthm, http://www.fuzzi.cs.uni-magdeburg.de/-borgelt/apriori/. Juni 20, 2007

Referensi

Dokumen terkait

Jadi dari beberapa definisi di atas dapat disimpulkan bahwa special event merupakan suatu peristiwa atau kegiatan khusus di luar kebiasaan sehari hari yang dalam perencanaannya

Koalisi pasangan Suharsono-Halim agar dapat terpilih dalam pemilukada tahun 2015 di Kabupaten Bantul harus bisa melihat peluang politik maupun isu politik yang

Tabel yang dibutuhkan adalah tabel untuk menyimpan nilai rate dari pengguna, tabel untuk menyimpan nilai rata-rata rate dari pengguna, tabel untuk menyimpan nilai

Kemudian terdapat tulisan mengenai praktik pekerjaan sosial berbasis HAM, kesehatan mental, kebijakan sosial dalam pembangunan, strategi pengembangan masyarakat dalam

Waris merupakan suatu ketetapan dari Allah yang tertulis dalam firman Nya, menjadi dasar rujukan yang adil mengenai pembagian harta/tirkah antara manusia dengan manusia baik

Dalam konteks ini media yang di maksud adalah alat atau strategi politik yang dilakukan oleh pasangan calon untuk medapatkan dukungan dari masyarakat desa

Konstruk yang dipilih untuk mengklasifikasikan gaya visual lakaran karektor pelajar adalah ciri-ciri fizikal; iaitu umur melibatkan kategori kanak-kanak, remaja,

Banyumanik Kodya Semarang atau setidak-tidaknya di tempat tempat yang termasuk daerah hukum Pengadilan Militer II-10 Semarang telah melakukan tindak pidana “Setiap