• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB III METODOLOGI PENELITIAN"

Copied!
26
0
0

Teks penuh

(1)

45

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Tipe Penelitian

Penelitian yang dilakukan penulis bersifat deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Penelitian ini dirancang sebagai analisis isi tayangan televisi, dengan tujuan deskriptif analisis, yaitu melihat gambaran kecenderungan topik dan arah isi berita politik yang ditayangkan program selamat pagi di Trans 7 periode oktober 2013. Tipe penelitian ini bersifat deskriptif karena berusaha melukiskan secara sistematis fakta atau karakteristik berita politik pada program “selamat

pagi” secara faktual dan cermat.1 Penelitian deskriptif adalah penelitian yang

berusaha untuk menuturkan pemecahan masalah yang ada sekarang berdasarkan data – data. penelitian ini dilakukan untuk memberikan gambaran yang lebih

detail mengenai suatu gejala atau fenomena.2 Pendekatan kuantitatif adalah

merupakan pendekatan penelitian yang dalam menjawab permasalahan penelitian memerlukan pengukuran yang cermat terhadap variabel – variabel dari obyek yang diteliti, guna menghasilkan kesimpulan – kesimpulan yang dalam

digeneralisasikan.3

1Dadan iskandar. metode penelitian komunikasi, 2005, Hal 25. 2

Ibid Hal 25.

(2)

46

Metode penelitian deskriptif memiliki beberapa ciri umum, antara lain:4

1. penelitian ini tidak mencari atau menjelaskan hubungan, tidak menguji

hipotesis atau membuat prediksi.

2. Metode deskriptif mencari teori, bukan menguji teori.

3. Metode deskriptif bertitik berat pada observasi dan suasana alamiah

(naturalistis setting). Peneliti bertindak sebagai pengamat. Ia hanya membuat

kategori perilaku, mengamati gejala dan mencatatnya dalam buku observasinya.

3.2 Metode penelitian

Dalam penelitian ini metode yang digunakan adalah dengan metode analisis

isi. Menurut berelson, analisis isi sebagai teknik untuk mendeskripsikan secara

objektif, sistematik, dan kuantitatif isi komunikasi yang tampak.5analisis isi

(content analysis) adalah sebuah metode analisis isi pesan dari komunikator

tertentu.6 Penggunaan analisis isi yang canggih memasangkan isi komunikasi

dengan informasi tambahan tentang sumber, jaringan, penerima, balikan, atau kondisi – kondisi situasi komunikasi yang lain, seperti tingkah laku, kepribadian, atau ciri – ciri demografis. Hal ini memungkinkan penyusunan prediksi untuk

proses komunikasi.7

4Bambang prasetyo & lina miftahul jannah. Metode penelitian kuantitatif : teori dan aplikasi. Raja grafindo persada, jakarta, 2005, Hal 42. 5Alex sobur. Analisis teks media. Bandung : remaja rosdakarya, 2002.

6Werner j. Severin & james w. Tankard, jr. Teori komunikasi (sejarah, metode, dan terapan didalam media massa) Jakarta : kencana, 2008, Hal 40. 7 Ibid Hal 41.

(3)

Analisis isi ini menggunakan pendekatan kuantitatif untuk menganalisis isi

menifes dari siaran media.8 Analisis ini juga digunakan untuk memperoleh

keterangan dari isi komunikasi yang disampaikan dalam bentuk lambang. Analisis isi juga digunakan untuk menganalisis semua bentuk komunikasi.

Sebuah penelitian analisis isi memenuhi persyaratan apabila sifat – sifatnya terpenuhi yakni objektif, sistematis serta kuantitatif. Prinsip obyektif, hasilnya tergantung pada prosedur penelitian bukan pada orangnya. Yaitu dengan ketajaman kategorisasi yang ditetapkan adalah isi yang sama dengan prosedur

sama, maka hasilnya harus sama pula walaupun penelitinya berbeda.9

Analisis isi ini menggunakan pendekatan kuantitatif untuk menganalisis isi

manifes dari siaran media. Kerliner dalam (wimmer dan dominick 2000)

merumuskan analisis isi sebagai suatu metode untuk mengkaji dan menganalisi komunikasi dengan cara sistematis, objektif, dan kuantitatif untuk variabel.

Krippendorf (1993) mengungkapkan analisis isi adalah suatu model

penelitian dalam ilmu komunikasi massa untuk membuat inferensi – inferensi yang dapat ditiru dan sahih dari data yang memperhatikan konteksnya.

Bungin (2001) mendefinisikan sebagai teknik penelitian untuk membuat

inferensi – inferensi yang dapat ditiru dan sahih data dengan memperlihatkan konteknya. Analisis isi berhubungan dengan komunikasi atau isi komunikasi.

8Jalaludin rakhmat. Metode penelitian komunikasi. Bandung : remaja rosdakarya, 2004, Hal 24-25. 9 Bagong suyanto & sutinah. Metode penelitian sosial. Jakarta : kencana, Hal 127.

(4)

Analisis isi juga digunakan untuk memperoleh keterangan dari isi komunikasi yang disampaikan dalam bentuk lambang. Analisis isi juga dapat

digunakan untuk menganalisis semua bentuk komunikasi.10

Metode penelitian analisis isi adalah metode yang mengamati dan mengukur isi komunikasi. “tidak seperti mengamati secara langsung perilaku orang, atau meminta orang untuk menjawab skala – skala, atau mewawancarai orang, seorang peneliti hanya mengambil komunikasi – komunikasi yang telah ada dan

mengajukan pertanyaan – pertanyaan tentang komunikasi – komunikasi itu”.11

Pada analisis isi unitnya adalah isi media yaitu berita, artikel, dan lain sebagainya pada surat kabar. Sedangkan pada televisi yang menjadi unit analisisnya adalah program hiburan, pendidikan, berita, dan lain sebagainya. Jadi dapat disimpulkan, objek analisis isinya adalah isi media massa baik radio, surat kabar, majalah, televisi, dan sebagainya. Pada penelitian ini yang menjadi objek penelitian adalah isi tayangan program hiburan, pendidikan, berita – berita politik pada program magazine ditelevisi selamat pagi periode oktober 2013. Jadi dapat disimpulkan objek analisisnya adalah isi pesan media baik radio, surat kabar, majalah, televisi,dll. Analisis ini berfungsi paling baik dalam skala besar: makin

banyak yang dianalisis, makin akurat analisisnya.12

10Klaus krippendorf, analisis isi : pengantar teori dan metodologinya. Rajawali pers, 1993, Hal 18. 11Ferd and kerlinger. Foundation of behavioral research. Hold: rinchard and winston inc, 1973, Hal 325. 12John fiske. Cultural and communication studies. Jala sutra. Yogyakarta. 2004, Hal 188.

(5)

Sebuah penelitian analisis isi memenuhi persyaratan apabila sifat – sifatnya terpenuhi, yakni objektif, sistematik, dan kuantitatif. Prinsip objektif, hasilnya tergantung pada prosedur penelitian bukan pada orangnya. Yaitu dengan

ketajaman kategorisasi yang ditetapkan sehingga orang lain dapat

menggunakannya. Dan jika digunakan adalah isi yang sama, maka hasilnya harus

sama pula walaupun penelitinya berbeda.13

Sedangkan sistematik oleh berelson, diartikan bahwa ada perlakuan prosedur yang sama pada semua isi yang dianalisis.

Peneliti tidak dibenarkan melakukan analisis hanya pada isi yang sesuai pada perhatian dengan perhatian dan minatnya tetapi harus pada keseluruhan isi

yang ditetapkan untuk diteliti.14

Sistematis maksudnya pilihan pesan yang dianalisis harus berdasarkan perencanaan dan tidak mengandung bias, prosedur yang dipakai dalam analisis isi ditetapkan pada isi yang dianalisa, dan dikategorisasi dibuat sedemikian rupa sehingga semua isi yang relevan dapat dianalisa. Analisa dirancang untuk memperoleh data yang relevan dengan masalah penelitian.

Dalam penelitian ini penulis ingin mengetahui kecenderungan berita magazine dalam program “selamat pagi di Trans 7”, maka ada beberapa tahap –

tahap yang akan dilalui penulis dalam menjalankan analisis isi ini, yaitu:15

13Bagong suyanto dan sutinah. Metode penelitian sosial. Kencana. Jakarta.2004, Hal 127. 14 Bagong suyanto dan sutinah. Metode penelitian sosial. Kencana. Jakarta.2004, Hal 127. 15Jalaludin rakhmat. Metode penelitian komunikasi. Bandung : remaja rosdakarya, 2004.

(6)

1. Perumusan masalah

2. Perumusan hipotesis

3. Penarikan sampel

4. Pembuatan alat ukur koding

5. Pengumpulan data

6. Analisis isi

3.3 Populasi dan Sampel

3.3.1 Populasi

populasi adalah jumlah keseluruhan unit analisis dalam penelitian. Atau dengan kata lain populasi adalah kumpulan objek penelitian.

Pada penelitian ini populasi yang akan digunakan adalah program magazine “selamat pagi” yang ditayangkan setiap hari sabtu dan minggu, pukul 06.60 pagi periode oktober 2013 yang berjumlah 6 episode.

3.3.2 Sampel

sampel adalah bagian yang diamati.16 Adapun sampel yang diambil dalam

penelitian ini adalah informasi – informasi yang disampaikan dalam program “selamat pagi” selama periode oktober 2013 dengan teknik pengambilan sampel

yang digunakan adalah total sampling yakni seluruh populasi dijadikan sampel.

16Jalaludin rakhmat. Metode penelitian komunikasi. Bandung : remaja rosdakarya, 2004. .

(7)

Penggunaan total sampling sebagai teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah agar terlihat kekonsistenannya penelitian selama periode yang telah ditentukan.

Pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah agar terlihat

kekonsistensinannya penelitian selama periode penelitian.

Sampel tersebut adalah:

NO EPISODE TEMA

1 05-Okt-13

Terkena percikkan air keras di berbagai daerah

2 06-Okt-13

Berbagai macam pengemudi yang

mengantuk saat berkendara

3 12-Okt-13 Penyelidikan jumlah harta kekayaan atut

4 13-Okt-13 Penyelundupan aksi narkoba di gagalkan

5 26-Okt-13 Beberapa aksi kejahatan di dunia

(8)

3.3.3 Teknik Penarikan Sampel

Penarikan sampel dilakukan dengan metode non probabilitas : total sampling. Menurut Endraswara penyampelan dilakukan dengan menyesuaikan gagasan,

asumsi, sasaran, tujuan, manfaat yang hendak dicapai dan diteliti.17

3.4 Definisi konsep dan Operasionalisasi konsep

3.4.1 Definisi konsep News magazine

Jenis berita yang menjadi perhatian peneliti adalah jenis berita magazine.

Majalah (magazine) adalah gabungan uraian fakta atau pendapat, yang

dirangkai dalam satu wadah atau mata acara.18 program magazine dikenal di

Indonesia sebagai program majalah udara. Sebagaimana majalah cetak, program magazine memiliki jangka waktu terbit, mingguan, bulanan, dwi bulanan tergantung dari kemauan produser. Dalam program itu juga terdapat rubrik – rubrik tetap yang berisi bahasan – bahasan. Program magazine mirip dengan program feature. Perbedaannya, kalau program feature satu pokok permasalahan disoroti dari berbagai aspek dan disajikan lewat berbagai format. Sementara itu, program magazine bukan hanya menyoroti satu pokok perm,asalahan, melainkan membahas satu bidang kehidupan, seperti wanita, film, pendidikan, dan musik

yang ditampilkan dalam rubrik rubrik tetap dan disajikan lewat berbagai format.19

17

Endraswara, Suwardi. Metode, Teori, Teknik Penelitian Kebudayaan. Yogyakarta. 2006. Hal 115.

18 j.b. wahyudi. Dasar – dasar jurnalistik radio & televisi. Jakarta : grafiti, 1996, hal 79. 19Fred wibowo. Teknik produksi program televisi. Yogyakarta : pinus, 2007, hal 196.

(9)

Biasanya program magazine berdurasi antara 30 menit sampai 50 menit. Setiap rubrik dapat disajikan dengan format yang berbeda – beda, misalnya wawancara, uraian, vox-pop, dan pergelaran. Sebagaimana dalam feature, sajian program magazine diantarkan oleh satu atau dua presenter (penyaji) yang sekaligus menjadi link (penghubung) antara rubrik yang satu ke rubrik yang lain. Program magazine bukan siaran berita. Oleh karena itu, gaya sajian, penampilan

dan kostum penyaji juga perlu menyesuaikan dengan spesifikasi program itu.20

Berbagai jenis program siaran tersebut bukanlah sesuatu yang mutlak harus ada semuanya. Acara – acara tersebut sangat bergantung dari kepentingan masing – masing stasiun penyiaran televisi yang bersangkutan. Pada umumnya memang sebagian besar dari contoh jenis program diatas tersebut adalah acara – acara yang

disiarkan oleh stasiun penyiaran televisi.21

Analisis isi

Menurut berelson & kerlinger, analisis isi merupakan suatu metode untuk

mempelajari dan menganalisis komunikasi secara sistematik, objektif, dan kuantitatif terhadap pesan yang tampak (Wimmer & Dominick, 2000:135).

Sedangkan menurut budd (1967), analisis isi adalah suatu teknik sistematis untuk

menganalisis isi pesan dan mengolah pesan atau suatu alat untuk mengobservasi dan menganalisis isi perilaku komunikasi yang terbuka dari komunikator yang dipilih.22

20Fred wibowo. Teknik produksi program televisi. Yogyakarta : pinus, 2007, hal 197.

21 Deddy Iskandar Muda. Jurnalistik Televisi, Menjadi Reporter Profesional. Bandung : Remaja Rosda Karya, 2005, Hal 9. 22Rachmat Kriyantono. Teknik Praktis Riset Komunikasi. Kencana Prenada Media Group. Jakarta : 2007, Hal 228.

(10)

Prinsip analisis isi berdasarkan definisi diatas antara lain adalah:23

Ø Prinsip sistematik

Ada perlakuan prosedur yang sama pada semua isi yang dianalisis. Periset tidak dibenarkan menganalisis hanya pada isi yang sesuai dengan perhatian dan minatnya, tetapi harus pada keseluruhan isi yang telah ditetapkan untuk riset.

Ø Prinsip objektif

Hasil analisis tergantung pada prosedur riset bukan orangnya. Kategori yang sama bila digunakan untuk isi yang sama dengan prosedur yang sama, maka hasilnya harus sama, walaupun risetnya beda.

Ø Prinsip kuantitatif

Mencatat nilai – nilai bilangan atau frekuensi untuk melukiskan berbagai jenis isi yang didefinisikan. Diartikan juga sebagai prinsip digunakannya metode dedukatif.

Ø Prinsip isi yang nyata

Yang diriset dan dianalisis adalah isi yang tersurat (tampak) bukan makna yang dirasakan periset. Perkara hasil akhir dari analisis nanti menunjukkan adanya sesuatu yang tersembunyi, hal itu sah – sah saja. Namun semuanya bermula dari analisis terhadap isi yang tampak.

(11)

Secara umum analisis isi kuantitatif dapat didefinisikan sebagai suatu teknik penelitian ilmiah yang ditujukan untuk mengetahui gambaran karakteristik isi dan menarik inferensi dari isi. Analisis isi ditujukan untuk mengidentifikasi secara

sistematis isi komunikasi yang tampak (manifest).24

Analisis isi (content analysis) adalah penelitian yang bersifat pembahasan

mendalam terhadap isi suatu informasi tertulis atau tercetak dalam media massa. Pelopor analisis ini adalah Harold D. Lasswell, yang memelopori teknik simbol koding, yaitu mencatat lambang atau pesan secara sistematis, kemudian diberi interpretasi.

Analisis ini dapat digunakan untuk menganalisis semua bentuk komunikasi. Baik surat kabar, berita radio, iklan televisi maupun semua bahan – bahan dokumentasi yang lain. Hampir semua disiplin ilmu sosial dapat menggunakan analisis isi, yang besarnya hampir 75% dari keseluruhan studi empirik, yaitu penelitian sosiantropologis (27,7%), komunikais umum (25,9%), dan ilmu politik

(21,5%).25

Penelitian ini dilakukan bukan kepada orang, tetapi lebih kepada simbol, gambar, film, dan sebagainya. Pada material yang dianalisis, misalnya surat kabar, dihitung berapa kali tulisan tentang topik tertentu yang muncul, lalu dengan alat

bantu statistik dihitung.26

24

Eriyanto. Analisis isi. Jakarta : kencana, 2011, Hal 15.

25 Pengertian analisis isi (2008, 28 januari). Diakses pada tanggal 1 oktober 2013 pukul 12.00 WIB dari

http://massofa.wordpress.com/2008/01/28/metode-analisis-isi-reliabilitas-dan-validitas-dalam-metode-penelitian-komunikasi/. 26

(12)

Analisis isi tidak dapat diberlakukan pada semua penelitian sosial. Analisis

isi dapat dipergunakan jika memiliki syarat berikut:27

a. Data yang tersedia sebagian besar terdiri dari bahan – bahan yang

terdokumentasi (buku, surat kabar, pita rekaman, naskah/manuscript).

b. Ada keterangan pelengkap atau kerangka teori tertentu yang menerangkan

tentang dan sebagai metode pendekatan terhadap data tersebut.

c. Peneliti memiliki kemampuan teknis untuk mengolah bahan – bahan/data –

data yang dikumpulkannya karena sebagaian dokumentasi tersebut bersifat sangat khas/spesifik.

Jurnalistik

Seiring dengan berkembangnya ilmu komunikasi, maka definisi jurnalistikpun semakin berkembang. Hal ini juga sesuai dengan perkembangan media pers. Tetapi akar definisi jurnalistik yang perlu dicatat adalah definisi jurnalistik sebagai kepandaian mengarang untuk memberi pekabaran pada

masyarakat dengan selekas – lekasnya agar tersiar seluas – luasnya.28

Sementara itu, definisi jurnalistik menurut ilmu komunikasi adalah suatu bentuk komunikasi yang menyiarkan berita atau ulasan berita tentang peristiwa

sehari – hari yang umum dan aktual secepat – cepatnya.29

27

Jalaludin rachmat. Metode penelitian komunikasi. Remaja rosdakarya. 2004, Hal 22. 28Askurifai Baskin. jurnalistik televisi, Bandung, 2006, Hal 47

. 29Ibid Hal 47.

(13)

Istilah jurnalistik sendiri bersumber dari bahasa belanda, “journalistiek”.

Dalam pendekatan bahasa, dikenal pula istilah “journalistic” atau “journalism”

yang dalam bahasa inggris berarti harian atau setiap hari. Sedangkan dalam

pengertian operasional, menurut Onong U. Effendy, jurnalistik adalah ilmu yang

merupakan keterampilan atau kegiatan mengolah bahan berita, mulai dari peliputan sampai kepada penyusunan yang layak disebarluaskan kepada

masyarakat. Menurut F. Fraser Bond dalam An introduction to journalism

(1961:1) menulis: jurnalistik adalah segala bentuk yang membuat berita dan

ulasan mengenai berita sampai pada kelompok pemerhati. Sedangkan Ronald E.

Wolseley dalam understanding magazines (1969:3) menyebutkan, jurnalistik

adalah pengumpulan, penulisan, penafsiran, pemrosesan, dan penyebaran

informasi secara umum.30

Secara umum, jurnalistik dapat diartikan sebagai teknik mengolah berita, mulai dari mendapatkan bahan sampai kepada menyebarkannya kepada khalayak. Apa saja yang terjadi didunia, apakah itu fakta peristiwa atau pendapat yang diucapkan seseorang, jika diperkirakan menarik perhatian khalayak, bisa dijadikan bahan berita untuk dapat disebarluaskan kepada masyarakat, dengan

menggunakan sebuah media. Seperti yang dikemukakan Sumadiria, dalam

bukunya jurnalistik Indonesia, menulis berita dan feature sebagai berikut:

jurnalistik adalah kegiatan menyiapkan, mencari, mengumpulkan, mengolah,

(14)

menyajikan, dan menyebarkan berita melalui media berkala kepada khalayak

seluas – luasnya dengan secepat – cepatnya.31

Dari pengertian diatas dapat dikatakan bahwa jurnalistik adalah sebuah proses pencarian berita sampai berita tersebut disebarluaskan kepada khalayak

dengan menggunakan sebuah media berkala. Suhandang dalam buku pengantar

jurnalistik, seputar organisasi, produk atau kode etika memberikan pengertian

jurnalistik sebagai berikut: “jurnalistik adalah seni dan keterampilan mencari,

mengumpulkan, mengolah, menyusun, dan menyajikan berita tentang peristiwa yang terjadi sehari – hari secara indah, dalam rangka memenuhi segala kebutuhan hati nurani khalayaknya, sehingga terjadi perubahan sikap, sifat, pendapat, dan

perilaku khalayak sesuai dengan kehendak para jurnalisnya.32

Dari pengertian diatas dapat dikatakan bahwa jurnalistik mengandung unsur seni atau keterampilan mencari, mengumpulkan, mengolah, dan menyajikan informasi dalam bentuk berita secara indah agar dapat diminati dan dinikmati

sehingga bermanfaat bagi segala kebutuhan pergaulan hidup khalayak.33

Kode Etik Jurnalistik ialah ikrar yang bersumber pada hati nurani wartawan dalam melaksanakan kemerdekaan mengeluarkan pikiran yang dijamin sepenuhnya oleh Pasal 28 UUD 1945, yang merupakan landasan konstitusional wartawan dalam menjalankan tugas jurnalistiknya.

31Sumadiria, As Haris. jurnalistik indonesia, 2006, bandung : simbiosa RM, Hal 3 .

32Kustadi suhandang. pengantar jurnalistik : seputar organisasi, produk, & kode etik, penerbit : nuansa cendekia, jakarta, 2004, Hal 21. 33Ibid Hal 21.

(15)

Kode etik jurnalistik dibuat untuk menjaga standar kualitas dari para pekerja media dalam menjalankan pekerjaannya agar tidak salah langkah, profesional, dan bertanggung jawab. Etika jurnalistik sekaligus pula untuk melindungi masyarakat luas dari kemungkinan timbulnya dampak negatif dari konstruksi realitas pada pekerja media, sehingga integritas dan reputasinya tetap terjaga.

Meskipun ada berbagai rumusan kode etik, namun isinya tidak jauh berbeda. Dalam kode etik jurnalistik, umumnya jurnalis tidak diperkenankan menulis berita bohong, fitnah, menjiplak, dan menerima sogokan. Untuk lebih memperkuat rambu – rambu bagi pekerja media, pada tanggal 6 Agustus 2009, 26 organisasi wartawan Indonesia menyusun kode etik pers yang juga mempunyai

kode etik jurnalistik.34

Masing – masing organisasi wartawan memiliki badan yang bertugas mengawasi pelaksanaan kode etik. Badan ini juga bertugas mengumpulkan bukti apabila terjadi pelanggaran kode etik jurnalistik, hingga permintaan penjatuhan sanksi atau pemulihan nama baik pada pengurus.

Wartawan penyiaran dalam melaksanakan kegiatan jurnalistik media elektronik tunduk kepada Kode Etik jurnalistik dan peraturan perundang – undangan yang berlaku, seseuai dengan ketentuan yang mengatur mengenai

34Dewan pers merupakan lembaga independen yang dibentuk pada 19 april 2000. Pembentukannya berdasarkan ketentuan pasal 15 UU 40/1999 tentang pers

(16)

kegiatan jurnalistik dalam pasal 42, undang – undang nomor 32 tahun 2002

tentang penyiaran.35

P3SPS (Pedoman perilaku penyiaran dan standar program siaran)

Pedoman perilaku penyiaran merupakan panduan tentang batasan – batasan mengenai apa yang diperbolehkan atau tidak diperbolehkan berlangsung dalam proses pembuatan (produksi) program siaran, sedangkan standar program siaran merupakan panduan tentang batasan apa yang diperbolehkan atau tidak diperbolehkan ditayangkan dalam program siaran. Dalam hal ini P3SPS adalah suatu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dan menjadi acuan bagi stasiun penyiaran dan KPI untuk menyelenggarakan dan mengawasi sistem penyiaran

nasional di Indonesia.36

Pedoman perilaku penyiaran adalah ketentuan – ketentuan bagi lembaga penyiaran yang ditetapkan oleh komisi penyiaran indonesia sebagai panduan tentang perilaku penyelenggaraan penyiaran dan pengawasan penyiaran nasional.

Pedoman perilaku penyiaran (P3 dan standar program siaran (SPS) juga telah mengeluarkan pasal – pasal yang berkenaan dengan pelanggaran – pelanggaran jurnalistik tersebut, terhadap penayangan televisi.

35Undang – undang nomor 32 tahun 2002, tentang penyiaran

.

(17)

Dalam memproduksi program faktual, stasiun penyiaran harus senantiasa menerapkan ketentuan atau etika jurnalistik dengan mengindahkan prinsip akurasi, keadilan, ketidakberpihakan (imparsialitas) serta prinsip menghormati

narasumber.37

Kekuatan kode etik terletak dalam hati nurani masing – masing wartawan. Karena itu diperlukan hati nurani yang bersih dan itikad baik dari wartawan untuk mentaati kode etik tersebut. karena jurnalistik adalah profesi yang mengembangkan ide, mengemban perjuangan, dan cita – cita bangsa dan negara dalam idiil dan sprituil. Disamping itu diperlukan suatu ketaatan wartawan terhadap kode etik serta tanggung jawab yang besar, sebagai wartawan dengan sistem pers sehat: (pers bebas dan bertanggung jawab) yang tidak hanya bertugas memberikan informasi semata, akan tetapi juga bertugas sebagai pendidik. Hal ini

seperti yang tersirat dalam UU pers nomor 40 tahun 1990 pasal 7, yakni:38

Ø Wartawan bebas memilih organisasi wartawan

Ø Wartawan memiliki dan mentaati kode etik jurnalistik

Sesuai dengan tujuan penelitian untuk menganalisis penayangan penulis memilih materi pada bab tiga pasal lima kode etik jurnalistik sebagai bahan skripsi diantaranya adalah:

37Morissan. Manajemen media penyiaran : strategi mengelola radio dan televisi. Jakarta : 2009, Hal 317. 38Sumandiria. Jurnalistik indonesia, simbiosa rekatama media, 2005, Hal 526.

(18)

Ø BAB III (CARA PEMBERITAAN) Pasal 5

Dalam menayangkan sumber dan bahan berita secara akurat, jujur, dan berimbang, jurnalis televisi indonesia:

a. Selalu mengevaluasi informasi semata – mata berdasarkan kelayakan

berita, menolak sensasi, berita menyesatkan, memutar balikkan fakta, fitnah, cabul, dan sadis.

b. Tidak menayangkan materi gambar maupun suara yang menyesatkan pemirsa.

c. Tidak merekayasa peristiwa, gambar maupun suara untuk dijadikan berita.

d. Menghindari berita yang memungkinkan benturan yang berkaitan dengan masalah SARA.

e. Menyatakan secara jelas berita – berita yang bersifat fakta, analisis, komentar, dan opini.

f. Tidak mencampur adukkan antara berita dengan advertorial.

g. Mencabut atau meralat pada kesempatan pertama setiap pemberitaan yang tidak akurat dan memberikan kesempatan hak jawab secara proporsional bagi pihak yang dirugikan.

(19)

h. Menyajikan berita dengan menggunakan bahasa dan gambar yang santun dan patut, serta tidak melecehkan nilai – nilai kemanusiaan.

i. Menghormati embargo dan off the record.

3.4.2 Operasionalisasi konsep

Operasionalisasi konsep adalah upaya menerjemahkan konsep atau sesuatu yang abstrak ke dalam bentuk yang kongkrit agar tidak terjadi tumpang tindih. Maka dari itu operasionalisasi konsep yang dibuat oleh penulis adalah dengan cara menggambarkan pengelompokkan kategori berdasarkan jenis kelamin dan usia. Pengelompokkan tersebut dapat dilakukan sesuai dengan hasil yang di peroleh oleh rating acara selamat pagi trans 7 sebesar 1.1% dan di peroleh dari PT. AC. NIELSEN INDONESIA.

Analisisnya dapat di jelaskan sebagai berikut:

Program Program Type Channel Target Index

SELAMAT PAGI Entertainment Reality Show/News Magazine TRANS 7 Male 102 Female 98 5-9 years 64 10-14 years 92 15-19 years 101 20-29 years 80 30-39 years 121 40-49 years 122 50+ years 106 SES AB 118 SES CDE 93

(20)

Profil Penonton “Selamat Pagi” yang dominan:laki – laki dan berusia 15-19 tahun dan 30 tahun ke atas berasal dari kelas sosial ekonomi menengah ke atas.

Catatan:

Index: angka yang menggambarkan profil pemirsa, yang juga mengidentifikasi efektifitas suatu program pada target pemirsa tertentu.

Jika index <100 kurang efektif

>100 sangat efektif

= 100 efektif

Status sosial ekonomi (SES) adalah penggolongan kelas dalam masyarakat

berdasarkan besarnya pengeluaran rutin bulanan rumah tangga, seperti: listrik, air,bahan bakar, makanan, belanja bulanan, cicilan, seperti kredit mobil, kredit rumah, kartu kredit dll.

Penggolongan status sosial ekonomi adalah sebagai berikut:

Ø SES AB atau menengah atas: pengeluaran di atas Rp 2500.000,-

Ø SES CDE atau menengah bawah: pengeluaran di bawah Rp 2500.000,-

3.5 Reliabilitas koding

Reliabilitas adalah tingkat ketepatan, ketelitian, dan keakuratan sebuah

instrumen.39 dalam analisis isi sangat diharapkan reliabilitas dan validitas. Suatu

instrumen dikatakan valid jika yang digunakan dapat mengukur apa yang hendak

(21)

diukur. Validitas suatu tes yang perlu diperhatikan oleh para peneliti adalah bahwa ia hanya valid untuk tujuan tertentu saja. Reliabilitas adalah fungsi dari keseluruhan rancangan studi yang menyangkut prosedur sampling, prosedur

perhitungan, prosedur pengkodean, dan reliabilitas kategori.40 isi pesan yang

diteliti harus memiliki reliabilitas dan validitas yang tinggi.

Salah satu uji reliabilitas yang dapat digunakan adalah berdasarkan rumus

ole R. Holsty. Disini penulis melakukan pretest dengan cara mengkoding sampel

ke dalam kategorisasinya.41 untuk menghitung kesepakatan hasil penilaian para

koder digunakan rumus holsty yaitu:

Cofisien reliability= 2M

N1+N2

C.R = Cofisien Reliability

M = jumlah kasus (dimana/jika) kedua koder setuju pada penggolongan

mereka.

N1, N2 = jumlah item yang dibuat oleh tim koder

Menurut holsty dalam buku rakhmat kriyantono, ambang penerimaan yang sering dipakai untuk uji reliabilitas kategorisasi adalah 0,75 atau 75%. Artinya jika hasil perhitungan menunjukkan angka reliabilitas diatas 0,75 , berarti alat ukur itu benar – benar reliabel.

40Rachmat kriyantono. Teknik praktis riset komunikasi. Cetakan 3. Jakarta : kencana prenada media group. 2008, Hal 238. 41Ibid hal 238..

(22)

Dalam penelitian ini dilakukan koding, yaitu suatu data mentah yang secara sistematis ditransformasikan dan dikelompokkan kedalam unit – unit yang memungkinkan membuat deskripsi karakteristik isi yang relevan.

Untuk kehandalan peneliti terlebih dahulu meminta orang lain dengan cara mengkode item – item yang kemudian dikumpulkan dan selanjutnya diberikan kepada kedua orang koder yaitu:

1. Drs. Andi Fachrudin, M.Si (Praktisi TVRI)

2. Afdal makkuraga, M.Si (Dosen tetap Universitas Mercu Buana)

Menurut peneliti, kedua koder tersebut dianggap memiliki pengetahuan dan kemampuan untuk melakukan pengkodean.

Uji reliabilitas yang dilakukan oleh kedua koder dipadukan dan dibandingkan terhadap isi berita pada program selamat pagi. Hasil perhitungannya sebagai berikut:

a. Hasil dari berita yang mengandung tema berita

CR= 2M

N1+N2

= 2 (98)

(23)

= 196

209

= 0,93

= 93%

Berdasarkan rumus holsty, maka dapat dikatakan bahwa cerita yang mengandung Tema Berita adalah reliabel karena menunjukkan 0,93 yang sama dengan 93% pengamatan cocok antar kedua koder.

b. Hasil dari berita yang mengandung nilai berita

CR = 2M N1+N2 = 2 (225) 251+240 = 450 491 = 0,91 = 91%

(24)

maka dapat dikatakan bahwa berita yang mengandung Nilai Berita adalah reliabel karena menunjukkan angka 0,91 yang sama dengan 91% pengamatan cocok antar kedua koder.

Berdasarkan rumus R. Holsty tersebut akan ditemukan observaced

agreement persetujuan yang diperoleh dari penelitian. Penyempurnaan untuk

memperkuat hasil reliabilitas, maka digunakan rumus Scott:

Pi = % observaced agreement - % expected agreement

1-% expected agreement

Keterangan:

Pi = nilai keterdalaman

Observaced agreement = jumlah pernyataan yang disetujui oleh antar pengkode, yaitu nilai C.R

Expected agreement = persetujuan yang diharapkan atas banyaknya tema dalam

suatu operasionalisasi yang sama nilai matematisnya, dinyatakan dalam jumlah hasil pengukuran dari proporsi seluruh tema.

3.6 Teknik pengumpulan data

Dalam penelitian ini, pengumpulan data dilakukan dengan cara antara lain:

1. Data primer

Data primer yaitu data yang dikumpulkan sendiri oleh peneliti langsung dari sumber utama. Dengan observasi atau pengamatan secara langsung dengan

(25)

menonton program selamat pagi pada tanggal – tanggal penelitian yang menjadi sample selama periode oktober 2013.

2. Data sekunder

Data sekunder yaitu data yang diterbitkan atau digunakan oleh organisasi yang bukan pengolahnya. Data yang diperoleh dari dokumen – dokumen dan kepustakaan yang berkaitan dengan pengumpulan data tertulis berbagai bentuk

cetakan yaitu seperti buku referensi, karya ilmiah, dan media online (internet).

3.7 Teknik analisa data

Analisa data adalah proses penyederhanaan data kedalam bentuk yang lebih mudah dibaca dan diinterpretasikan. Dalam proses ini seringkali digunakan statistik. Salah satu fungsi pokok statistik adalah menyederhanakan data penelitian yang amat besar jumlahnya menjadi informasi yang lebih sederhana dan lebih mudah dipahami.

Teknik analisis data dilakukan melalui tahap – tahap analisis. Tahap – tahap analisis data tersebut adalah sebagai berikut:

1. Membuat definisi konsep dan operasionalisasi konsep untuk “kecenderungan

isi tayangan dan arah isu berita politik pada program selamat pagi di Trans 7 periode oktober 2013.

2. Mengumpulkan bahan seperti sampel yang dijadikan objek penelitian.

3. Membuat sampel dokumen, dimana penelitian ini dokumen yang dibuat adalah

(26)

4. Membuat lembar koding (coding sheet). Koding adalah suatu proses dimana data mentah secara sistematis diubah dan dikelompokkan kedalam unit – unit yang memungkinkan membuat deskripsi karakteristik isi yang relevan.

5. Menetapkan coder

6. Coder menetapkan atau menilai definisi

7. Menguji reliabilitas

8. Peneliti melakukan analisis isi

9. Data diolah dengan menggunakan tabel – tabel dan mendeskripsikannya.

Analisis data dilakukan dengan pendekatan kuantitatif. Dengan analisis deskriptif berdasarkan tabel – tabel yang telah diperoleh, maka akan dijadikan dasar untuk mengambil kesimpulan hasil penelitian.

Referensi

Dokumen terkait

Lakukan settingan waktu pada alat homogenizer potensiometer untuk memilih waktu yang akan digunakan yaitu dengan menekan pilihan 1 untuk pilihan 3 menit, pilihan 2 untuk 4 menit

Metode pemilihan diskret menganalisis pilihan pelaku perjalanan dari sekumpulan alternatif pilihan moda yang saling bersaing dan tidak bisa dipilih (digunakan) secara

Instrumen tes yang digunakan peneliti berupa lembar tes tulis. Jenis tes tersebut adalah soal pilihan ganda sebanyak 30 butir dengan empat pilihan jawaban. Tes ini

Susunan pesan yang memuat bagaimana penyampaian pesan secara simbolik, maksudnya disampaikan melalui musik, warna,kata- kata,ilustrasi gambar, saya memperhatikan

Analisis isi digunakan untuk mempelajari isi semua konteks komunikasi, menganalisis isi media, baik cetak maupun elektronik asalkan memiliki dokumen-dokumen tersedia untuk

Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini berupa soal tes penguasaan konsep berbentuk pilihan ganda sebanyak 18 soal dengan butir pilihan jawaban sebanyak

Secara harfiah yang dimaksud dengan transferabilitas adalah kemampuan dalam berpindah atau memindahkan yang mana maksudnya adalah apakah hasil penelitian ini dapat

Teknik dokumentasi maksudnya adalah dengan membaca berulang-ulang terhadap 90 cerita yang digunakan sebagai data penilitian utamanya dalam menentukan klasifikasi,