• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGUJIAN UNDANG-UNDANG NOMOR 2 TAHUN 2002 TENTANG KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA [PASAL 35 AYAT (1) DAN AYAT (2)] TERHADAP

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PENGUJIAN UNDANG-UNDANG NOMOR 2 TAHUN 2002 TENTANG KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA [PASAL 35 AYAT (1) DAN AYAT (2)] TERHADAP"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA

--- RISALAH SIDANG

PERKARA NOMOR 49/PUU-X/2012 PERKARA NOMOR 37/PUU-X/2013 PERKARA NOMOR 47/PUU-X/2013 PERKARA NOMOR 1/SKLN-XI/2013

PERIHAL

PENGUJIAN UNDANG-UNDANG NOMOR 30 TAHUN 2004 TENTANG JABATAN NOTARIS [PASAL 66 AYAT (1)]TERHADAP

UNDANG-UNDANG DASAR NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945 PENGUJIAN UNDANG-UNDANG NOMOR 2 TAHUN 2002 TENTANG KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA [PASAL 35 AYAT (1) DAN

AYAT (2)] TERHADAP

UNDANG-UNDANG DASAR NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945 PENGUJIAN UNDANG-UNDANG NOMOR 17 TAHUN 2012 TENTANG PERKOPERASIAN [PASAL 1 AYAT (1), AYAT (18), PASAL 50 AYAT (2)

HURUF A DAN E, PASAL 55 AYAT (1), PASAL 115 SERTA PENJELASANNYA] TERHADAP

UNDANG-UNDANG DASAR NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945 SENGKETA KEWENANGAN LEMBAGA NEGARA ANTARA ADVOKAT

TERHADAP BADAN PEMBINAAN HUKUM NASIONAL

ACARA PENGUCAPAN PUTUSAN DAN KETETAPAN J A K A R T A 28 MEI 2013

(2)

---

RISALAH SIDANG

PERKARA NOMOR 49/PUU-X/2012 PERKARA NOMOR 37/PUU-X/2013 PERKARA NOMOR 47/PUU-X/2013 PERKARA NOMOR 1/SKLN-XI/2013 PERIHAL

1. Pengujian Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 Tentang Jabatan Notaris [Pasal 66 ayat (1)] terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945 (Perkara Nomor 49/PUU-X/2012)

2. Pengujian Undang-Undang Nomor 2 tahun 2002 Tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia [Pasal 35 ayat(1) dan (2)]terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945 (Perkara Nomor 37/PUU-X/2013)

3. Pengujian Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2012 Tentang Perkoperasian [Pasal 1 ayat (1), ayat (18), Pasal 50 ayat (2), huruf a dan huruf e, Pasal 55 ayat (1), Pasal 115 serta penjelasannya] terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945

4. Sengketa Kewenangan Lembaga Negara antara Advokat terhadap Badan Pembinaan Hukum Nasional (Perkara 1/SKLN-XI/2013)

PEMOHON

1. Kant Kamal (Perkara Nomor 49/PUU-X/2012) 2. Sri Royani, SS. (Perkara Nomor 37/PUU-XI/2013)

3. Perkumpulan Pancur Kasih, Koperasi Credit Union Sumber Kasih, Koperasi Kredit Canaga Antutn, dan kawan-kawan (Perkara Nomor 47/PUU-XI/2013)

4. Dominggus Maurits Luitnan, S.H., Suhardi Somomoelyono, S.H., M.H., Abdurrahman Tardjo, dan kawan-kawan (Pemohon Perkara 1/SKLN-XI/2013)

ACARA

Pengucapan Putusan dan Ketetapan

Selasa 28 Mei 2013, Pukul 17.00 - 17:30 WIB Ruang Sidang Gedung Mahkamah Konstitusi RI, Jl. Medan Merdeka Barat No. 6, Jakarta Pusat

SUSUNAN PERSIDANGAN

1) Moh. Mahfud MD. (Ketua)

2) Hamdan Zoelva (Anggota)

3) Ahmad Fadlil Sumadi (Anngota)

4) Maria Farida Indrati (Anggota)

5) M. Akil Mochtar (Anggota)

6) Achmad Sodiki (Anggota)

7) Anwar Usman (Anggota)

8) Muhammad Alim (Anggota)

Ida Ria Tambunan Panitera Pengganti

Wiwik Budi Wasito Panitera Pengganti Achmad Edi Subiyanto Panitera Pengganti

(3)

Pihak yang hadir:

A. Pemohon Perkara Nomor 49/PUU-X/2012 1. Kant Kamal

2. Mangembang Hutasoir

B. Kuasa Hukum Pemohon Perkara Nomor 37/PUU-XI/2013 1. Sri Royani, SS.

C. Pemohon Perkara Nomor 47/PUU-XI/2013 1. Perkumpulan Pancur Kasih

2. Koperasi Credit Union Sumber Kasih 3. Koperasi Kredit Canaga Antutn

D. Kuasa Hukum Pemohon Perkara Nomor47/PUU-XI/2013 1. Sulistiono, dkk.

E. Pemohon Perkara Nomor 1/SKLN-XI/2013/PHPU.D-XI/2013

1. L.A. Lada F. PEMERINTAH 1. Eric Adityansah 2. Tengku Perdamaian 3. Tri Rahmanto 4. Wrapto Setiadi 5. Bambang Palasara 6. Agus Muharam G. DPR 1. Dwi Prihartomo

(4)

1. KETUA: M. AKIL MOCHTAR Bismillahirrahmaanirrahiim.

Sidang dalam Perkara Nomor 49/PUU-X/2012, Nomor 1/SKLN-XI/2013, Nomor 37/PUU-1/SKLN-XI/2013, dan Nomor 47-PUU/XI/2013 untuk pengucapan putusan saya nyatakan dibuka dan terbuka untuk umum.

Pemohon Nomor 49 PUU hadir? Hadir. Nomor 1 SKLN? Hadir. Nomor 37? 37 tidak hadir. 47? Tidak hadir. Pemerintah? Hadir, ya. Oke. DPR yang mewakili? Hadir.

Baik, tadi mohon maaf karena sidangnya agak terlambat, ada rapat konsultasi dengan DPR baru selesai. Sekarang kita lanjutkan dengan pembacaan Putusan Nomor 49 dulu, ya.

PUTUSAN

NOMOR 49/PUU-X/2012

DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA

[1.1] Yang mengadili perkara konstitusi pada tingkat pertama dan terakhir, menjatuhkan putusan dalam perkara Pengujian Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, yang diajukan oleh:

[1.2] Nama : Kant Kamal Pekerjaan : Wiraswasta

Alamat : Jalan Dr. Nurdin I Nomor 24, RT/RW 008/007, Kelurahan Grogol, Kecamatan Grogol

Petamburan, Jakarta Barat.

Dalam hal ini berdasarkan Surat Kuasa khusus bertanggal 14 Mei 2012 memberi kuasa kepada 1). Tomson Situmeang, S.H; 2). Charles A.M Hutagalung, S.H; 3). Natalia Hutajulu, S.H; 4). Jupryanto Purba, S.H; 5). Mangembang Hutasoit, S.H; kesemuanya Advokat/Asisten Advokat pada kantor Law Firm RB Situmeang & Partners, beralamat di Jalan Hayam Wuruk Nomor 103-104 Jakarta Barat, baik bersama-sama atau sendiri-sendiri bertindak untuk dan atas nama pemberi kuasa;

Selanjutnya disebut sebagai ---Pemohon; SIDANG DIBUKA PUKUL 17.00 WIB

(5)

[1.3] Membaca permohonan Pemohon; Mendengar keterangan Pemohon;

Mendengar dan membaca keterangan Pemerintah; Membaca keterangan DPR;

Memeriksa bukti-bukti Pemohon; Membaca kesimpulan Pemohon;

2. HAKIM ANGGOTA: HAMDAN ZOELVA

Pokok Permohonan Pendapat Mahkamah

[3.9] Menimbang bahwa setelah Mahkamah memeriksa dengan saksama permohonan Pemohon, keterangan Pemerintah, keterangan DPR dan bukti-bukti surat/tulisan yang diajukan oleh Pemohon, kesimpulan tertulis Pemohon sebagaimana termuat pada bagian Duduk Perkara, Mahkamah berpendapat sebagai berikut:

[3.10] Menimbang bahwa pada pokoknya Pemohon mendalilkan Pasal 66 ayat (1) sepanjang frasa “dengan persetujuan Majelis Pengawas Daerah” UU Jabatan Notaris bertentangan dengan Pasal 27 ayat (1) dan Pasal 28D ayat (1) UUD 1945, karena penyidik Kepolisian RI mengalami kendala dalam melakukan proses penyidikan laporan polisi terhadap notaris sehubungan dengan tindak pidana membuat keterangan palsu ke dalam akta otentik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 266 KUHP. Oleh karena yang dipanggil adalah notaris maka penyidik kepolisian terlebih dahulu harus meminta izin kepada Majelis Pengawas Daerah untuk memeriksa notaris dalam perkara pidana. Menurut Pemohon ketentuan tersebut bertentangan dengan prinsip “persamaan kedudukan di dalam hukum” bagi setiap warga negara Indonesia, tidak terkecuali notaris, sebagaimana ketentuan Pasal 27 ayat (1) dan Pasal 28D ayat (1) UUD 1945;

[3.11] Menimbang bahwa notaris adalah pejabat umum yang berwenang membuat akta otentik mengenai semua perbuatan, perjanjian, dan ketetapan yang diharuskan oleh peraturan perundang-undangan dan/atau yang dikehendaki oleh yang berkepentingan untuk dinyatakan dalam akta otentik, menjamin kepastian tanggal pembuatan akta, menyimpan akta, memberikan grosse, salinan dan kutipan akta, semuanya itu sepanjang pembuatan akta-akta itu tidak juga ditugaskan atau dikecualikan kepada pejabat lain atau orang lain yang ditetapkan oleh undang-undang; [vide Pasal 15 UU Jabatan Notaris]

[3.12] Menimbang bahwa menurut Pasal 1870 KUH Perdata, akta notaris berlaku sebagai pembuktian yang kuat kepada pihak-pihak yang membuatnya. Artinya, kedudukan notaris sangat penting

(6)

karena oleh Undang-Undang diberi wewenang menciptakan alat pembuktian yang mutlak, dalam pengertian bahwa yang tersebut dalam akta otentik itu pada pokoknya dianggap benar untuk kepastian hukum dari para subjek hukum yang tertuang dalam akta sampai dibuktikan sebaliknya dengan putusan pengadilan yang mempunyai kekuatan hukum tetap;

[3.13]Menimbang bahwa Pasal 4 dan Pasal 16 ayat (1) huruf e UU Jabatan Notaris mewajibkan notaris untuk menjaga kerahasiaan segala sesuatu mengenai akta yang dibuatnya dan segala keterangan yang diperoleh guna pembuatan akta sesuai dengan sumpah janji jabatan kecuali Undang-Undang menentukan lain. Kemudian terhadap pelanggaran kewajiban tersebut berdasarkan Pasal 85 UU Jabatan Notaris, seorang notaris dapat dikenai sanksi berupa teguran lisan sampai dengan pemberhentian dengan tidak hormat;

[3.14]Menimbang bahwa oleh karena Pemohon mendasarkan permohonannya pada pelanggaran prinsip persamaan kedudukan di hadapan hukum dalam pemerintahan dan perlakuan yang adil, Mahkamah perlu merujuk pendapat Mahkamah dalam Putusan Nomor 024/PUU-III/2005, tanggal 29 Maret 2006, bahwa ada tidaknya persoalan diskriminasi dalam suatu Undang-Undang juga dapat dilihat dari perspektif bagaimana konstitusi merumuskan perlindungan terhadap suatu hak konstitusional, dalam arti apakah hak tersebut oleh konstitusi perlindungannya ditempatkan dalam rangka due process ataukah dalam rangka perlindungan yang sama (equal protection). Pembedaan demikian penting

dikemukakan sebab seandainya suatu undang-undang

mengingkari hak dari semua orang maka pengingkaran demikian lebih tepat untuk dinilai dalam rangka due process, namun, apabila suatu Undang-Undang ternyata meniadakan suatu hak bagi beberapa orang tetapi memberikan hak demikian kepada orang-orang lainnya maka keadaan tersebut dapat dianggap sebagai pelanggaran terhadap prinsip equal protection;

[3.15] Menimbang bahwa proses peradilan oleh penyidik, penuntut umum, atau hakim untuk mengambil dokumen-dokumen dalam penyimpanan notaris dan memanggil notaris untuk hadir dalam pemeriksaan yang berkaitan dengan dokumen-dokumen yang dibuatnya yang hanya dapat dilakukan dengan persetujuan Majelis Pengawas Daerah, menurut Mahkamah termasuk dalam kelompok pengaturan yang seharusnya tidak mengandung perlakuan berbeda yang bertentangan dengan prinsip equal protection sebagaimana yang dijamin oleh Pasal 27 ayat (1) dan Pasal 28D ayat (3) UUD 1945 yaitu persamaan atau kesederajatan di hadapan hukum dan pemerintahan;

(7)

[3.16]Menimbang bahwa semua proses penegakan hukum pidana terhadap notaris sebagaimana telah dirumuskan pada paragraf di atas harus dilakukan tanpa campur tangan atau intervensi dari kekuasaan lain di luar peradilan. Hal demikian sejalan dengan prinsip penyelenggaraan kekuasaan peradilan yang merdeka sebagaimana diatur dalam Pasal 24 UUD 1945 dan Pasal 3 ayat (2) Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman yang menegaskan,“Segala campur tangan dalam urusan peradilan oleh pihak lain di luar kekuasaan kehakiman dilarang, kecuali dalam hal-hal sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945”; [3.17] Menimbang bahwa terhadap notaris sebagaimana dimaksud

dalam Pasal 66 ayat (1) UU Jabatan Notaris perlakuan yang berbeda dapat dibenarkan sepanjang perlakuan itu berkaitan dengan tindakan dalam lingkup kode etik yaitu yang berkaitan dengan sikap, tingkah laku, dan perbuatan notaris dalam melaksanakan tugas yang berhubungan dengan moralitas. Menurut Mahkamah perlakuan yang berbeda terhadap jabatan notaris tersebut diatur dan diberikan perlindungan dalam Kode Etik Notaris, sedangkan notaris selaku warga negara dalam proses penegakan hukum pada semua tahapan harus diberlakukan sama di hadapan hukum sebagaimana dimaksud dan dijamin oleh Pasal 27 ayat (1) dan Pasal 28D ayat (3) UUD 1945. Oleh karena itu, keharusan persetujuan Majelis Pengawas Daerah bertentangan dengan prinsip independensi dalam proses peradilan dan bertentangan dengan kewajiban seorang notaris sebagai warga negara yang memiliki kedudukan sama di hadapan hukum. Dengan cara demikian akan terhindarkan pula adanya proses peradilan yang larut yang mengakibatkan berlarut-larutnya pula upaya penegakan keadilan yang pada akhirnya justru dapat menimbulkan pengingkaran terhadap keadilan itu sendiri. Keadilan yang tertunda adalah keadilan yang tertolak (“justice delayed justice denied”);

[3.18]Menimbang bahwa Mahkamah pada sisi lain juga memahami pentingnya menjaga wibawa seorang notaris selaku pejabat umum yang harus dijaga kehormatannya sehingga diperlukan perlakuan khusus dalam rangka menjaga harkat dan martabat notaris yang bersangkutan dalam proses peradilan, termasuk terhadap notaris, diperlukan sikap kehati-hatian dari penegak hukum dalam melakukan tindakan hukum, namun perlakuan demikian tidak boleh bertentangan dengan prinsip-prinsip negara hukum yang antara lain adalah persamaan kedudukan di hadapan hukum dan prinsip independensi peradilan;

[3.19] Menimbang bahwa berdasarkan seluruh pertimbangan di atas dalil Pemohon dalam pengujian konstitusionalitas Pasal 66 ayat (1)

(8)

sepanjang frasa “dengan persetujuan Majelis Pengawas Daerah” UU Jabatan Notaris terhadap UUD 1945 beralasan menurut hukum;

3. KETUA: M. AKIL MOCHTAR

KONKLUSI

Berdasarkan penilaian atas fakta dan hukum sebagaimana diuraikan di atas, Mahkamah berkesimpulan:

[4.1] Mahkamah berwenang untuk mengadili permohonan a quo;

[4.2] Pemohon memiliki kedudukan hukum (legal standing) untuk mengajukan permohonan a quo;

[4.3] Pokok permohonan Pemohon beralasan menurut hukum.

Berdasarkan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2011 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 70, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5226), serta Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 157, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5076);

AMAR PUTUSAN Mengadili Menyatakan:

1. Mengabulkan permohonan Pemohon untuk seluruhnya:

1.1 Menyatakan frasa “dengan persetujuan Majelis Pengawas Daerah” dalam Pasal 66 ayat (1) Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 117, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4432) bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;

1.2 Menyatakan frasa “dengan persetujuan Majelis Pengawas Daerah” dalam Pasal 66 ayat (1) Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 117, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4432) tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat;

2. Memerintahkan pemuatan putusan ini dalam Berita Negara Republik Indonesia sebagaimana mestinya.

(9)

Demikian diputuskan dalam Rapat Permusyawaratan Hakim oleh sembilan Hakim Konstitusi yaitu Moh. Mahfud MD, selaku Ketua merangkap Anggota, Achmad Sodiki, Hamdan Zoelva, Maria Farida Indrati, Ahmad Fadlil Sumadi, M. Akil Mochtar, Harjono, Anwar Usman, dan Muhammad Alim, masing-masing sebagai Anggota, pada hari Selasa, tanggal dua puluh enam, bulan Maret, tahun dua ribu tiga belas, dan diucapkan dalam Sidang Pleno Mahkamah Konstitusi terbuka untuk umum pada hari Selasa, tanggal dua puluh delapan, bulan Mei, tahun dua ribu tiga belas, selesai diucapkan pukul 17.10 WIB, oleh delapan Hakim Konstitusi yaitu M. Akil Mochtar, selaku Ketua merangkap Anggota, Achmad Sodiki, Hamdan Zoelva, Maria Farida Indrati, Ahmad Fadlil Sumadi, Anwar Usman, Muhammad Alim, dan Arief Hidayat, masing-masing sebagai Anggota, dengan didampingi oleh Ida Ria Tambunan sebagai Panitera Pengganti, serta dihadiri oleh Pemohon/kuasanya, Pemerintah atau yang mewakili, dan Dewan Perwakilan Rakyat atau yang mewakili.

PUTUSAN

NOMOR 1/SKLN-XI/2013

DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA

[1.1] Yang mengadili perkara konstitusi pada tingkat pertama dan terakhir, menjatuhkan putusan dalam perkara Permohonan Sengketa Kewenangan Lembaga Negara yang kewenangannya diberikan oleh Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, diajukan oleh:

[1.2] 1. N a m a : Dominggus Maurits Luitnan, SH. Pekerjaan : Advokat

Alamat : Jalan Tanah Tinggi XII Nomor 110D Jakarta Pusat;

2. N a m a : Suhardi Somomoelyono, SH., MH. Pekerjaan : Advokat

Alamat : Jalan Tanah Tinggi XII Nomor 110D Jakarta Pusat;

3. Nama : Abdurahman Tardjo, SH., MH. Pekerjaan : Advokat

Alamat : Jalan Tanah Tinggi XII Nomor 110D Jakarta Pusat;

4. Nama : TB Mansjur Abubakar, SH. Pekerjaan : Advokat

(10)

Alamat : Jalan Tanah Tinggi XII Nomor 110D Jakarta Pusat;

5. Nama : LA Lada, SH. Pekerjaan : Advokat

Alamat : Jalan Tanah Tinggi XII Nomor 110D Jakarta Pusat;

6. Nama : Hj Metiawati, SH., MH. Pekerjaan : Advokat

Alamat : Jalan Tanah Tinggi XII Nomor 110D Jakarta Pusat;

Kesemuanya adalah para Advokat pada Kantor Lembaga

Advokat/Pengacara Dominika, beralamat di Jalan Tanah Tinggi XII Nomor 110D Jakarta Pusat;

Selanjutnya disebut sebagai --- Para Pemohon; Terhadap:

Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia in casu Badan Pembinaan Hukum Nasional, beralamat di Jalan Mayjend Sutoyo, Cililitan, Jakarta Timur.

Selanjutnya disebut sebagai --- Termohon; [1.3] Membaca permohonan para Pemohon;

Mendengar keterangan para Pemohon; Memeriksa bukti-bukti para Pemohon;

4. HAKIM ANGGOTA: MARIA FARIDA INDRATI

PERTIMBANGAN HUKUM

[3.1] Menimbang bahwa maksud dan tujuan permohonan Pemohon adalah untuk memohon putusan mengenai sengketa kewenangan lembaga negara yang kewenangannya diberikan oleh Undang-Undang Dasar [selanjutnya disebut Sengketa Kewenangan Lembaga Negara (SKLN)] antara Advokat dengan Kementerian Hukum dan HAM in casu Badan Pembinaan Hukum Nasional. SKLN dimaksud adalah mengenai kewenangan verifikasi pemberi bantuan hukum serta merekrut advokat yang menurut para Pemohon, Termohon tidak memiliki kewenangan untuk melakukan verifikasi pemberi bantuan hukum dan merekrut advokat;

[3.2] Menimbang bahwa sebelum mempertimbangkan pokok

permohonan, Mahkamah Konstitusi (selanjutnya disebut Mahkamah) terlebih dahulu akan mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut:

1. Kewenangan Mahkamah untuk mengadili permohonan a quo; 2. Kedudukan hukum (legal standing) Pemohon dan Termohon;

(11)

Terhadap kedua hal tersebut, Mahkamah memberikan pertimbangan dan penilaian sebagai berikut:

Kewenangan Mahkamah

[3.3] Menimbang bahwa berdasarkan Pasal 24C ayat (1) UUD 1945, Pasal 10 ayat (1) huruf b Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2011 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 70, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5226, selanjutnya disebut UU MK), dan Pasal 29 ayat (1) huruf b Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 157, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5076), salah satu kewenangan Mahkamah adalah mengadili pada tingkat pertama dan terakhir yang putusannya bersifat final untuk memutus sengketa kewenangan lembaga negara yang kewenangannya diberikan oleh UUD 1945; [3.4] Menimbang bahwa Pasal 24C ayat (1) UUD 1945 menentukan,

“Mahkamah Konstitusi berwenang mengadili pada tingkat pertama dan terakhir yang putusannya bersifat final untuk menguji undang-undang terhadap Undang-Undang Dasar, memutus sengketa kewenangan lembaga negara yang kewenanganya diberikan oleh Undang-Undang Dasar, ...”. Pasal 61 UU MK menentukan sebagai berikut:

(1) Pemohon adalah lembaga negara yang kewenangannya diberikan oleh Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang mempunyai kepentingan langsung terhadap kewenangan yang dipersengketakan; (2) Pemohon wajib menguraikan dengan jelas dalam

permohonannya tentang kepentingan langsung pemohon dan menguraikan kewenangan yang dipersengketakan serta menyebutkan dengan jelas lembaga negara yang menjadi termohon.

Berdasarkan ketentuan tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa dalam permohonan SKLN diperlukan syarat-syarat sebagai berikut:

a) Pemohon maupun Termohon harus merupakan lembaga negara yang kewenangannya diberikan oleh UUD 1945;

b) Harus ada kewenangan konstitusional yang dipersengketakan oleh Pemohon dan Termohon, dimana kewenangan konstitusional Pemohon tersebut diambil alih dan/atau terganggu oleh tindakan Termohon;

(12)

c) Pemohon harus mempunyai kepentingan langsung dengan kewenangan konstitusional yang dipersengketakan;

Dengan demikian, antara kewenangan Mahkamah dan kedudukan hukum (legal standing) para Pemohon tidak dapat dipisahkan sehingga Mahkamah akan mempertimbangkan kewenangan Mahkamah tersebut bersamaan dengan pertimbangan mengenai kedudukan hukum (legal standing) para Pemohon (vide Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 027/SKLN-IV/2006, tanggal 12 Maret 2007);

Kedudukan Hukum (Legal Standing) Pemohon

[3.5] Menimbang bahwa untuk menentukan kewenangan Mahkamah dalam mengadili permohonan para Pemohon, serta apakah para Pemohon memiliki kedudukan hukum (legal standing) dalam

perkara sengketa kewenangan lembaga negara yang

kewenangannya diberikan oleh UUD 1945, Mahkamah akan mempertimbangkan sebagai berikut:

[3.5.1] Menimbang, berdasarkan uraian pada paragraf [3.4] bahwa

dalam sengketa kewenangan lembaga negara yang

kewenangannya diberikan oleh UUD 1945 harus dipenuhi syarat-syarat kedudukan hukum sebagai berikut:

a. Para pihak yang bersengketa (subjectum litis), yaitu Pemohon dan Termohon, kedua-duanya harus merupakan lembaga negara yang kewenangannya diberikan oleh UUD 1945;

b. Kewenangan yang dipersengketakan (objectum litis) harus merupakan kewenangan yang diberikan oleh UUD 1945;

c. Pemohon harus mempunyai kepentingan langsung terhadap kewenangan yang diberikan oleh UUD 1945 yang dipersengketakan;

Berdasarkan ketiga ketentuan di atas maka dalam memeriksa permohonan sengketa kewenangan lembaga negara yang kewenangannya diberikan oleh UUD 1945, Mahkamah harus memastikan secara kumulatif hal-hal sebagai berikut:

a. Apakah para Pemohon adalah lembaga negara?

b. Apakah lembaga negara tersebut kewenangannya diberikan oleh UUD 1945?

c. Apakah kewenangan tersebut dipersengketakan antar lembaga negara?

Tidak terpenuhinya salah satu dari tiga syarat tersebut di atas dalam suatu permohonan menyebabkan Mahkamah tidak mempunyai kewenangan untuk mengadili;

[3.5.2]Menimbang bahwa Pasal 24 ayat (3) UUD 1945 menyatakan bahwa badan-badan lain yang fungsinya berkaitan dengan kekuasaan kehakiman diatur dalam Undang-Undang. Memang benar bahwa badan-badan lain yang dimaksud dalam Pasal 24 ayat (3) UUD 1945 tersebut adalah badan-badan lain yang

(13)

menyelenggarakan fungsi kekuasaan kehakiman selain pengadilan yang diatur dalam undang-undang, dalam hal ini termasuk antara lain Kepolisian, Kejaksaan, dan Advokat. Walaupun demikian tidak berarti bahwa badan-badan lain tersebut serta merta merupakan lembaga negara yang dapat bersengketa di Mahkamah Konstitusi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24C ayat (1) UUD 1945. Sebagaimana diuraikan dalam paragraf [3.5.1] di atas, lembaga negara baik Pemohon maupun Termohon yang dapat bersengketa di Mahkamah Konstitusi harus memenuhi syarat tertentu. Menurut Mahkamah, baik Advokat sebagai Pemohon dalam perkara a quo maupun Kementerian Hukum dan HAM in casu Badan Pembinaan Hukum Nasional sebagai Termohon, bukanlah lembaga negara yang dapat bersengketa di Mahkamah Konstitusi. Pemohon bukanlah lembaga negara yang dibentuk atau disebut dalam UUD 1945 karena itu tidak pula memiliki kewenangan yang diberikan oleh UUD 1945. Demikian pula Termohon bukanlah lembaga negara yang kewenangannya diberikan oleh UUD 1945. Dengan demikian berdasarkan Pasal 24C ayat (1) UUD 1945 dan Pasal 61 ayat (1) UU MK, Mahkamah tidak berwenang mengadili permohonan a quo;

[3.6] Menimbang oleh karena Mahkamah tidak berwenang mengadili permohonan a quo dan sekaligus para pihak tidak memiliki kedudukan hukum untuk mengajukan permohonan sengketa a quo maka pokok permohonan tidak dipertimbangkan.

5. KETUA : M. AKIL MOCHTAR

KONKLUSI

Berdasarkan penilaian atas fakta dan hukum sebagaimana diuraikan di atas, Mahkamah berkesimpulan:

[4.1] Mahkamah tidak berwenang untuk mengadili permohonan a quo; [4.2] Pokok permohonan para Pemohon tidak dipertimbangkan;

Berdasarkan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2011 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 70, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5226), dan Undang- Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 157, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5076);

(14)

KETUK PALU 1X

AMAR PUTUSAN Mengadili

Menyatakan permohonan para Pemohon tidak dapat diterima.

Demikian diputuskan dalam Rapat Permusyawaratan Hakim oleh sembilan Hakim Konstitusi yaitu M. Akil Mochtar, selaku Ketua merangkap Anggota, Achmad Sodiki, Maria Farida Indrati, Hamdan Zoelva, Muhammad Alim, Harjono, Arief Hidayat, Anwar Usman, dan Ahmad Fadlil Sumadi, masing-masing sebagai Anggota, pada hari Selasa, tanggal tujuh, bulan Mei, tahun dua ribu tiga belas dan diucapkan dalam Sidang Pleno Mahkamah Konstitusi terbuka untuk umum pada hari Selasa, tanggal dua puluh delapan, bulan Mei, tahun dua ribu tiga belas, selesai diucapkan pada pukul 17.20 WIB, oleh delapan Hakim Konstitusi yaitu M. Akil Mochtar, selaku Ketua merangkap Anggota, Achmad Sodiki, Maria Farida Indrati, Hamdan Zoelva, Muhammad Alim, Arief Hidayat, Anwar Usman, dan Ahmad Fadlil Sumadi, masing-masing sebagai Anggota, dengan didampingi oleh Hani Adhani sebagai Panitera Pengganti, dan dihadiri oleh para Pemohon/kuasanya dan Termohon/kuasanya.

KETETAPAN

NOMOR 37/PUU-XI/2013

DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA

Menimbang :

a. bahwa Mahkamah Konstitusi telah mencatat dalam Buku Registrasi Perkara Konstitusi, permohonan bertanggal 6 Maret 2013 dari Sri Royani, S.S., beralamat di Jalan Pasir Mas Nomor 4, Kota Bandung, Provinsi Jawa Barat, yang diterima di Kepaniteraan Mahkamah Konstitusi pada tanggal 13 Maret 2013 dan dicatat dalam Buku Registrasi Perkara Konstitusi dengan Nomor 37/PUU-XI/2013 pada tanggal 20 Maret 2013, perihal Permohonan Pengujian Materiil Pasal 35 ayat (1) dan ayat (2) Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;

b. bahwa terhadap Permohonan Nomor 37/PUU-XI/2013 tersebut, Mahkamah Konstitusi telah menerbitkan:

1. Ketetapan Ketua Mahkamah Konstitusi Nomor 193/TAP.MK/2013 tentang Pembentukan Panel Hakim untuk Memeriksa Permohonan

(15)

Nomor 37/PUU-XI/2013, bertanggal 20 Maret 2013, yang kemudian diubah dengan Ketetapan Ketua Mahkamah Konstitusi Nomor 316.1/TAP.MK/2013 tentang Pembentukan Panel Hakim

untuk Memeriksa Permohonan Nomor 37/PUU-XI/2013,

bertanggal 24 April 2013;

2. Ketetapan Ketua Panel Hakim Mahkamah Konstitusi Nomor 194/TAP.MK/2013 tentang Penetapan Hari Sidang Pertama untuk pemeriksaan pendahuluan, bertanggal 20 Maret 2013;

c. bahwa sidang pemeriksaan pendahuluan yang sekiranya akan dilaksanakan pada Rabu, 17 April 2013, pukul 13.30 WIB, ditunda karena Pemohon saat itu berhalangan hadir dan kemudian dilaksanakan pada Senin, 29 April 2013, pukul 14.10 WIB, yang dihadiri oleh Pemohon dan Hakim telah memberikan nasihat sesuai dengan Pasal 39 ayat (2) Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2011 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi;

d. bahwa Kepaniteraan Mahkamah Konstitusi, pada tanggal 15 Mei 2013 telah menerima surat elektronik dari Pemohon, bertanggal 13 Mei 2013, yang pada pokoknya mengajukan pencabutan permohonan Nomor 37/PUU-XI/2013;

e. bahwa terhadap permohonan penarikan kembali tersebut, Rapat Pleno Permusyawaratan Hakim pada hari Kamis, tanggal 23 Mei 2013, telah menetapkan permohonan penarikan kembali permohonan dengan Nomor 37/PUU-XI/2013 beralasan menurut hukum, oleh karena itu permohonan penarikan kembali tersebut dikabulkan;

f. bahwa berdasarkan Pasal 35 ayat (1) dan ayat (2) Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2011 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi, ”Pemohon dapat menarik kembali Permohonan sebelum atau selama pemeriksaan Mahkamah Konstitusi dilakukan”, dan ”Penarikan kembali sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengakibatkan Permohonan tidak dapat diajukan kembali”;

Mengingat :

1. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;

2. Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2011 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 70, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5226);

3. Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009

(16)

KETUK PALU 1X

Nomor 157, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5076);

MENETAPKAN Menyatakan:

1. Mengabulkan penarikan kembali permohonan Pemohon;

2. Permohonan Pemohon Nomor 37/PUU-XI/2013 perihal Permohonan Pengujian Materiil Pasal 35 ayat (1) dan ayat (2) Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor 2, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4168) terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, ditarik kembali;

3. Pemohon tidak dapat mengajukan kembali Permohonan Pengujian Materiil Pasal 35 ayat (1) dan ayat (2) Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor 2, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4168) terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;

4. Memerintahkan kepada Panitera Mahkamah Konstitusi untuk

menerbitkan Akta Pembatalan Registrasi Permohonan dan

mengembalikan berkas permohonan kepada Pemohon.

Demikian diputuskan dalam Rapat Permusyawaratan Hakim oleh delapan Hakim Konstitusi yaitu M. Akil Mochtar, selaku Ketua merangkap Anggota, Achmad Sodiki, Anwar Usman, Arief Hidayat, Ahmad Fadlil Sumadi, Muhammad Alim, Hamdan Zoelva, dan Maria Farida Indrati, masing-masing sebagai Anggota, pada hari Kamis, tanggal dua puluh tiga, bulan Mei, tahun dua ribu tiga belas, yang diucapkan dalam sidang pleno Mahkamah Konstitusi terbuka untuk umum pada hari Selasa, tanggal dua puluh delapan, bulan Mei, tahun dua ribu tiga belas, selesai diucapkan pukul 17.22 WIB oleh delapan Hakim Konstitusi yaitu M. Akil Mochtar, selaku Ketua merangkap Anggota, Achmad Sodiki, Anwar Usman, Arief Hidayat, Ahmad Fadlil Sumadi, Muhammad Alim, Hamdan Zoelva, dan Maria Farida Indrati, masing-masing sebagai Anggota, dengan didampingi oleh Wiwik Budi Wasito sebagai Panitera Pengganti, dihadiri Pemerintah atau yang mewakili dan Dewan Perwakilan Rakyat atau yang mewakili, tanpa dihadiri Pemohon.

(17)

KETETAPAN

NOMOR 47/PUU-XI/2013

DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA,

Menimbang :

a. bahwa Mahkamah Konstitusi telah mencatat dalam Buku Registrasi Perkara Konstitusi, permohonan bertanggal 8 April 2013 dari Perkumpulan Pancur Kasih, Koperasi Credit Union Sumber Kasih, Koperasi Kredit Canaga Antutn, dan Koperasi Kredit Gemalag Kemisiq, yang berdasarkan Surat Kuasa Khusus masing-masing bertanggal 18 Januari 2013 memberi kuasa kepada Sulistiono, S.H., Iki Dulagin, S.H., M.H., Agatha Anida, S.H., Abdul Haris, S.H., Judianto Simanjutak, S.H., Andi Muttaqien, S.H., dan Dunasta, S.H., yang diterima di Kepaniteraan Mahkamah Konstitusi pada tanggal 9 April 2013 dan dicatat dalam Buku Registrasi Perkara Konstitusi dengan Nomor 47/PUU-XI/2013 pada tanggal 22 April 2013, perihal Permohonan Pengujian Materiil Pasal 1 ayat (1) dan ayat (18), Pasal 50 ayat (2) huruf a dan huruf e, Pasal 55 ayat (1), Pasal 115, dan Penjelasannya Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2012 tentang Perkoperasian terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945; b. bahwa terhadap Permohonan Nomor 47/PUU-XI/2013 tersebut,

Mahkamah Konstitusi telah menerbitkan:

1. Ketetapan Ketua Mahkamah Konstitusi Nomor

287/TAP.MK/2013 tentang Pembentukan Panel Hakim Untuk Memeriksa Permohonan Nomor 47/PUU-XI/2013, bertanggal 22 April 2013;

2. Ketetapan Ketua Panel Hakim Nomor 351/TAP.MK/2013 tentang Pemeriksaan Pendahuluan Perkara Nomor 47/PUU-XI/2013, bertanggal 22 April 2013;

c. bahwa Kepaniteraan Mahkamah Konstitusi pada tanggal 21 Mei 2013, pukul 16.05 WIB dan tanggal 22 Mei 2013, pukul 12.08 WIB telah menerima surat dari Pemohon, bertanggal 21 Mei 2013 yang pada pokoknya mengajukan permohonan penarikan kembali perkara Nomor 47/PUU-XI/2013;

d. bahwa terhadap permohonan penarikan kembali tersebut, Rapat Pleno Permusyawaratan Hakim pada hari Kamis, tanggal 23 Mei 2013, telah menetapkan permohonan penarikan kembali permohonan Nomor 47/PUU-XI/2013 beralasan menurut hukum; e. bahwa berdasarkan Pasal 35 ayat (1) dan ayat (2)

Undang Nomor 8 Tahun 2011 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi, ”Pemohon dapat menarik kembali Permohonan sebelum atau selama pemeriksaan Mahkamah Konstitusi dilakukan”, dan

(18)

”Penarikan kembali sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengakibatkan Permohonan tidak dapat diajukan kembali”;

Mengingat :

1. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945; 2. Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah

Konstitusi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2011 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 70, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5226);

3. Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 157, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5076);

MENETAPKAN: Menyatakan:

1. Mengabulkan permohonan penarikan kembali permohonan

Pemohon;

2. Permohonan Pemohon Nomor 47/PUU-XI/2013 perihal Permohonan Pengujian Materiil Pasal 1 ayat (1) dan ayat (18), Pasal 50 ayat (2) huruf a dan huruf e, Pasal 55 ayat (1), Pasal 115, dan Penjelasannya Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2012 tentang Perkoperasian (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2012 Nomor 212, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5355) terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, ditarik kembali;

3. Pemohon tidak dapat mengajukan kembali Permohonan Pengujian Materiil Pasal 1 ayat (1) dan ayat (18), Pasal 50 ayat (2) huruf a dan huruf e, Pasal 55 ayat (1), Pasal 115, dan Penjelasannya Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2012 tentang Perkoperasian (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2012 Nomor 212, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5355) terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945; 4. Memerintahkan kepada Panitera Mahkamah Konstitusi untuk

menerbitkan Akta Pembatalan Registrasi Permohonan dan mengembalikan berkas permohonan kepada Pemohon;

Demikian diputuskan dalam Rapat Permusyawaratan Hakim oleh delapan Hakim Konstitusi yaitu M. Akil Mochtar, selaku Ketua merangkap Anggota, Achmad Sodiki, Arief Hidayat, Muhammad Alim, Hamdan Zoelva, Maria Farida Indrati, Ahmad Fadlil Sumadi, dan Anwar Usman, masing-masing sebagai Anggota, pada hari Kamis, tanggal dua

(19)

puluh tiga, bulan Mei, tahun dua ribu tiga belas, yang diucapkan dalam sidang pleno Mahkamah Konstitusi terbuka untuk umum pada hari Selasa, tanggal dua puluh delapan, bulan Mei, tahun dua ribu tiga belas, selesai diucapkan pukul 17.23 WIB, oleh delapan Hakim Konstitusi yaitu M. Akil Mochtar, selaku Ketua merangkap Anggota, Achmad Sodiki, Arief Hidayat, Muhammad Alim, Hamdan Zoelva, Maria Farida Indrati, Ahmad Fadlil Sumadi, dan Anwar Usman, masing-masing sebagai Anggota, dengan didampingi oleh Achmad Edi Subiyanto sebagai Panitera Pengganti, dihadiri oleh Pemerintah atau yang mewakili dan Dewan Perwakilan Rakyat atau yang mewakili, tanpa dihadiri oleh Pemohon/kuasanya.

Dengan demikian sidang dalam perkara ini saya nyatakan selesai dan sidang ditutup.

Jakarta, 28 Mei 2013

Kepala Sub Bagian Pelayanan Risalah, t.t.d.

Rudy Heryanto

NIP. 19730601 200604 1 004

Risalah persidangan ini adalah bentuk tertulis dari rekaman suara pada persidangan di Mahkamah Konstitusi, sehingga memungkinkan adanya kesalahan penulisan dari rekaman suara aslinya.

KETUK PALU 3X

Referensi

Dokumen terkait

5.3.2 Vsebina Evropskega kodeksa policijske etike Evropski kodeks temelji na vrsti različnih priporočil in resolucij, sicer pa obsega področje organizacije policije, izbora

Grafik rerata skor panelis terhadap kecepatan larut tablet effervescent wortel Hasil uji Friedman menujukkan bahwa perlakuan penambahan natrium bikarbonat dan asam sitrat

Bagian terbawah umbi rambut adalah matriks rambut, yaitu daerah yang terdiri dari sel-sel yang membelah dengan cepat dan berperan dalam pembentukan batang rambut.. Dasar umbi

Pada diagram use case terdapat 2 actor yang digambarkan, yaitu : user dan admin dimana pada actor pertama yaitu user dapat mengakses website secara online dan

Berdasarkan hasil analisis petrografi dari conto sayatan tipis (thin section), maka litologi penyusun batuan sumur SR-1 terdiri dari lava berjenis Andesit dan Tufa yang

Sesuai dengan tujuan dari penelitian yaitu untuk menganalisis apakah ada atau tidak pengaruh motivasi instrinsik dan motivasi ekstrinsik terhadap kinerja karyawan,

NO PROGRAM AKUN URAIAN PAGU

Satu-satunya pendekatan terhadap perempuan dalam pembangunan yang melihat semua aspek kehidupan perempuan dan semua kerja yang dilakukan perempuan kerja