BAB III
METODE PENELITIAN
A. Desain Penelitian
Masalah yang menjadi inti dalam penelitian ini memiliki ketergantungan antara yang satu dengan yang lainnya. Penelitian ini sendiri menguji tingkat hubungan variabel independen terhadap variabel dependennya. Maka dari itu, desain penelitiannya bersifat korelasional.
B. Metode Penelitian
Sebelum melakukan suatu penelitian, tentunya harus menentukan terlebih dahulu metode apa yang akan dipergunakan dalam penelitiannya. Pengertian metode penelitian itu sendiri seperti yang dikemukakan oleh Sugiyono (1999:1) adalah:
Metode penelitian pada dasarnya merupakan cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu. Cara ilmiah berarti kegiatan penelitian itu didasarkan pada ciri-ciri keilmuan, yaitu rasional, empiris, dan sistematis. Rasional berarti kegiatan penelitian itu dilakukan dengan cara-cara yang masuk akal, sehingga terjangkau oleh penalaran manusia. Empiris berarti cara-cara yang dilakukan itu dapat diamati oleh indera manusia, sehingga orang lain dapat mengamati dan mengetahui cara-cara yang digunakan. Sistematis artinya proses yang digunakan dalam penelitian itu menggunakan langkah-langkah tertentu yang bersifat logis.
Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif (descriptive research). Mohammad Nasir (2003:54) mengemukakan bahwa:
Metode deskriptif adalah suatu metode dalam meneliti status, sekelompok manusia, suatu objek, suatu set kondisi, suatu sistem pemikiran ataupun suatu kelas peristiwa pada masa sekarang. Tujuan dari penelitian deskripsi adalah membuat deskripsi, gambaran atau lukisan secara sistematis, faktual dan
akurat, mengenai fakta-fakta, sifat-sifat serta hubungan antar fenomena yang diselidiki.
Berdasarkan jenis penelitian deskriptif maka metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah survey, di mana menurut Kerlinger seperti yang dikemukakan oleh Sugiyono (1999:7) bahwa:
Metode survey yaitu metode penelitian yang dilakukan pada populasi besar maupun kecil, tetapi data yang dipelajari adalah data-data dari sampel yang diambil dari populasi tersebut, sehingga ditemukan kejadian-kejadian relatif, distribusi dan hubungan-hubungan antar variabel sosiologis maupun psikologis.
Sedangkan menurut jenis datanya maka yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis kuantitatif. Sebagaimana yang diungkapkan Sugiyono (2009:23) “data kuantitatif adalah data yang berbentuk angka, atau data kualitatif yang diangkakan (skoring)”. Dengan demikian karena menggunakan jenis penelitian deskriptif dan memakai metode survey serta jenis datanya yang berbentuk kuantitatif, maka peneliti dapat mengetahui deskripsi mengenai persepsi terhadap kompensasi dan kepuasan kerja karyawan serta seberapa besar hubungan antara persepsi terhadap kompensasi dengan kepuasan kerja karyawan bagian marketing di PT. Global Persada Farma kota Bandung. Berdasarkan pengertian di atas pula, maka penulis menarik kesimpulan bahwa penelitian dengan jenis deskriptif dan menggunakan metode survey cocok untuk digunakan dalam penelitian ini.
C. Lokasi Penelitian dan Populasi 1. Lokasi
Yang menjadi lokasi dalam penelitian ini adalah PT. Global Persada Farma kota Bandung.
2. Populasi
Keseluruhan objek yang dapat dijadikan sumber penelitian dinamakan populasi. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Sugiono (1999:72) populasi adalah “wilayah generalisasi yang terdiri atas; objek / subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulanya”. Dan Arikunto (2002:108) mengemukakan bahwa “populasi adalah keseluruhan subjek penelitian. Apabila seseorang ingin meneliti semua elemen yang ada dalam wilayah penelitian, maka penelitiannya merupakan penelitian populasi.”
Dari penjelasan di atas maka yang menjadi populasi dalam penelitian ini adalah seluruh karyawan bagian marketing di PT. Global Persada Farma yang berjumlah 29 orang. Dengan demikian penulis menggunakan penelitian terhadap populasi.
Dengan karakteristik responden sebagai berikut: Jenis
Kelamin Usia Pendidikan Masa Kerja
Status Pernikahan Laki-laki 100% - - - - Perempuan 0% - - - - 20-24th - 31% - - - 25-29th - 55% - - - ≥ 30th - 14% - - - SMA - - 76% - - D1 - - 14% - - D3 - - 10% - - 1-2th - - - 28% - 3-5th - - - 62% - > 5th - - - 10% - Menikah - - - - 76% Belum - - - - 24%
D. Variabel dan Definisi Operasional
Mengutip pendapat Hatch dan Farhady yang terdapat di buku yang ditulis oleh Sugiono. Hatch dan Farhady (Sugiono, 1999:31) mengemukakan bahwa “secara teoritis variabel dapat didefinisikan sebagai atribut seseorang atau objek yang mempunyai variasi antara satu orang dengan yang lain, atau satu objek dengan objek lain”. Sementara itu Kerlinger (Sugiono, 1999:32) menyatakan bahwa “variabel adalah konstruk (constructs) atau sifat yang akan dipelajari, di bagian lain Kerlinger menyatakan bahwa variabel dapat dikatakan sebagai suatu sifat yang diambil dari suatu nilai yang berbeda (different values)”.
Tujuan pembuatan definisi variabel yaitu untuk menghindari terjadinya kesalahan atau kekeliruan dalam mengartikan variabel yang diteliti dan juga sebagai kerangka acuan untuk mendeskripsikan permasalahan yang akan diteliti. Sering kali terjadi kesalahpahaman dalam mengartikan istilah-istilah, hal ini disebabkan oleh perkembangan ilmu pengetahuan di bidang bahasa yang sudah semakin maju sehingga banyak istilah-istilah yang dipergunakan untuk maksud tertentu berlebihan meskipun pada dasarnya bertujuan untuk menerangkan maksud yang sama.
Berdasarkan pengertian di atas, yang menjadi variabel dalam penelitian ini adalah persepsi terhadap kompensasi sebagai variabel independent (X) dan kepuasan kerja sebagai variabel dependent (Y).
1. Persepsi Terhadap Kompensasi
Persepsi terhadap kompensasi adalah penilaian karyawan secara individual yang dirasakan atas imbalan berupa finansial ataupun nonfinansial yang diterimanya sebagai ganti kontribusi mereka terhadap perusahaan. Persepsi terhadap kompensasi diungkap dengan metode skala dari Buchari (2001:202) yaitu aspek Direct financial, Indirect payments, Nonfinancial rewards. Semakin tinggi skor yang diperoleh mencerminkan semakin positif persepsi terhadap kompensasi, demikian pula sebaliknya semakin rendah skor yang diperoleh mencerminkan semakin negatif persepsi terhadap keadilan kompensasinya.
2. Kepuasan Kerja
Handoko (1998:193) menyebutkan bahwa kepuasan kerja adalah keadaan emosional yang menyenangkan atau tidak menyenangkan di mana para karyawan memandang pekerjaan mereka. Kepuasan kerja diungkap dengan metode skala dengan menggunakan aspek-aspek kepuasan kerja yang dikemukakan oleh Locke dalam Anton (2007:37-38) yaitu, isi pekerjaan, imbalan, promosi jabatan, kondisi kerja, rekan kerja, dan pengawasan. Semakin tinggi skor yang diperoleh mencerminkan semakin tinggi kepuasan karyawan dalam bekerja, demikian pula sebaliknya, semakin rendah skor yang diperoleh mencerminkan semakin rendah kepuasan karyawan dalam bekerja.
Table 3.1
Definisi Operasional Persepsi Terhadap Kompensasi (X)
Variabel Konsep Variabel Dimensi Indikator Skala
Pengukuran
Kompensasi
Imbalan atau balasa jasa yang diberikan oleh perusahaan kepada karyawanya yang dapat dinilai dengan uang. Kompensasi atau imbalan ini termasuk didalamnya upah, gaji, insentif, komisi, dan sebagainya yang mengikat karyawan. Buchari (2001:185) Direct financial Gaji Insentif Uang makan Uang hotel/kost Uang tagihan Uang bensin Ordinal Indirect payments Asuransi Cuti dan libur Hari-hari sakit Program rekreasi
Ordinal
Nonfinancial rewards
Fleksibilitas jam kerja
Table 3.2
Definisi Operasional Kepuasan Kerja (Y)
Variabel Konsep Variabel Dimensi Indikator Skala
Pengukuran
Kepuasan Kerja
Emosi positif atau perasaan senang, sebagai hasil dari penilaian seseorang terhadap pekerjaan atau pengalaman kerjanya. Locke dalam Indoartono (2000:31) Isi pekerjaan Kualifikasi pekerjaan Variasi pekerjaan Kesesuaian pekerjaan Tingkat kesulitan Tanggung jawab Ordinal Bayaran Gaji Insentif Ordinal
Promosi jabatan Kesempatan promosi
Keadilan promosi Ordinal Kondisi kerja Tempat kerja
Fasilitas kerja Ordinal Rekan kerja Interaksi dengan rekan kerja
Interaksi dengan atasan Ordinal Pengawasan dan
penyeliaan
Pengawasan dan penilaian yang objektif
Pemberian motivasi, dukungan, kepercayaan, dan saran.
E. Instrumen Penelitian
Karena pada prinsipnya meneliti adalah melakukan pengukuran, maka harus ada alat ukur yang baik. Alat ukur dalam penelitian biasa dinamakan instrumen penelitian. Instrument penelitian adalah suatu alat yang digunakan mengukur fenomena alam maupun sosial yang diamati (Sugiyono, 1999).
Instrumen kepuasan kerja yang digunakan dalam penelitian ini disusun berdasarkan aspek-aspek kepuasan kerja yang dikemukakan oleh Locke dalam Anton (2007:37-38) yang meliputi:
1. Isi pekerjaan
Aspek isi pekerjaan mencakup bobot pekerjaan yang melibatkan keterampilan dan kemampuan yang sesuai kualifikasi pekerjaan, variasi pekerjaan, kuantitas dan kualitas pekerjaan, tingkat kesulitan, serta tanggung jawab individu dalam mengerjakan pekerjaan tersebut.
2. Imbalan
Aspek imbalan mencakup sejauh mana bayaran atau imbalan yang diterima karyawan sesuai dengan usaha yang telah dilakukan dalam bekerja.
3. Promosi jabatan
Aspek promosi jabatan mencakup kesempatan memperoleh promosi jabatan yang lebih tinggi. Selain memperoleh kesempatan promosi, aspek ini juga mencakup keadilan dalam promosi jabatan.
4. Kondisi kerja
Aspek kondisi kerja mencakup kepuasan terhadap kondisi lingkungan pekerjaan seperti, tempat kerja, ruangan kerja, dan fasilitas perusahaan lainnya.
5. Rekan kerja
Aspek rekan kerja mencakup kepuasan hubungan atau interaksi karyawan dengan karyawan lain baik yang setara tingkatannya, bawahan, atau atasannya.
6. Pengawasan atau penyeliaan
Aspek pengawasan atau penyeliaan ini mencakup kepuasan terhadap pengawasan yang dilakukan oleh atasannya. Apakah atasan sudah objektif dalam melakukan pengawasan dan penilaian serta apakah atasan memberikan kepercayaan, dukungan, saran, serta motivasi pada bawahannya.
Tabel 3.3
Instrument Kepuasan Kerja Setelah Uji Validitas
No Aspek Favorable Unfavorable Jumlah
valid gugur valid Gugur valid gugur
1 Isi pekerjaan 9 - 14, 2 - 3 - 2 Bayaran 7, 25, 21 - 1, 8, 16 - 6 - 3 Promosi jabatan 19, 10 - 3, 15 - 4 - 4 Kondisi kerja 4, 11, 20 - 26 22 4 1 5 Rekan kerja 23 17, 19 5, 12 28 3 3 6 Pengawasan atau penyeliaan 6, 13, 18 - 24, 27 - 5 - Jumlah 13 2 12 2 25 4
Adapun blue print untuk Instrumen kepuasan kerja dapat dilihat pada tabel berikut ini:
Tabel 3.4
Blue Print Instrumen Kepuasan Kerja
No Aspek Jumlah Total
Fav UnFav 1 Isi pekerjaan 1 2 3 2 Bayaran 3 3 6 3 Promosi jabatan 2 2 4 4 Kondisi kerja 3 1 4 5 Rekan kerja 1 2 3
6 Pengawasan dan penyeliaan 3 2 5
Jumlah 13 12 25
Berdasarkan penyusunan blue print, maka langkah selanjutnya adalah membuat rancangan sebaran item Instrumen, seperti pada tabel berikut ini:
Tabel 3.5
Sebaran Item Skala Kepuasan Kerja
No Aspek No Item Jumlah Jumlah Fav Unfav Fav Unfav
1 Isi pekerjaan 9 14, 2 1 2 3 2 Bayaran 7, 23, 20 1, 8, 16 3 3 6 3 Promosi jabatan 18, 10 3, 15 2 2 4 4 Kondisi kerja 4, 11, 19 24 3 1 4 5 Rekan kerja 21 5, 12 1 2 3 6 Pengawasan atau penyeliaan 6, 13, 17 22, 25 3 2 5 Jumlah 13 12 25
Instrumen persepsi terhadap kompensasi dalam penelitian ini adalah aspek-aspek kompensasi yang dikemukakan oleh Buchari (2001:202) yaitu:
1. Direct financial seperti wages (upah), salaries (gaji), dan bonus.
Upah didefinisikan sebagai “wages is pay based on the number of hours the employee has work”, sedangkan gaji adalah “salary is compensation paid on a weekly, biweekly, monthly, or annual basis”.
2. Indirect payments seperti fringe benefits yaitu keuntungan dalam bentuk asuransi, cuti, dan libur.
3. Nonfinancial rewards yaitu berupa penghargaan bukan dalam bentuk uang seperti pekerjaan, jabatan yang menjanjikan masa depan, pengaturan jam kerja yang lebih fleksibel.
Tabel 3.6
Instrumen persepsi terhadap kompensasi setelah uji validitas
No Aspek Favorable Unfavorable Jumlah
Valid Gugur valid gugur Valid gugur
1 Direct financial 1, 15, 12, 32, 22, 29, 25, 30, 13, 37, 6. - 18, 16, 17, 33, 21, 19. 26, 10, 11. 17 3 2 Indirect payments 27, 8, 28, 9, 4. 7, 20 31, 23, 38. 14, 34, 41. 8 5 3 Nonfinancial rewards 35, 5, 39, 36. 2 40, 3. 24 6 2 Jumlah 20 3 11 7 31 10
Adapun blue print untuk Instrumen persepsi terhadap kompensasi dapat dilihat pada tabel berikut ini:
Tabel 3.7
Blue Print Instrumen Persepsi Terhadap Kompensasi
No Aspek Jumlah Total Fav Unfav
1 Direct financial 11 6 17
2 Indirect payments 5 3 8
3 Nonfinancial rewards 4 2 6
Jumlah 20 11 31
Berdasarkan penyusunan blue print, maka langkah selanjutnya adalah membuat rancangan sebaran item Instrumen, seperti pada tabel berikut ini:
Tabel 3.8
Sebaran Item Instrumen Persepsi Terhadap Kompensasi
No Aspek Item Jumlah Jumlah Fav Unfav Fav Unfav
1 Direct financial 1, 10, 8, 24, 22, 21, 18, 28, 9, 16, 5. 15, 11, 13, 25, 12, 14. 11 6 17 2 Indirect payments 19, 6, 20, 7, 3. 23, 17, 29. 5 3 8 3 Nonfinancial rewards 26, 4, 30, 27. 31, 2. 4 2 6 Jumlah 20 11 31
F. Sumber Data
Dalam suatu penelitian sudah tentu akan memerlukan data yang akan diteliti, baik sebagai subjek maupun sebagai objek penelitian. Suharsini Arikunto (2002: 107) mengemukakan bahwa : ”Sumber data penelitian adalah subjek dari mana data dapat diperoleh”.
1) Sumber data primer
Sumber data primer merupakan data yang dikumpulkan oleh peneliti dan diperoleh langsung dari subjek yang berhubungan langsung dengan peneliti. Dalam penelitian ini yang menjadi data primer adalah seluruh data yang diperoleh melalui penyebaran angket kepada karyawan bagian marketing di PT. Global Persada Farma kota Bandung.
2) Sumber data sekunder
Sumber data sekunder merupakan sumber data penelitian di mana peneliti tidak berhubungan langsung dengan yang menjadi subjek penelitian, tetapi sifatnya membantu dan dapat memberikan informasi untuk bahan penelitian. Dalam penelitian ini yang menjadi data sekunder adalah berasal dari litelatur atau kepustakaan, artikel, jurnal, serta situs di internet yang berkaitan dengan penelitian yang dilakukan.
G. Teknik Pengumpulan Data
Menurut Arikunto (2002:207) “pengumpulan data adalah mengamati variabel yang akan diteliti dengan metode wawancara, tes, observasi, kuesioner dan sebagainya.” Adapun teknik pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah:
1) Studi literatur
yaitu pengumpulan data dengan cara mempelajari buku, artikel, sumber dari internet dan lain-lain, untuk memperoleh informasi yang berhubungan dengan teori-teori dan konsep-konsep yang berkaitan dengan masalah penelitian yang dilakukan.
2) Wawancara
Yaitu melaksanakan dialog langsung untuk memperoleh data-data yang diperlukan serta ditujukan kepada pihak perusahaan atau yang mewakilinya.
3) Angket
Angket yaitu teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden untuk dijawabnya. Dalam pengisian angket, responden tinggal memilih alternatif jawaban dengan cara memberi tanda silang salah satu alternatif jawaban yang dianggap paling tepat atau sesuai.
H. Uji Validitas dan Reliabilitas
Instrument yang valid berarti alat ukur yang digunakan untuk mendapatkan data (mengukur) itu valid. Valid berarti instrument tersebut dapat digunakan untuk mengukur apa yang hendak diukur. Sedangkan instrument yang reliabel berarti instrument yang jika digunakan beberapa kali untuk mengukur objek yang sama, akan menghasilkan data yang sama.
Validitas yang akan diukur dalam instrument ini adalah validitas konstruk (construct validity), yang menurut Sutrisno Hadi dalam Sugiyono (2009:350) menjelaskan bahwa instrument yang mempunyai validitas konstruk, bila mana instrument tersebut dapat digunakan untuk mengukur gejala sesuai dengan yang didefinisikan. Sedangkan sebelum dapat menguji validitas konstruk diperlukan pendapat dari ahli (judgment experts) tentang instrument yang telah disusun, apakah instrument tersebut tanpa perbaikan, harus diperbaiki, atau dirombak total. Setelah judgment experts seleasi maka selanjutnya dilakukan uji coba, dan hasil uji coba dianalisis dengan analisis item. Analisis item dilakukan dengan menghitung korelasi antar skor item instrumen dengan skor totalnya. Sugiyono (1999:126) menyatakan jika harga koefisien korelasinya sama dengan 0,3 atau lebih maka item instrumen tersebut dinyatakan valid.
Dengan menggunakan instrument yang valid dan reliabel dalam proses pengumpulan data, maka diharapkan hasil penelitian akan menjadi valid dan reliabel. Dengan kata lain pengujian validitas dan reliabilitas instrument merupakan salah satu syarat untuk mendapatkan hasil penelitian yang valid dan reliabel.
1. Uji Validitas
Untuk menentukan tingkat validitas suatu item kuisioner, maka digunakan metode korelasi Product Moment. Yaitu dengan mengkorelasikan antar skor item yang dihasilkan oleh masing-masing responden dengan skor totalnya menggunakan rumus sebagai berikut:
r
=
∑ ∑ ∑∑ ∑ ∑ ∑
(Sugiyono, 1999:182)
Keterangan :
Rxy = Koefisien korelasi antara x dan y
X = Skor yang diperoleh subjek dari seluruh item Y = Skor total
∑X = Jumlah skor dalam distribusi X
∑Y = Jumlah skor dalam distribusi Y
∑X2 = Jumlah Kuadrat dalam skor distribusi X
∑Y2 = Jumlah Kuadrat dalam skor distribusi Y n = Banyaknya responden
Kriteria pengujian : r hitung ≥ 0,3: valid (Sugiyono, 1999:126)
Dalam penelitian ini, untuk menghitung validitas item kuisioner persepsi terhadap kompensasi dan kuisioner kepuasan kerja, dibantu dengan menggunakan program SPSS versi 17.0, yang hasilnya dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
Tabel 3.9
Validitas item perspesi terhadap kompensasi
Corrected Item-
Total Correlation Keterangan
VAR00001 .442 Valid VAR00002 .628 Valid VAR00003 .372 Valid VAR00004 .452 Valid VAR00005 .457 Valid VAR00006 .639 Valid VAR00007 .547 Valid VAR00008 .529 Valid
VAR00009 .440 Valid VAR00010 .421 Valid VAR00011 .589 Valid VAR00012 .576 Valid VAR00013 .355 Valid VAR00014 .425 Valid VAR00015 .467 Valid VAR00016 .467 Valid VAR00017 .594 Valid VAR00018 .738 Valid VAR00019 .587 Valid VAR00020 .559 Valid VAR00021 .656 Valid VAR00022 .644 Valid VAR00023 .513 Valid VAR00024 .533 Valid VAR00025 .545 Valid VAR00026 .753 Valid VAR00027 .540 Valid VAR00028 .604 Valid VAR00029 .659 Valid VAR00030 .509 Valid VAR00031 .589 Valid Tabel 3.10
Validitas item kepuasan kerja
Corrected Item-
Total Correlation Keterangan
VAR00001 .615 Valid VAR00002 .596 Valid VAR00003 .721 Valid VAR00004 .522 Valid VAR00005 .517 Valid VAR00006 .507 Valid VAR00007 .732 Valid VAR00008 .564 Valid VAR00009 .644 Valid VAR00010 .455 Valid VAR00011 .749 Valid VAR00012 .516 Valid VAR00013 .556 Valid VAR00014 .510 Valid VAR00015 .575 Valid VAR00016 .810 Valid VAR00017 .723 Valid
VAR00018 .534 Valid VAR00019 .557 Valid VAR00020 .445 Valid VAR00021 .423 Valid VAR00022 .484 Valid VAR00023 .515 Valid VAR00024 .323 Valid VAR00025 .486 Valid 2. Uji Reliabilitas
Untuk menguji tingkat reliabilitas dapat dilakukan secara internal yaitu menganalisis konsistensi butir-butir yang ada pada instrumen dengan menggunakan rumus Alpha Croanbach yang merupakan statistik paling umum yang digunakan untuk menguji reliabilitas suatu instrumen penelitian.
Adapun koefisien Alpha Croanbach dirumuskan sebagai berikut:
r
=
∑
(Sugiyono, 2009:365)
Dimana:
ri = reliabilitas angket
k = mean kuadrat antar subjek
ΣSi2 = mean kuadrat kesalahan St2 = varians total
Rumus untuk varians total dan varians item:
s
=
∑−
∑s
=
JKi
n −
JKs
n
Dimana:
∑Xt2 = jumlah kuadrat skor jawaban subjek tiap item (∑Xt)2 = kuadrat skor seluruh subjek dari setiap item JKi = jumlah kuadrat seluruh skor item
JKs = jumlah kuadrat subjek n = jumlah subjek
Suatu instrumen penelitian diindikasikan mempunyai reliabilitas yang memadai jika koefisien Alpha Croanbach memiliki nilai ≥ 0,8.
Dalam penelitian ini, untuk menghitung reliabilitas item kuisioner persepsi terhadap kompensasi dan kuisioner kepuasan kerja, dibantu dengan menggunakan program SPSS versi 17.0, yang hasilnya dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
Tabel. 3.11
Reliabilitas kuisioner persepsi terhadap kompensasi Reliability Statistics Cronbach's Alpha Cronbach's Alpha Based on Standardized Items N of Items .933 .935 31 Tabel. 3.12
Reliabilitas kuisioner kepuasan kerja Reliability Statistics Cronbach's Alpha Cronbach's Alpha Based on Standardized Items N of Items .927 .929 25
I. Prosedur Penelitian
Setelah data yang diperoleh dari responden melalui kuisioner terkumpul, langkah selanjutnya adalah mengolah dan menafsirkan data sehingga dari hasil tersebut dapat dilihat apakah terdapat pengaruh antara variabel Persepsi terhadap kompensasi (X) dan variabel Kepuasan kerja (Y). Langkah-langkah pengolahan data mengikuti prosedur sebagai berikut:
1) Menyusun data
Kegiatan ini dilakukan dengan cara memeriksa kembali lembar jawaban angket yang telah diisi oleh responden, dalam hal kelengkapan jawaban, untuk menentukan layak tidaknya lembar jawaban tersebut untuk diproses lebih lanjut.
2) Menghitung bobot nilai
Yaitu pemberian kode atau skor untuk setiap opsi dari setiap item berdasarkan ketentuan yang ada. Pilihan jawaban dengan urutan peringkat Sangat Setuju (SS), Setuju (S), Ragu-Ragu (RR), Tidak Setuju (TS), dan Sangat Tidak Setuju (STS). Adapun pola pembobotanya adalah sebagai berikut:
Tabel 3.13 Pedoman nilai angket
No Alternatif Jawaban Bobot Positif Negatif
1. Sangat Setuju (SS) 5 1
2. Setuju (S) 4 2
3. Ragu-ragu (RR) 3 3
4. Tidak Setuju (TS) 2 4
3) Tabulasi
maksudnya adalah tabulasi hasil scoring, yang dituangkan ke dalam tabel rekapitulasi secara lengkap untuk seluruh item setiap variabel. Adapun tabel rekapitulasi sebagai berikut:
Tabel 3.14
Tabel rekapitulasi pengubahan data
Responden Item Pertanyaan
1 2 3 4 ... n 1 2 3 4 ... N 4) Analisis data
Menentukan kedudukan variabel Persepsi terhadap kompensasi (X) dan variabel Kepuasan kerja (Y) yang divisualisasikan dalam bentuk “skor ideal” dengan langkah-langkah sebagai berikut:
digunakan rumus mean untuk melihat kecenderungan sumber data ke dalam dua kategori, yaitu tinggi dan rendah. Mean merupakan teknik penjelasan kelompok yang didasarkan atas nilai rata-rata dari kelompok tersebut. Mean ini didapat dengan menjumlahkan data seluruh individu dalam kelompok, kemudian dibagi dengan jumlah individu yang ada pada kelompok tersebut. Untuk menghitung mean digunakan rumus:
Keterangan: $% = mean
∑)* = jumlah nilai x ke i sampai ke n n = jumlah individu
Berdasarkan nilai mean, maka kategorisasi skor untuk data menjadi sebagai berikut:
Tabel 3.15 Kategorisasi skor
Rentang Skor Kategori
Skor ≥ mean Tinggi/Puas
Skor < mean Rendah/Tidak puas
J. Uji Korelasi Rank Spearman
Salah satu teknik korelasi dengan hipotesis asosiatif menurut Sugiyono (2009:244) adalah teknik korelasi Rank Spearman, dimana dalam teknik ini sumber data untuk kedua variabel yang akan dikonversikan dapat berasal dari sumber yang tidak sama, jenis data yang dikorelasikan adalah data ordinal, serta data dari kedua variabel tidak harus membentuk distribusi normal.
Oleh karena itu peneliti menutuskan untuk memakai teknik korelasi Rank Spearman, yang mempunyai rumus sebagai berikut:
ρ = 1 −
- ∑ .
dimana:
ρ = koefisien korelasi Spearrman Rank
Sedangkan arti harga ρ yang dihasilkan harus mengacu pada interpretasi nilai ρ
sebagai berikut:
Tabel 3.16
Interpretasi koefisien korelasi
Interval Koefisien Tingkat Hubungan
0,000 – 0,199 0,200 – 0,399 0,400 – 0,599 0,600 – 0,799 0,800 – 1,000 Sangat Rendah Rendah Sedang Kuat Sangat Kuat Sumber: Sugiyono (2009:231)
K. Teknik Analisis Data 1. Koefisien Determinasi
Mencari koefisien determinasi (r2). Koefisien determinasi yaitu dengan cara mengkuadratkan koefisien korelasi yaitu berbentuk r2 digunakan untuk mengukur besarnya peranan variabel X terhadap variabel Y serta untuk memilih variabel X yang dapat menerangkan secara lebih baik mengenai perubahan yang terjadi dalam variabel Y. Berikut ini adalah rumus koefisien determinasi: KD = r2 X 100%.
Jika r2 diperoleh dari hasil perhitungan semakin besar atau mendekati 1 maka dapat dikatakan bahwa peranan dari variabel X terhadap variabel Y akan semakin besar, ini berarti model yang digunakan semakin kuat untuk menerangkan variabel Y-nya. Sebaliknya r2, semakin kecil atau mendekati 0 maka dapat dikatakan bahwa peranan dari variabel X terhadap variabel Y semakin kecil. Hal ini berarti model yang digunakan semakin lemah untuk menerangkan variasi variabel tidak bebasnya. Secara umum dapat dikatakan bahwa koefisien determinasi r2 berada diantara 0 dan 1.