• Tidak ada hasil yang ditemukan

254x. JPH = 0.278H x 80 x 2.5 +

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "254x. JPH = 0.278H x 80 x 2.5 +"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

1

xfm

V

254

2

4.3. Perhitungan Daerah Kebebasan Samping

Dalam memperhitungkan daerah kebebasan samping, kita harus dapat memastikan bahwa daerah samping/bagian lereng jalan tidak menghalangi pandangan pengemudi.

Dalam perhitungannya berupa, jarak pandang yang telah kita sesuaikan dengan kebutuhan perencanaan geometric, yang nantinya dibandingkan dengan hasil perhitungan JPH dan JPM. Dasar perencanaan untuk perhitungan adalah jari-jari lengkung dan panjang lengkung total dari perhitungan alinyemen horizontal sebelumnya. Setelah itu hasil perhitungan ini diplotkan ke gambar potongan jalan berdasarkan tinggi kritis mata pengemudi. Hal ini dimaksudkan agar dapat mengetahui lereng jalan yang berada dikiri maupun kanan jalan mengahalangi pandangan bagi pengemudi atau tidak saat mengendarai kendaraan.

Dan berikut ini adalah contoh perhitungannya untuk PI Direncanakan :

 R (jari-jari tikungan) = 409 m

 Lt (panjang lengkung total) = 263,01 m  Lebar 1 lajur = 3.5 m

Perhitungan :

 Radius jalan sebelah dalam :

R’ = R – ½ (L 1lajur) = 409 – ½ (3.5) = 407,25 m  jarak pandangan henti JPH

JPH = 0.278 x V x t +

JPH

=

0.278H

x

80

x

2.5

+

3

.

0

254

80

2

x

JPH = 140 m < Lt = 263,01m, sehingga menggunakan rumus:

E =              ' 65 . 28 cos 1 ' R S R

Maka rumus kebebasan samping yang berlaku adalah : E=              ' 65 . 28 cos 1 ' R S R =              25 , 407 140 65 . 28 cos 1 25 , 407 = 6,00 m

Berikut ini adalah perhitungan daerah kebebasan sampingi, menggunakan program Microsoft Excel, yang dapat dilihat di Tabel 4.14

Tabel 4.14 Perhitungan Daerah Kebebasan Samping

4.4. Perencanaan Pelebaran Perkerasan Perhitungan pelebaran perkerasan tikungan disesuaikan dengan kriteria perencanaan geometrik jalan,. Data-data untuk kecepatan rencana dan jari-jari lengkung diambil dari perhitungan alinyemen horisontal sebelumnya.

Kendaraan rencana menggunakan kendaraan sedang (menurut TPGJAK 1997),dengan spesifikasi sebagai berikut :

a. Tonjolan depan kendaraan (A) = 2.1 m b. Jarak gandar kendaraan (L) = 7.6 m c. Lebar kendaraan rencana (μ) = 2.6 m

Asumsi lebar kebebasan samping kiri kanan kendaraan (C) =1 m (Sukirman 1999, untuk jalan dengan lebar jalur 7m).

Di bawah ini adalah contoh perhitungan untuk PI 1.  Dasar perencanaan :

a. Kecepatan rencana, VD = 80 km/jam

b. Jari-jari lengkung horisontal rencana, RD = 409 m

c. Lebar perkerasan per lajur, L = 3.5 m d. Lebar perkerasan jalur lurus, Bn = 7 m e. Jumlah lajur (N) = 2 lajur

 Perhitungan :  Z =

R

Vd

105

,

0

=

409

80

105

,

0

= 0,415 m  2 2

L

R

R

U

(2)

2

2

.

6

409

409

2

7

.

6

2 = 2,671 m  FaR2 A

2LA

R

2 7.6 2.1

) 409 1 . 2 ( 4092 x x = 0.044 m 

Wc

N

U

C

 

N

1

Fa

Z

2

,

671

1

 

2

1

0

,

044

0

,

415

2

x

x

= 7,801 m 

Wc

Wn

7,8017 0,8m ≈ 1 m

Jadi, pada tikungan ( PI-1) untuk perencanaan jalan ini dibutuhkan pelebaran jalan sebesar 1,0 m. Dan untuk lengkapnya, perhitungan pelebaran perkerasan jalan ini, menggunakan program Microsoft Excel, yang dapat dilihat di Tabel 4.15

Tabel 4.15. Perhitungan Pelebaran Perkerasan Jalan

4.5. PERENCANAAN SALURAN TEPI JALAN Saluran tepi jalan dibuat untuk mengendalikan air permukaan akibat hujan. Tujuannya agar jalan tidak

tergenang hujan dalam waktu yang cukup lama sehingga tidak terjadi kerusakan pada konstruksi jalan. Dalam perencanaan saluran tepi jalan ini direncanakan menggunakan saluran dari lempung padat berbentuk trapesium.

Data hujan yang digunakan adalah data hujan harian maksimum selama 5 tahun secara berturut-turut. Dari data hujan yang tersedia, dilakukan analisa perhitungan hujan harian maksimum seperti yang terdapat pada Tabel 4.16 dan Tabel 4.17.

Sumber : BPS Propinsi Papua Barat

Tabel 4-16 Curah Hujan Maksimum Rata-rata Pertahun Sehingga nilai standar deviasi dari data diatas adalah :

1 n R R σ 2 ^ 1 n  

 1 5 800 , 885752   = 470,572 mm

Dan Tabel Gumbel untuk data hujan selama 5 tahun bisa dilihat pada Tabel 4-17.

Tabel 4-17 Tabel Gumbel untuk data hujan selama 5 tahun. Dengan : 1 n m P   dan p 1 Ln Ln Y   Sehingga : n Y Yn

5 294 . 2  =0,459 Ranking P Y Y2 1 0.1667 -0.5832 0.3401 2 0.3333 -0.0940 0.0088 3 0.5000 0.3665 0.1343 4 0.6667 0.9027 0.8149 5 0.8333 1.7020 2.8967 2.2940 4.1949 Σ Tahun Ri (mm) R^ (mm) Ri - R^ (Ri - R^)2 2005 2600 616,200 379702,440 2006 2319 335,200 112359,040 2007 1492 -491,800 241867,240 2008 1602 -381,800 145771,240 2009 1906 -77,800 6052,840 S 9919 885752,800 1983,800

(3)

3

n Y Yn Y Sn 2

  

5 294 . 2 459 . 0 1949 . 4    =0,628

Direncanakan periode ulang sesuai dengan umur rencana jalan, yaitu T = 10 tahun sehingga :

          1 -T T Ln Ln Y10           1 -10 10 Ln Ln =2,2504

Dan tinggi hujan rencana selama 10 tahun adalah :                10 1 10 R n Sn Yn Y R                  470,572 628 , 0 459 , 0 2504 , 2 800 , 1983 R10 = 3325,197 mm. Data perencanaan :

 Perhitungan waktu konsentrasi (Kerby)

0,467 d i n L 1,44 to      

 Tinggi hujan rencana adalah, R = 3325,197 mm  Kemiringan melintang jalan, sa = 2%

 Kemiringan melintang bahu, sb = 4%

 Panjang saluran, L = 1800 m (STA 0+200 s/d STA 2+000)

 Kemiringan memanjang jalan, g = 4%  Jenis material jalur jalan direncanakan

menggunakan aspal, nd = 0,013

 Lapis permukaan bahu jalan adalah lapangan dengan rumput jarang, ladang permukaan cukup kasar, nd = 0,2

 Jenis material pembentuk saluran direncanakan menggunakan lempung padat, sehingga pada perencanaan kali ini kecepatan air rencana adalah,

Vsal = 1,1 m/dt. (Sumber : Tabel 2, Petunjuk Desain Drainase Permukaan Jalan).

 Lebar jalan 1 lajur, Wj = 3,5 m  Lebar bahu 1 sisi, Wb = 2 m Perhitungan inlet time :

 Perhitungan Inlet Time Jalan (to jalan) w = wj = 3.5 m

w

s

g

x

3

.

5

%

2

%

4

= 7 m 2 2

L

x

w

7

2

3

.

5

2 = 7,826 m

g

x

Δhg

7

4

%

= 0,28 m

s

w

Δhs

3

,

5

2

%

= 0.07 m

Δhs

Δhg

Δh

0,280,07= 0,35 m

L

Δh

i

7,826

0,35

= 0,045 0,467 045 , 0 0,013 826 , 7 1,44 aspal to         =1,023 menit

 Perhitungan Inlet Time Bahu Jalan (to bahu)

w = wb = 2 m

w

s

g

x

2

%

4

%

4

= 2 m 2 2

L

x

w

2

2

2

2 = 2,828 m

g

x

Δhg

2

,

00

4

,

00

%

= 0,08 m

s

w

Δhs

2

4

%

= 0.08 m

Δhs

Δhg

Δh

0,080,08= 0,186 m L Δh i 2,828 0,016  = 0,0567 0,467 0,057 0,2 828 , 2 1,44 bahu to         = 1,561 menit

 Perhitungan Inlet Time Lereng (to lereng) Llereng = 103 m w = wj + wb = 5,5 m

w

s

g

x

5

,

5

%

4

%

4

= 5,5 m 2 2

L

x

w

5

,

5

2

5

,

5

2 = 7,778 m

g

x

Δhg

5

,

5

4

%

= 0,22 m

s

w

Δhs

5

,

5

4

%

= 0,22 m

Δhs

Δhg

Δh

0,220,22= 0,44 m

L

Δh

i

7,778

0,44

= 0,056 0,467 0,056 0,8 103 1,44 lereng to         = 40,397 menit Perhitungan waktu konsentrasi :

 Inlet time

to jalan+bahu = 1,023 + 1,561 = 2,58 menit to lereng = 40,397 menit

karena to jalan+bahu < to lereng, maka yang dipakai untuk perencanaan adalah to lereng.

 Waktu pengaliran di saluran v L   60 tf 1 . 1 60 1800   = 27,273 menit  Waktu konsentrasi tf to  tc = 40,397 + 27,273 = 67,67 menit = 1,128 jam

Perhitungan debit saluran :

 Intensitas hujan rencana (Mononobe)

3 2 24 24 24 I        tc R 3 2 128 ,1 24 24 197 , 3325        = 1063,940 mm/jam

 Luas daerah pengaliran

Aaspal = Wj x L = 3,5 x 1800 = 6300 m2 = 0,0063km2

(4)

4 w = 0,67 m h = 0,9 m b = 0,7 m 2,5 m w = 0,67 m h = 0,9 m b = 0,7 m 2,5 m Abahu = Wb x L = 2 x 1800 = 3600 m2 = 0,0036 km2 Aaspal+bahu = ATotal = 0,0063+ 0,0036 = 0,0099 km2 Dapat diketahui dari peta bahwa kondisi geografis yang ada menyebabkan aliran air yang terjadi mengalir dari sebelah kanan jalan rencana menuju sebelah kiri jalan rencana. Kondisi geografis pada sebelah kanan jalan rencana adalah berupa pegunungan atau dataran tinggi, sedangkan kondisi geografis pada sebelah kiri jalan rencana berupa sungai atau dataran rendah. Maka dalam penghitungan luas catchment area atau lereng diambil dari sebelah kanan jalan saja.

 Koefisien pengaliran Permukaan aspal, C1 = 0.7

Bahu jalan asumsi tanah berbutir kasar C2 = 0.1

Bagian luar jalan pegunungan (lereng) C3 = 0.75

Koefisien pengaliran gabungan :

otal Bahu Bahu Aspal Aspal Gab. A A C A C C T     = 0099 , 0 0036 , 0 1 . 0 0063 , 0 7 . 0    = 0,482

 Debit yang masuk ke saluran tepi jalan dari : Aspal dan bahu

A I C 3.6 1 Q    0,0099 940 , 1063 0,482 3.6 1 Q    = 1,410 m3/dt

Perhitungan dimensi saluran tepi jalan :

Saluran tepi jalan ini direncanakan dibentuk dengan menggunakan material lempung padat, maka penampang saluran yang direncanakan berbentuk trapesium. Kecepatan saluran yang diijinkan 1.1 m/dt.

 Luas penampang saluran rencana v Q F 1.1 1,410  = 1,282 m2

Dengan kemiringan talud 1:1, maka direncanakan lebar saluran b = 0,8h.

 Tinggi muka air (h) :

F=h(b+m.h) = h(0.3h+1.h) = 0.8h2+h2 = 1,8h2 Sehingga : 1,8 F h 1,8 1,282  = 0,84 m ≈ 0,9 m Lebar b = 0,8h = 0,8 . 0,84 = 0,672 m ≈ 0,7 m  Tinggi jagaan (w) w 0,5h  0,50,9= 0,67m

 Tinggi total saluran (htotal) = h+w = 0,9+ 0,67 = 1,57 m ≈ 1,6 m  Lebar atas saluran (batas) = bpakai+(2 . m. hpakai)

= 0,7+ (2 . 1 . 0,9)

= 2,5 m  Luas penampang total saluran (A) :

bpakai batas

21 hpakai

A   

0,9 2 1 2,5 7 , 0 A    = 0,79 m2

Untuk mempernudah dalam pelaksanaan di lapangan, maka dimensi saluran tepi jalan pada sebelah kiri dan kanan jalan dibuat sama.

Untuk selengkapnya, perhitungan saluran tepi per segmen jalan dengan menggunakan program Microsoft Excel dapat dilihat pada Tabel 4.18.

Tabel 4.18. Perhitungan Saluran Drainase

1.6. PERHITUNGAN GALIAN DAN TIMBUNAN JALAN

Untuk menghitung volume galian dan timbunan jalan, dalam Tugas Akhir ini jalan dibagi menjadi beberapa segmen yaitu per 100 meter, sesuai dengan gambar potongan melintang jalan yang juga diambil setiap 100 meter. Untuk bagian lereng diambil kelandaian 1:2

(5)

5 dengan asumsi menggunakan tanah asli sesuai dengan Spesifikasi Penguatan Tebing (NO.11 /S/BNKT/ 1991, Direktorat Jenderal Bina Marga Direktorat Pembinaan Jalan Kota). Dan untuk perhitungan luas galian dan timbunan ini diambil dari pengukuran luas dari gambar dalam program AutoCAD. Dan berikut ini adalah perhitungan galian dan timbunan untuk segmen (STA 0+200 s.d 0+300).

 Pada gambar pot. melintang STA 0+200, didapat :

Luas galian = 0,00 m2 aktual Luas Timbunan = 0,00 m2 aktual

 Pada gambar pot. melintang STA 0+300, didapat :

Luas galian = 0.00 m2 aktual Luas Timbunan = 40,00 m2 aktual  Perhitungan galian :

Luas galian rata-rata segmen (STA 0+200 s.d 0+300)

2

0

0

A

rata-rata

= 0,00 m2

Volume galian segmen (STA 0+200 s.d 0+300)

L

A

Vol

galian

ratarata

0

1

00

= 0,00 m3  Perhitungan timbunan :

Luas timbunan rata-rata segmen (STA 0+200 s.d 0+300)

2

00

,

40

00

,

0

A

rata-rata

= 20,00 m2

Volume timbunan segmen (STA 0+200 s.d 0+300)

L

A

Vol

timbunan

ratarata

20

,

00

1

00

= 2000,00 m3

Untuk selengkapnya, perhitungan volume galian dan timbunan per segmen jalan dengan menggunakan program Microsoft Excel dapat dilihat pada

4.7. PERHITUNGAN BIAYA PEKERJAAN Perhitungan biaya pekerjaan didapat dari volume pekerjaan dikalikan dengan harga satuan masing-masing pekerjaan. Perhitungan biaya ini dihitung berdasarkan daftar harga satuan yang didapatkan dari PT.Mitra Mandiri Konsultama. Adapun berikut ini urutan pekerjaan dan langkah-langkah perhitungannya.

1. Pekerjaan Tanah  Galian Tanah

Galian tanah dilakukan pada tanah eksisting untuk mendapatkan elevasi tanah sesuai dengan elevasi rencana. Dan dari hasil perhitungan galian dan timbunan didapatkan volume galian sebesar 789141,4 m3.

 Timbunan Tanah

Di samping pekerjaan galian tanah, untuk mendapatkan elevasi tanah sesuai dengan elevasi

rencana, juga dilakukan pekerjaan timbunan dengan menggunakan tanah pilihan. Dan dari hasil perhitungan galian dan timbunan didapatkan volume timbunan sebesar 712548,98 m3.

2. Pekerjaan Perkerasan Jalan

 Pekerjaan Lapis Pondasi Bawah Sirtu Kelas A Sesuai dengan perencanaan tebal perkerasan, pada perencanaan jalan ini digunakan lapis pondasi bawah berupa sirtu kelas A setebal 10 cm. Volume dari lapis pondasi bawah ini adalah sebagai berikut :

Volume = Tebal sirtu x Lebar jalur x Panjang Jalan

= 0.09 x 7 x 23000 = 14490 m3

 Pekerjaan Lapis Pondasi Atas Batu Pecah Kelas A

Sesuai dengan perencanaan tebal perkerasan, pada perencanaan jalan ini digunakan lapis pondasi bawah berupa batu pecah kelas A setebal 20 cm. Volume dari lapis pondasi bawah ini adalah sebagai berikut :

Volume = Tebal batu pecah xLebar jalur x Panjang Jalan

= 0.20 x 7 x 23000 = 32200 m3

 Pekerjaan Lapis Permukaan Laston MS 590 Sesuai dengan perencanaan tebal perkerasan, pada perencanaan jalan ini digunakan lapis permukaan berupa Laston MS 744 kg setebal 10cm. Volume dari lapis pondasi bawah ini adalah sebagai berikut :

Volume = Tebal laston x Lebar jalur x Panjang Jalan

= 0,10x 7 x 23000 = 16100 m3 3. Pekerjaan Drainase

Saluran samping jalan ini menggunakan saluran yang terbuat dari tanah asli, dengan bentuk trapesium sepanjang 23 km. Volume galian untuk saluran drainase adalah :

Ruas kiri :

Volume = Luas penampang saluran x pjg saluran = 0,22 x 23000

= 5060 m3 Ruas kanan :

Volume = Luas penampang saluran x pjg saluran = 0,22 x 23000

= 5060 m3

Volume total =5060 m3 + 5060 m3 = 10120 m3. Dari perhitungan volume pekerjaan diatas, dapat ditentukan anggaran biaya tiap-tiap pekerjaan dengan mengalikan masing-masing volume pekerjaan dengan masing-masing harga satuan pekerjaan.

(6)

Gambar

Tabel 4.14 Perhitungan Daerah Kebebasan Samping
Tabel 4.15. Perhitungan Pelebaran Perkerasan Jalan
Tabel 4.18. Perhitungan  Saluran Drainase

Referensi

Dokumen terkait

Hishshah ( ) adalah tenggang waktu atau jarak yang harus dipertimbangkan dari kedudukan benda langit ke benda langit lainnya, yakni busur pada falak Bulan

Maka dengan alas an kemanfaatan bagi kehidupan masyarakat banyak penydidik melakukan penyitaan terhadap harta yang bukan hasil dari korupsi maupun tindak pidana

Sebagai ringkasan sistem interval kerja dan istirahat dan spesifikasi bioenergetic dapat dijabarkan sebagai berikut (Bompa, 2009: 105):.. Bertolak dari hal di atas,

Berdasarkan dari penelitian ini kebiasaan jajan murid SDN Banjarbaru Kota 1 (GS) kelas 4 dan 5 yang pengetahuan kurang dikarenakan ketidaktahuan tentang bahan

Telah dilakukan tindak lanjut atas sebagian besar pengaduan pelayanan untuk perbaikan kualitas pelayananc. Telah dilakukan tindak lanjut atas sebagian kecil pengaduan pelayanan

ihsanat dari-Nya di dalam suatu kesempatan bagi kita disaat kita bersimpuh dibawah kekuasaan-Nya, ketika shalat lima kali sehari. Bahkan jika didalam shalat

Di dunia yang terbagi ke dalam dua sistim, satu-satunya prinsip yang tepat dan masuk akal tentang hubungan-hubungan internasional adalah prinsip koeksistensi secara damai di

Dari defisini tersebut dapat diketahui bahwa akreditasi perpustakaan sekolah merupakan kegiatan untuk menilai kualitas sebuah perpustakaan sekolah yang dilaksanakan oleh lembaga