Pengaruh karakteristik konsumen terhadap pembelian produk imitasi : studi kasus terhadap mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Sanata Dharma - USD Repository

123 

Teks penuh

(1)

i

SKRIPSI

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi

Program Studi Manajemen

Oleh :

Ika Prayutan Pandin NIM : 022214042

PROGRAM STUDI MANAJEMEN

FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

(2)
(3)
(4)

iv

HALAMAN PERSEMBAHAN

SKRI PSI I NI DI TUJUKA N UNTUK :

Tuha n Ye sus ya ng se la lu se t ia m e lind ung i d a n m e m b e rka t iku..

Pa pa d a n Ma ma ku ya ng se la lu m e nc int a iku d a n m e ng ua t ka n a ku, se m o g a Tuha n Ye sus se la lu m e m b e rka t i ka lia n..

skrip si ini m e rup a ka n t a nd a m a t a ya ng kup e rse m b a hka n b a g i

ka lia n.

Ke lua rg a ke c ilku, Ma s Aris t e rc int a d a nj a g o a n ke c ilku Fre de ric k

I Lo v e Yo u so m uc h..

Adik-a dikku t e rsa ya ng te rim a ka sih unt uk d o a d a n d ukung a n ka lia n.

(5)

v

Te m a n..

Jika ha ri ini t a m p a k m urung d a n t a k a d a ha ra p a n, b e rdoala h.. Bia rka n se m ua it u b e rla lu d a n b ia rka nla h Tuha n m a suk..

I m a n d a n ke b e ra nia n se j a t i sa m a d e ng a n la ya ng a n,

A ng in ya ng m e ne rj a ng nya

j ust ru m e ng a ng ka t nya le b ih t ing g i..

Te t a p i o ra ng -o ra ng ya ng m e na nt i-na nt ika n Tuha n

m e nd a p a t ke kua t a n b a ru : m e re ka se um p a m a ra j a w a li ya ng na ik

t e rb a ng d e ng a n ke kua t a n sa ya p nya ; m e re ka b e rla ri d a n t id a k

m e nj a d i le su, m e re ka b e rj a la n d a n t id a k m e nj a d i le la h..

(Ye sa ya 40:31)

(6)

vi

Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam kutipan dan daftar pustaka, sebagaimana layaknya karya ilmiah.

Yogyakarta, Januari 2007 Penulis

Ika Prayutan Pandin

(7)

vii

Ika Prayutan Pandin Universitas Sanata Dharma

Yogyakarta 2007

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh karakteristik konsumen terhadap pembelian dan loyalitas pada produk imitasi. Jenis penelitian ini adalah studi kasus terhadap Mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Sanata Dharma.

Sampel yang diambil dalam penelitian ini adalah para Mahasiswa Fakultas Ekonomi yaitu sebanyak 100 orang. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah kuesioner dan dokumentasi. Teknik analisis data yang dipergunakan adalah chi square dan koefisien kontingensi.

Dari analisis data yang dilakukan, diketahui bahwa kebanyakan mahasiswa yang menjadi responden termasuk dalam kategori dewasa, berpenghasilan rendah, gaya hidup sederhana, berkepribadian selektif, tingkat pembelian rendah, dan loyalitas yang rendah. Karakteristik usia, pendapatan, gaya hidup, dan kepribadian berpengaruh signifikan terhadap tingkat pembelian dan loyalitas. Karakteristik gaya hidup paling berpengaruh terhadap tingkat pembelian, sedangkan karakteristik usia paling berpengaruh terhadap tingkat loyalitas pada produk imitasi.

(8)

viii

THE INFLUENCE OF CONSUMER CHARACTERISTIC

TO PURCHASING OF DUMMY PRODUCT

A Case Study to Faculty of Economics Student Sanata Dharma University

Ika Prayutan Pandin Sanata Dharma University

Yogyakarta 2007

The aim of this research was to know the influence of consumer characteristic to loyalty and purchasing at dummy product. This research type was case study to Faculty of Economics Student of Sanata Dharma University.

The sample taken in this research was of Faculty of Economics Students as many as 100 people. Data collecting technique that applied was documentation and questionnaire. Data analytical technique that utilized is Chi Square and Contingency Coefficient.

The research found that most student becoming respondent included in adult category, low production, simple life style, selective personality, level of low purchasing, and loyalty is low. Age, earnings, life style, and personality characteristic had a significant effect to level of loyalty and purchasing. Life style characteristic had an effect to level of purchasing, while age characteristic had the most significant effect to level of loyalty at dummy product.

(9)

ix

diajukan untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar sarjana Ekonomi Program Studi Manajemen Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Penulis sangat menyadari bahwa dalam penyusunan skripsi ini, penulis banyak mendapatkan dukungan dan bantuan dari berbagai pihak. Pada kesempatan ini penulis ingin secara khusus menyampaikan terimakasih kepada :

1. Bapak Drs. Alex Kahu Lantum, M.S., selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Dosen Pembimbing I yang dengan sabar membimbing serta memberikan pengarahan kepada penulis.

2. Bapak Drs. L. Bambang Harnoto, M.Si., selaku Dosen Pembimbing II yang telah meluangkan banyak waktu untuk membimbing dan mengarahkan penulis.

3. Bapak Drs. G. Hendra Purwanto, M.Si., selaku Kepala Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Sanata Dharma.

4. Semua dosen di Fakultas Ekonomi yang pernah memberikan kuliah dan membagi banyak ilmu yang bermanfaat.

5. Papa dan mamaku tersayang, terimakasih untuk semua doa dan dukungan yang selama ini selalu menguatkan penulis, juga terimakasih atas kesempatan yang diberikan kepada penulis untuk menyelesaikan studi ini. 6. Mas Aris tercinta, terimakasih untuk semua dukungan, dan semangat yang

(10)

x

7. Jagoan kecilku Frederick, terimakasih karena sudah memberikan arti hidup yang sesungguhnya.

8. Adik-adikku tersayang Nelis, Adi, Siska dan Putri yang memberikan doa dan dukungannya.

9. Keluarga di Wates (Mbah Kakoeng n’ Poetri, Om Kahono sekeluarga, Om Gandoenk sekeluarga) terimakasih atas doa dan dukungannya.

10. Teman-temanku Adek, Deasy, Dewi, Etha, Indri, Ika, Ira, Komang, Oky, Retno, Santi, Tyas, Uthi, Wisney “03”, Yandi, teman-teman KKP (Juni_06), dan semua teman-teman seperjuangan yang tidak bisa disebutkan satu persatu terutama Manajemen angkatan 2002.

11. Seluruh staf karyawan/karyawati FE yang selama ini telah banyak membantu penulis.

Yogyakarta, 24 Januari 2007 Penulis

Ika Prayutan Pandin

DAFTAR ISI

(11)

xi

HALAMAN MOTO ... v

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA... vi

ABSTRAK ... vii

ABSTRACT... viii

KATA PENGANTAR... ix

DAFTAR ISI... xi

DAFTAR GAMBAR ... xiv

DAFTAR TABEL ... xv

BAB I. PENDAHULUAN A. Latar belakang Masalah ... 1

B. Rumusan Masalah... 3

C. Batasan Masalah... 4

D. Tujuan Penelitian... 5

E. Manfaat Penelitian... 5

F. Sistematika Penulisan... 6

BAB II. LANDASAN TEORI A. Kebutuhan dan Keinginan Pelanggan... 8

B. Pengertian Pemasaran ... 8

C. Pengertian Produk ... 8

(12)

xii

E. Loyalitas Merek... 9

F. Karakteristik Konsumen... 9

G. Definisi Kualitas... 11

H. Kepuasan dan Loyalitas Konsumen... 11

I. Klasifikasi Produk ... 13

J. Kerangka Pemikiran Teoritis ... 14

K. Perumusan Hipotesis ... 16

BAB III. METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian... 17

B. Waktu dan Lokasi Penelitian... 17

C. Subjek dan Objek Penelitian... 17

D. Variabel Penelitian... 18

E. Definisi Operasional... 18

F. Data yang dibutuhkan... 18

G. Populasi dan Sampel ... 20

H. Teknik Pengambilan Sampel... 20

I. Metode Pengumpulan Data ... 20

J. Teknik Pengujian Instrumen ... 21

K. Teknik Analisis Data ... 23

BAB IV. GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN A. Sejarah Berdirinya Universitas Sanata Dharma ... 31

B. Visi dan Misi Universitas Sanata Dharma ... 34

(13)

xiii

C. Hasil Pengujian Chi Square... 49

D. Pembahasan... 69

BAB VI. KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan... 75

B. Keterbatasan Penelitian... 76

C. Saran ... 76

DAFTAR PUSTAKA ... 79 LAMPIRAN

(14)

xiv

Gambar 2.1. Kerangka Pemikiran Teoritis ... 14 Gambar 5.1. Signifikansi koefisien chi square berdasarkan usia (Tk

Pembelian) ... 51 Gambar 5.2. Signifikansi koefisien chi square berdasarkan usia (Loyalitas) ... 54 Gambar 5.3. Signifikansi Koefisien chi square berdasarkan pendapatan (Tk

Pembelian) ... 56 Gambar 5.4. Signifikansi koefisien chi square berdasarkan pendapatan

(loyalitas)... 58 Gambar 5.5. Signifikansi koefisien chi square berdasarkan gaya hidup (Tk

Pembelian) ... 61 Gambar 5.6. Signifikansi koefisien chi square berdasarkan gaya hidup

(Loyalitas) ... 63 Gambar 5.7. Signifikansi koefisien chi square berdasarkan kepribadian (Tk

Pembelian) ... 66 Gambar 5.8. Signifikansi koefisien chi square berdasarkan kepribadian

(Loyalitas) ... 68

DAFTAR TABEL

(15)

xv

Tabel 5.5 Distribusi Frekuensi Pembelian ... 47

Tabel 5.6 Distribusi Frekuensi Loyalitas ... 47

Tabel 5.7 Hasil Uji Validitas Instrumen... 48

Tabel 5.8 Hasil Reliabilitas Instrumen... 49

Tabel 5.9 Tabulasi Silang Usia dengan Tingkat Pembelian... 50

Tabel 5.10 Tabulasi Silang Usia dengan Tingkat Loyalitas... 53

Tabel 5.11 Tabulasi Silang Pendapatan dengan Tingkat Pembelian ... 55

Tabel 5.12 Tabulasi Silang Pendapatan dengan Tingkat Loyalitas ... 57

Tabel 5.13 Tabulasi Silang Gaya Hidup dengan Tingkat Pembelian ... 60

Tabel 5.14 Tabulasi Silang Gaya Hidup dengan Tingkat Loyalitas ... 62

Tabel 5.15 Tabulasi Silang Kepribadian dengan Tingkat Pembelian... 65

(16)

1 BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Di era globalisasi ekonomi saat ini, telah menciptakan bentuk persaingan di dunia bisnis yang kian sulit dan sempit. Hal ini disebabkan kompetisi yang semakin tinggi, teknologi yang semakin canggih, peraturan dan perundang- undangan yang semakin ketat, serta pelanggan yang semakin berpengetahuan. Faktor-faktor inilah yang menjadi salah satu penyebab lahirnya perusahaan yang memproduksi produk imitasi.

Bagi kawula muda misalnya, menggunakan suatu produk yang bermerek sudah menjadi tradisi atau syarat untuk tampil gaul dan berbeda dari yang lain. Namun ada pula diantara mereka yang tidak terlalu memperhatikan merek melainkan gaya atau trend yang sedang berjalan saat ini. Bagi mereka yang tidak memperhitungkan merek pada saat memilih barang, mereka cenderung tidak memperhitungkan kualitas produk melainkan model atau trend yang ada pada barang tersebut.

Dari penilaian inilah yang melahirkan banyak perusahaan baru di mana mereka tampil menjadi peniru bagi perusahaan lain yang sedang mengalami pertumbuhan dan produknya menjadi pusat trend model.

(17)

yang lebih tertarik pada produk imitasi dari pada produk yang original, karena tergiur oleh harganya. Contohnya pemalsuan produk dari perancis dengan merek “CK” (Calvin Klein) adalah salah satu contoh merek berkelas yang sudah memproduksi berbagai produk untuk fashion misalnya : Pakaian, Sepatu, Tas, Jam tangan/arloji, Parfum, Kacamata, Ikat pinggang, Dompet, Saputangan hingga Underwear untuk pria dan wanita ini sudah banyak yang produknya ditiru oleh perusahaan lain dan dijual dengan menggunakan merek yang sama tetapi dengan kualitas dan harga yang jauh lebih rendah dari produk aslinya.

Manusia atau individu memiliki karakteristik pribadi yang berbeda dan universal. Karena sifatnya yang universal, maka sudah pasti menyebabkan keberagaman selera konsumen terhadap produk yang beredar dipasaran. Untuk menanggapi adanya keberagaman selera tersebut, maka pasar dituntut untuk sanggup memenuhi kebutuhan dari berbagai karakteristik konsumen.

Adanya berbagai macam tuntutan konsumen tersebut di atas, pasar, mau tidak mau harus mampu melakukan inovasi- inovasi yang diharapkan sanggup mencukupi keberagaman selera konsumen. Salah satu bentuk inovasi yang berkonotasi negatif yaitu dengan memproduksi produk atau barang imitasi.

(18)

3

penghasilan sendiri dan dengan keterbatasan ekonomi yang juga disertai keinginan yang tinggi untuk selalu mengikuti perkemb angan fashion, menjadikan mereka semakin dekat dengan produk imitasi.

Untuk penelitian lebih lanjut penulis menggunakan beberapa karakteristik yang akan menjadi alat ukur dalam penelitian ini. Misalnya usia, pekerjaan, tingkat pendapatan, gaya hidup, dan kepribadian. Namun karena mahasiswa belum memiliki penghasilan sendiri, maka penulis mengukurnya berdasarkan jumlah uang saku mahasiswa yang diterima setiap bulannya.

Berdasarkan latar belakang dan permasalahan di atas, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul Hubungan Karakteristik Konsumen Terhadap Pembelian Produk Imitasi

(studi kasus terhadap mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Sanata Dharma).

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukakan, maka penulis menentukan rumusan masalah yang akan diteliti lebih lanjut sebagai berikut :

1. Apakah karakteristik konsumen berpengaruh terhadap tingkat pembelian produk imitasi ?

(19)

C. Batasan Masalah

Dalam penelitian ini penulis telah menentukan batasan-batasan masalah yang akan diteliti lebih lanjut yakni :

1. Karakteristik dalam penelitian ini meliputi : a. Usia.

b. Tingkat pendapatan. c. Gaya hidup.

d. Kepribadian.

2. Untuk mengukur tingkat pembelian dan loyalitas seorang mahasiswa penulis memberikan batasan-batasan pada :

a. Tingkat pembelian produk imitasi akan diukur berdasarkan frekuensi pembelian dalam kurun waktu setahun, yaitu mahasiswa yang

melakukan pembelian lebih dari lima kali dalam setahun (dengan jenis produk yang berbeda-beda) maka ia dikatakan memiliki tingkat

pembelian tinggi. Sebaliknya mahasiswa yang melakukan pembelian kurang dari lima kali dalam setahun (untuk produk dengan jenis yang berbeda-beda) dikatakan memiliki tingkat pembelian rendah.

b. Tingkat loyalitas pada produk imitasi diukur berdasarkan jawaban responden pada kuesioner yang menunjukkan sikap loyalnya terhadap produk imitasi.

(20)

5

produk yang sudah banyak dipalsukan dan beredar bebas di pasaran misalnya : Pakaian, Sepatu, Tas, Jam tangan/arloji, dan Parfum.

4. Untuk kuesioner penulis hanya memberikan 2 alternatif jawaban saja, yaitu berupa pilihan ganda a dan b. hal ini dilakukan agar penulis dapat memperoleh jawaban yang bersifat tegas dan konsisten dari setiap jawaban responden.

D. Tujuan Penelitian

Penelitian ini memiliki beberapa tuj uan, antara lain :

1. Untuk mengetahui apakah karakteristik konsumen berpengaruh terhadap tingkat pembelian produk imitasi.

2. Untuk mengetahui apakah karakteristik konsumen berpengaruh terhadap loyalitas konsumen pada produk imitasi.

E. Manfaat Penelitian

Manfaat- manfaat yang dapat diperoleh dari penelitian ini adalah : 1. Bagi Perusahaan Produk Imitasi

Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan bagi perusahaan untuk melihat peluang dan ancaman dalam memasarkan produk imitasi.

2. Bagi Universitas

(21)

3. Bagi Penulis

Penelitian ini dapat menjadi kesempatan bagi penulis untuk menerapkan teori-teori yang telah diperoleh selama masa kuliah serta menambah wawasan penulis.

F. Sistematika Penulisan

Skripsi ini terdiri dari enam Bab, yaitu pendahuluan, landasan teori, metode penelitian, gambaran umum perusahaan, analisis dan pembahasan, serta kesimpulan dan saran.

Bab I. Pendahuluan

Pada bab pendahuluan akan dijelaskan mengenai latar belakang masalah, rumusan masalah, batasan-batasan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan sistematika penulisan.

Bab II. Landasan Teori

Pada bab landasan teori akan dijelaskan mengenai teori-teori yang berkaitan dengan permasalahan-permasalahan dan konsep yang mendasari perumusan masalah.

Bab III. Metode Penelitian

(22)

7

Bab IV. Gambaran Umum perusahaan

Pada gambaran umum perusahaan akan dikemukakan mengenai sejarah berdirinya Universitas Sanata Dharma, visi dan misi Universitas Sanata Dharma, dan Tujuan Fakultas Ekonomi Sanata Dharma.

Bab V. Analisis Data

Pada bab analisis data akan dijelaskan analisis data beserta pembahasannya.

Bab VI. Kesimpulan dan Saran

(23)

8 BAB II

LANDASAN TEORI

A. Kebutuhan dan Keinginan Pelanggan

Menurut Boyd, Walker dan Larreche (2000: 6) Kebutuhan merupakan kekuatan dasar yang mendorong pelanggan untuk ambil bagian dan terlibat dalam pertukaran. Sedangkan Keinginan adalah cerminan hasrat atau referensi seseorang terhadap cara-cara tertentu dalam memuaskan kebutuhan dasar.

B. Pengertian Pemasaran

Menurut Kotler dan Armstrong (2001: 6) “Pemasaran adalah pemenuhan kepuasan pelanggan demi suatu keuntungan. Dua tujuan utama pemasaran adalah menarik pelanggan baru dengan menjanjikan nilai superior dan mempertahankan pelanggan saat ini dengan memberikan kepuasan.”

C. Pengertian Produk

Produk adalah segala sesuatu yang dapat ditawarkan ke pasar untuk memuaskan kebutuhan atau keinginan. Konsep produk tidak terbatas pada objek fisik – sesuatu yang dapat memuaskan kebutuhan dapat disebut produk (Kotler dan Armstrong, 2001: 11).

D. Pengertian Produk Imitasi

(24)

9

1. Produk yang mempunyai persamaan pada pokoknya atau keseluruhannya dengan merek milik pihak lain yang sudah terdaftar lebih dulu untuk barang dan/atau jasa yang sejenis

2. Produk yang mempunyai persamaan pada pokoknya atau keseluruhannya dengan merek yang sudah terkenal milik pihak lain untuk barang dan/atau jasa sejenis.

E. Loyalitas Merek

Pengertian loyalitas merek (Rangkuti, 2004: 60) adalah ukuran dari kesetiaan konsumen terhadap suatu merek. Loyalitas merek merupakan inti dari brand equity yang menjadi gagasan sentral dalam pemasaran, karena hal ini merupakan satu ukuran keterkaitan seorang pelanggan kepada sebuah merek.

F. Karakteristik Konsumen

Menurut Philip Kotler (2005 : 210) ada empat faktor yang dapat mempengaruhi perilaku konsumen, yaitu : Faktor Budaya, Faktor Sosial, Faktor Pribadi, dan Faktor Psikologis.

Namun berdasarkan judul penelitian ini penulis hanya akan meneliti perilaku konsumen berdasarkan Faktor Pribadi (Karakteristik Pribadi).

(25)

1. Usia dan Tahap Siklus Hidup : Orang membeli barang dan jasa yang berbeda-beda sepanjang hidupnya. Selera orang terhadap barang dan jasa berubah sesuai dengan usia.

2. Pekerjaan dan Lingkungan Ekonomi : Pekerjaan seseorang juga mempengaruhi pola konsumsinya. Pilihan produk sangat dipengaruhi oleh keadaan ekonomi seseorang : penghasilan yang dapat dibelanjakan, tabungan dan aktiva, utang, kemampuan untuk meminjam, dan sikap terhadap belanja atau menabung.

3. Gaya Hidup : Orang-orang yang berasal dari sub-budaya, kelas sosial, dan pekerjaan yang sama dapat memiliki gaya hidup yang berbeda. Gaya Hidup adalah pola hidup seseorang di dunia yang terungkap dalam aktivitas, minat, dan opininya. Gaya hidup menggambarkan “keseluruhan diri seseorang” yang berinteraksi dengan lingkungannya.

(26)

11

beradaptasi. Merek juga memiliki kepribadian, dan bahwa konsumen mungkin memilih merek yang kepribadiannya cocok dengan kepribadian dirinya.

G. Definisi Kualitas

Definisi kualitas menurut W. Edwards Deming, Philip B. Crosby dan Joseph M. Juran (Zulian Yamit, 2004: 7) adalah :

Deming : Mendefinisikan kualitas adalah apapun yang menjadi kebutuhan dan keinginan konsumen.

Crosby : Mempersepsikan kualitas sebagai nihil cacat, kesempurnaan dan kesesuaian terhadap persyaratan.

Juran : Mendefinisikan mutu sebagai kesesuaian terhadap spesifikasi.

H. Kepuasan dan Loyalitas Konsumen

Menurut Umar (2003: 15) : Untuk mengukur kepuasan pelanggan ada enam konsep yang umum digunakan, yaitu :

1. Kepuasan pelanggan keseluruhan. Caranya, yaitu dengan menanyakan pelanggan mengenai tingkat kepuasan atas jasa yang bersangkutan serta menilai dan membandingkan dengan tingkat kepuasan pelanggan keseluruhan atas jasa yang mereka terima dari para pesaing.

(27)

pelanggan. Ketiga, meminta pelanggan menilai jasa pesaing berdasarkan item- item spesifik yang sama. Keempat, meminta pelanggan menentukan dimensi-dimensi yang menurut mereka ada di kelompok penting dalam menilai kepuasan pelanggan keseluruhan.

3. Konfirmasi harapan. Pada cara ini, kepuasan tidak diukur langsung, namun disimpulkan berdasarkan kesesuaian/ketidaksesuaian antara harapan pelanggan dengan kinerja aktual jasa yang dijual perusahaan.

4. Minat pembeli ulang. Kepuasan pelanggan diukur berdasarkan apakah mereka akan mengadakan pembelian ulang atas jasa yang sama yang dikonsumsinya.

5. Kesediaan untuk merekomendasi. Cara ini merupakan ukuran yang penting, apalagi bagi jasa yang pembelian ulangnya relative lama, seperti jasa pendidikan tinggi.

6. Ketidakpuasan pelanggan. Dapat dikaji misalnya dalam hal komplain, biaya garansi, word of mouth yang negatif, serta defections.

Dan untuk loyalitas pelanggan sering dihubungkan dengan loyalitas merek. Yaitu :

(28)

13

b. Perspektif sikap. Bahwa pembelian ulang tidak dapat menjelaskan apakah konsumen benar-benar lebih menyukai merek tertentu dibandingkan dengan merek lain atau karena berada dalam situasi dipengaruhi oleh aspek lain. Oleh karena itu, dalam pengukuran loyalitas merek, sikap pelanggan terhadap merek juga harus teliti. Bila sikap pelanggan lebih positif (favorable) terhadap merek tertentu dibangdingkan dengan merek- merek lain, maka ia dikatakan loyal terhadap merek yang bersangkutan.

I. Klasifikasi Produk

Menurut Kotler dan A.B. Susanto (2001: 564) produk dapat diklasifikasikan menjadi tiga kelompok menurut ketahanan atau keberwujudannya :

1. Barang Habis dipakai : Barang habis dipakai adalah barang berwujud yang biasanya habis dikonsumsi dalam satu atau beberapa kali penggunaan. Misalnya seorang pembeli mungkin secara rutin membeli kecap ABC, pasta gigi Ciptadent, dan kue Selamat.

2. Barang Tahan Lama : adalah barang berwujud yang biasanya tidak habis setelah berulang kali digunakan. Misalnya lemari pendingin, mesin, dan pakaian. Produk-produk tahan lama biasanya membutuhkan penjualan langsung dan pelayanan marjin yang lebih tinggi, dan lebih banyak garansi dari penjual.

(29)

dipisahkan, variabel, dan dapat habis. Akibatnya jasa biasanya membutuhkan pengendalian mutu yang lebih tinggi, kredibilitas pemasok, dan kemampuan penyesuaian.

J. Kerangka Pemikiran Teoritis

Pengaruh karakteristik pribadi terhadap penggunaan produk imitasi dalam penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut :

Gambar 2.1

Kerangka Pemikiran Teoritis

Berdasarkan kerangka pemikiran teoritis pada baga n di atas, pengaruh dari karakteristik konsumen terhadap penggunaan produk imitasi dapat dijelaskan sebagai berikut :

1. Usia

Faktor usia sangat mempengaruhi pembelian produk imitasi, karena kebutuhan dan selera seseorang akan berubah sesuai dengan usia. Dalam penelitian ini, penulis ingin membandingkan usia dari para

Usia Pekerjaan Tk. Pendapatan

Gaya hidup Kepribadian

Karakteristik konsumen

(30)

15

responden yang bisa mempengaruhi tingkat pembelian terhadap produk imitasi.

2. Pekerjaan

Pekerjaan seseorang akan mempengaruhi barang dan jasa yang dibelinya. Karena semakin tinggi jabatan atau pekerjaan seseorang tentu ia akan semakin berfikir panjang sebelum mengkonsumsi produk imitasi. 3. Tingkat pendapatan

Tingkat pendapatan akan sangat mempengaruhi pilihan produk. Penggunaan produk imitasi akan meningkat apabila keadaan okonomi seseorang sedang me nurun, dalam hal ini faktor harga yang menjadi pertimbangan dalam memilih produk yang akan dikonsumsinya. Karena yang menjadi obyek dalam penelitian ini adalah mahasiswa di mana mereka belum memiliki pendapatan sendiri, maka penulis mengukur tingkat pendapatan dari penghasilan atau pendapatan orang tua mereka yang akan mempengaruhi jumlah uang saku mahasiswa.

4. Gaya hidup

(31)

5. Kepribadian

Tiap orang memiliki kepribadian yang berbeda dan ini akan mempengaruhi perilaku seorang konsumen ketika akan memilih suatu produk yang akan dikonsumsinya. Seseorang yang memiliki kepribadian dan konsep diri selektif akan memerlukan waktu yang cuk up lama dalam mempertimbangkan untuk mengkonsumsi produk imitasi.

K. Perumusan Hipotesis

Berdasarkan penelitian ini, jawaban sementara yang saya temukan antara lain :

1. Karakteristik konsumen berpengaruh terhadap tingkat pembelian produk imitasi.

(32)

17 BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan adalah studi kasus, yakni analisis atau deskripsi secara menyeluruh mengenai situasi atau kondisi suatu obyek secara spesifik. Analisis yang dimaksud dalam penelitian ini adalah analisis mengenai kondisi mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Sanata Dharma yang akan di analisis secara lebih spesifik.

B. Waktu dan lokasi penelitian

1. Waktu penelitian : Desember 2006

2. Lokasi penelitian : Fakultas Ekonomi Universitas Sanata Dharma, Kampus II Mrican.

C. Subjek dan Objek penelitian

Subjek penelitian adalah orang yang memiliki kapabilitas dan kompetensi untuk dimintai keterangan dalam penelitian. Dalam penelitian ini yang menjadi subjek adalah Mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Sanata Dharma.

(33)

karakteristik konsumen terhadap penggunaan produk imitasi yang diperoleh melalui kuesioner.

D. Variabel Penelitian

1. Variabel bebas (independent) adalah : variabel yang mempengaruhi atau menjadi sebab timbulnya variabel terikat (dependent ).

Variabel bebas : ( X ) : Karakteristik konsumen

2. Variabel terikat (dependent) adalah : variabel yang dipengaruhi atau variabel yang menjadi akibat dari adanya variabel bebas (independent). Variabel terikat : ( Y1 ) : Pembelian

( Y2 ) : Loyalitas

E. Definisi Operasional

Karakteristik konsumen adalah faktor-faktor yang bisa mempengaruhi pola pikir konsumen dalam proses pengambilan keputusan, khususnya pada saat melakukan pembelian produk imitasi.

Karakteristik-karakteristik tersebut antara lain :

1. Usia : kebutuhan seseorang akan berubah sesuai dengan usia mereka. 2. Pekerjaan : jenis pekerjaan seseorang akan mempengaruhi barang dan jasa

yang dikonsumsinya.

(34)

19

4. Gaya hidup : setiap individu atau kosumen, memiliki gaya hidup yang berbeda-beda ( misalnya gaya hidup glamour ) dan ini bisa mempengaruhi jenis produk yang dikonsumsinya.

5. Kepribadian : setiap individu memiliki kepribadian yang berbeda-beda dan ini bisa mempengaruhi perilaku individu dalam menentukan jenis produk yang akan dikonsumsinya.

Produk imitasi adalah produk yang memiliki bentuk dan merek yang menyerupai produk aslinya secara fisik namun berbeda dalam segi kualitas dan harga.

Pembelian adalah keputusan seorang konsumen untuk melakukan pembayaran atas suatu produk yang diinginkannya. Dalam hal ini tingkat pembelian akan diukur berdasarkan frekuensi (berapa kali pembelian dilakukan dalam setahun) dan jumlah pembelian (berapa banyak/macam produk yang dibeli dalam setahun) terhadap produk imitasi, agar nantinya dapat diketahui apakah mahasiswa akan lebih memilih menggunakan produk imitasi daripada produk original atau sebaliknya.

(35)

F. Data yang dibutuhkan 1. Data Primer

Data primer adalah : data yang diperoleh langsung dari responden melalui kuesioner.

2. Data Sekunder

Data sekunder adalah data yang sud ah diolah lebih lanjut dan disajikan baik oleh pengumpul data primer atau pihak lain. Dalam hal ini berupa dokumentasi dari media massa dan media elektronik.

G. Populasi dan Sampel

Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Sanata Dharma. Sedangkan sampel dari penelitian ini adalah sebagian dari populasi yang dipilih secara kebetulan untuk mewakili Mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Sanata Dharma. Jumlah sampel yang diambil dalam penelitian ini sebanyak 100 orang.

H. Teknik Pengambilan Sampel

(36)

21

I. Metode Pengumpulan Data 1. Kuesioner

Sifat kuesioner yang digunakan adalah tertutup, yaitu teknik pengumpulan data dengan menggunakan daftar pertanyaan di mana responden hanya bisa memilih jawaban yang sudah tersedia. Kuesioner berisikan pertanyaan yang berhubungan dengan faktor-faktor yang dapat mempenga ruhi konsumen dalam membeli produk imitasi.

2. Dokumentasi

Dokumentasi yaitu teknik pengumpulan data dengan mempelajari dan menganalisis catatan-catatan yang berhubungan dengan obyek penelitian.

J. Teknik Pengujian Instrumen 1. Uji Validitas

Pengujian ini digunakan sebagai alat untuk mengukur valid tidaknya suatu kuesioner, yang berupa validitas empiris dengan menggunakan validitas internal. Valid yang berarti instrument tersebut dapat digunakan untuk mengukur apa yang seharusnya diukur, dengan rumus koefisien korelasi product moment dari Karl Pearson :

(37)

=

x jumlah alternatif jawaban pada keseluruhan pertanyaan. =

y jumlah total seluruh alternatif jawaban pada keseluruhan pertanyaan yang dipilih oleh seluruh responden.

=

n jumlah sampel uji coba.

Uji validitas ini adalah jika hasil r hitung > r tabel dengan tingkat kepercayaan 95% maka item pertanyaan kuesioner dinyatakan valid, sebaliknya jika r hitung < r tabel dengan tingkat kepercayaan 95% maka item pertanyaan kuesioner dianggap gugur.

2. Uji Reliabilitas

Uji reliabilitas menunjukkan suatu instrumen yang cukup dapat dipercaya untuk digunakan sebagai alat pengumpul data.

Untuk mengukur gejala reliabilitas digunakan teknik belah dua, yaitu membagi pertanyaan yang valid menjadi dua bagian, antara kelompok item yang yang bernomor ganjil dan genap. Untuk menguji reliabilitas digunakan rumus Spearman-Brown :

( )

r koefisien reliabilitas dengan taraf nyata 95 % =

xy

r koefisien korelasi antara item ganjil dan item genap

(38)

23

K. Teknik Analisis Data

1. Teknik analisis untuk pengkategorian variabel penelitian dilakukan dengan mengelompokkan responden dalam beberapa kelompok kategori sebagai berikut :

a. Usia

Untuk membedakan Usia, pengelompokannya (Super dalam Haditono, 2002: 262) dibagi atas “Dewasa” (usia 21 tahun ke atas) dan “Remaja” (usia 14-21 tahun).

b. Tingkat pendapatan

Dalam tingkat pendapatan yang akan diukur adalah besarnya jumlah uang saku, besarnya pendapatan orang tua (yang dianggap akan mempengaruhi jumlah uang saku yang di terima mahasiswa setiap bulannya), serta ada tidaknya anggaran khusus untuk berbelanja kebutuhan di luar kebutuhan pokok.

(39)

c. Gaya hidup

Untuk mengukur gaya hidup, penulis memberikan empat pertanyaan. Yaitu besarnya jumlah pengeluaran mahasiswa dalam sebulan, tipe responden (apakah ia termasuk tipe konsumen yang sering berbelanja atau tidak), di mana mereka biasanya menghabiskan waktu untuk bersantai atau berbincang-bincang dengan rekan seprofesi, dan berdasarkan cara mereka menghabiskan anggaran belanja mereka.

Skala pengukuran yang digunakan adalah skala Guttman (Scalogram) yaitu : skala yang digunakan untuk jawaban yang bersifat jelas (tegas) dan konsisten terhadap suatu permasalahan yang ditanyakan. Dalam penelitian ini alternatif jawaban hanya ada 2 dan dibuat dalam bentuk pilihan ganda. Jumlah pertanyaan sebanyak 4 buah pertanyaan, sedangkan untuk pemberian skor pada masing- masing jawaban responden menurut skala Guttman adalah : untuk jawaban a yang memiliki skor tertinggi bernilai (1) dan jawaban b yang memiliki skor terendah (0). Selanjutnya untuk analisis dilakukan seperti pada skala Likert.

d. Kepribadian

(40)

25

cakap dalam memilih produk sesuai dengan kebutuhan dan keadaannya saat ini. Sedangkan konsumen dikatakan tidak selektif apabila konsumen tersebut belum mampu membedakan dengan baik kualitas dari suatu produk, dan masih sering keliru dalam memutuskan produk apa yang akan dibelinya, sebab bagi kelompok ini ketika mereka hendak membeli suatu produk mereka hanya mengutamakan model/tampilan dari suatu produk sesuai trend yang sedang berjalan saat itu.

Skala pengukuran yang digunakan adalah skala Guttman (Scalogram) yaitu : skala yang digunakan untuk jawaban yang bersifat jelas (tegas) dan konsisten terhadap suatu permasalahan yang ditanyakan. Dalam penelitian ini alternatif jawaban hanya ada 2 dan dibuat dalam bentuk pilihan ganda. Jumlah pertanyaan sebanyak 1 buah pertanyaan, sedangkan untuk pemberian skor pada jawaban responden menurut skala Guttman : untuk jawaban a yang memiliki skor tertinggi bernilai (1) dan jawaban b yang memiliki skor terendah (0). Selanjutnya untuk analisis dilakukan seperti pada skala Likert.

e. Analisis tingkat pe mbelian terhadap produk imitasi

(41)

berapa macam/jenis produk imitasi yang dibeli dalam sekali pembelian.

Dari 8 pertanyaan ini diharapkan dapat menunjukkan tingkat pembelian mahasiswa, yang diukur berdasarkan frekuensi pembelian (berapa kali pembelian dilakukan) mahasiswa pada produk imitasi dalam setahun. Sehingga akhirnya dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa mahasiswa tersebut lebih memilih menggunakan produk imitasi atau produk original.

Skala pengukuran yang digunakan adalah skala Guttman (Scalogram) yaitu : skala yang digunakan untuk jawaban yang bersifat jelas (tegas) dan konsisten terhadap suatu permasalahan yang ditanyakan. Dalam penelitian ini alternatif jawabannya hanya ada 2 dan dibuat dalam bentuk pilihan ganda. Jumlah pertanyaan sebanyak 8 buah sedangkan untuk pemberian skor pada masing- masing jawaban responden menurut skala Guttman adalah : untuk jawaban a yang memiliki skor tertinggi bernilai (1) dan jawaban b yang memiliki skor terendah (0). Selanjutnya untuk analisis dilakukan seperti pada skala Likert.

f. Analisis tingkat loyalitas terhadap produk imitasi

(42)

27

mendatang. Ke 8 pertanyaan ini diharapkan dapat menunjukkan tingkat loyalitas responden terhadap produk imitasi.

Skala pengukuran yang digunakan adalah skala Guttman (Scalogram) yaitu : skala yang digunakan untuk jawaban yang bersifat jelas (tegas) dan konsisten terhadap suatu permasalahan yang ditanyakan. Dalam penelitian ini alternatif jawaban hanya ada 2 dan dibuat dalam bentuk pilihan ganda. Jumlah pertanyaan sebanyak 8 buah sedangkan untuk pemberian skor pada masing- masing jawaban responden menurut skala Guttman adalah : untuk jawaban a yang memiliki skor tertinggi bernilai (1) dan jawaban b yang memiliki skor terendah (0). Selanjutnya untuk analisis dilakukan seperti pada skala Likert.

2. Teknik analisis untuk menguji hipotesis serta menjawab rumusan masalah pertama dan kedua digunakan rumus Chi Square :

(

) (

2

) (

2

) (

2

)

2

...

Di mana cara menghitungnya adalah :

(43)

b. Memberikan interpretasi terhadap harga Chi Square. 1) Menentukan derajat kebebasan (df)=(k−1)(r−1)

=

r banyaknya kelompok baris =

k banyaknya kelompok kolom

2) Mencari dan mencocokkan dengan tabel nilai Chi Square dari

df yang sudah diketahui dengan taraf nyata (α)=5%.

3) Membuat kesimpulan setelah hasil perhitungan Chi Square ditemukan, mengenai perbedaan frekuensi observasi ( fo) dan frekuensi harapan (fh) dengan pengaruh karakteristik konsumen terhadap pembelian produk imitasi.

0

H diterima apabila χ2 ≤ χ2(α:k−1)

0

H ditolak apabila χ2 >χ2(α:k−1) Dengan ketentuan :

=

Ηo Tidak ada pengaruh antara karakteristik konsumen terhadap pembelian produk imitasi

=

Ηa Ada pengaruh antara karakteristik konsumen terhadap pembelian produk imitasi

(44)

29

Rumus yang akan digunakan untuk mencari koefisien kontingensi (Hartono, 2004: 108) adalah :

N

C

+

=

2 2

χ

χ

Di mana :

C= koefisien kontingensi

2

χ = chi kuadrat

N = jumlah sampel yang diteliti.

Selanjutnya untuk mengetahui keeratan hubungan antara variabel- variabel yang akan diukur, maka setelah kita mengetahui nilai C, langkah selanjutnya adalah membandingkan nilai C ini dengan nilai maksimum yang dimiliki sebagai pembanding. Artinya, semakin besar nilai C atau semakin dekat dengan nilai CMaks, maka hubungan yang terjadi antara 2 variabel yang diteliti menjadi semakin kuat. Begitu pula sebaliknya, semakin kecil nilai C, maka hubungan antara 2 variabel yang dianalisis akan menjadi semakin kurang erat (Rangkuti, 2004: 107). Rumus untuk menghitung nilai CMaks adalah :

M M CMaks= −1

Di mana Madalah banyaknya kategori yang paling kecil.

(45)
(46)

31 BAB IV

GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN

A. Sejarah Berdirinya Universitas Sanata Dharma

1. Latar Belakang Berdirinya Universitas Sanata Dharma

Gagasan untuk mendirikan Perguruan Tinggi Pendidikan Guru (PTPG) oleh Prof. Moh. Yamin, S.H selaku Menteri Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan RI tahun 1950-an disambut baik oleh para imam Katolik, terutama Ordo Societas Jesus (Serikat Yesus yang lazim disingkat S.J.) ketika itu Ordo ini telah membuka kursus-kursus B1, antara lain B1 Mendidik (Yayasan De Britto) di Yogyakarta yang dikelola ole h Pater H. Loeff, S.J. dan B1 Bahasa Inggris (Yayasan Loyola) di Semarang yang dikelola oleh pater W.J. Van der Meulen, S.J. dan Pater H. Bastiaanse, S.J.

Setelah mendapat dukungan dari Conggregatio de Propaganda Fide, Pater Kester yang menjabat sebagai Superior Misionaris Serikat Yesus menggabungkan kursus-kursus ini menjadi sebuah perguruan tinggi dan lahirlah PTPG Sanata Dharma pada tanggal 20 Oktober 1955 dan diresmikan oleh pemerintah pada tanggal 17 Desember 1955.

(47)

“Sanata Dharma” diciptakan oleh Pater K. Looymans, S.J. sebagai salah satu pejabat Departemen Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan di Kantor Wali Gereja Indonesia. Nama “Sanata Dharma” sebenarnya dibaca “Sanyata Dharma”, yang berarti “kebaktian yang sebenarnya” atau “pelayanan yang nyata”. Kebaktian dan pelayanan itu ditujukan kepada tanah air dan gereja (Pro Patria et Eclessia).

2. Perkembangan Selanjutnya

Agar dapat menyesuaikan diri dengan ketentuan pemerintah, dalam hal ini Kementrian Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan tentang perubaha n PTPG menjadi FKIP, maka PTPG Sanata Dharma pada bulan November 1958 berubah menjadi FKIP (Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan) Sanata Dharma dan merupakan bagian dari Universitas Katolik Indonesia cabang Yogyakarta. Pada masa FKIP ini Sanata Dharma berhasil memperoleh status DISAMAKAN dengan negeri berdasarkan SK Menteri PTIP No.1 / 1961 pada tanggal 6 Mei 1961 jo No. 77 / 1962 tanggal 11 Juli 1962. Diatas kertas Sanata Dharma memang merupakan bagian dari Universitas Katolik Indonesia, tetapi secara de facto FKIP Sanata Dharma tetap berdiri sendiri.

(48)

33

mengalami perkembangan yang meliputi banyak aspek, baik yang menyangkut perkembangan sarana, fisik, administrasi, sistem pengajaran atau kurikulum dan visi- misi kepada masyarakat. Misalnya, IKIP Sanata Dharma dipercaya pemerintah untuk mengelola Program Diploma I, II, dan III untuk jurusan Matematika, Fisika, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, IPS, dan PMP. Berbagai program Diploma ini ditutup pada tahun 1990 dan selanjutnya dibika program Diploma II PGSD (Pendidikan Guru Sekolah Dasar).

Agar Sanata Dharma dapat menyesuaikan diri dengan tuntutan dan kebutuhan masyarakat serta kemajuan zaman, maka pada tanggal 20 April 1993 berdasarkan SK Mendikbut No.46/D/O/1993, IKIP Sanata Dharma dikembangkan menjadi Universitas Sanata Dharma. Dengan ini, diharapkan Universitas Sanata Dharma dapat terus memajukan sistem pendidikan guru sekaligus berpartisipasi dalam memperluas wawasan ilmu pengetahuan dan teknologi.

(49)

manajemen, biro / lembaga / pusat / serta unit pendukung), peningkatan mutu akademik, penelitian, pengajaran, serta pengabdian pada masyarakat. B. Visi dan Misi Universitas Sanata Dharma

1. Visi

Universitas Sanata Dharma didirikan oleh Ordo Serikat Yesus (S.J.) provinsi Indonesia bersama para imam dan awam Katolik untuk berpartisipasi dalam usaha melindungi dan meningkatkan martabat manusia melalui perpaduan keunggulan akademik dan nilai- nilai kemanusiaan yang diwujudkan dalam penggalian kebenaran secara objektif dan akademis dan pengembangan kaum muda yang didasarkan pada nilai kebangsaan, kemanusiaan, dan spiritualitas Ignatian, yaitu menjadi manusia bagi sesama (human for and with others), perhatian pribadi (cura personalis), semangat keunggulan (magis), dan semangat dialogis.

2. Misi

(50)

35

pelayanan masyarakat, dan lembaga yang mempersiapkan tenaga kependidikan secara profesional.

Tujuan Pendidikan di Universitas Sanata Dharma : Pendidikan di USD bertujuan membantu mencerdaskan putra-putri bangsa dengan memadukan keunggulan akademik dan nilai-nilai humanistik yang berlandaskan nilai- nilai Kristiani yang universal dan cita-cita kemanusiaan sebagaimana terkandung dalam Pancasila, sehingga memiliki kemampuan akademik sesuai dengan bidang studinya dan integritas kepribadian yang tinggi.

C. Tujuan Fakultas Ekonomi

1. Fakultas Ekonomi (FE) USD bertujuan untuk :

a. menghasilkan Sarjana Ekonomi dalam bidang Manajemen dan Akuntansi yang mampu mengelola serta mengembangkan perusahaan atau organisasi.

b. menghasilkan Sarjana Ekonomi dalam bidang Manajemen dan Akuntansi dengan kemampuan akademik yang memadai untuk melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi.

2. Program Studi Fakultas Ekonomi

a. Program Studi Akuntansi

1) Misi

(51)

selalu berubah menjadi tuntutan yang mutlak bagi mereka yang berhubungan dengan dunia bisnis, termasuk penyelenggara pendidikan bisnis. Untuk menjawab tantangan tersebut Jurusan atau Prodi Akuntansi memfokuskan misinya pada penyiapan sumber daya manusia di bidang akuntansi yang profesional, berkepribadian matang, serta memiliki integritas moral yang tinggi. Para lulusan di bidang akuntansi ini akan mengisi kebutuhan tenaga penyedia informasi yang akurat, lengkap dan tepat waktu yang berguna untuk pengambilan keputusan dalam dunia bisnis. 2) Penyelenggaraan

Penyelenggaraan program pendidikan S1 dalam bidang akuntansi bertujuan untuk :

a) Menghasilkan tenaga profesional di bidang akuntansi.

b) Menghasilkan lulusan yang memiliki nilai lebih dalam pengelolaan informasi keuangan yaitu mampu memanfaatkan teknologi informasi secara memadai dalam menjawab perubahan dan perkembangan dunia bisnis.

c) Menghasilkan lulusan yang mampu menciptakan lapangan kerja bagi dirinya maupun masyarakat sekitar.

(52)

37

Untuk mencapai tujuan program S1 Jurusan atau Prodi Akuntansi, diselenggarakan perkuliahan tatap muka, pemberian tugas-tugas terstruktur maupun tugas mandiri baik teori maupun praktikum kepada mahasiswa. Berbagai variasi metode belajar mengajar juga dikembangkan sesuai dengan materi mata kuliah, seperti metode studi kasus, diskusi, seminar, praktikum di UPT Komputer (BAPSI) atau di Laboratorium Komputer FE, tugas lapangan, dsb. Mengingat bahwa penyediaan informasi keuangan yang akurat, lengkap dan tepat waktu menjadi misi program studi, maka pemahaman mahasiswa akan kemajuan di bidang teknologi informasi menjadi sangat esensial. Untuk itu dipadukanlah perkuliahan teori dengan berbagai aplikasi program komputer serta ditawarkan berbagai mata kuliah yang terkait dengan teknologi informasi sebagai mata kuliah pilihan.

Untuk mengembangkan dan menjawab tantangan perubahan lingkungan bisnis, Jurusan atau Prodi Akuntansi senantiasa berusaha memperbaharui buku-buku praktikum akuntansi baik secara manual maupun terkomputerisasi, serta berusaha mendapatkan informasi mengenai isu- isu kontemporer di bidang akuntansi dan mengembangkan program aplikasi komputer ke dalam berbagai mata kuliah pokok.

(53)

dan luar negeri, akuntan, konsultan perusahaan maupun para praktisi di dunia usaha. Secara rutin para konsultan perusahaan dan para praktisi diundang untuk mengisi perkuliahan agar dapat menjembatani apa yang diperoleh mahasiswa dari perkuliahan dengan praktek nyata dalam dunia usaha baik usaha jasa secara umum, perbankan, manufaktur, perdagangan, maupun industri sektor publik. Penataran, seminar, lokakarya dan kerja sama dengan pihak luar, baik lembaga pendidikan dalam negeri maupun luar negeri serta kalangan dunia usaha bidang peningkatan kualitas sumber daya manusia (pendidikan, pelatihan, penelitian) mendapatkan perhatian besar.

Mahasiswa diharapkan berperan serta aktif dalam penyelenggaraan pendidikan. Mereka dituntut disiplin dalam mengikuti kuliah, menyelesaikan tugas yang menjadi tanggung jawabnya dan mengembangkan diri sendiri demi tercapainya harapan bersama.

3) Kurikulum

Kurikulum di Jurusan atau Prodi Akuntansi dirancang dalam paket-paket per semester sehingga mahasiswa dapat menyelesaikan studinya dalam jangka waktu 4 tahun, bahkan bisa kurang dari waktu tersebut bagi mahasiswa berprestasi.

(54)

39

sebagai internal auditor di perusahaan-perusahaan atau sebagai external auditor di kantor akuntan publik. Oleh karena itu mata kuliah yang ditawarkan lebih banyak di konsentrasikan ke bidang audit.

4) Fasilitas Penunjang

Adapun fasilitas penunjang yang akan diberikan untuk membantu dan mempermudah proses perkuliahan adalah :

a) Perpustakaan

b) Tempat kuliah yang nyaman di Kampus c) Jaringan Internet

d) Lab Komputer Akuntansi e) Pojok Bursa Efek Jakarta f) Pusat Pengembangan Akuntansi g) Pusat Pengembangan Ekonomi b. Program Studi Mana jemen

1) Misi

(55)

peran dan pengetahuan konsumen semakin tinggi sehingga setiap kegiatan bisnis hanya akan sukses apabila memperhatikan selera konsumen dan kepentingan masyarakat luas. Untuk menjawab tantangan itu, Jurusan/Prodi Manajemen memfokuskan misinya untuk menyiapkan calon manajer profesional yang mampu mengelola dan mengembangkan perusahaan/lembaga tempat ia bekerja, dan memiliki ciri-ciri:

a) berkepribadian matang dan berdedikasi tinggi;

b) beretika bisnis dengan tetap memperhatikan kepentingan organisasi;

c) berwawasan global dan peduli terhadap lingkungan. 2) Penyelenggaraan

Penyelenggaraan kuliah di Jurusan atau Prodi Manajemen diberikan dengan tatap muka, pemberian tugas-tugas terstruktur maupun mandiri. Di samping itu juga ada study tour ke perusahaan, mengundang pakar atau praktisi untuk memberikan ceramah, seminar dan lain sebagainya.

(56)

41

Jumlah dan kualifikasi dosen Jurusan atau Prodi Manajemen cukup memadai. Hampir semua dosen telah berhasil menyelesaikan program S2 atau S3 untuk bidang-bidang yang relevan dengan Jurusan/Prodi Manajemen. Upaya- upaya untuk peningkatan mutu dosen terus dilakukan dengan cara aktif mengikuti berbagai seminar, lokakarya, pelatihan dan sarasehan. Pengiriman untuk studi lanjut para dosen mendapat perhatian utama, sementara itu penelitian bagi para dosen juga terus digalakkan.

3) Dosen

Jumlah seluruh dosen pengajar di prodi Manajemen hingga tahun ajaran 2005/2006 mencapai 23 orang. Dan hampir semua dosen telah berhasil menyalesaikan program S2 atau S3 untuk bidang-bidang yang relevan dengan jurusan manajemen. Upaya-upaya untuk meningkatkan mutu dosen terus dilakukan oleh fakultas, misalnya dengan mengikut sertakan para dosen pada pelatihan atau seminar-seminar besar, sarasehan, atau lokakarya dan lebih penting lagi pengiriman untuk studi lanjut para dosen menjadi perhatian utama dari Fakultas Ekonomi.

(57)

4) Kurikulum

Kurikulum untuk Program Studi Manajemen disusun dengan mengacu pada Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor : 056/U/1994 tertanggal 19 Maret 1994 tentang Pedoman Penyusunan Kurikulum Pendidikan Tinggi dan Penilaian Hasil Belajar Mahasiswa dan Keputusan Menteri Nomor : 0313/TJ/1994 tertanggal 30 November 1994 tentang Kurikulum yang berlaku secara nasional Program Sarjana Ilmu Ekonomi.

5) Fasilitas Penunjang

Adapun fasilitas penunjang yang akan diberikan untuk membantu dan mempermudah proses perkuliahan adalah :

a) Tempat kuliah yang nyaman di Kampus b) Perpustakaan

c) Jaringan Internet

d) Pojok Bursa Efek Jakarta

(58)

43 BAB V

ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN

A. Analisis Deskriptif

Responden dalam penelitian ini adalah mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Sanata Dharma, gambaran karakteristik mereka dapat diketahui dari hasil analisis deskripsi persentase. Enam variabel yang diungkapkan dalam penelitian ini adalah : Usia, Tingkat pendapatan, Gaya Hidup, Kepribadian, Tingkat Pembelian, dan Loyalitas. Berikut diuraikan hasil pengujian statistik deskriptif persentase.

1. Usia

Usia diklasifikasikan ke dalam dua kelompok, pertama yang berusia 14th - 21th, disebut kelompok remaja. Kedua usia di atas 21th, disebut juga kelompok dewasa. Hasil perhitungan persentase menemukan sebanyak 66% mahasiswa tergolong dalam kelompok dewasa, dan sisanya sebanyak 34% masuk dalam kelompok remaja.

Tabel 5.1

Distribusi Frekuensi Usia

Usia (thn) Frekuensi Persentase

14-21 34 34.0

di atas 21 66 66.0

Total 100 100.0

(59)

2. Pendapatan

Pendapatan diklasifikasikan ke dalam dua kelompok. Pertama berpendapatan rendah, yaitu mahasiswa yang memiliki uang saku maksimal 700.000 Rupiah per bulan, penghasilan orang tua maksimal 2.000.000 Rupiah per bulan, dan tidak memiliki tambahan ua ng saku untuk keperluan khusus. Kedua kelompok berpenghasilan tinggi, yaitu mahasiswa yang memiliki uang saku lebih dari 700.000 Rupiah per bulan, dengan penghasilan orang tua lebih dari 2.000.000 Rupiah per bulan, dan memiliki tambahan uang saku untuk keperluan khusus.

Hasil perhitungan persentase menemukan sebanyak 73% mahasiswa memiliki penghasilan rendah, dan sisanya sebanyak 27% berpenghasilan tinggi. Temuan ini menunjukkan sebagian besar mahasiswa yang menjadi responden memiliki tingkat pendapatan rendah, dan jumlahnya mendekati ¾ dari total mahasiswa Fakultas Ekonomi yang diteliti.

Tabel 5.2

Distribusi Frekuensi Pendapatan Pendapatan Frekuensi Persentase

Rendah 73 73.0

Tinggi 27 27.0

Total 100 100.0

Sumber : Data primer diolah. 3. Gaya Hidup

(60)

45

600.000 Rupiah, tidak melakukan belanja di luar kebutuhan pokok, tidak terbiasa menghabiskan waktu luang di keramaian yang berpotensi membayar, seperti mall, restoran, café, dan tidak menghabiskan uang belanja dalam sekali pembelian. Kedua kelompok dengan gaya hidup mewah, yaitu mahasiswa yang belanja per bulannya lebih dari 600.000 Rupiah, sering melakukan belanja di luar kebutuhan pokok, terbiasa menghabiskan waktu luang di keramaian yang berpotensi membayar, seperti mall, restoran, café, dan sering menghabiskan uang belanja dalam sekali pembelian

Hasil perhitungan persentase menemukan sebanyak 83% mahasiswa memiliki gaya hidup sederhana, dan sisanya sebanyak 17% memiliki gaya hidup mewah. Temuan ini menunjukkan sebagian besar mahasiswa yang menjadi responden memiliki gaya hidup sederhana, dan jumlahnya mendekati lebih dari ¾ dari total mahasiswa Fakultas Ekonomi yang diteliti.

Tabel 5.3

Distribusi Frekuensi Gaya Hidup Gaya hidup Frekuensi Persentase

Sederhana 83 83.0

Mewah 17 17.0

Total 100 100.0

Sumber : Data primer diolah. 4. Kepribadian

(61)

mahasiswa yang mementingkan kualitas barang dibandingkan harga murah.

Hasil perhitungan persentase menemukan sebanyak 86% mahasiswa yang diteliti memiliki kepribadian selektif, dan sisanya sebanyak 14% memiliki kepribadian yang tidak selektif. Temuan ini menunjukkan sebagian besar mahasiswa yang menjadi responden memiliki kepribadian selektif, jumlahnya mendekati 90% dari total mahasiswa Fakultas Ekonomi yang diteliti.

Tabel 5.4

Distribusi Frekuensi Kepribadian

Kepribadian Frekuensi Persentase

Tidak selektif 14 14.0

Selektif 86 86.0

Total 100 100.0

Sumber : Data primer diolah. 5. Tingkat pembelian

Tingkat pembelian diklasifikasikan ke dalam dua kelompok, pertama tingkat pembelian rendah, yaitu mahasiswa yang jarang membeli produk imitasi. Kedua kelompok dengan tingkat pembelian tinggi, yaitu mahasiswa yang sering berbelanja produk imitasi.

(62)

47

Tabel 5.5

Distribusi Frekuensi Tingkat Pembelian Tingkat pembelian Frekuensi persentase

Rendah 62 62.0

Tinggi 38 38.0

Total 100 100.0

Sumber : Data primer diolah. 6. Loyalitas

Loyalitas diklasifikasikan ke dalam dua kelompok, yaitu rendah dan tinggi. Hasil perhitungan persentase menemukan sebanyak 79% dari mahasiswa yang diteliti memiliki loyalitas rendah, dan sisanya sebanyak 21% memiliki loyalitas tinggi. Temuan ini menunjukkan lebih dari ¾ mahasiswa Fakultas Ekonomi yang menjadi responden, melakukan perpindahan merek saat membeli produk imitasi.

Tabel 5.6

Distribusi Frekuensi Loyalitas Loyalitas Frekuensi Persentase

Rendah 79 79.0

Tinggi 21 21.0

Total 100 100.0

Sumber : Data primer diolah.

B. Pengujian Instrumen

(63)

reliabel berarti kuesioner layak dipakai, dan sebaliknya bila hasil pengujian tidak valid dan tidak reliabel maka kuesioner tidak layak dipakai.

1. Uji Validitas

Hasil pengujian validitas dengan korelasi produk moment menghasilkan koefisien korelasi lebih besar dari nilai r_tabel sebesar 0.239 (df =28,α =5%) pada semua butir pertanyaan, berarti pertanyaan dalam kuesioner berhasil mengukur pendapat subjek sesuai dengan indikator yang ditanyakan atau valid (Sutrisno Hadi, 2002).

Tabel 5.7

Hasil Uji Validitas Instrumen Dimensi Item r-xy r-tabel

(64)

49

2. Uji Reliabilitas

Hasil pengujian reliabilitas jika : rhit >rtab =reliabel dengan alpha cronbach menghasilkan koefisien alpha lebih dari r_tabel sebesar 0.239 (df =28, α= 5%) pada semua dimensi kualitas pelayanan dan kepuasan, berarti kuesioner memiliki konsistensi (keandalan) maksud yang baik. Berdasarkan kemampuan ini kuesioner dinyatakan reliabel, (Suharsimi, 2002).

Tabel 5.8

Hasil Reliabilitas Instrumen No Atribut Sperman

Sumber : Data primer diolah.

C. Hasil Pengujian Chi Square

Uji Chi Square dapat mengevaluasi keberadaan perbedaan distribusi frekuensi dari tabulasi silang antara dua buah variabel kategorial atau ordinal, dalam penelitian ini antara karakteristik responden dengan tingkat pembelian dan loyalitas. Keberadaan perbedaan tersebut dapat menjelaskan pengaruh karakteristik responden terhadap tingkat pembelian dan loyalitas mahasiswa terhadap produk imitasi.

1. Pengaruh Karakteristik Usia dengan Tingkat Pembelian

(65)

dewasa dan cenderung dengan tingkat pembelian rendah, begitu pula pada kelompok usia remaja juga cenderung dengan tingkat pembelian rendah.

Analisis pada tabulasi silang usia dengan tingkat pembelian adalah baik pada kelompok mahasiswa dengan usia remaja maupun kelompok mahasiswa dengan usia dewasa sama-sama memiliki tingkat pembelian yang rendah terhadap produk imitasi. Namun pada kelompok usia remaja, mahasiswa yang memiliki tingkat pembelian rendah mencapai 79% dari 34 mahasiswa, sedangkan pada kelompok usia dewasa, mahasiswa yang memiliki tingkat pembelian rendah hanya sebesar 53% dari 66 mahasiswa dari kelompok usia dewasa.

Temuan ini membuktikan ada pengaruh antara karakteristik usia dengan tingkat pembelian, yaitu usia dewasa akan menurunkan tingkat pembelian mahasiswa terhadap produk imitasi.

Tabel 5.9

Tabulasi Silang Usia dengan Tingkat Pembelian Tingkat

Pembelian

Usia

Rendah Tinggi Total

Remaja 27 7 34

Dewasa 35 31 66

Total 62 38 100

X² = 6.629 df = 1 p = 0.010 Kontingensi = 0.249

Sumber : Data primer diolah.

(66)

51

dengan probabilitas sebesar 0.010 (Lampiran 8 “Chi-Square Test”) nilai probabilitas di bawah 0.05 menjelaskan perbedaan sebarannya signifikan. Berarti terbukti bahwa karakteristik usia berpengaruh terhadap tingkat pembelian mahasiswa pada produk imitasi, yaitu usia dewasa menurunkan tingkat pembelian mahasiswa terhadap produk imitasi.

Evaluasi terhadap signifikansi koefisien Chi Square juga dapat dilakukan dengan membandingkan Chi Square tabel, pada gambar di bawah terlihat Chi Square hitung lebih besar dibandingkan Chi Square tabel, sehingga berada di daerah penerimaan Ha atau signifikan.

X²- hit = 6.629 X²-tab = 3.841

(df =1, α = 5%) Gambar 5.1. Signifikansi koefisien Chi Square berdasarkan usia

(67)

tingkat pembelian signifikan, tetapi dalam skala kecil yaitu sebesar 35% nilai ini hasil perbandingan antara nilai koefisien kontingensi (C) sebesar 0.249 dengan nilai koefisien kontingensi maksimal (CMaks) sebesar 0.71. 2. Pengaruh Karakteristik Usia dengan Loyalitas

Analisis pengaruh karakteristik usia dengan loyalitas menunjukkan bahwa mahasiswa yang diteliti dominan pada kelompok usia dewasa dan cenderung dengan tingkat loyalitas rendah, begitu pula pada kelompok usia remaja dominan dengan tingkat loyalitas rendah.

Analisis tabulasi silang usia dengan tingkat loyalitas adalah baik pada kelompok usia remaja maupun pada kelompok usia dewasa sama-sama memiliki loyalitas rendah terhadap produk imitasi. Namun pada kelompok usia remaja yang memiliki loyalitas rendah hanya sebesar 62% dari 34 mahasiswa, sedangkan pada kelompok usia dewasa yang memiliki loyalitas rendah mencapai 88% dari 66 mahasiswa pada kelompok usia dewasa.

(68)

53

Tabel 5.10

Tabulasi Silang Usia dengan Tingkat Loyalitas Tingkat

Loya litas

Usia

Rendah Tinggi Total

Remaja 21 13 34

Dewasa 58 8 66

Total 79 21 100

X² = 9.224 df = 1 p = 0.002 Kontingensi = 0.291

Sumber : Data primer diolah.

Pada tabel di atas terlihat sebaran frekuensi antara kelompok usia dengan tingkat loyalitas memiliki koefisien Chi Square sebesar 9.224 dengan probabilitas sebesar 0.002 (Lampiran 9 “Chi-Square Test”) nilai probabilitas di bawah 0.05 menjelaskan perbedaan sebarannya signifikan. Berarti terbukti bahwa karakteristik usia berpengaruh terhadap tingkat loyalitas mahasiswa pada produk imitasi, yaitu usia remaja menurunkan loyalitas terhadap produk imitasi.

(69)

X²- hit = 9.224 X²-tab = 3.841

(df =1, α = 5%) Gambar 5.2. Signifikansi koefisien Chi Square berdasarkan usia Keeratan asosiasi usia dengan tingkat loyalitas dapat diketahui dari nilai kontingensi yang dihasilkan. Pada tabel tabulasi silang terlihat besarnya nilai kontingensi sebesar 0.291 nilai ini jauh di bawah nilai koefesien kontingensi maksimal untuk Chi Square dengan tabulasi silang 2 x 2 nilainya sebesar 0.71 berarti pengaruh usia terhadap tingkat loyalitas signifikan, tetapi dalam skala kecil yaitu sebesar 41% berdasarkan hasil perbandingan antara nilai koefisien kontingensi (C) sebesar 0.219 dengan nilai koefisien kontingensi maksimal ( CMaks) sebesar 0.71.

(70)

55

Temuan ini menunjukkan adanya pengaruh antara karakteristik pendapatan dengan tingkat pembelian, yaitu pendapatan tinggi menurunkan tingkat pembelian mahasiswa pada produk imitasi, dan pendapatan rendah meningkatkan tingkat pembelian mahasiswa pada produk imitasi.

Tabel 5.11

Tabulasi Silang Pendapatan dengan Tingkat Pembelian Tingkat

Pembelian

Pendapatan

Rendah Tinggi Total

Rendah 50 23 73

Tinggi 12 15 27

Total 62 38 100

X² = 4.838 df = 1 p = 0.028 Kontingensi = 0.215

Sumber : Data primer diolah.

Pada tabel di atas terlihat sebaran frekuensi antara kelompok pendapatan dengan tingkat pembelian memiliki koefisien Chi Square sebesar 4.838 dengan probabilitas sebesar 0.028 (Lampiran 10 “ Chi-Square Test”) nilai probabilitas di bawah 0.05 menjelaskan perbedaan sebarannya signifikan. Berarti terbukti bahwa karakteristik pendapatan berpengaruh terhadap tingkat pembelian mahasiswa pada produk imitasi.

(71)

bawah terlihat Chi Square hitung lebih besar dibandingkan Chi Square tabel, sehingga berada di daerah penerimaan Ha atau signifikan.

X²- hit = 4.838 X²-tab = 3.841

(df =1, α = 5%)

Gambar 5.3. Signifikansi koefisien Chi Square berdasarkan pendapatan Keeratan asosiasi pendapatan dengan tingkat pembelian dapat diketahui dari nilai kontingensi yang dihasilkan. Pada tabel tabulasi silang terlihat nilai kontingensi sebesar 0.215 nilai ini jauh di bawah nilai koefisien kontingensi maksimal untuk Chi Square dengan tabulasi silang 2 x 2 nilainya sebesar 0.71 berarti pengaruh pendapatan terhadap tingkat pembelian signifikan, tetapi dalam skala kecil yaitu sebesar 30% berdasarkan hasil perbandingan antara nilai koefisien kontingensi sebesar 0.215 dan nilai koefisien kontingensi maksimal sebesar 0.71.

4. Pengaruh Karakteristik Tingkat Pendapatan dengan Loyalitas

(72)

57

pendapatan rendah dan cenderung pada tingkat loyalitas rendah, begitu pula dengan kelompok pendapatan tinggi cenderung dengan loyalitas rendah.

Analisis tabulasi silang tingkat pendapatan dengan loyalitas adala h baik pada kelompok pendapatan tinggi maupun pada kelompok pandapatan rendah sama-sama memiliki loyalitas rendah terhadap produk imitasi. Namun pada kelompok pendapatan tinggi yang memiliki loyalitas rendah hanya sebesar 63% dari 27 mahasiswa, sedangkan pada kelompok pendapatan rendah yang memiliki loyalitas rendah jumlahnya mencapai 85% dari 73 mahasiswa dengan pendapatan rendah.

Temuan ini membuktikan adanya pengaruh antara karakteristik pendapatan dengan tingkat loyalitas, yaitu pendapatan rendah meningkatkan loyalitas mahasiswa pada produk imitasi, sedangkan pendapatan tinggi mengurangi loyalitas mahasiswa pada produk imitasi.

Tabel 5.12

Tabulasi Silang Pendapatan dengan Tingkat Loyalitas Tingkat Loyalitas

Pendapatan

Rendah Tinggi Total

Rendah 62 11 73

Tinggi 17 10 27

Total 79 21 100

X² = 5.734 df = 1 p = 0.017 Kontingensi = 0.233

(73)

Pada tabel di atas terlihat sebaran frekuensi antara kelompok pendapatan dengan tingkat loyalitas memiliki koefisien Chi Square sebesar 5.734 dengan probabilitas sebesar 0.017 (Lampiran 11 “ Chi-Square Test”) nilai probabilitas di bawah 0.05 menjelaskan perbedaan sebarannya signifikan. Berarti terbukti bahwa karakteristik pendapatan berpengaruh terhadap tingkat loyalitas mahasiswa pada produk imitasi, yaitu pendapatan tinggi menurunkan loyalitas mahasiswa terhadap produk imitasi.

Evaluasi terhadap signifikansi koefisien Chi Square juga dapat dilakukan dengan membandingkan Chi Square tabel, pada gambar di bawah terlihat Chi Square hitung lebih besar dibandingkan Chi Square tabel, sehingga berada di daerah penerimaan Ha atau signifikan.

X²- hit = 5.734 X²-tab = 3.841

(df =1, α = 5%)

(74)

59

terlihat nilai kontingensi sebesar 0.233 nilai ini jauh di bawah nilai kontingensi maksimal untuk Chi Square dengan tabulasi silang 2 x 2 nilainya sebesar 0.71 berarti pengaruh pendapatan terhadap tingkat loyalitas signifikan, tetapi dalam skala kecil yaitu sebesar 33% berdasarkan hasil perbandingan antara nilai koefisien kontingensi (C) sebesar 0.233 dengan nilai koefisien kontingensi maksimal (CMaks) sebesar 0.71.

5. Pengaruh Karakteristik Gaya hidup dengan Tingkat Pembelian Analisis pengaruh karakteristik ga ya hidup dengan tingkat pembelian menunjukkan bahwa pada kelompok gaya hidup sederhana dominan dengan tingkat pembelian rendah, sedangkan pada kelompok gaya hidup mewah dominan dengan tingkat pembelian tinggi.

(75)

Tabel 5.13

Tabulasi Silang Gaya hidup dengan Tingkat Pembelian Tingkat

Pembelian

Gaya hidup

Rendah Tinggi Total

Sederhana 59 24 83

Mewah 3 14 17

Total 62 38 100

X² = 17.102 df = 1 p = 0.000 Kontingensi = 0.382

Sumber : Data primer diolah.

Pada tabel di atas terlihat sebaran frekuensi antara kelompok gaya hidup dengan tingkat pembelian memiliki koefisien Chi Square sebesar 17.102 dengan probabilitas sebesar 0.000 (Lampiran 12 “Chi-Square Test“) nilai probabilitas di bawah 0.05 menjelaskan perbedaan sebarannya signifikan. Berarti terbukti bahwa karakteristik gaya hidup berpengaruh terhadap tingkat pembelian mahasiswa pada produk imitasi, yaitu gaya hidup mewah menurunkan tingkat pembelian mahasiswa terhadap produk imitasi.

(76)

61

X²- hit = 17.102 X²-tab = 3.841

(df =1, α = 5%)

Gambar 5.5. Signifikansi koefisien Chi Square berdasarkan gaya hidup Keeratan asosiasi gaya hidup dengan tingkat pembelian dapat diketahui dari nilai kontingensi yang dihasilkan. Pada tabel tabulasi silang terlihat nilai kontingensi sebesar 0.382 nilai ini jauh di bawah nilai koefisien kontingensi maksimal untuk Chi Square dengan tabulasi silang 2 x 2 nilainya sebesar 0.71 berarti pengaruh gaya hidup terhadap tingkat pembelian signifikan, tetapi dalam skala kecil yaitu sebesar 54% berdasarkan hasil perbandingan antara nilai kontingensi (C) sebesar 0.382 dengan nilai kontingensi maksimal (CMaks) sebesar 0.71.

6. Pengaruh Karakteristik Gaya hidup dengan Loyalitas

(77)

Analisis tabulasi silang gaya hidup dengan loyalitas adalah untuk mahasiswa baik yang memiliki gaya hidup mewah maupun mahasiswa dengan gaya hidup sederhana sama-sama memiliki tingkat loyalitas rendah. Namun pada kelompok mahasiswa dengan gaya hidup sederhana yang memiliki loyalitas rendah pada produk imitasi mencapai 83% dari 83 mahasiswa, sedangkan pada kelompok mahasiswa dengan gaya hidup mewah yang memiliki loyalitas rendah pada produk imitasi hanya sebesar 59% dari 17 mahasiswa dengan gaya hidup mewah.

Temuan ini membuktikan adanya pengaruh antara karakteristik gaya hidup dengan loyalitas, yaitu gaya hidup sederhana meningkatkan loyalitas mahasiswa pada produk imitasi, tetapi gaya hidup mewah mengurangi loyalitas mahasiswa pada produk imitasi.

Tabel 5.14

Tabulasi Silang Gaya hidup dengan Tingkat Loyalitas Tingkat

Loyalitas

Gaya hidup

Rendah Tinggi Total

Sederhana 69 14 83

Mewah 10 7 17

Total 79 21 100

X² = 5.026 df = 1 p = 0.025 Kontingensi = 0.219

Sumber : Data primer diolah.

(78)

63

5.026 dengan probabilitas sebesar 0.025 (Lampiran 13 “Chi-Square Test”) nilai probabilitas di bawah 0.05 menjelaskan perbedaan sebarannya signifikan. Berarti terbukti bahwa karakteristik gaya hidup berpengaruh terhadap tingkat loyalitas mahasiswa pada produk imitasi, yaitu gaya hidup mewah menurunkan tingkat loyalitas mahasiswa pada produk imitasi.

Evaluasi terhadap signifikansi koefisien Chi Square juga dapat dilakukan dengan membandingkan Chi Square tabel, pada gambar di bawah terlihat Chi Square hitung lebih besar dibandingkan Chi Square tabel, sehingga berada di daerah penerimaan Ha atau signifikan.

X²- hit = 5.026 X²-tab = 3.841

(df =1, α = 5%)

Figur

Gambar 2.1 Kerangka Pemikiran Teoritis
Gambar 2 1 Kerangka Pemikiran Teoritis . View in document p.29
Tabel 5.7 Hasil Uji Validitas Instrumen
Tabel 5 7 Hasil Uji Validitas Instrumen . View in document p.63
Tabel 5.8 Hasil Reliabilitas Instrumen
Tabel 5 8 Hasil Reliabilitas Instrumen . View in document p.64
Tabel 5.9
Tabel 5 9 . View in document p.65
Gambar 5.1. Signifikansi koefisien Chi Square berdasarkan usia
Gambar 5 1 Signifikansi koefisien Chi Square berdasarkan usia . View in document p.66
Tabel 5.10
Tabel 5 10 . View in document p.68
Gambar 5.2. Signifikansi koefisien Chi Square berdasarkan usia
Gambar 5 2 Signifikansi koefisien Chi Square berdasarkan usia . View in document p.69
Tabel 5.11
Tabel 5 11 . View in document p.70
Gambar 5.3. Signifikansi koefisien Chi Square berdasarkan pendapatan
Gambar 5 3 Signifikansi koefisien Chi Square berdasarkan pendapatan . View in document p.71
Tabel 5.12
Tabel 5 12 . View in document p.72
Gambar 5.4. Signifikansi koefisien Chi Square berdasarkan pendapatan
Gambar 5 4 Signifikansi koefisien Chi Square berdasarkan pendapatan . View in document p.73
Tabel 5.13
Tabel 5 13 . View in document p.75
Gambar 5.5. Signifikansi koefisien Chi Square berdasarkan gaya hidup
Gambar 5 5 Signifikansi koefisien Chi Square berdasarkan gaya hidup . View in document p.76
Tabel 5.14
Tabel 5 14 . View in document p.77
Gambar 5.6. Signifikansi koefisien Chi Square berdasarkan gaya hidup
Gambar 5 6 Signifikansi koefisien Chi Square berdasarkan gaya hidup . View in document p.78
Tabel 5.15
Tabel 5 15 . View in document p.80
Gambar 5.7. Signifikansi koefisien Chi Square berdasarkan kepribadian
Gambar 5 7 Signifikansi koefisien Chi Square berdasarkan kepribadian . View in document p.81
Tabel 5.16
Tabel 5 16 . View in document p.82
Gambar 5.8. Signifikansi koefisien Chi Square berdasarkan kepribadian
Gambar 5 8 Signifikansi koefisien Chi Square berdasarkan kepribadian . View in document p.83

Referensi

Memperbarui...

Unduh sekarang (123 Halaman)