• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah - SETIO WASTONO BAB I

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah - SETIO WASTONO BAB I"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

1.1 Latar Belakang Masalah

Krisis ekonomi yang melanda negara-negara Asia pada pertengahan tahun 1997 memberikan dampak terhadap keberadaan perusahaan-perusahaan di Indonesia. Bahkan Indonesia merupakan salah satu negara yang terpuruk dari terjadinya krisis global tersebut. Krisis tersebut memberikan tugas besar bagi setiap perusahaan untuk membenahi kinerjanya agar perusahaan tetap bertahan, sementara pemerintah juga terus berupaya keras untuk menstabilkan perekonomian nasional terutama menjaga kestabilan harga barang dan kebutuhan pokok dalam negeri yang akan memberikan dampak langsung terhadap perekonomian rakyat secara luas.

(2)

pemberi pinjaman khususnya AS dan lembaga keuangan internasional seperti IMF dan World Bank.

Sehubungan dengan adanya tuntutan untuk melakukan perubahan, Bulog telah melakukan berbagai kajian-kajian baik oleh intern Bulog maupun pihak ekstern. Pertama, tim intern Bulog pada tahun 1998 telah mengkaji ulang peran Bulog sekarang dan perubahan lembaganya di masa mendatang. Hal ini dilanjutkan dengan kegiatan sarasehan pada bulan Januari 2000 yang melibatkan Bulog dan Dolog selindo dalam rangka menetapkan arahan untuk penyesuaian tugas dan fungsi yang kemudian disebut sebagai "Paradigma Baru Bulog". Kedua, kajian ahli dari Universitas Indonesia (UI) pada tahun 1999 yang menganalisa berbagai bentuk badan hukum yang dapat dipilih oleh Bulog, yakni LPND seperti sekarang, atau berubah menjadi Persero, Badan Hukum Milik Negara (BHMN), Perjan atau Perum. Hasil kajian tersebut menyarankan agar Bulog memilih Perum sebagai bentuk badan hukum untuk menjalankan dua fungsi bersamaan, yaitu fungsi publik dan komersial. Ketiga, kajian auditor internasional Arthur Andersen pada tahun 1999 yang telah mengaudit tingkat efisiensi operasional Bulog.

(3)

Kelima, kajian konsultan internasional Price Waterhouse Coopers (PWC) pada tahun 2001 yang telah menyusun perencanaan korporasi termasuk perumusan visi dan misi serta strategi Bulog, menganalisa core business dan tahapan transformasi lembaga Bulog untuk berubah menjadi lembaga Perum. Keenam, dukungan politik yang cukup kuat dari anggota DPR RI, khususnya Komisi III dalam berbagai hearing antara Bulog dengan Komisi III DPR RI selama periode 2000-2002.

Berdasarkan Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2008 tentang Kebijakan Perberasan, dalam konsideran menimbang bahwa dalam rangka stabilitas ekonomi nasional, meningkatkan pendapatan petani, peningkatan ketahanan pangan, dan pengembangan ekonomi pedesaan serta akibat dari perkembangan nasional dan global di bidang pangan khususnya perberasan Perum Bulog sebagai Badan Usaha Milik Negara mendapat penugasan dari Pemerintah untuk :

1. Melaksanakan Pembelian Gabah/Beras secara Nasional

2. Penyediaan dan penyaluran Beras bersubsidi bagi kelompok berpendapatan rendah serta penyediaan dan penyaluran beras untuk menjaga stabilitas harga beras, menanggulangi keadaan darurat, bencana, dan rawan pangan

3. Pengelolaan Cadangan Beras Pemerintah.

(4)

pengelolaan organisasi lingkungan bisnis eksternal merupakan lingkungan diluar organisasi, namun dipertimbangkan dalam pengambilan keputusan. Krisis yang terjadi tahun 1997 merupakan salah satu faktor lingkungan makro yang mempengaruhi kinerja organisasi. Lingkungan makro yang berpengaruh terhadap organisasi terdiri dari kekuatan hukum dan politik, kekuatan ekonomi, kekuatan teknologi, serta kekuatan sosial dan budaya (Emery & Trist dalam Robbins 1994:235; Wheelen & Hunger 2000: 10; Winardi & Karhi 1997: 159).

(5)

terpadu, tersusun dalam empat perspektif, yaitu finansial, pelanggan, proses bisnis internal, serta pembelajaran dan pertumbuhan.

Penelitian yang dilakukan oleh Imelda (2004:121) membahas bagaimana membangun balanced scorecard, meliputi menentukan tujuan strategis, ukuran yang digunakan, target yang ingin dicapai serta inisiatif, dan mengimplementasikan balanced scorecard pada organisasi publik. Hasil penelitian diperoleh bahwa penggunaan balanced scorecard memberikan manfaat bagi organisasi antara lain meningkatkan komunikasi antar individu dalam organisasi, manajemen dapat fokus pada proses organisasi secara keseluruhan, membawa setiap unit dalam organisasi kearah yang sama yaitu melayani masyarakat, memotivasi pekerja, meningkatkan sistem penghargaan, dan meningkatkan kepuasan pekerja.

(6)

adalah membangun balanced scorecard melalui tahapan-tahapan berikut: 1) menilai fondasi organisasi 2) membangun strategi bisnis 3) membuat tujuan organisasi 4) membuat strategic map bagi strategi bisnis organisasi 5) pengukuran kinerja dan 6) menyusun inisiatif. Tahapan dalam mengimplementasikan balanced scorecard meliputi identifikasi data yang dibutuhkan, membangun balanced scorecard secara menyeluruh dan melakukan evaluasi.

Hal ini diperjelas oleh pendapatnya Rohm, yang menyatakan bahwa dengan adanya perbedaan-perbedaan antara organisasi bisnis dan publik, maka balanced scorecard harus dimodifikasikan terlebih dahulu agar sesuai dengan kebutuhan organisasi publik (Rohm: 2003). Meskipun organisasi publik tidak bertujuan untuk mencari profit, organisasi ini terdiri dari unit-unit yang saling terkait yang mempunyai misi yang sama yaitu melayani masyarakat. Untuk itu organisasi publik harus dapat menterjemahkan misinya kedalam strategi, tujuan, ukuran serta target yang ingin dicapai. Yang kemudian dikomunikasikan kepada unit-unit yang ada untuk dapat dilaksanakan sehingga semua unit mempunyai tujuan yang sama yaitu pencapaian misi organisasi. Untuk itu organisasi publik dapat menggunakan balanced scorecard dalam menterjemahkan misi organisasi kedalam serangkaian tindakan untuk melayani masayarakat.

(7)

ataupun mencari strategi-strategi baru yang menjadikan perusahaan mampu bertahan dan berkembang dunia. Oleh karena itu manajemen harus mengkaji ulang prinsip-prinsip yang selama ini digunakan agar dapat bertahan dan bertumbuh dalam persaingan yang semakin ketat untuk dapat menghasilkan pelayanan yang memuaskan bagi masyarakat.

Strategi yang dirumuskan organisasi atau perusahaan merupakan keahlian manajemen dalam mengelola organisasi untuk mewujudkan visi, misi dan tujuan organisasi. Strategi merupakan faktor internal yang penting untuk mempertimbangkan dalam pengambilan keputusan. Percepatan perubahan lingkungan menimbulkan ketidakpastian yang diduga akan berpengaruh terhadap kinerja organisasi. Dalam hal ini diperlukan sistem penilaian kinerja yang mampu mengukur kinerja dari aspek keuangan, aspek bisnis internal, aspek pelanggan dan aspek pertumbuhan dan pembelajaran (Kaplan & Northern 1995:25). Dikenal sebagai penilaian kinerja dengan menggunakan pendekatan balanced scorecard. Pengukuran kinerja dengan balanced scorecard merupakan hasil dari proses manajemen dari atas ke bawah (top-down).

(8)

juga menggunakan balanced scorecard dalam pengukuran kinerjanya. Konsep Balanced Scorecard ini pada dasarnya merupakan penerjemahan strategi dan tujuan yang ingin dicapai oleh suatu perusahaan dalam jangka panjang, yang kemudian diukur dan dimonitor secara berkelanjutan.

Mengacu dari pengertian pada Kaplan dan Norton (1996) dapat dikatakan bahwa balanced scorecard merupakan sistem manajemen strategis yang diturunkan dari visi dan strategi serta merefleksikan aspek-aspek terpenting dalam suatu bisnis. Perusahaan-perusahaan inovatif tidak memandangbalanced scorecard hanya sebagai sistem pengukuran operasional atau taktis, tetapi menggunakannya sebagai suatu sistem manajemen strategis yang mengelola strategi perusahaan sepanjang waktu. Pendekatan balanced scorecard melakukan pengukuran kinerja berdasarkan pada aspek finansial maupun non finansial. Aspek non finansial mendapat perhatian karena pada dasarnya peningkatan kinerja keuangan berasal dari aspek non finansial yaitu peningkatan efektivitas proses bisnis, komitmen organisasi dan kepercayaan customer terhadap produk, sehingga apabila perusahaan akan melakukan pelipatgandaan kinerja maka fokus perhatian haruslah ditujukan kepada peningkatan kinerja di bidang non-finansial karena dari situlah kinerja keuangan berasal.

(9)

penelitian kali ini dilakukan pengukuran kinerja pada Perum Bulog dengan menggunakan metode yang dapat mengintegrasikann seluruh aspek yang terkait dalam perusahaan yaitu metode balanced scorecard. Metode ini mengukur kinerja perusahaan berdasarkan empat perspektif yaitu keuangan, pelanggan, proses bisnis internal serta pembelajaran dan pertumbuhan sehingga dapat diperoleh pencapaian tujuan perusahaan yang lebih efektif dan terintegrasi. Proses pengukuran kinerja Perum Bulog diawali dengan penjabaran visi, misi dan strategi perusahaan kedalam tujuan strategis,critical success factorserta tolok ukur keberhasilan perusahaan.

Perum Bulog Sub Divisi Regional IV Banyumas merupakan instansi vertikal dari Perum Bulog Bulog Divisi Regional Jawa Tengah yang juga merupakan instansi vertikal dari Kantor Pusat Perum Bulog. Perum Bulog Sub Divisi Regional IV Banyumas mempunyai tugas melaksanakan sebagian tugas pokok dan fungsi Perum Bulog di bidang Pelayayan Publik, Perencanaan dan Pengembangan Usaha, Administrasi dan Keuangan di wilayah kerjanya. Wilayah kerja Perum Bulog Sub Divisi Regional IV Banyumas meliputi wilayah Eks Karesidenan Banyumas Jawa Tengah yang meliputi empat kabupaten yaitu: Kabupaten Banyumas, Kabupaten Cilacap, Kabupaten Purbalingga dan Kabupaten Banjarnegara.

Berdasarkan uraian di atas, maka penulis tertarik untuk mengungkapan lebih jauh tentang Pengukuran kinerja denganbalanced scorecarddengan judul penelitian “Pengaruh Implementasi Balanced Scorecard Terhadap Kinerja

(10)

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian di atas, maka dapat diidentifikasikan masalah-masalah yang hendak diungkapkan dalam penelitian ini antara lain:

1. Apakah perspektif pelanggan, perspektif proses bisnis internal dan perspektif pembelajaran dan pertumbuhan secara simultan mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kinerja Perum Bulog Sub Divisi Regional IV Banyumas?

2. Apakah perspektif pelanggan secara parsial mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kinerja Perum Bulog Sub Divisi Regional IV Banyumas?

3. Apakah perspektif proses bisnis internal secara parsial mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kinerja Perum Bulog Sub Divisi Regional IV Banyumas?

4. Apakah perspektif pembelajaran dan pertumbuhan secara parsial mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kinerja Perum Bulog Sub Divisi Regional IV Banyumas?

1.3 Batasan Masalah

(11)

kepada pelayanan publik dan keuangan yang diperlukan dalam operasional telah dianggarkan / di subsidi secara tetap melalui APBN

1.4 Tujuan Penelitian

1. Untuk menguji apakah perspektif pelanggan, perspektif proses bisnis internal dan perspektif pembelajaran dan pertumbuhan secara simultan mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kinerja Perum Bulog Sub Divisi Regional IV Banyumas.

2. Untuk menguji apakah perspektif pelanggan, perspektif proses bisnis internal dan perspektif pembelajaran dan pertumbuhan secara parsial mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kinerja Perum Bulog Sub Divisi Regional IV Banyumas.

1.5 Manfaat Penelitian

Manfaat yang diharapkan dapat diproleh dari hasil penelitian ini adalah: 1. Bagi Pemeritah

Penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan masukan untuk kebijakan dimasa yang akan datang terutama yang berhubungan dengan kinerja organisasi, tidak hanya terbatas pada Perum Bulog saja.

2. Bagi Penelitian Selanjutnya

Sebagai bahan referensi bagi peneliti yang akan melakukan penelitian secara mendetail sebagai kumpulan dari penelitian ini.

1.6 Kerangka Pemikiran

(12)

menimbulkan ketidakpastian lingkungan yang dihadapi organisasi. Sehingga perlu dilakukan penyempurnaan organisasi secara terus menerus. Penerapan sebuah sistem pengukuran kinerja merupakan salah satu cara bagi perusahaan untuk mengetahui kondisi dan prestasi yang dimilikinya saat ini beserta potensinya di masa mendatang. Selama ini, penerapannya masih didominasi oleh tolak ukur finansial. Dalam iklim persaingan yang kini kian ketat, tolak ukur tersebut tidak dapat dijadikan sebagai satu-satunya acuan. Untuk itu dibutuhkan sebuah sistem penilaian kinerja yang meliputi tolak ukur finansial maupun non finansial. Penilaian kinerja menggunakan metode Balanced Scorecard. memberikan para eksekutif sebuah kerangka kerja menyeluruh yang menerjemahkan visi perusahaan dan strategi perusahaan dan strategi usaha ke dalam sejumlah ukuran. Sistem ini menterjemahkan misi dan strategi perusahaan menjadi tujuan dan measure, serta mengorganisirnya menjadi 4 perspektif yang berbeda yaitu: 1) Perspektif Finansial 2) Perspektif Pelanggan 3) Perspektif Proses Bisnis Internal dan 4) Perspektif Proses Belajar dan Pertumbuhan.

(13)

Gambar 1. Kerangka Pemikiran

1.7 Hipotesis

Hipotesis yang dapat diajukan dalam penelitian adalah:

1. Terdapat pengaruh secara simultan yang signifikan antara perspektif pelanggan, perspektif proses bisnis internal dan perspektif pembelajaran dan pertumbuhan terhadap kinerja Perum Bulog Sub Divisi Regional IV Banyumas.

2. Terdapat pengaruh secara parsial yang signifikan perspektif pelanggan terhadap kinerja Perum Bulog Sub Divisi Regional IV Banyumas.

3. Terdapat pengaruh secara parsial yang signifikan perspektif proses bisnis internal terhadap kinerja Perum Bulog Sub Divisi Regional IV Banyumas. 4. Terdapat pengaruh secara parsial yang signifikan perspektif pembelajaran

dan pertumbuhan terhadap kinerja Perum Bulog Sub Divisi Regional IV Banyumas.

Perspektif Pelanggan

Perspektif Bisnis Internal Perspektif Pertumbuhan

Gambar

Gambar 1. Kerangka Pemikiran

Referensi

Dokumen terkait

Analisis stilistika pada ayat tersebut adalah Allah memberikan perintah kepada manusia untuk tetap menjaga dirinya dari orang-orang yang akan mencelakainya dengan jalan

Pada tahap pertama ini kajian difokuskan pada kajian yang sifatnya linguistis antropologis untuk mengetahui : bentuk teks atau naskah yang memuat bentuk

Bedasarkan faktor-faktor tersebut, maka ketiadaan hubungan paparan debu terhirup dengan kapasitas vital paru pada pekerja penyapu pasar Johar kota Semarang, tidak

Penyerapan tenaga kerja merupakan jumlah tertentu dari tenaga kerja yang digunakan dalam suatu unit usaha tertentu atau dengan kata lain penyerapan tenaga kerja

“Kecuali mengenai Wilayah Persekutuan Kuala Lumpur, Labuan dan Putrajaya, hukum Syarak dan undang-undang diri dan keluarga bagi orang yang menganut agama Islam,

Hal tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut: (a) nilai rata-rata postes keterampilan komu- nikasi siswa pada kelas yang diterap- kan model pembelajaran berbasis

informasi tentang jenis dan berbagai motif batik store nusantara, dapat melakukan pemesanan batik secara online dengan mendaftarkan data diri pelanggan dan mengisi form

1. Adanya perasaan senang terhadap belajar. Adanya keinginan yang tinggi terhadap penguasaan dan keterlibatan dengan kegiatan belajar. Adanya perasaan tertarik yang