BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Produk adalah segala sesuatu yang dapat ditawarkan ke suatu pasar untuk

24 

Loading.... (view fulltext now)

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Uraian Teoritis

2.1.1. Pengertian Produk

Produk adalah segala sesuatu yang dapat ditawarkan ke suatu pasar untuk diperhatikan, dibeli, digunakan, atau dikonsumsi demi memenuhi keinginan atau kebutuhan. Kotler (2002:449). Kotler juga memberikan indikator terhadap produk tersebut :

a Brand name (merek) produk menunjukkan suatu jaminan kompetetif perusahaan dengan produk berkualitas

b. Kemasan, menunjukkan corak produk yang menarik dan mampu melindungi produk dengan baik

c. Keistimewaan, produk dalam rasa enak, dan textur yang lembut sangat disukai

d. Produk quality, menunjukkan kemampuan sebuah produk untuk kepuasan dan harapan konsumen

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh perusahaan untuk meningkatkan keistimewaan produk

1. Mengembangkan keistimewaan produk

Keistimewaan produk yang memenuhi kebutuhan konsumen; dimana mutu yang lebih tinggi memungkinkan perusahaan untuk :

a. Meningkatkan kepuasan pelanggan b. Membuat produk mudah laku dijual

(2)

d. Meningkatkan pangsa pasar

e. Memproleh pemasukan dari penjualan f. Menjamin harga premium

2. Mengembangkan keistimewaan proses

a.Mengurangi tingkat kesalahan pada subsistem produksi, pengolahan, sehingga mampu pada subsistem pemasaran hasil

b. Mengurangi pemborosan-pemborosan dalam hal penggunaan input, proses produksi dan pemasaran hasil

c. Mengurangi kegagalan hasil dengan memperhatikan pemilihan kualitas input dengan keunggulan teknologi sesuai proses yang didukung SDM yang bermutu

d. Memperpendek waktu penempatan produk baru di pasar dengan cara pengembangan jaringan bisnis dengan dukungan sarana distribusi yang tanggu

e. Mengurangi ketidakpuasan pelanggan dengan cara mengidentifikasi dinamika kebutuhan pelanggan, preferensi, dan daya beli pelanggan

f. Memenuhi spesifikasi produk yang diinginkan

Pabrik harus menghasilkan produk dengan jumlah tertentu (sesuai dengan kapasitas desain) dan kualitas tertentu sesuai sepesifikasi pelanggan

(3)

Selain itu, produk dapat pula didefinisikan sebagai persepsi konsumen yang dijabarkan oleh produsen melalui hasil produksinya. Secara rinci, konsep produk total meliputi barang, kemasan, label, pelayanan, dan jaminan, dapat dilihat pada Gambar 2.1berikut :

Sumber : Strategi Pemasaran, Tjiptono(2002:96) Gambar 2.1 Konsep Produk Total

Dari konsep ini dapat ditarik kesimpulan bahwa label termasuk bagian pembentuk produk secara utuh

2.1.2. Pengertian Labelisasi Halal

Sertifikasi halal dan labelisasi halal merupakan dua kegiatan yang berbeda tetapi mempunyai keterkaitan satu sama lain. Sertifikasi halal dapat didefinisikan sebagai suatu kegiatan pengujian secara sistimatis untuk atau mengetahui apakah suatu barang yang diproduksi suatu perusahaan telah memenuhi ketentuan halal. Hasil dari kegiatan sertifikasi halal adalah diterbitnya sertifikasi halal apabila produk yang dimaksudkan telah memenuhi ketentuan sebagai produk halal.

Produk Barang Kemasan Label Kepuasan pelanggan Pelayanan Jaminan

(4)

Sedangkan labelisasi halal adalah pencantuman tulisan atau pernyataan halal pada kemasan produk untuk menunjukkan bahwa produk yang dimaksud berstatus sebagai produk halal

Label halal produk pada dasarnya meruang lingkupi produk pangan yang di dalam Undang-Undang No 7 Tahun 1996 Tentang pangan. Sebagaimana dikatakan dalam pasal 1 ayat (1) Undang Undang No 7 tahun 1996 adalah Segala sesuatu yang berasal dari sumber hayati dan air, baik yang di olah maupun tidak di olah yang diperentukkan sebagai makanan atau minuman bagi konsumsi manusia termasuk bahan tambahan pangan, bahan baku pangan, dan bahan lain yang digunakan dalam proses penyiapan, pengolahan dan atau pembuatan makanan atau minuman

Sedangkan label pangan pada undang-undang ini diartikan sebagai setiap keterangan maupun pangan yang berbentuk gambar, tulisan, kombinasi keduanya atau bentuk lain yang disertakan pada pangan, dimaksukan kedalam, ditempelkan pada, atau merupakan bagian kemasan pangan.

Wadji (2003:2) mengatakan secara normatif-empiris label dan iklan pangan memiliki beberapa fungsi :

1. Sebagai sumber informasi label pangan dan iklan merupakan sumber informasi bagi konsumen tentang suatu produk pangan karena konsumen tidak dapat langsung bertemu dengan pelaku usahanya. Pelaku usaha dapat saja memasukan unsur-unsur supaya memikat atau membujuk konsumen untuk membeli produknya. Akan tetapi label dan iklan tidak diperkenankan hanya sekedar menginformasikan sesuatu yang hanya menguntungkan dari

(5)

sisi pelaku saja. Informasi yang benar, jelas dan jujur harus di sampaikan kepada konsumen termasuk higeinis dan kehalalannya (pasal 4 UU No 8 tahun 1999)

2. Label dan iklan dapat digunkan sebagai bahan pertimbangan bagi konsumen untuk menentukan pilihan. Konsumen keritis tentu saja terlebih dahulu membaca label dan iklan dengan cermat, teliti dan melakukan perbandingan dengan produk lain dari segi komposisi, berat bersih, harga dan lain-lain sebelum membeli dan menjatuhkan pilihan (pasal 4 UU No 8 tahun 1999).

3. Label dan iklan dapat digunakan sebagai sarana memikat transaksi. Label dan iklan harus bersifat mengikat, segala sesuatu yang di informasikan dalam label dan yang di janjikan dalam iklan, harus dapat di buktikan kebenarannya. Iklan harus legal, terukur, jujur, dan objektif. Pelaku usaha harus bersedia di tuntut apabila ternyata label dan iklannya tidak terbukti benar (pasal 8, -16 dan 17 UU No 8 Tahun 1999).

Dari uraian diatas maka pada dasarnya label adalah suatu tanda yang dilekatkan pada suatu produk yang dapat di konsumsi oleh konsumen, dimana label tersebut menentukan kesadaran serta keterangan dari produk yang bersangkutan. Sedangkan pengertian halal itu sendiri menurut Ali dan Deli (2002:252) adalah segala sesuatu yang diijinkan (dalam hukum) sesuatu yang di dapat dari jalan baik atau melanggar syara’. Sedangkan menurut Zuhdi(2004:11) Halal merupakan lawan dari kata haram yaitu “sesuatu yang dituntut oleh agama untuk ditinggalkan dengan tuntutan yang pasti baik dalilnya Qath’i maupun dalil

(6)

Dzanni”. Dari pengertian yang telah disebutkan sebelumnya maka pada dasarnya label tersbut mencakup pengertian yang dapat diperbolehkan bagi umat Islam dimana hukumnya tidak haram. Kehalalan suatu produk pangan sangat penting bagi umat islam dalam mengkonsumsi produk pangan. Sebagaimana Allah SWT berfirman dalam Al Qur’an,

“Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama)selain Allah. Tetapi barang siapa dalam keadaan terpaksa (memakannya)sedang ia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya.Sesungguhnya Allah maha pengampun lagi maha penyayang (QS Al-Baqarah ayat 173)

Tentang label, ditetapkan dalam berbagai peraturan perundang-undangan. Pengaturan tentang informasi yang disebut dengan berbagai istilah seperti pendanaan, label, atau etiket. Ketentuan tersebut terdapat dalam berbagai peraturan perundang-undangan yaitu :

1. UU Barang,UU No.10 Tahun 1961, memberikan informasi tentang barang pasal 2 ayat (4) UU ini menentukan :

Pemberian nama dan atau tanda-tanda yang menunjukkan asal, sifat, susunan bahan, bentuk banyaknya dan atau kegunaan barang-barang yang baik diharuskan maupun tidak diperbolehkan dibubuhkan atau dilekatkan pada barang pembungkusnya, tempat barang –barang itu di perdagangkan dan alat-alat reklame, sekalipun cara pembubuhan atau melekatkan nama

(7)

dan atau tanda-tanda yang menunjukkan pada label dari barang yang bersangkutan

Perbuatan –perbuatan yang bertentangan dengan atau melanggar ketentuan tersebut di atas, dapat dikenakan ketentuan pidana ekonomi

2. Baik produk makanan, maupun obat diwajibkan mencantumkan label pada wadah atau pembungkusnya. Permenkes No. 79 Tahun 1978 tentang label dan periklanan makanan, pasal 1 angka 2, menyebutkan : Etiket adalah label yang dilekatkan, dicetak, diukir atau dicantumkan dengan jalan apapun pada wadah atau pembungkus

Keterangan yang harus dimuat pada label/etiket tersebut ditetapkan (pasal 7 ayat (1) dan (2) terdiri atas :

a. Nama makanan dan merek dagang

b. Komposisi, kecuali makanan yang cukup diketahui komposisinya secara umum

c. Isi netto

d. Nama dan alamat perusahaan yang memproduksi atau mengedarkan; nomor pendaftaran

e. Kode produksi

f. Untuk jenis makanan tertentu yang ditetapkan oleh menteri kesehatan, harus dicantumkan tanggal kadaluarsa, nilai gizi, petunjuk penggunaan dan cara penyimpanannya

(8)

Perbuatan mengedarkan makanan tanpa label sebagai mana dimaksudkan dalam peraturan menteri kesehatan tersebut dinyatakan dilarang dan dapat diancam dengan sanksi-sanksi sebagaimana termuat dalam KUHP dan tindakan administrasi berupa penarikan nomor daftar produk itu dan tindakan lain berdasarkan perundang-undangan yang berlaku. (pasal 41-45). Ketentuan tentang sanksi-sanksi atas pelanggaran kewajiban memasang label pada makanan ( dalam kemasan) tersebut dalam perundang-undangan yang lebih baru, undang-undang No 23 tahun 1992 tentang kesehatan, ketentuan tentang pelabelan makanan ditegaskan lebih lanjut. Setiap makanan yang dikemas wajib diberi tanda atau label (pasal 21 ayat (2) yang memuat keterangan tentang :

a. Bahan yang dipakai b. Komposisi setiap bahan

c. Tanggal, bulan, dan tahun kadaluarsa d. Ketentuan lainnya

Dalam penejelasan pasal ini (huruf d) dinyatakan bahwa ketentuan lainnya misalnya pencantuman kata atau tanda halal menjamin bahwa makanan dan minuman yang diproduksi dan diproses sesuai persyaratan makanan halal.Perbuatan mengedarkan makanan tanpa label dinyatakan sebagai tindak pidana pelanggaran dengan ancaman pidana kurungan maksimum satu tahun dan/atau denda maksimum Rp 15.000.000,00 dalam (pasal 84 -85)

Menurut Endang Sriwahyuni(2003:45) Langka untuk meningkatkan martabat dan kesadaran konsumen harus diawali dengan upaya untuk memahami hak-hak pokok konsumen, yang dapat dijadikan sebagai landasan perjuangan

(9)

untuk mewujudkan hak-hak tersebut.Hak konsumen sebagaimana tertuang dalam pasal 4 UU No. 8 Tahun 1999 adalah se bagai berikut :

a. Hak atas kenyamanan dan keselamatan dalam mengkonsumsi barang atau jasa

b. Hak untuk memilih barang atau jasa serta mendapatkan barang atau jasa tersebut sesuai dengan nilai tukar dan kondisi serta jaminan yang dijanjikan

c. Hak untuk informasi yang benar, jelas dan jujur mengenai kondisi dan jaminan barang dan jasa

d. Hak untuk didengar pendapat dan keluhannya atas barang dan jasa yang digunakan

e. Hak untuk diperlakukan atau dilayani secara benar secara benar dan jujur serta tidak diskriminasi

Maka dari itu pada dasarnya mencakup pengertian tetang adanya pencantuman label halal dalam bentuk gambar maupun huruf terhadap sesuatu barang pangan yang akan dikonsumsi oleh umat islam yang menerangkan bahwa benda tersebut diperbolehkan untuk dikonsumsi oleh umat islam sesuai dengan hukum syara 2.2. Manfaat Labelisasi Halal

Kesadaran konsumen terhadap produk yang akan dibeli makin lama makin tinggi, seiring dengan meningkatnya peran media dan proses edukasi produk oleh produsen. Kasus keracunan makanan, halal tidaknya makanan, keinginan untuk melakukan pemeliharaan makanan, kesehatan atau diet mendorong konsumen harus lebih mengetahui kandungan nutrisi atau bahan baku lainnya yang ada,

(10)

dalam suatu produk. Hal ini telah menyadarkan konsumen untuk memperhatikan suatu produk lebih baik. Maka peran label sebagai bagian dari produk yang memberikan informasi tentang produk dan produsen menjadi sangat penting. Maka dari itu terdapat 3 (tiga) macam label menurut Stanton (2004:282), yaitu

a. Brand label, label ini memuat merek, gambar, atau produsen dari produk yang dicantumkan dalam kemasan produk. Informasi tersebut penting bagi konsumen sehingga mereka dapat membedakan suatu produk dengan produk lainnya.

b. Descriptive label, label ini memberikan informasi mengenai bahan baku, persentase kandungan, nilai kalori gizi, cara penggunaan konsumen, tanggal pembuatan, tanggal kadaluarsa dan lain-lain.

c. Grade label, label ini menginformasikan kepada konsumen tentang penilaian kualitas produk

Maka dari itu produk mempunyai sifat dan manfaat produk “Sifat barang merupakan karakter yang melekat pada barang itu sendiri secara fisik dapat dilihat, setiap penjual harus memahami sifat –sifat yang ada pada barang yang dipajangkan di toko maupun barang yang ada dalam persediaan, setiap barang dagangan harus diperlakukan berbeda karena setiap barang memiliki karakter yang berbeda”. Demikian juga dalam melakukan klasifikasi harus adanya penempatan dan penataan yang sesuai dengan sifatnya masing-masing untuk menghindari terjadinya dampak dari satu barang terhadap barang lainnya, selain itu memberikan kemudahan dalam pemeriksaan dan pengantian setiap barang. Sifat barang dipengaruhi oleh faktor-faktor :

(11)

a. Bahan baku yang digunakan pada saat proses produksi b. Proses pengolahannya

c. Daya tahan barang

d. Cara pemakaian dan pemeliharaan

Jika dalam proses produksi menggunakan bahan baku bermutu tinggi dan tepat ukurannya dengan pengolahan yang baik, mungkin akan menghasilkan barang yang memiliki daya tahan lama.

2.3 Fungsi Label Halal

Fungsi Labellisasi Halal adalah untuk melindungi konsumen dari tindakan curang produsen terhadap produk makanan yang diproduksinya. Adanya label halal yang tertera dalam kemasan produk mie instan Indomie berfungsi sebagai bahan pertimbangan bagi konsumen dalam membuat keputusan pembelian produk Indomi yang halal. Maka dari itu setiap produsen makanan baik makanan olahan maupun non olahan hendaknya mendaftarkan produknya untuk mendapatkan sertifikasi halal yang berfungsi untuk mendapatkan labellisasi halal.

Jadi bagi pihak supermarket/hypermarket hendaknya menetapkan peraturan pada pemasok untuk menjual produk makanan yang bersetifikat halal dan berlabel halal sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku, dalam rangka melindungi konsumen dari tindakan curang produsen makanan. Vina, ( 2011:21) 2.3.1. Periklanan

Pengertian periklanan atau reklame adalah bagian tak terpisahkan dari bisnis modern. Kenyataannya ini berkaitan erat dengan berproduksi industri modern yang menghasilkan produk-produk dalam kuantitas besar, sehingga harus

(12)

mencari pembeli. Dan pasti ada kaitannya juga dengan sistem ekonomi pasar, dimana kompetisi dan persaingan merupakan unsur hakiki, bahwa iklan justru dianggap cara ampuh untuk menonjol dalam persaingan. Dalam perkembangan periklanan, media komonikasi modern –media cetak maupun elektronik khususnya televisi memegang peranan dominan yang sangat berpengaruh terhadap persaingan.

Kehadiran iklan tidak hanya diperlukan oleh perusahaan semata-mata, tetapi juga oleh masyarakat luas, artinya dengan adanya iklan maka masyarakat jadi tahu akan kelebihan dan keuntungan yang akan diproleh dari pada barang atau jasa yang dianjurkan tersebut. Kemudian dengan adanya iklan, masyarakat jadi muda mencari tempat untuk mendapatkan barang atau jasa, sesuai yang di inginkannya. Oleh karna itu, memberitahukan, menggerakkan, meyakinkan dan menggiatkan masyarakat adalah sangat penting terutama bagi perusahaan dalam upaya meraih pasaran atau peminat dari pada barang atau jasa yang telah di hasilkan

Oleh karena itu, periklanan mungkin lebih lama memberikan reaksi positif, akan tetapi mencari jaminan dalam jangka panjang. Sementara kode etik periklanan indonesia menguraikan sebagai berikut : “ Iklan adalah suatu publikasi atau penyiaran yang berupa periklanan/reklame, pemberitahuan atau peryataan yang bersifat bukan berita.

Dalam pengertian lain, dengan adanya suatu iklan perusahaan membangunkan kesadaran masyarakat untuk memiliki barang yang dibutuhkannya, baik dirumah tangga, kantor dan sebagainya lewat penyiaran ditelevisi, radio, surat kabar, dan majalah ataupun tabloid mingguan. Dari

(13)

penjelasan-penjelasan tersebut diatas, maka dapat dismpulkan bahwa pengertian iklan adalah tindakan atau usaha memperkenalkan hasil peroduksi melalui gambar, kata-kata selogan atau simbol dari pada hasil produk tersebut melalui komunikasi langsung yang ditunjukkan kepada khalayak ramai agar dibeli dan menimbulkan peembelian dan memilikinya

2.3.2. Lembaga Yang Mengeluarkan Label Halal

Label Halal adalah label yang dikeluarkan oleh Majelis Ulama Indonesia kepada suatu perusahaan makanan, minuman, kosmetik. Atau obat-obatan yang telah diperiksa asal bahan bakunya, sumber bahan bakunya, proses produksinya dan hasil akhirnya. Pemeriksaan ini dilakukan oleh Lembaga Pengkajian pangan obat-obatan atau kosmetik yang di lakukan oleh Majelis Ulama Indonesia (LP POM MUI ).

Hasil pemeriksaan ini akan diseminarkan di depan rapat auditor LP POM MUI yang kemudian hasilnya akan diajukan kepada Komisi Fatwa Halal. Kemudian fatwa halal ini diberikan kepada perusahaan yang mengajukan permohonan dalam bentuk label dengan menggunakan (tiga) bahasa Indonesia, bahasa Arab dan bahasa Inggris

Label halal merupakan tulisan halal baik dalam huruf latin maupun huruf arab yang ditempelkan pada kemasan makanan dan minuman, obat-obatan atau kosmetik atas persetujuan Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Label halal ini akan menunjukkan kepada konsumen bahwa makanan yang memiliki label halal tersebut memang telah diperiksa kehalalannya dan dijamin kehalalannya oleh lembaga yang memeriksanya

(14)

Jika suatu makanan sudah dinyatakan kehalalannya maka umat Islam tidak ragu-ragu dalam mengkonsumsinya, maka umat Islam akan menjadi pasar terbesar di Indonesia, karena kebanyakan orang Indonesia adalah umat Islam mencapai 90 % maka dari itu apapun yang menyangkut dengan makanan terutama makanan ringan seperti peroduk Mie Instan Indomie perlu kita ketahui kehalalannya, karena kebanyakkan yang mengkonsumsi Indomie adalah umat islam seperti halnya ibu rumah tangga dan para mahasiswa.

Sebaiknya jika perusahaan diketahui memproduksi dan menjual barang yang tidak halal maka konsumen akan menjauhi produk tersebut. Akibatnya produk haram tersebut hanya dikonsumsi oleh sebagian kecil masyarakat indonesia. Jika hal ini yang terjadi maka omzet penjualan akan kecil dan perkembangan perusahaan juga akan lambat. Disamping hal yang sudah dikemukakan diatas masih ada keuntungan lain bagi konsumen yaitu konsumen akan dengan mudah memilh makanan apa yang sudah dinyatakan MUI sudah dijamin kehalalannya.

Maka dari itu peringatan Allah SWT dalam Al Qur’an surat Al Baqarah ayat 173, tentang pengharaman babi ternyata sangat melekat di hati sanubari umat Islam di indonesia bahkan di dunia sehingga ketika dipublikasikannya penelitian Dr.Ir. Tri Susanto dalam Buletin Canopy yang diterbitkan oleh sanat mahasiswa Universitas Brawijaya Malang pada bulan januari 1988 tentang jenis-jenis makanan dan minuman yang mengandung lemak babi maka hebohlah umat Islam Indonesia

(15)

Sehingga terjadilah apa yang dikenal dengan istilah “lemak babi ”. Isu ini sangat cepat tersebar kemasyarakat dan akhirnya menjalar kesistem ekonomi indonesia. Sistem perdagangan indonesia dikejutkan dengan isu lemak babi karena seluruh makanan dan minuman yang terkena isu lemak babi tersebut praktis tidak dapat bergerak dari produsen ke konsumen karena tidak satupun konsumen muslim yang mau membeli produk tersebut sehingga produk-prodok tersebut tertimbun digudang pabrik dan swalayan.

Maka tanggal 6 januari 1989 bertepatan dengan 28 jumadil awal 1409 H melalui SK No :Kep 018/MUI/I/1989 tentang pembentukkan lembaga pengkajian pangan obat-obat dan kosmetik, MUI maka terbentuklah LP-POM MUI seperti dikenal dewasa ini tugas sebagai berikut :

1. Mengkaji dan menyusun konsep-konsep dalam upaya yang berkaitan dengan memproduksi, memperjualbelikan dan menggunakan makanan, obat-obatan dan kosmetik sesuai dengan ajaran islam

2. Mengkaji dan menyusun kosep-konsep yang berkitan dengan peraturan-peraturan yang mengenai penyelenggaraan rumah makan, restoran, perhotelan, hidangan dalam pelayaran dan penerbangan, pemotongan hewan serta penggunaan berbagai jenis bahan bagi pengolahan pangan. 3. Dengan persetujuan Dewan Pimpinan Majelis Ulama Indonesia lembaga

mengadakan kegiatan-kegiatan dalaam rangka kerja sama dengan pemerintah dan swasta, serta melaksanakan tugas lainnya yang diberikan oleh Dewan Pimpinan Majelis Ulama Indonesia

(16)

Tugas yang diemban oleh LP POM MUI bukanlah tugas yang ringan dan teryata semakin hari LP POM MUI bekerja maka semakin meningkatlah permintaan label halal kepada MUI. Jadi tata cara pengajuan prosedur label halal dimulai dengan tahap awal dengan mengajukan permohonan dengan mengisi blangko permohonan yang sudah disiapkan oleh LP POM MUI. Selain mengisi permohonan sertifikasi halal perusahaan yang mengajukan label halal MUI juga diwajibkan untuk mengisi peryataan bahan baku dan bahan tambahan serta bahan pendukung yang dipergunkan dalam peroses produksi. Peryataan ini harus dilengkapi dengan dokumen pendukung yang menerangkan tentang bahan-bahan yang dipergunakan dalam peroses produksi tersebut.

Pemeriksaan berkas permohonan tersebut bertujuan untuk menentukan apakah perusahaan tersebut layak untuk disertifikasi atau tidak, selain itu juga bertujuan untuk menentukan berapa besar biaya yang dibebankan kepada perusahaan tersebut. Setelah dinilai memenuhi persyaratan maka LP POM MUI SU akan melakukan pemeriksaan atau peninjauan langsung ke lokasi produksi.

Label halal MUI berlaku selama 2 tahun. diantara interval waktu yang 2 tahun ini akan diadakan pemeriksaan mendadak terhadap perusahaan yang telah mendapatkan label halal tersebut. Sidak dilakukan paling sedikit 3 kali dalam interval waktu 2 tahun tersebut. Jika dalam sidak diketahui perusahaan tersebut melakukan pelanggaran perjanjian sertifikasi halal maka perusahaan tersebut akan diberi sanksi sesuai dengan peraturan yang berlaku. Jika masa berlakunya label sudah berakhir maka perusahaan berkewajiban mengembalikan label tersebut kepada MUI. Dan jika perusahaan ini tetap mendapatkan sertifikasi halal tersebut

(17)

maka perusahaan tersebut diwajibkan untuk mengajukan permohonan sertifikasi halal kembali sesuai dengan prosedur awal yang tersebut di atas.

2.4. Pengaruh Label Halal Dalam Pengambilan Keputusan Pembelian

Dari tinjauan pustaka sebagaimana diterangkan terdahulu terlihat bahwa soal halal selalu dikaitkan dengan kepentingan konsumen muslim. Pencatuman label halal produk diberikan bila pelaku usaha menyatakan produk yang diperdagangkannya halal dikonsumsi oleh konsumen muslim. Memang masalah halal atau haram sangat peka bagi umat islam, dan dapat dikatakan soal ini menjadi salah satu kepentingan umat islam dalam mengkonsumsi produk makanan yang halal. Dalam ajaran islam seorang muslim tidak diperkenangkan memakan sesuatu kecuali yang halal. Maka dari itu telah dijelaskan dalam Al Qur’an, sebagaimana Allah swt berfirman : Hai manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat dibumi dan janganlah kamu mengikuti langka-langka syaihtan”karena sesungguhnya syaithan adalah musuh yang nyata bagimu (Qs. Al Baqarah 168)

Seperti hal nya kasus Ajinamoto dengan ditemukannya enzim babi dalam proses pembuatannya untuk mengantisipasi hal tersebut di atas maka dalam kegiatan suatu produksi terhadap produk pangan, obat-obatan maupun juga kosmetk harus jelas keberadaan halal haramnya suatu produk. Maka dapat diambil kesimpulannya akan memberikan pengaruh bagi konsumen khususnya konsumen muslim.

(18)

2.5. Keputusan Pembelian

Peroses pengambilan keputusan pembelian menurut Setiadi (2003:16), peroses pembelian yang spesifik terdiri dari : Pengenalan masalah, pencarian informasi, evaluasi alternatif ,keputusan pembelian, dan perilaku pasca pembelian Secara umum digambarkan sebagi berikut :

Sumber : Setiadi (2003 :16)

Gambar 2.2

Peroses pengambilan keputusan pembelian

Gambar ini menunjukkan bahwa konsumen melewati kelima tahap seluruhnya pada tahap pembelian. Secara rinci tahap-tahap teresebut dapat diuraikan sebagai berikut :

1. Pengenalan masalah

Proses pembelian menyadari adanya masalah kebutuhan, pembeli menyadari terdapat perbedaan antara kondisi sesungguhnya dengan kondisi yang diinginkannya. Sehingga para konsumen sering terlibat bila produk mahal, jarang di beli, serta sanagat beresiko apabila kebutuhan tidak sesuai dengan minat beli konsumen dan mempunyai ekspresi pribadi yang tinggi

2. Pencarian informasi

Seorang konsumen yang timbul minatnya akan terdorong untuk mencari informasi yang lebih banyak, baik melalui majalah, televisi maupun internet, sehingga konsumen terdorong oleh perasaan ingin membeli yang Pengenalan masalah Pencarian informasi Evaluasi alternatif Perilaku setelah pembelian Keputusan pembelian

(19)

meyakinkan bahwa barang tersebut mempunyai mamfaat dan berkualitas yang baik.

3. Evaluasi alternatif

Konsumen terlebih dahulu harus mengevaluasi alternatif tersebut sebelum mengambil keputusan pembelian atau melakukan pilihan terhadap suatu alternatif, sehingga alternatif yang dipilih benar-benar bermamfaat dan berkualitas yang baik

4. Keputusan membeli

Pada tahap evaluasi, konsumen membentuk preferensi terhadap pilihan-pilihan. Konsumen mungkin juga membentuk tujuan membeli sesuai dengan kebutuhannya. Sebagimana Kotler (2009:60) mengemukakan bahwa Keputusan membeli di pengaruhi oleh beberapa faktor yaitu : a. Budaya (culture, sub culture dan kelas ekonomi)

b. Sosial (lingkungan masyarakat, dan keluarga) c. Peribadi ( usia, pekerjaan dan keadaan ekomnomi) d. Psikologis (motivasi, persepsi,kepercayaan dan sikap) 5. Perilaku sesudah membeli

Sesudah membeli terhadap suatu produk yang dilakukan konsumen akan mengalami beberapa tingkat kepuasan atau ketidakpuasan. Kepuasan pembelian adalah fungsi dari seberapa dekat antara harapan pembeli atas produk tersebut dengan daya guna yang dirasakan dari produk tersebut, jika melebihi memenuhi harapan maka pelanggan akan merasakan kepuasan atau sangat puas. Sedangkan ketidakpuasan pembelian terhadap

(20)

suatu produk, apabila harapan tidak memenuhi sesuai dengan kepuasan pelanggan maka kepuasan tersebut tidak dapat dirasakan

Keputusan pembelian didasarkan pada Perilaku konsumen adalah dinamis, berarti bahwa perilku seorang konsumen, grop konsumen ataupun masyarakat luas selalu berubah sepanjang waktu. Schiffman dan Kanuk mendefinisikan perilaku konsumen sebagai perilaku yang diperlihatkan konsumen dalam mencari, membeli, menggunakan, mengevaluasi, dan menghabiskan produk dan jasa yang mereka harapkan, sehingga akan memuaskan kebutuhan mereka. Sumarwan, (2003: 25)

Para pemasar wajib memahami keragaman perilaku konsumen agar mampu memasarkan produknya dengan baik. Disamping itu, para pemasar juga perlu memahami mengapa dan bagaimana konsumen mengambil keputusan membeli, sehingga pemasar dapat merancang strategi pemasaran dengan lebih baik. Pemasar yang mengerti perilaku konsumen akan memperkirakan bagaimana kecenderungan konsumen untuk bereaksi terhadap informasi yang diterimanya.

Konsumen adalah orang yang menggunakan barang-barang produksi. Pada saat menjalankan aktivitas sehari-hari, antara lain untuk memenuhi kebutuhan hidup, semua orang melakukan kegiatan konsumsi. Konsumsi adalah setiap kegiatan yang mengurangi atau menghabiskan nilai guna suatu barang atau jasa.Konsumsi bukan hanya berarti makan dan minum, tetapi juga berbagai kegiatan lainnya yang menyangkut pemenuhan kebutuhan hidup. Konsumen memproleh barang atau jasa untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dari produsen, karena para konsumen akan memilih produk dan jasa yang berkualitas dimana

(21)

pun dan kapan pun mereka mampu. Sekali mereka mencoba suatu merek, secara otomatis mereka akan menyamakan pengalaman ini dengan tingkat kualitas tertentu.

2.6. Penelitian Terdahulu

Safridah (2008) dalam penelitiannya yang berjudul “Pengaruh Labelisasi Halal Produk Mie Instan Indomie Terhadap Minat Beli (Studi kasus terhadap minat beli pada ibu rumah tangga dikelurahan Tembung), Kecamatan Medan Tembung Kota Medan” mengemukakan hasil penelitiannya sebagai berikut.

Penelitian ini dilaksanakan pada bulan September-Februari 2008 di Kelurahan Tembung Kecamatan Medan Tembung. Perumusan masalah yang dikemukakan adalah seberapa besar pengaruh labelisasi halal produk mie instan terhadap minat beli ibu rumah tangga di Kelurahan Tembung Kecamatan Medan Tembung Kota Medan. Populasi dalam penelitian ini adalah masyarakat Kelurahan Tembung Kecamatan Medan Tembung yang terdiri dari 6 lingkungan dengan jumlah populasi keseluruhannya sebesar 8.496 orang, yang terdiri dari 1639 kepala keluarga. Pengambilan sampel yang ditetapkan 94 orang didapat dengan menggunakan rumus Taro Yamane.

Maka dipilih jumlah sampel dari tiap lingkungan yaitu menggunakan teknik pengambilan sampel dengan cara purposive sampling. Dimana dalam hal ini pemilihan sampel berdasarkan karakteristik tertentu yang dianggap mempunyai sangkut paut dengan karakteristik populasi. Disini peneliti diberi kebebasan untuk menentukan kriteria berdasarkan tujuan penelitian. Teknik pengumpulan data

(22)

yang dilakukan dalam penelitian ini adalah penelitian lapangan (Field Research), dengan mengumpulkan data secara langsung di lokasi penelitian melalui kuisioner, yaitu dengan menyebarkan daftar pertanyaan yang telah dipersiapkan secara tertulis untuk dijawab oleh responden. Kuisioner penelitian disusun peneliti berdasarkan indikator-indikator dari variabel-variabel penelitian.

Teknik pengumpulan data dengan menggunakan observasi dan kepustakaan (Library Research). Adapun alat hipotesis yang digunakan berupa Koefisien Korelasi Product Moment, Koefisien Determinasi dan Uji-t. Hal ini didukung oleh hasil uji hipotesis dengan mempergunakan teknik analisis data Product Moment diperoleh hasil Koefisien (r) sebesar 0,542. Nilai thitung sebesar 6,185 dan nilai t tabel sebesar 1,98. Hal ini berarti harga thitung > ttabel, maka hubungan diterima, artinya “terdapat hubungan antara labelisasi halal produk mie instan terhadap minat beli ibu rumah tangga di Kelurahan Tembung Kecamatan Medan Tembung Kota Medan”.

Ramadhan Rangkuti (2007) dalam penelitiannya yang berjudul “Pengaruh Labelisasi Halal terhadap Keputusan Pembelian Produk Makanan Dalam Kemasan (Snack Merek Chitato) Pada Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Muhamdiyah Sumatera Utara”. Mengemukakan hasil penelitiannya sebagai berikut : Dalam pembahasannya”. Labelisasi halal berpengaruh terhadap keputusan pembelian konsumen, khususnya konsumen muslim, karena adanya aturan-aturan dalam agama islam yang mengharuskan untuk mengkonsumsi produk yang halal dengan aturan-aturan yang telah ditetapkan dalam Al Qur’an dan Al Hadist.

(23)

Berdasarkan hasil regresi linier sederhana dan uji t yang dilakukan penelitian ini juga menghasilkan jawaban yang hampir sama yaitu labelisasi halal berpengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian. Akan tetapi hasil R2 yang diproleh menunjukkan walaupun labelisasi halal berpengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian konsumen.

Khusus produk Chitato, hasil R2 ini disebabkan produk chitato yang berbahan dasar kentang serta dimana produk ini telah lama dikenal oleh masyarakat, membuat konsumen yakin akan kehalalan chitato dan tidak terlalu memperhatikan keadaan label halal yang ada. Jadi kesimpulannya berdasarkan indentifikasi determinasi diketahui bahwa nilai R2 square sebesar 0,221 berarti menjelaskan bahwa kontribusi labelisasi halal dalam pengambilan keputusan pembelian konsumen pada produk chitato cukup kecil, yaitu hanya 22,1% dan sebagainya

2.7. Kerangka Konseptual

Kebudayaan adalah salah satu faktor penentu keinginan dan prilaku seseorang yang paling mendasar, dalam hal ini faktor agama juga termasuk kedalam faktor budaya. Dengan kata lain agama merupakan salah satu faktor utama dalam prilaku pengambilan keputusan dan prilaku pembelian konsumen. Menurut Wallendorf dan Reilly dalam Setiadi(2003:333) kebudayaan adalah seperangkat pola perilaku yang secara sosial dialirkan secara simbolis melalui bahasa dan cara –cara lain pada anggota dari masyarakat tertentu. Menurut Setiadi(2003:338) simbolis-simbolis kebudayaan dapat berupa sesuatu yang tidak

(24)

kasat mata seperti : sikap, kepercayaan, nilai-nilai, bahasa dan agama atau sesuatu yang kasat mata seperti peralatan, perumahan, produk, hasil seni.

Dengan diketahuinya halal haramnya suatu produk pangan, obat-obatan maupun kosmetika maka secara langsung akan memberikan pengaruh bagi konsumen khususnya konsumen Muslim untuk mempergunakan produk tersebut. Maka dengan adanya label halal pada produk akan mendorong konsumen Muslim dapat memastikan produk mana saja yang boleh mereka konsumsi, yaitu produk yang memilki dan mencantumkan Label Halal pada kemasannya. Berdasarkan uraian tersebut, maka dibuat kerangka konseptual sebagai berikut :

Sumber: Safrida (2008) diolah

Gambar 2.5 Kerangka konseptual 2.8. Hipotesis

Hipotesis merupakan jawaban sementara atas rumusan permasalahan yang diajukan. Menurut Singarimbun dan Effendi (2005:56): “Hipotesis merupakan kesimpulan sementara atau proposisi tentatif hubungan antara 2 (dua) variabel atau lebih”. Adapun hipotesis yang diajukan terhadap rumusan masalah yang telah diajukan adalah : Pengaruh Labelisasi Halal Terhadap Keputusan Pembelian Produk Mie Instan Indomie Pada Mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara

Labelisasi Halal (X)

Keputusan pembelian (Y)

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :