• Tidak ada hasil yang ditemukan

SNI Penyelidikan Tanah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "SNI Penyelidikan Tanah"

Copied!
79
0
0

Teks penuh

(1)

RANCANGAN PEDOMAN TEKNIS

BAHAN KONSTRUKSI BANGUNAN DAN REKAYASA SIPIL

Konsep

Pedoman Penyusunan Spesifikasi Teknis

Volume I : Umum

Bagian – 3 : Pekerjaan Geoteknik

ICS 93.020

BIDANG SUMBER DAYA AIR

RPT0

(2)

DAFTAR ISI ... i

KATA PENGANTAR ... ii

PENDAHULUAN... iii

1. RUANG LINGKUP ... 1

2. ACUAN NORMATIF ... 1

3. ISTILAH DAN DEFINISI ... 5

4. KETENTUAN DAN PERSYARATAN... 9

4.1. Kantor Lapangan dan Fasilitasnya ... 9

4.2. Peralatan... 9 4.3. Persyaratan Pelaksanaan ... 9 5. PELAKSANAAN PEKERJAAN ... 11 5.1. Pengumpulan Data ... 11 5.2. Peninjauan Lapangan ... 11 5.3. Penyelidikan Geoteknik ... 17

5.4. Penyusunan Laporan Hasil Penyelidikan Geoteknik ... 56

6. PENGENDALIAN MUTU ... 60

6.1. Penyelidikan Geoteknik Lapangan ... 60

6.2. Penyelidikan Geoteknik Laboratorium (Index dan Engineering Properties)... 62

7. PENGUKURAN DAN PEMBAYARAN ... 64

7.1. Pengukuran... 64

7.2. Dasar Pembayaran ... 64

BIBLIOGRAFI ... 65

Lampiran – A Bagan Alir Penyelidikan Geoteknik ... 66

Lampiran – B Pedoman Penyelidikan Geoteknik dan Interpretasi Geoteknik ... 68

(3)

Konsep pedoman ini merupakan hasil kajian dari berbagai pedoman spesifikasi teknik pekerjaan yang ada. Pembahasan dilakukan pada Kelompok Umum dari Gugus Kerja Pendayagunaan Sumber Daya Air pada Sub-Panitia Teknis sumber Daya Air yang berada dibawah naungan Panitia Teknis Bahan Konstruksi Bangunan dan Rekayasa Sipil, Departemen Pekerjaan Umum.

Proses pembahasan yang dimulai dari Rapat Kelompok Bidang Keahlian, Rapat Gugus Kerja, Rapat Teknis dan Konsensus pada tingkat Sub-Panitia Teknis Sumber Daya Air yang kemudian Rapat Penetapan pada Panitia Teknis sesuai dengan mekanisme proses pembuatan pedoman di Departemen Pekerjaan Umum.

Pelaksanaan pembahasan untuk masing-masing tingkatan harus dihadiri oleh anggota panitia, nara sumber, konseptor dan tim editor dari perumusan pedoman ini. Komposisi anggota panitia dan nara sumber harus memperhatikan keterwakilan para pemangku kepentingan yaitu antara lain : pemerintah, pakar, konsumen dan produsen dengan komposisi yang seimbang satu sama lain.

(4)

Berdasarkan Undang-undang No. 7 tahun 2004, tentang Sumber Daya Air bahwa pelaksanaan pembangunan sarana dan prasaran sumber daya air harus berdasarkan norma, standar, pedoman dan manual (NSPM). Sehubungan dengan hal tersebut, pada saat ini telah tersusun NSPM yang umumnya mengenai tata cara perencanaan, cara uji mutu pekerjaan dan spesifikasi teknis bahan serta konstruksi dari bangunan air yang akan dibangun.

Pedoman ini disusun sesuai dengan masing-masing tahapan kegiatan yang terdiri dari survey dan investigasi dimana dalam pelaksanaannya mengacu dan berpedoman pada norma, standar, pedoman dan manual (NSPM) yang tercantum pada Acuan Normatif.

Pedoman ini meliputi kegiatan persiapan, pemetaan geologi teknik, pemboran inti, tes penetrasi standar, permeability test, pengambilan contoh-contoh tanah/material bahan bangunan, sumur uji (test pit), penyondiran (dutch cone test), pemboran tangan (hand auger), dan pemasangan patok beton yang disyaratkan atau disetujui yang diperlukan untuk penyelesaian dari pekerjaan untuk berbagai kegiatan pembangunan sarana dan prasarana Ke-PU-an khusunya di bidang Sumber Daya Air.

Pedoman ini mencakup kegiatan analisis geoteknik yang meliputi index (berat isi, berat jenis, kadar air, analisis butiran, batas-batas Atterberg dan hidrometer) dan engineering properties

(direct shear test, unconfined compression test, triaxial test dan consolidation test) yang disyaratkan atau disetujui yang diperlukan untuk penyelesaian dari pekerjaan untuk berbagai kegiatan pembangunan sarana dan prasarana Ke-PU-an khusunya di bidang Sumber Daya Air.

(5)

Pedoman Penyusunan Spesifikasi Teknis Volume I : Umum

Bagian – 3 : Pekerjaan Geoteknik

1. RUANG LINGKUP

Pedoman ini menetapkan ketentuan dan persyaratan, pelaksanaan pekerjaan, pengendalian mutu serta pengukuran dan pembayaran untuk penyelidikan geoteknik.

Pedoman ini mencakup kegiatan pemetaan geologi teknik, pengeboran inti, tes penetrasi standar, permeability test, pengambilan contoh-contoh tanah/material bahan bangunan, sumur uji (test pit), penyondiran (dutch cone test), pengeboran tangan (hand auger) dan pemasangan patok.

Pedoman ini mencakup kegiatan analisis geoteknik yang meliputi index properties secara umum (berat isi, berat jenis, kadar air, batas-batas Atterberg, analisis butiran dan hidrometer) dan engineering properties (direct shear test, unconfined compression test,

triaxial test dan consolidation test) .

2. ACUAN NORMATIF Standar Nasional Indonesia (SNI) :

- SNI 03-1323-1989 : Cara Uji Keplastisan Tanah Menurut Atterberg - SNI 03-1742-1989 : Metode Pengujian Kepadatan Ringan Untuk Tanah - SNI 03-1743-1989 : Metode Pengujian Kepadatan Berat Untuk Tanah - SNI 03-1964-1990 : Metode Pengujian Berat Jenis Tanah

- SNI 03-1965-1990 : Metode Pengujian Kadar Air Tanah - SNI 03-1966-1990 : Metode Pengujian Batas Plastis Tanah

- SNI 03-1967-1990 : Metode Pengujian Batas Cair Dengan Alat Casagrande

- SNI 03-1975-1990 : Metode Mempersiapkan Contoh Tanah dan Tanah Mengandung Agregat

- SNI 03-2411-1991 : Metode Pengujian Lapangan Tentang Kelulusan Air Bertekanan - SNI 03-2417-1991 : Cara Uji Keausan Agregat Dengan Mesin Abrasi Los Angeles - SNI 03-2435-1991 : Metode Pengujian Laboratorium Tentang Kelulusan Air untuk

Contoh Tanah

- SNI 03-2436-1991 : Metode Pencatatan dan Interpretasi Hasil Pemboran Inti

- SNI 03-2437-1991 : Cara Uji Laboratorium Untuk Menentukan Parameter Sifat Fisika Pada Contoh Batu

- SNI 03-2455-1991 : Metode Pengujian Triaxial A

- SNI 03-2486-1991 : Cara Uji Laboratorium Kuat Tarik Benda Uji Batu Dengan Cara Tidak Langsung

- SNI 03-2812-1992 : Metode Pengujian Konsolidasi Tanah Satu Dimensi

- SNI 03-2813-1992 : Metode Pengujian Geser Langsung Tanah Terkonsolidasi Dengan Drainase

- SNI 03-2814-1992 : Cara Uji Indek Kekuatan Batuan Dengan Beban Titik - SNI 03-2815-1992 : Metode Pengujian Triaxial B

- SNI 03-2824-1992 : Cara Uji Geser Langsung Batu - SNI 03-2825-1992 : Cara Uji Kuat Tekan Uniaxial Batu

- SNI 03-2826-1992 : Cara Uji Modulus Elastisitas Batu Pada Tekanan Sumbu Tunggal - SNI 03-2827-1992 : Metode Pengujian Lapangan Dengan Alat Sondir

- SNI 03-2832-1992 : Metode Pengujian Untuk Mendapatkan Kepadatan Tanah Maksimum dengan Kadar Air Optimum

(6)

- SNI 03-3405-1994 : Metode Pengujian Sifat Dispersif Tanah Dengan Alat Pinhole - SNI 03-3406-1994 : Cara Uji Sifat Tahan Lekang Batu

- SNI 03-3407-1994 : Cara Uji Sifat Kekekalan Bentuk Agregat Terhadap Larutan Natrium Sulfat dan Magnesium Sulfat

- SNI 03-3420-1994 : Metode Pengukuran Kuat Geser Langsung Tidak Terkonsolidasi Tanpa Drainase

- SNI 03-3422-1994 : Metode Pengujian Batas Susut Tanah

- SNI 03-3423-1994 : Metode Pengujian Analisis Ukuran Butir Tanah Dengan Alat Hidrometer

- SNI 03-3637-1994 : Metode Pengujian Berat Isi Tanah Berbutir Halus Dengan Cetakan Benda Uji

- SNI 03-3638-1994 : Metode Pengujian Kuat Tekan Bebas Tanah Kohesif

- SNI 03-3968-1995 : Metode Pengukuran Kelulusan Air Pada Tanah Zone Tak Jenuh Dengan Lubang Auger

- SNI 03-4144-1996 : Metode Pengujian Perubahan Volume Susut Tanah - SNI 03-4148-1996 : Cara Uji Penetrasi Dengan SPT.

- SNI 03-4153-1996 : Metode Pengujian Penetrasi Dengan SPT

- SNI 03-4813-1998 : Metode Pengujian Triaksial Untuk Tanah Kohesif Dalam Keadaan Tanpa Konsolidasi dan Drainase

- SNI 03-6371-2000 : Tata Cara Pengklasifikasian Tanah dengan Cara Unifikasi Tanah - SNI 03-6473-2000 : Metode Uji Kelulusan Air dengan Perumusan Tinggi Tekan Air - SNI 03-6790-2002 : Metode Penyiapan Benda Uji dari Contoh Tanah Terganggu - SNI 03-6796-2002 : Metode Pengujian Untuk Menentukan Daya Dukung Tanah

Dengan Beban Statis Pada Pondasi Dangkal

- SNI 03-6802-2002 : Tata Cara Penyelidikan dan Pengambilan Contoh Uji Tanah dan Bahan Untuk Keperluan Teknik

- SNI 13-6424 : Cara Uji Potensi Pengembangan atau Penurunan Satu Dimensi Tanah Kohesif

Pedoman Teknis :

- Pd. T-03.1-2005-A : Tata Cara Penyelidikan Geoteknik, Vol. 1, Penyelidikan pendahuluan, pengeboran dan deskripsi lubang bor

- Pd. T-03.2-2005-A : Tata Cara Penyelidikan Geoteknik, Vol. 2, Pengujian lapangan dan laboratorium

- Pd. T-03.3-2005-A : Tata Cara Penyelidikan Geoteknik, Vol. 3, Interpretasi hasil uji dan penyusunan laporan penyelidikan geoteknik

Petunjuk Teknis :

- PT-03, SK DJ Pengairan No. 185/KPTSA/A/1986 : Persyaratan Teknis Bagian Penyelidikan Geoteknik

- ASTM D 420-87 : Guide for Investigating and Sampling Soil and Rock - ASTM D 422-63 : Test Method for Particle Size Analysis of Soils - ASTM D 512 : Test Method for Chloride Content

- ASTM D 698-78 : Test Methods for Moisture-Density Relations and Soil Aggregate Mixtures Using 5.5-lb (2.49-kg) Rammer and 12-in (305-mm) Drop

- ASTM D 854-83 : Test Method for Specific Gravity of Soils - ASTM D 1125 : Test Method for Resistivity

- ASTM D 1140-54 : Test Method for Amount of Material in Soils Finer than the No. 200 (75μm)

- ASTM D 1557-78 : Test Methods for Moisture-Density Relations and Soil Aggregate Mixtures Using 10-lb (4.54-kg) Rammer and 18-in (457-mm) Drop

(7)

- ASTM D 1586-84 : Standard Method for Penetration Test and Split Barrel Sampling of Soils

- ASTM D 1194-72 : Test Method for Bearing Capacity of Soil for Static Load on Spread Footins

- ASTM D 1195-64 : Test Method for Repetitive Static Plate Load Tests of Soils and Flexible Pavement Components for Airport and Highway Pavements

- ASTM D 1196-64 : Test Method for Nonrepetitive Static Plate Load Tests of Soils and Flexible Pavement Components for Use in Evaluation and Design of Airport and Highway Pavements

- ASTM D 1452-80 : Practice for Soil Investigation and Sampling by Auger Borings - ASTM D 1586-84 : Standard Penetration Test and Split Barrel Sampling of Soils - ASTM D 1587-83 : Practice for Thin-Walled Tube Sampling of Soils

- ASTM D 1883-87 : Test Method for CBR (California Bearing Ratio) of Laboratory-Compacted soils.

- ASTM D 2113-83 : Practice for Diamond Core Drilling for Site Investigation

- ASTM D 2166-85 : Test Method for Unconfined Compressive Strength of Cohesive Soil

- ASTM D 2434 : Test Method for Permeability of Granular Soils (Constant Head) - ASTM D 2435-90 : Test Method for One Dimensional Consolidation Properties of

Soils

- ASTM D 2487-90 : Test Method for Classification of Soils for Engineering Purposes - ASTM D 2488-90 : Practice for Description and Identification of Soils (Visual-Manual

Procedure)

- ASTM D 2573-72 : Test Method for Field Vane Shear Test in Cohesive Soil

- ASTM D 2664-86 : Test Method for Triaxial Compressive Strength of Undrained Rock Core Specimens Without Pore Pressure Measurements - ASTM D 2845-90 : Test Method for Laboratory Determination of Pulse Velocities

and Ultrasonic Elastic Constants of Rock

- ASTM D 2850-87 : Test Method for Unconsolidated, Undrained Compressive Strength of Cohesive Soils in Triaxial Compression

- ASTM D 2938-86 : Test Method for Unconfined Compressive Strength of Intact Core Specimens

- ASTM D 2974-87 : Test Methods for Moisture, Ash and Organic Matter of Peat and Other Organic Soils

- ASTM D 2976-71 : Test Method for pH of Peat Materials

- ASTM D 3080-90 : Test Method for Direct Shear Test of Soils Under Consolidated Drained Conditions

- ASTM D 3148-86 : Test Method for Elastic Moduli of Intact Rock Core Specimens in Uniaxial Compression

- ASTM D 3282 : The Unified Soil Classification System (USCS)

- ASTM D 3385-8 : Infiltration Rate of Soils in Field Using Double Ring Infiltrometers - ASTM D 3550-84 : Practice for Ring-Lined Barrel Sampling of Soils

- ASTM D 3936 : Test Method for Direct Tensile Strength of Intact Rock Core Specimens

- ASTM D 3967-86 : Test Method for Splitting Tensile Strength of Intact Core Specimens

- ASTM D 4015-87 : Test Methods for Modulus and Damping of Soils by the Resonant Column Method

- ASTM D 4043 : Various Field Methods for Permeability Testing - ASTM D 4044 : Slug Tests

- ASTM D 4050 : Pumping Tests

- ASTM D 4220-89 : Practices for Preserving and Transporting Soil Samples - ASTM D 4230 : Test Method for Sulfate Content.

(8)

- ASTM D 4318-84 : Test Method for Liquid Limit, Plastic Limit and Plasticity Index if Soils

- ASTM D 4341-84 : Test Method for Creep of Cylindrical Hard Rock Core Specimens in Uniaxial Compression

- ASTM D 4405-84 : Test Method for Creep of Cylindrical Soft Rock Core Specimens in Uniaxial Compression

- ASTM D 4428-84 : Test Method for Crosshole Seismic Test - ASTM D 4429-84 : Test Method for Bearing Ratio of Soils in Place - ASTM D 4525-90 : Test Method for Permeability of Rocks by Flowing Air

- ASTM D 4543-85 : Standard Practice for Preparing Rock Specimens and

Determining, Dimensional and Shape Tolerances - ASTM D 4544-86 : Practice for Estimating Peat Deposit Thickness

- ASTM D 4546-90 : Test Methods for One-Dimensional Swell or Settlement Potential of Cohesive Soils

- ASTM D 4630-86 : Test Method for Determining Transmissivity and Storativity of Low-Permeability Rocks by In-situ Measurements Using the Constant Head Injection Test

- ASTM D 4631-86 : Test Method for Determining Transmissivity and Storativity of Low-Permeability Rocks by In-situ Measurements Using the Pressure Pulse Technique

- ASTM D 4644-87 : Test Method for Slake Durability of Shales and Similar Weak Rocks

- ASTM D 4645-87 : Test Method for Determination of the In-situ Stress in Rock Using the Hydraulic Fracturing Method

- ASTM D 4648-87 : Test Method for Laboratory Miniature Vane Shear Test for Saturated Fine-Grained Clayey Soil

- ASTM D 4700 : General Methods of Augering, Drilling & Site Investigation - ASTM D 4719-87 : Test Method for Pressurmeter Testing in Soils

- ASTM D 4750-87 : Test Method for Determining Subsurface Liquid Levels in Borehole or Monitoring Well (Observation Well)

- ASTM D 4767-88 : Test Method for Consolidated-Undrained Triaxial Compression Test on Cohesive Soils

- ASTM D 4879-02 : Guide for Geotechnical Mapping of Large Underground Opening in Rock

- ASTM D 4959-89 : Test Method for Determination of Water (Moisture) Content of Soil by Direct Heating Method.

- ASTM D 4972-89 : Test Method for pH of Soils

- ASTM D 5079-90 : Practices for Preserving and Transporting Rock Core Samples - ASTM D 5084 : Test Method for Measurement of Hydraulic Conductivity of

Saturated Porous Materials Using a Flexible Wall Permeameter - ASTM D 5092-90 : Design and Installation of Ground Monitoring Wells in Aquifers - ASTM D 5093 : Field Measurement of Infiltration Rate Using Double-Ring

Infiltrometer with a Sealed-Inner Ring.

- ASTM D 5126-90 : Comparison of Field Methods for Determining Hydraulic Conductivity in the Vadose Zone

- ASTM D 5333 : Test Method for Measurement of Collapse Potenstial of Soils - ASTM D 5407 : Test Method for Elastic Modul of Intact Rock Core in Triaxial

Compression

- ASTM D 5607 : Laboratory Direct Shear Strength Test for Rock Specimens Under Constant Normal Stress

- ASTM D 5731 : Test Method for Determining Point Load Index (IS)

- ASTM D 5777 : Guide for Seismic Refraction Method for Subsurface

Investigation

(9)

- ASTM D 6635 : Procedures for Flat Dilatometer Testing in Soils

- ASTM G 51 : Test Method for pH of Soil for Use in Corrosion Testing - ASTM G-57-78 : Field Measurement of Soil Resistivity (Wenner Array) - FHWA NHI-01-031 : Manual on Subsurface Investigations

3. ISTILAH DAN DEFINISI

3.1 Batas cair tanah adalah kadar air minimum dimana sifat suatu jenis tanah berubah dari keadaan cair menjadi plastis

3.2 Batas plastis tanah adalah batas dimana suatu tanah berubah sifatnya dari keadaan plastis menjadi semi padat

3.3 Batas susut tanah adalah kadar air batas minimum, dimana pada pengurangan kadar air tersebut tidak akan menyebabkan perubahan volume massa tanah, mulai terjadi penyusutan volume tanah

3.4 Batuan (rock) adalah gabungan atau kumpulan mineral alamiah padat yang terbentuk sebagai massa yang besar atau pecahannya, atau agregat bentukan alamiah dari mineral berupa massa yang besar atau pecahan-pecahannya.

3.4.1 Batuan beku (igneous rock) adalah batuan yang terbentuk oleh kristalisasi massa lelehan batu yang berasal dari gunung berapi.

3.4.2 Batuan malihan (metamorphic rock) adalah batuan yang terbentuk sebagai akibat tegangan geser yang amat besar yang terjadi pada proses orogenik yang dipengaruhi panas dan air. Hal ini menyebabkan aliran plastis atau akibat panas batuan leleh yang masuk ke batuan kekar dan perubahan-perubahan secara kimiawi serta menghasilkan mineral-mineral baru.

3.4.3 Batuan sedimen (sedimentary rock) adalah batuan yang terbentuk dari proses pengendapan yang diangkut dan diendapkan. Material ini kadang-kadang sebagai hujan kimia atau sisa-sisa tanaman dan binatang yang telah membeku akibat panas dan tekanan yang amat besar atau reaksi kimia.

3.4.4 Batuan utuh adalah batuan atau blok batuan atau potongan batuan yang tidak mengalami kerusakan. Sifat-sifat hidraulik dan mekaniknya dapat dikontrol dengan uji karakteristik petrografi material yang dapat menunjukkan batuan segar atau batuan terurai. Klasifikasinya dinyatakan dengan uji kekuatan tekan aksial tunggal dan uji kekerasan.

3.5 Berat isi tanah adalah berat isi, dalam keadaan tanah masih mengandung air 3.6 Berat jenis tanah adalah angka perbandingan antara berat butir tanah dengan berat

isi air suling dengan isi sama pada suhu 40C.

3.7 Cetakan benda uji adalah cetakan yang mempunyai bentuk beraturan, isi dan beratnya dapat diukur secara tepat.

3.8 Data geologi adalah kondisi umum permukaan tanah daerah yang bersangkutan, dengan keadaan geologi lapangan, kedalaman lapisan keras, sesar, kelulusan tanah, bahaya gempa bumi, dan parameter yang harus digunakan.

3.8.1 Kekar adalah diskontinuitas yang terjadi karena gaya tektonik pada batuan, pengerasan magma menjadi batuan, namun tidak menunjukkan gejala pergeseran. 3.8.2 Pemetaan geologi adalah Pekerjaan pengumpulan data geologi terperinci setempat

(insitu) secara sistematik, yang digunakan untuk memberikan data karakteristik dan dokumentasi kondisi massa batuan atau singkapan (yang diperlukan untuk desain lereng galian atau stabilisasi lereng yang ada.

(10)

3.9 Retak-pecah (fracture) adalah istilah umum untuk segala jenis ketidak-sinambungan mekanis pada batuan, atau suatu kondisi diam pada keketidak-sinambungan mekanis badan batuan akibat tegangan yang melampaui kekuatan batuan, contohnya sesar (faults), kekar (joints), retakan (cracks), dan lain-lain.

3.10 Data geoteknik/mekanika tanah adalah kondisi bahan fondasi, bahan konstruksi, sumber bahan timbunan, batu untuk pasangan batu kosong, agregat untuk beton, batu belah untuk pasangan batu, dan parameter tanah yang harus digunakan. 3.11 Deskripsi kualitas batuan (Rock Quality Designation = RQD) adalah persentase

termodifikasi dari perolehan inti dengan jumlah panjang potongan inti utuh yang melebihi 100 mm (4 in) dan dibagi dengan panjang inti. Atau RQD merupakan ukuran persentase batuan yang terambil dari sebuah interval lubang bor.

3.12 Deskripsi tanah adalah pemberian nama contoh tanah secara sistematik, tepat dan lengkap, baik dalam bentuk tertulis maupun lisan.

3.13 Gradasi tanah adalah komposisi ukuran butir suatu jenis tanah

3.14 Hidrometer adalah suatu alat pengujian berdasarkan proses sedimentasi tanah 3.15 Investigasi geologi merupakan suatu kegiatan penyelidikan tanah yang berfungsi

untuk mengetahui karakteristik tanah yang diperlukan sebagai data masukan/input untuk keperluan perencanaan bangunan.

3.16 Kadar air tanah adalah perbandingan antara berat air yang terkandung dalam tanah dengan berat kering tanah

3.17 Kadar air optimum adalah kadar air dimana berat isi keringnya mencapai maksimum

3.18 Kekuatan geser tanah adalah tahanan atau tegangan geser maksimum yang dapat ditahan oleh tanah pada kondisi pembebanan tertentu

3.19 Kekuatan geser tanah pada kondisi tanpa drainase adalah kekuatan maksimum yang dapat ditahan oleh tanah apabila tanah digeser dengan cepat sehingga drainase air dalam tanah tidak terjadi

3.20 Kepadatan tanah dalah perbandingan antara berat tanah terhadap volume tanah 3.21 Kerangka batang pemuntir adalah pipa pelindung yang dipasang disekeliling

batang pemuntir untuk mencegah gesekan batuan antara batang pemuntir dan dinding lubang bor atau pipa pelindung lubang bor waktu pengujian.

3.22 Klasifikasi batuan adalah pengelompokan batuan untuk menggolongkan batuan utuh padat dan massa batuan berdasarkan perilaku atau komposisi dan tekstur; berdasarkan tegangan tekan dan rasio modulus; atau berdasarkan akibat pembebanan yang diperkirakan dari pola diskontinuitas, rekahan, kekar, celah-celah, retakan dan bidang perlemahan.

3.23 Klasifikasi tanah adalah pengelompokan tanah dalam kategori yang berdasarkan atas hasil-hasil uji indeks propertis (sifat fisik) misalnya nama kelompok dan simbol. 3.23.1 Uji geoteknik insitu adalah uji lapangan yang terdiri atas metode jenis penetrasi

(SPT, CPT, CPTu, DMT, CPMT, VST) dan jenis probing (PMT, SBP), untuk mendapatkan langsung respon tanah dasar di bawah pengaruh berbagai pembebanan dan kondisi drainase. Uji-uji tersebut saling melengkapi dan dapat digunakan bersama-sama dengan uji geofisik untuk mengembangkan pemahaman sifat perlapisan tanah dan batuan di daerah lokasi proyek.

3.23.2 Uji geser baling (VST = vane shear test) atau uji baling lapangan (FV = field

(11)

tidak terdrainase setempat dari lempung lunak-kaku dan lanau pada interval kedalaman 1 m (3,28 ft) atau lebih.

3.23.3 Uji penetrasi konus (CPT = Cone penetration test) atau uji sondir adalah uji lapangan yang paling terkenal di Indonesia, karena dapat dilakukan dengan cepat, ekonomis, dan memberikan gambaran profil lapisan tanah yang kontinu untuk digunakan dalam evaluasi karakteristik tanah. Uji CPT dapat digunakan dalam tanah lempung sangat lunak sampai pasir padat, tetapi tidak memadai untuk kerikil atau batuan.

3.23.4 Uji penetrasi standar (SPT = Standard penetration test) adalah uji yang dilaksanakan bersamaan dengan pengeboran untuk mengetahui baik perlawanan dinamik tanah maupun pengambilan contoh terganggu dengan teknik penumbukan. Uji SPT terdiri atas uji pemukulan tabung belah dinding tebal ke dalam tanah dan disertai pengukuran jumlah pukulan untuk memasukkan tabung belah sedalam 300 mm (1 ft) vertikal.

3.23.5 Uji pinhole adalah uji yang dilakukan untuk mengidentifikasi tanah lempungan apakah bersifat mudah tergerus atau tidak (SNI-03-3405). Tanah lempung yang mudah tergerus disebabkan karena proses pelarutan dan dikategorikan sebagai lempung bersifat khusus yang disebut sebagai tanah dispersif (dispersive clays). 3.23.6 Uji pisokonus adalah uji penetrometer konus dengan tambahan transduser untuk

mengukur tekanan air pori selama pemasukan probe.

3.24 Koefisien kelulusan air (k) adalah angka yang menunjukkan kemampuan tanah/batuan untuk mengalirkan air, dan dinyatakan dalam satuan panjang dibagi satuan waktu (cm/s).

3.24.1 Sifat kelulusan air tanah/batuan adalah kemampuan tanah/batuan untuk mengalirkan air melalui rongga antarbutiran dan atau diskontinuitas.

3.24.2 Nilai Lugeon (Lu) adalah angka yang menunjukkan kemampuan batu atau tanah mengalirkan air, dinyatakan dalam liter per menit per meter kedalaman pada tekanan 10 bar (1 bar = 1,0197 kg/cm2).

3.24.3 Uji kelulusan air bertekanan adalah pengujian langsung di lapangan untuk mengetahui sifat lulus air dari batuan, dengan cara memasukkan air bertekanan ke dalam lubang bor batuan yang diuji.

3.25 Koefisien rembesan tanah adalah koefisien yang tergantung pada beberapa faktor, yaitu: kekentalan cairan, distribusi ukuran pori, distribusi ukuran butiar, angka pori, kekasaran permukaan butiran tanah, dan derajat kejenuhan tanah.

3.26 Kohesi tanah adalah kekuatan saling mengikat antara butir tanah

3.27 Konsolidasi adalah suatu proses perubahan volume tanah akibat keluarnya air pori yang disebabkan oleh peningkatan tekanan air pori dalam lapisan tanah jenuh air yang diberi beban sampai terjadi kondisi seimbang.

3.28 Terkonsolidasi adalah suatu proses dengan memberikan tekanan samping sesuai dengan kebutuhan dan dibiarkan hingga tekanan air porinya kembali pada tekanan semula sebelum pengujian.

3.29 Uji konsolidasi adalah uji yang dilakukan untuk mengetahui karakteristik suatu tanah selama proses konsolidasi berlangsung dan merupakan suatu metode uji untuk menentukan koefisien pemampatan dan kelulusan air tanah.

3.30 Kuat tekan bebas adalah besarnya beban aksial per satuan luas 3.31 Lubang uji adalah lubang bor dimana digunakan untuk melakukan uji.

(12)

3.32 Parit uji adalah galian yang dibuat dengan bentuk seperti parit dengan tujuan untuk mengetahui lebih jelas geologi di permukaan, misalnya batas atau bidang kontak lapisan-lapisan batuan, rekahan (fracture), patahan, tingkat pelapukan dan tebal lapisan penutup (over burden)

3.33 Sumur uji (test pit) adalah sumuran uji yang dibuat dengan tujuan untuk mengetahui jenis dan tebal lapisan tanah dengan lebih jelas, baik untuk pondasi bangunan maupun untuk bahan timbunan pada daerah sumber galian bahan (borrow area)

3.34 Pencatatan hasil pengeboran adalah data dasar penyelidikan yang memberikan data terperinci hasil penyelidikan dan merupakan deskripsi prosedur penyelidikan dan kondisi geoteknik yang terjadi selama pengeboran, pengambilan contoh dan pengeboran inti.

3.35 Pengeboran adalah suatu proses pembuatan lubang vertikal/miring/horisontal pada tanah/batuan dengan atau tanpa menggunakan alat/mesin untuk keperluan deskripsi tanah/batuan, biasanya dapat dilakukan bersama-sama dengan uji lapangan dan pengambilan contoh tanah/batuan.

3.35.1 Pengeboran tangan adalah alat bor untuk mendapatkan informasi geoteknik dangkal di lapangan yang sulit dimasuki kendaran beroda empat, dengan standar umum lubang tipe bor auger. Untuk tanah kohesif yang stabil, bor tangan dapat dilanjutkan untuk membantu pemeriksaan secara terperinci kondisi tanah dan batuan dangkal dengan biaya relatif rendah.

3.35.2 Pengeboran tanpa inti (non-coring/destructive) adalah cara yang relatif cepat dan murah dalam melanjutkan pengeboran bila tidak diperlukan contoh batuan inti, biasanya digunakan untuk membantu menentukan bagian atas batuan dan Mengidentifikasi rongga pelarutan di daerah karst.

3.35.3 Pipa lindung (casing) adalah pipa yang ditempatkan di lubang bor untuk melindungi tepi lubang bor agar pengeboran dapat dilanjutkan secara bertahap. 3.36 Tanah adalah campuran butiran mineral tanah berbentuk tidak teratur dari berbagai

ukuran yang mengandung pori-pori di antaranya. Pori-pori ini dapat berisi air jika tanah jenuh, air dan udara jika jenuh sebagian, dan udara saja jika keadaan kering. Butiran itu merupakan hasil pelapukan batuan secara mekanik dan kimiawi, yang dikenal sebagai kerikil, pasir, lanau, dan lempung.

3.36.1 Contoh tanah terganggu (disturbed samples) adalah contoh tanah yang sebagian atau seluruh struktur asli tanah terganggu, sementara kadar airnya tetap dijaga. 3.36.2 Contoh tanah tidak terganggu (undisturbed samples) adalah contoh tanah yang

struktur asli tanah dan sifat/karakteristiknya dijaga tetap seperti di lapangan tanpa gangguan; contoh ini paling cocok untuk pengujian di laboratorium terutama uji kekuatan geser tanah.

3.36.3 Kuat geser tanah adalah sifat struktur tanah anisotropis yang meliputi kuat geser tanah kohesif tidak terdrainase dan sudut geser tanah nonkohesif yang dipengaruhi oleh arah tegangan utama relatif terhadap arah pengendapan.

3.37 Tegangan geser tanah adalah perlawanan tanah terhadap deformasi bila diberi tegangan geser

3.38 Tekanan air pori adalah tekanan hidrostatik dalam ruang pori antar butir yang terisi air

3.39 Tekanan air pori berlebihan adalah tekanan pori yang terjadi akibat peningkatan tekanan luar secara tiba-tiba

(13)

3.40 Tekanan balik pada contoh tanah adalah tekanan air yang diberikan pada pori-pori contoh agar udara tercampur dengan air, sehingga contoh menjadi jenuh

3.41 Tekanan konsolidasi adalah perbedaan tekanan antara tekanan sel dengan tekanan pori sebelum konsolidasi dimulai

4. KETENTUAN DAN PERSYARATAN

Persyaratan umum yang perlu diperhatikan dalam pedoman spesifikasi teknis penyelidikan dan analisa geoteknik harus memuat:

4.1 Kantor Lapangan dan Fasilitasnya

Penyedia Jasa harus menyediakan kantor lapangan dan fasilitasnya dengan memperhatikan prinsip dasar berikut :

1) Penyedia Jasa harus mentaati semua peraturan-peraturan Nasional maupun Daerah. 2) Kantor dan fasilitasnya harus ditempatkan sesuai dengan Lokasi Umum dan Denah

Lapangan yang telah disetujui dan merupakan bagian dari Program Mobilisasi, di mana penempatannya harus diusahakan sedekat mungkin dengan daerah kerja (site) dan telah mendapat persetujuan dari Direksi Pekerjaan.

3) Bangunan untuk kantor dan fasilitasnya harus ditempatkan sedemikian rupa sehingga bebas dari polusi yang dihasilkan oleh kegiatan pelaksanaan.

4) Bangunan yang dibuat harus mempunyai kekuatan struktural yang baik, tahan cuaca, dan elevasi lantai yang lebih tinggi dari tanah di sekitarnya.

5) Sesuai pilihan Penyedia Jasa, bangunan dapat dibuat di tempat atau dirakit dari komponen-komponen pra-fabrikasi.

6) Kantor lapangan dan gudang sementara harus didirikan di atas pondasi yang mantap dan dilengkapi dengan penghubung untuk pelayanan utilitas.

7) Bahan, peralatan dan perlengkapan yang digunakan untuk bangunan dapat baru atau bekas pakai, tetapi dengan syarat harus dapat berfungsi, cocok dengan maksud pemakaiannya dan tidak bertentangan dengan perundang-undangan dan peraturan yang berlaku.

8) Lahan untuk kantor lapangan dan semacamnya harus ditimbun dan diratakan sehingga layak untuk ditempati bangunan, bebas dari genangan air, diberi pagar keliling, dan minimum dilengkapi dengan jalan masuk dari kerikil serta tempat parkir. 9) Penyedia Jasa harus menyediakan alat pemadam kebakaran dan kebutuhan P3K

yang memadai di seluruh barak, kantor, gudang dan bengkel. 4.2 Peralatan

Penyedia Jasa harus menyediakan semua alat ukur. Peralatan penyelidikan geologi teknik yang akan dipergunakan harus masih dalam keadaan layak pakai (tidak rusak) dan memenuhi syarat ketelitian yang diminta.

Semua alat penyelidikan geologi teknik harus dicek dahulu oleh Direksi Pekerjaan dan apabila ada kerusakan Direksi berhak memerintahkan untuk mengganti alat tersebut dengan yang layak pakai.

4.3 Persyaratan Pelaksanaan 1) Program Kerja

Penyedia Jasa akan menyerahkan suatu program yang menunjukkan urut-urutan pelaksanaan penyelidikan yang akan dilakukan. Program ini menunjukkan

(14)

kegiatan-kegiatan untuk setiap pekerjaan dan waktu yang diperlukan untuk menyelesaikannya. Waktu maksimum yang diusulkan tidak boleh melebihi waktu maksimum yang ditentukan dalam kontrak.

2) Mobilisasi Personil

Penyedia Jasa harus melakukan mobilisasi personil sesuai dengan ketentuan sebagai berikut :

a) Mobilisasi Personil Penyedia Jasa yang memenuhi jaminan kualifikasi (sertifikasi) menurut cakupan pekerjaannya (pembangunan, pemeliharaan berkala, atau pemeliharaan rutin)

b) Mobilisasi semua staf Penyedia Jasa dan pekerja yang diperlukan dalam pelaksanaan dan penyelesaian pekerjaan dalam Kontrak

3) Mobilisasi Fasilitas dan Peralatan

Penyedia Jasa harus memobilisasi fasilitas dan peralatan sesuai dengan ketentuan sebagai berikut :

a) Jika diperlukan, maka menyediakan sebidang lahan yang diperlukan untuk base-camp pelaksanaan pekerjaan di sekitar lokasi proyek.

b) Mobilisasi dan pemasangan peralatan sesuai dengan daftar peralatan yang tercantum dalam Penawaran, dari suatu lokasi asal ke tempat pekerjaan di mana peralatan tersebut akan digunakan menurut Kontrak ini.

4) Demobilisasi

Kegiatan Demobilisasi berupa pembongkaran tempat kerja oleh Penyedia Jasa pada saat akhir Kontrak termasuk pemindahan semua instalasi, peralatan dan perlengkapan dari tanah milik Pemerintah dan pengembalian kondisi tempat kerja menjadi kondisi seperti semula sebelum pekerjaan dimulai.

5) Pematokan

Perkiraan lokasi pekerjaan ditunjukkan pada Gambar-gambar Kontrak. Lokasi yang sebenarnya akan ditetapkan di lapangan oleh Penyedia Jasa berdasarkan peta lokasi atau gambar-gambar selanjutnya yang diberikan oleh Pengguna Jasa. Penentuan lokasi pekerjaan secara tepat di lapangan akan sepenuhnya menjadi tanggungjawab Penyedia Jasa.

Penyedia Jasa akan melakukan pengukuran sipat datar (levelling), memberikan elevasi-elevasi tanah yang akurat dan semua koordinat untuk setiap lubang. Elevasi-elevasi tersebut akan diberikan sehubungan dengan titik-titik tetap (Benchmark) yang sudah ditetapkan di lapangan oleh Ahli Pengukuran yang akan dilakukan dan harus disetujui oleh Direksi Pekerjaan (Pemberi Pekerjaan).

6) Tenaga Kerja

Penyedia Jasa akan selalu mempekerjakan di lapangan tenaga-tenaga pengeboran dan staf pengawas yang berpengalaman, tertib, ahli dan dalam jumlah yang cukup termasuk insyinyur-insyinyur dan ahli-ahli geologi yang melaksanakan dan mengawasi jalannya pengeboran, pengambilan contoh, penampangan (logging) dan pengujian di tempat.

Penyedia Jasa harus mengganti pekerja lapangan yang menurut penilaian Pengguna Jasa tidak kompeten atau lalai dalam melakukan tugasnya atau yang berkelakuan tidak baik. Orang-orang seperti itu tidak akan dipekerjakan kembali di lokasi tanpa seijin Pemberi Pekerjaan.

(15)

5. PELAKSANAAN PEKERJAAN

Pelaksanaan pekerjaan yang perlu diperhatikan dalam pedoman spesifikasi teknis penyelidikan geoteknik harus memuat :

5.1 Pengumpulan Data

Pengumpulan dan pengkajian data diperlukan untuk perencanaan penyelidikan geoteknik. Hasil kajian data dan informasi ini untuk penentuan lokasi dan kedalaman pengeboran, mengetahui informasi sejarah dan geologi yang penting yang harus disajikan dalam laporan geoteknik.

Sumber-sumber data dan informasi geologi dan historis yang penting antara lain adalah: 1) Penyelidikan geoteknik masa lampau (data historis) di atau dekat lokasi proyek; 2) Peta, laporan dan publikasi dari Direktorat Geologi;

3) Perpustakaan universitas setempat dan perpustakaan pusat dari institusi terkait;

4) Data geologi, data gempa, peta bahaya gempa, peta patahan, dan informasi dari instansi atau institusi yang terkait (BMG, Direktorat Geologi, Pusat Litbang Sumber Daya Air). 5.2 Peninjauan Lapangan

Peninjauan lapangan ke lokasi rencana proyek diperlukan untuk memperluas informasi geologi, geoteknik, dan kondisi jalan masuk. Data dan informasi ini untuk penyusunan program dan rencana penyelidikan geoteknik, termasuk di dalamnya penyusunan spesifikasi. Data dan informasi yang diperlukan untuk peninjauan lapangan adalah:

1) Rencana desain dan konstruksi serta kondisi lapangan secara umum;

2) Peninjauan geologi, geomorfologi dan kondisi jalan masuk untuk membantu transportasi peralatan lapangan;

3) Pengaturan lalu lintas selama pekerjaan penyelidikan lapangan, lokasi prasarana yang berada di atas dan di bawah permukaan, jenis dan kondisi fasilitas yang tersedia (jalan, jembatan dan lain-lain), penggunaan lahan yang berdekatan (bangunan sekolah, tempat ibadah, fasilitas penelitian dan lain-lain), pembatasan jam kerja, batasan hak melintas lebih dulu dan persoalan lingkungan;

4) Lereng gunung yang curam, singkapan, tanda-tanda erosi, penurunan permukaan; elevasi banjir, lalu lintas air dan jalan masuk ke lokasi pengeboran; patok dan titik referensi lainnya untuk membantu menentukan lokasi lubang bor; tempat gudang peralatan dan keamanan.

5.3 Penyelidikan Geoteknik

Program penyelidikan geoteknik dimodifikasi setelah penyelidikan pendahuluan dilakukan sehubungan dengan hal-hal:

1) Adanya kendala/batasan jalan masuk ke lokasi pekerjaan; 2) Adanya perubahan kondisi geoteknik yang telah ditentukan;

3) Untuk keperluan modifikasi program penyelidikan, pengawas (tenaga ahli geoteknik atau geologi) harus segera menunjukkan kondisi proyek, maksud penyelidikan, persyaratan pengambilan contoh dan pengujian dan kondisi geoteknik yang mungkin terjadi;

4) Pengawas lapangan bertanggungjawab atas pemeriksaan (verifikasi) pekerjaan yang berkaitan dengan rencana program, kemajuan komunikasi dengan tenaga ahli geoteknik dari pihak pemberi tugas dan kelancaran komunikasi dari tenaga ahli geoteknik mengenai kondisi geoteknik yang tidak biasa atau yang mengalami perubahan.

(16)

Petunjuk umum yang harus diikuti pengawas geoteknik di lapangan meliputi hal-hal sebagai berikut.

1) Memahami lingkup proyek, spesifikasi teknik dan perihal pembayaran (ada dokumentasi satu kopi dari hasil rencana lokasi pengeboran dan spesifikasi di lapangan);

2) Memahami kondisi lapangan jalan masuk dan setiap pembatasan; 3) Mengkaji informasi geologi dan geoteknik yang tersedia;

4) Mengkaji data lapangan yang diperoleh berkaitan dengan tujuan penyelidikan secara kontinyu;

5) Mengatur hubungan harian dengan tenaga ahli geoteknik proyek; dan memberikan uraian ringkas berkaitan dengan kemajuan pekerjaan, kondisi, permasalahan dan lain-lain;

6) Mengisi formulir tipikal secara teratur yang terdiri atas: a) memo lapangan harian;

b) lubang bor, sumuran uji, instalasi sumur dan lain-lain;

c) laporan pengeluaran subkontrak-formulir isian harian, penandatangan dengan petugas pengeboran.

7) Mengamati dengan seksama pekerjaan pengeboran setiap waktu dan memperhatikan dengan cermat hal-hal sebagai berikut:

a) kedalaman rata-rata (pengukuran panjang batang dan contoh); b) prosedur pengambilan contoh dan pengeboran;

c) adanya ketidakseragaman, kehilangan air, batang jatuh dan lain-lain; d) penghitungan pukulan SPT dan pukulan pada pipa lindung (casing); e) pengukuran kedalaman air tanah.

8) Membimbing petugas pengeboran untuk mengikuti spesifikasi;

9) Mengklasifikasi contoh-contoh tanah dan batuan, meletakkan contoh dalam tabung contoh dan memberi label, memastikan inti batuan telah disimpan dengan baik, membuat foto dan perlindungan contoh;

10) Memverifikasi bahwa contoh tidak terganggu telah diambil, ditangani, dilindungi (sealed), diberi label dan diangkut dengan baik;

11) Tidak membuka rahasia informasi kepada siapa pun, kecuali kepada tenaga ahli geoteknik atau pemberi tugas;

12) Jika ada keraguan atau timbul permasalahan, maka pekerjaan dihentikan dan didiskusikan dengan tenaga ahli geoteknik dari pihak pemberi tugas.

1) Penyelidikan Geoteknik Proyek Baru a) Penyelidikan Geoteknik Pendahuluan

Penyelidikan geoteknik pendahuluan atau studi pemilihan yang dilakukan oleh tenaga ahli geoteknik sesuai dengan perencanaan meliputi hal-hal sebagai berikut (periksa daftar simak pada Lampiran B Gambar B.1):

(1) Mengidentifikasi lokasi yang terbaik dari beberapa lokasi rencana bangunan; (2) Mengevaluasi beberapa alternatif pondasi;

(3) Tidak diperlukan penyelidikan secara terperinci;

(4) Hanya meliputi tinjauan geologi dan beberapa pengambilan contoh, identifikasi kondisi di bawah permukaan untuk mengetahui karakteristik kondisi perlapisan tanah/batuan secara umum, antara lain: kedalaman batuan atau tanah, ada

(17)

lubang langga (sinkholes) dan atau lubang-lubang pelarutan, endapan tanah organik di daerah rawa, dan atau adanya timbunan tua, debris atau pencemaran;

(5) Jika diperlukan, maka hanya beberapa uji laboratorium (yang sangat bergantung pada deskripsi kondisi geoteknik dari lubang bor) yang disiapkan oleh tenaga ahli lapangan dan atau ahli geologi yang berpengalaman;

(6) Jika ditemukan hal-hal yang meragukan, maka perlu mengkaji dan memecahkan masalah kondisi pondasi yang dapat mengakibatkan biaya pelaksanaan konstruksi yang tinggi.

b) Penyelidikan Geoteknik Rinci

Penyelidikan geoteknik rinci dilakukan untuk mengetahui karakteristik lapangan secara terperinci yang diperlukan untuk pekerjaan desain dan konstruksi.

Penyelidikan geoteknik pada tahapan desain dilaksanakan dalam dua tahap atau lebih sebagai berikut:

(1) Penyelidikan tahap awal dilakukan secara tipikal dalam proses desain pendahuluan sebelum menentukan bagian-bagian bangunan yang direncanakan atau lokasi-lokasi khusus pondasi, timbunan atau tembok penahan tanah. Penyelidikan tipikal ini meliputi pengeboran dan pengujian untuk mengetahui stratigrafi umum, karakteristik tanah dan batuan, kondisi muka air tanah dan kondisi lainnya yang penting untuk keperluan desain pondasi;

(2) Penyelidikan tahap kedua atau tahap akhir dilaksanakan untuk mendapatkan informasi geoteknik lapangan secara khusus pada lokasi-lokasi pondasi yang diperlukan dalam desain dan untuk mengurangi risiko kondisi tanah yang tidak terduga selama konstruksi;

(3) Jika terdapat perubahan desain yang signifikan atau jika terdapat keganjilan kondisi geoteknik di lapangan (insitu), maka dapat dilakukan penyelidikan tahap selanjutnya.

Data dan informasi dari perencana yang diperlukan oleh tenaga ahli geoteknik sebelum perencanaan dan penyelidikan geoteknik dilaksanakan (Lampiran B Tabel B.1), antara lain adalah:

(1) Jenis/tipe, kriteria beban dan kinerja bangunan, lokasi, geometri dan elevasi bangunan yang direncanakan;

(2) Lokasi dan dimensi galian dan timbunan, bendungan urugan/tanggul, bendung, tembok penahan dan bangunan pondasi yang harus diidentifikasi dengan cermat;

(3) Lokasi bangunan air, jalan masuk dan jenis konstruksi bangunan air yang harus disediakan secara terperinci untuk memudahkan penentuan lokasi, kedalaman, jenis dan jumlah pengeboran yang harus dilakukan.

2) Penyelidikan Geoteknik Proyek Rehabilitasi a) Penyelidikan Geoteknik Pendahuluan

Penyelidikan geoteknik pendahuluan dilakukan berkaitan dengan proyek rehabilitasi dan perbaikan fasilitas bangunan air. Sebagai contoh perbaikan akibat bocoran lewat terowongan outlet bendungan, kerusakan akibat longsoran, stabilitas tanggul atau timbunan, stabilisasi lereng, penurunan struktur bangunan air dan penggantian sistem pondasi tua.

(18)

b) Penyelidikan Geoteknik Rinci

Penyelidikan geoteknik secara terperinci dilakukan untuk proyek rehabilitasi bergantung pada faktor-faktor seperti berikut:

(1) Kondisi fasilitas/bangunan yang akan direhabilitasi;

(2) Bangunan mengalami kerusakan, misalnya kerusakan tanggul atau jalan tepi, kerusakan yang serius, penurunan struktur, longsoran, drainase dan aliran air serta kemungkinan kegagalan yang akan datang;

(3) Bangunan akan diperbaiki seperti keadaan aslinya dan sesuai dengan gambar konstruksi atau akan diperbaharui misalnya penambahan lereng pada tanggul jalan atau timbunan;

(4) Jika bangunan akan diperbaharui, maka geometri, lokasi, pembebanan dan struktur yang direncanakan akan berubah (misalnya tanggul, gorong-gorong); (5) Desain yang diminta diperuntukkan bagi bangunan yang direhabilitasi.

Informasi tersebut di atas diperlukan untuk membantu perencanaan suatu program penyelidikan geoteknik yang memadai.

3) Pemetaan Geologi

Pemetaan geologi adalah pekerjaan pengumpulan data geologi terperinci insitu secara sistematik yang digunakan untuk memberikan data karakteristik dan dokumentasi kondisi massa batuan atau singkapan. Data yang dihasilkan dari pemetaan geologi merupakan sebagian data yang diperlukan untuk desain lereng galian atau stabilisasi lereng yang ada. Pemetaan geologi dapat memberikan informasi lebih luas dan biayanya lebih hemat daripada pengeboran.

a) Kegiatan pemetaan dan pengumpulan data harus dilakukan oleh seorang tenaga ahli geologi yang berpengalaman dan terlatih serta diinformasikan kepada supervisor lapangan yang bertanggungjawab. Langkah pertama dalam pemetaan geologi adalah mengkaji dan memahami benar kondisi geologi dan regional setempat berdasarkan atas laporan yang dipublikasi maupun tidak, peta dan hasil penyelidikan. Tim pemetaan harus mempunyai pengetahuan tentang formasi dan struktur batuan serta aspek sejarah geologi permukaan tanah secara regional; b) Prosedur pemetaan sesuai dalam SNI 03-3405-1994 Metode Pengujian Sifat

Dispersif Tanah Dengan Alat Pinhole,Manual FHWA (1989) Manual on Subsurface Investigations atau ASTM D 4879 Guide for Geotechnical Mapping of Large Underground Opening in Rock;

c) Penjelasan parameter dan penyajian simbol-simbol geologi serta penyajian uraian laporan yang diinginkan dapat dilihat dalam ASTM D 4879 Guide for Geotechnical Mapping of Large Underground Opening in Rock. Penyajian data orientasi diskontinuitas dapat berupa grafik dengan menggunakan proyeksi stereografi. Metode proyeksi stereografi dapat dilihat dalam manual FHWA (Graphical Presentation of Geological Data).

4) Jenis Penyelidikan

Ada lima jenis metode penyelidikan geoteknik lapangan yang dapat dilakukan secara sendiri-sendiri/terpisah atau bersama-sama semuanya atau kombinasi diantaranya selain pemetaan geologi teknik (SNI 03-2849-1992 Tata Cara Pemetaan Geologi Teknik Lapangan) yaitu:

a) interpretasi penginderaan jarak jauh (remote sensing), dan foto udara; b) penyelidikan geofisik;

(19)

c) pengambilan contoh terganggu; d) pengambilan contoh tidak terganggu; e) pengujian lapangan.

a) Interpretasi Penginderaan Jarak Jauh (Remote Sensing) dan Foto Udara

Penginderaan jarak jauh digunakan untuk mengidentifikasi kondisi permukaan tanah secara regional, formasi geologi, lereng gunung yang curam dan permukaan refleksi patahan, dasar sungai terbenam, kondisi jalan masuk lokasi dan formasi umum tanah serta batuan.

Penginderaan jarak jauh dari satelit (peta/gambar LANDSAT dari NASA), foto udara dari USGS, dan pemetaan udara dengan menggunakan foto udara yang tersedia digunakan untuk membantu tenaga ahli geoteknik dalam melakukan interpretasi.

b) Penyelidikan Geofisik

Pengujian geofisik antara lain adalah resistivitas permukaan (SR = Surface reisistivity), penetrasi tanah dengan radar (GPR = ground penetrating radar), dan konduktivitas elektromagnit (EM). Penyelidikan ini membantu untuk hal-hal sebagai berikut

(1) menentukan stratigrafi tanah;

(2) mendeteksi perubahan cepat dalam satuan tanah dasar, dan lokasi lubang kavitasi bawah tanah dalam formasi karst;

(3) mengidentifikasi prasarana bawah tanah dan atau gangguan. c) Pengambilan Contoh Tanah Terganggu

Pengambilan contoh tanah terganggu diperlukan untuk mengetahui jenis tanah, gradasi, klasifikasi, konsistensi, kepadatan, adanya pencemaran, stratifikasi dan lain-lain. Metode pengambilan contoh tanah berbeda-beda mulai dari cara manual, dengan alat keruk menggunakan truck mounted auger dan cara bor putar. Jika diperlukan, maka contoh tanah terambil dapat dimodifikasi sesuai dengan keadaan alami tanah sebelum pengujian dilakukan.

d) Pengambilan Contoh Tanah Tidak Terganggu

Pengambilan contoh tanah tidak terganggu digunakan untuk menentukan kekuatan tanah in-situ, kompresibilitas (penurunan), kadar air asli, berat volume, sifat kelulusan air, diskontinuitas, patahan dan retakan formasi tanah dasar.

Tingkat gangguan contoh tanah tidak terganggu bergantung pada: (1) jenis material tanah dasar;

(2) jenis dan kondisi alat yang digunakan; (3) pengetahuan petugas pengeboran;

(4) lokasi penampungan contoh yang digunakan; (5) metode transportasi contoh yang digunakan.

Diperlukan cara perhitungan yang tepat untuk menghindari atau mengurangi tingkat gangguan yang dapat mempengaruhi desain.

e) Pengujian Lapangan

(20)

(1) Metode uji lapangan (CPT, SPT, PMT, DMT dan VST) dan geofisik digunakan untuk melengkapi pengeboran tanah.

(2) Uji penetrometer konus elektronik (CPT) memberikan informasi geoteknik tanah tanpa pengaruh gangguan pengambilan contoh, dan data dikumpulkan tepat waktu secara kontinyu, sehingga dapat diketahui karakteristik stratigrafi dan kekuatan tanah. Demikian juga dengan uji SPT, PMT, DMT dan VST.

5) Frekuensi dan Kedalaman Pengeboran

Lokasi dan frekuensi pengeboran bergantung pada beberapa faktor yaitu: a) tipe dan keadaan kritis bangunan;

b) formasi tanah dan batuan;

c) perubahan stratifikasi yang diketahui; d) beban-beban pondasi.

Petunjuk praktis penentuan jumlah minimum titik penyelidikan dan kedalaman minimum penyelidikan untuk bangunan air diberikan dalam Lampiran B Tabel B-2. Jika diperlukan, maka pengeboran dapat diperdalam untuk mendapatkan hal-hal sebagai berikut.

a) Menentukan kondisi geologi lapangan;

b) Menentukan kedalaman dan karakteristik teknik lapisan tanah dasar;

c) Memastikan apakah informasi sudah cukup untuk menunjang persyaratan struktur tanah yang belum ditentukan pada waktu pengeboran;

d) Jika pengeboran dilakukan pada batuan dan mempengaruhi kinerja pondasi, maka panjang minimum batuan 1,5 m untuk memverifikasi bahwa pengeboran telah mencapai batuan dasar dan bukan menembus bongkahan;

e) Jika bangunan dibangun di atas batuan, maka panjang inti batuan harus lebih besar dari 3 m dan diperdalam jika menggunakan tiang pancang atau tiang bor; f) Menentukan pemilihan kedalaman bor pada lokasi persilangan sungai dan saluran

dengan mempertimbangkan potensi kedalaman gerusan dasar sungai. 6) Lokasi dan Elevasi Pengeboran

Lokasi dan elevasi pengeboran ditentukan oleh tenaga ahli survei. Jika tenaga ahli survei tidak ada, maka pengawas lapangan bertanggungjawab dalam penentuan lokasi pengeboran dan elevasi muka tanah sesuai dengan kebutuhan proyek. Lokasi bor ditandai dengan patok beton yang dapat dilihat dalam jarak 1,0 m, misalnya dengan sistem GPS (Global Positioning System) untuk membantu dokumentasi lokasi.

Dalam penentuan elevasi pengeboran agar diperhatikan hal-hal seperti berikut:

a) Jika dilakukan survei topografi, maka elevasi bor ditentukan dengan interpolasi antarkontur. Metode ini dapat diterima, tetapi pengawas lapangan harus mengetahui bahwa pengukuran elevasi peka terhadap posisi horisontal pengeboran. Jika interval kontur berubah dengan cepat, maka elevasi bor harus ditentukan secara optik.

b) Penggunaan patok referensi (BM) harus ditunjukkan pada rencana lapangan dan survei topografi. Jika tidak, maka perlu digunakan patok sementara (TBM) pada struktur tanah permanen.

c) Patok sementara (TBM) harus tetap dapat berfungsi selama operasi konstruksi selanjutnya, dan dapat disusun secara tipikal walaupun elevasi berubah-ubah

(21)

(kecuali jika elevasi tanah setempat seragam). Letak patok referensi (BM) dan atau patok sementara (TBM) yang digunakan pada rencana lapangan harus diperlihatkan oleh pengawas lapangan.

d) Penyipat datar atau alat perata dapat digunakan untuk membantu menentukan elevasi. Survei dengan cara penyipat datar harus dilakukan dengan teliti. Elevasi harus diperlihatkan dengan patok pada lubang bor yang berjarak paling dekat 1/10 m, kecuali jika diarahkan lain oleh perencana. Datum elevasi harus diidentifikasi dan dicatat.

7) Perlengkapan Lapangan

Perlengkapan lapangan yang diperlukan untuk penyelidikan geoteknik di lapangan, dapat dilihat pada Lampiran B Tabel B-3.

8) Perencanaan dan Spesifikasi

Penyelidikan geoteknik yang meliputi rencana lokasi dan spesifikasi teknik diperlukan untuk mengetahui lingkup dan komunikasi pekerjaan yang akan dilakukan.

Rencana lokasi proyek harus meliputi persyaratan minimum berikut ini. a) peta lokasi proyek;

b) bentuk umum permukaan, seperti jalan lalu lintas, sungai, bangunan dan tanaman yang ada;

c) arah panah utara dan titik koordinat yang dipilih;

d) kontur muka tanah pada interval elevasi yang memadai;

e) lokasi rencana bangunan dan alinyemen rencana jalan lalu lintas termasuk jalur landai;

f) lokasi rencana pengeboran dan uji lapangan;

g) tabel yang menyajikan rencana kedalaman setiap pengeboran dan pendugaan.

Hal-hal dan pekerjaan yang harus diuraikan dengan jelas dalam spesifikasi teknik, antara lain adalah:

a) material, peralatan dan prosedur yang digunakan untuk pengeboran dan pengambilan contoh;

b) pelaksanaan pengujian lapangan; c) penentuan metode pengukuran;

d) ketentuan pembayaran untuk semua jenis pekerjaan. 9) Penyelidikan Tanah

a) Pengeboran Tanah

Pengeboran dan pengambilan contoh tanah dapat dilakukan dengan berbagai peralatan yang berbeda. Metode yang digunakan untuk melanjutkan pengeboran harus sesuai dengan kondisi tanah dan air tanah, untuk memastikan bahwa kualitas contoh tanah yang diperoleh sudah memadai. Hal-hal yang harus diperhatikan pada waktu pengeboran khususnya adalah keruntuhan tanah atau tanah lepas dari bor sebelum pengambilan contoh.

Air pembilas diperlukan untuk menstabilkan dinding tepi dan dasar lubang bor dalam tanah lempung lunak atau tanah nonkohesif yang berada di bawah muka air tanah. Dasar lubang bor harus distabilisasi agar tidak mengalami penyembulan atau dinding tepi menyusut, tidak mengalami gangguan tanah sebelum

(22)

pengambilan contoh atau tidak menyulitkan masuknya tabung sampai ke dasar lubang bor. Dalam penyelidikan geoteknik, pengeboran dapat dilakukan dengan menggunakan alat bor auger tangga putar batang menerus (solid stem continuous flight), bor auger batang berlubang (hollow stem), atau bor putar.

b) Pengeboran Auger Tangga Putar Batang Menerus (Solid Stem Flight Augers) Metode pengeboran ini hanya digunakan pada tanah kohesif kaku sehingga dinding lubang bor tetap stabil di seluruh kedalaman bor. Auger berbentuk tangga putar berfungsi sebagai sekrup pembawa yang dapat membawa potongan tanah ke bagian atas lubang. Batang auger harus ditambah secara bertahap sampai mencapai kedalaman tanah yang diinginkan.

Karena penggunaannya terbatas, maka alat ini kurang cocok untuk penyelidikan yang digabung dengan pengambilan contoh. Alat ini harus digunakan dengan hati-hati terhadap perlawanan penetrasi dan getaran bor agar dapat memberikan data interpretasi kondisi geoteknik dengan baik.

Matabor berbentuk ekor ikan digunakan pada formasi lempung kaku, sedangkan matabor jari dari carbide digunakan pada formasi lempung keras atau batuan perselingan atau lapisan tersementasi. Berhubung matabor berbentuk jari biasanya meninggalkan runtuhan tanah pada dasar lubang bor, maka jarang digunakan. Bor batang masif tersedia dalam berbagai ukuran diameter luar yang berkisar antara 102 mm (4,0 in) dan 305 mm (12,0 in), dan yang umum adalah dengan diameter 102 mm. Pada waktu pemasangan sambungan bor batang pada alat bor utama, digunakan pasak (cotter pins). Bor batang menerus diputar masuk ke dalam tanah dengan suatu kecepatan dan bor ditarik kembali tanpa rotasi, untuk mengatur bor batang dengan putaran minimum.

Metode pengeboran ini dapat membantu untuk mengidentifikasi perubahan formasi tanah secara visual. Potongan dan reaksi bor auger harus dipantau secara teratur untuk mengidentifikasi perubahan stratifikasi antar lokasi contoh.

c) Pengeboran Auger Tangga Putar Batang Berlubang (Hollow) Menerus

Alat ini hampir sama dengan bor auger tangga putar batang menerus, namun mempunyai lubang besar di tengah. Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut.

(1) Jika pekerjaan pengeboran dilanjutkan, maka batang tengah (center rod) dan matabor tengah sebagai penyumbat auger (plug) dimasukkan ke dalam lubang batang auger. Matabor tengah yang disambung dengan matabor luar berfungsi untuk mencegah masuknya potongan tanah ke dalam auger batang berlubang. (2) Batang tengah yang terdiri atas batang-batang penghubung yang disambung

dari dasar matabor ke drive cap dengan drive adaptor, digunakan untuk memastikan bahwa batang tengah dan matabor berputar bersama-sama dengan auger.

(3) Jika elevasi pengambilan contoh sudah tercapai, maka batang dan matabor tengah harus dicabut kembali kemudian tabung contoh dimasukkan melalui batang berlubang untuk pengambilan contoh. Jika hal ini dilakukan pada batuan, maka harus digunakan bor inti.

(4) Alat ini digunakan pada tanah lempung atau tanah berbutir kasar yang berada di atas muka air tanah, yang kemungkinan dinding lubang bor tidak stabil.

Auger berfungsi sebagai pipa lindung (casing) sementara untuk mengambil contoh tanah tidak terganggu di bawah matabor. Potongan contoh diputar dengan gerakan ke atas dan digunakan untuk keperluan pengamatan visual. Pada kedalaman bor yang dalam, akan terlihat deskripsi yang berbeda antara

(23)

hasil bor di atas dan di bawah permukaan lapisan dasar. Hal ini mutlak dipahami oleh supervisor untuk keperluan identifikasi kondisi lapisan tanah

insitu.

(5) Tanah di bawah muka air tanah di dasar bor akan mengalami tekanan air hidrostatik sehingga mengganggu tanah berbutir kasar atau lempung lunak. Hal tersebut akan menimbulkan sembulan tanah sumbatan bor dan menghalangi tabung untuk mencapai dasar lubang bor. Jika terjadi sembulan atau gangguan, maka perlawanan penetrasi untuk menggerakkan tabung akan berkurang. Untuk itu sebaiknya digunakan metode bor putar atau tetap dengan bor hollow

yang dialiri air pembilas untuk mengimbangi tinggi tekan walaupun sulit dilakukan.

d) Pengeboran Putar Dengan Penyemprotan (Rotary Wash Borings)

Metode pengeboran putar dengan penyemprotan merupakan metode yang paling memadai untuk lapisan tanah yang berada di bawah muka air tanah. Tepi lubang bor didukung pipa lindung (casing) atau dibantu dengan air pembilas. Jika digunakan pipa lindung bor, maka pengeboran dapat dilanjutkan secara bertahap dengan cara sebagai berikut:

(1) Memukul pipa lindung masuk sampai kedalaman contoh yang diinginkan; (2) Membersihkan lubang bor sampai ke dasar pipa lindung;

(3) Memasukkan alat pengambil contoh dan mengambil contoh dari bawah pipa lindung.

Pemilihan pipa lindung biasanya berdasarkan diameter luar alat pengambil contoh atau alat bor inti yang dimasukkan melalui pipa lindung, faktor-faktor pengaruh lain seperti kekakuan bor dalam badan air atau tanah sangat lunak, atau ukuran batang pipa lindung.

Dalam penggunaan pipa lindung perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut :

(1) Pipa lindung bor putar tipikal dilengkapi dengan diameter dalam yang berkisar antara 60 mm (2,374 in) dan 130 mm (5,125 in);

(2) Jika pengeboran berada di bawah muka air tanah, maka penggunaan pipa lindung harus dilakukan dengan hati-hati untuk mengatur tinggi tekan air dalam pipa lindung yang berada di atas muka air tanah. Penambahan air ke dalam lubang juga harus dilakukan dengan hati-hati, karena batang bor kemungkinan dapat bergeser setelah dilakukan pembersihan lubang sebelum pengambilan contoh dilakukan. Kegagalan pada waktu penyesuaian tinggi tekan air dapat menimbulkan hilangnya atau terjadinya sembulan contoh tanah di bawah pipa lindung.

(3) Pipa lindung untuk lubang bor yang menggunakan air pembilas untuk menstabilkan dinding lubang bor harus tetap ada sampai bagian atas lubang. Hal ini dimaksudkan untuk melindungi runtuhan tanah karena kegiatan di permukaan dan menyediakan sirkulasi air pembilas;

(4) Air pembilas (air, bentonit, foam/busa, hasil bor sintetik lain) berfungsi selain untuk menstabilkan dinding lubang bor juga untuk memindahkan potongan bor dari alat bor;

(5) Pada tanah berbutir kasar dan tanah lempung lunak, campuran bentonit atau polimer tipikal dapat digunakan untuk menambah berat air pembilas agar dapat mengurangi reduksi tegangan tanah di dasar bor;

(6) Lubang bor yang diperdalam dengan menggunakan air pembilas digunakan untuk mengatur tekanan positif yang terjadi pada seluruh kedalaman bor.

(24)

Aspek-aspek yang harus diperhatikan dalam penggunaan metode bor putar adalah: (1) Matabor terdiri atas dua jenis, matabor penahan yang biasanya digunakan

untuk lempung dan pasir lepas, sedangkan matabor roda untuk penetrasi tanah butiran kasar padat, zona tersementasi dan batuan lunak atau lapuk;

(2) Pemeriksaan potongan yang berada dalam air pembilas akan membantu untuk mengidentifikasi perubahan kondisi tanah antar lokasi;

(3) Saringan yang disimpan dalam air pembilas yang mengalir digunakan untuk menyaring bahan layang. Air pembilas kembali yang berkurang atau hilang dapat menunjukkan adanya pelipatan terbuka, retakan, kavitasi, lapisan kerikil, zona yang sangat lulus air, dan kondisi stratigrafi lainnya yang dapat menimbulkan hilangnya air dalam rongga secara tiba-tiba. Hal ini harus dicatat dalam penyusunan log bor;

(4) Sifat-sifat air pembilas dan kuantitas air pompa melalui bit/potongan dapat digunakan untuk mengetahui ukuran partikel yang dapat dipindahkan dari lubang bor dengan sirkulasi air pembilas. Pada lapisan tanah yang mengandung kerikil, kerakal, atau partikel lebih besar, material kasar akan tertinggal di dasar bor. Untuk itu, kemungkinan diperlukan alat pengambil contoh yang berdiameter lebih besar (misal OD split-barrel ukuran 76 mm (3,0 in)) untuk mengambil contoh tanah dan batuan yang representatif.

e) Pengeboran Auger Ember (Bucket Auger Borings)

Bor auger ember dapat digunakan untuk keperluan sebagai berikut :

(1) Mengambil contoh tanah dalam jumlah besar, misalnya untuk proyek yang mempunyai masalah stabilitas lereng;

(2) Mengamati kondisi geoteknik yang dilakukan dengan menggunakan rekaman video yang efektif sampai ke bawah lubang karena jika dilakukan oleh petugas akan berbahaya bagi keselamatannya;

(3) Alat ini terdiri atas ember berdiameter 600 mm (24 in) sampai 1200 mm (48 in), panjang ember 600 mm (24 in) sampai 900 mm (36 in) dan dilengkapi silinder logam terbuka di bagian atas dengan satu potongan celah (slot) atau lebih di bagian dasar untuk jalan masuk tanah dan batuan jika ember diputar. Pada celah itu logam dasar diberi tulangan dan gerigi, atau ujung potongan runcing yang digunakan untuk memecahkan material contoh;

(4) Ember bor yang dipasang di dasar batang Kelly terdiri atas dua sampai empat tabung baja empat persegi yang dipasang satu pada sisi lainnya agar dapat meneropong sampai ke dasar lubang bor. Pada setiap kemajuan pengeboran, ember bor yang telah terisi dikosongkan di permukaan tanah yang berdekatan dengan alat pelengkap bor;

(5) Bor ember tipikal diperdalam dengan menggunakan mesin bor yang diletakkan di atas truk. Alat-alat perlengkapan mesin bor kecil (small skid-mounted dan

frame A) untuk hal khusus biasanya telah tersedia, seperti pengeboran pada tebing gunung yang curam atau di bawah tinggi jagaan yang rendah atau kurang dari 2,5 m (8 ft). Penggunaan alat ini bergantung pada ukuran alat pelengkap bor dan kondisi geoteknik. Bor ember tipikal dapat digunakan sampai kedalaman ≤ 30 m (100 ft), walaupun kemampuannya tersedia sampai 60 m (200 ft) atau lebih;

(6) Alat ini memadai digunakan untuk semua jenis tanah dan batuan dasar lunak sampai kaku. Pengeboran di bawah muka air dapat juga dilakukan pada material kaku dan tidak mudah mengalami runtuhan besar atau infiltrasi air

(25)

kemudian dilanjutkan dengan mengisi air pembilas agar dapat menimbulkan tinggi tekan positif (tekanan yang melebihi tekanan air tanah) untuk mengurangi potensi ketidakstabilan dinding. Untuk itu, lubang bor harus diberi pipa lindung agar dapat dilakukan inspeksi lubang bor secara manual dan deskripsi log bor. Pelaksanaan ini sebaiknya dilakukan oleh personil yang sudah terlatih dan berpengalaman, serta dilengkapi dengan teknik video;

(7) Metode ini khusus digunakan pada pengeboran material kerikil dan kerakal yang tidak dapat dilakukan dengan alat bor konvensional;

(8) Untuk material keras (pembetonan atau batuan yang lebih besar dari yang dapat masuk ke ember), ember khusus dan perlengkapannya dapat diganti dengan ember penggali standar. Perlengkapan khusus terdiri atas ember bor inti dengan karbit pemotong gerigi yang tersusun sepanjang ujung dasar, ember batuan dengan gerigi gali yang kuat dan bukaan lebar untuk mengambil material rusak, batang penghancur tunggal yang digabungkan ke batang Kelly dan dijatuhkan untuk menghancurkan batuan keras, dan kerangka kerang yang digunakan untuk mengambil kerakal dan fragmen batuan besar dari dasar bor. f) Pengeboran Tangan

Alat ini digunakan untuk mendapatkan informasi geoteknik dangkal dari lapangan yang sulit dimasuki dengan kendaraan beroda empat. Jenis-jenis bor tangan tersedia dengan standar umum lubang tipe bor auger. Untuk tanah kohesif yang stabil, bor tangan dapat dilanjutkan sampai kedalaman 8 m (25 ft).

Penggunaan lubang bor terbuka pada tanah berbutir kasar akan mengalami kesulitan, bahkan pada kerakal dan bongkahan akan menimbulkan masalah besar. Bor tangan dapat digunakan, tetapi transportasinya sulit untuk daerah terpencil. Pemotong dalam laras bor (barrel) dapat disusun, dan tabung contoh juga dapat dilanjutkan pada setiap kedalaman.

Dapat digunakan tabung contoh Shelby, dapat juga digunakan tabung berdiameter kecil 25 mm s/d 50 mm (1,0 in s/d 2,0 in) (lihat metode pengambilan contoh lainnya dalam ASTM D 4700 General Methods of Augering, Drilling & Site Investigation), PT-03, SK DJ Pengairan No. 185/KPTSA/A/1986.

g) Sumuran Uji / Parit Uji

Sumuran uji dan parit uji (trenches) dapat digunakan untuk membantu pemeriksaan secara terperinci kondisi tanah dan batuan dangkal dengan biaya relatif rendah. Parit uji merupakan bagian penting dari penyelidikan geoteknik apabila terjadi perubahan kondisi tanah yang signifikan (horisontal dan vertikal), adanya volume tanah yang besar dan atau material bukan tanah (bongkahan, kerakal, debris) yang contohnya tidak dapat diambil dengan metode konvensional atau bentuk tanah tertanam yang harus diidentifikasi dan atau diukur. Metode pelaksanaan pekerjaan

test pit dapat mengacu pada PT-03, SK DJ Pengairan No. 185/KPTSA/A/1986. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam pekerjaan parit uji adalah seperti berikut : (1) Penggalian yang dilakukan dengan alat mekanik (backhoe, bulldozer) lebih baik

daripada dengan tangan;

(2) Kedalaman parit uji ditentukan berdasarkan penyelidikan, secara tipikal kira-kira 2 m (6,5 ft) sampai 3 m (10 ft). Di daerah yang elevasi muka air tanahnya tinggi, kedalaman parit dibatasi oleh muka air. Galian parit uji tidak aman dan atau tidak ekonomis untuk kedalaman lebih besar dari 5 m (16 ft) dan bergantung pada kondisi tanah;

(3) Pada waktu penggalian, dasar parit harus dijaga agar permukaan tanahnya relatif rata mendatar. Material galian harus ditempatkan secara teratur

(26)

berdampingan dengan parit, dan terpisah dari tumpukan material lain di permukaan untuk memudahkan identifikasi kedalaman material. Tepi parit dalam potongan vertikal harus dibersihkan secara kontinu atau dengan metode lain yang memadai sehingga menampilkan permukaan batuan atau tanah yang bersih;

(4) Survei pengontrolan parit uji harus dilakukan dengan menggunakan metode survei optik untuk menentukan secara teliti elevasi muka tanah dan lokasi rencana parit uji. Pengukuran harus dilakukan dan dicatat dalam dokumentasi orientasi, ukuran rencana dan kedalaman parit serta kedalaman dan tebal masing-masing lapisan yang muncul dalam parit;

(5) Parit uji dapat diurug kembali dengan material buangan yang dihasilkan pada waktu penggalian. Material urugan tadi harus dipadatkan untuk mencegah terjadinya penurunan berlebihan. Alat pemadat manual atau alat putar dapat digunakan untuk memadatkan urugan tadi;

(6) Peraturan penggalian parit uji yang memenuhi persyaratan keselamatan harus diikuti sebelum pelaksanaan, misalnya the U.S. Department of Labor’s Construction Safety and Health Regulation, dan peraturan institusi pemerintah lainnya yang berlaku.

Dalam penyusunan pencatatan (logging) harus diperhatikan hal-hal sebagai berikut (1) Prosedur pencatatan parit uji harus menggunakan skala yang sesuai dengan

kompleksitas struktur geologi tanah yang terungkap dalam parit dan ukuran parit. Skala normal untuk logging rinci minimal 1:20 atau 1:10;

(2) Pada waktu pencatatan harus dibuat profil vertikal yang sejajar dengan salah satu dinding parit. Bidang kontak antara formasi-formasi geologi harus diidentifikasi dan digambarkan pada profil serta diambil contoh formasi lapisannya (sesuai dengan saran tenaga ahli geoteknik). Selain itu, karakteristik dan jenis tanah atau bidang litologi juga harus dicatat;

(3) Perubahan yang terjadi dalam lapisan geologi harus dideskripsi dan ditunjukkan pada pencatatan susunan lubang parit yang bersangkutan. Lokasi contoh juga harus ditunjukkan dalam susunan parit uji dan ditulis pada label contoh yang berisi lokasi stasiun dan elevasi, serta muka air tanah;

(4) Setelah pencatatan dilakukan, penyesuaian dapat dipindah dan parit difoto atau direkam dengan video berdasarkan saran tenaga ahli geoteknik. Susunan pencatatan foto dan atau video yang dilengkapi dengan skala visual harus ditempatkan dengan acuan lokasi proyek dan elevasi garis dasar.

h) Contoh Tanah

Contoh tanah terambil yang digunakan untuk pengujian dan analisis dibagi atas dua kategori utama yaitu contoh tanah terganggu dan contoh tanah tidak terganggu, dengan penjelasan sebagai berikut.

(1) Contoh Tanah Terganggu

Contoh diperoleh dengan menggunakan alat yang mungkin dapat menghancurkan struktur makro tanah tetapi tidak mengganggu komposisi mineraloginya, dan dapat dilakukan dengan berbagai metode. Spesimen contoh ini dapat digunakan untuk mengetahui perkiraan litologi umum endapan tanah, identifikasi komponen tanah dan tujuan klasifikasi umum, ukuran butiran, batas-batas Atterberg, dan karakteristik pemadatan tanah.

Gambar

Tabel B.1a Ikhtisar Permasalahan Geoteknik yang Dibutuhkan Dalam Desain Geoteknik Bangunan Air (Disesuaikan Dengan Kebutuhan)  Permasalahan
Tabel B.1b Ikhtisar Permasalahan Geoteknik yang Dibutuhkan Dalam Desain Geoteknik Bangunan Air (Disesuaikan Dengan Kebutuhan)  Permasalahan
Tabel B.1c Ikhtisar Permasalahan Geoteknik yang Dibutuhkan Dalam Desain Geoteknik Bangunan Air (Disesuaikan Dengan Kebutuhan)  Permasalahan
Tabel B.2a    Petunjuk Penentuan Jumlah Minimum Titik dan Kedalaman Minimum Penyelidikan Geoteknik Untuk Bangunan Air
+4

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian dilakukan dalam tiga tahap, yaitu (1) survai lapangan dan deskripsi pedon pewakil tiga ordo tanah, (2) percobaan laboratorium, meliputi (i) Uji adsorpsi maksimum

Setelah pengamatan dan pengambilan sampel, dilakukan uji laboratorium terhadap sampel yang didapat dari lapangan (sampel tanah tidak terganggu) untuk mendapatkan nilai

khusus, aliran air dalam tanah di laboratorium dan di lapangan, tegangan-tegangan dalam tanah, kemampumampatan tanah, konsolidasi tanah dan stabilitas bangunan, tegangan pada

SIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan hasil analisis data di lapangan dan hasil uji laboratorium, maka dapat disimpulkan bahwa: Kualitas air tanah dangkal berdasarkan parameter fisika, kimia