dihormati dan bahkan disucikan (kalau sudah mediksa) yang menjadi pemuput

Teks penuh

(1)

4

dihormati dan bahkan disucikan (kalau sudah mediksa) yang menjadi pemuput upacara keagamaan di Bali. Terdapat juga perjalanan kehidupan yang mencekam. Ini mencirikan kalau sudah hidup di dunia tidak akan terlepas dari konsep Rwa Bhineda. Ketertarikan akan konsep kesetaraan gender yang diselipkan oleh IBW Widiasa Keniten memberikan hal yang berbeda dalam karya sastra modern kebanyakan berkembang (seperti yang dipaparkan). Memperlihatkan ketangguhan seorang wanita yang bernama Dayu Latri yang berjuang melawan keburukan dari pamannya sendiri yaitu Ida Bagus Cidra yang ingin membunuhnya demi bisa menguasai warisan keluarganya.

Novelet Kania menceritakan keluarga brahmana Pranda Gde Kerta yang memiliki anak bernama Ida Bagus Ngurah yang memiliki sifat yang baik, rajin, penurut dan melaksanakan sesana keturunan dari barahmana, sedangkan adiknya Ida Bagus Cidra senang berjudi, berjinah. Dalam cerita terjadi penindasan dan pembunuhan terhadap kelurga sendiri. Sekalipun itu keluarga sendiri bisa menjadi musuh. Selamatnya Dayu Latri yang merupakan keturunan terakhir dari Ida Bagus Ngurah akan mengemban tugas dan sesananya menjadi keturunan Brahmana.

Novelet Kania sarat akan aspek-aspek sosial yang terkandung di dalamnya dan sangat dekat dengan kehidupan masyarakat Bali. Aspek yang sangat ditonjolkan dalam novelet ini adalah aspek rwa bhineda dan kesetaraan gender. Selain itu terdapat juga beberapa aspek sosial lainya yang terkandung dalam novelet Kania yaitu :aspek rwa bhineda,aspek etika, aspek upacara diksa, aspek kesetaraan gender, aspek magis,

(2)

5

aspek perjudian, aspek pengabdian dan kesetiaan, aspek kebudayaan, aspek estetika. Setelah memperhatikan berbagai pemaparan, maka sangat tepat mengangkat novelet Kania tentang aspek-aspek sosialnya dengan kajian sosiologi sastra.

1.2 Rumusan Masalah

Bertolak dari latar belakang tersebut, maka permasalahan yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Apakah struktur yang membangun Novelet Kania ?

2. Aspek-aspek sosial apa sajakah yang terkandung dalam novelet Kania ?

1.3Tujuan Penelitian

Setiap penelitian memiliki tujuan, adapun penelitian ini mempunyai tujuan umum dan tujuan khusus. Berikut ini adalah tujuan umum dan tujuan khusus dari penelitian ini.

1.3.1Tujuan umum

Secara umum tujuan dari penelitian Novelet Kania adalah agar masyarakat bisa mengetahui tentang sastra Bali Anyar (modern) yang perkembangannya sudah cukup pesat. Menginformasikan lebih jauh tentang keberadaan karya-karya Sastra Bali Anyar (Modern) kepada masyarkat luas. Mengetahui fenomena kekinian tentang masyarakat melalui novelet Kania.

(3)

6 1.3.2 Tujuan Khusus

Tujuan khusus dari penelitian Novelet Kania adalah : 1. Untuk mengetahui struktur yang membangun novelet Kania

2. Untuk mengetahui aspek-aspek sosial yang terkandung di dalam novelet Kania.

1.4Manfaat Penelitian

Setiap penelitian memiliki manfaat berguna bagi masyarakat luas. Adapun manfaat secara teoritis dan praktis.

1. Maanfaat teoritis dari penelitian novelet Kania adalah menambah penelitian Karya Sastra Bali Modern.

2. Maanfaat Praktis dari penelitian Novelet Kania dapat menambah kecintaan masyarakat akan Sastra Bali Modern. Sehingga Novelet Kania bisa digunakan untuk pedoman-pedoman di dalam menjalankan kehidupan dengan menyesuaikan terhadap lingkungan sekitar.

(4)

7 BAB II

KAJIAN PUSTAKA, KONSEP DAN LANDASAN TEORI

2.1 Kajian Pustaka

Kajian pustaka berfungsi untuk menyusun kerangka teori serta mengetahui kedudukkan penelitian disamping penelitian lain yang relevan(Chaer,2007 : 26).

Penelitian yang relevan dengan objek penelitian yakni penelitian oleh:

Ni Made Buda Jayanti (2007) berjudul “Analisis Sosiologi Sastra Novel Sembalun Rinjani Karya Djelantik Santha. Pada penelitian ini menganalisis struktur dan aspek-aspek sisoal menggunakan teori struktural Teeuw sedangkan teori Sosiologinya mengunakan teori Damono. Sehingga relevan dengan penelitian ini.

I Gede Gita Purnama A. P. (2008) berjudul “Novel Nembangang Sayang: Kajian Sosiologi Sastra” menggunakan teori yang sama yaitu Struktur dan Sosiologi, terdapat juga aspek etika. Kajian ini relevan untuk dijadikan acuan.

NI Made Sumiartini (2009) berjudul “ Analisis Sosiologi Sastra Novelet Bukit Buung Bukit Mentik Karya Agung Wiyat S. Ardhi”. Dalam penelitian ini menganalisis struktur dan aspek-aspek sosial yang meliputi: Aspek mitos, Aspek Kasta/ wangsa, Aspek pencritaan yang paradok, Aspek Hegemoni.

Ni Wayan Tini (2010) berjudul “Novel Sawang-Sawang Gamang Karya I Nyoman Manda : Analisis Sosiologi Sastra”. Pada penelitian tersebut menguraikan tentang struktur dan aspek-aspek sosial pada novel Sawang-Sawang Gamang.

(5)

Aspek-8

aspek sosial yang terdapat dalam Penelitian tersebut berkaitan dengan kajian. Terdapat beberapa Aspek-aspek sosial yang sama sehingga bisa dipakai acuan seperti Aspek Magis, Aspek religious, Aspek estetika. Penelitian ini berusaha untuk menyajikan perbedaan terhadap penelitian terdahulu. Kajian “Novelet Kania Karya IBW Widiasa Keniten: Analisis Sosiologi Sastra” berusaha untuk mengkaitkan Aspek-aspek sosial yang terkandung di dalam Novelet Kania dengan masyarakat.

2.2 Konsep

Konsepsi merupakan jenis kata benda yang berarti pengertian, pandangan, paham, ideologi (Poerwadarminta, 2007:611).

2.2.1 Novelet

Novelet adalah novel kecil, pada umumnya memiliki unsur-unsur sama dengan unsur-unsur novel. Memang sangat sulit untuk menentukan batas antara novelet dengan cerpen dan novelet dengan novel. Hal inilah yang barangkali yang menyebabkan banyak orang cendrung lebih menyederhanakan lagi pembagian jenis fiksi dari segi bentuk atau dari segi panjangnya atas cerpen dan novel. Novelet berkisar antara 10.000-35.000 kata jadi novelet merupakan penengah antara cerpen dengan novel. Cerpen kurang dari 10.000 kata sedangkan novel dari 35.000 kata sampai tak terbatas.

(6)

9 2.2.2 Rwa Bhineda

Rwa Bhineda yaitu konsep tentang suatu perbedaan yang harus ada di dunia ini untuk menciptakan keharmonisan dan keseimbangan alam semesta. Konsep Rwa Bhineda merupakan suatu hal yang membentuk karakter orang Bali. Orang Bali tidak menjadikan perbedaan sebagai suatu permusuhan atau alasan untuk menunjukan ego. Perbedaan adalah suatu keindahan yang justru harus diseimbangkan demi terwujudnya keharmonisan dalam hidup manusia dan alam semesta ini. Konsep ini juga yang menghilang dari karakter orang Bali terlalu agressife dalam menanggapi kasus atau isu yg sedang berkembang.

Dalam kehidupan sehari-hari, konsep Rwa Bhineda merupakan suatu bentuk penghormatan akan pilihan hidup manusia. Seperti halnya semboyan negara kita, Bhineka Tunggal Ika, berbeda tapi tetap satu juga, maksudnya kita berbeda ras, wajah, warna kulit, pekerjaan, nasib, nama dan lain-lain. Tapi masih satu juga yaitu Bangsa Indonesia. Kehilangan jati diri dan kurangnya pemahaman tentang hakekat perbedaan, lemahnya norma-norma yang mengatur masyarakat dan yang paling terpenting pengamalan agama dan pembelajaran budi pekerti yang minim membuat kekerasaan, iri dengki, angkuh, yang mempengaruhi manusia.

2.2.3 Kesetaraan Gender

Kesetaraan gender merupakan menempatkan laki-laki dan perempuan dalam kedudukan yang setara dalam segala hal. Sesuata yang memandang kaum wanita

(7)

10

adalah kaum kedua setelah kaum laki-laki merupakan keegoisan dari kaum laki-laki. Agama Hindu mengajarkan kesetaraan yang mematahkan predikat streotip bahwa perempuan itu manusia kelas dua dan hanya berfungsi melayani semua kebutuhan laki-laki. Tidak ada dalam ayat-ayat Weda yang membatasi hak perempuan secara permanen dan jika itu dilanggar akan menyebabkan “kemurkaan Tuhan” (Arimbawa, 2008: iii). Perbedaan gender (gender differences) antara manusia laki-laki dan perempuan terjadi melalui proses yang panjang. Pembentukan gender ditentukan oleh sejumlah faktor yang ikut membentuk, kemudian disosialisasikan, diperkuat bahkan dikontruksi melalui sosial kultur, dilanggengkan oleh interpretasi agama dan mitos-mitos, seolah-olah menjadi kodrat laki-laki dan perempuan. Proses selanjutnya perbedaan gender dianggap satu ketentuan Tuhan yang tidak dapat dirubah sehingga perbedaan tersebut dianggap kodrati (Mufidah, CH 2003:6). Diskriminasi merupakan upaya membeda-bedakan berdasarkan jenis kelamin yang menyebabkan kerugian di salah satu pihak yang melandasi perjuangan tentang kesetaraan gender. Dalam Agama Hindu kesetaraan gender bisa dikaitkan melalui beberapa ajarannya. Dalam Weda Sruti yang merupakan wahyu yang turun langsung dari Tuhan yang diterima oleh para Rsi. Weda Smerti adalah himpunan ajaran-ajaran Hindu yang berisi tafsir atas wahyu Tuhan oleh maharsi, acharya (Guru) dan Avatar (penjelmaan hyang widhi) (Titib, 1994:6). Weda smerti merupakan tafsir jadi nilainya lebih rendah dari Weda sruti sehingga kalau ada penyimpangan maka yang digunakan sebagai pedoman adalah Weda sruti. Dalam weda Sruti, sudah mengajarkan kesetaraan,

(8)

11

dalam Yajurweda XIV. 21, menyebutkan; wahai wanita engkau adalah perintis, cemerlang, mantap, pendukung, yang memberi makan dan menjalankan aturan-aturan seperti bumi. Kami memiliki engkau di dalam keluarga untuk usia panjang, cemerlang, kemakmuran atau kesuburan pertanian dan kesejahteraan (Titib, 1996: 416), dilanjutkan dengan Yajurweda XIV.22 disebutkan: Wanita adalah pengawas keluarga. Dia cemerlang, dia mengatur yang lain dan dia sendiri menjalankan aturan-aturan. Dia adalah modal (asset) untuk keluarga (Titib, 1996: 400). Regweda VII. 33.19 yang menyebutkan wanita adalah seorang sarjana dan seorang pengajar. Pada Yajurweda XIII. 26 menyebutkan bahwa wanita adalah Panglima yang tidak bisa dikalahkan dan menaklukan musuh, mengatasi angkatan bersenjata yang bermusuhan dan memiliki seribu kekuatan yang heroik (Titib, 1996:419). Agama sudah menghajarkan untuk tidak membeda-bedakan mahluk ciptaanya khususnya manusia yang bisa menyebabkan kemurkaan Tuhan. Sujatinya purusa dan pradana tersebut telah ada pada setiap laki-laki dan perempuan. Adanya laki-laki dan perempuan tidaklah dipertentangkan melainkan saling melengkapi demi terlaksananya kesejahteraan dalam kehidupan. Hal itulah yang ingin diselipkan dalam gagasan pokok pikiran pada novelet Kania oleh IBW Widiasa Keniten setelah konsep rwa bhineda. Mengangkat tokoh utama Kania (pedanda istri Kania) adalah suatu konsep di dalam hal penyetaraan gender, mengingat Pedanda dalam agama Hindu merupakan seseorang yang diberikan mandat untuk muput karya yadnya. Sesuatu hal yang paling

(9)

12

mulia dan profesi yang paling tinggi dalam ajaran agama Hindu sudah bisa dilakoni oleh seorang perempuan.

2.3 Landasan Teori

Sebagai sebuah penelitian ilmiah, penelitian sastra memerlukan landasan kerja berupa teori yang merupakan hasil perenungan yang mendalam, tersistem dan terstruktur terhadap gejala-gejala alami untuk mengarahkan penelitian. Landasan teori merupakan pijakan sebagai tolak ukur untuk menyelesaikan suatu masalah yang hendak diselesaikan. Landasan teori sangat bermaanfaat untuk memberikan arah, tuntunan, memantapkan, dan mengontrol jalanya pelaksanaan penulisan sehingga dapat memberikan hasil yang lebih baik bila dibandingkan dengan penulisan yang tidak menggunakan rancangan penulisan (Jendra,1981:3). Teori adalah alat, kapasitasnya berfungsi untuk mengarahkan sekaligus membantu memahami objek secara maksimal. Sesuai dengan judul dan penulisan ini yang didasarkan oleh pemaparan masalah dan tujuan khusus yang hendak dicapai maka penelitian ini menggunakan teori struktural dan pendekatan sosiologis.

Teori struktural bertujuan untuk memaparkan keterjalinan semua anasir dari aspek karya sastra, sehingga menghasilkan makna yang menyeluruh dan anasir yang dilakukan sesuai dengan sifat struktural. Analisis struktur bertujuan untuk membongkar dan memaparkan secermat, seteliti, semendetail dan mendalam mungkin keterkaitan dan keterjalinan semua anasir dan aspek karya sastra yang

(10)

13

bersama-sama menghasilkan makna menyeluruh. Hal ini menyelaskan bahwa analisis hingga mengetahui unsur-unsur yang membangun karya itu (Teeuw, 1984,135-136). Teori struktural merupakan teori yang tidak boleh dimutlakkan dan juga tidak boleh dilampui dalam suatu analisis struktur (Teeuw,1988:135). Pada dasarnya karya sastra merupakan sebuah organanisasi yang dibangun oleh unsur-unsur yang saling membangun. Tidak ada satu unsur pun dalam karya sastra yang lebih utama dari karya sastra yang lain, semua unsurnya saling mengggamarkan sebuah makna yang bulat dan utuh (Kartika, 1987: 135-136). Strukturalisme memberikan suatu cara berdisplin untuk mulai dengan konteks dalam suatu karya sebagai langkah awal pertama, dan hanya sesudah analisis struktur itu bisa melangkah keluar dari teks ke dunia alamiah atau dunia sosial budaya yang merupakan konteks yang lebih luas (Sukada,1987:45). Dari teori Burhan dan beberapa pandangan tentang teori struktur sehingga dalam pembahasan tentang unsur intrinsik dari novelet Kania meliputi : insiden, alur, tokoh dan penokohan, latar, tema dan amanat. Seteleh mengkaji struktur dan memahami elemen-elemen intrinsik pada novelet Kania.

Sosiologi sastra adalah pemahaman terhadap karya sastra dengan mempertimbangkan aspek-aspek kemasyarakatan (Ratna, 2003:2). Sosiologi sastra sangat berkembang pesat sejak penelitian-penelitian dengan memanfaatkan teori strukturalisme dianggap mengalami kemunduran, stagnasi, bahkan dianggap sebagai involusi. Analisis strukturalisme dianggap mengabaikan relevansi masyarakat yang justru merupakan asal usulnya (Ratna, 2011:332).

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :