2. Sebaran Sumur Minyak Antiklinorium Rembang

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

SEBARAN SUMUR MINYAK PADA UNIT-UNIT MORFOLOGI ANTIKLINORIUM REMBANG

Astrid Damayanti1, Rinaldi Djoko D.U.

1. Departemen Geografi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Indonesia, Depok 16424, Indonesia

e-mail : astridd_maya@yahoo.com, rendy_kerenz@yahoo.com

ABSTRAK

Untuk memahami dan memberikan gambaran tentang sebaran populasi sumur minyak yang terdapat di Antiklinorium Rembang, maka terlebih dahulu perlu diidentifikasi secara lebih rinci hal-hal yang terkait dengan proses pembentukan muka bumi. Klasifikasi ataupun penggolongan bentuk muka bumi merupakan salah satu cara untuk mempermudah penggambaran muka bumi, yang sebenarnya merupakan sebuah proses yang berlangsung secara terus-menerus. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode ideografik, yaitu dengan cara deskripsi untuk menguraikan keterkaitan antar variabel pembentuk muka bumi. Dengan demikian dapat dibuktikan bahwa sebaran sumur minyak hanya terdapat pada unit geomorfologi perbukitan antiklinal pada antiklinorium Rembang.

ABSTRACT

To understand and to illustrate the population distribution of oil wells located in Anticlinorium Rembang, first, it needs to identify the formation of the earth more details. Classification of land is one way to simplify the description of the earth, which is actually a process that took place continuously. This study used ideographic methods, namely by way of description to describe the relationship between the variables forming the earth. Therefore, it can be proved that the distribution of oil wells found only in hilly anticline geomorphological units in anticlinorium Rembang.

Key words: anticlinorium Rembang; geomorphological units;ideographic method; oil wells.

1. PENDAHULUAN

Minyak dan Gas Bumi (Migas) merupakan sumber energi yang sangat diperlukan manusia, terutama untuk menunjang pembangunan yang sedang dilaksanakan. Selain itu Migas juga merupakan sumber devisa yang sangat penting bagi negara [1]. Banyaknya kandungan mineral di Indonesia disebabkan oleh pengaruh aktivitas tumbukan 3 lempeng tektonik (Euro-Asia, Hindia Australia, dan pasifik) yang telah membentuk kepulauan Indonesia sebagai jalur gunung api dan kumpulan cekungan sedimen

serta dukungan iklim tropis yang telah mendukung berkembang biaknya mikro plankton yang merupakan bahan utama pembentuk Migas [2].

Selanjutnya sebagai pengaruh dari pergerakan 3 lempeng tektonik tersebut telah terjadi kurang lebih 76 cekungan minyak, baik yang terjadi di muka maupun dibelakang (Fore arc Bassin dan

Back arc Bassin) dari jalur-jalur gunung api tersebut [1]. Akibat pengaruh gaya-gaya endogen yang bekerja pada cekungan-cekungan minyak tersebut selama jutaan tahun, maka

(2)

pada masa sekarang ini cekungan tersebut telah terangkat serta membentuk antiklin dan antiklinorium yang sangat kaya akan kandungan minyak.

Salah satu antiklinorium itu terletak di Kabupaten Rembang yang arahnya memanjang dari barat ke arah timur mulai dari Purwodadi sampai Gresik dan berakhir di pulau Madura, dan disebut sebagai Zona Rembang atau Antiklinorium Rembang [3]. Zona ini merupakan antiklinorium yang mempunyai cadangan minyak paling kaya di pulau Jawa, dan dikenal sebagai “Cepu Area”.

Untuk memahami dan memberikan gambaran tentang sebaran populasi sumur minyak yang terdapat di Antiklinorium Rembang, maka terlebih dahulu perlu diidentifikasi secara lebih rinci hal-hal yang terkait dengan proses pembentukan muka bumi. Klasifikasi ataupun penggolongan bentuk muka bumi merupakan salah satu cara untuk mempermudah penggambaran muka bumi, yang sebenarnya merupakan sebuah proses yang berlangsung secara terus-menerus.

Untuk membuat klasifikasi atau penggolongan bentuk muka bumi dapat dilakukan melalui berbagai pendekatan, diantaranya: pendekatan bentang alam, pendekatan genetik dan pendekatan parametrik. Kesemuanya itu dimaksudkan untuk menggolongkan bentuk muka bumi menjadi unit-unit geomorfologi, sehingga diharapkan dapat memberikan gambaran suatu daerah dengan menggunakan ekspresi yang sederhana dan umum digunakan serta mempu memberikan penjelasan tentang sifat dan kesamaan perwatakan yang mencerminkan proses dari setiap bentukan.

2. METODOLOGI PENELITIAN

Wilayah penelitian mencakup Antiklinorium Rembang, yaitu pegunungan lipatan berbentuk antiklinorium yang memanjang dari arah barat – timur dan terletak pada koordinat: 111030’00’’ - 112000’00’’ BT dan 6045’00’’ - 7015’00’’ LS

atau 555.255 mT – 610.365 mT dan 9.253.259 mU – 9.184.672 mU.

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode ideografik, yaitu dengan cara deskripsi untuk menguraikan keterkaitan antar variabel. Berikut diuraikan beberapa batasan yang digunakan:

1. Unit-unit Geomorfologi adalah wilayah muka bumi yang memiliki kesamaan dalam bentuk dan dipengaruhi oleh proses genesa (kekuatan luar dan dalam), serta aspek aliran sungai yang ada. Secara umum unit-unit geomorfologi yang terdapat pada daerah penelitian adalah dataran rendah, perbukitan bergelombang, dan pegunungan. 2. Sebaran sumur minyak yang dimaksud

dalam penelitian ini adalah wilayah pada unit-unit geomorfologi di Antiklinorium Rembang yang merupakan lokasi populasi sumur minyak. Populasi sumur minyak yang dimaksud adalah lokasi sumur minyak yang didapatkan melalui survey primer dan diasumsikan sebagai wakil dari masing-masing region sumur minyak.

Sumber-sumber data yang digunakan antara lain:

1. Enambelas lembar Peta Topografi skala 1 :

25.000, terbitan BAKOSURTANAL.

2. Dua lembar Peta Geologi skala 1 : 100.000, yaitu: lembar Rembang dan lembar Jatirogo, terbitan Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi, Bandung.

3. Buku uraian Geologi untuk lembar Rembang dan lembar Jatirogo, terbitan Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi, Bandung.

4. Buku-buku dan referensi lainnya yang terkait dengan penelitian ini.

5. Hasil survey lapang pada lokasi populasi sumur minyak pada unit-unit geomorfologi di Antiklinorium Rembang.

Variabel yang digunakan untuk membuat klasifikasi terhadap aspek-aspek geomorfologi adalah (Gambar 1):

(3)

1. Wilayah ketinggian; parameter ketinggian (m);

2. Wilayah lereng, dengan parameter lereng (%);

3. Wilayah bentuk medan, yang diperoleh dari hasil gabungan (overlay) parameter lereng (%) dan perbedaan ketinggian (m);

4. Pola aliran sungai, mengacu kepada pembagian dasar pola aliran sungai menurut Lobeck [5] yaitu:

a. Pola aliran Dendritik b. Pola Aliran Rektangular c. Pola aliran Trellis d. Pola aliran Radial

5. Unit-unit geomorfologi, mengacu pada sistem klasifikasi menurut Desaunettes [6], yang termasuk kedalam 3 sistem utama bentukan asal:

a. Sistem Alluvial (Alluvial Sistem) b. Sistem Perbukitan (Hilly Sistem) c. Sistem Vulkanik (Volcanic Sistem) Unit-Unit Geomorfologi ini masih bisa dibedakan lebih detik satu sama lain dalam bentuk area. Detil unit geomorfologi yang dimaksud adalah yang masih dapat digambarkan pada skala 1 : 100.000 dalam bentuk simbol tersendiri.

Pada tabel 1–3 dapat dilihat bagaimana variabel ketinggian, lereng dan bentuk medan diklasifikasi.

Tabel. 1. Klasifikasi Wilayah Ketinggian No. KETINGGIAN WILAYAH

KETINGGIAN 1 Di bawah 100 m Wilayah Rendah 2 100 – 500 m Wilayah Pertengahan 3 500 – 1000 m Wilayah Pegunungan Sumber: [4]

Penggolongan unit-unit geomorfologi pada Antiklinorium Rembang berdasarkan wilayah bentukan asal dapat dibagi menjadi: bentukan asal alluvial, bentukan asal perbukitan, dan bentukan asal vulkanik, yang selanjutnya dapat dirinci lagi menjadi sub-sub sistem.

Tabel. 2. Klasifikasi Wilayah Lereng No. KELAS LERENG

(%) WILAYAH LERENG 1 0 - 15 % Landai 2 16 – 30 % Agak Curam 3 31 – 50 % Curam 4 51 – 75 % Sangat Curam 5 Di atas 75 % Terjal

Sumber : Modifikasi Wilayah Lereng Desaunettes [6]

Tabel. 3. Klasifikasi Wilayah Bentuk Medan

No LERENG (%) BEDA TINGGI (m) WILAYAH BENTUK MEDAN 1 0 - 16 % 0 – 12,5 m Datar - Landai 2 Di atas 16 % 12,5 – 50 m Berombak - Berbukit 3 Di atas 16 % 50 – 300 m Perbukitan 4 Di atas 16 % Lebih dari 300 m Pegunungan Sumber : Modifikasi Wilayah Bentuk Medan Desaunettes [6]

3. UNIT-UNIT GEOMORFOLOGI DAN POLA SEBARAN SUMUR MINYAK DI ANTIKLINORIUM REMBANG

3.1. Bentukan Asal Alluvial

Bentukan asal alluvial (alluvial sistem) merupakan bentukan yang terjadi oleh proses alluvial, seperti: aliran permukaan dan banjir. Pada Antiklonirium Rembang, proses alluvial hanya ditekankan pada aliran sungai yang diidentifikasi berdasarkan pola dan material yang diangkut serta diendapkan. Endapan material permukaan yang terbentuk, seperti endapan alluvium terdiri atas lempung, pasir, kerikil, kerakal, dan bongkah. Pada antiklinorium Rembang terdapat tiga (3) sub-sistem alluvial, yaitu sabuk meander (A1), dataran alluvial (A2) dan lembah (A3).

(4)

3.1.1. Sabuk meander (A1)

Sabuk meander (meander belt) merupakan sungai-sungai besar dengan tipe meander (berkelok-kelok) dimana terdapat unit-unit terkecil seperti: point bar, meander scar (bekas meander), oxbow lake (danau mati), dan back swamp. Pada Antiklinorium Rembang, sub sistem ini terdapat di bagian tengah, yaitu pada meander sungai Bengawan Solo. Sebarannya di bagian tengah memanjang berarah barat – timur. Wilayah ini terdapat pada ketinggian 0 – 100m dengan lereng antara 0 – 15% (datar – landai). Bentuk medan pada wilayah ini berupa datar – landai, dengan pola aliran sungainya adalah dendritik. Jenis batuan pada satuan ini adalah: Qa, Qtl, Tpm, dan Tml; yang tersusun dari batuan sedimen klastik, yaitu: alluvial, lempung, dan batupasir.

3.1.2. Dataran alluvial (A2)

Dataran alluvial adalah bentukan pengendapan berupa lempung, lanau, pasir, dan bongkah, yang terjadi sebagai hasil dari proses akumulasi karena pengaruh aliran sungai, yang berasal dari daerah yang lebih tinggi. Satuan ini terdapat di bagian utara dan di bagian tengah Antiklinorium Rembang, yakni terdapat pada ketinggian antara 0 – 100m dengan lereng antara 0 – 15% dan bentuk medan datar – landai. Pola aliran sungainya adalah dendritik. Jenis batuan satuan ini bervariasi, yaitu: Qa, QTl, Tpm, Tpp, dan Tml; yang tersusun dari batuan sedimen klastik, yaitu: batupasir, lempung, dan alluvial. Di bagian utara sebarannya memanjang berarah barat – timur, dan berbatasan langsung dengan Laut Jawa. Begitu pula di bagian tengah sebarannya memanjang berarah barat – timur, dan meluas sampai ke bagian utara dan selatan dari Antiklinorium Rembang.

3.1.3. Lembah (A3)

Lembah yang terdapat antar perbukitan Antiklinorium Rembang, terdapat pada Formasi Rembang dan Formasi Kendeng. Sub sistem ini selaras dengan sungai lebar dan dalam yang

terisi oleh material-material alluvium, dan terdapat di bagian tengah, yaitu: sepanjang aliran sungai Begawan Solo. Sebarannya memanjang berarah barat – timur. Satuan ini terdapat pada ketinggian antara 0 – 100m dengan lereng antara 16 – 30% (agak curam). Bentuk medan satuan ini berupa berombak – berbukit dengan pola aliran sungainya adalah dendritik. Jenis batuan pada satuan ini didominasi oleh Qa, yang tersusun oleh batuan sedimen klastik, yaitu: alluvium.

3.2. Bentukan Asal Perbukitan

Bentukan asal perbukitan mengindikasi terbentuknya bentukan-bentukan struktural seperti: patahan, lipatan, pengangkatan, dan penurunan.

Terdapat beberapa unit geomorfologi sebagai sub-sistem perbukitan.

3.2.1. Kaki bukit (H1)

Kaki bukit merupakan bagian bawah dari lereng atau lembah perbukitan. Satuan morfologi ini terdapat pada ketinggian antara 0 – 100 m, dengan lereng antara 16 – 75%, yang terbagi dalam 3 kelas lereng, yaitu: 16 – 30% (agak curam), 31 – 50% (curam), dan 51 – 75% (sangat curam). Bentuk medan satuan ini berupa berombak – berbukit sampai perbukitan, dengan pola aliran sungainya adalah trellis dan dendritik. Jenis batuan satuan ini adalah: Qa, Qtl, dan Tml; yang tersusun oleh batuan sedimen klastik, yaitu: batupasir dan alluvial. Pada Antiklinorium Rembang, terdapat di bagian utara, bagian tengah, dan bagian selatan, dengan sebaran secara umum memanjang berarah barat – timur. Di bagian utara dan tengah, terdapat pada kaki perbukitan Rembang. Di selatan, sebarannya terdapat pada kaki perbukitan Kendeng.

Pada sub-sistem struktural terdapat unit-unit geomorfologi antara lain:

3.2.2. Pegunungan blok sesar (H2)

Pegunungan blok sesar merupakan wilayah dengan bentuk medan bergunung dan memiliki lereng yang bervariasi (diatas 16%), mulai dari

(5)

lereng agak curam, curam, sampai lereng terjal. Proses pembentukannya sangat dipengaruhi oleh morfostruktur aktif berupa sesar. Bentuk medan satuan ini berupa pegunungan, dengan pola aliran radial. Jenis batuan pada satuan ini adalah: Tmtn, Tmb, dan Tmw; yang tersusun oleh batuan sedimen klastik, yaitu: batupasir. Pada Antiklinorium Rembang, terdapat di bagian baratlaut, mengelilingi bukit vulkanik terdenudasi.

3.2.3. Perbukitan blok sesar (H3)

Perbukitan blok sesar adalah bentukan yang proses terjadinya sama dengan unit pegunungan antiklinal, tetapi berbeda secara morfologi. Bentukan ini memiliki lereng landai sampai dengan sangat terjal, dan perbedaan ketinggian antara 10 – 300m, dengan bentuk medan berombak – berbukit sampai perbukitan , namun secara keseluruhan berupa perbukitan (berbukit). Satuan ini terdapat pada ketinggian antara 0 – 500m dengan lereng antara 16 – 75%, yang terbagi dalam 3 kelas lereng, yaitu: 16 – 30% (agak curam), 31 – 50% (curam), dan 51 – 75% (sangat curam). Pola alirannya adalah rektangular. Jenis batuan pada satuan ini sangat bervariasi, yaitu: Tpk, Tmpk, Tpp, Tpm, Tmtn, Tmb, Tmw, Tml, Qtl, Qa, Tmt, Tps, QTdl, dan Tpso, yang tersusun oleh batuan sedimen klastik, yaitu: batupasir, alluvial, dan lempung. Satuan ini terdapat di bagian barat dan di bagian selatan. Di bagian barat sebarannya meluas sampai ke tengah dan memanjang ke bagian timur. Di bagian selatan sebarannya memanjang berarah barat – timur.

3.2.4. Pegunungan antiklinal (H4)

Pegunungan antiklinal merupakan bentukan yang memiliki relief tidak teratur, ditandai dengan adanya lereng yang curam sampai terjal, dengan beda tinggi lebih dari sampai lebih dari 300m. Bentukan ini memiliki dip pada kedua sayap yang berlawanan arah. Satuan ini terdapat pada ketinggian antara 100 – 1000m dengan lereng antara 31 – 75%, yang terbagi dalam 2 kelas lereng, yaitu: 31 – 50% (curam), dan 51 – 75% (sangat curam). Bentuk medan satuan ini berupa pegunungan. Pola

aliran sungainya adalah radial dan trellis. Jenis batuannya bervariasi, yaitu: Tml, Tml, Tpm, Qla, Tmb, dan Tmtn; yang tersusun oleh batuan sedimen klastik, yaitu: batupasir. Satuan ini hanya terdapat di sebagian kecil baratlautdaerah penelitian.

• Perbukitan antiklinal (H5)

Perbukitan antiklinal merupakan bentukan yang proses terjadinya sama dengan unit pegunungan antiklinal, tetapi berbeda dari segi bentuk medan, yaitu berupa satuan perbukitan. Bentukan ini memiliki lereng yang bervariasi. Satuan ini terdapat pada ketinggian antara 0 – 500m dengan lereng antara 16 – 75%, yang terbagi dalam 3 kelas lereng, yaitu: 16 – 30% (agak curam), 31 – 50% (curam), dan 51 – 75% (sangat curam). Bentuk medan wilayah ini berombak – berbukit, dan perbukitan. Satuan ini didominasi oleh pola aliran sungai trellis. Jenis batuan pada satuan ini sangat bervariasi, yaitu: Tpp, Tpm, Tmtn, Tmpk, Tmw, Tmb, Tmt, Qa, Tml, Tps, Qtl, dan Tpso; yang tersusun oleh batuan sedimen klastik, yaitu: batupasir dan lempung. Satuan morfologi ini terdapat di bagian utara, bagian timur dan bagian selatan; dengan arah kemiringan relatif berarah barat – timur. Di bagian utara dan bagian timur sebarannya meluas sampai ke tengah. Di bagian selatan sebarannya memanjang berarah barat – timur.

• Lembah antiklinal (H6)

Lembah antiklinal merupakan bentukan yang terletak pada kompleks punggung antiklin dan berada lebih rendah, dengan lereng yang landai sampai curam. Satuan ini terdapat pada ketinggian antara 0 - 100m dengan lereng 0 – 50%, yang terbagi dalam 3 kelas lereng, yaitu 0 – 15% (datar – landai), 15 – 30% (agak curam), 31 – 50% (curam). Bentuk medan satuan ini berupa datar – landai, berombak-ombak, dan perbukitan, dengan pola aliran sungainya adalah trellis. Jenis batuan satuan ini bervariasi, yaitu: Qa, Tpp, Tmw, Tpm, Tmtn, Tmb, Tml, Tmt, Tps, Qtl, Tmpk, dan Tpk; yang tersusun oleh batuan sedimen

(6)

klastik, yaitu: alluvial, batupasir, dan lempung. Satuan ini tersebar di bagian utara, bagian barat, bagian timur, dan bagian tengah.

• Perbukitan sinklinal (H7)

Perbukitan sinklinal merupakan bentukan yang secara morfologi terletak pada bentuk medan yang memiliki lereng landai sampai terjal. Bentukan ini merupakan bagian lapisan dari sebuah lipatan yang ditandai oleh dip berlawanan, akan tetapi arah lapisannya membentuk seperti sebuah cekungan. Satuan ini terdapat pada ketinggian antara 0 – 500m dengan lereng antara 31 – 75%, yang dibagi kedalam 2 kelas lereng, yaitu: 31 – 50% (curam), dan 51 – 75% (sangat curam). Bentuk medan satuan ini berombak-ombak sampai perbukitan, dengan pola aliran sungainya adalah trellis. Jenis batuan pada satuan ini adalah: Tmk, Tpso, Tpk, Qtl, dan Tmpk; yang tersusun oleh batuan sedimen klastik, yaitu: batupasir dan lempung. Satuan ini terdapat di bagian baratlaut dan bagian tenggara.

3.3. Bentukan Asal Vulkanik

Bentukan asal vulkanik merupakan bentukan yang terjadi sebagai akibat dari adanya aktivitas vulkanik yang menghasilkan bahan-bahan lepas piroklastika atau endapan lahar, baik berupa pasir, kerikil, serta abu-abu vulkanik. Bahan-bahan ini terbawa oleh aliran sungai maupun aliran permukaan. Pada sistem ini, terdapat unit-unit geomorfologi antara lain:

• Bukit vulkanik terdenudasi (V1) Bukit vulkanik terdenudasi merupakan bentuk permukaan yang dominan berbukit, dengan lereng curam sampai terjal. Satuan ini terdapat pada ketinggian 100 – 1000m dengan kelas lereng antara 31 – 90%, yang terbagi menjadi 3 kelas lereng, yaitu: 31 – 50% (curam), 51 – 75% (sangat curam), dan 76 – 90% (terjal). Bentuk medan satuan ini didominasi pegunungan dan perbukitan, dengan pola aliran sungainya adalah Radial, dan sebagian terdapat pola aliran trellis. Jenis batuan pada satuan ini didominasi

oleh Qla, yang tersusun oleh batuan vulkanik, yaitu: vulkanik lasem. Sebaran satuan ini hanya terdapat pada bagian baratlaut daerah penelitian.

4.2 KAITAN UNIT-UNIT

GEOMORFOLOGI DENGAN SEBARAN SUMUR MINYAK 4.2.1 Batuan Reservoir Minyak Bumi Batuan reservoir merupakan batuan tempat terperangkapnya minyak bumi dalam suatu jebakan minyak, biasanya tersusun dari batu pasir, batu gamping, dan batuan lain (batuan piroklastik). Batuan ini memiliki sifat porous dan sifat permeabel, yang juga menentukan besar kecilnya kandungan minyak bumi yang terdapat dalam jebakannya. Pada suatu formasi perangkap minyak, terdapat juga lapisan batuan induk yang merupakan batuan dasar (bed rocks) dari jebakan minyak, dan lapisan batuan penutup yang merupakan lapisan paling atas dari perangkap minyak ini. Lapisan induk dari suatu jebakan minyak dapat menjadi indikasi besar kecilnya cadangan minyak yang ada. Pada daerah penelitian, yang bertindak sebagai batuan induk adalah batuan yang berada dalam Formasi Ngrayong (Tmn), Formasi Tawun (Tmt), dan Anggota Ngrayong Formasi Tuban (Tmtn). Batuan reservoir pada daerah penelitian adalah batuan yang terdapat dalam Formasi Bulu (Tmb), Formasi Wonocolo (Tmw), dan Formasi Ledok (Tml). Batuan penutup pada daerah penelitian adalah batuan yang terdapat dalam Formasi Mundu (Tpm), Formasi Selorejo (Tps), dan Formasi Lidah (QTl).

Pada Antiklin Kawengan, yang termasuk unit geomorfologi perbukitan antiklinal adalah lapisan batuan induknya, yang terdapat dalam Formasi Tawun dan Formasi Ngrayong. Lapisan formasi batuan reservoir yang tersingkap pada antiklin ini adalah Formasi Bulu, Formasi Wonocolo, dan Formasi Ledok. Formasi batuan penutup pada antiklin ini adalah Formasi Mundu, dan Formasi Lidah.

(7)

Pada Antiklin Ledok yang termasuk unit geomorfologi perbukitan antiklinal, lapisan batuan induknya terdapat dalam Formasi Tawun, dan Formasi Ngrayong. Lapisan formasi batuan reservoir yang tersingkap pada antiklin ini adalah Formasi Wonocolo, dan Formasi Ledok. Formasi batuan penutup pada antiklin ini adalah Formasi Mundu, FormasiSelorejo, dan Formasi Lidah.

Pada Antiklin Nglobo yang termasuk unit geomorfologi perbukitan antiklinal, lapisan batuan induknya terdapat dalam Formasi Tawun, dan Formasi Ngrayong. Lapisan formasi batuan reservoir yang tersingkap pada antiklin ini adalah Formasi Wonocolo, dan Formasi Ledok. Formasi batuan penutup pada antiklin ini adalah Formasi Mundu, Formasi Selorejo, dan Formasi Lidah.

Ketiga antiklin ini memiliki formasi yang relative sama, karena masih terdapat dalam satu antiklinorium, yaitu Antiklinorium Rembang. 4.2.2 Unit-unit Geomorfologi dan Sebaran

Sumur Minyak

Secara umum sebaran sumur minyak yang terdapat pada daerah penelitian terlihat memanjang pada tiga antiklin penghasil minyak utama, yaitu: Antiklin Kawengan, Antiklin Ledok, dan Antiklin Nglobo (Peta 1).. Ketiga antiklin ini merupakan unit geomorfologi perbukitan antiklinal.

Sebaran sumur minyak hanya terdapat pada unit geomorfologi perbukitan antiklinal karena pada unit geomorfologi ini formasi batuan reservoir sumur minyaknya sudah tersingkap. Hal ini terjadi karena adanya proses erosi, yang mengerosi lapisan batuan penutupnya. Dengan tersingkapnya batuan reservoir minyak tersebut, maka pengeboran untuk sumur minyak akan lebih efisien dan lebih mudah dilakukan (Peta 2).

Pada unit geomorfologi lain tidak terdapat sumur minyak, karena relatif pada unit-unit geomorfologi tersebut batuan reservoirnya

belum tersingkap. Pada unit-unit geomorfologi ini belum tentu tidak ada jebakan minyak, tetapi karena lapisan batuan penutupnya masih tebal, sehingga tidak efisien untuk dilakukan pengeboran minyak pada unit geomorfologi ini. Untuk unit geomorfologi perbukitan blok sesar, memiliki karakteristik yang hampir sama dengan unit geomorfologi perbukitan antiklinal. Tetapi pada daerah penelitian untuk unit geomorfologi ini tidak ditemukan sumur minyak. Diduga karena lapisan reservoir minyak pada unit geomorfologi ini relatif kecil dan belum tersingkap. Hal ini mungkin terjadi karena unit geomorfologi ini banyak tersebar di bagian utara, yaitu mengarah ke laut, sehingga merupakan wilayah peralihan dari zona pengikisan ke zona pengendapan.

4. RINGKASAN

Unit-unit geomorfologi yang terdapat di Antiklinorium Rembang, khususnya pada daerah penelitian terbagi menjadi 3 bentukan, yaitu:

• Bentukan Asal Alluvial (A)

Pada bentukan asal ini terdapat unit-unit geomorfologi antara lain: Sabuk Meander (A1), Dataran Alluvial (A2), dan Lembah (A3).

• Bentukan Asal Perbukitan (S)

Pada bentukan asal ini terdapat unit-unit geomorfologi antara lain: Kaki Bukit (H1), Pegunungan Blok Sesar (H2), Perbukitan Blok Sesar (H3), Pegunungan Antiklinal (H4), Perbukitan Antiklinal (H5), Lembah Antiklinal (H6), dan Perbukitan Sinklinal (H7).

• Bentukan Asal Vulkanik (V)

Pada bentukan asal ini hanya terdapat 1 unit geomorfologi, yaitu: Bukit Vulkanik Terdenudasi (V1).

Sementara itu sebaran sumur minyak pada daerah penelitian hanya terdapat pada unit geomorfologi perbukitan antiklinal, yaitu pada Antiklin Kawengan, Antiklin Ledok, dan

(8)

Antiklin Nglobo. Dengan melihat kenyataan tersebut, dapat diketahui bahwa sebaran sumur minyak mengikuti pola sebaran batuan reservoir minyak yang banyak terdapat dalam lapisan-lapisan dari unit geomorfologi tersebut, karena lapisan batuan reservoir pada unit geomorfologi perbukitan antiklinal telah tersingkap, sehingga lebih efisien untuk dilakukan pengeboran.

5. DAFTAR PUSTAKA

[1] Soedarjono, Jogi Tjiptadi. Kebijakan Mineral di Indonesia: Dari Masa Kolonial

Hingga Era Reformasi. Indonesian Mining Association. Jakarta. 2007.

[2] Sudrajat, Adjat. Teknologi dan Manajemen Sumber Daya Mineral. Intsitut Teknologi Bandung. Bandung. 1999.

[3] Bemmelen, R W Van. The: Vol IA. The Hague. Netherlands. 1949.

[4] Sandy, I Made, et al. Republik Indonesia: Geografi Ragional. Jurusan Geografi FMIPA Universitas Indonesia. Jakarta. 1985.

[5] Lobeck, A K. 1939. GEOMORPHOLOGY: An Introduction to the Study of Landscapes. McGraw-Hill Book Company. London.

[6] Desaunettes, J R. Catalogue of Landforms for Indonesia: Examples of Physiographic Approach to Land Evaluation for

Agriculture Development. Soil Research Institute. Bogor. 1977.

Gambar 1. Alur Pikir Penelitian Antiklinorium Rembang Topografi Geologi Stratigrafi Bentuk Medan Struktur

Geologi Jenis Batuan Pola Aliran Sungai

Unit-Unit Geomorfologi

Sebaran Sumur Minyak pada Unit-Unit Geomorfologi

Wilayah Ketinggian Wilayah

Kelerengan

Lokasi Populasi Sumur Minyak

(9)

PETA 1. SEBARAN SUMUR MINYAK PADA UNIT-UNIT GEOMORFOLOGI

PETA 1

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :