Menumbuhkan Karya Seni Kearifan Lokal Sebagai Wawasan Nusantara

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

1

Menumbuhkan Karya Seni Kearifan Lokal Sebagai Wawasan Nusantara

Melisa Hana Trifani Putria, Farida Nuranib

a,b Administrasi Publik, Fakultas Ilmu Administrasi, Universitas Brawijaya, Malang, Jawa Timur, Indonesia

———

 Corresponding author. e-mail: melisahanatpgm@student.ub.ac.id A B S T R A C T

The diversity and differences in geographical conditions in each region in Indonesia make Indonesia a potential and generate new knowledge that comes from the surrounding environment. The knowledge created is formed in the concept of local wisdom. Every community in the territory of Indonesia, has a policy pattern or wisdom - each in solving problems of life from the environment and cultural background. With the same background does not rule out the possibility that the local wisdom of the Indonesian people can be a means of unifying the nation. This of course will foster an insight into the archipelago in various cultural characters. Diversity possessed by Indonesia is very vulnerable to the effects of conflict. Thus, exploring cultural values in the nation's local wisdom can be a way to strengthen understanding of the archipelago's insight and avoid disintegration behavior in society.

I N T I S A R I

Keanekaragaman dan perbedaan kondisi geografis di setiap wilayah di Indonesia menjadikan Indonesia yang berpotensi dan menghasilkan pengetahuan baru yang bersumber dari lingkungan di sekitranya. Pengetahuan - pengetahuan yang tercipta tersebut terbentuk dalam konsep kearifan lokal. Setiap masyarakat di wilayah Indonesia, memiliki pola kebijakan atau kearifan masing - masing dalam memecagkan persoalan hidup dari lingkungan dan latar belakang budaya. Dengan kesamaan latar belakang tidak menutup kemungkinan apabila kearifan lokal bangsa Indonesia dapat menjadi sarana pemersatu bangsa. Hal ini tentunya akan menumbuhkan wawasan nusantara dalam berbagai karakter budaya. Kebhinekaan yang dimiliki oleh Indonesia sangat rentan terhadap pengaruh konflik. Sehingga,menggali nilai - nilai budaya dalam kearifan lokal bangsa bisa menjadi jalan untuk memperkuat pemahaman tentang wawasan nusantara dan menghindari perilaku disintegrasi dalam masyarakat..

Keywords:karya seni, kearifan lokal dan wawasan nusantara

(2)

2 1.Pendahuluan

Indonesia merupakan sebuah negara kepulauan dengan masyarakat yang tergolong besar. Keanekaragaman budaya yang dimiliki menyebabkan Indonesia menjadi negara yang kaya akan budaya dari masing-masing wilayah. Masing-masing budaya yang terbentuk mendapatkan pengaruh dari latar belakang masyarakat dan kondisi geografis tempat tinggalnya. Kemampuan bangsa Indonesia dalam mengolah budaya dengan unsur-unsur dari alam sekitarnya akhirnya menemukan sebuah cara pandang yang bijak dalam menyelesaikan persoalan hidup yang dialaminya. Cara pandang tersebut yang nantinya akan terkonsep dalam bentuk kearifan lokal. Menurut Koesoema (2010) Kearifan lokal yang dihasilkan oleh masyarakat Indonesia cenderung masih menunjukkan unsur budaya daerah setempat. Hal inilah yang menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia memiliki kemampuan yang terbilang tinggi untuk menjaga unsur budayanya yang telah terakulturasi ke dalam bentuk kearifan lokal. Kemampuan inilah yang menjadikan bangsa Indonesia menjadi bangsa yang mampu mempertahankan eksistensi budayanya meskipun lingkungan di sekitarnya mendapatkan pengaruh dari dinamika perkembangan global. Isu yang tengah berkembang di masyarakat luas dalam masa globalisasi adalah menyebarnya isu yang melibatkan bangsa Indonesia sebagai salah satu bangsa yang terdaftar sebagai korban dari dampak arus globalisasi ini. Dengan segala unsur-unsur kehidupan, tak menutup kemungkinan apabila unsur-unsur asing juga bisa masuk pada kehidupan bangsa ini. Apabila bangsa Indonesia sendiri kurang memiliki kemampuan dalam memilah unsur-unsur asing yang masuk dalam kehidupannya, maka tidak mengherankan jika unsur-unsur tersebut dapat mengganti unsur-unsur-unsur-unsur kehidupan asli milik bangsa Indonesia sendiri. Kearifan lokal yang berkembang di masyarakat dapat dijadikan sebagai perisai “pertahanan diri” bagi bangsa Indonesia sendiri. Hal ini disebabkan oleh kearifan lokal yang berkembang di masyarakatnya sendiri menghasilkan daya cipta yang menyatukan unsur budaya lokal dan kondisi lingkungan di sekitarnya. Sehingga kearifan lokal yang telah dipegang oleh masyarakat dapat digali kembali lebih dalam. Hal ini dilakukan agar bangsa Indonesia bisa lebih memahami karakter dirinya sendiri juga lebih mendalami diri akan wawasan nusantara yang dimilikinya.

2. Tinjauan Pustaka

2.1 Seni

Menurut Nursid (1998) seni merupakan bagian dari hidup manusia. Seni itu adalah ekspresi yang memiliki unsur keindahan atau unsur estetik yang dituangkan menjadi suatu bentuk karya yang dapat dinikmati oleh kelima panca indera. Seni pada awalnya berasal dari

bahasa sansekerta, dari kata sani yang berarti ‘pemujaan, persembahan dan pelayanan’. Kata-kata tersebut memiliki kaitan yang cukup erat dengan upacara keagamaan yang biasa disebut dengan ‘kesenian’. Menurut Padmapusphita berpendapat kalau seni itu asalnya dari bahasa Belanda, yaitu dari kata ‘genie’ yang

dalam bahasa latin artinya ‘genius’, bisa dibilang seni

adalah kemampuan yang didapat sejak lahir. Namun di Eropa, seni disebut dengan ‘art’ yang dapat diartikan

sebagai artivisual dari suatu objek atau benda yang melakukan kegiatan tertentu.

2.2 Karya Seni

Seni telah ada sejak zaman dahulu ketika manusia pertama kali muncul di muka bumi dalam artian seni telah ada dari zaman prasejarah.Seni merupakan hal yang tidak bisa lepas dari kehidupan manusia dan bagian dari kebudayaan yang diciptakan dari hubungan manusia dalam lingkungan sosialnya.Seni memiliki berbagai pengertian tergantung dengan konsep atau pandangan yang mendasari sebuah teori atau kajian menganai seni itu sendiri. Menurut Lutan (2001) seni dapat diartikan sebagai hasil proses kerja dan gagasan manusia yang meibatkan kemampuan terampil, kreatif, kepekaan indera, kepekaan hati dan pikir untuk menghasilkan suatu karya yang memiliki kesan indah, selaras, bernilai seni dan lainnya. Dalam penciptaan atau penataan suatu karya seni yang dilakukan oleh para seniman dibutuhkan kemampuan terampil kreatif secara khusus sesuai jenis karya seni yang dibuatnya. Bentuk karya seni sekarang ini cukup beragam dilihat dari bentuk kreasi seni, proses dan teknik berkarya serta wujud yang digunakannya. Dapat disimpulkan bahwa seni merupakan hasil karya manusia dengan melibatkan jiwa dan perasaan serta kreativitas yang dimilikinya.Hasil karya seni tersebut merupakan wujud ekspresi seorang seniman yang kemudian diterapkan pada berbagai media yang mendukung dalam teknik dan prosesnya.

2.3 Karya Seni Menurut Para Ahli (Soedarso,2008)

1.

Aristoteles

Menurut Aristoteles seni merupakan peniruan terhadap alam tetapi sifatnya harus idea. Aristoteles menjelaskan dan memaparkan bahwa seni sejatinya adalah sebuah peniruan terhadap alam yang memiliki sifat tepat guna atau ideal, sesuai dengan proporsi alam. Akan tetapi pendapat ini bisa menampik kekuatan seni yang sejatinya bisa diekspresikan bahkan jika sebuah karya tersebut adalah hanya dimiliki oleh imajinasi seseorang dan bersifat tidak mungkin

(3)

3

2. Ki Hajar Dewantara

Ki Hajar Dewantara menjelaskan bahwa menurutnya Seni merupakan segala perbuatan manusia yang timbul dari perasaan, sehingga dapat menggerakan jiwa perasaan manusia.Tokoh intelektual Indonesia sekelas ki Hajar Dewantara menjelaskan dengan detai bahwa seni adalah suatu tindakan atau aktifitas dari perbuatan yang dilakukan oleh manusia yang bermula dari perasaan, yang diidentikan dengan perasaan yang indah-indah yang akhirnya dapat dan sampai ke jiwa dan memiliki pengaruh emosional terhadap perasaan yang ditimbulkan dari melihat atau mendengar sebuah seni.Ki Hajar Dewantara adalah pelopor pendidikan masyarakat Indonesia ketika ada pada jaman Penjajahan kompeni Belanda. Ki Hajar lahir pada tanggal 2 Mei 1889 di Kota Yogyakarta, yang kemudian hari kelahirannya itu diperingati oleh masyarakat Indonesia sebagai Hari Pendidikan Nasional

3. Drs. Sudarmaji

Menurutnya Drs. Sudarmaji seni merupakan segala manifestasi batin & pengalaman estetis dengan menggunakan media bidang, garis, warna, tekstur, volume & gelap terang.Drs. Sudarmaji adalah seorang pelukis sekaligus kritikus seni rupa. Menurutnya, seni adalah segala manifestasi batin dan pengalaman estetis dengan menggunakan media bidang, garis, warna, tekstur, volume dan gelap terang. Drs. Darmaji menjelaskan bahwa seni bukan hanya sebuah karya akan tetapi tumbuh menjadi sebuah manifestasi batin yang didalamnya kan menggugah suatu pengalaman yang memiliki keindahan dengan menggunakan berbagai media dalam berkesenian seperti media bidang, garis, warna, tekstur, volum, dan juga galap serta terang.

4. Emanuel Kant

Emanuel Kant menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan seni adalah merupakan sebuah impian karena rumus-rumus tidak dapat mengihtiarkan kenyataan.Emanuel Kant menyatakan bahwa seni adalah impian yang tiada batas, artinya sebuah kesenian adalah penhancur tembok ketidakmampuan atas keterbatasan kenyataan yang ada dalam kehidupan. Seni dapat mengandalkan majinasi sekalipun itu tidak mungkin, akan tetapi tetap menjadi sebuah karya yang dapat dinikmati.Kata Immanuel Kant yang merupakan filosof asal Jerman pada abad ke-18 yang memiliku pengaruh besar bagi dunia intelektual.

2.5 Macam - Macam Karya Seni (Muchtar,2001)

1. Seni Rupa

Merupakan salah satu bagian dari cabang kesenian. Seni rupa memiliki wujud pasti dan tetap yakni dengan menggunakan elemen rupa sebagai salah satu wujud yang dikelompokkan ke dalam bentuk multimedia, gambar, lukis, patung, kerajinan tangan, kriya dan grafis.Seni rupa sudah mengakar mulai zaman animisme dan dinamisme sampai jaman melenium. Seni Rupa merupakan salah satu bagian dari cabang seni yang secara performatif dapat mempresentasikan wujud yang tampak mata 2. Seni Musik

Unsur suara merupakan elemen utama dari seni musik. Unsur lain dapat berbentuk harmoni, melodi dan notasi musik yang merupakan wujud sarana yang diajarkan di sekolah. Media yang digunakan dalam seni musik adalah vokal dan instrumen. Karakter musik instrumen bisa berbentuk alat musik yang berasal dari Barat dan alat musik Nusantara/tradisional. Jenis alat musik tradisional antara lain adalah seruling, gambang kromong, gamelan, angklung, rebana, kecapi, kolintang dan arumba. Jenis alat musik dari Barat antara adalah piano, gitar, flute, , musik elektronik, sintetiserr, seksopon, dan terompet.Seni musik biasanya lebih mempromosikan unsur bunyi sebagai medium dasar musik dan lebih memiliki proporsi pada bunyi secara teratur, bunyi yang memiliki irama dan paduan bunyi yang menjurus pada eksperimental bunyi secara harafiah tanpa ritme atau insturmental, melodi maupun harmoni. 3. Seni Teater

Kompetensi dasar dalam bidang seni teater mencakup kemampuan dalam memahami dan membuat karya teater, kemampuan memahami dan membuat karya naskah, kemampuan memahami bermain peran di bidang casting, kemampuan memahami dalam membuat setting atau tata teknik pentas panggung dan menciptakan suasana sebagai perangkat tambahan yang diperlukan dalam membidangi seni teater.Pada sisi lain, kemampuan untuk memahami seni peran di luar dirinya membutuhkan keahlian khusus yang harus dikuasai secara teoiritis maupun teknis dalam berkarya teater. Kemampuan memahami dan membuat sarana dan prasarana untuk perlengkapan berbasis multimedia adalah pendekatan aktual yang wajib dikuasai seorang pemain drama dalam kaitannya dengan penyajian teater yang berbasis teknologi.

(4)

4 4. Seni Tari

Tari adalah gerakan halus yang memiliki unsur estetis. Gerak dalam tari memiliki makna tertentu dari koregorafer. Keindahan seni tari terletak pada kepuasaan dan kebahagiaan dari para penonton maupun para penari.Keahlian yang dibutuhkan dalam menari meliputi keahlian dalam menari tradisional ataupun tari garapan/modern. Kemampuan untuk memahami serta menguasai tujuan dari tari itu sendiri yang diarahkan oleh koreografer. Kemampuan untuk memahami an berkarya tari (koreografi) adalah keterampilan khusus yang memiliki hubungan dengan kepekaan koreografi, di sisi lain diharapkan para penari memiliki kepekaan memahami secara menyeluruh aspek-aspek dalam tari dan aspek keindahan secara teknis. Sebagai penyesuaian dari abad modern, kemampuan untuk memahami dan membuat perangkat multimedia erat hubungannya dengan tari adalah bentuk penyesuaian sumber daya manusia yang beradaptasinya dengan teknologi.

2.6 Kearifan Lokal

Kearifan lokal merupakan suatu gagasan konsep yang hidup dalam masyarakat, tumbuh dan berkembang secara terus menerus dalam kesadaran masyarakat, yang berfungsi dalam mengatur kehidupan masyarakat yang sifatnya berkaitan dengan kehidupan yang sakral sampai yang duniawi. Kearifan lokal menjadi penting dan bermanfaat hanya ketika masyarakat lokal yang mewarisi sistem pengetahuan itu mau menerima dan memahami hal itu sebagai bagian dari kehidupan mereka. Dengan cara itulah, kearifan lokal dapat disebut sebagai unsur wawasan nusantara.Pemahaman kearifan lokal bisa dilakukan dengan cara mengerti terlebih dahulu bentuk kearifan lokal yang berkembang dalam masyarakat. Lalu dilanjutkan dengan menerapkan dan menjalankan beragam bentuk kearifan lokal yang ada di masyarakat sekitar guna mengoptimalisasi proses pemahaman nilai-nilai yang terkandung pada unsur-unsur budaya yang ada di dalamnya. Unsur nilai tersebut akan dipengaruhi oleh bentuk kearifan yang berkembang di masyarakat, tergantung pada perlakuan masyarakat yang ada di sekitarnya.

2.7 Jenis - Jenis Kearifan Lokal (Muhadjir,2003)

1.

Mempunyai kemampuan mengendalikan.

2.

Merupakan benteng untuk bertahan dari pengaruh budaya luar.

3.

Mempunyai kemampuan mengakomodasi budaya luar.

4.

Mempunyai kemampuan memberi arah perkembangan budaya

2.8 Strategi Mempertahankan Kearifan Lokal

Menurut Syani (2010) nilai - nilai lokal perlu memperkuat daya tahannya kearifan lokal dalam globalisasi ini. Perlu adanya inisaiatif cemerlang dari seluruh masyarakat yang sadar akan bahayanya globalisasi terhadap kearifan lokal. Masyarakat kini dihadapkan dengan adanya krisis identitas karena lenyapnya nilai - nilai kearifan lokal yang tidak lagi digunakan dalam menjalankan kehidupan bermasyarakat. Memang globalisasi membawa dampak serta pengaruh yang baik dalam kemajuan.Namun, nilai - nilai kearifan lokal tidak boleh pudar dengan berbagai kemudahan terhadap globalisasi. Untuk itu kita memerluhkan strategi dalan mempertahankan kearifan lokal di era globalisasi kini terutama di masyarakat Indonesia. Untuk tetap mempertahankan kearifan lokal yang dimiliki bangsa Indonesia untuk itu perlu adanya upaya - upaya pembangunan jati diri bangsa Indonsia sesungguhnya. Jati diri bangsa tersebut ialah penghargaan terhadap sesama, solidaritas sosial, kekeluargaan ,rasa cinta tanah air.

2.9 Wawasan Nusantara

Wawasan nusantara menjadi pola yang mendasari cara berfikir, bersikap, dan bertindak dalam rangka menghadapi, menyikapi atau menangani berbagai permasalahan yang menyangkut kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Wawasan nusantara tidak mengandung unsur-unsur kekerasan dan radikal, namun merupakan cara pandang bangsa Indonesia tentang diri dan lingkungannya berdasarkan ide nasional yang dilandasi oleh Pancasila dan UUD 1945 yang merupakan aspirasi bangsa Indonesia yang merdeka, berdaulat, dan bermartabat. Sehingga wawasan nusantara memang seharusnya dimiliki oleh setiap individu dalam bangsa Indonesia guna menumbuhkan pengetahuan dalam menyikapi berbagai masalah kehidupan yang dilandasi dengan jiwa kebangsaan dan menjunjung tinggi nilai kebenaran sesuai dengan landasan pemikiran bangsa Indonesia.

Asas wawasan nusantara meliputi serangkaian ketentuan-ketentuan atau kaidah-kaidah dasar yang harus dipatuhi, ditaati, dipelihara, dan diciptakan demi tetap taat terhadap kesepakatan bersama. Asas wawasan nusantara terdiri atas kepentingan yang bersama, tujuan yang sama, keadilan, kejujuran, solidaritas, kerjasama, dan kesetiaan terhadap kesepakatan bersama demi terpeliharanya persatuan dan kesatuan dalam kebhinekaan.Tujuan wawasan nusantara bisa diwujudkan melalui salah satu alternatif sekaligus cara dalam menguatkan budaya pada masa globalisasi ini yaitu menumbuhkan kearifan lokal yang berkembang di masyarakat. Menumbuhkan kearifan lokal tidaklah begitu mudah untuk dilakukan apabila masyarakatnya

(5)

5 sendiri masih belum memiliki rasa kesadaran untuk turut ikut serta dalam menumbuhkan kearifan lokal tersebut. Menumbuhkan kearifan lokal akan lebih mudah dilakukan apabila kearifan lokal itu masih dipegang kuat meskipun itu hanya oleh sebagian masyarakat saja. 3. Metode Penulisan

Penulisan ini menggunakan metode kualitatif yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan, dll secara holistic dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah. Menurut Kriyantono, tujuan penelitian kualitatif adalah untuk menjelaskan suatu fenomena dengan sedalam-dalamnya dengan cara pengumpulan data yang sedalam-dalamnya pula, yang menunjukkan pentingnya kedalaman dan detail suatu data yang diteliti. Jenis penulisan ini adalah metode kualitatif rasionalistik yaitu studi hasil - hasil penelitian di bidang kearifan lokal sebagai dasar dalam mengembangkan konsep pemikiran. Data yang digunakan diambil dari hasil peneltian yang kontekstual dengan tema penulisan.Berdasarkan jenis dan pendekatan penelitian tersebut, maka penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mampu mendeskripsikan tentang nilai kearifan lokal yang dikembangkan sebagai wawasan nusantara.Fokus penelitian ini adalah menjelaskan nilai kearifan lokal yang terkandung dalam kesenian, bagaimana upaya mengembangkan nilai kearifan lokal tersebut serta hambatan yang dihadapi dalam mengembangkan nilai kearifan lokal untuk menumbuhkan nasionalisme. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui nilai kearifan lokal yang dikembangkan. Upaya serta hambatannya dalam mengembangkan nilai kearifan lokal untuk menumbuhkan nasionalisme. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai sebuah acuan penelitian selanjutnya serta dapat menambah ilmu pengetahuan dan wawasan bagi nusantara.

4. Diskusi dan Hasil

Fokus penelitian ini adalah menjelaskan nilai kearifan lokal yang terkandung dalam kesenian, bagaimana upaya mengembangkan nilai kearifan lokal tersebut serta hambatan yang dihadapi dalam mengembangkan nilai kearifan lokal untuk menumbuhkan nasionalisme. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui nilai kearifan lokal yang dikembangkan. Upaya serta hambatannya dalam mengembangkan nilai kearifan lokal untuk menumbuhkan nasionalisme. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai sebuah acuan penelitian selanjutnya serta dapat menambah ilmu pengetahuan dan wawasan bagi nusantara.

Kesenian yang di dalamnya mengandung nilai-nilai kearifan lokal, sejatinya berfungsi sebagai sarana mendidik yang pada dasarnya berhubungan dengan tujuan “mencerdaskan” masyarakat. Misi pesan untuk mengubah sikap dan perilaku masyarakat diharapkan

dapat tersampaikan melalui kesenian.Dalam setiap kesenian seseorang dapat memiliki karakter yang kuat seperti kedisiplinan, kerja keras, tanggung jawab, saling menghargai dan menghormati, kepercayaan diri dan masing banyak lagi hal yang dapat muncul dari diri seseorang melalui kesenian.Pada penelitian kualitatif ini, semakin mendalam, teliti, dan tergali suatu data yang didapatkan, maka bisa diartikan pula bahwa semakin baik kualitas penelitian tersebut. Maka dari segi besarnya responden atau objek penelitian, metode penelitian kualitatif memiliki objek yang lebih sedikit dibandingkan

dengan penelitian kuantitatif, sebab lebih

mengedepankan kedalaman data, bukan kuantitas data.Keanekaragaman nilai sosial budaya masyarakat yang terkandung di dalam kearifan lokal itu umumnya bersifat verbal dan tidak sepenuhnya terdokumentasi dengan baik. Di samping itu ada norma-norma sosial, baik yang bersifat anjuran, larangan, maupun persyaratan adat yang ditetapkan untuk aktivitas tertentu yang perlu dikaji lebih jauh. Dalam hal ini perlu dikembangkan suatu bentuk knowledge management terhadap berbagai jenis kearifan lokal tersebut agar dapat digunakan sebagai acuan dalam proses perencanaan, pembinaan dan

pembangunan kesejahteraan masyarakat secara

berkesinambungan. Modal dasar bagi segenap elit dan segenap agen pembaharu bangsa adalah perlu adanya ketulusan untuk mengakui kelemahan, ikhlas membuang egoisme, keserakahan, bersedia menggali kekuatan nilai-nilai budaya yang ada pada kelompok masyarakat daerah masing-masing, dan bersedia berbagi dengan pihak lain sebagai entitas dari bangsa yang sama. Para elit di berbagai tingkatan harus mampu menjadi garda depan, bukan sekedar bisa berbicara dalam janji, tapi harus mampu memberikan bukti tindakan nyata dalam bentuk keberpihakan pada kepentingan masyarakat. Harapannya adalah untuk menyatukan gerak langkah antara satu sama lain, masyarakat bersama-sama menggali sumber kehidupan secara arif dan bijak, sehingga ada jalan menuju kehidupan yang lebih baik, damai, adil dan sejahtera.

5. Penutup

5.1 Kesimpulan

Kearifan lokal yang berkembang di masyarakat sebaiknya digunakan untuk kepentingan proses penguatan integrasi bangsa yang disesuaikan dengan asas wawasan nusantara yang terdiri atas kepentingan bersama dengan tujuan yang sama, keadilan, kejujuran, solidaritas, kerjasama, dan kesetiaan terhadap kesepakatan bersama demi terpeliharanya persatuan dan kesatuan dalam kebhinekaan. Hal tersebut juga memperhatikan tentang bangsa Indonesia yang heterogen dengan masyarakat yang multikultural, sehingga menggali nilai kearifan lokal yang tumbuh dan berkembang pada bangsa yang sama diharapkan bisa membangkitkan rasa solidaritas dan jiwa persatuan yang kuat pada diri bangsa Indonesia yang tengah dilanda oleh

(6)

6 isu globalisasi yang melanda. Hal ini tentunya juga selaras dengan tujuan dari asas wawasan nusantara yang harusnya dimiliki oleh setiap individu dalam masyarakat Indonesia. Pendidikan dan kebudayaan sejatinya merupakan dua hal yang bersifat komplementer dan terintegrasi dalam satu unit bagian yang mengikat.

5.2 Saran

Bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar dengan keanekaragaman budaya yang ada didalamnya.Budaya lokal adalah akar dari kebudayaan nasional yang harus dijaga dan dilestarikan.Pemerintah sebagai tonggak negara harus mampu melindungi karya budaya Indonesia.Tindakan antisipasi harus dilakukan terhadap budaya asing yang masuk ke Indonesia dengan cara bersikap kritis dan teliti mampu memilah budaya yang sesuai dengan kepribadian Bangsa Indonesia.

Daftar Pustaka

Alfabeta Manusia dalam Konteks Sosial Budaya dan Lingkungan Hidup. Bandung:.

Doni Koesoema. (2010). Pendidikan Karakter. Jakarta: Indrawati, Wuryan, dkk., (2007)

Identifikasi Nilai-Nilai Kearifan Lokal (Local Wisdom)

Koentjaraningrat, 1985. “Konsep kebudayaan

Nasional” dalam persepsi Masyarakat tentang Kebudayaan. Alfian (ed.). Jakarta:

Nasikun. (2007). Sistem Sosial Indonesia. Jakarta: PT.

RajaGrafindo Persada. Poerwadarminta. 1987. Kamus Umum Bahasa

Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Lutan, R. (2001). Keniscayaan Pluralitas Budaya Daerah: Analisis Dampak Sistem Nilai Budaya terhadap Eksistensi Bangsa. Bandung: Angkasa. Soedarsono, S. (2008). Membangun Jati Diri Bangsa.

Jakarta: PT Elex Media Komputindo.

Tilaar H.A.R (2002). Pendidikan, Kebudayaan, dan Masyarakat Madani Indonesia. Bandung: Rosdakarya.

Muchtar (2001). Pendidikan & Masalah Sosial Budaya.

Figur

Memperbarui...

Referensi

  1. seni
Related subjects :