• Tidak ada hasil yang ditemukan

Lampiran 1. Lokasi Kecamatan Harau

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Lampiran 1. Lokasi Kecamatan Harau"

Copied!
26
0
0

Teks penuh

(1)

55 LAMPIRAN

(2)
(3)

57 Lampiran 2. Analisa Deskriptif Ukuran Tubuh Sapi

a. Analisa Deskriptif Ukuran-Ukuran Tubuh Sapi pada Umur 2-11 Bulan Variabel N Rataan Standar Deviasi Koefisien Keragaman

PB 7 103,47 8,41 8,13 DD 7 50,86 15,30 30,08 LP 7 115,26 22,56 19,57 LD 7 116 10,82 9,27 TPi 7 93,42 17,55 18,78 TPu 7 94,81 18,62 19,64

b. Analisa Deskriptif Ukuran-Ukuran Tubuh Sapi pada Umur 12-24 Bulan Variabel N Rataan Standar Deviasi Koefisien Keragaman

PB 7 148,62 13,27 9,24 DD 7 96,36 5,29 5,49 LP 7 166,05 11,67 7,03 LD 7 167,60 9,43 5,63 TPi 7 146,78 12,71 8,66 TPu 7 145,91 14,51 9,95

c. Analisa Deskriptif Ukuran-Ukuran Tubuh Sapi pada Umur >25 Bulan Variabel N Rataan Standar Deviasi Koefisien Keragaman

PB 29 159,39 3,92 2,46 DD 29 106,43 10,42 9,79 LP 29 185,37 12,21 6,58 LD 29 193,77 8,66 4,47 TPi 29 158,58 8,35 5,27 TPu 29 159,16 8,19 5,15

(4)

Lampiran 3. Sarana dan Prasarana di Peternakan Roni

1). Kondisi Perkandangan 2). Alat Transportasi

2). Tempat Pakan dan Minum

Sumber Air Minum Tempat Air Minum

(5)

59 Lampiran 4. Keadaan Ternak Sapi Simmental di Peternakan Roni

(6)

Lampiran 5. Hasil Evaluasi Aspek Sarana Penerapan GFP Sapi Simmental di Peternakan Roni

No Aspek Kondisi Seharusnya * Kondisi di Lapangan** 1 Lokasi Tidak bertentangan dengan

Rencana Umum Tata Ruang (RUTR) dan Rencana Detail Tata Ruang Daerah (RDTRD)

Sesuai dengan Rencana Umum Tata Ruang (RUTR) dan Rencana Tata Ruang Daerah (RDTRD)

Letak dan ketinggian lokasi terhadap wilayah sekitarnya harus memperhatikan lingkungan dan topografi sehingga kotoran dan limbah yang dihasilkan tidak mencemari lingkungan

Sesuai dengan persyaratan dan memiliki topografi yang landai

2 Lahan Status lahan peternakan sapi potong jelas

Status lahan peternakan sapi potong jelas (milik perorangan) Sesuai dengan peruntukkannya

menurut perundang-undangan yang berlaku

Sesuai dengan peruntukannya menurut perundang-undangan yang berlaku (izin dari Dinas Peternakan Kabupaten Lima Puluh Kota) 3 Penyediaan

Air dan Alat Penerangan

Air yang digunakan harus memenuhi baku mutu air yang sehat, yang dapat diminum oleh manusia dan ternak serta tersedia sepanjang tahun dalam jumlah yang mencukupi

Tidak dilakukan pengecekan baku mutu air sehat dan kualitas air secara berkala. Air tersedia sepanjang tahun. Sumber air berasal dari sumur yang terletak tidak jauh dari kandang (±3 m) Setiap usaha sapi potong

hendaknya menyediakan alat penerangan (misalnya listrik) cukup setiap saat sesuai kebutuhan dan peruntukannya

Alat penerangannya belum mencukupi. Pada setiap kandang tidak terdapat lampu.

4 Bangunan Jenis bangunan yang diperlukan untuk usaha produksi anak sapi potong adalah :

a. Kandang pemeliharaan

Bangunan yang tersedia Kandang pemeliharaan

a. Gudang pakan dan peralatan

b. Kandang isolasi sapi yang sakit

b. Tidak terdapat kandang isolasi sapi sakit

c. Gudang pakan dan peralatan

c. Terdapat gudang pakan dan peralatan

d. Barak pekerja d. Terdapat barak pekerja e. Unit penampungan dan

pengolahan limbah

e. Terdapat unit penampungan dan pengolahan limbah

(7)

61 padat

Konstruksi bangunan

a. Konstruksi bangunan terdiri dari bahan yang kuat yang

dapat menjamin

kenyamanan dan keamanan bagi pegawai/buruh ternak.

Konstruksi bangunan Peternakan Roni

a. Bahan baku yang digunakan untuk bangunan kandang terdiri atas bahan kayu dan bambu, atap kandang menggunakan bahan seng. Kerangka dan

tiang kandang

menggunakan kayu dan beton

b. Konstruksi kandang harus dapat memenuhi daya tampung dan pertukaran udara di dalam kandang

harus terjamin

kelancarannya.

b. Daya tampung cukup

c. Lantai kandang harus kuat dan tidak licin sebaiknya terbuat dari coran semen untuk menjamin kebersihan kandang dan memudahkan untuk didesinfeksi.

c. Lantai terbuat dari semen

d. Konstruksi bangunan gudang pakan harus dibuat sedemikian rupa agar pakan tetap sehat dan higienis.

d. Bangunan gudang pakan terbuat dari papan dan seng sehingga pakan jerami mudah basah pada saat hujan.

Tataletak bangunan

a. Ruangan kantor dan tempat tinggal karyawan/pengelola usaha peternakan harus terpisah dari daerah perkandangan.

Tataletak Bangunan Peternakan Roni:

a. Tempat tinggal karyawan tidak terpisah dari

dari daerah perkandangan b. Jarak terdekat antara

perkandangan dengan bangunan lain minimal 25 m.

b. Jarak terdekat antara kandang dengan banguan bukan kandang kurang dari 25 m

c. Letak kandang dan bangunan lain harus ditata sedemikian rupa agar

memudahkan bagi

c. Letak kandang dengan unit penampungan limbah terlalu dekat ± 4 m, dikhawatirkan dapat

(8)

karyawan dalam memudahkan kegiatan sehari-hari, memudahkan pengaturan drainase dan penampungan limbah sehingga tidak terjadi polusi dan pencemaran penyakit.

menyebabkan polusi dan pencemaran penyakit

d. Letak kandang isolasi ternak sakit atau diduga sakit di belakang penampungan limbah sehingga tidak terjadi polusi dan pencemaran penyakit.

d. Peternakan Roni tidak memiliki kandang isolasi

e. Usaha peternakan hanya mempunyai satu pintu masuk yang dilengkapi dengan kolam desinfektan dan tamu atau kendaraan harus melewati.

e. Usaha peternakan hanya memiliki satu pintu masuk yang tidak dilengkapi dengan kolam desinfektan dan setiap tamu atau kendaraan harus melewati

5 Alat dan Mesin

Peternakan

Usaha produksi anak sapi potong memiliki peralatan sesuai dengan kapasitas/jumlah sapi yang dipelihara yang mudah digunakan, mudah dibersihkan dan tidak mudah berkarat

Usaha peternakan sapi potong memiliki kandang dengan kapasitas tamping 6 m2/ekor, bangunan terbuat dari kayu yang mudah dibersihkan dan tidak mudah berkarat

Alat dan mesin yang perlu disediakan :

a. Tempat pakan dan tempat minum bisa terbuat dari semen, seng anti karat atau papan tebal

Alat dan mesin yang ada di Peternakan Roni:

a. Tempat pakan terbuat dari semen

b. Kendaraan pembawa rumput ke kandang.

b. Rumput(jerami)/ampas tahu diangkut menggunakan mobil bak terbuka

c. Timbangan pakan dan sapi c. Timbangan yang tersedia adalah timbangan pakan d. Alat timbangan untuk sapi

(statis/mobil)

d. Tidak terdapat alat timbangan untuk sapi e. Mesin giling butiran

(apabila membuat pakan konsentrat sendiri)

e. Tidak terdapat mesin giling

f. Chopper (pemotong rumput)

f. Tidak terdapat chopper

(9)

63 padi

g. Tempat bongkar/muat ternak

h. Tempat bongkar dan muat kurang memadai

i. Mixer j. Tidak terdapat mixer

6 Bibit/bakalan Bakalan bisa berasal dari sapi lokal atau impor, tergantung bangsa sapi.

Bakalan berasal dari ternak impor yaitu sapi Simmental

Sapi bakalan yang digunakan harus bebas dari penyakit menular seperti mulut dan kuku (Foot and Mouth Disease), penyakit ngorok,

Rinderpest, Brucellosis (keluron). Antrax (radang limpa), Blue tangue

(lidah biru).

Sapi bakalan berasal dari pasar ternak yang ada di Kabupaten 50 Kota yang telah bebas dari penyakit menular. Pemeriksaan kesehatan hanya dilakukan sebelum sampai ke peternakan (dilakukan oleh peternak sendiri) Usaha peternakan sapi potong yang

mengadakan kegiatan pembibitan telah mengikuti petunjuk, pengarahan, serta pengawasan dari instansi yang berwenang

Usaha peternakan sapi potong yang mengadakan pembibitan belum sepenuhnya mengikuti petunjuk, pengarahan, serta pengawasan dari instansi yang berwenang seperti pengecekan kesehatan secara rutin. 7 Pakan Ketersediaan pakan cukup bagi

ternak, baik yang berasal dari hijauan/rumput, maupun pakan konsentrat yang dibuat sendiri atau berasal dari pabrik

Ketersediaan pakan cukup, sebagian pakan hijauan/rumput berasal dari kebun HMT peternakan yaitu rumput gajah. Jerami dan ampas tahu diperoleh dari daerah sekitar.

Bahan campuran pakan harus memperoleh izin, ransum pakan

yang digunakan tidak

terkontaminasi mikroba, penyakit, stimulant pertumbuhan, hormon, bahan kimia, obat-obatan,

mycotoxin melebihi tingkat yang

dapat diterima oleh pejabat yang berwenang dan Negara-negara pengimpor

Bahan pakan diperoleh dari dalam negeri namun tidak dilakukan pengujian proksimat untuk setiap bahan pakan yang digunakan.

Kebutuhan pakan hijauan yang cukup bagi usaha peternakan sapi potong secara berkesinambungan, dapat bekerja sama dengan petani setempat untuk hijauan makanan ternak

Kebutuhan hijauan cukup bagi usaha peternakan sapi potong secara berkesinambungan dan penanaman HMT dilakukan oleh peternak.

8 Obat Hewan Obat-obatan, bahan kimia dan bahan biologi untuk ternak yang digunakan sudah terdaftar

Setiap obat memiliki nomor pendaftaran tersendiri

Penggunaan obat hewan sesuai dengan ketentuan yang berlaku

Penggunaan obat di bawah pengawasan Dinas Peternakan

(10)

Keterangan :*Direktorat Jendral Produksi Peternakan (2000), **Kondisi di Peternakan Roni, Harau, Kabupaten 50 Kota (2011)

Kabupaten Lima Puluh Kota 9 Tenaga Kerja Semua karyawan yang bekerja pada

usaha peternakan sapi potong berbadan sehat

Semua karyawan yang bekerja pada usaha peternakan sapi potong berbadan sehat jasmani dan rohani. Pekerja disediakan pakaian kerja,

sepatu bot, jas hujan dan peralatan lainnya yang diperlukan

Pekerja disediakan sepatu bot dan peralatan lainnya yang diperlukan. Setiap usaha sapi potong

hendaknya menjalankan

ketentuan/peraturan

perundang-undangan di bidang

ketenagakerjaan

Karyawan digaji berdasarkan kesepakatan antara pemilik dan karyawan

(11)

65 Lampiran 6. Hasil Evaluasi Aspek Produksi Penerapan GFP Sapi Simmental di Peternakan Roni

No Aspek Kondisi Seharusnya Kondisi di Lapangan 1 Pemilihan

bibit

Pemilihan bibit sapi bakalan pada usaha peternakan sapi potong harus memenuhi kriteria sebagai berikut :

a. Bangsa sapi murni atau persilangan

a. Sapi bakalan di Peternakan Roni awalnya berasal dari bangsa sapi ras Simmental

b. Umur 1 sampai 2 tahun

b. Kisaran umur 1-2 tahun

c. Berat; untuk sapi lokal 100-150 kg,

untuk sapi

persilangan 250-350 kg.

c. Hanya berdasarkan umur karena tidak timbangan sapi tidak tersedia

2 Kandang Setiap usaha peternakan sapi potong yang akan

didirikan harus

merencanakan jumlah kandang yang akan dibangun sesuai dengan jumlah dan jenis sapi yang akan dipelihara

Usaha peternakan sapi potong Roni awalnya merencanakan jumlah kandang sesuai dengan jumlah dan jenis sapi yang akan dipelihara

Kandang yang akan dibangun harus kuat,

memenuhi syarat

kesehatan, mudah

dibersihkan, mempunyai drainase yang baik, sirkulasi udara yang bebas dan dilengkapi tempat makan dan minum sapi serta bak desinfektan

Kandang terbuat dari kayu, semen sehingga pada beberapa bagian ada yang telah rusak(rapuh), belum memenuhi syarat kesehatan, dan cukup sulit untuk dibersihkan, drainase kurang memadai, sirkulasi udara bebas dan dilengkapi tempat makan dan minum sapi, tidak memiliki bak desinfektan

Sistem kandang dapat

dibuat individu,

berkoloni/berkelompok dan setiap kelompok berisi 5-10 ekor sapi dengan luas ruang (space) 10-20 m2

Kandang dibuat individu dan memiliki luas 6 m2

(12)

kandang lainnya minimal 10 m dan jarak kandang

dengan tempat

penampungan

limbah/kotoran sapi minimal 25 m. Sebaiknya bangunan kandang dibuat sedemikian rupa agar selalu mendapat cahaya pagi yang penuh sinar ultra violet.

penampungan limbah atau kotoran sapi sekitar ±4 m. Bangunan kandang mendapatkan cahaya pagi yang penuh ultra violet.

3 Pakan Pemberian pakan hijauan segar minimal 10% dari berat badan dan pakan konsentrat sekitar 0,4% dari berat badan. Pemberian pakan dilakukan 2 (dua) kali sehari

Pemberian hijauan/jerami 10% dan ampas tahu 1-2% dari bobot badan. Pemberian pakan dilakukan 3 kali sehari. Pemberian pakan tidak terlalu disesuaikan dengan bobot badan, PBBH dan konsumsi pakan ternak.

Penyusunan ransum memperhatikan

keseimbangan zat-zat makanan yang dapat dicerna dalam ransum. Zat-zat makanan dasar adalah energi dan lemak, protein, mineral dan vitamin serta serat kasar.

Tidak dilakukan penyusunan ransum

Kebutuhan energi atau

Total Digestible Nutrient

(TDN), protein dan mineral sesuai untuk produksi anak sapi potong.

Tidak sesuai persyaratan. Ampas tahu sebagai sumber energi dan protein kurang mencukupi bagi ternak

Pakan tambahan yang digunakan memiliki ketentuan yang berlaku

Pakan tambahan yang digunakan memiliki ketentuan yang berlaku. Pakan tambahan yang diberikan adalah urea.

4 Kesehatan Hewan dan

A. Kesehatan Hewan 1. Situasi Penyakit

(13)

67 Kesehatan

Masyarakat Veteriner

Usaha peternakan sapi potong harus terletak di daerah dimana tidak ditemukan gejala klinis atau bukti lain tentang penyakit mulut dan kuku (Foot and Mouth Disease), ingus jahat (Malignat Catarhal Fever),

Bovine Ephemeral

Fever, lidah biru (Blue

Tangue), antrax

(radang limpa),

Brucellosis (kluron menular).

2. Vaksinasi/pencegahan a. Usaha budidaya sapi

potong harus

melakukan vaksinasi dan pengujian/tes laboratorium terhadap penyakit tertentu yang ditetapkan oleh instansi berwenang

1. Sesuai persyaratan. Usaha peternakan sapi potong terletak di daerah bebas endemik penyakit zoonosis

2. Vaksinasi/pencegahan a. Usaha peternakan sapi

potong melakukan vaksinasi terhadap penyakit tertentu yang ditetapkan oleh instansi berwenang yaitu Dinas Peternakan Kabupaten 50 Kota

b. Mencatat setiap pelaksanaan vaksinasi dan jenis vaksin yang dipakai dalam kartu kesehatan ternak

b. Ternak tidak memiliki kartu kesehatan c. Melaporkan kepada dinas yang membidangi fungsi peternakan dan kesehatan hewan setempat (instansi yang berwenang) setiap timbulnya kasus penyakit terutama yang diduga /dianggap penyakit menular

c. Melaporkan kepada dinas yang membidangi fungsi peternakan dan kesehatan hewan setempat setiap timbulnya penyakit terutama penyakit menular. Selama ini belum pernah terjadi kasus penyakit menular

d. Kesehatan Masyarakat Veteriner (Kesmavet) 1. Lokasi usaha tidak

mudah dimasuki

binatang liar serta bebas

1. Lokasi mudah dimasuki binatang liar sebab berdekatan dengan masyarakat.

(14)

dari hewan piaraan lainnya yang dapat menularkan penyakit. 2. Melakukan desinfeksi

kandang dan peralatan dengan menyemprotkan insektisida pembasmi serangga, lalat dan hama lainnya

2. Tidak diterapkan pemakaian insektisida baik tabur dan cair

3. Untuk mencegah terjadinya penularan penyakit dari satu kelompok ternak ke kelompok ternak lainnya, pekerja yang melayani ternak yang

sakit tidak

diperkenankan melayani ternak yang sehat

3. Tidak terdapat pembagian kerja

4. Menjaga agar tidak setiap orang dapat bebas keluar masuk kandang

ternak yang

memungkian terjadinya penularan penyakit

4. Tidak terdapat unit

keamanan yang

memantau keluar masuk peternakan

5. Membakar atau mengubur bangkai kerbau yang mati karena penyakit menular

5. Tidak pernah ada ternak yang mati karena penyakit

6. Menyediakan fasilitas desinfeksi untuk staf/karyawan dan kendaraan tamu di pintu masuk perusahaan

6. Tidak tersedia fasilitas desinfeksi untuk karyawan dan kendaraan tamu masuk perusahaan

7. Melakukan desinfektan peralatan,

penyemprotan,

insektisida terhadap serangga, lalat dan pembasmian terhadap hama-hama lainnya

7. Tidak melakukan desinfektan peralatan, penyemprotan, insektisida terhadap serangga, lalat dan pembasmian terhadap hama-hama lainnya

(15)

69 8. Melakukan pembersihan

dan pencucian kandang serta menyediakan pencucian hama

8. Melakukan pembersihan dan pencucian kandang namun tidak menyediakan pencucian hama

9. Memiliki program vaksinasi terhadap penyakit

9. Tidak memiliki program vaksinasi terhadap penyakit

10. Melakukan pelaporan kepada yang berwenang apabila ditemukan penyakit menular yang diatur dalam undang-undang

10. Tidak melakukan pelaporan kepada yang berwenang apabila ditemukan penyakit menular.

11. Mengeluarkan ternak yang mati dari kandang

untuk segera

dikubur/dimusnahkan oleh petugas yang berwenang.

11. Tidak pernah terjadi di Peternakan Roni

12. Ternak sapi potong bebas dari penyakit

Tuberculosis (TBC)

12. Ternak bebas dari penyakit Tuberculosis

(TBC) 13. Mengeluarkan ternak

yang sakit dari kandang untuk segera diobati atau dipotong oleh petugas yang berwenang.

13. Ternak yang sakit tidak dikeluarkan dari kandang. Pengobatan langsung di dalam kandang.

14. Menyediakan fasulitas desinfektan untuk staf dan tamu serta kendaraan pada pintu masuk peternakan

14. Tidak menyediakan desinfektan untuk staf dan tamu serta kendaraan pada pintu masuk peternkaan

5 Penanganan Hasil

Dilarang memperjual-belikan daging yang berasal dari sapi potong selama pengobatan antibiotik atau hormon untuk konsumsi manusia, kecuali apabila ternak tersebut dipotong sesuai ketentuan atau standar

Sesuai persyaratan. Usaha Peternakan Roni sapi Simmental yang bebas dari antibiotik atau hormon karena Peternakan Roni tidak memberikan antibiotik dan hormon

(16)

withdrowel time obat yang

digunakan

Sapi yang sudah siap dipasarkan harus dijaga sedemikian rupa, jangan sampai sapi tersebut cacat atau cedera

Sapi yang siap dipasarkan dijaga agar tidak cedera/cacat dan diangkut dengan menggunakan mobil bak terbuka dengan kapasitas 2-4 ekor.

Berat sapi potong siap jual minimal: lokal 250 kg dan persilangan/impor 350 kg.

Sapi yang dijual biasanya pada umur 6-12 bulan

Keterangan :*Direktorat Jendral Produksi Peternakan (2000), **Kondisi di Peternakan Roni, Harau, Kabupaten 50 Kota (2011)

(17)

71 Lampiran 7. Hasil Evaluasi Aspek Pelestarian Lingkungan Penerapan GFP Sapi Simmental di Peternakan Roni

No Aspek Kondisi Seharusnya Kondisi di Lapangan

1 Rencana Penanggulangan Perencanaan Lingkungan Undang-undang No 23 Tahun 1997 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Pengolahan Lingkungan Hidup

Peternakan Roni kurang memperhatikan upaya terpadu untuk melestarikan fungsi lingkungan hidup yang meliputi kebijaksanaan penataan, pemanfaatan, pengembangan, pemeliharaan, pemulihan, pengawasan dan pengendalian lingkungan hidup Peraturan pemerintah Nomor 27

Tahun 1999 tentang Analisa Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL)

Pencegahan erosi dan penghijauan dilakukan dengan penanaman tanaman di sekitar areal peternakan dan penanaman HMT 2 Upaya

Pencegahan Pencemaran Lingkungan

Mencegah timbulnya erosi serta membantu penghijauan di areal usaha

Kurang memenuhi persyaratan karena sebagian limbah masih menumpuk di sekitar kandang dan tempat penampungan limbah sekitar peternakan, sebagian lagi dijual dan dijadikan pupuk Menghindari timbulnya polusi

dan gangguan lain yang berasal dari lokasi usaha yang dapat mengganggu lingkungan berupa bau busuk, suara bising, serangga, tikus serta pencemaran air sungai/air sumur.

Belum terdapat unit pengolahan limbah gas. Limbah hanya diolah menjadi pupuk.

Setiap usaha peternakan sapi potong harus membuat unit pengolahan limbah perusahaan (padat, cair dan gas) yang sesuai dengan kapasitas produksi limbah yang dihasilkan

Belum memenuhi persyaratan. Usaha peternakan sapi potong membuat saluran pembuangan kotoran, unit penampungan

(18)

namun tidak terdapat pengolahan limbah. Setiap usaha peternakan sapi

potong membuat pembuangan kotoran dan penguburan bangkai

Kurang memenuhi persyaratan. Usaha peternakan sapi potong membuat saluran pembuangan kotoran, unit penampungan dan pengolahan limbah belum memadai. Keterangan :*Direktorat Jendral Produksi Peternakan (2000), **Kondisi di

(19)

73 Lampiran 8. Hasil Evaluasi Aspek Pengawasan Penerapan GFP Sapi Simmental di Peternakan Roni

No Aspek Kondisi Seharusnya Kondisi di Lapangan

1 Sistem Pengawasan

Kondisi pengawasan dilakukan secara baik pada titik kritis dalam proses produksi untuk memantau kemungkinan adanya penyakit dan kontaminasi lainnya

Belum sesuai

persyaratan. Titik kritis dalam usaha peternakan ini yaitu pemberian pakan dan penangan ternak sakit. Terdapat kandang isolasi ternak sakit

Instansi yang berwenang dalam bidang peternakan melakukan pengawasan manajemen mutu terpadu yang dilakukan (Pedoman Budidaya Ternak Sapi Potong yang Baik /Good Farming Practices)

Tidak sesuai

persyaratan. Tidak dilakukan

pengawasan mutu terpadu oleh Dinas Kabupaten Lima Puluh Kota

2 Sertifikasi Usaha peternakan sapi potong yang produksinya untuk tujuan ekspor harus dilengkapi sertifikat

Usaha Peternakan

Roni tidak

memproduksi sapi untuk tujuan ekspor Sertifikat dikeluarkan oleh instansi

berwenang setelah melalui penilaian dan rekomendasi

Tidak memiliki sertifikat karena produksi untuk Pulau

Sumatera dan

sekitarnya. 3 Monitoring dan

Evaluasi

Monitoring dan evaluasi dilakukan oleh instansi yang berwenang dibidang peternakan di kabupaten/kota

Tidak dilakukan monitoring dan evaluasi oleh Dinas Peternakan

Kabupaten Lima Puluh Kota

Evaluasi dilakukan setiap tahun berdasarkan data dan informasi yang

dikumpulkan serta

pengecekan/kunjungan ke usaha peternakan sapi potong

Tidak dilakukan evaluasi data.

4 Pencatatan Data usaha peternakan sapi potong a. Populasi ternak yang

dipelihara

Data di Peternakan Roni

a. Populasi ternak yang dipelihara b. Jumlah karyawan b. Tidak ada data

jumlah karyawan c. Obat/vaksin yang digunakan c. Tidak ada data

(20)

obat vaksin yang digunakan

d. Feed additive yang digunakan

d. Tidak ada data

feed additive yang

digunakan e. Pakan konsentrat yang

digunakan per periode

e. Tidak ada data pakan konsentrat yang digunakan per periode

f. Penjualan ternak per periode f. Memiliki data penjualan ternak per periode

5 Pelaporan Membuat laporan tertulis secara berkala (enam bulan dan tahunan) kepada instansi yang berwenang

Tidak dilakukan pembuatan laporan tertulis secara berkala kepada instansi yang berwenang

Wajib membuat laporan teknis dan administratif secara berkala untuk kepentingan internal, sehingga apabila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan dapat mengadakan perbaikan/perubahan berdasarkan laporan yang ada.

Tidak dilakukan pembuatan laporan

teknis dan

administratif secara berkala.

Keterangan : *Direktorat Jendral Produksi Peternakan (2000), **Kondisi di Peternakan Roni, Harau, Kabupaten 50 Kota (2011)

(21)

75 Lampiran 9. Evaluasi Penerapan Standart Operating Procedure (SOP)

No Kegiatan Juklak Ya Tidak

1. Persiapan Penerimaan Sapi Sebelum Kedatangan

1. Bentuk team petugas bongkar. 2. Persiapkan kandang (jumlah dan

alokasi pen, kebersihan, cek bak pakan/bak minum).

3. Cukup penerangan (kandang,

cattle yard, sarana lain)

4. Persiapkan jalur dari cattle yard sampai pen.

5. Inventarisasi kebutuhan peralatan antara lain: ear tag, tang aplikator, tag pen, alat komunikasi, tang dan lain-lain.

6. Inventarisasi obat seperti: vitamin, antibiotik, elektrolit, gusanex, dan lain-lain.

7. Proyeksikan & persiapkan pakan (jumlah konsentrat dan hijauan) 8. Persiapkan peralatan adm

(form-form, berita acara)

9. Kebutuhan/perlengkapan lain (bambu, tambang, sawdust, tali rafia, sarung tangan)

10. Melakukan koordinasi baik internal (antar unit dan Kantor Pusat) dan eksternal.

√ √ √ √ √ √ √ √ √ √

Saat Penerimaan Sapi 1. Periksa dan catat dokumen dengan benar (surat jalan dengan kondisi fisik sapi).

2. Amati kondisi sapi.

3. Penanganan/handling sapi dengan baik dan benar (hati-hati, tidak gaduh, tidak menyakiti ternak, menghindari stres pada ternak). 4. Membuat berita acara apabila

terdapat kondisi sapi : mati di perjalanan, lemah, patah kaki, keplengkang, kondisi tidak normal lainnya. Berita Acara ditandatangani oleh petugas expedisi, supir truk, petugas penerima sapi.

√ √ √

2. Timbang Awal (T.A) 1. Timbang awal dimulai minimal setelah sapi istirahat 2 hari (2x24jam) setelah penerimaan.

√ √

(22)

2. Pemeriksaan kondisi dan akurasi timbangan

3. Pemasangan ear tag, penimbangan individu, treatment, dan drafting/pengelompokan sapi berdasarkan sex, berat, kondisi sakit/sehat, jenis.

4. Pencatatan berat, identifikasi, ex-property (asal), breed dan kondisi (sehat dan sakit).

5. Penanganan/handling sapi selama proses TA dilakukan dengan hati-hati

6. Pemberian obat anti stres selama 2 hari setelah T.A

7. Ikuti petunjuk label administer (dosis dan aturan pemberian) 8. Laporan Timbang Awal

√ √ √ √ √ √

3. Re-Weight 1 (Timbang Ulang) 1. Dilakukan minimal pada DOF 30 hari

2. Jumlah yang di re-weight 100% pada feeder cattle

3. Re-drafting/pengelompokan ulang: berat dan kondisi (UPC/Non UPC).

4. Kriteria UPC, UPC1, ADG < 0,30 Kg, UPC2 0,31- 0,60

5. UPC ADG < 0,3 dibuat surat rekomendasikan ke marketing untuk dijual (Kepala Unit di tanda tangan masing-masing)

6. Treatmen kelompok UPC (vitamin dan pakan)

7. Laporang Re-weight 1. √ √ √ √ √ √ √

Re-Weight -2 1. Dilakukan pada DOF 60 hari khusus pada sapi katagori UPC2 2. Re-drafting/pengelompokan

ulang: berat dan kondisi (UPC/Non UPC).

3. Kelompok ADG 0,31-0,60, dibuat surat rekomendasi kepada marketing untuk dijual (Kepala unit di ttd manager).

4. Laporang Re-weight 2.

√ √ √

4. Penanganan Sapi Sakit 1. Pemisahan sejak timbang awal < 7 hari, laporan ke Kantor Pusat.

(23)

77 2. Jika memungkinkan, dilakukan

pengelompokan berdasarkan kondisi e.g: parah < sedang < ringan.

3. Ajuan ke managemen untuk sapi yang kondisi parah/kritis untuk disposisi jual reject.

4. Treatmen sesuai diagnosa, ikuti petunjuk label administer (dosis dan aturan pemberian).

5. Ditempatkan dalam kandang khusus perawatan

6. Pola pakan untuk sapi sakit. 7. Pengamatan dan Evaluasi kondisi

sapi secara berkala

√ √ √ √ √ √

5. Tatalaksana Pemberian Pakan (feedbunk managemen) : (i) Program Penggemukan Feeder(BB < 450 Kg) Dof 1 s/d 3 = 20% : 80% Dof 4 s/d 6 = 40% : 60% Dof 7 s/d 10 = 60% : 40% Dof 11 s/d 30 = 80% : 20% Dof > 30 = 90% : 10%

Feeding interval ( Interval Pemberian pakan)

Pagi = 07.00 (25% dari Σ taget pakan) Siang = 10.00 (25% dari Σ taget pakan) Sore = 15.00 (50% dari Σ taget pakan) Target Pakan

- Ditentukan dgn estimasi Feed Intake (FI)

- Berat badan sapi di proyeksikan ada penambahan sbb: DOF < 30 hari, proyeksi ADG 1,6 ; DOF 31 – 60 hari, proyeksi ADG 1,4, DOF 61 - 90 hari proyeksi ADG 1,2 Kg, DOF > 90 hari,proyeksi ADG 1,00 Kg

- Penyesuaian Target

(Penambahan/pengurangan) - Jika pakan kurang (under

estimate) atau lebih (over estmate): lakukan adjusment

dengan menaikkan/ menurunkan estimasi F.I sebesar 0,2 % .

√ √ √ √

(ii) Program Fast

Trading Slaughter (BB > 450 Kg)

Pemberian pakan ad libitum

(rekondisioning)

(24)

(iii) Program pakan sapi sakit

1. Utamakan pemberian hijauan fresh (rumput chopperan) ad libitum

2. Pemberian konsentrat, sebatas kemampuan sapi makan

√ √

(iv) Program pakan sapi UPC

Mengikuti program pakan regular. √

(v) Pakan Sisa Jika terdapat pakan sisa (kondisi tidak tengik dan tidak berjamur), dikumpulkan dan berkoordinasi dengan unit breeding, untuk langsung diberikan ke unit breeding. Urutan Prioritas pemberian ke Class Dry Cow-IB-Laktasi.

6. Penjualan Sapi

(i) Waktu Penjualan Pelayanan penjualan reguler dimulai jam 13.00, kecuali ada pertimbangan khusus dan disposisi managemen.

(ii) Teknis Penjualan 1. Petugas mengetahui penjual dan harga sapi

2. Mempersiapkan dan memeriksa timbangan, sebelum sapi dikeluarkan dari pen.

3. Jumlah pegeluaran sapi untuk dipilih 1,5 kali jumlah yang akan dibeli.

4. Sapi tolakan pembeli, jika memungkinkan ditempatkan di pen khusus untuk di rekondisi minimal 2 minggu sebelum ditawarkan kembali ke pembeli.

√ √ √ √ (iii) Urutan/Prioritas Penjualan dari kedatangan sapi

1. Jual Reject kondisi sakit prioritas paling parah dari hasil penimbangan awal (sebelum potong paksa/mati kubur).

2. Jual Reguler/Reject (tergantung kondisi) yang telah di rekondisi. 3. Jual Reguler Sapi UPC, prioritas

ADG < 0,3 dan kel. ADG 0,31-0,6.

4. Jual Reguler program fast trading dari berat tertinggi atau kondisi yang paling siap potong.

5. Jual Reguler program fattening prioritas dari berat tertinggi.

√ √ √ √

(25)

79 sekitarnya harus tertata dengan baik,

asri, bersih dan nyaman.

2. Penanganan limbah bersih dan baik

8. Sistim Pencatatan/Rekording/ Pelaporan.

1. Pencatatan Harian.

Pencatatan ini adalah tanggung jawab Kepala Kandang & Kepala Unit.

Diserahkan ke Supervisor Ternak secepat mungkin pada esok hari.

Record dapat berbentuk buku kecil. 2. Record Populasi.

- Laporan Umum dari seluruh kegiatan

fattening.

- Laporan ini dibuat oleh Admistrasi Ternak berdasarkan data dari supervisor ternak (data lapangan).

- Laporan ini didapat ditampilkan setiap saat.

- Laporan ini harus di sah-kan oleh WFM /FM jika akan di kirim ke KP.

√ √ √ √

(26)

Referensi

Dokumen terkait

Teori atribusi menyatakan bahwa perilaku dari seseorang akan ditentukan oleh kekuatan internal yang meliputi kemampuan atau usaha serta kekuatan eksternal seperti kesulitan

Menurut Bapak/Ibu, apakah masyarakat disekitar Bapak/Ibu Membawa Alat-Alat Yang Lazim Digunakan Untuk Menebang, Memotong, Atau Membelah Pohon Di Dalam Kawasan Hutan Tanpa Izin

Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2014 tentang Dana Desa Yang Bersumber Dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor

2 Dalam rangka memperingati hari Asma sedunia tahun 2017 Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) Cabang Malang mengajak para dokter umum untuk menambah pengetahuan dan

Semua yang telah diberikan kepada penulis sungguh amatlah berharga, semoga Allah SWT dapat memberikan balasan yang lebih baik atas semua kebaikan yang telah diberikan kepada

Kalaupun ada kesan buku tersebut mengabaikan kaidah ilmiah, bukan karena beliau tidak mengetahuinya, tapi saya memahami bahwa beliau ingin keluar dari paradigma

Penerapan model pembelajaran inkuiri terbimbing disertai media benda konkret dalam peningkatan keterampilan berpikir kritis dan pemahaman konsep IPA tentang gaya

Teknik pengendalian represif adalah teknik pengendalian yang dilakukan untuk menyelesaikan kredit-kredit yang telah mengalami kemacetan. Strategi penyelesaian kredit