PENGEMBANGAN ELEKTROLIT PADAT BERBASIS KITOSAN UNTUK
BATERAI KENDARAAN LISTRIK
Sudaryanto∗, Evi Yulianti, Arbi Dimyati, dan Heri Jodi Pusat Teknologi Bahan Industri Nuklir, BATAN Kawasan Puspiptek Serpong, Tangerang 15314, Indonesia
Telepon (021) 75874788
∗
e-Mail: [email protected]
Disajikan 29-30 Nop 2012
ABSTRAK
Upaya mendapatkan elektrolit padat berbasis polimer kitosan dengan konduktifitas ionik tinggi untuk baterai kendaraan listrik telah dilakukan. Pembuatan elektrolit dari kitosan telah dilakukan dengan metode blending dan implantasi ion. Sel baterai sederhana juga telah dibuat untuk menguji kinerja elktrolit kitosan. Karakterisasi terkait struktur telah dilakukan diantaranya dengan difraksi sinar-X sedangkan karakteristik kelistrikan telah dikaji dengan LCR-meter dan peralatan charge-discharge. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode blending dengan garam lithium ke dalam matriks kitosan dapat meningkatkan konduktivitas kitosan hingga 100.000 kali lipat. Sedangkan teknik implantasi ion hanya dapat meningkatkan konduktivitas ionik kitosan hanya sekitar 15 kali lipat. Pembuatan sel baterai menggunakan elektrolit polimer kitosan yang merupakan tujuan penelitian ini telah telah dapat dilakukan. Sel baterai yang dibuat menunjukkan kinerja sebagai baterai meskipun kapasitasnya masih sangat rendah yakni 25µAh. Upaya lebih lanjut terkait dengan desain prototipe baterai masih perlu dilakukan untuk mendapatkan kinerja baterai sesuai yang diharapkan. Namun demikian hal ini dapat menjadi titik awal pengembangan baterai dengan elektrolit polimer padat dengan kapasitas yang lebih besar.
Kata Kunci: elektrolit polimer padat, kitosan, baterai lithium, kendaraan listrik
I.
PENDAHULUAN
Akhir-akhir ini, teknologi hibrida menarik perhatian banyak orang utamanya para pemerhati lingkungan. Hal ini tidak hanya karena penggunaan energi alter-natif, tetapi juga karena diyakini bahwa teknologi hi-brida menjadi kunci yang strategis untuk memenuhi standard baku mutu emisi gas buang yang ketat. Sistem penggerak hibrida adalah setiap sistem penggerak yang menggunakan kombinasi perangkat energi antara lain mesin pembakaran internal, baterai dan motor listrik untuk menggerakkan kendaraan bermotor.[1] Energi
listrik yang dapat disimpan dalam sistem baterai mu-dah dialihkan menjadi bentuk energi lainnya[2] serta
ramah lingkungan, sehingga dapat mengurangi polusi akibat lalu lintas jalan.[3]
Sebagai sumber daya, baterai memainkan peran pen-ting dalam sistem hibrida. Sebuah baterai kendaraan hibrida seperti umumnya baterai kecuali dalam hal da-pat diisi ulang dan memiliki daya yang cukup untuk menggerakkan kendaraan besar dan berat. Sistem bat-erai yang paling umum digunakan dalam kendaraan listrik adalah baterai timbal-asam. Namun, saat ini ada masalah yang signifikan pada teknologi baterai
terse-but, diantarnya adalah berat, besar, kapasitas terbatas, lambat dalam pengisian, umur yang pendek dan ma-hal:[4] Maka, studi secara intensif sangat penting untuk mengembangkan sistem baterai baru guna meningkat-kan kinerja dan mengatasi permasalahan tersebut. .
Di sisi lain, sebagaimana halnya masalah kepa-datan penyimpanan dan umur (life time), dimensi dan keamanan lingkungan juga merupakan faktor pen-ting dalam mempertimbangkan kinerja sistem bat-erai. Dari sudut pandang ini, teknologi baterai padat menawarkan potensi besar dalam aplikasi untuk sistem kendaraan listrik. Oleh karena itu dalam dekade ter-akhir, kami telah mempelajari sintesis dan karakterisasi elektrolit padat dari kaca.[5, 6]
Elektrolit polimer padat (Solid Polymer Electrolyte, SPE) tersusun atas penggabungan bahan anorganik seperti garam lithium dalam matriks polimer. Bahan-bahan ini menunjukkan konduktivitas ionik lebih ren-dah dari cairan elektrolit, namun, kurang reaktif de-ngan lithium, sehingga meningkatkan keamanan bat-erai. Bahan-bahan tersebut dapat digunakan sebagai elektrolit, separator, dan atau keduanya. Selain itu, juga menunjukkan pemenuhan dan stabilitas mekanik yang
baik hingga titik leleh, serta kemampuan proses yang sangat baik untuk dibuat lembaran (membran). Polimer yang banyak dipelajari adalah poli (etilena oksida) (PEO) sebagai matriks dengan garam-garam anorganik terlarut di dalamnya. Namun, tingginya tingkat kristal-initas PEO membatasi penggunaannya dalam baterai, dan hanya dapat digunakan pada suhu di atas titik leleh dari fase kristalin, yakni sekitar 60 ◦C.[7]Dengan
demi-kian, perlu dicari alternatif polimer lain sebagai peng-ganti PEO.
Di sisi lain, ramah lingkungan juga merupakan masalah penting dalam Industri baterai Dikatakan bahwa pada tahun 2004, produksi baterai lithium ion di seluruh dunia adalah 700-an juta unit. Akibatnya adalah peningkatan sampah teknologi.[8, 9] Maka
pe-ngembangan sistem baterai baru berbasis bahan yang ramah lingkungan, tidak beracun dan tidak berbahaya menjadi sangat penting. Dari sudut pandang ini, pe-manfaatan polimer terbiodegradasi seperti kitosan akan menjadi jawaban yang tepat.
Kitosan merupakan polimer alami yang diproduksi secara komersial dari proses deasetilasi kitin, yang merupakan elemen struktural dalam exoskeleton krus-tasea (kepiting, udang, dll.) dan dinding sel jamur yang kelimpahan alaminya tidak terbatas.[10, 11] Peman-faatan polimer terbiodegradasi seperti kitosan sebagai elektrolit padat tidak hanya akan membuat ramah ling-kungan tetapi juga memberikan kemampuan pemros-esan yang sangat baik untuk membuat membran, se-hingga dapat dirancang bebas seperti untuk sistem sel baterai berlapis.
Kami memiliki pengalaman beberapa polimer ter-biodegradasi sebagai bahan biomedis,[12, 13] bahan
ke-masan[14] media rekaman, dan magnetik.[15] Polimer
terbiodegradasi memberikan keuntungan yang tinggi dari penguraian secara alami, tetapi menjadi kelema-han besar dalam daya takelema-han umur (lifetime)-nya . Akan tetapi lifetime dari polimer terbiodegradasi sa-ngat tergantung pada lingkungan, dan sifat dari struk-tur kimia.[15] Jadi dengan pengendalian kondisi ter-baik akan memberikan kinerja material yang optimal. Lebih lanjut masalah lifetime elektrolit polimer ter-biodegradasi juga menjadi salah satu hal menarik untuk dikaji.
Sistem baterai lithium berbasis polimer ter-biodegradasi adalah salah satu kandidat yang men-janjikan untuk generasi depan karena kinerjanya yang tinggi dan murah karena mengunakan sumber daya yang melimpah, dan ramah lingkungan.
Tujuan penelitian ini adalah upaya pemanfaatan polimer terbiodegradasi kitosan untuk elektrolit pa-dat baterai isi ulang berbasis lithium untuk aplikasi kendaraan listrik. Fakus kegiatan penelitian ini diarah-kan pada pembuatan elektrolit padat berbasis polimer kitosan.
II.
METODOLOGI
A. Bahan
Bahan yang digunakan dalam pembuatan elektrolit adalah kitosan dari kulit kerang (diterima dari IPB dengan derajat deasetilasi 86%), Asam Asetat 1% dan aquades sebagai pelarut, garam triflat lithium (LiCF3SO3) (sigma-Aldrich) telah digunakan sebagai
pengisi. Sel baterai dengan elektrolit kitosan telah dibuat dengan Lithium cobalt Oxide (LiCoO2) sebagai katoda dan Karbon sebagai anoda. Aluminium (Al) dan tembaga (Cu) foil digunakan sebagai pengumpul arus
B. Pembuatan elektrolit dengan metode blending Kitosan dilaurutkan pada asam asetat 1% sehingga diperoleh larutan kitosan 4% berat, selama 72 jam sam-bil sesekali diaduk. Garam triflat lithium (LiSO3CF3)
di-tambhkan ke dalam larutan kitosan sehingga diperoleh larutan campuran (blending) dengan berbagai konsen-trasi LiSO3CF3 dengan kode sampel seperti
ditunjuk-kan padaTABEL1.
TABEL 1: Kode sampel membran kitosan dengan berbagai kan-dungan garam lithium
Kode Sampel Kandungan LiCF3SO3(% berat)
CT0 0 CT5 5 CT10 10 CT20 20 CT30 30 CT40 40
Setelah didapat larutan kitosan dengan dan tanpa garam lithium di casting di atas plat kaca pada suhu ka-mar sampai berbentuk membran, kemudian dimasukan ke dalam desikator vakum untuk menghilangkan sisa pelarut.
C. Pembuatan elektrolit dengan metode implantasi ion
Membran kitosan dibuat dengan proses casting pada sushu kamar yang dilanjutkan dengan pengeringan
GAMBAR1:Model Sekema sel baterai menggunakan elektrolit dari kitosan.
dalam desikator vakum. Membran kitosan dengan permukaan mulus digunakan sebagai sampel teknik implantasi ion yang dilakukan di fasilitas implantasi ion pada Pusat Teknologi Akselerator Dan Proses Ba-han (PTAPB) - BATAN Yogyakarta. Membran kitosan dipotong 2,5×2,5 cm dan ditempatkan pada pemegang sampel sebagai target. Dalam pelaksanaannya, sistem vakum dan arus ionik fasilitas implantasi ion dijaga masing-masing konstan pada 2,7×10−5Torr dan 5µA.
Energi implantasi divariasi pada 30, 50 dan 70 keV dan dosis implantasi divariasi dengan implantasi waktu 15 dan 30 menit. Uraian lebih detail telah dipublikasikan pada media publikasi ilmiah.[18]
D. Rancangan sel baterai polimer
Prototipe sel baterai polimer menggunakan polimer elektrolit hasil sintesis dirancang sebagai berikut:
GAMBAR1menunjukkan model skematis dari sel bat-erai polimer menggunakan membran kitosan sebagai elektrolit. Di sini, Tembaga (Cu) dan aluminium (Al) di-gunakan sebagai pengumpul arus. Sementara Lithium cobalt (LiCoO2) digunakan sebagai katoda dan Karbon
atau grafit sebagai anoda. E. Karakterisasi
Karakterisasi yang dilakukan utamanya adalah konduktifitas membran menggunakan LCR (Hi-tester Hioki 3532-50), dan struktur mikro menggunakan per-alatan XRD (Shimadzu X-Ray Diffractometter XD-610). Karakteristik baterai diuji dengan peralatan Charge-Discharge merek ARBIN. Semua fasilitas tersebut ada di PTBIN-BATAN.
III.
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Pembuatan elektolit Kitosan dengan Metode blending
GAMBAR2 menunjukkan profil difraksi sinar-X dari film kitosan dengan kandungan garam lithium bervari-asi. Pola difraksi kitosan murni menunjukkan puncak difraksi yang lebar yang menunjukkan keadaan amorf atau polikristalin dengan titik puncak pada sudut (2θ) 15,5◦dan 21,5◦. Puncak tersebut berubah menjadi pun-cak punpun-cak baru dengan titik punpun-cak pada 12◦, 18,5◦, dan 23,5◦ seiring dengan penambahan 5 wt.% garam triflat lithium, selanjutnya intensitas meningkat seiring dengan penambahan konsentrasi triflat lithium. Hal ini menunjukkan bahwa garam triflat lithium masuk dalam matriks kitosan membentuk fase kristal baru.
GAMBAR3menunjukkan variasi kehilangan tangen-sial (tanδ) seiring dengan frekuensi dari membran ki-tosan paska casting dengan variasi kandungan garam lithium yang diukur pada suhu kamar. Kemunculan puncaktanδ pada frekuensi tertentu pada kitosan de-ngan maupun tanpa garam lithium menunjukkan ke-beradaan relaksasi dipole pada sampel-sampel terse-but. Kekuatan dan frekuensi relaksasi tergantung pada
GAMBAR2:Profil difraksi sinar-X dari memberan kitosan dengan variasi kandungan garam lithium
karakteristik sifat relaksasi dipole. Puncaktanδ mem-bran paska casting (as cast) bergeser ke sisi frekuensi yang lebih tinggi seiring dengan peningkatan kon-sentrasi triflat lithium (GAMBAR4). Hal ini menun-jukkan bahwa ada peningkatan gerak segmental de-ngan adanya garam litium. Ini berarti bahwa tri-flat lithium dapat mempercepat gerakan segmental de-ngan meningkatkan volume bebas, sehingga mengu-rangi waktu relaksasi. Sebaliknya, puncak dari sam-pel yang dikeringkan (dired) cenderung sedikit menu-run seiring dengan peningkatan kandung triflat lithium meningkat (GAMBAR4). Hal ini dapat dijelaskan bahwa triflat lithium meningkatkan penyerapan air membran kitosan. Keberadaan air dalam membran kitosan dapat meningkatkan kemungkinan gerak molekul sehingga mengurangi waktu relaksasi tetapi melekul air ini tidak diharapkan untuk elektrolit karena berpotensi mening-katkan kondutivitas elektronik bukan ionik. Karena itu pencegahan penyerapan molekul air perlu diperhatikan dalam proses pembuatan maupun pengukuran elek-trolit.
Dalam mengkaji kemungkinan membran kitosan un-tuk digunakan sebagai elektrolit, pengukuran konduk-tivitas ionik sangat penting. Untuk itu telah dila-kukan pengukuran kondutivitas seperti ditunjukkan
GAMBAR5.
GAMBAR5menunjukkan karakteristik konduktivitas AC membaran kitosan dengan berbagai kandungan tri-flat lithium diukur di bawah vakum pada suhu ka-mar. Pola konduktivitas AC menunjukkan dataran yang tidak bergantung frekuensi di wilayah frekuensi rendah. Perilaku ini mematuhi persamaan, logσ(ω) = logσ0 +nlog(Aω), (garis tegas menunjukkan hasil
fit-ting) manaσ0adalah konduktivitas dc (garis datar yang
menunjukkan tidak berguntung pada frekuensi pada area frekuensi rendah),Aadalah faktor pra
eksponen-GAMBAR3: Profiltanδdari membran kitosan paska casting de-ngan dan tanpa garam lithium diukur dede-ngan LCR pada suhu ka-mar.
GAMBAR 4: Puncaktanδ dari membran kitosan paska casting dan setelah dikeringkan sebagai fungsi kandungan garam lithium, diukur dengan LCR pada suhu kamar
sial dannadalah eksponen pecahan antara 0 dan 1.[17] Nilaiσ0 sebagai fungsi dari kandungan garam lithium
dalam memberan kitosan ditunjukkan padaGAMBAR6.
GAMBAR6 menunjukkan kenaikan konduktivitas DC seiring dengan peningkatan konsentrasi garam lithium. KonduktivitasDC meningkat dari 3,87×10−7
Scm−1untuk kitosan murni menjadi 7,30×10−4Scm−1
untuk kitosan dengan 40% berat triflat lithium.
B. Pembuatan elektolit Kitosan dengan Metode im-plantasi ion
GAMBAR7 menunjukkan hubungan konduktivitas ionik dengan frekuensi untuk kondisi pembuatan sam-pel yang berbeda. Pengukuran konduktivitas
dilaku-kan pada rentang frekuensi 0,1-105Hertz. Pada semua
kasus, konduktivitas ionik polimer elektrolit kitosan setelah implantasi mengalami perubahan. Pola kon-duktivitas ac menunjukkan garis datar tidak bergan-tung pada frekuensi di wilayah frekuensi rendah dan menunjukkan penyebaran pada frekuensi yang lebih tinggi. Secara umum konduktivitas ionik membran ki-tosan yang diimplant dengan berbagai ion seperti Li, Cu dan Ag meningkat (GAMBAR7a-d) dan dalam se-mua kasus kitosan diimplant dengan energi rendah 30 keV dan waktu implantasi 15 menit menunjukkan pe-ningkatan sekitar 15 kali lipat (1,5 orde). Konduktivi-tas ionik yang lebih tinggi menunjukkan banyaknya ion dalam matriks polimer. (GAMBAR7juga menunjukkan bahwa konduktivitas ionik membran kitosan menurun sementara energi implantasi meningkat. Energi tinggi mempengaruhi struktur mikro membran kitosan akibat suhu tinggi yang dihasilkan dari proses implantasi ion (GAMBAR7b-d). Selain energi yang lebih tinggi dapat menembus lebih dalam, terdapat kemungkinan bahwa sebagian dari ion tidak tertahan pada membran kitosan tetapi menembus membran kitosan sampai pemegang sampel. Kurangnya ion dalam matriks polimer akan menurunkan konduktivitas ionik membran kitosan.
Studi XRD telah dilakukan untuk mengkaji peruba-han mikrostruktur akibat proses implantasi ion. GAM
-BAR8(a) menunjukkan pola XRD membran kitosan se-belum dan setelah implantasi ion dengan Lithium (Li) ion dengan energi yang berbeda. Dapat diamati bahwa kitosan (grafik paling bawah) menunjukkan puncak yang tidak tajam pada sudut (2θ = 15,26◦) dan (2θ = 22,83◦). Puncak tidak tajam ini biasanya dipandang se-bagai bahan semi kristal atau amorf. PadaGAMBAR8(a) terlihat bahwa energi implantasi mempengaruhi stuk-tur mikro kitosan. Kitosan diimplantasi dengan ion Li pada energi 50 keV (grafik tengah) menunjukkan
GAMBAR5:Konduktivitas ionik membrane kitosan sebagai fungsi kandungan garam lithium, diukur dengan LCR pada suhu kamar.
GAMBAR 6: Konduktivitas DC dari memberan kitosan sebagai fungsi konsentrasi garam lithium.
kristalinitas dengan puncak refleksi tajam yang dapat diamati pada sudut (2θ= 22,1◦) dan (2θ= 24,86◦). Posisi puncak kitosan sebelum dan setelah implantasi berbeda yang berarti ada fase transformasi dalam kitosan. Im-plantasi kitosan pada energi 70 keV (grafik paling atas) merusak kristalinitas kitosan. Puncak tajam pada sudut (2θ= 22,1◦) dan (2θ= 24,86◦) menghilang dan muncul puncak tidak tajam di sudut (2θ= 21,6◦), hal ini menun-jukkan bahwa kitosan berubah menjadi amorf. GAM
-BAR8(b) menunjukkan pola XRD membran kitosan se-belum dan setelah implantasi ion dengan jenis ion yang berbeda seperti Li, Ag dan Cu pada implantasi energi 70 keV. Dapat diamati bahwa struktur mikro kitosan telah berubah dimana refleksi puncak tidak tajam pada sudut (2θ= 15,26◦) dan (2θ= 22,83◦) menghilang dan terlihat adanya puncak tidak tajam setelah diimplantasi dengan ion yang berbeda. Kitosan yang diimplantasi dengan Li memiliki puncak tidak tajam di sudut (2θ= 21,6◦), pun-cak lebar bahwa pergeseran ke sudut yang lebih tinggi teramati pada kitosan yang dimplantasi degnan Ag dan puncak pada sudut (2θ = 23,7◦) telihat pada kitosan yang diimplantasi dengan Cu. Ada hubungan antara kristalinitas bahan dan konduktivitas ionik. Konduk-tivitas ionik elektrolit polimer padat sangat dipenga-ruhi oleh berbagai faktor seperti (i) kristalinitas bahan, (ii) gerakan simultan kation dan anion dan (iii) pem-bentukan pasangan ion. Faktor-faktor ini mengurangi konduktivitas kationik. Semakin tinggi kristalinitas, se-makin rendah konduktivitas ioniknya.[18, 19]
C. Sel Baterai Polimer kitosan
Bentuk sel baterai yang dibuat ditunjukkan dalam
GAMBAR9.
Sel baterai yang dibuat menunjukkan tegangan antar elektroda sebesar 0,54V seperti ditunjukkan padaGAM
-BAR10.
Impedansi diukur pada tegangan 1 V dalam batas
GAMBAR 7: Kurva konduktivitas membran kitosan yang diim-plantasi dengan (a) ion Li dengan variasi waktu dengan ion (b) ion Li dengan variasi energi, (c) ion Cu, dan (d) Ion Ag.
frekuensi 50 Hz sampai 1 MHz. Nyquist plot dari sel baterai terbuat dari elektrolit kitosan ditunjukkan pada GAMBAR11 yang menunjukkan pola impedansi baterai polimer yang terdiri atas setengah lingkaran dan garis lurus dengan sudut kemiringan sekitar 30◦. Dari pengukuran tersebut dapat diketahui bahwa bat-erai yang dibuat memiliki nilai hambatan sekitar 10kΩ dan nilai kapasitansi (Cp) sekitar 10−8(F) yang
menun-jukkan pengaruh antarmuka (interface). Bentuk seten-gah lingkaran dari profil impedansi dalam sistem bat-erai terkait dengan struktur fase dalam bahan dan bi-asanya dapat diwakili dengan rangkaian paralel resis-tor dan kapasiresis-tor. Sedangkan garis lurus biasanya efek dari pertemuan dua lapisan yang berbeda (fasa) yang mungkin karena efek dari antarmuka antara elektrolit
GAMBAR8: Profile XRD dari kitosan yang diimplantasi pada (a) berbagai energi implantasi (b) berbagai jenis ion.
GAMBAR9: Contoh sel baterai kitosan
dan elektroda yang digunakan dalam pengukuran.
GAMBAR12 menunjukkan pola pengisian sel bat-erai polimer kitosan. Pada posisi awal ketika tidak diberikan arus, baterai menunjukkan voltage sebesar 0.4 V, posisi ini dipertahankan selama 120 detik. Se-lanjutnya baterai diisi dengan arus sebesar 100 mikro ampere selama 900 detik. Posisi voltase baterai naik menjadi 1,279 V. Pada saat tersebut kapasitas pengisian baterai adalah 25 µAh. Yang berarti baterai terisi mu-atan yang sebanding dengan energi sebesar 31,9 mWh. Pada langkah selanjutnya arus dihentikan, tetapi po-sisi tegangan baterai langsung terjun ke titik 0,72 V dan terus bergerak turun, sehingga setelah 900 detik potensialnya adalah 0,596 V. Hal ini jelas menunjukkan adanya perbedaan voltage sebesar 0,196 V dengan titik awal (Open Circuit Voltage) yang menunjukkan adanya
GAMBAR10: Pengukuran tegangan sel baterai kitosan
GAMBAR11: Nyquist plot dari sel baterai polimer
GAMBAR12: Proses pengisian sel baterai kitosan.
ponyimpanan arus dalam baterai
Dengan hasil di atas, pembuatan sel baterai meng-gunakan elektrolit polimer kitosan yang merupakan
tu-juan penelitian ini telah telah dapat dilakukan dan sel baterai yang dibuat menunjukkan kinerja sebagai bat-erai meskipun kapasitasnya masih sangat rendah yakni 25µAh. Upaya lebih lanjut terkait dengan desain pro-totipe baterai masih perlu dilakukan untuk mendap-atkan kinerja baterai sesuai yang diharapkan.
IV.
KESIMPULAN
Pemanfaatan polimer terbiodegradasi kitosan seba-gai elektrolit untuk sel baterai terlah dapat dilakukan. Metode blending dengan garam lithium dapat mening-katkan kondusitivitas membran kitosan hingga 100.000 kali lipat. Sedangkan teknik implantasi ion hanya da-pat meningkatkan konduktivitas ionik kitosan hanya sekitar 15 kali lipat. Pembuatan sel baterai mengguna-kan elektrolit polimer kitosan yang merupamengguna-kan tujuan penelitian ini telah telah dapat dilakukan dan sel bat-erai yang dibuat menunjukkan kinerja sebagai batbat-erai meskipun kapasitasnya masih sangat rendah yakni 25 mAh. Upaya lebih lanjut terkait dengan desain pro-totipe baterai masih perlu dilakukan untuk mendap-atkan kinerja baterai sesuai yang diharapkan. Namun hal ini dapat menjadi titik awal pengembangan baterai polimer dengan kapasitas yang lebih baik.
DAFTAR PUSTAKA
[1] http://en.wikipedia.org/wiki/Hybrid vehicle di-akses Agustus, 2010
[2] D. Berndt, Part 1 - Battery Technology Handbook, Expert Verlag, New York, 1989
[3] E.Kartini, T.Sakuma, K.Basar and M.Ikhsan, Solid State Ionics 179 (2008) 706-711
[4] http://www.howstuffworks.com/electric-car.htm/prinTabel diakses August, 2010
[5] E.Kartini, M.Arai, H.Iwase, T.Yokoo, K.Itoh, T.Kamiyama and S.Purnama, Journal of Neutron Research 13, (2005), 145-148
[6] E.Kartini, T.Sakuma, K.Basar and M.Ikhsan, Solid State Ionics 179 (2008) 706-711
[7] A. Manuel Stephan, European Polymer Journal 42 (2006) 21
[8] T. H. Smith, Proceedings - Electrochemical Society 12 (1995) 155.
[9] J. David, Journal of Power Sources Vol. 57 (1995) 71.
[10] Muzzareli, R.A.A., Muzzareli, C. Adv. Polym. Sci. 2005, 186, 151
[11] Yahya, M.Z.A., Arof, A.K., Eur Polym. J. 2003, 39, 897
[12] Sudaryanto, Irhamni, Siti Wardiyati, Jurnal Sains Materi Indonesia, 9,(2008)189-192
[13] Sudaryanto, Mujamilah, Wahyudianingsih, Ari Handayani, Ridwan, Abdul Muthalib., Jurnal Sains Materi Indonesia, 8, (2007), 134-138
[14] Deswita, Aloma Karo Karo dan Sudirman,
Indone-sian Journal of Materials Science, Edisi khusus De-sember (2008)
[15] K. Nakamae, K. yamaguchi, S. Asaoka, Y. Karube,and Sudaryanto, International Journal of Adhesion and Adhesives, 16,(1996), 277-283 [16] E. Yulianti, A. Karo Karo, L. Susita, Sudaryanto,
Procedia Chemistry 4 ( 2012 ) 202 207
[17] Dillip K. Pradhan, R. N. P. Choudhary*, B. K. Samantaray, Int. J. Electrochem. Sci., 3 (2008) 597 608
[18] Pinnavia, T.J. and Bell, G.W., Polymer Clay Nanocomposite, John Wiley and Sons Ltd., Eng-land, (2000), pp 1-46
[19] Aranda, P., Hitzky, E. Ruiz, Chem. Mater., 4 (1992) 1395