Mengelola
Kesehatan
M e l a l u i
BERITA
jalan
tol
NO. 162 2016S
ejak dicanangkannya seluruh BUMN mengikuti program BPJS, Jasa Marga segera mendaftarkan seluruh karyawannya menjadi peserta BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial) Kesehatan. Dan, sejak April lalu Jasa Marga telah mengeluarkan dana sekitar Rp12 Miliar untuk membayar iuran BPJS Kesehatan. Disamping itu jasa layanan kesehatan lainnya tetap dibayarkan sekitar Rp44 Miliar. Kelak, jika kebutuhan karyawan akan kesehatan telah terlayani dengan baik melalui BPJS Kesehatan, dana lainnya bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan kesejahteraan karyawan atau memberi reward buat karyawan. Itu janji manajemen.Memang ada beberapa kendala sehubungan dengan Program BPJS ini. Hal ini disebabkan rumor yang beredar di kalangan masyarakat bahwa layanan BPJS harus antri, layanan yang lama, obat-obatan yang sering dibilang tidak tokcer alias tidak langsung sembuh, dan sebagainya. Padahal program layanan kesehatan milik pemerintah ini sangat baik karena menggunakan sistem manage care. Manage care atau pengelolaan kesehatan terpadu adalah sistem yang mengintegrasikan antara pembiayaan dan pelayanan kesehatan yang tepat. Sistem manage care dapat meningkatkan akses, penerimaan, kualitas, pelayanan, kesinambungan dan yang
lebih penting lagi efisiensi sumber daya dan rumah sakit. Dalam manage care, layanan yang diberikan umumnya bersifat komprehensif, yang mencakup pelayanan tingkat primer seperti rawat jalan oleh dokter umum atau keluarga, dokter gigi, bidan praktik, klinik dan puskesmas. Pelayanan tingkat sekunder yakni rawat jalan spesialistik di klinik spesialis, dokter praktik spesialis atau rumah sakit. Pelayanan tingkat tersier yakni rawat inap spesialistik di rumah sakit. Selain melakukan upaya promotif yakni berupa penyuluhan kesehatan dan perbaikan gizi. Upaya preventif seperti imunisasi, kesehatan lingkungan, kesehatan ibu dan anak dan keluarga berencana. Upaya kuratif yakni pengobatan dan penyembuhan penyakit, serta upaya rehabilitatif (pemulihan).
Yang jelas dengan adanya BPJS Kesehatan, pelayanan medis bisa lebih jeli dan teliti mengidentifikasi masalah pasien dan melakukan tindakan atau pemeriksaan sesuai dengan indikasinya. Hal ini dilakukan karena BPJS membiayai sesuai dengan diagnosa penyakit dan pemeriksaan yang dilakukan sesuai indikasi. Sangat disayangkan bagi karyawan Jasa Marga yang sudah memiliki kartu jika belum menggunakan fasilitas BPJS, apalagi faskes tingkat satunya ada dimana-mana dan dekat dengan kita.
JALUR
KHUSUS
18
BPjS kesehatan Prima, kapan pun kami Bisa dihubungi
DAFTAR
ISI
daftar
isi
2
salaMReDaKsi
JALUR
UTAMA
4
Sutirya Wirias Sastra Manajemen Sehat Lewat BPjS Manage care Telkom dan BRi
klinik Marga Bhakti Husada Butuh Top-Up dari Perusahaan
Prosedur Penggunaan BPjS kesehatan
14
PESAN
MANAJEMEN
JALUR
KHUSUS
JALUR
KHUSUS
3
8
Redaksi menunggu tulisan anda, baik tulisan ilmiah popular, berita kegiatan maupun naskah lain
yang ada kaitannya dengan penyelenggaraan jalan tol.
website : www.jasamarga.com
JALUR
KHUSUS
KATA
KITA
10
12
16
13
24
23
26
27
Mengapa BPjS...VARIA
SK
JALUR
KHUSUS
JALUR
KHUSUS
JALUR
KHUSUS
JALUR
KHUSUS
Langkah jasa Marga Menggunakan BPjS
JALUR
KHUSUS
JALUR
KHUSUS
20
Pengalaman Berobat dengan BPjS kesehatan
Tepat Memilih Faskes Tingkat Pertama
@PTjaSaMaRga
jasa Marga Traffic information centre 021 80880123 / 14080, Live Streaming www.jasamargalive.com Muh najib Fauzan Layanan dan iuran BPjS kesehatan
Berobat Sesuai kebutuhan Bukan keinginan
Manfaat BPjS kesehatan Bagi Saya....
162
Bicara masalah layanan kesehatan, Jasa Marga dikenal sebagai perusahaan yang begitu peduli dengan kesehatan karyawannya. Hal ini tertuang dalam SK 227/KPTS/2006 tentang Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Karyawan dan Keluarga Karyawan. SK 228/KPTS/2006 tentang Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Pensiunan dan Keluarga Pensiunan dimana seluruh biaya perawatan dan pemeliharaan kesehatan ditanggung perusahaan.
Sosialisasi BPjS kesehatan Perusahaan jamin kualitas
Pemeliharaan kesehatan Tidak kurang www.premiumfinance-group.com
Pembina: Direksi PT Jasa Marga (Persero) Tbk Pemimpin Redaksi: Moh Sofyan Wakil Pemimpin Redaksi: Dwimawan Heru Santoso Redaktur Pelaksana: Anasta Rahmarwati, Irra Susiyanti Editor: Yudha W. Pramuka, Herald Galingga W, M. Sonny Saputra, Alce Agustina, Faiza Riani Fotografer: Anang Kontributor/Reporter: Edi Sukardi (Jagorawi), Yulianti (CTC), Dondi (Semarang), Iwan Abrianto (Jakarta-Cikampek), Djuarta Dinata (Jakarta-Tangerang), Agus Tri Antyo (Surabaya-Gempol), Rayadi (Belmera), Heri Yulianto (Purbaleunyi), Dodo Adroni (Palikanci), Sintia Putranti (PT Trans Marga Jateng), Trisno Yuwono (PT Marga Kunciran Cengkareng), Wijaya (PT JLJ), Nurnaningsih (PT Marga Lingkar Jakarta), PT Marga Trans Nusantara, Sri Urini (PT Marga Nujyasumo Agung), Ryan (PT Marga Sarana Jabar), PT Jasa Layanan Pemeliharaan, Drajad Hari Suseno (PT Jasamarga Bali Tol), Roedi Poerwanto (PT Transmarga Jatim Pasuruan), Ronald Pardede (PT Jasamarga Kualanamu Tol) Unit Produksi dan Distribusi: Pinta Yulianti Diterbitkan Oleh: Departemen Corporate Communication PT Jasa Marga (Persero) Tbk, berdasarkan SK Direksi Nomor 152/KPTS/2014 Konsultan Media: PT TIPEKS Dicetak Oleh: PT TIPEKS Izin Terbit: SK Menteri Penerangan RI Nomor 1085/SK/DITJEN/PPG/STT/1987 Alamat Redaksi: Plaza Tol Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta 13550. Telp. (021) 8413 630, 8413 526. Fax. (021) 8779 3976
Muh Najib Fauzan
Direktur sDM dan umum
d
ok
. B
jT
P
ePaTaH aRaB MenyaTakan,Assihah agla minaddun’ya wamafiiha, artinya sehat itu
nilainya lebih mahal daripada dunia dan seisinya. Sementara Orang Barat mengatakan, The health is
gold, sehat itu emas. Bagi seorang muslim,
bisa dikatakan sehat itu nilainya nomor dua setelah iman. Semua kata bijak menempatkan harga sehat pada tempat yang sangat tinggi, harta termahal dan kekayaan yang tak berbatas.
Sayangnya, tak setiap orang bisa menikmati hidup sehat terutama saat mereka terserang penyakit, kondisi ini menjadi menyedihkan, mengganggu aktivitas dan produktivitas, terutama di perusahaan. Bisa dipastikan, pencapaian kinerja terganggu yang berdampak pada kinerja perusahaan. Tentunya, perusahaan tak menginginkan demikian, untuk itulah karyawan harus mendapat perlindungan kesehatan yang memadai, salah satunya memilih asuransi terbaik dan mencakup segalanya.
Jasa Marga sebagai perusahaan terkemuka yang sangat peduli dengan kesehatan dan kesejahteraan karyawannya, termasuk perusahaan yang memiliki kepedulian tinggi dalam hal kesehatan karyawan. Sejak awal perusahaan ini berdiri, semua keluhan dan gangguan penyakit, apapun pengobatan dan fasilitas yang diminta selalu dipenuhi. Tujuannya tak lain agar karyawan kembali pulih dan bisa beraktivitas seperti sedia kala.
Namun, terhitung sejak 1 Januari 2015, sesuai amanat Perpres No. 111 Tahun 2013 tentang Perubahan atas Perpres No. 12 Tahun 2013 tentang Jaminan Kesehatan, dimana pemberi kerja atau perusahaan skala besar, menengah, kecil dan BUMN wajib mendaftarkan kepesertaan ke Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan paling lambat 1 Januari 2015. Maka pemberi kerja wajib mendaftarkan diri pekerjanya sebagai peserta jaminan kesehatan bernama BPJS Kesehatan. Jasa Marga sebagai BUMN pun harus mengikuti peraturan itu, masuk menjadi peserta BPJS Kesehatan. Perusahaan pun telah membayar iurannya hingga akhir tahun 2015.
Melalui program BPJS ini, maka setiap warga negara bisa mendapat pelayanan kesehatan yang komprehensif, mencakup promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif dengan biaya yang ringan karena menggunakan sistem asuransi.
Seperti halnya asuransi, BPJS Kesehatan sangatlah bermanfaat bagi setiap karyawan karena dari setiap iuran bulanan yang
sehat itu Mahal
dibayarkan akan menjadi tabungan biaya kesehatan dan
penyembuhan. Jika tidak digunakan oleh karyawan karena mungkin kondisi fisiknya yang selalu terjaga dengan baik, maka dana iuran yang sudah dibayar bisa digunakan oleh karyawan lain layaknya subsidi silang. Kita pahami bersama begitu banyaknya saudara-saudara kita yang belum tersentuh jaminan kesehatan. Setidaknya dengan program ini, secara tidak langsung kita mampu menekan angka pesakitan bahkan bukan hal yang mustahil kita mampu meniadakannya.
Tak hanya itu, BPJS Kesehatan juga mengajarkan untuk mengelola kesehatan dengan baik dengan istilah yang kita kenal yakni manage care. Manage care atau managed heath care merupakan sistem yang mengintegrasikan antara pembiayaan dan pelayanan kesehatan yang tepat. Sistem managed care dapat meningkatkan akses, penerimaan, kualitas, pelayanan, kesinambungan dan yang lebih penting lagi efisiensi sumber daya dan rumah sakit. Sistem ini dapat meningkatkan volume rawat inap dan rawat jalan, meningkatkan cash flow dan pelayanan cost-effective.
Dalam manage care, layanan yang diberikan umumnya bersifat komprehensif yakni mencakup pelayanan tingkat primer seperti rawat jalan oleh dokter umum atau keluarga, dokter gigi, bidan praktek, klinik dan puskesmas. Pelayanan tingkat sekunder yakni rawat jalan spesialistik di klinik spesialis, dokter praktek spesialis atau rumah sakit. Pelayanan tingkat tersier yakni rawat inap spesialistik di rumah sakit.
Namun, apapun sarana, prasarana serta jenis pelayanan untuk mencapai sehat, yang terbaik adalah menjaga diri kita selalu sehat, aktif, produktif, bermanfaat bagi bangsa dan negara.
JALUR
UTAMA
4
Mengelola
Kesehatan
Melalui
Manage
Care
www.premiumfinance-group.comblog.credit.com
n
aMun, selaras denganPerpres No 111/2013 tentang Perubahan Perpres No.12 Tahun 2013, UU No 40/2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional, UU No 36/2009 tentang Kesehatan, UU No 24/2011 tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) jaminan kesehatan di Jasa Marga pun berusaha menyesuaikan.
Maka terhitung sejak awal Januari 2015, Jasa Marga telah terdaftar sebagai peserta BPJS. Mengingat program BPJS merupakan program nasional, kini banyak klinik dan rumah sakit bekerjasama dengan BPJS. Dengan iuran bulanan terjangkau, pasien mendapat layanan dan fasilitas kesehatan yang memadai. Bahkan, penyakit menular dan menahun pun
di-Bicara masalah layanan kesehatan, Jasa Marga dikenal sebagai perusahaan yang begitu peduli dengan
kesehatan karyawannya. Hal ini tertuang dalam SK No. 227/KPTS/2006 tentang Jaminan Pemeliharaan
Kesehatan Karyawan dan Keluarga Karyawan. SK No. 228/KPTS/2006 tentang Jaminan Pemeliharaan
Kesehatan Pensiunan dan Keluarga Pensiunan dimana seluruh biaya perawatan dan pemeliharaan
kesehatan ditanggung perusahaan.
cover oleh BPJS Kesehatan.
“Program BPJS Kesehatan sebetulnya menawarkan fasilitas pelayanan kesehatan yang lengkap,” ujar Unggul Cariawan, Vice President Human Capital Strategy and Policy.
Manage Care
Manage care atau pengelolaan
kesehatan terpadu adalah sistem yang mengintegrasikan antara pembiayaan dan pelayanan kesehatan yang tepat. Sistem manage care dapat meningkatkan akses, penerimaan, kualitas, pelayanan, kesinambungan dan yang lebih penting lagi efisiensi sumber daya, rumah sakit.
Dalam manage care, layanan yang diberikan umumnya bersifat komprehensif, yang mencakup pelayanan
tingkat primer seperti rawat jalan oleh dokter umum atau keluarga, dokter gigi, bidan praktik, klinik dan puskesmas. Pelayanan tingkat sekunder yakni rawat jalan spesialistik di klinik spesialis, dokter praktik spesialis atau rumah sakit. Pelayanan tingkat tersier yakni rawat inap spesialistik di rumah sakit.
Selain itu melakukan upaya promotif yakni berupa penyuluhan kesehatan dan perbaikan gizi. Upaya preventif seperti imunisasi, kesehatan lingkungan, kesehatan ibu dan anak, dan keluarga berencana. Upaya kuratif yakni pengobatan dan penyembuhan penyakit, serta upaya rehabilitatif (pemulihan).
“Kita harus bisa mengelola kesehatan kita karena saat karyawan sakit yang susah bukan hanya karyawan saja tapi juga
JALUR
UTAMA
6
d ok . c or comm unggul cariawan Vice President Human Capital Strategy and PolicyBERITA
jalan
tol
no. 162 2016keluarga,” ujar Unggul.
Unggul menambahkan, karyawan Jasa Marga banyak yang belum mampu mengelola kesehatannya dengan baik. Mereka belum menyadari bahwa dalam kesehatan itu ada tindakan promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif. Namun, sekarang seluruh karyawan Jasa Marga dituntut harus bisa mengelola kesehatan.
Pencegahan dan Pengobatan
BPJS Kesehatan menjadi solusi kesehatan bagi masyarakat karena berbagai manfaat dan fasilitasnya. Manfaat yang di dapat mencakup pelayanan pencegahan dan pengobatan termasuk pelayanan obat dan bahan medis habis pakai sesuai dengan kebutuhan medis.
Kita ketahui bahwa mulai 1 Januari 2014 negara kita sudah memiliki program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Program ini merupakan wujud dari Jaminan Sosial Nasional yang diamanatkan oleh Undang-Undang No. 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional. Dengan menjadi peserta program BPJS ini, pada saat berobat kita hanya perlu mengikuti prosedur yang ditetapkan dan menunjukkan kartu kepesertaan untuk mendapatkan layanan kesehatan sesuai kebutuhan.
Melalui program BPJS ini, maka setiap warga negara bisa mendapatkan pelayanan kesehatan yang komprehensif yang mencakup promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif dengan biaya yang ringan karena menggunakan sistem asuransi.
Sesuai amanat Perpres No. 111 Tahun 2013 tentang Perubahan atas Perpres No. 12 Tahun 2013 tentang Jaminan Kesehatan, pemberi kerja atau perusahaan skala besar, menengah, kecil dan BUMN wajib mendaftarkan kepesertaan ke Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan paling lambat 1 Januari 2015. Pemberi kerja wajib mendaftarkan diri dan pekerjanya sebagai peserta jaminan kesehatan wajib membayar iuran.
Jika tidak, ada sanksi yang dapat dijatuhkan kepada pemberi kerja. Merujuk PP No. 86 Tahun 2013, payung hukum sanksi tersebut, sanksi yang dapat dikenakan berupa teguran tertulis, denda dan atau tidak mendapat pelayanan publik tertentu.
Berdasarkan ketentuan tersebut, BUMN diwajibkan mengikuti Program
BPJS termasuk Jasa Marga. Sejak April 2015 Jasa Marga telah membayar premi BPJS untuk karyawan dan keluarganya sekitar Rp12 Miliar, setiap bulan hingga Desember 2015. Saat ini tercatat 92% karyawan Jasa Marga telah terdaftar dalam program pemerintah ini. Diharapkan akhir tahun ini seluruh karyawan Jasa Marga telah mengikuti Program BPJS.
“Selama ini kita menggunakan fasilitas layanan kesehatan yang dilayani dengan baik oleh perusahaan. Ibarat kata, kita bisa memilih rumah sakit dan dokter bahkan yang terbaik sekalipun kita bisa,” ujar Unggul. Pemberian fasilitas kesehatan memadai itu tertuang dalam SK No. 227/ KPTS/2006 tentang Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Karyawan dan Keluarga Karyawan serta SK No. 228/KPTS/2006 tentang Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Pensiunan dan Keluarga Pensiunan. Dan, SK tersebut hingga saat ini masih tetap berjalan sambil karyawan Jasa Marga dihimbau untuk memanfaatkan fasilitas Program BPJS.
“Disarankan seluruh karyawan Jasa Marga untuk mencoba menggunakan fasilitas pelayanan kesehatan dengan BPJS sebagai prioritas pertama, jika kemudian menemui kendala barulah menggunakan fasilitas pelayanan kesehatan dari perusahaan.” jelas Unggul.
Laporkan Setiap Keluhan
Dengan adanya BPJS Kesehatan, pelayanan medis bisa lebih jeli dan teliti mengidentifikasi masalah pasien dan melakukan tindakan atau pemeriksaan sesuai dengan indikasinya. Hal ini
dilakukan karena BPJS membiayai sesuai dengan diagnosa penyakit dan telah dihitung pemeriksaan yang dilakukan sesuai indikasi.
“Jadi, sangat disayangkan bagi karyawan Jasa Marga yang sudah memiliki kartu tetapi belum menggunakan fasilitas BPJS, apalagi faskes tingkat satunya ada dimana-mana dan dekat dengan kita,” saran Unggul.
Bahkan, menurut pengalaman Unggul yang sudah menggunakan jasa layanan kesehatan ini, faskes tingkat satu di sekitar Jakarta saat ini jumlahnya sudah banyak sehingga justru mereka menunggu pasien, ”Bukan lagi pasien yang mencari dan menanti dokter tapi dokter yang sudah menunggu pasiennya,” jelas Unggul.
Hal senada juga dirasakan oleh Irwan Juansah, Ketua Tim Pembahasan Peraturan Perusahaan (P3) yang sudah menggunakan fasilitas kesehatan BPJS bersama anggota keluarganya di lingkungan tempat tinggal. “Saya tidak mengantri dan saya mendapat pelayanan yang baik dari faskes tingkat satu di tempat tinggal saya,” ujar Irwan.
Menyinggung banyaknya keluhan yang sering terjadi di faskes tingkat satu, Unggul menyarankan agar semua keluhan diinformasikan ke atasan masing-masing kemudian akan dikomunikasikan dengan pihak BPJS. Unggul mencontohkan, misal karyawan mengalami gangguan penyakit pada pukul 01.00 tengah malam, sementara faskes tingkat satunya sudah tutup sejak pukul 22.00, maka apabila memang darurat sesuai ketentuan BPJS
akberpekanbaru.wordpress.com
Kesehatan bisa langsung ke rumah sakit yang melayani BPJS Kesehatan.
“Intinya kami tetap memberi pelayanan yang terbaik untuk kesehatan karyawan dan keluarga,” jelas Unggul.
Kesepakatan dengan SKJM
Dengan terbitnya Peraturan Presiden nomor 12/2013 dan perubahannya nomor 111/2013 tentang Jaminan Kesehatan yang merupakan turunan dari Undang-undang nomor 40 tahun 2004 tentang SJKN dan nomor 24 tahun 2011 tentang BPJS, maka perusahaan kita sebagai salah satu BUMN wajib mengikuti ketentuan pemerintah tersebut per 1 Januari 2015.
Mulai saat itu karyawan mulai resah, takut pelayanannya menurun, karena selama ini pelayanan kesehatan sangat memuaskan. Begitu juga manajemen pun mulai khawatir, takut apabila karyawan mengimplementasikan layanan BPJS Kesehatan akan menurunkan produktifitasnya.
Sehingga dengan alasan seperti itu permasalahan terkait BPJS Kesehatan menjadi salah satu agenda prioritas untuk dibahas dalam Tim Pembahasan Peraturan Perusahaan (Tim P3) yang berjumlah 14 orang yang terdiri dari 7 anggota dari perwakilan manajemen dan 7 anggota dari perwakilan SKJM. Dari SKJM terdiri dari 2 anggota dari DPP SKJM, 5 anggota dari para Ketua DPC SKJM se-Jabotabek dan Bandung.
Pada tanggal 4 Agustus 2015 Tim P3 mengadakan pembahasan dengan agenda BPJS Kesehatan yang dihadiri 64,3% anggota. Tim P3 dihadiri Ketua Umum DPP SKJM, langsung membahas Konsep SE tentang Sistem Pelayanan Kesehatan dan Implementasi Program BPJS Kesehatan. Adapun resume hasil pembahasan pada prinsipnya konsep SE tentang implementasi pelayanan kesehatan melalui BPJS Kesehatan telah disetujui oleh seluruh anggota tim yang hadir.
Namun ada beberapa masukan yakni antara lain pelayanan kesehatan khusus pemeriksaaan kandungan hingga persalinan, anak balita dan pelayanan gigi agar tetap mengacu kepada Keputusan Direksi nomor: 227/KPTS/2006 dan perubahannya nomor 111/KPTS/2015 serta nomor 228/KPTS/2006.
Selain itu, pensiunan dan keluarganya yang saat ini dikategorikan sakit
menahun dan sedang menggunakan fasilitas kesehatan perusahaan tetap dihimbau untuk menggunakan fasilitas BPJS Kesehatan, namun pihak SKJM usul apabila tingkat pelayanan kesehatannya menurun, agar dilanjutkan terlebih dahulu sampai dengan selesai.
Selain hal tersebut dan untuk keseragaman penerapan aturan, tim juga mengusulkan agar setelah SE tersebut terbit, manajemen membuat instruksi atau surat dan melakukan sosialisasi bersama tim kepada pemimpin unit organisasi atau unit kerja yang membidangi human resource. Adapun hal yang perlu disamakan persepsi dan penyeragaman dalam penerapan antara lain untuk memastikan para pensiunan tersebut terdaftar di BPJS Kesehatan, agar tidak terkena sanksi penangguhan. Selain itu meminta kejelasan kepada BPJS Kesehatan tentang pelayanan kesehatan dapat dilakukan apabila karyawan, pensiunan dan keluarganya sedang berada diluar kota (di luar wilayah Faskes Tk I). Hal lainnya dapat mengalihkan proses penggunaan fasilitas kesehatan BPJS Kesehatan dengan fasilitas kesehatan dari Perusahaan, dengan catatan wajib mengisi formulir keluhan secara lengkap, apabila dalam penggunaan fasilitas BPJS Kesehatan mengalami kendala.
Hasil Pembahasan Tim P3 pada prinsipnya disetujui Direktur SDM dan Umum setelah dilaporkan oleh Ketua Tim P3 dengan surat nomor 04/TIM-P3/2015 bulan Agustus 2015. Setelah dilakukan beberapa kali penjelasan ulang antara
manajemen yang diinisiasi oleh Direktur SDM dan Umum dan SKJM (Ketua Umum, Sekjen DPP SKJM dan para Ketua DPC SKJM seluruh Indonesia), maka Surat Edaran yang diberi nomor 02/SE-DIR/2016 yang terbit pada tanggal 22 Januari 2016 tentang Sistem Pelayanan Kesehatan dan Implementasi Program BPJS Kesehatan diberlakukan per 1 Februari 2016.
d
ok
. B
jT
irwan juansah Ketua Tim Pembahasan Peraturan Perusahaan (P3)
JALUR
KHUSUS
8
BERITA
jalan
tol
no. 162 2016Langkah
Jasa Marga
Menggunakan BPJs
Yang Penting
Kualitas
PelaYanan tiDaK tuRun
ww w.omegasof tindo .netB
eRdaSaRkan PeRaTuRan PReSiden (PeRPReS) 111/2013,Pekerja Penerima Upah (PPU) dari BUMN, BUMD, Badan Usaha skala besar, sedang mapun kecil wajib mendaftarkan pegawainya menjadi peserta BPJS Kesehatan paling lambat sebelum 1 Januari 2015. Sementara itu, sebaliknya, masyarakat yang merupakan Pekerja Bukan Penerima Upah (PBPU) dan Bukan Pekerja paling lambat mendaftar menjadi peserta BPJS adalah 1 Januari 2019.
Aturan lainnya, PP No 86/2013, menyatakan sanksi akan dikenakan kepada pemberi kerja yang tidak mendaftarkan pekerjanya ke BPJS Kesehatan dan Ketenagakerjaan.
Sebagai BUMN, Jasa Marga juga wajib ikut menjadi peserta BPJS. Seperti yang dijelaskan oleh Nazarudin, Senior Management Remuneration, bahwa sejak Desember 2014 sesuai dengan regulasi pemerintah, Jasa Marga telah melakukan proses pendaftaran Perusahaan, Karyawan dan Keluarga untuk memenuhi ketentuan undang-undang tersebut.
“Saat ini kurang lebih 90% karyawan dan keluarga telah terdaftar sebagai peserta BPJS, sementara sisanya masih dalam proses verifikasi dan klarifikasi antara lain karena masalah Nomor Induk Kependudukan (NIK) yang tidak standar melebihi 16 digit, terdaftar atas nama orang lain, dan sebagainya,” ujar Nazarudin yang saat itu didampingi Wasito, Budgeting & Compensation Manager.
Penyesuaian
Nazarudin juga menjelaskan bahwa sejak awal dicanangkannya program BPJS
di Jasa Marga, hal pertama yang dilakukan adalah melakukan pendataan untuk kepesertaan karyawan dan keluarganya, bersamaan dengan dilakukannya sosialisasi tahap awal di Kantor Pusat, dan seluruh Kantor Cabang.
Pada tahap awal ini kami melakukan sosialisasi dan menjelaskan kepada para karyawan, para pensiunan, dan melakukan pertemuan dengan pengurus Serikat Karyawan Jasa Marga (SKJM) terkait dengan rencana Perusahaan mendaftarkan Karyawan dan Keluarganya dalam program BPJS Kesehatan, dengan program BPJS Kesehatan maka konsep layanan kesehatan dilakukan secara berjenjang, yaitu bagi karyawan atau keluarga karyawan yang sakit dan membutuhkan pelayanan kesehatan harus melalui Fasilitas Kesehatan (Faskes) tingkat pertama, kemudian apabila faskes tingkat pertama tidak dapat menangani maka faskes tingkat pertama akan merujuk kepada Faskes tingkat lanjutan untuk penanganan pasien lebih lanjut. Faskes tingkat pertama meliputi Puskesmas, Klinik Umum atau 24 jam yang telah bekerjasama dengan BPJS Kesehatan. Sementara Faskes tingkat lanjutan meliputi Dokter Spesialis, Sub Spesialis dan Rumah Sakit.
“Kami menjelaskan bahwa sesuai ketentuan perundangan, seluruh BUMN wajib mengikuti Program BPJS Kesehatan. Pada dasarnya SKJM mendukung keikut sertaan Perusahaan, Karyawan dan
Keluarganya dalam program BPJS Kesehatan, namun SKJM mengharapkan agar kualitas layanan kesehatan yang selama ini di berikan kepada karyawan dan keluarganya tidak turun atau minimal sama.
Atas arahan General Manajer Human
Capital Services, sebagai pionir saat itu diminta kepada seluruh karyawan yang membidangi SDM untuk mencoba
menggunakan Fasiltias Kartu BPJS Kesehatan bila memerlukan layanan kesehatan, dan sekaligus untuk mendapatkan feed back (masukan) kondisi lapangan terkait dengan layanan kesehatan Provider BPJS Kesehatan. Masukan-masukan dari lapangan ini yang kami evaluasi dan komunikasikan dengan pihak BPJS Kesehatan untuk feed back perbaikan.
Perusahaan juga telah menghimbau kepada karyawan Jasa Marga melalui para Deputi General Manajer yang membidangi Sumber Daya Manusia di cabang-cabang terutama yang sudah memiliki kartu BPJS agar segera menggunakan fasilitas tersebut jika ingin berobat,” jelas Nazarudin.
Saat itu dijelaskan juga tentang Undang-Undang No 24 Tahun 2011 tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial dan Peraturan Presiden RI No.111 Tahun 2013 tentang Perubahan atas Peraturan Presiden No.12 Tahun 2013 tentang Jaminan Kesehatan.
Ditambahkan oleh Nazarudin, saat ini unit kerja di Human Capital Strategic and Policy juga sudah menyiapkan konsep Surat Edaran untuk menghimbau karyawan dalam penggunaan Kartu BPJS Kesehatan, konsep Surat Edaran ini juga telah dibahas bersama dengan SKJM dan para Deputi General Manajer Human Resources & General Affair.
“Dengan adanya program BPJS Kesehatan memang harus dilakukan penyempurnaan SK No.227/KPTS/2006 tentang Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Karyawan dan Keluarga Karyawan dan SK No.228/KPTS/2006 tentang Jaminan Kesehatan Pensiun dan Keluarga Pensiun
agar in-line.
Mengenai pandangan serikat Nazarudin menjelaskan bahwa mereka berharap agar kualitas pelayanan tidak turun dengan kita mengikuti Program Jaminan Kesehatan di BPJS ini. Serikat juga meminta agar ibu hamil, anak balita dan pemeriksaan gigi tetap menggunakan fasilitas jaminan kesehatan Perusahaan.
Nazarudin mengakui memang membutuhkan waktu untuk memberi pemahaman pada karyawan tentang program ini karena isu atau rumor yang beredar di masyarakat bahwa layanan dengan BPJS Kesehatan sudah terlanjur negatif. Nah, kondisi inilah yang saat ini sedang dicarikan solusinya agar karyawan memiliki pemahaman yang positif, dan pelayanan kesehatan yang diterima karyawan tetap berkualitas, antara lain dengan sosialisasi, kerjasama rumah sakit, dan sebagainya.
Pemilihan Faskes Tingkat Pertama
Sejak diterimanya kartu BPJS oleh karyawan, beberapa karyawan sudah mulai menggunakan, ada yang bermasalah dan ada yang tidak mempermasalahkannya. Masalah timbul umumnya saat melakukan pengobatan di fasilitas kesehatan tingkat pertama terutama terkait dengan antrian.
“Kondisi ini bisa dimaklumi karena sejak dibukanya layanan BPJS untuk seluruh masyarakat yang mampu ataupun tidak mampu, banyak orang yang berobat ke klinik atau ke fasilitas layanan tingkat pertama, akibatnya menimbulkan antrian. Saran kami, lebih baik karyawan
memilih faskes tingkat pertama yang tidak menimbulkan antrian panjang, lebih baik lagi memilih fasilitas kesehatan yang dekat rumah atau bahkan bisa dengan dokter keluarga selama dokter tersebut masuk dalam layanan BPJS Kesehatan, ” ujar Nazarudin.
Dalam rangka menjaga kualitas layanan kesehatan, Perusahaan juga melakukan kerjasama dengan beberapa rumah sakit yang telah bekerjasama dengan BPJS Kesehatan.
Dengan kerjasama ini maka diharapkan kendala dilapangan yang dialami pasien dapat diatasi, misalkan pada kasus rawat inap untuk penyakit Typus yang menurut Coding BPJS dirawat 5 hari, sementara kondisi karyawan masih sakit dan belum memungkinkan untuk pulang, maka jaminan kesehatan Perusahaan akan segera mengambil alih dan karyawan bisa terus menjalani perawatan. Atau dalam kasus lain
seperti saat perawatan atau pengobatan tidak terdapat obat dalam daftar obat BPJS Kesehatan yang dibutuhkan pasien, dimana secara indikasi medis dan rekomendasi dokter yang merawat obat tersebut harus diberikan, maka Perusahaan akan menanggung biaya obat tersebut dengan pola cosh sharing. Artinya dalam kerjasama rumah sakit ini tetap mengutamakan pembiayaan oleh BPJS Kesehatan dan selisihnya baru oleh Perusahaan.
Jadi dengan pola kerjasama ini, diupayakan kualitas layanan kesehatan kapada karyawan atau keluarganya, pensiunan dan keluarganya tetap terjaga.
“Kita juga berusaha memberi
pemahaman pada teman-teman karyawan bahwa berobat itu harus sesuai kebutuhan bukan keinginan. Kalau kebutuhan medis kan kita diobati sesuai dengan indikasi yang kita rasakan tapi kalau keinginan bisa jadi tidak terkait dengan kebutuhan medis,” tambah Nazarudin.
Saat ini karyawan atau keluarga karyawan Jasa Marga yang menjalani perawatan rutin cuci darah, sudah mulai migrasi ke Program BPJS Kesehatan. Ternyata hampir 100% layanan cuci darah BPJS sama dengan layanan kesehatan yang diterima dari perusahaan.
“Kami mendorong dan menghimbau agar karyawan atau pensiunan yang menjalani perawatan rutin terutama yang sudah memiliki kartu BPJS agar memanfaatkan layanan ini dengan baik,” saran Nazarudin.
Hilangkan Persepsi Buruk
Layanan kesehatan dengan BPJS sudah mulai dinikmati masyarakat Indonesia dan kelak semua rakyat Indonesia akan menikmati layanan ini. Tak terkecuali karyawan di perusahaan BUMN, swasta maupun pegawai pemerintah. Jasa Marga sebagai bagian dari BUMN pun harus menggunakan layanan ini. Karena sosialisasi tahap awal sudah dilakukan, kelak akan ada sosialisasi tahap lanjutan jika surat edaran sudah berjalan. Hal ini perlu dilakukan agar semua karyawan bisa lebih memahami dan memanfaatkan fasilitas layanan ini dengan baik.
“Saat ini memang jaminan kesehatan Perusahaan masih berjalan paralel dengan jaminan BPJS Kesehatan, namun suatu ketika kami yakin Layanan BPJS Kesehatan akan terus memperbaiki diri, dan memadai sesuai dengan harapan karyawan,” jelas Nazarudin.
Nazarudin juga berharap agar semua karyawan berusaha menghilangkan persepsi buruk yang saat ini terbentuk di tengah masyarakat tentang layanan BPJS ini. Kita harus memahami bahwa awalnya yang tersentuh layanan kesehatan hanya beberapa persen saja dari masyarakat Indonesia, namun dengan dibukanya ‘kran’ layanan kesehatan yang murah dan mudah, banyak masyarakat yang menggunakan sehingga membuat semua fasilitas layanan yang bekerjasama dengan BPJS seperti kebanjiran pasien.
“Kondisi ini marilah sama-sama kita pahami dan sikapi dengan arif. Jagalah kesehatan kita dengan baik melalui pola hidup sehat, agar kita tidak berurusan dengan rumah sakit atau fasilitas kesehatan manapun.“
dok. BjT nazarudin
10
JALUR
KHUSUS
BERITA
jalan
tol
no. 162 2016S
ejak Badan PenyeLenggaRa jaMinan SoSiaL (BPjS) keSeHaTan beroperasi pada 1 Januari 2014 untuk menyelenggarakan program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), pola pelayanan kesehatan berubah 180 derajat. Masyarakat mulai diajak untuk mengikuti sistem baru yang menerapkan sistem rujukan berjenjang dalam pelayanan kesehatan.Peserta BPJS Kesehatan tidak
diperkenankan lagi langsung mendatangi rumah sakit tingkat lanjutan, kecuali dalam kondisi darurat atau emergency yang harus segera mendapat pertolongan dan tindakan medis lainnya, utamanya untuk menyelamatkan nyawa. Peserta BPJS bisa langsung dilayani.
Beginilah alur untuk mendapatkan pelayanan kesehatan, peserta membawa kartu BPJS Kesehatan ke fasilitas kesehatan tingkat pertama tempat peserta terdaftar,
dr. H. Herri Harianto, MARS
konsultan Medis PT Jasa Marga
BeRoBat sesuai KeButuhan
BuKan Keinginan
antara lain Puskesmas, dokter praktik perorangan, dokter gigi praktik, klinik pratama termasuk klinik milik TNI atau Polri. Jika pasien harus mendapat perawatan ke fasilitas tingkat lanjutan, maka pasien akan dirujuk ke rumah sakit yang telah ditunjuk.
“Dengan demikian, kesehatan dapat dikelola baik dan berobat sesuai kebutuhan tubuh kita bukan sesuai keinginan yang selama ini terjadi di lingkungan kita,” ujar dr. H. Herri Harianto, MARS, Konsultan Medis PT Jasa Marga.
Herri menambahkan, sebelumnya karyawan kalau ingin berobat langsung ke spesialis yang obatnya pasti bukan generasi dasar, melainkan sudah generasi dua atau tiga bahkan lebih. Padahal semestinya tidak demikian. Semua pengobatan harus dimulai dari dasar, jika kemudian tidak sembuh barulah ke tingkat lanjut dan seterusnya.
Mengapa pengobatan itu harus dari dasar? dr. Herri menjelaskan, jika tidak dampaknya cukup panjang.
“Kalau karyawan sudah terbiasa mendatangi dokter spesialis, kelak akan bermasalah saat karyawan pindah tugas ke daerah, karena kemungkinan di daerah tak ada dokter spesialis sehingga dia harus berobat dengan dokter umum dengan obat standar. Kemungkinan, bisa saja karyawan tersebut butuh waktu lebih lama untuk sembuh,” ujar dr. Herri.
Jadi, kalau kita sudah sembuh dengan obat-obatan dari generasi pertama, kenapa harus menggunakan obat generasi berikutnya? Bukankah itu sia-sia.
Menyinggung masalah obat generik yang sering diberikan oleh Faskes tingkat 1, dr. Herri mengatakan, obat generik itu hanya beda kemasannya saja sementara isinya tetap sama. Jadi, tak harus mempermasalahkan.
“Mungkin karena obat generik adanya di puskesmas atau klinik biasa sehingga orang berpandangan obatnya tidak mujarab, padahal tidak demikian. Contoh amoxilin
d
ok
. B
jT
dibeli dengan harga sekitar 300 rupiah, tapi ketika dibungkus dengan kemasan yang bagus harga naik menjadi 1000 rupiah, jadi yang membedakan hanya kemasan saja,” ujar dr. Herri.
Namun dr. Herri menjelaskan, pemakaian obat generik di Jasa Marga kemungkinan hanya berlaku 50% sedangkan 50% lagi obat paten atau obat bermerk.
Pilih Faskes Terdekat
Sebagai ahli medis, dr. Herri mengakui bahwa Program BPJS Kesehatan sangat baik karena bertujuan pemerataan kesehatan dan kesejahteraan bangsa. Di berbagai negara di dunia, masalah kesehatan penduduk sudah menjadi perhatian utama. Dan, layanan serupa BPJS ada dimana-mana. Pengobatan dengan sistem berjenjang bukan hal baru lagi. Mulai dari layanan primer, sekunder, tersier sudah mereka lakukan. Indonesia memang baru dan butuh waktu untuk menjadi kebiasaan.
“Kalau tidak sekarang, kapan lagi. Ini saatnya bagi kita untuk bisa mengelola kesehatan dengan baik yakni melalui pelayanan kesehatan berjenjang,” ujar dr. Herri.
Saat ditanya tentang banyaknya keluhan karyawan di seputar fasilitas tingkat pertama, dr. Herri mengatakan, faskes tingkat pertama memang biasa banyak dikunjungi pasien dan kadang terpaksa harus mengantri lama. Faskes tingkat I ini seperti di Puskesmas, Klinik 24 Jam, Klinik Pratama dan lainnya.
dr. Herri menyarankan agar setiap karyawan Jasa Marga memindahkan faskesnya ke klinik di sekitar rumah atau di
kantor. Hal ini tidak sulit dilakukan dan SDM perusahaan siap membantu karena tinggal mengirim e-mail ke BPJS Provinsi.
“Kalau terlalu lama mengantri, selain menimbulkan kejenuhan, produktivitas karyawan juga terganggu,” tambah dr. Herri.
Mengenai Faskes II yakni rawat inap, dr. Herri menegaskan bahwa perusahaan sudah melakukan sosialisasi rumah sakit provider BPJS untuk co-sharing. Jadi, kalau ada karyawan dirawat dan ada obat tidak ditanggung BPJS maka perusahaan yang akan menanggung sesuai dengan jaminan fasilitas kesehatan yang tertuang dalam SK No. 227.
“Semua rumah sakit yang kita datangi sudah menyepakati keputusan itu karena merasa juga sudah terbantu. Biaya yang harusnya ditanggungkan rumah sakit bisa berkurang,” tandas dr. Herri.
“Jadi, kalau menurut saya ini adalah sebuah perjalanan bagi kita. Banyak suara dari karyawan yang beragam tentang program kesehatan ini. Kami memang beda dengan perusahaan Telkom dan Bank Mandiri yang sudah manage care dari awal. Nah, sekarang kita mulai menata kesehatan kita dengan manage care,” seru dr. Herri.
Primer
Menjadi peserta BPJS seperti yang diinformasikan di beberapa media, punya beberapa keuntungan diantaranya ada jaminan jika sakit yang unlimited dengan iuran murah. Selain itu setiap peserta BPJS Kesehatan berhak mendapat pelayanan kesehatan di fasilitas kesehatan sesuai dengan hak dan ketentuan yang berlaku. Ada pun biaya pengobatan yang
ditanggung adalah istri/suami yang sah dari peserta yang mendapat tunjangan istri/suami (daftar istri/suami yang sah yang tercantum dalam daftar gaji atau slip gaji, dan termasuk dalam daftar penerima pensiun atau carik Dapen).
Anak (anak kandung/anak tiri/anak angkat) yang sah dari peserta yang mendapat tunjangan anak, yang tercantum dalam daftar gaji atau slip gaji, termasuk dalam daftar penerima pensiun atau carik Dapen, belum berumur 21 tahun atau telah berumur 21 tahun sampai 25 tahun namun masih mengikuti pendidikan formal, belum menikah, belum berpenghasilan dan masih menjadi tanggungan peserta.
Jumlah anak yang ditanggung maksimal dua anak sesuai dengan urutan tanggal lahir, termasuk didalamnya anak angkat maksimal satu orang.
Bahkan Direktur Kepesertaan dan Hubungan Antar Lembaga Askes Endang Tidarwati Wahyuningsih menjelaskan ke media online bahwa ambulance pun diberikan dari tempat pelayanan ke tempat pelayanan yang ditanggung BPJS. Selain itu, ada pula pelayanan forensik dan lainnya. Seluruh peserta BPJS akan mendapat manfaat berupa biaya kesehatan gratis untuk semua jenis penyakit. Pihak BPJS juga akan menjamin biaya pengobatan medis untuk semua peserta BPJS.
dr. Herri menambahkan, keuntungan dari mengikuti Program BPJS antara lain, pemeriksaan kesehatan dengan sistem berjenjang yang membiasakan seseorang untuk mulai pengobatan dari tingkatan primer lebih dulu agar tidak salah arahan. Misal sakit perut diperiksa oleh dokter, dilakukan pengobatan sesuai dengan dosis yang dibutuhkan, tidak langsung ke dokter spesialis atau dokter bedah. Sakit perut kan bisa saja itu gangguan lambung atau sakit maag. Begitupun dengan penderita kanker, dia akan masuk dulu ke pengobatan primer kemudian mendapat rujukan ke pengobatan sekunder yakni di rumah sakit.
“Bagusnya BPJS ada obat kanker dan penyakit parah lainnya. Bahkan Jasa Marga sendiri sudah memindahkan layanan kesehatan bagi pasien cuci darah ke layanan BPJS. Namun, kita tak lepas tangan, mereka tetap kita kawal. Kalau ada masalah kita usahakan untuk cari solusinya,” jelas dr. Herri.
dr. H. Herri Harianto, MaRS Konsultan Medis PT Jasa Marga
BERITA
jalan
tol
NO. 162 2016KATA
KITA
12
BERITA
jalan
tol
no. 162 2016Manfaat BPJs Kesehatan Bagi saya....
Terhitung januari 2015 semua BuMn harus menggunakan jasa layanan kesehatan BPjS termasuk jasa Marga, banyak manfaat yang diraih antara lain kita mengelola kesehatan secara berjenjang. Seperti apa manfaat BPjS kesehatan bagi kita?Mari kita dengar ungkapan mereka....
dok. cabang Semarang dok. cabang Surgem
dok. cabang Purbaleunyi
Syamsul Bahri
nPP 06252 Profesi officer
departemen HR&ga, cabang Purbaleunyi
“Sesuai peraturan pemerintah, saat ini kita harus menggunakan Program BPJS Kesehatan untuk pemeriksaan kesehatan kita. Namun, jika ada kendala Jaminan Kesehatan Perusahaan masih tetap memback-up, ini bukti bahwa perusahaan selalu peduli dan melindungi kita. Keluhan memang pernah saya dengar terutama lokasi Faskes Tingkat Pertama dengan lokasi rumah jauh sehingga butuh waktu, namun sebenarnya itu bisa pindah. Manfaat BPJS Kesehatan sudah dirasakan teman saya, terutama yang menderita penyakit menahun seperti kanker, mereka dilayani dan mendapat pelayanan yang baik karena sudah daftar sesuai jadwal.“
Istiono
nPP 1882 kepala Shift Pultol
kSPT gerbang Tol gempol, cabang Surgem
“BPJS sangat bermanfaat bagi karyawan karena memberikan jaminan rawat inap dan rawat jalan bebas biaya untuk karyawan. Namun, sayang di beberapa wilayah tidak sama. Sebagian rumah sakit terutama di kota besar seperti Surabaya pelayanan sangat baik meski sedikit mengantri. Berbeda dengan luar kota Surabaya, klinik maupun rumah sakit masih memperlakukan pasien seperti pasien gratisan. Harapan saya, Jasa Marga membangun klinik dengan layanan baik, mampu menampung semua karyawan Jasa Marga dan anak perusahaan. Dengan demikian bebas antri.”
Iman Suroso
nPP 06602
HR & administration Manager
departemen HR&ga, cabang Semarang
“Kalau menurut saya, BPJS itu bermanfaat sekali bagi kita dan perusahaan karena berusaha melayani kesehatan secara berjenjang. Dengan demikian mampu menekan biaya kesehatan yang biasa dikeluarkan oleh perusahaan. Harapan saya, semoga BPJS Kesehatan bisa melayani kami dengan baik tanpa ada kendala apapun.”
Sumber :
Nomor: 25/SE-DIR/2015 Tanggal 14 September 2015
Mengapa BPJS...
S
eBagaiMana kiTa keTaHui bahwa dengan telahditetapkannya Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004 tanggal 19 Oktober 2004 tentang Sistem Jaminan Kesejahteraan Nasional, setiap penduduk Indonesia wajib mengikuti Program BPJS Kesehatan.
Kondisi ini juga didukung dengan Peraturan Presiden Nomor 12 Tahun 2013 tanggal 18 Januari 2013 tentang Jaminan Kesehatan dan perubahannya Nomor 111 Tahun 2013 tanggal 27 Desember 2013. Bahkan terhitung sejak 1 Januari 2015 BUMN pun wajib mendaftarkan karyawannya sebagai peserta BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial) Kesehatan.
Sehubungan dengan itu Perusahaan sejak tanggal 7 Desember 2014 telah terdaftar sebagai peserta program BPJS Kesehatan, dan sejak tanggal 31 Desember 2014 telah mendaftarkan karyawannya sebagai calon peserta program BPJS Kesehatan.
Berjenjang
Pemeliharaan kesehatan yang dilakukan BPJS adalah berjenjang yakni diawali dengan fasilitas kesehatan (faskes) tingkat I yakni pemeriksaan penyakit non spesialistik antara lain oleh dokter umum, klinik pratama, puskesmas, dan rawat inap tingkat I yang dilakukan di faskes tingkat I tempat yang bersangkutan terdaftar.
Jika membutuhkan tindakan lebih lanjut berdasarkan hasil pemeriksaan di faskes tingkat I, peserta dapat menggunakan faskes tingkat II (dokter spesialis). Pelayanan kesehatan tingkat II untuk pemeriksaan penyakit spesialistik dan sub spesialistik yang harus ditangani oleh dokter spesialis atau sub spesialis, baik dalam bentuk rawat jalan maupun rawat inap, yang dilakukan berdasarkan rujukan dari pelayanan kesehatan tingkat I.
Jaminan Kesehatan dan Perlindungannya
Melalui pemeliharaan kesehatan tersebut diharapkan karyawan dan pensiunan beserta keluarganya lebih dulu menggunakan kartu kepesertaan BPJS Kesehatan. Jika mengalami kesulitan dalam
penggunaan fasilitas BPJS atau tindakan kesehatan tidak ditanggung oleh BPJS, maka karyawan dan pensiunan beserta keluarganya dapat menggunakan jaminan pemeliharaan dari Perusahaan, dengan catatan wajib mengisi formulir keluhan pelayanan BPJS Kesehatan secara lengkap.
Jika karyawan dan pensiunan beserta keluarganya mengalami sakit dan memerlukan pelayanan kesehatan saat berada di luar wilayah jangkauan faskes tingkat I tempat yang bersangkutan terdaftar, maka yang bersangkutan dapat langsung ke faskes tingkat I terdekat.
Khusus karyawan yang sedang melakukan perjalanan dinas ke luar kota yang mengalami sakit dan memerlukan pelayanan kesehatan tetap menggunakan prosedur seperti diatas, namun bila hal tersebut tidak memungkinkan maka dapat menggunakan fasilitas kesehatan berdasar Keputusan Direksi Nomor: 227/KPTS/2006 dan perubahannya Nomor: 111/KPTS/2015.
Mengenai biaya, jika yang ditanggung oleh BPJS Kesehatan lebih rendah dari jaminan pemeliharaan kesehatan yang menjadi hak karyawan dan pensiunan beserta keluarganya sesuai dengan Keputusan Direksi Nomor: 227/KPTS/2006 dan perubahannya Nomor: 111/KPTS/2015 serta Nomor: 228/KPTS/2006, maka selisih biayanya menjadi tanggung jawab Perusahaan dengan sistem cost
sharing dan khusus pelayanan medis untuk pemeriksaan kandungan,
gigi dan anak usia di bawah lima tahun (balita), kecuali bagi karyawan yang mulai diangkat menjadi karyawan tetap sejak 1 Juli 2015.
Selain itu bagi karyawan, pensiunan dan keluarga yang saat ini dikategorikan sakit kronis dan sedang menjalani perawatan berkelanjutan dengan menggunakan fasilitas kesehatan Perusahaan tetap dihimbau untuk menggunakan fasilitas BPJS Kesehatan. Namun jika tingkat pelayanan kesehatan dari BPJS menurun, dapat kembali menggunakan jaminan pemeliharaan dari Perusahaan, dengan catatan wajib mengisi formulir keluhan pelayanan BPJS secara lengkap.
JALUR
KHUSUS
14
BERITA
jalan
tol
no. 162 2016S
ejak Badan PenyeLenggaRajaMinan SoSiaL (BPjS) keSeHaTan beroperasi pada 1 Januari 2014 untuk menjalankan tugas menyelenggarakan program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), pola pelayanan kesehatan berubah 180 derajat. Masyarakat mulai diajak mengikuti sistem baru yang menerapkan sistem rujukan berjenjang dalam pelayanan kesehatan.
Peserta BPJS Kesehatan tidak boleh lagi langsung datang ke rumah sakit tingkat lanjutan, kecuali dalam kondisi darurat atau
emergency yang harus segera mendapat
pertolongan dan tindakan medis lainnya terutama untuk menyelamatkan nyawa. Peserta BPJS bisa langsung dilayani.
Jadi, alur untuk mendapatkan pelayanan kesehatan dimulai dari peserta membawa kartu BPJS Kesehatan ke fasilitas kesehatan (faskes) tingkat pertama tempat peserta terdaftar, antara lain Puskesmas, dokter praktik perorangan, dokter gigi praktik, dan Klinik Pratama.
“Jika di faskes, permasalahan kesehatan
peserta tidak bisa ditangani dan butuh penanganan lebih lanjut, maka dokter faskes tingkat pertama akan merujuk peserta ke faskes tingkat lanjutan yaitu rumah sakit pemerintah, rumah sakit swasta, atau klinik utama (spesialistik) yang sudah bekerja sama dengan BPJS Kesehatan. Selanjutnya peserta BPJS akan ditangani sesuai kebutuhan medisnya,” jelas Sutirya Wirias Sastra, General Manager Human Capital Services.
Layanan Kesehatan
Mengenai cakupan layanan kesehatan di faskes tingkat pertama meliputi kasus medis yang dapat diselesaikan secara tuntas di pelayanan kesehatan tingkat pertama. Selain itu ada juga kasus medis yang membutuhkan penanganan awal sebelum dilakukan rujukan, kasus medis rujuk balik, pemeriksaan, pengobatan, dan tindakan pelayanan kesehatan gigi tingkat pertama.
Selain itu ada juga pemeriksaan ibu hamil, nifas, ibu menyusui, bayi dan anak balita oleh bidan atau dokter. Rehabilitasi medik dasar, rawat inap pada pengobatan atau perawatan kasus yang dapat
diselesaikan secara tuntas di Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama, rawat inap pada pertolongan persalinan pervaginam bukan risiko tinggi, rawat inap pada pertolongan persalinan dengan komplikasi dan atau penyulit pervaginam bagi Puskesmas PONED, rawat inap pada pertolongan neonatal dengan komplikasi, dan rawat inap pada pelayanan transfusi darah sesuai kompetensi fasilitas kesehatan dan atau kebutuhan medis.
Sedangkan faskes rujukan tingkat lanjutan adalah upaya pelayanan kesehatan perorangan yang bersifat spesialistik atau sub spesialistik yang meliputi rawat jalan tingkat lanjutan, rawat inap tingkat lanjutan, dan rawat inap di ruang perawatan khusus.
Jenis faskes seperti fasilitas kesehatan yang termasuk faskes rujukan tingkat lanjutan yakni klinik spesialis, rumah sakit umum, dan rumah sakit khusus. Pelayanan kesehatannya adalah upaya pelayanan kesehatan perorangan yang bersifat spesialistik atau sub spesialistik yang meliputi rawat jalan tingkat lanjutan, rawat inap tingkat lanjutan, dan rawat inap di
laYanan Dan iuRan BPJs Kesehatan
dok. HcSP
PROGRAM KEGIATAN PENJELASAN
Promotif Penyuluhan Kesehatan Penyuluhan mengenai pengelolaan faktor risiko penyakit dan perilaku hidup sehat
Prefentif Imunisasi Dasar KB
Skrining Kesehatan
BCG, DPT, Hepatitis B, Polio, Campak (hanya di Puskesmas) Konseling, Kontrasepsi Dasar,
Vasektomi, Tubektomi
Diberikan secara selektif bertujuan untuk mendeteksi risiko penyakit dan mencegah dampak lanjutan (Hanya beberapa jenis penyakit) Kuratif Rawat Jalan & Inap
Pemeriksaan Kehamilan & Bantuan Persalinan Penunjang Diagnostik Perawatan Gigi
•Rawat Inap & Rawat Jalan 100% sesuai ketentuan
Rehabilitatif Gigi Palsu Kaca Mata Alat Bantu
Sesuai dengan tabel harga
Program BPJS
ruang perawatan khusus.
Pelayanan kesehatan rujukan tingkat lanjutan terdiri atas pelayanan kesehatan tingkat kedua (spesialistik) dan pelayanan kesehatan tingkat ketiga (sub spesialistik).
Iuran
Setiap peserta BPJS akan ditarik iuran kepesertaan BPJS. Iuran kepesertaan pekerja formal, yang disepakati sebesar 5 persen dari gaji. Dari jumlah itu, sebanyak 4 persen menjadi kewajiban pengusaha, dan 1 persen menjadi kewajiban pekerja sendiri. Dengan iuran itu, pekerja dan keluarganya mendapat jaminan kesehatan.
Untuk sektor informal, maupun bukan pekerja (Pensiunan) besaran iuran premi ditanggung oleh pekerja sendiri atau bersangkutan yang dibayar setiap bulan. Bila ingin mendapatkan layanan kesehatan yaitu Kelas III, besaran iuran Rp25.500,-. Kelas II, besaran iuran Rp42.500,- dan Kelas I, besaran iuran Rp59.500,- per bulan. Bagi warga miskin dan tidak mampu, iuran BPJS ditanggung Pemerintah melalui Program Bantuan Iuran (PBI).
Besaran iuran pekerja formal dari Januari 2014 hingga Juni 2015, sebesar : 4,5% x upah (gaji + tunjangan) yakni 4% dari Pengusaha dan 0,5% dari Pekerja. Pada Bulan Juli 2015 dan seterusnya, sebesar 5% x Upah (gaji + tunjangan) yakni 4% dari Pengusaha dan 1% dari Pekerja.
Contoh penghitungan premi : karyawan a
Gaji : 5 Juta,
Tunjangan Jabatan : 0,95 juta,
Tunjangan Prestasi : 2 juta,
Total Upah : 7,95 Juta.
Karena basis hitung melewati 2 x PTKP K1, maka yang dijadikan dasar adalah maksimal 2 x PTKP K1 atau Rp4.725.000,-Perhitungan menjadi : Beban Perusahaan : 4% x Rp4.725.000,- => Rp189.000,-Beban Karyawan : 0.5% x Rp4.725.000,- => Rp23.625,- + Jumlah => Rp212.625,-Untuk Layanan kelas I, maksimal upah yang diperhitungkan 2 x PTKP (dengan status K/1) atau sebesar Rp4.725.000,-. Untuk sektor informal, maupun bukan pekerja (Pensiunan) besaran iuran premi ditanggung oleh pekerja sendiri atau bersangkutan yang dibayar setiap bulan.
Bila ingin mendapatkan layanan kesehatan Kelas III besaran iuran Rp25.500,-, Kelas II besaran iuran Rp42.500,- dan Kelas I besaran iuran Rp59.500,- per bulan. Bagi
warga miskin dan tidak mampu, iuran BPJS ditanggung Pemerintah melalui Program Bantuan Iuran.
Perbandingan
Adapun perbandingan lingkup jaminan atau pelayanan kesehatan antara Jasa Marga dan BPJS Kesehatan yang dijamin adalah untuk rawat jalan di Jasa Marga, administrasi, penunjang medis, pembelian obat-obatan, penggunaan alat penunjang diagnostik atas dasar rekomendasi dokter, tindakan medis sederhana, pemeriksaan kehamilan, seluruhnya mendapat penggantian dari perusahaan sebesar 80% dari total biaya yang timbul. Untuk pemeriksaan dokter umum atau dokter gigi maksimal Rp70.000,- dan pemeriksaan dokter spesialis: maksimal Rp110.000,-.
Sedangkan BPJS Kesehatan yang dijamin adalah administrasi pelayanan, pemeriksaan, pelayanan, pengobatan spesialistik oleh dokter spesialis dan sub spesialis. Tindakan medis spesialistik sesuai dengan indikasi medis. Rehabilitasi medis pelayanan obat dan bahan medis habis pakai, pelayanan alat kesehatan, implan, pelayanan penunjang diagnostik lanjutan sesuai dengan indikasi medis, rehabilitasi medis, pelayanan darah, pelayanan kedokteran forensik, pelayanan jenazah di fasilitas kesehatan.
Sementara itu yang tidak dijamin pada layanan kesehatan di Jasa Marga adalah rawat inap atau tindakan medis tersebut berkaitan dengan kosmetik dan penyakit HIV/AIDS. Tindakan medis yang tidak sesuai dengan standart profesi medis, pemberian vitamin atau sejenisnya yang tidak ada kaitannya dengan penyakit, pemberian obat herbal yang belum ada uji klinisnya, pengobatan kesuburan, medical check up (uji
kesehatan berkala pribadi), vaksinasi (kecuali imunisasi dasar), pemberian antibiotik yang sudah diketahui resisten.
Sedangkan yang tidak dijamin di BPJS Kesehatan adalah pelayanan kesehatan yang dilakukan tanpa melalui prosedur sebagaimana diatur dalam peraturan berlaku dan pelayanan kesehatan yang dilakukan di fasilitas kesehatan yang tidak bekerja sama dengan BPJS kesehatan kecuali keadaan darurat. Selain itu, pelayanan kesehatan yang dijamin oleh program jaminan kecelakaan kerja terhadap penyakit atau cedera akibat kecelakaan kerja atau hubungan kerja.
Begitupun dengan pelayanan kesehatan yang dilakukan di luar negeri, pelayanan kesehatan untuk tujuan estetik, pelayanan untuk mengatasi infertilitas, pelayanan untuk meratakan gigi (ortodensi), dan gangguan kesehatan atau penyakit akibat ketergantungan obat dan alkohol.
Gangguan kesehatan akibat menyakiti diri atau akibat dari melakukan hobi yang membahayakan diri sendiri juga tidak dijamin. Begitupun dengan pengobatan komplementer, alternatif dan tradisional, termasuk akupunktur, sin shei, chiropractic yang belum dinyatakan efektif berdasarkan penilaian teknologi kesehatan (Health
Technology Assessment). Pengobatan
dan tindakan medis yang dikategorikan sebagai percobaan (eksperimen), alat kontrasepsi, kosmetik, makanan bayi dan susu, perbekalan kesehatan rumah tangga. Pelayanan kesehatan akibat bencana pada masa tanggap darurat, kejadian luar biasa atau wabah, dan biaya pelayanan lainnya yang tidak ada hubungan dengan manfaat jaminan kesehatan yang diberikan.***
PESERTA FASKES PRIMER / TINGKAT PERTAMA FASKES LANJUTAN • DOKTER UMUM • DOKTER GIGI • PUSKESMAS • KLINIK PRATAMA • PUSKESMAS • KLINIK UTAMA • SPESIALIS • SUB SPESIALIS • RUMAH SAKIT LAYANAN RUJUKAN Clinic d ok . H cSP
BERITA
jalan
tol
NO. 162 2016JALUR
KHUSUS
16
sosialisasi BPJs kesehatan
Perusahaan Jamin
Kualitas Pemeliharaan Kesehatan
tidak Kurang
T
eRkaiT dengan MaSaLaH BPjS keSeHaTan, Kamis,19 November 2015, Divisi Human Capital Services (HCS) Kantor Pusat menggelar Rapat Koodinasi Bidang Sumber Daya Manusia (SDM) & Umum dengan para Deputy General Manager Human Resources & General Affair (DGM-HRGA) Kantor Cabang di Ruang Rapat Utama Kantor Pusat. Hadir dalam rapat, Direktur SDM & Umum, Muh Najib Fauzan yang menjadi pembicara, didampingi oleh General Manager (GM) HCS, Sutirya Wirias Sastra, Assitant Vice President (AVP) Human Capital Management System, Irwan Juansah dan Senior Manager Industrial Relation, Diana Kaniawati.Menyinggung masalah BPJS Kesehatan, Muh Najib Fauzan menyampaikan perihal rencana implementasi program BPJS. Dikatakan olehnya, bahwa sejak 1 Januari 2015 perusahaan BUMN wajib mengikuti program BPJS Kesehatan.
“Seperti halnya asuransi, BPJS Kesehatan sangatlah bermanfaat bagi setiap karyawan karena dari setiap iuran bulanan yang dibayarkan akan menjadi tabungan biaya
kesehatan dan penyembuhan. Jika pun tidak digunakan oleh seorang karyawan karena mungkin kondisinya yang selalu sehat, maka dana iuran bisa digunakan oleh karyawan lain layaknya subsidi silang,” jelas Najib.
Najib menambahkan, mahalnya biaya kesehatan di Indonesia menjadikan program BPJS Kesehatan merupakan salah satu solusi terbaik saat ini agar setiap karyawan mendapatkan jaminan biaya kesehatan dan penyembuhan khususnya bagi pengidap sakit yang berkelanjutan.
“Sebuah program tentunya ada kelemahan, diantara banyak kelebihan BPJS. Memang tidak semua pengobatan dan penyembuhan ditanggung oleh BPJS Kesehatan,” terang Najib. Namun Ia menegaskan bahwa perusahaan akan menanggung apa saja yang tidak di cover BPJS Kesehatan sehingga dipastikan kualitas jaminan pemeliharaan kesehatan keluarga dan karyawan tidak berkurang.
“Itu adalah tanggung jawab kami sebagai perusahaan kepada karyawan karena itu adalah janji kami,” tegasnya. Perihal Surat Edaran dalam hal “Sistem Pelayanan Kesehatan dan Implementasi
Program BPJS Kesehatan” berisi tentang informasi regulasi dan implementasi, pemanfaatan fasilitas BPJS Kesehatan, pendaftaran karyawan dan pensiunan, besaran iuran BPJS Kesehatan serta ketentuan tambahan. Surat tersebut akan segera disosialisasikan kepada seluruh karyawan di Kantor Pusat dan Cabang sehingga setiap karyawan dapat memanfaatkan Program BPJS Kesehatan dan juga dihimbau agar karyawan dapat bekerja secara optimal.
Pahami Mekanismenya
Sebelumnya, perusahaan telah melakukan sosialisasi BPJS Kesehatan ke seluruh Cabang dan Anak Perusahaan. Cabang Palikanci melakukan sosialisasi BPJS Kesehatan pada 25 Februari 2015 dengan menghadirkan pembicara, Vice Branch Manager of Marketing BPJS Kesehatan KCU Cirebon, Budi Sukwara didampingi GM Palikanci, Teddy Rosady.
Saat itu, Teddy mengharapkan agar karyawan memahami secara detail mekanisme layanan kesehatan ini dan berusaha aktif bertanya mengenai hal-hal
denverinsuranc
d
ok
. c
or
comm
perbedaan sistem yang baru ini yakni BPJS dengan sistem layanan kesehatan yang lama. “Apa keuntungan dan kerugiannya dari kedua sistem tersebut dalam hal ini dilakukan agar dengan sistem yang baru, karyawan tetap merasakan pelayanan yang lebih baik,”ujar Teddy.
Selain kepada karyawan, Cabang Palikanci juga melakukan sosialisasi BPJS Kesehatan kepada istri karyawan yang tergabung dalam IIK (Ikatan Istri Karyawan). Kegiatan ini disambut baik oleh peserta mengingat informasi mengenai mekanisme dan proses BPJS belum banyak diketahui oleh para keluarga karyawan Cabang Palikanci.
Menggantikan Lembaga Sosial
Sementara itu, sosialisasi BPJS yang dilakukan di Anak Perusahaan, Trans Marga Jateng yang menghadirkan narasumber Kepala Pemasaran BPJS Kesehatan Cabang Utama Semarang, Andri Nurcahyanto, SKM, AAK, karyawan dijelaskan mengapa perusahaan saat ini harus menggunakan BPJS Kesehatan, manfaat yang diraih, dan mengenai faskes tingkat satu serta faskes lanjutan untuk wilayah Semarang dan sekitarnya.
Andi juga menjelaskan tentang Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2011, dimana BPJS kelak akan menggantikan sejumlah lembaga jaminan sosial yang ada di Indonesia yaitu lembaga asuransi jaminan kesehatan PT. Askes Indonesia menjadi BPJS Kesehatan dan lembaga jaminan sosial ketenagakerjaan PT. Jamsostek menjadi BPJS Ketenagakerjaan. Transformasi PT. Askes dan PT. Jamsostek menjadi BPJS dilakukan secara bertahap.
“Pada awal 2014 PT. Askes akan menjadi
PT. Jamsostek menjadi BPJS Ketenagakerjaan. BPJS sendiri berkantor pusat di Jakarta, dan bisa memiliki kantor perwakilan di tingkat provinsi serta kantor cabang di tingkat kabupaten kota,” jelas Andi.
Peran Serta SKJM
Cabang Semarang melaksanakan sosialisasi BPJS Kesehatan, awal Juni 2015 dengan menghadirkan pembicara Sutarso, Staf Marketing BPJS Kota Semarang. Hadir dalam kesempatan tersebut Deputy GM, Manager, Ketua dan Sekertaris DPC SKJM Semarang dan karyawan Cabang Semarang.
Ari Muladi, Deputy GM HR & GA yang mewakili GM Semarang menyampaikan
bahwa sosialisasi ini sangat bermanfaat, bisa menambah pengetahuan karyawan dalam menyambut persiapan pelaksanaan program BPJS Kesehatan yang diberlakukan perusahaan dan mengacu pada Peraturan Pemerintah.
“Perusahaan juga mengharap peran serta SKJM dalam usaha mensukseskan program ini, meskipun seluruh karyawan di Semarang saat ini masih menggunakan sistem pengobatan lama, sambil menunggu petunjuk pelaksanaan Program BPJS Kesehatan dari Kantor Pusat, kami sangat mengharapkan dukunganya,” ujar Ari.
Sutarso mengatakan, program BPJS kesehatan ini manfaatnya telah dirasakan masyarakat luas, khususnya perusahaan yang melaksanakan Program Coordination
of Benefit (COB), para karyawan tidak akan
kehilangan hak mendapat pelayanan kesehatan selama patuh mengikuti peraturan, dan tahapan-tahapan yang telah ditetapkan oleh BPJS dan perusahaan masing-masing.
Demi menyamakan persepsi agar pelayanan kesehatan karyawan lebih baik lagi, terkait program BPJS Kesehatan, Cabang Jakarta-Cikampek (Jakpek) melakukan pertemuan khusus membahas pola kerjasama dan menyiapkan draft bentuk kerjasama yang terdiri dari 18 pasal. Rapat dihadiri 20 Rumah Sakit yang telah melakukan kerjasama pelayanan kesehatan dengan Cabang Jakpek. Hadir dalam acara ini Djutiswanto, DGM HR & GA Cabang Jakarta-Cikampek, Herman, Manager HR Cabang Jakarta-Cikampek, didampingi dr. Herri Harianto sebagai dokter perusahaan.
Herman menjelaskan, fasilitas kesehatan khususnya rawat inap karyawan tidak dikurangi dan apabila program BPJS di Cabang Jakarta-Cikampek berjalan maka karyawan Jakpek tetap mendapat fasilitas seperti pasien umum, bukan BPJS.
“Untuk itu kita berlakukan cost sharing artinya, dalam hal pembayaran BPJS lebih kecil dari biaya layanan kesehatan yang diberikan oleh rumah sakit, maka Jasa Marga berkewajiban membayar selisih tagihan atas biaya layanan kesehatan tersebut, tentunya pembayaran akan dilakukan setelah melalui proses verifikasi administrasi oleh pihak BPJS melalui sistem tarif INA-CBG’s, artinya fasilitas karyawan tidak dikurangi,” jelas Herman.
Dua bulan kemudian, Cabang Jakarta-Cikampek kembali mengadakan diskusi tentang fungsi dan kegunaan kartu BPJS. Diskusi ini dihadiri beberapa perwakilan dari gerbang tol setingkat KSPT dan Kepala Gerbang Tol, serta beberapa perwakilan para karyawan purnabakti Jakpek.
Diskusi dilaksanakan agar fungsi dan kegunaan kartu BPJS yang telah dimiliki semua karyawan dapat dimanfaatkan, bila terjadi kendala di lapangan segera disampaikan ke unit Human Resources untuk dilakukan evaluasi.
Nazarudin, Senior Manager
Remuneration, mengatakan,” Program BPJS yang telah kita ikuti sejak 1 Januari 2015, akan terus kita jalankan, dan saat ini kita sedang proses lebih kurang 3000 karyawan purnabakti Jasa Marga beserta keluarga untuk mengikuti program ini. Mudah-mudahan kartu mereka sudah keluar.”
Sementara itu, untuk proses migrasi terhadap penyakit berkelanjutan seperti diabetes dan penyakit lainnya, beberapa karyawan yang telah menjalani proses pengobatan tersebut, tetap menerima fasilitas yang sama seperti sebelum
menggunakan fasilitas BPJS. Pada prinsipnya, Jasa Marga tetap akan meng-cover semua fasilitas yang tidak didapat dalam fasilitas BPJS Kesehatan. ***
BERITA
jalan
tol
NO. 162 2016JALUR
KHUSUS
18
d ok . B jTL
aPoRkan SeMua keLuHan,ketidaknyamanan, kesulitan yang Anda dapatkan saat berobat menggunakan fasilitas BPJS, kami siap menampung dan mengkomunikasikan pada pihak provider!” tegas Mega Yudha Ratna Putra, Kepala Cabang BPJS Kesehatan Prima saat ditemui
Majalah Berita Jalan Tol di Ruang Kerjanya.
Mega juga menambahkan, layanan tersebut berlaku dua puluh empat jam dan tujuh hari dalam seminggu. Jadi, tiada batasan waktu. Inilah salah satu bentuk layanan khusus dari BPJS Kesehatan bagi karyawan BUMN dan perusahaan swasta besar dengan karyawan minimal 2000 orang yang dikenal dengan BPJS Kantor Cabang Prima.
Kantor Cabang Prima (KC Prima) ini berlokasi di Jalan Hasanudin, Kebayoran, Jakarta Selatan. Dengan beroperasinya BPJS Kesehatan KC Prima ini, diharapkan BUMN dan perusahaan swasta lebih mudah mendaftarkan karyawannya sebagai peserta Jaminan Kesehatan. Peserta tidak perlu mengantri panjang seperti di kantor cabang biasa. BPJS Kesehatan KC Prima ini akan melayani secara personal dan bisa melakukan kunjungan ke kantor untuk sosialisasi.
“Karena segmen kami terbatas maka kesannya tidak hiruk-pikuk dan lebih personal, bisa dihubungi every time, every day ” tambah Mega.
Lebih lanjut dijelaskan oleh Mega bahwa ruang lingkup pelayanan BPJS Kesehatan KC Prima mencakup mengelola koordinasi manfaat (Coordination of Benefit / CoB) dengan asuransi komersial, mengelola program Jaminan Kesehatan bagi BUMN yang berkantor pusat di Jabodetabek, mengelola program Jaminan Kesehatan untuk badan usaha swasta besar yang berkantor pusat di Jabodetabek dengan jumlah pekerja minimal 2.000 orang.
“Dibentuknya Kantor Cabang Prima ini setelah mendapat masukan dari teman-teman di BUMN dan perusahaan swasta yang ingin mendapatkan pelayanan khusus
Mega Yudha raTna PuTra
BPJs Kesehatan PRiMa
KaPan Pun
KaMi Bisa DihuBungi
mengingat pendaftaran di BPJS biasa sangat banyak dan padat. Di Kantor Cabang Prima ini, kami menyediakan kontak personal antara officer kami dengan perusahaan peserta BPJS atau Relation Officer atau RO,” jelas Mega.
Karena ditangani oleh satu orang, maka komunikasi tidak akan pernah putus. Jika hari ini peserta bicara A maka keesokan harinya masih bisa membahas masalah tersebut tanpa harus mengulangi.
Tak Pernah Putus
Melalui RO komunikasi apapun bisa ditanyakan dan disampaikan berbagai informasi yang ingin diketahui peserta seperti komunikasi data, iuran, dan sebagainya. Begitupun dengan keluhan saat berobat. Meski di setiap rumah sakit ada BPJS Center, namun RO tetap bisa menampung dan memberi info yang diinginkan peserta.
“Namun, saran kami jika menemui kendala, lebih baik hubungi BPJS Center mengingat BPJS Center itu memiliki fungsi sebagai layanan informasi, administrasi, keluhan dan mitra kami di rumah sakit. Jadi jika sudah menghubungi petugas di BPJS Center tidak perlu lagi menghubungi RO,” jelas Mega.
Namun, jika berada di klinik dan tak ada BPJS Center bisa menelpon RO.
Segala keluhan langsung dikomunikasikan ke kantor cabang setempat.
KC Prima juga menginfokan nama-nama PIC yang berada di rumah sakit beserta nomor telepon yang bisa dihubungi. Selain itu hotline service kantor cabang di seluruh Indonesia dan bisa dihubungi setiap saat. Begitupun dengan call centre 1500400.
“Semua titik layanan informasi kami bisa dihubungi,” tegas Mega. Mega juga menambahkan, semua yang berkaitan dengan pelayanan pihak rumah sakit atau faskes tingkat satu maupun tingkat lanjutan, jika mengalami kendala bisa diinfokan ke BPJS. Hanya jika terkait dengan jumlah rumah sakit atau faskes yang kurang memadai, tarif rumah sakit dan SDM yang ada, BPJS tidak menangani. Namun karena BPJS ada forum komunikasi dengan rumah sakit, BPJS akan membantu semampunya menginfokan keluhan yang ada di peserta.
“Memang sejak dibukanya kran layanan kesehatan masyarakat yang berbasis sosial ini, rumah sakit atau fasilitas kesehatan masyarakat banyak dikunjungi pasien. Pasien yang tadinya tidak mampu berobat karena terkait dana, kini melakukan pengobatan. Kondisi ini menyebabkan rumah sakit yang bekerjasama dengan BPJS kebanjiran pasien,” ujar Mega.
Kondisi ini mengoreksi kenyamanan masyarakat yang sebelumnya tidak pernah mengalami hal seperti itu. Inilah yang akhirnya menimbulkan keluhan dan permasalahan, yang akhirnya membuat
banyak orang enggan berhubungan dengan
BPJS. Namun, dengan sosialisasi BPJS dan diwajibkannya lembaga pemerintah maupun swasta untuk ikut program ini, memungkinkan rumah sakit maupun fasilitas kesehatan masyarakat makin banyak yang
Mega yudha Ratna Putra Kepala Cabang BPJS Kesehatan Prima
Jika hal ini sudah terjadi, keluhan tentang antrian yang panjang, kemungkinan besar tidak ada lagi.
“Tetapi saat ini banyak rumah sakit yang mulai membuka layanan pada Hari Sabtu dan Minggu. Hal ini dilakukan untuk menampung pasien yang tidak sempat berobat di hari kerja atau selain hari libur,” tambah Mega.
Moral Hazard
Berdasarkan Undang-Undang No 24 tahun 2011 tentang BPJS, perusahaan wajib mengikutsertakan pegawai mereka untuk mengikuti program ini. Perusahaan yang pegawainya diikutkan dalam program ini akan mendapat manfaat karena kesehatan adalah hak para pegawai dan keluarganya. Perusahaan juga harus melakukan kewajiban membayarkan premi untuk peserta sebesar 4%.
Kondisi kesehatan pekerja merupakan perhatian yang penting dan terkait dengan peningkatan kualitas kerja. Namun, kendala yang ada selama ini adalah masalah pengetahuan tentang kesehatan baik tentang penyakit maupun layanan kesehatan yang diterima oleh para peserta. Melalui Program BPJS kendala tersebut berusaha diatasi dengan adanya managed
care.
Program BPJS wajib diikuti para pengusaha. Sesuai UU nomor 24 tahun 2011 tentang BPJS dan diperkuat Peraturan Pemerintah (PP) No 86 tahun 2013, disebutkan dengan tegas bahwa setiap badan usaha yang tidak mengikutsertakan pekerjanya dalam program BPJS dapat diberi sanksi tegas. Adapun, sanksi tersebut bisa berupa pencabutan izin usaha, tidak bisa mengikuti tender proyek, tidak dapat mengurus SIM, KTP dan paspor.
Menurut Mega, Konferensi ILO pun mewajibkan perusahaan memberi
perlindungan kesehatan pada karyawannya. Mengingat kesehatan sangat mahal terkait inflasi kesehatan yang lebih tinggi dibanding lainnya, teknologi yang semakin canggih, obat-obatan bermutu, maka tak semua orang bisa menjangkaunya. Padahal sehat itu adalah hak setiap orang. Untuk itulah dilakukan subsidi silang melalui Program BPJS Kesehatan.
Kondisi lainnya adalah adanya informasi yang tidak balance di rumah sakit sehingga terkadang pelayanan rumah sakit sangat berlebihan, melakukan pemeriksaan yang seharusnya bukan tuntutan pasien. Selain itu, masyarakat saat ini sudah semakin pintar, harusnya mereka datang ke dokter dengan keluhan penyakit tapi memanfaatkan sarana
medis untuk hal yang seharusnya bukan tuntutan kesehatanya, seperti meminta dokter melakukan USG pada janin, hanya ingin tahu jenis kelamin bayinya. Jadi, ini terkait dengan moral hazard.
“Bahkan ada yang hanya batuk-batuk sedikit saja sudah minta di rontgen, mumpung dibiayai perusahaan,” ujar Mega. Dengan demikian biaya kesehatan di perusahaan menjadi sangat tinggi.
Terkait dengan moral hazard tersebut, apakah ada kemungkinan di Program BPJS melakukan hal serupa? Mega menjelaskan, tidak mungkin.
” Ini kan uang pemerintah, ada auditnya, jadi tak akan mungkin hal-hal seperti itu masuk ranah kami. Kami sifatnya memberi pelayanan secara personal pada setiap orang, selain itu biayanya juga tidak tinggi bahkan pada masyarakat kurang mampu gratis, sehingga kemungkinan melakukan hal-hal yang tidak diinginkan, saya rasa tidak bisa,” tegas Mega.
Target ke Depan
Melalui Program BPJS, peserta juga bisa melakukan kombinasi layanan kesehatan di rumah sakit. Jika ingin menaikan fasilitas pelayanan rumah sakit selaras dengan keinginannya, bisa dilakukan. Misal, di Program BPJS mendapat fasilitas layanan Kelas I sementara peserta ingin mendapat layanan VIP. Peserta BPJS bisa mengkomunikasikan dengan rumah sakit. Nanti, peserta tinggal membayar kekurangannya dari fasilitas yang diterima di Kelas I dengan fasilitas di VIP. Kombinasi kelola ini sangat dimungkinkan.
Mengenai fasilitas kesehatan tingkat
pertama, Mega menyarankan agar setiap klinik di perusahaan mendaftarkan diri menjadi fasilitas kesehatan tingkat pertama. Hal ini dilakukan agar karyawan tidak merasa terganggu dengan kerjanya, tanpa harus keluar kantor, dan memperoleh kenyamanan mengingat terbiasa berobat di tempat tersebut. Selain itu, tidak merasa turun layanan kesehatannya.
Menyinggung target layanan BPJS ke depan, Mega menyatakan bahwa di Jabodetabek kami berkomitmen agar rumah sakit tidak ada tambahan biaya saat peserta menggunakan haknya. Namun, Mega mengingat pada peserta BPJS agar saat menerima pelayanan di rumah sakit dan ditanya, umum atau BPJS? Segera jawab BPJS jangan jawab umum sebab kalau menjawab umum, semua penanganan langsung dibuat menjadi pelayanan umum.
“Ini harus diingat dan dipahami benar oleh peserta BPJS, sebab untuk selanjutnya dari umum tidak akan bisa pindah ke BPJS. Jadi, misal kita sudah kena jumlah pembayaran 60 juta, lantas baru kita bilang bahwa kita peserta BPJS, layanan tidak akan bisa berubah dan peserta tetap dikenakan dana sejumlah itu,” ujar Mega.
Kelak, jika BPJS ini sudah merata dimanfaatkan rakyat Indonesia, maka tak ada pelayanan kesehatan yang melebihi kemampuan bayar rakyat Indonesia, dimana semua penyakit ditanggung pemerintah. Mega berharap semoga semua ini bisa berjalan dengan baik sehingga pemerataan kesehatan dan kesejahteraan bangsa Indonesia bisa segera terwujud.