• Tidak ada hasil yang ditemukan

1. Memahami dan menjelaskan trauma pelvis. 1. trauma buli-buli (vesika urinaria= kandung kemih)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "1. Memahami dan menjelaskan trauma pelvis. 1. trauma buli-buli (vesika urinaria= kandung kemih)"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

1. Memahami dan menjelaskan trauma pelvis 1. trauma buli-buli (vesika urinaria= kandung kemih) Faktor Resiko :

Evaluasi lengkap penting pada pasien dengan fraktur pelvis berkekuatan-tinggi karena kejadian ini jarang terjadi sebagai cedera tersendiri. Daya yang sama yang menyebabkan disrupsi cincin pelvis sering dihubungkan dengan cedera abdomen, kepala, dan toraks. Sebagai tambahan terhadap cedera-cedera ini, 60-80% pasien dengan fraktur pelvis berkekuatan tinggi memiliki hubungan lain dengan cedera muskuloskeletal, 12% berhubungan dengan cedera urogenital dan 8% berhubungan dengan cedera pleksus lumbosacralis.

Etiologi : cedera dari luar, cedera iatrogenik, patah tulang panggul. Gejala klinis :

a. nyeri suprapubik,

b. ketegangan otot dinding perut bawah c. ekstravasasi kontras pada sistogram

prinsip pembedahan ruptur :

1. penyaluran ruang perivesikel 2. pemulihan dinding buli-buli

3. penyaliran kandung kemih melalui sistostomi 4. kateter foley di uretra untuk menjamin arus urin

ruptur kandung kemih intraperitoneal dapat menimbulkan gejala dan tanda rangsang peritoneumtermasuk defans muskuler dan sindrom ileus paralitik.

Ruptur ekstraperitoneal saluran kemih dapat menimbulkan gejala dan tanda infiltrat urin retriperitoneal yang mudah menimbulkan septisemia.

Diagnosis :

Pemeriksaan radiologik :sistogram untuk mengetahui apakah ada ruptur, lokasi intra atau ekstra.

Bila tidak dijumpai ekstravasasi diagnosisnya adalah kontusio buli-buli. Pada ruptur ekstraperitoneal, gambaran ekstravasasi terlihat seperti nyala api pada daerah perivesikel, sedangkan ruptur pada intraperitoneal terlihat kontras masuk kerongga abdomen.

Penatalaksanaan

 ABC merupakan manajemen yang utama

 Koreksi hipovolemia : paling tidak 2 jalur IV ukuran besar terpasang

 Kirim darah untuk FBC, urea/elektrolit/kreatinin, profil koagulasi, dan rapid matched blood.siapkan 4-6 unit darah

 Lakukan pemeriksaan Fisik :

1. Pembengkakan area suprapubik atau groin area.

2. ekimosis pada genitalia eksterna, paha bagian medial dan area flank. 3. darah dari urethra.

4. abrasi, kontusio dari tulang yang menonjol 5. step-off, instabilitas

(2)

catatan : (1) jangan mencoba untuk melakukan test goyang pelvis untuk menentukan stabilitas karena hal ini tidak reliable, tidak diperlukan dan dapat menyebabkan perdarahan tambahan. (2) laserasi perineum, groin atau buttock setelah trauma mengindikasikan adanya fraktur pelvic terbuka kecuali terbukti bukan. (3) pemeriksaan neurology harus dilakukan dimana injury pleksus sakralis dapat terjadi.

 Injury lain yang terkait :

1. inspeksi perineum untuk mencari luka terbuka

2. lakukan pemeriksaan rectum untuk menentukan posisi prostate, merasakan spikula tulang dan mencari adanya darah.

3. lakukan pemeriksaan vagina untuk mencari luka terbuka.

4. jika ada bukti injury uretra, misalnya darah pada meatus, memar pada skrotum atau prostate letak tinggi, hati-hati pada fraktur pelvic yang dapat tidak stabil.  Jangan masukkan kateter. Konsulkan pada urologist untuk kemungkinan pemasangan

kateter suprapubik.

 Lakukan X ray pelvic untuk mencari kerusakan dan asimetri dari simphisis pubis.  Berikan analgesik yang adekuat.

 Mulai pemberian antibiotik pada kasus fraktur terbuka.

 Gunakan Sandbags untuk mensupport fraktur pelvic yang tidak stabil.

 Rujuk ke orthopaedics untuk mengurangi dan meng-imobilisasi fraktur dengan C-clamp external fixator.

 Jika control perdarahan gagal, pertimbangkan angiografi dan embolisasi.

2. Memahami dan menjelaskan trauma uretra PENGERTIAN

Ruptur uretra adalah ruptur pada uretra yang terjadi langsung akibat trauma dan kebanyakan disertai fraktur tulang panggul, khususnya os pubis (simpiolisis). Dibagi atas:

a. Ruptur uretra posterior yang terletak proksimal diafragma urogenital b. Ruptur uretra anterior yang terletak distal diafragma urogenital RUPTUR URETRA DIBAGI DUA MACAM :

1. Ruptur uretra anterior : paling sering pada bulbosa disebut Straddle Injury, dimana robekan uretra terjadi antara ramus inferior os pubis dan benda yang menyebabkannya.

2. Ruptur uretra posterior : paling sering pada membranacea.

Cedera menyebabkan memar dinding dengan atau tanpa robekan mukosa baik parsial atau total. Ruptur uretra posterior hampir selalu disertai fraktur tulang pelvis.

Etilogi :

(3)

Gejala klinis :

Pada ruptur uretra posterior, terdapat tanda patah tulang pelvis. Pada daerah suprapubik dan abdomen bagian bawah, dijumpai jejas hematom, dan nyeri tekan.

Pada ruptur uretra anterior terdapat daerah memar atau hematom pada penis dan skrotum. Terdapat tetes darah pada uretra. Nyeri tak bisa buang air kecil sejak trauma menunjukan ruptur uretra total. Nyeri perut bawah.

RUPTUR URETRA POSTERIOR - Terdapat tanda patah tulang pelvis.

- Pada daerah suprapubik dan abdomen bagian bawah dijumpai jejas, hematom dan nyeri tekan.

- Bila disertai ruptur kandung kemih bisa ditemukan tanda rangsangan peritoneum. RUPTUR URETRA ANTERIOR

- Terdapat daerah memar atu hematom pada penis dan scrotum (kemungkinan ekstravasasi urine).

RUPTUR URETRA TOTAL

- Penderita mengeluh tidak bisa buang air kecil sejak terjadi ruda paksa. - Nyeri perut bagian bawah dan daerah supra pubic.

- Pada perabaan mungkin dijumpai kandung kemih yang penuh. Diagnosis:

Ruptur uretra posterior dicurigai jika ada darah sedikit di maetus uretra disertai patah tulang pelvis. Pemeriksaan colok dubur ditemukan prostat seperti mengapung karena tidak terfiksasi lagi pada diafragma urogenital.

Ruptur uretra anterior timbul bila ada riwayat cedera kangkang atau instrumentasi dan darah yang menetes dari maetus uretra.

Pemeriksaan radiologik dengan uretrogram retrograd dapat memberi keterangan letak tipe ruptur uretra.

PEMERIKSAAN PENUNJANG PEMERIKSAAN RADIOLOGIK

- Tampak adanya defek uretra anterior daerah bulbus dengan ekstravasasi bahan kontras uretografi retrograd.

Terapi:

Bila ruptur uretra posterior tidak disertai sedera organ intrasbdomen atau organ lain, cukup dilakukan sistostomi. Bila disertai cedera organ lain sehingga tidak mungkin dilakukan reparasi, sebaiknya dilakukan pemasangan kateter secara langsir.

(4)

Pada ruptur uretra anterior total perlu dilakukan pemulihan uretrea dengan anatomis ujung ke ujung melalui sayatan perineal.

PENATALAKSANAAN

- Pada ruptur anterior yang partial cukup dengan memasang kateter dan melakukan drainase bila ada.

- Pada anterior ruptur yang total hendaknya sedapat mungkin dilakukan penyambungan dengan membuat end-to-end, anastomosis dan suprapubic cystostomy.

- Pada ruptur uretra posterior yang total suprapubic cystostomy 6-8 minggu.

- Pada ruptur uretra posterior yang partial cukup dengan memasang douwer kateter.

3. Memahami dan menjelaskan gangguan kesadaran 3.1 menjelaskan definisi

3.2 menjelaskan fisiologi dan patofisiologi

Kesadaran merupakan fungsi utama susunan saraf pusat. Untuk mempertahankan fungsi kesadaran yang baik, perlu suatu interaksi yang konstan dan efektif antara hemisfer serebri yang intak dan formasio retikularis di batang otak. Gangguan pada hemisfer serebri atau formasio retikularis dapat menimbulkan gangguan kesadaran. Bergantung pada beratnya kerusakan, gangguan kesadaran dapat berupa apati, delirium, somnolen, sopor atau koma. Koma sebagai kegawatan maksimal fungsi susunan saraf pusat memerlukan tindakan yang cepat dan tepat, sebab makin lama koma berlangsung makin parah keadaan susunan saraf pusat sehingga kemungkinan makin kecil terjadinya penyembuhan sempurna.

ANATOMI FISIOLOGI :

Lintasan asendens dalam susunan saraf pusat yang menyalurkan impuls sensorik protopatik, propioseptik dan perasa pancaindra dari perifer ke daerah korteks perseptif primer disebut lintasan asendens spesifik atau lintasan asendens lemniskal. Ada pula lintasan asendens aspesifik yakni formasio retikularis di sepanjang batang otak yang menerima dan

menyalurkan impuls dari lintasan spesifik melalui koleteral ke pusat kesadaran pada batang otak bagian atas serta meneruskannya kenukleus intralaminaris talami yang selanjutnya disebarkan difus keseluruh permukaan otak.

PATOFISIOLOGI Lesi Supratentorial

Pada lesi supratentorial, gangguan kesadaran akan terjadi baik oleh kerusakan langsung pada jaringan otak atau akibat penggeseran dan kompresi pada ARAS karena proses tersebut maupun oleh gangguan vaskularisasi dan edema yang diakibatkannya. Proses ini menjalar secara radial dari lokasi lesi kemudian ke arah rostro kaudal sepanjang batang otak. Gejala gejala klinik akan timbul sesuai dengan perjalan proses tersebut yang dimulai dengan gejala gejala neurologik fokal sesuai dengan lokasi lesi.

Lesi infratentorial

Pada lesi infratentorial, gangguan kesadaran dapat terjadi karena kerusakan ARAS baik oleh proses intrinsik pada batang otak maupun oleh proses ekstrinsik.

Gangguan difus (gangguan metabolik)

Pada penyakit metabolik, gangguan neurologik umumnya bilateral dan hampir selalu

simetrik. Selain itu gejala neurologiknya tidak dapat dilokalisir pada suatu susunan anatomik tertentu pada susunan saraf pusat.

(5)

Gangguan sirkulasi darah

Untuk mencukupi keperluan dan glukosa, aliran darah ke otak memegang peranan penting. Bila aliran darah ke otak berkurang, dan glukosa darah juga akan berkurang.

Toksin

Gangguan kesadaran dapat terjadi oleh toksin yang berasal dari penyakit metabolik dalam tubuh sendiri atau toksin yang berasal dari luar/akibat infeksi.

ETIOLOGI

A. Menurut kausa : 1. Kelainan otak

--trauma : komosio, kontusio, laserasio, hematoma epidural, hematomasubdural. --gangguan sirkulasi : perdarahan intraserebral, infark otak oleh trombosis dan emboli. -- radang : ensefalitis, meningitis.

-- neoplasma : primer, metastatik. -- epilepsi : status epilepsi. 2. Kelainan sistemik

-- gangguan metabolisme dan elektrolit : hipoglikemia, diabetik ketoasidosis, uremia, gangguan hepar, hipokalsemia, hiponatremia.

-- hipoksia : penyakit paru berat, kegagalan jantung berat,anemia berat. --toksik : keracunan CO, logam berat, obat, alkohol.

B. Menurut mekanisme gangguan serta letak lesi : --gangguan kesadaran pada lesi supratentorial. -- gangguan kesadaran pada lesi infratentorial. -- gangguan difus (gangguan metabolik). KLINIK

Kesadaran mempunyai 2 aspek yakni derajat kesadaran dan kualitas kesadaran. Derajat kesadaran atau tinggi rendahnya kesadaran mencerminkan tingkat kemampuan sadar seseorang dan merupakan manifestasi aktifitas fungsional ARAS terhadap stimulus somato sensorik. Kualitas kesadaran atau isi kesadaran menunjukkan kemampuan dalam mengenal diri sendiri dan sekitarnya yang merupakan fungsi hemisfer serebri. Perbedaan kedua aspek tersebut sangat penting sebab ada beberapa bentuk gangguan kesadaran yang derajat

kesadarannya tidak terganggu tetapi kualitas kesadarannya berubah. Dalam klinik dikenal tingkat-tingkat kesadaran : kompos mentis, inkompos mentis (apati, delir, somnolen, sopor, koma)

Kompos mentis :

Keadaan waspada dan terjaga pada seseorang yang bereaksi sepenuhnya dan adekuat terhadap rangsang visuil, auditorik dan sensorik.

Apati :

sikap acuh tak acuh, tidak segera menjawab bila ditanya.

Delir : kesadaran menurun disertai kekacauan mental dan motorik seperti desorientasi, iritatif, salah persepsi terhadap rangsang sensorik, sering timbul ilusi dan halusinasi. Somnolen :

penderita mudah dibangunkan, dapat lereaksi secara motorik atau verbal yang layak tetapi setelah memberikan respons, ia terlena kembali bila rangsangan dihentikan.

(6)

penderita hanya dapat dibangunkan dalam waktu singkat oleh rangsang nyeri yang hebat dan berulang-ulang.

Koma :

tidak ada sama sekali jawaban terhadap rangsang nyeri yang bagaimanapun hebatnya.

PENANGGULANGAN

Harus dilakukan cepat dan tepat. Gangguan yang berlangsung lama dapat menyebabkan kerusakan yang ireversibelbahkan kematian. Terapi bertujuan mempertahankan homeostasis otak agar fungsi dan kehidupan neuron dapat terjamin.

Terapi umum :

1. resusitasi kardio-pulmonal-serebral meliputi :

a. memperbaiki jalan napas berupa pembersihan jalan napas, sniffing position, artificial airway, endotrachealinlubation, tracheotomy.

b. pernapasan buatan dikerjakan setelah jalan napas sudah bebas berupa : -- pernapasan mulut ke mulut/hidung.

-- pernapasan dengan balon ke masker.

-- pernapasan dengan mesin pernapasan otomatis. c. peredarah darah

Bila peredaran darah terhenti, diberikan bantuan sirkulasi berupa : -- kompresi jantung dari luar dengan tangan.

-- kompresi jantung dari luar dengan alat. d. obat-obatan

Dalam keadaan darurat dianjurkan pemberian obat secara intravena, seperti epinefrin, bikarbonas, deksametason,glukonas kalsikus dan lain-lain.

e. elektrokardiogram dilakukan untuk membuat diagnosis apakah terhentinya peredaran darah karena asistol, fibrilasi ventrikel atau kolaps kardiovaskuler.

f. resusitasi otak tidak banyak berbeda dengan orang dewasa, bertujuan untuk melindungi otak dari kerusakan lebih

lanjut.

g. intensive care

2. anti konvulsan bila kejang. Terapi kausal :

segera dilakukan setelah diagnosis ditegakkan. RINGKASAN

Untuk mempertahankan fungsi kesadaran yang baik, perlu interaksi yang konstan dan efektif antara hemisfer serebri dan formasio retikularis di batang otak. Penyebab gangguan

kesadaran ialah multi faktorial dengan proses patologis yang berlokasi supratentorial, infratentorial ataupun difus dalam susunan saraf pusat. Pada lesi supratentorial dan

infratentorial, gangguan kesadaran terjadi karena kerusakan pada "ARAS" sedangkan gang-guan difus oleh kekurangan oksigen, kekurangan glukosa, ganggang-guan

peredaran darah serta pengaruh toksin. Kesadaran meliputi dua aspek yakni derajat kesadaran dan kualitas kesadaran. Tingkat kesadaran dapat berupa kompos mentis, apati, delir, sopor dan koma. Untuk menentukan derajat gangguan kesadaran sehari-hari dalam klinik dapat digunakan GlasgowComa Scale yang menilai kesadaran menurut 3 aspek yaitu kemampuan membuka mata, aktifitas motorik dan kemampuan bicara. Pemeriksaan klinik dan neurologik secara sistematis perlu untuk dapat mengetahui etiologi dan letaknya proses patologik

(7)

penyebab gangguan kesadaran. Penanggulangan gangguan kesadaran harus dilakukan cepat dan tepat untuk menghindari terjadinya kematian dan kerusakan

otak yang lebih berat

3.3 menjelaskan cara penilaian kesadaran PENENTUAN TINGKAT KESADARAN

Batas antara berbagai derajat kesadaran tidak jelas.Untuk menentukan derajat gangguan kesadaran dapat digunakan:

A. Glasgow Coma Scale = CGS

B. Glasgow Pitsburgh Coma Scale = GPCS (modifikasi CGS) Pada GSC tingkat kesadaran dinilai menurut 3 aspek :

1. kemampuan membuka mata : EYE opening= E 2. aktifitas motorik : MOTOR response = M 3. kemampuan bicara : VERBAL response = V

1. Kemampuan membuka mata

a. dapat membuka mata sendiri secara spontan : 4 b. dapat membuka mata atas perintah : 3

c. dapat membuka mata atas rangsang nyeri : 2

d. tak dapat membuka mata dengan rangsang nyeri apapun :1 2. Aktifitas motorik

Dinilai anggota gerak yang memberikan reaksi paling baik dan tidak dinilai pada anggota gerak dengan fraktur/kelumpuhan. Biasanya dipilih lengan karena gerakannya lebih bervariasi daripada tungkai.

a. mengikuti perintah : 6

b. adanya gerakan untuk menyingkirkan rangsangan yang diberikan pada beberapa tempat : 5

c. gerakan fleksi cepat disertai dengan abduksi bahu : 4 d. fleksi lengan disertai aduksi bahu : 3

e. ekstensi lengan disertai aduksi : 2 f. tidak ada gerakan : 1

3. Kemampuan bicara

Menunjukkan fungsi otak dengan integritas yang paling tinggi. a. orientasi yang baik mengenai tempat, orang dan waktu : 5 b. dapat diajak bicara tetapi jawaban kacau : 4

c. mengeluarkan kata-kata yang tidak dimengerti : 3 d. tidak mengeluarkan kata, hanya bunyi : 2

e. tidak keluar suara : 1

4. Memahami dan menjelaskan trauma mata

4.1 menjelaskan klasifikasi kegawatan daruratan pada trauma mata 1. sangat gawat (detik-menit)

- oklusi arteri retina sentral - trauma kimia basa / asam kuat 2. gawat ( jam)

(8)

- glaukoma akut - laserasi bola mata - luksasi lensa anterior 3. semi gawat (hari- minggu)

- ablasi retina - fraktur orbita

- benda asing intraokuler

4.2 menjelaskan jenis2 trauma tumpul pada mata (hifema) a) trauma tumpul pada mata : hematoma kelopak

b) trauma tumpul konjungtiva : edema konjungtiva, hematoma subkonjungtiva

c) trauma tumpul pada kornea : edema kornea, erosi kornea, erosi kornea rekuren

d) trauma tumpul uvea :iridoplegia, iridodialisis, hifema e) trauma tumpul pada lensa: dislokasi lensa, subluksasi lensa f) trauma tumpul retina dan koroid: ablasi retina

Hifema atau darah di dalam bilik mata depan terjadi akibat trauma tumpul yang merobek pembuluh darah iris atau badan siliar. Termasuk trauma tumpul uvea.

Hifema adalah adanya darah di dalam kamera okuli anterior atau bilik mata depan, yaitu daerah di antara kornea dan iris, yang dapat terjadi akibat trauma tumpul yang merobek pembuluh darah iris atau badan siliar dan bercampur dengan humor aqueus yang jernih. Darah yang terkumpul di bilik mata depan dalam cairan aqueus humor biasanya terlihat dengan mata telanjang. Bila pasien duduk, hifema akan terlihat mengumpul di bagian bawah bilik mata depan dan hifema dapat memenuhi seluruh ruang bilik mata depan. Adanya darah yang terdapat di bilik mata depan dapat menurunkan penglihatan.

Berdasarkan penyebabnya hifema dibagi menjadi:

 Hifema traumatika adalah perdarahan pada bilik mata depan yang disebabkan pecahnya pembuluh darah iris dan badan silier akibat trauma pada segmen anterior bola mata.

 Hifema akibat tindakan medis (misalnya kesalahan prosedur operasi mata).

 Hifema akibat inflamasi yang parah pada iris dan badan silier, sehingga pembuluh darah pecah.

 Hifema akibat kelainan sel darah atau pembuluh darah (contohnya juvenile xanthogranuloma).

 Hifema akibat neoplasma (contohnya retinoblastoma). Berdasarkan waktu terjadinya, hifema dibagi atas 2 yaitu:

 Hifema primer, timbul segera setelah trauma hingga hari ke 2.  Hifema sekunder, timbul pada hari ke 2-5 setelah terjadi trauma.

(9)

Hifema dibagi menjadi beberapa grade menurut Sheppard berdasarkan tampilan klinisnya:  Grade I: darah mengisi kurang dari sepertiga COA (58%)

 Grade II: darah mengisi sepertiga hingga setengah COA (20%)  Grade III: darah mengisi hampir total COA (14%)

 Grade IV: darah memenuhi seluruh COA (8%)

Hifema yang terjadi karena trauma tumpul pada mata dapat diakibatkan oleh kerusakan jaringan bagian dalam bola mata, misalnya terjadi robekan-robekan jaringan iris, korpus siliaris dan koroid. Jaringan tersebut mengandung banyak pembuluh darah, sehingga akan menimbulkan perdarahan. Perdarahan di dalam bola mata yang berada di kamera anterior akan tampak dari luar. Timbunan darah ini karena gaya berat akan berada di bagian terendah. Gejala klinis:

Sakit disertai epifora dan blefarospasme. Penglihatan menurun. Kadang kadang terlihat iridoplegi dan iridodialisis.

Akibat langsung terjadinya hifema adalah penurunan visus karena darah mengganggu media refraksi. Darah yang mengisi kamera okuli ini secara langsung dapat mengakibatkan tekanan intraokuler meningkat akibat bertambahnya isi kamera anterior oleh darah.

Kenaikan tekanan intraokuler ini disebut glaukoma sekunder. Glaukoma sekunder juga dapat terjadi akibat massa darah yang menyumbat jaringan trabekulum yang berfungsi membuang humor aqueous yang berada di kamera anterior. Selain itu akibat darah yang lama berada di kamera anterior akan mengakibatkan pewarnaan darah pada dinding kornea dan kerusakan jaringan kornea.

Pasien akan mengeluh nyeri pada mata disertai dengan mata yang berair. Penglihatan pasien akan sangat menurun. Terdapat penumpukan darah yang terlihat dengan mata

telanjang bila jumlahnya cukup banyak. Bila pasien duduk, hifema akan terlihat terkumpul di bagian bawah bilik mata depan. Selain itu, dapat terjadi peningkatan tekanan intra okular, sebuah keadaan yang harus diperhatikan untuk menghindari terjadinya glaukoma. Terdapat pula tanda dan gejala yang relative jarang: penglihatan ganda, blefarospasme, edema palpebra, midriasis, dan sukar melihat dekat.

Pemeriksaan diagnostik yang dapat dilakukan:

Pemeriksaan ketajaman penglihatan: menggunakan kartu mata Snellen; visus dapat menurun akibat kerusakan kornea, aqueous humor, iris dan retina.

Lapangan pandang: penurunan dapat disebabkan oleh patologi vaskuler okuler, glaukoma.

Pengukuran tonografi: mengkaji tekanan intra okuler.

 Slit Lamp Biomicroscopy: untuk menentukan kedalaman COA dan iridocorneal contact, aqueous flare, dan synechia posterior.

(10)

 Tes provokatif: digunakan untuk menentukan adanya glaukoma bila TIO normal atau meningkat ringan.

Terapi:

Parasentesis atau pengeluaran darah dari bilik mata depan dilakukan pada pasien hifema dengan tanda imbibisi kornea, glaukoma sekunder, hefema penuh, atua berwarna hitam. Hifema sekunder terjadi jika lebih dari 7 hari setelah trauma. Efek lebih hebat dan sulit untuk dihilangkan. Zat besi didalam bola mata dapat menimbulkan siderosis bulbi yang bila

didiamkan dapat menimbulkan ftisis bulbi dan kebutaan,

Penatalaksanaan hifema tanpa komplikasi glaukoma dengan merawat pasien dengan tidur di tempat tidur yang ditinggikan 45 derajat pada kepala dan mata ditutup (bukan dibebat tekan). Pada penderita yang gelisah dapat diberikan obat penenang. Biasanya hifema akan diserap kembali dan hilang sempurna dalam beberapa hari (4-7 hari) tergantung dari banyaknya darah. Selama perawatan harus dimonitor tekanan intra okuler untuk mencegah terjadinya glaukoma.

Untuk mengurangi nyeri, dapat diberikan paracetamol. Tidak disarankan pemberian pereda nyeri jenis aspirin, karena salah satu efek aspirin akan menyebabkan perdarahan spontan kembali pada sumber perdarahan yang sudah berhenti. Obat-obatan untuk mengurangi tekanan intraokuler golongan penghambat anhidrase karbonat misalnya asetasolamida dapat diberikan. Prinsip penanganan adalah untuk mencegah perdarahan ulang dan mencegah tekanan intra okuler yang tinggi.

Pada hifema yang telah disertai dengan glaukoma, maka penanganannya bertujuan untuk menghentikan perdarahan serta berusaha secepat mungkin menghilangkan darah yang berada di kamera anterior. Untuk menghentikan perdarahan dapat diberikan koagulansia agar darah dapat membeku dengan cepat, dapat pula dengan memperkuat dinding pembuluh darah. Mencegah perdarahan sekunder perlu pula dilakukan. Perdarahan sekunder sering terjadi akibat inflamasi, sehingga pemberian obat anti inflamasi dapat membantu mencegah perdarahan sekunder.

Pada beberapa kasus, prosedur pembedahan parasentesis (mengeluarkan darah dari bilik mata depan) dilakukan bila terdapat, hifema yang penuh dan berwarna hitam, imbibisi kornea, glaukoma akibat hifema, atau bila setelah 5 hari tidak ada tanda-tanda hifema akan berkurang. Parasentesis dilakukan dengan membuat insisi pada kornea dekat limbus, kemudian diberi salep mata antibiotik dan mata ditutup dengan verband.

Prognosis tergantung pada banyaknya darah yang tertimbun pada kamera okuli anterior. Biasanya hifema dengan darah yang sedikit dan tanpa disertai glaukoma,

prognosisnya baik (bonam) karena darah akan diserap kembali dan hilang sempurna dalam beberapa hari. Sedangkan hifema yang telah mengalami glaukoma, prognosisnya bergantung pada seberapa besar glaukoma tersebut menimbulkan defek pada ketajaman penglihatan. Bila tajam penglihatan telah mencapai 1/60 atau lebih rendah maka prognosis penderita adalah buruk (malam) karena dapat menyebabkan kebutaan.

Referensi

Dokumen terkait