BAB I PENDAHULUAN. tidak lagi dianggap sebelah mata atau dianggap sebagai hal yang tidak bisa

Teks penuh

(1)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Perkembangan pariwisata di abad 21 ini sangatlah pesat. Pariwisata tidak lagi dianggap sebelah mata atau dianggap sebagai hal yang tidak bisa diandalkan. Akan tetapi, saat ini pariwisata adalah sektor yang sangat potensial untuk mendukung pembangunan nasional pada umumnya serta pembangunan daerah pada khususnya. Hal ini bisa dilihat ketika pariwisata pada akhirnya diakui sebagai ilmu beberapa tahun yang lalu. Pariwisata disebut memiliki potensi besar dalam mendukung pembangunan nasional karena memiliki keterkaitan dengan beberapa sektor lain, seperti sektor ekonomi, sosial, dan politik. Kesuksesan pembangunan sebuah negara bisa dilihat pertama-tama dari keadaan ekonomi masyarakatnya. Bisa dikatakan pariwisata mendukung pembangunan nasional dengan meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui dampaknya pada sektor ekonomi.

Dalam tatanan abad globalisasi ini pembangunan pariwisata dihadapkan kepada tantangan yang berat, terutama bila dikaitkan dengan kompetisi yang semakin tajam. Era globalisasi telah membawa konsekuensi dan perubahan penting terhadap perkembangan industri pariwisata nasional, terutama pemanfaatan teknologi.1 Pada abad 21 ini perkembangan teknologi sangat pesat. Manusia memanfaatkan teknologi untuk membantu beragam aktivitasnya. Akan       

1

Strategi Membangun Kebudayaan dan Pariwisata Indonesia melalui Sadar Wisata dan Sapta Pesona. Buku Membangun Kebudayaan dan Pariwisata (Soedarmayanti: 2005)

(2)

tetapi perkembangan tersebut tidak diimbangi dengan pelestarian budaya sehingga nilai-nilai kearifan lokal (local wisdom) menurun. Perkembangan teknologi yang sangat pesat membuat generasi muda masa kini tidak peka, bahkan tidak mengetahui mengenai budaya mereka sendiri. Hal ini sangat disayangkan mengingat generasi muda adalah agent of change atau agen perubahan, yaitu kepada siapa budaya akan diwariskan.

Lirik “Sluku sluku bathok, bathok e ela elo. Si romo menyang Solo.

Oleh oleh e payung mutho. Mak jenthit lolo lobah. Wong mati ora obah. Yen obah medeni bocah. Yen Urip golek o duwit”. Syair tersebut adalah syair sebuah

lagu dolanan anak yang populer sekitar satu dasawarsa yang lalu dan sebelumnya. Saat ini, anak-anak sudah jarang menyanyikan atau mendengar lagu tersebut. Mereka lebih akrab dengan lagu pop atau permainan games di komputer/ remote control. Pada jaman dahulu anak anak berkumpul bernyanyi bersama dan memainkan beragam dolanan anak. Saat itu tidak ada hiburan lain bagi anak-anak selain alam, nyanyian serta dolanan tradisional. Akan tetapi, apakah anak- anak jaman sekarang menyanyikan atau setidaknya pernah mendengar lirik ini? Ataukan lebih akrab dengan lagu-lagu pop picisan yang tidak bermakna? Kita semua sudah tau jawabannya, bahwa lagu dolanan anak tersebut sudah tidak terdengar dari mulut anak-anak jaman sekarang. Mereka lebih suka mendendangkan lagu-lagu cinta ataupun asyik dengan permainan modern lain seperti games di komputer atau remote control.

Sejatinya lagu –lagu serta dolanan anak yang diajarkan oleh nenek moyang kita bukanlah sekedar hiburan, akan tetapi terkandung nasehat – nasehat

(3)

yang penuh nilai dan kaya makna untuk menjalani kehidupan. Contohnya adalah makna dari lirik lagu di atas yang berisi sebuah nasehat kehidupan2.

Sluku sluku bathok = mlaku iku butuh pathok (berjalan itu butuh pathok) bathok e ela elo = pathok e Laa illa ha illallah (pathoknya itu laa illa ha

illaah)

Si romo menyang Solo = disirami sholat (siramilah dengan sholat)

Oleh oleh e payung mutho = olehe payung mutho (nanti akan mendapat

payung mutho/payung kulit)

Mak jenthit lolo lobah = mak thit mati (hingga saat manusia mati)

Wong mati ora obah. = mati ora iso obah (tidak akan bisa bergerak setelah

mati)

Yen obah medeni bocah (kalau bergerak, menakuti anak-anak) Yen Urip golek o duwi (kalau masih hidup carilah uang)

Nasehat nenek moyang yang tersirat dalam lirik di atas adalah bahwa dalam berjalan (menjalani kehidupan) kita membutuhkan pijakan atau dasar. Pijakan utama atau dasar kehidupan utama tersebut adalah kalimat Laa illa ha

illallah (tauhid), kemudian diikuti dengan sholat. Payung mutho/payung kulit

bermakna perlindungan dari Allah. Dengan pijakan utama tersebut dan diikuti dengan melaksanakan ibadah sholat, maka manusia akan mendapat perlindungan dari Allah. Manusia harus terus mempertahankan pijakan dan terus melaksanakan sholat sampai ajal datang, karena saat manusia sudah meninggal tak ada lagi yang bisa dia lakukan. Selain itu diingatkan pula bahwa selagi masih hidup, manusia seharusnya terus berusaha mencari karunia-Nya (dengan bekerja, mencari uang) tanpa boleh putus asa. Bila dikaitkan, lirik ini juga menasehati kita untuk menyeimbangkan kehidupan dunia dan akhirat. Dengan pijakan ketauhidan, manusia menjalani kehidupan untuk bekal dunia dan akhirat.

       2

Makna lirik tembang berdasarkan penjelasan informan, yaitu pengelola Kampung Dolanan Pandes (Wahyudi Anggoro Hadi)

(4)

Begitu indahnya nasehat nenek moyang yang diwariskan kepada kita. Nasehat-nasehat utama dalam menjalani kehidupan. Ini hanyalan satu contoh lirik lagu saja. Masih ada banyak lagu tradisional warisan nenek moyang yang kaya akan makna. Apabila tidak ada lagi yang mendendangkan lirik-lirik tersebut, maka nilai-nilai kehidupan ini tidak akan terwariskan dari generasi ke generasi. Nilai – nilai inilah yang hilang terkikis seiring menghilangnya dendang lagu dolanan dan tawa ceria anak – anak memainkan dolanan tradisional. Terkikisnya nilai budaya ini sejalan dengan kondisi masyarakat dunia yang sedang mengalami perubahan tata hubungan antar bangsa yang bersifat semakin terbuka dan bebas. Hal ini mendorong terjadinya perubahan tatanan kehidupan masyarakat Indonesia.

Arus globalisasi dan arus informasi budaya yang datang dari luar semakin meningkat dan tidak dapat dicegah, sehingga apabila tidak waspada dikhawatirkan akan mengancam ketahanan budaya bangsa. Masyarakat Indonesia akan terpengaruh budaya asing yang belum tentu baik dan melupakan budaya sendiri. Banyak generasi muda saat ini yang tidak mengetahui mengenai budaya aslinya. Apabila hal ini dibiarkan berlanjut, maka semakin lama budaya tersebut akan terkikis hilang. Suatu saat bisa jadi bangsa ini semakin lama akan kehilangan identitasnya sebagai bangsa yang berbudaya. Oleh karena itu, perlu upaya yang nyata dalam pelestarian budaya.

Salah satu cara efektif melestarikan budaya adalah melalui pariwisata. Dengan adanya pariwisata, nilai-nilai kehidupan dalam budaya bisa dilestarikan dari generasi ke generasi. Beragam cara bisa dilakukan dalam rangka pelestarian budaya seperti menampilkan aspek budaya dalam setiap kegiatan yang

(5)

melibatkan banyak masyarakat sehingga tujuan agar budaya tetap lestari terwujud. Pariwisata memiliki peranan penting dalam pelestarian budaya karena budaya bisa ditampilkan kembali untuk dinikmati oleh para wisatawan. Secara tidak langsung hal ini adalah proses transfer budaya dari generasi ke generasi.

Pandes adalah sebuah desa yang terletak di tepi Jalan Parangtritis km.6 dengan luas wilayah kurang lebih 27,2480 hektar. Pandes terletak di dalam wilayah administratif Kelurahan Panggungharjo, Kecamatan Sewon, Kabupaten Bantul, Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Sejak beberapa tahun yang lalu Pandes mendeklarasikan diri sebagai Kampung Dolanan. Sejak masa pemerintahan Sultan Hamengku Buwono VII desa ini memang sudah menekuni bidang pembuatan mainan anak anak seperti wayang angkrek, wayang kertas,

manukan, othok-othok, payungan, klunthungan, blimbingan, dsb3. Banyak penduduk yang berprofesi sebagai pengrajin mainan anak – anak dan beramai – ramai pergi ke daerah lain untuk berjualan mainan tersebut.4 Akan tetapi seiring perkembangan jaman keberadaan para pengrajin dolanan anak ini semakin menurun mengikuti turunnya minat anak-anak jaman sekarang untuk membeli dolanan tradisional. Tersisa 8 orang lansia berumur lebih dari 70 tahun yang dulu “berjaya” membuat dolanan tradisional. Anak – anak jaman sekarang lebih tertarik dengan mainan modern seperti mobil-mobilan, mainan impor dari China, dan juga permainan di komputer. Tantangan inilah yang membuat beberapa warga Pandes tergerak untuk melestarikan dolanan anak dengan mempelopori berdirinya Kampung Dolanan Pandes (Kurniawan, 2011).

       3

http://yogyakarta.panduanwisata.com/daerah-istimewa-yogyakarta/bantul/desa-pandes-melestarikan-mainan-tradisional/ (diakses 1 April 2013)

4

(6)

Kampung Dolanan Pandes menawarkan jasa pendampingan outbound dan workshop untuk anak- anak dan dewasa. Seperti namanya, outbound yang diselenggarakan terkait dengan dolanan tradisional. Peserta outbound akan diajak bermain beragam permainan tradisional seperti ancak –ancak alis, jamuran, cublak cublak suweng, kacang – kacang goreng, dingklik oglak aglik, dll. Selain dikenalkan dengan permainan peserta juga akan diajak mendalami nilai-nilai atau makna yang terkandung di dalam permainan tersebut. Dari penyampaian informasi inilah terjadi transfer nilai yang merupakan bagian dari proses pelestarian budaya. Terlebih peserta outbound adalah siswa –siswi sekolah yang merupakan generasi penerus sehingga pengetahuan budaya ini akan melekat kuat dalam diri mereka dan diharapkan akan terus lestari sampai ke generasi selanjutnya5.

Mengingat konsep Kampung Dolanan Pandes merupakan wisata minat khusus pelestarian budaya/ dolanan, maka dalam pelaksanaan kegiatan di Kampung Dolanan Pandes melibatkan masyarakat sebagai pemilik aset, pengelola sekaligus penerima manfaat. Dengan kata lain dari, oleh dan untuk masyarakat. Oleh karena itu, keterlibatan serta peran serta masyarakat setempat dalam pengelolaannya sangatlah penting karena merekalah yang mengetahui dan menguasai potensi wilayah mereka sendiri.6 Selain itu, keterlibatan masyarakat penting untuk mendapatkan dukungan dan penerimaan masyarakat atas proyek

       5

Susanto, Slamet. 2009. Keeping the Culture Alive. www.thejakartapost.com 6

World Tourism Organization. Guide for Local Authorities on Developing Sustainable Toursim. (Spain: A Tourism and Environment Publication, 1998) page 109

(7)

dan program pengembangan pariwisata serta memastikan bahwa keuntungannya berkaitan dengan kebutuhan masyarakat lokal.

Kampung Dolanan Pandes merupakan satu – satunya kampung di propinsi DIY yang setia menyediakan mainan anak tradisional sejak lama dan sudah turun temurun. Beragam mainan anak tradisional ada di sini seperti othok – othok, klunthungan, angkrek, wayang kertas, payungan, blimbingan, kocomoto bangjo, manukan, dll. Kampung ini mewadahi keinginan dan harapan para pengrajin mainan anak karena melestarikan mainan anak tradisional. Secara ekonomi hal ini juga meningkatkan pendapatan para pengrajin tersebut. Oleh karenanya, Pandes menjadi satu – satunya desa wisata yang melestarikan mainan anak tradisional.

Pemberdayaan masyarakat merupakan salah satu aspek yang penting dalam pengelolaan Kampung Dolanan Pandes. Pihak pengelola berupaya memberdayakan masyarakat dengan melibatkannya dalam setiap kegiatan atau aktivitas wisata di Kampung Dolanan Pandes baik berupa workshop pembuatan dolanan anak maupun outbound. Upaya ini merupakan proses penguatan dan peningkatan kapasitas, peran serta inisiatif masyarakat sebagai salah satu

stakeholder penting dalam pengembangan wisata di Kampung Dolanan Pandes.

Penelitian ini secara lebih lanjut akan menggambarkan mengenai pemberdayaan masyarakat atau Pariwisata Berbasis Masyarakat yang merupakan kunci utama kesuksesan pengelolaan Kampung Dolanan Pandes.

(8)

1.2. Permasalahan Penelitian

1.2.1. Bagaimana bentuk penerapan Pariwisata Berbasis Masyarakat di Kampung Dolanan Pandes?

1.2.2. Bagaimana kelembagaan Kampung Dolanan Pandes dalam rangka penerapan Pariwisata Berbasis Masyarakat?

1.2.3. Faktor-faktor apa yang mendukung dan menghambat perkembangan Kampung Dolanan Pandes?

1.3. Keaslian Penelitian

Pariwisata Berbasis Masyarakat merupakan suatu topik yang menarik untuk dikaji. Berikut adalah beberapa penelitian yang pernah dilakukan terkait topik tersebut.

Tabel 1

Kajian Penelitian Pariwisata Berbasis Masyarakat (CBT)

No Nama Tahun Judul Kesimpulan

1 Sri Endah Nurhidayati 2012 Pengembangan Agrowisata Berkelanjutan Berbasis Komunitas di Kota Batu, Jawa Timur.

1) penerapan prinsip ekonomi CBT dalam pengembangan agrowisata berkaitan dengan terciptanya pekerjaan yang menyerap tenaga kerja lokal, pengembangan usaha sektor pariwisata, dan peningkatan pendapatan komunitas yang berasal dari belanja wisata; 2) penerapan prinsip sosial dalam pengembangan agrowisata ditandai dengan peningkatan kualitas hidup masyarakat; 3) penerapan prinsip budaya CBT mengindikasikan

(9)

Lanjutan Tabel 1

pengembangan agrowisata tidak menguatkan seluruh aspek sosial kapital. Interaksi wisatawan dan komunitas menghasilkan kontak dan pertukaran nilai budaya, menghasilkan pengetahuan baru bagi komunitas dan penerimaan simbol modernitas dari luar komunitas. Ada banyak faktor yang mempengaruhi penerapan prinsip CBT, 1) prinsip ekonomi dipengaruhi oleh struktur perekonomian kota Batu dan peran pemerintah; 2) prinsip sosial dipengaruhi oleh status kekhususan kota Batu, kekayaan sumber daya alam dan kekuatan budaya setempat; 3) prinsip budaya dipengaruhi oleh berkembangnya budaya multikultur, keterbukaan terhadap informasi, dan etos kerja lokal; 4) prinsip lingkungan dipengaruhi oleh kondisi lingkungan global dan kearifan lokal komunitas

2 Yuniar Istiyani

2011 Perkembangan Desa Wisata Batik Tulis Giriloyo yang Berbasis

Masyarakat (Kajian dari Sudut Pandang

Ekonomi-Masyarakat)

Adanya desa wisata mengangkat kehidupan perekonomian masyarakat dari Dusun Giriloyo, Dusun Cengkehan dan Dusun Karangkulon. Adanya kegiatan pariwisata membantu masyarakat setempat untuk terus mengembangkan kemampuan dalam hal kerajinan batik dan memperkenalkan batik tulis Giriloyo ke dunia luar.

3 Supartini 2011 Pemberdayaan Masyarakat

Melalui

Pengembangan

Hasil penelitian menyimpulkan bahwa proses pemberdayaan masyarakat Desa Wisata Ketingan adalah dengan membentuk organisasi

(10)

Lanjutan Tabel 1 Potensi Desa Wisata Ketingan Tirtoadi Mlati Kabupaten Sleman DIY

desa wisata dan melengkapinya dengan Tim Pengelola Desa Wisata yang melingkupi kelompok-kelompok yang lebih kecil. Upaya penguatan kelembagaan adalah dengan pembentukan paket wisata terpadu model manajemen kluster. Supartini juga menyimpulkan bahwa faktor yang mendukung pemberdayaan masyarakat adalah informasi yang jelas, SDM yang berkualitas, SDA yang indah serta potensi seni dan budaya. Sedangkan faktor yang menghambat adalah SDM, pendanaan dan kerukunan serta kepengurusan yang kurang maksimal. 4 Antonius Asri 2010 Pemberdayaan Masyarakat Kampung Komodo dalam Pengembangan Ekowisata di Loh Liang Taman Nasional Komodo

Hasil penelitian menyimpulkan bahwa program pemberdayaan masyarakat dalam sektor pariwisata sangat minim. Program pemberdayaan masyarakat dalam sektor pariwisata terbatas pada usaha pemandu wisata (naturalist guide) dan usaha kerajinan yang belum memiliki diversifikasi usaha-usaha pariwisata. Fakta tersebut

menyebabkan dampak pengembangan ekowisata di Loh

Liang hanya dinikmati sekelompok orang yang bergerak dalam usaha pemandu wisata dan guide, belum menyentuh sebagian besar masyarakat Kampung Komodo yang miskin dan tidak berdaya. Peneliti merekomendasikan kepada pengelola (Tim Kolaborasi PT. PNK dan BTNK) untuk mengoptimalkan

(11)

Lanjutan Tabel 1

pemberdayaan masyarakat di

Kampung Komodo dalam kegiatan pariwisata berbasis konservasi dengan model ekowisata berbasis

masyarakat. Pemberdayaan masyarakat dalam usaha-usaha pariwisata akan mendorong kesejahteraan masyarakat dan menjamin kelestarian dan upaya konservasi terhadap keanekaragaman ekosistem kawasan Taman Nasional Komodo.

5 Giriwati 2010 Community Based Tourism sebagai Instrumen Pemberdayaan Masyarakat dalam Pengembangan Kepariwisataan Berkelanjutan Kawasan Gunung Arjuna Lalijiwo

Penelitian tersebut menghasilkan beberapa temuan, yaitu: 1) Kondisi produk ekowisata yang dikembangkan sudah menerapkan prinsip ekowisata; 2) Kondisi pengembangan Community Based

Ecotourism berada dalam tahap

pelaksanaan; 3) Area dan parameter pemberdayaan masyarakat yang belum berjalan optimal adalah aspek perencanaan terutama. 6 Yohannes Meiratalsan Nehe 2010 Analisis Upaya Pemberdayaan Masyarakat di Kabupaten Nias Selatan: Studi Kasus Pengrajin Cinderamata di Desa Wisata Bawomataluo.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) program pemberdayaan tidak terdistribusi secara merata kepada seluruh pengrajin karena tidak adanya pendataan serta objektivitas dalam penentuan peserta program; 2) Rata-rata modal pengrajin adalah Rp 196.612/bulan/orang dengan rata-rata

pendapatan sebesar Rp 627.940/bulan/orang; 3) Pemasaran masih dalam lingkup desa dengan cara menjual langsung kepada wisatawan yang berkunjung atau

(12)

Lanjutan Tabel 1

menitipkan di rumah warga desa yang dimanfaatkan sebagai etalase/gallery sederhana; 4) perumusan strategi menggunakan analisis SWOT dilakukan dengan menyesuaikan peluang dan ancaman terhadap kekuatan dan kelemahan yang dimiliki. 7 A.Faidlal Rahman 2009 Pemberdayaan Masyarakat Melalui Pengembangan Desa Wisata Kembang Arum

Pemberdayaan masyarakat di Desa Wisata Kembang Arum diterapkan dalam bidang atraksi dan akomodasi

(homestay), bentuk-bentuk pemberdayaannya adalah a) pertemuan; b) pendampingan; c) bantuan modal; d) pembangunan sarana dan prasarana; e) pembentukan organisasi desa wisata; dan f) gotong royong.

8 Widyawati 2009 Potensi Objek Wisata Angklung Udjo sebagai Sentra Komunitas Seni Budaya Sunda

Ditinjau dari Pendekatan

Community Based Tourism.

Dari penelitian tersebut disimpulkan bahwa keterlibatan masyarakat dalam suatu aktivitas pariwisata sangatlah penting karena masyarakat merupakan suatu elemen dari produk wisata. Keberadaan dan keterlibatan masyarakat di dalam kegiatan pariwisata dapat saling bersinergi dalam pengembangan dan pembangunan suatu produk wisata.

9 Sambudjo Parikesit 2008 Perbedaan Tipe Destinasi Pariwisata dalam Perspektif Pemberdayaan Masyarakat dan Pengentasan Kemiskinan: Studi Kasus Desa Wisata

Penelitian ini menyimpulkan bahwa

pertama, faktor-faktor yang

mempengaruhi pengembangan destinasi wisata adalah: ketersediaan atraksi; aksesibilitas; infrastruktur dan fasilitas penunjang kegiatan pariwisata; kerjasama antara

pemerintah, masyarakat, swasta/investor dan stakeholder

(13)

Lanjutan Tabel 1

terkait; dan dukungan pemerintah di

bidang regulasi dan stimulan. Kedua, tingkat pemberdayaan masyarakat akan dipengaruhi oleh kapasitas dan peran serta aktif masyarakat dalam berbagai kegiatan kepariwisataan; semakin tinggi tingkat pemberdayaan masyarakat maka akan semakin tinggi pula pengentasan kemiskinan di suatu destinasi.

Persamaan penelitian ini dengan beberapa penelitian di atas adalah topik kajiannya yang sama, yaitu pemberdayaan masyarakat atau Pariwisata Berbasis Masyarakat. Hal yang membedakan adalah lingkup penelitian dan objek penelitian. Berdasarkan hasil observasi penulis masih belum ada yang meneliti mengenai Pariwisata Berbasis Masyarakat khususnya untuk desa budaya. Oleh karena itu peneliti berusaha untuk mengisi kajian yang belum ada penelitiannya, yaitu Pariwisata Berbasis Masyarakat yang berlokasi di Kampung Dolanan Pandes, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

1.4. Tujuan Penelitian

1.4.1. Mengetahui dan mendeskripsikan bentuk penerapan Pariwisata Berbasis Masyarakat di Kampung Dolanan Pandes.

1.4.2. Mengetahui dan mendeskripsikan kelembagaan di Kampung Dolanan Pandes dalam rangka penerapan Pariwisata Berbasis Masyarakat.

(14)

1.4.3. Mengetahui faktor-faktor yang mendukung dan menghambat perkembangan Kampung Dolanan Pandes.

1.5. Manfaat Penelitian

1.5.1. Manfaat teoritis

Penelitian ini memberikan manfaat teoritis bagi penulis dan pembaca. Bagi penulis, penelitian bermanfaat sebagai media aplikasi ilmu pengetahuan pariwisata yang diperoleh selama menempuh pendidikan di program studi Magister Kajian Pariwisata, Sekolah Pasca Sarjana, Universitas Gadjah Mada. Bagi perkembangan ilmu pariwisata, penelitian ini memberikan kontribusi obyektif terhadap implementasi Pariwisata Berbasis Masyarakat. Selain itu juga sebagai bahan referensi dan pembanding bagi penelitian selanjutnya.

1.5.2. Manfaat praktis

Penelitian ini memberikan manfaat praktis bagi pihak-pihak terkait khususnya pengelola Kampung Dolanan Pandes dan Dinas Pariwisata Kabupaten Bantul. Bagi pengelola, sebagai rekomendasi dalam pengelolaan Kampung Dolanan Pandes. Sedangkan bagi dinas terkait hasil penelitian ini bisa dijadikan sebagai bahan rujukan dalam menentukan kebijakan pengembangan pariwisata khususnya terkait pemberdayaan masyarakat di desa wisata.

Figur

Memperbarui...

Related subjects :