• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

BAB IV

ANALISIS DAN PEMBAHASAN

Tiap perusahaan harus mempunyai mesin untuk melakukan produksinya guna menghasilkan suatu barang. Perusahaan tentu ingin agar proses produksinya berjalan lancar, efektif dan efisien. Untuk itu perusahaan harus memelihara mesin yang di milikinya hingga kondisinya baik, mencegah kerusakan yang mendadak dan mengadakan perbaikan bila terjadi kerusakan mesin, akan tetapi pada suatu saat mesin itu harus diganti juga. Jadi penggantian mesin perlu dilakukan karena bila tidak diganti akan menghambat kelancaran proses produksi dan akan berdampak pada turunnya daya saing perusahaan.

Disinilah diperlukan adannya investasi yang dilakukan, untu itu dalam bab ini akan dibahas analisis kelayakan investasi penggantian msin dengan metode NPV ( Net Present Value ) yaitu penggantian 3 mesin TIG inventer merk FITECH DC-200AT dengan 2 mesin TIG inventer merk KOBEWEL T-200P. Disini dalam proses produksinya, baik mesin TIG inventer lama maupun TIG inventer baru mempunyai fungsi yang sama yaitu sebagai alat las / pemotong.

Tujuan PT.Eco Plasma Indonesia mengganti mesin TIG invente lama merk FITECH DC-200AT dengan mesin TIG inventer baru merk KOBEWEL T-200P adalah sebagai berikut: 1. Untuk meningkatkan kapasitas produksi

2. Untuk memberikan kontribusi yang bagi kelancaran proses produksi dan juga efisensi produksi

3. Karena mesin lama fungsinya kurang lengkap dibandingkan dengan mesin baru

Metode Net Present Value ( NPV ) ini untuk menilai kelayakan investasi penggantian mesin yaitu dengan menggunakan hasil perhitungan biaya operasi pada saat sebelum dan sesudah

(2)

investasi penggantian mesin sehingga menghasilkan perbedaan arus kas keluar bersih. Yang nantinya akan di gunakan untuk menilai kelayakan investasi mesin

Pada tahun 2010 PT.Eco Plasma Indonesia melakukan penggantian mesin TIG INVENTER ( alat pemotong ),yaitu mengganti mesin TIG Inventer merek FITECH DC-200 AT berjumlah 3 mesin menjadi 2 mesin TIG Inventer merek kobewel T-200 P. Yang semula pada tahun 2005 mesin TIG Inventer berjumlah 12 setelah melakukan penggantian pada tahun 2010 mesin tersebut menjadi 11.mesin. Mesin yang diganti hanyalah 3 mesin TIG Inventer merek FITECH DC 200 AT karena mesin tersebut sudah tidak layak lagi dipakai/ Mengalami kerusakan.

Berikut ini adalah tabel data sebelum dan sesudah penggantian mesin TIG Inventer tahun 2005 – 2010 dan 2010 di PT. Eco Plasma Indonesia

(3)

4.1 Perhitungan Pembelian Mesin Baru ( cash outflow )

Pengeluaran kas terdiri dari pembelian 2 mesin TIG inventer baru merk Kobewel tipe T-200P, pengaruh pajak, dan hasil penjualan 3 mesin TIG inventer lama merek Fitech tipe DC-200 AT.

Harga pasar untuk 1 mesin TIG inventer baru merk Kobewel tipe T-200 P adalah Rp 10.200.000,00, perusahaan menggunakan 2 unit mesin TIG inventer tersebut, jadi totalnya adalah Rp 10.200.000,00 x 2 unit = Rp 20.400.000,00 sebagai pembelian mesin baru

Pembelian mesin TIG inventer lama merk Fitech DC-200 AT seharga

Rp 10.500.000,00 lima tahun lalu. Mesin tersebut di harapkan berumur 10 tahun dengan

nilai sisa Rp 1.050.000,00. Dengan penyusutan garis lurus, biaya penyusutan selama 5 tahun sebesar Rp 1.890.000,00, maka nilai buku mesin tersebut sekarang adalah Rp 8.610.000,00 ( Rp.10.500.000,00 – Rp.1.890.000,00) + Rp 1.050.000,00 ( nilai sisa ) =

Rp 9.660.000,00. Sedangkan nilai pasar sekarang untuk mesin TIG Inventer lama merk Fitech DC-200AT adalah Rp.1.050.000,00. Maka penghematan pajak = ( rugi ) x ( tarif pajak ) = Rp.8.610.000,00 x 0,3 = Rp.2.583.000,00. Penghematan pajak terjadi karena mesin TIG Inventer lama yang bernilai buku Rp.9.660.000,00 akan di hapuskan sebesar Rp.8.610.000,00 ( Rp.9.660.000,00 dikurangi nilai sisa Rp.1.050.000,00 )

(4)

Jadi pengeluaran kas ( cash outflow ) adalah pembelian mesin TIG Inventer baru merk kobewel tipe T-200 P – ( Penghematan pajak + nilai sissa mesin lama ) perhitungannnya adalah sebagai berikut :

Pembelian mesin TIG Inventer baru : Rp.20.400.000,00 Penghematan pajak : ( Rp. 2.583.000,00 ) Nilai sisa mesin TIG lama : ( Rp. 1.050.000,00 ) Pengeluaran ( Cash Outflow ) Rp. 16.767.000,00

4.2 Perhitungan Biaya Operasi Pada saat sebelum dan sesudah investasi penggantian mesin

Berikut ini akan di lakukan perhitungan penghematan biaya operasi pada saat sebulum dan sesudah penggantian mesin, hal yang pertama di hitung :

4.2.1 Perhitungan Biaya Operasional Pada saat sebelum penggantian mesin Untuk mesin TIG inventer lama merk Fitech tipe DC-200 AT

A. Harga pasar untuk 1 mesin TIG inventer lama merk fitech tipe DC-200 AT adalah Rp 3.500.000,00 dengan nilai sisa umur ekonomis 5 tahun. Perusahaan menggunakan 3 unit mesin TIG inventer tersebut, jadi totalnya Rp 3.500.000,00 x 3 unit = Rp 10.500.000,00

(5)

B. Perusahaan menggunakan 1 orang karyawan untuk 1 mesin dengan gaji perbulan Rp. 1.500.000,00 diasumsikan bila biaya tenaga kerja tidak terjadi perubahan selama umur mesin jadi selama 1 tahun total biaya tenaga kerja langsung :

= gaji perbulan x jumlah bulan x jumlah pekerja

= Rp.1.500.000,00 x 12 x 3 = Rp.54.000.000,00 pertahun

C. Tenaga kerja tidak langsung perusahaan berupa 2 orang teknisi yang di gunakan untuk seluruh mesin. Gaji untuk 1 orang teknisi sebesar Rp. 1.600.000,00 setiap bulannya, di asumsikan bila biaya teknisi tidak terjadi perubahan selama umur mesin, jadi total biaya teknisi selama 1 tahun.

= Gaji perbulan x jumlah bulan x jumlah pekerja = Rp.1.600.00,00 x 12 x 2= Rp.38.400.000,00 pertahun

Karena teknisi bekerja untuk 12 mesin maka di asumsikan biaya tidak langsung untuk 3 mesin TIG Inventer adalah :

= Jumlah mesin x biaya teknisi 1 tahun Total mesin

= 3/12 x Rp. 38.400.000,00 = Rp.9.600.000,00 pertahun

D. Biaya pemeliharaan yang dikeluarkan di hitung dari harga oli per liter sebesar Rp.40.000,00 x 2 ( setiap bulan membutuhkan 2 liter ) x 12 unit mesin yang ada di perusahaan = Rp.960.000 adalah biaya pemeliharaan mesin 1 bulan, jadi di asumsikan untuk 3 mesin TIG Inventer merk fitech tipe DC-200 AT adalah

(6)

= 3 x Rp.960.000,00 ( biaya pemeliharaan ) = Rp.240.000,00 perbulan 12

= 12 bulan x Rp.240.000,00 = Rp.2.880.000,00 pertahun

E. Biaya tenaga listrik yang di keluarkan selama 1 bulan

Biaya tenaga listrik keseluruhan mesin perusahaan Rp. 75.000.000,00 di bagi 50 mesin yang ada di perusahaan = Rp. 1.500.000,00 u/ tiap mesin

Maka biaya untuk 12 mesin saja : 12 mesin x Rp. 1.500.000,00 = Rp.18.000.000,00, maka biaya listrik untuk 3 mesin TIG Inventer merk Fitech DC-200 AT,di asumsikan sebagai berikut:

= jumlah daya mesin TIG x biaya tenaga listrik Total daya keseluruhan mesin

= 1200 x Rp. 18.000.000,00 = Rp. 1.300.000,00 perbulan 16.500

Jadi biaya total 1 tahun adalah:

Rp.1.300.000,00 x 12 = Rp.15.600.000,00 pertahun

F. Biaya modal ( WACC ) sebesar 14% yang merupakan bunga pinjaman rata-rata Bank Umum. Jadi bunga untuk 3 mesin TIG Inventer merk Fitech tipe DC-200 AT adalah :

= Bunga x harga perolehan

= 14% x Rp.10.500.000,00 = Rp1.470.000,00 pertahun

(7)

G. Penyusutan/depresiasi mesin TIG merk Fitech tipe DC-200 AT dengan metode garis lurus. Harga pasar untuk 3 mesin TIG Inventer merk fitech tipe DC-200 AT sebesar Rp.10.500.000,00. Umur mesinnya 10 tahun dengan nilai sisa Rp.1.050.000,00 adalah

Depresiasi = harga pasar – nilai sisa Umur mesin

= Rp.10.500.000,00 – Rp.1.050.000,00 10

= Rp.945.000,00 pertahun

Setelah semua biaya operasional mesin TIG Inventer yang lama di hitung dari A sampai G dan hasil biaya perhitungan pertahun didapat, maka langkah selanjutnya adalah memasukan biaya pertahun tersebut kedalam tabel berikut ini:

(8)

Tabel 4.3

Perhitungan Biaya Operasi 3 Mesin TIG Inventer lama merk Fitech tipe DC-200 AT

Tahun 2010

Keterangan Mesin TIG Inventer lama

Biaya tenaga kerja langsung Rp. 54.000.000,00 Biaya tenaga kerja tidak langsung Rp. 9.600.000,00 Biaya pemeliharaan Rp. 2.880.000,00 Biaya tenaga listrik Rp. 15.600.000,00

Biaya bunga Rp. 1.470.000,00

Biaya penyusutan Rp. 945.000,00 Total biaya operasi Rp. 84.495.000,00 Sumber : diolah

4.2.2 Perhitungan Biaya operasional sesudah penggantian mesin

Untuk mesin TIG Inventer baru merk kobewel tipe T-200 P

A. Harga pasar untuk 1 mesin TIG Inventer baru merk kobewel tipe T-200 P adalah Rp. 10.200.000,00 dengan umur ekonomis 10 tahun. Perusahaan mengasumsikan nilai sisa sebesar 10% dari harga perolehan. Perusahaan menggunakan 2 unit mesin TIG Inventer tersebut,

(9)

B. Mesin TIG Inventer merk kobewel tipe T-200 P perusahaan menggunakan 1 orang untuk setiap unit mesin dengan gaji perbulan Rp.1.500.000,00

Jadi selama 1 tahun total biaya tenaga kerja langsung : = gaji perbulan x jmlh bulan x jumlah pekerja

= Rp.1.500.000,00 x 12 x 2 = Rp. 36.000.000,00 pertahun

C. Tenaga kerja tidak langsung perusahaan berupa 2 orang teknisi yang di gunakan untuk seluruh mesin. Gaji untuk 1 orang teknisi sebesar Rp. 1.600.000,00 setiap bulannya, di asumsikan bila biaya teknisis tidak terjadi perubahan selama umur mesin, jadi total biaya teknisi selama 1 tahun.

= Gaji perbulan x jumlah bulan x jumlah pekerja = Rp.1.600.00,00 x 12 x 2= Rp.38.400.000,00 pertahun

Karena teknisi bekerja untuk 11 mesin saja maka diasumsikan biaya tidak langsung untuk 2 mesin TIG Inventer baru adalah

= jumlah mesin x biaya teknisi 1 tahun Total mesin

= 2 x Rp.38.400.000,00 = Rp.6.981.800 pertahun 11

D. Biaya pemeliharaan yang dikeluarkan di hitung dari harga oli per liter sebesar Rp.40.000,00 x 2 ( setiap bulan membutuhkan 2 liter ) x 11 unit mesin yang ada di

(10)

perusahaan = Rp.880.000,00 adalah biaya pemeliharaan mesin, jadi di asumsikan untuk 2 mesin TIG Inventer merk kobewel T-200 P adalah sebesar :

= Jumlah Mesin x biaya pemeliharaan perbulan Total mesin

= 2 x Rp880.000,00 = Rp.160.000,00 pertahun 11

Jadi, total biaya pemeliharaan selam 1 tahun adalah = jumlah bulan x biaya pemeliharaan perbulan

= 12 bulan x Rp 160.000,00 = Rp.1.920.000,00 pertahun

E. Biaya tenaga listrik untuk 11 mesin x Rp.1.500.000,00 = Rp.16.500.000,00

Diasumsikan bila biaya listrik tidak terjadi perubahan selama umur mesin, maka biaya listrik untuk 2 mesin TIG Inventer tipe kobewel T-200 P diasumsikan sebagai berikut :

= Jumlah daya mesin TIG Inventer x biaya tenaga listrik Total daya keseluruhan mesin

= 900 x Rp.16.500.000,00 = Rp. 916.600,00 16200

Jadi total biaya untuk 1 tahun adalah :

(11)

F. Biaya modal ( WACC ) sama seperti sebelum investasi yaitu 14% Jadi bunga untuk 2 mesin TIG merk kobewel tipe T-200 P adalah : = bunga x harga perolehan

= 14% x Rp.20.400.000,00 = Rp. 2.856.000,00 pertahun

G. Penyusutan/depresiasi mesin TIG Inventer merk kobewel tipe T-200 P dengan menggunakan metode garis liurus. Harga 2 unit mesin adalah Rp.20.400.000,00 dan umur mesinnya 10 tahun dengan nilai sisa Rp.2.040.000,000

Depresiasi = harga pasar – nilai sisa Umur mesin

= Rp.20.400.000,00 – 2.040.000,00

10

= Rp. 1.836.000

Sama seperti biaya operasional mesin lama, biaya operasional mesin baru pertahun pun di masukan ke dalam tabel berikut :

(12)

Tabel 4.4

Perhitungan Biaya Operasi 2 mesin TIG baru merk kobewel tipe T-200 P

Keterangan Mesin TIG Inventer

Biaya tenaga kerja langsung Rp. 36.000.000,00 Biaya tenaga kerja tidak langsung Rp. 6.981.800,00 Biaya pemeliharaan Rp. 1.920.000,00 Biaya tenaga listrik Rp. 10.999.200,00

Biaya bunga Rp. 2.856.000,00

Biaya penyusutan Rp. 1.836.000,00 Total biaya operasi Rp. 60.5931.000,00 Data : diolah

Setelah semua biaya operasional baik mesin lama maupun mesin baru di temukan hasil pertahunnya dan di masukan ke dalam tabel 4.3 dan tabel 4.4, maka langkah selanjutnya adalah memasukan ke dalam tabel 4.5 untuk dibandingkan.

(13)

Tabel 4.5

Perhitungan Biaya Operasi Mesin TIG Inventer merk Fitech tipe DC-200 AT ( 3 unit ) dan Mesin TIG Inventer merk Kobewel Tipe T-200 P

Tahun 2010

Keterangan Mesin Lama Mesin Baru

Biaya tenaga kerja langsung Rp. 54.000.000,00 Rp. 36.000.000,00 Biaya tenaga kerja tidak

langsung

Rp. 9.600.000,00 Rp. 6.981.800,00

Biaya pemeliharaan Rp. 2.880.000,00 Rp. 1.920.000,00 Biaya tenaga listrik Rp. 15.600.000,00 Rp. 10.999.200,00 Biaya bunga Rp. 1.470.000,00 Rp. 2.856.000,00 Biaya penyusutan Rp. 945.000,00 Rp. 1.836.000,00 Total biaya operasi Rp. 84.495.000,00 Rp. 60.593.000,00 Sumber : data diolah

Jadi, di simpulkan bahwa bahwa biaya operasional menggunakan mesin lama lebih besar dibandingkan biaya operasi menggunakan mesin baru.

Setelah biaya operasional mesin lama dan mesin baru di bandingkan, maka langkah selanjutnya adalah memasukan ke dalam tabel 4.6 untuk menghitungkan arus kas keluar bersih.

(14)

4.3 Perhitungan arus kas keluar bersih

Tabel 4.6

Tabel perhitungan arus kas keluar bersih ( dalam rupiah ) Keterangan Tanpa investasi

baru

Dengan investasi baru

Perbedaan arus kas Biaya operasi bersih per

kas

83.550.000 58.757.000 24.793.000

Pajak ( T= 0,3 ) (25.065.000) (17.627.100) (7.437.900) Biaya setelah pajak 58.485.000 40.947.900 17.537.100 Biaya penyusutan . ( 945.000 ) (1.836.000) ( 891.000) Arus kas keluar bersih 57.540.000 39.111.900 18.428.100 Sumber : data diolah

Adanya perbedaan arus kas keluar bersih yang di dapat pada saat perusahaan sebelum investasi baru dan sesudah investasi baru merupakan penghematan biaya. Perbedaan arus kas keluar bersih inilah yang akan di pakai nanti dalam perhitungan kelayakan investasi mesin dengan metode Net Present Value ( NPV )

Setelah perhitungan arus kas keluar bersih di dapat , maka langkah selanjutnya adalah menghitung kelayakan investasi mesin dengan metode NPV pada tabel 4.7 dengan menggunakan hasil perbedaan yang di dapat dari perhitungan arus kas keluar bersih tersebut.

(15)

Tabel 4.7

Tabel perhitungan analisis kelayakan investasi penggantian mesin dengan Metode Net Present Value ( NPV )

Keterangan Proceed investasi PVIF i = 14%,t = 10 th Jumlah ( dalam rupiah ) 18.428.100 0,877 16.161.444 18.428.100 0,769 14.171.209 18.428.100 0,675 12.438.968 18.428.100 0,592 10.909.435 18.428.100 0,519 9.564.184 18.428.100 0,456 8.403.214 18.428.100 0,400 7.371.240 18.428.100 0,351 6.468.263 18.428.100 0,308 5.675.855 18.428.100 0,270 4.975.587

Nilai sisa mesin baru ( cash inflow )

2.040.000 0,270 550.800

Total penerimaan kas ( cash inflow )

96.690.199

Total pengeluaran kas ( cash outflow )

(16.767.000)

NPV 79.923.199

Sumber : data diolah

Dari hasil perhitungan pada tabel 4.7 di atas, dapat di ketahui nilai Net Present Value ( NPV ) Adalah Rp. 79.923.199. sehingga nilai tesebut adalah positif dan investasi penggantian mesin TIG Inventer yang di lakukan layak.

Gambar

Tabel perhitungan arus kas keluar bersih ( dalam rupiah )  Keterangan   Tanpa investasi

Referensi

Dokumen terkait

Untuk mengetahui kelayakan investasi pada Restoran HOT CMM & ROELLIES, maka penilaian investasi dilakukan dengan menggunakan 4 metode, yaitu Net Present Value (NPV), Payback

Untuk mengetahui kelayakan investasi pada usaha jasa fotocopy tersebut, maka penilaian investasi dilakukan dengan menggunakan 5 metode, yaitu Payback Period (PBP), Net Present

Metode analisis yang digunakan untuk menilai kelayakan perencanaan investasi pada ABANG Laundry Palembang yaitu Capital Budgeting dengan metode Net Present Value (NPV),

Kelayakan segi finansial berdasarkan aliran kas proyek dengan 4 jenis parameter kelayakan investasi yaitu Net Present Value (NPV), Benefit Cost Ratio (BCR),

budaya, aspek financial perhitungan laba rugi kriteria kelayakan investasi melalui NPV/ present value dan Net Benefit Cost Ratio (Net B/C). Uji kelayakan dari bisnis cengkeh dan

Pada kasus CV Jaya Proteindo, metode yang digunakan untuk menguji kelayakan investasi penggantian kendaraan yang hampir habis masa ekonomisnya adalah menggunakan metode Net Present

Net Present Value dari investasi dapat diperoleh dengan menggunakan formula sebagai berikut : Keterangan : NPV = Net Present Value PWB = Present Worth of Benefit PWC = Present Worth

Penelitian ini menganalisis kelayakan investasi dari aspek finansial dengan memperhatikan indikator Net Present Value NPV, Internal Rate of Return IRR, dan Benefit Cost Ratio BCR serta