• Tidak ada hasil yang ditemukan

MASHLAHAH PERFORMA MaP Implementasi Kons (3)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "MASHLAHAH PERFORMA MaP Implementasi Kons (3)"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

MAKALAH

MASHLAHAH PERFORMA (MaP)

(Implementasi Konsep Mashlahah Performa (MaP) dalam Kinerja

Organisasi Syari’ah dan Non Syari’ah

)

Ditulis sebagai Salah Satu Penyelesaian Tugas Bahasa Indonesia

Dosen Pengampu : Zein Muttaqin, S.Ei, MA

Disusun oleh :

1. Camelia Rizka Maulida 13423097 2. Widiaturrahmi 13423021

PROGRAM STUDI EKONOMI ISLAM

FAKULTAS ILMU AGAMA ISLAM

UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA

(2)

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT yang telah melimpahkan karunia-Nya kepada kita semua. Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada nabi agung Muhammad SAW beserta keluarga, sahabat, dan para pengikutnya hingga hari kiamat.

Alhamduillah, penyusunan makalah berjudul Mashlahah Performa

(Implementasi Konsep Mashlahah Performa (MaP) dalam Kinerja Organisasi

Syari’ah dan Non Syari’ah) akhirnya dapat kami selesaikan. Harapan kami kepada

para pembaca agar dapat menambah wawasan mengenai konsep dan implementasi mashlahah performa dalam konteks pengukuran kinerja bisnis pada organisasi. Pembahasan tema ini melihat efektifitas dan efisiensi antara instrumen kinerja berbasis syariah (MaP) dengan instrumen kinerja non-syariah yang selama ini telah dilakukan dalam organisasi-organisasi dari sudut pandang bagaimana seharusnya, dilengkapi dengan penjelasan mengenai praktiknya di lapangan.

Penyusun mengharap saran dan kritik yang membangun demi kesempurnaan penulisan makalah ini. semoga makalah ini bermanfaat bagi pembaca sekalian dan penyusun.

Yogyakarta, 18 Desember 2016

(3)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ... 2

DAFTAR ISI ... 3

BAB I PENDAHULUAN ... 4

A. Latar Belakang Masalah ... 4

B. Rumusan Masalah ... 6

C. Tujuan Penulisan ... 7

D. Manfaat Penulisan ... 7

BAB II PEMBAHASAN ... 8

A. Konsep Maslahah Performa (MaP) ... 8

B. Implementasi MaP pada PT. ATK ... 10

C. Implementasi MaP pada Asuransi Jiwa Bersama (AJB) Bumi Putera 1912 ... 12

D. Analisis Komparatif Konsep Maslahah Performa (MaP) ... 13

BAB III PENUTUP ... 16

A. Kesimpulan ... 16

(4)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Organisasi bila didirikan tanpa landasan ajaran agama maka bukan mustahil menghasilkan penindasan oleh satu pihak kepada pihak lainnya. Pihak yang tertindas pada akhirnya mendoakan hal-hal buruk bagi organisasi. Organisasi mendapatkan keburukan. Organisasi menyusut, pada akhirnya habis dan bubar. Tidak perlu disebutkan satu per satu, organisasi yang banyak membuat kerusakan, pada akhirnya mengalami kebangkrutan. Tetapi organisasi yang pendiriannya dilandasi oleh ajaran agama, menghasilkan kemanfaatan bagi banyak orang. Orang-orang yang mendapatkan senantiasa mendoakan hal yang baik kepada organisasi. Organisasi mendapatkan kebaikan. Organisasi menjadi tumbuh dan berkembang. Organisasi pun menjadi langgeng.

Ajaran Islam menekankan bahwa organisasi diciptakan untuk mewujudkan fungsi manusia sebagai khalifah Allah di bumi. Oleh karena itu, organisasi harus memberikan kemanfaatan bagi banyak orang. Hal inilah yang dimaksud dengan sejalannya tujuan organisasi dengan tujuan shari‟ah (maqashid al-shari‟ah). Prinsip tersebut berbeda dengan pandangan dari para ahli organisasi pada umumnya bahwa organisasi diciptakan untuk meningkatkan kesejahteraan pemegang saham. Pandangan tersebut dilatarbelakangi oleh paham kapitalis bahwa kesejahteraan pemegang saham menjadi tujuan utama organisasi karena merekalah yang memiliki modal (capital).

Kesadaran para pelaku organisasi terhadap tujuan sebenarnya dari organisasi, terus bertumbuh dan berkembang. Hal ini terlihat dari pesatnya pertumbuhan industri bisnis berbasis syari‟ah, khususnya di Indonesia. Namun demikian, pesatnya pertumbuhan bisnis syari‟ah belum dapat memberikan gambaran tentang besarnya manfaat bisnis yang diterima oleh para pemangku kepentingan. Hal ini disebabkan belum adanya metodologi yang tepat, untuk mengukur kinerja kemanfaatan organisasi, dalam bentuk kontribusi organisasi bagi peningkatan ekonomi dan pemerataan kesejahteraan masyarakat umum. Salah satu alasannya adalah keterbatasan jumlah penelitian tentang pengukuran kinerja kemaslahatan organisasi.

(5)

Achmad Firdaus1 menjelaskan bahwa dalam konteks bisnis tercapainya kemaslahatan bisnis sangat bergantung pada pemenuhan enam aspek orientasi kemaslahatan bisnis yaitu orientasi ibadah untuk menjelaskan terjaga dan terpeliharanya penerapan agama (ad-din) di dalam bisnis2. Orientasi proses internal untuk menjelaskan terjaga dan terpeliharanya jiwa bisnis (al-nafs) . Orientasi tenaga kerja untuk menjelaskan terjaga dan terpeliharanya keturunan (an-nasl). Orientasi pembelajaran untuk menjelaskan terjaga dan terpeliharanya akal (al-„aql). Orientasi Pelanggan untuk menjelaskan terjaga dan terpeliharanya hubungan dengan pelanggan3. Orientasi harta kekayaan untuk menjelaskan terjaga dan terpeliharanya harta (al-mal) (Firdaus, Maslahah Scorecard (MaSC) Sistem Kinerja Bisnis Berbasis Maqasid al-Shari‟ah, 2013, p. 30).

Organisasi didirikan dalam rangka menjalankan fungsi kekhalifaan manusia di bumi. Oleh karena itu, organisasi harus memberikan kemanfataan bagi banyak orang. Ahmad Firdaus dalam bukunya mencoba menjabarkan sistem kinerja MaP yaitu sistem kinerja organisasi berbasis maqasid al-shari‟ah dengan landasan konsep maslahah. Sistem kinerja didukung oleh beberapa alat manajemen yaitu empat variabel Balanced Scorecard (BSC) dan siklus Plan Do Check Action (PDCA) sebagai metodologi penerapan (Firdaus, Maslahah Performa (MaP) Sistem Kinerja Untuk Mewujudkan Organisasi Berkemaslahatan, 2014, hal. 90).

Sistem kinerja MaP berorientasi pada hasil. Sistem yang terintegrasi dengan pendekatan perencanaan dan pengembangan. Sistem kinerja MaP menghubungkan pencapaian kinerja saat ini dan di masa datang. Dalam penerapannya, Sistem kinerja MaP memiliki tahapan sosialisasi yang dilakukan secara sistematis dan melibatkan seluruh staff. Sistem kinerja MaP tidak hanya melakukan proses pengukuran kinerja, tetapi juga proses tinjau ulang atau review yang dilakukan melalui proses monitoring dan analisis terhadap hasil yang dicapai. Selanjutnya, hasil tinjau ulang menjadi bahan pembelajaran untuk perbaikan di masa datang.

Dalam penelitian (Maulida, 2016), AJB Bumi Putera 1912 memiliki hasil kinerja proses yang cukup tinggi jika dilihat dari segi jenis perusahaan yang tidak berbasis syariah. Hal ini dapat menjadi tolak ukur bagi organisasi lain bahwa sejatinya tujuan sebuah organisasi harus sesuai dengan syariah yakni mencapai dan menciptakan maslahah bagi stakeholder dan tenaga kerja meskipun belum secara penuh. Namun, setidaknya para pemangku kepentingan perusahaan telah menyadari

1Achmad Firdaus, “Maslah

ah Scorecard, Sistem Pengukuran Kinerja Bisnis Berbasis Maqasid Shariah” (paper dipresentasikan pada Call for Paper Islamic Banking & Finance Conference 2012, Fakultas Ekonomi dan Bisnis UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, 15 September 2012).

2 Kata ibadah yang dimaksudkan dalam orientasi ibadah adalah ibadah dalam arti yang sangat luas yaitu

segala usaha dan aktifitas yang dilakukan oleh bisnis dalam rangka beribadah kepada Yang Maha Pemberi Rizki

3 Pelanggan merupakan faktor yang sangat penting dan sangat menentukan bagi bisnis. Pelanggan adalah

(6)

bahwa fokus pada tujuan memang penting, tanpa menafikan dan melupakan proses yang dilewati untuk sampai pada tujuan dan hasil tersebut.

Dari pemaparan di atas, dapat dijelaskan bahwa organisasi yang tidak dengan background syari‟ah, tidak menutup kemungkinan bahwa di dalamnya telah diterapkan nilai-nilai Islam. Misalnya AJB Bumi Putera 1912 yang ternyata telah menerapkan mashlahah dalam manajemennya baik stakeholder maupun karyawan, meskipun belum secara penuh. Pengukuran kinerja serupa juga telah banyak dilakukan, misalnya pada PT ATK yang dilakukan oleh Ahmad Firdaus.

Dari latar belakang di atas, makalah ini mencoba mengkomparasikan antara implementasi sistem maslahah performa (MaP) antara organisasi berbasis syari‟ah dan organisasi non-syari‟ah. Sehingga pada akhirnya, penulis berusaha menggunakan pisau analisisnya untuk melihat efektifitas dan efisiensi antara instrumen kinerja berbasis syariah (MaP) dengan instrumen kinerja non-syariah yang selama ini telah dilakukan dalam organisasi-organisasi, yang kemudian akan dikupas secara tuntas

dalam pembahasan makalah ini yang dikemas dalam judul “Implementasi Maslahah

Performa (MaP) dalam Kinerja Organisasi Non-Syariah dan Organisasi Syariah.”

B. Rumusan Masalah

Aplikasi konsep spiritualitas di dalam teori organisasi, kepemimpinan maupun teori tentang motivasi telah berkembang dengan sangat pesatnya. Hal ini dipicu dengan tidak mampunya konsep ekonomi kapitalis dalam menjawab berbagai persoalan ekonomi yang disebabkan oleh kurangnya etika dan moral. Etika bisnis yang dikembangkan oleh ekonomi kapitalis tidak mampu membendung pelanggaran etika yang dilakukan oleh para praktisi organisasi. Ajaran Islam mengajarkan bahwa tujuan diciptakannya organisasi adalah untuk mencapai kesuksesan hidup di dunia dan keselamatan hidup di akhirat (falah). Oleh karena itu, konsep Maslahah Performa (MaP) sedang gencar diperkenalkan untuk nantinya dapat diimplementasikan. Sebagai teori yang baru, MaP memiliki kelebihan dan kekurangan tentunya. Oleh karena itu, dalam beberapa waktu terakhir telah dilakukan penilaian kinerja organisasi menggunakan MaP. Sehingga rumusan masalah dalam makalah ini sebagai berikut:

1. Bagaimana implementasi maslahah performa (MaP) pada organisasi non syariah?

2. Bagaimana implementasi maslahah performa (MaP) pada organisasi berbasis

(7)

C. Tujuan Penulisan

Dari pemaparan di atas, makalah ini disusun dengan tujuan sebagai berikut:

1. Mengimplementasikan konsep Maslahah Performa (MaP) dalam evaluasi

kinerja organisasi berbasis syari‟ah dan non-syari‟ah.

2. Memahami konsep Maslahah Performa (MaP) dalam implementasinya pada

organisasi berbasis syari‟ah dan non-syari‟ah.

D. Manfaat Penulisan

Makalah dengan judul “Implementasi Maslahah Performa Pada Organisasi Non-Syariah dan Organisasi Syariah” ini diharapkan mampu memberikan manfaat bagi: 1. Organisasi syari‟ah dan non-syari‟ah, diharapkan nantinya akan ada perbaikan ke depannya terkait kinerja organisasi itu sendiri. Mampu menggunakan instrumen

kinerja berbasis syari‟ah sebagai alat ukur kinerja dalam ornagisasi syari‟ah dan

non-syari‟ah.

2. Masyarakat pada umumnya. Dengan adanya karya sederhana ini mampu memberikan kontribusi terhadap masyarakat berupa pemahaman terkait kinerja yang ada pada sebuah organisasi sehingga diharapkan nantinya organisasi tersebut mampu menciptakan maslahah baik dalam lingkungan internal perusahaan maupun eksternal perusahaan.

(8)

BAB II

PEMBAHASAN

A. Konsep Maslahah Performa (MaP)

Sistem kinerja organisasi berbasis maqashid al-shari’ah atau Maslahah Performa (MaP) adalah sistem kinerja organisasi yang diterapkan dalam rangka mewujudkan visi manusia untuk mencapai keselamatan hidup di akhirat dan kesuksesan hidup di dunia. Visi tersebut dapat dicapai dengan melaksanakan misi hidup manusia sebagai khalifah Allah di bumi. Visi dan misi dapat terwujud dengan memenuhi kebutuhan dasar organisasi secara berimbang. Kebutuhan dasar organisasi terdiri dari terpenuhinya orientasi: ibadah, proses internal, bakat, pembelajaran pelanggan dan harta kekayaan (Firdaus, 2014, p. 172).

Oleh karena itu, pemenuhan atas tiap-tiap orientasi kemaslahatan organisasi, senantiasa melandaskan pada visi dan misi hidup manusia. Jadi, tidaklah mungkin pemenuhan atas satu orientasi kemaslahatan organisasi dapat memberikan keberlanjutan kemaslahatan apabila dalam proses pemenuhannya tidak merujuk pada visi dan misi hidup manusia. Pemenuhan terhadap kebutuhan dasar organisasi dengan memberikan prioritas utama pada terpenuhinya orientasi ibadah yaitu kebutuhan organisasi dalam menerapkan agama sehari-hari yaitu saat berinteraksi dengan Allah sebagai Yang Maha Pemberi Rizki, pemangku kepentingan dan lingkungan. Seluruh interaksi tersebut dilakukan oleh organisasi sebagai bagian dari peribadatan kepada Allah Sang Maha Pencipta (Firdaus, 2014, p. 173).

(9)

Sebagai prioritas pemenuhan kebutuhan dasar yang terakhir adalah terpenuhinya orientasi harta kekayaan. Orientasi harta kekayaan adalah pemenuhan kebutuhan dasar organisasi dalam usahanya untuk mendapatkan dan membelanjakan harta kekayaan. Organisasi memperoleh harta melalui siklus terpenuhinya orientasi: ibadah, proses internal, bakat, pembelajaran dan pelanggan. Organisasi membelanjakan harta melalui pengalokasian asset pada orientasi: pelanggan, pembelajaran, bakat, proses internal, dan ibadah. Sistem kinerja organisasi Maslahah Performa (MaP) adalah sistem kinerja organisasi yang memandang bahwa harta kekayaan bukanlah tujuan utama dalam menciptakan organisasi tetapi harta kekayaan adalah sarana untuk mencapai tujuan utama hidup manusia yaitu mendapatkan keselamatan hidup di akhirat dan kesuksesan hidup di dunia. Visi tersebut dapat dicapai dengan melaksanakan misi hidup manusia sebagai khalifah Allah di bumi (Firdaus, 2014, p. 174).

Terdapat delapan langkah sistem kinerja MaP sehingga metodologi sistem kinerja MaP disebut juga dengan delapan langkah sistem kinerja kemaslahatan. Langkah pertama sistem kinerja MaP adalah menyusun perencanaan strategis. Perencanaan strategis adalah proses menetapkan tujuan dan sasaran organisasi, baik jangka panjang, jangka menengah maupun jangka pendek. Proses perencanaan strategis dituangkan dalam bentuk Grand Strategi yaitu Rencana Jangka Panjang Perusahaan (RJPP), Rencana Jangka Menengah Perusahaan (RJMP) dan Rencana Kerja & Anggaran Perusahaan (RKAP). Langkah kedua sistem kinerja MaP adalah mengidentifikasi fondasi yang diperlukan untuk mencapai orientasi kemaslahatan. Langkah ini merupakan langkah mengidentifikasi infrastruktur kemaslahatan yang harus disediakan untuk satu orientasi kemaslahatan (Firdaus, 2014, p. 176).

Langkah ketiga sistem kinerja MaP adalah menentukan perilaku yang dibutuhkan bagi tiap-tiap orientasi kemaslahatan. Perilaku kemaslahatan adalah sikap, sifat, perilaku, nilai yang harus dimiliki oleh organisasi sebagai modal dasar menjadi organisasi yang memberikan kemanfaatan untuk seluruh pemangku kepentingan. Langkah keempat sistem kinerja MaP adalah menentukan ukuran untuk mengukur kinerja MaP. Ukuran merupakan indikator yang menunjukan keberhasilan atau kesuksesan organisasi dalam mencapai sasaran strategis. Sementara formula adalah pendekatan, rumus atau cara menghitung ukuran kinerja (Firdaus, 2014, p. 177).

(10)

coaching dan memantau kinerja kemaslahatan organiasi. Langkah kedelapan sistem kinerja MaP adalah melakukan tindak lanjut yang terdiri atas dua sub aktifitas yaitu: memberikan penghargaan, melakukan tindakan peningkatan (Firdaus, 2014, p. 178).

B. Implementasi MaP pada PT. ATK

Takaful Keluarga adalah pelopor perusahaan asuransi jiwa syariah di Indonesia. Mulai beroperasi sejak tahun 1994, Takaful Keluarga mengembangkan berbagai produk untuk memenuhi kebutuhan berasuransi sesuai syariah meliputi perlindungan jiwa, perlindungan kesehatan, perencanaan pendidikan anak, perencanaan hari tua, serta menjadi rekan terbaik dalam perencanaan investasi. Guna meningkatkan kualitas operasional dan pelayanan, Takaful Keluarga telah memperoleh sertifikasi ISO 9001:2008 dari Det Norske Veritas (DNV), Norwegia, pada November 2009 sebagai standar internasional mutakhir untuk sistem manajemen mutu (Takaful, 2016).

Takaful Keluarga terdaftar dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) serta memiliki tenaga pemasaran yang terlisensi oleh asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) dan Asosiasi Asuransi Syariah Indonesia (AASI). Kinerja positif Takaful Keluarga dari tahun ke tahun dibuktikan dengan diraihnya penghargaan-penghargaan prestisius yang diberikan oleh berbagai institusi. Takaful Keluarga berkomitmen untuk terus memperkuat dan memperluas jaringan layanan di seluruh Indonesia. Peningkatan dan pembaharuan sistem teknologi informasi terus diupayakan demi memberikan pelayanan prima kepada peserta. Dengan pengalaman lebih dari 20 tahun, Takaful Keluarga menjadi pilihan terpercaya dalam menyediakan solusi perlindungan jiwa dan perencanaan investasi sesuai syariah bagi masyarakat Indonesia (Takaful, 2016).

PT ATK merupakan perusahaan asuransi syariah yang bergerak dalam perlindungan jiwa dan perlindungan kesehatan. Sejauh ini, belum banyak dilakukan penelitian terkait PT ATK. Penelitian-penelitian yang telah sebelumnya dilakukan dengan menggunakan instrumen kinerja yang berbeda-beda. Ahmad Firdaus (2012) mencoba mengukur kinerja PT ATK dengan menggunakan pengukuran kinerja maslahah scorecard (MaSC).

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa MaSC mengukur kinerja bisnis dengan pendekatan mashlahah baik pada kinerja proses maupun kinerja hasil. Pengukuran kinerja proses (process oriented) kemaslahatan dilakukan dengan membandingkan antara standar delapan langkah MaSC dengan penerapan setiap langkah kinerja MaSC di AJB Bumi Putera 1912. Pengukuran kinerja proses dengan rumus sebagai berikut:

(11)

= bobot langkah ke-i MaSC

i = langkah ke-i MaSC

Bobot setiap langkah MaSC adalah sebesar 0,050 yang diperoleh dari 100% dibagi 20 langkah MaSC. Oleh karena itu penilaian kinerja proses MaSC memiliki range antara 0,000 (tidak menerapkan keseluruhan langkah MaSC) sampai dengan 1,000 (menerapkan keseluruhan langkah MaSC).

Pengukuran kinerja hasil (result oriented) kemaslahatan dilakukan dengan mengukur hasil pencapaian kinerja MaP. Pengukuran dilakukan dengan membandingkan antara pencapaian kinerja hasil setiap orientasi kemaslahatan terhadap target yang sudah ditetapkan oleh AJB Bumi Putera 1912. Pengukuran kinerja hasil dengan rumus sebagai berikut:

i = orientasi ke-i MaSC

= Jumlah target yang tercapai pada orientasi ke-i MaSC

= Jumlah target yang ditetapkan pada orientasi ke-i MaSC

= bobot orientasi ke-i MaSC

Bobot setiap orientasi MaSC adalah sebesar 0,166 yang diperoleh dari 100 % dibagi 6 orientasi kemaslahatan bisnis. Oleh karena itu penilaian kinerja hasil MaSC memiliki range antara 0,000 (seluruh target kemaslahatan tidak tercapai) sampai dengan 1,000 (seluruh target kemaslahatan tercapai).

Pengukuran kinerja MaP dilakukan dengan dua metode yaitu pengukuran kinerja hasil (result oriented) kemaslahatan dan pengukuran kinerja proses (process oriented) kemaslahatan. Pengukuran kinerja hasil kemaslahatan adalah the extent of achievement (pencapaian aktual) yaitu obyek pencapaian kinerja. Sementara pengukuran kinerja proses kemaslahatan adalah menunjukkan kebebasan maupun kesempatan yang dimiliki organisasi dalam mewujudkan kemaslahatan (freedom to achieve) (Maulida, 2016, p. 25).

(12)

menunjukan bahwa PT. ATK belum secara penuh menerapkan sistem pengukuran kinerja MaSC (Firdaus A. , 2012, p. 25).

C. Implementasi MaP pada Asuransi Jiwa Bersama (AJB) Bumi Putera 1912

AJB Bumiputera 1912 adalah perusahaan asuransi terkemuka di Indonesia. Didirikan 103 tahun yang lalu untuk memenuhi kebutuhan spesifik masyarakat Indonesia, AJB Bumiputera 1912 telah berkembang untuk mengikuti perubahan kebutuhan masyarakat. Pendekatan modern, produk yang beragam, serta teknologi mutakhir yang ditawarkan didukung oleh nilai-nilai tradisional yang melandasi pendirian AJB Bumiputera 1912. AJB Bumiputera 1912 telah merintis industri asuransi jiwa di Indonesia dan hingga saat ini tetap menjadi perusahaan asuransi jiwa nasional terbesar di Indonesia. AJB Bumiputera 1912 adalah perusahaan asuransi mutual, dimiliki oleh pemegang polis Indonesia, dioperasikan untuk kepentingan pemegang polis Indonesia, dan dibangun berdasarkan tiga pilar 'mutualisme', 'idealisme' dan 'profesionalisme' (Bumiputera, 2016).

Idealisme yaitu AJB Bumiputera 1912 bukan berdiri semata-mata untuk mencari keuntungan, melainkan sebagai alat finansial yang lahir dari komitmen untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat Indonesia melalui bisnis asuransi jiwa. Mutualisme yakni sebagai dasar manajemen perusahaan, nilai sosial mutualisme dimanifestasikan melalui kerjasama, kemitraan, dan sinergi antara pemegang polis dan sesama pemegang polis, antara perusahaan dan pemegang polis, antara karyawan dan sesama karyawan dalam perusahaan, dan antara karyawan dengan manajemen dalam perusahaan. Profesionalisme yakni keunggulan dan kompetensi sumber daya manusia, yang dikembangkan melalui pendidikan dan pelatihan dari waktu ke waktu, menjadikan Perusahaan memiliki sumber daya manusia yang dapat mempertahankan kelangsungan hidup, pengembangan organisasi dan pertumbuhan bisnis (Bumiputera, 2016).

(13)

D. Analisis Komparatif Konsep Maslahah Performa (MaP)

Untuk mengetahui seberapa jauh efektivitas penerapan strategi organisasi, suatu organisasi harus mempunyai alat ukur kinerja yang bertujuan untuk menghasilkan kinerja organisasi yang optimal.

Konsep maslahah performa (MaP) dengan alat ukur maslahah scorecard

(MaSC) bisa dikatakan masih baru dan dalam tahap dikenalkan kepada masyarakat,

terutama para pemangku kepentingan organisasi (stakeholder). Sebagai suatu konsep yang baru, tentunya perlu dilakukan percobaan-percobaan sehingga mampu meminimalisir kekurangan akan instrumen tersebut. Seperti yang dikatakan sebelumnya, bahwa dalam hal ini Islam kurang terlihat perannya. Organisasi-organisasi masih menggunakan alat ukur konvensional untuk mengukur kinerjanya. Padahal, organisasi merupakan bentuk pengejawantahan tugas manusia sebagai khalifah di muka bumi ini. Oleh karena itu, organisasi harusnya mampu menciptakan mashalahah bagi para karyawan maupun stakeholder dan memiliki tujuan akhir yakni

“falah.”

Maslahah performa bukan hanya untuk mengukur kinerja organisasi berbasis syariah, namun juga dapat digunakan untuk mengevaluasi kinerja organisasi non syariah. Sebagaimana telah dilakukan penelitian pada PT ATK dan AJB Bumi Putera 1912. Kedua perusahaan tersebut berbeda dalam hal syariah, namun keduanya memiliki kesamaan yakni perusahaan yang bergerak dalam sektor bisnis asuransi. Karya sederhana ini berusaha membandingkan antara konsep maslahah performa (MaP) yang digunakan untuk organisasi syariah dan non-syariah.

Pada kenyataannya di lapangan, implementasi konsep MaP memiliki kesamaan, terlepas dari perbedaan obyek yang akan diukur. Hasil yang diperoleh dari penelitian pada kinerja PT ATK berbeda dengan hasil yang diperoleh dari penelitian pada kinerja AJB Bumi Putera 1912. Hal ini menunjukkan sejauh mana kedua perusahaan tersebut telah menciptakan maslahah bagi tenaga kerja dan juga stakeholder. Pada kenyataannya, organisasi non-syariah seperti AJB Bumi Putera 1912 memiliki range pada kinerja hasil dan kinerja proses lebih besar dibandingkan organisasi syariah seperti PT ATK, meskipun perbedaan yang didapat tidak terlalu signifikan.

(14)

Dalam konsep MaP yang telah dipaparkan sebelumnya, terdapat delapan langkah dalam kinerja proses dan enam orientasi maslahah pada kinerja hasil. Dari keseluruhan rangkaian tersebut, telah cukup mencakup segala hal yang dijalankan dalam roda kehidupan organisasi. Ada beberapa rencana strategi dan ukuran masing-masing orientasi maslahah untuk mengukur kinerja hasil dalam konsep maslahah scorecard (MaSC). Misalnya pada orientasi pelanggan, bahwa sesuai dengan slogan

“pembeli adalah raja”, orientasi pelanggan mengukur sejauh mana pelanggan merasa

puas dengan kinerja dan pelayanan organisasi terkait selama ini. Pada orientasi tenaga kerja, hal ini yang sangat rentan dalam kehidupan organisasi. Tidak sedikit dari para pemangku kepentingan (stakeholder) yang menjadikan para tenaga kerja sebagai bagian dari modal organisasi tanpa menunaikan hak-haknya. Suatu organisasi tidak akan berjalan dengan lancar tanpa adanya modal manusia (tenaga kerja). Namun, seringkali pelanggaran terjadi di area ini, misalnya upah yang tidak sesuai dengan pekerjaan, dan lain sebagainya. Oleh karena itu, perusahaan tidak mampu menciptakan maslahah dalam hal tenaga kerja. Sehingga, diperlukan pengukuran kinerja berbasis syariah seperti maslahah performa (MaP).

Hemat penulis, jika dibandingkan antara kondisi sebuah organisasi ketika menggunakan instrumen kinerja konvensional dengan instrumen kinerja berbasis syariah, akan sangat tampak perbedaannya. Jika awalnya sebuah organisasi hanya fokus pada target yang ingin dicapai, sehingga berbagai cara dilakukannya, misalnya dengan tidak memanusiakan SDM organisasi, maka dengan konsep MaP ini, sebuah organisasi akan mampu menilai dirinya sejauh mana telah menunaikan kewajiban dan haknya sesuai tuntutan syariah. Islam sebagai agama yang rahmatan lil-‘alamin secara holistik mengajarkan kepada ummatnya tentang akhlak, aqidah, dan syari‟ah. Oleh karena itu, tujuan hidup haruslah bermuara pada tujuan syariah yaitu mencapai falah dan menciptakan mashlahah.

Hal ini tentunya selaras dengan tujuan diciptakannya konsep maslahah performa (MaP) yakni menciptakan organisasi berkemaslahatan. Organisasi bila didirikan tanpa landasan ajaran agama maka bukan mustahil menghasilkan penindasan oleh satu pihak kepada pihak lainnya. Pihak yang tertindas pada akhirnya mendoakan hal-hal yang buruk bagi organisasi. Organisasi mendapatkan keburukan, nama baik organisasi tercemar, Organisasi menyusut, pada akhirnya habis dan bubar. Tidak perlu disebutkan satu per satu, organisasi yang banyak membuat kerusakan, pada akhirnya mengalami kebangkrutan.

(15)

mampu memberikan kemanfaatan bagi banyak orang, bukan sebaliknya. Hal inilah yang kemudian dimaksud sejalan dengan tujuan organisasi dengan tujuan syariah (maqasid al-syari’ah).

Namun demikian, tidak dapat dipungkiri pula bahwa kesadaran para pelaku organisasi terhadap tujuan sebenarnya dari organisasi terus tumbuh dan berkembang.

Hal ini terlihat jelas dari pesatnya pertumbuhan industri bisnis syari‟ah, khususnya di

Indonesia. Namun, pesatnya pertumbuhan bisnis berbasis syari‟ah belum dapat memberikan gambaran tentang besarnya manfaat bisnis yang diterima oleh para pemangku kepentingan. Hal ini disebabkan belum adanya metodologi yang tepat, untuk mengukur kinerja kemanfaatan organisasi, dalam bentuk kontribusi organisasi bagi peningkatan ekonomi dan pemerataan kesejahteraan masyarakat umum. Salah satu alasannya adalah keterbatasan jumlah penelitian tentang pengukuran kinerja kemaslahatan organisasi.

Bagaimanapun juga, penerapan MaP masih memerlukan beberapa penyesuaian karena di dalam Islam fokus utama organisasi tidak semata-mata maksimalisasi hasil-hasil finansial melainkan pemenuhan dan pertanggung jawaban maqashid syari’ah dan penciptaan maslahah dengan mengkomunikasikan strategi organsisasi secara lebih baik (top down dan bottom up). Daur waktu yang digunakan dalam pengukuran kinerja dengan MaP diharapkan akan menjadi sebuah efektivitas bagaimana organisasi memelihara kemampuannya untuk membaca tuntutan zaman yang serba canggih seperti sekarang ini.

(16)

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil pembahasan yang sudah disampaikan diatas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa sebuah organisasi perlu menetapkan parameter untuk kemajuan organisasi dengan cara mengukur sistem kinerjanya. Mashlahah Performa (MaP) adalah salah satu konsep yang menerapkan sistem kinerja organisasi berbasis

maqashid syari’ah pada sebuah organisasi atau perusahaan dalam rangka

mewujudkan visi manusia untuk mencapai keselamatan hidup di akhirat dan kesuksesan hidup di dunia dengan terpenuhinya visi misi secara berimbang.

Terdapat delapan langkah sistem kinerja MaP sehingga metodologi sistem kinerja MaP disebut juga dengan delapan langkah sistem kinerja kemaslahatan, diantara dengan perencanaan strategis, mengidentifikasi fondasi yang diperlukan, menentukan perilaku yang dibutuhkan bagi tiap-tiap orientasi kemaslahatan, menentukan ukuran untuk mengukur kinerja MaP, menyepakati kontrak kinerja, menerapkan kinerja kemaslahatan (do), melakukan pemantauan terhadap sistem kinerja, serta melakukan tindak lanjut yang terdiri atas dua sub aktifitas yaitu: memberikan penghargaan, melakukan tindakan peningkatan.

Dari perbandingan dua organisasi yang sudah dipaparkan diatas membuktikan bahwa pengukuran kinerja MaP di PT.ATK dilakukan dengan dua metode yaitu pengukuran kinerja hasil (result oriented) kemaslahatan dan pengukuran kinerja proses (process oriented) kemaslahatan. Pengukuran kinerja hasil kemaslahatan adalah the extent of achievement (pencapaian aktual) yaitu obyek pencapaian kinerja. Sementara pengukuran kinerja proses kemaslahatan adalah menunjukkan kebebasan maupun kesempatan yang dimiliki organisasi dalam mewujudkan kemaslahatan (freedom to achieve). Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa PT. ATK memiliki kinerja hasil mashlahah sebesar 0,691 dari range antara 0,000 sampai dengan 1,000. Secara kualitatif angka tersebut menunjukan bahwa PT. ATK memberikan kemaslahatan bagi stakeholder. PT. ATK memiliki nilai kinerja proses mashlahah sebesar 0,666 dari range antara 0,000 sampai dengan 1,000. Secara kualitatif angka tersebut menunjukan bahwa PT. ATK belum secara penuh menerapkan sistem pengukuran kinerja MaSC. PT.ATK dinilai belum menetapkan target karena pada dasarnya MaSC merupakan system kinerja yang mengutamakan kesinambungan usaha.

(17)

menunjukkan bahwa AJB Bumi Putera 1912 telah mampu menerapkan mashlahah dalam setiap proses dalam perusahaan meskipun belum secara penuh.

Implementasi pengukuran kinerja dengan menggunakan konsep MaP pada dasarnya memiliki kesamaan terlepas dari perbedaan obyek yang akan diukur. Kinerja perusahaan PT. ATK dan PT. AJB Bumi Putera 1912 menunjukan sejauh mana perusahaan tersebut menciptakan kemaslahatan bagi tenaga kerja dan stakeholder, dilihat dari kinerja proses dan hasil maslahah menunjukkan skor yang tidak jauh antara keduanya. Meskipun secara keseluruhan belum mencukupi syarat perubahan skor. Akan tetapi perusahaan harus selalu berusaha untuk mempertahankan, memperbaiki serta meningkatkan kinerja baik dari segi perspektif keuangan, perspektif pelanggan, perspektif proses bisnis internal, dan perspektif proses pertumbuhan dan pembelajaran, agar visi dan misi perusahaan dapat tercapai dimasa yang akan datang. Dengan Maslahah Scorecard para manajer perusahaan akan mampu mengukur bagaimana kinerja organisasi dengan mempertimbangkan kepentingan dan kebutuhan di masa yang akan dating (falah).

(18)

DAFTAR PUSTAKA

Bumiputera. (2016). Profil Perusahaan. Jakarta: AJB Bumiputera 1912.

Firdaus, A. (2012). Pengukuran Kinerja PT Asuransi Takaful Keluarga dengan Menggunakan Sistem Pengukuran Kinerja Mashlahah Scorecard (MaSC). The Indonesian Association of Islamic Economist, Bank Indonesia dan Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim, Pekanbaru.

Firdaus, A. (2013). Maslahah Scorecard (MaSC) Sistem Kinerja Bisnis Berbasis Maqasid al-Shari’ah. Jakarta: Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah. Firdaus, A. (2014). Maslahah Performa (MaP) Sistem Kinerja Untuk Mewujudkan

Organisasi Berkemaslahatan. Yogyakarta: Deepublish Publisher.

Maulida, C. R. (2016). Evaluasi Kinerja AJB Bumi Putera 1912 dalam Perspektif Maqasid Syariah. Yogyakarta: Uniersitas Islam Indonesia.

Takaful. (2016). Profil Perusahaan. Jakarta: Takaful Keluarga.

Referensi

Dokumen terkait

Pengukuran kandungan makronutrien meliputi kandungan karbohidrat mereduksi dan tidak mereduksi, protein dan serat dilakukan mengacu pada metode AOAC (1990),

Seberapa besar pengaruh Pertumbuhan Perusahaan (Growth) dan Ukuran Perusahaan (Firm Size) terhadap nilai Perusahaan (PBV) pada perusahaan manufaktur di sektor

Hasil penelitian tersebut sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa sikap duduk yang salah (tidak ergonomis) akan meningkatkan risiko terpapar nyeri punggung bawah (Soedarjatmi,

Eurotek Jaya Perkasa Bogor Dependen : kinerja manajerial secara parsial kinerja manajerial 2 Singgih Herdiansyah dan Andri Prastiwi (2012) Pengaruh karakteristik informasi

Jika Helaian Data Keselamatan kami telah diberikan kepada anda bersama bekalan Asal bukan HP yang diisi semula, dihasilkan semula, serasi atau lain, sila berhati-hati bahawa

Misalkan titik P adalah seorang penumpang yang mencatat bahwa kereta barang berpapasan selama 12 detik.. Perhatikan gambar berikut. Garis BD dan CE berpotongan di

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Deby (2007) yaitu tentang pengaruh pendidikan seks terhadap sikap mengenai seks pranikah pada remaja di SMA N

Kerusakan sel pasca induksi Cyclosporine-A dikonfirmasi dengan pengamatan histologi organ ginjal melalui metode pewarnaan Hematoxylen-Eosin (HE).Pewarnaan HE dilakukan