• Tidak ada hasil yang ditemukan

PELANGGARAN HAM DI SEKTOR INDUSTRI KELAP

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PELANGGARAN HAM DI SEKTOR INDUSTRI KELAP"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

PELANGGARAN HAM DI SEKTOR INDUSTRI KELAPA SAWIT DI

INDONESIA

MAKALAH

Diajukan Untuk Mengikuti Praktikum

Mini Research Di WALHI JAKARTA

Oleh:

Marisi Anggelina Simangunsong

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS PASUNDAN

(2)

Hak Asasi Manusia adalah prinsip-prinsip moral atau norma-norma,1 yang menggambarkan standar tertentu dari perilaku manusia dan dilindungi secara teratur

sebagai hak-hak hukum dalam nasional dan internasional.2 Doktrin dari hak asasi manusia

yang sangat berpengaruh dalam hukum internasional, lembaga-lembaga global dan

regional.3 Hak Asasi Manusia (HAM) merupakan rezim hukum internasional yang menjadi

capaian paling penting dalam sejarah peradaban manusia modern. HAM secara singkat

dapat di definisikan sebagai hak-hak yang dimiliki manusia dan bukan karena diberikan oleh

masyarakat maupun hukum positif (Donley dalam Asplund 2008). Jika dirunut jauh ke

belakang sesungguhnya wacana HAM telah hidup bahkan sejak zaman Yunani Kuno dan

Romawi ketika terjadi perdebatan kontroversial yang menggeser hak objektif dan hak

subjektif. Jika dilihat asal usul, sejarah dan HAM dipengaruhi dari pemikiran teori hak

alamiah (natural right theory) yang dicetuskan Thomas Aquinas dan dikembangkan Grotius

serta teori kontrak sosial yang dikembangkan John Locke (Griffin 2008, Asplund 2008;

Freeman 2002; Brown 2002). Grotius mengembangkan teori hukum alamiah, bahwa setiap

orang harus menikmati hak-haknya dengan bantuan masyarakat untuk mempertahankan

hidup, kebebasan dan miliknya (Freeman 2002).4

Masuknya industri kelapa sawit memberikan keuntungan besar bagi pebisnis dan

negara, tetapi membuat masyarakat adat tergusur akibat proses pembangunan perkebunan.

Hal ini disebabkan sistem hukum yang menegasikan atau membatasi hak-hak masyarakat

adat atas lahan. Kebijakan negara juga ikut mendeskriminasikan masyarakat adat. Studi

yang dilakukan Bank Dunia menunjukkan bahwa lahan yang memiliki hak formal di

Indonesia hanya mencapai kurang dari 40%, dengan sisanya dikuasai oleh penguasaan

secara informal atau adat. Sejak proklamasi kemerdekaan, Indonesia secara progresif telah

menanggalkan institusi adat dan menyusun kebijakan yang ditujukan untuk mengintegrasikan “masyarakat terisolasi dan asing” ke dalam arah nasional lewat pemindahan penduduk, pendidikan dan lewat ajaran agama. Meskipun hak-hak adat

mendapatkan perlindungan dari undang-undang RI, hak-hak tersebut sangat dibatasi dalam

UU kehutanan dan UU pokok agraria. Undang-undang Agraria memperlakukan hak-hak

1 James Nickel with assistence Thomas Pogge, M.B.E. Smith and Leif Wenar, December 13, 2013, Stanford

Encyclopedis of Philosophy, Human Right, Retrieve August 14, 2014.

2 https://id.m.wikipedia.org/wiki/Hak_asasi_manusia, diakses pada 15 September 2016.

3 The United Nations, Office of the High Commissioner of Human Rights, What are human rights? Retrieved

August 14, 2014.

4

(3)

adat (hak ulayat) sebagai hak penguasaan yang lemah di atas tanah milik negara yang harus

mengalah demi proyek pembangunan.

Kasus yang terjadi di sektor industri kelapa sawit, ditemukan telah banyak melanggar

Hak Asasi Manusia (HAM) seperti realitas yang terjadi di Kalimantan, ada praktek

diindikasikan kerja paksa di perkebunan sawit di Kalimantan (Sawit Watch, 2015). Buruh

mengalami perlakuan upah murah, target kerja tinggi, pemberlakuan denda, tekanan dan

intimidasi karena mendirikan serikat, ketiadaan alat kerja dan alat pelindung diri yang layak,

terkurung dalam camp (barak) dengan pengawasan ketat, minimnya fasilitas air bersih dan

kesehatan, informalisasi hubungan kerja serta pelibatan istri dan bekerja tanpa di bayar.

Jumlah buruh perkebunan mencapai 600.000 orang, sebagian besar merupakan buruh

migran dari Jawa, Sulawesi dan NTT yang di datangkan melalui program transmigrasi atau

melalui penyalur tenaga kerja resmi dan tidak resmi. Dari kasus ini sudah melanggar teori

Grotius yaitu hukum alamiah untuk menikmati hak-haknya.

Buruh perempuan di perkebunan sawit Kalimantan Tengah bekerja di bagian

pemupukan, penyemprotan, perintis (pembabat), cuci karung pupuk, menjaga tempat

penitipan anak, perawatan jalan dan wilayah sekitar barak. Diluar itu, buruh perempuan

terlibat dalam pekerjaan memanen, namun tidak menerima upah. Beberapa perkebunan

menetapkan kebijakan mewajibkan buruh pemanen membawa istri ke ancak (tempat kerja).

Bila buruh pemanen tidak membawa istri, buruh dinyatakan mangkir. Pilihan lain adalah

mandor akan mendatangkan kernet yang upahnya harus dibayar sendiri oleh buruh pemanen

bersangkutan. Tidak hanya itu, buruh perempuan juga ikut menyemprot yang menggendong

20 kg (pestisida + alat semprot) mengelilingi ancak yang ditentukan. Sebelumnya, mandor

terlebih dahulu mencampur pestisida dengan air dalam dosis tertentu dan menyerahkannya

kepada menyemprot di luas yang ditentukan. Rata-rata buruh penyemprot diharuskan

menghabiskan 6-10 (alat semprot) setiap harinya. Perusahaan tidak menyediakan alat

pelindung diri yang memadai.5

5 Tandan Sawit Edisi 1/03/2016, Menyibak Fakta Dibalik Perkebunan Kelapa Sawit (Sawit Watch: Bogor, 2016).

(4)

Menurut catatan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) pada

januari-November 2012, Komnas HAM menerima pengaduan terkait tentang perusahaan sebanyak

1.009 berkas dari 5.422 yang masuk. Perusahaan adalah aktor kedua setelah polri (1.635

berkas) yang paling banyak diadukan sebagai pelaku pelanggar HAM. Dari pengaduan ini,

ada tiga kasus yang diadukan terkait sengketa lahan (399 berkas), ketenagakerjaan (276

berkas) dan lingkungan (72 berkas). Angka-angka ini merefleksikan bahwa perusahaan

merupakan aktor non negara yang memiliki potensi besar menjadi aktor pelanggar HAM.

Sementara direktur pasca panen dan pembinaan usaha dirjen perkebunan pada kementerian

pertanian menyebutkan bahwa sekitar 59% dari 1.000 perusahaan kelapa sawit di seluruh

daerah Indonesia terlibat konflik dengan masyarakat terkait lahan. Tim dari dirjen

perkebunan sudah mengidentifikasi konflik ada di 22 provinsi dan 143 kabupaten. Totalnya

ada sekitar 591 konflik dengan urutan pertama banyaknya konflik ditempati Kalimantan

Tengah dengan 250 kasus, disusul Sumatera Utara 101 kasus, Kalimantan Timur 78 kasus,

Kalimantan Barat 77 kasus dan Kalimantan Selatan 34 kasus.6

Dari data yang di dapat Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute (PASPI), di

Komisi Hak Asasi Manusia RI (2015), menunjukkan bahwa lima daerah provinsi asal

pengaduan kasus HAM ke Komnas HAM adalah DKI Jakarta, Sumatera Utara, Sumatera

Barat, Jawa Timur dan Jawa Barat. Aspek-aspek yang diadukan masyarakat ke Komnas

HAM, yang mencakup hak untuk hidup, hak berkeluarga dan melanjutkan keturunan, hak

pengembangan diri, hak memperoleh keadilan, hak kebebasan pribadi, hak atas rasa aman,

hak atas kesejahteraan, hak turut serta dalam pemerintahan, hak wanita, hak anak dan hak

tidak diperlakukan diskriminatif. Data diatas dikatakan adalah tidak benar dan tidak

didukung data-data pengaduan kasus HAM yang diterima Komnas HAM.7

Pembukaan perkebunan kelapa sawit industri tidak hanya melanggar HAM, tetapi

juga dapat menganggu keanekaragaman hayati. Menurut Ketua Institut Hijau Indonesia

Chalid Muhammad, pemerintah telah menyetujui pembukaan 26,7 juta hektar untuk

perkebunan kelapa sawit, terkait sengketa lahan pasca pembukaan lebih dari 6.140 hektar

perkebunan sawit oleh sebuah parusahaan di kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara.

Izin yang diterbitkan pemerintah itu mencakup pembukaan kawasan hutan dan lahan

gambut. Dari izin itu telah dibuka 9 juta hektar kebun kelapa sawit yang tersebar di Sumatra

6 Tandan Sawit (Edisi I/SW2013) Mengungkap Tabir di Balik Perkebunan Kelapa Sawit (Bogor: Sawit Watch,

2013), hal 20.

7 Mitos vs Fakta Industri Minyak Sawit Indonesia Dalam Isu Sosial, Ekonomi dan Lingkungan Global: Edisi

(5)

Utara, Sumatra Selatan dan Riau. Pembukaan perkebunan sawit secara besar-besaran juga

berpotensi memunculkan pelanggaran hak asasi manusia (HAM). Pembukaan perkebunan

sawit memunculkan sengketa tanah antara perusahaan dan 806 warga di lima kecamatan di

Tapanuli Tengah. Sengketa ini terjadi karena izin pembukaan lahan untuk perkebunan sawit

tumpang tindih dengan lahan seluas 1.319,82 hektar milik warga. Pembukaan kebun sawit

telah marampas tanah transmigran, pengungsi dari Nanggroe Aceh Darussalam. Maraknya

kasus ini, membuat staf kampaye dan Advokasi Wahana Lingkungan Hidup Indonesia

(WALHI) Sumatera Utara angkat bicara, bahwa sengketa adalah rencana penataan kawasan

kelapa sawit dari perusahaan besar.8

Meluasnya industri kelapa sawit, adanya bantuan dari bank berupa pinjaman untuk

mempermudah dan mempercepat proses ekspansi mereka. Selain itu, banyak dari mereka

yang menyewa bank investasi untuk membantu mereka menjual saham baru dan obligasi

kepada investor untuk menarik modal baru bagi ekspansi. Bank-bank investasi ini kemudian

menjamin (underwriter) bahwa mereka akan mencari investor untuk volume saham dan

obligasi dengan harga tertentu. Seperti ditunjukkan pada Tabel 3, bank telah membantu 25

kelompok kelapa sawit milik para taipan untuk menarik jumlah modal yang cukup selama

lima tahun terakhir, melalui pemenuhan hutang secara mandiri dan dengan penjaminan

saham dan obligasi yang dijual kepada investor oleh perusahaan. Untuk periode 2009

sampai 2013, kajian ini mengidentifikasi pinjaman dengan nilai total USD 17,8 milyar

diberikan oleh bank kepada 25 kelompok kelapa sawit milik para taipan yang dipelajari

dalam laporan ini. Pada periode yang sama, bank investasi telah menjadi penjamin

(underwriter) penerbitan saham dan obligasi dari 25 grup bisnis kelapa sawit dengan nilai

total USD 10,6 miliar. Ini berarti bahwa bank telah membantu perusahaan untuk menarik

dana dalam jumlah tersebut dari investor.9

8 http://nasional.kompas.com/read/2010/03/09/03492985/sawit.rawan.pelanggaran.ham#page1, diakses pada 14

September 2016.

9 Buku Saku, Kuasa Taipan: Kelapa Sawit di Indonesia (Jakarta: Transformasi untuk Keadilan Indonesia), hlm.

(6)

Tabel 3 Pembiayaan bank untuk 25 grup milik taipan, 2009-2013

Kerancuan tentang nilai tanah dan persyaratan sewa telah menyebabkan banyak petani

kecil, dan khususnya masyarakat adat, menjual tanah mereka dengan harga rendah untuk

jangka waktu yang tidak ditentukan. Konversi lahan pertanian yang ada menjadi perkebunan

tanaman komersial memaksa petani masuk ke dalam ekonomi berbasis uang (cash-based

economy) dimana ketahanan pangan mereka melemah dan pemanfaatan lahan mereka

dibatasi oleh perushaan-perusahaan kelapa sawit. Ketika dipaksa tergantung pada

perusahaan karena kendala keuangan dan teknis, petani kecil adalah korban pertama dari

fluktuasi harga CPO di pasar internasional. Tidak memiliki modal dan likuiditas yang

memadai untuk menyerap produksi dan kegagalan pasar, mereka dengan cepat terjerat

dalam hutang. Studi kasus di Indonesia, pekerja migran disubkontrak terutama yang rentan

terhadap pelanggaran kerja dan hak asasi manusia sedang diikat oleh perusahaan dengan

janji-janji palsu akan tanah dan lapangan pekerjaan; mereka cenderung bekerja melebihi

waktu dan dibayar dibawah standar. 10 Standar Hak Asasi Manusia, Berdasarkan pasal 68

piagam PBB dibangun sistem perlindungan hak asasi manusia. Selain menciptakan Dewan

Ekonomi dan Sosial PBB kemudian membentuk komisi HAM untuk mempromosikan hak

asasi manusia. Instrumen hak asasi manusia merupakan bagian dari sistem perlindungan hak

asasi manusia yang berkembang pasca perang dunia II secara evolutif.11 Instrumen

internasional ini, telah ditandatangani Indonesia untuk perlindungan HAM, termasuk dalam

hal hak atas pembangunan. Hak atas pembangunan mengakui peibadi manusia sebagai

subjek dalam proses pembangunan, oleh karena itu kebijakan pembangunan seharusnya

10 Mongabay 2008, Naro 2011, Tiominar 2011, Guttal 2006.

11 Instrumen Hak Asasi Manusia dan Konsep Tanggung Jawab Negara, lihat di referensi.elsam.or.id.

(7)

menjadikan manusia sebagai partisipan dan sasaran utama pembangunan. Perlindungan hak

atas pembangunan dituangkan dalam Deklarasi PBB mengenai Hak atas Tanah

pembangunan tahun 1986.12 Proyek pembangunan seperti pembangunan pendidikan,

kesehatan, air bersih dan reformasi agraria harus dirancang dan dikerangkakan dengan

memacu pada dan secara substansial diarahkan kepad pemenuhan aspek prosedural dan

substantif dan hak asasi manusia.13

Pengakuan dari industri, bahwa metode produksi telah membentuk the Rountable on

Sustainable Palm Oil lewat perusahaan yang beroperasi melalui metode yang dapat diterima

yang dapat dinilai dan disertifikasi. RSPO bertujuan untuk menjauhkan daerah perkebunan

kelapa sawit dari hutan primer maupun kawasan dengan nilai konservasi tinggi dan

melarang perampasan tanah dan mendesakkan bahwa semua tanah hanya dapat diperoleh

dengan menghormati hak-hak masyarakat lokal dan masyarakat adat termasuk

menghormati hak mereka untuk memberikan atau tidak memberikan persetujuan atas

pembelian atau sewa tanah.14 Konvergensi krisis global (keuangan, lingkungan, energi dan

makanan) dalam beberapa tahun terakhir telah berkontribusi terhadap adanya evaluasi

kembali yang dramatis dari serbuan untuk ‘mengambil alih tanah’ terutama yang terletak di

negara-negara selatan.15 Ditingkat lokal, perampasan lahan dilakukan dalam berbagai

bentuk dan biasanya dikaitkan dengan kurangnya jaminan yang dimiliki petani saat

berhadapan dengan non kepentingan penduduk setempat yang lebih kuat yang

menggunakan berbagai cara untuk mengambil alih hak untuk tanah yang sebelumnya

dimiliki atau digunakan oleh masyarakat setempat. Kurangnya jaminan ini diakibatkan

karena tidak adanya kejelasan dan penegakan hak atas kepemilikan tanah atau akibat

pengaturan sewa yang memungkinkan tuan tanah untuk mengambil tanah atau akibat klain

tanah negara atas kepemilikan tanah yang secara de facto dihuni atau digunakan petani kecil

lokal yang menghadapi jual-beli tanah untuk kepentingan-kepentingan perusahaan

raksasa.16

12 Hak atas Pembangunan tercantum dalam deklarasi hak Atas Pembangunan (Declaration on the Rights to

Development) yang diadopsi oleh Sidang umum PBB dengan Resolusi no.41/128 pada tanggal 8 Desember 1986.

13 Chirzin & Habib2008 “Reformasi Hak Atas Pembangunan di Tahun 2008: catatan dari diskusi dengan Prof. Dr.

Eyup Ganic, mantan presiden Bosnia Herzegovina,” Available at http://habibch.wordpress.com/2008/02/17/reformasi-hak-atas-pembangunan-di-tahun-2008/.

14 Forest People Programme & Perkumpulan Sawit Watch, Ekspansi Kelapa Sawit di Asia Tenggara:

Kecenderungan dan Implikasi bagi Masyarakat Lokal dan Masyarakat Adat. Hal 17-18.

(8)

Indonesia adalah negara hukum dan hukum berlaku bagi siapapun. Yang menjadi

permasalahannya apakah undang-undang yang dianut negara Indonesia di ambil dari

nilai-nilai yang berlaku di masyarakat, merujuk keberadaan UU perkebunan nomor 39 tahun 2014

tidak lepas dari kemenangan petani dalam uji materi UU perkebunan nomor 18 tahun 2004

yang pernah dilakukan sebelumnya. Pada 2011, MK membatalkan pasal 21 dan 47 UU

tersebut karena dianggap bertentangan dengan UUD 1945. Menurut salah salah anggota tim

sekaligus ketua Indonesia Human Rights Committee for Social Justice (IHCS),

undang-undang ini gagal melakukan transformasi terhadap praktik perkebunan di Indonesia yang

merupakan warisan kolonialisme. Menurutnya, harapan petani dan masyarakat adat atas uji

materi ini agar transformasi di sektor perkebunan kelapa sawit dapat berjalan lebih

berkeadilan, mewujudkan kemandirian dan menunjukkan keberpihakan kepada petani

sesuai amanat UUD 1945. Perlu beberapa pasal yang diajukan untuk uji materi. Pertama,

adanya penghilangan hak-hak masyarakat adat atas penguasaan tanah atau diskriminasi

terhadap pranata hukum masyarakat adat. Dalam UU tersebut, pelaksanaan musyawarah

dengan masyarakat adat diatur dalam peraturan perundangan, sebagaimana bunyi pasal 12

ayat 2. Selain itu, UU perkebunan dinilai melanggar konstitusi terkait hak petani dalam

budidaya pemuliaan tanaman. Pelanggaran Konstitusi yang dimaksud adalah tidak

diakomodirnya perorangan petani kecil dalam pemulihan tanaman perkebunan.17

A. Rumusan Masalah

1. Bagaimana hukum nasional Indonesia menangani kasus yang dialami Buruh yang

diperlakukan tidak adil?

2. Siapa aktor yang ikut terlibat melakukan pelanggaran HAM di sektor industri kelapa

sawit?

B. Tujuan

1. Untuk mengetahui peran hukum Indonesia terhadap buruh

2. Untuk mengetahui pelanggaran Hak Asasi Manusia yang dilakukan perusahaan besar

17 Sarat Pesanan Swasta, UU Perkebunan Digugat ke MK,

(9)

Peran Hukum nasional Indonesia terhadap HAK Guna Usaha (HGU)

Hak Guna Usaha (HGU) diatur dalam bagian IV. UU Nomor 5 Tahun 1960 Tentang

Peraturan Dasar Pokok-pokok Agraria. Ketentua lebih lanjut diatur dalam peraturan

pemerintah Nomor 40 tahun 1996 tentang Hak Guna Usah, Hak bangunan dan Hak Pakai

atas tanah. PP No. 40 Tahun 1996 ini menetapkan bahwa yang bisa mendapatkan Hak Guna

Usaha adalah warga Indonesia dan badan hukum yang didirikan menurut hukum Indonesia

yang berkedudukan di Indonesia. Tanah yang dapat diberikan dengan Hak Guna Usaha

adalah tanah negara. Jika tanah yang akan diberikan dengan Hak Guna Usaha itu adalah

tanah negara merupakan kawasan hutan, maka pemberian Hak Guna Usaha dapat dilakukan

setelah tanah yang bersangkutan dikeluarkan dari statusnya sebagai kawasan hutan. Hak

Guna Usaha diberikan dengan surat keputusan pemberian hak oleh menteri atau pejabat

yang ditunjuk. Pemberian Hak Guna Usahawajib di daftar dalam buku tanah pada kantor

pertanahan. Sebagai tanda bukti penerimaan Hak Guna Usaha, pihak penerima akan

diberikan sertifikat hak atas tanah. Berdasarkan Peraturan Menteri Negara Agraria/Kepala

Badan Pertahanan Negara No. 3 Tahun 1999, wewenang pemberian HGU berada pada

instansi yang berbeda, tergantung luasan HGU terkait. BPN Pusat untuk luas tanah benih

dari 200 Ha dan Kantor Wilayah BPN untuk luas sampai dengan 200 Ha.18

18 Forest People Programme, Perkumpulan Sawit Watch dan Transformasi Untuk Keadilan Indonesia, Konflik

(10)

Referensi

James Nickel with assistence Thomas Pogge, M.B.E. Smith and Leif Wenar, December 13,

2013, Stanford

Encyclopedis of Philosophy, Human Right, Retrieve August 14, 2014.

https://id.m.wikipedia.org/wiki/Hak_asasi_manusia, diakses pada 15 September 2016.

The United Nations, Office of the High Commissioner of Human Rights, What are human

rights? Retrieved August 14, 2014.

http://docs.google.com/viewerng/viewer?url=http://referensi.elsam.or.id/wp-content/uploads/2015/01/Perkembangan-Pemikiran-HAM.pdf&hl=en_US, diakses pada 14

September 2016.

Tandan Sawit Edisi 1/03/2016, Menyibak Fakta Dibalik Perkebunan Kelapa Sawit (Sawit

Watch: Bogor, 2016). Hal 4-5.

Tandan Sawit (Edisi I/SW2013) Mengungkap Tabir di Balik Perkebunan Kelapa Sawit (Bogor:

Sawit Watch, 2013), hal 20.

Mitos vs Fakta Industri Minyak Sawit Indonesia Dalam Isu Sosial, Ekonomi dan Lingkungan

Global: Edisi Kedua, (PASPI: Bogor, 2016). Hal 64.

http://nasional.kompas.com/read/2010/03/09/03492985/sawit.rawan.pelanggaran.ham#page1,

diakses pada 14 September 2016.

Buku Saku, Kuasa Taipan: Kelapa Sawit di Indonesia (Jakarta: Transformasi untuk Keadilan

Indonesia), hlm. 25-26.

Mongabay 2008, Naro 2011, Tiominar 2011, Guttal 2006.

Instrumen Hak Asasi Manusia dan Konsep Tanggung Jawab Negara, lihat di

referensi.elsam.or.id.

(11)

Sarat Pesanan Swasta, UU Perkebunan Digugat ke MK,

http://m.cnnindonesia.com/nasional/20151027205735-12-87776/sarat-pesanan-swasta-uu-perkebunan-digugat-ke-mk/, diakses pada 15 September 2016.

Forest People Programme & Perkumpulan Sawit Watch, Ekspansi Kelapa Sawit di Asia

Tenggara: Kecenderungan dan Implikasi bagi Masyarakat Lokal dan Masyarakat Adat. Hal

17-18.

Colchester et al 2007b.

Oberndorf, 2006.

Forest People Programme, Perkumpulan Sawit Watch dan Transformasi Untuk Keadilan Indonesia, Konflik atau persetujuan? Sektor Kelapa Sawit di Persimpangan Jalan (Edisi Pertama: 2013). Hal 37.

Chirzin & Habib2008 “Reformasi Hak Atas Pembangunan di Tahun 2008: catatan dari diskusi

dengan Prof. Dr. Eyup Ganic, mantan presiden Bosnia Herzegovina,” Available at

Gambar

Tabel 3 Pembiayaan bank untuk 25 grup milik taipan, 2009-2013

Referensi

Dokumen terkait

Dari beberapa bukti diatas, jelas terlihat bahwa banyak faktor-faktor lain yang juga dapat mempengaruhi kinerja yang tidak dikontrol dalam penelitian ini, sehingga

Hasil terbaik yang didapatkan dari percobaan dengan empat jenis gerakan tangan adalah tingkat akurasi pengujian sebesar 89,72% untuk percobaan satu dengan jumlah hidden

Secara garis besar terdapat persamaan tentang Harun dalam Al-Qur’an dan Perjanjian Lama, yaitu membantu saudaranya Nabi Musa dalam menyampaikan perintah Allah

Perencanaan metode economic order quantity dalam suatu perusahaan akan mampu meminimalisasi terjadinya out of stock sehingga tidak mengganggu proses dalam

Ketika ada perintah permintaan jumlah korban dengan isi SMS (KORBAN) maka data jumlah korban akan dimasukkan melalui keypad oleh tim SAR - SRU dan akan

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa penulisan laporan Tugas Akhir ini masih jauh dari sempurna, untuk itu dengan kerendahan hati penulis mengharapkan kritik dan

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan dapat diperoleh kesimpulan bahwa Mahasiswa program studi PGSD semester III sangat mampu untuk keterampilan mengamati,

Berdasarkan pada Tabel 2 dapat dilihat peningkatan penggunaan bahan bakar oleh BRT hingga tahun 2030. Peningkatan penggunaan bahan bakar BRT terjadi sampai tahun