• Tidak ada hasil yang ditemukan

Collaborative Governance dalam Program CERDAS (Percepatan Rehabilitasi dan Apresiasi Sekolah) di Dinas Pendidikan Kabupaten Deli Serdang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Collaborative Governance dalam Program CERDAS (Percepatan Rehabilitasi dan Apresiasi Sekolah) di Dinas Pendidikan Kabupaten Deli Serdang"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

13 BAB I PENDAHULUAN

1.1Latar Belakang

Pendidikan merupakan pelayanan dasar yang dilaksanakan pemerintah dan

merupakan hak warga negara untuk mendapatkannya. Salah satu bentuk investasi

negara demi keberlanjutan nya adalah sumber daya manusia yang terdidik. Upaya

pemerintah dalam melaksanakan pendidikan terus dilakukan, terutama dalam

meningkatkan sarana dan prasarana pendidikan, tenaga pendidik yang

berkualitas, dan akses pendidikan yang merata kepada semua lapisan masyarakat

dengan memberikan bantuan pendanaan.

Pemahaman masyarakat sudah mulai berkembang terkait pelayanan publik

yang lebih baik lagi disamping adanya tuntutan global. Maka dari itu pemerintah

diharuskan melakukan improvisasi dalam melakukan pelayanan kepada publik

terlebih pelayanan dasar yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat seperti

pendidikan. Pentingnya arti pendidikan membuat negara maju dan negara

berkembang untuk bersama-sama membuat komitmen bersama dalam United

Nations Summit yang dilaksanakan di New York tanggal 25-27 September 2015

dan menghsilkan dokumen Sustainabe Development Goal’s (SDG’s). Satu dari

tujuh belas komitmen tersebut adalah tentang pendidikan, sebagai berikut:

“Kami berkomitmen untuk menyediakan pendidikan

berkualitas yang inklusif dan merata pada setiap levelnya

masa kanak-kanak, sekolah dasar, sekolah menengah,

pendidikan tinggi, dan training teknis dan kejuruan. Setiap

orang, tanpa melihat jenis kelamin, usia, bangsa, suku, dan

orang dengan disabilitas, migran, masyarakat adat,

anak-anak dan remaja, khususnya yang berada dalam situasi

rentan, harus memiliki akses terhadap kesempatan belajar

yang sepanjang hidup yang dapat membantu mereka untuk

(2)

14

mendapatkan pengetahuan dan keahlian yang dibutuhkan

untuk memanfaatkan kesempatan dan untuk berpartisipasi

penuh dalam masyarakat. Kami akan berusaha untuk

menyediakan bagi anak-anak dan remaja kita lingkungan

yang membina agar hak dan kapabilitas mereka terealisasi,

membantu negara-negara kita untuk menuai deviden

demografis termasuk melalui sekolah yang aman dan

masyarakat dan keluarga yang kohesif. ” (Dokumen 17

Goals SDG’s).

Komitmen diatas merupakan salah satu bentuk tuntutan global agar negara

maju dan berkembang bersama-sama menyediakan akses pendidikan yang

berkualitas.Penyediaan pendidikan yang berkualitas dapat bisa di lihat dari sisi

ketersediaan sarana dan prasarana yang baik, dan tenaga pendidik yang

berkompeten. Semua hal tersebut di penuhi melalui ketersediaan fiskal daerah dan

bantuan dari pemerintah pusat. Pengelolaan dan penyelenggaraan pendidikan di

kabupaten/kota disusun dan mengacu pada kebijakan pengelolaan dan

penyelenggaraan pendidikan tingkat provinsi dan nasional. Sumber pendanaan

pelayanan pendidikan kabupaten/kota berasal dari APBD dan APBN.

Alokasi anggran pendidikan lebih spesifik dituangkan dalam pasal 49 UU

Nomor 20 Tahun 2003 pasal 1 yaitu dana pendidikan selain gaji pendidik dan

biaya pendidikan kedinasan dialokasikan minimal 20% dari APBN pada sektor

pendidikan dan minimal 20% dari APBD. Alokasi anggaran pendidikan melalui

belanja Pemerintah Pusat meningkat dari Rp 96.5 triliun pada tahun 2010 menjadi

Rp 154.2 triliun pada tahun 2015. Alokasi anggaran pendidikan pada Pemerintah

Pusat digunakan antara lain untuk penyediaan beasiswa untuk siswa kurang

mampu, rehabilitasi ruang kelas, pembangunan unit sekolah baru dan ruang kelas

baru, serta pembangunan sarana dan prasarana pendukung dan pemberian

tunjangan profesi guru. Sebagian besar anggaran pendidikan yang disalurkan ke

daerah melalui DAU, Tunjangan Profesi Guru, dan BOS. Sedangkan DAK

ditetapkan berdasarkan kesepakatan antara Pemerintah dengan DPR.

(kemenkeu.go.id)

(3)

15

Namun, kanyataan di lapangan masih banyak ditemukan gedung sekolah

dan prasarana sekolah yang rusak sehingga mengurangi kenyamanan siswa dan

tenaga pendidik dalam menjalankan proses belajar mengajar. Di samping itu

masih banyak terdapat kasus anak putus sekolah padahal anggaran negara untuk

pendidikan sudah lebih dari cukup yaitu sebesar 20%. Kerusakan ruang kelas

sudah pasti mengganggu proses berjalannya pendidikan seperti yang diberitakan

salah satu media masa nasional bahwa dari 1.8 juta ruang kelas, hanya 466.000

ruangan dalam kondisi baik. Selanjutnya dari 212.000 sekolah, ada 100.000

sekolah yang belum memiliki anggaran untuk perawatan pendidikan.

(Kompas.com 5/10/2016).

Selanjutnya menurut data Decentralized Basic Education 1 (DBE 1)

Provinsi Sumatera Utara melalui kerjasama USAID dengan lima kabuaten/kota

yang sudah memiliki Sistem Informasi Perencanaan Pendidikan

Kabupaten/Kota(SIPPK)(Kota Sibolga, Kabupaten Tapanuli Utara, Kota Tanjung

Balai, Kota Tebing Tinggi, dan Kabupaten Deli Serdang) tentang persentase ruang

kelas rusak di kelime kabupaten/kota tersebut, adalah sebagai berikut:

Diagram 1.1.1

Distribusi Sekolah (SD/MI) Menurut Persentase Ruang Kelas Rusak Berat

Sumber: Dokumen laporan akhir DBE1 untu Provinsi Sumatera Utara

(4)

16

Menurut data UNICEF tahun 2015 sebanyak 2,5 juta anak Indonesia tidak

dapat menikmati pendidikan lanjutan yakni sebanyak 600 ribu anak usia sekolah

dasar (SD) dan 1,9 juta anak usia Sekolah Menengah Pertama (SMP).Data

statistik tingkat provinsi dan kabupaten menunjukkan bahwa terdapat kelompok

anak-anak tertentu yang terkena dampak paling rentan yang sebagian besar

berasal dari keluarga miskin sehingga tidak mampu melanjutkan pendidikan ke

jenjang selanjutnya. Tingkat putus sekolah anak SD di desa 3:1 dibandingkan

dengan di daerah perkotaan.

Masih banyaknya ruang kelas yang rusak membuktikan bahwa banyaknya

anggaran yang di alokasikan untuk pendidikan tidak bisa sepenuhnya mengatasi

permasalahan ketersediaan aset yang layak pakai dalam pendidikan. Peran serta

masyarakat dan pihak swasta sangat dibuthkan. Pemerintah tidak bisa

menyediakan pelayanan di sektor pendidikan dengan baik tanpa bantuan dari

masyarakat dan swasta. Hal ini mengacu kepada konsep asli masyarakat Indonesia

yaitu gotong royong. Maka dari itu pemerintah diharuskan melakukan berbagai

inovasi. Pemerintah, masyarakat, dan swasta harus berkolaborasi dalam

penyelenggaraan pendidikan. Seperti yang dikemukakan oleh Agrawal dan Lemos

dalam Subarsono (2016:176), mendefenisikan collaborative governance tidak

hanya berbatas pada stakeholder yang terdiri dari pemerintah dan non pemerintah

tetapi juga terbentuk atas adanya multipartner governance yang meliputi sektor

privat/swsta, masyarakat dan komunitas sipil dan terbangun atas sinergi peran

stekholder dan penyusunan rencana yang bersifat hybrid seperti halnya kerjasama

publik-privat-sosial. Konsep dari good governance meliputi tiga institusi dominan

yaitu state (negara atau pemerintahan), private (sektor swasta dan dunia usaha),

dan society (masyarakat), yang saling berinteraksi menajalankan fungsinya

masing-masing (Syafri 2012: 177).

Dalam sistem pendidikan nasional dijelaskan dalam UU No. 20 Tahun

2003 tentantg Sistem Pendidikan Nasional, pasal 4 ayat 6 menegaskan bahwa

pendidikan diselenggarakan dengan memberdayakan semua komponen

masyarakat melalui peran serta dalam penyelenggaraan dan pengendalian mutu

layanan pendidikan. Dalam sistem pendidikan nasional tertera peran masyarakat

(5)

17

dalam pendidikan yang artinya adalah pendidikan tidak menjadi urusan

pemerintah semata, namun peran serta masyarakat dan pihak swasta.

Kabupaten Deli Serdang merupakan salah satu kabupaten di Provinsi

Sumatera Utara yang menyelenggarakan pendidikan dengan mengikutsertakan

masyarakat dan sektor swasta. Pada tahun 2004 Deli Serdang telah di mekarkan

menjadi dua wilayah yakni Kabupaten Deli Serdang dan Kabupaten Serdang

Bedagai. Wilayah administratif Kabupaten Deli Serdang memiliki 22 kecamatan,

14 kelurahan, dan 380 desa. Penyelenggaraan pendidikan dengan Program

CERDAS (percepatan rehabiltasi dan apresiasi sekolah) merupakan program yang

di laksanakan pada tahun 2004 yang berlatar belakang keterbatasan Pemerintah

Daerah dalam kemampuan finansial pasca pemerintahan dibagi menjadi dua. Pada

tahun 2004 Dana Alokasi Umum (DAU) tidak lebih dari Rp 5 miliar dan

kemampuan APBD Kabupaten Deli Serdang hanya mampu merehabilitasi 10

sekolah. (Model Kolaborasi Pembangunan Pendidikan dengan Pemberdayaan

Masyarakat Kabupaten Deli Serdang).

Program CERDAS telah berhasil masuk dalam TOP 99 Inovasi pada tahun

2016, yaitu suatu penyelenggaraan penghargaan tehadap lembaga, kementerian,

dan pemerintah daerah yang berhasil menciptakan inovasi pelayanan publik oleh

Kementrian Pendayagunaan Aparatur Negara-Reformasi dan Birokrasi

(Kemenpan-RB). Disamping pengharggan tersebut Kabupaten Deli Serdang juga

pernah mendapatkan pernghargaan IGA (Inovation Goverment Award) tahun

2011 yang ketika itu diserahkan Menteri Dalam Negeri, Gamawan Fauzi kepada

Pemkab Deli-serdang yang diwakili oleh Wakil Bupati Deliserdang, H Zainuddin

Mars di Jakarta(kompas.com).

Walaupun sudah berjalan selama 10 tahun dan mendapatkan penghargaan

tingkat nasional, kenyataan dilapangan tidak sesuai dengan konsep kolaborasi

seperti yang dicanangkan pertama kali. Masih ada terdapat sekolah yang

memerlukan perhatian dari pemerintah, masyarakat, dan pihak swasta. Seperti

prasarana sekolah yang kurang mendukung. Disamping itu paradigma masyarakat

yang masih beranggapan bahwa pendidikan merupakan tugas pemerintah

sehingga masyarakat kurang peduli dengan sekolah.

(6)

18

Dalam penyelenggaraan pendidikan di Kabupaten Deli Serdang

dilaksanakan oleh tiga pilar yaitu Pemerintah Daerah, Gerakan Masyarakat Peduli

Pendidikan (GMPP), dan Asosiasi Pengusaha Peduli Pendidikan (APPP).

Keberlangsungan kolaborasi menjadi salah satu yang akan menjadi fokus karena

bertolak belakang dengan konsep kolaborasi CERDAS seperti yang dicanangkan

pertama kali.

Maka dari itu penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul

Collaborative Governance dalam Program CERDAS (Percepatan

Rehabilitasi dan Apresiasi Sekolah) di Dinas Pendidikan Kabupaten Deli Serdang”

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang diatas, maka yang menjadi rumusan

masalah pada penelitian ini adalah Bagaimana Collaborative Governance dalam

Program CERDAS (Percepatan Rehabilitasi dan Apresiasi Sekolah) di Dinas

Pendidikan Kabupaten Deli Serdang ?

1.3 Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui Collaborative Governance

dalam Program CERDAS (Percepatan Rehabilitasi dan Apresiasi Sekolah) di

Dinas Pendidikan Kabupaten Deli Serdang.

1.4 Manfaat Penelitian

Adapun manfaat penelitian yang hendak dicapai dalam penelitian ini

adalah sebagai berikut:

a. Secara akademis, penelitian ini merupkan salah satu syarat dalam

menyelesaikan program studi sarjana Ilmu Administrasi Negara Fakultas

Ilmu Sosial dan Ilmu Politik serta meningkatkan kemampuan berpikir

penulis secara ilmiah, sistematis, dan membuat karya tulis ilmiah

berdasarkan kajian teori.

(7)

19

b. Secara praktis, sebagai masukan pemikiran bagi Dinas Pendidikan

Kabupaten Deli Serdang.

c. Secara teoritis, penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan

penulis dan pembaca tentangCollaborative Governance dalam program

CERDAS (Percepatan Rehabilitasi dan Apresiasi Sekolah) di Dinas

Pendidikan Kabupaten Deli Serdang.

Referensi

Dokumen terkait

Hasil pengujian menunjukkan terdapat pengaruh langsung yang secara signifikan good corporate governance terhadap kinerja realisasi kredit melalui subsidi bantuan

Syllabus update: Cambridge IGCSE ® English Literature (0486) for examination in 2019.. We have updated

Untuk menunjang kinerja aparat kepolisian sebagai penegak hukum harus adanya perundang-undangan yang memberatkan tindak pelaku kejahatan pencurian yang di sertai

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa melalui pemanfaatan media lingkungan sekitar pada pembelajaran tematik

Untuk batasan kunjungan bagi wisatawan yang akan menikmati pusat wisata ini hanya dibatasi waktu dari pukul 08.00 – 17.00 WIB. Statement proyek : Desa Batur Ceper memiliki

Bukit Sampah dan Ladang Laweh. Sim Parameter Lahan Lereng B. Pada lahan di Siduali tekstur tanahnya lempung berpasir dan termasuk Sedangkan untuk pembatas N total dan P 2 O 5

Dalam penelitian ini, peneliti juga akan melampirkan beberapa penelitian terdahulu yang diantaranya milik Yovica Frestycilia Artiyo dengan judul “ Tingkat

Through the 2015 Orderly Settlement Sub Task Force Action Plan, the Office of Houses and Government Building of the Government of DKI Jakarta Province will resettle the