MAKALAH SEMINAR LITERATUR
ANALISIS SIFAT FISIKA DAN ELEKTROKIMIA SEL
SUPERKAPASITOR DARI BIOMASSA SERABUT
TANDAN KOSONG KELAPA SAWIT DENGAN
AKTIVASI KOH DAN GAS CO2
O
L
E
H
ALDILA PUTRI
NIM : 1503123146
PROGRAN STUDI - S1 FISIKA
JURUSAN FISIKA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN
ALAM
UNIVERSITAS RIAU
PEKANBARU
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah
Tingginya peningkatan kebutuhan energi saat ini diakibatkan oleh perkembangan teknologi yang semakin canggih, sehingga sumber energi yang tersedia saat ini tidak sebanding lagi dengan banyaknya kebutuhan energi yang harus dipenuhi, oleh karna itu diperlukan energi alternatif lain yang dapat membantu memenuhi kebutuhan energi, yang tentunya harus murah, mudah dijumpai dan mudah diperbaharui. Seiring berkembangnya ilmu pengetahuan, berbagai penelitian telah memperoleh sumber energi baru yang dapat di jadikan sebagai sumber energi alternatif yang banyak di butuhkan oleh manusia pada saat sekarang ini. Beberapa contoh sumber energi alternatif diantaranya adalah energi angin, matahari, panas bumi, gelombang laut, biomassa dan lain sebagainya. Salah satu bentuk aplikasi cara pemanfaatan sumber energi adalah dengan dibuatnya piranti penyimpan energi, pada saat sekarang ini bentuk dari piranti penyimpan energi yang banyak dikembangkan diantaranya ialah baterai, kapasitor, superkapasitor dan fuel cell.
sebagai elektroda pada superkapasitor, karbon aktif sendiri dapat di hasilkan dari bahan biomassa seperti kayu, kulit buah, daun dan bahan biomassa lainya. Pemakaian bahan biomassa sebagai elektroda superkapasitor sangat baik untuk dikembangkan karena bahan biomassa mudah didapatkan, biaya produksi yang murah serta dapat membentuk struktur pori.
Salah satu bahan biomassa yang dapat digunakan sebagai elektroda karbon ialah Serabut Tandan Kosong Kelapa Sawit (STKKS). Keberadaan STKKS sangat melimpah, Indonesia merupakan Negara dengan lahan perkebunan kelapa sawit terluas, tercatat dalam data statistik perkebunan tahun 2015 yaitu seluas 11,30 juta hektar[2]. Hal tersebut menjadikan Indonesia sebagai Negara penghasil kelapa sawit terbesar di dunia. Perkebunan kelapa sawit Indonesia menyebar di wilayah Sumatera, Bangka Belitung, Kalimantan, Sulawesi dan Papua. Pengembangan lahan perkebunan kelapa sawit terbesar dilakukan di wilayah Sumatera, khususnya di Provinsi Riau. Produk utama pohon kelapa sawit berupa buah yang dapat diolah untuk menghasilkan minyak. Pengolahan tersebut menyisakan limbah padat yang berupa tandan kosong kelapa sawit. STKKS yang memiliki kandungan hemiselulosa (68,88%), selulosa (37,76%), dan lignin (22,23%) [3] sehingga dapat dijadikan sebagai bahan baku pembuatan karbon aktif. Pada umumnya STKKS dibiarkan menumpuk menjadi limbah, oleh karena itu diperlukan sebuah upaya pengolahan untuk mengurangi limbah tersebut.
membentuk struktur pori pada karbon aktif. Gas CO2 di pakai dalam aktivasi fisika dikarenakan gas ini bersifat inert yang sulit bereaksi dengan sampel tetapi mudah masuk ke dalam sampel dengan suhu pengaktivan yang lebih tinggi menghasilkan nilai kapasitansi spesifik yang tinggi pula karena berkaitan dengan luas permukaan elektroda yang lebih tinggi [4].
1.2 Maksud dan Tujuan Penulisan
Untuk analisis sifat elektrokimia dan sifat fisika pada sel superkapasitor yang digunakan dalam pembuatan elektroda superkapasitor dari serabut tandan kosong kelapa sawit (STKKS) menggunakan aktivasi kimia dan aktivasi fisika dengan menggunakan teknik pengukuran menggunakan Cyclic Voltammetry(CV).
1.3 Batasan Masalah
Pembahasan dalam makalah seminar literatur ini hanya :
1. Biomassa dari serabut tandan kosong kelapa sawit (STKKS)
2. Aktivasi fisika dengan menggunakan gas CO2 dan aktivasi kimia menggunakan KOH
BAB II TEORI DASAR 2.1 Serabut Tandan Kosong Kelapa Sawit (STKKS)
Serabut Tandan Kosong Kelapa Sawit (STKKS)yang memiliki kandungan hemiselulosa (68,88%), selulosa (37,76%), dan lignin (22,23%)[3] dapat dijadikan sebagai bahan baku pembuatan karbon aktif. Ketersedian bahan biomassa dari STKKS cukup berlimpah, pada tahun 2013 tercatat luas lahan kelapa sawit diprovinsi Riau sekitar 2,19 juta Ha. Persentase berat STKKS untuk setiap tandan buah segar adalah sebesar 20-23%.[2] Farma dkk (2013) telah menggunakan STKKS dari pabrik pengolahan kelapa sawit sebagai bahan dasar elektoda sel superkapasitor dan mendapatkan nilai kapasitansi spesifik sel superkapasitor adalah sebesar 150 F.g-1.
2.2 Superkapasitor
mekanisme elektrokimia. Baterai menyimpan energi listrik dalam senyawa kimia yang mampu menghasilkan muatan, sedangkan superkapasitor menyimpan energi listrik secara langsung sebagai muatan. Superkapasitor yang banyak dikembangkan karena bahan utama yang digunakan pada elektroda adalah karbon aktif. Elektroda dari karbon aktif sangat digemari karena harga yang relatif murah, sumber bahan asal yang mudah didapat, pemilihan bahan dasar karbon dan kondisi aktivasi menentukan kinerja elektrokimia pada permukaan karbon, ukuran distribusi pori, dan konduktivitas listrik yang dihasilkan. Keuntungan lain dari superkapasitor adalah tingkat pengisian yang cepat dan umur siklus pengisian yang panjang.
Besarnya muatan yang tersimpan di dalam kapasitor disebut kapasitansi. Kapasitansi tidak bergantung pada muatan maupun potensial kapasitor tetapi secara umum kapasitansi bergantung pada ukuran dan bentuk geometri dari konduktor. Besarnya kapasitansi pada superkapasitor dapat dihitung menggunakan Persamaan:
Perbandingan kapasitor, superkapasitor, baterai dan fuel cell dapat dilihat pada Gambar 2.1
Berdasarkan Gambar 2.1 superkapasitor dapat menyediakan energi (E) yang lebih banyak dari pada baterai, hal ini disebabkan superkapasitor menyimpan muatan pada lapisan gandanya, tetapi daya dihasilkan superkapasitor rendah, dan dapat dihitung dengan persamaan berikut:
P= V2 4R (2.1) dimana:
P= daya (watt) V= tegangan (volt) R= resistansi (ohm)
2.2.1 Komponen Superkapasitor
Gambar 2.2. Komponen-komponen sel superkapasitor [6].
a. Pengumpul Arus
Pengumpul arus yang ditunjukan pada Gambar 2.2 merupakan bagian terluar dari sel superkapasitor yang dilekatkan sedemikian rupa dengan elektroda karbon. Pengumpul arus ini berfungsi untuk menangkap ion. Bahan yang dapat menangkap ion harus memiliki kemampuan yang dapat menghantarkan listrik dengan baik. Adapun bahan yang biasa digunakan adalah nikel, aluminium, dan stainless stell[7].
b. Elektroda
elektroda yang besar dapat meningkatkan nilai kapasitansi spesifik pada superkapasitor.
Elektroda yang digunakan pada aplikasi superkapasitor adalah elektroda karbon. Material ini lebih diminati karena perpaduan sifat kimia dan fisika yang menguntungkan, yaitu nilai luas permukaan yang tinggi, tahan terhadap karat, stabil terhadap temperatur, ukuran pori yang dapat dikontrol, biaya produksinya relatif murah, dan porositas yang besar sehingga mudah dalam mengabsorpsi ion. Sifat fisis dan elektrokimia elektroda karbon yang baik akan menghasilkan nilai kapasitansi spesifik yang tinggi sehingga sel superkapasitor yang dihasilkan pun akan semakin baik pula.
c. Separator
Separator ditampilkan dalam lapisan tipis yang ditunjukkan pada Gambar 2.2 berwarna biru. Separator atau pemisah digunakan untuk menghalangi sentuhan antara dua elektroda yaitu untuk menghalangi terjadinya kontak listrik antara keduanya. Agar dihasilkan superkapasitor yang bagus sebaiknya digunakan separator yang tipis dan memiliki tahanan listrik yang tinggi. Ketebalan separator yang biasa digunakan adalah 0,15 mm – 0,6 mm [8].
d. Elektrolit
yang terdapat dalam elektroda. Larutan elektrolit yang dapat digunakan adalah basa kuat (KOH, H2SO4, NaOH) dan asam kuat (NaCl, HCl).
2.3 Karbon Aktif
Karbon aktif adalah salah satu jenis bahan yang secara luas telah digunakan sebagai bahan elektroda untuk superkapasitor karena memiliki luas permukaan spesifik yang tinggi, ketahanan kimia, konduktivitas listrik yang baik dan harga yang terjangkau [10]. Karbon merupakan unsur dengan nomor atom 6 dan nomor massa sebesar 12,0107 g/mol. Karbon aktif mempunyai luas permukaan besar,
dan mengandung pori yang mempunyai ukuran dari mikropori sampai makropori.
2.3.1 Struktur Pori Karbon Aktif
Pengelompokan jenis pori karbon aktif berdasarkan ukuran terbagi menjadi tiga jenis yaitu :
1. Makropori
Makropori merupakan bagian terluar dari karbon aktif dengan diameter lebih besar dari 50 nm dengan volume pori 0,2 cm3/g sampai dengan 0,5 cm3/g dan luas permukaan 0,2 m2/g sampai dengan 2,0 m2/g. Makropori memberikan kapasitansi adsorbsi karbon aktif yang terbentuk selama proses aktivasi.
2. Mesopori
Mesopori memiliki diameter 2 nm sampai dengan 50 nm dengan volume pori 0,02 cm3/gsampai dengan 0,01 cm3/g dan luas permukaan 1 m2/g sampai dengan 100 m2/g.
Mikropori memiliki diameter lebih kecil dari 2 nm dengan volume pori 0,15 cm3/g sampai dengan 0,5 cm3/g dan luas permukaan 100 m2/g sampai dengan 2000 m2/g.
Gambar 2.3 Bentuk morfologis permukaan pori karbon; (a)Makropori, (b) Mesopori, (c) Mikropori [11]
Berdasarkan Gambar 2.3, struktur mikropori memegang peranan yang sangat penting pada proses adsorbsi disebabkan oleh volume total lubang mikropori yang jauh lebih besar daripada volume total makropori dan mesopori. Semakin banyak struktur mikropori maka proses penyerapan pada elektroda karbon tersebut semakin baik. Struktur mesopori berfungsi sebagai terowongan utama dalam penyerapan ion sedangkan struktur makropori merupakan terowongan tempat terjadinya difusi molekul ke dalam partikel pori. Jadi, struktur makropori dan mesopori hanya berfungsi sebagai transport pore (jalan menuju mikropori) [12]
2.3.2 Hubungan Pori dengan Energi dan Daya
banyak pori maka luas permukaan akan semakin besar sehingga energi yang dihasilkan pun akan semakin besar. Potensial sel akan menjadi faktor penentu dari besarnya nilai energi dan daya yang dihasilkan oleh superkapasitor. Semakin besar kapasitansi yang dihasilkan maka daya dan energi juga akan semakin besar.
2.3.3 Karakteristik Luas Permukaan
Luas permukaan merupakan luasan yang ditempati satu molekul adsorban atau zat terlarut yang merupakan fungsi langsung dari luas permukaan sampel, sedangkan luas permukaan spesifik merupakan luas permukaan per gram sampel. Luas permukaan dipengaruhi oleh ukuran, bentuk, dan susunan pori dalam partikel [13].
Gambar 2.4. Tipe adsorpsi/desorpsi isotermal [14]
Tipe I menunjukkan isotermal Langmuir yang memiliki sifat untuk fisisopsi pada adsorben mikropori dengan permukaan luar yang kecil. Tipe II diperoleh dari sampel non pori atau adsorben makropori. Tipe IV diberikan oleh adsorben yang memiliki struktur mesopori, seperti silika, karbon mesopori, dan lainnya. Untuk isotermal tipe III dan V mengindikasikan interaksi adsorbat – adsorben yang lemah. Sedangkan untuk tipe VI, menunjukkan padatan nanopori yang sepenuhnya permukaannya seragam, namun tipe VI ini jarang terjadi [15]
sering digunakan yaitu BET. Pada model BET, gas membentuk jumlah lapisan yang tak terbatas di atas suatu permukaan, yang dinyatakan oleh persamaan Langmuir. Persamaan BET ditunjukkan pada persamaan 2.2:
1
Dimana: � = volume gas yang teradsorpsi
�� = volume gas teradsorpsi pada satu lapisan � = konstanta BET
PP
0 = tekanan relatif.
2.3.4 Pembuatan Karbon Aktif
Proses karbon aktif terdiri dari tiga proses, yaitu dehidrasi (pra-karbonisasi, karbonisasi dan aktivasi.
a. Dehidrasi
Dehidrasi merupakan proses penghilangan air yang terdapat pada bahan baku karbon dengan tujuan untuk menyempurnakan proses karbonisasi. Proses ini dilakukan dengan cara menjemur bahan baku di bawah sinar matahari atau memanaskan di dalam oven.
b. Karbonisasi
semakin turun disebabkan oleh naiknya kadar kandungan abu. Persentase kandungan abu yang besar akan menyumbat pori-pori pada struktur karbon aktif sehingga mengurangi luas permukaan aktif dan daya adsorbsi menurun [17].
Selama proses karbonisasi, hidrogen dan oksigen dapat dikeluarkan dalam bentuk gas. Daya absorbsi karbon tergolong masih rendah karena masih terdapat bahan pengotor yang menutup permukaan pori.Tahap karbonisasi menghasilkan karbon yang mempunyai struktur pori lemah karena pembentukan struktur pori belum sempurna sehingga masih diperlukan perbaikan struktur pori melalui proses aktivasi [18].
c. Aktivasi
Aktivasi adalah suatu perlakuan terhadap arang yang bertujuan untuk memperbesar pori, yaitu dengan cara memecahkan ikatan hidrokarbon sehingga arang mengalami perubahan sifat baik fisis maupun kimia yaitu luas permukaannya bertambah besar dan berpengaruh terhadap daya adsorbs dan untuk menghilangkan bahan-bahan pengotor dalam pori-pori karbon aktif dan pori-pori akan terbuka sehingga menjadi lebih besar. Dasar metode aktivasi terdiri dari gas pengoksidasi pada temperatur tinggi yang dapat dilakukan dengan uap atau CO2 sebagai aktivator.
2.4 Karakterisasi Sifat Elektrokimia Sel Superkapasitor
Pengukuran sifat elektrokimia bertujuan untuk menentukan nilai kapasitansi spesifik dari elektroda karbon. Metode yang digunakan dalam makalah ini untuk mengkarakterisasikan sifat elektrokimia yaitu Cyclic Voltammetry (CV).
Cyclic Voltammetry (CV) merupakan suatu pengukuran yang digunakan untuk menentukan nilai kapasitansi spesifik sel elektrokimia dari material karbon dengan laju scankonstan dari potensial awal sampai potensial akhir [19]
Karakteristik suatu material elektroda mempengaruhi besarnya nilai kapasitansi spesifik. Kapasitansi yang semakin besar akan meningkatkan energi dan daya yang dihasilkan [5]. Hasil karakterisasi dengan menggunakan Cyclic Voltammetry (CV) diperoleh tampilan pada komputer yang diperlihatkan pada
Gambar 2.5.
Gambar 2.5.Grafik hubungan arus dantegangan untuk sel superkapasitor dengan laju scan 1mV/s.
Grafik pada Gambar 2.5 menunjukkanhubungan antara rapatarus dan tegangan. Tampilan berwarna merah menunjukkan proses charge dan tampilan berwarna hijau menunjukkan proses discharge. gambar 2.5 memiliki bentuk seperti persegi panjang, bentuk ini merupakan bentuk yang ideal untuk elektroda karbon aktif
[20].
dan ukuran pori. Potensial sel akan menjadi faktor penentu dari besarnya nilai energi dan daya yang dihasilkan oleh superkapasitor. Semakin besar kapasitansi yang dihasilkan maka daya dan energi juga akan semakin besar.
Kapasitansi spesifik dengan metode siklis voltammogram dihitung menggunakan persamaan (8) berikut :
Csp= s × mI (8)
dimana:
Csp = kapasitansi spesifik (F/g) S = laju scan (mv/s)
m = massa total karbon (kg) I = arus rata-rata
Arus rata-rata ini diperoleh dari arus charge (pengisian) dan arus discharge (pengosongan) yang dapat dihitung menggunakan persamaan (9):
I= 2(Ic−Id) 2 (9)
dimana: Ic= arus charge (A) Id=arus discharge (A)
BAB III
Farma dkk (2013)a menggunakan biomassa dari STKKS sebagai bahan pembuat elektroda karbon aktif, dengan metode pra-karbonisasi pada suhu ~2800C dan karbonisasi menggunakan gas N2. Aktivasi kimia dengan menggunakan KOH dan aktivasi fisika dengan menggunakan gas CO2 pada suhu 8000C. Dihasilakan kurva analisis siklik voltammogram dengan variasi waktu aktivasi fisika dari 1-5 jam dengan scan rates 1 mV/s sebagai berikut:
Gambar 3.1 sampel variasi waktu aktivasi 1-5 jam [1]a.
Gambar 3.2 sampel ACM-K3 dengan variasi scan rates [1]a
Gambar 3.2 menunjukkan nilai kapasitansi ditentukan pada tingkat scan rates
yang berbeda untuk semua sel. kapasitansi menurun dengan meningkatnya scan rates karena batasan difusi dari pori-pori. Pengurangan kapasitansi sangat drastis pada scan rates yang sangat rendah dengan nilai (di bawah 5mV/s); setelah itu, penurunan bertahap terlihat dengan meningkatkan tingkat scan rates sampai batas pengurangan maksimum dalam scan rates mencapai pada 100 mV/s untuk semua sampel. harus diperhatikan bahwa nilai yang tinggi, untuk kapasitansi konstan
diperlukan pada setiap tingkat scan rates untuk pembuatan supercapacitors yang efisien [21]. Dari hasil analisis siklik voltammetry di dapatkan nilai
Gambar 3.3 adsorpsi-desorpsi isotermal gas Nitrogen [1]a
Gambar 3.3 menunjukan adanya kombinasi dari bentuk tipe I dan IV menurut
klasifikasi IUPAC [14]. Terlihat bahwa semua elektroda memiliki ukuran
micropori dan messopori, sehingga di dapatkan data pada tabel berikut:
Tabel 3.1 data porositas sampel [1]a
Tabel 3.1 di atas dapat diperoleh bahwa sampel ACM-K3 memiliki luas
permukaan yang paling besar dan yang paling kecil adalam sampel ACM-K1, hal
ini sesuai dengan nilai kapasitansi pada ACM-K3 yang paling besar, jadi waktu
aktivasi fisika optimumnya adalah 3 jam untuk menghasilkan nilai kapasitansi dan
luas permukaan yang besar.
Menurut Farma dkk (2013)b dengan metode yang sama dalam pembuatan
karbon aktif sebagai elektroda superkapasitor menggunakan biomassa STKKS
dengan variasi aktivasi KOH-CO2 dengan memvariasikan suhu aktivasi yakni
6000C, 7000Cdan 8000C menghasilkan kuvra siklik voltamogram sebagai berikut:
Gambar 3.4 di atas dapat di ketahui bahwa kurva dengan lebar yang
paling besar adalah sampel dengan suhu aktivasi 8000C dengan nilai
kapasitansinya sebesar 80 F g-1. Hal ini dikarnakan pada suhu dibawah 8000C pori
pada karbon belum terbentuk semuanya karna masih ada bahan pengotor yang
menutupinya.
Analisis adsorpsi-desorpsi penyerapan gas N2 terlihar pada gambar
berikut:
Gambar 3.5 hubungan antara kapasitas adsorpsi-desorpsi dengan tekanan relativ sample [1]b
Gambar 3.5 memperoleh data sebagai berikut:
Tabel 3.2 data porositas sampel [1]b
Tabel 3.2 menunjukkan bahwa luas permukaan terbesar adalah sampel ACM8
yakni 485 m2g-1, dan yang terkecil adalah ACM7 yakni 415 485 m2g-1. Terbukti
luas permukaan yang besar, pada sampel ACM7 memiliki nilai kapasitansi yang
lebih besar dibanding dengan ACM6 namun pada luar permukaanya terjadi
kebalikan hal ini dikarnakan adanya kontaminasi bahan lain pada sampel ACM7
yang menjadikan nilai luas permukaan yang lebih kecil dibanding ACM6.
Menggunakan metode yang sama Taer dkk (2016) membuat elektroda
superkapasitor dengan biomassa STKKS dengan kombinasi aktivasi KOH-CO2
dengan memvariasikan suhu aktivasi yakni 00C, 8000C, 8500C dan 9000C
menghasilkan kurva voltammogram sebagai berikut:
Gambar 3.6 Curva CV dengan scan rates 1 mV/s [23]
Gambar 3.6 menyatakan perbedaan siklus charge discharge dari masing masing
pasangan elektroda karbon STKKS dengan scan rate 1 mV/s. Semakin lebar kurva
maka semakin besar pula nilai kapasitansinya, dari kurva di atas dapat diketahui
nilai capasitasin terbesar terjadi pada sampel dengan suhu aktivasi 8000C dengan
nilai 65,84 F g-1, kecilnya nilai kapasitansi pada suhu 8500C dan 9000Cdisebabkan
oleh proses pemanasan yang menyebabkan meningkatnya kepadatan elektroda
KESIMPULAN
elektroda dihasilkan nilai tertinggi pada suhu 8000C sebesar 1704 m2 g-1. Hal ini membuktikan bahwa semakin luas permukaan maka nilai kapasitansinya semakin besar pada suhu optimum yaitu 8000C.
DAFTAR PUSTAKA
[1]b R. Farma, M. Deraman, A. Awitdrus, I.A. Talib, R. Omar, J.G. Manjunatha, M.M. Ishak, N.H. Basri dan B.N.M. Dollah, Physical and Electrochemical Properties of Superkapasitor Electrodes Derived from Carbon Nanotube and Biomass Carbon, International Journal of ELECTROCHEMICAL SCIENCE. 8 (2013) 257-273
[2] Direktorat Jenderal Perkebunan, Kementerian Pertanian, Statistik perkebunan Indonesia 2013-2015 kelapa sawit, Direktorat Jenderal Perkebunan Jakarta (2014), p. 9
[3] Darnoko, P. Guritno, A. Sugiharto. Sugesty, S. 1995. Pembuatan Pulp dari Tandan Kosong Kelapa Sawit dengan Penambahan Surfaktan. Jurnal Penelitian Kelapa Sawit.Vol 1 : 75-87
[4] Taer1,E., Mustika,W.S., Zulkifli., Syam,I.D, Taslim,R. 2015. Pengaruh suhu pengaktivan co2 terhadap luas permukaan elektroda karbon dan sifat kapasitan sel superkapasitor dari kayu karet. Repository Universitas Riau.http://Repositori.unri.ac.id
[5] Pandolfo,A,G., Hollenkamp,A,F.2006. Carbon Properties and their Role in Supercapasitors. Journal of Power Sources. Vol. 157: 11-27
[6] Pan, N. Du,c.2009. High Power Density Supercapacitors with Carbon Nanotube Electrodes. United States Patent. Jun. 30, 2009
[8] Namisnyk,A.M. 2013. A survey of Electrochemical Supercapasitor Technology. Faculty of Engineering, University of Technologi; Sidney
[9] Kotz,R., Carlen, M. 2000. Principles and Applications of Electrochemical Capacitors. Electrochemecal Acta. Vol.45:2483-2498
[10] Ariyanto,T., Prasetyo,I., Rochmadi. 2012. Pengaruh Struktur Pori terhadap Kapasitansi Elektroda Superkapasitor yang Dibuat dari Karbon Nanopori. Jurnal Reaktor,Vol.14 No.1:25-32
[11] Rondliatun.2012. Efek Variasi Suhu Aktivasi dalam Menghasilkan Karbon Aktif dari Kulit Durian untuk Aplikasi Pembersih Limbah. Skripsi Jurusan Fisika FMIPA, Universitas Riau, Pekanbaru.
[12] Görka, Esteban, B. M., Kvarnstrom, C., and Winkler, K. 2008. Capacitance properties of electrochemically deposited polyazulene films. Electrochimica
Acta 55(2): 970–978
[13] Martin, A., James S., dan Arthur C. 1993. Farmasi Fisik: Dasar-dasar Farmasi Fisik dalam Ilmu Farmasi. Universitas Indonesia. Depok.
[14] Sing, K.S.W., Everett, D.H., Haul, R.A.W., Moscou, L., Pierotti, R.A., Rouquerol, J., Siemieniewska, T., 1985. Reporting physisorption data for gas/solid systems with special reference to the determination of surface area and porosity. Pure and Applied Chemistry 57, 603–619.
[17] Nurdiansah., Haniffudin., Diah,S. 2013. Pengaruh Variasi Temperatur Karbonisasi dan Temperatur Aktivasi Fisika dan Elektroda Karbon Aktif Tempurung Kelapa dan Tempurung Kluwak terhadap nilai Kapasitansi EDLC. Jurnal Teknik Material Fakultas Teknologi Industri ITS. Vol.2.No.1:2337-3539
[18] Taer,E. 2009. Pengembangan Superkapasitor Menggunakan Elektroda Karbon. FMIPA Universitas Riau: Laporan Penelitian
[19] Skoog, Douglas, Donald M. West, F. James Holler, 1996, Fundamentals of Analytical Chemistry. Seventh Edt., Saunders College Publishing.
[20] Garcia.G.A., Miles.P., Centeno.T.A., Rojo.J.M., 2010. Uniaxially Ooriented Carbon monolith as Supercapacitor electrode. Electrochimica Acta 55:8539-8544