• Tidak ada hasil yang ditemukan

this PDF file PERGESERAN NILAI DAN KONSUMERISME DI TENGAH KRISIS EKONOMI DI INDONESIA | Heryanto | Nirmana DKV04060104

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "this PDF file PERGESERAN NILAI DAN KONSUMERISME DI TENGAH KRISIS EKONOMI DI INDONESIA | Heryanto | Nirmana DKV04060104"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

PERGESERAN NILAI DAN KONSUMERISME DI TENGAH

KRISIS EKONOMI DI INDONESIA

Januar Heryanto

Dosen Universitas Bina Nusantara dan

Dosen Universitas Kristen Petra

ABSTRAK

Pembangunan di Indonesia khususnya sejak era Orde Baru yang memanfaatkan teknologi Barat dan modal asing telah melahirkan nilai-nilai baru dalam masyarakat yang menggeser kebudayaan tradisional. Seiring dengan adanya pergeseran nilai, konsumerisme juga menjalar kemana-mana, baik di kota-kota besar maupun pedesaan di Indonesia. Kesimpulan tulisan ini membuktikan bahwa dengan modernisasi yang menggunakan teknologi Barat serta masuknya modal asing, kita tidak dapat mencegah masuknya kebudayaan asing yang perlahan-lahan menyisihkan kebudayaan tradisional serta dilengkapi dengan timbulnya konsumerisme.

Kata kunci: pergeseran nilai, kebudayaan tradisional, modernisasi dan konsumerisme.

ABSTRACT

Development in Indonesia, especially since the New Order era, that uses Western technology and foreign investment has brought about new values that shift society away from traditional culture. Along with the shift of value, consumerism is spreading in big cities as well as rural areas in Indonesia. This paper aims to prove that modernization, that uses Western technology and foreign investment, the encroachment of foreign culture and the diffusion of consumerism, that are gradually replacing traditional culture, are inevitable.

Keywords: the shift of value, traditional culture, modernization and consumerism.

PENDAHULUAN

Setiap masyarakat yang sedang membangun akan mengalami masa transisi yang

menunjukkan pola perkembangan yang dipengaruhi oleh masalah-masalah sosial,

ekonomi, dan politik. Salah satu gejala serta masalah yang akan diuraikan dalam tulisan

ini ialah perubahan nilai-nilai dalam masyarakat Indonesia yang kini sedang mengalami

transisi. Sejalan dengan derap langkah pembangunan dan modernisasi di Indonesia yang

memanfaatkan teknologi Barat, terjadi pergeseran kebudayaan. Yang dimaksud dengan

teknologi Barat adalah teknologi yang berasal dari negara-negara industri yang maju

(2)

kebudayaan tradisional di Indonesia dipertahankan? Nilai-nilai budaya di Indonesia yang

tradisional sedang menghadapi tantangan dan mengalami polusi.. Sejalan dengan polusi

budaya, gaya hidup dengan falsafah konsumen atau yang disebut konsumerisme terlihat

dimana-mana, utamanya di kota-kota besar di Indonesia. Pengamatan itu sejalan dengan

pendapat Kartjono (1984) yang mengatakan bahwa perkembangan politik yang sekarang

ada di Indonesia, antara lain menimbulkan polusi budaya dan konsumerisme.

Pendapat utama yang ingin penulis sajikan disini ialah bahwa kemajuan di bidang

teknologi dan ekonomi cenderung akan mempengaruhi, bahkan seringkali menggeser

kebudayaan asli suatu negara, bangsa, masyarakat. Mengingat hal itu, dalam proses

modernisasi di Indonesia yang memanfaatkan teknologi Barat, penulis berpendapat kita

tidak dapat mencegah masuknya kebudayaan asing atau Barat, yang perlahan-lahan

menyisihkan kebudayaan tradisional di Indonesia. Dalam tulisan ini akan

dipertimbangkan sejumlah pendapat dan data dari berbagai sumber yang tersedia. Penulis

akan memfokuskan kejadian-kejadian di kota-kota besar di Indonesia sejak lebih dari tiga

dasa warsa yang lalu hingga kini, tanpa menutup mata akan kejadian-kejadian di

pedesaan di Indonesia.

POLUSI KEBUDAYAAN

Akibat meningkatnya penggunaan radio dan televisi, maka musik-musik pop yang

paling mutakhir dengan cepat menyebar ke seluruh penjuru dunia. Di Indonesia, rakyat di

pedesaan maupun di gunung-gunung, sudah tidak asing lagi dengan radio. Telah menjadi

hal yang biasa bila anak-anak desa terpencil dapat mendendangkan lagu-lagu pop dari

Yoshua atau penyanyi-penyanyi belia lainnya dan mengetahui kisah putri salju.

Sementara itu, adanya pesawat televisi yang seringkali diletakkan disudut operation room

Pak Lurah, akan mempercepat masuknya kebudayaan asing ke desa-desa. Demikian pula

dengan iklan dan film ikut ambil bagian dalam penyebaran kebudayaan asing. Suatu

contoh sederhana adalah cara minum dari botol, tanpa alat penyedot atau gelas.

Anak-anak muda sekarang merasa lebih enerjik dan dinamis bila langsung minum dari botol.

(3)

Di bidang busana, Levi’s telah menjadi kegemaran anak-anak muda maupun

dewasa, pria maupun wanita, di kota maupun di desa. Sementara itu kaum elite dan kelas

menengah, agar kelihatan modern, lebih menyukai busana Barat. Bila kita perhatikan

film-film Indonesia, yang berkebaya atau bersarung, hampir selalu berperan sebagai

orang yang rendah derajatnya, yang bodoh, yang dari kampung atau udik, dan yang kolot.

Di pihak lain wajah-wajah Indo banyak diincar untuk dijadikan bintang-bintang iklan dan

film. Pesatnya kemajuan benda-benda siar: film, televisi, majalah, surat kabar, kalender,

dan sebagainya yang bersifat peraga ikut melambungkan remaja kita yang bertampang

Indo. Jutaan muda-mudi mimpi mendapatkan kesempatan melompat tinggi sedang

kesempatanpun makin banyak. Dimana-mana ada lomba-lomba pop song, foto model,

bintang iklan, peragawati, dan sebagainya. Disamping itu prasarana bagi gadis/wanita

Indonesia yang ingin meniru kecantikan Barat sekarang telah dimudahkan oleh

banyaknya usaha salon kecantikan. Dengan cepat perkara kecantikan Barat ini menjalar

pula ke pedesaan, berkat film dan televisi. Mencium perkembangan ini, siasat salon gesit

juga. Mereka membuka usaha di pinggiran kota, misalnya di jalur lalu lintas

wanita-wanita yang bekerja di pabrik-pabrik.

Terdapat indikasi banyak digunakannya nama-nama atau istilah asing untuk

gedung-gedung atau merk dagang. Masyarakat dari kelas menengah ke atas, supaya

kelihatan modern atau pandai, banyak menggunakan istilah asing dalam pembicaraan,

ceramah atau pidato. Pendapat ini dikuatkan oleh Kartjono (1984), yang mengatakan :

“In the daily life, it appears among others, in the use of language. The elitism inclines to

always use language which is difficult to be understood by the masses. We can find

examples about this everywhere. To mention, too much use of foreign terms. And when it

is translated, the translation is as peculiar as the former, at least the same difficulty is

faced as to understand it”. Juga adanya rasa bangga atau kagum akan segala sesuatu yang

buatan (product) luar negeri, misalnya pakaian, sepatu, parfum, bahkan pendidikan luar

negeri. Kentucky Fried Chicken dianggap lebih bersih, bergizi, modern dari pada ayam

goreng Ny Suharti. Ini semua belum tentu benar, karena pendidikan luar negeri juga

tergantung di universitas mana dan ayam goreng dengan cara tradisional yang biasanya

menggunakan ayam kampung jauh lebih sehat. Menurut Nuradi (1977), “merupakan

(4)

kepercayaan yang lebih besar”. Sekolah-sekolah dan universitas-universitas di Indonesia

berlomba-lomba menunjukkan ke publik bahwa mereka bekerja sama dengan lembaga

pendidikan di luar negeri agar menarik calon siswa dan mahasiswa serta orang tua mereka

(bagian dari stake-holder).

Sebagian anggota masyarakat, bahkan beberapa pemimpin negara berkembang,

berpendapat bahwa mereka dapat mengusahakan kemajuan/modernisasi dengan cara

Barat, sekaligus mempertahankan kebudayaan asli mereka. Adanya pendapat itu juga

diakui oleh Andreas Buss (1984), yang mengatakan : "Many leaders of developing

nations believe that they can achieve Western-style progress and at the same time retain

their culture and their morals". Mengingat adanya polusi budaya yang terjadi di

Indonesia sekarang ini, penulis tidak sependapat dengan pemimpin-pemimpin negara

yang dikatakan Andreas Buss. Uraian penulis mengenai adanya polusi kebudayaan telah

membuktikan bahwa sejalan dengan masuknya teknologi Barat, kebudayaan Barat juga

masuk dan perlahan-lahan menyisihkan kebudayaan tradisional di Indonesia. Mengapa

dapat terjadi demikian, akan dijelaskan pada bagian lain dari tulisan ini. Pendapat penulis

juga dikuatkan oleh Mochtar Lubis (1981) yang melihat "betapa banyaknya nilai-nilai

budaya bangsa kita yang runtuh selama ini. Sekarang sudah banyak diantara kita yang

berpikir, beranggapan serta menentukan tujuan hidup dengan kerangka baru".

Kerangka-kerangka baru dan tujuan hidup kita timbul antara lain sebagai akibat masuknya modal

asing, industrialisasi, dan sebagainya.

Sekarang marilah kita perhatikan tempat-tempat rekreasi mewah dan pusat-pusat

hiburan. Walaupun di tengah krisis ekonomi, lantai dansa di kelab-kelab malam, di

hotel-hotel internasional maupun di diskotik-diskotik penuh sesak, sekalipun untuk menikmati

hiburan itu harus mengeluarkan biaya yang tidak sedikit. Sementara itu, iklan-iklan

minuman bir dan rokok yang ber-merk asing yang setiap hari ditayangkan di televisi,

menggambarkan pola-pola gaya hidup dunia Barat yang merasuki remaja-remaja kita.

Orang tidak malu, bahkan bangga dapat atau mampu membeli karcis untuk menyaksikan

pertunjukan telanjang. Contoh-contoh di atas menunjukkan, di tengah krisis ekonomi

bukan saja terjadi pergeseran nilai-nilai di Indonesia, tetapi juga begitu eratnya dengan

(5)

KONSUMERISME

Sejalan dengan adanya polusi kebudayaan, konsumerisme juga tersebar, utamanya

di kota-kota besar di Indonesia. Di dalam modernisasi terselip falsafah konsumerisme,

yang mengajar orang menjadi konsumtif supaya layak disebut modern. Dalam kondisi

krisis ekonomi yang dialami Indonesia saat ini, menurut Parsudi Suparlan (2003),

antropolog dari Universitas Indonesia, tidak tampak adanya perasaan tengah mengalami

krisis, malahan konsumerisme terus meningkat. Sebelum menyajikan pembahasan

tentang gaya hidup konsumerisme masa kini, penulis ingin meninjau bagaimana

kehidupan rakyat sehubungan dengan hiburan yang biasanya mereka nikmati sebelum

periode pembangunan yang dijalankan Orde Baru. Rakyat di pedesaan atau di

kampung-kampung di kota tahun 1960-an, di bidang rekreasi dan hiburan tak tergantung pada

barang-barang impor. Di desa-desa tidak ada pesawat televisi atau gedung bioskop.

Hanya beberapa penduduk yang mempunyai radio. Pada waktu itu hiburan yang sering

dilakukan adalah mengobrol dengan teman-teman atau sanak keluarga. Hiburan lainnya,

misalnya sepak bola, menonton wayang, lomba perkutut, adu ayam, dan sebagainya.

Di jaman pembangunan, hiburan-hiburan yang masih tradisional harus bersaing

dengan hiburan-hiburan modern. Wayang, ketoprak, lenong dan sebagainya telah

tersaingi dengan film-film di bioskop-bioskop dan televisi. Sementara itu karena makin

lancarnya komunikasi antara kota dan pedesaan, gaya hidup kota dengan cepat masuk ke

desa. Orang kaya desa membeli mobil-mobil angkutan penumpang yang menghubungkan

desa dengan kota. Ada pula yang menanam modal di berbagai usaha di kota. Rakyat desa

yang kurang mampu dan tidak mempunyai pekerjaan di desa atau yang tertarik pada

gemerlapnya kota, pergi ke kota menjadi pekerja/buruh bangunan atau industri, pelayan

dan sebagainya. Selama bertahun-tahun persentase migrasi yang terbanyak adalah kaum

miskin di desa, yang tidak memiliki tanah, serta tidak mempunyai keterampilan.

Sayangnya, harapan untuk mendapat pekerjaan yang layak di kota tidaklah mudah.

Sebaliknya kaum berduit dari kota membeli tanah di desa, membangun vila-vila bak

istana dan lapangan golf, sehingga mengakibatkan perbedaan sosial. Gaya hidup

konsumtif atau konsumerisme dengan cepat menjalar ke desa-desa. Orang

berlomba-lomba membeli pakaian bagus, radio, televisi, hand phone, yang selain dinikmati juga

(6)

sawah untuk membeli sepeda motor atau mobil. Para salesmen dari kota yang datang

mencari pembeli di desa-desa juga ikut berperan meluaskan konsumerisme. Menurut

Aswab Mahasin (1977), remaja desa bisa membeli Levi's di kota setelah menjual

kambingnya ke pasar.

Konsumerisme lebih terasa dan terlihat di kota-kota di Indonesia. Penelitian yang

dilakukan H.W. Dick (1985) terhadap pengeluaran/belanja memberikan data berikut ini :

"Between 1960 and 1976 real expenditure per capita increased twice as rapidly in urban

(40 percent) as in rural (20 percent) Java and faster in Jakarta (50 percent) than in any

other city. Moreover, the increase of 40 percent in urban per capita expenditure was

biased heavily toward the upper expenditure quintiles". Para remaja, pemuda atau

mahasiswa ada kecenderungan malu bersepeda ke sekolah atau ke kampus. Fungsi sepeda

pada waktu ini telah digantikan sepeda motor atau mobil. Contoh yang jelas di kampus

Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga, waktu ini sudah tidak ditemui sepeda.

Bahkan bila kita perhatikan lebih lanjut banyak karyawan universitas ini yang telah

memiliki mobil. Sangat menarik untuk diteliti disini bahwa di kota sekecil Salatiga,

kebutuhan akan mobil tentulah bukan kebutuhan mutlak apalagi bila segi keuangan belum

mengijinkan. Tetapi ada kecenderungan, banyak diantara mereka yang memaksakan diri

untuk membeli mobil, walaupun dengan gaji yang pas-pasan. Hal ini membuktikan

bahwa konsumerisme bukan saja terjadi di kota-kota besar, tetapi telah menyebar ke

berbagai tempat di Indonesia. Ini terjadi karena sepeda motor atau mobil, selain berfungsi

sebagai alat transport, juga merupakan simbol status atau simbol dunia modern.

Pengamatan yang sama juga dilakukan Kartjono (1984), yang mendapatkan : "Volvo,

Honda, Arrow, Citizen, ITT-Schaub Lorenz, Sony etc., become the symbols of modern

world, all of which now spread over throughout the country, infiltrate and crawl into the

mountain tops and remote islands. This is a significant price that modernization has

continued in our country".

Selanjutnya, pendapat penulis mengenai adanya polusi budaya dan timbulnya

konsumerisme, diperkuat oleh H.W. Dick (1985), yang berpendapat : "The number of

motor vehicles for personal use has soared and the number of motorcycles has increased

(7)

press, radio, films, and more recently television have been powerful influences".

Sementara itu, pengaruh iklan dan modernisasi menyebabkan kaum ibu di kota-kota

besar lebih suka atau cenderung memberikan susu kalengan kepada bayi-bayi mereka

daripada menyusui sendiri, yang selanjutnya juga ditiru oleh ibu-ibu di desa. Pendapat itu

ditunjang oleh Nuradi (1977), yang mengatakan : "Yang lebih buruk lagi terjadi pada

kasus penyusuan bayi. Ibu-ibu di desa, karena melihat ibu-ibu di kota menyusukan

anaknya dengan susu kaleng, mulai meniru kebiasaan itu. Celakanya, kemampuan

ekonomi mereka menyebabkan susu kaleng yang sebenarnya hanya cukup untuk satu liter

itu dipergunakan seminggu penuh". Bagi ibu-ibu muda, ada tambahan alasan lain untuk

tidak menyusui sendiri, mungkin karena bekerja atau kuliah. Pada tahun 1980-an, setelah

adanya kampanye dari Departemen Kesehatan dan UNICEF, yang dibarengi pula dengan

berkurangnya iklan-iklan susu kalengan, maka ada kecenderungan kembali ke susu ibu.

Industri dan dunia bisnis juga berperan menciptakan rasa bosan secara teratur.

Konsumen diusahakan agar tidak terlampau lama terikat kepada suatu hasil pabrik. Pada

saatnya diusahakan agar mereka bosan dan siap menerima yang baru. Hal ini berlaku

bukan saja untuk barang-barang seperti sepatu, baju, tetapi juga hand phone, televisi,

mobil, dan sebagainya. Contoh yang sangat terasa saat ini adalah hand-phone. Nokia,

yang sekarang ini merupakan salah satu merk yang menguasai pasar Indonesia, secara

reguler selalu melahirkan type dan model-model baru. Perlahan-lahan masyarakat

Indonesia dihisap ke dalam jaringan perdagangan dan konsumsi modern. Dunia industri

dan perdagangan menarik keuntungan dari konsumen, karena perlindungan terhadap

konsumen di Indonesia belum terlampau kuat. Pendapat penulis sejalan dengan Richard

H. Leftwich dan Ansel M. Sharp (1984), yang menulis : "Thus the business firm

presumably has the power to take advantage of the consumer".

MENGAPA KEBUDAYAAN BARAT DAPAT MENYISIHKAN KEBUDAYAAN TRADISIONAL INDONESIA?

Sebagaimana diketahui bahwa pembangunan dan modernisasi di Indonesia telah

mendatangkan dan menggunakan teknologi dari dunia Barat. Mengenai definisi

teknologi, penulis sependapat dengan Jujun S. Suriasumantri (1986) : "Teknologi

(8)

perangkat keras, yang berupa peralatan maupun perangkat lunak, yang berupa

metoda/teknik pemecahan masalah".

Sekarang marilah kita mencari jawaban mengapa dengan adanya modernisasi yang

memanfaatkan teknologi Barat kebudayaan tradisional di Indonesia dapat tergeser. Bila

kita menelusuri perkembangan teknologi, akan terlihat bahwa teknologi

diciptakan/dilahirkan di dalam dan untuk suatu kebudayaan tertentu. Suatu contoh

sederhana adalah mobil sedan. Kendaraan ini diciptakan di suatu masyarakat yang telah

maju, bagi suatu keluarga kecil dan untuk digunakan di suatu kota/daerah yang

kondisinya memungkinkan/mendukung, misalnya adanya jalan-jalan umum yang

beraspal serta cukup lebar. Tentu saja untuk daerah-daerah tertentu di negara yang masih

terbelakang, penggunaan kendaraan tradisional lebih cocok, misalnya kuda untuk daerah

pegunungan, pedati atau sepeda di daerah pedesaan di Indonesia yang umumnya belum

mempunyai jalan beraspal. Bila kita mendatangkan dan menggunakan teknologi dari

negara asing/Barat, maka dengan sendirinya kebudayaan di tempat teknologi itu

dilahirkan akan ikut terbawa dan masuk ke Indonesia. Hal-hal lain yang ikut mendukung

masuknya kebudayaan asing/Barat tersebut adalah hadirnya modal asing maupun

pinjaman luar negeri, datangnya para konsultan dan teknisi asing, serta meningkatnya

jumlah turis asing yang datang ke Indonesia. Contoh mengenai masuknya kebudayaan

asing lewat kegiatan turisme dapat terlihat di pulau Bali.

Berbagai penerapan teknologi di Indonesia telah berperan mendorong adanya

perubahan, bukan saja dalam cara orang bekerja, tetapi juga gaya hidup, nilai-nilai

manusia, dan masyarakat. Penggunaan dan pengoperasian teknologi membutuhkan

keterampilan tertentu sehingga diperlukan pendidikan atau latihan tertentu. Akibatnya,

orang yang tidak berpendidikan dan tidak mempunyai keterampilan akan tersingkir.

Contoh : mesin-mesin yang canggih/modern atau peralatan elektronika dan komputer

tentu saja tidak dapat ditangani oleh pekerja-pekerja yang tak terdidik. Pembangunan dan

modernisasi yang menggunakan teknologi itu juga menekankan pada efisiensi. Hal ini

akan menggeser hubungan sosial dan kedudukan manusia itu sendiri. Untuk

mempertahankan pekerjaan/kedudukannya orang haruslah bekerja efisien, yang akan

(9)

mereka cenderung untuk berfoya-foya pada waktu senggang/libur dan konsumerisme

meraja-lela. Gambaran mengenai kehidupan yang serba cepat dan hidup dalam

persainagan itu dijelaskan oleh Mochtar Lubis (1981) : “Teknologi modern cenderung

mempercepat tempo kehidupan, pengangkutan serba cepat, komunikasi secepat kilatan

cahaya. Momentum perdagangan dan keuangan didukung oleh kecepatan teknologi

telekomunikasi. Siapa terlambat akan ketinggalan dan akan kalah dalam persaingan”.

Dengan demikian orang akan cenderung menjadi individualistis, hidup dalam kompetisi,

mementingkan diri sendiri atau kelompoknya. Padahal falsafah hidup masyarakat

tradisional di Indonesia adalah kegotong-royongan, yang mana hubungan antar anggota

masyarakat cukup mesra, tolong-menolong bila ada kesulitan/kesusahan.

Masyarakat tradisional di Indonesia yang semula hidup tenteram dalam

kesederhanaan, sekarang, utamanya yang di kota-kota besar, telah dihinggapi semangat

materialisme dan konsumerisme. Keadaan ini juga mulai mengubah hubungan keluarga.

Jumlah anggota keluarga masa kini di satu rumah hanya terdiri atas suami-isteri dan

anak-anak mereka. Di masa lalu suatu keluarga besar terdiri atas kakek-nenek bersama-sama

dengan beberapa anak/menantu serta cucu-cucu tinggal di suatu rumah besar.

Kadang-kadang karena sulitnya mendapat pekerjaan di daerah asalnya, orang terpaksa pindah ke

kota besar dan mengakibatkan angka urbanisasi terus meningkat. Mereka yang berasal

dari pedesaan, yang kemudian tinggal di kota besar, akan merasa terpencar dari keluarga

besarnya/sanak keluarganya. Di kota-kota besar, pola kehidupan dengan hubungan

kekeluargaan yang mesra cenderung menurun terus.

Di samping itu, kebudayaan asing/Barat dapat menggeser kebudayaan tradisional

di Indonesia, karena pada beberapa hal dapat berfungsi lebih cocok dengan suasana

modernisasi. Contoh yang sederhana adalah di bidang pakaian. Untuk menjalankan tugas

sehari-hari, bagi remaja/pemuda, baik yang sekolah/kuliah atau bekerja, pakaian-pakaian

dengan model Barat lebih sesuai digunakan dari pada pakaian dengan model tradisional.

Celana lebih mudah dan praktis digunakan untuk kuliah dari pada sarung. Dari uraian di

atas terlihat bahwa kebudayaan Barat menyertai masuknya teknologi ke Indonesia,

sehingga apabila kita ingin menerapkan teknologi Barat, kita terpaksa menerima

kebudayaan Barat. Di pihak lain, agar dapat berfungsi dengan baik sesuai dengan

(10)

SIMPULAN

Kebudayaan cenderung akan selalu berubah-ubah dalam ruang dan waktu,

menjawab keperluan-keperluan insani. Di satu pihak memperbaharui dan di pihak lain

melestarikan nilai-nilai. Bila semata-mata hanya melestarikan nilai-nilai lama dan

menolak nilai-nilai baru, dapat terjadi tabrakan dengan keperluan-keperluan objektif

masyarakat. Walaupun ada sebagian anggota masyarakat yang berpendapat bahwa

modernisasi tidaklah harus berarti Westernisasi, dalam arti kita boleh mengambil alih

teknologi yang faktual datang dari Barat, tetapi tanpa mengambil alih kebudayaan Barat,

penulis berpendapat hal ini tidak mungkin. Selanjutnya, menanggapi hal itu penulis

sependapat dengan Y.B. Mangunwijaya (1983), yang mengatakan : “Dari sejarah

perkembangan bangsa kita dan negara-negara berkembang lain, tanda-tanda

non-westernisasi nada-nadanya sulit dicari. Khususnya pada angkatan muda yang sejak bayi

sudah dimandikan dengan sabun dan minum susu kaleng hasil perusahaan multinasional,

namun dalam kalangan tertinggi kita menggariskan langkah strategi ekonomi dan

pengembangan, kemajuan, kemakmuran dan sebagainya, kecenderungan dasar sikap

mereka sama sekali tidak berbeda dari rekan-rekan mereka di Barat”.

Perusahaan-perusahaan multinasional telah memaksakan sistem sosial baru yang kadang-kadang tidak

sejalan dengan kebudayaan masyarakat negara sedang berkembang. Demikianlah, dari

uraian dalam tulisan ini terbukti bahwa dalam proses modernisasi di Indonesia yang

memanfaatkan teknologi Barat, kita tidak dapat mencegah masuknya kebudayaan asing

atau Barat, yang perlahan-lahan menyisihkan kebudayaan tradisional di Indonesia,

kecuali jika kita juga menolak teknologi Barat. Kehadiran teknologi yang serupa

“ideologi” itu bukan untuk dikutuk atau ditolak semata-mata, tetapi untuk memudahkan

hidup manusia, termasuk manusia Indonesia. Contoh sederhana dapat kita lihat misalnya

teknologi pertanian serta komunikasi, dan akhir-akhir ini teknologi informasi, telah

membuktikan kesanggupannya memecahkan berbagai masalah. Maka “ideologi” baru itu

perlu terus dipahami agar kita tidak tertinggal dalam pergaulan di masyarakat

(11)

KEPUSTAKAAN

Buss, A., “Max Weber’s Heritage and Modern Southeast Asian Thinking on Development”, Southeast Asian Journal of Social Science, Vol. 12, No. 1, 1984.

Dick, H.W., “The Rise of A Middle Class and The Changing Concept of Equity in Indonesia : An Interpretation”, Indonesia, Cornell Southeast Asia program, No. 39, April 1985.

Kartjono, “Depolitization Politics in Indonesia”, Transnationalization of The State and Social Formation : Indonesia Experience, Research Project’s Seminar on “The State and People in the Context of Transnationalization”, held in Salatiga, October 8-12, 1984, Sponsored by U.N. University, LP3ES, 1984.

Leftwich, R.H. & A.M. Sharp, Economics of Social Issues, Business Publication, Inc, Plano Texas 75075, Sixth Edition, 1984.

Lubis, M., “Penerusan Budaya Kita Terputus”, Prisma, No. 11, November 1981, LP3ES, Jakarta.

Lubis, M., “Dampak Teknologi Pada Kebudayaan”, Teknologi dan Dampak Kebudayaannya, Vol. II, Penyunting Y.B. Mangunwijaya, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta 1985.

Mahasin, A., “Pengantar Redaksi”, Prisma, No. 6, Juni 1977, LP3ES, Jakarta.

Mangunwijaya, Y.B., Teknologi dan Dampak Kebudayaannya, Vol. 1, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta 1983.

Nuradi, “Iklan dan Polusi Gaya Hidup”, Prisma, No 6, Juni 1977, LP3ES, Jakarta.

Suriasumantri, J. S., Ilmu dalam Perspektif Moral, Sosial dan Politik, Penerbit PT Gramedia, Jakarta 1986.

Referensi

Dokumen terkait

Seperti yang sudah kita ketahui karya sastra tediri dari drama,prosa dan puisi.Puisi tidak dapat dipisahkan dari lirik.Puisi mengalami perkembangan dari waktu ke waktu, satu

Selain itu, hama ini menghasilkan sekresi/zat lengket yang disebut embun jelaga ( honeydew ) atau embun madu yang tertinggal pada tanaman sehingga menutupi permukaan daun

Apabila produktivitas kedelai 2,18 t/ha dengan asumsi harga Rp 5.558/kg di Jawa Timur, dan 1,672 t/ha dengan harga Rp 5.191/kg di Jawa Tengah, maka kedelai mempunyai

Berdasarkan dari hasil praktikum dapa disimpulkan bahwa jumlah stomata bagian bawah daun lebih banyak dari jumlah stomata bagian atas daun, maka semakin banyak

Kurang menarik dibandingkan dengan varietas yang berasal dari galur murni Kurang menarik dibandingkan dengan varietas yang berasal dari galur murni (seragam), lebih sulit untuk

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah dilakukan secara umum dapat diambil kesimpulan bahwa tindak tutur ilokusi pada aktor dalam pementasan drama

lightness , chroma dan hue ikan lele asap diduga akibat adanya reaksi komponen asap yaitu karbonil dengan protein yang mengandung asam amino dan asap yang

Prevalensi kasus polip serviks berkisar antara 2 hingga 5% wanita.2 Pada wanita premenopause (di atas usia 20 tahun) dan telah memiliki setidaknya satu anak,