• Tidak ada hasil yang ditemukan

POTRET KEHIDUPAN TUKANG BECAK DI KABUPATEN BANTAENG

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "POTRET KEHIDUPAN TUKANG BECAK DI KABUPATEN BANTAENG"

Copied!
150
0
0

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Guna Mamperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Pada Program Studi Pendidikan Sosiologi

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar

Oleh:

A. HASNAH HAMID 10538 2403 12

JURUSAN PENDIDIKAN SOSIOLOGI

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

Agustus 2016

(2)

Motto dan persembahan

Untuk mendapatkan kesuksesan, keberanianmu harus lebih besar daripda ketakutanmu

Kupersembahkan karya ini buat : Kedua orang tuaku, dan saudaraku Abd. Hamid dan Jumaria Hartati, Kartina dan Muh. Idris Atas keikhlasan dan doanya dalam mendukungku Mewujudkan harapan-harapanku

ii

(3)

ABSTRAK

A.Hasnah Hamid. 2016. Potret Kehidupan Tukang Becak di Kabupaten Bantaeng Skripsi. Program Studi Pendidikan Sosiologi Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar. Pembimbing Saiful Saleh dan Suardi.

Masalah utama dalam penelitian ini adalah sebuah kehidupan tukang becak yang kurang begitu menjadi sorotan masyarakat dan pihak pemerintah di Kabupaten Bantaeng, baik dari segi sosial, ekonomi, pendidikan, budaya serta kehidupan bermasyarakat mereka sesama tukang becak.

Tujuan penelitian ini adalah (i) untuk menganalisis latar belakang tukang becak memilih pekerjaan sebagai tukang becak. (ii) untuk menganalisis interaksi sosial antar sesama tukang becak dengan masyarakat lainnya. (iii) menganalisis kehidupan sosial,ekonomi, budaya dan pendidikan para tukang becak di kabupaten bantaeng. Jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian kualitatif yang bertujuan untuk memahami realitas sosial tentang potret kehidupan tukang becak di kabupaten bantaeng. Informan ditentukan secara purposive sampling berdasarkan karakteristik informan yang telah di tetapkan yaitu para tukang becak si kabupaten bantaeng. Teknik pengumpulan data yaitu wawancara, observasi dan partisipatif. Teknik analisis data melalui beberapa tahapan yaitu reduksi data.

Penyajian data dan kesimpulan. Sedangkan teknik keabsahan data menggunakan trianggulasi yaitu teknik, sumber, dan waktu.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa, (i) latar belakang tukang becak memilih pekerjaan sebagai tukang becak adalah karena factor pendidikan yang rendah dan kurangnya keterampilan yang mereka miliki, (ii) interaksi sosial antar sesama tukang becak dengan masyarakat lainnya adalah interaksi yang terjadi sama halnya dengan interaksi yang di alami masyarakat pada umumnya. (iii) kehidupan sosial,ekonomi,budaya dan pendidikan tukang becak di kabupaten bantaeng adalah dari segi sosial menunjukkan mereka berinteraksi dengan masyarakat,ekonomi di katakana rendah dan pendidikan sangat rendah.

Kata kunci : Kehidupan, Potret

iii

(4)

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Allah Maha Pengasih dan Maha Penyayang, demikian kaya untuk mewakili atas segala karunia dan nikmat-Nya. Jiwa ini takkan henti bertauhid atas anugerah pada detik waktu, denyut jantung, gerak langkah, serta rasa dan rasio pada-Mu, Sang Khaliq. Skripsi ini adalah setitik dari sederetan berkah-Mu.

Setiap orang dalam berkarya selalu mencari kesempurnaan, tetapi terkadang kesempurnaan itu terasa jauh dari kehidupan seseorang. Demikian juga dalam tulisan ini, kehendak hati ingin mencapai kesempurnaan, tetapi kapasitas penulis dalam keterbatasan. Segala daya dan upaya telah penulis kerahkan untuk membuat tulisan ini selesai dengan baik dan bermanfaat dalam dunia pendidikan, khususnya dalam ruang lingkup Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Makassar.

Motivasi dari berbagai pihak sangat membantu dalam penampungan tulisan ini. Segala rasa hormat, penulis mengucapkan terima kasih kepada kedua orang tuaku tercinta Abd. Hamid dan Jumaria yang telah berjuang, berdoa, mengasuh, membesarkan, mendidik, mendukung dan membiayai penulis dalam proses pencarian ilmu. Penulis juga mengucapkan kepada para saudara-saudara, dan keluarga yang tak hentinya memberikan motivasi. Dengan segala hormat, penulis mengucapkan terimakasih kepada Ir. H. M. Syaiful Saleh, M. Si ,dan Suardi, S.Pd, M.P.d selaku pembimbing I dan pembimbing II yang selalu

iv

(5)

proposal hingga selesainya skripsi ini.

Tidak lupa juga penulis mengucapkan terima kasih kepada : Dr. H. Irwan Akib, M.pd., Rektor Universitas Muhammadiyah Makassar, Dr. H. Andi Syukri Syamsuri, M.Hum., Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Makassar, dan Dr. H. Nursalam, M.Si., Ketua Jurusan Pendidikan Sosiologi, serta seluruh dosen dan staff pegawai dalam lingkungan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Makassar yang telah membekali penulis dengan serangkaian ilmu yang bermanfaat bagi penulis.

Dan ucapan terima kasih kepada teman-teman seperjuanganku Harmayanti R, Nurlaelah, Nurfadillah.R, A. Sahri Rahayu, We Tenri Ana Latief , dan untuk Dhedy Suprianto yang selalu menemani dalam suka dan duka, serta seluruh rekan mahasiswa Jurusan Pendidikan Sosiologi atas segala kebersamaan, motivasi, saran, dan bantuannya.

Akhirnya, dengan segala kerendahan hati, penulis senantiasa mengharapkan kritikan dan saran dari berbagai pihak, yang bersifat membangun.

Semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat. Amin Yarabbal Alamin. Billahi fii sabilill haq fastabiqul khaerat wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Makassar, 22 Agustus 2016

A.Hasnah Hamid

(6)

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ………..……….. i

HALAMAN PENGESAHAN ……….………..……….. ii

LEMBAR PENGESAHAN…………..………..……….. iii

PERSETUJUAN PEMBIMBING …..………..…….. iv

SURAT PERTNYATAAN ………....…. v

SURAT PERJANJIAN ……….………...……...… vi

MOTTO DAN PERSEMBAHAN …………..……… vii

ABSTRAK ………...………. viii

KATA PENGANTAR ………...……. ix

DAFTAR ISI ………..…. xi

DAFTAR TABEL ………..…. xiv

DAFTAR GAMBAR ………...…. xv

DAFTAR LAMPIRAN ………..…. xvi

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ………...…… 1

B. Rumusan Masalah ………... 8

C. Tujuan Penelitian ………..… 8

D. Manfaat Penelitian ………..……. 9

E. Defenisi Operasional ………...…….. 9 BAB II KAJIAN PUSTAKA

(7)

B. pengertian becak dan tukang becak ……….……16

C. Defenisi Sosial Ekonomi.………..18

D. Factor-Faktor Penyebab Kemiskinan………20

E. Pengertian Masyarakat……….…... 25

F. Interaksi Sosial ………. ………...26

G. Teori ……….……… 30

H. Kerangka Pikir ………...33

BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian ………..………….... 36

B. Lokasi Penelitian dan Waktu Penelitian……….……...… 37

C. Informan Penelitian ………..…. 37

D. Fokus Penelitian ………..……….…. 38

E. Instrumen Penelitian ………...…..…….... 39

F. Jenis dan Sumber Data Penelitian ……….… 40

G. Teknik Pengumpulan Data ………... 40

H. Teknik Analisis Data ……….... 41

I. Teknik Keabsahan Data …….………... 43

J. Etika Penelitian ……….…. 52

BAB IV GAMBARAN DAN HISTORIS LOKASI PENELITIAN A. Letak Geografis ……….……... 45

B. Keadaan Geogrefis……….…………46

C. Keadaan Wilayah ……….……… 50

D. Keadaan Penduduk... ……….………51 vi

(8)

F. Bidang Pendidikan ……….53 G. Bidang Kesehatan ………54 BAB IV HASIL PENELITIAN

A. Latar Belakang Tukang Becak Memilih Pekerjaan Sebagai Tukang Becak ………56

1. Deskripsi Hasil Penelitian ………….……..………56 2. Pembahasan ………….………57 BAB IV HASIL PENELITIAN

A. Interaksi sosial sesama tukang becak dengan masyarakat lainnya …… 65 1. Deskripsi Hasil Penelitian ………….……..……….. 65

2. Pembahasan ………….……… 66

BAB IV HASIL PENELITIAN

A. Kehidupan sosial budaya, ekonomi, pendidikan tukang becak ……… 69 1. Deskripsi Hasil Penelitian ………….……..……….. 69 2. Pembahasan ………...……..……….70 BAB V SIMPULAN DAN SARAN

A. SIMPULAN ………...72 B. SARAN ………...73 DAFTAR PUSTAKA ………...74 LAMPIRAN-LAMPIRAN

vii

viii

(9)

DAFTAR TABEL Tabel

Tabel 3.2 Data Informan ……….. 38

Tabel 4.1 : Data Lahan di Kabupaten Bantaeng ..……….. 49

Tabel 4.2 : Daftar Kecamatan di Kabupaten Bantaeng……….. 50

Tabel 4.3 Jumlah penduduk berdasarkan jenis kelamin……….. 52

Tabel 5.1 : Data Informa………..……….... 58

Table 5.2 : Data Hasil Penelitia……….……….. 60

Tabel 5.3 : Data hasil wawancara………...………...……… 62

Tabel 6.1. : Data hasil wawancara ………..………66

Tabel 4.8 : Data Hasil Wawancara ……….... 71

DAFTAR GAMBAR Gambar Gambar 4.1 Gambar Lokasi Penelitian ……….… 77

ix

(10)
(11)

Muhammadiyah Makassar Namor: 089 Tahun 1437 Hl2016 M, Sebagai salah satu syarat

$rra

memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan pada Jurusan Pendidikaa Sosiologi Falrultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan lJniversitas Muhammadiyah Makassar, Yudisiurn pada hari rabu, 31 Agustus 2016

20 Ral-riul Awal 1438 Ft Makassar.

?0 Desernber ?016 ir,{

PANITIA U.'LA.N

P*ugarv;rs tirurm : I}'. Il.,A,bd. Rahman Rahim.5.E.. h'1\4

Kettia

: Dr". IJ. Anrii Sukri Syamsttri, Ir'I,[luir.

Sei.rerayis

: fi.haeruddin. S,Fd.. i\'t.Fd,

Fc-r;gqi

:

l.

Dr. 1{j. Budi Setiarvati" l\,{.Si.

2. Dr. h4r"rnirah. L,{.Pd.

ri. Llr:" Nur:lina Sutrair. N'{.I}d.

4" ltluha-iir. S.Pd." M.Fd.

Mengetahui

Keata Juntsii*

Pr:*riidikair Scsi *i *gi

-,,.1 )

k--t'

; 'tl4 t

X ".' ' :-,,?'2>

L*

---'1'Dr.

H. Nurrillam, II.si-b

.

-t

\Btrt:

[)SIS:9

\

- fufu*i

-;.---.f*{.gI

r lli1 f

( tq E t

Dekau

FKIP

ffi

U4iyAQ! tas Mrrh *",$hiyafr vtatca

(12)

Nama

NIM

Jurusan Fakultas

:A. HasnahHamid : 10538240312

: Pendidikan Sosiologi

: Keguruan dan Ilmu Peadidikan

Setelah diteliti dan diperiksa ulang, skripsi ini telah memenuhi syarat unhik dipertanggung jawabkan di depan tim penguji skripsi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah::Makassar.

Makaesar. 20Desember 2016

Disahkan oleh:

Pembirubihg I

--"---

w /\

Dr. H.

&r. Svaiful S{tEhiM..Si.

Mcngetahui

Fembirnliing Ii

Z

,Suardi, S.Pd,, M,Pd.

Dekan FruWl, Ketua Jurusan

Pendidikan Sosiologi

Nursalam. M.Si.

E-

(13)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Indonesia merupakan sebuah negara yang kaya akan sumber daya alamnya serta bercirikhaskan dengan banyak kepulauan yang indah dari Sabang hingga Merauke yang memiliki jumlah penduduk kurang lebih sekitar 250 juta jiwa dengan jumlah penduduk terbesar keempat di dunia. Namun dibalik kelebihan yang dimiliki oleh Indonesia dari semua itu, sumber daya manusia yang dimiliki justru tidak seberuntung seperti sumber daya alamnya. Karena tingginya jumlah penduduk yang tidak dapat memanfaatkan keadaan yang ada di sekitarnya sehingga menyebabkan banyak sekali masyarakat Indonesia yang miskin.

Kabupaten Bantaeng adalah sebuah kabupaten di provinsi Sulawesi Selatan, Indonesia. Terletak dibagian selatan provinsi Sulawesi Selatan.

Kabupaten ini memiliki luas wilayah 395,83 km² atau 39.583 Ha yang dirinci berdasarkan Lahan Sawah mencapai 7.253 Ha (18,32%) dan Lahan Kering mencapai 32.330 Ha. Secara administrasi Kabupaten Bantaeng terdiri atas 8 kecamatan yang terbagi atas 21 kelurahan dan 46 desa. Jumlah penduduk mencapai 170.057 jiwa. Kabupaten Bantaeng terletak di daerah pantai yang memanjang pada bagian barat dan timur sepanjang 21,5 kilometer yang cukup potensial untuk perkembangan perikanan dan rumput laut.

1

(14)

Manusia adalah mahluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri, manusia membutuhkan manusia lainnya untuk melanjutkan dan mewujudkan tujuan dalam kehidupan sehari-harinya, dalam sosiologi manusia di sebut sebagai individu yang dimana individu dapat melakukan interaksi dengan indivudu lainnya baik secara personal maupun sosial ( kelompok ). Dalam interaksi individu terjadi pertukaran informasi atau hubungan timbal balik antara individu dengan kelompok itu sendiri dalam aktivitas interaksi itu sendiri menimbulkan dampak positif dan negatif serta menciptakan hubungan- hubungan manusia antara manusia ( individu ) dan kelompok dari segi sosial ekonomi, budaya, politik, pendidikan dan sebagainya. Ketika berbicara tentang kehidupan manusia menyangkut di dalamnya kehidupan dalam berbagai bidang seperti yang disebutkan segi ekonomi ,sosial budaya dalam kehidupan ekonomi manusia melakukan aktivitas yang berhubungan penuh terhadap aktivitas- aktivitas ekonomi misalnya jual beli, baik barang maupun jasa keuntungan kerugian dalam segi budaya manusia berhubungan erat dengan kebiasaan, tradisi dari berbagai kelompok masyarakat yang berbeda-beda, dalam segi pendidikan berbicara tentang aktivitas memberi dan menerima ilmu.

Dalam berbagai segi kehidupan tersebut sangat mempengaruhi stratifikasi individu itu sendiri dalam kelompok masyarakat di lingkungannya. Terkhusus pada tukang becak, dalam budaya di masyarakat individu-individu yang memiliki taraf hidup rendah cenderung kurang tidak begitu di anggap atau menempati kelas rendah dalam strativikasi sosial begitupun sangat di

(15)

pengaruhi dari segi ekonomi pelaku tukang becak ini dimana pekerjaan ini di anggap kurang dapat memenuhi.

Perubahan yang berubah-ubah dari keberadaan bangsa Indonesia yang mengalami krisis yang berkepanjangan sejak pertengahan Agustus 1997 medalam mengakibatkan krisis yang terus menimbulkan kerugian bagi masyarakat. Salah satu yang sangat memprihatinkan adalah pengangguran yang mengakibatkan berjuta-juta pekerja mengalami penderitaan. Kesulitan- kesulitan hidup dirasakan hampir seluruh penduduk Indonesia. Upaya-upaya yang dilakukan pemerintah belum cukup membuat keresahan masyarakat berhenti, terutama dalam bidang ekonomi.

Tukang becak merupakan salah satu dari kelompok masyarakat yang hidup dalam kemiskinan. Sudah menjadi pandangan umum di masyarakat bahwa di kota-kota besar hampir semua tukang becak adalah orang tidak mampu.

Mereka berharap dengan bekerja sebagai tukang becak kebutuhan keluarga mereka mampu tercukupi.

Becak merupakan salah satu alat transportasi darat yang keberadaanya sedikit membantu masyarakat dalam mencari nafkah untuk kesehariannya.

Becak termasuk ke dalam salah satu alat transformasi darat yang masih tradisional. Walaupun becak hampir punah dan mulai di tinggalkan oleh masyarakat, namun keberadaanya telah lama mengiringi sejarah Indonesia sebagai salah satu transportasi yang mempunyai nilai terendiri serta diminati sebagian orang.

(16)

Transportasi ini ( Becak ) sudah ada semenjak manusia lahir dimuka ini.

Keberadaan tranportasi tidak lain adalah sebagai penunjang aktifitas manusia sehari-hari, dan sarana mobilitas manusia di darat. Di Indonesia transportasi selalu mengalami perkembangan dari masa ke masa seiring dengan laju perkembangan dunia saat ini. Peradaban manusia dan pengaruh kemajuan teknologi menjadikan tranportasi berkembang kian modern. Meski keberadaan becak dari hari ke hari semakin tergilas dengan perkembangan mode transportasi darat lainnya seperti ojek, angkutan kota (pete-pete’) meramaikan kota Bantaeng, namun demikian asumsi masyarakat untuk tetap menggunakan becak masih tetap tinggi. Ini dikarenakan banyak faktor, mulai dari kenyamanan, resiko akan kecelakaan yang terbilang rendah, termasuk terjangkaunya tarif becak dan kenaikan harga barang kebutuhan pokok juga semakin mempersulit kehidupan tukang becak yang pendapatan semakin berkurang dari hari kehari. Tukang becak sebagai salah satu profesi sektor infomal pada bidang jasa transportasi mengalami permasalahan sosial ekonomi, khususnya dalam memenuhi kebutuhan hidup keluarga. Namun pendapatan mereka yang kecil dan tidak menentu dalam sehari menyebabkan mereka dapat dinamakan dalam kategori keluarga yang tidak mampu. Untuk mengatasi permasalahan ekonomi tersebut terutama masalah ekonomi yang menyangkut pemenuhan kebutuhan hidup, dibutuhkan berbagai srtategi untuk bertahan hidup.

Dari hasil penelitian sebelumnya oleh Handayani ( 2008 ) tentang Potret Kehidupan Sosial Ekonomi Tukang Becak di Makassar ( kasus di kelurahan

(17)

Ende ) bahwa sebagian besar para tukang becak merupakan migrant sirkuler ( tidak menetap ) disbanding migrant permanen ( menetap ). Tingkat pendepatan yang mereka peroleh rata-rata 15.000 – 30.000 perhari dan itupun hanya cukup digunakan untuk biaya kebutuhan sehari-hari maupun untuk diberi kepada keluarga di kampong, serta motivasi untuk pindah dan bekerja sebagai tukang becak dikota Makassar didasarkan oleh 2 hal pokok yaitu factor pendorong dari daerah asal dan factor penarik dari kota. Dan juga dikarenakan karena adanya saling tolong menolong dan panggil memanggil untuk bekerja dikota Makassar merupakan suatu sifat penting bagi para pendatang asal daerah yang bekerja sebagai tukang becak di kota Makassar menurut terciptanya migrasi berantai.

Dalam kehidupan social ekonomi masyarakat Bantaeng, sebagian masyarakat Bantaeng memilih bekerja sebagai tukang becak untuk menafkahi keluarganya, mereka memulai aktivitas mencari penumpang pada pagi hari yang terpusat disekitar sekolah. Seperti profesi yang membutuhkan penumpang mereka akan mencari tempat-tempat yang ramai dimana banyak orang yang membutuhkan jasa tukang becak tersebut. Sekarang ini masyarakat masih banyak yang berminat menggunakan jasa tukang becak karena selain harganya yang terjangkau juga gampang di jumpai. Kebanyakan tukang becak yang ada di Bantaeng didominasi oleh masyarakat dengan usia 20 smpai 60 tahun, namun tidak mengurangi semangatnya untuk bekerja ditengah-tengah persaingan dengan sesama tukan becak akan tetapi hubungan baik masih terjaga di antara mereka.

(18)

Kehidupan tukang bacak di Bantaeng cukup memprihatikan dari segi perekonomian karena hasil yang diperoleh dari mengayuh becak setiap harinya hanya mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari itupun tergantung dari banyaknya penumpang yang di dapat setiap harinya, kalau mereka banyak mendapat penumpang maka hasil yang diperoleh juga lumayan banyak demikian pula sebaliknya kalau penumpang sepi hasilnya juga sedikit, kehidupan tukang becak seharunya mendapatkan perhatian khusus dari pemerintah setempat agar mengurangi sedikit beban masyarakat yang berprofesi tukang becak. Mereka tetap bisa mempertahankan lingkungannya dengan lingkungan alam sekitar, Menjadikan alam lingkungan sebagai sahabat yang banyak memberikan peluang penghasilan bagi mereka. Masyarakat masih dengan semangat yang tinggi dan keyakinan yang kokoh, bisa memanfaatkan bekerja sebagai tukang becak yang telah Tuhan sediakan untuk hambanya di muka bumi ini dengan senantiasa berusaha tanpa berputus asa walau harus melawan panas terik matahari, menahan rasa lelah dan kantuk, mereka berangkat bekerja mencari rezeki di alam sekitarnya yang telah tersedia. Sehingga sampai saat ini kehidupan masyarakat masih bisa dibilang berkecukupan dan mampu bertahan di tengah arus global yang canggih yang telah banyak membawa perubahan, baik bagi budaya, agama, maupun ekonomi, di mana segalanya serba praktis, mewah, dan mahal.

Setiap orang akan selalu mempunyai keinginan-keinginan atau tujuan-tujuan yang hendak dicapai Masyarakat yang hidup di lingkungan pedalaman pedesaan dan perkotaan juga mempunyai keinginan untuk tetap dan selalu mampu melangsungkan kehidupannya seiring perkembangan zaman Bagi para orang tua menginginkan putra- putrinya dapat berkehidupan layak dan bisa mengenyam pendidikan apalagi hingga

(19)

ke perguruan tinggi (sarjana). Suatu saat nanti mereka mampu menghidupi dirinya sendiri dan orang tuanya bila mereka sudah tidak mampu bekerja lagi di usia tuanya kelak, setidaknya dapat mencari dan memperoleh pekerjaan yang jauh lebih nyaman dari orang tuanya Karena itulah, masyarakat Bantaeng bekerja sekuat tenaga sebagai tukang becak.

Sejalan dalam jurnal Isnaini (2011), studi ini lebih melihat terhadap profil kehidupan terhadap tukang becak, pengaruh agama terhadap perilaku kehidupan sehari-hari, sehingga mereka mampu menentukan langkah dan tindakan yang harus dilakukan saat mengatasi kesulitan hidup agar dapat bertahan hidup.

Sejalan Nurhamlin( 2009) Pekerjaan dengan hasil yang tidak menentu, mengharuskan tukang becak memiliki jam kerja yang terkadang melampaui jam kerja swasta. Jam kerja yang dimiliki tukang becak menentukan penghasilan yang mereka dapat baik per hari maupun per bulan.

Begitupun dalam jurnal Karjadi Mintaroem & Mohammad Imam Farisi (2012) dia memfokuskan terhadap struktur sosial serta stratifikasi sosial tukang becak di daerah desa bandaran pamekasan. Yang membahas tentang adanya perbedaan stratifikasi atau kelas-kelas sosial yang ada di pedesaan maupun di perkotaan. Artinya dengan status sebagai tukang becak dapat dibahasakan bahwa profesi seperti itu menempati kelas-kelas sosial yang rendah.

Kemudian dari berbagai contoh jurnal yang dijelaskan di atas, dalam penelitian ini peneliti berusaha menganalisis tentang latar belakang, interaksi sosial serta kehidupan ekonomi budaya, dan pendidikan tukang becak di daerah kabupaten bantaeng.

(20)

Berdasarkan uraian di atas maka penulis tertarik dan merasa perlu untuk mengadakan penelitian dengan judul “ Potret Kehidupan Tukang Becak di Kabupaten Bantaeng.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang yang telah di paparkan di atas maka rumusan masalah pada pokok penelitian adalah :

1. Apakah yang melatar belakangi masyarakat kota Bantaeng memilih pekerjan sebagai tukang becak ?

2. Bagaimana interaksi sosial antara sesama tukang becak dengan masyarakat lainnya ?

3. Bagaimana kehidupan sosial ekonomi, pendidikan , budaya ?

C. Tujuan Peneliatian

Berdasarkan rumusan masalah diatas maka adapun tujuan dari penelitian ini adalah :

1. Untuk menganalisis apakah yang melatar belakangi potret kehidupan tukang becak di Kabupaten Bantaeng.

2. Untuk menganalisis bagaimana interaksi sosial antara sesama tukang becak dengan masyarakat lainnya.

3. Untuk menganalisis bagaimana kehidupan sosial, budaya, pendidikan dan ekonomi tukan becak?

(21)

D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis

a. Untuk mendukung teori-teori yang sudah ada sebelumnya sehubungan dengan masalah yang dibahas dalam penelitian.

b. Sebagai bahan perbandingan bagi peneliti berikutnya yang sejenis.

c. Untuk memperkaya khasanah keilmuan terutama pengetahuan tentang bagaimana potret kehidupan tukang di Kabupaten Bantaeng.

2. Manfaat Praktis

a. Dapat digunakan sebagai bahan masukan dalam khasanah penelitian sosial dalam rangka pengembangan Ilmu Pengetahuan Sosial pada umumnya dan Sosiologi pada khususnya.

b. Dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan untuk penelitian sejenis, yaitu penelitian yang terkait dengan Potret Kehidupan Tukang Becak di Kabupaten Bantaeng.

E. Defenisi operasional

Potret merupakan gambaran kehidupan seseorang atau gambaran tentang aktivitas keseharian seseorang. Kehidupan yang di maksud disini adalah tentang kehidupan tukang becak.

Tukang becak merupakan salah satu dari kelompok masyarakat yang hidup dalam kemiskinan. Sudah menjadi pandangan umum di masyarakat bahwa di kota-kota besar hampir semua tukang becak adalah orang tidak mampu.

(22)

Mereka berharap dengan bekerja sebagai tukang becak kebutuhan keluarga mereka mampu tercukupi.

Becak merupakan salah satu alat transportasi darat yang keberadaanya sedikit membantu masyarakat dalam mencari nafkah untuk kesehariannya.

Becak termasuk ke dalam salah satu alat transformasi darat yang masih tradisional. Walaupun becak hampir punah dan mulai di tinggalkan oleh masyarakat, namun keberadaanya telah lama mengiringi sejarah Indonesia sebagai salah satu transportasi yang mempunyai nilai terendiri serta diminati sebagian orang.

(23)

BAB II

KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA KONSEP

A. Kajian Pustaka

1. Potret Kehidupan Sosial

Potret merupakan gambaran kehidupan seseorang atau gambaran tentang aktivitas keseharian seseorang. Kehidupan yang di maksud disini adalah tentang kehidupan tukang becak.

Mustofa ( 2009 : 97-98 ) Konsep sosial adalah konsep keseharian yang digunakan untuk menunjuk sesuatu dan yang dipahami secara umum dalam masyarakat. Sedangkan konsep sosiologis merupakan konsep yang digunakan sosiologi untuk menunjuk sesuatu dalam konteks akademik. Sosiologi ialah suatu ilmu mengenai das sein dan bukan das sollen. Sosiologi meneliti masyarakat serta perubahannya menurut keadaan kenyataan. Sehubungan dengan perkataan sosiolgi, perkataan sosial haruslah ditinjau sebagai semua kegiatan yang ada hubungannya dengan masyarakat luas, sesuai dengan perkataan asalnya sozius yang berarti teman. Perkataan sosial telah mendapat banyak interpretasi pula, walaupun demikian, orang berpendapat bahwa perkataan ini mencapai reciprocal behavior atau perilaku yang saling mempengaruhi dan saling tergantungnya manusia satu sama lain. Suatu pengertian yang lebih jelas lagi ialah perkataan interdependensi. Dengan demikian manusia sosial berarti manusia yang saling tergantung kehidupannya

11

(24)

satu sama lain. Interdependensi inilah yang merupakan satu-satunya jalan penyelesaian untuk mengatasi kenyataan bahwa manusia tidak memiliki apa yang oleh Freedman dan lain-lain disebut ready made adaptations to environment. Dependensi manusia tidak saja terdapat pada awal hidup manusia, akan tetapi dialami manusia seumur hidup sehingga komunikasi mempunyai peranan penting Dalam suatu masyarakat demokratik dianggap bahwa masyarakat dan individu komplementer satu sama lain, karena masyarakat tidak dapat dibayangkan tanpa individu, seperti juga individu tidak dapat dibayangkan tanpa adanya masyarakat. Betapa individu dan masyarakat komplementer satu sama lain dapat dilihat dari kenyataan, bahwa:

a. Manusia dipengaruhi oleh masyarakat demi pembentukan pribadinya;

b. Individu mempengaruhi masyarakat dan bahkan bisa menyebabkan (berdasarkan pengaruhnya) perubahan besar terhadap masyarakatnya.

Justru dari unsur yang kedua, yaitu bahwa individu dapat mengubah masyarakat sekelilingnya, terbukti bahwa manusia adalah selain dari hasil pendidikannya sebagai manusia yang berfikir, dapat mengambil kesimpulan dan pelajaran dari pengalamannya, mencetuskannya menjadi ide yang baru. Dengan perubahan inilah, ia akan mengubah masyarakat sedikit demi sedikit dan akhirnya terjadilah apa yang dikenal sebagai proses sosial yaitu proses pembentukan masyarakat.

Jadi, dapat dikatakan bahwa masyarakat selalu dalam proses sosial, selalu dalam pembentukan. Masyarakat selalu dalam perubahan, penyesuaian dan pembentukan diri (dalam dunia sekitarnya), sesuai dengan idenya.

(25)

Karena masyarakat terdiri dari individu-individu yang juga berinteraksi satu sama lain, dengan sendirinya terjadilah perubahan terhadap masyarakat pula. Karena itu, proses sosial dapat pula didefinisikan sebagai perubahan- perubahan dalam struktur masyarakat sebagai hasil dari komunikasi dan usaha pengaruh-mempengaruhi para individu dalam kelompok. Di samping itu, karena individu secara tidak sadar sambil menyesuaikan diri juga mengubah secara tidak langsung (bersama-sama dengan individu lain) dan masyarakatnya, dapat dikatakan bahwa setiap individu maupun kelompok mempunyai peranan atau fungsi dalam masyarakatnya.

Soekanto dalam Ariansyah (2015: 11) mengemukakan bahwa, sosial adalah berkenan dengan perilaku atau yang berkaitan dengan proses social, jadi social berarti mengenai keadaan masyarakat. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa kehidupan social berarti suatu fenomena atau gejala akan bentuk hubungan seseorang atau segolongan orang dalam menciptakan hidup masyarakat.

Soekanto dalam Ariansyah (2015:11) bentuk umum proses social adalah interaksi social ( yang juga dinamakan proses social ) karena interaksi social merupakan syarat utama terjadinya aktivitas-aktivitas social. Bentuk lain proses social hanya merupakan bentuk-bentuk khusus dari interaksi social.

Interaksi social merupakan hubungan antara orang perorangan, antara kelompok-kelompok manusia, maupun antara orang perorangan dengan kelompok manusia. Apabila dua orang bertemu interaksi dimulai pada saat itu.

Mereka saling menengur berjabat tangan, saling berbicara atau bahkan saling

(26)

berkelahi. Aktivitas-aktivitas semacam itu merupakan bentuk-bentuk interaksi social sebagai factor utama dalam kehidupan social. Jadi interaksi sosial adalah hubungan timbal balik individu dengan individu individu dengan kelompok kelompok dengan kelompok.

Berlangsungnya suatu proses interaksi di dasarkan pada berbagai factor, anatar lain factor imitasi, sugesti, identifikasi dan simpati. Factor-faktor tersebut dapat bergerak sendiri-sendiri secara terpisah maupun dalam keadaan tergabung. Apabila masing-masing di tinjau secara lebih mendalam, factor imitasi misalnya mempunyai peranan yang sangat penting dalam proses interaksi social. Salah satu segi positifnya adalah bahwa imitasi dapat mendorong seseorang untuk mematuhi kaidah-kaidah dan nilai-nilai yang berlaku. Namun demikian, imitasi pula mengakibatkan terjadinya hal-hal yang negatif dimana misalnya yang ditiru adalah tindakan-tindakan yang menyimpang. Selain itu imitasi juga dapat melemahkan atau bahkan mematikan pengembangan daya kreasi seseorang.

Dalam kehidupan social tidak terlepas dari interaksi social yang kemudian sangat berguna, didalam selalu mempelajari berbagai masalah masyarakat.

Umpamanya di Indonesia dapat di bahas mengenai bentuk-bentuk interaksi social yang berlangsung antara berbagai susku bangsa atau antara golongan terpelajar dengan golongan agama. Dengan mengetahui dan memahami perihal kondisi-kondisi apa yang dapat menimbulkan serta memengaruhi bentuk- bentuk interaksi social tertentu, pengetahuan kita dapat pula di sumbangkan pada sesama yang dinamakan pembinaan bangsa dan masyarakat.

(27)

Interaksi social merupakan kunci dari semua kehidupan social karena tanpa interaksi social, tak akan mungkin ada kehidupan bersama. Bertemunya orang-perorangan secara badaniah belaka tidak akan menghasilkan pergaulan hidup dalam suatu kelompok social. Pergaulan semacam itu baru akan terjadi apabila orang-orang perorangan atau kelompok-kelompok manusia bekerja sama, saling berbicara, dan seterusnya untuk mencapai suatu tujuan bersama.

Mengadakan saingan, pertikaian dan lain sebagainya. Maka dapat dikatakan bahwa interaksi social merupakan dasar proses social yang menunjukkan pada hubungan-hubungan social yang dinamis.

Dalam kehidupan sehari-hari, individu selalu melakukan hubungan social dengan individu lain atau kelompok-kelompok tertentu. Hbungan social yang terjadi antar individu maupun antar kelompok tersebut juga dikenal dengan istilah interaksi social. Interaksi antara berbagai segi kehidupan yang sering kita alami dalam kehidupan sehari-hari itu akan membentuk suatu pola hubungan yang saling mempengaruhi sehingga akan membentuk suatu system social dalam masyarakat. Keadaan inilah yang dinamakan proses social. Proses social yang terjadi dalam masyarakat tentunya tidak selalu berjalan dengan tertib dan lancer, karena masyrakat pendukungna memiliki berbagai macam karakteristik.

Demikian pula halnya dengan interaksi social atau hubungan social yang merupakan wujud dari proses-proses social yang ada. Keragaman hubungan social itu tampak nyata dala struktur social masyarakat yang majemuk, contohnya seperti Indonesia. Keragaman hubungan social dalam suatu

(28)

masyarakat bias terjadi karena masing-masing suku bangsa memiliki kebudayaan yang berbeda-beda, bahkan dalam satu suku bangsa pun memiliki perbedaan. Namun, berbedaan-perbedaan yang ada itu adalah suatu gejala social yang wajar dalam kehidupan social. Jadi interaksi sosial adalah hubungan timbal balik individu dengan individu individu dengan kelompok kelompok dengan kelompok.

Dalam hubungannya dengan kebudayaan suatu masyarakat, kebudayaan itulah yang mengarahkan dan mendorong terjadinya kerja sama. Misalnya, di amerika serikat terdapat pola pendidikan terhadap anak-anak, pemuda, dan mereka yang sudah dewasa, yang mengarah pada sikap, kebiasaan, dan cita- cita yang lebih berbentuk persaingan dari pada yang berbentuk kerja sama, walaupun didalam kehidupan nyata, unsur-unsur kerja sama juga dapat di jumpai, misalnya dalam kelas social, perhimpunan mahasiswa organisasi buruh dan seterusnya. Lain halnya dengan keadaan yang di jumpai, pada masyarakat umumnya. Dikalangan masyarakat Indonesia dikenal dengan bentuk kerja sama tradisional dengan nama gotong royong.

Jadi dalam kehidupan sosial perilaku yang berkaitan dengan proses sosial yang berarti suatu fenomena atau gejala akan bentuk hubungan seseorang dalam menciptakan hidup masyarakat dalam suatu proses interaksi sosial dan berbagai faktor yaitu imitasi, sugesti, identifikasi, dan simpati.

2. Pengertian Becak dan Tukang Becak

Becak mungkin telah menjadi suatu sisi yang cukup menarik terutama dalam awal pemunculannya dan perkembangannya di Indonesia. Hal ini karena

(29)

becak sebagai suatu wujud kehidupan yang penting sebagai media dalam mencari dan mempertahankan hidup seseorang. Keberadaannya tidak bersamaan munculnya dan lebih unik lagi karena mempunyai karakteristik dan mode masing-masing di tiap daerah di Indonesia. Becak merupakan fenomena fenomena perkotaan. Perjalanan hidup becak masa kini terkait erat dengan kelahiran dan perkembangan jalan-jalan, kehidupan jalanan, modal transportasi dan mobilitas urban yang menjadi kosakata pokok lahirnya kota-kota modern di Asia.

Pada momen berikutnya, becak telah menjadi ‘spesies’ yang di anggap membayakan bagi perkembangan pembangunan dan modernisasi kota-kota besar di Asia, terutama oleh otoritas kota dan Negara. Becak telah di imajinasikan sebagai representasi ‘ ketertinggalan’, kemiskinan, dan kekasaran yang tidak beradab’ yang mengirimi gairah pembangunan kota-kota. Becak seolah telah menjadi “ subjek global ” yang di represi untuk menghadirkan imajinasi mengenai impian proyek modernisasi dan kemajuan kota-kota modern. Ada gelombang yang sifatnya global ketika becak di batasi, dilarang diburu dan dibinasakan dari kehidupan kota-kota besar di Asia, meskipun dalam konteks local becak tidak pernah bias hilang dari ingatan dan kenyataan sehari-hari bahkan semakin hidup dan menyebar.

Tukang becak adalah sebuah realitas kehidupan yang tetap bertahan ditengah-tengah derasnya arus kehidupan dunia modern. Ketatnya persaingan kerja dan susahnya kehidupan dikota memaksa setiap individu-individu senantiasa harus memiliki serangkaian strategi adaptasi , sehingga mereka tidak

(30)

terdepak dari lingkaran kehidupan yang setiap saat selalu mengancam eksistensi kehidupan manusia.

Jadi Tukang becak adalah alat angkutan yang ramah lingkungan karena tidak menyebabkan polusi udara salah satu alat transportasi darat yang keberadaanya sedikit membantu masyarakat dalam mencari nafkah untuk kesehariannya.

3. Defenisi Sosial-Ekonomi

Kata sosial dalam pengertian umum berarti segala sesuatu mengenai masyarakat atau kemasyarakatan. Soekamto dalam Insani (2011: 14) mengemukakan bahwa, sosial adalah berkenan dengan perilaku atau yang berkaitan dengan proses sosial”. Jadi sosial berarti mengenai keadaan masyarakat. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa kehidupan sosial berarti suatu fenomena atau gejala akan bentuk hubungan seseorang atau segolongan orang dalam menciptakan hidup bermasyarakat. Sedangkan kata ekonomi dalam pengertian umum berarti mengtur rumah tangga. Rumah tangga yang dimaksud disini bukan berarti rumah tangga dalam pengertian sehari-hari, tetapi mempunyai arti yang cukup luas. Dimana pengertian rumah tangga secara luas yaitu bentuk kerja sama antar manusia yang ditujukan untuk mencapai kemakmuran, yaitu segala kemampuan manusia untuk memenuhi berbagai macam kebutuhan hidupnya dan sebaik-baiknya dengan mempergunakan alat pemuas kebutuhan itu sendiri yang secara terbatas.

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa kehidupan ekonomi lebih menitik beratkan pada hubungan antara kenyataan hidup seseorang dengan tingkat

(31)

kehidupannya yang pada umumnya ditentukan oleh jumlah dan mutu barang dan jasa yang dipergunakan oleh seseorang sebagai suatu kebutuhan.

Terwujudnya kehidupan sosial ekonomi seseorang tidak terlepas dari usaha- usaha manusia itu sendiri dengan segala daya dan upaya yang ada serta dipengaruhi oleh beberapa faktor pendorong antara lain dorongan untuk mempertahankan diri dalam hidupnya dari berbagai pengaruh akan dorongan untuk mengembangan diri dari kelompok. Semuanya terlihat dalam bentuk hasrat, kehendak, kemauan, baik secara pribadi yang sifatnya kelompok sosial. Kehidupan sosial ekonomi dalam pengertian umum menyangkut beberapa aspek yaitu pendidikan, kepercayaan, status perkawinan, keadaan perumahan, kesehatan, status pekerjaan dan penghasilan. Sedangkan Melly G dalam Insani (2011:17) mengemukakan bahwa kehidupan sosial ekonomi dalam ilmu kemasyarakatan sudah lazim mencakup tiga unsur, yaitu pekerjaan, pendidikan, dan kesehatan. Aktivitas ekonomi secara sosial didefinisikan sebagai aktivitas ekonomi yang dipengaruhi oleh interaksi sosial dan sebaliknya mereka mempengaruhinya. Prespektif ini digunakan oleh Ibnu Khaldun dalam menganalisis nilai pekerja manusia, dalam arti mata pencaharian dan stratifikasi ekonomi sosial. Pendapat dari Soeratmo (dalam Insani, 2011:14) mengemukakan bahwa aspek kehidupan sosial ekonomi meliputi antara lain:

1. Aspek sosial demografi meliputi antara lain: pembaharuan sosial, tingkah laku, motivasi masyarakat, serta kependudukan dan migrasi.

2. Aspek ekonomi meliputi antara lain: kesempatan kerja, tingkat pendapatan dan

(32)

pemilikan barang.

3. Aspek pelayanan sosial meliputi antara lain: sarana pendidikan, sarana kesehatan, sarana olahraga dan sarana transportasi.

Memahami tindakan ekonomi sebagai bentuk dari tindakan sosial dapat dirujuk pada konsep tindakan sosial yang di ajukan oleh Weber (dalam Damsar, 2009:31), tindakan ekonomi dapat dipandang sebagai suatu tindakan sosial sejauh tindakan tersebut memperhatikan tingkah laku orang lain. Memberi perhatian ini dilakukan secara sosial dalam berbagai cara misalnya memperhatikan orang lain, berbicara dengan mereka, dan memberi senyuman kepada mereka. Lebih jauh Weber (dalam Damsar, 2009:33) menjelaskan bahwa aktor selalu mengarahkan tindakannya kepada perilaku orang lain melalui makna-makna yang terstruktur.

Ini berarti bahwa aktor menginterpretasikan (verstehen) kebiasaan-kebiasaan, adat dan norma-norma yang dimiliki dalam sistem hubungan sosial yang sedang berlangsung.

Jadi sosial berarti mengenai keadaan masyarakat bahwa kehidupan sosial berarti suatu fenomena atau gejala akan bentuk hubungan seseorang atau segolongan orang dalam menciptakan hidup bermasyarakat

4. Faktor-faktor Penyebab Kemiskinan

Kesejahteraan social dalam artian yang sangat luas mencangkup berbagai tindakan yang dilakukan manusia untuk mencapai tingkat yang lebih baik, tentang faktor-faktor penyebab terjadinya kemiskinan dapat dikategorikan dalam beberapa hal berikut ini:

(33)

a. Merosotnya standar perkembangan pendapatan per-kapita secara global.Yang perlu digaris bawahi di sini adalah bahwa standar pendapatan per-kapita bergerak seimbang dengan produktivitas yang ada Nuraedah, tukang becak Yang Termarginalkan pada suatu sistem. Jikalau produktivitas berangsur meningkat maka pendapatan per-kapita pun akan naik. Begitu pula sebaliknya, seandainya produktivitas menyusut maka pendapatan per-kapita akan turun beriringan.

b.Menurunnya etos kerja dan produktivitas masyarakat. Faktor ini sangat penting dalam pengaruhnya terhadap kemiskinan. Oleh karena itu, untuk menaikkan etos kerja dan produktivitas masyarakat harus didukung dengan SDA dan SDM yang bagus, serta jaminan kesehatan dan pendidikan yang bisa dipertanggung jawabkan dengan maksimal.

c. Biaya kehidupan yang tinggi.Melonjak tingginya biaya kehidupan disuatu daerah adalah sebagai akibat dari tidak adanya keseimbangan pendapatan atau gaji masyarakat.Tentunya kemiskinan adalah konsekuensi logis dari realita di atas.Hal ini bisa disebabkan oleh karena kurangnya tenaga kerja ahli dan banyaknya pengangguran.

d. Pembagian subsidi in come pemerintah yang kurang merata. Hal ini selain menyulitkan akan terpenuhinya kebutuhan pokok dan jaminan keamanan untuk para warga miskin, juga secara tidak langsung mematikan sumber pemasukan warga. Bahkan di sisi lain rakyat miskin masih terbebani oleh pajak negara.

Adapun indikator-indikator kemiskinan sebagaimana di kutip dari Badan Pusat.

Jikalau produktivitas berangsur meningkat maka pendapatan per-kapita pun

(34)

akan naik. Begitu pula sebaliknya, seandainya produktivitas menyusut maka pendapatan per-kapita akan turun beriringan Statistika, antara lain sebagi berikut :

1. Ketidakmampuan memenuhi kebutuhan konsumsi dasar (sandang, pangan dan papan).

2. Tidak adanya akses terhadap kebutuhan hidup dasar lainnya (kesehatan,pendidikan, air bersih dan transportasi).

3. Tidak adanya jaminan masa depan (karena tiadanya investasi untuk pendidikan keluarga).

4. Kerentanan terhadap goncangan yang bersifat individual maupun massa.

5. Rendahnya kualitas Sumber Daya Manusia dan terbatasnya Sumber Daya Alam.

6. Kurangnya apresiasi dalam kegiatan social masyarakat.

7. Tidak adanya akses dalam lapangan kerja dan mata pencaharian yang berkesinambungan.

8. Ketidakmampuan untuk berusaha karena cacat fisik maupun mental.

9. Ketidakmampuan dan ketidaktergantungan sosial (anak-anak terlantar, wanita korban kekerasan rumah tangga, janda miskin, kelompok marginal dan terpencil.

a. Ukuran kemiskinan

Sementara John Fiedman dalam Bagong Suyanto (2009), mengartikan kemiskinan sebagai ketidaksamaan kesempatan untuk mengakumulasikan basis kekuatan sosial. Basis kekuatan sosial itu menurut Fiedman meliputi:

(35)

1) Modal yang produktif atas asset, misalnya tanah, perumahan, peralatan, dan kesehatan.

2) Sumber keuangan, seperti income.

3) Organisasi sosial dan politik yang dapat digunakan untuk mencapai kepentingan bersama, seperti partai politik atau koperasi.

4) Jaringan sosial untuk memperoleh pekerjaan, barang-barang, pengetahuan dan keterampilan memadai.

5) Informasi-informasi yang berguna untuk kehidupan.

Masalah kemiskinan memang sudah banyak terjadi di masyarakat. Namun dalam menentukan batasan antara penduduk miskin atau tidak miskin sedikit sulit dilakukan. Badan Pusat Statistik (BPS) dalam memperkirakan tingkat dan jumlah penduduk miskin telah menggunakan pendekatan ekonomi. BPS mengartikan kemiskinan sebagai berikut: Ketidakmampuan untuk memenuhi standar tertentu dari kebutuhan dasar, baik makanan maupun bukan makanan. Standar ini disebut garis kemiskinan, yaitu nilai pengeluaran konsumsi kebutuhan dasar makanan setara 2.100 kalori energi per kapita per hari, ditambah nilai pengeluaran untuk kebutuhan dasar bukan makanan yang paling pokok. Dengan kata lain, penduduk yang tingkat pendapatannya masih berada di bawah garis kemiskinan inilah yang disebut penduduk miskin.

Adapun Profesor Sajogyo dalam Ninik Sudarwati (2009), mengukur kemiskinan melalui kebutuhan beras ekuivalen, baik di pedesaan maupun di perkotaan. Ia mendefinisikan batas garis kemiskinan sebagai tingkat konsumsi per kapita setahun yang sama dengan beras. Pada awalnya Sajogyo membuat garis

(36)

kemiskinan adalah setara dengan 240 kg per orang per tahun untuk perkotaan.

Namun, selanjutnya ketentuan garis kemiskinan berubah menjadi lebih rinci, yaitu dibawah 240, 240 – 320, 320 – 480, dan lebih dari 480 kg ekuivalen beras.

Dengan adanya klasifikasi ini maka dapat dikelompokkan penduduk menjadi sangat miskin, miskin, berkecukupan, dan kecukupan. Standar garis kemiskinan yang digunakan setiap negara berbeda-beda. Di Inggris, garis kemiskinan ditentukan pada 60 persen dari pendapatan menengah.34 Bank Dunia (World Bank) menentukan garis kemiskinan dengan berpatokan pada penghasilan 1,00 dolar AS per hari. Sajogyo mendasarkan pada harga beras, sedangkan Badan Pusat Statistik (BPS) menggunakan batas miskin dari besarnya rupiah yang dibelanjakan per kapita untuk memenuhi kebutuhan minimum makanan dan bukan makanan, sebesar 2.100 kalori per hari. Jika di Indonesia memakai garis kemiskinan seperti di Inggris atau Bank Dunia, bisa dibayangkan akan semakin banyak lagi penduduk yang dikategorikan sebagai penduduk miskin. Adapun kriteria penduduk miskin menurut Badan Pusat Statistik (BPS) sebanyak 8 variabel, diantaranya:

1) Luas lantai perkapita < = 8 m2 2) Jenis lantai rumah berasal dari tanah

3) Air minum/ketersediaan air bersih berasal dari air hujan/sumur tidak terlindung.

4) Jenis jamban/WC: tidak ada.

5) Kepemilikan asset rumah: tidak memiliki asset.

6) Pendapatan (total pendapatan per bulan) : < = 350.000

(37)

7) Pengeluaran (porsentase pengeluaran untuk makanan) yaitu lebih dari 80 persen.

8) Konsumsi lauk pauk (daging, ikan, telur, ayam): tidak ada/ada, tapi tidak bervariasi.

Jadi faktor penyabab kemiskinan adalah Merosotnya standar perkembangan pendapatan per-kapita secara global, Menurunnya etos kerja dan produktivitas masyarakat, dll sehingga ada jga penurunan perkapita beriringan statistika yaitu Ketidakmampuan memenuhi kebutuhan konsumsi, Tidak adanya akses terhadap kebutuhan hidup dll.

5. Pengertian Masyarakat

Pengertian masyarakat merupakan sekumpulan individu-individu yang hidup bersam-sama, Istilah masyarakat bermula dari Bahasa arab dengan kata syaraka. syakara yang memiliki arti Ikut serta atau dalam kata lain berpartisipasi.

sedangkan di dalam bahasa inggris masyarakat ini sebut dengan “society” yang memiliki arti interaksi sosial, perubahan sosial, dan rasa kebersamaan. Mari sekarang kita melihat lebih luas mengenai pengertian masyarakat ini, dengan mengkaji beberapa pendapat para ahli mengenai pengertian masyarakat. Berikut ini pendapat dari Para ahli.

a. Pengertian masyarakat adalah sejumlah besar orang yang tinggal dalam wilayah yang sama, relatif independen dan orang orang di luar wilayah itu, dan memiliki budaya yang relatif sama. (Richard T. Schaefer dan Robert P. Lamm, dalam kasma 2016).

(38)

b. Definisi Masyarakat adalah orang orang yang berinteraksi dalam sebuah wilayah tertentu dan memiliki budaya bersama. (John J. Macionis, dalamKasma 2016).

c. Pengertian masyarakat adalah sekelompok individu yang memiliki kepentingan bersama dan memiliki budaya serta lembaga yang khas. Masyarakat juga bisa dipahami sebagai sekelompok orang yang terorganisasi karena memiliki tujuan bersama. (Wikipedia)

Jadi masyarakat adalah sekumpulan orang yang terdiri dari berbagai kalangan, baik golongan ataupun golongan tak mampu yang tinggal dalam satu wilayah dan telah memiliki hokum adat, norma-norma serta bebagai peraturan yang siap di taati.

6.Interaksi Sosial

Pada hakekatnya interasi sosial merupakan syarat utama terjadinya aktivitas-aktivitas sosial dimasyarakat. Interaksi sosial yang baik merupakan hubungan-hubungan sosial yang dinamis yang menyangkut hubungan antara orang-orang perorangan, antara kelompok-kelompok manusia, maupun antara orang perorangan dengan kelompok manusia. Interaksi sosial antara kelompok kelompok manusia terjadi pula di dalam masyarakat. Sedangkan Siagian dalam Kasma (2016:16) menyatakan Interaksi positif hanya mungkin terjadi apabila terdapat suasana saling mempercayai, menghargai, dan saling mendukung.

Menurut Maryati dalam Kasma (2016:23), macam-macam interaksi sosial di bagi tiga macam, yaitu:

(39)

a.Interaksi antara individu dan individu. Dalam hubungan ini bisa terjadi interaksi positif ataupun negatif. Interaksi positif, jika jika hubungan yang terjadi saling menguntungkan. Interaksi negatif, jika hubungan timbal balik merugikan satu pihak atau keduanya (bermusuhan).

b. Interaksi antara individu dan kelompok Interaksi ini pun dapat berlangsung secara positif maupun negatif. Bentuk interaksi sosial individu dan kelompokbermacam - macam sesuai situasi dan kondisinya.

c. Interaksi sosial antara kelompok dan kelompok Interaksi sosial kelompok dan kelompok terjadi sebagai satu kesatuan bukan kehendak pribadi.Misalnya,kerja sama antara dua perusahaan untuk membicarakan suatu proyek.

Dalam kasma (2016:,menyatakan ada empat cir - ciri interaksi sosial, antara lain:

1). Jumlah pelakunya lebih dari satu orang

2). Terjadinya komunikasi di antara pelaku melalui kontak sosial 3).Mempunyai maksud atau tujuan yang jelas

4). Dilaksanakan melalui suatu pola sistem sosial tertentu

Selain menjelaskan tentang empat ciri interaksi sosial Tim Sosiologi dalam http://interaksi sosial membagi interaksi sosial akan berlangsung jika memenuhi dua syarat di bawah ini, yaitu :

a. Kontak sosial Adalah hubungan antara satu pihak dengan pihak lain yang merupakan awal terjadinya interaksi sosial, dan masing - masing

(40)

pihak saling bereaksi antara satu dengan yang lain meski tidak harus bersentuhan secara fisik.

b.Komunikasi Artinya berhubungan atau bergaul dengan orang lain.

c. Proses Asosiatif Proses Asosiatif adalah sebuah proses yang terjadi saling pengertian dan kerja sama timbal-balik antara orang perorang atau kelompok satu dengan kelompok lainnya, dimana proses ini menghasilkan pencapaian tujuan-tujuan bersama.

Proses Asosiatif dapat dibagi menjadi 3 (tiga) bagian yaitu:

1). Kerjasama (corporation) Kerjasama adalah usaha bersama antara individu atau kelompok untuk mencapai satu atau beberapa tujuan bersama.

2). Accomodation adalah proses sosial dengan dua makna, pertama adalah proses sosial yang menunjukan pada suata keadaan yang seimbang, kedua adalah menuju pada suatu proses yang sedang berlangsung, dimana ccommodation menampakan suatu proses untuk meredakan suatu pertentangan yang terjadi dimasyarakat.

3).Proses Disosiatif Proses Disosiatif merupakan proses perlawanan yang dilakukan oleh individu-individu dan kelompok dalam proses sosial diantara mereka pada suatu masyarakat. Proses Disosiatif dapat dibagi menjadi 3 (tiga) bagian yaitu :

1). Persaingan (Compettion) Dimana individu atau kelompok- kelompok berjuang dan bersainguntuk mencari keuntungan pada bidang-bidang kehidupan namun tanpa mempergunakan ancaman atau kekerasan.

(41)

2). Kontroversi (Controvertion) Proses sosial yang berada diantara persaingan dan pertentangan atau pertikaian, pertentangan atau pertikaian telah memasuki unsurunsur kekerasan dalam proses sosialnya.

3). Konflik (Conflict) Dimana individu atau kelompok menyadari memiliki perbedaanperbedaan misalnya dalam ciri badaniah, emosi, unsur-unsur kebudayaan pola-pola prilaku, prinsip, politik, ideology maupun kepentingan dengan pihak lain.

Diantara para tukang becak, dalam menjalankan tugasnya juga terdapat persaingan, seperti untuk mendapatkan hasil kesehariannya. Faktor kecekatan tangan, keterampilan, dan daya tahan fisik yang akan menentukan seberapa banyak mereka mendapatkan uang dalam sehari yang masih memiliki nilai ekonomi. Siapa yang kuat fisiknya, pagi, siang, sore bahkan malam hari, dapat melakukan aktivitasnya sebagai tukang becak, maka akan lebih banyak juga mendapatkan uang.

Persaingan antara tukang becak dan ojek, biasanya berkaitan dengan harga.

Biasanya dihitung berdasarkan jauh dekatnya Jika dalam kondisi ekonomi yang sedang sulit seperti sekarang ini, biasanya penumpang juga sedikit.

Dalam kepemilikan media komunikasi, dalam hal ini penggunaan telepon genggam, hanya beberapa tukang becak saja yang memiliki telepon genggam.Biasanya mereka adalah tukang becak masih muda dan menggunakan telepon genggam untuk berkomunikasi dengan keluarga ataupun teman .

Beberapa ahli mengemukakan mengenai pengertian interaksi Sosial diantaranya :

(42)

1.Macionis dalam Kasma (2016)

Interaksi sosial adalah proses bertindak (aksi) dan membalas tindakan (reaksi) yang dilakukan seseorang dalam hubungannya dengan orang lain.

2.Broom dan Selznic dalam Kasma (2016)

Interaksi sosial adalah proses bertindak yang dilandasi oleh kesadaran adanya orang lain dan proses menyesuaikan respon (tindakan balasan) sesuai dengan tindakan orang lain.

3.Kimball Young dan Raymond W. Mack dalam Kasma (2016)

Interaksi sosial adalah hubungan sosial yang dinamis dan menyangkut hubungan antarindividu, antara individu dengan kelompok maupun antara kelompok dengan kelompok lainnya.

Jadi interaksi sosial adalah hubungan timbal balik individu dengan individu, individu dengan kelompok, kelomok dengan kelompok. Dan berdasarkan dari interaksi ada dua yaitu asosiatif dan disosiatif, asosiatif adalah mengarah kepada kerja sama dan disosiatif mengarah pada konflik.

5. Teori Kemiskinan

menjelaskan tentang kebudayaan kemiskinan sebagai berikut:

Kebudayaan kemiskinan dapat terwujud dalam berbagai konteks sejarah. Namun lebi cenderung untuk tumbuh dan berkembang di dalam masyarakat yang mempunyai seperangkat kondisi-kondisi seperti berikut ini: (1) Sistem ekonomi uang, buruh upahan dan sistem produksi untuk keberuntungan, (2) Tetap tingginya tingkat pengangguran dan setengah pengangguran bagi tenaga tak terampil, (3) Rendahnya upah buruh, (4) Tak berhasilnyagolongan berpenghasilan

(43)

rendah meningkatkan organisasi sosial, ekonomi dan politiknya secara sukarela maupun atas prakarsa pemerintah, (5) Sistem keluarga bilateral lebih menonjol daripada sistem unilateral; dan akhirnya (6) Kuatnya seperangkat nilai-nilai pada kelas yang berkuasa yang menekankan penumpukan harta kekayaan dan adanya kemungkinan mobilitas vertikal, dan sikap hemat, serta adanya anggapan bahwa rendahnya status ekonomi sebagai hasil ketidaksanggupan pribadi atau memang pada dasarnya sudah rendah kedudukannya.Dari pandangan ini terlihat bahwa kemiskinan yang terjadi di masyarakat bukan semata-mata karena hal ekonomi saja, melainkan adanya kekurangan di bidang kebudayaan dan di kejiwaan seseorang sehingga membentuk budaya yang diturunkan dari generasi ke generasi lainnya melalui proses sosialisasi. Cara hidup seperti di atas inilah yang disebut Oscar Lewis dengan kebudayaan kemiskinan. Adapun kebudayaan kemiskinan memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

a.Kurang efektifnyapartisipasi dan integrasikaum miskin ke dalam lembaga- lembaga utama masarakat, yang berakibat munculnya rasa ketakutan, kecurigan tinggi, apatis dan perpecahan.

b.Pada tingkat komunitas lokal secara fisik ditemui rumah-rumah dan pemukiman kumuh, penuh sesak, bergerombol, dan rendahnya tingkat organisasi di luar keluarga inti dan keluarga luas.

c.Pada tingkat keluarga ditandai oleh masa kanak-kanak yang singkat dan

kurang pengasuhan oleh orang tua, cepat dewasa, atau perkawinan usia dini, tingginya angka perpisahan keluarga, dan kecenderungan terbentuknya keluarga matrilineal dandominannya peran sanak keluarga ibu pada anak-anaknya.

(44)

d.Pada tingkat individu dengan ciri yang menonjol adalah kuatnya

perasaan tidak berharga, tidak berdaya, ketergantungan yang tinggi dan rasa rendah diri.

e.Tingginya (rasa) tingkat kesengsaraan, karena beratnya penderitaan ibu, lemahnya struktur pribadi, kurangnya kendali diri dan dorongan nafsu, kuatnya orientasi masa kini, dan kekurang sabaran dalam hal menunda keinginan dan rencana masa depan, perasaan pasrah/tidak berguna, tingginya anggapan terhadap keunggulan lelaki, dan berbagai jenis penyakit kejiwaan lainnya

f.Kebudayaan kemiskinan juga membentuk orientasi yang sempit dari

kelompoknya, mereka hanya mengetahui kesulitan-kesulitan,kondisi setempat, lingkungan tetangga dan cara hidup mereka sendiri saja, tidak adanya kesadaran kelas walau mereka sangat sensitif terhadap perbedaan-perbedaan status.

Ciri-ciri budaya kemiskinan Oscar Lewis ini kiranya sangat relevan bila peneliti lihat dengan keadaan di Dinoyo Tambangan. Warga yang sebagian besar adalah kaum urbandari desaini tinggal dan menetap di Dinoyo Tambangan dalam kurun waktu yang lama. Mereka membentuk komunitas penduduk miskin.

Mereka juga mewariskan kemiskinan kepada generasi anak-anak mereka hingga akhirnya muncullah kebudayaan kemiskinan.

Masyarakat Bantaeng dalam upaya mempertahankan kelangsungan hidupnya, mereka bekerja untuk mencukupi kebutuhan hidupnya sehari-hari, bekerja sebagai tukang becak , serta pekerjaan-pekerjaan lain yang mereka mampu melakukannya, seperti profesi tukang becak perekonomian mereka bisa mempertahankan kehidupannya dengan lingkungan alam sekitar. Menjadikan

(45)

alam lingkungan sebagai sahabat yang banyak memberikan peluang penghasilan bagi mereka. Begitu pula dengan potret tukang becak adalah untuk memenuhi kebutuhan hidup, sedangkan manfaat yang diperoleh dari tukang becak adalah mendapatkan hasil berupa uang. Sehingga profesi sebagai tukang becak tersebut sudah mejalankan sesuatu yang berfungsi dan bermanfaat selain untuk mereka sendiri juga untuk orang lain.

B. Kerangka Pikir

Tukang becak adalah sebuah realitas kehidupan yang tetap bertahan ditengah-tengah derasnya arus kehidupan dunia modern. Ketatnya persaingan kerja dan susahnya kehidupan dikota memaksa setiap individu-individu senantiasa harus memiliki serangkaian strategi adaptasi , sehingga mereka tidak terdepak dari lingkaran kehidupan yang setiap saat selalu mengancam eksistensi kehidupan manusia.

Dalam kehidupan social ekonomi masyarakat Bantaeng, sebagian masyarakat Bantaeng memilih bekerja sebagai tukang becak untuk menafkahi keluarganya, mereka memulai aktivitas mencari penumpang pada pagi hari yang terpusat disekitar sekolah. Seperti profesi yang membutuhkan penumpang mereka akan mencari tempat-tempat yang ramai dimana banyak orang yang membutuhkan jasa tukang becak tersebut. Sekarang ini masyarakat masih banyak yang berminat menggunakan jasa tukang becak karena selain harganya yang terjangkau juga gampang di jumpai. Kebanyakan tukang becak yang ada di Bantaeng didominasi oleh masyarakat dengan usia rata-rata di atas 50 tahun, namun tidak mengurangi semangatnya untuk bekerja ditengah-tengah persaingan

(46)

dengan sesama tukang becak akan tetapi hubungan baik masih terjaga di antara mereka.

Kehidupan tukang bacak di Bantaeng cukup memprihatikan dari segi perekonomian karena hasil yang diperoleh dari mengayuh becak setiap harinya hanya mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari itupun tergantung dari banyaknya penumpang yang di dapat setiap harinya, kalau mereka banyak mendapat penumpang maka hasil yang diperoleh juga lumayan banyak demikian pula sebaliknya kalau penumpang sepi hasilnya juga sedikit, kehidupan tukang becak seharunya mendapatkan perhatian khusus dari pemerintah setempat agar mengurangi sedikit beban masyarakat yang berprofesi tukang becak.

Tahap selanjutnya berdasarkan dari interaksi ada dua yaitu asosiatif dan disosiatif, asosiatif adalah mengarah kepada kerja sama dan disosiatif mengarah pada konflik. Dari segi kehidupan tukang becak ada beberapa hal yang perlu diketahui yaitu dari segi budaya, ekonomi, pendidikan. Inilah kemudian yang harus menjadi analisis oleh peneliti terkhusus pada pekerja tukang becak masyarakat Bantaeng Becak merupakan salah satu alat transportasi darat yang keberadaanya sedikit membantu masyarakat dalam mencari nafkah untuk kesehariannya

(47)

Gambar 1: Kerangka Konsep

Latar belakang tukang becak

Ekonomi Hobi Pendidikan

Interksi Sosial

Disosiatif Asosiatif

Sosial ekonomi

Kehidupan sosial

Sosial budaya Sosial pendidikan

(48)

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Sugiyono (2013 : 14), Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian mengenai potret kehidupan tukang becak di Kabupaten Bantaeng ini adalah penelitian kualitatif. Jenis penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif yakni penelitian yang digunakan untuk meneliti pada kondisi obyek yang alamiah dimana peneliti adalah sebagai instrument kunci. Disebut sebagai metode kualitatif, karena data yang terkumpul dan analisisnya lebih bersifat kualitatif. Metode penelitian kualitatif ini juga sering disebut metode penelitian naturalistik, karena penelitiannnya dilakukan pada kondisi yang alamiah (natural setting).

Sujarweni (2014: 20) menyatakan bahwa tujuan utam penelitian kualitatif adalah untuk memahami fenomena atau gejalah sosial dengan cara memberikan pemaparan berupa penggambaran yang jelas tentang fenomena atau gejalah sosial tersebut dalam bentuk rangkaiaan katayang pada akhir nya menghasilkan sebuah teori.

Metode penelitan kualitatif dilakukan secara intensif, peneliti ikut berpartisipasi, mencatat apa yang terjadi, melakukan analisis reflektif terhadap berbagai kejadian yang ditemukan di lapangan dan membuat laporan penelitian.

36

(49)

Sugiyono (2013: 300), Teknik sampling yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah Purposive Sampling. Purposive Sampling yaitu teknik pengambilan sampel sumber data dengan pertimbangan tertentu dengan maksud menemukan apa yang sesuai dengan tujuan penelitian. Dalam penelitian ini, peneliti mengambil sampel dengan memilih orang-orang yang dianggap paling tahu tentang apa yang diharapkan sehingga akan memudahkan peneliti menjelajahi obyek atau situasi sosial yang diteliti.

B. Lokasi Penelitian

Lokasi yang menjadi objek penelitian ini adalah di Kabupaten Bantaeng.

C. Informan Penelitian

Sumber informasi untuk mendapatkan data yang di perlukan dalam penelitian ini adalah peneliti menentukan sampel dengan cara :

Purposive Sampling atau judgemental sampling,yaitu : penarikan informan secara

purposive merupakan cara penarikan informan yang dilakukan memilih subjek berdasarkan kriteria spesifik yang di tetapkan penelitian.

Berikut kriteria informan dan data informan penelitian : 1. Data informan :

Adapun beberapa data informan berupa nama samaran/inisial dalam penelitian ini berjumlah 15 orang, yang terdiri dari 9 orang perempuan dan 6 orang laki-laki, sebagai berikut :

(50)

Tabel 3.2 : Daftar nama Informan

No. NAMA P/L UMUR PEKERJAAN

1. Rahim L 60 tahun SD

2. Arfah L 50 tahun SMP

3. Dg. Taming L 55 tahun SMP

4. Dg. Bella L 50 tahun SD

5. Dg. Podding L 55 tahun SMA

6. Dg. Situju L 40 tahun Tidak memiliki sekolah

7. Kamaruddin L 40 tahun SD

8. Dg. Limpo L 50 tahun SMP

9. Dg. Taba L 60 tahun Tidak memiliki sekolah

10. Dg. Sitaba L 50tahun SD

D. Fokus Penelitian

Fokus merupakan domain tunggal atau beberapa domain yang terkait dari situasi sosial. Dengan demikian penentuan fokus penelitian dalam proposal lebih didasarkan pada tingkat kebaruan informasi yang akan diperoleh dari situai sosial (lapangan).adapun menurut Spradley dalam Prastowo (2014: 137) mengemukakan bahwa ada empat alternatif untuk menetapkan fokus penelitian, yaitu sebagai berikut :

1. Menetapkan fokus pada permasalahan yang disarankan oleh informan.

(51)

2. Menetapkan fokus berdasarkan domain-domain tertentu organizing domain.

3. Menetapkan fokus yang memiliki nilai temuan untuk mengembangkan iptek.

4. Menetapkan fokus berdasarkan permasalahan yang terkait dengan teori- teori yang ada.

Berdasarkan pengertian tersebut, maka yang menjadi fokus atau titik perhatian dalam penelitian ini adalah Potret Kehidupan Tukang Becak di Kabupaten Bantaeng.

E.Instrumen Penelitian

Adapun instrument penelitian yang dimaksud adalah alat yang dipakai oleh peneliti dalam mengumpulkan data. Dalam hal ini instrumen yang di gunakan oleh peneliti selama melakukan penelitian, di bagi menjadi 2 yaitu :

1. Instrumen utama : yaitu peneliti sendiri yang melakukan penelitian.

2. Instrumen pendukung : yaitu alat yang di pakai oleh peneliti antara lain

alat tulis untuk menulis hasil wawancara langsung, dan kamera dsb.

F. Jenis Data Dan Sumber Data Penelitian

Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis data primer dan sekunder.

(52)

1. Data Primer : yaitu peneliti mendapatkan data primer di dapatkan dari hasil wawancara dan observasi atau pengamatan yang ada di lapangan, dalam hal potret kehidupan kehidupan tukang becak.

2. Data sekunder, yakni peneliti membandingkan data yang di dapatkan

dari lapangan baik itu data hasil wawancara maupun observasi yang

selanjutnya di bandingkan dengan referensi dari buku yang telah ditelaah

sebagai bahan pertimbangan suatu penelitian.

G. Teknik Pengumpulan Data

Adapun beberapa teknik pengumpulan data yang digunakan peneliti dalam penelitian kali ini, yakni sebagai berikut :

1. Pengamatan ( observasi )

Peneliti dalam hal ini melakukan pengamatan langsung terhadap keseharian dari masyarakat di Kabupaten Bantaeng agar memperoleh informasi dan keterangan yang jelas yang kemudian peneliti menulis dan menginterpretasikan berdasarkan dengan teori yang berkenaan dengan transformasi tradisi masyarakat maya terhadap masyarakat nyata melalui internet di daerah tersebut, dengan menggunakan beberapa alat.

2. Wawancara

Dalam teknik wawancara peneliti melakukan atau mengajukan pertanyaan dengan bertemu langsung secara lisan dengan para informan dan mendapakan data atau informasi dengan memberikan sebanyak 23

Referensi

Dokumen terkait

Departemen Keuangan sebagai pihak yang merepresentasikan pemerintah menegaskan bahwa dalam setiap penerbitan sukuk atau surat berharga syariah negara, tidak ada aset negara yang

[r]

melakukan pemilihan pemasok. Fungsi pembelian membuat order pembelian kepada pemasok yang dipilih. Fungsi penerimaan memeriksa dan menrima barang yang dikirim oleh

kerja yang terjadi di semua perusahaan akan tercipta suatu kelompok kerja yang harmonis. antara para pekerja

Saya puas dengan upah lembur yang saya terima karena sesuai dengan waktu kerja saya. Meskipun saya

Harga saham yang terlalu tinggi (overprice) akan menyebabkan saham tersebut menjadi kurang aktif diperdagangkan, maka dengan dilakukannya pemecahan saham akan menjadikan harga

Hasil dari model dinamik yang diusulkan, penurunan biaya transportasi dicapai dengan pemilihan dan penentuan jumlah dari setiap alternatif moda transportasi yang