Isu-Isu Krusial
RUU Energi Baru dan Terbarukan
Disampaikan dalam Diskusi Publik Virtual yang diselenggarakan oleh Pusat Studi Hukum Energi dan Pertambangan ( PUSHEP ) , 23 April 2021.
Akmaluddin Rachim
Peneliti Pusat Studi Hukum Energi dan Pertambangan (PUSHEP)
LATAR BELAKANG
Indonesia memiliki potensi sumber energi fosil dan nonfosil yang melimpah namun belum tertata dengan baik. Ketergantungan terhadap energi fosil secara terus-menerus akan menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan dalam bentuk pencemaran lingkungan, perubahan iklim, dan pemanasan global.
Hasil konferensi negara pihak ke-21 (COP 21) Konvensi PBB untuk Perubahan Iklim pada tahun 2015 di Paris, Perancis, menunjukkan bahwa Pemerintah Indonesia telah berkomitmen menurunkan emisi GRK sebesar 29% pada tahun 2030. Hasil COP 21 yang dikenal dengan Paris Agreement dan kemudian diratifikasi dengan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2016 tentang Pengesahan Paris Agreement to The United Nations Framework Convention on Climate Change (Persetujuan Paris atas Konvensi Kerangka Kerja Perserikatan Bangsa-Bangsa Mengenai Perubahan Iklim), menegaskan pentingnya pencapaian target ambang batas peningkatan suhu bumi di bawah 2 derajat celsius dan berupaya menekan batas kenaikan suhu hingga 1,5 derajat celsius di atas suhu bumi pada m a s a praindustri.
01
02
Pemerintah telah menetapkan visi pengoptimalan penggunaan EBT.
Melalui Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 79 Tahun 2014 tentang Kebijakan Energi Nasional (KEN) misalnya, pemerintah telah menetapkan peran EBT paling sedikit mencapai 23% dalam bauran energi nasional pada tahun 2025.
Arah kebijakan ini juga ditujukan untuk mencapai kedaulatan,
ketahanan, dan kemandirian energi nasional dan yang tidak kalah
strategisnya adalah mendorong terpenuhinya akses seluruh
masyarakat terhadap sumber energi khususnya mereka yang
berada di pulau-pulau terluar. Dalam kerangka mencapai upaya
terobosan inilah, penyiapan perangkat kerangka hukum yang
komprehensif dalam pengembangan EBT diharapkan dapat
menjamin pengembangannya.
Sumber: Kementerian ESDM, 2020
Gambaran potensi di atas menjadi salah satu alasan utama membentuk politik hukum untuk mendukung pengembangan, pengelolaan dan pemanfaatan EBT. Besarnya potensi tersebut bila dikembangkan di kemudian hari maka dapat menjadi sumber energi primer menggantikan energi fosil
PELUANG PENGEMBANGAN ENERGI TERBARUKAN 03
POTENSI ENERGI TERBARUKAN 04
KONSTRUKSI KONSTITUSI DAN LEGISLASI YANG
MENGATUR TERKAIT EBT 05
LANDASAN FILOSOFIS,
SOSIOLOGIS, DAN YURIDIS PEMBENTUKAN RUU EBT
06
Secara filosofis, pembentukan Undang-Undang tentang Energi Baru dan Terbarukan merupakan jawaban terhadap tujuan negara mewujudkan kesejahteraan bagi rakyat Indonesia.Upaya negara untuk mewujudkan kesejahteran bagi rakyat diamanatkan dalam UUD 1945 Pasal 33 ayat (2) dan ayat (3).
Pasal 33 ayat (2) dan ayat (3) UUD NRI Tahun 1945 menegaskan bahwa cabang-cabang produksi yang penting bagi Negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak
dikuasai oleh Negara. Selanjutnya, Pa sa l tersebut juga menegaskan bahwa bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan
dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.
Berdasarkan hal ini maka EBT sebagai salah satu sumber daya alam strategis
merupakan komoditas vital yang menguasai hajat hidup orang banyak, harus dikuasai oleh negara dengan pengelolaan yang dilakukan secara optimal guna memperoleh manfaat sebesar-besar bagi kemakmuran dan kesejahteraan rakyat.
L A N D A S A N F I L O S O FI S
07
Indonesia memiliki sumber daya energi baru dan terbarukan yang belum dikelola dan dimanfaatkan secara optimal, sehingga perlu didorong pengembangan dan pemanfaatannya untuk menjamin dan meningkatkan ketersediaan, ketahanan, dan kemandirian energi nasional secara berkelanjutan
EBT memiliki peran penting dalam rangka akselerasi transisi sistem energi menuju sistem energi nasional yang berkelanjutan;
Pengembangan dan pemanfaatan sumber daya energi baru dan terbarukan merupakan upaya dan komitmen Indonesia dalam mengatasi dampak perubahan iklim akibat kenaikan suhu bumi sehingga tercipta energi yang bersih dan ramah lingkungan;
Indonesia menuju negara industri membutuhkan banyak energi yang diperoleh tidak hanya dari energi fosil yang jumlahnya sudah semakin menipis, namun diperlukan juga sumber energi lain yang berasal dari energi baru dan terbarukan
L A N D A S A N S O S I O L O G I S
08
EBT saat ini sudah diatur dalam berbagai undang-undang selain diatur dalam UU Nomor 30 Tahun 2007 tentang Energi, UU Nomor 30 Tahun 2009 tentang Ketenagalistrikan dan UU Nomor 21 Tahun 2014 tentang P a n a s Bumi.
Untuk mendukung upaya dan program pengembangan EBT, terdapat beberapa peraturan pelaksanaan yang sudah ada antara lain Peraturan Presiden Nomor 79 Tahun 2014 tentang Kebijakan Energi
Nasional, Peraturan Presiden Nomor 22 Tahun 2017 tentang Rencana Umum Energi Nasional,
Peraturan Pemerintah No. 70 Tahun 2009 tentang Konservasi Energi, dan Peraturan Menteri ESDM Nomor 39 Tahun 2017 tentang Pelaksanaan Kegiatan Fisik Pemanfaatan Energi Baru dan Energi Terbarukan Serta Konservasi Energi.
Dengan demikian peraturan perundang-undangan yang saat ini ada dan mengatur mengenai energi baru dan terbarukan masih tersebar dalam berbagai peraturan perundang-undangan.
Saat ini regulasi yang ada yang diterbitkan oleh Pemerintah terkait EBT sering mengalami perubahan sehingga belum dapat menjadi landasan hukum yang kuat dan menjamin kepastian hukum, karena belum diatur secara komprehensif dalam suatu undang-undang.
Oleh karena itu dibutuhkan pengaturan secara khusus dalam Undang-Undang tersendiri secara komprehensif yang akan mengatur mengenai EBT sebagai landasan hukum dan menjadi acuan terhadap peraturan perundang-undangan di bawahnya.
LA N D A S A N Y UR I D I S
09
UNDANG- UNDANG NOMOR 3 0 TAHUN 2 0 0 7 TENTANG ENERGI
UNDANG- UNDANG NOMOR 3 0 TAHUN 2 0 0 9 TENTANG KETENAGAL I STRI KAN UNDANG- UNDANG NOMOR 1 0 TAHUN 1 9 9 7 TENTANG KETENAGANUKLIRAN
UNDANG- UNDANG NOMOR 3 TAHUN 2 0 2 0 TENTANG P E RTAMB A NG AN M I N E R A L B ATUB ARA UNDANG- UNDANG NOMOR 3 9 TAHUN 2 0 1 4 TENTANG PERKEBUNAN
UNDANG- UNDANG NOMOR 3 2 TAHUN 2 0 1 4 TENTANG KELAUTAN
UNDANG- UNDANG NOMOR 2 3 TAHUN 2 0 1 4 TENTANG P E M E R I N TA H A N DAERAH UNDANG- UNDANG NOMOR 2 1 TAHUN 2 0 1 4 TENTANG PA N A S B U M I
UNDANG-UNDANG NOM OR 1 6 TAHUN 2 0 1 6 T E NTANG P E NGE S AHAN P AR I S AGR E E M E NT TO THE UNITED NATIONS FRAMEWORK CONVENTION ON C L I M AT E CHANGE ( PA R I S AG R E E M E N T )
UNDANG- UNDANG NOMOR 1 7 TAHUN 2 0 1 9 TENTANG S U M B E R DAYA AIR ( UU TENTANG SDA)
UNDANG- UNDANG NOMOR 2 7 TAHUN 2 0 0 7 TENTANG PENGELOLAAN WILAYAH P E S I S I R DAN PULAU- PULAU KECIL S E B AG A I M A N A TEL AH DIUBAH DENGAN UNDANG- UNDANG NOMOR 1 TAHUN 2 0 1 4 TENTANG PERUB AHAN ATAS UNDANG- UNDANG NOMOR 2 7 TAHUN 2 0 0 7 ( UU TENTANG PWP 3 K)
PERATURAN P R E S I D E N NOMOR 7 9 TAHUN 2 0 1 4 TENTANG K E B I J A K A N ENERGI NASIONAL
PERATURAN P R E S I D E N NOMOR 2 2 TAHUN 2 0 1 7 TENTANG RENCANA UMUM ENERGI NASIONAL PERATURAN P E M E R I N TA H NO. 7 0 TAHUN 2 0 0 9 TENTANG KON S E RVA S I ENERGI
P E R AT UR AN M E NT E R I E S DM NOM OR 3 9 TAHUN 2 0 1 7 T E NTANG P E L AKS ANAAN KE GI ATAN F I S I K P E M A N FA ATA N ENERGI BARU DAN ENERGI TERB ARUKAN S E RTA KON S E RVA S I ENERGI .
P E R AT UR AN M E NT E R I E S DM NOM OR 5 0 TAHUN 2 0 1 7 T E NTANG P E M ANF AATAN S UM B E R ENERGI TERB ARUKAN UNTUK PENYEDIAAN TENAGA L I S T R I K
PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN YANG TERKAIT DENGAN RUU EBT 10
ISU POKOK RUU EBT
Terminologi/pemisahan Energi Baru dan Terbarukan.
Harga jual.
Desain tata kelola dan kelembagaan Insentif kepada Badan Usaha dan Pengguna.
Desain kebijakan subsidi energi.
Dana Energi Baru dan Terbarukan Pembagian kewenangan antara Pemerintah Pusat dan daerah.
11
ISU-ISU KRUSIAL DALAM RUU EBT 12
KONSEP HAK MENGUASAI NEGARA DALAM RUU EBT
Ketentuan konsideran yang menyatakan bahwa “energi baru dan terbarukan sebagai sumber daya alam strategis yang menguasai hajat hidup orang banyak, dikuasai oleh negara untuk sebesar- besar kemakmuran rakyat sesuai dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945”.
Pasal 4 ayat (1) Undang-Undang No 30 Tahun 2007 tentang Energi telah mengatur bahwa sumber daya energi fosil, panas bumi, hidro skala besar, dan sumber energi nuklir dikuasai oleh negara dan dimanfaatkan untuk sebesar-besar kemakmuran
rakyat. Ketentuan ini secara spesifik menyebutkan bahwa hanya energi fosil, panas bumi, mikrohidro, serta nuklir dikuasai oleh negara dan dimanfaatkan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. Sementara dalam Pasal 4 ayat (2) Undang-Undang No. 30 Tahun 2007 tentang Energi mengatur bahwa sumber daya energi baru dan sumber daya energi terbarukan diatur oleh negara dan dimanfaatkan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.
PENGATURAN NUKLIR DALAM RUU EBT
Sumber Energi Baru terdiri atas nuklir dan sumber energi baru lainnya.
Selanjutnya dalam Pasal 7 RUU EBT bahwa “Nuklir sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (1) dimanfaatkan untuk pembangunan pembangkit daya nuklir”. Dari ketentuan ini diketahui bahwa pengaturan nuklir dalam RUU
EBT akan diarahkan untuk pembangunan pembangkit daya nuklir untuk
keperluan pembangkit listrik. Hal ini secara tegas dinyatakan dalam Pasal 7 ayat (2) RUU EBT yang menyebutkan bahwa Pembangkit daya nuklir
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas pembangkit listrik tenaga nuklir dan pembangkit panas nuklir.
PERAN DAN
KEWENANGAN PEMERINTAH DAERAH
Terkait dengan peran dan kewenangan Pemerintah Daerah dalam pengelolaan, pengembangan dan pemanfaatan EBT pada dasarnya belum sepenuhnya
dia komoda s i da la m RUU EBT. Da la m RUU EBT Pemerintah Daerah dibebankan
diwajibkan menyediakan sarana dan prasarana dalam pengelolaan dan
pemanfaatan EBT. Namun di sisi lain
Pemerintah Daerah memiliki keterbatasan wewenang dan anggaran dalam
pengelolaan dan pemanfaatan EBT.
MEKANISME PENGELOLAAN DANA EBT
P as al 53 ayat 4 dalam RUU EBT menyebutkan bahwa “Dana Energi Baru dan Terbarukan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikelola oleh Menteri dan menteri yang
menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang
keuangan”. Ketentuan dalam pasal tersebut mengatur adanya dua kementerian yang akan mengelola dana EBT. Pengaturan tersebut berpotensi menimbulkan konflik dalam
pelaksanaannya. Pertanyaan kritisnya adalah siapa penanggung jawab dana EBT apa bila terdapat
permasalahan? Sebaiknya tanggung jawab pengelolaan dana diserahkan ke kementerian ESDM. Tetapi dalam proses
pemanfaatannya wajib berkoordinasi dengan kementerian keuangan. Dengan demikian pasal yang mengatur terkait
dengan mekanisme pengelolaan dana EBT perlu diatur secara spesifik dan detail.
13
TANTANGAN PENGEMBANGAN EBT 14
H A L -HA L Y A N G P E R L U D IC O N TO H /D IA KO M O D A SI
15
NE W ADM I NI S TR ATI ON’S E NE R GY I N I T I A T I V E S
Pemerintah Korea Selatan mengkampanyekan yang namanya New
Administration’s Energy Initiatives. Pergeseran paradigma dari kebijakan energi yang difokuskan pada pemenuhan pasokan energi yang stabil dan murah beralih ke pendekatan yang seimbang dengan mempertimbangkan keselamatan nasional dan lingkungan yang bersih. Paradigma ini bisa dicontah dalam setiap
pengambilan kebijakan ke depannya.
P R I N S I P HUKUM ENERGI .
The Principle of National Resource Sovereignty The Principle of Access to Modern Energy Services The Principle of Energy Justice
The Principle of Prudent, Rational and Sustainable Use of Natural Resources Principle of the Protection of the Environment, Human Health & Combatting Climate Change
Energy Security and Reliability Principle Principle of Resilience
OP TI M AL I S AS I P E R AN P E M E R I NTAH DAERAH
Pemerintah Daerah perlu mendapatkan peran yang lebih nyata dalam pengelolaan, pengembangan, dan pemanfaatan EBT. Selain itu politik hukum dalam RUU EBT harus menitikberatkan dan memberikan kewenangan Pemerintah Daerah
melakukan pengawasan dan pembinaan dalam urusan tata kelola EBT