• Tidak ada hasil yang ditemukan

MAKALAH KIMIA ANALISIS ALKALIMETRI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "MAKALAH KIMIA ANALISIS ALKALIMETRI"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

MAKALAH KIMIA ANALISIS

“ALKALIMETRI”

DISUSUN OLEH:

JUNIARTI SELVIA I22112005

ALEXANDRA V.A I22112006

ROMMY I22112007

RAFIKA YUNIARTI I22112008

SRI WAHYUNI I22112039

LEONARDI I22112040

PROGRAM STUDI FARMASI

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS TANJUNGPURA

(2)

Kata Pengantar

Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena rahmatNya lah penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Alkalimetri”

Dalam menyusun makalah ini, tidak sedikit kesulitan dan hambatan yang penulis alami, namun berkat dukungan, dorongan dan semangat dari orang terdekat, sehingga penulis mampu menyelesaikannya. Oleh karena itu penulis pada kesempatan ini mengucapkan terima kasih kepada:

1. Ibu dan Ayah, atas semua doa dan dukungan kepada penulis.

2. Bapak Bambang Wijianto S.Farm,M.Sc,Apt , Dosen Kimia Analisis di Fakultas Kedokteran Universitas Tanjungpura

3. Pihak-pihak yang tidak dapat disebutkan satu per satu

Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam makalah ini. Oleh karena itu segala kritikan dan saran yang membangun akan penulis terima dengan baik. Semoga makalah

"Alkalimetri" ini bermanfaat bagi kita semua.

Pontianak, 27 Februari 2013

Tim Penyusun

(3)

Daftar Isi

KATA PENGANTAR ... i

DAFTAR ISI ... ii

DAFTAR TABEL ... iii

DAFTAR GAMBAR ... iv

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Pendahuluan ... 1

BAB II Isi dan Pembahasan ... 2

A. Pengertian Titrasi ... 2

B. Pengertian Asidi-Alkalimetri ... 5

C. Pengertian Indikator ... 6

D. Pengertian Alkalimetri ... 9

E. Rumus Umum Titrasi ... 10

BAB II Penutup ... 11

A. Kesimpulan ... 12

B. Saran ... 12

C. Lampiran ... 13

DAFTAR PUSTAKA ... 16

(4)

Daftar Tabel

Tabel 3.1 Indikator Asam Basa ... 6

(5)

Daftar Gambar

Gambar 2.1 Rangkaian alat Titrasi ... 3

(6)

4 Bab I

PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Kimia merupakan aspek yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan. Baik secara inplisit maupun eksplisit. Ini dikarenakan kimia dapat ditemukan dimana saja, mulai dari hal-hal yang sederhana seperti air, sampai dengan hal yang kompleks seperti baja dan besi. Hal inilah yang mendasari pendalaman ilmu kimia ke tingkat yang lebih tinggi, yaitu kimia analisis. Kimia Analitik merupakan salah satu cabang Ilmu Kimia yang mempelajari tentang pemisahan dan pengukuran unsur atau senyawa kimia. Dalam melakukan pemisahan atau pengukuran unsur atau senyawa kimia, memerlukan atau menggunakan metode analisis kimia. Kimia analitik mencakup kimia analisis kualitatif dan kimia analisis kuantitatif. Analisis kualitatif menyatakan keberadaan suatu unsur atau senyawa dalam sampel, sedangkan analisis kuantitatif menyatakan jumlah suatu unsur atau senyawa dalam sampel.

Alkalimetri (Alkali = basa, metri = pengukuran) diartikan sebagai titrasi untuk penetapan asam dengan standart basa sebagai alat ukurnya. Faktor utama dalam menentukan pengukuran adalah [H+] dan [OH-] dalam larutan, baik sebagai titrat maupun sebagai titran.

Alkalimetri memiliki kebalikan dalam titrasi, yaitu asidimetri, dimana penetapan basa dengan asam standar sebagai alat ukurnya.

B. Rumusan Masalah

1. Bagaimanakah metode titrasi alkalimetri?

2. Aspek apa sajakah yang diperhatikan ketika melakukan titrasi alkalimetri?

C. Manfaat

Manfaat yang diperoleh setelah membaca makalah ini : 1. Dapat mengetahui cara titrasi alkalimetri dan metodenya 2. Dapat mengetahui detil dalam perlakuan titrasi alkalimetri 3. Dapat mengetahui reaksi dalam titrasi alkalimetri

(7)

Bab II

ISI DAN PEMBAHASAN

1. Pengertian Titrasi

Reaksi penetralan dalam analisis titrimetri lebih dikenal sebagai reaksi asam basa.

Reaksi ini menghasilkan larutan yang pH-nya lebih netral. (Khopkar, 1990) Secara umum metode titrimetri didasarkan pada reaksi kimia sebagai berikut:

aA + tT = produk

Dimana a molekul analit A bereaksi dengan t molekul pereaksi T. untuk menghasilkan produk yang sifat pH-nya netral. Dalam reaksi tersebut salah satu larutan (larutan standar) konsentrasi dan pH-nya telah diketahui. Saat equivalen mol titran sama dengan mol analitnya begitu pula mol equivalennya juga berlaku sama (Khopkar, 1990).

N titran = N analit N eq titran = N eq analit

dengan demikian secara stoikiometri dapat ditentukan konsentrasi larutan ke dua. (Day, dkk, 1986)

Dalam analisis titrimetri, sebuah reaksi harus memenuhi beberapa persyaratan sebelum reaksi tersebut dapat dipergunakan, diantaranya:

- Reaksi itu sebaiknya diproses sesuai persamaan kimiawi tertentu dan tidak adanya reaksi sampingan

- Reaksi itu sebaiknya diproses sampai benar-benar selesai pada titik ekivalensi. Dengan kata lain konstanta kesetimbangan dari reaksi tersebut haruslah amat besar besar. Maka

(8)

6 - Diharapkan tersedia beberapa metode untuk menentukan kapan titik ekivalen tercapai.

Dan diharapkan pula beberapa indikator atau metode instrumental agar analis dapat menghentikan penambahan titran

- Diharapkan reaksi tersebut berjalan cepat, sehingga titrasi dapat dilakukan hanya beberapa menit. (Day, dkk, 1986)

Titrasi merupakan suatu metode untuk menentukan kadar suatu zat dengan menggunakan zat lain yang sudah diketahui konsentrasinya. Titrasi biasanya dibedakan berdasarkan jenis reaksi yang terlibat di dalam proses titrasi, sebagai contoh bila melibatan reaksi asam basa maka disebut sebagai titrasi asam basa, titrasi redoks untuk titrasi yang melibatkan reaksi reduksi oksidasi, titrasi kompleksometri untuk titrasi yang melibatkan pembentukan reaksi kompleks dan lain sebagainya (Day, dkk, 1986).

Gambar 2.1 Rangkaian Alat Titrasi (anonim, 2009)

Larutan yang telah diketahui konsentrasinya disebut dengan titran. Titran ditambahkan sedikit demi sedikit (dari dalam buret) pada titrat (larutan yang dititrasi) sampai terjadi perubahan warna indikator baik titrat maupun titran biasanya berupa larutan. Saat terjadi perubahan warna indikator, maka titrasi dihentikan. Saat terjadi perubahan warna indikator dan titrasi diakhiri disebut dengan titik akhir titrasi dan diharapkan titik akhir titrasi sama dengan titik ekivalen. Semakin jauh titik akhir titrasi dengan titik ekivalen maka semakin besar kesalahan titrasi dan oleh karena itu, pemilihan indikator menjadi sangat penting agar warna indikator berubah saat titik ekivalen tercapai. Pada saat tercapai titik ekivalen maka pH-nya 7

(9)

(netral).

Syarat zat yang bisa dijadikan standar primer:

- Zat harus 100% murni

- Zat tersebut harus stabil baik pada suhu kamar ataupun pada waktu dilakukan pemanasan, standar primer biasanya dikeringkan terlebih dahulu sebelum ditimbang

- Mudah diperoleh

- Biasanya zat standar primer memiliki massa molar (Mr) yang besar hal ini untuk

memperkecil kesalahan pada waktu proses penimbangan. Menimbang zat dalam jumlah besar memiliki kesalahan relatif yang lebih kecil dibanding dengan menimbang zat dalam jumlah yang kecil

- Zat tersebut juga harus memenuhi persyaratan teknik titrasi (Anonim, 2009)

Proses penambahan larutan standar sampai reaksi tepat lengkap, disebut titrasi. Titik dimana reaksi itu tepat lengkap, disebut titik ekivalen (setara) atau titik akhir teoritis. Pada saat titik ekivalen ini maka proses titrasi dihentikan, kemudian kita mencatat volume titer yang diperlukan untuk mencapai keadaan tersebut. Dengan menggunakan data volume titran, volume dan konsentrasi titer maka kita bisa menghitung kadar titran. Lengkapnya titrasi, harus terdeteksi oleh suatu perubahan, yang tak dapat disalah lihat oleh mata, yang dihasilkan oleh larutan standar (biasanya ditambahkan dari dalam sebuah buret) itu sendiri, atau lebih lazim lagi, oleh penambahan suatu reagensia pembantu yang dikenal sebagai indikator (Anonim, 2009)

Untuk menetapkan titik akhir pada proses netralisasi ini digunakan indikator.

Menurut W. Ostwald, indikator adalah suatu senyawa organik kompleks dalam bentuk asam atau dalam bentuk basa yang mampu berada dalam keadaan dua macam bentuk warna yang berbeda dan dapat saling berubah warna dari bentuk satu ke bentuk yang lain ada konsentrasi H+ tertentu atau pada pH tertentu (Harjadi, 1986).

Jalannya proses titrasi netralisasi dapat diikuti dengan melihat perubahan pH larutan

(10)

8 karena hal ini berhubungan erat dengan pemilihan indikator agar kesalahan titrasi sekecil- kecilnya (Harjadi, 1986).

Larutan asam bila direaksikan dengan larutan basa akan menghasilkan garam dan air.

Sifat asam dan sifat basa akan hilang dengan terbentuknya zat baru yang disebut garam yang memiliki sifat berbeda dengan sifat zat asalnya. Karena hasil reaksinya adalah air yang memiliki sifat netral yang artinya jumlah ion H+ sama dengan jumlah ion OH- maka reaksi itu disebut dengan reaksi netralisasi atau penetralan. Pada reaksi penetralan, jumlah asam harus ekivalen dengan jumlah basa. Untuk itu perlu ditentukan titik ekivalen reaksi. Titik ekivalen adalah keadaan dimana jumlah mol asam tepat habis bereaksi dengan jumlah mol basa. Untuk menentukan titik ekivalen pada reaksi asam-basa dapat digunakan indikator asam-basa.

Ketepatan pemilihan indikator merupakan syarat keberhasilan dalam menentukan titik ekivalen.

Pemilihan indikator didasarkan atas pH larutan hasil reaksi atau garam yang terjadi pada saat titik ekivalen (Harjadi, 1986).

Salah satu kegunaan reaksi netralisasi adalah untuk menentukan konsentrasi asam atau basa yang tidak diketahui. Penentuan konsentrasi ini dilakukan dengan titrasi asam-basa.

Titrasi adalah cara penentuan konsentrasi suatu larutan dengan volume tertentu dengan menggunakan larutan yang sudah diketahui konsentrasinya. Bila titrasi menyangkut titrasi asam- basa maka disebut dengan titrasi adisi-alkalimetri (Harjadi, 1986).

2. Pengertian Asidi-Alkalimetri

Asidi dan alkalimetri ini melibatkan titrasi basa yang terbentuk karena hidrolisis garam yang berasal dari asam lemah (basa bebas) dengan suatu asam standar (asidimetri), dan titrasi asam yang terbentuk dari hidrolisis garam yang berasal dari basa lemah (asam bebas) dengan suatu basa standar (alkalimetri). Bersenyawanya ion hidrogen dan ion hidroksida untuk membentuk air merupakan akibat reaksi-reaksi tersebut (Ham, 2006).

Titrasi asam basa melibatkan asam maupun basa sebagai titer ataupun titran. Titrasi asam basa berdasarkan reaksi penetralan. Kadar larutan asam ditentukan dengan menggunakan larutan basa dan sebaliknya. reaksi). Keadaan ini disebut sebagai “titik ekivalen” (Pierce, 1967).

Referensi

Dokumen terkait

Asam cuka atau asam asetat adalah senyawa kimia organik yang dikenal sebagai pemberi rasa asam dan aroma dalam makanan.. Asam cuka seringkali ditulis dalam

Campuran senyawa yang tidak merubah harga pH jika ditambah sedikit asam atau basa adalah larutan penyangga : larutan asam lemah dengan garamnya yang berasal dari basa kuat CH3COOH

Campuran senyawa yang tidak merubah harga pH jika ditambah sedikit asam atau basa adalah larutan penyangga : larutan asam lemah dengan garamnya yang berasal dari basa kuat HCOOH

Dalam tinjauan kimia protein adalah senyawa organik yang kompleks berbobot molekul tinggi berupa polimer dengan monomer asam amino yang dihubungkan oleh ikatan peptida.

Dalam tinjauan kimia protein adalah senyawa organik yang kompleks berbobot molekul tinggi berupa polimer dengan monomer asam amino yang dihubungkan oleh ikatan peptida..

Uji cepat rhodamin B didasarkan pada pembentukan warna ungu lembayung dari senyawa kompleks antara rhodamin B dengan garam antimon yang larut dalam pelatur

Pada keadaan tertentu dalam beberapa jaringan tumbuhan juga, beberapa asam organik dapat digunakan sebagai substrat respirasi, misalnya asam organik berkerbon empat

Jika suatu senyawa organik yang tidak dapat larut dalam air tetapi dapat larut dalam larutan 10% NaOH, maka dapat dikatakan bahwa senyawa tersebut lebih asam daripada air dan