PENGARUH PENGETAHUAN DAN SIKAP PETUGAS BADAN PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH TERHADAP
PENANGGULANGAN BENCANA BANJIR DI KECAMATAN KABUPATEN
TAPANULI SELATAN
TESIS
Oleh
NAULI EFIARTI NASUTION 107032093 / IKM
PROGRAM STUDI S2 ILMU KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2012
PENGARUH PENGETAHUAN DAN SIKAP PETUGAS BADAN PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH TERHADAP
PENANGGULANGAN BENCANA BANJIR DI KECAMATAN KABUPATEN
TAPANULI SELATAN
TESIS
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat
untuk Memperoleh Gelar Magister Kesehatan (M.Kes) dalam Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat
Minat Manajemen Kesehatan Bencana pada Fakultas Kesehatan Masyarakat
Universitas Sumatera Utara
OLEH
NAULI EFIARTI NASUTION 107032093 / IKM
PROGRAM STUDI S2 ILMU KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2012
Judul Tesis : PENGARUH PENGETAHUAN DAN SIKAP PETUGAS BADAN PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH TERHADAP
PENANGGULANGAN BENCANA BANJIR DI KECAMATAN KABUPATEN TAPANULI SELATAN
Nama Mahasiswa : Nauli Efiarti Nasution Nomor Induk Mahasiswa : 107032093
Program Studi : S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat Minat Studi : Manajemen Kesehatan Bencana
Menyetujui Komisi Pembimbing
(Prof. Dr. Ritha F.Dalimunthe, M.Si., S.E)
K e t u a Anggota
(Abd. Muthalib Lubis, S.H., M.A.P)
Dekan
(Dr. Drs. Surya Utama, M.Si)
Tanggal Lulus : 15 Oktober 2012
Telah diuji
Pada Tanggal : 15 Oktober 2012
PANITIA PENGUJI TESIS
Ketua : Prof. Dr. Ritha F. Dalimunthe, S.E, M.Si Anggota : 1. Abd Muthalib Lubis, S.H, M.A.P
2. Dr. Drs. Muslich Lutfi, M.B.A, I.D.S 3. Suherman, S.K.M, M.Si
PERNYATAAN
PENGARUH PENGETAHUAN DAN SIKAP PETUGAS BADAN PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH TERHADAP
PENANGGULANGAN BENCANA BANJIR DI KECAMATAN KABUPATEN
TAPANULI SELATAN
TESIS
Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam tesis ini tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu perguruan tinggi, dan sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis dalam acuan naskah ini dan disebut dalam daftar pustaka.
Medan, Oktober 2012
Nauli Efiarti Nasution 107032093/IKM
ABSTRAK
Kondisi banjir di wilayah Tapanuli Selatan hampir terjadi setiap musim penghujan dengan nilai kerugian dan frekuensi kejadian bencana banjir terlihat adanya peningkatan yang cukup signifikan. Kabupaten Tapanuli Selatan termasuk dalam rencana penanggulangan bencana banjir dalam lima tahun mendatang dimuat dalam Rencana Nasional Penanggulangan Bencana 2010-2014. Pengetahuan dan sikap petugas sangat berhubungan dengan penanggulangan bencana banjir.
Masyarakat masih banyak yang tidak puas dengan ketidakprofesionalan petugas dalam menanggulangi bencana.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh antara variabel independen yaitu pengetahuan dan sikap petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah dengan variabel dependen yaitu penanggulangan bencara banjir di Kabupaten Tapanuli Selatan.
Penelitian ini jenis survei menggunakan pendekatan explanatory research.
Populasi adalah seluruh petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Tapanuli Selatan yang berjumlah 36 orang dan sekaligus dijadikan sampel. Data diperoleh dengan menggunakan kuesioner, dianalisis dengan regresi linier berganda pada α=5%.
Hasil penelitian menunjukkan secara statistik terdapat pengaruh pengetahuan dan sikap terhadap penanggulangan bencana banjir dengan nilai thitung pengetahuan
=3,754 >ttabel= 2,042 dan sikap sikap 3,229<2,042. Disarankan kepada Kepala Kantor Badan Penanggulangan Bencana Daerah mengusulkan berbagai pelatihan, simulasi, dan memberikan kesempatan untuk mengikuti pendidikan lanjutan dan merekrut petugas baru memiliki latar belakang pendidikan bencana agar lebih memahami penanggulangan bencana banjir sebelum, saat dan setelah terjadinya bencana banjir.
Kata Kunci : Pengetahuan, Sikap, Penanggulangan Banjir
ABSTRACT
Flood occurring almost in every rainy season in Tapanuli Selatan District has inflicted an adequately significant increase of flood frequency and loss values.
Tapanuli Selatan District is included in the next Five-Year Flood Disaster Mitigation Plan stated in the 2010-2014 National Disaster Mitigation Plan. The officers’
education and attitude is very much related to the flood disaster mitigation. In fact, there are still many community members who are not satisfied with the professionalism of the officers mitigating the disaster.
The purpose of explanatory study was to analyze the influence of independent Variables (education and attitude) on the dependent variable (flood disaster prevention done by the officers of Regional Disaster Mitigation Board in facing the flood disaster in Tapanuli Selatan District.
The population of this study was all of the 36 officers of Tapanuli Selatan Regional Disaster Mitigation Board and all of them were selected to be the samples for this study. The data for this study were obtained through questionnaire distribution. The data obtained were analyzed through multiple linear regression tests at α = 5%.
The result of this study showed that, statistically, knowledge and attitude had influence on flood disaster mitigation with tcount of knowledge = 3.754 > ttable = 2.042 and attitude of attitude = 3.229 < 2.042. The Head of Tapanuli Selatan Regional Disaster Mitigation Board Office is suggested to propose various trainings and simulations, to provide opportunity fot his/her staff to pursue further education, and to recruit new staff with disaster educational background that they can understand more about flood disaster mitigation before, after or when the flood disaster is going on.
Keywords : Knowledge, Attitude, Flood Mitigation
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kepada Allah SWT atas rahmat dan limpahan rahmatNya sehingga penulis dapat menyelesaikan tesis dengan judul “Pengaruh Pengetahuan dan Sikap Petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) terhadap Penanggulangan Bencana Banjir di Kecamatan Kabupaten Tapanuli Selatan”.
Selama proses penyusunan tesis ini, saya telah banyak menerima bantuan, nasehat dan bimbingan demi kelancaran proses pendidikan di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara. Dengan segala kerendahan hati, penulis ingin menyampaikan rasa terima kasih yang tulus kepada:
1. Prof. Dr. dr. Syahril Pasaribu, D.T.M&H., M.Sc (CTM)., Sp.A, (K) selaku Rektor Universitas Sumatera Utara
2. Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara Dr. Drs. Surya Utama, M.S atas kesempatan penulis menjadi mahasiswa Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.
3. Sekretaris Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Masyarakat Universitas Sumatera Utara Dr. Ir. Evawany Aritonang, M.Si.
4. Ketua Komisi Pembimbing Prof. Dr. Ritha F.Dalimunthe, M.Si., S.E dan Anggota Komisi Pembimbing Abd. Muthalib Lubis, S.H., M.A.P atas segala ketulusannya
dalam menyediakan waktu untuk memberikan bimbingan, dorongan, saran dan perhatian selama proses proposal hingga penulisan tesis ini selesai.
5. Tim Penguji Dr. Drs. Muslich Lutfi, M.B.A., I.D.S dan Suherman, S.K.M., M.Si yang telah banyak memberikan saran, bimbingan dan perhatian selama penulisan tesis.
6. Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Tapanuli Selatan yang telah banyak membantu dan memberikan dukungan kepada penulis dalam rangka menyelesaikan pendidikan pada Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara Medan.
7. Para dosen, staf dan semua pihak yang terkait di lingkungan Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat Minat Studi Manajemen Kesehatan Bencana pada Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.
8. Ucapan terima kasih yang tulus saya tujukan kepada orangtua Ayahanda A.H Effendi Nasution (Alm) dan Ibunda Sukarti Murtisah (almh) serta keluarga
besar yang telah memberikan dukungan moril serta doa dan motivasi selama penulis menjalani pendidikan.
9. Teristimewa buat Suami Tercinta Drs. Sahru Romadona Siregar dan Ananda Ahmad Kurniawan Siregar, Hafsah Khairunnisa Siregar, Aisyah Nurrahmah Siregar, Indra Sulaiman Siregar, Hasnah Rizky Khadijah Siregar, dan Sovia Nurfadhilah Siregar atas dorongan materi dan semangat hingga penulis termotivasi untuk menyelesaikan studi S2 ini.
10. Teman-teman seperjuangan di Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat, Universitas Sumatera Utara, atas bantuannya dalam memberikan semangat dalam penyusunan tesis.
Akhirnya penulis menyadari segala keterbatasan yang ada. Untuk itu, saran dan kritik yang membangun sangat penulis harapkan demi kesempurnaan tesis ini, dengan harapan, semoga tesis ini bermanfaat bagi pengambil kebijakan di bidang bencana dan pengembangan ilmu pengetahuan.
Medan, Oktober 2012
Nauli Efiarti Nasution 107032093/IKM
RIWAYAT HIDUP
Nauli Efiarti Nasution lahir di Jakarta tanggal 29 Mei 1962, beragama Islam, bertempat tinggal di Desa Pijorkoling Kecamatan Padangsidimpuan Tenggara Kabupaten Padangsidimpuan, anak ke satu dari tiga bersaudara dari pasangan ayahanda A.H. Effendi Nasution dan ibunda Sukarti Murtisah.
Pendidikan dimulai di Sekolah Dasar Negeri 2 Pangkalan Susu dan tamat tahun 1975. Menamatkan Sekolah Menengah Pertama Yayasan Pendidikan Pangkalan Susu pada tahun 1978, Menamatkan SMA Negeri 3 Medan pada tahun 1981 dan menamatkan S1 Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara tahun 1991.
Sejak tahun 1993 sampai 2007 penulis bekerja sebagai dokter gigi di Puskesmas Pargarutan Kabupaten Tapanuli Selatan, kemudian pada tahun 2008 sampai sekarang sebagai Staf Jaminan dan Sarana Kesehatan Dinas Kesehatan Tapanuli Selatan.
DAFTAR ISI
Halaman
ABSTRAK. ... i
ABSTRACT ... ii
KATA PENGANTAR ... iii
RIWAYAT HIDUP ... vi
DAFTAR ISI ... vii
DAFTAR TABEL ... x
DAFTAR GAMBAR ... xii
DAFTAR LAMPIRAN ... xiii
BAB 1. PENDAHULUAN ... 1
1.1. Latar Belakang ... 1
1.2. Permasalahan ... 10
1.3. Tujuan Penelitian ... 10
1.4. Hipotesis... 11
1.5. Manfaat Penelitian ... 11
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA ... 12
2.1. Bencana ... 12
2.1.1. Pengertian... ... 12
2.1.2. Klasifikasi Bencana ... 13
2.1.3. Faktor Penyebab Bencana ... 18
2.2. Banjir ... 18
2.2.1. Pengertian ... 18
2.2.2. Faktor-Faktor Penyebab Banjir ... 20
2.2.3. Fenomena Bencana Banjir ... 23
2.2.4 Dampak Bencana Banjir. ... 24
2.2.5. Penanggulangan Bencana Banjir. ... 25
2.2.6. Strategi Pengendalian Banjir ... 26
2.2.7. Faktor-faktor yang Memengaruhi Penanggulangan Bencana Banjir ... 31
2.2.7.1 Pengetahuan ... 33
2.2.7.2 Sikap ... 37
2.3. Badan Penanggulangan Bencana Daerah ... 39
2.4. Landasan Teori ... 42 2.4.1 Knowledge-based Theory for Strategy Formulation 42
2.4.2. Theory of Competence ... 44
2.5. Kerangka Konsep ... 46
2.5.1 Variabel Independen ... 47
2.5.2. Variabel Terikat (Penanggulangan Bencana Banjir) 48 BAB 3. METODE PENELITIAN ... 49
3.1. Jenis Penelitian ... 49
3.2. Lokasi dan Waktu Penelitian ... 49
3.2.1. Lokasi Penelitian ... 49
3.2.2. Waktu Penelitian ... 49
3.3. Populasi dan Sampel ... 50
3.3.1. Populasi………... 50
3.3.2. Sampel………. 50
3.4. Metode Pengumpulan Data ... 50
3.4.1. Jenis dan Sumber Data ... 51
3.4.2. Uji Validitas... ... 51
3.4.3. Uji Reliabilitas... ... 51
3.5. Variabel dan Definisi Operasional ... 52
3.6. Uji Asumsi Klasik ... 54
3.6.1. Uji Normalitas ... 54
3.6.2. Uji Multikolinieritas ... 55
3.6.3. Uji Multikolinieritas ... 56
3.7. Metode Analisis Data ... 57
3.7.1. Teknik Pemberian Skor ... 57
3.7.2. Uji Hipotesis ... 58
BAB 4. HASIL PENELITIAN ... 60
4.1. Gambaran Umum Kantor Badan Penanggulangan Bencana Daerah ... 60
4.1.1. Sejarah Kantor Badan Penanggulangan Bencana Daerah ... 60
4.1.2. Visi dan Misi ... 61
4.1.3. Struktur Organisasi ... 62
4.1.4. Mekanisme Pelaksanaan Penanggulangan Bencana Dan Penanganan Pengungsi ... 66
4.2. Data Responden ... 68
4.3. Deskripsi Variabel Penelitian ... 69
4.3.1. Pengetahuan ... 69
4.3.2. Sikap ... 74
4.3.3. Penanggulangan Bencana Banjir... 78
4.3.4. Uji Asumsi Klasik ... 80
4.3.5. Pengujian Hipotesis ... 85
BAB 5. PEMBAHASAN ... 89
5.1. Pengaruh Pengetahuan Petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah terhadap Penanggulangan Bencana Banjir di Kecamatan Kabupaten Tapanuli Selatan ... 89
5.2. Pengaruh Sikap Petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah terhadap Penanggulangan Bencana Banjir di Kecamatan Kabupaten Tapanuli Selatan ... 92
5.3. Keterbatasan Penelitian ... 94
BAB 6. KESIMPULAN DAN SARAN ... 95
6.1. Kesimpulan ... 95
6.2. Saran ... 95
DAFTAR PUSTAKA... 97
LAMPIRAN... 100
DAFTAR TABEL
No. Judul Halaman
2.1. Jenis Bencana Alam Berdasarkan Penyebabnya ... 13
2.2. Fenomena Bencana Banjir, Banjir Bandang dan Longsor ... 24
3.1. Variabel dan Definisi Operasional ... 52
4.1. Distribusi Data Responden ... 68
4.2. Distribusi Jawaban Pengetahuan Responden Sebelum Terjadi Bencana Banjir di Kabupaten Tapanuli Selatan ... 69
4.3. Distribusi Kategori Pengetahuan Responden Sebelum Terjadi Bencana Banjir di Kabupaten Tapanuli Selatan ... 70
4.4. Distribusi Jawaban Pengetahuan Responden Saat Terjadi Bencana Banjir di Kabupaten Tapanuli Selatan ... 71
4.5. Distribusi Kategori Pengetahuan Responden Saat Terjadi Bencana Banjir di Kabupaten Tapanuli Selatan ... 72
4.6. Distribusi Jawaban Pengetahuan Responden Setelah Terjadi Bencana Banjir di Kabupaten Tapanuli Selatan ... 72
4.7. Distribusi Kategori Pengetahuan Responden Setelah Terjadi Bencana Banjir di Kabupaten Tapanuli Selatan ... 73
4.8. Distribusi Kategori Pengetahuan Responden tentang Bencana Banjir di Kabupaten Tapanuli Selatan ... 74
4.9. Distribusi Jawaban Sikap Responden Sebelum Terjadi Bencana Banjir di Kabupaten Tapanuli Selatan ... 74
4.10. Distribusi Kategori Sikap Responden SebelumTerjadi Bencana Banjir di Kabupaten Tapanuli Selatan ... 75
4.11. Distribusi Jawaban Sikap Responden Saat Terjadi Bencana Banjir di Kabupaten Tapanuli Selatan ... 76
4.12. Distribusi Kategori Sikap Responden Saat Terjadi Bencana Banjir Responden di Kabupaten Tapanuli Selatan ... 76
4.13. Distribusi Jawaban Sikap Responden Setelah Terjadi Bencana Banjir di Kabupaten Tapanuli Selatan ... 77
4.14. Distribusi Kategori Pengetahuan Responden Setelah Terjadi
Bencana Banjir Responden di Kabupaten Tapanuli Selatan ... 77 4.15. Distribusi Kategori Sikap Responden terhadap Bencana Banjir
di Kabupaten Tapanuli Selatan ... 78 4.16. Distribusi Jawaban Responden terhadap Penanggulangan
Bencana Banjir di Kabupaten Tapanuli Selatan ... 79 4.17. Distribusi Kategori Penanggulangan Menghadapi Bencana
Banjir di Kabupaten Tapanuli Selatan ... 80 4.18 Hasil Uji One Sample Kolmogorov-Smirnov Test ... 82 4.19 Nilai Tolerance dan Variance Inflation Factor (VIF) ... 83 4.20 Hasil Uji Determinasi (R2
4.21 Hasil Uji Serentak (Uji F) ANOVA(b) ... 86 ) Model Summary(b) ... 85 4.22 Hasil Pengujian Hipotesis Secara Parsial Coefficients (a) ... 88
DAFTAR GAMBAR
No. Judul Halaman 1.1. Peta Rawan Bencana di Tapanuli Selatan ... 5 2.1. Konsep Hubungan Kompetensi Pengetahuan dan Sikap ... 45 2.2. Kerangka Konsep Penelitian ... 47 4.1. Struktur Organisasi Badan Pengendalian Bencana Daerah
Kabupaten Tapanuli Selatan ... 62 4.2. Hasil Uji Normalitas ... 81 4.3. Hasil Uji Heteroskedastisitas ... 84
DAFTAR LAMPIRAN
No. Judul Halaman
1. Kuesioner Penelitian ... 100
2. Pengolahan Data ... 108
3. Foto Dokumentasi Banjir Bandang dan Longsor ... 133
4. Master Data ... 135
5. Surat Izin Penelitian dari Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat USU ... 136
6. Surat Izin Penelitian dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah Tapanuli Selatan ... 137
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Penangulangan bencana banjir merupakan tindakan preventif yang sangat penting terutama untuk meminimalkan korban dan kerugian dalam berbagai bidang.
Terlebih lagi dengan kondisi wilayah Indonesia yang hampir seluruhnya termasuk daerah rawan bencana, menyebabkan faktor kesiapsiagaan petugas Badan Penanggulangan Bencana menjadi hal yang sangat urgen ditingkatkan secara berkesinambungan.
Penanggulangan adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk mengatisipasi bencana melalui pengorganisasian serta langkah yang tepat guna dan berdaya guna. Hal ini berarti masalah penanggulangan tidak terlepas dari peningkatan SDM personil disamping kesiapan fasilitas dan peralatan yang diperlukan dalam penanggulangan bencana. Kenyataan bahwa pengalaman penanganan bencana selama ini tampaknya belum berjalan dengan baik. Pemerintah dan masyarakat kurang mampu mengatasi masalah-masalah darurat akibat bencana alam. Alasan-alasan seperti ketiadaan dana, birokrasi, fasilitas dan lain-lain membuat kondisi pasca bencana bagaikan bencana baru bagi korban yang mengalami bencana. Kondisi seperti ini perlu adanya upaya kesiapsiagaan untuk dilakukan oleh semua pihak baik pribadi, masyarakat maupun pemerintah (UU RI No.24 Tahun 2007).
Salah satu tindakan yang sangat penting untuk merubah paradigma kesiapsiagaan menghadapi bencana alam khususnya banjir dengan tidak lagi memandang penanggulangan bencana pada saat situasi tanggap darurat tetapi penanggulangan bencana sebaiknya lebih diprioritaskan pada fase pra bencana.
Dengan kata lain, penanggulangan lebih menekankan tindakan preventif untuk mengurangi resiko bencana sehingga semua kegiatan yang berada dalam lingkup pra bencana lebih diutamakan.
Upaya preventif diarahkan untuk mencegah dan menanggulangi berbagai jenis bencana alam pada setiap daerah kejadian antara lain dengan membuat perencanan yang mantap dan terarah untuk menanggulangi faktor penyebab bencana alam di daerah. Dengan demikian, secara bertahap kejadian bencana alam dapat dikurangi, kecuali bencana alam yang terjadi di luar jangkauan kemampuan manusia (force majure).
Bencana alam merupakan peristiwa luar biasa yang menimbulkan penderitaan luar biasa bagi yang mengalaminya. Bahkan, bencana alam tertentu menimbulkan banyak korban cedera maupun meninggal dunia. Bencana alam juga tidak hanya menimbulkan luka dan cedera fisik tetapi juga menimbulkan dampak psikologis atau kejiwaan. Hilangnya harta benda dan nyawa dari orang-orang yang dicintai membuat sebagian korban bencana mengalami stres atau gangguan jiwa. Hal tersebut sangat berbahaya terutama bagi anak-anak yang dapat terganggu perkembangan jiwanya.
Indonesia merupakan negara kepulauan yang terletak pada pertemuan empat lempeng tektonik yaitu lempeng Benua Asia, Benua Australia, lempeng Samudera
Hindia dan Samudera Pasifik. Wilayah Indonesia juga terletak di daerah iklim tropis dengan dua musim yaitu panas dan hujan dengan ciri-ciri adanya perubahan cuaca, suhu dan arah angin yang cukup ekstrim. Kondisi iklim seperti ini digabungkan dengan kondisi topografi permukaan dan batuan yang relatif beragam, baik secara fisik maupun kimiawi, menghasilkan kondisi tanah yang subur. Sebaliknya, kondisi itu dapat menimbulkan beberapa akibat buruk bagi manusia seperti terjadinya bencana hidrometeorologi banjir, tanah longsor, kebakaran hutan dan kekeringan.
Kondisi geografis tersebut membuat Indonesia menjadi salah satu wilayah rawan bencana. Seperti halnya banjir bandang yang terjadi di daerah Bahorok Kabupaten Langkat Propinsi Sumatera Utara pada tanggal 2 Nopember 2003 dengan korban jiwa 151 jiwa dan korban hilang mencapai 101 jiwa. Dari sekian banyak kejadian, sebagian besar diawali oleh adanya longsoran di bagian hulu sungai.
Kemudian, material longsoran dan pohon-pohon menyumbat sungai dan menimbulkan bendung-bendung alami. Selanjutnya, bendung alami tersebut ambruk atau roboh dan mendatangkan air bah dalam volume besar dalam waktu yang sangat singkat. Banjir bandang dengan debit puncak tinggi disertai aliran kayu-kayu dan batu-batuan yang terjadi dengan kecepatan tinggi dan waktu relatif singkat, kembali menggoncang persada Indonesia.
Banjir dapat terjadi di sungai ketika alirannya melebihi kapasitas saluran air, terutama di kelokan sungai. Banjir sering mengakibatkan kerusakan sungai dan pertokoan yang dibangun di dataran banjir sungai alami. Meski kerusakan akibat banjir dapat dihindari dengan pindah menjauh dari sungai dan badan air yang lain,
orang-orang menetap dan bekerja dekat air untuk mencari nafkah dan memanfaatkan biaya murah serta perjalanan dan perdagangan yang lancar dekat perairan. Manusia terus menetap di wilayah rawan banjir adalah bukti bahwa nilai menetap dekat air lebih besar daripada biaya kerusakan akibat banjir periodik.
Salah satu bentuk banjir yang sangat sulit diprediksi adalah banjir bandang yakni banjir besar di daerah pemukiman rendah yang terjadi akibat hujan yang turun terus menerus dan muncul secara tiba-tiba. Umumnya ditimbulkan oleh curah hujan berintensitas tinggi dengan durasi (jangka waktu) pendek yang menyebabkan debit sungai naik secara cepat. Banjir bandang terjadi saat penjenuhan air terhadap tanah di wilayah tersebut berlangsung dengan sangat cepat hingga tidak dapat diresap lagi. Air yang tergenang lalu berkumpul di daerah-daerah permukaan rendah dan mengalir dengan cepat ke daerah yang lebih rendah. Akibatnya, segala macam benda yang dilewatinya dikelilingi air dengan tiba-tiba. Banjir bandang dapat mengakibatkan kerugian yang besar. Kelestarian alam harus dijaga untuk mencegah banjir bandang.
Hal yang sama juga dialami oleh Kabupaten Tapanuli Selatan dengan kondisi geografis, geologis, hidrologis dan demografik yang sangat memungkinkan terjadinya bencana, baik yang disebabkan faktor alam, faktor non alam maupun faktor yang disebabkan ulah manusia. Berdasarkan sebaran zona resiko tinggi yang dispasialkan dalam indeks risiko bencana banjir di Indonesia, Kabupaten Tapanuli Selatan termasuk salah satu daerah yang termasuk dalam rencana penanggulangan bencana banjir dalam lima tahun mendatang dimuat dalam Rencana Nasional Penanggulangan Bencana 2010-2014 (BNPB, 2009).
Kondisi banjir di wilayah Tapanuli Selatan hampir terjadi setiap musim penghujan dengan nilai kerugian dan frekuensi kejadian bencana banjir terlihat adanya peningkatan yang cukup signifikan. Kejadian bencana banjir tersebut sangat dipengaruhi oleh faktor alam berupa curah hujan di atas normal dan adanya pasang naik air laut. Di samping itu faktor ulah manusia (man-made) juga berperan penting seperti penggunaan lahan yang tidak tepat (pemukiman di daerah bantaran sungai, di daerah resapan, penggundulan hutan dan sebagainya), pembuangan sampah ke dalam sungai, pembangunan pemukiman di daerah dataran banjir dan sebagainya.
Gambar 1.1. Peta Rawan Bencana di Tapanuli Selatan
Gambar 1.1 adalah peta rawan bencana di Tapanuli Selatan yang diperoleh dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Tapanuli Selatan. Badan
Nasional Penanggulangan Bencana dibentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana yang menugaskan Badan Nasional Penanggulangan Bencana yang dibantu oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah di tingkat propinsi maupun kabupaten dan kota dengan tugas sesuai amanah Undang- Undang tersebut.
Berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Tapanuli Selatan Nomor 02 Tahun 2010 telah dibentuk Badan Penanggulangan Bencana sebagai tindak lanjut amanah Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana. Salah satu kegiatan Badan Penanggulangan Bencana Daerah berdasarkan Permendagri No. 46 Tahun 2008 tentang Pedoman Organisasi dan Tata Kerja Badan Penanggulangan Bencana Daerah. Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan berfungsi untuk :
a. Perumusan kebijakan umum di bidang penanggulangan bencana pada pra bencana serta pemberdayaan masyarakat;
b. Pengkoordinasian dan pelaksanaan kebijakan umum di bidang penanggulangan bencana pada prabencana serta pemberdayaan masyarakat;
c. Pelaksanaan hubungan kerja di bidang penanggulangan bencana pada prabencana serta pemberdayaan masyarakat;
d. Pemantauan, evaluasi, dan analisis pelaporan tentang pelaksanaan kebijakan umum di bidang penanggulangan bencana pada prabencana serta pemberdayaan masyarakat.
Meskipun demikian, penanggulangan bencana adalah tanggung jawab semua pihak, bukan pemerintah saja. Setiap orang berhak untuk mendapatkan perlindungan atas martabat, keselamatan dan keamanan dari bencana. Masyarakat adalah pihak pertama yang langsung berhadapan dengan ancaman dan bencana. Karena itu kesiapan masyarakat menentukan besar kecilnya dampak bencana di masyarakat meskipun terkena bencana mempunyai kemampuan yang bisa dipakai dan dibangun untuk pemulihan melalui keterlibatan aktif. Masyarakat adalah pelaku penting untuk mengurangi kerentanan dengan meningkatkan kemampuan diri dalam menangani bencana. Masyarakat yang menghadapi bencana adalah korban yang harus siap menghadapi kondisi akibat bencana. Masyarakat sebagai korban dalam bencana merupakan pelaku aktif untuk membangun kembali kehidupannya sebagai korban yang mengalami kerugian akibat bencana.
Kebijakan penanggulangan bencana dalam dekade terakhir adalah memberikan prioritas utama pada upaya pengurangan resiko bencana seperti kegiatan pencegahan, kegiatan mengurangi dampak bencana (mitigasi) dan kesiapsiagaann dalam menghadapi bencana (Bappenas, 2006). Proses pendidikan kepada masyarakat terhadap pengetahuan lingkungan hidup dan keberadaan sumber daya alam sebagai faktor produksi sekaligus sebagai tatanan kehidupan. Merupakan suatu yang harus dilakukan, yakni tidak mengenal tempat, waktu dan harus menyentuh kepada setiap warga tanpa terkecuali, disini yang harus digarisbawahi adalah kebiasaan manusia yang mutlak harus berubah dan kesadaran moral yang harus mengalami evolusi (Ma’mun, 2007).
Penanggulangan yang dimaksudkan dalam penelitian ini adalah setiap aktivitas sebelum terjadinya bencana yang bertujuan untuk mengembangkan kapasitas operasional dan memfasilitasi respon yang efektif ketika suatu bencana terjadi. Disamping faktor pendidikan, pengetahuan dan sikap petugas Badan Penanggulangan Bencana sangat mempengaruhi penanggulangan petugas.
Menurut Priyanto (2006), seseorang yang berpendidikan tinggi lebih mampu mengurangi risiko, meningkatkan kemampuan dan menurunkan dampak terhadap kesehatan sehingga akan berpartisipasi baik sebagai individu atau masyarakat dalam menyiapkan diri untuk bereaksi terhadap bencana. Aktifitas pendidikan disamping untuk penyediaan informasi adalah mempelajari keterampilan dan pemberdayaan diri sedemikian rupa sehingga mampu melakukan tindakan yang memungkinkan untuk mengurangi resiko bahaya bencana.
Pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia, yakni penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa, dan raba.
Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga (Notoatmodjo, 2007).
Pengetahuan terkait dengan persiapan menghadapi bencana pada kelompok rentan bencana menjadi fokus utama. Berbagai pengalaman menunjukkan bahwa kesiapan menghadapi bencana ini seringkali terabaikan pada masyarakat yang belum memiliki pengalaman langsung dengan bencana (Priyanto, 2009).
Sikap adalah kecenderungan untuk bertindak, berpersepsi dan merasa dalam menghadapi objek, ide, situasi atau nilai. Sikap bukan perilaku, tetapi kecenderungan untuk berperilaku dengan cara-cara tertentu terhadap objek sikap. Objek sikap boleh berupa benda, orang, tempat, gagasan, situasi atau kelompok. Sikap mengandung daya pendorong atau motivasi. Sikap bukan sekedar rekaman masa lalu, tetapi juga menentukan apakah orang harus pro dan kontra terhadap sesuatu, menentukan yang disukai, diharapkan dan diinginkan, mengesampingkan apa yang tidak diinginkan dan apa yang harus dihindari.
Pengetahuan dan sikap petugas sangat berhubungan dengan kesiapsiagaan menanggulangi bencana. Kenyataan bahwa masih banyak masyarakat yang tidak puas dengan ketidakprofesionalan petugas dalam menanggulangi bencana Oleh karena itu, pemerintah telah membuat peraturan yang melibatkan masyarakat dalam penanggulangan bencana yakni
1. Kepmendagri No. 131/2003 tentang pembentukan Satuan Tugas Penanggulangan Bencana dis etiap Desa.
2. Program desa/kelurahan tangguh bencana sebagaimana diatur dalam Peraturan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Nomor I Tahun 2012.
Dalam peraturan tersebut dicatat bahwa pemerintah daerah bertanggungjawab untuk melindungi masyarakat dari ancaman dan dampak bencana melalui :
1. Pemberian informasi dan pengetahuan tentang ancaman dan resiko bencana di wilayahnya.
2. Pendidikan, pelatihan dan peningkatan keterampilan dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana
3. Perlindungan sosial dan pemberian rasa aman khususnya bagi kelompok rentan bencana
4. Pencegahan, mitigasi, kesiapsiagaan, penanganan darurat, rehabilitasi dan rekonstruksi.
Bertitik tolak dari pentingnya faktor pengetahuan dan sikap dalam penanggulangan petugas Badan Penanggulangan Bencana, penting melakukan penelitian tentang pengaruh pengetahuan dan sikap terhadap penanggulangan petugas Badan Penanggulangan Bencana di Kabupaten Tapanuli Selatan.
1.2. Permasalahan
Berdasarkan uraian pada latar belakang, permasalahan penelitian adalah bagaimana pengaruh pengetahuan dan sikap petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) terhadap penanggulangan menghadapi bencana banjir di kecamatan Kabupaten Tapanuli Selatan.
1.3. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh pengetahuan dan sikap petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) terhadap penanggulangan bencana banjir di kecamatan Kabupaten Tapanuli Selatan.
1.4. Hipotesis
Hipotesis dalam penelitian ini adalah ada pengaruh pengetahuan dan sikap petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) terhadap penanggulangan bencana banjir di kecamatan Kabupaten Tapanuli Selatan.
1.5. Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian ini adalah :
1. Sebagai bahan masukan bagi petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) tentang pentingnya pengetahuan dan sikap untuk lebih meningkatkan penanggulangan bencana banjir yang terjadi di kecamatan Kabupaten Tapanuli Selatan.
2. Sebagai bahan pemikiran yang didasari pada teori dan analisis terhadap kajian praktis dalam upaya penanggulangan bencara banjri yang terjadi di kecamatan oleh petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) di Kabupaten Tapanuli Selatan.
3. Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan bacaan dan referensi perpustakaan hingga menjadi dasar pemikiran untuk pelaksanaan penelitian selanjutnya.
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Bencana 2.1.1. Pengertian
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, bencana mempunyai arti sesuatu yang menyebabkan (menimbulkan) kesusahan, kerugian atau penderitaan. Sedangkan bencana alam artinya adalah bencana yang disebabkan oleh alam.
Menurut Undang-Undang No.24 Tahun 2007, bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan atau faktor non alam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis. Bencana merupakan pertemuan dari tiga unsur, yaitu ancaman bencana, kerentanan, dan kemampuan yang dipicu oleh suatu kejadian.
Bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan faktor non-alam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda dan dampak psikologis.Bencana alam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian peristiwa yang disebabkan oleh alam antara lain berupa gempa bumi, tsunami, gunung meletus, banjir, kekeringan, angin topan dan tanah langsor.
2.1.2. Klasifikasi Bencana
Jenis-jenis bencana menurut Undang-Undang No.24 Tahun 2007, antara lain:
1. Bencana alam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian peristiwa yang disebabkan oleh alam antara lain berupa gempa bumi, tsunami, gunung meletus, banjir, kekeringan, angin topan, dan tanah longsor.
2. Bencana non alam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau rangkaian peristiwa non alam yang antara lain berupa gagal teknologi, gagal modernisasi, epidemi dan wabah penyakit.
3. Bencana sosial adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian peristiwa yang diakibatkan oleh manusia yang meliputi konflik sosial antar kelompok atau antar komunitas masyarakat, dan teror.
Bencana alam dibagi menjadi tiga jenis berdasarkan penyebabnya yaitu bencana geologis, klimatologis dan ekstra-terestrial seperti terlihat pada Tabel 2.2.
Tabel 2.1 Jenis Bencana Alam Berdasarkan Penyebabnya Jenis Penyebab Bencana
Alam
Beberapa Contoh Kejadiannya Bencana alam geologis Gempa bumi, tsunami, letusan gunung berapi,
longsor/gerakan tanah, amblesan atau abrasi Bencana alam klimatologis Banjir, banjir bandang, angin puting beliung,
kekeringan, kebakaran hutan (bukan oleh manusia)
Bencana alam ekstra- terestrial
Impact atau hantaman atau benda dari angkasa luar
Sumber : Kamadhis UGM, 2007
Bencana alam geologis adalah bencana alam yang terjadi karena gaya-gaya dari dalam bumi. Sedangkan bencana alam klimatologis adalah bencana alam yang
disebabkan oleh perubahan iklim, suhu atau cuaca. Lain halnya dengan bencana alam ekstra-terestrial, yaitu bencana alam yang disebabkan oleh gaya atau energi dari luar bumi, bencana alam geologis dan klimatologis lebih sering berdampak terhadap manusia.
Menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana, jenis-jenis bencana antara lain:
1. Gempa Bumi merupakan peristiwa pelepasan energi yang menyebabkan dislokasi (pergeseran) pada bagian dalam bumi secara tiba-tiba. Mekanisme perusakan terjadi karena energi getaran gempa dirambatkan ke seluruh bagian bumi. Di permukaan bumi, getaran tersebut dapat menyebabkan kerusakan dan runtuhnya bangunan sehingga dapat menimbulkan korban jiwa. Getaran gempa juga dapat memicu terjadinya tanah longsor, runtuhan batuan, dan kerusakan tanah lainnya yang merusak permukiman penduduk. Gempa bumi juga menyebabkan bencana ikutan berupa kebakaran, kecelakaan industri dan transportasi serta banjir akibat runtuhnya bendungan maupun tanggul penahan lainnya.
2. Tsunami diartikan sebagai gelombang laut dengan periode panjang yang ditimbulkan oleh gangguan impulsif dari dasar laut. Gangguan impulsif tersebut bisa berupa gempa bumi tektonik, erupsi vulkanik atau longsoran. Kecepatan tsunami yang naik ke daratan (run-up) berkurang menjadi sekitar 25-100 Km/jam dan ketinggian air.
3. Letusan Gunung Berapi adalah merupakan bagian dari aktivitas vulkanik yang dikenal dengan istilah "erupsi". Hampir semua kegiatan gunung api berkaitan
dengan zona kegempaan aktif sebab berhubungan dengan batas lempeng. Pada batas lempeng inilah terjadi perubahan tekanan dan suhu yang sangat tinggi sehingga mampu melelehkan material sekitarnya yang merupakan cairan pijar (magma). Magma akan mengintrusi batuan atau tanah di sekitarnya melalui rekahan-rekahan mendekati permukaan bumi. Setiap gunung api memiliki karakteristik tersendiri jika ditinjau dari jenis muntahan atau produk yang dihasilkannya. Jenis produk tersebut kegiatan letusan gunung api tetap membawa bencana bagi kehidupan. Bahaya letusan gunung api memiliki resiko merusak dan mematikan.
4. Tanah longsor merupakan salah satu jenis gerakan massa tanah atau batuan, ataupun percampuran keduanya, menuruni atau keluar lereng akibat dari terganggunya kestabilan tanah atau batuan penyusun lereng tersebut. Tanah longsor terjadi karena ada gangguan kestabilan pada tanah/batuan penyusun lereng.
5. Banjir pada suatu daerah dalam keadaan tergenang oleh air dalam jumlah yang begitu besar. Banjir bandang adalah banjir yang datang secara tiba-tiba yang disebabkan oleh karena tersumbatnya sungai maupun karena pengundulan hutan disepanjang sungai sehingga merusak rumah-rumah penduduk maupun menimbulkan korban jiwa.
6. Kekeringan adalah hubungan antara ketersediaan air yang jauh dibawah kebutuhan air baik untuk kebutuhan hidup, pertanian, kegiatan ekonomi dan lingkungan.
7. Angin Topan
8.
adalah pusaran angin kencang dengan kecepatan angin 120 km/jam atau lebih yang sering terjadi di wilayah tropis diantara garis balik utara dan selatan, kecuali di daerah-daerah yang sangat berdekatan dengan khatulistiwa.
Angin topan disebabkan oleh perbedaan tekanan dalam suatu sistem cuaca. Angin paling kencang yang terjadi di daerah tropis ini umumnya berpusar dengan radius ratusan kilometer di sekitar daerah sistem tekanan rendah yang ekstrem dengan kecepatan sekitar 20 Km/jam. Di Indonesia dikenal dengan sebutan angin badai.
Gelombang Pasang
9.
adalah gelombang air laut yang melebihi batas normal dan dapat menimbulkan bahaya baik di lautan, maupun di darat terutama daerah pinggir pantai. Umumnya gelombang pasang terjadi karena adanya angin kencang atau topan, perubahan cuaca yang sangat cepat, dan karena ada pengaruh dari gravitasi bulan maupun matahari. Kecepatan gelombang pasang sekitar 10-100 Km/jam. Gelombang pasang sangat berbahaya bagi kapal-kapal yang sedang berlayar pada suatu wilayah yang dapat menenggelamkan kapal-kapal tersebut.
Jika terjadi gelombang pasang di laut akan menyebabkan tersapunya daerah pinggir pantai atau disebut dengan abrasi.
Kegagalan Teknologi
10.
adalah semua kejadian bencana yang diakibatkan oleh kesalahan desain, pengoperasian, kelalaian dan kesengajaan manusia dalam penggunaan teknologi atau industri.
Kebakaran adalah situasi dimana suatu tempat atau lahan atau bangunan dilanda api serta hasilnya menimbulkan kerugian. Sedangkan Kebakaran lahan dan hutan
adalah keadaan dimana lahan dan hutan dilanda api sehingga mengakibatkan kerusakan lahan dan hutan serta hasil-hasilnya dan menimbulkan kerugian.
11. Aksi Teror atau Sabotase
12.
adalah semua tindakan yang menyebabkan keresahan masyarakat, kerusakan bangunan, dan mengancam atau membahayakan jiwa seseorang atau banyak orang oleh seseorang atau golongan tertentu yang tidak bertanggung jawab. Aksi teror atau sabotase biasanya dilakukan dengan berbagai alasan dan berbagai jenis tindakan seperti pemboman suatu bangunan/tempat tertentu, penyerbuan tiba-tiba suatu wilayah, tempat, dan sebagainya. Aksi teror atau sabotase sangat sulit dideteksi atau diselidiki oleh pihak berwenang karena direncanakan seseorang atau golongan secara diam-diam dan rahasia.
Kerusuhan atau Konflik Sosial
13. Epidemi, Wabah dan Kejadian Luar Biasa merupakan ancaman yang diakibatkan oleh menyebarnya penyakit menular yang berjangkit di suatu daerah tertentu.
Pada skala besar, epidemi atau wabah atau Kejadian Luar Biasa (KLB) dapat mengakibatkan meningkatnya jumlah penderita penyakit dan korban jiwa.
Beberapa wabah penyakit yang pernah terjadi di Indonesia dan sampai sekarang masih harus terus diwaspadai antara lain demam berdarah, malaria, flu burung, anthraks, busung lapar dan HIV/AIDS. Wabah penyakit pada umumnya sangat sulit dibatasi penyebarannya, sehingga kejadian yang pada awalnya merupakan kejadian lokal dalam waktu singkat bisa menjadi bencana nasional yang banyak adalah suatu kondisi dimana terjadi huru-hara atau kerusuhan atau perang atau keadaan yang tidak aman di suatu daerah tertentu yang melibatkan lapisan masyarakat, golongan, suku, ataupun organisasi tertentu.
menimbulkan korban jiwa. Kondisi lingkungan yang buruk, perubahan iklim, makanan dan pola hidup masyarakat yang salah merupakan beberapa faktor yang dapat memicu terjadinya bencana ini.
2.1.3. Faktor Penyebab Bencana
Bencana dapat disebabkan oleh kejadian alam (natural disaster) maupun oleh ulah manusia (man-made disaster). Faktor-faktor yang dapat menyebabkan bencana antara lain:
1. Bahaya alam (natural hazards) dan bahaya karena ulah manusia (man-made hazards) yang menurut United Nations International Strategy for Disaster Reduction (UN-ISDR) dapat dikelompokkan menjadi bahaya geologi (geological hazards), bahaya hidrometeorologi (hydrometeorological hazards), bahaya biologi (biological hazards), bahaya teknologi (technological hazards) dan penurunan kualitas lingkungan (environmental degradation).
2. Kerentanan (vulnerability) yang tinggi dari masyarakat, infrastruktur serta elemen-elemen di dalam kota/ kawasan yang berisiko bencana
3. Kapasitas yang rendah dari berbagai komponen di dalam masyarakat (Kemneg PPN/BPPN dan BAKORNAS PB, 2006).
2.2. Banjir 2.2.1. Pengertian
Banjir mengandung pengertian aliran air sungai yang tingginya melebihi muka air normal sehingga melimpas dari palung sungai menyebabkan adanya
genangan pada lahan rendah disisi sungai. Aliran air limpasan tersebut yang semakin meninggi, mengalir dan melimpasi muka tanah yang biasanya tidak dilewati aliran air. Bencana banjir merupakan peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis (Mistra, 2007).
Menurut Dibyosaputro (1998), banjir merupakan satu bahaya alam yang terjadi di alam ini. Air menggenang lahan-lahan rendah di sekitar sungai sebagai akibat ketidakmampuan alur sungai menampung dan mengalirkan air sehingga meluap keluar alur melampaui tanggul dan mengenai daerah sekitarnya.
Menurut Bakornas PB (2007), berdasarkan sumber airnya, air yang berlebihan tersebut dapat dikategorikan dalam empat kategori:
a. Banjir yang disebabkan oleh hujan lebat yang melebihi kapasitas penyaluran sistem pengaliran air yang terdiri dari sistem sungai alamiah dan sistem drainase buatan manusia.
b. Banjir yang disebabkan meningkatnya muka air di sungai sebagai akibat pasang laut maupun meningginya gelombang laut akibat badai.
c. Banjir yang disebabkan oleh kegagalan bangunan air buatan manusia seperti bendungan, bendung, tanggul, dan bangunan pengendalian banjir.
d. Banjir akibat kegagalan bendungan alam atau penyumbatan aliran sungai akibat runtuhnya atau longsornya tebing sungai. Ketika sumbatan/bendungan tidak dapat
menahan tekanan air maka bendungan akan hancur, air sungai yang terbendung mengalir deras sebagai banjir bandang.
Banjir merupakan bencana yang selalu terjadi setiap tahun di Indonesia terutama pada musim hujan. Berdasarkan kondisi morfologinya, bencana banjir disebabkan oleh relief bentang alam Indonesia yang sangat bervariasi dan banyaknya sungai yang mengalir di antaranya. Banjir pada umumnya terjadi di wilayah Indonesia bagian Barat yang menerima curah hujan lebih banyak dibandingkan dengan wilayah Indonesia bagian Timur. Populasi penduduk Indonesia yang semakin padat yang dengan sendirinya membutuhkan ruang yang memadai untuk kegiatan penunjang hidup yang semakin meningkat secara tidak langsung merupakan salah satu faktor pemicu terjadinya banjir. Penebangan hutan yang tidak terkontrol dapat menyebabkan peningkatan aliran air permukaan yang tinggi dan tidak terkendali sehingga terjadi kerusakan lingkungan di daerah satuan wilayah sungai. Penebangan hutan juga menyebabkan peningkatan aliran air (run off) yang dapat menimbulkan banjir bandang.
2.2.2. Faktor-Faktor Penyebab Banjir
Umumnya banjir disebabkan oleh curah hujan yang tinggi di atas normal, sehingga sistim pengaliran air yang terdiri dari sungai dan anak sungai alamiah serta sistem saluran drainase dan kanal penampung banjir buatan yang ada tidak mampu menampung akumulasi air hujan tersebut sehingga meluap. Kemampuan atau daya tampung sistem pengaliran air dimaksud tidak selamanya sama, tetapi berubah akibat
sedimentasi, penyempitan sungai akibat phenomena alam dan ulah manusia, tersumbat sampah serta hambatan lainnya.
Bencana banjir terjadi karena berbagai faktor penyebab. Faktor penyebab yang paling utama adalah alih fungsi hutan untuk kegiatan pertanian maupun permukiman. Padahal, hutan berfungsi dalam meningkatkan air yang meresap ke dalam tanah sehingga mengurangi aliran air permukaan yang menjadi penyebab banjir.
Penggundulan hutan di daerah tangkapan air hujan (catchment area) juga menyebabkan peningkatan debit banjir karena debit atau pasokan air yang masuk ke dalam sistem aliran menjadi tinggi sehingga melampaui kapasitas pengaliran dan menjadi pemicu terjadinya erosi pada lahan curam yang menyebabkan terjadinya sedimentasi di sistem pengaliran air dan wadah air lainnya. Disamping itu berkurangnya daerah resapan air juga berkontribusi atas meningkatnya debit banjir.
Pada daerah permukiman yang padat bangunan sehingga menyebabkan tingkat resapan air kedalam tanah berkurang. Curah hujan yang tinggi sebagian besar air akan menjadi aliran air permukaan yang langsung masuk ke dalam sistem pengaliran air sehingga kapasitasnya terlampaui dan mengakibatkan banjir (Ma’mun,2007).
Faktor penyebab banjir menurut Yulielawati (2008), dapat dibedakan menjadi 3 (tiga) faktor yaitu:
1. Pengaruh aktivitas manusia, seperti:
a. Pemanfaatan daratan banjir yang digunakan untuk pemukiman dan industri
b. Pengundulan hutan dan yang kemudian mengurangi resapan pada tanah dan meningkatkan larian tanah permukaan. Erosi yang terjadi kemudian bisa menyebabkan sedimentasi di terusan-terusan sungai yang kemudian mengganggu jalannya air.
c. Permukiman di daratan banjir dan pembangunan di daerah daratan banjir dengan mengubah saluran-saluran air yang tidak direncanakan dengan baik.
Bahkan tidak jarang alur sungai diurung untuk dijadikan permungkiman.
Kondisi demikian banyak terjadi di perkotaan di Indonesia. Akibatnya adalah aliran sungai saat musim hujan menjadi tidak lancar dan menimbulkan banjir.
d. Membuang sampah sembarangan dapat menyumbat saluran-saluran air, terutama di perumahan-perumahan.
2. Kondisi alam yang bersifat tetap (statis) seperti:
a. Kondisi geografi yang berada pada daerah yang sering terkena badai atau siklon, misalnya beberapa kawasan di Bangladesh kondisi topografi yang cekung dan merupakan daratan banjir seperti Kota Bandung yang berkembang pada Cekungan Bandung.
b. Kondisi alur sungai, seperti kemiringan dasar sungai yang datar, berkelok- kelok, timbulnya sumbatan atau berbentuk seperti botol (bottle neck), dan adanya sedimentasi sungai membentuk sebuah pulau (ambal sungai).
3. Peristiwa alam yang bersifat dinamis, yaitu:
a. Curah hujan yang tinggi
b. Terjadinya pembendungan atau arus balik yang sering terjadi di muara sungai atau pertemuan sungai besar.
c. Penurunan muka tanah atau amblesan, misal di sekitar di sekitar Pantai Utara Jakarta yang mengalami amblesan setiap tahun akibat pengambilan air tanah yang berlebihan sehingga menimbulkan muka tanah menjadi lebih rendah.
pendangkalan dasar sungai karena sedimentasi yang cukup tinggi
Faktor pertama merupakan dampak langsung dari ulah tangan-tangan manusia yang mencari kenyamanan hidup dengan mengeksploritasi, membahayakan, dan merusak lingkungan baik di darat, laut dan di udara. Sementara faktor kedua dan ketiga; alam yang statis dan faktor peristiwa alam yang dinamis, merupakan tantangan bagi manusia untuk dapat berusaha mencari alternatif-alternatif yang dapat mengurangi terjadinya banjir dan dampaknya.
2.2.3. Fenomena Bencana Banjir
Gejala awal kejadian bencana alam geologi sering kali berjalan terlalu cepat dan berjangka waktu sangat singkat ke gejala utama sehingga tidak ada waktu untuk mengantisipasi datangnya gejala utama. Usaha untuk mendeteksi datangnya gejala awal sangat penting dalam mengantisipasi bencana alam. Tabel 2.3 adalah beberapa gejala awal dari bencana alam geologis dan bencana alam klimatologis yang menyangkut aspek morfologi muka bumi yang bisa diamati dan dipelajari sebelum munculnya gejala utama khususnya fenomena bencana banjir, banjir bandang dan longsor.
Tabel 2.2 Fenomena Bencana Banjir, Banjir Bandang dan Longsor Jenis Bencana Alam Daerah Rawan Gejala atau Fenomena Banjir Dataran banjir,
sempadan, sunga bermeander, lekukan- lekukan di daerah aluvial
Curah hujan tinggi, hujan berlangsung lama, naiknya muka air sungai di stasiun pengamatan
Banjir Bandang Daerah bantaran sungai pada transisi dataran ke pegunungan
Daerah pegunungan gundul, batuan mudah longsor, curah hujan tinggi, hujan berlangsung lama, terjadi pembendungan di hulu sungai
Longsor atau Gerakan Tanah
Daerah dengan batuan lepas, batuan lempung, tanah tebal, lereng curam
Curah hujan tinggi, berlangsung lama, muncul retak-retak pada tanah di lereng atas, tiang listrik, pohon dan benteng menjadi miring
Sumber : Kamadhis UGM, 2007 2.2.4. Dampak Bencana Banjir
Banjir yang melanda daerah tertentu akan membawa dampak langsung bagi masyarakat secara fisik dan psikis, namun juga berdampak pada aspek sarana dan prasarana, terganggunya ekonomi dan pemerintahan dan bahkan rusaknya aspek lingkungan.
Menurut Mistra (2007), dampak banjir akan terjadi pada beberapa aspek dengan tingkat kerusakan berat pada aspek-aspek berikut ini:
1. Aspek Penduduk, antara lain berupa korban jiwa atau meninggal, hanyut, tenggelam, luka-luka, korban hilang, pengungsian, berjangkitnya wabah dan penduduk terisolasi.
2. Aspek Pemerintahan, antara lain berupa kerusakan atau hilangnya dokumen, arsip, peralatan dan perlengkapan kantor dan terganggunya jalannya pemerintahan.
3. Aspek Ekonomi, antara lain berupa hilangnya mata pencaharian, tidak berfungsinya pasar tradisional, kerusakan, hilangnya harta benda, ternak dan terganggunya perekonomian masyarakat.
4. Aspek Sarana dan Prasarana, antara lain berupa kerusakan rumah penduduk, jembatan, jalan, bangunan gedung perkantoran, fasilitas sosial dan fasilitas umum, instalasi listrik, air minum dan jaringan komunikasi.
5. Aspek lingkungan, antara lain berupa kerusakan ekosistem, objek wisata, persawahan atau lahan pertanian, sumber air bersih dan kerusakan tanggul atau jaringan irigasi.
2.2.5. Penanggulangan Bencana Banjir
Prinsip pengendalian banjir dimaksudkan untuk memperkecil dampak negatif dari bencana banjir, antara lain korban jiwa, kerusakan harta benda, kerusakan lingkungan dan terganggunya kegiatan sosial ekonomi. Tata cara pengendalian banjir adalah :
a. Menahan air sebesar mungkin di hulu dengan membuat waduk dan konservasi tanah dan air;
b. Meresapkan kedalam tanah air hujan sebanyak mungkin dengan sumur sumur resapan atau rorak dan menyediakan daerah terbuka hijau;
c. Mengendalikan air di bagian tengah dengan menyimpan sementara di daerah retensi;
d. Mengalirkan air secepatnya ke muara atau ke laut dengan menjaga kapasitas wadah wadah air;
e. Mengamankan penduduk, prasarana vital, harta benda;
2.2.6. Strategi Pengendalian Banjir
Strategi pengendalian banjir meliputi : a. Pengendalian tata ruang
Pengendalian tata ruang dilakukan dengan perencanaan penggunaan ruang sesuai kemampuannya dengan mepertimbangkan permasalahan banjir, pemanfaatan lahan sesuai dengan peruntukannya, penegakan hukum terhadap pelanggaran rencana tata ruang yang telah memperhitungkan Rencana Induk Pengembangan Wilayah Sungai
b. Pengaturan debit banjir
Pengaturan debit banjir dilakukan melalui kegiatan pembangunan dan pengaturan : bendungan dan waduk banjir, tanggul banjir, palung sungai, pembagi atau pelimpah banjir, daerah retensi banjir, dan sistem polder.
c. Pengaturan daerah rawan banjir
1) Pengaturan tata guna lahan dataran banjir (flood plain management).
2). Penataan daerah lingkungan sungai seperti: penetapan garis sempadan sungai, peruntukan lahan dikiri kanan sungai, penertiban bangunan disepanjang aliran sungai.
Penanggulangan banjir secara lebih rinci adalah meliputi hal-hal yang harus untuk menanggulangi bencana banjir pada umumnya sebagai berikut:
a. Sebelum kejadian banjir
1) Membersihkan saluran air dari sampah yang dapat menyumbat aliran air sehingga menyebabkan akan terjadinya banjir.
2) Mengeruk sungai untuk menambah daya tampung air.
3) Membangun rute-rute drainase alternatif (kanal-kanal sungai baru atau sistem- sistem pipa) sehingga mencegah beban yang berlebihan terhadap sungai.
4) Tidak mendirikan bangunan pada wilayah atau area yang menjadi daerah lokasi penyerapan air atau daerah tangkapan hujan terutama di daerah hulu sungai.
5) Tidak menebangi pohon di hutan karena hutan yang gundul akan sulit menyerap air sehingga jika terjadi hujan lebat secara terus menerus, air tidak dapat diserap secara langsung oleh tanah bahkan akan menggerus tanah. Hal ini juga dapat menyebabkan tanah longsor.
6) Membuat tembol-tembok penahan dan tanggul-tanggul di sepanjang sungai, tembok-tembok di sepanjang pantai yang dapat menjaga tingkat ketinggian air agar tidak masuk ke dalam daratan.
b. Pada saat kejadian banjir
1) Mengerahkan tim penyelamat beserta bahan dan peralatan pendukung seperti perahu karet, tambang, pelampung dan obat-obatan.
2) Membawa korban ke tempat yang aman atau penampungan sementara.
3) Memantau perkembangan keadaan banjir dan menyebarluaskan informasinya kepada masyarakat.
c. Pasca kejadian banjir
1) Memberikan pertolongan medis bagi korban banjir yang memerlukan 2) Memberikan bantuan obat-obatan dan makanan serta bantuan lainnya.
3) Memperbaiki sarana dan prasarana yang rusak karena banjir.
4) Membersihkan sarana dan prasarana yang kotor karena banjir.
Persiapan untuk menghadapi banjir secara terpadu untuk setiap warga perorangan sangat diperlukan. Banjir terjadi pada kategori sedang, tidak dilakukan evakuasi. Ketinggian air telah mencapai 1,5–2 meter maka perlu beberapa langkah untuk menghadapinya (Mistra, 2007).
1. Untuk rumah tidak bertingkat
Apabila lokasi rumah berada di wilayah yang sering langganan banjir maka perlu dilakukan beberapa persiapan untuk rumah satu lantai yaitu:
a. Merombak ruang rangka atap dan jadikan sebagai tempat tinggal darurat.
b. Buat bukaan pada atap genteng yang dapat berfungsi sebagai jendela atau pintu keluar penyelamatan diri bila terlihat permukaan air terus meninggi c. Buat lubang tangga darurat pada plafon di tempat tertentu untuk akses naik ke
atas atap.
d. Buat alat pemantau ketinggian air (patok pengamat banjir). Patok ini ditempatkan dekat lubang tempat naik ke ruang bawah atap.
e. Buat instalasi listrik darurat, terpisah dari instalasi PLN di atas ruang atap yang dijadikan tempat tinggal.
f. Tempatkan generator secara khusus dan dibuatkan cerobong asap untuk pembuangan zat beracun (CO²) hasil pembakaran bahan bakar.
g. Buat rakit darurat lengkap dengan dayung dua buah. Rakit dibuat dari bahan lembaran Styrofoam yang disusun untuk mengevakuasi anggota keluarga jika ketinggian air terus meninggi. Rakit ini juga dapat digunakan untuk membawa barang-barang elektronik yang ringan.
h. Siapkan pelampung darurat untuk proses penyelamatan diri.
i. Buat sebuah tempat atau wadah yang kuat dan tidak mudah dimasuki air untuk menyimpan barang-barang berharga, seperti ijazah, surat tanah, dan lain-lain.
j. Siapkan kantong plastik besar untuk mengamankan pakaian atau barang lain yang tidak mungkin dibawa mengungsi dan terpaksa ditinggal di dalam rumah. Barang-barang ini pasti akan terendam dan selama terendam tetap aman tidak terkena air. Jika terendam pun tidak terlalu parah dan mudah dibersihkan.
k. Buat alat penjernih atau penyaring air sederhana untuk mengambil air banjir, lalu disaring. Air ini dapat dipakai untuk mencuci dan mandi. Caranya, gunakan tawas dan kaporit untuk mempercepat pengendapan lumpur dan membunuh bakteri, satu sendok teh dan setengah sendok teh untuk 20 liter air.
Masukkan tawas yang telah ditumbuk halus dan kaporit kemudian aduk sampai merata.
l. Jika sulit mendapatkan air bersih untuk minum, simpan air mineral kemasan dalam dus atau air mineral yang dikemas dalam sebuah galon.
m. Sediakan obat-obatan seperti obat gosok, obat sakit kepala, obat diare, obat masuk angin, obat batuk, obat flu, dan obat-obatan pribadi.
n. Siapkan bendera merah putih, bendera merah, dan tiang bendera dari bambu.
Bendera merah-putih adalah symbol siaga satu dan rumah masih ada penghuninya. Jika ketinggian air semakin tinggi (dapat dilihat dari pemantauan patok pengamat banjir), naikkan bendera merah di bawah bendera merah-putih, artinya penghuni rumah dalam keadaan SOS (Save Our Soul). Tanda ini diharapkan tim evakuasi datang membantu, kemudian bendera harap dilepas setelah mendapat bantuan pertolongan. Para relawan yang membawa makanan dan minuman tidak perlu berteriak-teriak melalui pengeras suara, tetapi langsung mendatangi dan mendata jumlah keluarga lalu membagikan sembako. Itulah gunanya bendera sebagai tanda ada kehidupan di rumah yang terendam banjir.
o. Mencatat dan menyimpan nomor telepon posko banjir dan posko tim evakuasi yang terdekat di wilayah banjir.
2. Untuk rumah bertingkat
Persiapan yang dilakukan sama seperti pada rumah yang tidak bertingkat.
Perombakan ruang di bawah atap tidak perlu dilakukan jika ketinggian air tidak
menyentuh lantai dua. Masalah yang dihadapi biasanya terletak pada pengadaan air bersih untuk keperluan mencuci dan memasak. Keluarga apabila akan tetap bertahan di dalam rumah, perlu diperhatikan kekuatan struktur rumah. Bangunan melawan tekanan derasnya air yang mengalir Jika strukturnya aman tidak masalah, tetapi jika konstruksinya mengkhawatirkan, dianjurkan untuk segera meninggalkan rumah.
2.2.7 Faktor-Faktor yang Memengaruhi Penanggulangan Bencana Banjir
Pengelolaan bencana banjir didasarkan pada penilaian lima parameter kunci yang sensitif dan mempunyai pengaruh signifikan. Kelima parameter kesiapsiagaan bencana adalah:
1. Pengetahuan dan sikap terhadap resiko bencana,
2. Kebijakan dan panduan yang berkaitan dengan kesiapsiagaan 3. Rencana aksi untuk keadaan darurat
4. Sistim peringatan dini bencana
5. Kemampuan untuk memobilisasi sumber daya, termasuk Sumber Daya Manusia (SDM), peralatan/bahan, pendanaan, komunikasi dan koordinasi antar stakeholders (LIPI-UNESCO, 2006).
Berdasarkan lima parameter di atas, pengetahuan dan sikap petugas terhadap resiko bencana mempengaruhi persepsi petugas terhadap penanggulangan bencana banjir. Di samping itu, faktor yang mempengaruhi persepsi adalah karakteristik seseorang, kebutuhan seseorang dan pengalaman masa lalu (Rakhmat, 1998). Selaras
dengan pendapat tersebut, Sugiharto (2001) mengemukakan bahwa persepsi seseorang ditentukan oleh dua faktor yaitu faktor pribadi dan pengalaman masa lalu.
Sikap pada fase preparedness, berbentuk adanya perilaku yang berlebih pada masyarakat karena minimnya informasi mengenai cara mencegah dan memodifikasi bahaya akibat bencana jika terjadi. Berita yang berisi hebatnya akibat bencana tanpa materi pendidikan seringkali membuat masyarakat menjadi gelisah dan memunculkan tindakan yang tidak realistis terhadap suatu isu. Menumbuhkan sikap dan pengetahuan dalam menghadapi bencana ini semakin menjadi bagian penting khususnya di negara yang seringkali dilanda bencana seperti Indonesia (Priyanto, 2006).
Banjir ditinjau dari pengetahuan petugas, bahwa sangat banyak ditemukan bahwa petugas belum mengetahui secara akurat bagaimana penanggulangan bencana khususnya bencana banjir karena petugas tidak mendapatkan informasi yang cukup mengenai peraturan sehubungan dengan penanggulangan bencana, langkah-langkah penanggulangan bencana banjir maupun peranan atau keterlibatan unsur terkait dalam penanggulangan banjir. Pengetahuan petugas tersebut juga dapat dipengaruhi kesiapsiagaan dan proaktif petugas BPBD dalam mensosialisasikan maupuan melakukan pelatihan tentang penanggulangan bencana banjir sehingga menjadikan persepsi petugas menjadi baik dan benar.
Faktor karakteristik dan faktor pribadi petugas sangat memengaruhi sikap petugas terhadap penanggulangan bencana banjir. Dengan kata lain, karakter dan faktor pribadi yang tidak baik dari petugas akan menunjukkan kesiapsiagaan dan
tindakan yang tidak baik dalam penanggulangan bencana. Kesadaran masyarakat yang baik tentang peranannya melalui pengetahuan yang cukup dan sikap yang baik akan membuat petugas semakin baik dalam penanggulangan bencana banjir.
Kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana banjir akan maksimal apabila petugas memiliki pengetahuan dan sikap yang baik dalam menghadapi bencana.
Pengetahuan, sikap, pendidikan dan pendidikan petugas merupakan faktor yang menjadi perhatian dalam menghasilkan kesiapsiagaan yang baik dalam menghadapi bencana banjir. Semakin baik pengetahuan dan sikap petugas terhadap tugas penanggulangan bencana maka petugas semakin siap siaga dalam menghadapi bencana.
2.2.7.1. Pengetahuan 1) Pengertian
Davenport dan Prusak (2001) mendefinisikan pengetahuan sebagai kombinasi dari kerangka pengalaman, informasi kontekstual, nilai-nilai dan pandangan ahli yang memberikan kerangka kerja untuk mengevaluasi dan memadukan pengalaman dan informasi. Dengan kata lain, pengetahuan adalah kombinasi dari informasi dan pengalaman.
Pengetahuan adalah informasi yang merubah sesuatu atau seseorang baik dengan menjadikannya sebagai dasar melakukan tindakan, maupun membuat individu atau organisasi menjadi cakap dalam melakukan tindakan yang lebih efektif (Peter DRucker, 2001)
Achterbergh dan Vriens (2002) lebih jauh menuliskan bahwa pengetahuan memiliki 2 fungsi yakni: pertama, berfungsi sebagai latar belakang untuk pengkajian gejala, yang sebaliknya akan memungkinkan pelaksanaan tindakan.
Fungsi kedua adalah untuk menilai apakah bentuk tindakan akan memberikan hasil yang diharapkan dan untuk menggunakan penilaian dalam memutuskan cara mengimplementasikan tindakan tindakan tersebut
Pengetahuan terkadang dipandang sebagai manifestasi konkrit dari inteligense abstrak, tetapi sesungguhnya merupakan hasil intraksi antara inteligense (kemampuan untuk belajar) dan situas (peluang untuk belajar) sehingga lebih konkrit dari inteligense. Pengetahuan meliputi teori dan konsep dan juga pengetahuan tacit yang diperoleh sebagai hasil dari pengalaman melaksanakan tugas tugas tertentu. Memahami merujuk kepada pengetahuan yang lebih holistic dari proses dan konteks dan dapat dibedakan dari seluk beluk pengetahuan.
Pengetahuan secara umum dapat diartikan sebagai hasil dari tahu setelah orang melakukan pengindraan terhadap suatu objek tertentu. Pengindraan melalui pancaindra manusia, yakni indra penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga (Notoatmodjo, 2007).
2) Jenis Pengetahuan
Menurut Krough G., Ichijo K., Nonaka I. (2000), pengetahuan terdiri dari 2 (dua) jenis yakni :
- Pengetahuan eksplisit (Explicit knowledge) dapat diartikulasikan kedalam bahasa formal, meliputi pernyataan pernyataan grammatical seperti kata kata dan angka, rumusan matematik, dan lain sebagainya. Pengetahuan eksplisit dapat ditransmisikan kepada orang lain.
- Pengetahuan tacit (Tacit knowledge), adalah pengetahuan personal yang berakar dalam pengalaman individu dan meliputi kepercayaan, perspektif dan system nilai. Pengetahuan ini sulit diartikulasikan dengan bahasa formal Jenis pengetahuan ini mengandung 2 dimensi yakni :
a). Dimensi teknis (Technical/procedural dimension), yakni jeis ketrampilan dan informasi yang sering disebut seluk beluk pengetahuan ( know-how).
b). Dimensi kognitif (cognitive dimension), terdiri dari kepercayaan, persepsi, ide ide, nilai, emosi dan model mental
Pengetahuan diperoleh dari pengalaman sendiri atau pengalaman orang lain.
Misalnya, seorang anak memperoleh pengetahuan bahwa api itu panas setelah memperoleh pengalaman, tangan atau kakinya kena api. Seorang ibu akan mengimunisasikan anaknya setelah melihat anak tetangganya kena penyakit polio sehingga cacat karena anak tetangganya tersebut belum pernah memperoleh imunisasi polio (Notoatmodjo, 2010).
Pengetahuan yang berhubungan dengan bencana adalah menyangkut pengetahuan tentang sebab terjadinya bencana, faktor faktor penyebab dan upaya penanggulangan dan pencegahannya, pengelolaan risiko dan pemulihan (rehabilitasi) dan rekonstruksi
a. Penanggulangan bencana adalah seluruh kegiatan yang meliputi aspek perencanaan dan penanggulangan bencana sebelum, saat dan sesudah terjadi bencana yang mencakup pencegahan, mitigasi, kesiapsiagaan, tanggap darurat dan pemulihan.
b. Pencegahan adalah upaya yang dilakukan untuk mencegah terjadinya bencana dan jika mungkin menghilangkan sama sekali atau mengurangi ancaman bencana dan cara-cara untuk meminimalkan bencana-bencana lingkungan, teknologi dan biologi terkait. Tergantung pada kelayakan dari segi sosial dan teknis dan pertimbangan biaya/manfaat, melakukan investasi tindakan-tindakan pencegahan dibenarkan di kawasan-kawasan yang sering terkena dampak bencana. Dalam konteks peningkatan kesadaran dan pendidikan publik, merubah sikap dan perilaku yang terkait dengan pengurangan risiko bencana berperan dalam meningkatkan suatu “budaya pencegahan”.
c. Pengelolaan risiko bencana (disaster risk management) adalah proses yang sistematis dalam menggunakan keputusan-keputusan administratif, lembaga, keterampilan operasional dan kapasitas untuk menerapkan kebijakan kebijakan, strategi-strategi dan kemampuan penyesuaian masyarakat dan komunitas untuk mengurangi dampak bahaya alam dan bencana bencana lingkungan dan teknologi terkait. Initerdiri dari semua bentuk aktifitas, termasuk tindakan- tindakan struktural dan non-struktural untuk menghindarkan (pencegahan) atau membatasi (mitigasi dan kesiapsiagaan) dampak merugikan yang ditimbulkan oleh bahaya.
d. Pemulihan (rehabilitasi) adalah serangkaian program kegiatan yang terencana, terpadu dan menyeluruh yang dilakukan setelah kejadian bencana guna membangun kembali masyarakat yang terkena bencana melalui pemulihan kesehatan, mental, spiritual, penguatan kesadaran masyarakat akan kerawanan bencana; pengurangan tingkat kerawanan bencana; pemulihan ekonomi;
pemulihan hak-hak masyarakat; pemulihan administrasi pemerintahan; dan integrasi kegiatan pemulihan dampak bencana.
e. Rekonstruksi adalah serangkaian program kegiatan yang terencana, terpadu dan menyeluruh yang dilaksanakan dalam jangka menengah dan jangka panjang untuk mencapai kondisi lebih baik seperti sebelum terjadinya bencana yang meliputi pembangunan kembali sarana dan prasarana dasar seperti pembangunan air bersih, jalan, listrik, puskesmas, pasar, telekomunikasi, sarana sosial masyarakat dan lingkungan hidup.
2.2.7.2. Sikap 1) Pengertian
Sikap merupakan organisasi pendapat, keyakinan seseorang mengenai objek atau situasi yang relatif ajeg, yang disertai adanya perasaan tertentu dan memberikan dasar kepada orang tersebut untuk membuat respon atau berperilaku dalam cara tertentu yang dipilihnya (Walgito, 2003).
Sikap dapat didefinisikan sebagai respon tertutup seseorang terhadap stimulus atau objek tertentu yang sudah melibatkan faktor pendapat dan emosi yang bersangkutan (senang-tidak senang, setuju–tidak setuju, baik-tidak baik, dan