• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tradisi dan Kepercayaan Umat Islam di Ka

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Tradisi dan Kepercayaan Umat Islam di Ka"

Copied!
196
0
0

Teks penuh

(1)

Editor

Syamsul Kurniawan

TRADISI

DAN KEPERCAYAAN UMAT ISLAM

DI KALIMANTAN BARAT

Sebuah Deskripsi tentang Kearifan Lokal Umat Islam Kalimantan Barat

(2)

Tradisi dan Kepercayaan Umat Islam di Kalimantan Barat Sebuah Deskripsi tentang Kearifan Lokal Umat Islam Kalimantan Barat -Yogyakarta, Penerbit Samudra Biru Cetakan Pertama Juli 2015 x + 188 Hlm, 14 x 20 cm

Editor : Syamsul Kurniawan Desain Sampul : Muttakhidul Fahmi Tata letak : Samudra Biru

Diterbitkan oleh:

Penerbit Samudra Biru (Anggota IKAPI)

Jomblangan Gg Ontoseno Blok B No 15 RT 12/30 Banguntapan Bantul Yogyakarta

Email/fb: [email protected] Phone: (0274) 9494-558

ISBN: 978-602-9276-62-6

(3)

PENGANTAR EDITOR

KEARIFAN lokal merupakan tata nilai atau perilaku hidup masyarakat lokal dalam berinteraksi dengan lingkungan tempatnya hidup secara arif. Kearifan lokal adalah semua bentuk pengetahuan, keyakinan, pemahaman atau wawasan serta adat kebiasaan atau etika yang menuntun perilaku manusia dalam kehidupan di dalam komunitas ekologis. Dapat disimpulkan bahwa kearifan lokal adalah semua bentuk pengetahuan, wawasan, pandangan, pemahaman, tata nilai, serta adat kebiasaan masyarakat lokal yang menuntun perilaku masyarakat lokal dalam berinteraksi dengan lingkungan, yaitu interaksi di komunitas masyarakat dan dengan alam sekitar.

(4)

tetap merepresentasikan warna Islam dalam warna tradisinya.

Maka ada kaitan yang jelas antara kearifan lokal dengan identitas Islam, yang telah disepakati dan telah diterapkan sebagai aturan yang mengikat pada masyarakat lokal umat Islam di Kalimantan Barat. Saya hendak menyebut masyarakat lokal dalam konteks ini dalam pengertian umum, agar tidak bias etnis. Masyarakat lokal Kalimantan Barat dalam konteks ini, adalah kelompok masyarakat yang mendiami Kalimantan Barat secara temurun, dan mentradisikan tradisi mereka secara turun-temurun pula. Maka dalam buku ini, etnis apapun (orang Melayu, Dayak, Madura, Banjar, Jawa, dan sebagainya) menjadi objek kajian sejauh ia menampilkan semacam tradisi khas etnis mereka yang selanjutnya mereka bingkai sebagai bentuk kearifan lokal masyarakat Kalimantan Barat.

Kita mafhumi, umumnya kearifan lokal seringnya tidak

terkodifikasikan, namun kearifan lokal ini menjadi bagian dari

keyakinan masyarakat, berlangsung dalam keseharian, dan mentradisi secara turun-temurun. Sebagai bentuk keyakinan masyarakat setempat – representasi dari kearifan mereka – maka berbagai bentuk kearifan lokal menjadi tidak boleh dipandang sebelah mata, mengingat ia lahir dari rahim masyarakat lokal itu sendiri.

Buku yang berjudul Tradisi dan Kepercayaan Umat Islam di Kalimantan Barat ini terdiri dari tiga seri, yang menampilkan beragam tradisi lokal dengan warna Islam yang ada di Kalimantan Barat. Tulisan-tulisan yang ada dalam tiga seri buku ini, ditulis sebagai bagian dari proses perkuliahan Islam dan Budaya Lokal oleh mahasiswa di Jurusan Pendidikan Agama Islam, Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) IAIN Pontianak, sebagai

(5)

atas objek kajian.

Sebagai dosen pengampu sekaligus editor atas buku ini, saya ucapkan terimakasih dan penghargaan setinggi-setingginya pada semua pihak yang telah membantu terwujudnya buku ini, khususnya pada pihak penerbit. Tegur sapa dan kritik untuk perbaikan buku ini selalu kami harapkan. Semoga sekecil apapun percikan manfaat dari buku ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan menambah khazanah dari buku-buku yang ada, tentang kajian Islam dan Budaya Lokal.***

Pontianak, 1 Juli 2015

(6)
(7)

DAFTAR ISI

PENGANTAR EDITOR__iii DAFTAR ISI__vii

Makan-makan dalam

1. kelambu orang bugis Punggur Oleh Aini__1

Betangas Orang Melayu

2. Sambas

Oleh Analys Septiana__6

Dukun Beranak Bagi Orang Melayu

3. Sambas

Oleh Ayu Rani__10

Tradisi Belajar Pencak Silat Orang Sunda Pontianak 4.

(8)

Tradisi Gunting Rambut Orang Melayu Kabupaten 5.

Pontianak

Oleh Elpritadea Narulita__19

Tolak Bala’ dalam Tradisi Orang

6. Bugis

Orang Melayu Pontianak dalam Merayakan Idul Fitri 10.

Oleh Harry Kurniawan__41

Makanan Khas

11. Madura Pontianak Oleh Homsatun__44

Tradisi Tumbang Apam Orang Melayu

12. Banjar

Oleh Irvan__51

Tradisi Menyambut Idul Adha Orang Melayu

13. Sambas

Selamatan 1 Suro Bagi Orang Jawa

16. Kabupaten Kayong Utara Oleh Mediterania Dwi Puspita Sari__76

Hantu Penanggal dalam Kepercayaan Orang Sintang 17.

(9)

Pellet Betteng Orang

Tradisi Beri Makan Kampong Orang

20. Bugis Punggur

Oleh Ramia__111

Tradisi

21. Ngamping Orang Melayu Sambas Desa Sebayan Oleh Ria Apriyana__114

Cucur Air Mawar Orang Melayu Pontianak 22.

Keramat Bantelan Orang Dusun Kuayan Desa Mekar Sari 27.

Oleh Sukma__156

Tradisi Sarakalan dan Barjanzi Orang Melayu

28. Kayong Utara

Oleh Sumarno__159

Tradisi Ngantar Ajong Orang

29. Sambas

Oleh Wulandari__163

Batu Akik dalam Kepercayaan Orang

30. Madura Pontianak Oleh M. Badaruddin Habibillah__174

(10)
(11)

1

M

AKAN

-M

AKAN

D

ALAM

K

ELAMBU

O

RANG

B

UGIS

P

UNGGUR

Aini

INDONESIA memiliki bermacam suku dan budaya, demikian pula di Pontianak. Etnisnya berbeda-beda, Melayu, Madura, Sambas dan lain sebagainya. Demikian pula tradisinya. Konteks ini saya akan jelaskan tradisi Bugis di daerah Punggur kecil Kecamatan Sungai Kakap Kabupaten Kubu Raya. Tradisi yang dimaksud adalah tradisi makan-makan dalam kelambu.

Makan-makan dalam kelambu sudah turun temurun dilakukan dari nenek moyang suku Bugis. Biasanya ritual ini dilakukan saat ada hajatan seperti perkawinan, khitanan, nait ayun (naik tojang). Makan-makan dalam kelambu ini biasanya melibatkan pawang, orang yang melakukan hajatan yang ingin menikah dan orang rumah yang melakukan hajatan.

(12)

dibacakan doa di tempat yang berbeda antara mempelai wanita dan mempelai pria.

Biasanya prosesi makan-makan dalam kelambu ini dilakukan di kamar dalam keadaan gelap, terserah di mana letak kamar tersebut atau di ruangan manapun asalkan prosesi tersebut dilakukan di dalam kelambu. Di kamar, prosesi dilakukan di kasur pangkeng (tempat tidur dari besi). Boleh juga tidak. Terpenting adalah kelambu yang wajib digunakan.

Makan dalam kelambu ini biasanya dilaksanakan sebelum melakukan hajatan, misalnya kita melaksanakan hajatan ataupun acara pernikahan. Prosesi makan dalam kelambu ini dilaksanakan 2 hari atau sehari sebelum acara hajatan, sebelum acara dilakukan. Kita melakukan acara makan-makan dalam kelambu ini dikarenakan agar orang yang melaksanakan prosesi acara selamat dan acarapun berjalan dengan lancar dan dapat terhindar dari penyakit.

Tradisi ini dilaksanakan setiap ada hajatan ataupun setahun sekali. Sejak dari dulu, ritual makan dalam kelambu ini tidak boleh sembarang dilakukan, karena banyak pantangannya. Ada juga beberapa syarat yang mesti dipenuhi. Antara lain menggunakan ketan (pulut) 4 warna yang berwarna putih, merah, hitam dan kuning dalam satu piring. Menata nasi pun tidak boleh sembarang harus berurutan putih, merah, kuning dan hitam. Telur ayam kampung rebus diletakkan di atas pulut tersebut.

Di bawah pulut terdapat rokok daun, nasi, kapur, gambir yang akan dilipat dengan daun sirih setelah itu ditutupi dengan daun baru’. Ayam panggang yang digunakan adalah ayam kampung jantan tidak boleh ras betina. Satu sisir pisang dan pisang yang digunakan adalah pisang berangan yang dimasukkan dalam baqi. Dilengkapi dengan bereteh, beras kuning, lilin lebah yang digulung dengan kain dan diletakkan di atas beras, dan minyak bauk. Semua alat-alat tersebut dipersiapkan satu persatu agar acaranya lancar sampai selesai tidak ada ketinggalan.

(13)

digunakan. Setelah alat-alat tersebut dipersiapkan pawangpun menyuruh tuan rumah untuk masuk ke ruangan. Lalu orang yang akan melaksanakan hajatanpun masuk bersama sesaji dan satu orang pawang. Dalam kelambu tersebut tidak boleh ada cahaya kecuali cahaya dari lilin lebah agar acara tersebut lebih nikmat dan tenang.

Seorang pawangpun membacakan doa-doa setelah itu minyak bauk dilumuri di telinga, ubun-ubun, tenggorokan dan pusat, diambil sedikit demi sedikit pulut yang 4 macam, disiapkan bayang-bayang yang diberi makan. Maksud tersebut adalah pawang memberi ruh yang melakukan hajatan.

Gambar 1.1 Minyak bauk, bereteh, beras kuning, dan daun baru’

(14)

cahaya dari luar kelambu masuk dan menyinari ruangan tersebut menandakan acara tersebut sudah selesai.

Makan-makan dalam kelambu bagi sebagian orang Bugis menghilangkan rasa was-was dan menghilangkan beban pikiran karena sudah melaksanakan ritual tersebut, dan dikarenakan pula adat tersebut ini secara turun temurun dari nenek moyang kita. Makan-makan dalam kelambu berfungsi menjalin silaturahmi antar anggota keluarga yang mungkin jarang kita berjumpa. Saat-saat seperti itulah yang ditunggu karena para anggota keluarga berkumpul dan saling bertukar pendapat, mereka bisa saling berdiskusi, bertukar pikiran antar saudara.

Pepatah juga mengatakan “bersatu kita teguh bercerai kita runtuh”. Maknanya jika kita bersatu dalam suatu keluarga maka kita akan sangat sulit untuk digoyahkan seperti lidi yang jika satu bisa dipatahkan tetapi jika lidi tersebut disatukan maka sangat sulit untuk dipatahkan. Jika ditinjau dari segi agama dan penddikan, beberapa nilai positif acara ini:

Pertama, silaturahmi. Dengan momentum acara ini, masyarakat berkumpul di sebuah rumah, dan pada saat itu pula anggota keluarga dapat berbincang-bincang dan bermusyawarah untuk banyak hal sebelum dan sesudah acara. Allah dan Rasulnya

menyukai orang yang memelihara silaturahmi, sebagaimana

firman-Nya dalam surat An-Nisa ayat 1: “…Dan bertawakallah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu. (QS. An-Nisa : 1)

(15)

dapat menjalin kebersamaan, “sama rasa” antara satu dengan yang lainnya, tetap bersatu dalam ikatan persaudaraan antara sesama Islam. Saling tolong menolong dalam kebaikan, dalam artian di saat ada saudara yang kesusahan, kita dapat menolong, agar kebersamaan antara sesama muslim tetap kokoh dan terjalin. Allah

SWT berfirman dalam surat Ali Imran ayat 103: “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai…”. (QS. Ali Imran : 103)

(16)

2

B

ETANGAS ORANG

M

ELAYUSAMBAS

Analys Septiana

KOTA Sambas secara geografis terletak hampir di tengah-tengah wilayah Kabupaten Sambas. Orang yang pertama membuka dan mengembangkan Kota Sambas adalah Sultan Muhammad Tajuddin I (Raden Bima, Sultan Sambas ke-2) yang pada sekitar tahun 1683 M memindahkan pusat pemerintahan Kesultanan Sambas dari Lubuk Madung ke Muare Ulakkan (persimpangan sungai sambas, sungai teberau dan sungai subah) yang kemudian berkembang menjadi Kota Sambas sampai sekarang ini.1

Sambas masih kental dengan tradisi seperti tradisi pernikahan, kelahiran, dan lain-lain. Salah satunya contoh tradisi yang masih ada di kalangan melayu Sambas yaitu pernikahan. Dalam pernikahan Melayu Sambas dikenal istilah betangas sebelum pernikahan. Tulisan ini hendak mendeskripsikan tradisi betangas suku melayu Sambas.

(17)

Bagi orang melayu Sambas, betangas harus dilalui oleh calon mempelai wanita. Betangas bermanfaat positif, dapat menghilangkan bau keringat dan dapat mengharumkan badan calon mempelai wanita. Calon mempelai pria biasanya juga dapat ikut melakukan betangas di rumahnya masing-masing meski taka da kewajiban atasnya.

Betangas biasanya dipandu oleh seorang nenek-nenek yang membantu membuat ramuan tersebut. Ada bacaan tertentu di dalam meramu itu. Dalam betangas tidak ada ritual tertentu, sebelum dan sesudahnya, hanya mempersiapkan alat dan bahannya saja.

Adapun peralatan yang diperlukan untuk betangas yaitu satu bangku kuda-kuda yang terbuat dari kayu, sendok yang terbuat dari kayu untuk mengaduk-aduk ramuan tersebut, panci yang digunakan untuk merebus ramuan tersebut. Dan tikar, biasanya tikar yang digunakan adalah tikar pandan. Bahan ramuan itu sendiri terdiri dari air panas yang direbus dengan serai wangi, jeruk purut, dan daun pandan.2

Betangas dimulai dengan mendudukkan calon mempelai pengantin di atas bangku kuda-kuda tanpa menggunakan pakaian tetapi menggunakain kain seperti bekemban. Lalu letakkan air rebusan yang masih sangat mendidih di depan calon mempelai pengantin, dan kemudian tutup tubuh calon pengantin dengan tikar pandan, sebelumnya tikar pandan itu dibentuk lingkaran yang rapat untuk melingkari calon pengantin itu. Selanjutnya calon mempelai tersebut mengaduk-aduk ramuan dengan menggunakan sendok yang terbuat dari kayu tersebut agar asap dan air panas tersebut menguap pada badan calon pengantin. Untuk “lama waktu” betangas tidak ditentukan secara pasti. Yang ditentukan betangas sebagai tradisi yang harus dilaksanakan sebelum memulai tradisi pernikahan. Demikian adat betangas yang terdapat di kalangan melayu Sambas. Hingga sekarang tradisi ini masih dapat kita jumpai.

(18)

Gambar 2.1. Alat/ bahan yang perlu disiapkan saat betangas.

Gambar 2.2. Prosesi Betangas

(19)

organ vital wanita, mengatasi masalah keputihan juga menjadikan organ vital selalu lembap alami.

Karena fungsinya yang baik, betangas menjadi suatu kebutuhan yang tidak hanya dilakukan 2-3 hari menjelang resepsi pernikahan namun seminggu, dua minggu bahkan sebulan. Betangas dilakukan oleh hampir seluruh masyarakat melayu. Baik itu melayu sambas, melayu bugis maupun melayu asli.3

Dalam perspektif pendidikan, betangas melestarikan tradisi dan adat-istiadat orang Sambas. Sebagai anak melayu kita wajib melestarikan tradisi betangas ini, kalau bukan kita sebagai keturunannya siapa lagi yang akan melestarikan tradisi ini. Tradisi betangas ini akan hilang apabila kita tidak melakukannya. Betul memang, di zaman sekarang betangas sudah terganti dengan mandi uap ataupun luluran di salon-salon kecantikan. Betangas juga dapat merawat pasangan agar tubuhnya wangi dan menjadi bersih. Kalau tubuh kita wangi dan bersih pasangan kita pun akan senang. Kebersihan juga sangat diwajibkan dalam agama Islam. Dalam sebuah hadits dari Abu Hurairah disebutkan, “Bersihkanlah segala sesuatu semampu kamu. Sesungguhnya Allah SWT membangun Islam ini atas dasar kebersihan dan tidak akan masuk surga kecuali setiap yang bersih.” (HR Ath-Thabrani).

Ketiga, kebersamaan atau kekeluargaan. Saat betangas, biasanya keluarga akan berkumpul untuk melihat prosesnya dan juga bisa saling bantu-membantu. Ini berpeluang menjaga hubungan baik antar keluarga, tetangga, dan masyarakat. Suasana kekeluargaan dan kebersamaan tentu adalah hikmahnya.***

(20)

D

UKUN

B

ERANAK

B

AGI

O

RANG

M

ELAYU

P

ONTIANAK

Ayu Rani

DI Pontianak dukun masih dipercaya sebagai orang yang membantu wanita melahirkan, mendampingi, dan membersihkan ari-ari (plasenta) bayi pada saat sang ibu nifas. Dukun beranak biasanya bertempat di kampung-kampung yang tidak didapati tenaga medis. Biasanya didalam suatu kampung terdapat 1-3 dukun.

Usia dukun beranak variatif. Tapi umumnya seorang perempuan berusia ± 40 tahun ke atas. Pekerjaan ini dilakukan turun-temurun dalam keluarga, bisa saja orang yang merasa terpanggil atas pekerjaan ini. Dengan bermodalkan keberanian, niat untuk menolong sesama dan mempunyai keahlian dan pengalaman.

Dukun beranak memiliki keahlian dengan caranya sendiri yang berbeda dengan tenanga medis seperti bidan. Tindakan yang dilakukan adakalanya berhasil dan tidak. Pengetahuan dukun

tentang fisiologis dan patologis dalam kehamilan, persalinan, serta

nifas sangat terbatas oleh karena itu apabila timbul komplikasi ia tidak mampu untuk mengatasinya, bahkan tidak menyadari

(21)

akibatnya.

Dukun beranak menolong hanya berdasarkan pengalaman. Berbagai kasus sering menimpa seoarang ibu atau bayinya seperti kecacatan bayi sampai pada kematian ibu dan anak. Akan tetapi kepercayaan masyarakat terhadap dukun beranak sangat kuat karena dukun beranak lebih dahulu dikenal dibandingkan bidan. Hal itu menjadi alasan kenapa saat ini sekitar 17 persen ibu melahirkan menggunakan jasa dukun beranak.

Beberapa mitos juga menjadi alasan masyarakat lebih mempercayai dukun seperti dalam jampi-jampi yang dianggap ampuh dalam kelancaran proses kelahiran anak. Menjadi dukun beranak tidak perlu pendidikan khusus. Seorang dukun beranak biasanya berpendidikan SD-SMP dan bisa baca tulis dengan kapasitas yang rendah. Dukun hanya mengandalkan pengalaman tanpa pernah merasakan pendidikan khusus bersalin dibangku sekolah atau bangku kuliah. Alat praktik dukun masih menggunakan alat-alat tradisional seperti: (1) bambu sebagai alat pemotong tali pusat bambu yang digunakan harus bambu yang tebal dan tajam; (2) ada juga dukun beranak yang menggunakan gunting biasa untuk memotong tali pusar; (3) benang sebagai pengikat tali pusat; dan (4) dan sebagai alasnya menggukan tikar daun atau tikar pastik.1

Tidak berbeda dengan pemeriksan yang dilakukan bidan, dukun beranak memeriksa kehamilan melalui indera raba. Perempuan yang mengandung, sejak ngidam sampai melahirkan selalu berkonsultasi kepada dukun, bedanya perempuan yang mengandunglah yang datang keklinik atau peskesmas, sedang dukun harus berkeliling dari rumah-kerumah warga untuk memeriksa ibu yang sedang hamil atau yang ingin melahirkan. Mulai dari usia kandungan 7 bulan kontrol dilakukan lebih sering

untuk menjaga kesehatan fisik dan janin sang ibu, agar janin yang

dilahirkan normal. Dukun melakukan perubahan posisi perut untuk menjaga agar posisi bayi tetap stabil tidak nyunsang. Dengan

(22)

cara diurut-urut pada bagian perut dan ditambah doa-doa atau jampi-jampi khas dukun tersebut. Adalah suatu hal yang lazim jampi-jampi dilakukan karena dianggap ampuh dalam kelancaran kelahiran dan mempercepat keluarnya ari-ari (plasenta). apapun yang dikerjakan Dukun seperti meniup-niup air diiringi dengan doa-doa “jampe- jampe” hanya tindakan psikologis-sosiologis agar ibu yang melahirkan itu merasa aman dan tidak was-was untuk melahirkan, dan rasa sakit waktu melahirkan bisa hilang.

Masalah tarif, umumnya dukun tidak menarik pungutan jadi secara sukarela saja, sedangkan bidan ada tarifnya. Menjadi salah satu faktor utama masyarakat memilih jalan alternatif, bagi masyarakat yang kurang mampu, melahirkan yang ditangani seorang bidan/dokter memerlukan biaya yang mahal. sebelum adanya jaminan kesehatan seperti saat ini, masyarakat lebih memilih dukun beranak sebagai penolong dengan biaya terjangkau.

Kecuali itu sebab masih diminati dukun beranak di kampong-kampung karena melekat dalam diri masyarakat, khususnya pedesaan bahwa dukun beranak lebih berpengalaman, lebih percaya dukun dibandingkan bidan apalagi dokter. Rasa takut masuk rumah sakit masih melekat dalam diri perempuan yang takut melahirkan ditangani ahli medis, karena takut disuntik, dibedah dan rasa sakit ketika dijahit juga sebab lain diminatinya dukun beranak. Mitos yang ada dimasyarakat adalah kalau dibantu oleh bidan pasti dijahit, sementara masyarakat takut dengan jahitan. Bahkan sudah memvonis dirinya tidak mau lagi melahirkan ditangani bidan. Sangat miris dengan pernyataan tersebut. Dukun juga biasanya memberikan ramuan-ramuan seperti jamu dan air penawar yang berisikan bacaan tertentu yang dipercaya bisa mempermudah persalinan.

(23)

dikatakan “pahlawan” karena menolong nyawa orang. Walaupun dipanggil dengan sebutan dukun beranak bukan berarti dukun yang memiliki ilmu hitam. Melainkan hanya sebutan masyarakat kepada seseorang yang pintar dalam menangani tugas kebidanan, yang tidak memiliki ijazah sarjana.

Hukum mendatangi dukun beranak dengan demikian sangat berbeda dengan hukum mendatangi dukun santet, teluh dan dukun ilmu hitam lainnya. Dalam Islam hukum mendatangi dukun beranak atau dukun bayi tidak masalah karena bertujuaan untuk kemaslahatan individu. Sedangkan hukum mendatangi dukun ilmu hitam yang dapat membuat kesyirikan, seperti dalam hadis nabi SAW, dari Abu Hurairah RA, diriwayatkan bahwa rasulullah bersabda: “barang siapa yang mendatangi dukun dan mempercayai ucapannya atau menyetubuhi wanita dibagian duburnya, berarti telah kafir dengan wahyu yang telah diturunkan oleh Alllah SWT kepada Nabi Muhammad Saw. (H.R Abu Daud).

Seiring perubahan jaman, sebagian dukun beranak beralih profesi menjadi dukun beranak spesialis aborsi yang marak kita lihat beritanya di media massa dan media sosial. kenapa mereka bisa melakukan hal tersebut? Faktor utamanya adalah masalah ekonomi, dibandingkan dengan membantu proses melahirkan ternyata biaya menggugurkan kandungan(aborsi) lebih mahal. Bagi seorang dukun yang tergiur dengan harga yang ditawarkan pasiennya, dengan senang hati dilakukannya tanpa pikir panjang dampak yang akan terjadi nanti.

(24)

Aborsi dalam hukum Islam, ada perbedaan pendapat dikalangan ulama’. Menurut Ibnu Hajar hukumnya Haram jika janin tersebut sudah menetap dalam rahim, seperti sudah menjadi ‘alaqah (segumpal darah), dan mudghah (sepotong daging), sekalipun belum diberi ruh. Sedangkan menurut imam Ar-Ramli hukumnya tidak boleh kalau memang janin itu sudah diberi ruh.2

Dalam firman Allah SWT, Q.S Al-Maidah ayat 32, “oleh karena itu kami tetapkan (suatu hukum) bagi bani israil bahwa; barang siapa yang membunuh manusia bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena berbuat kerusakan dimuka bumi. Maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya, dan barang siapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah sia telah memelihara kehidupan manusia semuanya.”***

(25)

T

RADISI

B

ELAJAR

P

ENCAK

S

ILAT

O

RANG

S

UNDA

P

ONTIANAK

Dewi Lestari

PADA dasarnya setiap daerah memiliki tradisi dan kebudayaan masing-masing seperti halnya masyarakat sunda memiliki tradisi salah satunya adalah pencak silat. Pencak silat dalam masyarakat sunda bukan hanya dikenal sebagai ilmu bela diri namun juga sebagai kesenian dan pertunjukan saat acara. Perkembangan silat secara historis mulai tercatat penyebarannya banyak di pengaruhi oleh kaum penyebar agama Islam pada abad ke 14 di Nusantara. Kala itu pencak silat diajarkan bersama-sama dengan pelajaran agama di surau dan pesantren, silat menjadi bagian spiritual.

Dalam budaya beberapa suku bangsa di indonesia, pencak silat merupakan bagian tak terpisahkan dalam upacara adatnya. Misalnya kesenian debus di daerah sunda selain menampilkan keahlian-keahliannya dalam ilmu kekebalan juga menampilkan pencak silat.

Pencak silat telah dikenal oleh sebagian masyarakat sunda pontianak dengan berbagai nama. Di pontianak, pencak silat di

(26)

kalangan orang sunda Pontianak lebih mengenal aliran Tjimande Tari Kolot Kebon Djeruk Hilir (TTKKDH). Tradisi pencak silat ini diturunkan secara lisan dan menyebar dari mulut ke mulut, diajarkan dari guru ke murid, sehingga mengenai asal mula silat sulit ditemukan. Hanya secara turun temurun dan bersifat pribadi atau kelompok latar belakang dan sejarah pembelaan diri ini dituturkan.

Pencak silat dapat mempunyai pengertian gerak dasar bela diri, yang terikat pada peraturan dan di gunakan dalam belajar, latihan, dan pertunjukan. Silat, mempunyai pengertian gerak bela diri yang sempurna, yang bersumber pada kerohanian yang suci murni, guna keselamatan diri atau kesejahteraan bersama, menghindarkan diri manusia dari beladiri atau bencana.

Pencak silat adalah hasil budaya manusia untuk membela atau mempertahankan diri terhadap lingkungan hidup/ alam sekitarnya untuk mencapai keselarasan hidup guna meningkatkan iman dan taqwa kepada tuhan YME. Suku sunda merupakan suku yang terdapat di provinsi jawa barat juga tidak sedikit yang berhijrah ke Pontianak, beberapa di antaranya melestarikan tradisi pencak silat.

Mulanya pencak silat merupakan tarian yang menggunakan gerakan tertentu yang gerakannya itu mirip dengan gerakan bela diri. Pada umumnya pencak silat ini dibawakan oleh dua orang atau lebih, dengan memakai pakain serba hitam, menggnakan ikat di pinggang, serta memakai ikat kepala dari bahan kain yang orang sunda menyebutnya iket. Pada umumnya kesenian pencak silat ini ditampilkan dengan diiringi oleh musik yang disebut gendang penca, yaitu musik pengiring yang alat musiknya menggunakan gendang dan terompet.

(27)

gerak yaitu ketika seorang pesilat bergerak ketika bertarung sikap dan gerakannya berubah mengikuti perubahan posisi lawan secara berkelanjutan; (3) langkah yaitu ciri khas dari silat adalah pengunaan langkah, ada berapa pola langkah yang dikenali, contohnya langkah tiga dan langkah empat; (4) Kembangan yaitu gerakan tangan dan sikap tubuh yang dilakukan sambil memperhatikan, mewaspadai gerak gerik musuh; (5) Buah, secara tradisional istilah teknik ini dapat disamakan dengan buah. Pesilat biasa menggnakan tangan, siku, lengan, kaki, lutut, dan telapak kaki dalam serangan; (6) Jurus yaitu rangkaian dasar untuk tubuh bagian atas dan bawah yang digunakan sebagai penggunaan teknik-teknik lanjutan pencak silat (buah); (7) Sapuan dan guntingan yaitu menjatuhkan musuh dengan menyerang kuda-kuda musuh, yakni menendang dengan menyapu atau menjepit kaki musuh sehingga musuh kehilangan keseimbangan dan jatuh; (8) kuncian, melumpuhkan lawan agar tidak berdaya, tidak dapat bergerak atau melucuti senjata musuh. Kuncian melibatkan gerakan menghindar, tipuan dan gerakan cepat yang biasa mengincar pergelangan tangan, leher, dagu atau bahu musuh.

Pencak silat mengajarkan pentingnya: (1) aspek mental spiritual. Pencak silat membangun dan mengembangkan kepribadian dan karakter mulia seseorang. Para pendekar dan maha guru pencak silat zaman dahulu sering kali harus melewati tahapan semedi, tapa, atau aspek kebatinan lainnya untuk mencapai tingkat tertinggi keilmuannya; (2) aspek seni budaya. Budaya dan permainan “ seni “ pencak silat ialah salah satu aspek yang sangat penting. Istilah pencak pada umumnya mengambarkan bentuk seni tarian pencak silat, dengan musik dan busana tradisional; (3) aspek bela diri. Kepercayaan dan ketekunan diri ialah sangat penting dalam menguasai ilmu bela diri dalam pencak silat; (4) aspek olahraga,

berarti bahwa aspek fisik dalam pencak silat ialah penting. Pesilat

mencoba menyesuaikan pikiran dengan olah tubuh.

(28)

(2) membangkitkan rasa percaya diri; (3) melatih ketahanan mental; (4) mengembangkan kewaspadaan diri yang tinggi; (5) membina

sportifitas dan jiwa ksatria; dan (6) disiplin dan keuletan yang lebih

tinggi.

Selain berarung dengan tangan kosong, pencak silat juga mengenal beberapa macam senjata salah satunya yang di gunakan oleh pencak silat sunda adalah kujang (pisau khas sunda). Alat musik yang di pergunakan dalam melakukan pencak silat: gendang, bedug, terompet, kenong, kecrek, gong, pancer.

Menurut hasil wawancara penulis dengan KH Noer Hidatulloh Dawami mengatakan olahraga termasuk pencak silat sangat dianjurkan agama Islam. Karena menurut Islam, jiwa yang sehat terletak pada badan yang kuat. Kiai Noer menjelaskan, sejarah membuktikan bahwa Islam sangat menganjurkan olahraga dan beladiri. Ia kemudian bercerita, Nabi Muhammad SAW mau menunaikan haji, rombongan nabi biasanya diserang kaum

kafir Quraisy karena mereka mengaggap rombongan muslim

kecil-kecil. Namun Nabi Muhammad membuat starategi supaya rombongannyaberjalan jinjit sambil berjalan tegap. Strategi itu

manjur, kaum kafir tidak berani menyerang karena menganggap

rombongan kaum muslimin gagah-gagah. Pencak silat, lanjut Kiai Noer, selain berguna untuk bela diri, juga untuk mempertahankan agama bangsa dan negara.1***

(29)

T

RADISI

G

UNTING

R

AMBUT

O

RANG

M

ELAYU

K

ABUPATEN

P

ONTIANAK

Elpritadea Narulita

ABU ‘Umar bin ‘Abdul Barr berkata, “Adapun mencukur rambut bayi saat aqiqah, maka kebanyakan ulama mensunnahkan hal tersebut. Telah terbukti hadits dari Nabi Muhammad SAW bahwa beliau bersabdah dalam hadits aqiqah, “dan digundul rambut kepalanya serta diberi nama.”kholal berkata dalam kitab Al-jami’, “Bab: Tentang Menggundul Kepala Bayi dan Bershodaqoh dengan seberat Rambutnya.” Telah mengabarkan kepadaku Muhammad Bin Ali, telah berceriyta kepada kami Sholih pada hari ketujuh.”Salman bin ‘Amir meriwayatkan dari Nabi Muhammad SAW bahwa beliau telah bersabdah,”bersihkan kotoran dari dirinya.” Ia berkata, “maksudnya kepadanya digundul.” Hanbal menuturkan, “saya mendengar Abu ‘Abdillah berkata. “kepala bayi digundul.”

Tulisan ini hasil riset penulis tentang tradisi gunting rambut di Kabupaten Mempawah, dengan mewawancarai beberapa

informan yaitu: Jami‘an (49), Darmisah (50), Dessy Narulita Safitri

(23), Hasnani (42).

(30)

Kegiatan upacara adat yang dilakukan oleh masyarakat Kabupaten Pontianak sesuai dengan kondisi dimana upacara adat itu dilaksanakan, seperti halnya upacara-upacara yang berkaitan dengan suatu peristiwa adat. Ritual kepercayaan masyarakat yang sangat erat kaitannya dengan kehidupan lingkungan salah satunya adalah upacara penyelengaraan memotong rambut (cukur rambut) dengan tujuan untuk membuang rambut yang dibawa sejak anak di lahirkan. Selain itu maksud lainnya adalah untuk membuang sial yang terdapat pada ujung-ujung rambut yang dibawa sejak lahir.

Bagi masyarakat suku Melayu Kabupaten Pontianak, gunting rambut adalah salah satu unsur budaya yang masih tetap dilaksanakan dan dihayati, karena di dalam budaya tersebut mengandung nilai-nilai dan norma-norma yang sangat sakral dan bermakna wujud rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa untuk keselamatan dan kesejahteraan bagi keluarga khususnya maupun masyarakat pada umumnya. Upacara gunting rambut atau disebut juga potong jambul diselenggarakan apabila di dalam suatu keluarga mendapatkan anak bagi yang telah menginjak usia sekitar 40 hari sampai 1 tahun dan hal ini telah menjadi suatu upacara tradisi masyarakat secara umum.

Biasanya di Kabupaten Pontianak, pencukuran rambut bersamaan juga dengan pelaksaan aqiqah yang disunnahkan pula untuk mencukur rambutnya. Hadits Nabi Saw. tersebut adalah sebagai berikut: Dari Ali r.a. dia berkata: “Rasulullah Saw. mengaqiqahi Al-Hasan seekor kambing lalu beliau bersabda kepada Fathimah, ‘Wahai Fathimah, cukurlah rambut kepalanya....” (HR. Tirmidzi, Ibnu Abi Syaibah, Ahmad, Hakim, dan Baihaqi).

(31)

Muakkad”. Dengan aqiqah akan menjadikan anak dapat memberi pembelaan (syafaat) kepada orang tuanya pada hari qiamat.

Ada kebiasaan menarik di tengah masyarakat yang perlu kita perhatikan berkaitan dengan mencukur rambut bayi ini. Yakni, ajaran untuk mencukur rambut ini memang dilaksanakan, namun dalam pelaksanaannya tidak dicukur secara bersih, hanya dipotong sebagian saja. Pada saat mengundang saudara, kerabat, dan tetangga dalam acara aqiqah, biasanya sang bayi digendong berkeliling ke hadapan yang hadir untuk digunting rambutnya sedikit-sedikit saja.

Bayi yang akan di potong rambutnya diberikan pakaian yang bagus umumnya memakai pakaian kuning, tetapi selain warna lain pun tidak masalah. Sebelum pemotongan rambut para undangan terlebih dahulu membaca Albarzanji atau Marhaban, ketika pembacaan Marhaban dimulai maka pemotongan dilakukan sambil berdiri. Anak yang akan dipotong rambutnya digendong oleh orang tuanya sendiri dan diikuti oleh pembawa perlengkapan barang-barang yang akan dipakai untuk menggunting. Pemotongan dimulai oleh seseorang yang paling tua dan termuka di dalam masyarakat, hal ini dimaksudkan untuk mendapatkan berkah bagi anak tersebut. Kemudian potongan rambut dimasukkan kedalam air kelapa muda.

(32)

T

OLAK

B

ALA

D

alam

T

raDisi

O

rang

B

ugis

Erika Maulidia

TOLAK bala di percayai oleh sebagian masyarakat, terutama di keluarga saya. Banyak pula masyarakat yang melakukan ritual serupa. Tolak bala ini biasanya di lakukan untuk dijauhkan dari penyakit dan dijauhkan dari hal-hal yang tidak baik. Tolak bala ini adalah tradisi turun temurun, telah dilakukan oleh nenek moyang.

Menurut Hj. Djaenang (70), tolak bala biasanya dilakukan di pagi hari atau di siang hari. Banyak sesajian atau seperti makanan yang akan di gunakan sebagai syarat-syarat untuk melakukan tolak bala ini, dan ada tempat khusus untuk meletakkan makanan tersebut.

Tolak bala ini dipercayai dapat menjauhkan hal-hal yang tidak baik atau penyakit, dan yang lain-lain. Masyarakat hanya mengetahui apa yang mereka tahu. Tolak bala dilakukan sebagian orang dengan cermin cembung, menyembelih hewan dan selamatan bubur merah putih dan lain-lain. Menurut ajaran dan kepercayaan mereka masing-masing dalam melakukan ritual tolak bala ini. Dalam melaksanakan ritual ini ada seorang pemimpin

(33)

yang memimpin ritual tolak bala ini, tidak lupa pemimpin tersebut membaca doa selamat seperti yang di bawah ini:

Allahumma innaanas ‘aluka salamatan fiddiin wa’aafiyatan filjasad wa jizadatan fil’ilmi wa barakatan firrizqi wa taubatan kablalmaut wa rahmatan indalmaut wa magfiratan ba’dalmaut. Allahumma hawwin ‘alaina fii sakaratilmaut wannajaa taminannari wal’afwa ‘indalhisaab. Rabbana laa tujighkuluubanaa ba’daizd hadaitanaa wa hablanaa minladunkarahmatan innaka antalwahhab.

“Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada engkau akan keselamatan Agama dan sehat badan, dan tambahnya ilmu pengetahuan, dan keberkahan dalam rizki dan diampuni sebelum mati, dan mendapat rahmat waktu mati dan mendapat pengampunan sesudah mati. Ya Allah, mudahkan bagi kami menghadapi sakarotul maut, dan selamatkan dari siksa neraka, dan pengampunan waktu hisab.”

Doa Tolak Bala:

Allahumma bihaqqil Fatihah, Wasirril fatihah, Yaa Faarijal hamma, wa Yaa kasyifal ghomma, Yaa Man li ibaadihi yaghfiru wa yarham, Yaa dafi’al bala-i Yaa Allah, wa Yaa dafi’al bala-i Ya rohman wa Yaa dafi’al bala-i Yaa Rohiim. wa sholallohu wa sallama ‘ala khoiri kholqihi. Sayyidina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shohbihi ajma’in. Subhaana robbika robbil izzati amma yashifun. Wasalamun ‘alal mursalin walhamdulillahi robbil ‘alamiin.

Ya Allah, dengan kebenaran Fatihah dan rahasia Al-Fatihah. Wahai sang pembedah kegelisahan, wahai Sang penyingkap kebingungan. Wahai dzat yang mengampuni dan mengasihi para hambanya. Wahai Sang Penolak Bala, Ya Allah. Wahai Sang Penolak Bala, Ya Rahman. Wahai Sang Penolak Bala, Ya Rahim. Shalawat dan salam semoga selalu terlimpah untuk baginda Nabi Muhammad dan para keluarga serta sahabatnya semua. Maha suci Tuhanmu, Yang Memiliki Keperkasaan (Izzah) dari apa yang mereka katakan. Keselamatan semoga dilimpahkan kepada para rasul. Dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

(34)

membaca do’a, setelah membaca do’a tangan ditolakkan ke depan seperti untuk menjauhkan dari bala. Alat-alat yang disiapkan mengiringi tradisi ini biasanya baki atau ceper, kain putih, dan setanggi. Sesajian yang biasa di gunakan untuk ritual tolak bala ini pulut bewarna kuning diletakkaan di atas piring dan diatas pulut diletakkan telur rebus, dan ada juga ayam panggang yang menjadi pelengkapnya.

(35)

T

raDisi

B

EROWAH

O

rang

m

elayu

m

eliau

Erman

PADA suku melayu, khususnya kecamatan Meliau, Kabupaten Sanggau Kalimantan Barat, ada tradisi berowah, yaitu mengadakan selamatan (doa, tahlilan, yasinan) untuk memperingati/ mengenang para arwah keluarga mereka yang sudah meninggal dunia. Tradisi ini dilaksanakan setiap satu tahun sekali yaitu pada bulan Sya’ban. Karenanya kebanyakan masyarakat melayu meliau menyebut bulan sya’ban dengan bulan rowah. Hal ini karena pada bulan Sya’ban itu dilaksanakannya berowah, yaitu tradisi yang sudah menjadi kebiasaan turun menurun pada masyarakat di sini.

Tradisi berowah dilaksanakan pada bulan Sya’ban karena untuk menyambut bulan Ramadhan, yaitu bulan setelah Sya’ban. Bulan ramadhan merupakan bulan yang sangat mulia, bahkan didalam Al-Quran dikatakan bahwa bulan Ramadhan itu lebih baik dari pada seribu bulan. Oleh karena itu untuk menyambut bulan yang mulia ini masyarakat melayu Meliau melaksanakan kegiatan ini, mereka berdoa kepada Allah agar dihindari dari segala bentuk

(36)

bala’, selain itu mereka juga mendoakan para kaum muslimin dan muslimat yang sudah meninggal dunia.

Menurut penulis, tradisi ini memiliki banyak dampak positif yang dapat kita ambil hikmah/ pelajaran. Salah satunya mengingatkan kita akan kematian, yang memang tidak dapat dihindari oleh siapapun, yang tidak dapat diketahui kedatangannya. Serta masih banyak lagi unsur positif lainnya yang akan penulis jelaskan pada bab khusus didalam makalah ini. Kegiatan yang dilakukan pada tradisi ini juga tidak ada yang bertentangan syari’at Islam. kegiatan tersebut seperti, tahlilan, yasinan, serta membacakan beberapa doa sperti doa arwah, doa tolak bala, dan doa selamat.

Berowah jika diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia yaitu berarwah. Dapat kita lihat bersama bahwa dalam istilah ini terdapat kata Arwah, istilah ini banyak pendapat yang mengartikannya, seperti didalam sebuah artikel disitus internet mengartikan bahwa roh/ arwah (dalam bentuk jama’nya) adalah unsur non materi yang ada dalam jasad yang diciptakan oleh Tuhan sebagai penyebab adanya kehidupan. (http//id.m.wikipedia.org). Sedangkan Risa Saraswati didalam situs internetnya mengatakan bahwa arwah adalah ruh, jiwa yang telah mati..(www.risasaraswati.com).

Berowah dalam tradisi masyrakat melayu Meliau memang identik dengan mengenang para arwah, mengingat/ memperingati para arwah,yaitu dengan cara mengadakan selamatan (mendoakan para arwah). Secara umum masyarakat melayu Meliau mengartikan berowah sebagai nama untuk sebuah kegiatan yang dilakukan untuk mendoakan para arwah/ orang-orang yang telah meninggal dunia, selain itu ada juga yang mengartikan yaitu mengadakan selamatan (doa, pengajian) untuk memperingati orang yang sudah meninggal dunia.

(37)

Ramadhan merupakan bulan yang sangat suci, bulan yang sangat mulia, bahkan lebih mulia dari pada seribu bulan. Oleh karena itu, untuk menyambutnya masyarakat setempat melaksanakan kegiatan yang dinamakan berowah, yaitu mendoakan para keluarga-keluarga mereka, kerabat-kerabat mereka, bahkan seluruh umat islam yang sudah meniggal dunia mendahului merekapun didoakan.

Ketika melaksanakan kegiatan ini tuan rumah biasanya mengundang kerabat-kerbat dekat, tetangga, serta para pemuka agama. Hal ini dilakukan karena mengingat bahwa kegiatan ini dilakukan untuk mendoakan para arwah, oleh karena itu semakin banyak orang yang diundang maka akan semakin banyak pula orang yang mendoakan arwah tersebut. Selain itu hal ini juga bertujuan untuk memper-erat hubungan shilaturahmi, antara tuan rumah dengan para tamu undangan, dan sebaliknya.

Pada penghujung acara ini, biasanya tuan rumah akan menghidangkan sedikit makanan untuk para tamu undangannya. Makanan ini biasanya dihidangkan ketika para jamaah selesai membacakan doa. makanan tersebut biasanya berupa nasi yang sudah dilengkapi dengan beberapa lauk yang siap untuk disantap. Hal ini bertujuan untuk mewujudkan bentuk rasa syukur mereka kepada Allah SWT. Yaitu dengan cara saling berbagi antara tuan rumah dengan para tamu undangan. Uniknya lagi, makanan tersebut dimasak secara bersama-sama antara tuan rumah dan para tetangga yang memang sudah diundang sebelunya untuk membantu dalam mempersiapkan makanan tersebut. Hal ini menunjukan adanya rasa kebersamaan dalam bertetangga, inilah yang membuat kegiatan ini menjadi unik.

(38)

sudi untuk hadir dalam acara berowah yang mereka laksanakan, setelah itu tuan rumah mempersilahkan kepada pemuka agama setempat untuk memimpin berlangsungnya acara tersebut. (2) Yasinan dan Tahlilan. Setelah tuan rumah mempersilahkan kepada pemuka agama untuk memimpin acara tersebut, maka acara pun akan segera berlangsung. Pemuka agama akan memimpin para jama’ah untuk membacakan yasin serta tahlil, dengan mengkhususkan bacaan tersebut kepada keluarga tuan rumah yang sudah meninggal, serta kepada seluruh umat islam yang sudah meninggal dunia. (3) Pembacaan doa. Pembacaan doa juga sama dipimpin oleh pemuka agama yang hadir pada acara tersebut, bisa dipimpin oleh pemuka agama yang memimpin yasin dan tahlil bisa juga pemuka agama yang lainnya. Do’a yang biasa dibacakan adalah do’a arwah, doa selamat, dan doa tolak bala.

Tradisi berowah tentunya memiliki banyak nilai-nilai yang dapat kita ambil hikmah serta kita jadikan pelajaran. Berikut penulis akan jelaskan nilai-nilai yang ada pada tradisi berowah, yakni sebagai berikut:

Pertama, kebersamaan dan kekompakan. Dalam tradisi ini kita akan merasakan kebersamaan dan kekompakan di antara jamaah yang mengikuti kegiatan ini, karena ketika kegiatan ini dilaksanakan biasanya tuan rumah (orang yang mengadakan acara berowah) akan mengundang tetangga-tetangganya, kerabat-kerabatnya, serta para pemuka agama (Islam). Hal ini tentunya akan menjadi suatu kebiasaan yang positif. Bagaimana tidak, jika sebuah desa memiliki kebersamaan serta kekompakan yang tinggi, besar kemungkinan desa tersebut akan menjadi desa yang maju, damai, serta tentram karena tidak ada perbedaan antara satu sama lain. Sebagaimana yang dijelaskan didalam Al-Quran surah an-Nisa ayat 28 bahwa manusia itu adalah mahluk yang lemah. Oleh karena itu kita dianjurka agar hidup di dalam kebersamaan sebagaimana

(39)

akan berkumpul untuk menghadiri acara ini, oleh karena itu tidak menutup kemungkinan bagi masyarakat untuk melakukan musyawarah. Tentunya musyawarah di dalam hal yang positif, seperti tentang pembangunan desa dan lain sebagainya. Di dalam Islam sangat banyak dalil yang menjelaskan tentang anjuran serta keutamaan dari bermusyawarah, di antaranya: “dan bagi orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan shalat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musywarah antar mereka.” (QS.

Asy-Syura [42]: 38)

Ketiga, bersyukur kepada Allah SWT. Mewujudkan rasa syukur kepada Allah SWT sudah pasti ada pada tradisi ini, karena pada dasarnya tujuan daripada tradisi ini adalah berdoa kepada Allah, mendoakan orang yang telah meninggal dunia mendahului kita. Hal ini sudah pasti merupakan wujud rasa syukur kita kepada Allah SWT karena masih diberikan kehidupan oleh Allah SWT, yakni dengan cara mendoakan orang-orang yang sudah meninggal dunia mendahului kita. “Dan ketika tuhanmu memaklumi, barang siapa yang mensyukuri nikmatKu maka akan Ku tambah nikmat bagimu, dan barang siapa yang mengkufuru nikmatKu sungguh adzabKu sangatlah perih.” (QS. Ibrahim: 7)

Keempat, membiasakan bersedekah. Dalam ajaran Islam kita sangat dianjurkan untuk bersedekah sebagai bentuk dari rasa syukur kita kepada Allah SWT. Pada tradisi ini tuan rumah/ orang yang mengadakan kegiatan pasti akan menyediakan makanan untuk para tamu undangan, hal inilah yang merupakan bentuk dari sedekah yang ada pada tradisi ini. Di dalam Al-Quran dijelaskan bahwa jika kita bersedekah, maka sedekah kita akan dilipat gandakan oleh Allah SWT. “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya dijalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjran) bagi siapa yang Dia dikehendaki. Dan Allah maha luas (karunia-NYa ) lagi maha mengetahui.”( QS.

(40)

Kelima, mengingat pada kematian. Tujuan utama dari kegiatan ini adalah mendoakan para arwah kau muslim dan muslimat yang sudah meninggal dunia. Ketika kita mendoakan orang yang sudah meninggal, tentunya kita ingat akan adanya

kematian bagi setiap mahluk yang bernyawa. Sebagai mana fiman

(41)

P

OPAT

A

SAM

O

rang

m

elayu

m

elawi

Fitri Nuraini

Budaya Popat Asam menjadi saalah satu tema pada tulisan ini, adalah tradisi pada masyarakat Tanjung Tengang di Kabupaten Melawi. Popat asam terdiri dari dua kata, yang pertama popat yang berarti memotong dan asam berarti buah asam. Popat Asam selain sebagai budaya juga merupakan adat istiadat yang sudah terjadi pada masa lalu. Sampai sekarang ini masih tetap dipertahankan dan dipopulerkan.

Tradisi tujuh bulanan atau disebut juga popat asam yaitu upacara tradisional selamatan terhadap bayi yang masih dalam kandungan. Masyarakat yang ada di Melawi sangat menjunjung tinggi nilai-nilai kebudayaan, sampai-sampai ada kebudayaan yang sekarang ini masih asli keberadaannya. Popat Asam tidak bisa dihilangkan, karena bagi masyarakat Melawi popat asam memiliki nilai-nilai tersendiri.

Popat asam merupakan sebuah kebudayaan turun temurun yang dijadikan masyarakat Melawi sebagai adat istiadat yang bisa dikatakan sudah mendarah daging. Upacara ini dilaksanakan pada

(42)

usia kehamilan tujuh bulan dan pada kehamilan pertama kali. Upacara ini merupakan perwujudan dari rasa syukur, pada upacara ini seorang ibu ditaburi dengan beras kuning serta setiap orang yang hadir mendatangi sang ibu serta menaruh gunting dimulut ibu supaya ibu menggigit gunting tersebut. Masyarakat yang hadir serta keluarga dari belah pihak suami istri berdoa memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa agar selalu diberikan rahmat dan berkah sehinngga bayi yang dilahirkan selamat dan sehat.

Seperti kita ketahui seseorang dapat dikatakan sebagai seorang yang bersyukur jika di dalam dirinya terdapat tiga unsur, yaitu mengakui kenikmatan yang diberikan oleh Allah dalam hatinya, mengucapkannya dengan lisan, dan mengimplementasikan perasaan syukur tersebut dengan perbuatan. Popat asam dengan demikian adalah ungkapan syukur.

Pak Alan (52) seorang tokoh masyarakat menyebutkan bahwasannya popat asam sudah dilakukan sejak zaman dulu. Tradisi ini lahir sehubungan dengan keyakinan warga bahwa apabila seorang ibu hamil maka untuk menghindari bencana ia harus mengadakan popat asam. Serangkaian acara tujuh bulanan dilakukan juga berbagai kegiatan tradisional yang tidak hanya dilakukan oleh istri tetapi juga oleh suami, di antaranya istri duduk bersampingan dengan suami dengan menduduki beras yang sudah ditakar dan ditutupi dengan kain panjang. Telur ayam kampung dimasukkan kedalam kain calon ibu hingga telurnya pecah. Kemudian suami dan istri tersebut akan disuapi oleh orang tua dari kedua belah pihak dengan campuran asam dan cabe yang sudah diulek. Masing-masing suami dan istri mendapat jatah memakan rujak yang sudah dibentuk bulat sebanyak tujuh kali tanpa meminum air sebelum rujak tersebut habis ditelan. Kemudian setelah disuapi oleh kedua orang tua dari kedua belah pihak barulah orang yang hadir boleh memakan rujak tersebut.

(43)

Lebih spesifik dalam pembacaan ayat suci Al-Quran ketika popat asam, dianjurkan untuk membaca surah Luqman, khususnya ayat yang ke 12-19.

Tujuan membacakan ayat tersebut tentu saja mengambil ibrah dari isi ayatnya, yang berkisah tentang seorang ayah yang bernama Luqman kepada anaknya dia didik dengan pendidikan aqidah atau keimanan, pendidikan ibadah, serta pendidikan akhlak. Selain pembacaan ayat tersebut, juga para masyarakat yang hadir senantiasa memanjatkan doa yang baik untuk masa depan si jabang bayi. Memohon kepada Allah agar ditentukan rezeki yang halal, luas, berkah, dan mudah dalam meraihnya. Serta agar jabang bayi tersebut diberikan umur yang berkah, senantiasa dalam ketaatan, dan mampu memberikan manfaat kepada orang lain, tidak menjadi orang yang pelit baik harta dan ilmu serta dimatikan dalam keadaan khusnul khatimah.

Sebuah kebudayaan tentu memiliki proses dan tata cara ritual yang dianggap memiliki kekuatan yang dapat menjadi penggerak kehidupan mereka. Dalam dunia pendidikan isi dari sebuah kebudayaan yang ada di masyarakat penting untuk dibicarakan, tujuannya agar kita mengetahui sebuah budaya secara menyeluruh. Sudah menjadi hal yang lumrah, bila kehadiran buah hati adalah seesuatu yang sangat diharapkan pasangan suami istri, sehingga ketika sang istri tercinta hamil mereka mengadakan acara-acara tertentu demi kebaikan sang buah hati. Secara khusus

tidak ditemukan dasar dalam syariat. Dalam fiqih disampaikan

bahwa apabila dalam kegiatan tersebut tidak terdapat hal-hal yang dilarang agama bahkan merupakan kebajikan seperti berbagi, maka hukumnya diperbolehkan.

(44)

syukur sorang hamba kepada tuhannya, Allah swt yang telah memberikan anugerah dengan memberikan amanah berupa seorang buah hati, anak; (2) sebagai pendidikan prenatal (pendidikan sebelum lahir) bagi janin yang mulai hidup atau mulai diberi ruh, yang kelak bertujuan agar sang buah hati menjadi anak yang sholeh/sholeha serta faham akan budaya.

Niat baik inipun harus disertai dengan cara-cara peringatan yang baik. Artinya peringatan tujuh bulanan diisi dengan membaca doa selamat. Popat asam mengandung beberapa hikmah, di antaranya sebagai berikut: (1) sebagai tanda syukur kepada Allah swt karena telah dikaruniai anak; (2) secara tidak langsung mengabarkan kepada masyarakat atau kerabat tentang anugerah yang dikaruniakan oleh Allah Swt; (3) mengawali kehidupan anak dengan perkara-perkara kebaikan; (4) mempererat hubungan silaturahim antaranggota masyarakat.

(45)

T

raDisi

L

INGGANG

K

ANDUNG

O

RANG

M

ELAYU

P

UTUSSIBAU

Hanafi

ISLAM berkembang pesat di Kapuas Hulu, sejak tahun 150 tahun lalu agama samawi ini diterima oleh penduduk setempat. Menjadi anutan mendampingi kepercayaan lama yang mereka miliki. Jumlah penduduk Islam mencapai 56 persen dari jumlah penduduk Kapuas Hulu, bahkan dialiran sungai umat islam di Kapuas Hulu mencapai 100 persen. Van Kessel asal orang Belanda, dia melewati ke Kapuas Hulu pertengahan abad ke-19 atau sekitar tahun 1840. Waktu itu dia melaporkan penduduk Selimbau, Embau, Silat, dll (dalam wilayah Kapuas Hulu sekarang) sudah memeluk agama Islam. Dia hanya menyebutkan diperkirakan orang–orang di sini masuk islam beberapa tahun sebelum kedatangannya.

Orang Melayu Putussibau beragama Islam dan masih mengandalkan tradisi lama di antaranya linggang kandung. Linggang kandung adalah buah dari akulturasi Islam dan budaya local masyarakat setempat. Kata linggang kandung adalah istilah masyarakat melayu putussibau. Kegiatan ini turun-temurun dilakukan sejak

(46)

nenek moyang, sampai akhirnya masih sering diikuti oleh anak cucunya sampai dengan masa sekarang. Linggang kandung berasal dari dua kata linggang dan kandung. Kata linggang dapat diartikan menggoyang-goyang sedangkan kandung artinya kandungan atau orang yang lagi hamil. Jadi linggang kandung dapat didefinisikan adalah suatu kegiatan yang dilakukan ketika seorang ibu hamil menginjak usia kehamilan 4 bulan dan 8 bulan. Dilinggangkan di atas kain yang di pegang oleh dua orang.

Beberapa alat/bahan yang menyertai prosesi linggang kandung: (1) Beras putih;1 (2) Beras kuning;2 (3) Telur ayam kampung;3 (4)

Air yang dicampur dengan bedak;4 (5) Kain 4 dan 8 lembar; (6)

Mangkok atau wadah kecil; (7) Siken (pisau kecil) atau Gunting;5

(8) Daun cabang juaran;

1 Beras putih yang digunakan dalam kegiatan linggang kandung ini jum-lahnya sebanyak bulan kehamilan si ibu kandung tersebut. Misalnya 4 bulan kehamilan maka jumlah beras putih tersebut 4 muk (4 canting), dan apabila kehamilan menginjak 8 bulan, maka jumlah beras putih 8 muk (8 canting). Beras putih ini sendiri dijadikan syarat di dalam linggang kandung. Kemudian makna nya belum diketahui secara jelas.

2 Beras kuning yang digunakan dalam kegiatan linggang kandung ini jumlah nya hanya sedikit dibandingkan beras putih, hanya setengah magkuk kaca saja. Beras kunig ini juga sebagai syarat, yang di taburkan diatas kepala suami istri tersebut.

3 Telur yang digunakan dalam linggang kandung ini adalah telur ayam kampung atau telur hilir. Yang jumlahnya hanya 1 butir saja. Tidak di perbo-lehkan menggunakan telur hilir. Sebagai syarat dalam prosesi ini, kemudian maknanya belum diketahui secara pasti juga. Karena kekurangan informasi.

4 Syarat yang keempat adalah air yang dicampur dengan bedak, kita belum mengetahui alasan kenapa menggunakan air bedak ini. Air ini di gunakan untuk menepis-nepis ke badan suami istri tersebut dengan menggunakan daun cabang juaran.

(47)

Gambar 9.1 Alat/ bahan yang mesti disiapkan menyertai prosesi

(48)

ini biasanya dilakukan pada saat usia kehamilan sudah menginjak 4 bulan dan 8 bulan. Pada saat kehamilan itulah dilaksanakan linggang kandung.

Setelah semuanya siap, hal yang pertama dilakukan adalah menghamparkan kain yang telah dimasukkan beras di dalamnya ke lantai. Adapun jumlah kain yang dihamparkan tadi yaitu sesuai dengan usia kehamilan ibu hamil tersebut. Misalnya usia kehamilannya 4 bulan, maka yang dihamparkan 4 lembar kain. Jikalau usia kehamilannya 8 bulan maka yang dihamparkan 8 lembar kain. Begitu juga dengan beras putih yang di masukan kedalam kain, yaitu sebanyak usia kehamilan misalnya usia 4 bulan, maka yang di masukan kedalam kain itu 4 muk (canting), kemudian kalau usianya 8 bulan maka yang dimasukkan 8 muk (canting). Setelah itu wanita yang hamil dan suaminya itu duduk di atas kain itu.

(49)

yang berbaring di atas kain tadi, secara perlahan-lahan.

Acara ditutup dengan doa selamat dan doa sapu jagad, agar bayi yang didalam kandungan tersebut selamat beserta keluarga dan orang yang hadir tersebut, sampai melahirkan nanti. Nilai-nilai positif dalam linggang kandung dijelaskan di bawah ini.

Pertama, Silaturahmi. Dari Abu Ayyub Al Anshori, Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya tentang amalan yang dapat memasukkan ke dalam surga, lantas Rasul menjawab, “Sembahlah Allah, janganlah berbuat syirik pada-Nya, dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan jalinlah tali silaturahmi (dengan orang tua dan kerabat).” (HR. Bukhari no. 5983). Hadist ini menekankan betapa penting nya menyambung hubungan silaturahmi antara sesama umat manusia, dan yang lebih utama lagi adalah dengan orang tua dan tetangga dekat kita.

Kedua, Bersyukur. Para ulama menjelaskan bahwa seseorang dinamakan bersyukur ketika ia memenuhi 3 rukun syukur: (a) mengakui nikmat tersebut secara batin (dalam hati), (b) membicarakan nikmat tersebut secara zhohir (dalam lisan), dan (c) menggunakan nikmat tersebut pada tempat-tempat yang diridhoi Allah (dengan anggota badan). Ibnu Taimiyah sebagaimana dalam Majmu’ al-Fatawa menyatakan, “Syukur haruslah dijalani dengan mengakui nikmat dalam hati, dalam lisan dan menggunakan nikmat tersebut dalam anggota badan.” Firman Allah SWT: “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.” (QS. Ibrahim: 7).

Ketiga, Sedekah. Pada linggang kandung biasanya keluarga yang melaksanakan kegiatan tersebut memberi makan kepada tamu atau keluarga yang datang pada di akhir acara. Rasulullah SAW bersabda, “Bersegeralah bersedekah, sebab yang namanya bala’ tidak pernah bisa mendahului sedekah.”

(50)

seefisien mungkin. Punya banyak daya beli namun tidak membeli

banyak sesuatu yang tak perlu. Kesederhanaan yang ini benar-benar mengikuti aturan Islam seperti sesuai dengan Firman Allah dalam Surat Al-Isra ayat 26-27: “Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.” Nilai-nilai kesederhanaan juga terdapat juga didalam acara linggang kandung masyarakat melayu putussibau. Hal ini tentu saja yang kita harus pertahankan, supaya kita tidak menjadi orang yang boros. Karena kita tahu bahwa orang yang boros itu teman setan.

(51)

O

RANG

M

ELAYU

P

ONTIANAK

D

alam

m

erayakan

I

DUL

F

ITRI

Harry Kurniawan

LEBARAN atau hari raya idul fitri merupakan hari besar yang

dinanti-nantikan oleh umat Islam di dunia, karena merupakan hari kemenangan bagi umat islam setelah sebulan berpuasa di bulan ramadhan. Di Pontianak lebaran sudah merupakan suatu kebiasaan atau adat dimana masyarakat sibuk menyiapkan semuanya, seperti makan-makanan hari raya misalnya ketupat, opor ayam, kue-kue kecil, dan lain-lain. Di hari lebaran masyarakat muslim di Pontianak biasanya melakukan mudik, yaitu orang yang bekerja di luar kota dan akibat mudik tersebut jalan-jalandi indonesia macet total. Pada hari lebaran masyarakat muslim Pontianak saling bersilaturahmi dan saling memaafkan kesalahan masing-masing.

Liburan lebaran di Pontianak juga sering dijadikan moment untuk berkumpul dengan keluarga, teman, dan rekan jauh. Di hari biasa mereka biasanya sibuk dengan aktivitas dan pekerjaan mereka masing-masing, sehingga lebaran menjadi hari yang sangat spesial. Ini berlangsung sebulan penuh.

(52)

Gambar 10.1 Ketupat dan Tradisi Meriam Karbit Menyertai Lebaran di Pontianak

Lebaran adalah istilah untuk menyebut hari raya idul fitri.

Idul Fitri adalah hari raya umat Islam yang jatuh pada tanggal 1 Syawal pada penanggalan Hijriyah. Karena penentuan 1 Syawal yang berdasarkan peredaran bulan tersebut, maka Idul Fitri atau hari raya puasa jatuh pada tanggal yang berbeda-beda setiap tahunnya apabila dilihat dari penanggalan masehi. Cara menentukan 1 Syawal juga bervariasi, sehingga boleh jadi ada sebagian umat Islam yang merayakannya pada tanggal Masehi yang berbeda. Hal ini juga menyebabkan sebagian orang Melayu Pontianak memperingatinya “terkadang berbeda hari”, mengikuti pemerintah atau organisasi social keagamaan tertentu.

(53)

salat sunnah Idul Fitri, kaum muslimin Pontianak seperti umat Islam pada umumnya dikenakan kewajiban membayar zakat

fitrah sebanyak 2,5 kilogram bahan pangan pokok. Tujuan dari zakat fitrah sendiri adalah untuk memberi kebahagiaan pada kaum

(54)

M

AKANAN

K

HAS

M

ADURA

P

ONTIANAK

Homsatun

INDONESIA mempunyai makanan-makanan tradisional yang di miliki oleh masing-masing suku yang ada di Indonesia. Makanan khas Madura di antaranya ikut andil dalam memperkaya khazanah makanan nusantara. Sate, Cucor, dan kue dodol adalah makanan khas Madura itu. Tapi, senyatanya makanan-makanan ini mempunyai kandungan filosofis tersendiri.

Menurut pengamatan penulis pada acara-acara tertentu suku bangsa Madura1 Pontianak tidak terlepas dari beberapa makanan

1 Nama Madura mungkin pula diilhami dan diambilkan dari Madura, sebutan suatu daerah berwanda serupa di India Selatan yang juga beriklim ker-ing. Penamaan sedemikian bukanlah suatu keanehan, sebab beberapa nama tempat lain di Indonesia seperti, Malabar, Narmada, Serayu, Sunda, dan Taruma, memang persis sama dengan nama geografi di India. Di kalangan masyarakat awam berkembang asal usul nama Madura yang direka-reka sebagai suatu ungkapan yang dikaitkan dengan mitologi dan legenda setempat. Dikenal di kalangan masyarakat Madura sendiri. Madura berasal dari kata di antaranya adalah maddhunah saghara (madu segara/laut), maddhu e ra – ara (madu di tanah lapang), maddhunah dara (madu darah), madara (berdarah), paddhu ara (dari dari bahasa Jawa Kawi, yang berarti pojok tanah berair, atau tapak di pojok Jawa),

(55)
(56)

Muhammad Saw, atau acara lainnya seperti tujuh bulanan. Suku bangsa Madura Pontianak menyakini bahwa jika dalam setiap acara beberapa dari makanan tersebut seperti cucor dan dodol tidak disajikan maka orang yang mengadakan acara tersebut tidak cinta dengan sukunya sendiri. Kue-kue tersebut melambangkan bahwa suku Madura cinta akan kemakmuran. Sehingga hampir disetiap acara dalam suku bangsa Madura Pontianak kue tersebut selalu disajikan.

Hari ini, pembuatan kue-kue tersebut suku bangsa Madura Pontianak membuatnya dengan alat-alat moderen namun. Namun ada juga sebagian dari masyarakat Madura yang masih memakai cara atau alat yang tradisional. Suku bangsa Madura tidak hanya memiliki makanan tradisional saja, namun suku Madura memiliki seni budaya lainnya. Seperti budaya “karapan sapi” yang dilakukan setiap mereka habis panen seni lainnya seperti nyanyian tradisional. “olee olang”.

Bagian ini dimaksudkan untuk memberikan gambaran secara umum mengenai makanan khas suku bangsa Madura Pontianak. Sehingga suku bangsa lainnya mengetahui bahwa suku Madura juga memiliki makanan khas tradisional.

FILOSOFI MAKANAN KHAS MADURA Sate

Kata “Satte” biasa masyarakat Madura menyebutnya juga merupakan salah satu makanan yang mendunia sejajar dengan makanan lainnya yang mendunia seperti makanan khas padang yaitu rendang, bakso, makanan khas masyarakat jawa, nasi goreng, dan makanan makanan yang lainya. Menurut Nuraini salah satu penjual sate makanan khas Madura Pontianak menyatakan bahwa

(57)

awal mulanya makanan satte yaitu ada salah satu suku bangsa Madura yang tersesat didalam hutan dan tidak memiliki makanan apapun dan akhirnya memilih untuk mencari seekor kelinci untuk dimakan namun karena pada saat itu suku bangsa Madura hanya sekitar 20 persen yang menyukai hewan kelinci maka digantilah dengan seekor ayam, dan jadilah satte ayam. Demikian hasil wawancara pada tanggal 20/ 03/2015.

Menurut Nurhayati salah satu masyarakat Madura yang juga berprofesi sebagai penjual sate yang menyatakan bahwa, sate merupakan makanan khas suku Madura yang terbuat dari potongan daging, biasanya yang dipakai daging kambing, sapi, dan ayam. Daging tersebut dipotong sebesar ibu jari, kemudian ditusuk denagan bambu sebesar lidi, kemudian dibakar diatas bara api dari arang, kemudian disajikan dengan berbagai macam variasi bumbu yang terbuat dari kacang tanah dihaluskan, dicampur dengan kecap dan bawang merah. Satte disajikan dengan nasi hangat juga dengan lontong, kemudian ditambahkan kemiri. (Wawancara di Pontianak tanggal 20/03/2015.

Cucor

(58)

dari suku bangsa Madura dan memiliki seorang anak yang cantik atas kelahiran anak pertama anak ini sang ayah dan ibu ingin mengungkapkan rasa syukur atas anugrah yang diberikan oleh Allah Swt. Dengan mengadakan suatu acara yang sederhana namun tidak memiliki biaya untuk mengadakan acara tersebut dan akhirnya sang istri hanya memiliki gandum, gula merah,dan kemudian dibuatlah dengan sederhana sehingga menjadi kue cucor.

Cucor atau Kocor (bahasa Madura) merupakan makanan yang terbuat dari gula merah tepung terigu dicampur dengan tepung beras hingga merata didiamkan selama beberapa menit. Kue cucor juga memiliki bermacam-macam warna sesuai dengan keinginan. Sampai saat ini belum ada data akurat mengenai

filosofis makanan khas Madura yaitu kue cucor, atau masyarakat suku bangsa Madura Pontianak menyebutnya kocor.

Menurut Muhriya salah satu masyarakat asli Madura Pontianak menyatakan bahwa cucor atau kocor ada sejak pulau Madura didiami oleh suku Madura. Dan dibuat dengan cara yang tradisional tanpa memakai cetakan kue lain pada umumnya. (wawancara sungai ambawang tanggal 20/03/2015.

(59)

dibuat dengan cara tradisional bahkan sampai saat ini. Dilihat dari tekstur kue cucor sendiri memiliki keunikan yaitu pada tepian kue cucor yang berbentuk lingkaran bulat dan menggelembung.

Dodol

Pada zaman dahulu kala suku bangsa Madura mengadakan sebuah acara pernikahan yang terdiri satu keluarga laki-laki dan satu keluarga perempuan dalam tradisi suku bangsa Madura pada acara pernikahan pihak dari laki-laki akan membawakan bermacam-macam kue salah satunya adalah dodol. Singkat cerita di rumah laki-laki tersebut para kaum wanita membuat kue kecuali dodol, dan para kaum laki-laki bingung tidak memiliki pekerjaan dan akhirnya calon pengantin dari pihak laki-laki berinisiatif ingin membuat sebuah kue dan akhirnya menghampiri kaum wanita dan meminta tepung beras, gula jawa dan santan yang kemudian para kaum laki-laki tersebut bersama-sama membuat kue tersebut, dan akhirnya dinamakan jue dodol.

(60)
(61)

12

T

raDisi

T

UMBANG

A

PAM

O

rang

m

elayu

B

anjar

Irvan

PENYELENGARAAN tradisi tumbang apam bagi orang Banjar dianggap sebagai penyampaiaan pesan kepada Sang Pencipta. Tradisi tumbang apam ini diselenggarakan atas rasa syukur kepada Sang Pencipta yang telah memberikan rejeki dan kesehatan. Tidak mengherankan bagi suku Banjar apabila ada hajatan atau keinginan mereka pasti melakukan ritual tumbang apam tersebut sebagai bentuk syukurnya karena diberikan kesehatan dan menginginkan hajatan yang akan dilaksanakan berjalan dengan lancar.

(62)

Pelaksanaan tumbang apam dipimpin oleh seorang sampang atau pemimpin. Seorang sampang tersebut harus bisa menguasai suasana pada saat ritual sedang berlangsung, sebagai bentuk syukur kepada Sang Pencipta di dunia ini. Pelaksanaanya dipimpin oleh sesepuh yang tahu.

Adapun yang menjadi perlengkapan tradisi tumbang apam adalah sebagai berikut: (1) Dua batang pelepah kelapa yang diukur setinggi orang yang akan melakukan tradisi ini; (2) Berteh beras kuning (yang melambangkan mas atau perak); (3) Lilin sambang (lilin yang terbuat dari kain yang dilumuri lilin kuning); (4) Setanggi atau dupa; (5) Lima helai kain dan uang perak yang diletakan dibawah kain; (6) Apam tiga warna, terdiri dari: kuning (terbuat dari kunyit), merah (terbuat dari gula merah), dan putih (dari tepung beras); (7) Tepung tawar; (8) Air tolak bala (dua buah terdiri dari air parit dan air hujan); dan (9) Minyak bauk.

Gambar 12.1 Perlengkapan tradisi tumbang apam

Gambar

Gambar 1.1 Minyak bauk, bereteh, beras kuning, dan daun baru’
Gambar 2.2. Prosesi Betangas
Gambar 9.1 Alat/ bahan  yang  mesti
Gambar 10.1 Ketupat dan Tradisi Meriam Karbit
+7

Referensi

Dokumen terkait

iklan, rating juga dilihat dari sasaran. Proses evaluasi program acara Jejak Islam yang dilakukan oleh pengelola. yang dipimpin oleh produser melihat faktor keberhasilan dari

Lahirnya UU perbankan ter- sebut memperjelas sistem operasional per bank- an syariah, yaitu berdasarkan prinsip syariah, sehingga lembaga yang berwenang dapat meng- awasi

Jadi, Pada acara-acara perayaan tertentu yang diadakan oleh pemeluk agama yang lain yang sekiranya warga yang lain biasa membantu meskipun berbeda keyakinan,

Diharapkan bahwa gerakan nasional tersebut akan mampu menghasilkan tatanan sosial di mana kekuasaan tertinggi di negeri ini dipimpin oleh figur yang 'takut' pada Allah swt,

Bahasa mereka pun murni dan terpelihara dari kerusakan bahasa yang disebabkan oleh percampuran dengan bangsa-bangsa lain seperti yang terjadi pada bahasa penduduk negeri.. Oleh

Menurut masyarakat Kecamatan Binamu Kabupaten Jeneponto tradisi Passili merupakan suatu proses yang dilakukan sebelum melakukan acara pernikahan yang di tuntun

red) terlihat sangat jelas, berdasarkan sen- sus yang dilakukan oleh BPS 2003, sekitar 177 juta penduduk Indonesia beragama Islam, dan sekitar 23 juta penganut 4

Dengan membiasakan diri untuk selalu mencuci tangan, tanpa sadar menolong orang yang ada di sekitar juga karena bisa meminimalisir virus dan penyakit yang biasa terjadi akibat kurang