• Tidak ada hasil yang ditemukan

T OLAK B ALA ’

Dalam dokumen Tradisi dan Kepercayaan Umat Islam di Ka (Halaman 32-41)

D

alam

T

raDisi

O

rang

B

ugis

Erika Maulidia

TOLAK bala di percayai oleh sebagian masyarakat, terutama di keluarga saya. Banyak pula masyarakat yang melakukan ritual serupa. Tolak bala ini biasanya di lakukan untuk dijauhkan dari penyakit dan dijauhkan dari hal-hal yang tidak baik. Tolak bala ini adalah tradisi turun temurun, telah dilakukan oleh nenek moyang.

Menurut Hj. Djaenang (70), tolak bala biasanya dilakukan di pagi hari atau di siang hari. Banyak sesajian atau seperti makanan yang akan di gunakan sebagai syarat-syarat untuk melakukan tolak bala ini, dan ada tempat khusus untuk meletakkan makanan tersebut.

Tolak bala ini dipercayai dapat menjauhkan hal-hal yang tidak baik atau penyakit, dan yang lain-lain. Masyarakat hanya mengetahui apa yang mereka tahu. Tolak bala dilakukan sebagian orang dengan cermin cembung, menyembelih hewan dan selamatan bubur merah putih dan lain-lain. Menurut ajaran dan kepercayaan mereka masing-masing dalam melakukan ritual tolak bala ini. Dalam melaksanakan ritual ini ada seorang pemimpin

yang memimpin ritual tolak bala ini, tidak lupa pemimpin tersebut membaca doa selamat seperti yang di bawah ini:

Allahumma innaanas ‘aluka salamatan fiddiin wa’aafiyatan filjasad wa jizadatan fil’ilmi wa barakatan firrizqi wa taubatan kablalmaut wa rahmatan indalmaut wa magfiratan ba’dalmaut. Allahumma hawwin ‘alaina fii sakaratilmaut wannajaa taminannari wal’afwa ‘indalhisaab. Rabbana laa tujighkuluubanaa ba’daizd hadaitanaa wa hablanaa minladunkarahmatan innaka antalwahhab.

“Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada engkau akan keselamatan Agama dan sehat badan, dan tambahnya ilmu pengetahuan, dan keberkahan dalam rizki dan diampuni sebelum mati, dan mendapat rahmat waktu mati dan mendapat pengampunan sesudah mati. Ya Allah, mudahkan bagi kami menghadapi sakarotul maut, dan selamatkan dari siksa neraka, dan pengampunan waktu hisab.”

Doa Tolak Bala:

Allahumma bihaqqil Fatihah, Wasirril fatihah, Yaa Faarijal hamma, wa Yaa kasyifal ghomma, Yaa Man li ibaadihi yaghfiru wa yarham, Yaa dafi’al bala-i Yaa Allah, wa Yaa dafi’al bala-i Ya rohman wa Yaa dafi’al bala-i Yaa Rohiim. wa sholallohu wa sallama ‘ala khoiri kholqihi. Sayyidina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shohbihi ajma’in. Subhaana robbika robbil izzati amma yashifun. Wasalamun ‘alal mursalin walhamdulillahi robbil ‘alamiin.

Ya Allah, dengan kebenaran Al-Fatihah dan rahasia Al- Fatihah. Wahai sang pembedah kegelisahan, wahai Sang penyingkap kebingungan. Wahai dzat yang mengampuni dan mengasihi para hambanya. Wahai Sang Penolak Bala, Ya Allah. Wahai Sang Penolak Bala, Ya Rahman. Wahai Sang Penolak Bala, Ya Rahim. Shalawat dan salam semoga selalu terlimpah untuk baginda Nabi Muhammad dan para keluarga serta sahabatnya semua. Maha suci Tuhanmu, Yang Memiliki Keperkasaan (Izzah) dari apa yang mereka katakan. Keselamatan semoga dilimpahkan kepada para rasul. Dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

membaca do’a, setelah membaca do’a tangan ditolakkan ke depan seperti untuk menjauhkan dari bala. Alat-alat yang disiapkan mengiringi tradisi ini biasanya baki atau ceper, kain putih, dan setanggi. Sesajian yang biasa di gunakan untuk ritual tolak bala ini pulut bewarna kuning diletakkaan di atas piring dan diatas pulut diletakkan telur rebus, dan ada juga ayam panggang yang menjadi pelengkapnya.

Nilai positif yang terkandung dalam tolak bala ini: (1) kita dapat mendekatkan diri kapada Sang Pencipta; (2) meningkatkan keimanan serta ketaqwaan kita kepada Allah SWT; (3) memohon pertolongan dari Allah SWT. Dalam melakukan ritual ini bukan bermaksud untuk perbuatan syirik, tetapi ritual ini hanya sebagai pelantara dan rasa syukur atas kenikmatan yang telah Allah berikan.***

T

raDisi

B

EROWAH

O

rang

m

elayu

m

eliau

Erman

PADA suku melayu, khususnya kecamatan Meliau, Kabupaten Sanggau Kalimantan Barat, ada tradisi berowah, yaitu mengadakan selamatan (doa, tahlilan, yasinan) untuk memperingati/ mengenang para arwah keluarga mereka yang sudah meninggal dunia. Tradisi ini dilaksanakan setiap satu tahun sekali yaitu pada bulan Sya’ban. Karenanya kebanyakan masyarakat melayu meliau menyebut bulan sya’ban dengan bulan rowah. Hal ini karena pada bulan Sya’ban itu dilaksanakannya berowah, yaitu tradisi yang sudah menjadi kebiasaan turun menurun pada masyarakat di sini.

Tradisi berowah dilaksanakan pada bulan Sya’ban karena untuk menyambut bulan Ramadhan, yaitu bulan setelah Sya’ban. Bulan ramadhan merupakan bulan yang sangat mulia, bahkan didalam Al-Quran dikatakan bahwa bulan Ramadhan itu lebih baik dari pada seribu bulan. Oleh karena itu untuk menyambut bulan yang mulia ini masyarakat melayu Meliau melaksanakan kegiatan ini, mereka berdoa kepada Allah agar dihindari dari segala bentuk

bala’, selain itu mereka juga mendoakan para kaum muslimin dan muslimat yang sudah meninggal dunia.

Menurut penulis, tradisi ini memiliki banyak dampak positif yang dapat kita ambil hikmah/ pelajaran. Salah satunya mengingatkan kita akan kematian, yang memang tidak dapat dihindari oleh siapapun, yang tidak dapat diketahui kedatangannya. Serta masih banyak lagi unsur positif lainnya yang akan penulis jelaskan pada bab khusus didalam makalah ini. Kegiatan yang dilakukan pada tradisi ini juga tidak ada yang bertentangan syari’at Islam. kegiatan tersebut seperti, tahlilan, yasinan, serta membacakan beberapa doa sperti doa arwah, doa tolak bala, dan doa selamat.

Berowah jika diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia yaitu berarwah. Dapat kita lihat bersama bahwa dalam istilah ini terdapat kata Arwah, istilah ini banyak pendapat yang mengartikannya, seperti didalam sebuah artikel disitus internet mengartikan bahwa roh/ arwah (dalam bentuk jama’nya) adalah unsur non materi yang ada dalam jasad yang diciptakan oleh Tuhan sebagai penyebab adanya kehidupan. (http//id.m.wikipedia.org). Sedangkan Risa Saraswati didalam situs internetnya mengatakan bahwa arwah adalah ruh, jiwa yang telah mati..(www.risasaraswati.com).

Berowah dalam tradisi masyrakat melayu Meliau memang identik dengan mengenang para arwah, mengingat/ memperingati para arwah,yaitu dengan cara mengadakan selamatan (mendoakan para arwah). Secara umum masyarakat melayu Meliau mengartikan berowah sebagai nama untuk sebuah kegiatan yang dilakukan untuk mendoakan para arwah/ orang-orang yang telah meninggal dunia, selain itu ada juga yang mengartikan yaitu mengadakan selamatan (doa, pengajian) untuk memperingati orang yang sudah meninggal dunia.

Berowah dilaksanakan pada bulan Sya’ban, dilaksanakan pada bulan Sya’ban karena untuk menyambut bulan ramadhan. Bulan

Ramadhan merupakan bulan yang sangat suci, bulan yang sangat mulia, bahkan lebih mulia dari pada seribu bulan. Oleh karena itu, untuk menyambutnya masyarakat setempat melaksanakan kegiatan yang dinamakan berowah, yaitu mendoakan para keluarga-keluarga mereka, kerabat-kerabat mereka, bahkan seluruh umat islam yang sudah meniggal dunia mendahului merekapun didoakan.

Ketika melaksanakan kegiatan ini tuan rumah biasanya mengundang kerabat-kerbat dekat, tetangga, serta para pemuka agama. Hal ini dilakukan karena mengingat bahwa kegiatan ini dilakukan untuk mendoakan para arwah, oleh karena itu semakin banyak orang yang diundang maka akan semakin banyak pula orang yang mendoakan arwah tersebut. Selain itu hal ini juga bertujuan untuk memper-erat hubungan shilaturahmi, antara tuan rumah dengan para tamu undangan, dan sebaliknya.

Pada penghujung acara ini, biasanya tuan rumah akan menghidangkan sedikit makanan untuk para tamu undangannya. Makanan ini biasanya dihidangkan ketika para jamaah selesai membacakan doa. makanan tersebut biasanya berupa nasi yang sudah dilengkapi dengan beberapa lauk yang siap untuk disantap. Hal ini bertujuan untuk mewujudkan bentuk rasa syukur mereka kepada Allah SWT. Yaitu dengan cara saling berbagi antara tuan rumah dengan para tamu undangan. Uniknya lagi, makanan tersebut dimasak secara bersama-sama antara tuan rumah dan para tetangga yang memang sudah diundang sebelunya untuk membantu dalam mempersiapkan makanan tersebut. Hal ini menunjukan adanya rasa kebersamaan dalam bertetangga, inilah yang membuat kegiatan ini menjadi unik.

Setiap tradisi tentunya memiliki kegiatan-kegiatan tertentu dalam pelaksanaannya, begitu juga dengan tradisi berowah ini. Berikut adalah beberapa bentuk kegaiatan yang dilakukan pada tradisi ini, yaitu sebagai berikut: (1) Pembukaan. Ini biasanya dilakukan oleh tuan rumah, pada kegiatan pembukaan ini tuan rumah mengucapkan terima kasih kepada para tamu yang sudah

sudi untuk hadir dalam acara berowah yang mereka laksanakan, setelah itu tuan rumah mempersilahkan kepada pemuka agama setempat untuk memimpin berlangsungnya acara tersebut. (2) Yasinan dan Tahlilan. Setelah tuan rumah mempersilahkan kepada pemuka agama untuk memimpin acara tersebut, maka acara pun akan segera berlangsung. Pemuka agama akan memimpin para jama’ah untuk membacakan yasin serta tahlil, dengan mengkhususkan bacaan tersebut kepada keluarga tuan rumah yang sudah meninggal, serta kepada seluruh umat islam yang sudah meninggal dunia. (3) Pembacaan doa. Pembacaan doa juga sama dipimpin oleh pemuka agama yang hadir pada acara tersebut, bisa dipimpin oleh pemuka agama yang memimpin yasin dan tahlil bisa juga pemuka agama yang lainnya. Do’a yang biasa dibacakan adalah do’a arwah, doa selamat, dan doa tolak bala.

Tradisi berowah tentunya memiliki banyak nilai-nilai yang dapat kita ambil hikmah serta kita jadikan pelajaran. Berikut penulis akan jelaskan nilai-nilai yang ada pada tradisi berowah, yakni sebagai berikut:

Pertama, kebersamaan dan kekompakan. Dalam tradisi ini kita akan merasakan kebersamaan dan kekompakan di antara jamaah yang mengikuti kegiatan ini, karena ketika kegiatan ini dilaksanakan biasanya tuan rumah (orang yang mengadakan acara berowah) akan mengundang tetangga-tetangganya, kerabat- kerabatnya, serta para pemuka agama (Islam). Hal ini tentunya akan menjadi suatu kebiasaan yang positif. Bagaimana tidak, jika sebuah desa memiliki kebersamaan serta kekompakan yang tinggi, besar kemungkinan desa tersebut akan menjadi desa yang maju, damai, serta tentram karena tidak ada perbedaan antara satu sama lain. Sebagaimana yang dijelaskan didalam Al-Quran surah an-Nisa ayat 28 bahwa manusia itu adalah mahluk yang lemah. Oleh karena itu kita dianjurka agar hidup di dalam kebersamaan sebagaimana

fiman Allah SWT dalam QS. Ali ‘Imran [3]: 103.

Kedua, Musyawarah. Pada kegiatan ini masyarakat tentunya

akan berkumpul untuk menghadiri acara ini, oleh karena itu tidak menutup kemungkinan bagi masyarakat untuk melakukan musyawarah. Tentunya musyawarah di dalam hal yang positif, seperti tentang pembangunan desa dan lain sebagainya. Di dalam Islam sangat banyak dalil yang menjelaskan tentang anjuran serta keutamaan dari bermusyawarah, di antaranya: “dan bagi orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan shalat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musywarah antar mereka.” (QS. Asy-

Syura [42]: 38)

Ketiga, bersyukur kepada Allah SWT. Mewujudkan rasa syukur kepada Allah SWT sudah pasti ada pada tradisi ini, karena pada dasarnya tujuan daripada tradisi ini adalah berdoa kepada Allah, mendoakan orang yang telah meninggal dunia mendahului kita. Hal ini sudah pasti merupakan wujud rasa syukur kita kepada Allah SWT karena masih diberikan kehidupan oleh Allah SWT, yakni dengan cara mendoakan orang-orang yang sudah meninggal dunia mendahului kita. “Dan ketika tuhanmu memaklumi, barang siapa yang mensyukuri nikmatKu maka akan Ku tambah nikmat bagimu, dan barang siapa yang mengkufuru nikmatKu sungguh adzabKu sangatlah perih.” (QS. Ibrahim: 7)

Keempat, membiasakan bersedekah. Dalam ajaran Islam kita sangat dianjurkan untuk bersedekah sebagai bentuk dari rasa syukur kita kepada Allah SWT. Pada tradisi ini tuan rumah/ orang yang mengadakan kegiatan pasti akan menyediakan makanan untuk para tamu undangan, hal inilah yang merupakan bentuk dari sedekah yang ada pada tradisi ini. Di dalam Al-Quran dijelaskan bahwa jika kita bersedekah, maka sedekah kita akan dilipat gandakan oleh Allah SWT. “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang- orang yang menafkahkan hartanya dijalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjran) bagi siapa yang Dia dikehendaki. Dan Allah maha luas (karunia-NYa ) lagi maha mengetahui.”( QS. Al-

Kelima, mengingat pada kematian. Tujuan utama dari kegiatan ini adalah mendoakan para arwah kau muslim dan muslimat yang sudah meninggal dunia. Ketika kita mendoakan orang yang sudah meninggal, tentunya kita ingat akan adanya

kematian bagi setiap mahluk yang bernyawa. Sebagai mana fiman

Allah SWT yang artinya “ setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian.” Selain itu Rasulullah SAW juga menganjurkan agar kita menginggat akan kematian.***

Dalam dokumen Tradisi dan Kepercayaan Umat Islam di Ka (Halaman 32-41)