• Tidak ada hasil yang ditemukan

K ERAMAT B ANTELAN

Dalam dokumen Tradisi dan Kepercayaan Umat Islam di Ka (Halaman 166-180)

O

rang

D

usun

k

uayan

D

esa

m

ekar

j

aya

Sukma

ISTILAH keramat memang sudah tidak asing lagi di telinga kita. Sudah banyak orang yang mengangkat topik ini untuk dikaji, dibahas, dan diteliti. Namun topik ini selalu menarik untuk diangkat karena melekat dalam kehidupan kita sehari-hari. Penelitian ini menyangkut tentang “Keyakinan orang tentang keramat bantelan Dusun Kuayan Desa Mekar Jaya. Hingga sekarang, tradisi tersebut masih berkembang secara turun temurun sebagai kearifan lokal Islami orang Dusun Kuayan Desa Mekar Jaya.

Keramat bantelan adalah keadaan tempat yang dianggap membawa berkah. Pengertian keramat yang dianggap masyarakat telah menimbulkan salah kaprah. Keramat adalah asal kata dari “karamah”yang berarti kemuliaan. Keramat Bantelan terletak di Desa Mekar Jaya Kecamatan Sajad dan tepatnya di Kabupaten Sambas.

Istilah keramat ini terdengar tidak asing lagi bagi orang setempat, karena biasanya tempat tersebut memang banyak dikunjungi masyarakat setempat - untuk yang konon katanya

– memberi perlindungan bagi anak-anak mereka yang hendak berpergian jauh meninggalkan kampung halaman mereka untuk mencari rezki. Tujuannya agar sampai ditujuan akan selamat dan terhindar dari mara bahaya.

Menurut Pak M. Jayadi, salah satu warga setempat, keramat mempunyai hubungan berdasarkan cinta-kasih. Keramat adalah keberkahan atau tempat suci. Tempat dimana makam tersebut sangat dipengaruhi oleh agama Hindu.

Adanya budaya dan adat istiadat maupun tradisi masyarakat merupakan ciri khas dari masing-masing suku atau bangsa Indonesia. Jika salah satu nya hilang, adat dan kebudayaan tersebut akan habis ditelan zaman dan menghilang dengan sendirinya. Hal tersebut menimbulkan berbagai dampak, baik itu dampak positif maupun dampak negatif. Jikalau misalnya ada acara kekeluargaan, hal ini yang membuat hubungan kekeluargaan semakin akrab dan langgeng. Islam memang tidak menganjurkan keramat dengan melakukan ritual atau sebagainya, melainkan kerjasama atau gotong royong warga setempat yang sangat diperlukan yang dapat menjaga nilai masing-masing insan manusia hingga terjaga dari godaan syetan, mulai dari taraf perkenalan hingga silaturahmi antar individu maupun kelompok. Dalam kaitan inilah, keimanan dan ketakwaan sangat berperan penting untuk menghindarkan kita dari perbuatan-perbuatan yang dilarang oleh Allah SWT.

Jikalau ditinjau lebih jauh sebenarnya keramat bantelan, konon katanya banyak pengaruh negatifnya. Karena di zaman sekarang masih mempercayai benda-benda yang berbau mistik. Hal ini sangat bertentangan dengan ajaran-ajaran Islam. Adapun dampak nya adalah banyak orang mempercayai hal-hal yang berbau mistik, misalnya “keramat membawa keberkahan dan melindungi kita dari mara bahaya yang ada disekitar kita”. Maksudnya, terhindar dari mara bahaya ketika hendak berpergian jauh atau melakukan perjalanan jauh.

positif dari keramat bantelan: (1) Tempat berkumpulnya masyarakat setempat dengan sejumlah keluarganya guna memanjatkan rasa syukur yang tiada terhingga kepada Allah SWT.atas nikmat dan karunia yang diberikannya kepada kita. (2) Dapat menjalin hubugan yang erat dengan warga setempat. (3) Eratnya hubungan silaturahmi dan hubungan kekeluargaan. (4) Terciptanya masyarakat yang saling gotong royong dan kerjasama dalam membersihkan lingkungan masyarakat.***

T

raDisi

S

ARAKAL

D

an

B

ARZANJI

O

rang

m

elayu

k

ayOng

u

Tara

Sumarno

INDONESIA adalah salah satu negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Namun tradisi ber-Islam oleh umat Islam di Indonesia tidak sama seperti tradisi umat Islam yang ada di negara lain. Islam indonesia ialah islam yang memiliki berbagai macam budaya lokal, salah satunya ialah tradisi sarakal dan barzanji yang biasa dilaksanakan oleh suku melayu khususnya di Kabupaten Kayong Utara.

Sarakal dan barzanji adalah sesuatu yang tidak asing lagi bagi orang Melayu Kayong Utara. Tradisi ini seolah-olah sudah menjadi kegiatan yang wajib dan harus mereka lakukan, hampir di setiap kegiatan apapun mereka selalu menyelipkan acara sarakalan dan barzanji ini untuk memulai, mengisi ataupun menutup suatu kegiatan yang ada pada saat itu.

Tentu muncul dibenak kita suatu pertanyaan, mengapa sarakal dan barzanji selalu ada dalam kegiatan rutinitas orang Melayu di Kayong Utara?, dan sebenarnya apa sih isi dari barzanji itu?, sehingga masyarakat selalu mengisi acara mereka dengan

barzanji. Apakah barzanji itu suatu petunjuk?.

Sarakal dan barzanji adalah doa-doa, puji-pujian dan penceritaan riwayat Nabi Muhammad Saw, yang dilafadzkan dengan suatu irama atau nada-nada tertentu yang biasa dilantunkan ketika menyambut kelahiran anak, khitanan, tijak tanah, gunting rambut, pernikahan maupun pada saat maulid Nabi Muhammad Saw. Adapun isi dari sarakal dan barzanji itu bertutur tentang kehidupan Nabi Muhammad Saw., yaitu dimulai dari sejak anak- anak, remaja, dewasa hingga beliau di angkat menjadi seorang Rasul. Di dalamnya juga menceritakan sifat-sifat mulia yang dimiliki oleh Nabi Muhammad Saw, serta peristiwa yang pernah dialami oleh Nabi Muhammad Saw untuk dijadikan tauladan.

Adapun nama barzanji diambil dari nama sebuah kitab atau buku yang ditulis oleh Syekh Ja’far Al-Barzanji bin Hasan bin Abdul Karim. Ia lahir di Madinah tahun 1690 M dan wafat tahun 1766 M. Barzanji berasal dari nama sebuah tempat di Kurdistan, Barzinj, karya tersebut sebenarnya berjudul ‘iqdal Jawahir, dari bahasa arab yang artinya (kalung Permat) yang disusun dengan tujuan untuk meningkatkan kecintaan kepada Nabi Muhammad Saw.

Kembali ke tradisi sarakalan dan barjanzi di Kayong Utara, pembacaan sarakalan dan barjanzi pada umumnya dilakukan di berbagai kesempatan, sebagai sebuah pengharapan untuk pencapaian sesuatu yang lebih baik, misalnya pada saat kelahiran bayi, gunting rambut, khitanan, pernikahan, tijak tanah, maulid nabi dan upacara lainya. Di masjid-masjid atau di rumah-rumah biasanya orang-orang duduk bersimpuh atau bersila melingkar, lalu seseorang membacakan barjanzi yang pada bagian tertentu disahuti oleh jamaah lainnya secara bersamaan, dan pada bagian sarakal yang berisikan shalawat kepada nabi, semua masyarakat yang hadir diharuskan untuk berdiri dan bershalawat bersama-sama. Jikalau sarakalan dan barjanzi ini dibacakan pada saat acara gunting rambut bayi, maka ketika masyarakat bersarakal atau bersholawat dengan berdiri itu, tuan rumah menaburkan beras kuning dan uang recehan

sebagai rasa syukur dan tanda terimakasihnya kepada Allah dan masyarakat yang datang ke rumahnya.

Ketika beras kuning dan uang recehan tersebut ditaburkan, saat itu pula orang-orang yang hadir berebut untuk mengambil uang yang telah ditaburkan, dan setelah upacara tersebut selesai, salah seorang dari mereka akan memimpin doa. Biasanya doa yang dibaca ialah doa selamat, tolak balak, dan doa-doa lainnya. Setelah semua selesai maka semua orang yang hadir dirumah tersebut diberi makan oleh tuan rumah, dan ada beberapa orang yang dikasi bunga telur. Adapun bunga telur itu ialah bunga yang terbuat dari kertas parade dan disusun rapi, yaitu ada telor, sabun, dan uang di puncak bunga tersebut. Biasanya bunga tersebut di berikan kepada orang yang memimpin pembacaan sarakalan dan barjanzi.

Islam telah memandang positif atas tradisi sarakalan dan barjanzi ini, karena ketika tradisi ini diadakan, maka banyak sekali dampak positifnya, yaitu: pertama, bersalawat kepada Nabi secara bersamaan. Agama islam telah menganjurkan pada penganutnya untuk banyak-banyak bershalawat kepada Nabi. Selain itu di dalam kitab Barzanji itu terdapat sejarah serta kisah-kisah nabi, mulai dari anak-anak, remaja, dewasa, hingga beliau di angkat sebagai seorang rasul, dan di dalamnya pula terdapat kisah-kisah yang bisa dijadikan tauladan, karena di dalam diri rasul itu terdapat tauladan

yang baik untuk dicontoh, sebagaimana maksud firman Allah

SWT dalam surat Al-Ahzab ayat 21.

Kedua, silaturahmi. Di dalam upacara tersebut sebagian orang berkumpul di dalam sebuah rumah, dan pada saat itu pula masyarakat dapat berbincang-bincang dan bermusyawarah untuk sering dan lain sebagainya sebelum acara dimulai. Dalam hal ini, Allah dan Rasul-Nya telah memerintahkan kepada kita

untuk bersilaturahmi sebagaimana firmannya dalam surat An-

Nisa ayat 1. Nabi Muhammad juga pernah bersabda, Dari Anas bin Malik ra, bahwa Rasulullah Saw bersabda: “Barang siapa yang ingin diluaskan rizkinya dan diperpanjang umurnya (kebaikannya) maka

bersilaturahmilah.” ( HR.Al-Bukhari )

Ketiga, sedekah. Setelah upacara selesai, maka semua masyarakat yang hadir di rumah tersebut diberi makan oleh tuan rumah, dan ada beberapa orang yang dikasi bunga telur. Adapun bunga telur itu ialah bunga yang terbuat dari kertas parade dan disusun rapi, yaitu ada telor, sabun, dan uang di puncak bunga tersebut. Biasanya bunga tersebut di berikan kepada orang yang memimpin pembacaan sarakalan dan barjanzi. Mengenai sedekah,

29

T

raDisi

N

GANTAR

A

JONG

O

rang

s

amBas

Wulandari

KABUPATEN Sambas bukan hanya memiliki panorama alam yang menarik, namun kawasan yang berada paling utara Kalbar dengan penduduk mayoritas Melayu ini, juga memiliki sejumlah kebudayaan yang cukup menarik. Terutama bagi mereka yang menyenangi wisaya budaya. Salah satunya adalah antar ajong, yang ada di Paloh, yaitu di Tanah Hitam.

Antar ajong merupakan upacara ritual adat untuk menanam padi yang dilaksanakan setiap tahun pada masa bercocok tanam. Masyarakat setempat mempercayai, aktivitas tersebut dapat membuat tanaman padinya terhindar dari serangan hama dan penyakit. Sehingga demikian, hasil panen berlimpah untuk kemakmuran masyarakat sekampung. Karena mengacu pada waktu tanam, maka waktu pelaksanaan Antar Ajong biasanya setiap pertenggahan tahun, sekitar Juni atau Juli. Upacara ritual adat ini telah membudaya atau membaur dengan masyarakat setempat.

khususnya di daerah Tanah Hitam Kecamatan Paloh Kabupaten Sambas. Antar ajung ini dilaksanakan apabila akan dimulai menanam padi atau disebut juga dengan menyemai benih padi yang baru dan selesai memanen kacang, karena di desa Tanah Hitam terdapat 2 musim yaitu musim padi dan musim kacang dan dilaksanakan 1 kali setahun. Acara ini dipimpin oleh beberapa orang yang dituakan oleh penduduk di desa tersebut yang biasa di sebut dengan pawang dan di percaya masyarakat sekitar, mereka yang memimpin acara ini mempunyai kekuatan magis untuk memanggil roh-roh jahat yang telah di anggap mengganggu tanaman padi dan kacang mereka pada tahun sebelumnya. Tujuan umum dari tradisi atau ritual antar ajung adalah untuk membuang roh-roh jahat pengganggu tanaman-tanaman padi yang diartikan dalam spritual agar padi yang ditanam bebas dari gangguan hama.

Ajung ini sendiri menurut bahasa orang Melayu Sambas adalah alat dari kayu lempung yang dibuat bentuknya seperti perahu atau sampan kecil yang diberi layar seperti kapal layar pada zaman dahulu yang digunakan sebagai alat transportasi yang didesain seperti layaknya perahu layar sungguhan, tetapi bedanya dari segi

fisik ajung ini bentuknya kecil dan di lengkapi dengan beberapa

muatan di dalamnya seperi telur, ayam, ratteh, beras kuning, kue cucur, kue lubang lima, kelapa muda, emping, dan bahan lainnya.

Apabila telah di sepakati hari dan tanggal pelaksanaan antar ajung tersebut, maka masyarakat khususnya laki-laki secara bersama- sama mempersiapkan alat-alat yang diperlukan seperti mencari kayu dan pohon di hutan untuk dijadikan bahan pembuatan ajung. Kayu yang dipilih adalah kayu lmpung agar ajungnya nanti bisa mengapung. Apabila kayu telah ditemukan maka, diadakan semacam renungan dengan membaca doa bersama dengan harapan tanaman padi nantinya akan terbebas dari gangguan hama penyakit dan acara ritual pelepasan ajung tersebut berjalan dengan lancar. Kesemua pekerjaan tersebut dilakukan secara bersama-sama dari proses memotong, membelah, mengasah, hingga mengecat agar

ajung tersebut lebih indah dan menarik. Sedangkan pihak permpuan bertugas untuk menyiapkan bahan-bahan seperti kue-kue dan peralatan lainnya yang memang sudah kewajiban perempuan.

Antar ajung merupakan simbol kekompakan petani khususnya di daerah Kecamatan Paloh dan Teluk Keramat, karena para petani menganggap bahwa tanaman padi mereka akan selalu diganggu oleh roh jahat apabila tidak melakukan ritual ini. Oleh karena itu roh harus dikumpulkan dan dimasukkan ke dalam ajung yang di lengkapi sesajian oleh seorang dukun atau pawang untuk mengirim roh-roh jahat yang mengganggu tanaman tersebut ke laut lepas.

Dulu antar ajung sebenarnya merupakan upeti yang di berikan oleh masyarakat Sambas kepada kerajaan Majapahit yang mewajibkan pembayarannya pada tiap setahun sekali. Waktu itu upeti dikirimkan dengan menggunakan sarana angkutan laut yaitu dengan menggunakan kapal layar. Setelah berpuluh-puluh tahun memberikan upeti pada kerajaan Majapahit, maka ketika Kerajaan Sambas yaitu Kerajaan Alwatzikhoebillah dipimpin oleh Sultan

Muhammad Syafiudin, pembayaran upeti tersebut ditiadakan.

Jadi, dapat diketahui bahwa tradisi ini diperkenalkan pertama kali

oleh Sultan Muhammad Syafiudin. Dia adalah sultan pertama dari

Kerajaan Sambas yang memerintah dari 1631 hingga 1668.

Alkisah Sultan Sambas untuk mengenang pembayaran upeti,

Sultan Muhammad Syafiudin memerintahkan rakyat agar setiap

akan memulai persemaian (tanam benih padi) terlebih dahulu melakukan ritual Antar Ajung hingga sebelum memulai persemaian padi maksudnya, agar hasil panen padi memuaskan. Sampai sekarang warga percaya, ritual antar ajung telah membuat hasil panen jauh lebih baik. Namun kemudian ritual itu hilang selama hampir 50 tahun lamanya. Hanya sebagian kecil dari masyarakat petani setempat yang masih mengingatnya dan melakukan tradisi tersebut secara individu. Namun guna menjaga agar budaya tersebut tidak punah, ritual Antar Ajung itu di munculkan kembali

oleh tokoh masyarakat setempat. Kini melalui upacara besar yang digelar setahun sekali tersebut, bukan hanya untuk membayar upeti saja, tetapi juga sebagai simbol kekompakan para petani dalam menanam.1

Berikut penjelasan tentang antar ajung. Pertama, tahap persiapan. Alat atau bahan yang di perlukan beras kuning, beras pullut, ratteh, kue cucur, emping, kue lubang lima, serabi, telur ayam kampung, telur matang, ketupat, pisang, pinang muda, kelapa muda, padi dan kebutuhan pokok lainnya yang jumlahnya serba sedikit. Sedangkan kayu untuk membuat ajung, kebanyakan dari kau pelaek yang di bentuk sedemikian rupa sehingga menyerupai perahu layar yang sesungguhnya di dalamnya terdapat berbagai bahan makanan yang tadi telah di sebutkan. Mengenai cara peletakan bahan yang disebutkan di atas, tidak ada aturan khusus tetapi yang harus di utamakan adalah semua bahan-bahan yang telah disiapkan tersebut bisa memenuhi ajung yang telah dibuat dan persis seperti manusia yang berdayung didalam perahu untuk berpergian jauh dan lama yang membawa bekalan agar di tengah lautan bisa makan dan tidak kelaparan.2

Kedua, tahap pelaksanaan, yang mencakup: (a) Tahap permulaan. Sehari sebelum ajung diantar didahului kegiatan yang disebut ratib. Ratib adalah suatu kegiatan mengagung-agungkan nama-nama Allah disertai doa selamat dan doa tolak bala. Sebelum ajung dilepaskan di laut, pada malam harinya dilakukan ritual besiak. Besiak adalah prosesi untuk menangkap roh-roh jahat. Untuk menggelar atau melaksanakan ritual besiak, sebuah panggung kecil yang telah dihias bercorak khas Melayu disiapkan. Di sekeliling panggungpun sudah dijejerkan ajung, sementara di tengah panggung disediakan aneka perlengkapan ritual seperti kemenyan, kue, cucur, pelepah pinang, beras kuning, ratteh dan 1 remajapaloh.blogspot.com/2012/06/08/antar-ajong-budaya-ora, diunduh 9 april 2015 pukul 13.00.

2 Wawancara dengan Pak Katong (45), tanggal 11 april 2015 pukul 15.30

lain-lain. Sebuah gentong atau tempayan berisi air benih padi pun di letakkan di tengah panggung. Air ini nantinya digunakan oleh warga untuk memandikan bibit padi yang baru. Berikutnya para pawang membaca jampi untuk menangkap roh-roh jahat. Ketika roh-roh itu sudah di tangkap, para pawan tersebut memasukkan roh-roh tersebut kedalam ajung beserta dengan semua sesaji. Dengan semua bawaannya, bobot satu ajung bisa mencapai 30 kg. Ketika besiak selesai, para pawang harus menunggui ajung yang telah diisi tersebut sepanjang malam takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan seperti di ganggu oleh pihak lain yang tidak bertanggung jawab yang akan menggagalkan acara antar ajung nantinya. Tak semua orang dapat menjadi seorang pawang, karena orang-orang tertentu saja dan harus memiliki ikatan darah dengan para leluhur mereka yang juga pawang atau mendapatkan wangsit atau wahyu sebelum bisa dinobatkan sebagai pawang. Pelepasan ajung dari awal persiapan penentuan kapan waktu antar ajung sampai penari raddat yaitu tarian khas Melayu Sambas sekalipun yang lebih diutamakan adalah mereka yang di tuakan. Selain mereka lebih berpengalaman dan memahami betul prosesi tradisi ini, dan juga merupakan salah satu bentuk penghargaan dan penghormatan bagi tetua atau sesepuh. Keesokan harinya, ajung lalu diturunkan ke laut bersama dengan sesajian yang telah dimasukkan ke dalam ajung tersebut. Upacara baru dinyatakan selesai setelah pawang menyatakan bahwa semua roh jahat yang ada dan potensial mengganggu telah di tangkap dan dimasukkan ke dalam ajung. Dengan demikian ajung-ajung tersebut sudah siap di hanyutkan ke laut. Prosesi antar ajung ini ada tiga fase yang pertama prosesi antar ajong seperti yang disebutkan diatas dan fase kedua adalah masa pemberitahuan dari penghuni ajung yang biasanya ada isyarat enam bulan kemudian yang intinya memberitahukan bahwa sudah saatnya musim panen dilakukan dan ini akan diiringi dengan masa makan amping. Selanjutnya adalah masa antar dengan bahan-bahan yang sudah dimasukkan ke dalam ajung tersebut dan jumlahnya

serba sedikit sebagai syarat. Ini diketahui dari pengakuan roh yang meminjam tubuh pawang. Ketika ditanya peradi, ia memperkenalka diri dengan nama yang berbeda-beda. Tak jarang juga ditemukan penonton yang ikut-ikutan di masuki roh.

(b) Ritual pelepasan ajung. Sebelum ajung dihanyutkan kelaut maka diwajibkan untuk membaca doa dan diiringi dengan azan terlebih dahulu dan sehabis sholat dzuhur di hanyutkan. Sebelum pelepasan ajung ke laut lepas terlebih dahulu semua ajung dari amsing-masing desa yang ada di kecamatan Paloh dan Teluk Keramat disusun secara sejajar dipinggir pantai dengan corak dan warna yang sangat bervariasi. Sebelum itu juga terlebih dahulu di antar dengan tradisi joget bahkan pencak silat yang diiringi dengan bunyi-bunyian gendang tradisional masyarakat melayu setempat. Ketika perahu-perahu itu akan di lepaskan menuju laut lepas kira-kira pukul 2 siang, upacara ritual dimulai yang di tandai dengan pembakaran kemenyan dan membaca jampi-jampi oleh peradi sambil menghambur-hamburkan ratteh dan beras uning di sekeliling penonton, lalu di mulailah proses pemanggilan roh. Ketika memanggil roh, peradi dan pawang bersahut-sahutan melantunkan syair dan lagu khusus yang diiringi dengan pukulan gendang dan alat musik lainnya. Sebelum syair habis di lantunkan, tiba-tiba terjadi pada perubahan sang pawang. Tubuhnya berkelojotan dan matanya menjadi merah. Itu diyakini sebagai pertanda bahwa tubuhnya telah disusupi oleh roh. Peradi kemudian berkomunikasi dengannya dan menyatakan maksud pemanggilan. Roh baik yang datang itu diminta untuk menangkap roh-roh jahat dan memasukkannya ke dalam ajong. Pawang yang sudah dirasuki roh itu terkadang bertingkah aneh. Ada kalanya dia memanjat di atas atap, rumah, pohon dan sebagainya. Setelah itu, ia akan mengelilingi ajong sambil menaburkan ratteh atau mengipasinya dengan mayang pinang. Biasa pula ia minta di hibur terlebih dahulu dengan nyanyian dan tarian dan pemandangan seperti itu terlihat unik sekaligus menakutkan. Tak heran dalam

prosesi ini beberapa penari raddat telah di siapkan untuk menarikan tariannya. Uniknya disini, penari raddat yang ditampilkan terdiri atas ibu-ibu yang telah berumur, bukan para remaja. Usai acara hiburan tersebut dan setelah mendapatkan intruksi dari pawang, para pemilik ajung lalu memikul ajung mereka masing-masing kepesisir sungai untuk di lepaskan ke lautan lepas. Waktu dilakukan pelepasan antar ajung secara serentak dengan aba-aba berupa shalawat nabi, mereka berlari sejadi-jadinya menuju laut sambil membawa ajung tersebut ke bibir laut untuk dibiarkan bergerak menuju lautan lepas. Mereka baru kembali kedaratan setelah ajung dinilai aman berlayar. Karena kegiatan antar ajung sudah merupakan tradisi masyarakat Paloh, maka seluruh masyarakat khususnya di daerah tersebut akan datang berduyun-duyun untuk menyaksikan prosesi dan untuk mengetahui bagaimana perjalanan ajung-ajung tersebut menuju lautan lepas. Dipercaya oleh masyarakat sekitar, apabila ajung yang dilepas tersebut tidak mengalami hambatan itu tandanya semua yang akan di lepas itu sudah diberikan dengan rasa ikhlas dan tanaman yang akan ditanam akan menghasilkan hasil panen yang memuaskan sedangkan apabila proses perjalanan ajung tersebut dilepas mengalami tingkat kesulitan untuk berlayar

Dalam dokumen Tradisi dan Kepercayaan Umat Islam di Ka (Halaman 166-180)