SETIAP daerah atau suku bangsa, pasti mempunyai beragam adat istiadat, budaya ataupun tradisi yang berbeda dengan suku-suku dan daerah lain, yang tentunya unik dan sangat menarik untuk diketahui. Salah satu dari keanekaragaman tersebut adalah tradisi ngamping pada orang Melayu Sambas. Pengaruh Islam melekat pada seni dan budaya lokal. Seni dan budaya di Sambas juga tak bisa dipisahkan dengan religi. Semua mengandung unsur keislaman. Begitulah budaya khas Sambas, tak terpisahkan dengan nafas keislaman.
Tradisi ngamping yang berlaku di daerah Sambas ini merupakan salah satu dari berbagai macam kekayaan khazanah kebudayaan. Masing-masing masyarakat, sudah pasti mempunyai suatu kearifan untuk menjaga dan melestarikan lingkungannya. Tulisan sederhana ini dibuat dalam rangka memperkenalkan kepada masyarakat luas pada salah satu tradisi yang berlaku dalam masyarakat suku Melayu Sambas. Seperti juga yang terjadi di daerah-daerah lain, tradisi
ngamping saat ini sudah mulai ditinggalkan oleh sebagian besar
masyarakat. Kemajuan teknologi dan kebebasan berfikir, mungkin
yang menjadi salah satu faktor penyebabnya.
Oleh karena itu, dalam rangka upaya untuk melestarikan tradisi, yang dipandang banyak orang sudah ketinggalan zaman ini, maka perlu kiranya dilakukan sebuah upaya untuk mewujudkan hal tersebut. Salah satu upaya kecil dari sebuah cita-cita yang besar itu adalah dengan cara merekam atau menuliskannya. Sehingga masyarakat khususnya pemilik tradisi tersebut, dalam hal ini orang Melayu Sambas, tak lantas benar-benar lupa, akan kekayaan budaya atau tradisi lokal yang dimiliki.
Tulisan ini bertujuan untuk mengungkapkan bagaimana peranan tradisi ngamping dalam proses pengenalan nilai-nilai Islam. Dalam tulisan ini penulis mencoba mengenalkan tentang kearifan lokal atau tradisi/kebudayaan di kampung halaman penulis dengan mendeskripisikan mengenai tradisi ngamping yang berlaku pada masyarakat Melayu Sambas. Data tersebut penulis kumpulkan di desa kelahiran ibu penulis yakni Desa Sebayan yang terletak di wilayah Kecamatan Sambas, Kabupaten Sambas. Informan penelitian ini antara lain: Saniah (60), Hajidah (67), Mahdur (63). KOTA SAMBAS DAN DESA SEBAYAN
Asal mula penamaan Sambas terdapat dua versi. Versi pertama, dikutip dari JU. Lontaan dalam bukunya, Sejarah, Hukum Adat dan Adat Istiadat Kalimantan Barat menulis bahwa nama Sambas tercipta karena suatu peristiwa perang di zaman dahulu kala, yakni kemungkinan besar perang sewaktu kerajaan Inggris menyerang di tahun 1812. Saat itu secara spontan ketiga suku bangsa yang mendiami daerah pantai utara Kalimantan Barat, yaitu Dayak, Melayu dan Cina, bersatu mempertahankan daerah kedudukannya. Dalam serangan dan kemenangan ini, masyarakat Cina memberikan nama medan pertempuran itu sebagai Sambas (Sam=tiga dan Bas=bangsa).
Versi Kedua, pendapat ini diungkapkan oleh Lutfi Akbar
dalam Buletin Intern Muare Ulakkan edisi tahun 2 nomor 5 Januari 1994. Penamaan Sambas berasal dari kitab suci Al-Quran, didasari karena keberadaan Raden Sulaiman sebagai pendiri kerajaan Sambas yang menganut agama Islam. Nama Sambas terambil dari dua surah, yakni As Syam (berarti matahari) dan Basmallah (berarti dengan nama Allah). Dari kedua kata tadi sangat cocok jika dihubungkan dengan simbol di atas atap istana kesultanan Sambas yang berupa matahari dengan tulisan Alwatzikhoebillah (bertakwalah kepada Allah) di bawahnya.
Sambas adalah sebuah kerajaan kesultanan besar di Kalimantan maupun di nusantara Indonesia. Kesultanan Sambas merupakan salah satu kerajaan tertua dan kerajaan Islam yang besar di Kalimantan Barat, juga pernah disebut Sambas “Serambi Mekah”. Kesultanan Sambas terkenal besar sejak sultan sambas
yang pertamal Sultan Muhammad Syafiuddin I (1631-1668).
Kejayaan kesultanan sambas telah membesarkan nama negeri Sambas, sampai pada Sultan Sambas ke-15 yaitu Sultan Muhammad
Mulia Ibrahim Syafiuddin (1931-1943). Kerajaan Sambas sirna ketika Sultan ke-15 ini wafat karena ditangkap dan di bunuh oleh tentara pendudukan jepang tahun 1943. Kekejaman facisme jepang meruntuhkan kejayaan Sambas.
Nama dan kejayaan Sambas sesungguhnya tidak hanya
dimulai dari Sultan Muhammad Syafiuddin I (1631-1668). Sejak
abad ke-13 M sudah ada kekuasaan raja-raja Sambas. Bermula dari kedatangan prajurit majapahit di Paloh.Kemudian pusat kerajaan Sambas berpindah ke kota lama di Teluk keramat. Dari kota lama berpindah ke kota bangun di sungai Sambas Besar. Dari kota bangun pindah lagi ke kota Bandir dan kemudian pindah lagi ke Lubuk Madung. Konon menurut cerita, rombongan Raden Sulaiman pernah singgah di Tebas. Mereka sempat menebas daerah ini tetapi kumudian ditinggalkan. Dinamakanlah daerah itu Tebas.
Barulah pada masa sultan sambas ke-2 yaitu Raden Bima gelar Sultan Muhammad Tajuddin (1668-1708) pusat Kesultanan Sambas dibangun di Muara Ulakan,di pertemuan 3 sungai yaitu sungai Sambas Kecil,sungai Subah dan sungai Tebarau.Sejak tahun 1668 Kota Sambas itu meliputi daerah Pemangkat, Singkawang dan daerah Sambas sendiri, yang kaya akan emas. Sejak jaman pendudukan Jepang dan NICA (1942-1950), integritas Kerajaan Sambas telah sirna karena terlibat dengan pergolakan perang Dunia II. Ketika daerah Sambas atau Kalimantan Barat kembali bernaung dibawah Negara Kesatuan Repulik Indonesia pada tahun 1950, dan dibentuknya pemerintahan administratif Kabupaten Sambas, rakyat Sambas sesungguhnya menuntut agar kota Sambas tetap menjadi ibukota kabupaten Sambas. Keinginan rakyat Sambas ini adalah sebagai upaya melanjutkan kembali kejayaan negeri Sambas sejak pemerintahan para Sultan Sambas dari tahun 1631-1943. Allhamdullillah, keinginan rakyat sambas menjadikan kota sambas sebagai ibukota Kabupaten Sambas terwujud juga sejak tanggal 15 juli 1999. Pemerintahan kabupaten Sambas berkedudukan di kota Sambas, yang telah sirna sejak tahun 1943-1999, lima puluh tahun kemudian.
Kota sambas secara geografis terletak hampir di tengah-
tengah wilayah Kabupaten Sambas. Orang yang pertama membuka dan mengembangkan kota sambas adalah Sultan Muhammad Tajuddin I (Raden Bima, Sultan Sambas ke-2). Ia memindahkan pusat pemerintahan Kesultanan Sambas dari Lubuk Madung ke Muare Ulakkan (persimpangan Sungai Sambas, Sungai Teberau dan Sungai Subah), yang kemudian berkembang menjadi Kota Sambas sekarang ini. Sehingga perkembangan kota ini berawal dari pusat Kesultanan Sambas yang dahulu berada persis di persimpangan alur Sungai Sambas, Sungai Teberau dan Sungai Subah.
Gambar 21.2 Suasana saat matahari terbenam di Muare Ullakan Sekarang Kota Sambas merupakan ibu kota Kabupaten Sambas yang secara administratif berada dalam wilayah Kecamatan Sambas. Kecamatan Sambas biasa dipanggil oleh penduduk kebupaten sebagai Kota Sambas, yang memiliki slogan “Kota Sambas Terigas”. Sambas yang dikenal sekarang merupakan kota pusat pemerintahan Kesultanan Sambas, yang berpusat di Istana Alwatzikoebillah, Desa Dalam Kaum. Tepat di depan istana berdiri pula sebuah masjid tua yang merupakan salah satu masjid terbesar di kota Sambas, yaitu Masjid Agung Jami’ atau Masjid
Gambar 21.3. Masjid Sultan Muhammad Syafi’oeddin II (Masjid Agung Jami’)
Masyarakat kota Sambas didominasi oleh suku melayu, yaitu Melayu Sambas. Bahasa yang digunakan adalah bahasa Melayu Sambas dengan kekhasan tersendiri, yaitu pada pengucapan huruf ‘e’ seperti kata ‘lele’ di dalam bahasa Indonesia. Kurang lebih bahasa Melayu Sambas terdengar sama seperti dialek Betawi (Jakarta), namun terdapat beberapa kosakata yang berbeda seperti kata “Nyak” (Betawi), dalam bahasa Melayu Sambas adalah
“Ummak”. Keunikan lain dari bahasa Melayu Sambas adalah pengucapan huruf ganda, seperti pada kata “Bassar” (besar dalam bahasa Indonesia).
Kota Sambas juga terkenal dengan kain tenunnya, yakni kain tenun Songket Sambas (dikenal pula dengan sebutan kain Lunggi) yang memiliki berbagai macam corak/motif dan warna. Kota Sambas memiliki panganan khas, yang paling terkeneal adalah Bubbor Paddas (bubur pedas).
Sebayan merupakan salah satu desa yang terdapat di Kecamatan Sambas, Kabupaten Sambas. Desa ini memiliki luas 12,1 km2 (4,91% dari wilayah Kecamatan Sambas) dan merupakan
desa terluas ke-8 dari 18 desa yang ada di Kecamatan Sambas. Di desa inilah terdapat Kawasan Pendidikan Tinggi Sambas. Desa ini terdiri dari iga dusun yaitu Dusun Senyawan, Dusun Sebambang dan Dusun Sadayan. Untuk mencapai desa ini dapat ditempuh dengan kendaraan darat dari kota Pontianak ke arah barat laut sejauh 175 km, melalui kota Mempawah, Singkawang, Pemangkat, dan Sambas.
Gambar 21.4. Istana Alwatzikoebillah
Kalau anda mengunjungi Sambas jangan lupa untuk menyempatkan diri berkunjung ke Keraton Alwatzikhoebillah Sambas, yang dibangun pada masa pemerintahan Raden Sulaiman
memang sudah beberapa kali dibongkar, dan Istana yang ada sekarang sudah berumur sekitar 200 tahun dan beberapa kali mengalami perehaban. Istana yang kokoh berdiri di pertemuan Tiga Sungai, yakni Sungai Sambas Kecil, Sungai Subah dan Sungai Teberau, memang mempunyai sejuta kisah, yang kadang tak dapat dicerna dengan akal.
Raden Dewi Kencana, Ratu Keraton Sambas, mengung- kapkan, Keraton Sambas masih banyak memiliki benda pusaka, di antaranya tempat tidur raja, kaca hias, seperangkat alat untuk makan sirih, pakaian kebesaran sultan, payung ubur-ubur, tombak canggah, meriam beranak, pedang sultan, tempayan keramik dari Cina dan kaca Kristal dari Inggris dan Belanda. Benda yang masih dikeramatkan hingga sekarang yakni meriam beranak.
Keraton yang berada di Muare Ullakan juga menawarkan keindahan alam yang luar biasa. Di mana bangunan keraton yang menghadap sungai tersebut, mencirikan bahwa jalur transportasi zaman dahulu melalui sungai dan adanya lambang kuda laut bersayap diatas atap keraton menandakan bidang yang menyokong perekonomian keraton saat itu adalah Bahari.
TRADISI NGAMPING MASYARAKAT MELAYU AMBAS