O
rangm
aDuraP
OnTianakLindawati
TORON tanna (turun tanah) adalah acara atau tradisi yang dipercayai dan dikerjakan orang Madura Pontianak sejak lama secara turun temurun dari nenek moyang. Acara ini hanya dilakukan pada anak usia 7 bulan. Karena, anak yang sudah berusia 7 bulan sudah bisa menapakkan kakinya untuk berjalan. Tetapi, jika anak itu belum di toron tanna-kan berarti anak itu belum bisa berjalan ke luar rumah, kecuali anak itu sudah di toron tanna-kan.
Toron tanna pada orang madura Pontianak sangat unik dan berbeda dengan adat suku lainnya. Keunikan dari toron tanna Madura Pontianak yaitu terdapat pada susunan acaranya, yaitu saat anak yang akan melakukan toron tanna tersebut dengan menijakkan kakinya di atas kue. Tijak kue pada acara ini sangatlah unik karena kaki anak itu harus menijakkan kakinya di atas kue sampai kaki anak itu tecelup (tenggelam) dalam kue tersebut. Satu-persatu kue itu ditijak anak tersebut sampai pada kue terakhir. Tapi, bukan hanya tijak kue saja dalam acara toron tanna. Setelah anak itu melakukan
tijak kue, anak itu harus melakukan beberapa susunan acara lain sampai pada akhirnya, yaitu toron tanna.
Toron tanna bagi orang madura Pontianak sangatlah penting. Acara ini diperuntukkan pada anak yang berusia 7 bulan saja. Artinya orang tua yang mempunyai anak harus melakukan tradisi ini.
Kata Toron Tanna adalah kata dari bahasa Madura yang artinya turun tanah. Toron tanna ini hanya diperlakukan pada anak kecil yang berusia 7 bulan: anak laki-laki dan perempuan. Acara toron tanna ini masih berlaku sampai sekarang oleh orang Madura. Konon katanya acara toron tanna ini mempunyai maksud tersendiri, yaitu menurunkan bayi berusia 7 bulan ke tanah supaya anak tersebut bisa sudah menijakkan kakinya ke tanah setelah melakukan acara tersebut.
Gambar 14.1 Acara milih barang pada toron tanna
Adapun susunan acara dalam pelaksanaan toron tanna, yakni: pertama, Pembacaan doa dan shalawat. Pembacaan doa
dan shalawat ini adalah aktifitas spiritual yang sangat penting saat
melaksanakan acara toron tanna. Tanpa diawali dengan doa akan membatalkan/tidak sahnya acara tersebut. Doa yang dipanjatkan adalah doa meminta kelancaran saat memulai acara tersebut. Doa itu juga terkandung ungkapan rasa syukur kepada Allah yang telah memberikan karunia dan rahmat-Nya kepada keluarga yang telah
diberikan kepercayaan untuk menjaga amanah Allah yang tidak ternilai harganya dibandingkan apapun. Dalam doa tersebut juga meminta kepada Allah agar anak yang ditorron tanna-kan diberi umur yang panjang, kesehatan, kelancaran rezeki, tercapainya cita- cita yang di inginkan serta menjadi anak yang shaleh dan shaleha. Doa dipimpin oleh kyai atau ustadz, dan atau yang terkemuka di masyarakat.
Setelah pemimpin doa selesai membacakan doa terlebih dahulu, barulah orang rumah dan tamu yang hadir dalam acara tersebut mengikuti secara bersamaan dalam ritual pembacaan doa dan shalawat. Dalam iringan doa dan shalawat anak yang dimaksud dalam acara tersebut diarak atau gendong oleh kedua orang tuanya.
Kedua, Tijak kue. Acara selanjutnya setelah selesai pembacaan doa dan shalawat, anak yang akan ditoron tanna-kan melakukan prosesi tijak kue. Tijak kue maksudnya kedua kaki anak tersebut diinjakkan di atas kue yang bermacam-macam jenis. Kue tersebut adalah kue khas suku Madura di antaranya adalah kue cucur, dodol, pulut putih, wajit, dan yang unik adalah kue tetelan. Kue tersebut diletakkan di atas piring di mana anak tersebut akan menijakkan kedua kakinya di atas piring yang berisi bermacam-macam jenis kue khas pada acara toron tanna masyarakat madura tersebut. Adapun maksud dan tujuan tijak kue dalam acara tersebut adalah hanya untuk mengisi rangkaian acara tersebut dan tiada maksud apa-apa. Orang Madura hanya mengikuti prosesi ini sesuai dengan apa yang turun-temurun dari nenek moyang mereka.
Ketiga, Milih barang. Milih barang adalah simbol bagi anak dan masa depannya. Terutama anak ini akan dihadapkan sejumlah benda-benda sehari-hari. Benda-benda tersebut seperti al-Quran, tasbih, buku, pulpen, emas, uang, mainan (pesawat, mobil, motor, dan lain-lain). Setelah barang itu dihadapkan pada anak itu dan bila ternyata anak itu memilih buku, maka akan diyakini kelak dia akan menjadi anak yang suka menulis dan membaca buku. Dalam
artiannya anak ini akan menjadi anak yang pintar dan cerdas. Alat atau benda tersebut merupakan simbol yang menunjukan bahwa sejak usia dini tersebut, anak-anak sudah mengenal apa yang ia harus lakukan kelak. Namun demikian, pada hakikatnya melakukan tradisi ritual toron tanna ini sebagai bentuk harapan agar kelak anak bisa menjadi orang yang baik, shaleh dan shaleha.
Keempat, Toron tanna. Acara inilah yang menjadi penutup pada acara tradisi toron tanna masyarakat Madura di Pontianak. Dalam ritual ini anak yang dimaksud akan langsung menijakkan kakinya langsung ke tanah digendong oleh orang tuanya baik bapak maupun ibunya. Dalam artian ini, si anak telah sah dan boleh turun ke tanah dalam jangka waktu yang pendek, dan anak tersebut tidak ada lagi pantangan untuk tidak lagi boleh turun ketanah.
Kelima, Makan-makan. Acara selanjutnya yaitu makan- makan, acara makan-makan ini dilakukan setelah ritual toron tanna selesai. Maka, orang rumah mempersilahkan tamu yang hadir di acara tersebut untuk menyantap makanan yang telah disediakan orang rumah. Hal ini bertujuan mengucapkan rasa terima kasih kepada para tamu undangan yang telah hadir dalam acara toron tanna. Setelah acara makan-makan berarti telah selesai pulalah acara toron tanna ini.
Dari berbagai macam susunan acara yang telah saya paparkan, kiranya terdapat beberapa jenis pemaknaan: Pertama, yaitu sebagai rasa syukur kepada Allah SWT, baik atas karunia anak yang telah diperolahnya maupun atas limpahan rejeki yang telah diberikan-Nya sampai anak berusia 7 bulan. Kedua, acara tradisi ini adalah sebagai penghormatan atau penghargaan atas tradisi leluhur mereka dan menghargai atas pilihan masa depan anak. Hal ini karena acara toron tanna adalah buah dari peninggalan dari nenek moyang. Ketiga, acara toron tanna ini juga diartikan sebagai tanda rasa gembira terhadap orang tua si anak, karena telah mendapatkan anak dan ingin membagi kegembiraannya dengan mengadakan acara toron tanna, berkumpul dengan anak
sanak saudara keluarga dan tetangga. Dapat kita rincikan bahwa acara ini begitu sangat penting khususnya untuk orang Madura. Karena, acara ini menyangkut tentang anak mereka.
Berikut dipaparkan beberapa pendapat orang Madura Pontianak tentang toron tanna. Menurut Bapak Abdur Rahman yang berdomisili di Jeruju Gang Catur Warga. Bapak ini mengatakan bahwa acara ini adalah turun temurun dari nenek moyang yang sudah lama diwariskan olehnya kepada orang khas suku Madura. (wawancara di Pontianak 12 April 2015, rumah kediaman).
Pendapat Bapak Abdur Rahman, sama seperti pendapat seorang ibu rumah tangga yaitu Hosimah, bahwa acara toron tanna ini temurun dari nenek moyangnya juga. Acara ini pun tidak sama sekali bertentangan dengan agama. Bahkan dalam dalam bagian acara ada pembacaan ayat-ayat suci al-Quran. (wawancara di Pontianak 12 April 2015, rumah makan Jeruju).
Syamsul Arifin, mengatakan bahwa acara toron tanna ini adalah acara khas orang Madura. Meski sebenarnya acara ini juga terkadang dijumpai pada suku lain, contohnya suku Jawa dan Melayu. Hal yang berbeda adalah penyebutan pada nama acaranya saja. Pemaknaanya sama yaitu turun tanah. (wawancara di Pontianak 13 April 2015, di Pertamina (SPBU) Jeruju).
Selanjutnya, Riana Rahmawati mengatakan bahwa acara toron tanna “tidak bertentangan dengan agama Islam karena acara ini masih menggunakan pembacaan doa dari ayat-ayat suci Al- quran dan sholawat. Riana Rahmawati mengatakan bahwa acara ini sangatlah unik dan seru. Karena acara ini dihadiri sejumlah anak kecil yang ikut menyaksikan dalam melaksanakan acara toron tanna, dan mempuyai beberapa keunikan dari susunan acaranya. (wawancara di Pontianak 15 April 2015, Kampus IAIN Pontianak).
Toron tanna hingga kini masih dapat dijumpai mengikuti tradisi orang madura Pontianak, sebab 5 faktor yaitu: pertama, toron tanna telah menjadi tradisi lokal bagi orang Madura, sebab dimaknai
sebagai sedekah dan berbagi rejeki. Kedua, adanya penghargaan atas tradisi para leluhur yang memang tidak bertentangan dengan ajaran agama Islam. Ketiga, toron tanna sebenarnya tidak berhubungan dengan masa depan anak. Sebab apa yang dipilih dari barang-barang itu hanya simbol saja. Walaupun sebagian orang mempercayai itu tetap saja hidup, mati, rejeki, dan jodoh itu sudah ditentukan oleh Sang Maha Kuasa. Keempat, adanya rasa syukur kepada Allah atas karunia yang diberikan-Nya kepada keluarga, serta kelancaran dalam menjalankan toron tanna. Kelima, kebersamaan dan gontong royong sanak saudara keluarga dan tetangga setempat dalam membantu acara tersebut.***