PEMULIAAN IKAN PATIN SIAM
Di Balai Perikanan Budidaya Air Tawar Sungai Gelam - Jambi
Oleh :
Boyun Handoyo, Evi Rahayuni, Irwan, Mimid A. Hamid, Solaiman, Nofri Hendra, Evarianti, Upmal Deswira
BALAI PERIKANAN BUDIDAYA AIR TAWAR SUNGAI GELAM JAMBI DIREKTORAT JENDERAL PERIKANAN BUDIDAYA
KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN
PEMULIAAN IKAN PATIN SIAM
Di Balai Perikanan Budidaya Air Tawar Sungai Gelam - Jambi Penulis :
Boyun Handoyo, Evi Rahayuni, Irwan, Mimid A. Hamid, Solaiman, Upmal Deswira, Nofri Hendra, Evarianti
ISBN : Editor :
Miftahul Jannah, Wahyu Budi Wibowo, Ma’in Penyunting :
Syu’ib, Defi Angraini Komalasari Desain Sampul dan Tata Letak : Yudho Adhitomo, M. Dwiki Setiawan Penerbit :
Balai Perikanan Budidaya Air Tawar Sungai Gelam – Jambi Redaksi :
Jl. Bumi Perkemahan Sungai Gelam – Muaro Jambi Telp. +62813 1595 1579
Email : [email protected] Distributor Tunggal :
Balai Perikanan Budidaya Air Tawar Sungai Gelam – Jambi Jl. Bumi Perkemahan Sungai Gelam – Muaro Jambi
Telp. +62813 1595 1579
Email : [email protected] Cetakan pertama, April 2021
Hak cipta dilindungi undang-undang
Dilarang memperbanyak karya tulis ini dalam bentuk dan dengan cara apapun tanpa ijin tertulis dari penerbit.
TIM PUSTINA
SEJAK TAHUN 2008 S.D TAHUN 2020
HASIL PEMULIAAN IKAN PATIN SIAM
BALAI PERIKANAN BUDIDAYA AIR TAWAR SUNGAI GELAM Pengarah : Boyun Handoyo, S.Pi, M.Si
Ketua : Irwan, S.Pi, M.Si Sekretariat : Miftahul Jannah, S.Pi
Syu’ib, S.St.Pi
1. Prof. Komar Sumantadinata 2. Dr. Odang Carman
3. Dr. Rudhy Gustiano 4. Dr. Alimuddin
5. Dr. Atmadja Hardjamulia 6. Dr. Ratu Siti Aliah
7. Prof. Kamiso 8. Dr. Asep Anang
1. Boyun Handoyo S.Pi, M.Si 2. Ir. Evi Rahayuni, MP 3. Irwan, S.Pi, M.Si
4. Ir. Mimid A. Hamid, M.Sc 5. Solaiman, S.Pi
6. Upmal Deswira, S.Pi 7. Nofri Hendra, S.Pi 8. Eva Rianti, S.St.Pi
1. Ma’in, S.Pi, M.Si
2. Wahyu Budi Wibowo, S.St.Pi, MP 3. Dafzel Day, S.Pi, M.Si
4. Lilik Masrifah 5. Nefa Yulia
6. Arief Rahmat Noviandi 7. Messi Susanti
1. Nofri Hendra, S.Pi 2. Tatang Purnama 3. Solihin
4. Samlan
5. Kemas Husaini 6. Upmal Deswira, S.Pi
Tim Ahli
Tim Pendukung Tim Teknis
Tim Pemuliaan
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah kami bersyukur atas tersusunnya Buku Pemuliaan Ikan Patin Siam di Balai Perikanan Budidaya Air Tawar Sungai Gelam – Jambi ini. Shalawat kepada Nabi Besar Muhammad S.A.W. dan keluarganya. Buku ini diterbitkan sebagai panduan dan memberi gambaran tentang beberapa kegiatan yang kami lakukan sejak tahun 2008 yaitu ketika BPBAT Sungai Gelam - Jambi dicanangkan menjadi PUSTINA (Pusat Pengembangan Patin Nasional) dan koordinator jejaring pemuliaan ikan Patin. Pengumpulan populasi dasar (seluruh Indonesia, Kamboja dan Vietnam) telah dimulai sejak tahun 2009. Kegiatan pemuliaan Patin sampai tahun 2020 akhirnya kami telah menyelesaikan rangkaian kegiatan seleksi individu galur pertumbuhan sampai generasi ketiga (G3Ps), sehingga didapatkan respon seleksi yang cukup signifikan jika dibandingkan dengan populasi dasar maupun ikan Patin yang telah dirilis sebelumnya.
Generasi ketiga galur pertumbuhan ikan Patin ini terbukti memiliki keunggulan yang cukup signifikan dari karakteristik pertumbuhan, daya tahan terhadap penyakit dan lingkungan, efisiensi penggunaan pakan, dan kelangsungan hidup.
Pembuktian dilakukan dengan uji multilokasi dan uji tantang dibandingkan dengan strain lain yang telah dirilis sebelumnya. Dengan hasil tersebut BPBAT Sungai Gelam mengusulkan Rilis ikan Patin unggul ini. Ikan Patin unggul ini diusulkan untuk dirilis dengan nama Patin PUSTINA sesuai dengan sejarah BPBAT sebagai PUSTINA (Pusat Pengembangan Patin Nasional).
Sebagai syarat untuk melakukan rilis ikan Patin PUSTINA ini maka disusunlah
“Buku Pemuliaan Ikan Patin Siam di Balai Perikanan Budidaya Air Tawar Sungai Gelam - Jambi” ini dalam bentuk buku sebagai syarat proses rilis tersebut. Buku ini juga dapat dijadikan pedoman bagi UPR dan pembudidaya Patin, Penyuluh, Akademisi, Peneliti, Perekayasa, Pengusaha, Produsen Pakan, Dinas Perikanan, serta seluruh stakeholder perikanan Indonesia yang ingin mengetahui tentang strain ikan ini.
Selanjutnya kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah bekerja keras dalam membantu kegiatan kami dalam bidang pemuliaan ikan Patin di BPBAT Sungai Gelam - Jambi, khususnya kepada Tim Ahli PUSTINA (Prof. Komar Sumantadinata, Prof. Kamiso, Dr. Asep Anang, Dr.
Odang Carman, Dr. Allimudin, Dr. Rudy Gustiano, Dr. Atmaja Hardjamulia, Dr. Ratu Siti Aliah). Terima kasih juga diucapkan kepada Kepala Balai Sungai Gelam terdahulu yang ikut menginisiasi PUSTINA Ir. Supriyadi M.Si, Ir.
Mimid Abdul Hamid, M.Sc. serta seluruh rekan-rekan di BPBAT Sungai Gelam - Jambi sejak tahun 2008 - 2021 telah bekerja keras menyukseskan kegiatan ini. Kami berharap kegiatan program seleksi ini terus berlanjut sejalan dengan kegiatan produksi untuk mendapatan induk yang lebih unggul lagi kedepan.
Jambi, Maret 2021
Kepala BPBAT Sungai Gelam
Boyun Handoyo, M.Si NIP. 198002262002121003
RINGKASAN
Ikan Patin Siam (Pangasianodon hypophthalmus) menjadi salah satu komoditas budidaya yang cukup penting di Indonesia. Volume produksi ikan Patin siam menempati urutan ke empat setelah ikan nila, mas dan lele dalam kelompok ikan air tawar. Benih merupakan salah satu mata rantai dalam bisnis akuakultur dan kualitasnya sangat menentukan keberhasilan usaha akuakultur.
Banyak cara yang dapat dilakukan untuk menghasilkan benih yang berkualitas.
Metode seleksi (selective breeding) merupakan salah satu metode yang dapat digunakan untuk perbaikan mutu genetik dan sampai hari ini masih dominan digunakan pada banyak ikan budidaya. Bahkan di Eropa, 80-83% dari total produksi akuakultur menggunakan benih hasil program selective breeding.
Heritabilitas yang cukup tinggi untuk sifat-sifat yang memiliki nilai ekonomis pada ikan jika dikombinasikan dengan fekunditas tinggi serta interval generasi yang relatif singkat (1-4 tahun) pada sebagian besar spesies ikan akan menghasilkan kemajuan genetik yang memadai. Selain itu perbaikan mutu genetik yang diperoleh dari program selective breeding dapat diwariskan kepada generasi berikutnya karena sifat produksi dikontrol oleh banyak gen (polygene) yang bersifat aditif. Karakter pertumbuhan (galur pertumbuhan) menjadi karakter yang paling banyak dimuliakan dalam program selective breeding diikuti karakter morfologi, tahan penyakit, kualitas daging, fillet dan efisiensi pakan. Karakter pertumbuhan menjadi penting karena siklus produksi menjadi lebih cepat atau mendapatkan ukuran ikan yang lebih besar dalam kurun waktu tertentu.
Balai Perikanan Budidaya Air Tawar Sungai Gelam (BPBAT Sungai Gelam) pada tahun 2009 telah mengumpulkan ikan Patin siam dari berbagai daerah (seluruh Indonesia, Kamboja, dan Vietnam) untuk membentuk populasi dasar yang digunakan dalam program seleksi (selective breeding).
Kegiatan seleksi dimulai tahun 2013 dengan desain satu galur pertumbuhan (diseleksi berdasarkan bobot tubuh) dengan menggunakan metode seleksi individu dan satu galur daya tahan dengan metode seleksi famili. Untuk galur pertumbuhan, sampai tahun 2018 telah diperoleh generasi ketiga. Evaluasi performa induk dan benih G3Ps dilakukan dari 2018 sampai dengan 2019.
Berdasarkan hasil evaluasi diperoleh akumulasi respons seleksi (tiga generasi) sebesar 42,30% atau per generasi sebesar 14,20% dibandingkan dengan populasi dasar. Uji banding dengan ikan Patin siam yang sudah dirilis (Perkasa) sudah dilakukan. Hasilnya menunjukkan G3Ps lebih unggul jika dibandingkan
dengan Patin dengan selisih untuk karakter bobot tubuh rerata 17,31%, total biomas panen 22,76%, kelangsungan hidup 31,66% dan FCR 17,03%.
Toleransi salinitas dan ketahanan penyakit Patin G3Ps juga lebih unggul dibandingkan dengan Patin Perkasa. Calon/induk Patin siam G3Ps telah tersedia di BPBAT Sungai Gelam dan beberapa UPT DJB di Pulau Jawa (BLUPPB Karawang dan BBPBAT Sukabumi). Program seleksi ikan Patin siam galur pertumbuhan di BPBAT Sungai Gelam terus dilanjutkan dan telah sampai pada generasi ke empat (G4Ps) per 7 September 2020 sehingga ke depan akan lebih unggul dengan bertambahnya generasi. Berdasarkan hasil- hasil pengujian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa ikan Patin siam galur pertumbuhan generasi ketiga (G3Ps) tumbuh dengan cepat dan memiliki ketahanan terhadap cekaman lingkungan serta ketahanan terhadap penyakit yang lebih baik dibandingkan dengan ikan Patin siam Perkasa. Dengan demikian, populasi ikan Patin siam G3Ps dipandang layak untuk diajukan untuk dilepas sebagai strain unggul ikan Patin siam tumbuh cepat, dengan usulan nama
“PATIN PUSTINA”.
Kata Kunci : galur pertumbuhan, seleksi individu, respons seleksi, Patin Pustina
DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR……….. iv
RINGKASAN………. vi
DAFTAR ISI………... viii
DAFTAR TABEL……… x
DAFTAR GAMBAR……….. xii
DAFTAR LAMPIRAN………. xv
I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang……….. 2
1.2. Tujuan………. 5
1.3. Sasaran……… 5
II BAHAN, PELAKSANAAN DAN METODE 2.1. Bahan awal program seleksi……… 7
2.2 Pelaksanaan Program Seleksi……….. 12
2.3 Metode………. 13
III METODE DAN HASIL PENGUJIAN JENIS IKAN BARU YANG AKAN DIBUDIDAYAKAN 3.1. Morfometrik……… 19
3.2. Meristik……….. 21
3.3. Karakteristik Warna……… 22
3.4 Pertumbuhan……….. 24
3.4.1. Fase Pembenihan……….. 24
3.4.2. Fase Pembesaran……… 28
3.5. Nilai Toleransi Lingkungan………. 30
3.5.1 Pengujian Toleransi Ph……… 30
3.5.2 Pengujian Toleransi Salinitas……… 34
3.6 Kualitas Daging………... 36
3.7 Jenis Dan Kebiasaan Makan……… 3.8. Performa Reproduksi………. 37 39 3.8.1. Performa Induk Betina ………. 39
3.8.2. Performa Induk Jantan………... 43
3.9. Ketahanan Terhadap Penyakit ………. 44
3.10. Produktivitas (Uji Banding) ……… 50
3.11. Karakterisasi Genotipe……… 54
3.12. Ketersediaan Induk……….. 56
IV MANFAAT
4.1. Manfaat Teknologi……….. 59
4.2. Manfaat Ekonomi………. 59
4.3. Manfaat Sosial………. 60
4.4. Manfaat Lingkungan……… 60
V DESKRIPSI RINGKAS……… 63
VI PENUTUP……… 69
DAFTAR PUSTAKA……… 71
LAMPIRAN……… 74
DAFTAR TABEL
Halaman Tabel 1. Minimum genetic distances antar populasi Patin siam (Nei's,
1972)……… 10
Tabel 2. Hasil pengukuran morfometrik Patin siam galur pertumbuhan generasi ketiga (G3Ps) dan populasi dasar generasi kedua (G2Ds) di BPBAT Sungai Gelam………..……… 20 Tabel 3. Hasil penghitungan karakteristik meristik galur pertumbuhan
generasi ketiga (G3Ps) dan Populasi dasar generasi kedua (G2Ds) di BPBAT Sungai Gelam……….. 22 Tabel 4. Karakteristik warna ikan Patin siam G3Ps dewasa dengan
menggunakan aplikasi Color Grab Version 3.6.1. ……….. 23 Tabel 5. Performa benih (rerata ± standar deviasi) galur
pertumbuhangenerasi ketiga (G3Ps dan populasi dasar generasi kedua (G2Ds) sebagai kontrol yang diukur pada umur 14 dan 40 hari dari menetas………... 27 Tabel 6. Mortalitas ikan Patin siam G3Ps dibandingkan dengan ikan Patin
Perkasa dalam uji tantang pH asam dan basa selama 96
jam………. 33
Tabel 7. Sintasan ikan Patin siam G3Ps dibandingkan dengan ikan Patin Perkasa yang diuji tantang pada salinitas 6, 8, 10, 12 dan 14 gL–1 selama 48 jam………... 35 Tabel 8. Persentase parameter kualitas daging terhadap bobot tubuh galur
pertumbuhan generasi ketiga (G3Ps) dan populasi dasar generasi
kedua (G2Ds)………. 36
Tabel 9. Hasil uji proksimat daging ikan Patin galur pertumbuhan generasi ketiga (G3Ps) di BPBAT Sungai Gelam………. 37 Tabel 10. Pergantian air, jumlah cyste artemia dan cacing Tubifex yang
dibutuhkan untuk pemeliharan ikan Patin siam sebanyak 100.000 ekor di hatchery BPBAT Sungai Gelam. ………. 38 Tabel 11. Kisaran dosis dan frekuensi pemberian pakan berdasarkan
panjang dan bobot ikan Patin yang dilakukan di BPBAT Sungai
Gelam………. 39
Tabel 12. Bobot tubuh, panjang dan parameter reproduksi galur pertumbuhan generasi ketiga (G3Ps) dan populasi dasar generasi ketiga (G3Ps) pada umur 643 hari (20 bulan 3 minggu 5 hari)
……… 42
Tabel 13. Performa reproduksi (rerata ± standar deviasi) galur pertumbuhan generasi ketiga (G3Ps dan populasi dasar generasi kedua (G2Ds) sebagai kontrol……….. 43 Tabel 14. Bobot tubuh induk rerata dan jumlah famili yang dipijahkan pada
tahap pertama (B1) dan kedua (B2) untuk masing-masing galur…… 44 Tabel 15. Sintasan/SR ikan Patin siam G3Ps dibandingkan dengan ikan
Patin siam Perkasa dalam uji tantang infeksi bakteri Edwardsiella ictaluri pada dosis infeksi bakteri 0,2 x 105CFU/mL……… 48 Tabel 16. Sintasan ikan Patin siam G3Ps dibandingkan dengan ikan Patin
siam Perkasa dalam uji tantang infeksi bakteri Aeromonas hydrophila pada dosis infeksi bakteri 0,2 x 105CFU/mL……….. 49 Tabel 17. Hasil nilai heterozigositas ikan Patin siam galur pertumbuhan
(G3Ps) dibandingkan dengan populasi dasar berdasarkan analisis
RAPD PCR……….. 55
Tabel 18. Ketersediaan induk (distribusi dari BPBAT Sungai Gelam) di instansi lain dan Unit Pembenihan Rakyat……… 57
DAFTAR GAMBAR
Halaman Gambar 1. Grafik bobot tubuh rerata ika Patin yang berasal dari tujuh
daerah/populasi di Indonesia pada umur 23 bulan……… 8 Gambar 2. Grafik laju pertumbuhan harian Patin siam dari tujuh
daerah/populasi di Indonesia………. 8 Gambar 3. Grafik perkembangan gonad Patin siam yang betina dari tujuh
daerah/populasi di Indonesia. ……….. 9 Gambar 4. Dendrogram Patin siam dari populasi Indonesia, Kamboja dan
Vietnam………. 10
Gambar 5. Distribusi bobot tubuh populasi dasar (G1Ds) pada umur 16
bulan……… 12
Gambar 6. Diagram alur pembentukan galur pertumbuhan dengan metode seleksi individu……….. 14 Gambar 7. Karakter truss morphometric yang dilakukan pengukuran………. 19 Gambar 8. Kegiatan pengukuran morfometrik dan meristik galur pertumbuhan
generasi ketiga (G3Ps) dan Populasi dasar generasi kedua (G2Ds) di BPBAT Sungai Gelam……….. 21 Gambar 9. Perkembangan larva ikan Patin siam hasil seleksi di hatchery
BPBAT Sungai Gelam Jambi……… 24 Gambar 10. Kegiatan uji performa benih ikan Patin galur pertumbuhan di
BPBAT Sungai Gelam……….. 27 Gambar 11. Wadah yang digunakan untuk kegiatan pembesaran ikan Patin siam
galur pertumbuhan generasi ketiga dan populasi dasar
(kontrol)……… 28
Gambar 12. Performa ikan Patin siam hasil seleksi galur pertumbuhan generasi ketiga (G3Ps) dibandingkan kontrol (populasi dasar) untuk karakter bobot tubuh, konversi pakan (FCR) dan sintasan (SR) ………. 29 Gambar 13. Prosedur uji tantang nilai LC50 pH asam dan basa pada benih ikan
Patin siam G3Ps dibandingkan dengan benih ikan Patin Perkasa…….……… 31 Gambar 14. Grafik pola kematian ikan Patin siam G3Ps dan Perkasa pada pH
asam selama 96 jam………. 32 Gambar 15. Grafik pola kematian ikan Patin siam G3Ps dan Perkasa pada pH
basa selama 96 jam……….. 32 Gambar 16. Grafik tingkat mortalitas 50% ikan Patin siam G3Ps dan Perkasa
pada paparan pH asam dan basa selama 96 jam (LC50 – 96 jam)…… 33 Gambar 17. Prosedur uji tantang salinitas pada benih ikan Patin siam G3Ps
dibandingkan dengan benih ikan Patin Perkasa……… 34
Gambar 18. Pola mortalitas benih ikan Patin siam G3Ps dibandingkan dengan Perkasa pada uji tantang salinitas 6, 8, 10, 12 dan 14 gL–1 .selama 48 jam………... 35 Gambar 19. Pakan alami Artemia sp (kiri), cacing Tubifek sp (tengah) dan Moina
sp kanan yang digunakan untuk pakan alami ikan Patin di BPBAT Sungai Gelam………. 38 Gambar 20. Perkembangan gonad calon induk ikan Patin siam jenis kelamin
jantan hasil seleksi yang dipelihara di BPBAT Sungai Gelam………... 41 Gambar 21. Gonado somatic index dari 5 ekor calon induk Patin siam galur
pertumbuhan generasi ketiga (G3Ps) dan populasi dasar generasi ketiga (G3Ds) pada umur 17 bulan………. 41 Gambar 22. Perkembangan gonad calon induk ikan Patin siam jenis kelamin
jantan hasil seleksi yang dipelihara di BPBAT Sungai Gelam………... 43 Gambar 23. Kegiatan uji ketahanan terhadap penyakit ikan Patin siam hasil
seleksi di BPBAT Sungai Gelam………. 45 Gambar 24. Prosedur pelaksanaan uji tantang pada benih ikan Patin siam
tumbuh cepat (G3Ps) dibandingkan dengan benih ikan Patin siam Perkasa terhadap infeksi bakteri Edwardsiella ictaluri dan Aeromonas hydrophila……….. 46 Gambar 25. Gejala klinis ikan Patin siam setelah diinfeksi E. ictaluri. (A)
hemoragi; bercak merah; (B) dropsy; perut membengkak; (C) renang menggantung di permukaan air………………. 46 Gambar 26. Pola mortalitas ikan Patin siam G3Ps dibandingkan dengan ikan
Patin siam Perkasa dalam uji tantang infeksi bakteri Edwardsiella ictaluri pada dosis infeksi bakteri 0,2 x 105CFU/mL selama 96 jam pasca infeksi………... 47 Gambar 27. Gejala klinis dan perubahan tingkah laku ikan Patin siam setelah
diinfeksi A. hydrophilai. (H) hemoragi; bercak merah; (B) pembengkakan hati……..……… 48 Gambar 28. Grafik pola mortalitas ikan Patin siam G3Ps dibandingkan dengan
ikan Patin siam Perkasa dalam uji tantang infeksi bakteri Aeromonas hydrophila pada dosis infeksi bakteri 0,2 x 105CFU/mL
selama 96 jam pasca infeksi
………..…. 49
Gambar 29. Kegiatan uji banding/competitor produktivitas ikan Patin siam hasil seleksi (G3Ps) dengan ikan Patin Perkasa di BPBAT Sungai
Gelam………. 51
Gambar 30. Grafik rerata bobot tubuh G3Ps dan Perkasa pada tahap pembesaran.. ………... 53
Gambar 31. Grafik sintasan G3Ps dan Perkasa pada tahap pembesaran pada berbagai lokasi. ………. 54 Gambar 32. Dendrogram jarak genetik ikan Patin siam G3Ps (P) dibandingkan
dengan populasi dasar (D) berdasarkan analisis RAPD (Based Nei's (1972) Genetic distance: Method = UPGMA) ……….. 55 Gambar 33. Produksi dan distribusi ikan Patin siam hasil seleksi galur
pertumbuhan (G3Ps) pada Tahun 2019 s.d. Bulan Maret 2021 di BPBAT Sungai Gelam……….. 56 Gambar 34. Daerah distribusi ikan Patin siam hasil seleksi galur pertumbuhan
(G3Ps) pada Tahun 2019 s.d. Bulan Maret 2021 di BPBAT Sungai
Gelam………..……….. 57
DAFTAR LAMPIRAN
Halaman Lampiran 1. Gambar Patin PUSTINA……….……… 75 Lampiran 2. PowerPoint……….. 77
Balai Perikanan Budidaya Air Tawar Sungai Gelam (BPBAT Sungai Gelam) pada tahun 2009 telah mengumpulkan ikan patin siam dari berbagai daerah untuk membentuk populasi dasar yang digunakan dalam program seleksi (selective breeding).
Kegiatan seleksi dimulai tahun 2013 dengan desain satu galur pertumbuhan (diseleksi berdasarkan bobot tubuh) dengan menggunakan metode seleksi individu dan satu galur daya tahan dengan metode seleksi famili. Untuk galur pertumbuhan, sampai tahun 2017 telah diperoleh generasi ketiga. Induk patin siam galur pertumbuhan generasi ketiga (G3Ps) dewasa pada bulan Desember 2017. Evaluasi performa induk dan benih G3Ps dilakukan dari 2018 sampai dengan 2019.
‘’
‘’
I. PENDAHULUAN
1.1. Latar belakang
Ikan Patin Siam (Pangasianodon hypophthalmus) bukanlah ikan endemik Indonesia yang diintroduksi pada tahun 1972 (Hardjamulia et al. 1981). Dalam kurun waktu lima dasawarsa Patin Siam telah menjadi salah satu komoditas budidaya yang cukup penting di Indonesia. Pada tahun 2016, volume produksi ikan Patin Siam menempati urutan ke empat setelah ikan nila, mas dan lele dalam kelompok ikan air tawar (DJPB 2016). Ikan Patin Siam termasuk komoditas program industrialisasi DJPB pada tahun 2008. Ikan Patin Siam dapat mengambil oksigen dari udara (Lefevre et al. 2011; 2013) sehingga mampu hidup dan tumbuh relatif baik pada lingkungan yang rendah oksigen (Phuong et al. 2017). Dengan demikian jutaan lahan marjinal seperti rawa atau rawa gambut di Indonesia (Mulyani dan Sarwani 2013) dapat dimanfaatkan untuk budidaya ikan Patin Siam. Selain itu, ikan Patin Siam dapat memanfaatkan pakan buatan dengan kandungan protein yang relatif rendah (Nguyen 2013), mengakibatkan biaya produksi relatif murah sehingga dapat dijadikan sumber protein hewani yang murah bagi masyarakat terutama kelas menengah ke bawah. Oleh karena itu usaha-usaha perbaikan dari sisi teknologi produksi, pakan maupun penyediaan benih yang unggul harus terus dilakukan untuk meningkatkan produktivitas ikan Patin Siam.
Benih merupakan salah satu mata rantai dalam bisnis akuakultur dan kualitasnya sangat menentukan keberhasilan usaha akuakultur. Banyak cara yang dapat dilakukan untuk menghasilkan benih yang berkualitas. Menurut Gjedrem dan Baranski (2009) metode seleksi (selective breeding) merupakan salah satu metode yang dapat digunakan untuk perbaikan mutu genetik dan sampai hari ini masih dominan digunakan pada banyak spesies akuakultur
(Gjedrem et al. 2012). Janssen et al. (2017) melaporkan bahwa dari total produksi akuakultur di Eropa, 80-83% menggunakan benih hasil program selective breeding. Heritabilitas yang cukup tinggi untuk sifat-sifat yang memiliki nilai ekonomis pada ikan jika dikombinasikan dengan fekunditas tinggi serta interval generasi yang relatif singkat (1-4 tahun) pada sebagian besar spesies ikan akan menghasilkan kemajuan genetik yang memadai (Gjedrem et al. 2012).
Selain itu perbaikan mutu genetik yang diperoleh dari program selective breeding dapat diwariskan kepada generasi berikutnya karena sifat produksi dikontrol oleh banyak gen (polygene) yang bersifat aditif (Gjedrem dan Baranski 2009).
Karakter pertumbuhan (galur pertumbuhan) menjadi karakter yang paling banyak dimuliakan dalam program selective breeding diikuti karakter morfologi, tahan penyakit, kualitas daging, fillet dan efisiensi pakan (Janssen et al. 2017). Karakter pertumbuhan menjadi penting karena memberikan banyak keuntungan. Manfaat ekonomi dari galur pertumbuhan yaitu siklus produksi menjadi lebih cepat atau mendapatkan ukuran ikan yang lebih besar dalam kurun waktu tertentu. Ikan yang tumbuh cepat membutuhkan lebih sedikit energi dan protein untuk pemeliharaan dibandingkan dengan yang tumbuh lebih lambat, sehingga meningkatkan efisiensi pakan yang merupakan penyumbang terbesar terhadap biaya produksi (Gjedrem dan Baranski 2009).
Respons seleksi rerata dari berbagai spesies ikan yang telah dimuliakan untuk karakter pertumbuhan relatif tinggi yaitu sebesar 12.7% per generasi (Gjedrem dan Robinson 2014). Sementara Janssen et al. (2017) melaporkan bahwa respons seleksi komoditas ikan air laut untuk karakter pertumbuhan seperti pada ikan rainbow trout (Oncorhynchus mykiss) berkisar antara 7-13%, Atlantik salmon (Salmo salar) 12%, sea bass Eropa (Dicentrarchus labrax) 20-25% dan seabream (Sparus aurata) sebesar 10-15% per generasi. Sedangkan pada ikan air tawar seperti ikan nila (Oreochromis niloticus) pada proyek GIFT,
diperoleh respons seleksi rerata per generasi sebesar 13.6% dengan kisaran 9.0- 20.1% (Bentsen et al. 2017), di China sebesar 11.4% dengan kisaran 7.4-18.7%
(Thodesen et al. 2012) dan di Mesir sebesar 6.8% (Rezk et al. 2009).
Program selective breeding pada ikan Patin Siam yang tercatat mulai dilakukan di Vietnam tahun 2001 oleh Research Institute for Aquaculture No.2 (RIA2) dan hasilnya dilaporkan pada tahun 2007 dengan respons seleksi generasi pertama untuk karakter bobot tubuh sebesar 13% (Nguyen et al. 2007).
Populasi dasar yang digunakan berasal dari alam. Kemudian pada generasi berikutnya ada penambahan karakter seleksi yaitu hasil dan kualitas fillet. Vu et al. (2019) melaporkan pada tahun 2019 telah diperoleh generasi kelima untuk galur pertumbuhan dengan respons seleksi per generasi sebesar 9.3% dan perform pertumbuhan generasi kelima 16.4% lebih tinggi dibandingkan dengan populasi alam (wild population).
Balai Perikanan Budidaya Air Tawar Sungai Gelam (BPBAT Sungai Gelam) pada tahun 2009 telah mengumpulkan ikan Patin Siam dari berbagai daerah untuk membentuk populasi dasar yang digunakan dalam program seleksi (selective breeding). Kegiatan seleksi dimulai tahun 2013 dengan desain satu galur pertumbuhan (diseleksi berdasarkan bobot tubuh) dengan menggunakan metode seleksi individu dan satu galur daya tahan dengan metode seleksi famili. Untuk galur pertumbuhan, sampai tahun 2017 telah diperoleh generasi ketiga. Induk Patin Siam galur pertumbuhan generasi ketiga (G3Ps) dewasa pada bulan Desember 2017. Evaluasi performa induk dan benih G3Ps dilakukan dari 2018 sampai dengan 2019. Berdasarkan hasil evaluasi diperoleh akumulasi respons seleksi (tiga generasi) yang cukup tinggi yaitu sebesar 42.30%
dibandingkan dengan populasi dasar. Oleh karena itu berdasarkan Peraturan Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan Nomor 84/KEP-BALIBANGKP/2014 Patin Siam galur pertumbuhan generasi ketiga hasil pemuliaan di BPBAT Sungai Gelam dapat diajukan sebagai galur baru
untuk dirilis. Seluruh proses dan hasil kegiatan pemuliaan pembentukan ikan Patin Siam galur pertumbuhan dari mulai koleksi populasi founder, pembentukan populasi dasar dan pembentukan dan evaluasi galur pertumbuhan dituangkan dalam naskah akademik ini.
1.2. Tujuan
Kegiatan pemuliaan (selective breeding) ini bertujuan untuk menghasilkan ikan Patin Siam yang memiliki pertumbuhan yang lebih baik dari populasi/generasi yang sudah ada.
1.3. Sasaran
Sasaran dari pelaksanaan kegiatan pemuliaan ini adalah terbentuknya ikan Patin Siam galur pertumbuhan yang memiliki keunggulan performa pertumbuhan minimal 30% lebih tinggi dibandingkan dengan populasi dasar.
Ikan Patin Siam yang diambil dari 7 daerah di Indonesia (Riau, Jambi, Lampung, Bekasi, Subang, Bogor, Mandiangin), Kamboja dan Vietnam yang selanjutnya disebut sebagai populasi founder. Selanjutnya populasi founder dipijahkan dan anaknya digabung untuk membentuk populasi dasar. Kegiatan ini dilaksanakan di BPBAT Sungai Gelam – Jambi, kolam tadah hujan dan KJA di Provinsi Jambi dan Jawa Barat, serta Laboratorium Genetik Departemen Budidaya Perairan FPIK, IPB.
Sedangkan metode yang dilakukan mengacu pada Protokol Pemuliaan (Genetic Improvement) Ikan Patin Siam No. PO 01 Seleksi Individu dengan modifikasi. Kegiatan telah dilakukan sejak tahun 2009 sampai 2020 untuk mendapatkan generasi ketiga dengan performa yang dapat diandalkan.
‘’
‘’
II. BAHAN, PELAKSANAAN DAN METODE
2.1. Bahan Awal Program Seleksi
Bahan awal program seleksi ini merupakan ikan Patin Siam yang diambil dari 7 daerah di Indonesia (Riau, Jambi, Lampung, Bekasi, Subang, Bogor, Mandiangin), Kamboja dan Vietnam yang selanjutnya disebut sebagai populasi founder. Selanjutnya populasi founder dipijahkan dan anaknya digabung untuk membentuk populasi dasar. Program seleksi untuk galur pertumbuhan diseleksi dari populasi dasar. Rincian mengenai populasi founder dan populasi dasar akan dijelaskan sebagai berikut.
▪ Populasi Awal (founder)
BPBAT Sungai Gelam telah mendatangkan benih Patin Siam ukuran 1.5- 2 inci dari tujuh daerah di Indonesia (Riau, Jambi, Lampung, Bekasi, Subang, Bogor, Mandiangin) antara bulan Januari sampai dengan Februari 2009. Dan pada bulan September 2009, juga mendatangkan benih Patin Siam ukuran 1.5- 2 inci dari Vietnam dan Kamboja. Daerah tersebut dipilih karena merupakan sentra produksi benih Patin Siam. Benih Patin Siam yang berasal dari Vietnam merupakan hasil produksi unit usaha pembenihan Patin Siam sedangkan benih yang dari Kamboja merupakan hasil tangkapan dari alam. Patin Siam dari tujuh daerah di Indonesia, Kamboja dan Vietnam selanjutnya akan disebut sebagai populasi founder. Populasi founder ini yang masih berukuran benih dibesarkan sampai dewasa dan dalam proses pembesarannya dilihat performa pertumbuhan dan perkembangan gonadnya. Performa populasi founder pada tahap pembesaran, perkembangan gonad dan hasil uji genotipe disajikan sebagai berikut.
▪ Uji Fenotipe Populasi Awal
Bobot tubuh rerata pada umur 23 bulan dari tujuh populasi dari Indonesia berkisar antara 2185.93-2542 gram per ekor untuk betina dan 1375.87-1796.60 gram per ekor untuk jantan. Gambar 1 menunjukkan ada perbedaan bobot tubuh rerata antara betina dengan yang jantan. Namun bila dilihat dari standar deviasi, tidak ada perbedaan bobot tubuh betina dan jantan antar populasi dari Indonesia. Sedangkan laju pertumbuhan harian Patin Siam dari tujuh populasi dari Indonesia dapat dilihat pada Gambar 2 di bawah ini.
Laju pertumbuhan harian Patin Siam populasi Lampung paling tinggi yaitu sebesar 0.276% dan yang terendah dari populasi Bogor sebesar 0.212%.
Gambar 1. Grafik bobot tubuh rerata ika Patin yang berasal dari tujuh daerah/populasi di Indonesia pada umur 23 bulan.
Gambar 2. Grafik laju pertumbuhan harian Patin Siam dari tujuh daerah/populasi di
Indonesia
Gambar 3 memperlihatkan perkembangan gonad ikan Patin Siam yang betina dari tujuh populasi Indonesia. Nilai GSI (gonado somatic indexs) pada umur 15 sampai dengan 17 bulan masih sangat rendah (0.35-0.67%). Kenaikan GSI mulai terlihat pada umur 18 bulan dengan nilai tertinggi sebesar 6.95% dan
0,000 0,050 0,100 0,150 0,200 0,250 0,300
Bogor Subang Bekasi Jambi Riau M. Angin Lampung
LPH (%)
0 500 1000 1500 2000 2500 3000
Mandiangin Subang Bekasi Jambi Bogor Riau Lampung
Betina Jantan
Bobot tubuh rerata (g)
pada umur 22 bulan, GSI rerata tertinggi yaitu populasi Lampung sudah mencapai 10.59%, seperti ESI pada ikan Patin dewasa. Diameter oocyte pada umur 17 bulan sudah cukup besar seperti ikan Patin dewasa yaitu berkisar antara 1.08 – 1.18 mm.
▪ Uji Genotipe Populasi Awal
Uji genotipe terhadap populasi “awal” dilakukan pada tahun 2010 di LAPTIAB BPPT Serpong. Uji genotipe bertujuan untuk melihat tingkat kekerabatan antara populasi Patin Siam baik yang dari Indonesia maupun dari Kamboja dan Vietnam. Metoda yang digunakan yaitu dengan menganalisa gen microsatellite pada lokus Phy05-KUL dan lokus Phy01-KUL (Sumber : Volckaert et al, 1999). Hasil dari uji genotipe tersebut dapat dilihat pada Tabel 1 dan Gambar 4.
Tabel 1 menunjukkan jarak genetik antar Patin Siam yang dikoleksi dari beberapa daerah Indonesia, Kamboja dan Vietnam. Jarak genetik terjauh yaitu antara populasi Lampung dan Jambi dengan nilai 0.4366. Sedangkan jarak yang terdekat yaitu antara populasi Bogor dengan Lampung dengan nilai 0.0541.
0,00 2,00 4,00 6,00 8,00 10,00 12,00
15 16 17 18 19 20 21 22
BOGOR JAMBI MANDIANGIN LAMPUNG RIAU BEKASI SUBANG
Gambar 3. Grafik perkembangan gonad patin siam yang betina dari tujuh daerah/populasi di Indonesia
GSI (%)
Bulan
Tabel 1. Minimum genetic distances antar populasi Patin Siam (Nei's, 1972)
Population 1 2 3 4 5 6 7 8 9 1
2 0.0541 *****
3 0.3571 0.4366 *****
4 0.3071 0.3866 0.3700 *****
5 0.2534 0.3703 0.3537 0.2588 *****
6 0.2751 0.3663 0.3731 0.2881 0.1819 *****
7 0.2818 0.3508 0.3620 0.2745 0.1812 0.1450 *****
8 0.2243 0.2428 0.3888 0.3350 0.2725 0.2719 0.1620 *****
9 0.2571 0.3678 0.1300 0.3075 0.2087 0.2169 0.2106 0.2962 *****
Catatan: 1: Bogor, 2: Lampung, 3: Jambi, 4: Riau, 5: Bekasi, 6: Mandiangin, 7: Kamboja, 8: Vietnam, 9: Subang.
Sedangkan Gambar 4. menunjukkan bahwa populasi Kamboja lebih dekat kekerabatannya dengan populasi Mandiangin dibandingkan dengan populasi lainnya. Kekerabatan populasi Vietnam lebih dekat dengan populasi Bogor dan Lampung. Sedangkan populasi Jambi lebih dekat dengan populasi Subang.
2.1.1 Pembentukan Populasi Dasar (Ds)
Populasi founder dewasa pada awal tahun 2011. Setelah populasi founder dewasa, dilakukan pemijahan untuk membentuk populasi dasar. Jumlah induk Gambar 4. Dendrogram patin siam dari populasi Indonesia, Kamboja dan Vietnam
betina yang dipijahkan dari masing-masing sub-populasi founder sebanyak 3 ekor yang dibuahi oleh gabungan sperma jantan dari seluruh sub-populasi founder. Kemudian larva dari masing-masing sub-populasi founder dicampur secara proporsional dan dipelihara hingga dewasa yang selanjutnya disebut sebagai populasi dasar yang diberi notasi GiDs (Gi: generasi ke i; Ds: populasi dasar). Populasi dasar inilah yang digunakan dalam program seleksi (selective breeding) ikan Patin Siam oleh BPBAT Sungai Gelam.
Jumlah larva populasi dasar yang dipelihara sebanyak 425,000 ekor.
Pakan larva untuk umur 30 jam s.d 7 hari yaitu naupli artemia dan dari 8-12 hari yaitu moina beku dan cacing tubifex. Sintasan rerata larva yang dipelihara di hatcheri selama 12 hari yaitu sebesar 56.7%. Setelah berumur 12 hari, larva didederkan di dalam kolam dengan dasar tanah. Luasan kolam yaitu 225 m2 dan kedalaman air 1 m. Jumlah larva yang didederkan di kolam yaitu sebanyak 150 ribu ekor yang dipelihara dalam tiga kolam. Sintasan benih yang didederkan di kolam selama 1.5 bulan yaitu berkisar antara 87.8-95%. Selanjutnya benih tersebut dibesarkan pada kolam pembesaran dengan luasan 500 m2 dan kedalaman air 1.5 m. Benih yang digunakan untuk pembentukan populasi dasar tidak dilakukan sortasi, namun diambil secara acak. Jumlah benih populasi dasar yang dipelihara sebanyak 9000 ekor yang dipelihara dalam dua unit kolam dengan luasan masing-masing 500 m2 dan ketinggian air 1.8 m. Pada umur 16 bulan dilakukan sampling terhadap 2317 ekor betina dan 1362 ekor jantan.
Betina memiliki bobot rerata sebesar 1.010±0.356 kg ekor-1 dan CV (koefisien variasi) sebesar 35.25%. Jantan memiliki bobot tubuh rerata sebesar 0.867±0.248 kg ekor-1 dan CV sebesar 28.60%. Distribusi bobot tubuh betina dan jantan disajikan pada Gambar 5 di bawah ini. Selanjutnya populasi ini disebut sebagai populasi dasar generasi I dengan notasi G1Ds. G1Ds inilah yang digunakan sebagai populasi dasar yang akan digunakan dalam program seleksi (selective breeding) ikan Patin Siam di BPBAT Sungai Gelam. Sebanyak 250
ekor (200 betina dan 50 ekor jantan) diambil secara acak yang akan digunakan sebagai pembanding (kontrol) terhadap hasil pemuliaan dan juga untuk peremajaan populasi dasar.
Gambar 5. Distribusi bobot tubuh populasi dasar (G1Ds) pada umur 16 bulan.
2.2 Pelaksanaan Program Seleksi
▪ Lokasi
Kegiatan seleksi, karakterisasi fenotipe, performa pertumbuhan ikan hasil seleksi, uji toleransi lingkungan, kualitas daging, karakterisasi reproduksi dan evaluasi ketahanan penyakit dilakukan di Balai perikanan Budidaya Air Tawar Sungai Gelam (BPBAT SG). Uji multilokasi dilakukan di Propinsi Jambi (media kolam tadah hujan dan karamba jaring apung yang ditempatkan di sungai) dan Jawa Barat (bak beton). Uji genotipe dengan metode RAPD dilakukan di Lab Genetik Departemen Budidaya Perairan FPIK IPB.
▪ Waktu
Program seleksi (selective breeding) ikan Patin Siam dilakukan dalam dua tahap. Tahap pertama yaitu koleksi materi genetik dan pembentukan populasi
Jantan Betina
sintetik yang dilakukan dari Februari 2009 sampai dengan Mei 2013. Tahap kedua yaitu program seleksi untuk galur pertumbuhan yang dimulai pada tahun 2013 dan sampai tahun 2018 telah diperoleh galur pertumbuhan generasi ketiga. Uji mutu benih galur pertumbuhan generasi ketiga (G3Ps) dilakukan pada tahun 2018-2019, sedangkan uji multilokasi dilakukan pada tahun 2020.
2.3. Metode
▪ Pembentukan Patin Siam Galur Pertumbuhan
Pembentukan ikan Patin Siam galur pertumbuhan di BPBAT Sungai Gelam dilakukan dengan mengacu pada Protokol Pemuliaan (Genetic Improvement) Ikan Patin Siam Nomor PO. 01 Seleksi Individu dengan modifikasi. Diagram alur program seleksi pembentukan galur pertumbuhan disajikan pada Gambar 6. Metode seleksi yang digunakan yaitu seleksi individu (mass selection) dengan karakter yang diseleksi adalah bobot tubuh. Menurut Gjedrem (2005) nilai heritabilitas karakter bobot tubuh pada ikan cukup tinggi berkisar antara 0.2-0.40, dengan demikian metode seleksi individu dapat digunakan untuk pembentukan galur pertumbuhan.
Generasi pertama galur pertumbuhan (G1Ps) diseleksi dari generasi pertama populasi dasar (G1Ds) berdasarkan karakter bobot tubuh, bentuk tubuh proporsional dan tidak cacat. G1Ps diseleksi dari 4500 ekor populasi dasar (G1Ds) dan diperoleh induk betina G1Ps sebanyak 149 ekor (proporsi terseleksi 6%) dan jantan sebanyak 84 ekor (proporsi terseleksi 6%). Seleksi dilakukan pada umur 16 bulan dengan nilai diferensial seleksi untuk betina sebesar 833 gram dan jantan sebesar 563 gram.
Generasi kedua galur pertumbuhan (G2Ps) diseleksi dari 12000 ekor anakan hasil pemijahan 15 pasang induk G1Ps. Pemijahan dilakukan dalam dua tahap. Pemijahan tahap pertama terdiri dari tujuh pasang induk yang menetas pada tanggal 2 Oktober 2013 dan tahap kedua terdiri dari 8 pasang yang
menetas pada tangga 5 Oktober 2013. G2Ps diseleksi dari anakan G1Ps yang dilakukan dalam dua tahap. Seleksi tahap pertama pada umur 1 tahun dengan proporsi terseleksi 50% dan seleksi tahap kedua pada umur 22 bulan dengan proporsi terseleksi sebesar 10%. Diperoleh induk betina G2Ps sebanyak 92 ekor dan jantan sebanyak 35 ekor.
Generasi ketiga galur pertumbuhan (G3Ps) diseleksi dari 7500 ekor anakan hasil pemijahan 20 pasang G2Ps yang menetas pada tanggal 30 Desember 2015. Seleksi dilakukan 2 tahap, tahap pertama pada umur 14 bulan dengan proporsi terseleksi sebesar 50% dan seleksi tahap kedua pada umur 24 bulan dengan proporsi terseleksi sebesar 20%. Diperoleh induk betina G3Ps sebanyak 150 ekor dan jantan sebanyak 50 ekor. Dengan demikian, sampai bulan Januari 2018 telah diperoleh 3 generasi untuk galur pertumbuhan sampai pada ukuran dewasa.
Gambar 6. Diagram alur pembentukan galur pertumbuhan dengan metode seleksi individu
Populasi Dasar
▪ Protokol kegiatan
Rincian proses pemijahan induk sampai pembesaran calon induk yang mengacu pada protokol P01. Seleksi individu dengan modifikasi akan dijelaskan sebagai berikut:
➢ Pemijahan
a. Dari semua pasangan induk yang dipijahkan, minimal sebanyak 10 pasang yang mempunyai derajat tetas > 30%.
b. Larva dari pasangan induk yang memiliki derajat tetas < 30% tidak dilanjutkan ke tahap berikutnya.
c. Bila pemijahan dilakukan dalam 2 kohort, interval waktu antara kohort pertama kedua maksimal 1 minggu.
d. Telur dari masing-masing induk ditetaskan pada wadah/corong yang terpisah
e. Larva yang digunakan untuk kegiatan seleksi individu adalah yang menetas 5 jam pertama
f. Larva di ambil dari masing-masing induk dalam jumlah yang sama dan dicampurkan dalam suatu wadah yang sama.
g. Selanjutnya larva dipelihara di dalam hatchery h. Prosedur pemijahan mengacu pada Protokol P 07
➢ Pemeliharaan larva
a. Jumlah minimal larva yang dipelihara disesuaikan dengan wadah pemeliharaan atau minimal 200,000 ekor.
b. Bila pemijahan dilakukan dalam 2 kohort, maka jumlah larva diambil secara proporsional dari kedua kohort tersebut
c. Padat tebar larva 20 ekor per liter
d. Pemeliharaan larva dilakukan selama 7 hari
e. Sintasan larva sampai umur 7 hari minimal 45%
f. Selanjutnya larva didederkan di dalam kolam.
g. Prosedur pemeliharaan larva sesuai dengan Protokol P 08
➢ Pemeliharaan benih
a. Larva umur 7 hari dipelihara di dalam kolam selama 45 hari b. Padat penebaran larva di kolam 200 ekor per m2
c. Setelah 45 hari, benih dipanen dan diambil secara acak minimal sebanyak 4.000 ekor yang selanjutnya masuk ke Pembesaran I
d. Prosedur pendederan di kolam mengacu pada Protokol P 08
➢ Pembesaran I
a. Pembesaran I dilakukan sampai ikan berumur 1 tahun.
b. Pembesaran dilakukan di kolam dengan padat tebar 8 ekor per m2 c. Seleksi dilakukan secara terpisah terhadap jantan dan betina
d. Betina dan jantan yang terseleksi dilanjutkan pada pembesaran tahap II e. Ikan diseleksi berdasarkan bobot tubuh dengan nilai cut-off sebesar 50%
f. Prosedur pembesaran I mengacu pada Protokol P 09
➢ Pembesaran II
a. Pembesaran II di lakukan di kolam dengan padat tebar 5 ekor m2 b. Pembesaran II dilakukan sampai ikan berumur 2 tahun
c. Setelah berumur 2 tahun, dilakukan seleksi secara terpisah terhadap jantan dan betina
d. Ikan diseleksi berdasarkan bobot tubuh dengan nilai cut - off sebesar 10%
e. Induk yang terseleksi akan digunakan untuk kegiatan seleksi individu selanjutnya
f. Jumlah induk jantan yang terseleksi minimal sebanyak 30 ekor sedangkan betina minimal sebanyak 90 ekor
g. Pemeliharaan induk yang terseleksi mengacu pada Protokol P 07
h. Induk yang tidak terseleksi dapat digunakan untuk memproduksi benih sebar
i. Prosedur pembesaran II mengacu pada Protokol P 09.
j. Respons seleksi dari hasil seleksi individu dihitung menggunakan Protokol P 06. Uji mutu benih
Karakterisasi morfologis populasi ikan Patin Siam galur pertumbuhan generasi ketiga (G3Ps) dan populasi dasar generasi dilakukan secara biometrik pada karakter morfometrik dan meristik terhadap ikan dewasa. Respon seleksi kumulatif Patin PUSTINA galur pertumbuhan sampai generasi ketiga sebesar 42,6% atau per – regenerasi sebesar 14,20% dibandingkan populasi dasar. Uji kompetitor dilakukan di beberapa lokasi menggunakan pembanding ikan Patin Perkasa (BRPI Sukamandi) sebagai produk rilis sebelumnya. Hasil menunjukkan bahwa Patin PUSTINA lebih unggul dibandingkan Patin Perkasa dalam produktivitas (biomassa dan SR). Selain itu, toleransi salinitas, pH dan ketahanan penyakit Patin PUSTINA juga lebih unggul. Program seleksi ikan Patin Siam galur pertumbuhan di BPBAT Sungai Gelam akan terus dilanjutkan sampai pada generasi keempat (G4PS) sehingga ke depan akan lebih unggul sejalan dengan kegiatan produksi.
‘’
‘’
III. METODE DAN HASIL PENGUJIAN JENIS IKAN BARU YANG AKAN DIBUDIDAYAKAN
3.1. Morfometrik
Karakterisasi morfologis populasi ikan Patin Siam galur pertumbuhan generasi ketiga (G3Ps) dan populasi dasar generasi dilakukan secara biometrik pada karakter morfometrik dan meristik terhadap ikan dewasa. Karakterisasi morfometrik dilakukan melalui pengukuran terhadap empat karakter truss morphometric (Gambar 7), sebagaimana yang disyaratkan dalam pedoman rilis.
Data hasil pengukuran karakter-karakter morfometrik tersebut selanjutnya dinyatakan dalam nilai relatif (dalam %) terhadap panjang standar (PS).
Gambar 7. Karakter truss morphometric yang dilakukan pengukuran Setelah dilakukan pengukuran diperoleh hasil yang parameter persentase fillet G3Ps lebih tinggi dibandingkan dengan G2Ds (Tabel 2). Persentase fillet merupakan salah satu parameter penting dalam aspek produktivitas dan
pemasaran produk ikan Patin Siam. Persentase fillet yang tinggi pada ikan Patin Siam akan memiliki keunggulan jika ikan ini akan dijadikan komoditas ekspor dan industri ke depan.
Tabel 2. Hasil pengukuran morfometrik Patin Siam galur pertumbuhan generasi ketiga (G3Ps) dan populasi dasar generasi kedua (G2Ds) di BPBAT Sungai Gelam
No Karakter Satuan
G3Ps G2Ds
Nilai
rerata StDev Nilai
rerata StDev
1 Panjang standar (PS) Cm 48.32 2.77 41.95 4.56
2 Panjang total (PT) Cm 58.52 3.05 49.45 4.43
3 Panjang kepala (PK) Cm 11.35 0.67 10.00 1.13
4 Bobot total (BT) G 1974.33 380.93 1203.80 395.35
5 Lingkar badan (LB) Cm 31.81 2.42 25.45 3.47
6 BBT tanpa kepala I (BTK) G 1316.51 513.26 900.10 311.05 7 Bobot tanpa kepala dan jeroan (BTKJ) G 1332.60 269.72 815.00 273.14
8 Karkas (K) G 1195.73 252.96 709.40 243.38
11 Fillet (F) G 796.37 176.61 453.70 153.38
12 Lemak fillet (LF) G 177.25 42.81 120.10 43.18
13 Gonad (G) G 66.14 70.19 38.60 46.51
14 Persentase filet % 40.16 2.12 37.55 1.89
15 Persentase karkas % 60.38 2.07 58.59 2.12
16 BT : PS g/cm 40.58 5.64 28.06 6.61
17 Persentase lemak % 8.95 1.02 9.96 1.21
18 Persentase PK terhadap PS % 23.50 0.91 23.84 0.83 19 Persentase BTKJ terhadap BT % 67.39 1.93 67.50 2.12
Pada kondisi yang sama hasil pengukuran karakter panjang standar, panjang total, panjang kepala, bobot total, lingkar badan, bobot tanpa kepala, bobot tanpa kepala dan jeroan, karkas, fillet, lemak fillet, gonad, presentase fillet, presentase karkas, BT : PS memiliki nilai yang lebih tinggi pada G3Ps dibandingkan G2Ds. Sedangkan pada karakter persentase lemak, persentase PK terhadap PS dan Persentase BTKJ terhada BT G3Ps memiliki karakter yang lebih rendah dibandingkan G2Ps. Kegiatan pengukuran morfometrik dan
meristik galur pertumbuhan generasi ketiga (G3Ps) dan populasi dasar generasi kedua (G2Ds) yang dilakukan di BPBAT Sungai Gelam disajikan pada Gambar 8.
Gambar 8. Kegiatan pengukuran morfometrik dan meristik galur pertumbuhan generasi ketiga (G3Ps) dan Populasi dasar generasi kedua (G2Ds) di BPBAT Sungai Gelam
3.2. Meristik
Karakterisasi meristik populasi ikan Patin Siam galur pertumbuhan generasi ketiga (G3Ps) dan populasi dasar dilakukan melalui penghitungan terhadap jumlah jari-jari sirip dada (pectoral), sirip perut (ventral), sirip punggung (dorsal), sirip anus (anal) dan sirip ekor (caudal) (Arifin et al.2017;
Radona et al, 2017). Data karakter meristik tersebut disajikan dalam bentuk modus dan nilai minimum dan maksimum (Tabel 3).
Tabel 3. Hasil penghitungan karakteristik meristik galur pertumbuhan generasi ketiga (G3Ps) dan Populasi dasar generasi kedua (G2Ds) di BPBAT Sungai Gelam
Karakter
G3Ps G2Ds
Modus Min max Modus min Max Jumlah jari-jari keras sirip dorsal 1 1 1 1 1 1 Jumlah jari-jari lunak sirip dorsal 7 6 10 7 7 9 Jumlah jari-jari keras sirip pectoral 1 1 1 1 1 1 Jumlah jari-jari lunak sirip pectoral 10 6 12 9 8 10 Jumlah jari-jari lunak sirip ventral 8 7 9 7 7 9 Jumlah jari-jari lunak sirip anal 32 30 35 28 21 32 Jumlah jari-jari lunak sirip caudal 27 23 30 26 23 31 Karakterisasi meristik populasi ukuran dewasa Patin Siam galur pertumbuhan generasi ketiga dibandingkan dengan kontrol memiliki persamaan pada jumlah jari-jari keras pada sirip dorsal dan pectoral. Sedangkan pada jari-jari sirip lunak memiliki perbedaan jumlah pada ikan yang diamati.
3.3. Karakteristik Warna
Karakterisasi morfologis populasi ukuran dewasa Patin Siam galur pertumbuhan generasi ketiga (G3Ps) dan populasi dasar juga dilakukan pada pola warna. Karakterisasi warna tersebut dilakukan menggunakan aplikasi Color Grab. Identifikasi warna pada aplikasi ini menggunakan rumus nilai RGB (Red Green Blue). Hasil karakterisasi pola warna disajikan pada Tabel 4 di bawah ini. Hasil karakterisasi warna ikan Patin Siam G3Ps tumbuh cepat yang dilakukan pada ikan dewasa betina dan ikan dewasa jantan ditunjukkan pada Tabel 4.
Tabel 4. Karakteristik warna ikan Patin Siam G3Ps dewasa dengan menggunakan aplikasi Color Grab Version 3.6.1.
No.
Kepala Badan Sirip
Atas Bawah Atas Samping Bawah Anal
(pangkal) Ekor (pangkal)
Betina
Grey (RGB 107,
99, 105)
White (RGB 231,
222, 220)
Grey (RGB 98,
86, 88)
White (RGB 243,
248, 253)
White (RGB 245,
250, 249)
Grey Brown Red (RGB 134, 114, 110)
Light Grey (RGB 188,
180, 183) Grey
(RGB 134, 130, 131)
White (RGB 235,
230, 229)
Grey (RGB 131,
133, 136)
White (RGB 241,
248, 252)
White (RGB 251,
253, 254)
Grey Brown Red (RGB 150, 128, 133)
White Pink Red (231, 251, 218)
Jantan
Black (RGB 30,
29, 26)
White (RGB 233,
231, 236)
Dark Grey (RGB 90, 78, 77)
White (RGB 254,
255, 255)
White (RGB 255,
255, 255)
Grey (RGB 162,
154, 156)
Light Grey (RGB 213,
209, 210) Grey
(RGB 126, 128, 129 )
White (RGB 247,
241, 242)
Grey (RGB 96,
95, 101)
White (RGB 254,
255, 255)
White (RGB 238,
239, 241)
Grey (RGB 161,
149, 151)
White Pink Red (RGB 219,
200, 203)
Hasil pengamatan menunjukkan bahwa ikan Patin Siam G3Ps dewasa betina memiliki warna yang relatif sama. Ikan Patin Siam G3Ps dewasa betina memiliki kepala bagian atas yang berwarna abu-abu (grey), dan kepala bagian bawahnya berwarna putih (white). Badan bagian atas berwarna abu-abu (grey), badan bagian sampingnya berwarna putih (white) begitu pula badan bagian bawahnya juga berwarna putih (white). Pangkal sirip anal berwarna abu-abu coklat kemerahan (grey brown red), sedangkan sirip ekornya berwarna abu-abu terang (light grey) hingga putih kemerahan(white pink red). Pengamatan pada ikan Patin Siam jantan dewasa juga menunjukkan bahwa seluruhnya memiliki warna yang relatif sama. Ikan jantan dewasa memiliki kepala bagian atas yang berwarna abu-abu (grey) hingga hitam (black) dan kepala bagian bawahnya berwarna putih (white). Badan bagian atas ikan G3Ps jantan dewasa berwarna abu-abu (grey) hingga abu-abu gelap (dark grey), badan bagian sampingnya berwarna putih (white) begitu pula dengan badan bagian bawahnya berwarna putih (white). Pangkal sirip anal ikan Patin Siam jantan dewasa berwarna abu- abu (grey), sedangkan sirip ekornya berwarna abu-abu terang (light grey) hingga putih kemerahan (white pink red).
3.4. Pertumbuhan
3.4.1. Fase Pembenihan
Perkembangan larva ikan Patin Siam dari mulai menetas sampai umur 24 jam disajikan pada Gambar 9 di bawah ini.
Gambar 9. Perkembangan larva ikan Patin Siam hasil seleksi di hatchery BPBAT Sungai Gelam Jambi
Pada perkembangan larva ikan Patin di BPBAT Sungai Gelam, kuning telur diserap sebagai nutrisi utama dan secara bertahap berubah untuk menggunakan pakan luar. Mulut terbuka sekitar 16 jam setelah menetas dan gigi terbentuk secara bertahap. Organ penglihatan (mata) dan organ perasa yang belum berkembang pada waktu menetas, kini berkembang. Saluran pencernaan juga berkembang, hal tersebut ditunjukkan dengan banyak lipatan dibagian dalam saluran pencernaan, untuk merealisasikan kemampuan mencerna dan pengambilan pakan luar.
Larva ikan Patin Siam mulai makan ketika berumur 30 – 40 jam setelah menetas (tergantung suhu media pemeliharaan). Larva Patin Siam yang baru menetas memiliki tubuh yang transparan dan panjang total sekitar 4 mm.
Fungsi-fungsi untuk menangkap makanan, seperti mata, dan sirip belum berkembang. Mulut tidak terbuka dan saluran pencernaan belum berkembang.
Oleh karena itu larva belum mampu memanfaatkan pakan dari luar. Larva baru menetas menggunakan kuning telur, yang terletak di bagian abdomen, sebagai pakan internal untuk mempertahankan hidupnya.
Selama proses penyerapan kuning telur beberapa fungsi mulut untuk menangkap pakan terbentuk, dan saluran pencernaan dalam rangka merealisasikan kemampuan menggunakan pakan luar. Jika larva tidak dapat menangkap pakan setelah kuning telur habis, maka larva tidak bisa mengalami pertumbuhan dan perkembangan lebih lanjut dan akhirnya mati. Pemberian pakan pertama pada waktu yang tepat merupakan hal yang sangat mendasar pada pemeliharaan larva. Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan maka pakan pertama harus diberikan sekitar 30 jam setelah menetas.
Larva dari masing-masing famili dipelihara secara terpisah dalam hatchery menggunakan akuarium (volume air 100 L) dengan padat tebar 25 ekor L-1 selama 15 hari (Gambar 10). Larva diberi pakan naupli artemia sampai umur 6 hari, dengan frekuensi 5 kali sehari secara satiasi. Selanjutnya sampai umur 15 hari, larva diberi pakan cacing Tubifex sp dengan frekuensi 4 kali sehari secara satiasi. Pergantian air dari hari 5-7 sebanyak 50% per hari, selanjutnya sebanyak 100% per hari. Pada hari ke 15, dilakukan pemanenan untuk penjarangan dan dilanjutkan ke tahap pendederan tahap kedua. Kualitas air media pemeliharaan larva dipertahankan pada kisaran yang disyaratkan pada SNI 6483.4: 2016 (BSN 2016b). Pendederan merupakan lanjutan dari kegiatan pemeliharaan larva. Pendederan dilakukan pada tempat dan wadah yang sama dengan yang digunakan untuk pemeliharaan larva. Benih dipelihara selama 25 hari dengan
sistem air mengalir (debit 0.5-0.8 L menit-1) selama 24 jam. Jumlah benih yang dipelihara untuk tiap induk sebanyak 500 ekor dengan padat tebar 5 ekor L-1. Benih diberi pakan buatan dengan kandungan protein 40-42% dan frekuensi pemberian pakan dua kali sehari secara satiasi. Selama masa pemeliharaan, kualitas air dipertahankan pada kisaran yang telah disyaratkan oleh SNI 6483.4:
2016 (BSN 2016c). Parameter yang diukur pada tahap ini yaitu bobot tubuh, panjang standar, panjang total, sintasan, efisiensi pakan dan LC50 benih terhadap amonia (NH3).
LC50 terhadap amonia (NH3) merupakan konsentrasi amonia yang mengakibatkan kematian sebanyak 50% dari populasi dalam kurun waktu 48 jam. Metode yang digunakan untuk mengukur LC50 terhadap amonia mengacu pada metode yang digunakan oleh Li et al. (2016), namun secara ringkas akan dijelaskan yaitu sebagai berikut. Pengukuran LC50 terhadap amonia dilakukan pada ukuran benih (2-3 inci) yang berumur 60 hari. Sebanyak 10 ekor ikan dari masing-masing galur ditempatkan pada media dengan konsentrasi amonia 3.0, 3.7, 4.4 mg L-1 dan kontrol (air yang sama untuk perlakuan dan ditambahkan NaHCO3 dengan dosis 360 mg L-1). Wadah uji yang digunakan yaitu bak fiber dengan volume air 600 liter yang disekat dengan jaring. Konsentrasi amonia diperoleh dengan melarutkan NH4Cl dan penambahan NaHCO3 (dosis 360 mg L-1) ke dalam media uji sehingga diperoleh konsentrasi amonia seperti yang telah disebutkan di atas. Selama pengujian, pH media dipertahankan mendekati 8, kandungan oksigen terlarut >3 mg L-1, suhu 26-28oC serta ikan tidak diberi pakan selama pengujian. Pengamatan dilakukan setiap 4 jam sekali untuk menghitung jumlah ikan yang mati. Ikan yang mati pada saat pengamatan dikeluarkan dari wadah dan dilakukan pencatatan terhadap jumlah dan waktu kematian. Berdasarkan data konsentrasi amonia dan jumlah ikan yang mati pada akhir pengujian (durasi pengujian 48 jam), dibuat persamaan regresi untuk menentukan nilai LC50 benih terhadap amonia.
Gambar 10. Kegiatan uji performa benih ikan Patin galur pertumbuhan di BPBAT Sungai Gelam
Performa G3Ps dan G2Ds pada fase benih disajikan pada Tabel 5.
Pemeliharaan larva dilakukan selama 40 hari dari menetas. Bobot tubuh benih G3Ps pada umur 40 hari lebih besar dibandingkan dengan kontrol (G2Ds) dengan nilai respons seleksi sebesar 32.25%. Sedangkan sintasan baik pada umur 14 hari maupun 40 hari tidak berbeda nyata.
Tabel 5. Performa benih (rerata ± standar deviasi) galur pertumbuhan generasi ketiga (G3Ps dan populasi dasar generasi kedua (G2Ds) sebagai kontrol yang diukur pada umur 14 dan 40 hari dari menetas.
Karakter Kontrol (G2Ds) G3Ps Respons Seleksi (%)
Bobot tubuh 14h (mg) 42.79±10.33a 50.70±8.12a 18.48
Bobot tubuh (g) 0.93±0.23a 1.23±0.30b 32.25
Sintasan 14h (%) 50.80±17.40a 50.84±13.38a 0.07
Sintasan (%) 83.85±21.66a 85.84±19.97a 2.37
Panjang standar (mm) 40.21±2.88a 45.95±3.66b 14.27
Panjang total (mm) 48.08±3.47a 55.01±4.39b 14.41
Efisiensi pakan (%) 177.46±51.02a 173.02±33.21a -2.50 Produksi jumlah benih (ekor/kg) 72,639 68,616
Koefisien variasi (%) :
− Bobot tubuh
− Panjang standar
24.73 7.16
24.39 7.96
- - LC50 NH3 (mg L-1) 2.088±0.606a 2.615±0.362b 25.24
Angka dengan huruf superscript dan pada baris yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata (P> 0.05), huruf yang berbeda menunjukkan berbeda nyata (P< 0.05). Karakter dengan superscript 14H diukur pada umur 14 hari dari menetas, selain itu diukur pada umur 40 hari. LC50 NH3: lethal concentration 50% terhadap NH3 dengan dalam waktu 48 jam.
Hasil pengamatan dari pemeliharaan benih ikan Patin Siam G3Ps memiliki performansi yang berbeda nyata pada bobot tubuh, panjang standar,
panjang total dan daya tahan terhadap tekanan Amoniak (NH3). Dalam hal ini performa G3Ps lebih unggul jika dibandingkan dengan populasi dasar. Pada karakter sintasan/SR dan FCR, jika dilakukan pengujian secara uji statistik belum menunjukkan perbedaan yang signifikan.
3.4.2. Fase Pembesaran
Benih yang dibesarkan berasal dari dua blok (blok 1, pemijahan tahap pertama: B1 dan blok 2, pemijahan tahap kedua: B2). Setiap blok terdiri dari 5 ulangan (5 famili) untuk masing-masing galur. Benih dipelihara pada bak beton yang berada di luar ruangan (outdoor), tanpa pergantian air dan tidak dipasang aerasi dan selanjutnya disebut lingkungan buruk.
Gambar 11. Wadah yang digunakan untuk kegiatan pembesaran ikan Patin Siam galur pertumbuhan generasi ketiga dan populasi dasar (kontrol)
Wadah yang digunakan dua unit bak beton berukuran 5 m x 8 m x 1 m yang disekat menggunakan jaring sehingga menjadi 15 bagian, setiap bagian berukuran 2.6 m x 1 m x 1 m (Gambar 11). Jumlah benih yang ditebar untuk