Efek ikan Patin hasil seleksi galur pertumbuhan ini terhadap lingkungan tentunya tidak memiliki pengaruh yang negatif. Hal tersebut dikarenakan ikan
Patin ini merupakan ikan yang sudah familiar dibudidayakan di masyarakat Indonesia, baik dalam wadah terkontrol maupun di perairan umum. Banyak pembudidaya yang membudidayakan ikan Patin di karamba di Sungai, waduk, dan beberapa perairan umum lainnya karena ikan ini memang bukan tergolong ikan yang invasive. Metode seleksi individu juga merupakan salah satu metode seleksi yang ramah lingkungan, sehingga produk yang dihasilkan juga bukan termasuk GMO (Genetically Modified Organism) sehingga bisa dikembangkan secara luas ke masyarakat. Produk ikan Patin unggul ini juga lebih efisien dalam penggunaan pakan (dilihat dari FCR) dibandingkan produk sebelumnya, sehingga secara tidak langsung bisa mengurangi pencemaran lingkungan akibat limbah pakan ikan jika produk ini disebarkan ke masyarakat.
V. DESKRIPSI RINGKAS
No. Deskripsi Keterangan/Nilai
1. Silsilah Induk
1.1 Waktu koleksi Tahun 2009
1.2 Daerah asal koleksi Riau, Jambi, Lampung, Bogor, Bekasi Subang, Mandiangin, Kamboja dan Vietnam
1.3 Keunggulan Tumbuh cepat 1.4 Klasifikasi
Kingdom Animalia
Phylum Chordate
Class Actinopterygii
Order Siluriformes
Family Pangasidae
Genus Pangasianodon
Spesies Pangasianodon hypophthalmus, Sauvage, 1878) Nama ilmiah Pangasianodon hypophthalmus Sauvage, 1878 Nama sinonim Pangasius hypophthalmus, Pangasius sutchi,
Helicophagus hypophthalmus Nama umum
Inggris Strip catfish Nama Indonesia Patin Siam
2. Metode Pemuliaan
2.1 Lokasi Balai Perikanan Budidaya Air Tawar Sungai Gelam -Jambi
2.2 Waktu Tahun 2009-2020
2.3 Metode Seleksi individu
3. Karakteristik Fenotipe
3.1 Morfometrik
3.2 Meristik
3.3 Warna
3.4 Pertumbuhan
Tahap Pembenihan
Tahap Pembesaran
3.5 Toleransi Lingkungan
Toleransi pH
− Ikan Patin pustina memiliki toleransi salinitas lebih tinggi dibandingkan dengan Patin Perkasa
− Mortalitas pada pH 3,5 ikan Patin pustina sebesar 83,33% sedangkan Patin Perkasa sebesar 100%
Toleransi salinitas
− Ikan Patin pustina memiliki toleransi salinitas lebih tinggi dibandingkan dengan Patin Perkasa
− Mortalitas 100% pada ikan Patin pustina pada salinitas 14 g/L sedangkan Patin Perkasa pada salinitas 12 g/L
3.6 Kualitas Daging
3.7 Pakan dan
Kebiasaan Makan
− Ikan Patin di habitat asli sebagai pemakan segala (omnivora) yang lebih aktif pada malam hari
− Dalam kondisi budidaya ikan Patin Siam pada fase larva diberi pakan alami berupa naupli artemia/moina dan caing Tubifex sp. Sedangkan
pada fase benih-sampai dewasa dapat mengkonsumsi pakan buatan
3.8 Reproduksi
− Umur awal matang gonad, betina 20 bulan, jantan 10 bulan
− Diameter telur sebelum diovulasikan 1.04±0.03 mm
− Diameter telur yang diovulasikan 1.263±0.066 mm
− Fekunditas 253,025±52,742butir/kg induk
− Derajat pembuahan 67.88±10.93%
− Derajat penetasan 62.14±13.58%
3.9 Ketahanan Penyakit
Infeksi bakteri Edwardsilla
− Kematian 50% terjadi pada waktu 33 jam untuk Patin Perkasa dan 85 jam untuk Patin Pustina dengan dosis infeksi 0,2 x 105 CFU/ml
− Mortalitas uji tantang akhir pengujian (96 jam) untuk perkasa 100% dan Pustina 73,33%
Infeksi bakteri Aeromonas
− Kematian 50% terjadi pada waktu 29 jam untuk Patin Perkasa dan 61 jam untuk Patin Pustina dengan dosis infeksi 0,2 x 105 CFU/ml
− Mortalitas uji tantang akhir pengujian (96 jam) untuk perkasa 100% dan Pustina 60,00%
3.10
Peningkatan Kualitas Pertumbuhan
− Akumulasi respons seleksi sampai generasi ketiga sebesar 42.60% atau per generasi sebesar 14,20%
untuk karakter bobot tubuh
− Selisih antara Pustina dan Perkasa untuk karakter bobot tubuh rerata 17,31%, total biomas panen 22,76%, kelangsungan hidup 31,66% dan FCR 17,03%.
4. Karakteristik Genotipe
− Heterozigositas G3Ps sebesar 0.350 dan populasi dasar sebesar 0.394
5. Ketersediaan Induk − Jumlah total calon induk betina sebanyak 21500 ekor dan jantan sebanyak 20000 ekor
6. Manfaat
6.1 Aspek Teknologi
− Indonesia memiliki strain ikan Patin Siam yang lebih unggul dibandingkan dengan strain sebelumnya
− Mudah digunakan oleh masyarakat
− Keunggulan bersifat permanen karena diwariskan secara genetic
6.2 Aspek Ekonomi
− Pertumbuhan yang cepat dan kelangsungan hidup/sintasan yang tinggi akan meningkatkan produktivitas para pembudidaya ikan Patin Siam
6.3 Aspek sosial
− Ikan Patin unggul ini akan didistribusikan sebagai bantuan pemerintah, melalui penjualan, dan didesiminasikan ke masyarakat tentang keunggulannya.
− Strain baru ikan Patin Siam ini juga diharapkan akan mendukung program prioritas KKP untuk ketahanan pangan dan kesejahteraan masyarakat mengingat banyaknya pelaku budidaya ikan ini
6.4 Aspek lingkungan
− Metode seleksi individu juga merupakan salah satu metode seleksi yang ramah lingkungan, sehingga produk yang dihasilkan juga bukan termasuk GMO (Genetically Modified Organism) sehingga aman dikonsumsi.
− Produk ikan Patin unggul ini juga lebih efisien dalam penggunaan pakan (dilihat dari FCR) dibandingkan produk sebelumnya, sehingga secara tidak langsung bisa mengurangi pencemaran lingkungan akibat limbah pakan ikan jika produk ini disebarkan ke masyarakat.
Berdasarkan hasil-hasil pengujian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa ikan Patin Siam galur pertumbuhan generasi ketiga (G3Ps) tumbuh dengan cepat dan memiliki ketahanan terhadap cekaman lingkungan serta ketahanan terhadap penyakit yang lebih baik dibandingkan dengan ikan Patin Siam Perkasa.
‘’
‘’
VI. PENUTUP
Respons seleksi kumulatif ikan Patin Siam galur pertumbuhan sampai generasi ketiga (G3Ps) sebesar 42,6% atau per-generasi sebesar 14,20%. Patin G3Ps lebih unggul jika dibandingkan dengan Patin Perkasa (produk rilis sebelumnya) dengan selisih untuk karakter bobot tubuh rerata 17,31%, total biomas panen 22,76%, Kelangsungan Hidup 31,66% dan FCR 17,03%.
Toleransi salinitas dan ketahanan penyakit Patin G3Ps juga lebih unggul dibandingkan dengan Patin Perkasa. Calon/induk Patin Siam G3Ps telah tersedia di BPBAT Sungai Gelam dan beberapa UPT DJB di Pulau Jawa (BLUPPB Karawang dan BBPBAT Sukabumi). Program seleksi ikan Patin Siam galur pertumbuhan di BPBAT Sungai Gelam terus dilanjutkan dan telah sampai pada generasi ke empat (G4Ps) per 7 September 2020 sehingga kedepan akan lebih unggul dengan bertambahnya generasi. Berdasarkan hasil-hasil pengujian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa ikan Patin Siam galur pertumbuhan generasi ketiga (G3Ps) tumbuh dengan cepat dan memiliki ketahanan terhadap cekaman lingkungan serta ketahanan terhadap penyakit yang lebih baik dibandingkan dengan ikan Patin Siam Perkasa. Berdasarkan hasil-hasil pengujian tersebut, populasi ikan Patin Siam G3Ps dipandang layak untuk diajukan permohonannya agar dapat dilepas sebagai strain unggul ikan Patin Siam tumbuh cepat, dengan usulan nama “PATIN PUSTINA”.
DAFTAR PUSTAKA
[BSN] Badan Standardisasi Nasional. 2016a. SNI 6483.3:2016. Ikan Patin Siam (Pangasianodon hypophthalmus, Sauvage 1878)- Bagian 3: Produksi induk. Jakarta (ID): Badan Standardisasi Nasional
[BSN] Badan Standardisasi Nasional. 2016b. SNI 6483.4:2016. Ikan Patin Siam (Pangasianodon hypophthalmus, Sauvage 1878)-Bagian 4 : Produksi benih. Jakarta (ID): Badan Standardisasi Nasional.
[BSN] Badan Standardisasi Nasional. 2016c. SNI 6483.2:2016. Ikan Patin Siam (Pangasianodon hypophthalmus, Sauvage 1878) - Bagian 2 : Benih.
Jakarta (ID): Badan Standardisasi Nasional.
[BSN] Badan Standardisasi Nasional. 2014. SNI 7982:2014. Sarana penetasan telur ikan Patin Siam (Pangasianodon hypophthalmus) dengan sistem corong. Jakarta (ID): Badan Standardisasi Nasional
Ali H, Haque MM, Belton B. 2013. Striped catfish (Pangasianodon hypophthalmus, Sauvage, 1878) aquaculture in Bangladesh: An overview.
Aquac. Res. 44:950–965. doi:10.1111/j.1365-2109.2012.03101.x.
Bentsen HB, Gjerde B, Eknath AE, Palada MS, Vera D, Velasco RR, Danting JC, Dionisio EE, Longalong FM, Reyes RA et al. 2017. Genetic improvement of farmed tilapias: Response to five generations of selection for increased body weight at harvest in Oreochromis niloticus and the further impact of the project. Aquaculture. 468: 206-217.
doi:10.1016/j.aquaculture.2016.10.018.
[DJPB] Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya. 2016. Laporan kinerja tahun 2016. Jakarta (ID): DJPB.
Gjedrem T, Baranski M. 2009. Selective Breeding in Aquaculture: An Introduction. Nielsen JL, editor. Dordrech (NL): Springer. 221 hlm.
Gjedrem T, editor. 2005. Selection and Breeding Programs in Aquaculture.
Springer.
Gjedrem T, Robinson N. 2014. Advances by Selective Breeding for Aquatic Species : A Review. :1152–1158.
Gjedrem T, Robinson N, Rye M. 2012. The importance of selective breeding in aquaculture to meet future demands for animal protein : a review.
Aquaculture. 350-353: 117-129. doi:10.1016/j.aquaculture.2012.04.008.
Janssen K, Chavanne H, Berentsen P, Komen H. 2017. Impact of selective breeding on European aquaculture. Aquaculture. 472: 8–16.
doi:10.1016/j.aquaculture.2016.03.012.
Lefevre S, Do TTH, Nguyen TKH, Wang T, Nguyen TP, Bayley M. 2011. A telemetry study of swimming depth and oxygen level in a Pangasius pond in the Mekong Delta. Aquaculture. 315:410–413.
Lefevre S, Wang T, Do TTH, Nguyen TKH, Bayley M. 2013. Partitioning of
oxygen uptake and cost of surfacing during swimming in the air-breathing catfish Pangasianodon hypophthalmus. J. Comp. Physiol. B. 183: 215-221. doi:10.1007/s00360-012-0701-8.
Mulyani A, Sarwani M. 2013. Karakteristik dan potensi lahan sub optimal untuk pengembangan pertanian di Indonesia. J. Sumberd. Lahan 7:47-55.
doi: org/10.2018/jsdl.v7i1.6429.
Ngo PT, Nguyen HN, Nguyen TH, Knibb W, Nguyen HD, Nguyen HN. 2016.
Additive genetic and heterotic effects in a 4x4 complete diallel cross-population of Nile tilapia (Oreochromis niloticus, Linnaeus, 1758 ) reared in different water temperature environments in Northern Vietnam.
Aquac. Res. 47:708–720. doi:10.1111/are.12530.
Nguyen NH, Hamzah A, Thoa NP. 2017. Effects of Genotype by Environment Interaction on Genetic Gain and Genetic Parameter Estimates in Red Tilapia ( Oreochromis spp .). Front. Genet. 8.
Nguyen TP. 2013. On-farm feed management practices for striped catfish in Mekong River Delta, Viet Nam. On-farm Feed. Feed Manag. Aquac.
FAO Fish. Aquac. Tech. Pap. No. 583. Rome, FAO. pp 241–267.
Nilsson J, Backström T, Stien LH, Carlberg H, Jeuthe H, Magnhagen C, striped catfish, Pangasianodon hypophthalmus in the Mekong Delta,
Vietnam. Aquaculture 296:227–236.
doi:10.1016/j.aquaculture.2009.08.017.
Phuong LM, Huong DTT, Nyenggaard JR, Bayley M. 2017. Gill remodelling and growth rate of striped catfish Pangasianodon hypophthalmus under impacts of hypoxia and temperature. Comp. Biochem. Physiol. Part A.
203:288–296. doi:10.1016/j.cbpa.2016.10.006.
Rezk MA, Ponzoni RW, Ling H, Kamel E, Dawood T, John G. 2009. Selective breeding for increased body weight in a synthetic breed of Egyptian Nile tilapia, Oreochromis niloticus: Response to selection and genetic parameters. Aquaculture. 293:187–194.
Saltz JB. 2011. Natural genetic variation in social environment choice: Context-dependent gene-environment correlation in Drosophila melanogaster.
Evolution (N. Y). 65:2325–2334. doi:10.1111/j.1558-5646.2011.01295.x.
Tahapari E, Darmawan J, Suharyanto. 2018. Genetic improvement of growth trait in Siamese catfish (Pangasianodon hypophthalmus ( Sauvage , 1878 )) through family selection. Bioflux 11:1648–1657.
Thodesen J, Rye M, Wang YX, Bentsen HB, Gjedrem T. 2012. Genetic
improvement of tilapias in China: Genetic parameters and selection responses in fillet traits of Nile tilapia (Oreochromis niloticus) after six generations of multi-trait selection for growth and fillet yield. Aquaculture.
366–367:67–75. doi:10.1016/j.aquaculture.2012.08.028.
Vu NU, Huynh TG, Truong QP, Morales J, Nguyen TP. 2016. Assessment of water quality in catfish (Pangasianodon hypophthalmus) production systems in the Mekong delta. Can Tho Univ. J. Sci. 3:71–78.
doi:10.22144/ctu.jen.2016.107.Wee NLJ, Tng YYM, Cheng HT, Lee SML, Chew SF, Ip YK. 2007. Ammonia toxicity and tolerance in the brain of the African sharptooth catfish, Clarias gariepinus. Aquat. Toxicol.
82:204–213. doi:10.1016/j.aquatox.2007.02.015.
LAMPIRAN 1. GAMBAR PATIN PUSTINA
Gambar Patin PUSTINA jantan
Gambar Patin PUSTINA betina
Gambar Patin PUSTINA jantan (atas) dan betina (bawah)
LAMPIRAN 2. POWERPOINT