• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN PUSTAKA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II KAJIAN PUSTAKA"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

6 BAB II KAJIAN PUSTAKA

2.1 Pembelajaran

2.1.1 Definisi Pembelajaran

Pembelajaran yang diidentikkan dengan kata "mengajar" berasal dari kata dasar "ajar" yang berarti petunjuk yang diberikan kepada orang supaya diketahui (diturut) ditambah dengan awalan "pe" dan akhiran "an menjadi

"pembelajaran", yang berarti proses, perbuatan, cara mengajar atau mengajarkan sehingga anak didik mau belajar. Pembelajaran merupakan proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar.

Pembelajaran dapat diartikan bantuan yang diberikan pendidik agar dapat terjadi proses pemerolehan ilmu dan pengetahuan, penguasaan kemahiran dan tabiat, serta pembentukan sikap dan kepercayaan diri pada peserta didik. Dengan kata lain, pembelajaran adalah proses untuk membantu peserta didik agar dapat belajar dengan baik (Djamaluddin & Wardana, 2019).

Proses pembelajaran dialami sepanjang hayat seorang manusia serta dapat berlaku di manapun dan kapanpun. Pembelajaran mempunyai pengertian yang mirip dengan pengajaran, walaupun mempunyai konotasi yang berbeda.

Dalam konteks pendidikan, guru mengajar supaya peserta didik dapat belajar dan menguasai isi pelajaran hingga mencapai sesuatu objektif yang ditentukan (aspek kognitif), juga dapat memengaruhi perubahan sikap (aspek afektif), serta keterampilan (aspek psikomotor) seseorang peserta didik. Pengajaran memberi kesan hanya sebagai pekerjaan satu pihak, yaitu pekerjaan guru saja. Sedangkan pembelajaran juga menyiratkan adanya interaksi antara guru dengan peserta didik.

Pembelajaran adalah suatu sistem yang bertujuan untuk membantu proses belajar siswa, yang berisi serangkaian peristiwa yang dirancang, disusun sedemikian rupa untuk mempengaruhi dan mendukung terjadinya proses belajar siswa yang bersifat internal (Djamaluddin & Wardana, 2019).

Menurut Slameto (2015), dalam sebuah kegiatan pembelajaran tidak dapat lepas kaitnya dengan kegiatan belajar dan mengajar. Karena dalam sebuah kegiatan pembelajaran terdapat aktifitas belajar dan mengajar yang berjalan.

(2)

7

Proses belajar mengajar akan terjadi interaksi antara peserta didik dan pendidik.

Peserta didik atau anak didik adalah salah satu komponen manusiawi yang menempati posisi sentral dalam proses belajar-mengajar. Sedangkan menurut pendidik adalah salah satu komponen manusiawi dalam proses belajar mengajar, yang ikut berperan dalam usaha pembentukan sumber daya manusia yang potensial dibidang pembangunan.

2.1.2 Pembelajaran Daring

2.1.2.1 Definisi Pembelajaran Daring

Kata daring adalah singkatan dari gabungan dua kata yaitu kata dalam dan kata jaringan. Menurut Aidah (2019), pembelajaran daring dikenal juga dengan istilah pembelajaran online (online learning) atau pembelajaran jarak jauh (learning distance). Pembelajaran daring merupakan pembelajaran yang berlangsung di dalam jaringan dimana pengajar dan siswa tidak perlu bertatap muka secara langsung. Dengan kata lain, pembelajaran daring yaitu pembelajaran melalui online yang memanfaatkan koneksi internet dapat saja terjadi dimana saja dan kapan saja (Nasriani, 2022). Menurut Nasriani (2022), pembelajaran daring adalah cara baru dalam pembelajaran dengan memanfaatkan perangkat elektronik berupa gawai atau laptop khususnya pada akses internet dalam penyampaiannya dalam pembelajaran, sehingga pembelajaran daring sepenuhnya bergantung kepada akses jaringan internet.

Pembelajaran daring juga bisa di artikan sebagai pendidikan formal yang dilaksanakan oleh sekolah/universitas yang peserta didiknya dan pengajar berada pada lokasi yang berbeda sehingga diperlukan sistem telekomunikatif yang interaktif sebagai media penyambung keduanya dan berbagai sumber daya yang diperlukan didalamnya (Sobron et al., 2019). Menurut Syarifudin (2020), pembelajaran daring untuk saat ini dapat menjadi sebuah solusi pembelajaran jarak jauh ketika terjadi bencana alam atau keadaan seperti social distancing.

Dilakukannya pembelajaran daring menjadikan kegiatan belajar mengajar dalam konteks tatap muka dihentikan sementara, dan diganti dengan sistem pembelajaran daring melalui aplikasi yang sudah tersedia. Pembelajaran daring mengutamakan akan interaksi dan pemberian informasi yang memberikan

(3)

8

kemudahan bagi peserta didik meningkatkan kualitas belajar. Pembelajaran daring dilakukan melalui berbagai aplikasi yang dapat menunjang proses pembelajaran seperti google classroom, whatsapp group, zoom dan lain sebagainya.

Pembelajaran daring ini akan membentuk pembelajaran yang menjadikan siswa mandiri dan tidak bergantung pada orang lain. Hal ini karena siswa akan fokus pada gawai atau komputer untuk menyelesaikan tugas ataupun mengikuti diskusi yang sedang berlangsung. Semua yang didiskusikan dalam proses belajar mengajar melalui daring penting untuk menuntaskan kompetensi yang akan dicapai.

2.1.2.2 Karakteristik Pembelajaran Daring

Karakteristik pembelajaran daring menurut Mustakim (2020) sebagai berikut:

a. Memanfaatkan jasa teknologi elektronik; di mana guru dan siswa, siswa dan sesama siswa atau guru dan sesama guru dapat berkomunikasi dengan relatif mudah tanpa dibatasi oleh jarak dan waktu.

b. Memanfaatkan keunggulan komputer.

c. Menggunakan bahan ajar bersifat mandiri disimpan di komputer sehingga dapat diakses oleh guru dan siswa kapan saja dan dimana saja bila yang bersangkutan memerlukannya.

d. Memanfaatkan jadwal pembelajaran, kurikulum, hasil kemajuan belajar dan hal- hal yang berkaitan dengan administrasi pendidikan dapat dilihat setiap saat dikomputer.

2.1.2.3 Fungsi Pembelajaran Daring

Menurut Setiawardhani (2013), setidaknya ada tiga fungsi pembelajaran elektronik atau pembelajaran daring terhadap kegiatan pembelajaran di dalam kelas, yaitu sebagai berikut:

a. Suplemen (Tambahan)

Dikatakan berfungsi sebagai suplemen, apabila peserta didik mempunyai kebebasan memilih, apakah akan memanfaatkan materi pembelajaran elektronik atau tidak. Dalam hal ini, tidak ada kewajiban/keharusan bagi peserta didik untuk

(4)

9

mengakses materi pembelajaran elektronik. Sekalipun sifatnya opsional, peserta didik yang memanfaatkannya tentu akan memiliki tambahan pengetahuan atau wawasan.

b. Komplemen (Pelengkap)

Dikatakan berfungsi sebagai komplemen, apabila materi e-learning diprogramkan untuk melengkapi materi pembelajaran yang diterirna siswa di dalam kelas. Sebagai komplemen berarti materi e-learning diprogramkan untuk menjadi materi enrichment (pengayaan) atau remedial bagi peserta didik di dalam mengikuti kegiatan pembelajaran konvensional. Sebagai enrichment, apabila peserta didik dapat dengan cepat menguasai/memahami materi pelajarun yang disampaikan guru secara tatap muka diberikan kesempatan untuk mengakses materi e-learning yang memang secara khusus dikembangkan untuk mereka.

Tujuannya agar semakin memantapkan tingkat penguasaan peserta didik terhadap materi pelajaran yang disajikan guru di kelas. Sebagai remedial, apabila peserta didik mengalami kesulitan dalam memahami materi petajaran yang disampaikan guru secara tatap muka di kelas. Tujuannya agar peserta didik semakin lebih mudah memahami materi pelajaran yang disajikan guru di kelas.

c. Substitusi (Pengganti)

Tujuan dari e-learning sebagai pengganti kelas konvensional adalah agar peserta didik dapat secara fleksibel mengelola kegiatan pembelajaran sesuai dengan waktu dan aktivitas lain sehari-hari. Ada tiga alternatif model kegiatan pembelajaran yang dapat diikuti peserta didik, yaitu: (1) sepenuhnya secara tatap muka (konvensional), (2) sebagian secara tatap muka dan sebagian lagi daring, atau bahkan, (3) sepenuhnya melalui daring.

2.1.2.4 Kelebihan dan Kekurangan Pembelajaran Daring

Menurut Bilfaqih & Qomarudin, (2015), pada umumnya pembelajaran daring memiliki tujuan memberikan layanan pembelajaran bermutu secara dalam jaringan yang bersifat massif dan terbuka untuk menjangkau target yang lebih banyak dan lebih luas.

Pembelajaran daring untuk saat ini telah menjadi populer karena itu potensi yang dirasakan untuk menyediakan layanan akses konten lebih fleksibel,

(5)

10

sehingga memunculkan beberapa keuntungan dalam penerapannya. Berikut beberapa kelebihan pembelajaran daring. Menurut Bilfaqih & Qomarudin (2015), kelebihan dari pembelajaran daring adalah sebagai berikut:

a. Meningkatkan mutu pendidikan dan pelatihan dengan memanfaatkan multimedia secara efektif dalam pembelajaran.

b. Meningkatkan keterjangkauan pendidikan dan pelatihan yang bermutu melalui penyelenggaraan pembelajaran dalam jaringan.

c. Menekan biaya penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan yang bermutu melalui pemanfaatan sumber daya bersama.

Mutia & Leonard (2013), juga menyebutkan beberapa kelebihan e- learning atau pembelajaran daring, antara lain:

a. Mengurangi biaya, dengan menggunakan e-learning, kita menghemat waktu dan uang untuk mencapai suatu tempat pembelajaran. Dengan e-learning dapat mengakses dari berbagai lokasi atau tempat.

b. Fleksibilitas waktu, tempat dan kecepatan pembelajaran. Dengan menggunakan e-learning, pengajar dapat menentukan waktu untuk belajar dimanapun. Dan pelajar dapat belajar sesuai dengan kemampuan masing masing.

c. Standarisasi dan efektivitas pembelajaran, e-learning selalu memiliki kualitas sama setiap kali diakses dan tidak tergantung suasana hati pengajar. E- learning dirancang agar pelajar dapat lebih mengerti dengan menggunakan

simulasi dan animasi.

Selain kelebihan di atas, terdapat pula kekurangan penggunaan e- learning atau pembelajaran daring. Menurut Aidah (2019), kekurangan

penggunaan e-learning antara lain:

a. Interaksi secara tatap muka yang terjadi antara peserta didik dengan pengajar atau antara peserta didik dengan peserta didik menjadi minim.

b. Pembelajaran yang dilakukan lebih cenderung ke pelatihan bukan pendidikan.

c. Aspek bisnis atau komersial menjadi lebih berkembang dibandingkan aspek sosial dan akademik.

d. Pengajar dituntut lebih menguasai teknik pembelajaran dengan menggunakan teknologi, informasi dan komunikasi (TIK).

(6)

11

e. Belum meratanya fasilitas internet yang tersedia di tempat yang bermasalah dengan listrik, telepon dan komputer.

f. Sumber daya manusia yang memiliki keahlian untuk mengoperasikan komputer masih kurang.

g. Bahasa komputer yang belum dikuasai.

h. Perasaan terisolasi dapat terjadi pada peserta didik.

i. Terjadinya variasi kualitas dan akurasi informasi oleh sebab itu diperlukan panduan pada saat menjawab pertanyaan.

j. Kesulitan mengakses grafik, gambar dan video karena peralatan yang dipakai tidak mendukung sehingga menyebabkan peserta didik menjadi frustasi.

Selain di atas, (Kasidi et al., 2020), juga menyebutkan beberapa kelemahan dalam pelaksanaan pembelajaran daring, yaitu:

a. Proses pembentukan karakter peserta didik menjadi sangat tidak efektif.

b. Ditinjau dari segi biaya, pembelajaran model daring menjadi tidak efisien karena peserta didik harus mengeluarkan dana tambahan untuk membeli pulsa data lima puluh persen (50%) lebih dibandingkan pada saat pembelajaran dilakukan dengan model tatap muka langsung.

c. Peserta didik tidak mendapat pelayanan yang memadai dalam proses belajarnya, baik dari segi sumber daya, sumber dana untuk kegiatan, maupun fasilitas yang seharusnya disediakan oleh pihak pengelola pembelajaran.

d. Terkadang membuat beberapa peserta didik merasa tidak nyaman.

2.1.2.5 Hambatan Pembelajaran Daring

Menurut Anugrahana (2020), terdapat 9 hambatan dalam pembelajaran daring, yaitu:

a. Beberapa siswa tidak memiliki gawai, komputer atau laptop, sehingga harus meminjam terlebih dahulu.

b. Siswa memiliki gawai namun tidak dengan fitur yang mumpuni.

c. Yang mempunyai gawai adalah orangtua, dan gawai dibawa bekerja.

d. Koneksi internet yang buruk.

e. Tidak semua siswa dan orangtua paham dengan teknologi. Kasus seperti ini sangat menghambat.

(7)

12

f. Informasi tidak selalu diterima langsung oleh wali/siswa karena keterbatasan kuota.

g. Kejenuhan siswa dengan pembelajaran daring.

h. Foto yang dikirim kepada guru terkadang terlihat buram sehingga menyulitkan dalam penilaian.

i. Kesulitan dalam memantau kejujuran siswa dalam mengerjakan tugas karena tidak bertatap muka secara langsung.

Sedangkan menurut Herlambang et al. (2021), terdapat 6 hambatan pembelajaran daring, yaitu:

a. Kurangnya interaksi antara pengajar dengan peserta didik atau antar sesama peserta didik menurunkan fungsi manusia sebagai mahkluk sosial.

b. Beberapa materi kuliah memerlukan praktek yang harus dibawah bimbingan pengajar secara langsung.

c. Masalah skill and knowledge, tidak semua orang mengerti komputer dan internet.

d. Kurangnya interaksi antara guru dan peserta belajar atau bahkan antar peserta belajar itu sendiri yang dapat memperlambat terbentuknya values dalam proses belajar dan mengajar.

e. Kecenderungan mengabaikan aspek akademik atau aspek sosial dan sebaliknya mendorong tumbuhnya aspek bisnis.

f. Peserta belajar yang tidak mempunyai motivasi belajar tinggi cenderung gagal.

(8)

13 2.2 Kerangka Konseptual

Gambar 2.1 Kerangka Konseptual

Permasalahan Pembelajaran Daring

Rendahnya Motivasi Belajar Siswa

Analisis Penyebab Permasalahan Pembelajaran

Daring

Review Artikel

Rekomendasi Pembelajaran Daring

Rendahnya Hasil Belajar Siswa

Terbatasnya Fasilitas yang dimiliki Siswa

Referensi

Dokumen terkait

Kadar Coupling Agent MNR juga dapat mempengaruhi nilai tensile strength pada Thermoset Rubber.Pada pembuatan TR akan ditambahkan bahan pengisi (filler) ke dalam

 Konfigurasi T-S atau S-T dapat digunakan untuk kapasitas kecil sampai dengan sedang, probabilitas blocking akan meningkat dengan bertambah ukuran time switch, sehhingga

Dari bentuk bangunan klenteng dapat terlihat arsitektur bergaya Cina dengan ciri khas bagian atap jenis pelana dan ekor wallet dengan ujung melengkung keatas, demikian pula

Yang dimaksud dengan “kecelakaan atau bencana serius” adalah kematian, luka-luka, atau bentuk lain dari terganggunya kesehatan seseorang, hilang atau rusaknya harta benda milik

Sebagai pakar pertanian kita harus merasa bertanggungjanji (to feel commited) kepada pertanian untuk menjadikannya suatu lapangan kerja yang kompetitif dengan lapangan kerja

Penyakit dinamakan vascular streak dieback karena gejala yang khas dari penyakit ini adalah adanya garis-garis berwarna cokelat pada berkas pembuluh (vascular

Tujuan Perumahan Citra adalah untuk mengembangkan dan melaksanakan rencana pembangunan rumah yang telah disusun dengan baik yang akan memenuhi kepuasan akhir dari konsumen,