• Tidak ada hasil yang ditemukan

Rosadi 1* Artikel dikirim : Artikel diterima : Artikel diterbitkan :

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Rosadi 1* Artikel dikirim : Artikel diterima : Artikel diterbitkan :"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

Alamat : Jl. Evakuasi, Gg. Langgar, No. 11, Kalikebat Karyamulya, Kesambi, Cirebon Email : [email protected] Kontak : 08998894014 Available at:

arji.insaniapublishing.com/index.php/arji Volume 3 Nomor 1 Tahun 2021 DOI :

P-ISSN : 2774-9290 E-ISSN : 2775-0787

1 – 9

Implementasi Metode Diskusi Teman Sejawat untuk Meningkatkan Keaktifan Belajar Siswa

Implementation of Peer Discussion Methods to Increase Student Learning Activeness

Artikel dikirim : 15– 02 - 2021 Artikel diterima : 28 – 03 - 2021

Artikel diterbitkan : 30 – 03 - 2021

Rosadi1*

1 Guru MTs An-Nahdliyah Cirebon

Email : 1 [email protected]

Kata Kunci:

Metode Diskusi, Teman Sejawat, Keaktifan Belajar Siswa

Abstrak: Berdasarkan pengalaman peneliti, pola lama yang peneliti terapkan dengan metode ceramah berdampak pada beberapa hal, antara lain; , (1) pada saat pembelajaran berlangsung siswa cenderung pasif, siswa tidak mau bertanya jika ada yang belum bisa dan dimengerti dalam pelajaran, siswa juga tidak mau mencatat hal yang penting dalam pelajaran yang disampaikan oleh guru, siswa cenderung hanya mengingatnya saja, (2) saat guru memberi sebuahpertanyaan kepada siswa, siswa yang antusias menjawab pertanyaan tersebutsangat sedikit, (3) dan saat guru menjelaskan materi, siswa banyak yang mengobrol sendiri di luar topik pembelajaran, sehingga menimbulkan kegaduhan dan pembelajaran di kelas menjadi tidak kondusif. Atas berbagai persoalan tersebut penel iti mencoba melakukan eksperimen yang didesain dalam penelitian tindakan yakni dengan mengimplementasikan metode diskusi teman sejawat. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (action researchclassroom). Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan rancangan tindakan yang dikembangkan oleh Kemmis dan Mc Taggart. Pada penelitian tindakan kelas ada tahap-tahap yang harus dilakukan yang disebut siklus. Siklus dalam penelitian ini terdiri dari perencanaan (planning), tindakan (acting), pengamatan (observing), refleksi (reflecting). Proses pembelajaran dalam rangka meningkatkan keaktifan belajar siswa dengan metode diskusi teman sejawat dilaksanakan dalam dua siklus tindakan. Pada siklus I diperoleh rata-rata kinerja guru cukup sedang pada tahap/siklus II mengalami peningkatan menjadi baik. Ada peningkatan keaktifan belajar siswa. Pada siklus I, 3% keaktifan belajar siswa baik, 75% cukup, dan 22% kurang. Pada siklus II, terjadi kenaikan yang signifikan yakni 6% sedang, dan 94%

(2)

2 |

Implementasi Metode Diskusi Teman Sejawat untuk Meningkatkan Keaktifan Belajar Siswa © Rosadi

Keywords:

Discussion Methods, Peers, Student Learning Activeness

Abstract: Based on the researcher's experience, the old patterns that the researchers applied with the lecture method had an impact on several things, including; , (1) when learning takes place students tend to be passive, students do not want to ask questions if there is something they cannot and understand in the lesson, students also do not want to note things that are important in the lessons delivered by the teacher, students tend to only remember them, (2) When the teacher gives a question to students, there are very few students who are enthusiastic about answering the question, (3) and when the teacher explains the material, many students chat on their own outside the learning topic, causing noise and learning in the classroom is not conducive. For these various problems the researcher tried to conduct experiments designed in action research, namely by implementing the peer discussion method. This research is an action research class. In this study, researchers used an action design developed by Kemmis and Mc Taggart. In classroom action research, there are steps that must be done which are called cycles. The cycle in this study consisted of planning, acting, observing, reflecting. The learning process in order to increase student learning activeness with the peer discussion method is carried out in two cycles of action. In the first cycle, it was found that the average teacher performance was quite moderate at the stage / cycle II that had increased to be good.

There is an increase in student learning activeness. In the first cycle, 3% of student learning activeness is good, 75% is sufficient, and 22% is less. In cycle II, there was a significant increase, namely 6% moderate, and 94%

good / high.

Copyright © 2021 ARJI : Action Research Journal Indonesia

Hak cipta dilindungi oleh undang-undang. Dilarang mengutip atau memperbanyak sebagian atau seluruh isi tulisan ini tanpa izin penerbit.

This work is licenced under a Creative Commons Attribution-nonCommercial-shareAlika 4.0 International Licence

(3)

ARJI : Action Research Journal indonesia | Volume 3 Nomor 1 Tahun 2021

| 3

PENDAHULUAN

Paradigma baru dalam belajar yang mendorong siswa menemukan sendiri dan menyusunnya kembali pengetahuannya, merupakan terobosan yang mensyaratkan bahwa keberhasilan belajar bukan sebagai hasil kerja individu melainkan hasil kerjasama dalam satu komunitas belajar sehingga memungkinkan terjadinya interaksi saling menguntungkan antara subyek belajar. Kondisi tersebut akan terjadi jika siswa aktif dalam pembelajaran.

Menurut Melvin (2012: 9), pembelajaran, penjelasan, dan pemeragaan semata tidak akan membuahkan hasil belajar yang langgeng. Yang bisa membuahkan hasil belajar yang langgeng hanyalah kegiatan belajar aktif. Menurut Martinis Yamin (2007:

77), keaktifan siswa dalam pembelajaran dapat merangsang dan mengembangkan bakat yang dimilikinya, berfikir kritis, dan dapat memecahkan permasalahan-permasalahan dalam kehidupan sehari-hari. Pembelajaran yang aktif mengkondisikan siswa agar siswa selalu melakukan pengalaman belajar yang bermakna, agar senantiasa dapat berfikir apa yang akan dilakukan selama pembelajaran (Warsono, 2012: 12).

Berdasarkan pengalaman peneliti, pola lama yang peneliti terapkan dengan metode ceramah berdampak pada beberapa hal, antara lain; , (1) pada saat pembelajaran berlangsung siswa cenderung pasif, siswa tidak mau bertanya jika ada yang belum bisa dan dimengerti dalam pelajaran, siswa juga tidak mau mencatat hal yang penting dalam pelajaran yang disampaikan oleh guru, siswa cenderung hanya mengingatnya saja, (2) saat guru memberi sebuah pertanyaan kepada siswa, siswa yang antusias menjawab pertanyaan tersebut sangat sedikit, (3) dan saat guru menjelaskan materi, siswa banyak yang mengobrol sendiri di luar topik pembelajaran, sehingga menimbulkan kegaduhan dan pembelajaran di kelas menjadi tidak kondusif.

Saat pembelajaran keaktifan siswa bukan hanya mendengar dan mencatat saja, tetapi keaktifan belajar siswa yang dilakukan siswa terdapat beberapa indikator, dan indikator inilah yang dijadikan oleh guru sebagai pengukur dan menilai apakah siswa telah melakukan aktivitas belajar sesuai dengan yang diharapkan. Menurut Paul D.

Dierich di dalam Martinis Yamin (2007: 85), membagi kegiatan belajar dalam delapan kelompok, masing-masing adalah:

1. Kegiatan-kegiatan visual, seperti membaca, melihat gambar-gambar, mengamati eksperimen, demonstrasi, pemeran, dan mengamati orang lain bekerja atau bermain 2. Kegiatan-kegiatan lisan (oral), seperti mengemukakan suatu fakta atau prinsip, menghubungkan suatu tujuan, mengajukan suatu pertanyaan, memberi saran, mengemukan pendapat, wawancara, diskusi, dan instrupsi.

3. Kegiatan-kegiatan mendengarkan, seperti mendengarkan penyajian bahan, mendengarkan percakapan atau diskusi kelompok, mendengarkan suatu permainan, mendengarkan radio

4. Kegiatan-kegiatan menulis, seperti menulis cerita, menulis laporan, memeriksa karangan, membuat rangkuman, mengerjakan tes, dan mengisikan angket

5. Kegiatan-kegiatan menggambar, seperti menggambar, membuat grafik, chart , diagram peta, dan pola

(4)

4 |

Implementasi Metode Diskusi Teman Sejawat untuk Meningkatkan Keaktifan Belajar Siswa © Rosadi

6. Kegiatan metric , seperti melalukan percobaan, memilih alat-alat, melaksanakan pameran, menari dan berkebun

7. Kegiatan-kegiatan mental, seperti merenungkan, meningkatkan, memecahkan masalah, menganalisis faktor-faktor, melihat hubungan hubungan, dan membuat keputusan

8. Kegiatan-kegiatan emosional, seperti minat, membedakan, berani, tenang, dan lain- lain. kegiatan-kegiatan dalam kelompok ini terdapat dalam semua jenis kegiatan overlap satu sama lain.

Menurut Moh. Uzer Usman (1993: 89-90), aktivitas belajar siswa meliputi fisik, mental, dan emosional. Dalam hal ini jenis aktivitas tersebut dapat digolongkan sebagai berikut:

1. Aktivitas visual seperti membaca menulis

2. Aktivitas lisan seperti bercerita, membaca sajak, Tanya jawab, menyanyi

3. Aktivitas mendengarkan seperti mendengarkan penjelasan guru, ceramah, pengarahan

4. Aktivitas gerak, seperti senam pagi, atletik, tari, melukis

5. Aktivitas menulis seperti mengarang, membuat makalah, membuat paper, menulis surat.

Berdasarkan beberapa pendapat di atas maka jenis-jenis keaktifan siswa dapat dilihat dari berbagai tingkah laku aktif yang dilakukan oleh siswa dalam memproleh informasi saat mengikuti proses kegiatan pembelajaran. Tingkah laku aktif tersebut dapat berupa aktifitas visual seperti membaca buku, mengemukakan pendapat atau menjawab pertanyaan saat pembelajaran, keberanian melatih diri dalam memecahkan soal.

1. Faktor-faktor yang Menimbulkan Keaktifan Belajar Siswa

Keaktifan yang dilakukan siswa dalam pembelajaran dapat merangsang dan meningkatkan bakat yang dimiliki siswa serta dapat meningkatkan pemahaman siswa terhadap informasi-informasi yang ditangkap siswa dalam proses kegiatan belajar. Keaktifan yang dimiliki siswa dapat membuat siswa kritis dan kreatif dalam memecahkan sebuah permasalahan-permasalahan dalam hidupnya. Keaktifan belajar siswa dipengaruhi oleh beberapa faktor. Menurut Gagne dan Briggs di dalam Martinis Yamin (2007: 84), faktor-faktor keaktifan itu antara lain adalah:

a. memberikan dorongan atau menarik perhatian siswa, sehingga mereka dapat berperan aktif dalam kegiatan pembelajaran,

b. menjelaskan tujuan instruksional (kemampuan dasar kepada siswa), c. mengingatkan kompetensi belajar kepada siswa,

d. memberikan stimulus (masalah,topik dan konsep yang akan dipelajari), e. memberi petunjuk kepada siswa cara mempelajarinya,

f. memunculkan aktivitas, partisipasi siswa dalam kegiatan pembelajaran, g. memberi umpan balik ( feed back ),

h. melakukan tagihan-tagihan kepada siswa berupa tes, sehingga kemampuan siswa selalu terpantau dan terukur.

(5)

ARJI : Action Research Journal indonesia | Volume 3 Nomor 1 Tahun 2021

| 5

i. menyimpulkan setiap materi yang disampaikan diakhir pelajaran.

Mc Keachie di dalam Warsono dan Haryanto (2012: 8), mengemukakan adanya enam dimensi implementasi pembelajaran siswa aktif yang meliputi :

a. partisipasi siswa dalam menentukan tujuan kegiatan pembelajaran b. penekanan kepada aspek afektif dalam pembelajaran

c. partisipasi siswa dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar terutama yang membentuk interaksi antar siswa

d. penerimaan guru terhadap perbuatan atau sumbangan siswa yang kurang relevan atau karena siswa berbuat kesalahan

e. keeratan hubungan kelas sebagai kelompok

f. kesempatan yang diberikan kepada siswa untuk mengambil keputusan yang penting dalam kegiatan sekolah.

Berdasarkan dua pendapat tersebut maka dapat disimpulkan bahwa untuk membangkitkan keaktifan siswa dapat dilakukan dengan cara memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengambil keputusan dan motivasi yang berupa dorongan belajar terhadap siswa serta menarik perhatiannya guna meningkatkan partisipasi siswa serta Kreativitasnya dalam mengikuti pembelajaran. Selain itu juga guru harus memberikan pengajaran yang jelas dan tepat sesuai dengan tujuan mengajar yang akan dicapai.

Menurut Trianto (2007: 117), diskusi merupakan komunikasi seseorang berbicara dengan satu dengan yang lain, saling berbagi gagasan dan pendapat.

Menurut Soekartawi (1995: 66), metode diskusi adalah merupakan interaksi antara siswa dengan siswa atau siswa dengan pengajar untuk menganalisis, menggali, atau memperdebatkan topik atau permasalahan tertentu. Pengajar harus menyiapkan bahan, topik atau masalah yang akan didiskusikan, menyebutkan pokok-pokok masalah yang akan dibahas atau memberikan belajar khusus kepada siswa sebelum menylenggarakan diskusi, menugaskan siswa untuk menjelaskan, menganalisis, dan meringkas serta membimbing diskusi dan bukan memberi ceramah.

Menurut Sugihartono (2007: 83), metode diskusi merupakan metode pembelajaran melalui pemberian masalah kepada siswa dan siswa diminta memecahkan masalah secara kelompok. Metode ini dapat mendorong siswa untuk mampu mengemukakan pendapat secara konstruktif serta membiasakan siswa untuk bersifat toleran pada pendapat orang lain. Metode diskusi di kelas adalah suatu cara penyampaian sesuatu bahan pelajaran dimana guru menugaskan kelompok pelajar untuk melaksanakan percakapan ilmiah hingga diperoleh suatu keputusan yang benar, yang disepakati bersama. Secara umum diskusi dapat berarti proses penglibatan dua atau lebih individu yang berinteraksi secara verbal dan saling berhadapan muka, mengenai tujuan atau saran yang sudah tertentu melalui cara tukar menukar informasi, pengelolaan sendiri atau pemecahan masalah (Soemirat, 1980: 3).

Diskusi terdiri dari berbagai macam bentuk. Ditinjau dari bentuknya, diskusi dibedakan menjadi Buz Group, Panel, Symposium, Informal Debate, dan Fish Bowl .

(6)

6 |

Implementasi Metode Diskusi Teman Sejawat untuk Meningkatkan Keaktifan Belajar Siswa © Rosadi

a. Buz Group

Merupakan diskusi kelompok kecil yang terdiri dari (4-5) orang. Siswa diposisikan agar dapat dengan mudah untuk bertatapan satu sama lain.

b. Panel

Merupakan diskusi kelompok kecil (3-6) orang yang mendiskusikan objek tertentu dengan cara duduk melingkar yang dipimpin oleh seorang moderator.

Moderator bertugas untuk mengatur kelancaran jalannya diskusi.

c. Symposium

Merupakan bentuk diskusi yang dilaksanakan dengan membahas berbagai aspek dengan subjek tertentu. Terdapat beberapa orang penyaji dalam kegiatan ini. Setiap penyaji menyajikan karyanya dalam waktu 5-20 menit diikuti dengan sanggahan dan pertanyaan dari peserta. Topik dalam diskusi ini adalah topik baru sehingga tujuan utama dari diskusi ini adalah ingin memperoleh informasi dari tangan pertama.

d. Fish Bowl

Merupakan diskusi yang biasanya tempat duduk diatur secara melingkar dengan 2 atau 3 kursi kosong menghadap peserta diskusi. Kelompok pendengar duduk mengelilingi kelompok diskusi sehingga seolah-olah peserta melihat ikan dalam mangkok.

Menurut beberapa pendapat di atas maka dapat disimpulkan metode diskusi adalah interaksi antara siswa dengan siswa atau siswa dengan pengajar untuk menganalisis, menggali, atau memperdebatkan topik atau permasalahan tertentu.

Pembelajaran menjadi suatu hal yang penting dalam tercapainya tujuan pembelajaran yang berakhir pada pencapaian hasil belajar siswa yang mencakup bidang kognitif, afektif dan psikomotorik. Salah satu faktor yang dominan mempengaruhi hasil belajar di lingkungan sekolah adalah metode guru dalam mengajar. Pembelajaran akan optimal apabila dilakukan dengan menggunakan metode mengajar yang tepat dan siswa mencapai hasil belajar yang diharapkan.

Salah satu metode yang dapat membuat siswa aktif dalam mengikuti pembelajaran adalah dengan menggunakan metode diskusi teman sejawat. Berdasarkan indikator keaktifan, faktor belajar dan karakteristik metode diskusi teman sejawat, penggunaan metode diskusi teman sejawat dapat meningkatkan keaktifaan belajar siswa, membuat siswa berlatih dengan lebih aktif, berdemokrasi, menghargai pendapat, berfikir kritis dan dapat membuat siswa mampu menganalisis permasalahan, dan membuat alternatif dalam memecahkan masalah, sehingga keaktifan belajar siswa dapat meningkat. Dengan demikian dapat diduga bahwa penggunaan metode diskusi teman sejawat adalah metode terbaik yang dapat mempengaruhi indikator keaktifan belajar siswa. Dengan kata lain penggunaan metode diskusi teman sejawat dapat meningkatkan keaktifan belajar siswa.

(7)

ARJI : Action Research Journal indonesia | Volume 3 Nomor 1 Tahun 2021

| 7

METODE

Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (action research classroom).

Menurut Kasihani Kasbolah (1998: 14) Penelitian Tindakan Kelas adalah penelitian tindakan dalam bidang pendidikan yang dilaksanakan dalam kawasan kelas dengan tujuan untuk memperbaiki dan atau meningkatkan kualitas pendidikan.Menurut Suharsimi Arikunto (2006: 96) Penelitian tindakan kelas adalah penelitian yang dilakukan guru kelas atau di sekolah tempat ia mengajar dengan penekanan pada penyempurnaan atau peningkatan proses dan praktik pembelajaran. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan rancangan tindakan yang dikemba ngkan oleh Kemmis dan Mc Taggart. Pada penelitian tindakan kelas ada tahap-tahap yang harus dilakukan yang disebut siklus. Siklus dalam penelitian ini terdiri dari perencanaan (planning), tindakan (acting), pengamatan (observing), refleksi (reflecting), dan perencanaan kembali.

Data yang dikumpulkan dalam Penelitian Tindakan Kelas ini adalah data sebelum dan sesudah diterapkannya metode diskusi teman sejawat dilihat dari peningkatan keaktifan belajar siswa disetiap siklusnya, dengan menggunakan metode diskusi teman sejawat sebagai metode pembelajaran pada mata pelajaran Akidah Akhlak . Teknik pengumpulan data yang digunakan pada penelitian ini yaitu dengan menggunakan observasi.

Analisis data aktivitas siswa dalam setiap kelompok dilakukan dengan langkah- langkah sebagai berikut ini:

1. Pengamatan dan penskoran didalam lembar observasi digunakan untuk semua siswa kelas X.

2. Menjumlahkan skor untuk masing-masing aspek indikator keaktifan yang diamati disetiap masing-masing siswa menggunakan rubik penskoran

HASIL DAN PEMBAHASAN

Penelitian di siklus I ini dilakukan dalam 1 kali pertemuan dengan mengimplementasikan metode pembelajaran diskusi teman sejawat di kelas VII MTs An- Nahdliyah Cirebon. Penelitian ini dilakukan oleh 3 orang, yaitu 2 orang bertindak sebagai observer (kolega peneliti di madrasah) dan peneliti sendiri yang mengimplementasikan metode pembelajaran diskusi teman sejawat. Agar observer tidak mengganggu proses belajar mengajar maka observer dibantu oleh kamera dan

(8)

8 |

Implementasi Metode Diskusi Teman Sejawat untuk Meningkatkan Keaktifan Belajar Siswa © Rosadi

jumlah observer yang tidak terlalu banyak, hal ini dilakukan agar siswa tetap mengikuti pembelajaran dengan alami atau perbuatan rekayasa dari siswa.

Metode diskusi teman sejawat adalah metode pembelajaran kelompok yang pembelajaranya dilakukan secara kelompok, materi pembelajaran Akidah Akhlak . Implementasi metode diskusi teman sejawat dalam pembelajaran Akidah Akhlak adalah setiap kelompok siswa diberikan masalah untuk dipecahkan, setidak-tidaknya menjadikan siswa dapat bekerja sama dengan temanya dalam mencakup tujuan kelompok, dan bisa menghargai pendapat teman dalam kelompok, hasil pendiskusian kelompok dikumpulkan pada guru untuk dikoreksi. Hasil siklus I menunjukkan 3%

keaktifan belajar siswa baik, 75% cukup, dan 22% kurang.

Penelitian di siklus II ini dilakukan dalam 1 kali pertemuan dengan mengimplementasikan metode pembelajaran diskusi teman sejawat di kelas VII MTs An- Nahdliyah Cirebon. Penelitian ini dilakukan oleh 3 orang, yaitu 2 orang bertindak sebagai observer (kolega peneliti di madrasah) dan peneliti sendiri yang mengimplementasikan metode pembelajaran diskusi teman sejawat. Agar observer tidak mengganggu proses belajar mengajar maka observer dibantu oleh kamera dan jumlah observer yang tidak terlalu banyak, hal ini dilakukan agar siswa tetap mengikuti pembelajaran dengan alami atau perbuatan rekayasa dari siswa.

Pada siklus II keaktifan belajar siswa pada siklus II 6% sedang, dan 94%

baik/tinggi. Dalam pembahasan ini dimulai dengan membandingkan kinerja guru antara siklus I dan siklus II. Pada siklus I kinerja guru masuk kategori sedang, sedangkan pada siklus II masuk kategori baik. Hal ini membuktikan bahwa dengan kolaborasi yang melibatkan rekan sejawat memicu guru untuk memperbaiki proses pembelajaran.

Adapun dampak positif dari kinerja guru yang membaik adalah meningkatnya keaktifan belajar siswa. Pada siklus I, 3% keaktifan belajar siswa baik, 75% cukup, dan 22% kurang. Pada siklus II, terjadi kenaikan yang signifikan yakni 6% sedang, dan 94%

baik/tinggi. Dengan demikian hipotesis bahwa model pembelajaran diskusi teman sejawat dapat meningkatkan keaktifan belajar siswa.

SIMPULAN

Proses pembelajaran dalam rangka meningkatkan keaktifan belajar siswa dengan metode diskusi teman sejawat dilaksanakan dalam dua siklus tindakan. Pada siklus I

(9)

ARJI : Action Research Journal indonesia | Volume 3 Nomor 1 Tahun 2021

| 9

diperoleh rata-rata kinerja guru cukup sedang pada tahap/siklus II mengalami peningkatan menjadi baik.

Ada peningkatan keaktifan belajar siswa. Pada siklus I, 3% keaktifan belajar siswa baik, 75% cukup, dan 22% kurang. Pada siklus II, terjadi kenaikan yang signifikan yakni 6% sedang, dan 94% baik/tinggi.

UCAPAN TERIMA KASIH

Perasaan syukur peneliti sampaikan kepada instansi MTs An-Nahdliyah Cirebon yang telah memfasilitasi peneltian ini dan terima kasih kami sampaikan kepada para siswa dan guru MTs An-Nahdliyah Cirebon yang sangat membantu sehingga terselesaikannya penelitian ini.

DAFTAR PUSTAKA

Kasihani Kasbolah,1998. Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Departemen Pendidikan dan Kebudayaan : Malang

Melvin L. Siberman, 2012. Active Learning 101 Cara Belajar Siswa Aktif. Bandung: Nuansa.

Martinis Yamin, 2007. Kiat Membelajarkan Siswa . Jakarta: Gaung Persada Press.

Moh. Uzer Usman,1993. Upaya Optimalisasi Kegiatan Belajar Mengajar. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Soekartawi, 1995. Meningkatkan Rancangan Instruksional . Jakarta. PT. Rajasa Grafindo Persada.

Sugihartono, 2007. Pisikologi Pendidikan . Yogyakarta: UNY press.

Suharsimi Arikunto, 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta.

Soemirat, 1980. Metode Diskusi . Jakarta: Lobing Paper P3G

Trianto, 2007. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif - Progresif . Jakarta: Kencana Prenada Media Group

Warsono dan Haryanto, 2012. Pembelajaran Aktif . Bandung: PT. Remaja Rosda Karya.

Referensi

Dokumen terkait

Secara khusus, kajian ini bertujuan untuk (a) mengkaji keragaan pengelolaan limbah dengan instalasi biogas di lokasi penelitian, (b) menganalisis tingkat kelayakan pengembangan

Menurut Kuswadi (2004) kebutuhan-kebutuhan karyawan, berdasarkan hasil dari banyak penelitian selama ini, dapat dikategorikan menjadi banyak kelompok atau atribut,

Penelitian ini merupakan tugas akhir pada Program Studi Magister Ilmu Manajemen Sekolah Pascasarjana Unversitas Sumatera Utara yang meneliti masalah “Pengaruh Motivasi dan

Pemahaman terhadap maqashid al-syari’ah dalam rangka istinbath hukum adalah sesuatu yang penting, khususnya terhadap persoalan-persoalan yang tidak terdapat (secara

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kondisi kesehatan keuangan subsektor rokok yang listing dan perusahaan delisting tahun 2009 – 2013 di Bursa Efek Indonesia, serta

Budaya Lokal yang relevan dengan efektifitas kepemimpinan Tantangan budaya bagi Kepempinan yang efektif Peran Budaya lokal sebagai sumber inspirasi kepemimpinan yang

2.3.4.2 Pegaman lebur (Fuse Link) Pengaman lebur dipasang pada sisi primer, di dalam busing atau terendam minyak, berfungsi untuk mengamankan jaringan tegangan tinggi (TM)

Jadi tugas humas adalah meyakinkan kepada masyarakat apa yang telah dicapai lembaga pendidikan selama ini, dengan memberikan fakta-fakta misalnya, sarana prasarana yang