KUALITAS VISUM ET REPERTUM PERLUKAAN KORBAN HIDUP DI RSUD. DELI SERDANG
PADA TAHUN 2017-2018
TESIS
ADRIANSYAH LUBIS NIM : 177041081
PROGRAM STUDI S2 MAGISTER KEDOKTERAN KLINIK KEDOKTERAN FORENSIK DAN MEDIKOLEGAL
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2019
KUALITAS VISUM ET REPERTUM PERLUKAAN KORBAN HIDUP DI RSUD. DELI SERDANG
PADA TAHUN 2017-2018
TESIS
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat
Untuk Memperoleh Gelar Magister Kedokteran Forensik Dalam Program Studi S2 Magister Kedokteran Klinik
Ilmu Kedokteran Forensik Dan Medikolegal Fakultas Kedokteran
Universitas Sumatera Utara
ADRIANSYAH LUBIS NIM : 177041081
PROGRAM STUDI S2 MAGISTER KEDOKTERAN KLINIK KEDOKTERAN FORENSIK DAN MEDIKOLEGAL
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2019
ii
iv
vi
RIWAYAT HIDUP
dr. Adriansyah Lubis lahir pada tanggal 16 juli 1986 di Medan. Merupakan anak ke 4 dari 4 bersaudara pasangan Bapak H. Zulfarmin Lubis, Ak , Ibu Hj. Afrida Daulay, Istri Debby Inda Sari, Skm, dan anak Halinka Adreena Lubis. Tinggal di Jalan Kutilang No.21 Medan.
Pendidikan formal penulis di mulai dari Pendidikan Sekolah Dasar Negeri Tahun 1992-1998 di SD Swasta Ikal Medan, Sekolah Menengah Pertama Tahun 1998-2001 di SLTP Negeri 7 Medan, Sekolah Menengah Atas Tahun 2001-2004 di SMA Swasta Bhayangkari 1 Medan, S1 Profesi Dokter Tahun 2005- 2012 di Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sumatera Utara, dan S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat Tahun 2013-2015 di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.
Penulis mengikuti Pendidikan lanjutan S2 pada Program Pendidikan Pasca Sarjana Magister Kedokteran Klinik dan Program Pendidik Dokter Spesialis Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal pada Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara Medan.
KATA PENGANTAR
Salam sejahtera untuk kita semua,
Terlebih dahulu saya ucapkan puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat serta karuniaNYA sehingga proses penyusunan Tesis yang berjudul
“Kualitas Visum Et Repertum Perlukaan Korban Hidup Di RSUD. Deli Serdang Pada tahun 2017-2018”, telah selesai untuk siap diajukan pada kegiatan Seminar Hasil Penelitian di Departemen Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara, Medan.
Adapun maksud serta tujuan dari penyusunan dan Seminar Hasil ini adalah, sebagai salah satu syarat pelengkap tugas pada kegiatan Program Pendidikan Magister Kedokteran Klinik di Departemen Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara, Medan.
Saya juga mengucapkan rasa terima kasih dan penghargaan setinggi – tingginya atas segala waktu, pemikiran, bimbingan serta pengajaran yang saya terima dalam upaya mendukung proses penyusunan dan penyelesaian dari Tesis ini, dimana saya sampaikan kepada :
1. Bapak Prof. Dr. Runtung Sitepu, SH, M.Hum selaku Rektor Universitas Sumatera Utara.
2. Dr. dr. Aldy S.Rambe, Sp.S(K) selaku Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara..
3. Dr. dr. Rodiah Rahmawaty Lubis, M.Ked(Oph), Sp.M(K) selaku Ketua Program Studi Magister Kedokteran Klinis Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.
viii
4. dr. Agustinus Sitepu, M.Ked(For), Sp.F selaku Pelaksana Tugas Ketua Departemen Forensik dan Medikolegal Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.
5. dr. Asan Petrus, M.Ked(For), Sp.F selaku Pelaksana Tugas Ketua Program Studi Forensik dan Medikolegal Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara dan selaku Dosen Pembimbing I yang telah memberi banyak arahan dan masukan kepada penulis sehingga karya tulis ini dapat terselesaikan dengan baik.
6. dr. Abdul Gafar Parinduri, M.ked(For), Sp.F selaku Dosen Pembimbing II yang telah memberi banyak arahan dan masukan kepada penulis sehingga karya tulis ini dapat terselesaikan dengan baik.
7. dr. Nasib M. Situmorang, M.ked(For), Sp.F selaku Dosen Penguji I yang telah memberi banyak arahan dan masukan kepada penulis sehingga karya tulis ini dapat terselesaikan dengan baik.
8. dr. Alfred C. Satyo, MSc, MHPE, Sp.F(K) selaku Dosen Penguji II yang telah memberi banyak arahan dan masukan kepada penulis sehingga karya tulis ini dapat terselesaikan dengan baik.
9. Bapak/Ibu Dosen di Bagian Forensik dan Medikolegal Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.
10. Kedua orangtua penulis, ayahanda H. Zulfarmin Lubis, Ak dan ibunda Hj. Afrida Daulay, yang telah membesarkan, membimbing dan memberikan segenap kasih sayang dan doa serta memberikan dan mencukupi kebutuhan penulis baik moril dan materil.
11. Istri tercinta, Debby Inda Sari, SKM yang telah mendukung, mensupport, memberikan segenap kasih sayang dan doa serta memberikan dan mencukupi kebutuhan penulis baik moril dan dalam hal apapun .
12. Anak tersayang, Halinka Adreena Lubis yang selalu membuat semangat belajar penulis.
13. Rekan-rekan PPDS Forensik dan Medikolegal Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.
x
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL ... i
HALAMAN PERSETUJUAN... ii
HALAMAN PENGESAHAN ... iii
SURAT PERNYATAAN ... v
RIWAYAT HIDUP ... vi
KATA PENGANTAR ... vii
DAFTAR ISI ... x
DAFTAR TABEL... xii
DAFTAR GAMBAR ... xiii
DAFTAR SINGKATAN ... xiv
ABSTRAK ... xv
ABSTRACT ... xvi
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Rumusan Masalah ... 3
1.3 Tujuan Penelitian ... 3
1.3.1 Tujuan Umum ... 3
1.3.2 Tujuan Khusus ... 3
1.4 Manfaat Penelitian ... 4
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 5
2.1 Visum et Repertum ... 5
2.1.1 Pengertian Visum et Repertum ... 5
2.1.2 Standar Kompetensi Dokter Indonesia dalam pembuatan Visum et Repertum ... 7
2.1.3 Dasar Hukum ... 7
2.1.4 Peranan dan fungsi Visum et Repertum ... 9
2.1.5 Jenis dan Bentuk Visum et Repertum ... 11
2.1.6 Struktur Visum et Repertum ... 16
2.1.7 Tata Cara Permohonan dan Pencabutan Visum et Repertum ... 19
2.2 Kerangka Konsep dan Defenisi Operasional ... 21
2.2.1 Kerangka Konsep ... 21
2.2.2 Defenisi Operasional ... 22
BAB III METODE PENELITIAN ... 24
3.1 Jenis Penelitian ... 24
3.2 Tempat Penelitian dan Waktu Penelitian ... 24
3.3 Populasi dan Sampel ... 24
3.4 Metode Pengumpulan Data ... 24
3.4.1 Kriteria Inklusi ... 24
3.4.2 Kriteria Eksklusi... 24
3.5 Variabel Penelitian ... 25
3.6 Aspek-aspek Pengukuran Terhadap Variabel Visum et Repertum Perlukaan Pada Korban Hidup ... 25
3.7 Penilaian atas hasil pengukuran variabel-variabel Visum et Repertum perlukaan pada korban hidup... 31
3.8 Metode analisa ... 33
3.9 Jadwal dan Biaya Penelitian... 34
BAB IV HASIL ... 36
4.1 Hasil Penelitian ... 36
BAB V PEMBAHASAN ... 39
5.1 Kualitas VeR Bagian Pendahuluan ... 39
5.2 Kualitas VeR Bagian Pemberitaan ... 40
5.3 Kualitas VeR Bagian Kesimpulan ... 41
5.4 Kualitas VeR Perlukaan di RSUD Deli Serdang ... 42
BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN ... 44
DAFTAR PUSTAKA ... 46 LAMPIRAN
xii
DAFTAR TABEL
Halaman Tabel 1. Kerangka Konsep Kualitas Visum et Repertum Perlukaan
Korban Hidup ... 21
Tabel 2. Defenisi Operasional ... 22
Tabel 3. Lembar penilaian kualitas Visum et Repertum perlukaan ... 32
Tabel 4. Jadwal Penelitian ... 34
Tabel 5. Rincian anggaran dana penelitian ... 35
Tabel 6. Kualitas VER perlukaan korban hidup bagian pendahuluan ... 39
Tabel 7. Kualitas VER perlukaan korban hidup bagian pemberitaan ... 40
Tabel 8. Kualitas VER perlukaan korban hidup bagian kesimpulan ... 41
Tabel 9. Kualitas VeR perlukaan korban hidup di RSUD. Deli Serdang ... 42
DAFTAR GAMBAR
Halaman Gambar 1. Jumlah VeR perlukaan korban hidup di RSUD. Deli Serdang
periode 01 Januari – 31 Desember 2018.. ... 36 Gambar 2. Kualitas VeR perlukaan korban hidup di bagian pendahuluan,
pemberitaan,dan kesimpulan di RSUD. Deli Serdang periode
01 Januari – 31 Desember 2018.. ... 37 Gambar 3. Kualitas VeR perlukaan korban hidup di RSUD. Deli Serdang
periode 01 Januari – 31 Desember 2018.. ... 38
xiv
DAFTAR SINGKATAN
Singkatan Keterangan
VeR Visum et Repertum
KUHAP Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana
KUHP Kitab Undang-Undang Hukum Pidana
SPV Surat Permintaan Visum
RSUD Rumah Sakit Umum Daerah
IGD Instalasi Gawat Darurat
KOMKORDIK Komite Kordinasi Pendidikan
KUALITAS VISUM ET REPERTUM PERLUKAAN KORBAN HIDUP DI RSUD DELI SERDANG PADA TAHUN 2017 – 2018
Adriansyah Lubis, Asan Petrus, Abdul Gafar Parinduri Departemen Forensik dan Medikolegal Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara
Email : [email protected]
Abstrak
Latar belakang : Visum et repertum (VeR) berkedudukan sebagai alat bukti sah berdasarkan yang tertuang dalam pasal 180 KUHAP. VeR memiliki andil dalam pembuktian suatu perkara pidana atas kesehatan dan jiwa manusia dengan mengungkapkan hasil pemeriksaan medis pada bagian pemberitaan sebagai pengganti barang bukti serta berisi tentang pendapat dokter pada bagian kesimpulan.
Sehingga seorang dokter dituntut untuk dapat membuat VeR yang baik karena dibuat untuk keperluan hukum dan peradilan. Pembuatan VeR haruslah sejelas dan sebaik mungkin sehingga pengadilan dapat menggunakan VeR Sebagai alat bukti sekaligus berperan dalam proses pembuktian perkara pidana yang dapat membuat jelas suatu tindak pidana yang terjadi, dan dalam prosesnya pengadilan sebagai lembaga penegakkan hukum tercapai.
Metode : Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan menggunakan desain deskriptif analitik. Penelitian ini menggunakan metode penilaian Herkutanto untuk 13 variabel VeR. Sampel dari penelitian ini adalah semua data VeR perlukaan yang telah memenuhi kriteria inklusi. Total sampel adalah 83 sampel VeR.
Hasil : Kualitas VeR bagian pendahuluan adalah 60% (kualitas sedang), di bagian pemberitaan adalah 45% (kualitas buruk) dan bagian kesimpulan adalah 25%
(kualitas buruk). Secara umum, kualitas VeR perlukaan di Rumah Sakit Umum Daerah Deli Serdang selama 1 Januari 2017 - 31 Desember 2018 adalah 34,64 % yang dapat dikategorikan sebagai kualitas buruk.
Kata Kunci : Visum et Repertum, perlukaan, kualitas.
xvi
The quality of Visum et Repertum on the Injuries of living Victims In Deli Serdang General Hospital in 2017-2018
Adriansyah Lubis, Asan Petrus, Abdul Gafar Parinduri Department of Forensic and Medicolegal of Faculty of Medicine Universitas Sumatera Utara
, Email : [email protected]
Abstract
Backgound : Visum et repertum (VeR) is a legal evidence based on Article 180 of the Criminal Procedure Code (KUHAP). VeR has a role in proving a criminal case for human health and soul by revealing the results of medical examinations in the reporting section in lieu of evidence and containing the opinions of doctors. at the conclusion. Therefore a doctor is required to be able to make a good VeR because it is made for legal and judicial purposes. The making of VeR must be as clear and as good as possible so that the court can use VeR as evidence as well as play a role in the process of proving criminal cases that can give clear description of a crime, and the process the court as a law enforcement institution could be achieved.
Methods : This research is an observational study using descriptive analytical design. This study uses the Herkutanto assessment method for 13 VeR variable. The sample from this study is that all injury VeR data that has met the inclusion criteria.
The total of samples were 83 samples of VeR.
Result :The quality of VeR in preface was 60 % (medium quality), in body part was 45 % (poor quality) and in conclusion was 25 % (poor quality). In general, quality of VeR of injury in Deli Serdang General Hospital period of January 1st, 2017 to December 31st , 2018 was 34,64 % that could be categorized as poor quality.
Keywords : Visum et Repertum, Injury, quality.
BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah kejadian kejahatan atau tindak kriminalitas di Indonesia berfluktuasi. Jumlah kejadian kejahatan (crime total) secara nasional tahun 2012 sebanyak 341.159 kasus, tahun 2013 sebanyak 342.084 kasus dan pada tahun 2014 sebanyak 325.317 kasus, dimana jumlah orang yang berisiko terkena tindak kejahatan / crime rate setiap 100.000 penduduk secara nasional pada tahun 2012 sebanyak 134 orang, tahun 2013 sebanyak 140 orang, dan pada tahun 2014 sebanyak 131 orang, sedangkan selang waktu terjadinya suatu tindak kejahatan / crime clock secara nasional pada tahun 2012 terjadi setiap 1 menit 32 detik, tahun 2013 setiap 1 menit 32 detik dan pada tahun 2014 setiap 1 menit 36 detik.1
Secara regional di tingkat Propinsi Sumatera Utara juga menurut data Direktorat Reserse Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia, bahwa angka jumlah kejahatan / crime total pada tahun 2012 sebanyak 33.250 kasus, tahun 2013 sebanyak 40.709 kasus dan pada tahun 2014 sebanyak 35.728 kasus, dimana jumlah kejadian kejahatan fisik / badan di tingkat Propinsi Sumatera Utara pada tahun 2014 sebanyak 6.337 kasus, yang mana paling besar se-nasional dan jumlah kejadian terhadap hak milik dengan penggunaan kekerasan sebanyak 1.207 kasus.1
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Deli Serdang, jumlah tindak pidana yang dilaporkan menurut kepolisian sektor di kabupaten Deli Serdang pada tahun 2013 sebanyak 2.338 kasus, tahun 2014 sebanyak 1.917 kasus dan tahun 2015 sebanyak 1.888 kasus. Dengan adanya angka kejadian kriminalitas yang tinggi, maka peran dari pada Visum et Repertum sangat diperlukan sebagai alat bukti yang sah dalam peradilan.2
Visum et repertum (VeR) berkedudukan sebagai alat bukti sah berdasarkan yang tertuang dalam pasal 180 KUHAP.5 VeR memiliki andil dalam pembuktian suatu perkara pidana atas kesehatan dan jiwa manusia dengan mengungkapkan hasil pemeriksaan medis pada bagian pemberitaan sebagai pengganti barang bukti serta berisi tentang pendapat dokter pada bagian kesimpulan. Sehingga seorang dokter dituntut untuk dapat membuat Visum et Repertum yang baik karena dibuat untuk keperluan hukum dan peradilan.4,5
Dikarenakan kualitas Visum et Repertum kurang baik, akan berdampak terhadap penegakkan hukum dipengadilan menjadi kurang baik juga dan sehingga tingkat kriminal yang terjadi akan tinggi. Pembuatan Visum et Repertum haruslah sejelas dan sebaik mungkin sehingga pengadilan dapat menggunakan Visum Et Repertum Sebagai alat bukti sekaligus berperan dalam proses pembuktian perkara pidana yang dapat membuat jelas suatu tindak pidana yang terjadi, dan dalam prosesnya pengadilan sebagai lembaga penegakkan hukum tercapai.
Menurut beberapa hasil penelitian, mengenai kualitas Visum et Repertum di Indonesia masih banyak yang berkualitas kurang baik. Berdasarkan hasil penelitian Herkutanto di Jakarta pada tahun 2004 menunjukkan yang dibuat oleh dokter umum di IGD dari 19 Rumah Sakit Umum DKI sebesar 36,92% yang berkualitas baik, kemudian setelah dilakukan pelatihan meningkat sebesar 75,08% yang berarti berkualitas baik.14 Penelitian yang dilakukan oleh Maulana, R pada Rumah Sakit Umum Daerah Dumai tentang kualitas Visum et Repertum korban perlukaan didapatkan hasil skor 37,46% yang berarti kualitas VeR kurang baik. Selain itu pada Daerah Kuantan singingi, Bengkalis, Siapi-api, pekanbaru, dan Indragiri Hulu juga didapatkan Visum et Repertum berkualitas kurang baik dengan hasil skoring kurang dari 50%. Pada kepulauan meranti didapatkan hasil skor 50% yaitu berkualitas sedang, dimana hasil penelitian di mandau dan siak juga didapatkan berkualitas sedang, yaitu hasil skoring di mandau sebesar 72,64% dan di siak 52,97%.15,16,17,18,19,20,21,22,23,24
3
Berdasarkan beberapa penelitian diatas, kualitas Visum et Repertum pada beberapa daerah di Indonesia masih jauh dari kualitas baik. Disini peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang kualitas Visum et Repertum di RSUD. Deli Serdang. Perlu diketahui sebelumnya telah dilakukan pengamatan awal dengan di ambil contoh Visum Perlukaan korban hidup di RSUD. Deli Serdang, dimana ditanggapi dengan baik oleh dokter –dokter yang bertugas di RSUD, Deli Serdang, dari beberapa contoh VeR yang di ambil tidak sesuai dengan penulisan VeR menurut skoring Herkutanto.
Uraian latar belakang dan penelitian tentang Kualitas Visum et Repertum Perlukaan korban hidup di RSUD. Deli Serdang belum ada data yang dipublikasikan.
Berdasarkan pertimbangan tersebut, maka peneliti membuat penelitian tentang Kualitas Visum et Repertum perlukaan korban hidup di RSUD. Deli Serdang pada tahun 2017-2018.
1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, rumusan masalah pada penelitian ini adalah menentukan kualitas Visum et Repertum perlukaan korban hidup di RSUD.
Deli Serdang pada tahun 2017-2018.
1.3. Tujuan Penelitian 1.3.1. Tujuan Umum
Secara umum penelitian ini bertujuan untuk menentukan kualitas Visum et Repertum perlukaan korban hidup di RSUD. Deli Serdang pada tahun 2017- 2018.
1.3.2. Tujuan khusus
1. Untuk menentukan kualitas Visum et Repertum perlukaan korban hidup di RSUD. Deli Serdang
2. Menganalisis Visum et Repertum perlukaan korban hidup pada bagian ( pendahuluan, pemberitaan dan kesimpulan ) yang dibuat oleh dokter di RSUD. Deli Serdang pada tahun 2017-2018
1.4. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat dari penelitian ini adalah, diantaranya :
Untuk memberikan masukkan kepada ketua komite kordinasi pendidikan (KOMKORDIK) RSUD. Deli Serdang khususnya dan dokter umum yang bertugas di IGD RSUD. Deli Serdang mengenai kualitas visum yang dibuat dan dikeluarkan selama ini, sehingga kedepannya dapat membuat Visum et Repertum yang berkualitas.
Sebagai masukkan kepada Ketua KOMKORDIK dalam menyusun kebijakan untuk meningkatkan kemampuan dokter-dokter umum di RSUD.
Deli Serdang dalam hal pembuatan Visum et Repertum.
Agar penelitian dapat di publikasikan untuk memenuhi persyaratan kelulusan Program Pendidikan Pasca Sarjana Magister Kedokteran Klinik.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Visum et Repertum
2.1.1. Pengertian Visum et Repertum
Visum et repertum berasal dari kata visual yaitu melihat dan repertum yaitu melaporkan. Jadi visum et repertum adalah suatu keterangan tertulis yang dibuat berdasarkan permintaan penyidik memuat segala sesuatu yang dilihat dan ditemukan dalam pemeriksaan sesuai dengan keilmuannya sebaik-baiknya untuk kepentingan peradilan dengan mengingat sumpah ketika menerima jabatan. Menurut pasal 10 Surat Keputusan Menteri Kehakiman No.M04.UM.01.06 Tahun 1983 bahwa hasil pemeriksaan ilmu kedokteran kehakiman disebut dengan visum et repertum. Dengan demikian menurut KUHAP keterangan ahli yang diberikan oleh ahli kedokteran kehakiman oleh dokter ahli atau ahli lainnya disebut visum et repertum. 3,4,8
Dalam undang-undang terdapat satu ketentuan hukum yang menuliskan langsung tentang Visum et Repertum, yaitu pada Staatsblad (Lembaran Negara) tahun 1937 No.350 pasal 1 dan pasal 2 yang menyatakan:
Pasal 1: Visa reperta seorang dokter, yang dibuat baik atas sumpah jabatan yang diucapkan pada waktu menyelesaikan pelajaran di negeri belanda ataupun di Indonesia, merupakan alat bukti yang sah dalam perkara-perkara pidana, selama visa reperta tersebut berisikan keterangan mengenai hal-hal yang dilihat dan ditemui oleh dokter pada benda yang diperiksa. 7
Pasal 2: Pada dokter yang tidak pernah mengucapkan sumpah jabatan baik di negeri Belanda ataupun di Indonesia, sebagai tersebut dalam pasal 1 diatas, dapat mengucapkan sumpah sebagai berikut: “saya bersumpah (berjanji), bahwa saya sebagai dokter akan membuat pernyataan-pernyataan atau keterangan-keterangan tertulis yang diperlukan untuk kepentingan peradilan dengan sebenar-benarnya menurut pengetahuan saya yang sebaik-baiknya.
Semoga tuhan yang maha pengasih dan penyayang melimpahkan kekuatan lahir dan batin” 7
Bila dirinci isi Staatsblad ini mengandung makna:7
Setiap dokter yang telah disumpah waktu menyelesaikan pendidikannya di negeri belanda ataupun di Indonesia, ataupun dokter-dokter lain berdasarkan sumpah khusus dapat membuat VeR
Visum et Repertum mempunyai daya bukti yang syah/alat bukti yang syah dalam perkara pidana
Visum et Repertum berisi laporan tertulis tentang apa yang dilihat, ditemukan pada benda-benda/korban yang diperiksa.
Ketentuan dalam Staatsblad ini sebetulnya merupakan terobosan untuk mengatasi masalah yang dihadapi dokter dalam membuat visum, yaitu mereka tidak perlu disumpah tiap kali sebelum membuat visum. Seperti diketahui setiap keterangan yang akan disampaikan untuk pengadilan haruslah keterangan dibawah sumpah. Dengan adanya ketentuan ini, maka sumpah yang telah diikrarkan dokter waktu menamatkan pendidikannya, dianggap sebagai sumpah yang syah untuk kepentingan membuat Visum et Repertum biarpun lafal dan maksudnya berbeda.
Oleh karena itu sampai sekarang pada bagian akhir visum, masih dicantumkan ketentuan hukum ini untuk mengingatkan yang membuat maupun yang menggunakan visum, bahwa dokter waktu membuat visum akan bertindak jujur dan menyampaikan tentang apa yang dilihat dan ditemukan pada pemeriksaan korban menurut pengetahuan yang sebaik-baiknya. 7
Pada tahun 1981 diadakan seminar lokakarya Visum et Repertum, dimana pengertian visum dirumuskan lebih jelas lagi, menjadi laporan tertulis untuk peradilan yang dibuat dokter berdasarkan sumpah/janji yang diucapkan pada waktu menerima jabatan dokter, berisi pemberitaan tentang segala hal (fakta) yang dilihat dan ditemukan pada benda bukti berupa tubuh manusia (hidup atau mati) atau benda yang berasal dari tubuh manusia yang diperiksa dengan pengetahuan dan keterampilan yang sebaik-baiknya dan pendapat mengenai apa yang ditemukan
7
sepanjang pemeriksaan tersebut. Namun pengertian visum et repertum itu sendiri terus disempurnakan, dan saat ini yang paling banyak dianut pengertian visum et repertum adalah suatu keterangan tertulis yang dibuat atas permintaan tertulis penyidik yang berwenang, mengenai hasil pemeriksaan medis terhadap manusia, baik hidup atau mati atau bagian atau diduga bagian tubuh manusia berdasarkan keilmuannya dan dibawah sumpah ,untuk kepentingan peradilan.8
2.1.2. Standar Kompetensi Dokter Indonesia dalam pembuatan Visum et Repertum
Menurut SKDI tahun 2012 lampiran 4 pada bagian keterampilan klinis bahwa dalam hal pembuatan Visum et Repertum dokter umum memiliki kemampuan 4A, yaitu dokter mampu melakukan secara mandiri dalam keterampilan klinis yang terkait serta keterampilan ini dicapai pada saat lulus dokter.9
2.1.3. Dasar Hukum Visum et Repertum
Visum et Repertum memiliki dasar hukum dalam Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) Pasal 133 ayat 1dan 2:
1) Dalam hal penyidik untuk kepentingan peradilan menangani seorang korban baik luka, keracunan ataupun mati yang diduga karena peristiwa yang merupakan tindak pidana, ia berwenang mengajukan permintaan keterangan ahli kepada ahli kedokteran kehakiman atau dokter dan atau ahli lainnya.
2) Permintaan keterangan ahli sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan secara tertulis, yang dalam surat itu disebutkan dengan tegas untuk pemeriksaan luka atau pemeriksaan mayat dan atau pemeriksaan bedah mayat.13
Visum et Repertum di dalam KUHAP memiliki kedudukan atau nilai yaitu satu alat bukti yang sah sebagaimana dalam KUHAP pasal 184 menyebutkan:
Alat bukti yang sah adalah:13 a. Keterangan saksi
b. Keterangan ahli c. Surat
d. Petunjuk
e. Keterangan terdakwa.
Seorang dokter diwajibkan untuk memberikan keterangan sesuai dengan keahliannya sebagaimana yang di sebutkan dalam pasal 179 KUHAP, yaitu:
(1) Setiap orang yang diminta pendapatnya sebagai ahli kedokteran kehakiman atau dokter atau ahli lainnya wajib memberikan keterangan ahli demi keadilan.
(2) Semua ketentuan tersebut di atas untuk saksi berlaku juga bagi mereka yang memberikan keterangan ahli, dengan ketentuan bahwa mereka mengucapkan sumpah atau janji akan memberikan keterangan yang sebaik-baiknya dan yang sebenarnya menurut pengetahuan dalam bidang keahliannya.
Pengaturan terhadap permintaan visum juga disebutkan dalam pasal 180 KUHAP, yaitu:
(1) Dalam hal diperlukan untuk menjernihkan duduknya persoalan yang timbul di sidang pengadilan, hakim ketua sidang dapat minta keterangan ahli dan dapat pula minta agar diajukan bahan baru oleh yang berkepentingan.
(2) Dalam hal timbul keberatan yang beralasan dari terdakwa atau penasihat hukum terhadap hasil keterangan ahli sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) hakim memerintahkan agar hal itu dilakukan penelitian ulang.
(3) Hakim karena jabatannya dapat memerintahkan untuk dilakukan penelitian ulang sebagaimana tersebut pada ayat (2).
(4) Penelitian ulang sebagaimana tersebut pada ayat (2) dan ayat (3) dilakukan oleh instansi semula dengan komposisi personil yang berbeda dan instansi lain yang mempunyai wewenang untuk itu.
Dari penjabaran diatas jelas bahwa seorang dokter yang kapasitasnya sebagai ahli wajib memberikan keterangan jika sewaktu-waktu dimintai keterangan ahli oleh penyidik. Visum et repertum dibuat berdasarkan permintaan dari pihak yang berwenang yaitu penyidik dan penyidik pembantu sebagaimana bunyi pasal 7 ayat (1)
9
butir h dan pasal 11 KUHAP. Yang termasuk penyidik menurut KUHAP pasal 6 ayat (1) jo PP 27 tahun 1983 pasal 2 ayat (1) adalah Pejabat Polisi Negara RI yang diberi wewenang khusus oleh UU dengan pangkat serendah-rendahnya Pembantu Aiptu, sedangkan penyidik pembantu berpangkat serendah-rendahnya Briptu.3
Bila dokter yang dimintai keterangan oleh penyidik menyatakan menolak maka akan dikenakan sanksi yaitu:
Pasal 216 KUHP yang berbunyi:
“Barangsiapa dengan sengaja tidak menuruti perintah atau permintaan yang dilakukan menurut undang-undang oleh pejabat yang tugasnya mengawasi sesuatu, atau oleh pejabat berdasarkan tugasnya, demikian pula yang diberi kuasa untuk mengusut atau memeriksa tindak pidana; demikian pula barangsiapa dengan sengaja mencegah, menghalang-halangi atau mengga-galkan tindakan guna menjalankan ketentuan, diancam dengan pidana penjara paling lama empat bulan dua minggu atau denda paling banyak sembilan ribu rupiah”.13
2.1.4. Peranan dan fungsi Visum et Repertum
Visum et Repertum dapat berperan dalam proses pembuktian suatu perkara pidana terhadap kesehatan dan jiwa manusia. Sebagaimana yang tertulis dalam Pasal 184 KUHAP, Visum et Repertum merupakan alat bukti yang sah dalam proses peradilan, yang berupa keterangan ahli, surat, dan petunjuk. Dalam penjelasan Pasal 133 KUHAP, dikatakan bahwa keterangan ahli yang diberikan oleh dokter spesialis forensik merupakan keterangan ahli, sedangkan yang dibuat oleh dokter selain spesialis forensik disebut keterangan. Hal ini diperjelas pada Pedoman Pelaksanaan KUHAP dalam Keputusan Menteri Kehakiman RI No.M.01.PW.07.03 Tahun 1982 yang menjelaskan bahwa keterangan yang dibuat oleh dokter bukan ahli merupakan alat bukti petunjuk. Dengan demikian, semua hasil Visum et Repertum yang dikeluarkan oleh dokter spesialis forensik maupun dokter bukan spesialis forensik merupakan alat bukti yang sah sesuai dengan Pasal 184 KUHAP. 4
Di dalam Pasal 184 KUHAP, alat bukti yang sah tersebut berturut-turut adalah keterangan saksi, keterangan ahli, surat, petunjuk, dan keterangan terdakwa.
Beban pembuktian dari masing-masing alat bukti tersebut berbeda sesuai dengan urutannya. Sebagai contoh, keterangan saksi harus lebih dipercaya oleh hakim bila dibandingkan dengan keterangan terdakwa. Demikian halnya dengan keterangan ahli yang diberikan oleh seorang dokter spesialis forensik tentunya akan mempunyai beban pembuktian yang lebih besar bila dibandingkan dengan keterangan yang diberikan oleh dokter bukan spesialis forensik. Sehingga, kedudukan Visum et Repertum yang dibuat oleh dokter spesialis forensik masih lebih tinggi dibandingkan dengan Visum et Repertum yang dibuat oleh dokter bukan spesialis forensik.10
Visum et Repertum juga dapat dianggap sebagai pengganti barang bukti karena segala sesuatu tentang hasil pemeriksaan medis telah diuraikan di dalam bagian Pemberitaan. Karena barang bukti yang diperiksa tentu saja akan mengalami perubahan alamiah, seperti misalnya luka yang telah sembuh, jenazah yang mengalami pembusukan atau jenazah yang telah dikuburkan yang tidak mungkin dibawa ke persidangan, maka Visum et Repertum merupakan pengganti barang bukti tersebut yang telah diperiksa secara ilmiah oleh dokter ahli.10
Apabila Visum et Repertum belum dapat menjernihkan suatu duduk persoalan di sidang pengadilan, maka hakim dapat meminta keterangan ahli atau diajukannya bahan baru. Sesuai dengan Pasal 180 KUHAP, hakim tersebut dapat meminta kemungkinan untuk dilakukan pemeriksaan atau penelitian ulang atas barang bukti jika memang timbul keberatan yang beralasan dari terdakwa atau penasihat hukumnya terhadap suatu hasil pemeriksaan.10
Visum et repertum berbeda dengan catatan medik dan surat keterangan medik lainnya karena visum et repertum dibuat atas kehendak undang-undang yang berlaku,maka dokter tidak dapat dituntut karena membuka rahasia pekerjaan sebagaimana diatur dalam pasal 322 KUHP,meskipun dokter membuatnya tanpa seizin pasien dan selama visum et repertum dibuat untuk dipergunakan dalam proses peradilan.10
11
2.1.5. Jenis dan Bentuk Visum et Repertum
Berdasarkan waktu pemberiannya, visum untuk orang hidup dapat dibedakan atas:10,11
1) Visum seketika (definitive). Visum yang langsung diberikan setelah korban selesai dilakukan pemeriksaan. Visum ini merupakan visum yang paling banyak dibuat oleh dokter.
2) Visum sementara. Visum yang diberikan pada korban yang masih dalam kondisi perawatan. Visum sementara ini biasanya diperlukan oleh penyidik dalam menentukan jenis kekerasan, sehingga dapat dilakukan penahanan kepada tersangka atau dapat sebagai petunjuk dalam menginterogasi tersangka. Dalam visum sementara ini, kesimpulan belum dituliskan yang mana dimaksudkan bahwa kualifikasi lukanya belum bisa ditentukan.
3) Visum lanjutan. Visum ini diberikan setelah kondisi korban sembuh ataupun meninggal dan merupakan lanjutan dari visum sementara yang telah diberikan sebelumnya. Dalam visum ini, harus dituliskan nomor dan tanggal dari visum sementara yang telah diberikan. Dalam visum ini, dokter telah membuat kesimpulan. Visum lanjutan tidak perlu dibuat oleh dokter yang membuat visum sementara, tetapi oleh dokter yang terakhir merawat pasien / korban. Bilamana pasien kemudian dirujuk ke rumah sakit lain, tentu dokter yang merawatnya kemudian pastilah dokter yang berbeda.
Berdasarkan objek yang diperiksa, Visum et Repertum dapat dibagi menjadi dua yaitu:
(1) Objek psikis, yaitu :
Terhadap objek psikis Visum et Repertum hasil pemeriksaannya adalah Visum et Repertum Psikiatrikum, dimana perlu dibuat karena tuntutan adanya pasal 44 ayat (1) KUHP yang berbunyi “Barangsiapa melakukan perbuatan yang tidak dapat dipertanggung jawabkan padanya disebabkan karena jiwanya cacat dalam pertumbuhan atau terganggu karena penyakit, tidak dipidana”.
Orang yang menderita penyakit jiwa (psikosis) dan juga orang dengan retardasi mental dapat dikenakan pada pasal ini. Visum et Repertum psikiatrikum dibuat untuk tersangka atau terdakwa pelaku tindak pidana, bukan untuk korban sebagaimana Visum et Repertum biasanya. Disamping itu, Visum et Repertum psikiatrikum menguraikan tentang segi kejiwaan manusia, bukan segi fisik manusia. Dengan demikian, oleh karena Visum et Repertum psikiatrikum menyangkut masalah seseorang dapat dipidana atau tidaknya atas tindak pidana yang dilakukannya, maka dalam pembuatan Visum et Repertum psikiatrikum lebih baik dilakukan oleh dokter spesialis psikiatri.11
(2) Objek fisik, dibagi menjadi dua yaitu :
A. Visum et Repertum orang hidup, terdiri dari :
a. Visum et Repertum korban akibat perlukaan atau keracunan, tujuan pemeriksaan kedokteran forensik pada korban hidup yaitu untuk mengetahui penyebab luka atau sakit dan derajat tingkat keparahan luka atau sakitnya tersebut, sampai sejauh mana mempengaruhi kesehatannya maupun pekerjaannya. Dokter juga harus membuat catatan medis atas semua hasil pemeriksaan medisnya. Korban perlukaan pada umumnya memiliki karakter yaitu korban dengan luka ringan, yang mana biasanya datang ke dokter setelah melapor ke penyidik kepolisian, sehingga saat korban datang ke dokter, mereka datang dengan membawa surat permintaan Visum et Repertum. Sedangkan para korban dengan luka sedang dan berat, akan datang ke dokter atau rumah sakit terlebih dahulu untuk mengobati keluhannya sebelum melapor ke penyidik kepolisian, sehingga surat permintaan Visum et Repertum-nya datang terlambat.
Keterlambatan surat permintaan Visum et Repertum ini dapat diperbaiki dengan diadakannya koordinasi yang baik antara dokter dengan penyidik instansi kepolisian.
Untuk membuat kesimpulan pada kasus perlukaan, dokter harus menentukan juga derajat keparahan luka yang dialami korban yang disebut
13
juga dengan derajat kualifikasi luka. Ini sebagai usaha untuk membantu judex facti dalam menegakkan keadilan. Dokter dapat membuat kualifikasi luka yaitu dengan menyatakan korban apakah mengalami luka ringan, sedang, ataupun berat.
Adapun luka ringan disini yaitu luka menurut ukuran ilmu kedokteran yang mana jika diterjemahkan kedalam bahasa hukum yaitu luka yang tidak menimbulkan hambatan / halangan dalam menjalankan pekerjaannya ataupun jabatannya.10
Korban penganiayaan tanpa disertai adanya luka atau korban mendapatkan luka lecet atau memar yang kecil dilokasi yang tidak berbahaya yang tidak menurunkan fungsi alat bagian tubuh tertentu, tanpa disebutkan jenis pekerjaannya dapat dikatakan penganiayaan ringan.3 Luka sedang yaitu keadaan luka dimana antara luka ringan dan luka berat ataupun dapat dikatakan juga bahwa luka sedang adalah luka yang menimbulkan halangan / hambatan dalam menjalankan pekerjaannya / jabatannya untuk sementara waktu.14 Luka berat sudah tertuang dalam undang-undang yaitu diatur dalam KUHP pasal 90, yaitu:13
(1) Jatuh sakit atau mendapat luka yang tidak memberi harapan akan sembuh sama sekali, atau yang menimbulkan bahaya maut.
(2) Tidak mampu terus-menerus untuk menjalankan tugas jabatan atau pekerjaan pencaharian.
(3) Kehilangan salah satu panca indra (4) Mendapat cacat berat
(5) Menderita sakit lumpuh
(6) Terganggunya daya pikir selama empat minggu lebih (7) Gugur atau matinya kandungan seorang perempuan.
Penganiayaan ringan diatur dalam KUHP pasal 352 dan penganiayaan sedang diatur dalam KUHP pasal 351 ayat 1.
KUHP pasal 352
(1) Kecuali yang tersebut dalam KUHP pasal 353 dan KUHP pasal 356, maka penganiayaan yang tidak menimbulkan penyakit atau halangan untuk menjalankan pekerjaan jabatan atau pencaharian, diancam sebagai penganiayaan ringan dengan pidana penjara paling lama tiga bulan atau pidana denda empat ribu lima ratus rupiah.
KUHP pasal 351
(1) Penganiayaan dihukum dengan hukuman penjara selama-lamanya dua tahun delapan bulan atau denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah.
(2) Jika perbuatan itu menjadikan luka berat yang bersalah diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun.
(3) Jika mengakibatkan mati, diancam dengan pidana penjara paling lama tujuh tahun.
(4) Dengan penganiayaan disamakan sengaja merusak kesehatan.
b. Visum et Repertum korban akibat kejahatan susila
Korban kejahatan susila yang dimintakan Visum et Repertum-nya kepada dokter yaitu kasus dugaan adanya persetubuhan yang diancam hukuman oleh KUHP. Persetubuhan yang diancam pidana oleh KUHP seperti perzinahan, pemerkosaan, persetubuhan pada wanita yang tidak berdaya, dan persetubuhan dengan wanita yang belum cukup umur. Untuk kepentingan peradilan, dokter berkewajiban untuk dapat membuktikan adanya persetubuhan, kekerasan, dan usia korban. Diharapkan juga dokter memeriksa apakah adanya penyakit akibat hubungan seksual, kehamilan, dan gangguan kejiwaan akibat dampak dari tindak pidana tersebut.
Dokter disini tidak terbebani pembuktian adanya pemerkosaan, karena istilah pemerkosaan merupakan istilah hukum yang mana harus dibuktikan terlebih dahulu di depan sidang pengadilan.10
B. Visum et Repertum jenazah / orang mati
15
Dibuat terhadap korban yang meninggal yang mana tujuan pembuatan Visum et Repertum ini yaitu untuk menentukan sebab, cara, dan mekanisme kematiannya. Jenazah yang akan dimintakan Visum et Repertum harus diberi label yang berisi identitas mayat, di-lak dengan diberi cap jabatan, yang dikaitkan pada ibu jari kaki atau bagian tubuh lainnya. Pada surat permintaan Visum et Repertum-nya harus jelas tertulis jenis pemeriksaan yang diminta, apakah hanya pemeriksaan luar mayat atau pemeriksaan bedah mayat (autopsi), sesuai dengan KUHAP pasal 133 ayat 2.
a. Visum et Repertum untuk pemeriksaan luar
Pemeriksaan luar jenazah yaitu pemeriksaan yang dilakukan tanpa merusak keutuhan jaringan dari tubuh jenazah. Pemeriksaan harus dilakukan dengan teliti dan menyeluruh, serta kemudian dicatat secara terperinci, dari bungkus atau tutup jenazah, pakaian, benda-benda di sekitar jenazah, perhiasan, ciri-ciri umum, ciri-ciri khusus, tanda pasti kematian ( thanatology ), gigi geligi, dan luka atau cedera atau kelainan yang ditemukan di seluruh bagian luar.
Dan bila penyidik hanya meminta pemeriksaan luar saja, maka kesimpulan Visum et Repertum menyebutkan jenis luka atau kelainan yang ditemukan serta jenis kekerasan penyebabnya, sedangkan sebab kematiannya tidak dapat ditentukan karena tidak dilakukan pemeriksaan bedah jenazah. Lama kematian (perkiraan waktu kematian) dapat dicantumkan dalam bagian kesimpulan.10
b. Visum et Repertum untuk pemeriksaan luar dan dalam
Apabila permintaan Visum et Repertum itu tertulis pemeriksaan luar dan dalam ( autopsi ), maka penyidik wajib memberitakan kepada keluarga korban serta menerangkan maksud dan tujuan pemeriksaan. Autopsi dilakukan jika keluarga korban tidak keberatan ( dibuktikan dengan surat persetujuan keluarga ), atau bila dalam dua hari tidak ada tanggapan apapun dari keluarga korban ( KUHAP Pasal 134 ayat 2 ), maka autopsi
dapat dilakukan. Jenazah yang diperiksa dapat juga berupa jenazah yang didapat dari penggalian kuburan ( KUHAP Pasal 135 ).
Pemeriksaan autopsi dilakukan secara menyeluruh dengan membuka rongga tengkorak, leher, dada, perut, dan panggul. Selain itu juga dilakukan pemeriksaan penunjang yang diperlukan seperti pemeriksaan histopatologi, toksikologi, serologi, dan pemeriksaan lainnya. Dari pemeriksaan tersebut diatas dapat disimpulkan sebab kematian korban, jenis luka atau kelainan, jenis kekerasan penyebabnya, dan perkiraan waktu kematian.10
2.1.6. Struktur Visum et Repertum
Visum et Repertum yang dibuat harus memenuhi ketentuan umum, sebagai berikut :10
a. Diketik diatas kertas putih dengan kop surat instansi pemeriksa.
b. Bertanggal dan bernomor.
c. Kata “Pro Justitia” dicantumkan dibagian atas kiri.
d. Menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.
e. Tidak menggunakan singkatan, terutama pada waktu mendeskripsikan temuan pemeriksaan.
f. Apabila penulisan kalimat berakhir tidak pada tepi kanan format, maka sesudah tanda titik haris diberi garis hingga ke tepi kanan format.
g. Apabila diperlukan foto dapat diberikan dalam bentuk lampiran.
h. Diberi nama jelas dan ditandatangani . i. Diberi stempel instansi pemeriksa tersebut.
j. Memperlakukannya sebagai surat yang harus dirahasiakan.
k. Diberikan hanya kepada penyidik peminta Visum et Repertum. Jika ada lebih dari satu instansi peminta, misalnya penyidik POLRI dan penyidik POM, dan keduanya berwenang untuk itu, maka kedua instansi tersebut dapat diberi Visum et Repertum masing-masing asli.
17
l. Mengarsipkan salinannya dengan mengikuti ketentuan arsip pada umumnya, dan disimpan sebaiknya hingga 20 tahun.
Visum et Repertum memiliki komponen 5 ( lima ) kerangka dasar, yang terdiri dari:10
1. Pembukaan
Pada bagian ini kata pembukaan itu sendiri tidak ada, yang ada kata “Pro Justitia”, dokter harus menyadari bahwa semua surat, baru sah di pengadilan bila dibuat diatas kertas bermaterai, tetapi hal ini akan menyulitkan bagi dokter jika setiap visum yang dibuatnya harus memakai kertas bermaterai.
Berdasarkan dengan pedoman kepada peraturan pos, maka bila dokter menulis kata Pro-Justitia di bagian atas visum, maka itu sudah dianggap sama dengan kertas yang bermaterai. Kata Pro-Justisia ditulis di bagian kiri atas dari visum yang maknanya agar pembuat maupun pemakai visum dari awal menyadari bahwa laporan itu adalah demi keadilan ( Pro-Justitia ). Jika sejak awal dokter memahami, bahwa laporan yang dibuatnya secara tidak langsung dokter tersebut berperan dalam penegakkan hukum dan keadilan, maka disaat mulai memeriksa korban ia telah menyadari bahwa bantuan yang diberikannya akan dipakai sebagai salah satu alat bukti yang sah dalam penegakkan hukum dan keadilan.
2. Pendahuluan
Pada bagian ini kata pendahuluan tidak ada. Bagian ini berisi 3 ( tiga ) komponen utama yaitu dokter sebagai pemeriksa, penyidik yang meminta untuk dilakukan pemeriksaan dan korban / tersangka yang diperiksa. Pada bagian ini berisi, yaitu :
tentang siapa yang memeriksa, tempat / instansi dimana dilakukannya pemeriksaan, hari, tanggal dan jam pemeriksaan. mengapa diperiksa, dan atas permintaan siapa visum itu dibuat.
Nama penyidik, nip, instansi, nomor surat permintaan visum, tanggal permintaan.
Identitas korban diisi sesuai dengan yang tercantum dalam surat permintaan visum penyidik. Pada korban hidup, apabila dalam surat permintaan visum pekerjaan korban tidak begitu jelas / tidak terperinci maka dilakukan anamnesis untuk mengetahui secara rinci apa yang dilakukan korban dalam pekerjaannya.
3. Pemeriksaan / Hasil pemeriksaan
Pada bagian ini disebut juga bagian pemberitaan. Bagian yang terpenting dari visum sebenarnya terletak pada bagian ini, dikarenakan apa yang dilihat dan ditemukan dokter dicatat dan itu menjadi sebagai pengganti barang bukti dalam bentuk laporan yang disebut sebagai Visum et Repertum. Hasil pemeriksaan pada bagian ini dilaporkan secara objektif. Dokter disini menuliskan jenis luka (bentuk, lokasi, ukuran) / cedera, daerah / regio dimana luka ditemukan, ukuran luka, jarak luka dari garis tengah tubuh dan / atau dari titik anatomis tertentu. Jika dilakukan autopsi pada jenazah maka diuraikan hasil pemeriksaan organ dalam yang berkaitan dengan perkara dan matinya orang tersebut. Temuan hasil pemeriksaan medis yang bersifat rahasia dan yang tidak ada hubungan dengan perkaranya, tidak dituangkan ke dalam bagian pemberitaan dan dianggap tetap sebagai rahasia kedokteran.
4. Kesimpulan
Pada bagian ini berjudul kesimpulan. Untuk pemakai visum, bagian ini adalah bagian yang terpenting, karena dokter diharapkan dapat menyimpulkan kelainan yang terjadi pada korban menurut keahliannya. Pada korban luka perlu penjelasan tentang jenis luka, jenis kekerasan, hubungan sebab-akibat dari kelainan, tentang derajat kualifikasi luka, dan berapa lama korban dirawat serta bagaimana harapan kesembuhan.
Pada korban perkosaan atau pelanggaran kesusilaan perlu dijelaskan tentang tanda-tanda persetubuhan, tanda-tanda kekerasan, kesadaran korban.
19
5. Penutup
Pada bagian ini tidak memiliki judul dan berisi kalimat baku, ditandai dengan kalimat “ Demikianlah visum et repertum ini saya buat dengan sesungguhnya berdasarkan keilmuan saya dan mengingat sumpah sesuai dengan Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana“. Pada bagian ini mengingatkan para dokter bahwa laporan tersebut dibuat dengan sejujur-jujurnya, tidak ditambahi maupun dikurangi serta tidak dipengaruhi oleh pihak manapun. Laporan ini juga dibuat berdasarkan keilmuan yang sebaik-baiknya dan hasil pemeriksaan yang dilaporkan hanya terkait dengan kasusnya, sementara yang tidak terkait akan tetap menjadi rahasia medis. Laporan ini juga dibuat sesuai prosedur dalam kitab undang-undang hukum acara pidana, yang mana tujuannya untuk peradilan. Dapat dikatakan bahwa pada bagian penutup ini berisi landasan undang-undang / peraturan, yaitu Undang-Undang no.8 tahun 1981 (KUHAP) dan sumpah jabatan dokter yang berisikan kesungguhan dan kejujuran mengenai apa yang diuraikan pemeriksa dalam Visum et Repertum.
Selain dari 5 ( lima ) komponen diatas, Visum et Repertum dapat juga disertakan lampiran foto. Lampiran foto terutama perlu untuk memudahkan pemakai visum dalam memahami laporan yang disampaikan di dalam visum. Pada luka yang sulit dituangkan dengan kata-kata, dengan adanya lampiran foto diharapkan akan memudahkan pemakai visum dalam memahami apa yang ingin disampaikan oleh dokter pemeriksa.
2.1.7. Tata Cara Permohonan dan Pencabutan Visum et Repertum
Beberapa syarat yang harus perlu diperhatikan apabila pihak berwenang meminta dokter untuk membuat Visum et Repertum. Syarat permintaan Visum et Repertum korban hidup, yaitu:
(1) Harus tertulis, tidak boleh diminta secara lisan.
(2) Surat permohonan / permintaan visum harus diserahkan langsung kepada dokter / kepala instansi / kepala rumah sakit, tidak boleh dititip melalui
korban atau keluarga korban dan juga tidak diperbolehkan melalui jasa pengiriman.
(3) Memiliki alasan mengapa korban dibawa ke dokter.
(4) Adanya identitas korban.
(5) Adanya identitas peminta.
(6) Tanggal permintaannya dicantumkan.
(7) Korban diantar oleh polisi atau jaksa.
Apabila korban sudah meninggal dunia, sesuai dengan KUHAP pasal 133 maka permintaan dilakukan secara tertulis dan disebutkan secara jelas apakah untuk pemeriksaan mayat dan atau pemeriksaan bedah mayat, serta pada saat mayat dikirim kerumah sakit harus diberi label mayat yang memuat identitas mayat, di-lak dengan diberi cap jabatan yang dilekatkan pada ibu jari atau bagian lain badan mayat.
Faktanya di lapangan sering terjadi ketidakpahaman dari pihak penegak hukum tentang tata cara permohonan visum kepada dokter, sehingga dapat menyebabkan kerugian kepada pihak korban. Maka oleh karena itu diterbitkan Instruksi Polisi No.Pol.INS/E/20/IX/75 tentang tata cara permohonan / pencabutan Visum et Repertum. Pada dasarnya penarikan / pencabutan surat permintaan Visum et Repertum tidak dapat dibenarkan. Bila terpaksa Visum et Repertum yang sudah diminta yang mana harus diadakan pencabutan / penarikan kembali, maka hal tersebut hanya diberikan oleh komandan kesatuan paling rendah tingkat Kombes dan untuk kota hanya oleh DANTES.11
21
2.2. Kerangka Konsep Dan Defenisi Operasional 2.2.1. Kerangka Konsep
Tabel 1. Kerangka Konsep Kualitas Visum et Repertum Perlukaan Korban Hidup PENDAHULUAN
VISUM ET REPERTUM
K U A L I T A S
PEMBERITAAN
PEMBERITAAN
2.2.2. Defenisi Operasional No variabel Defenisi
Operasional
Alat Ukur
Cara Ukur
Hasil
Ukur Skala 1 Visum et
Repertum
Keterangan tertulis yang dibuat oleh dokter atas permintaan tertulis oleh penyidik yang berwenang tentang hasil pemeriksaan medis terhadap manusia, baik hidup maupun mati ataupun bagian dari tubuh manusia, berdasarkan
keilmuannya dan dibawah sumpah demi kepentingan peradilan.
Skoring Herkutanto
(1997)
Dokumen (observasi)
Kurang baik Sedang Baik
Ordinal
2 Pendahuluan Variabel ini meliputi yaitu tempat
pemeriksaan, waktu pemeriksaan, data subjek, data peminta
pemeriksaan, dan data dokter.
Skoring Herkutanto
(1997)
Dokumen (observasi)
Kurang baik Sedang Baik
Ordinal
3 Pemberitaan Variabel ini meliputi yaitu anamnesis, tanda vital, lokasi luka, karakteristik luka, ukuran luka, dan pengobatan/perawa tan.
Skoring Herkutanto
(1997)
Dokumen (observasi)
Kurang baik Sedang Baik
Ordinal
4 Kesimpulan Variabel ini meliputi yaitu jenis luka dan kekerasan,
Skoring Herkutanto
(1997)
Dokumen (observasi)
Kurang baik
Ordinal
23
kualifikasi luka. Sedang
Baik 5 Kualitas Skala pengukuran
terhadap variabel yang dinilai.
Skoring Herkutanto
(1997)
Dokumen (observasi)
Kurang baik Sedang Baik
ordinal
Tabel 2. Defenisi Opersional
24
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1. Jenis Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian observasional menggunakan metode deskriptif analitik dengan pendekatan retrospektif terhadap data Visum et Repertum perlukaan korban hidup di RSUD. Deli Serdang pada tahun 2017-2018.
3.2. Tempat Penelitian dan Waktu Penelitian a. Tempat Penelitian
Penelitian ini dilakukan di RSUD. Deli Serdang.
b. Waktu Penelitian
Penelitian ini dimulai pada tanggal 5 Juli 2019 sampai 13 Juli 2019.
3.3. Populasi dan Sampel
Populasi dalam penelitian ini adalah Visum et Repertum perlukaan korban hidup yang pernah dibuat oleh dokter-dokter yang ada di RSUD. Deli Serdang.
Sampel adalah bagian dari populasi yang dipilih dengan metode total sampling.
3.4. Metode Pengumpulan Data 3.4.1. Kriteria Inklusi
Dalam penelitian ini kriteria inklusi adalah Visum et Repertum perlukaan korban hidup akibat penganiayaan yang terdapat di RSUD. Deli Serdang dari 01 Januari 2017 – 31 Desember 2018.
3.4.2. Kriteria Eksklusi
Kriteria eksklusi adalah Visum et Repertum korban mati, visum perkosaan korban hidup, dan visum korban hidup kecelakaan lalu lintas.
25
3.5. Variabel Penelitian
Variabel dalam penelitian ini yaitu visum perlukaan korban hidup akibat penganiayaan yang dibuat oleh dokter-dokter di RSUD. Deli Serdang.
3.6. Aspek-aspek Pengukuran Terhadap Variabel Visum et Repertum Perlukaan Pada Korban Hidup
Penilaian dilakukan terhadap 13 variabel sebagai berikut :
1. 5 ( lima ) variabel bagian pendahuluan, yaitu : tempat pemeriksaan, waktu pemeriksaan, data subyek yang diperiksa, data penyidik yang meminta pemeriksaan, dan data dokter yang melakukan pemeriksaan.
2. 5 ( enam ) variabel bagian pemberitaan, yaitu : anamnesis, tanda vital, lokasi pada tubuh, karakteristik luka, dan ukuran luka.
3. 2 ( dua ) variabel bagian kesimpulan, yaitu : jenis luka, dan kualifikasi luka.
Skoring dilakukan terhadap unsur-unsur ke-13 variabel dengan menggunakan tiga skala pengukuran, yaitu : 0, 1, dan 2. Semakin baik kualitas deskripsi unsur suatu variabel maka semakin tinggi skor yang diperoleh ( dalam hal ini nilai tertinggi adalah 2 ). Untuk memperjelas apa yang dimaksud dengan unsur-unsur yang diukur pada suatu variabel maka digunakanlah defenisi operasional.
a. Variabel 1. Tempat Pemeriksaan
Pencantuman tempat pemeriksaan pada bagian pendahuluan VeR merupakan pernyataan formal terhadap tempat / lokus, dimana korban diperiksa yang meliputi unsur-unsur nama Rumah Sakit , alamat Rumah Sakit .
Skor : 0 = tidak dicantumkan tempat pemeriksaan sama sekali.
1 = hanya dicantumkan salah satu, nama rumah sakit / instansi pemeriksa atau bagian / instalasi tempat pemeriksaan saja.
2 = mencamtumkan dengan lengkap nama rumah sakit / instansi pemeriksa dan bagian / instalasi secara lengkap.
Defenisi operasional bagian / instalasi tempat pemeriksaan misalnya
Instalasi Gawat darurat.
b. Variabel 2. Waktu Pemeriksaan
Pencantuman waktu pemeriksaan pada bagian pendahuluan VeR merupakan pernyataan formal terhadap waktu / tempus saat korban diperiksa yang meliputi unsur-unsur jam, tanggal, bulan, dan tahun.
Skor : 0 = tidak mencantumkan waktu pemeriksaan sama sekali
1 = hanya mencantumkan tanggal, bulan dan tahun pemeriksaan saja tanpa mencantumkan jam pemeriksaan.
2 = mencantumkan dengan lengkap tanggal, bulan, dan tahun pemeriksaan serta jam pemeriksaan.
c. Variabel 3. Data subyek yang diperiksa
Pencantuman data subyek yang diperiksa pada bagian pendahuluan VeR sesuai dengan surat permintaan VeR dari penyidik yang meliputi unsur- unsur nama, jenis kelamin, umur dan alamat.
Skor : 0 = tidak mencantumkan data subyek yang diperiksa sama sekali.
1 = hanya mencantumkan salah satu unsur saja ( nama saja, jenis kelamin saja, umur saja, alamat saja ).
2 = mencantumkan dua unsur ( nama, jenis kelamin, umur, dan alamat )
d. Variabel 4. Data peminta pemeriksaan
Pencantuman data penyidik yang meminta pemeriksaaan pada bagian pendahuluan VeR sesuai dengan surat permintaan VeR dari penyidik yang meliputi unsur-unsur nama penyidik, pangkat atau NRP, unit / satuan kerja penyidik yang meminta. Asumsi yang digunakan adalah bahwa dalam surat permintaan VeR tidak dicantumkan data penyidik memang tercantum.
Apabila dalam surat permintaan VeR tidak dicantumkan data tersebut, maka surat permintaan VeR tersebut seharusnya dikembalikan kepada penyidik untuk dilengkapi, dan bila VeR dibuat juga tanpa kelengkapan tersebut maka VeR tersebut tidak elligible untuk dinilai.
27
Skor : 0 = tidak mencantumkan data penyidik yang meminta pemeriksaan sama sekali.
1 = hanya mencantumkan salah satu unsur saja ( nama penyidik, atau unit / satuan kerja penyidik )
2 = mencantumkan dua unsur ( nama penyidik, dan unit / satuan kerja penyidik ).
Defenisi Operasional unit / satuan kerja penyidik misalnya adalah satuan reserse, atau satuan lalu lintas.
e. Variabel 5. Data dokter pemeriksa
Pencantuman data dokter yang melakukan pemeriksaan pada bagian pendahuluan VeR sesuai dengan keahliannya yang meliputi unsur-unsur nama dokter, dan spesialisasinya.
Skor : 0 = tidak mencantumkan data dokter yang melakukan pemeriksaan sama sekali.
1 = hanya mencantumkan nama dokter saja.
2 = mencantumkan dua unsur ( nama dokter dan spesialisasinya ).
f. Variabel 6. Anamnesis
Pada bagian pemberitaan didapati anamnesis atau allo-anamnesis terhada korban yang meliputi unsur-unsur keluhan, dan riwayat penyakit yang pernah atau sedang dideritanya ( pre-existing disease ). Dalam hal pasien tidak sadar dan pengantar tidak mengetahui riwayat penyakitnya maka hal ini dapat ditanyakan setelah pasien sadar.
Skor : 0 = tidak mencantumkan anamnesis / allo-anamnesis
1 = hanya mencantumkan salah satu unsur saja ( keluhan korban, atau penyakit yang pernah atau tengah diderita ).
2 = mencantumkan dua unsur ( keluhan subyektif, keluhan obyektif, penyakit yang pernah atau tengah diderita ).
Defenisi operasional keluhan korban misalnya adalah korban merasa pusing, mual, sakit, muntah, dan sebagainya.Penyakit yang pernah atau tengah
diderita korban adalah kondisi fisiologis atau anatomis korban yang dapat mempengaruhi penilaian pemeriksa atas trauma yang terjadi saat ini.
g. Variabel 7. Tanda vital
Pemeriksaan dilakukan terhadap tanda-tanda vital korban meliputi unsur- unsur kesadaran, tekanan darah, pernafasan dan suhu.
Skor : 0 = tidak mencantumkan tanda-tanda vital sama sekali.
1 = hanya mencantumkan salah satu unsur tanda vital saja ( kesadaran, tekanan darah, pernafasan, suhu ).
2 = mencantumkan lebih dari satu unsur tanda vital ( kesadaran, tekanan darah, pernafasan, suhu ).
h. Variabel 8. Lokasi luka
Pemeriksaan dilakukan terhadap unsur-unsur region luka dan sisi luka.
Skor : 0 = tidak mencantumkan luka sama sekali 1 = hanya mencantumkan region luka saja 2 = mencantumkan region luka dan sisi luka
Defenisi operasional region luka misalnya adalah daerah dahi, leher, rahang bawah ( tanpa menyebut sisi kiri atau kanan ) dan sisi luka misalnya adalah dahi kiri, rahang bawah kanan ( dengan menyebutkan sisi kiri atau kanan ).
i. Variabel 9. Karakteristik luka
Pemeriksaan karakteristik luka dilakukan terhadap unsur-unsur jenis luka, bentuk luka, dan dinding luka.
Skor : 0 = tidak mencantumkan karakteristik luka luka sama sekali.
1 = mencantumkan jenis luka saja.
2 = mencantumkan jenis luka dan bentuk luka atau dinding luka.
Defenisi operasional : jenis luka misalnya adalah luka lecet, luka memar, luka terbuka. Bentuk luka misalnya bulat, lonjong, bentuk garis, dan sebagainya.Jaringan sekitar misalnya bengkak, kemerahan / kebiruan, dan sebagainya.
29
j. Variabel 10. Ukuran luka
Pengukuran luka dapat dinyatakan secara kualitatif atau kuantitatif, dimana cara mengukur secara kuantitatif dianggap lebih baik karena dapat menggambarkan dimensi luka secara lebih akurat.
Skor : 0 = tidak mencantumkan ukuran luka sama sekali.
1 = mencantumkan ukuran luka secara kualitatif.
2 = mencantumkan luka secara kuantitatif.
Defenisi operasional : pengukuran kualitatif misalnya adalah selebar telapak tangan, sebesar kelereng, dan sebagainya. Pengukuran kuantitatif misalnya memberikan ukuran dalam skala sentimeter ( tiga sentimeter kali empat sentimeter ).
k. Variabel 11. Pengobatan / perawatan yang diberikan
Pencantuman pengobatan dan atau perawatan yang diberikan kepada korban menggambarkan akibat yang ditimbulkan oleh kekerasan / trauma yang dialaminya. Dalam hal korban yang dibawa ke rumah sakit tersebut telah dirawat oleh fasilitas kesehatan lain, maka perlu dicantumkan deskripsi pengobatan yang Nampak.
Skor : 0 = tidak mencantumkan sama sekali perihal pengobatan / perawatan.
1 = hanya menyebutkan secara singkat saja bahwa telah dilakukan pengobatan dan atau perawatan.
2 = mencantumkan secara lengkap jenis pengobatan / perawatan yang diberikan.
Defenisi operasional : Uraian pengobatan dan perawtaan secara lengkap misalnya adalah jenis tindakan pembedahan, lama perawatan, dan sebagainya. Deskripsi pengobatan yang telah dilakukan oleh fasilitas kesehatan, misalnya luka telah dilakukan penjahitan, telah diberi iodine, dan sebagainya.
l. Variabel 12. Kesimpulan jenis luka dan kekerasan.
Penyimpulan jenis luka dan kekerasan pada bagian kesimpulan VeR merupakan pendapat subyektif dokter yang penting untuk rekonstruksi perkara dan benda-bukti yang didapat.Hal ini juga merupakan salah satu kunci perumusan delik penganiayaan.
Skor : 0 = tidak mencantumkan kesimpulan tentang jenis luka dan kekerasan.
1 = hanya mencantumkan salah satu saja, jenis luka atau kekerasan.
2 = mencantumkan jenis luka dan kekerasan
Defenisi operasional : Jenis luka adalah luka terbuka, luka memar, luka lecet, luka bakar, dan sebagainya. Jenis kekerasan adalah trauma mekanik ( tumpul, tajam ), trauma fisika ( suhu tinggi, listrik ), dan trauma kimiawi ( asam, basa ).
m. Variabel 13. Kualifikasi luka
Perumusan kualifikasi luka pada bagian kesimpulan VeR merupakan pendapat subyektif dokter tentang derajat kecederaan korban yang menggambarkan intensitas kerugian fisik yang dideritanya.Hal ini yang penting bagi hakim untuk menentukan berat atau ringannya sanksi pidana pada pelaku.
Skor : 0 = tidak mencantumkan kualifikasi luka sama sekali.
1 = mencantumkan kualifikasi luka, tetapi tidak menggunakan rumusan dalam pasal 351, 352 dan 90 KUHP.
2 = mencantumkan kualifikasi luka dengan menggunakan rumusan dalam pasal 351, 352, dan 90 KUHP.
Defenisi operasional : Pencantuman kualifikasi luka tanpa menggunakan rumusan pasal 351, 352, dan 90 KUHP misalnya adalah dengan menuliskan diagnosis medis, seperti commotion cerebri ( gegar otak ), dan sebagainya.
Pencantuman kualifikasi luka dengan menggunakan rumusan pasal 351, 352, dan 90 KUHP misalnya adalah tidak menimbulkan penyakit / halangan
31
pekerjaan, menimbulkan penyakit / halangan pekerjaan, atau salah satu rumusan dalam pasal 90 KUHP, seperti menimbulkan bahaya maut, hilangnya panca indera, dan sebgainya.
3.7. Penilaian atas hasil pengukuran variabel-variabel Visum et Repertum perlukaan pada korban hidup.
Penilaian dilakukan terhadap variabel yang terdapat dalam bagian pendahuluan, pemberitaan, dan kesimpulan dengan memberikan pembobotan sesuai tingkat kesulitan pembuatannya. Pembobotan dilakukan dengan cara mengalikan nilai variabel rata-rata setiap bagian dengan suatu faktor perkalian sebagai berikut :
3.7.1. Kelompok variabel pada bagian pendahuluan dikalikan 1 ( satu ).
3.7.2. Kelompok variabel pada bagian pemberitaan dikalikan 5 ( lima ).
3.7.3. Kelompok variabel pada bagian kesimpulan dikalikan 8 ( delapan ).
Makna pembobotan tersebut adalah bahwa bagian pemberitaan lima kali lebih sulit dari pada bagian pendahuluan, dan bagian kesimpulan delapan kali lebih sulit daripada bagian pendahuluan.
Sebagai contoh :
1. Kelompok variabel bagian pendahuluan, bila kelima variabel memperoleh skor 2 ( nilai tertinggi ) maka maksimal akan memperoleh nilai (2+2+2+2+2)X1 = 2
5
2. Kelompok variabel bagian pemberitaan, bila keenam variabel memperoleh skor 2 ( nilai tertinggi ), maka maksimal akan memperoleh nilai (2+2+2+2+2+2)X5 =10
6
3. Kelompok variabel bagian kesimpulan, bila kedua variabel memperoleh skor 2 ( nilai tertinggi ), maka maksimal akan memperoleh nilai (2+2)X8 =16
2
Dengan demikian sebuah visum yang sempurna ( 100% ) akan mempunyai nilai 28. Penilaian kualitas sebuah visum adalah jumlah skor tiga kelompok variabel dibagi 28 dikalikan 100%.
∑ nilai kelompok variabel pendahuluan,pemberitaan, kesimpulan Kualitas VeR = ────────────────────────────────────X100%
28
Tabel 3. Lembar penilaian kualitas Visum et Repertum perlukaan.
VARIABEL YANG DINILAI SKOR
A. Bagian Pendahuluan
1. Tempat Pemeriksaan 0 1 2
2. Waktu Pemeriksaan 0 1 2
3. Data Subyek yang diperiksa 0 1 2
4. Data Peminta Pemeriksaan 0 1 2
5. Data Dokter Pemeriksa 0 1 2
…………...
Nilai kelompok variabel A = ───────── X 1 = - - - 5
B. Bagian Pemberitaan
6. Anamnesis 0 1 2
7. Tanda Vital 0 1 2
8. Lokasi Luka 0 1 2
9. Karakteristik Luka 0 1 2
10. Ukuran Luka 0 1 2
11. Pengobatan / Perawatan 0 1 2
……….
Nilai kelompok variabel B =−─────── X 5 = - - - 6
33
C. Bagian Kesimpulan
12. Jenis Luka dan Kekerasan 0 1 2
13. Kualifikasi Luka 0 1 2
……….
Nilai kelompok variabel C =──────── X 8 = - - - 2
∑ nilai kelompok varibel A,B,C
Kualitas VeR = ──────────────────── X 100 % = - - - - -%
28
3.8. Metode analisa
Metode analisa data dimulai dari : a. Editing
Langkah ini digunakan untuk memeriksa blangko data dengan tujuan agar data yang masuk dapat diolah secara benar, sehingga pengolahan data dapat memberikan hasil yang menggambarkan masalah yang diteliti, kemudian data dikelompokkan menggunakan aspek pengukuran.
b. Koding
Data yang telah diperoleh dengan tepat dan benar, diberikan kode tertentu untuk mempermudah perhitungan.
c. Tabulating : yaitu mengelompokkan data dalam master tabel untuk mempermudah pendistribusian berdasarkan variabel.
d. Cleaning data
Pemeriksaan kembali, semua data yang telah dimasukkan ke dalam tabel guna menghindari terjadinya kesalahan dalam pemasukan data.
e. Analisa Data : data yang dikumpulkan berdasarkan variabel unsur-unsur VeR diperoleh dari dokumen VeR yang pernah dikeluarkan di RSUD. Deli Serdang periode 01 Januari 2017 sampai dengan 31 Desember 2018 dengan