• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODE PENELITIAN

3.6 Aspek-aspek Pengukuran Terhadap Variabel Visum et

Penilaian dilakukan terhadap 13 variabel sebagai berikut :

1. 5 ( lima ) variabel bagian pendahuluan, yaitu : tempat pemeriksaan, waktu pemeriksaan, data subyek yang diperiksa, data penyidik yang meminta pemeriksaan, dan data dokter yang melakukan pemeriksaan.

2. 5 ( enam ) variabel bagian pemberitaan, yaitu : anamnesis, tanda vital, lokasi pada tubuh, karakteristik luka, dan ukuran luka.

3. 2 ( dua ) variabel bagian kesimpulan, yaitu : jenis luka, dan kualifikasi luka.

Skoring dilakukan terhadap unsur-unsur ke-13 variabel dengan menggunakan tiga skala pengukuran, yaitu : 0, 1, dan 2. Semakin baik kualitas deskripsi unsur suatu variabel maka semakin tinggi skor yang diperoleh ( dalam hal ini nilai tertinggi adalah 2 ). Untuk memperjelas apa yang dimaksud dengan unsur-unsur yang diukur pada suatu variabel maka digunakanlah defenisi operasional.

a. Variabel 1. Tempat Pemeriksaan

Pencantuman tempat pemeriksaan pada bagian pendahuluan VeR merupakan pernyataan formal terhadap tempat / lokus, dimana korban diperiksa yang meliputi unsur-unsur nama Rumah Sakit , alamat Rumah Sakit .

Skor : 0 = tidak dicantumkan tempat pemeriksaan sama sekali.

1 = hanya dicantumkan salah satu, nama rumah sakit / instansi pemeriksa atau bagian / instalasi tempat pemeriksaan saja.

2 = mencamtumkan dengan lengkap nama rumah sakit / instansi pemeriksa dan bagian / instalasi secara lengkap.

Defenisi operasional bagian / instalasi tempat pemeriksaan misalnya

Instalasi Gawat darurat.

b. Variabel 2. Waktu Pemeriksaan

Pencantuman waktu pemeriksaan pada bagian pendahuluan VeR merupakan pernyataan formal terhadap waktu / tempus saat korban diperiksa yang meliputi unsur-unsur jam, tanggal, bulan, dan tahun.

Skor : 0 = tidak mencantumkan waktu pemeriksaan sama sekali

1 = hanya mencantumkan tanggal, bulan dan tahun pemeriksaan saja tanpa mencantumkan jam pemeriksaan.

2 = mencantumkan dengan lengkap tanggal, bulan, dan tahun pemeriksaan serta jam pemeriksaan.

c. Variabel 3. Data subyek yang diperiksa

Pencantuman data subyek yang diperiksa pada bagian pendahuluan VeR sesuai dengan surat permintaan VeR dari penyidik yang meliputi unsur-unsur nama, jenis kelamin, umur dan alamat.

Skor : 0 = tidak mencantumkan data subyek yang diperiksa sama sekali.

1 = hanya mencantumkan salah satu unsur saja ( nama saja, jenis kelamin saja, umur saja, alamat saja ).

2 = mencantumkan dua unsur ( nama, jenis kelamin, umur, dan alamat )

d. Variabel 4. Data peminta pemeriksaan

Pencantuman data penyidik yang meminta pemeriksaaan pada bagian pendahuluan VeR sesuai dengan surat permintaan VeR dari penyidik yang meliputi unsur-unsur nama penyidik, pangkat atau NRP, unit / satuan kerja penyidik yang meminta. Asumsi yang digunakan adalah bahwa dalam surat permintaan VeR tidak dicantumkan data penyidik memang tercantum.

Apabila dalam surat permintaan VeR tidak dicantumkan data tersebut, maka surat permintaan VeR tersebut seharusnya dikembalikan kepada penyidik untuk dilengkapi, dan bila VeR dibuat juga tanpa kelengkapan tersebut maka VeR tersebut tidak elligible untuk dinilai.

27

Skor : 0 = tidak mencantumkan data penyidik yang meminta pemeriksaan sama sekali.

1 = hanya mencantumkan salah satu unsur saja ( nama penyidik, atau unit / satuan kerja penyidik )

2 = mencantumkan dua unsur ( nama penyidik, dan unit / satuan kerja penyidik ).

Defenisi Operasional unit / satuan kerja penyidik misalnya adalah satuan reserse, atau satuan lalu lintas.

e. Variabel 5. Data dokter pemeriksa

Pencantuman data dokter yang melakukan pemeriksaan pada bagian pendahuluan VeR sesuai dengan keahliannya yang meliputi unsur-unsur nama dokter, dan spesialisasinya.

Skor : 0 = tidak mencantumkan data dokter yang melakukan pemeriksaan sama sekali.

1 = hanya mencantumkan nama dokter saja.

2 = mencantumkan dua unsur ( nama dokter dan spesialisasinya ).

f. Variabel 6. Anamnesis

Pada bagian pemberitaan didapati anamnesis atau allo-anamnesis terhada korban yang meliputi unsur-unsur keluhan, dan riwayat penyakit yang pernah atau sedang dideritanya ( pre-existing disease ). Dalam hal pasien tidak sadar dan pengantar tidak mengetahui riwayat penyakitnya maka hal ini dapat ditanyakan setelah pasien sadar.

Skor : 0 = tidak mencantumkan anamnesis / allo-anamnesis

1 = hanya mencantumkan salah satu unsur saja ( keluhan korban, atau penyakit yang pernah atau tengah diderita ).

2 = mencantumkan dua unsur ( keluhan subyektif, keluhan obyektif, penyakit yang pernah atau tengah diderita ).

Defenisi operasional keluhan korban misalnya adalah korban merasa pusing, mual, sakit, muntah, dan sebagainya.Penyakit yang pernah atau tengah

diderita korban adalah kondisi fisiologis atau anatomis korban yang dapat mempengaruhi penilaian pemeriksa atas trauma yang terjadi saat ini.

g. Variabel 7. Tanda vital

Pemeriksaan dilakukan terhadap tanda-tanda vital korban meliputi unsur-unsur kesadaran, tekanan darah, pernafasan dan suhu.

Skor : 0 = tidak mencantumkan tanda-tanda vital sama sekali.

1 = hanya mencantumkan salah satu unsur tanda vital saja ( kesadaran, tekanan darah, pernafasan, suhu ).

2 = mencantumkan lebih dari satu unsur tanda vital ( kesadaran, tekanan darah, pernafasan, suhu ).

h. Variabel 8. Lokasi luka

Pemeriksaan dilakukan terhadap unsur-unsur region luka dan sisi luka.

Skor : 0 = tidak mencantumkan luka sama sekali 1 = hanya mencantumkan region luka saja 2 = mencantumkan region luka dan sisi luka

Defenisi operasional region luka misalnya adalah daerah dahi, leher, rahang bawah ( tanpa menyebut sisi kiri atau kanan ) dan sisi luka misalnya adalah dahi kiri, rahang bawah kanan ( dengan menyebutkan sisi kiri atau kanan ).

i. Variabel 9. Karakteristik luka

Pemeriksaan karakteristik luka dilakukan terhadap unsur-unsur jenis luka, bentuk luka, dan dinding luka.

Skor : 0 = tidak mencantumkan karakteristik luka luka sama sekali.

1 = mencantumkan jenis luka saja.

2 = mencantumkan jenis luka dan bentuk luka atau dinding luka.

Defenisi operasional : jenis luka misalnya adalah luka lecet, luka memar, luka terbuka. Bentuk luka misalnya bulat, lonjong, bentuk garis, dan sebagainya.Jaringan sekitar misalnya bengkak, kemerahan / kebiruan, dan sebagainya.

29

j. Variabel 10. Ukuran luka

Pengukuran luka dapat dinyatakan secara kualitatif atau kuantitatif, dimana cara mengukur secara kuantitatif dianggap lebih baik karena dapat menggambarkan dimensi luka secara lebih akurat.

Skor : 0 = tidak mencantumkan ukuran luka sama sekali.

1 = mencantumkan ukuran luka secara kualitatif.

2 = mencantumkan luka secara kuantitatif.

Defenisi operasional : pengukuran kualitatif misalnya adalah selebar telapak tangan, sebesar kelereng, dan sebagainya. Pengukuran kuantitatif misalnya memberikan ukuran dalam skala sentimeter ( tiga sentimeter kali empat sentimeter ).

k. Variabel 11. Pengobatan / perawatan yang diberikan

Pencantuman pengobatan dan atau perawatan yang diberikan kepada korban menggambarkan akibat yang ditimbulkan oleh kekerasan / trauma yang dialaminya. Dalam hal korban yang dibawa ke rumah sakit tersebut telah dirawat oleh fasilitas kesehatan lain, maka perlu dicantumkan deskripsi pengobatan yang Nampak.

Skor : 0 = tidak mencantumkan sama sekali perihal pengobatan / perawatan.

1 = hanya menyebutkan secara singkat saja bahwa telah dilakukan pengobatan dan atau perawatan.

2 = mencantumkan secara lengkap jenis pengobatan / perawatan yang diberikan.

Defenisi operasional : Uraian pengobatan dan perawtaan secara lengkap misalnya adalah jenis tindakan pembedahan, lama perawatan, dan sebagainya. Deskripsi pengobatan yang telah dilakukan oleh fasilitas kesehatan, misalnya luka telah dilakukan penjahitan, telah diberi iodine, dan sebagainya.

l. Variabel 12. Kesimpulan jenis luka dan kekerasan.

Penyimpulan jenis luka dan kekerasan pada bagian kesimpulan VeR merupakan pendapat subyektif dokter yang penting untuk rekonstruksi perkara dan benda-bukti yang didapat.Hal ini juga merupakan salah satu kunci perumusan delik penganiayaan.

Skor : 0 = tidak mencantumkan kesimpulan tentang jenis luka dan kekerasan.

1 = hanya mencantumkan salah satu saja, jenis luka atau kekerasan.

2 = mencantumkan jenis luka dan kekerasan

Defenisi operasional : Jenis luka adalah luka terbuka, luka memar, luka lecet, luka bakar, dan sebagainya. Jenis kekerasan adalah trauma mekanik ( tumpul, tajam ), trauma fisika ( suhu tinggi, listrik ), dan trauma kimiawi ( asam, basa ).

m. Variabel 13. Kualifikasi luka

Perumusan kualifikasi luka pada bagian kesimpulan VeR merupakan pendapat subyektif dokter tentang derajat kecederaan korban yang menggambarkan intensitas kerugian fisik yang dideritanya.Hal ini yang penting bagi hakim untuk menentukan berat atau ringannya sanksi pidana pada pelaku.

Skor : 0 = tidak mencantumkan kualifikasi luka sama sekali.

1 = mencantumkan kualifikasi luka, tetapi tidak menggunakan rumusan dalam pasal 351, 352 dan 90 KUHP.

2 = mencantumkan kualifikasi luka dengan menggunakan rumusan dalam pasal 351, 352, dan 90 KUHP.

Defenisi operasional : Pencantuman kualifikasi luka tanpa menggunakan rumusan pasal 351, 352, dan 90 KUHP misalnya adalah dengan menuliskan diagnosis medis, seperti commotion cerebri ( gegar otak ), dan sebagainya.

Pencantuman kualifikasi luka dengan menggunakan rumusan pasal 351, 352, dan 90 KUHP misalnya adalah tidak menimbulkan penyakit / halangan

31

pekerjaan, menimbulkan penyakit / halangan pekerjaan, atau salah satu rumusan dalam pasal 90 KUHP, seperti menimbulkan bahaya maut, hilangnya panca indera, dan sebgainya.

3.7. Penilaian atas hasil pengukuran variabel-variabel Visum et Repertum

Dokumen terkait