• Tidak ada hasil yang ditemukan

KOLIBASILOSIS PADA ANAK SAPI PERAH DI INDONESIA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "KOLIBASILOSIS PADA ANAK SAPI PERAH DI INDONESIA"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

PENDAHULUAN

Sapi perah merupakan sumber penghasil susu, yang dapat diupayakan clan clitingkatkan se- hingga kontinuitas produksi susu dalam negeri dapat tercapai . Akan tetapi kendala penyakit merupakan salah faktor penghambat terhadap daya produksi sapi clan produktifitasnya .

Sapi perah, seperti halnya ternak lain, sangat rentan terhadap berbagai infeksi penyakit, baik penyakit bakteri, virus atau penyakit lainnya . Salah satu penyakit yang merupakan kendala penting ialah penyakit neonatal diare yang dise- babkan oleh infeksi bakteri Escherchia coli (E.coll), secara umun dinamakan kolibasilosis . Koli- basilosis merupakan salah satu penyakit penting pada usaha peternakan babi clan sapi perah . Pe- nyakit ini disebabkan oleh infeksi bakteri entero- toksigenik E. coli (ETEC) yang mempunyai antigen perlekatan K99, F41 atau K99F41 (SUPAR, 1986 ; SUPAR et al., 1988, 1989 ; SUPAR, 1990) . Anak sapi dapat terinfeksi oleh ETEC pada umur be- berapa jam sesudah dilahirkan hingga umur be- berapa hari setelah dilahirkan . Anak sapi neonatal yang terinfeksi ETEC menderita diare terus menerus, tinja encer seperti air yang berwarna putih kekuning-kuningan . Ternak neonatal yang menderita diare terus menerus mengalami dehi- drasi, kehilangan cairan elektrolit clan kemudian mati . Akan tetapi infeksi E. co/i enterotoksaemik, anak sapi mati mencladak tanpa disertai tanda- tanda klinis diare (HAMILTON, 1985) . Sedangkan E.

coli yang mempunyai sifat memproduksi "shiga- like toxin" menyebabkan disentri pada anak sapi sesudah usia neonatal (CHANTER et al., 1986 ; DORN et al., 1993) .

Dewasa ini populasi sapi perah lebih dari 350 .729 ekor (DIT. JEN . PETERNAKAN, 1993) .

Kolibasilosis salah satu penyebab kematian anak sapi, oleh karena itu kolibasilosis dapat menyebabkan kerugian ekonomi.

Anak sapi dilahirkan tanpa membawa ma- ternal antibodi sehingga sangat tergantung kepada antibodi maternal yang terclapat pada colostrum (SELMAN et al., 1971) . Pada ternak tersebut tidak terjadi peminclahan antibodi (IgG) dari induk ke fetus melalui plasenta (TIZARD, 1982) . Oleh kare- na itu antibodi dalam kolostrum merupakan zat

SUPAR Balai Penefitian Veteriner

Jalan R.E. Martadinata No. 30, Kotak Pos 52 Bogor 16114

protektif bagi anak sapi yang baru lahir terhadap patogen enterik .

Pencegahan clan pengendalian kolibacilosis atau E. coli diare pada anak sapi dapat dilakukan dengan meningkatkan kekebalan pada induk yang bunting dengan vaksin ETEC yang menganclung serotipe, K99, F41 6 minggu kemudian diberi booster 2 minggu sebelum partus (ACRES et al., 1979) yang disertai dengan peningkatan manaje- men anak sapi . Studi penclahuluan penggunaan 2 dosis vaksin E. coli polivalen berclasarkan serotipe E. coli lapangan pada induk babi bunting 6 minggu clan 3 minggu sebelum partus didaerah Bogor clan Jakarta dapat menurunkan kasus diare clan mor- talitas anak sapi yang dilahirkan dari 30% (ticlak divaksin) menjadi 5-6% (yang divaksin) dalam umur 2 minggu sesudah partus (SUPAR clan HIRST, 1990) . Metode ini dapat diaplikasikan pada sapi perah dengan modifikasi komposisi vaksin .

Pada kesempatan ini dikemukakan rangkum- an hasil-hasil penelitian tentang infeksi ETEC pada sapi perah clan kematiannya untuk mempelajari langkah-langkah pengendaliannya.

ETIOLOGI KOLIBASILOSIS PADA ANAK SAPI Escherichia coli (E. colt) merupakan spesies bakteri dari genus Escherich, pertama kali dite- mukan clan didiskripsi oleh Theobold Escherich tahun 1885 . Bakteri ini termasuk dalam kelompok gram-negatif, berbentuk batang clan biasanya mempunyai flagella . Kebanyakan galur E. coli da- pat ditumbuhkan clan clikebang-biakan pada media laboratorium (EwING, 1986) . Sebagian besar galur bakteri tersebut merupakan penghuni normal sa- luran pencernakan hewan atau manusia clan se- bagian juga ada yang bersifat patogen clan menyebabkan sakit atau diare induk semangnya, baik pada hewan atau manusia (SACK, 1975, ORSKov clan ORSKOV, 1978) .

Sudah lama diketahui bahwa beberapa galur E. coli tertentu meyebabkan diare clan kematian anak sapi atau anak babi atau ternak lainnya (SMITH clan ORCUTT, 1925; Lovel clan HUGHES 1935) . Akan tetapi sifat-sifat E. coli tersebut baru dapat diketahui setelah diintroduksi metode se- rologik yang cukup lama clan mempelajari sifat epidemiologinya (KAUFFMANN, 1944: KAUFFMANN

(2)

dan DUPONT, 1950) . Namun demikian metode tersebut tidak dapat diaplikasikan langsung untuk mengidentifikasi sifat atau faktor virulensi bakteri

E.

coli dari kasus penyakit . Pada tahun 1961,

E.

co/i yang menyebabkan diare pada anak babi dapat dideteksi adanya antigen perlekatan K88 (ORSKOV

et al.,

1961) . Galur E. co/i tersebut diidentifikasi memproduksi enterotoksin tidak tahan panas yang menyebabakan diare (SMITH clan HALLS, 1968) . Beberapa tahun kemudian faktor virulensi atau antigen perlekatan lain K99, F41 clan 987P dapat diindentifikasi dari bakfieri

E.

coli yang diasingkan dari anak babi clan anak sapi penderita diare (ORSKOv

et al.,

1975 ; MORRIS

et al.,

1980) .

E.

coli K99, F41 atau K99F41 yang bersifat enteropatogenik terhadap anak sapi memproduksi faktor virulensi ke dua yaitu enterotoksin tahan panas

(ST =heat stabile toxin)

(ORSKOV, 1975 ; GUINEE

et al.,

1976) . Variasi serotipe ETEC penye- bab diare pada anak sapi yang pernah dilaporkan di luar negeri atau di Indonesia tertulis dalam Tabel 1 .

n ST berasal dari anak sapi penderita diare

K-: antigen kapsul tidak diidentifikasi

(Sumber: GUINEE et al., 1980; SUPAR, 1986, 1990) KERENTANAN ANAK SAPI TERHADAP INFEKSI ETEC DAN PATOGEN ENTERIK

LAINNYA

Patogen enterik yang sering ditemukan pada anak ternak penderita diare sangat komplek . Pa- togen enterik tersebut ialah bakteri, virus clan protozoa . Umur kerentanan anak sapi terhadap patogen tersebut berbeda-beda (ACRES, 1977 ; TziPORI, 1985 ; RADOSTIDS 1985) . Sampai dewasa ini ETEC diketahui merupakan penyebab utama diare pada anak sapi clan anak babi yang baru dilahirkan . Pada saat terjadi diare akibat infeksi ETEC, infeksi sekunder oleh patogen enterik yang

WARTAZOA Vol. 5 No. 1 Th. 1996

lain dapat terjadi . Keadaan infeksi campuran ini dapat memperpanjang terjadinya diare. ETEC merupakan patogen yang menyerang pertama, sebab dapat terjadi beberapa saat setelah anak sapi lahir clan inkubasinyan antara 6-18 jam . ETEC sering dapat diisolasi sebagai agen penyebab tunggal pada anak sapi penderita diare umur 3 hari . Sedangkan patogen yang lain menginfeksi anak hewan umur lebih tua clan waktu inkubasi yang lebih lama

(-Tabel 2 .) .

Tabel 2. Kepekaan umur anak sapi terhadap patogen enterik

Patogen Umur kepekaan infeksi

E. coff enterotoksigenik 1 - 3 hari

Rotavirus 4 - 10 hari

Coronavirus 7 - 10 hari

Bovine virus diare 5 - 20 hari

Clostridium perfingens tipe C 15 - 15 hari

Salmonella sp 10 - 40 hari

Cryptosporidium 5 - 35 hari

Coccidia >20 hari

(Sumber : TzIPORI, 1985; RADOSTITS, 1985; SUPAR 1990)

Dalam percobaan anak sapi rentan terhadap infeksi ETEC pada umur 2 hari setelah dilahirkan (TziPORI, 1985) . Pada kondisi lapangan ETEC K99 dapat diisolasi dari anak sapi perderita diare umur 6 hari, biasanya hanya terjadi umur 1-hari (SODGRASS

et al.,

1986) . Pada penelitian diare neonatal pada anak sapi di Indonesia dilapaorkan bahwan ETEC K99 dapat dideteksi pada anak sapi penderita diare propus sampai umur 5 hari (Tabel 3) (SUPAR, 1986; SUPAR

et al.,

1989) . Kejadian serupa dilaporkan juga dari Canada (ACRES

et al.,

1977), di Amerika(BULGIN

et al.,

1982) .

Di samping itu, dalam satu dasa warsa ter- akhir ini dilaporktri .. galur

E. coli

dari anak sapi

Antigen

perlekatan Keterangan

K99 luar negeri

K99 11

K99K99 K99F41 K99F41 K99F41 K99F41 K99F41

K99 Indonesia

K99F41 K99F41 Tabel 1 Serotipe E. coli yang memproduksi toks

Asal Antigen Antigen

hewan Somatik kapsul

Anak sapi Oa K25

O$ K85

020 K-

064 KV1421

09 K30

09 K35

09 K-

0101 K30

0101 K32

Anak sapi 09 K-

0101 K-

Oi01 K-

Oi01 K-

(3)

penderita yang enterotoksin

tOXin° ., ;

1986, .,1989) .

Indonesia

sedang .

A : B : (Sumber:

PREVALENSI

SAPI Diare

dengan E. i

masalah

nakan .

pada dunia,

Tabel .

SUPAR:

publikasi .

ternak 1985) .

pedaging .,

mortalitas .

Pada .igan

nakan terakhir,

4 ; .

Kolibasilosis hubungan lambat padat

kurang ; .,

1986) . susu bersifat

et ., .

laporkan, Pada gejala (Tabel . umur perah

pada .,

Kematian di HEPP, .

pada .

di oleh

(SMITH, .

salmonella .

Tabel . isolasi Peternakan

antara

clan .

Umur (hari)

anak coli E.

clan E.

A 5 5 1

3 6 3

2 0 12

B 4 5 1

3 5 1

3 5 1

5 3 1

4 5 2

Tahun

matan

Jmlh

Banyak Diare

kelompok E.

K99 F41

1985 Baturaden 46 13

Jawa Sukabumi(A) 255 50 3

Bandung 138 30 5

Peternak 22 8 0

Sub 461 101(21,9%) 8

1989 Sukabumi 43 9(20,9%) 1

Bandung 31 8(25,7%) 1

Jawa NA 25 12(43,9) - 1

Sub 99 29(29,2) 2(6,8%) 1(3,4%)

(Sumber:

(4)

Tabel 5. Kematian anak sapi perah dengan gejala diare dalam periode 17 bulan (1984-1985) di Jawa Barat

(Sumber : SUPAR clanHIRST, 1985)

(Sumber: SUPAR et al., 1989)

65

PENGENDALIAN KOLIBASILOSIS DENGAN OBAT ARITIBIOTIKA

Di Indonesia, kasus diare di lapangan biasanya diobati dengan obat antibiotika, walaupun agen penyebabnya belum diketahui, apakah disebabkan oleh kuman atau nutrisi, oleh karena itu hasilnya masih jauh dari yang diharapkan . Di samping itu penggunaan obat antibiotika yang tidak tepat akan menyebabkan timbulnya resistensi patogen bak- teri terkadap antibiotik (SUPAR et al., 1989) . Peng- gunaan obat yang berlebihan juga akan me- ningkatkan residu obat dalam daging atau dalam produk ternak .

Dewasa ini obat antibiotik dipakai secara eks- tensif dalam bidang peternakan, baik dipakai un- tuk pengobatan penyakit atau dicampur dengan pakan dengan alasan untuk mempercepat pertum- buhan . Praktek pemakaian obat antibiotik untuk pengobatan biasanya secara injeksi atau peroral melalui air minum atau pakan (feed additive), dengan alasan untuk pengendalian penyakit, teru- tama pada peternakan babi clan ayam . Hal ini akan menimbulkan resistensi kuman E. coli terhadap

WARTAZOA Vol. 5 No. 1 Th. 1996

antibiotika yang sering dicampurkan (SUPAR, 1990) . Penggunaan obat antibiotika pada sapi perah akan menyebabkan residu antibiotik pada produk susunya clan daging .

IMUNITAS TERHADAP PATOGEN ENTERIK Pada anak babi clan anak sapi selama dalam kandungan tidak terjadi pemindahan antibodi atau zat kebal maternal dari induk melalui plasenta (BOURNE, 1974; LARSONet al., 1980) . Oleh karena itu anak sapi dilahirkan tanpa antibodi atau zat kebal protektif. Zat kebal maternal terdapat dalam kolostrum dari induk sapi clan merupakan zat protektif terhadap anak sapi yang meyusu in- duknya segera setelah dilahirkan (STOTT et al., 1979a,b,c) . Antibodi dalam kolostrum dapat ber- fungsi sebagai zat pelindung terhadap infeksi melalui permukaan usus pada anak sapi yang menyusu pada saat segera setelah dilahirkan .

Anak sapi yang tidak diberi kolostrum atau susu induknya akan rentan terhadap patogen sistemik clan patogen yang bersifat enterik (Boyd, 1972 ; BOYDet al., 1974; Mc GUIRE et al., 1976) . Anak sapi yang tidak mendapat kolostrum, kandungan imunoglobulin dalam darah atau serum sangat rendah, dalam kondisi yang demikian akan rentan terhadap infeksi patogen yang bersifat sistemik (DAVIDSON et al., 1981 ; GAY et al., 1983 ; CORBEILet al., 1984) .

Pada sapi bunting pembentukan antibodi atau imunoglobulin di dalam kelenjar mammae terjadi pada tingkat akhir kebuntingan. Kolostrum yang keluar sesudah partus (hari ke 1 atau ke 2) mem- punyai kandungan imunoglobulin G (IgG) sangat dominan, IgM clan IgA lebih rendah . Sesudahnya kangdungan IgG menurun clan IgA menjadi domi- nan . Kondisi ini disesuaikan dengan aktifitas pe- nyerapan IgG pads anak sapi terjadi pada awal menyusu(STOTTet al., 1979 a,b,c) . Sesudah hari ke 2 penyerapan IgG tidak terjadi . Akan tetapi kandungan IgG clan IgA dalam lumen usus yang tinggi dapat mengaglutinasikan patogen enterik yang tertelan termakan, sehingga patogen terse- but mati atau tidak mengifeksi .

PENGENDALIAN KOLIBASILOSIS PADA SAPI DENGAN VAKSINASI

E. coli enterotoksigenik clan enteropatogenik dapat menyerang ternak pangan, yang paling ren- tan adalah anak sapi clan anak babi neonatal . Pencegahan kolibasilosis enterik dengan cara vaksinasi induk di luar negeri mulai di perkenalkan kepada para peternak (ACRESet al., 1979 :TziPORI, Tabel 6. Distribusi umur anak sapi yang mati dengan gejala

klinik diare di peternakan B

Umur (hari) Jumlah yang mati

12 1

3 1424

4 9

5 4

6 7

7 3

8 1

9 1

10 0

11 0

12 0

13 1

Peternakan Anak sapi

lahir hidup Mati

Sukabumi (A) 186 39 (21,0%)

Bandung (B) 336 65 (19,4%)

Jumlah 522 104 (19,9)

(5)

1985) . Metode vaksinasi lebih penting dengan semakin meningkatnya resistensi E. cofi entero- toksigenik terhadap obat-obatan antibiotika yang dipakai di lapangan (DEY et al., 1982 ; DE LOPEZ, 1980) . Di samping itu penggunaan obat antibio- tika yang terus menerus pada ternak akan menye- babkan peningkatkan residu antibiotik .

Di Indonesia, penggunaan vaksin ETEC untuk pengendalian kolibasilosis belum banyak diketahui oleh peternak .

Pengendalian kolibasilosis dengan vaksin pada sapi perah belum ada penelitian, walaupun kasus diare pada anak sapi banyak terjadi di daerah-daerah pengembangan sapi perah, seperti:

Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur . Isolat ETEC dari anak sapi lebih sedikit variasi sero- tipenya, terdiri dari E. cofi K99, F41 atau K99F41 . Isolat yang berhasil diisolasi dan didentifikasi da- pat dibuat vaksin, selanjutnya dapat diaplikasikan untuk pengendalian kolibasilosis pada anak sapi perah . Induk sapi perah divaksin pada saat bunting tua (kering kadang) . Anak sapi lahir diberi kolos- trum dan susu dari induknya akan mendapatkan zat kebal maternal dari induk segera setelah lahir (ACRESet al., 1979 ;TZIPORI, 1985) . Dengan demi- kian vaksin yang sesuai dengan kondisi peter- nakan sapi perah di Indonesia dan pola distribusi serotipe ETEC harus mengandung semua jenis antigen pili atau fimbriae K99 , F41 dan K99F41 yang berasosiasi dengan antigen somatik 09 dan Olol . Vaksin diaplikasikan pada induk sapi bun- ting atau kering kandang, 6 minggu dan di booster 2 minggu sebelum perkiraan partus . anak sapi yang lahir harus mendapat kolostrum induknya pertama kali dalam waktu 24 jam . Hal ini disesuai- kan dengan kemampuan usus untuk mengabsorpsi molekul antibodi (IgG) (STOTT et af., 1979 a,b,c ; BARBER, 1978) . Vaksin untuk pencegahan pneu- monia pada anak sapi neonatal juga dapat meng- ikuti metode ini .

KESIMPULAN

Kolibasilosis akibat infeksi ETEC diketahui se- jak lama terjadi pada anak sapi perah neonatal dan banyak menyebabkan kematian . Oleh karena itu, kolibasilosis menghambat pertumbuhan populasi sapi perah dan secara langsung atau tidak lang- sung menyebabkan kerugian ekonomi . Penyebab kolibasilosis pada anak sapi ialah bakteri E. coli yang mempunyai antigen perlekatan atau fimbriae K99 atau F41 . Bakteri tersebut sudah berhasil diisolasi dari anak sapi perderita diare dari berbagai tempat di daerah pengembangan sapi perah di pulau Jawa . Pengobatan dan pengendalian koli- basilosis di lapangan masih mengandalkan peng-

gunaan preparat antibiotika, namun hasilnya kurang baik, karena anak sapi neonatal yang ter- serang kolibasilosis cepat mati akibat dehidrasi karena diare profus . Antigen perlekatan K99 atau F41 diketahui bersifat antigenik, imunogenik dan imunoprotektif . Dengan demikian isolat ETEC yang berhasil dikumpulkan dapat dikembangkan untuk pembuatan vaksin, yang dapat dipakai un- tuk pengendalian kolibasiolosis pada anak sapi perah pada waktu yang akan datang .

DAFTAR PUSTAKA

ACRES S . D ., J . R. SAUNDERS and O.M . RADOSTITS . 1977 . Acute undifferentiated neonatal diar- rhoea of beef calves : The prevalence of E. cofi Reo-like (Rota) virus and other enteropatho- gens in cow-calf herd . Can. Vet. J. 18 : 113-

121 .

ACRES S. D., R . E . ISAACSON, L. A. BABIUK and R . A. KAPITANY. 1979 . Immunization of calves against enterotoxigenic colibacillosis by vac cinating dams with purified K99 antigen and whole cell bacterins . Infect. Immun. 25 :121- 126.

BARBER, D . M . 1978, Serum immunoglobulin status in purchase calves and performance.

Vet. Rec . 102 : 418-420 .

BOURNE F. J . 1977 . The mammary gland and neonatal immunity. Vet. Sci. Comm . 1 : 141- 151 .

BOYDJ . W. 1972. The relationship between serum immune globulin defficiency and disease in calves . A farm survey . Vet. Rec. 90 : 645- 649 .

BOYD J . W., J . R . BAKER and A. LEYLAND . 1974 . Neonatal diarrhoea in calves . Vet. Rec. 95 : 310-313.

BULGIN M . S., B. C . ANDERSON, A. C. S . WARD and J . F . EVERMANN . 1987. Infectious diarrhoea associated with neonatal calf disease in South West Idaho and Eastern Oregon . J. Am. Vet.

Med. Ass. 180: 1222-1226 .

CHANTER, N., G. A. HALL,A. P. BLAND, A. J . HAYLE and K. R. PARSON. 1986. Dysentery in calves caused by atypical strains of Escherichia cofi (S102-9) . Vet. Mikrobiol. 12 : 241-253.

CORBEIL L. B ., B. WATT,R. R.CORBEIL, T. G. BETZEN, R . K. BROWNSONand J . L.MONIL. 1984 . Immu- noglobuli n concentration in serum and nasal secretion of calves at onset of pneumonia.

Am. J. Vet. Res. 45 : 773-778 .

(6)

DAVIDSON J . M.,S . P. YANCEY, S . G. CAMPBELL and R . G. WARNER . 1981 . Relatioship between serum immunoglobulin value and incidence of respiratory disease in calves. J. Am. Vet.

Med. Ass. 179 : 708-710

DE LOPES A.G ., S . KADIs and E . B . SHOTTS JR . 1983. Enterotoxin production and resistance to antimicrobial agents in porcine and bovine Escherichia coli strains . Am. J. Vet. Res. 43 : 1286-1287 .

DEY. B. P., D. C. BLENDEN and O. MUELLER. 1983 . A spontaneous out break of colibacillosis in anti microbial-fed piglets to their response to theraphy . Prev. vet. Med. 1 : 347-356.

DIREKTORAT JENDERAL PETERNAKAN . 1993 . Buku Statistik Peternakan Indonesia . Direktorat Bina Program, Jakarta .

DORN, C. R., D. H. FRANCIS, E . J . ANGRICK, J . A.

WILGOHS, R .A .WILSON, J . E . COLINS, B .H . JENKE and S . J . SHAWD . 1993 . Characteristic of vero cytotoxin producing Escherichia coli associated with intestian colonization and diarrhoea in calves . Vet. Microbio/. 36 : 149- 159 .

EWINGS W. H. 1986. Edward and Ewings . Identi- fication of Enterobacteriaceae. (4th ed . Isevier, New York) .

GAY C. C., MCGUIRE and S. T . PARISH. 1983 . Seasona l variation in pasive transfer on immu- noglobulin G1 to new born calves J. Am. Vt.

Med. Ass. 183 : 566-568 .

GUINEE P . A. M., W. H . JANSEN, C. M. ACTERBERG . 1976 . Detectio n of K99 antigen by means of agglutination and itnmuno-electrophoreses in Escherichia coli isolated from calves and its enterotoxigenicity . Infect. lmmun. 13 : 1369- 1377 .

HAMILTON N ., J . MACLEOD and D . BUTLER . 1985 . Functional and structural responses of intes- tine to enteric infection . In Tzipori, S . (Ed) . Infectious Diarrhoea in the Young . Strategies for control in Humans and Animals. Proceed- ings of an International Diarrhoea in South East Asia and Western Pacific Region, Gee- long Australia : 165-171

KAUFFMANN F . 1944 . Zur serologic der Coli-Group . Acta PathoL Microbio/. Scand. 21 : 20-45 . KAUFFMANN F . and T. DUPONT. 1950 . Escherichia

co/i srains from infantile epidemic gastrointeri- tis . Acta Patho/. Microbio/. Scand. 27 :552- 564 .

WARTAZOA Vo1. 5 No. 1 Th. 1996

LARSON B. L., H. L. HARRY JR and J . E . DEVEY . 1980 . Immunoglobuli n production and trans- port by mammary gland . J. Dairy Sci. 63 : 665-671 .

LoVEL R. and D. L. HUGH . 1935 . Disease of young calves: A bacteriological examination of 100 calves. J. Comp. Patho/. Bact. 44 : 125-136 . MCGUIRE T. C., N. E. PFEIFFER, J . M. WEIBEL and R . C. BARTSCH . 1976 . Failure of colostral immu- noglobulin transfer in calves dying from infec tious disease .J. A. Vet. Med. Ass .

196 :713-718.

MORRIS J. A., C. H . THORNS and W. J . SOJKA . 1980. Evidence for two adhesive antigens on K99 reference strain of Escherichia coli B41 . J. Gen. Microbio/. 118 :107-113 .

MOXLEY R . A. and D . H. FRANCIS. 1986 . Natural and experimental infection with attcting and effacing strain of Escherichia coli in calves.

Infect. lmmun. 53: 339-346 .

ORSKOV I, F . ORSKOV, W. J . SOJKA and M. LEACH . 1961 . Simultaneous occurance of Escherichia coli B and L antigens in strains from disease of swine . Acta PathoL Microbio/. Scand. B:

53 : 404-422.

ORSKOV I., F . ORSKOV, H. W. SMITH and W. J . SOJKA. 1975 . The Establishment of K99 ter- molabile, transmissible Escherichia coli K an tigen previously called "Kco" possessed by calf and lamb enteropathogenic stains. Acta Patho/. Microbio% Scand. B: 31-36.

ORSKOV I . and F. ORSKOV. 1978 . Special Es- cherichia coli serotypes from enteropatho- genic in domestic animals and man . In Willinger and Weber (eds) . Escherichia coli in Domestic Animals . Proceedings of a sympo- sium during the XII Congress of Microbiology

in Munich : 7-14.

PEARSON G. R. C. A. WATSON, G. A. HALL and C . WRAY . 1989 . Natural infection with an attach- ing and effacing Escherichia coli in small and large intestine of calf with diarrhoea. Vet.

Rec. 124 : 297-299.

RADOSTITS, O. M. 1985 . A Veterinary clinician's perspective of diarrhoea on neonatal food producing anaimals. In Tzipori, S . (Ed) . Infec- tious Diarrhoea in the Young .

SACK R . B . 1975 . Human diarrhoeal disease caused by enterotoxigenic Escherichia coli.

Ann. Rev. Microbio/. 29 : 333-353

(7)

SELMAN I . E ., A. D. MCEWAN and E . W. FISHER.

1971 . Absorption of immune lactoglobulin by newborn dairy calves. Res. Vet. Sci. 12 : 205-210

SMITH H. W. 1975 . Observation on Escherichia coli infectin in calves. Dalam "Rutter J . M. (ed)" . Perinatal ill-health in calves.Proceeding of a seminar on pathology in the Commission of the European Coommunity . Program Coordi-

nation of the beef production . 7-11 .

SMITH T .and R. B. ORCUTT. 1925 . The bacteriology of the intestinal tract of young calves with special reference to early diarrhoea.J. Exp.

Med. 37 : 671-683 .

SMITH H. W. and S . HALLS. 1968 . The transmis- sible nature of genetic factor in Escherichia coli that control enterotoxin production . J.

Gen. microbioL 52 : 319-334 .

SNODGRASS D. R., H . R. TERZALO, O. SHERWOOD, I.

CAMPBELL, J . D . MENZIES and B . SYNGE. 1986 . Aetiology of diarrhoea in young calves. Vet.

Rec. 119 : 31-34

SPEICER A., and R . E. HEPP . 1973 . Facto r 'associ- ated with calf mortality in Mechigan dairy herds.J. Am. Med. Ass. 162:463-466 STOTT G. H ., D. B. MARX, B. E. MENEFEE and G.

T. NIGHTINGALE. 1979a . Colostral immuno- globulin transfer in calves : I. Period of absorp- tion . J. Dairy Sci. 62: 1632-1638 .

STOTT G. H., D. B. MARX, B . E. MENEFEE and G. T.

NIGHTINGALE . 1979b . Colostral immunoglobu- lin transfer in calves : II . The rate of absorp- tion. J. Dairy Sci. 62 : 1766-1773.

STOTT G. H ., D. B . MARX, B . E. MENEFEE and G. T . NIGHTINGALE. 1979c. Colostral immunoglobu- lin transfer in calves . III . Amount of absorp- tion . J. Dairy. Sci. 62 : 1902-1907 .

SUPAR and R.G . HIRST. 1985 . Detection of en- teropathogenic Escherichia coli in calves and pigs. Proceedings of the forth National Con gress of Indonesian Society for Microbiology and the first meeting of Asean Microbiologist, 2-4 December 1985 Jakarta, Indonesia.

SUPAR. 1986 . Penggunaan metode Enzyme linked immunosorbent assay . (ELISA) untuk deteksi antigen pili K99, K88 pada Escherichia coli dari anak sapi dan anak babi diare . Penyakit Hewan . XVII (32) : 159-168 .

SUPAR . 1990. Enteric colibacilosis in pigs (and calves) in Indonesia . PhD Thesis, James cook

University of North Queensland, Australia . SUPAR, R .G . HIRST and B. E. PATTEN . 1988 . K-ad-

hesins O-Serogroups of Escherichia coli in calves and pigs in Indonesia Proceedings of the sixth Congress of Federation Veterinary Association (FAVA) . Bali Indonesia : 479-485 . SUPAR, R .G. HIRST and B.E. PATTEN. 1989. Studies on the epidemiology of neonatal colibacillosis in food-producing animals in Indonesia . Pro ceedings of the first National Seminar on Veterinary Epidemiology. 6 December 1989, Yogyakarta Indonesia: 103-132.

TIZARD, I . 1982. An Introduction to the Veterinary Immunology . W.B. Saunder Company . Phila- delphia : 154-177.

TZIPORI . S . 1985 . A comparative study on impor- tance pathogents causing diarrhoea in calves and piglets . In Tzipori S Ed. Infectious Diar rhoea in the Young. Strategis for control in Humans and Animals . Proceeding of an Inter- national Seminar on Diarrhoeal Disease in South East Asia and Western Pacific Region, Geelong, Australia, 371-379 .

WALTNER-TOEWS D.,S . W: MARTIN and A. H. MEEK.

1986. Dairy calve management, morbidity and mortality in ontario Holtein herds . II . Age and seasonal pattern . Prev. Vet. Med. 4 : 125- 135 .

Referensi

Dokumen terkait

Penanggungjawab dan pelaksana upaya : - Memastikan waktu dan tempat pelaksanaan kegiatan sesuai kebutuhan sasaran, kegiatan - Dilaksanakan dengan metode dan teknologi yang

Sumber panas heat-source yang merupakan pemasok panas dalam sistem panas bumi Massepe diperkirakan berupa tubuh-tubuh intrusi yang diantaranya berasosiasi dengan satuan kubah lava

pelaksanaan pembelajaran dilakukan secara kelompok dan individual. Selain itu pembinaan dilakukan dengan bimtek, dan kegiatan workshop. Bentuk kerjasama pengawas

Hasil penelitian yang diperoleh adalah pertama pendistribusian dana zakat di Lembaga Manajemen Infaq didistribusikan kepada semua golongan mustahiq kecuali

Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1977 tentang Peraturan Gaji Pegawai Negeri Sipil (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1977 Nomor 11, Tambahan Lembaran Negara Republik

Hal ini menunjukkan bahwa pengaruh lama penyinaran matahari terhadap produksi padi di Kabupaten Banyuwangi hanya sebesar 40% dan sisanya dipengaruhi oleh faktor lain

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui, (1) Apakah penyampaian Surat Pemberitahuan (SPT) Masa Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 21 berpengaruh terhadap

Beberapa uraian tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa stroke hemoragik adalah salah satu jenis stroke yang disebabkan karena pecahnya pembuluh darah otak yang menyebabkan