DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA
LAPORAN KUNJUNGAN KERJA PANJA RUU TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NO. 5 TAHUN 2014 TENTANG
APARATUR SIPIL NEGARA
A. PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Undang-Undang 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara (UU No. 5 Tahun 2014 tentang ASN) merupakan undang-undang yang menggantikan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Kepegawaian sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Kepegawaian. Berlakunya UU No. 5 Tahun 2014 tentang ASN memberikan perubahan pada manajemen kepegawaian Pegawai Negeri Sipil (PNS). Perubahan itu didasarkan pada sistem yang mengedepankan prinsip profesionalisme, kompetensi, kualifikasi, kinerja, transparansi, objektivitas, serta bebas dari intervensi politik dan Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN).
Beberapa perubahan pada manajemen kepegawaian ASN tersebut antara lain:
1. Pembagian manajemen kepegawaian ASN
UU No. 5 Tahun 2014 tentang ASN belum memberlakukan sistem kepegawaian tunggal bagi para pegawai yang bekerja di instansi pemerintah. Para pegawai yang melakukan pekerjaan yang bersifat sama harus memiliki status dan perlakuan sistem kepegawaian yang sama. Akan tetapi perbedaan status dan sistem kepegawaian tersebut akan menimbulkan ketidakadilan bagi para pegawai yang sama-sama bekerja di instansi pemerintah.
2. Hilangnya status hukum bagi tenaga honorer/pegawai tidak tetap Perubahan manajemen aparatur sipil negara juga telah mengakibatkan hilangnya status hukum bagi tenaga honorer/pegawai tidak tetap yang selama ini telah mengabdi kepada pemerintah. Tidak ada satupun kebijakan yang memberikan perlindungan kepada tenaga honorer akibat perubahan manajemen tersebut yang seharusnya diatur di dalam ketentuan peralihan (overgang bepalingen).
3. Urgensi keberadaan lembaga Komisi Aparatur Sipil Negara
Menurut UU ASN, Komisi ini adalah sebuah “lembaga nonstruktural yang mandiri dan bebas dari intervensi politik”. KASN memiliki fungsi untuk melakukan mengawasi terhadap pelaksanaan norma dasar, kode etik dan kode perilaku ASN, serta penerapan sistem merit dalam manajemen ASN. Persoalannya dari ketentuan mengenai KASN ini terletak pada urgensinya. Penjelasan UU ASN sama sekali tidak menjelaskan pentingnya pembentukan lembaga nonstruktural dibandingkan, misalnya, dengan pelaksanaan tugas, fungsi, dan wewenang pengawasan dan penjatuhan sanksi yang selama ini dijalankan oleh Kementerian yang bertugas di bidang Pendayagunaan Aparatur Negara.
Sejak ditetapkan pada tanggal 15 Januari 2014 hingga saat ini, dalam pelaksanaannya UU No. 5 Tahun 2014 tentang ASN dianggap belum mampu menyelesaikan sejumlah permasalahan kepegawaian sehingga menimbulkan ketidakadilan dan kepastian hukum. DPR RI berupaya menemukan solusi terbaik dari berbagai permasalahan tersebut melalui usulan perubahan UU No. 5 Tahun 2014 tentang ASN. Hal-hal pokok inisiatif usulan DPR RI antara lain:
1) Penghapusan KASN
Pengalihan tugas, fungsi,dan kewenangan pengawasan sistem merit dari Komisi Aparatur Sipil Negara (KASN) ke Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi.
2) Penetapan kebutuhan PNS
Disertai dengan jadwal pengadaan, jumlah dan jenis jabatan yang menjadi dasar diadakannya pengadaan dan jika kebutuhan PNS belum ditetapkan, maka pengadaan PNS dihentikan.
3) Kesejahteraan PPPK
Pengaturan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK), antara lain PPPK mendapat jaminan pensiun.
4) Pengurangan ASN
Pengurangan PNS dan PPPK sebagai akibat perampingan organisasi yang menyebabkan pensiun dini secara massal. Pemerintah berkonsultasi dengan DPR berdasarkan pada evaluasi dan perencanaan pegawai.
5) Pengangkatan tenaga honorer.
Pengangkatan tenaga honorer, pegawai tidak tetap, pegawai tetap non PNS, dan tenaga kontrak yang bekerja terus menerus dan diangkat berdasarkan surat keputusan yang dikeluarkan sampai dengan tanggal 15 Januari 2014 menjadi PNS secara langsung.
Saat ini RUU ASN memasuki tahap pembahasan bersama dengan Pemerintah dalam pembicaraan tingkat I di Komisi II DPR RI. Pada perkembangan pembahasan Panja RUU ASN dengan pemerintah, terdapat isu strategis lainnya yang sepakat untuk dibahas lebih lanjut yaitu tentang digitalisasi pemerintahan. Selama ini digitalisasi pemerintahan dilaksanakan melalui e-government (e-gov) sebagaimana diatur dalam diatur dalam Instruksi Presiden No. 3 Tahun 2003 tentang Kebijakan dan Strategi
Nasional Pengembangan E-Government. Pengelolaan e-gov masih bersifat sektoral yang mengakibatkan terjadinya pemborosan anggaran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) karena pembangunan sistem dilakukan secara sendiri-sendiri dan tidak terintegrasi. Dalam rangka memperbaiki tata kelola pemerintahan agar dapat mencapai efektivitas, efisiensi, dan integrasi pemerintah telah menerbitkan Peraturan Presiden Nomor 95 Tahun 2018 tentang Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE). SPBE merupakan pengembangan dari penerapan e-gov yang mengedepankan prinsip interoperabilitas (prinsip kemampuan saling mengoperasikan). Prinsip ini menjadi penting karena memungkinkan adanya koordinasi dan kolaborasi antarproses bisnis dan antarsistem elektronik dalam rangka pertukaran data, informasi, atau layanan SPBE. Lamanya pembaruan aturan tentang pemanfaatan TIK menjadi bukti betapa lamanya kebijakan (regulasi) dapat dibangun secara utuh dan komprehensif. Oleh karena itu, dalam pembahasan RUU ASN perlu mengatur muatan tentang pemanfaatan TIK dalam manajemen ASN maupun dalam penyelenggaraan pemerintahan secara keseluruhan. UU ASN memberikan dasar hukum bagi penyelenggara negara untuk mengembangkan TIK dalam rangka meningkatkan kinerja pemerintahan dan kualitas pelayanan publik.
2. Dasar Hukum Pembentukan Panja RUU tentang Perubahan UU ASN
Pada tanggal 12 Juni 2020, pimpinan DPR RI menerima Surat Presiden Republik Indonesia Nomor R-28/Pres/06/2020, perihal Penunjukan wakil Pemerintah untuk membahas Rancangan Undang-Undang tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 5 tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara. Berkenaan dengan hal tersebut, Pemerintah menugaskan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, Menteri Keuangan, Menteri Dalam Negeri serta Menteri Hukum dan HAM baik secara sendiri-sendiri maupun bersama-sama untuk mewakili Pemerintah dalam membahas RUU tersebut. Berkaitan dengan hal tersebut, pada tanggal 3 Desember 2020, Rapat Konsultasi Pengganti Rapat Bamus DPR RI mengeluarkan Keputusan perihal penugasan kepada Komisi II DPR RI untuk membahas RUU tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 5 tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara bersama dengan pemerintah.
Menindaklanjuti hal tersebut, Komisi II DPR RI bersama dengan pemerintah telah memulai melakukan pembahasan pada tingkat 1. Dan pada tanggal 18 April 2021, Rapat Komisi II DPR RI menyepakati pembentukan Panitia Kerja untuk membahas Perubahan UU No. 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara.
3. Maksud dan Tujuan
Kunjungan kerja Panja RUU ASN dalam rangka pembahasan RUU tentang Perubahan atas UU No. 5 Tahun 2014 tentang ASN dilakukan sebagai upaya untuk mendapatkan masukan, pengayaan, dan informasi mengenai materi muatan yang akan diatur dalam RUU tersebut.
B. HASIL KUNJUNGAN KERJA
1. Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (Universitas Islam Indonesia) a) Pemaparan Narsum (Bapak Dr. Ridwan, SH., M. Hum)
1. Konsideran menimbang huruf a tertulis; “...perlu dibangun aparatur negara”, sebaiknya untuk konsistensi istilah ditulis seragam yaitu
“...perlu dibangun aparatur sipil negara”.
2. Berdasarkan Pasal 1 angka 1 UU ASN dan RUU ASN Perubahan, ASN didefinisikan sebagai profesi bagi PNS dan PPPK. Apakah tepat ASN disebut profesi?
Suatu pekerjaan disebut profesi atau profesional dengan syarat sebagai berikut:
a) Pekerjaan didasarkan pada keahlian khusus tertentu yang dilakukan secara teratur dan terus menerus. Yang bersangkutan menerima imbalan karena pekerjaan keahlian tersebut.
b) Pekerjaan profesi dipertanggungjawabkan secara individual atas dasar dan sebab-sebab keahlian menurut kaidah profesi atau standar profesi atau etika profesi.
c) Hubungan keluar pekerja profesi bersifat individual, tidak bersifat jabatan (ambtelijk) apalagi atas dasar jabatan umum (publik).
Meskipun seseorang memiliki keahlian, tetapi kalau bekerja atas dasar jabatan dan hubungan keluar bersifat jabatan, maka orang yang bersangkutan bukan dan tidak menjalankan pekerjaan atas dasar profesi atau profesional.
d) Pekerjaan profesi atau profesional tunduk pada kaidah profesi atau etika profesi atau standar profesi, dan dipertanggungjawabkan di hadapan masyarakat profesi. Karena itu, segala tindakan hukum terhadap pekerjaan profesi atau profesional harus didahului dan menunggu pendapat masyarakat profesi.1
Atas dasar syarat tersebut, sebenarnya ASN tidak dapat dikualifikasi sebagai profesi atau profesional, karena beberapa alasan; Pertama, hubungan hukum antara ASN dengan negara (pemerintah) adalah hubungan dinas publik (de openbare dienstbetrekking), hubungan hukum bersegi satu (eenjizdige) yang terjadi ketika PNS ditetapkan sebagai pegawai dengan suatu keputusan (beschikking) dan PPPK ketika menandatangani perjanjian kerja. ASN menundukkan atau mengikatkan diri pada pemerintah.2 Hubungannya bersifat jabatan (ambtelijk); Kedua, sejak diangkat sebagai ASN, PNS dan PPPK merupakan bagian dari pemerintah, yang melaksanakan pekerjaan
1 Bagir Manan, Sistem Peradilan Berwibawa, suatu Pencarian, FH UII Press, Yogyakarta, 2005, hlm. 42-43.
2 Hubungan dinas publik ini istilah yang dikemukakan oleh Logemann, yang dalam versi aslinya berikut ini; “waar iemand zich verbindt om zich de aanstelling in ambten van een min of meer bepalde sort te laten welgevallen tegenover bezoldiging en verdure persoonlijke voordelen” (dimana seseorang mengikatkan dirinya terhadap penunjukan pada suatu atau beberapa jenis jabatan/pekerjaan tertentu yang kepadanya diberikan gaji dan keuntungan pribadi lainnya). J.H.A.
Logemann, Over de Theorie van een Stellig Staatsrecht, Saksama, Jakarta, 1954, hlm. 104.
sesuai dengan misi, tujuan, dan kebijakan pemerintah. Keahlian pribadi ASN, kualifikasi akademik, dan profesionalismenya tidak lagi tuntuk pada kaidah profesi atau standar profesi. ASN bekerja sesuai dengan pekerjaan yang ditentukan pemerintah; Ketiga, syarat keahlian tertentu seperti ahli di bidang hukum, teknologi informasi, kesehatan, pendidikan, lingkungan, dan lain-lain yang ditunjukkan dengan kualifikasi akademik, bukan karena didasarkan pada pertimbangan profesi, tetapi disesuaikan dengan pelaksanaan urusan pemerintahan pada bidang-bidang tersebut menurut standar birokrasi atau kebutuhan instansi pemerintahan, bukan pertimbangan profesi; Keempat, gaji dan tunjangan diberikan bukan atas dasar profesi, tetapi atas dasar kepangkatan, masa kerja, sifat pekerjaan, dan kemampuan anggaran.
Berdasarkan alasan-alasan tersebut, sebutan ASN sebagai profesi kiranya perlu ditinjau ulang. Sesuai dengan keberadaan ASN sebagai bagian dari pemerintah atas dasar hubungan dinas publik, akan lebih tepat dengan pendefinisian: ASN adalah unsur aparatur negara (pemerintah) dan abdi masyarakat yang melaksanakan kebijakan publik, pelayanan publik, perekat dan pemersatu bangsa.
3. Redaksi “...untuk menduduki jabatan pemerintahan” yang terdapat pada Pasal 1 angka 3 ASN dan RUU ASN Perubahan, sebaiknya diubah dengan kalimat “...untuk melaksanakan tugas pemerintahan.”
Berdasarkan HTN/HAN, jabatan (ambt) adalah lingkungan pekerjaan tetap (kring van vaste werkzaamheden) yang dibentuk dan dilekati fungsi, tugas, dan kewenangan. N.E. Algra en H.C.J.G. Janssen mengartikannya dengan; “een instituut met eigen werkkring waaraan bij de instelling duurzaam en welomschreven taak en bevoegdheden zijn verleend”3 (suatu lembaga dengan lingkup pekerjaan sendiri yang dibentuk untuk waktu lama dan terhadapnya diberikan tugas dan wewenang). Fungsi, tugas, dan kewenangan jabatan itu selanjutnya dilaksanakan oleh pejabat (ambtsdrager). P. Nicolai dan kawan-kawan mengatakan bahwa kewenangan yang diberikan kepada organ pemerintahan itu harus dijalankan oleh manusia. Tenaga dan pikiran organ pemerintahan adalah tenaga dan pikiran mereka yang ditunjuk untuk menjalankan fungsi organ tersebut, yaitu pejabat dan para pegawai. Dengan kata lain, organ pemerintahan itu memerlukan seseorang untuk secara nyata melaksanakan kewenangan yang ada dalam organ pemerintahan tersebut.4
Warga negara Indonesia ketika diangkat sebagai PNS, kedudukannya sebagai pegawai (ambtenaar) dan tidak serta merta menjadi pejabat (ambtsdrager). Sebagai ambtenaar, PNS melaksanakan tugas dan pekerjaan pemerintahan. PNS dapat menjadi ambtsdrager ketika menduduki jabatan tertentu dalam struktur organisasi pemerintahan,
3 N.E. Algra en H.C.J.G. Janssen, Rechtsingang, een Orientasi in het Recht, H.D. Tjeenk Willink bv, Groningen, 1974, hlm. 175.
4 P. Nicolai, et.al., Bestuursrecht, Amsterdam, 1994, hlm. 26-27 dan L.J.A. Damen, et.al., Bestuursrecht, System, Bevoegdheid, Bevoegdheidsuitoefening, Handhaving, BJU Boom Juridische Uitgevers, Tweede Druk, Den Haag, 2005, hlm. 107.
baik sebagai Pejabat Fungsional, Pejabat Administrasi, maupun Pejabat Pimpinan Tinggi.
4. Ketentuan Pasal 1 angka 13 dan 14 sebaiknya disatukan saja, misalnya dengan redaksi; “Pejabat yang berwenang adalah pejabat pembina kepegawaian yang mempunyai kewenangan....”, karena pejabat yang berwenang dan pejabat pembina kepegawaian itu memiliki tugas dan kewenangan yang sama. Pada UU ASN disebutkan bahwa calon PNS yang telah memenuhi persyaratan diangkat oleh Pejabat Pembina Kepegawaian (PPK), namun tidak disebutkan siapa yang dimaksud dengan PPK. Dengan membaca ketentuan Pasal 53 UU ASN tampak bahwa PPK adalah Presiden, Menteri, Pimpinan Lembaga di LPNK, Sekretaris Jenderal, Gubernur, Bupati atau Walikota. Hal ini menunjukkan bahwa PPK dan Pejabat yang Berwenang itu menunjuk pada pejabat yang sama.
Dengan menyebutkan bahwa Pejabat yang berwenang adalah pejabat pembina kepegawaian, nomenklatur untuk surat keputusan (beschikking) pengangkatan, pemberhentian, atau pemberian sanksi akan menjadi jelas dan ada kepastian hukum (rechtszekerheid), termasuk ketika misalnya terjadi proses hukum di pengadilan.
5. Redaksi “mendelegasikan” pada Pasal 25 ayat (2) sebaiknya diganti dengan kalimat “melimpahkan” atau “menugaskan” sebagian kekuasaannya kepada Menteri, LAN, dan BKN. Berdasarkan UU No. 30 Tahun 2014 tentang Administrasi Pemerintahan, delegasi itu telah memiliki makna tersendiri.5 Hubungan hukum antara Presiden dengan Menteri, LAN, dan BKN adalah hubungan atasan-bawahan, sehingga penyerahan kewenangannya bukan delegasi, tetapi mandat (dari kata Latin “mandare” yaitu menugaskan atau memerintahkan).6
6. Dalam Pasal 105 ayat (2) huruf b ada kalimat “disiplin PPPK”. Apakah peraturan disiplin PPK ini telah ada atau akan dibuat tersendiri yang berbeda dengan Peraturan Displin PNS? Setelah berlaku UU ASN, Peraturan Disiplin PNS masih merujuk pada PP No. 53 Tahun 2010 tentang Disiplin PNS, belum mencakup PPPK. PP No. 53 Tahun 2010 dibuat dalam kaitannya dengan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Kepegawaian yang sudah dicabut dan dinyatakan tidak berlaku, namun peraturan pelaksanaannya masih diberlakukan. UU ASN belum memiliki peraturan pelaksanaan tentang Disiplin Pegawai, karena itu sebaiknya dipersiapkan dan dibuat yang cakupan pengaturannya meliputi PNS dan PPPK.
7. Pasal 87 dan juga Pasal 105 ayat (2) dan (3) RUU ASN Perubahan perlu ditambah dengan ayat yang berisi prosedur penjatuhan sanksi
5 Ketentuan tentang delegasi dan mandat dapat dilihat pada Pasal 13 dan Pasal 14 UU No.
30 Tahun 2014 tentang Administrasi Pemerintahan.
6 Delegasi adalah overdracht van een bevoegheid van het ene bestuursorgaan aan een ander (pelimpahan wewenang pemerintahan dari satu organ pemerintahan kepada organ pemerintahan lainnya). H.D. van Wijk/Willem Konijnenbelt, Hoofdstukken van Administratief Recht.
Vuga, s’Gravenhage, 1995, hlm. 129. Adapun mandat diartikan dengan “de bevoegdheid om in naam van bestuursorgaan besluiten te nemen” (kewenangan yang dilaksanakan untuk dan atas nama organ pemerintah yang berwenang mengambil keputusan). F.C.M.A. Michiels, Hoofdzaken van het Bestuursrecht, Derde Druk, Kluwer, Deventer, 2003, hlm. 71.
bagi PNS yang melakukan tindak pidana dengan pidana penjara.
hukuman bagi PNS karena pelanggaran terhadap Peraturan Disiplin itu mekanisme dan prosedurnya telah diatur secara jelas dalam Pasal 23 sampai 31 PP No. 53 Tahun 2010 tentang Disiplin PNS, termasuk prosedur Upaya Administratif yang diatur dalam Pasal 32 sampai 42 PP No. 53 Tahun 2010. Adapun keputusan pemberian hukuman karena PNS melakukan tindak pidana sebagaimana ketentuan Pasal 87 ayat (2), Pasal 87 ayat (4) huruf b dan d UU No. 5 Tahun 2014, Pasal 247 dan 250 huruf b dan d, serta Pasal 251 PP No. 11 Tahun 2017 tentang Manajemen Pegawai Negeri Sipil, tidak diatur mekanisme dan prosedurnya.
Karena tidak diatur mekanisme dan prosedurnya, dalam praktik menggunakan Surat Keputusan Bersama (SKB) Menteri Dalam Negeri, Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, dan Kepala Badan Kepegawaian Negara No. 128/6597/SJ, No. 15 Tahun 2018, No. 153/KEP/2018 tentang Penegakan Hukum terhadap PNS yang telah Dijatuhi Hukuman Berdasarkan Putusan Pengadilan yang Berkekuatan Hukum Tetap karena Melakukan Tindak Pidana Kejahatan Jabatan atau Tindak Pidana Kejahatan yang Ada Hubungannya dengan Jabatan.
SKB merupakan peraturan kebijakan (beleidsregel) yang dikeluarkan karena ketiadaaan peraturan perundang-undangan (geen wettelijke voorschriften bestaan atau leemten in het recht) yang mengatur tentang pemberhentian dengan hormat atau tidak dengan hormat terhadap PNS yang melakukan tindak pidana, sehingga keberadaannya ditujukan untuk mengisi kekosongan hukum. Peraturan kebijakan dibuat atas dasar diskresi, bukan atas dasar kewenangan pembuatan peraturan perundang-undangan.7
Keberadaan SKB praktiknya selama ini sering menjadi masalah. Di sisi lain, SKB sebagai beleidsregel pada dasarnya tidak dapat diberlakukan untuk pengenaan sanksi yang terkait dengan pidana. Pengenaan sanksi pidana harus memiliki legalitas atau dasar hukum dalam undang- undang. Oleh karena itu, bersamaan dengan RUU ASN Perubahan ini ada baiknya dirumuskan pasal tambahan yang berbunyi, misalnya:
(1) ASN yang melakukan tindak pidana kejahatan jabatan atau tindak pidana yang ada hubungannya dengan jabatan atau dihukum pidana penjara karena melakukan tindak pidana dengan pidana penjara paling singkat dua (2) tahun dan pidana yang dilakukan tidak berencana, dapat diberhentikan dengan hormat.
(2) ASN yang melakukan tindak pidana kejahatan jabatan atau tindak pidana yang ada hubungannya dengan jabatan atau dihukum pidana penjara karena melakukan tindak pidana dengan pidana penjara paling singkat dua (2) tahun dan pidana yang dilakukan dengan berencana, diberhentikan tidak dengan hormat.
(3) Pemberhentian ASN sebagaimana dimaksud ayat (1) dan ayat (2) ditetapkan dengan keputusan pejabat yang berwenang atas dasar putusan pengadilan yang telah memiliki kekuatan hukum tetap.
7 J.B.J.M. ten Berge, Bescherming tegen de Overheid, Derde Druk, W.E.J. Tjeenk Willink, Zwolle, 1995, hlm. 94.
Terkait dengan hukuman atas kesalahan yang mungkin dilakukan oleh ASN dalam penyelenggaraan pemerintahan dan ada unsur kerugian keuangan negara di dalamnya, perlu diperhatikan ketentuan Pasal 20 ayat (4), (5), dan (6) UU No. 30 Tahun 2014 berikut ini:
(4) Jika hasil pengawasan aparat intern pemerintah berupa terdapat kesalahan administratif yang menimbulkan kerugian keuangan negara sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf c, dilakukan pengembalian kerugian keuangan negara paling lama 10 (sepuluh) hari kerja terhitung sejak diputuskan dan diterbitkannya hasil pengawasan.
(5) Pengembalian kerugian negara sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dibebankan kepada Badan Pemerintahan, apabila kesalahan administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf c terjadi bukan karena adanya unsur penyalahgunaan Wewenang.
(6) Pengembalian kerugian negara sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dibebankan kepada Pejabat Pemerintahan, apabila kesalahan administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf c terjadi karena adanya unsur penyalahgunaan Wewenang.
Selanjutnya dalam Pasal 21 ditentukan sebagai berikut:
(1) Pengadilan berwenang menerima, memeriksa, dan memutuskan ada atau tidak ada unsur penyalahgunaan Wewenang yang dilakukan oleh Pejabat Pemerintahan.
(2) Badan dan/atau Pejabat Pemerintahan dapat mengajukan permohonan kepada Pengadilan untuk menilai ada atau tidak ada unsur penyalahgunaan Wewenang dalam Keputusan dan/atau Tindakan.
(3) Pengadilan wajib memutus permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) paling lama 21 (dua puluh satu) hari kerja sejak permohonan diajukan.
(4) Terhadap putusan Pengadilan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dapat diajukan banding ke Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara.
(5) Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara wajib memutus permohonan banding sebagaimana dimaksud pada ayat (4) paling lama 21 (dua puluh satu) hari kerja sejak permohonan banding diajukan.
(6) Putusan Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara sebagaimana dimaksud pada ayat (5) bersifat final dan mengikat.
Dalam Anotasi UU Administrasi Pemerintahan disebutkan bahwa ketentuan pasal di atas dapat disebut sebagai payung hukum bagi pejabat Tata Usaha Negara dalam melakukan tindakan administrasi pemerintah. Ketentuan tersebut juga memberikan perlindungan terhadap Badan/Pajabat TUN di dalam membuat keputusan. Hal ini tentu sesuai dengan asas pre sumptio iustae causa atau asas praduga sah (het vermoeden van rechtmatigheid), di mana dalam asas ini mengandung makna bahwa setiap tindakan penguasa selalu harus dianggap sah (rechtmatig) sampai ada pembatalannya melalui pengadilan.
Pasal 21 ini juga dapat dimaknai sebagai respon atas berbagai praktik yang mengemuka belakangan ini, dimana penegak hukum dalam memeriksa dugaan penyalahgunaan wewenang seringkali langsung mengaitkannya dengan tindak pidana. Hal ini menimbulkan
kekhawatiran bagi pejabat pemerintahan dalam membuat keputusan dan/atau tindakan, sehingga mengganggu kinerja pejabat yang bersangkutan. Disebutkan bahwa kuatnya nuansa hukum pidana itu akan menghambat inovasi dan kreatifitas pejabat pemerintahan, karena mereka takut melakukan kesalahan dalam membuat keputusan dan/atau tindakan. Padahal kesalahan itu sebenarnya masih dalam ranah kesalahan administrasi. Namun bisa saja ditafsirkan menjadi ranah tindak pidana korupsi.8
b) Pemaparan Narsum (Ibu Siti Ruhama Mardhatillah, SH., MH)
I. Pendahuluan
Negara Kesatuan Republik Indonesia dalam rangka mencapai tujuan negara memerlukan adanya sumber daya yakni aparatur sipil negara sebagai unsur aparatur negara untuk menjalankan pemerintahan9 Reformasi birokrasi sumber daya manusia aparatur negara dilaksanakan dalam aspek management kepegawaian, dimulai dengan dari perubahan paradigma dari pendekatan hak dan kewajiban individual pegawai menuju perspektif yang menitik beratkan pada management sumber daya manusia secara strategis (strategic human resource management).10 Sistem manajemen pegawai berbasis karir (career-based personnel management system) yang digunakan dalam Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 tentang Pokok- Pokok Kepegawaian diubah dengan management pegawai berbasis jabatan (position- based management system) yang menjadi best practice di Negara maju.11
Visi reformasi birokrasi bidang sumber daya manusia aparatur negara ialah terwujudnya Aparatur Sipil Negara berkelas dunia, yang memiliki kriteria professional, integritas, orientasi kepublikan, budaya pelayanan yang tinggi, serta memiliki wawasan global. Untuk mewujudkan visi reformasi birokrasi tersebut maka Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara (selanjutnya disebut dengan UU ASN) menerapkan sistem merit dalam menegemen ASN. Selanjutnya diatur dalam Pasal 1 angka 22 bahwa sistem merit adalah kebijakan dan management ASN yang berdasarkan pada kualifikasi, kompetensi, dan kinerja secara adil dan wajar
8 Muhammad Yasin, et.al., (Tim Penyusun), Anotasi Undang-undang No. 30 Tahun 2014 tentang Administrasi Pemerintahan, UI-CSGAR, Jakarta, 2017, hlm. 107-108.
9 SF. Marbun dan Moh. Mahfud MD, 2009, Pokok-Pokok Hukum Administrasi Negara, Liberty, Yogyakarta, hlm. 98.
10 Naskah Akademik Rancangan Undang-Undang tentang Aparatur Sipil Negara, hlm. 1.
11 Ibid, hlm. 7.
dengan tanpa membedakan latar belakang politik, ras, warna kulit, agama, asal usul, jenis kelamin, status pernikahan, umur, atau kondisi kecacatan. Kedudukan pegawai ASN (Pegawai Negeri Sipil dan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja) sebagai unsur aparatur, meharuskan ASN tunduk melaksanakan kebijakan yang ditetapkan oleh pimpinan dan bersifat netral dalam arti bebas dari pengaruh dan intervensi semua golongan dan partai politik.12 Hal tersebut ditujukan guna mewujudkan good governance, serta pemerintahan yang bebas dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme.13
Dalam perjalanannya, Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara masih menyisakan beberapa permasalahan yang menimbulkan ketidak adilan dan tidak tercapainya kepastian hukum. Beberapa poin permasalahan tersebut antara lain: a) Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara belum memberlakukan Sistem Kepegawaian Tunggal bagi pegawai yang bekerja pada instansi pemerintahan. Profesi ASN yang dibagi menjadi PNS dan PKKK menimbulkan ketidak adilan ditinjau dari aspek pengaturan management kepegawaian ASN; b) Undang- Undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara mengakibatkan hilangnya status hukum bagi tenaga honorer/pegawai tidak tetap. Sehingga keberadaan tenaga honorer/pegawai tidak tetap saat ini tidak memiliki payung kebijakan yang memberikan perlindungan hukum; dan c) Urgensi keberadaan Komisi Aparatur Sipil Negara. Sehingga telah muncul adanya input dan trigger problem dalam mengevaluasi UU ASN. Revisi UU ASN menjadi urgen untuk dilakukan, guna perbaikan dan menyempurnakan norma-norma management ASN.
Beranjak dari permasalahan tersebut, maka Dewan Perwakilan Rakyat mengajukan 5 (lima) pokok inisitaif usulan antara lain: 1) Penghapusan KASN; 2) Penetapan Kebutuhan PNS; 3) Kesejahteraan PPPK; 4) Pengurangan ASN; dan 5) Pengangkatan tenaga honorer. Poin-poin tersebut juga menjadi dasar penyusunan ruang lingkup dan materi muatan Penyusunan Rancangan Undang-Undang tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara.
Penulis mewakili Lembaga Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia merespon secara positif dan menyambut baik adanya rencana Penyusunan Rancangan Undang-Undang tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang
12 Pasal 9 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara
13 Ridwan dan Nurmalita Ayuningtyas Harahap, 2018, Hukum Kepegawaian, UII Press, Yogyakarta, hlm. 29
Aparatur Sipil Negara. Revisi UU ASN sebagai Proglam Legislasi Nasional (Prolegnas) Prioritas,14 menunjukkan concert DPR dalam memberikan keadilan, kemanfaatan dan kepastian hukum dalam management ASN di Indonesia.
II. Telaah Pokok Usulan Rancangan Perubahan UU ASN
Terdapat bebeberapa Undang-Undang yang perlu dianalisis dalam rangka penyusunan Rancangan Undang-Undang tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara. Revisi UU ASN antara lain:
a) Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggara Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme
b) Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik
c) Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemertintahan Daerah
d) Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2014 tentang Administrasi Pemerintahan
Merespon adanya 5 (lima) usulan inisiatif DPR dalam rangka Penyusunan Rancangan Undang-Undang tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara, maka perlu kami sampaikan beberapa pendapat akademi yang disusun dengan pendekatan konseptual (conceptual approach), pendekatan histori (historical approach) dan pendekatan peraturan-perundang- undangan (statute approach).
A. Penghapusan Komisi Aparatur Sipil Negara (KASN) Pembentukan sebuah komisi independent merupakan upaya reformasi birokrasi untuk menjaga netralitas dan profesionalitas aparatur negara. Gagasan pembentukan komisi independent merupakan amanat Undang- Undang Nomor 43 Tahun 1999 tentang Perubahan atas Undang- Undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Kepegawaian. Adanya Komisi Aparatur Sipil Negara (KASN) merupakan kesepakatan antara pemerintah dan DPR yang disetujui pada rapat paripurna DPR RI 19 Desember 2013. Pembentukan Komisi Aparatur Sipil Negara sebagai sebuah lembaga nonstruktural yang mandiri dan bebas dari intervensi politik secara legal formal didasarkan pada UU ASN.
Secara kelembagan KASN merupakan Auxiliary State’s Institution atau Auxiliary State’s Organ yang bersfungsi membantu tugas lembaga negara utama (Main State’s Organ). Keberadaan sebuah lembaga negara independent seperti KASN merupakan bagian dari pembangunan
14 https://www.dpr.go.id/uu/prolegnas
hukum dan transisi demokrasi dalam sebuah negara hukum modern. Jika ditinjau dari tugas, fungsi dan wewenang KASN yang diatur dalam UU ASN, maka dapat disimpulkan bahwa urgensi adanya KASN ini tidak lepas dari gagasan utama kebijakan management ASN yakni sistem merit. Sehingga KASN dalam menjalankan tugas, fungsi dan wewenangnya disebut pula sebagai Guardian of Merit System.
Pelaksanaan sistem merit dalam kebijakan dan management ASN pada instansi Pemerintah merupakan norma yang bersifat mengikat dan harus dijalankan.
Sehingga dalam kerangka negara hukum di mana Pemerintah berdasarkan pada Undang-Undang (wet matigheid van bestuur), maka diperlukan adanya pengawasan dalam rangka penegakkan hukum (legal enforcement).15 Sehingga kedudukan KASN berfungsi untuk mengawasi penerapat sistem merit telah tepat dan perlu untuk diperkuat.
Argumentasi bahwa pembentukan KASN tidak memiliki urgensi dan perlu untuk dihapuskan telah terpatahkan dengan capaian kinerja KASN saat ini. KASN dapat menjukkan sifat independent dan bebas dari intervensi politik, dalam laporannya berhasil mengembalikan 335 ASN pada posisi semula. Terdapat 2 (dua) hal penting yang perlu digaris bawahi atas capaian kinerja tersebut, pertama KASN memberikan perlindungan terhadap hak- hak ASN yang tercederai oleh tindakan Pejabat Pembina Kepegawaian (Menteri, Pimpinan Lembaga dan Pimpinan Daerah). Kedua, KASN bertindak mengawasi kenerja Pejabat Pembina Kepegawaian dalam menjalankan merit sistem agar melakukan tindakan penyalaggunaan wewenang.
Apabila kewenangan dari KASN untuk mengawasi sistem merit management ASN dialihkan kepada Menteri Pendayagunaan dan Aparatur Negara, maka politik hukum Pengawasan sistem merit secara independent dan bebas dari pengaruh politik tidak lagi terwujud. Hal ini mengingat bahwa Menteri merupakan jabatan yang bersifat politik.
B. Penetapan Kebutuhan PNS
Penetapaan kebutuhan ASN (PNS dan PPPK) merupakan luaran perencanaan (hetplan) dari kegiatan penyusunan kebutuhan jumlah dan jenis jabatan ASN (PNS dan PPPK) yang dilakukan berdasarkan analisis jabatan dan analisis beban kerja.16 Teknis penetapan kebutuhan ASN telah diatur dalam Peraturan Pemerintah No 11 Tahun 2017
15 Ridwan, 2020, Hukum Administrasi Negara, Rajawali Pers, Jakarta, hlm. 296.
16 Pasal 56 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara
tentang Manajemen PNS dan Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 1 Tahun 2020.
C. Kesejahteraan PPPK
Dalam praktik ditemui adanya pengangkatan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja dan ditempatkan untuk menduduki jabatan Administrasi maupun Fungsional yang sebenarnya bersifat tetap, sehingga beban kerja yang dipikul oleh PPPK sama dengan PNS. Namun Undang- Undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara memberikan hak yang berbeda kepada PNS dan PPPK, dimana PPPK tidak mendapatkan hak jaminan pensiun. Hal ini tidak selaras dengan Asas Keadilan dan Kesetaraan17 serta Asas Kesejahteraaan18 dalam UU ASN.
Perlu adanya gagasan konsep jaminan pensiun bagi PPPK karena merupakan hak atas jaminan sosial untuk dapat memenuhi kebutuhan dasar hidup yang layak sesuai dengan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional.19 Namun demikian pembentuk Undang-Undang harus memilih antara menempatkan Jaminan Pensiun dan Jaminan Hari Tua untuk dinormakan sebagai hak atau sebagai perlindungan agar tidak terdapat redudansi aturan. Dalam draft RUU Perubahan UU ASN ditemukan Jaminan Pensiun dan Jaminan hari tua ditemukan dalam 2 (dua) pengaturan yakni pada Pasal 22 dan Pasal 26.
Penggolongan jaminan pensiun dan jaminan hari tua sebagai hak, menurut hemat penulis berkorelasi dengan kewajiban negara dalam memberikan pemenuhan hak hidup sejahtera yang berkesinambungan, sebagai penghasilan hari tua serta penghargaan atas pengabdian ASN. Sedangkan hak perlindungan merupakan hak-hak yang harus dipenuhi oleh pemerintah atas resiko-resiko yang muncul ketika seseorang bekerja dan berprofesi sebagai Pegawai ASN, seperti jaminan kesehatan, jaminan kecelakaan kerja, jaminan kematian dan bantuan hukum.
D. Pengurangan ASN
17 Asas Keadilan dan Kesetaraan, yaitu bahwa pengaturan penyelenggaraan ASN harus mencerminkan rasa keadilan dan kesamaan untuk memperoleh kesempatan akan fungsi dan peran sebagai Pegawai ASN
18 Asas Kesejahteraan, yaitu bahwa penyelenggaraan ASN diarahkan untuk mewujudkan peningkatan kualitas hidup pegawai ASN
19 Badan Kepegawaian Nasional, Konsepsi Jaminan Pensiun Bagi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK), Civil Aparratus Pilicy Brief, Nomor 042-April 2021, hlm. 2-3.
Penegurangan ASN dapat terjadi akibat 2 (dua) hal, yakni perampingan organisasi dan kebijakan Pemerintah dalam rangka impelementasi Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE). Gagasan konsultasi dengan DPR merupakan usulan yang tepat, juga dalam rangka menjalankan fungsi Pengawasan DPR terhadap penyelenggaraan Pemerintahan, sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2014 tentang Majelis Permusyawaratan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah.
Selain mendasarkan pada evaluasi dan perencanaan pegawai, juga perlu disesuaikan dengan rencana strategis insntasi pemerintah kedepan setelah adanya perampingan organisasi. Di samping itu bilamana terdapat rencana penggurangan ASN akibat kebijakan impementasi SPBE, maka evaluasi dan perencanaan pegawai perlu untuk memperhatikan roadmap SPBE dan mengevaluasi integrasi penerapan SPBE. Hal ini ditujukan agar pengurangan ASN tetap memperhatikan sistem merit agar tidak mengganggu pelayanan publik.
E. Pengangkatan tenaga honorer
Tenaga honorer20 merupakan salah satu masalah kepegawaian yang belum dapat terselesaikan. Dalam kurun waktu 2005-2014 pemerintah telah mengangkat 1.070.092 tenaga honorer K1 dan K2 sebagai ASN. Pasca diundangkannya UU ASN, mekanisme pengangkatan tenaga honorer (dengan berbagai nama seperti pegawai tidak tetap, pegawai tetap non PNS) sebagai Pegawai Negeri Sipil telah resmi ditiadakan. Namun, atas dasar kewenangan pembentukan kebijakan dalam rangka menjalankan urusan Pemerintahan, praktik-praktik rekrutmen tenaga honorer oleh Pemerintah dan Pemerintah daerah masih dilakukan hingga saat ini.
Upaya Pemerintah untuk memberikan kepastian hukum ialah dengan membuka rekrutmen PPPK yang dapat diikuti oleh para tenaga honorer. Meskipun demikian muncul permasalahan di mana pekerjaan yang saat ini diisi pengawai honorer tidak tersedia dalam rekrutmen dan/atau jenis jabatan tidak dapat diisi oleh PPPK
20 Kedudukan tenaga honorer didasarkan pada Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 tentang Pokok-Pokok Kepegawaian dimana Pemerintah dapat mengangkat pegawai tidak tetap atau bukan Pegawai Negeri Sipil. Pegawai tidak tetap adalah pegawai yang diangkat untuk jangka waktu tertentu guna melaksanakan tugas Pemerintahan dan pembangunan yang bersifat teknis professional dan Administrasi sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan organisasi. Sedangkan pengertian Tenaga Honorer dalam Peraturan Pemerintah Nomor 48 Tahun 2005 tentang Pengangkatan Tenaga Honorer Menjadi Calon Pegawai Negeri SIpil adalah seseorang yang diangkat oleh Pejabat Pembina Kepegawaian atau pejabat lain dalam Pemerintahan untuk melaksanakan tugas tertentu pada instansi Pemerintah atau yang penghasilannya menjadi Beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara atau Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah.
sebagaimana telah diatur jenisnya dalam Peraturan Presiden Nomor 38 Tahun 2020 tentang Jenis Jabatan yang dapat diisi oleh Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja.
Usulan DPR terhadap pegawai tidak tetap, pegawai tetap non-PNS, dan tenaga kontrak berdasarkan surat keputusan yang dikeluarkan sampai dengan tanggal 15 Januari 2014 untuk diangkat menjadi ASN (baik sebagai PNS atau PPPK) dipandang menjadi suatu kebijakan yang dapat memberikan kepastian hukum dan menyelesaikan permasalan panjang tenaga honorer. Usulan tesebut diikuti dengan larangan Pemerintah untuk melakukan Pengadaan tenaga honorer, pegawai tidak tetap, pegawai tetap non-PNS, dan tenaga kontrak. Namun demikian, terdapat hal-hal yang perlu diperhatikan antara lain:
1) Pengangkatan tenaga honorer menjadi ASN dapat dilakukan dengan memprioritaskan masa kerja paling lama, namun perlu dilakukan dengan penilaian objektif melalui seleksi, baik seleksi administrasi dan seleksi bidang.21 Hal ini mengingat politik hukum management ASN saat ini adalah berdasarkan sistem merit serta visi presiden untuk terwujudnya ASN berkelas internasional. Serta memberikan keadilan bagi para tenaga honorer yang telah menempuh seleksi PPPK sesuai dengan ketentuan seleksi yang berlaku secara nasional.
2) Dalam pelaksanaan seleksi yang dilakukan secara terspusat oleh BKN, dimungkinkan untuk dilaksanakan teknis model seleksi yang bersifat konvensional sebagai bentuk afirmasi bagi tenaga honorer tertentu yang membutuhkan.
3) Bilamana Revisi UU ASN secara eksplisit melarang adanya pengangkatan tenaga honorer oleh Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah, maka perlu adanya jaminan bahwa kebutuhan jumlah yang telah dikaji dalam analisis jabatan dan analisis beban kerja harus ditetapkan sesuai dengan jumlah yang diserahkan oleh Pemerintah kepada KemenPAN-RB.
Karena apabila rekrutmen ASN tidak sesuai dengan kebutuhan jumlah dan jenis jabatan, resiko yang dihadapi adalah ketidakstabilan pelaksanaan urusan Pemerintahan dan penurunan kualitas pelayanan publik.
Disamping respon atas usulan inisiatif DPR, penulis memberikan telaah kritis atas konsep dan kedudukan
21 Dalam Pasal 131A RUU Perubahan UU ASN pola seleksi yang digunakan hanya seleksi Administrasi berupa verifikasi dan validasi data surat keputusan pengangkatan. Pola seleksi perlu dipertimbangkan kembali mengingat masih kentalnya praktik KKN dalam rekrutmen tenaga honorer/
tenaga kontak yang dilakukan pada instansi Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah.
PPPK sebagai pegawai ASN. Dalam Naskah akademik Rancangan Undang-Undang Aparatur Sipil Negara, konsep Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja diawali dari adanya gagasan jenis PNS baru yaitu Pegawai Negeri Tidak Tetap/Pegawai Tidak Tetap Pemerintah (contract government employee) yang menerapkan standar dan norma penggajian septi pada perusahaan moden. Tujuannya agar PNS lebih fleksible dan selalu sesuai dengan dinamika perkembangan di masyarakat, khususnya dunia.22
Jika ditinjau dari nomenklatur dapat ditemukan dalam Pasal 1 angka 4 UU ASN, bahwa Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) adalah warga negara Indonesia yang memenuhi syarat tertentu, yang diangkat berdasarkan perjanjian kerja untuk jangka waktu tertentu dalam rangka menjalankan tugas Pemerintahan.
Perjanjian kerja waktu tertentu yang digunakan dalam pengangkatan PPPK merujuk pada sistem ketenagakerjaan menurut Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 sebagaimana telah diubah dengan Undang- Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja (selanjutnya disebut dengan UU Ketenagakerjaan).
Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT) merupakan perjanjian kerja antara pekerja/buruh dengan pengusaha untuk mengadakan hubungan kerja dalam waktu tertentu atau untuk pekerjaan tertentu.23 PKWT hanya dapat dibuat untuk pekerjaan terntentu yang menurut jenis dan sifatnya atau kegiatan pekerjaannya akan selesai dalam waktu tertentu, yaktu sebagai berikut:24
a) Pekerjaan yang sekali selesai atau yang sementara sifatnya;
b) Pekerjaan yang diperkirakan penyelesaiannya dalam waktu yang tidak terlalu lama;
c) Pekerjaan yang bersifat musiman;
d) Pekerjaanyangberhubungandenganprodukbaru,kegiat anbaru,atau produk tambahan yang masih dalam percobaan atau penjajakan; atau
e) Pekerjaan yang jebis dan sifat atau kegiatannya bersifat tidak tetap.
22 Naskah Akademik Rancangan Undang-Undang tentang Aparatur Sipil Negara, hlm. 39.
23 Pasal 1 angka 10 Peraturan Pemerintah Nomor 35 Tahun 2021 tentang Perjanjian Kerja Waktu Tertentu, Alih Daya, Waktu Kerja dan Waktu Istirahat, dan Pemutusan Hubungan Kerja.
24 Pasal 59 Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja.
Jangka waktu PKWT dibuat paling lama 5 (lima) tahun.25 Sehingga UU Ketenagakerjaan secara jelas mengatur bahwa PKWT tidak dapat diadakan untuk pekerjaan yang bersifat tetap. Bilamana Sebuah PKWT diadakan untuk pekerjaan yang bersifat tetap maka demi hukum penjadi Perjanjian Kerja Waktu Tidak Tertentu. Menurut hemat penulis, PKWT dalam sistem ketenagakerjaan tidak tepat diterapkan dalam sistem kepegawaian. Terdapat beberapa permasalahan yang dapat diidentifikasi atas penggunaan PKWT dalam sistem kepegawaian: Pertama, PPPK yang diangkat menggunakan PKWT dapat mengisi Jabatan Fungsional dan Jabatan Pimpinan Tinggi Utama tertentu dan Madya Tertentu. Jika ditelaah dari kriteria Jabatan Fungsional dan Jabatan Pimpinan Tinggi yang dapat diisi oleh PPPK26 serta lebih detail disebutkan daftar jabatan funsional yang dapat diisi oleh PPPK27, jenis jabatan yang diduki dalam jangka waktu tertentu hanya Jabatan Pimpinan Tinggi yakni paling lama 5 (lima) tahun, sedangkan jabatan fungsional merupakan jabatan yang memiliki sifat tetap dengan pekerjaan yang terus menerus.
Kedua, secara konsepsi perbedaan antara PNS dan PPPK telah tepat apabila memiliki sistem management yang berbeda. Pandangan bahwa sistem management PPPK merupakan sistem yang tidak adil, diskriminatif, tidak didasarkan pada merit sistem merupakan akibat dari penempatan PPPK pada fungsi jabatan yang bersifat tetap dengan pekerjaan yang terus menerus seperti halnya PNS.
Ketiga, terdapat dua instrument hukum dalam sistem pengangkatan PPPK yakni Surat Keputusan (Keputusan Tata Usaha Negara) dan Perjanjian Kerja. Surat Keputusan Pejabat Pembina Kepegawaian digunakan sebagai dasar pengangkatan calon PPPK untuk melaksanakan tugas Pemerintahan dalam unit kerja yang ditentukan dan perjanjian kerja yang menjadi dasar hubungan kerja antara Pemerintah dan PPPK dengan jangka waktu paling singkat 1 (satu) tahun dan dapat diperpanjang sesuai kebutuhan dan berdasarkan penilaian kinerja. Sehingga PPPK tidak memiliki hubungan dinas publik dengan Negara dan pemerintah28, namun karena
25 Pasal 8 ayat (1) Peraturan Pemerintah Nomor 35 Tahun 2021 tentang Perjanjian Kerja Waktu Tertentu, Alih Daya, Waktu Kerja dan Waktu Istirahat, dan Pemutusan Hubungan Kerja
26 Lihat Pasal 4 dan 5 Peraturan Presiden Nomor 38 Tahun 2020 tentang Jenis Jabatan yang Dapat Diisi oleh Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja.
27 Lampiran Peraturan Presiden Nomor 38 Tahun 2020 tentang Jenis Jabatan yang Dapat Diisi oleh Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja.
28 Novi Savarianti Fahrani, Analisis Keberadaan Pegawai Pemerintah Non Pegawai Negeri Sipil dalam Perspektif Manajemen ASN, Civil Service, Vol. 14 No. 2, November 2020, hlm. 73.
PPPK merupakan profesi ASN maka kedudukan hukumnya dipersamakan dengan PNS yang tunduk pada hubungan dinas publik dengan Negara dan Pemerintah.29 Sehingga ada dualism aturan yang mendasari PPPK yakni UU ASN dan UU Ketenagakerjaan.
Sehingga bila gagasan dari pembentuk Undnag-Undang adalah adanya sistem kepegawaian tunggal, maka jenis jabatan yang bersifat tetap wajib diisi oleh Pegawai Negeri Sipil. Sedangkan jenis jabatan yang memiliki unsur tidak tetap dan memiliki periode waktu seperti Jabatan Pimpinan Tinggi dan Jabatan lain yang dibentuk untuk membantu fungsi Pemerintah dapat diangkat sebagai Pegawai Pemerintah dengan Surat Keputusan. Maka instrument hukum yang digunakan dalam pengangkatan ASN hanyalah Keputusan Tata Usaha Negara yang dikeluarkan oleh Pejabat Pembina Kepegawaian.
Sehingga seluruh ASN tunduk pada sebuah hubungan dinas publik30 yang menjadi dasar monoloyalitas kepada Pemerintah,31 serta kedudukan Undang- Undang ASN menjadi lex specialist dalam sistem kepegawaian.
Apabila Pemerintah berkehendak untuk memiliki Aparatur Sipil Negara berkelas dunia, yang memiliki kriteria professional, integritas, orientasi kepublikan, budaya pelayanan yang tinggi, serta memiliki wawasan global, maka yang harus diperkuat adalah Penilaian Kinerja, Pengembangan Kompetensi, Pengembangan Karir dan penegakkan Disiplin ASN. Serta pengawasan atas kinerja ASN baik secara melekat oleh atasan langsung, aparat pengawas internal pemerintah, hingga lembaga pengawas fungsional eksternal yang independent.
III. Penutup dan Rekomendasi
Penulis menyambut baik usulan inisiatif DPR dalam rangka Penyusunan Rancangan Undang-Undang tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur
29 Hubungan Dinas Publik (openbare dienstbetrekking) merupakan hubungan antara Pegawai Negeri dengan Negara, hubungan hukum kepegawaian ini merupakan hubungan subordinate antara atasan dengan bawahan. Sri Hartini dan Tedi Sudrajat, 2017, Hukum Kepegawaian di Indonesia Edisi Kedua, Sinar Grafika, Jakarta, hlm. 17.
30 Hubungan Dinas Publik adalah kewajiban bagi pegawai yang bersangkutan untuk tunduk dalam beberapa macam jabatan tertentu yang berakibat bahwa pegawai negeri yang bersangkutan tidak menolak (menerima tanpa syarat) pengangkatannya dalam satu jabatan yang telah ditentukan oleh pemerintah. Sebaliknya Pemerintah berhak mengangkat seseorang pegawai dalam jabatan tertentu tanpa harus adanya persesuaian kehendak dari yang bersangkutan. Moh. Mahfud MD, 1988, Hukum Kepegawaian Indonesia, Liberty, Yogyakarta, hlm. 3.
31 Muchsan, 1988, Pengangkatan dalam Pangkat Pegawai Negeri SIpil, Liberty, Yogyakarta, hlm. 10.
Sipil Negara. Adapun poin-poin yang perlu penulis soroti sebagai penutup dan rekomendasi antara lain:
Pertama, Penguatan pengawasan atas pelaksanaan sitem merit dalam management ASN perlu untuk dilakukan sehingga kedudukan KASN perlu dipertahankan, pengawasan sistem merit diperkuat dengan adanya konsultasi pemerintah kepada DPR atas rencana pengurangan ASN akibat perampingan organisasi maupun penerapan SPBE.
Kedua, Pengangkatan tenaga honorer menjadi ASN tetap memperhatikan sistem merit dengan penilaian objektif melalui seleksi administrasi dan seleksi bidang secara nasional oleh pemerintah pusat. Sehinggan visi presiden ASN berkelas internasional dapat terwujud.
Ketiga, Penetapaan kebutuhan ASN harus didasarkan pada kebutuhan jumlah dan jenis jabatan ASN yang dilakukan berdasarkan analisis jabatan dan analisis beban kerja.
Sehingga apabila pembentuk undang-undang hendak mengatur norma larangan Pemerintah dan Pemerintah Daerah untuk merekrut tenaga honorer/ tenaga tidak tetap, maka harus ada jaminan jumlah dan jenis formasi ASN yang dibuka dalam rekrutmem sesuai dengan perencanaan instansi Pemerintah yang membutuhkan. Agar tidak menganggu stabilisasi pelaksanaan urusan Pemerintahan dan jaminan kualitas pelayanan publik yang baik.
Keempat, Perlu adanya mengkajian ulang tentang konsep Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja. Untuk dapat memiliki sistem kepegawaian tunggal maka profesi ASN harus dianggat dengan instrumen hukum yang sama yakni Keputusan Tata Usaha Negara. Jenis jabatan yang bersifat tetap wajib diisi oleh Pegawai Negeri Sipil. Sedangkan jenis jabatan yang memiliki unsur tidak tetap dan memiliki periode waktu seperti Jabatan Pimpinan Tinggi dan Jabatan lain yang dibentuk untuk membantu fungsi Pemerintah dapat diangkat sebagai Pegawai Pemerintah dengan Surat Keputusan. Sehingga UU ASN menjadi lex specialist dalam sistem kepegawaian.
2. Provinsi Jawa Tengah (Universitas Diponegoro)
a) Pemaparan Narsum (Dr. Drs. Hardi Warsono, MTP)
1) Sistem merit dicapai melalui penegakan sistem merit. RUU menegaskan ada 3 lembaga dalam manajemen ASN yakni Menteri (PAN dan RB), LAN, serta BKN, namun lembaga KASN sebagai penjaga sistem merit hilang.
2) KASN kenapa hilang?
- Keberadaan Kementerian PAN dan RB sudah sangat lama dengan cakupan tugas dan kewenangan yang luas.
- Inisiasi sistem merit untuk melawan spoil system juga sudah dikenal lama, tetapi praktik spoil system sangat terasa sebelum lahirnya KASN.
- Pengalaman, sudah cukup banyak kegiatan dan sistem yang dikembangkan KASN untuk mengawal sistem merit.
3) Urgensi keberadaan KASN:
- Banyaknya pelanggaran dalam proses pengisian jabatan. Dalam hal ini, pengisian jabatan akan banyak didsarkan pada subjektivitas pimpinan daerah karena suka/tidak suka, dukung mendukung politik, kekerabatan, kesukuan, dan lain-lain.
- Hilangnya ketenangan ASN dalam bekerja.
- Merebaknya transaksi dalam pengisian jabatan.
- Merebaknya pelanggaran netralitas ASN.
- Hilangnya perlindungan terhadap ASN yang diperlakukan sewenang-wenang oleh Pejabat Pembina Kepegawaian di Instansi Pemerintah Pusat maupun Daerah.
- Menghambat capaian sasaran sistem merit sebagai prioritas nasional dan strategi nasional pencegahan korupsi.
- Menegaskan komitmen pemerintah untuk memperkuat kelembagaan dan kewenangan KASN.
4) Kekhawatiran bila fungsi pengawasan digabung di kementerian:
- Terjadinya tumpang tindih peran perumusan kebijakan dan pengawasan.
- Hilangnya independensi pengawasan.
- Beban Kemenpan RB semakin berat.
- Pekerjaan rumah besar Kemenpan yang belum terselesaikan hingga saat ini semakin terbengkalai. Misalnya RPP tentang gaji, RPP tentang Disiplin PNS dan PPPK; RPP tentang Kode Etik dan Kode Perilaku; RPP tentang Jabatan Fungsional yang sudah tidak relevan; RPP tentang Pembinaan Profesi ASN pada Organisasi Profesi Pegawai ASN.
5) Oleh karena itu, Narasumber memberikan beberapa catatan sebagai berikut:
- Sebaiknya dipertahankan prinsip pemisahan kewenangan pengelolaan ASN pada aspek perumusan kebijakan (Kemenpan);
manajemen ASN (BKN); litbang dan diklat profesi (LAN); dan pengawasan meritokrasi (KASN).
- Aspek pengawasan meritokrasi perlu diperkuat dengan fungsi eksekusi pada pelanggaran meritokrasi ASN, melalui pelaksanaan prinsip “quality assurance” pada pengisian JPT dari tahap standarisasi pemilihan pansel, pelaksanaan seleksi terbuka, guna memperoleh pejabat yang memiliki standar integritas, profesionalitasme dan nasionalisme sebagai simpul-simpul agen meritokrasi untuk merajut NKRI.
- Mewajibkan PPK menindaklanjuti rekomendasi pelanggaran pengisian JPT, nilai dasar, kode etik, kode perilaku, dan netralitas
ASN dengan sanksi yang jelas dan tegas apabila tidak dilaksanakan oleh PPK yang bersangkutan.
- Dukungan terhadap pemerintahan digital melalui pengembangan dan implementasi instrumen pengawasan meritokrasi secara preventif dan mandiri berbasis digital yang sudah diaplikasikan KASN yaitu SIPINTER, SIJAPTI, SINDEN, dan SIAPNET.
6) Aspirasi Akademisi: apanila pengapusan KASN merupakan sesuatu yang tidak dapat dirubah lagi, mohon fungsi pengawasan meritokrasi dapat dijamin tetap berlangsung dengan melanjutkan prinsip-prinsip yang telah dirintis dan dikawal KASN.
7) Respons atas pertanyaan mengenai penghapusan KASN:
- KASN jika belum maksimal, justru harus diperkuat perannya.
Namun, kalau sudah menjadi keputusan politik, fungsi itu harus tetap dipertahankan. Oleh karena itu, diusulkan agar sistem yang harus dibangun, tidak mempermasalahkan kelembagaannya. Bisa saja fungsi pengawasan tersebut ditempatkan di Kemenpan RB di bawah salah satu kedeputian. Namun, penting agar sistem dipertegas dan dimanfaatkan. Artinya, harus ada sistem penegakan rekomendasi KASN, ada sanksi bagi PPK yang tidak melaksanakan rekomendasi KASN.
b) Pemaparan Narsum (Prof Dr. Retno Saraswati, SH, M.Hum)
Secara umum perubahan terhadap uu dimungkinkan, dan itu harus diikuti oleh NA dan batang tubuh, termasuk uji konsep dan sosialisasi peraturan perundangan, sebagaimana yang diatur dalam UU 12 tahun 2011 tentang pembentukan peraturan perundangan.
Draf RUU sudah jadi, saya paling mengkritisi pasal per pasal yang akan direvisi dan NA yang telah disampaikan, tentang pasal KASN pasal 1 butir 19, dan kemudian diiukuti penghapusan pasal2 KASN. Menurut saya pembubaran sebuah lembaga perlu dikaji secara mendalam.
Sehingga nanti kalua KASN akan dibubarkan maka resikonya sudah dihitung. Memang ada keluhan tentang KASN, namun apakah hal tersebut mengharuskan KASN dibubarkan. Dengan demikian pengawasan system merit, efektif atau tidak bila muncul pembubaran KASN. Karena bagaimanapun juga kelahiran KASN untuk mengawasi system merit karena pengawasan ASN yang dilakukan kementerian di waktu lalu ternyata tidak efektif.
Bagaimanapun juga kita harus berpikir bahwa efektitas tersebut pengawasan itu terukur dengan masalah kepentingan. Sayangnya di NA
tidak dijelaskan secara gamblang pembubaran KASN. Hal ini terkait dengan proses checks and balalnces dalam pelaksanaan system merit sebagaimana menjadi ruh dari UU ASN ini. Yang juga penting apabila pembubaran KASN disepakati secara politik, maka jangan sampai ASN tidak independen sehingga dalam mengacaukan kehidupan birokrasi, stake holder ASN tidak dirugikan bila KASN dibubarkan. Jangan sampai nanti kalau KASN dibubarkan maka pejabat di pemerintah akan terafilisasi secara politik. Artinya, yang perlu disadari kembali bahwa beradaan KASN ingin agar rakyat dilibatkan dalam pemerintahan, sebagai wujud Negara demokratis.
Harapan kita setiap UU ada semacam penegak hukumnya , tapi kalau sudah jadi, jangan lagsung dibubarkan, karena KASN adalah akselerasi untuk mewujudkan tujuan Negara. Karena checks and balances penting agar semua proses birokrasi dan pelayanan public tidak menjadi bagian dari partai politik.
Terkait Kebutuhan pegawai pasal 87, PPPK dan PNS tidak ada diskriminasi, karena di UNDIP juga ada pegawai non PNS, saya setuju.
Tidak ada diskriminasi terhadap PPPK, UU ini membatasi PPPK diangkat ke PNS per 15 januari 2014. Pemerintah daerah tidak boleh mengangkat PPPK yang dibolehkan adalah pemerintah pusat. Hanya faktanya di UNDIP, dalam proses pelayanan terdahap civitas akademika kita tidak bisa hanya mengandalkan PNS tidak bisa, karena kita butuhnya 100 tapi formasi yang diberi cuman 30. Jadi tidak bisa mengandalkan PNS.
Karena ada yang pensiun dan ada yang meninggal karena covid. Kecuali kebutuhan pengadaan PNS sesuai dengan jumlah formasi yang diajukan, baru kita bisa ngga usah bicara pegawai pemerintah non PNS. Karena Undip juga membayar pegawai tetap yang dibayar oleh Undip sendiri.
Sehingga kadang-kadang kita mengangkat pegawai kontrak untuk membantu proses pelayanan public, dan hal tersebut jelas membantu kinerja, kita FH kemarin mengajukan formasi sebanyak 10 tapi hanya diberi 1, karena pengadaan kan hak pemeritnah, bukan kami. Yang perlu diperhatikan keberadaan Pegawai Non PNS itukan didanai oleh keuangan sendiri bukan APBN, ini kan membantu pemerintah. Kalau
diperluas lagi semua itu untuk memikul beban Undip dari pemetintah yang besar, yang menginginkan Undip menjadi world class university. Dan untuk mewujudkan itu kita membituhkan SDM yang besar.
c) Pemaparan Narsum (Ika Riswanti Putranti, S.H., M.H., Ph.D) 1) PENGHAPUSAN KASN
- Praktik mengenai KASN dapat melihat perbandingan di beberapa negara seperti Australia, Singapura dan Jepang. Bagaimana cara kerja KASN ini dalam menyelenggarakan meritokasi atau Merit Sistem.
- Penghapusan menganai KASN sebaiknya dipertimbangkan ulang mengingat nafas dari reformasi birokrasi adalah transparency, predictability, integrity, dan accountability.
- Perlu adanya legal certainty dalam pembinaan pola karir ASN untuk dapat mendorong peningkatan performance dalam birokrasi yang bebas dari intervensi yang bersifat politik dan impartial : - Sebelum dilakukan pembahasan terkait dengan perubahan RUU
ASN perlu dilakukan suatu kajian empiris mengenai bagaimana pengaruh keberadaan KASN terhadap peningkatan efisiensi dan efektvitas birokrasi dan layanan public.
- Kajian empiris ini tidak hanya memotret situasi dan kondisi birokrasi namun juga memotret pendapat user, customer internal dan external, sehingga bisa didapatkan suatu data yang komprehensif yang bisa dijadikan sebagai satu bahan dalam pengambilan keputusan.
- Kajian empiris perlu dilakukan secara hati-hati dan mendalam melibatkan akademisi maupun ahli yang terkait.
- Salah satu fungsi yang dijalankan oleh KASN adalah untuk membentuk sistem Meritokrasi dalam birokrasi.
- Meritokrasi memperkuat gagasan kesetaraan dan kompetensi karena menolak patronase, nepotisme, korupsi, dan ketidakmampuan untuk menempati jabatan di pegawai negeri.
Dalam konteks kepegawaian, meritokrasi biasanya dibahas dalam kaitannya dengan praktik rekrutmen dan promosi.
2) PENETAPAN KEBUTUHAN PNS
- Dalam hal penetapan kebutuhan PNS perlu dimasukan pertimbangan forecasting kebutuhan jabatan dalam birokrasi yang terus dinamis dan terus berkembang.
- Jabatan yang kosong sebaiknya ditelaah kembali apakah masih dibutuhkan atau tidak sehingga dalam penetapan kriteria rekrutmen juga memperhatikan kebutuhan organisasi kedepan.
- Penetapan kebutuhan PNS ini harus didasarkan kepada satu perhitungan statistic yang valid bukan hanya berdasarkan
“business as usual” untuk itu meskipun secara teknis tidak perlu diatur didalam UU, namun perlu di atur secara jelas prinsip dalam penetapan kebutuhan ini sehingga tidak menjadikan pengadaan PNS terkesan hanya sebagai sistem input menggantikan PNS yang telah purna namun memang berdasarkan kepada kebutuhan yang sudah dihitung dengan cermat.
3) KESEJAHTERAAN
- Dalam kesejateraan terutama terkait dengan PPPK memang perlu untuk ditelaah, karena sistem PPPK ini sebenarnya sangat merugikan birokrasi terutama dalam pembinaan pola karir dan loyalitas kepada organisasi.
- Konsep kesejahteraan yang inkonstitusional dalam PPPK perlu untuk segerah dibenahi, dimana ASN dengan jenis dan beban pekerjaan namun mendapatkan reward dan pola karir yang berbeda.
- Konsep PPPK yang tidak memberikan jaminan kepastian mengenai masa depan dan pola karir sangat tidak cocok untuk beberapa bidang jabatan fungsional tertentu salah satunya dosen.
- Hal ini akan sangat mengganggu dalam pembentukan budaya kerja organisasi.
4) PENGURANGAN
- Pengurangan PNS harus dilakukan dengan suatu tahapan proses assessment dan kajian yang mendalam sehingga tidak menimbulkan sengketa yang merugikan.
- Payung hukum pengurangan PNS juga harus dirancang dengan hati-hati supaya kedepan tidak dijadikan sebagai alat politik praktis dalam birokrasi.
5) PENGANGKATAN HONORER
- Dalam hal pengangkatan tenaga honorer menjadi ASN perlu diperhatikan beberapa jenis jabatan fungsional tertentu yang tidak bisa begitu saja diangkat menjadi PPPK, seperti contohnya dosen yang telah mengabdi sebagai dosen kontrak di Perguruan Tinggi Negeri.
- Dengan diangkatnya seorang dosen menjadi PPPK yang hanya dikontrak dalam jangka waktu tertentu, semisal 1 tahun kemudian diperpanjang kembali menurut kebutuhan organisasi, hal ini sebenarnya sangat merugikan organisasi itu sendiri.
- Karena seorang dosen pola karirnya dibentuk oleh waktu, pengalaman, dan kepakaran bidang. Dengan adanya ketidakpastian dalam pola karir akan sangat menghambat pengembangan jabatan dosen yang sangat dibutuhkan untuk akreditasi institusi.
- Pengangkatan tenaga honorer juga perlu belajar dari tahun 2005 yang kemudian menimbulkan permasalahan
- Seperti apa dan bagaimana jika harus dilakukan maka harus dilakukan kajian, jika tidak dilakukan kajian dan proses pengangkatannya dilakukan tanpa asesmen maka akan menjadi beban birokrasi saja dikemudian hari.
C. KESIMPULAN
1. Pembubaran KASN merupakan hal yang bersifat politik, tetapi perlu dilakukan pengkajian terkait hal tersebut. Perlunya melihat perbandingan di beberapa negara seperti Australia, Singapura dan Jepang. Bagaimana cara kerja KASN ini dalam menyelenggarakan meritokasi atau Merit Sistem.
2. Fungsi pengawasan terhadap sistem merit harus tetap ada meskipun kewenangan tersebut tidak lagi dilakukan oleh KASN. Sistem yang sudah dibangun kemudian perlu diperkuat untuk menjaminnya terselenggaranya sistem merit.
3. Terkait subyektifitas kepala daerah dalam birokrasi, perlu dikaji kembali apakah pembina kepegawaian tetap berada pada kepala daerah atau dapat diberikan kepada sekretaris daerah yang selama ini mengelola sumber daya manusia di daerah sehingga dapat menghilangkan subyektifitas dalam birokrasi terutama saat dilakukannya promosi jabatan.
4. Sistem remunerasi atau penggajian terhadap ASN perlu dilakukan pengkajian kembali sehingga tidak ada lagi ASN yang mendapatkan hak yang tidak sebanding dengan tanggung jawab yang diemban oleh ASN tersebut.
5. Pengangkatan tenaga honorer perlu dikaji kembali terkait dengan tata cara dan persyaratan tersebut, sebaiknya tetap dilakukan dengan assessment sehingga dikemudian hari tidak menimbulkan permasalahan dalam birokrasi.
D. PENUTUP
Demikian laporan hasil kegiatan Panja RUU tentang Perubahan Atas UU No.
5 Tahun 2014 tentang ASN dalam rangka menerima masukan, pandangan, pencerahan terkait pembahasan RUU ASN yang tengah bergulir di DPR RI.
Kepada semua pihak yang membantu terselenggaranya kegiatan-kegiatan Panja RUU ASN Komisi II DPR RI, kami mengucapkan terima kasih.
Jakarta, November 2021 Ketua Panja RUU ASN Komisi II DPR RI