• Tidak ada hasil yang ditemukan

SKRIPSI. Disusun Oleh : Eric Sandi Yudha

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "SKRIPSI. Disusun Oleh : Eric Sandi Yudha"

Copied!
85
0
0

Teks penuh

(1)

i

PRACTICE PADA PT. SURYA TOTO INDONESIA, TBK UNIT CIKUPA

Disusun Oleh : Eric Sandi Yudha

151.02.1025

JURUSAN TEKNIK INDUSTRI FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI INSTITUT SAINS & TEKNOLOGI AKPRIND

YOGYAKARTA 2020

(2)

ii

(3)

iii

(4)

iv

(5)

v

(6)

vi

HALAMAN MOTTO

“Kesempatan tidak datang dua kali, tapi kesempatan datang kepada siapa yang tidak pernah berhenti mencoba”

(Dzawin Nur Ikram)

“Sesungguhnya sesudah kesulitan ada kemudahan”

(QS. Al Insyirah : 5-6)

“Jangan membandingkan hidup anda dengan orang lain.

Tidak ada perbandingan antara matahari dan bulan mereka bersinar saat waktunya tiba”

“Mengeluh hanya akan membuat hidup kita semakin tertekan sedangkan bersyukur akan senantiasa membawa kita pada jalan kemudahan”

(7)

vii Skripsi ini saya persembahkan untuk:

1. Kedua orang tua yang saya cintai, Papah dan Mamah yang telah memberikan doa, nasihat dan menjadi penyemangat dalam penyusunan skripsi ini. Terima kasih untuk kasih sayang dan semua yang telah diberikan hingga saya bisa menjadi seperti sekarang.

2. Adik saya tercinta, Kelvin Syahdana yang selalu menyemangati dan membuat saya selalu ingin belajar lebih agar dapat menjadi kakak panutan yang baik.

3. Yoga Gawer, Dimas Samid dan Rangga Kemon terima kasih sudah menjadi teman baik sejak 2012 sampai saat ini.

4. Erwin Nurfida, Dian Sekarini, Raffi Annafi, Sindu Candra Rio Silvano, Wista Wulandari Abdussalam dan Amanda Khairunnisa yang memberikan semangat dan membantu dalam pengerjaan skripsi ini.

5. Teman-teman Himpunan Mahasiswa Teknik Industri dan angkatan 2015 yang mengalami masa perkuliahan bersama.

(8)

viii

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala rahmat dan hidayah-Nya, sehingga penyusunan skripsi dengan judul “EVALUASI KUALITAS KOMPONEN BODY CLOSET DUDUK TYPE CW 420 J DENGAN METODE TOYOTA BUSINESS PRACTICE PADA PT. SURYA TOTO INDONESIA, TBK UNIT CIKUPA” dapat diselesaikan dengan baik.

Adapun tujuan dari penulisan skripsi ini adalah dalam rangka memenuhi salah satu syarat utama untuk menyelesaikan pendidikan Strata 1 (S-1) Teknik Industri, Fakultas Teknologi Industri Institut Sains & Teknologi AKPRIND Yogyakarta.

Banyak petunjuk, bimbingan dan bantuan serta fasilitas yang telah penulis peroleh dari berbagai pihak dalam penyusunan Skripsi ini, sehingga pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan rasa hormat serta mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:

1. Bapak Dr. Ir. Amir Hamzah, M.T. selaku Rektor Institut Sains & Teknologi AKPRIND Yogyakarta.

2. Bapak Dr. Toto Rusianto, S.T., M.T. selaku Dekan Fakultas Teknologi Industri Institut Sains & Teknologi AKPRIND Yogyakarta.

3. Ibu Endang Widuri Asih, S.T., M.T. selaku Ketua Jurusan Teknik Industri.

4. Bapak Ir. Joko Susetyo, MT. selaku Dosen Pembimbing I yang telah membimbing dan mengarahkan dalam penyusunan skripsi.

5. Bapak Drs. Petrus Wisnubroto, M.Si. selaku Dosen Pembimbing II yang telah membimbing dan mengarahkan dalam penyusunan skripsi.

6. Bapak Imam Sodikin, S.T, M.T. selaku Dosen Penguji yang telah membimbing dan mengarahkan dalam penyusunan skripsi.

7. Bapak Ruhyadi selaku HRD PT Surya Toto Indonesia, Tbk Unit Cikupa yang telah memberikan izin penelitian dan data-data yang dibutuhkan peneliti.

8. Bapak Sugiarto selaku Asisten Manajer, Mas Oji dan Mas ari selaku Operator dan juga pembimbing di Perusahaan, serta segenap Karyawan PT Surya Toto

(9)

ix

Penyusun sangat menyadari bahwa penulisan skripsi ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, penulis mengharapkan saran dan kritik yang membangun supaya dalam penyusunan laporan berikutnya dapat menjadi lebih sempurna. Akhir kata, penulis berharap semoga skripsi ini dapat berguna bagi semua pihak yang membutuhkan.

Yogyakarta. Februari 2020

Penulis

(10)

x

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PENGESAHAN ... ii

SURAT PERNYATAAN ... iv

SURAT KETERANGAN ... v

HALAMAN MOTTO ... vi

HALAMAN PERSEMBAHAN ... vii

KATA PENGANTAR ... viii

DAFTAR ISI ... x

DAFTAR TABEL ... xii

DAFTAR GAMBAR ... xiii

DAFTAR LAMPIRAN ... xiv

INTISARI ... xv

ABSTRACK ... xvi

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Perumusan Masalah ... 4

C. Batasan Masalah ... 4

D. Tujuan Penelitian ... 4

E. Manfaat Penelitian ... 5

BAB II LANDASAN TEORI ... 6

A. Tinjauan Pustaka ... 6

B. Landasan Teori ... 12

BAB III METODE PENELITIAN ... 25

A. Objek dan Subjek Penelitian ... 25

B. Metode Pengumpulan Data ... 25

C. Tahap Penelitian ... 26

D. Diagram Alir Penelitian ... 28

BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA ... 31

A. Pengumpulan Data ... 31

(11)

xi

1. Peta Kendali P ... 40

2. Memperjelas Masalah ... 43

3. Tahap Perincian Masalah ... 44

4. Tahap Penentuan Target ... 45

5. Tahap Analisis Akar Masalah ... 46

6. Tahap Pengembangan Tindakan Perbaikan ... 49

BAB V PEMBAHASAN ... 51

A. Analisis Peta Kendali P ... 51

B. Analisis Toyota Business Practicess ... 52

1. Memperjelas Masalah ... 52

2. Tahap Perincian Masalah ... 52

3. Tahap Penentuan Target ... 53

4. Tahap Analisis Akar Masalah ... 53

5. Tahap Pengembangan Tindakan Perbaikan ... 55

BAB VI KESIMPULAN ... 60

A. Kesimpulan ... 60

B. Saran ... 61 DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

(12)

xii

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 State Of The Art ... 11

Tabel 4.1 Data Produksi CW 420 J ... 38

Tabel 4.2 Data Proporsi Kecacatan ... 39

Tabel 4.3 Perhitungan Peta Kendali P ... 40

Tabel 4.4 Perbaikan Cacat Retak ... 49

Tabel 4.5 Peraikan Cacat Body Kurang ... 50

Tabel 4.6 Perbaikan Cacat Lubang Kecil ... 50

(13)

xiii

Gambar 2.3 Contoh Fishbone Diagram ... 18

Gambar 2.4 Toyota Business Practicess ... 21

Gambar 4.1 Peta Kendali P ... 42

Gambar 4.2 Tahap Klarifikasi Masalah ... 43

Gambar 4.3 Tahap Breakdown Masalah ... 44

Gambar 4.4 Diagram Pareto ... 45

Gambar 4.5 Penentuan Target ... 46

Gambar 4.6 Fishbone Diagram Cacat Retak ... 47

Gambar 4.7 Fishbone Diagram Cacat Body Kurang ... 48

Gambar 4.8 Fishbone Diagram Cacat Lubang Kecil ... 49

(14)

xiv

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 ...

A. Perhitungan Data Proporsi Kecacatan ...

B. Perhitungan Central Line (CL) ...

C. Perhitungan Upper Control Limit (UCL) ...

D. Perhitungan Lower Control Limit (LCL) ...

Lampiran 2 Contoh Cacat Closet Duduk Type CW 420 J ...

(15)

xv Pembimbing I : Ir. Joko Susetyo, M.T.

Pembimbing II : Drs. Petrus Wisnubroto, M.Si INTISARI

PT Surya Toto Indonesia, Tbk unit Cikupa merupakan perusahaan yang bergerak dalam bidang sanitary wares. Komponen body closet duduk type CW420J sering sekali ditemukan banyaknya cacat yang mencapai 20% dari jumlah produksi. Untuk mengatasi permasalahan tersebut serta mendapatkan hasil yang optimal diperlukan usulan-usulan peraikan guna memperbaiki kualitas produk pada proses produksi komponen body closet duduk type CW420J. Toyota Business Practice dapat digunakan dalam meningkatkan produktifitas dan meminimalisir kecacatan guna mencapai kualitas produk yang optimal.

Kajian ini dilakukan untuk mengidentifikasi masalah yang terjadi, melakukan perincian masalah yang diprioritaskan, menetukan target perbaikan, menentukan faktor – faktor penyebab terjadinya masalah menggunakan fishbone diagram dan menentukan usulan perbaikan.

Berdasarkan hasil pengolahan Toyota Business Practicess menunjukan adanya gap antara keadaan aktuan dan ideal dengan perbedaan gap mencapai 13.676 unit. Sebanyak 64% cacat yang terjadi pada proses forming, diantaranya cacat retak 25%, body kurang 20% dan lubang kecil 19%. Target yang akan dicapai yaitu pada proses forming harus lebih ditingkatkan lagi fokus pada pekerja dalam pemasangan bidang sambung, pengerjaan body dan pengaturan valve pada mesin forming. Faktor penyebab terjadinya masalah dari cacat retak yaitu faktor metode, manusia, mesin dan lingkungan. Dari cacat body kurang yaitu faktor metode, mesin dan manusia. Dari cacat lubang kecil yaitu faktor mesin dan material. Perbaikan dalam mengatasi masalah yang terjadi yaitu bidang sambung harus dalam keadaan bersih pada saat pemasangan rim dengan body, pemberian lem harus cukup, mengatur jarak antar body, pekerja harus selalu berhati-hati, lebih teliti dan mengikuti prosedur kerja, pengaturan valve harus sesuai standar yang sudah ditetapkan dan melakukan pembersihan valve secara rutin.

Kata Kunci: Toyota Business Practicess, Kualitas Produk, Fishbone Diagram.

(16)

xvi

QUALITY EVALUTION COMPONENTS BODY OF SEATED CLOSET CW 420 J TYPE WITH TOYOTA BUSINESS

PRACTICESS METHOD IN PT. SURYA TOTO INDONESIA, TBK CIKUPA UNIT

Advisor I : Ir. Joko Susetyo, M.T.

Advisor II : Drs. Petrus Wisnubroto, M.Si

ABSTRACT

PT Surya Toto Indonesia, Tbk Cikupa unit is a company engaged in the field of sanitary wares. Components of the body closet type CW420J are often found with defects reaching 20% of the total production. To overcome these problems and obtain optimal results, improvement proposals are needed to improve the quality of the product in the production process of the body closet type CW420J. Toyota Business Practice can be used in increasing productivity and minimizing defects in order to achieve optimal product quality

This study was conducted to identify problems that occurred, to do details of prioritized problems, to determine the target of the improvement, determining the factors that cause problems using the fishbone diagram and determine the proposed improvement.

Based on the results of the processing Of Toyota Business Practicess indicates there is a gap between the state of the land and Ideal agreement with Gap reaches 13,676 units. As Much as 64% of defects occurred in the formingprocess, including the crack defects 25%, body less 20% and small holes 19%. The Target to be achieved is that the forming process must be further improved focus on the worker in the installation of the connecting fields, workmanship body and valve arrangement in the formingmachine. Factors causing problems of cracking defects are factors such as method, human, machine and environment. From less body defect ie method factor, machine and man.

From small hole defects are machine and material factors. Improvement in addressing the problem that occurs ie the Connect field must be clean when installing the Rim with the body, giving glue should be sufficient, adjusting the distance between the body, workers must always be careful, more thorough and follow the procedure work, valve settings must conform to predefined standards and perform the valve cleaning routinely.

Keywords: Toyota Business Practices, Product Quality, Fishbone Diagram.

(17)

1

Seiring perkembangan zaman, persaingan industri manufaktur dengan segmen pasar yang sama semakin tidak dapat terhindarkan.

Persaingan pasar yang terjadi bukan hanya di dalam negeri melainkan juga di luar negeri. Untuk dapat bersaing dan merebut pasar, produsen harus mampu mengoptimalkan kinerja produktivitas yang ada. Cara terbaik adalah dengan meningkatkan kualitas produk-produk yang dihasilkan.

Kualitas merupakan salah satu faktor yang menjadi pertimbangan konsumen dalam memilih produk.

PT. Surya Toto Indonesia, Tbk unit Cikupa adalah perusahaan yang memproduksi Sanitary Wares seperti closet, westafel, bathub, urinoir dan lain-lain, yang mengutamakan kualitas produk-produk yang dihasilkannya.

Produk yang dihasilkan dipasarkan secara lokal maupun ekspor. Untuk mendapatkan kualitas produk-produk yang baik perusahaan menerapkan inspeksi secara bertahap. Salah satu produk yang dihasilkan adalah produk closet duduk type CW420J. Penelitian ini memilih closet duduk type CW420J dikarenakan produk closet duduk type CW420J ini paling diminati konsumen indonesia maupun pasar asia, dengan total produksi terbanyak dibanding produk lainnya. Closet duduk type CW420J itu sendiri ada dua komponen, yaitu body dan header. Permintaan dari perusahaan akan kualitas dan standar komponen body dan header closet

(18)

2

duduk type CW420J yang tinggi, sering kali tidak dapat terpenuhi oleh bagian produksi. Dikarenakan banyaknya defect (cacat) yang dihasil produksi komponen body mencapai 20% dari jumlah produksi, dan untuk standar cacatnya sendiri hanya 5% dari jumlah produksi. Jika masalah ini dibiarkan saja, maka perusahaan akan mengalami kerugian yang sangat besar.

Penyelesaian masalah yang sesuai dengan permasalahan pada PT.

Surya Toto Indonesia, Tbk unit Cikupa adalah dengan mengetahui penyebab terjadinya kecacatan komponen body closet duduk type CW420J dan memberikan evaluasi perbaikan dalam proses produksi. Dalam penelitian ini metode yang digunakan antara lain Toyota Business Practice, checksheet, diagram pareto dan fishbone diagram. Dalam peneletian ini Toyota Business Practices berperan untuk mengidentifikasi dan mencari solusi yang dilakukan secara bertahap dan digunakan untuk menyelesaikan masalah dan memberikan usulan perbaikan (Kinanthi dan Suhardi, 2015). Toyota Business Practices juga metode yang sistematis, terarah, jelas, detail dan fokus ke penyelesaian akar masalah yang dihadapi, serta lebih mudah dipahami.

Metode Toyota Business Practice dibandingkan dengan metode lainnya dalam analisis dan improvisasi masalah adalah memiliki kelebihan pada framework yang sudah terstruktur, sistematis, efektif dan terarah.

Namun kelemahan dari Toyota Business Practice ini yaitu metodenya kurang terperinci dan kurang familiar. Biasanya Toyota Business Practice

(19)

hanya digunakan untuk perusahaan-perusahaan besar khususnya di perusahaan Toyota. Sedangkan checksheet, diagram pareto dan fishbone diagram dapat digunakan untuk mengidentifikasi masalah dan mempersempit ruang lingkup masalah tersebut serta menemukan faktor penyebab terjadinya masalah. Dalam hal menganalisis akar-akar masalah pada penelitian ini menggunakan fishbone diagram untuk mengetahui akar masalah, sehingga dapat membuat tindakan pencegahan yang tepat untuk meminimumkan penyebab masalah, sehingga kerugian yang sama tidak akan muncul lagi.

Metode Toyota Business Practice masih sangat bergantung pada keahlian dari pemakainya,dikarenakan metodenya yang masih sangat bebas. Oleh karena itu dalam penelitian ini akan menggunakan tools checksheet, diagram pareto dan fishbone diagram yang akan dipadukan dengan metode Toyota Business Practice sehingga dapat menghasilkan output penyelesaian masalah yang lebih detail, terstruktur, dan lebih mudah dipahami.

Perbaikan kualitas dan produktivitas dengan metode Toyota Business Practice, checksheet, diagram pareto dan fishbone diagram yang terintegrasi diharapkan akan mampu meningkatkan produktivitas, sehingga dapat membantu meningkatkan produktifitas dan memberikan solusi untuk permasalahan yang dihadapi oleh PT. Surya Toto Indonesia dalam memproduksi komponen body closet duduk type CW420J.

(20)

4

B. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukakan di atas, maka dapat dirumuskan pokok permasalahannya yaitu bagaimana evaluasi untuk memperbaiki kualitas produk pada proses produksi komponen body closet duduk type CW420J dengan metode Toyota Business Practice.

C. Batasan Masalah

Batasan masalah yang ada di dalam penelitian ini antara lain sebagai berikut:

1. Dari kedelapan tahapan di Toyota Business Practice, hanya lima tahapan Toyota Business Practice yang dilakukan dalam penelitian ini yaitu tahap klarifikasi masalah, perincian masalah, menentukan target, analisis akar masalah, dan pengembangan tindakan perbaikan.

Langkah lainnya yaitu melaksanakan penanggulangan, evaluasi hasil dan standarisasi dan tindak lanjut.

2. Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah checksheet, diagram pareto, dan fishbone diagram.

D. Tujuan Penelitian

1. Mengidentifikasi kecacatan yang terjadi pada komponen body closet duduk type CW420J.

(21)

2. Melakukan perincian kecacatan yang menjadi prioritas dari beberapa masalah yang ada.

3. Menentukan target perbaikan yang akan dilakukan.

4. Menentukan faktor-faktor penyebab terjadinya masalah.

5. Menentukan evaluasi perbaikan kualitas komponen body closet duduk type CW420J yang cacat.

E. Manfaat Penelitian

1. Dapat mengetahui perbandingan antara masalah kondisi ideal dan kondisi aktual.

2. Mengetahui jenis-jenis cacat yang terjadi beserta lokasi kejadian produksi.

3. Dapat menyimpulkan masalah kecacatan yang menjadi prioritas permasalahan.

4. Dapat menentukan strategi untuk melakukan perbaikan guna peningkatan kualitas komponen body closet duduk type CW420J.

5. Menjadi pertimbangan perusahaan untuk melakukan tindakan perbaikan.

(22)

6 BAB II

LANDASAN TEORI

A. Tinjauan Pustaka

Tinjauan pustaka dilakukan dengan mengkaji beberapa penelitian terdahulu sebagai berikut:

1. Dodik Ariyanto, (2010), dalam penelitiannya yang berjudul

“Implementasi Toyota Business Practice (TBP) Dalam Analisis Peningkatan Akurasi Sistem Manajemen Material”. Penelitian ini dilakukan atas permasalahan yang terjadi pada PT. Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN). Masalah yang terjadi yaitu adanya kekurangan atau penumpukan material, dan belum ada sistem penjadwalan yang tepat dalam hal pasokan material. Berdasarkan beberapa tahap yang dilakukan untuk menganalisis permasalahan akurasi, diketahui bahwa line yang memiliki tingkat akurasi rendah terdapat pada line PTC-ED (94,65%) dan line Top Coat (4,8%).

Sedangkan pada line PTC-ED, material yang memiliki akurasi terkecil adalah material F1 (pigmen) dengan tingkat akurasi 69,45%.

Permasalahan tersebut menjadi pertimbangan peneliti untuk membuat sebuah sistem yang mudah dalam hal pengoperasian dan pengontrolan serta memiliki tingkat akurasi yang tinggi terkait material. Berdasarkan analisis peneliti dalam implementasi TBP, diperoleh hasil berupa solusi untuk permasalahan berupa perubahan checksheet baru, yang berisi penjelasan berupa keterangan pilihan waktu, simbol A-Z,

(23)

formula perhitungan, kolom pengisian Bulk, kolom total dan kolom ringkasan kebutuhan material dalam satu bulan.

2. Ayu Puji Lestari, (2015), dalam peneletiannya yang berjudul

“Peningkatan Kepuasan Pelanggan Kendaraan Komrsial Dengan Toyota Business Practice Tools Di Auto 2000 Puri Kembangan”.

Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan nilai kepuasan pelanggan di Auto 2000 Purikembangan Komersial. Dalam penilitian ini terdapat analisa secara detail menggunakan Toyota Business Practice Tools untuk mengetahui indikator apa yang menyebabkan penilaian kepuasan pelanggan di Auto2000 Puri kembangan Komersial tidak sesuai standar pelayanan yaitu Satisfied > 90% dan Dissatisfied <

1.5 %. Latar belakang masalah yang ada bersumber dari data keluhan pelanggan harian dan bulan berupa Customer Satisfied Level sebagai performance cabang. Dari berbagai keluhan dan harapan pelanggan ini kemudian di eliminasi dengan melihat permasalahan yang mendominasi terhadap tingkat kepuasan pelanggan. Analisa dalam menentukan penyebab pelayanan yang tidak sesuai dengan target menggunakan Cause and Effect Diagram untuk menentukan rootcause. Kemudian hasil dari analisa ini digunakan untuk melakukan improvement agar pelayanan menjadi sesuai standar dan harapan pelanggan terpenuhi.

3. Petra Radite, dkk (2015), dalam penelitiannya yang berjudul

“Implementasi Toyota Business Practices (TBP) Pada Permasalahn

(24)

8

Proses Produksi Industri Karak Rumahan”. Permasalahan dalam penelitian ini yaitu pada saat musim penghujan, produsen karak mengalami kesulitan untuk memenuhi permintaan konsumen karena banyak karak yang tidak kering atau kering dengan kualitas buruk, seperti karak menjadi berjamur. Selain itu, dari segi kualitas geometri karak yang dihasilkan pun tidak seragam. Ketidakseragaman geometri karak tersebut disebabkan oleh cara pemotongan balok yang melintang dengan kemiringan tertentu yang dilakukan secara manual. Rumusan masalah pada penelitian ini adalah bagaimana mengimplementasikan Toyota Business Practice untuk memperbaiki produktivitas dan kualitas karak di industri karak tradisional. Penelitian ini mengembangkan framework dari Toyota Business Practices. Selain Toyota Business Practices, pada pengolahan data akan disisipkan juga Seven Tools, dan Fault Tree Analysis dalam framework TBP. Dari hasil pengolahan data yang telah dilakukan, dihasilkan beberapa tindakan perbaikan yaitu dengan mengoptimalkan area penjemuran, membuat konsep desain alat bantu pengering karak, dan membuat alat bantu pemotongan yang berupa pisau potong dan jig pemotongan karak.

4. Muhammad Ivanto, (2013), dalam penelitiannya yang berjudul

“Pengendalian Kualitas Produksi Koran Menggunakan Seven Tools Pada PT. Akcaya Pariwara Kabupaten Kubu Raya”. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis dan faktor penyebab produk

(25)

cacat dan mendapatkan solusi dalam meningkatkan kualitas surat kabar dengan menggunakan seventools. Seven tools ini meliputi checksheet, flow chart, histogram, control chart, pareto diagram, scatter diagram dan cause and effect diagram. Hasil dari check sheet, diperoleh jenis cacat koran adalah warna yang rusak, kertas rusak, terpotong dan kotor. Berdasarkan analisis diagram kontrol p dan c menunjukkan bahwa prosesnya tidak terkontrol dengan baik. Ini bisa dilihat pada bagan kontrol di mana masih banyak data outlier. Berdasarkan diagram Pareto, perbaikan prioritas yang perlu dilakukan adalah jenis cacat yang dominan yaitu warna buram (30,94%), kotor (26,45%), dan potong (23,28%). Berdasarkan diagram sebar menunjukkan korelasi positif antara persentase kecacatan dan jumlah produksi. Berdasarkan analisis diagram sebab dan akibat penyebab cacat berasal dari manusia, produksi mesin, proses kerja, dan bahan / bahan baku itu sendiri.

Sehingga perusahaan dapat melakukan pencegahan dan peningkatan untuk meminimalkan cacat dan meningkatkan kualitas produk.

5. Gea Gita Rismahardi, (2012), dalam penelitiannya yang berjudul

“Aplikasi Fsihbone Analysis Dalam Meningkatkan Kualitas Pare Putih Di Aspakusa Makmur Kabupaten Boyolali”. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil usahatani pare putih, menganalisis masalah, menganalisis faktor yang berpengaruh, menganalisis faktor penyebab paling dominan, dan merumuskan tindakan perbaikan yang paling tepat untuk dilakukan Aspakusa Makmur dalam meningkatkan

(26)

10

kualitas pare putih. Metode penelitian yang digunakan deskriptif analitis. Penentuan lokasi dan key informants secara sengaja (purposive) yaitu di Aspakusa Makmur. Jenis data yang digunakan adalah data primer dan sekunder. Teknik pengumpulan data dengan cara observasi, indepth interview, dan pencatatan. Metode analisis data yang digunakan adalah check sheet, pareto chart, dan fishbone analysis. Berdasarkan hasil penelitian diketahui profil usahatani pare putih di Aspakusa Makmur meliputi pembenihan, pembibitan, budidaya, panen, pasca panen dengan R/C rasio sebesar 1,5 berarti efisien dan layak dijalankan. Permasalahan paling dominan yaitu bintik (50,76%). Faktor yang mempengaruhi kualitas pare putih adalah manusia, metode, bahan baku, dan lingkungan. Faktor paling dominan yang mempengaruhi kualitas pare putih adalah faktor manusia.

Tindakan perbaikan yang disarankan untuk faktor manusia yaitu pemeriksaan lebih teliti secara rutin, petugas lebih teliti dalam penataan pare putih dalam krat dan proses wrapping, mengecek kembali buah yang dibrongsong serta membuang buah cacat, penggunaan polybag saat pengangkutan

State of the art digunakan untuk menganalisa penelitian yang pernah dilakukan sebelumnya, menggunakan konsep yang sejalan dan hampir sama dengan penelitian sekarang. Kemudian penulis dapat melihat sejauh mana penelitian sebelumnya yang pernah dilakukan yang

(27)

berkaitan dengan penentuan jumlah produksi dengan Toyota Business Practicess. Adapun State Of The Art peneliti berikut ini:

Tabel 2.1 State of The Art

No Judul/Tahun Penulis TBP FTA 7 Tools

1

Implementasi Toyota Business Practice (TBP) Dalam Analisis Peningkatan

Akurasi Sistem Manajemen Material/ 2010

Dodik Ariyanto

2

Peningkatan Kepuasan Pelanggan Kendaraan Komrsial Dengan Toyota Business Practice Tools Di Auto 2000 Puri Kembangan/

2015

Ayu Puji Lestari

. .

3

Implementasi Toyota Business Practices (TBP) Pada Permasalahn Proses Produksi Industri Karak

Rumahan/ 2015

Petra Radite

4

Pengendalian Kualitas Produksi Koran Menggunakan Seven Tools Pada PT. Akcaya Pariwara Kabupaten Kubu Raya/

2013

Muhammad

Ivanto

5

Aplikasi Fsihbone Analysis Dalam Meningkatkan Kualitas Pare Putih Di Aspakusa Makmur Kabupaten Boyolali

Gea Gita

Rismahardi

6

Evaluasi Kualitas Produk Closet Duduk Type CW420J

Dengan Metode Yoyota Business Practice Pada PT.

Surya Toto Indonesia, Tbk Unit Cikupa/ 2019

Eric Sandi

Yudha

(28)

12

B. Landasan Teori 1. Kualitas

Pengertian atau definisi kualitas mempunyai cakupan yang sangat luas, relatif, berbeda-beda dan berubah-ubah. Sehingga definisi dari kualitas memiliki banyak kriteria dan sangat bergantung pada konteksnya terutama jika dilihat dari sisi penilaian akhir konsumen dan definisi yang diberikan oleh berbagai ahli serta dari sudut pandang produsen sebagai pihak yang menciptakan kualitas. Konsumen dan produsen itu berbeda dan akan merasakan kualitas secara berbeda pula sesuai dengan standar kualitas yang dimiliki masing-masing. Begitu pula para ahli dalam memberikan definisi dari kualitas juga akan berbeda satu sama lain karena mereka membentuknya dalam dimensi yang berbeda. Oleh karena itu, definisi kualitas dapat diartikan dari dua perspektif, yaitu dari sisi konsumen dan dari sisi produsen (Russel, 1996). Namun pada dasarnya konsep dari kualitas sering dianggap sebagai kesesuaian, keseluruhan ciri-ciri atau karakteristik suatu produk yang diharapkan oleh konsumen.

Para ahli yang lainnya yang bisa disebut sebagai para pencetus kualitas juga mempunyai pendapat yang berbeda tentang pengertian kualitas, diantaranya kualitas menurut Juran, (1993) dalam Nasution, (2001) adalah kecocokan penggunaan produk (fitness for use) untuk memenuhi kebutuhan dan kepuasan pelanggan. Kecocokan penggunaan itu didasarkan pada lima ciri utama berikut:

(29)

a) Teknologi, yaitu kekuatan atau daya tahan.

b) Psikologis, yaitu citra rasa atau status.

c) Waktu, yaitu kehandalan.

d) Kontraktual, yaitu adanya jaminan.

e) Etika, yaitu sopan santun, ramah dan jujur.

Kecocokan penggunaan suatu produk adalah apabila produk mempunyai daya tahan penggunaan yang lama, meningkatkan citra atau status konsumen yang memakainya, tidak mudah rusak, adanya jaminan kualitas dan sesuai etika bila digunakan. Khusus untuk jasa diperlukan pelayanan kepada pelanggan yang ramah, sopan serta jujur sehingga dapat menyenangkan atau memuaskan pelanggan.

Menurut Crosby, (1979) dalam Nasution, (2001), Kualitas adalah conformance to requirement, yaitu sesuai dengan yang disyaratkan atau distandarkan. Suatu produk memiliki kualitas apabila sesuai dengan standar kualitas yang telah ditentukan. Standar kualitas meliputi bahan baku, proses produksi dan produk jadi.

Kualitas menurut Garvin, (1988) dalam Nasution, (2001), adalah suatu kondisi dinamis yang berhubungan dengan produk, manusia/

tenaga kerja, proses dan tugas, serta lingkungan yang memenuhi atau melebihi harapan pelanggan atau konsumen. Selera atau harapan konsumen pada suatu produk selalu berubah sehingga kualitas produk juga harus berubah atau disesuaikan. Dengan perubahan kualitas produk tersebut, diperlukan perubahan atau peningkatan keterampilan

(30)

14

tenaga kerja, perubahan proses produksi dan tugas, serta perubahan lingkungan perusahaan agar produk dapat memenuhi atau melebihi harapan konsumen. Meskipun tidak ada definisi mengenai kualitas yang diterima secara universal, namun dari ke lima definisi kualitas di atas terdapat beberapa persamaan, yaitu dalam elemen-elemen sebagai berikut:

a) Kualitas mencakup usaha memenuhi atau melebihi harapan pelanggan.

b) Kualitas mencakup produk, jasa manusia, proses dan lingkungan.

c) Kualitas merupakan kondisi yang selalu berubah (misalnya apa yang dianggap merupakan kualitas saat ini mungkin dianggap kurang berkualitas pada masa mendatang).

Kualitas yang baik menurut sudut pandang konsumen adalah jika produk yang dibeli tersebut sesuai dengan keinginan. Memiliki sifat yang sesuai dengan kebutuhan dan setara dengan pengorbanan yang dikeluarkan oleh konsumen. Apabila kualitas produk tersebut tidak dapat memenuhi keinginan dan kebutuhan konsumen, maka mereka akan menganggapnya sebagai produk yang berkualitas jelek.

Kualitas produk merupakan segala sesuatu yang diinginkan dan dikehendaki pelanggan. Oleh karena itu, produk atau jasa yang dihasilkan harus terjangkau harganya dan kualitasnya bagus, sehingga pelanggan puas dan tetap loyal terhadap produk atau jasa yang dihasilkan, tanpa mengurangi nilai profit perusahaan. Berdasarkan hal

(31)

tersebut, maka produk atau jasa yang dihasilkan harus selalu dikendalikan sehingga selalu sesuai dengan permintaan pelanggan.

Menurut Heizer dan Render (2006) dalam melakukan pengendalian kualitas produk, ada beberapa tools yang dapat membantu proses perbaikan pengendalian kualitas produk antara lain : a) Check sheet

Check Sheet adalah media berupa lembaran (sheet) kertas atau juga dapat juga berupa lembaran digital di file excel yang berisi subyek yang harus diperiksa (check) secara rutin dengan tujuan data dapat dengan mudah dikumpulkan dan cukup ringkas serta dapat lebih menjamin keteraturan pengumpulan dan pencatatan data secara sederhana. Adapun manfaat dari pemakaian check sheet yaitu : 1) Memudahkan proses pengumpulan data terutama untuk

mengetahui bagaimana sesuatu masalah sering terjadi.

Kemudahan ini akan berdampak pada efisiensi dalam pengumpulan data.

2) Memudahkan pemilahan data ke dalam kategori yang berbeda seperti penyebab-penyebab, masalah-masalah dan lain-lain.

Data-data yang telah terpilah secara rinci yang dikumpulkan dengan menggunakan check sheet, sekaligus memudahkan pengolahan lebih lanjut untuk memberikan gambaran tentang faktor-faktor yang relevan dengan persoalan yang sedang dihadapi.

(32)

16

3) Memudahkan penyusunan data secara otomatis, sehingga data itu dapat dipergunakan dengan mudah.

4) Memudahkan pemisahan antara opini dan fakta.

Sumber : www.wordpress.com

Gambar 2.1 Contoh Check Sheet b) Diagram Pareto

Diagram pareto adalah grafik balok dan grafik baris yang menggambarkan perbandingan masing-masing jenis data terhadap keseluruhan. Dengan memakai diagram Pareto, dapat terlihat masalah mana yang dominan sehingga dapat mengetahui prioritas penyelesaian masalah. Fungsi diagram pareto adalah untuk mengidentifikasi atau menyeleksi masalah utama untuk peningkatan kualitas dari yang paling besar ke yang paling kecil.

Adapun manfaat dari diagram pareto yaitu :

1) Dapat memilah masalah utama/besar menjadi bagian yang lebih kecil sehingga dapat fokus pada upaya perbaikannya

(33)

2) Mengidentifikasidan mengurutkan menurut prioritas atau faktor yang paling signifikan,

3) Memungkinkan pemanfaatan yang lebih baik sumber daya yang terbatas

Sumber : www.wordpress.com

Gambar 2.2 Contoh Diagram Pareto c) Fishbone Diagram

Fishbone diagram adalah alat Quality Control yang dipergunakan untuk meng-identifikasikan dan menunjukkan hubungan antara sebab dan akibat agar dapat menemukan akar penyebab dari suatu permasalahan. Cause and Effect Diagram dipergunakan untuk menunjukkan Faktor-faktor penyebab dan akibat kualitas yang disebabkan oleh Faktor-faktor penyebab tersebut.Karena bentuknya seperti Tulang Ikan, Cause and Effect Diagaram disebut juga dengan Fishbone Diagram (Diagram Tulang Ikan). Adapun manfaat dari Fishbone diagram yaitu :

(34)

18

1) Membantu mengidentifikasi akar penyebab dari suatu masalah 2) Membantu membangkitkan ide-ide untuk solusi suatu masalah 3) Membantu dalam penyelidikan atau pencarian fakta lebih lanjut 4) Mengidentifikasi tindakan (bagaimana) untuk menciptakan

hasil yang diinginkan dan menghasilkan pemikiran baru

Sumber : www.wordpress.com

Gambar 2.3 Contoh Fishbone Diagram d) Peta Kontrol P

Peta kontrol p (pengendali proporsi kesalahan) merupakan salah satu peta kendali atribut yang digunakan untuk mengendalikan bagian produk cacat dari hasil produksi. Pengendali proporsi kesalahan (p-chart) digunakan untuk mengetahui apakah cacat produk yang dihasilkan masih dalam batas yang disyaratkan atau tidak. Control chart selalu terdiri dari tiga garis horisontal, yaitu:

1) Garis pusat (center line), garis yang menunjukkan nilai tengah (mean) atau nilai rata-rata dari karakteristik kualitas yang di- plot-kan pada peta kendali.

(35)

2) Upper control limit (UCL), garis di atas garis pusat yang menunjukkan batas kendali atas.

3) Lower control limit (LCL), garis di bawah garis pusat yang menunjukkan batas kendali bawah.

Dengan control chart, kita dapat menarik kesimpulan tentang apakah variasi proses konsisten (dalam batas kendali) atau tidak dapat diprediksi (di luar batas kendali karena dipengaruhi oleh special cause of variation, yaitu variasi yang terjadi karena faktor dari luar sistem). Berikut adalah rumus untuk mencari CL, UCL dan LCL pada peta kontrol P menurut Hendy (2015).

Langkah Pembuatan Peta Kendali P

1) Hitung untuk setiap subgrup nilai proporsi unit yang cacat, yaitu :

...(1) keterangan:

p = proporsi kesalahan dalam setiap sampel

x = banyaknya produk yang salah dalam setiap sampel n = banyaknya sampel yang diambil dalam inspeksi

2) Hitung nilai rata-rata dari p, yaitu p dapat dihitung dengan :

̅

...(2) 3) Hitung batas kendali CL, UCL dan LCL dari peta kendali p :

̅ ...(3)

(36)

20

̅ √ ̅ ̅ ...(4)

̅ √ ̅ ̅ ...(5) Keterangan:

UCL = Upper Control Limit / Batas Pengendalian Atas LCL = Lower Control Limit / Batas Pengendalian Bawah 4) Plot data proporsi unit cacat serta amati apakah data tersebut

berada dalam pengendalian atau diluar pengendalian.

2. Toyota Business Practice

Toyota Business Practice merupakan pola sistematis proses kerja yang mengintegrasikan kebijaksanaan dari semua anggota Toyota dalam mengejar pertumbuhan secara terus-menerus dan mengejar kepuasan (Saleh, 2010). Oleh karena itu, penyelesaian permasalahan dalam Toyota dilakukan secara sistematis, agar pada akhirnya setiap hasil dari suatu proses dapat diikuti dan dicontoh. Untuk menjadi suatu perusahaan yang menarik bagi masyarakat, Toyota selalu melanjutkan perkembangannya dengan menerapkan TBP untuk memecahkan suatu masalah.

Menurut Osono, (2008) dalam Santi, (2016), langkah-langkah dalam Toyota Business Practice merupakan penjabaran dari Plan (rencana), Do (mengerjakan), Check (memeriksa), dan Action (tindakan).

(37)

Sumber : www.wordpress.com

Gambar 2.4 Toyota Business Practice

Berikut merupakan suatu cara atau metode pemecahan masalah dari metode Toyota Business Practice, yaitu :

a) Memperjelas masalah (Clarify the problem)

Dalam tahap ini, akan diperjelas masalah yang telah dipilih untuk dipecahkan dan menunjukkan masalah tersebut sebagai gap. Gap sendiri merupakan antara kondisi ideal dan kondisi aktual yang terjadi. Antara kondisi ideal dan kondisi aktual tersebut harus terkuantifikasi atau dapat terukur.

b) Breakdown masalah (Breakdown the problem)

Break down the problem merupakan tahap pemecahan masalah yang telah dipilih dari berbagai sudut pandang. Pemecahan masalah akan lebih mudah dalam mencari fokus masalah jika menggunakan prinsip 4W 1H (What, When, Who, Where, How).

(38)

22

c) Menetapkan target (Setting target)

Setelah melakukan tahap break down dengan benar, maka akan dengan mudah menentukan target untuk menyelesaikan masalah.

Target yang ditentukan haruslah spesifik dan terukur.

d) Analisis Akar Masalah (Root Cause Analysis)

Pada tahap ini, masalah yang sudah ditentukan menjadi masalah prioritas akan dianalisa lebih lanjut untuk mengidenfitikasi akar dari masalah tersebut. Prinsip dari tahap ini adalah setiap masalah pasti akan memberikan dampak (effect), namun masalah tersebut pasti disebabkan oleh suatu masalah atau hal lainnya (cause). Hal yang harus dilakukan adalah dengan mencari penyebab dari suatu masalah, sampai ditemukannya penyebab utama atau akar dari permasalahan tersebut (Wirahadi dan Rahardjo, 2015).

e) Merencanakan penanggulangan (Develop Countermeasure)

Pada tahap ini, langkah yang dilakukan adalah membuat usulan perbaikan atau perencanaan perbaikan baik jangka panjang maupun jangka pendek. Countermeasure atau tindakan perbaikan yang diusulkan merupakan pengembangan dari root cause analysis yang dikembangkan menjadi sebuah tindakan atau aktivitas yang menyelesaikan akar permasalahan yang telah ditemukan.

f) Pelaksanaan penanggulangan

penanggulangan dilaksanakan sesuai rencana yang telah dibuat pada langkah merencanakan penanggulangan. Perlu dilakukan

(39)

koordinasi dengan pihak-pihak yang terkait dengan masalah ini.

Setelah itu dilakukan evaluasi terhadap hasil tiap sub-aktivitas.

Untuk mempermudah dalam visualisasi pelaksanaan penanggulangan bisa menggunakan alat bantu berupa Checksheet dan diagram pareto.

g) Evaluasi hasil dan proses

Dalam langkah ini dilihat hasil total yang telah dicapai. Selain itu dilihat juga dampak yang ditimbulkan dari aktivitas dalam penyelesaian masalah ini terhadap faktor-faktor lainnya. Aktivitas yang dilakukan pada saat mengevaluasi hasil dan proses antara lain :

1) Periksa hasil dengan menggunakan tolok ukur yang sama (tool, satuan, periode waktu).

2) Evaluasi pula efek samping yang tidak diharapkan baik dalam bentuk quality, cost, delivery, safety, dan lain-lain).

3) Buat ringkasan tentang keuntungan yang diperoleh dari hasil improvement.

4) Bila hasil penanggulangan kurang memuaskan, periksa kembali rencana kerjanya.

h) Standarisasi proses yang berhasil

Bila dari hasil evaluasi diperoleh bahwa rencana tercapai maka dibuat standardisasi dari sistem tersebut. Bila dari hasil evaluasi ternyata ada penyimpangan, maka dibuat tindakan koreksi dari

(40)

24

pemecahan masalah ini. Dalam melakukan standardisasi terdapat tiga proses yang perlu dilakukan, yaitu menetapkan keberhasilan sebagai standar yang baru (standardisasi), sharingyokoten (keberhasilan), dan memulai keizen (perbaikan) selanjutnya.

Adapun beberapa hal yang perlu diperhatikan saat membuat standar, yaitu :

1) Pengamatan standar perlu dilakukan secara teratur.

2) Perlu adanya legalisasi sampai kepala departemen apabila standar tersebut sudah dapat diterapkan.

3) 5 W 1 H (Why, What, Who, When, Where, dan How) harus jelas.

(41)

25 A. Objek dan Subjek Penelitian

Penelitian dilakukan di PT. Surya Toto Indonesia, Tbk Unit Cikupa, terletak di jalan Aria Jaya Sentika No. 1, Bojong, Cikupa, Tangerang, Banten yang bergerak dibidang Sanitary Wares dengan objek yang diteliti banyaknya cacat dalam proses produksi komponen body closet duduk type CW420J.

B. Metode Pengumpulan Data

1. Metode Pengumpulan Data Primer

a. Metode observasu yaitu dengan melakukan pengamatan secara langsung pada perusahaan atau pengambilan data.

b. Metode wawancara yaitu dengan melakukan wawancara kepada bagian pihak yang berwenang pada perusahaan terkait kebutuhan penelitian, yaitu divisi departemen produksi.

2. Metode Pengambilan Data Sekunder

Data sekunder yang diperoleh dari bagian produksi yaitu data banyaknya produksi dan banyaknya kecacatan produksi. data tersebut akan digunakan sebagai input peta kendali p untuk mengetahui apakah cacat produk yang dihasilkan masih dalam batas yang disyaratkan atau tidak.

(42)

26

C. Tahap Penelitian

Tahapan yang harus dilakukan pada penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Studi Pendahuluan

Permasalahan yang terjadi di PT. Surya Toto Indonesia, Tbk Unit Cikupa yaitu salah satunya banyaknya cacat pada proses produksi komponen body closet duduk type CW420J. Penyelesaian masalah yang sesuai dengan permasalahan tersebut adalah dengan mengetahui penyebab terjadinya kecacatan produksi komponen body closet duduk type CW420J dan memberikan evaluasi perbaikan dalam proses produksi.

2. Studi Literatur

Studi literatur dilakukan dengan mempelajari beberapa penelitian sebelumnya sebagai berikut :

a. Ariyanto, D., 2010, “Implementasi Toyota Business Practicess (TBP) Dalam Analisis Peningkatan Akurasi Sistem Manajemen Material”. Skripsi. Institut Pertanian Bogor.

b. Ivanto, M., 2013, “Pengendalian Kualitas Produksi Koran Menggunakan Seven Tools Pada PT. Akcaya Pariwara Kabupaten Kubu Raya”, Jurnal Tin Universitas Tanjungpura, Universitas Tanjungpura, Kalimantan Selatan.

c. Leastari, A. P., 2015, “Peningkatan Kepuasan Pelanggan Kendaraan Komersial Dengan Toyota Business Practicess Tools Di Auto2000 Puri Kembangan”. Skripsi. Universitas Bina Nusantara.

(43)

d. Radite, P., Priadythama,I., dan Fahma,F., 2015, “Implementasi Toyota Business Practicess (TBP) Pada Permasalahan Proses Produksi Karak Rumahan”. Performa (2015) Vol. 14, No 2: 157- 162. Universitas Sebelas Maret, Surakarta.

e. Rismahardi, G, G., 2012, “Aplikasi Fishbone Analysis Dalam Meningkatkan Kualitas Pare Putih Di Aspakusa Makmur Kabupaten Boyolali”. Jurnal Agrista Fakultas Pertanian.

Universitas Sebelas Maret Surakarta.

3. Pengumpulan Data

Adapun pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini : a. Data jumlah produksi.

b. Data jumlah cacat.

c. Data jenis cacat.

4. Pengolahan Data

Setelah data terkumpul selanjutnya dilakukan pengolahan data, yaitu : a. Tahap klarifikasi masalah.

b. Tahap perincian masalah.

c. Tahap menetapkan target d. Tahap analisis akar masalah

e. Tahap pengembangan tindakan perbaikan.

(44)

28

5. Pembahasan

Data yang telah diolah selanjutnya dilakukan analisia untuk mengetahui usulan perbaikan yang tepat dalam proses produksi komponen body closet duduk type CW 420 J.

6. Kesimpulan dan saran

Kesimpulan dan Saran merupakan pernyataan singkat, padat, dan jelas mengenai hasil dari analisis yang dilakukan, supaya mendapatkan hasil yang ingin dicapai, dan memberikan kritik yang membangun.

D. Diagram Alir Penelitian

Studi Pendahuluan

Studi pendahulu dilakukan untuk melihat permasalahan yang terjadi dengan observasi dan wawancara dengan karyawan PT. Surya Toto Indonesia, Tbk unit Cikupa guna memahami tentang objek yang teliti.

Mulai

A

(45)

A

Studi Literatur

1. Leastari, A. P., 2015, “Peningkatan Kepuasan Pelanggan Kendaraan Komersial Dengan Toyota Business Practice Tools Di Auto2000 Puri Kembangan”. Skripsi. Universitas Bina Nusantara.

2. Ariyanto, D., 2010, “Implementasi Toyota Business Practice (TBP) Dalam Analisis Peningkatan Akurasi Sistem Manajemen Material”. Skripsi.

Institut Pertanian Bogor.

3. Ivanto, M., 2013, “Pengendalian Kualitas Produksi Koran Menggunakan Seven Tools Pada PT. Akcaya Pariwara Kabupaten Kubu Raya”, Jurnal Tin Universitas Tanjungpura, Universitas Tanjungpura, Kalimantan Selatan.

4. Radite, P., Priadythama,I., dan Fahma,F., 2015, “Implementasi Toyota Business Practicess (TBP) Pada Permasalahan Proses Produksi Karak Rumahan”. Performa (2015) Vol. 14, No 2: 157-162. Universitas Sebelas Maret, Surakarta.

5. Rismahardi, G, G., 2012, “Aplikasi Fishbone Analysis Dalam Meningkatkan Kualitas Pare Putih Di Aspakusa Makmur Kabupaten Boyolali”. Jurnal Agrista Fakultas Pertanian. Universitas Sebelas Maret Surakarta.

Tujuan Penelitian

1. Mengidentifikasi kecacatan yang terjadi pada produksi komponen body closet duduk type CW420J.

2. Melakukan perincian kecacatan yang menjadi prioritas dari beberapa masalah yang ada.

3. Menentukan target perbaikan yang akan dilakukan.

4. Menentukan faktor-faktor penyebab terjadinya masalah.

5. Menentukan evaluasi perbaikan kualitas produk komponen body closet duduk type CW420J yang cacat.

6.

B

(46)

30

B

Pengumpulan Data 1. Data jumlah Produksi

2. Data jumlah cacat 3. Data jenis cacat

4. Wawancara dan observasi penyebab terjadinya kecacatan

Pengolahan Data 1. Tahap klarifikasi masalah.

2. Tahap perincian masalah menggunakan framework dengan menyisipkan diagram pareto.

3. Tahap menetapkan target.

4. Tahap analisis akar masalah menggunakan fishbone diagram.

5. Tahap pengembangan tindakan perbaikan.

Analisis Hasil dan Pembahasan

Kesimpulan dan Saran

Selesai Manfaat penelitian

1. Dapat mengetahui perandingan antara masalah kondisi ideal dan kondisi aktual.

2. Mengetahui jenis-jenis cacat yang terjadi beserta lokasi kejadian produksi.

3. Dapat menyimpulkan masalah kecacatan yang menjadi prioritas permasalahan.

4. Dapat menentukan strategi untuk melakukan perbaikna guna peningkatan kualitas produk komponen body closet duduk type CW420J.

5. Menjadi pertimbangan perusahaan untuk melakukan tindakan perbaikan.

(47)

31 A. Pengumpulan Data

1. Gambaran umum Perusahaan a. Profil Perusahaan

PT. Surya Toto Indonesia, Tbk memulai usahanya dengan nama ”CV. Surya”, CV Surya adalah suatu usaha perdagangan bahan bangunan yang bergerak dibidang bahan-bahan keramik. Ini merupakan titik awal berdirinya perusahaan PT. Surya Toto Indonesia, Tbk. Pada tahun 1968 untuk mencapai kedudukan terbaik di industri sanitary, maka perusahaan tersebut mengawali langkahnya sebagai agen dari Toto Limited dari Jepang. Yaitu salah satu pabrik terbesar didunia untuk barang-barang sanitary, perusahaan ini menggunakan teknologi yang mutakhir serta mesin yang canggih dalam memproduksi barang–barangnya.

Dengan pertimbangan banyaknya sumber daya manusia yang tersedia di Indonesia dan melihat adanya kesempatan yang menguntungkan di masa yang akan datang, karena adanya kenaikan tarif bea masuk yang cukup tinggi dari pemerintah, maka CV Surya bekerja sama dengan Toto Limited dan Kashima Trading Company Limited dari Jepang, bersama–sama membentuk PT.

Surya Toto Indonesia, Tbk. Pendirian ini dilakukan pada tahun

(48)

32

1977 dengan akte Notaris Kartini Mulyadi, SH di Jakarta pada tanggal 11 Juli 1977 no. 88, dan berkantor pusat di JL. Tomang Raya no 16-18 Jakarta Barat.

Sebagai wujud kerjasama tersebut dibangun sebuah pabrik yang berlokasi di Jl. M.H. Thamrin Km. 7 Serpong, Tangerang.

Pada tahun 1978 pabrik ini sudah beroperasi dan mempunyai jumlah karyawan sebanyak 65 orang. Sesuai perkembangan produksi yang cukup signifikan dengan ditandai semakin meningkatnya produksi yang dihasilkan.

Jenis barang yang diproduksi bentuknya beraneka ragam dan disertai perekrutan karyawan yang dilakukan hampir setiap tahun sehingga sekitar tahun 1980 produk yang dihasilkan sudah mendapat pengakuan internasional dan perusahaan dapat mengekspor produknya ke beberapa Negara Asia, Eropa, dan Amerika. Namun dari semua hal tersebut di atas yang paling terpenting adalah pembangunan pabrik yang berkesinambungan.

Usaha perseroan ini berkembang dengan pesat dan pesatnya perkembangan lebih terpacu lagi dengan keberhasilan mengisi pasar ekspor serta mendapat pengakuan dari Singapore Of Standard Research yaitu berupasertifikat untuk barang-barang Sanitary, sertifikat di terima pada tahun 1980.

Pada tahun 1985, pabrik peralatan perlengkapan Sanitary (plumbing fitting) dibangun pada lokasi yang sama. Dengan

(49)

demikian PT. Surya Toto Indonesia, Tbk memiliki dua divisi produksi, yaitu Divisi Sanitary dan Divisi Fitting.Pada tahun 1989, Divisi Sanitary menambah pabrik baru pada lokasi yang berbeda, yaitu di desa Bojong, Cikupa, Kabupaten Tangerang.

Satu tahun kemudian tepatnya pada tahun 1990, PT. Surya Toto Indonesia, Tbk melepas sahamnya ke Bursa Efek Jakarta, sehingga namanya berubah menjadi PT. Surya Toto Indonesia, Tbk. Saat ini jumlah total karyawan yang bekerja mencapai ribuan orang dengan kapasitas produksi mencapai lebih dari 1.000.000 unit per tahunnya.

b. Produk

PT. Surya Toto Indonesia, Tbk memproduksi bermacam- macam produk. Produk-produk ini dapat diklasifikasikan menjadi tiga, yaitu produk-produk saniter (sanitary wares) dan produk- produk peralatan dan perlengkapan saniter (plumbing fittings).

Untuk PT. Surya Toto Indonesia, Tbk unit Cikupa ini memproduksi produk-produk saniter (sanitary wares), produk yangdihasilkan yaitu seperti closet, westafel, bathub, tempat buang air kecil pria dan lain-lain.

c. Proses Produksi

Proses produksi Rim dan Body closet type CW420J.

(50)

34

1) Forming atau Pencetakan

a) Pertama menyiapkan alat-alat yang akan digunakan dalam proses produksi percetakan.

b) Mempersiapkan slip (bahan baku) dengan melakukan sirkulasi slip. Dilakukannya sirkulasi slip agar pada saat proses penyaluran slip ke dalam cetakan rim, tidak terjadi penyumbatan atau hambatan.

c) Mempersiapkan cetakan rim, dengan cara membersihkan cetakan dari kotoran yang ada pada cetakan menggunakan semprotan udara dan air.

d) Selanjutnya proses pengisian slip (bahan baku) kedalam cetakan rim hingga penuh.

e) Kemudian proses Casting, yaitu proses pembentukan rim sesuai cetakannya selama 35 sampai 40 menit.

f) Pada saat proses Casting rim, dilanjutkan mempersiapkan slip (bahan baku) dengan melakukan sirkulasi slip. Slip tersebut digunakan untuk proses pencetakan body.

g) Mempersiapkan cetakan body, dengan membersihkan kotoran yang ada pada cetakan menggunakan semprotan udara dan air.

h) Selanjutnya proses pengisian slip (bahan baku) kedalam cetakan body hingga penuh.

(51)

i) Kemudian proses Casting, yaitu proses pembentukan body sesuai cetakannya selama 35 sampai 40 menit.

j) Pada saat proses Casting body berlangsung, kembali ke proses Casting rim. Proses Casting rim selesai dilanjutkan proses pembuang sisa slip. Proses pembuangan sisa slip adalah proses membuang sisa-sisa pasir yang ada dalam rongga-rongga, dengan cara dihisap dengan mesin pompa udara.

k) Selanjutnya angin time, yaitu proses pengerasaan rim dengan cara diberi tekanan angin berulang-ulang selama 15 menit. Proses angin time tergantung keadaan cuaca, jika cuaca mendung waktunya di tambah lima menit.

Dikarenakan angin time yang berkualitas adalah pada saat cuaca cerah. Dari proses angin time, masih menyisakan kadar air sebanyak 80%. Jadi produk belum begitu keras.

l) Setelah proses angin time selesai, rim dilepaskan dari cetakan dan dipindahkan ke meja produksi.

m) Selanjutnya proses pelubangan pada rim sesuai cetakan yang sudah di bentuk pada saat proses Casting.

n) Proses Casting body selesai dilanjutkan pembuangan sisa slip untuk body.

o) Setelah itu adalah proses angin time untuk body.

(52)

36

p) Selanjutnya body dilepaskan dari cetakan dan dipindahkan ke meja produksi.

q) Lalu membuat lubang di bagian bawah body sekaligus memasang lidah pada body.

r) Setelah itu memasangkan rim di bagian atas body dengan menggunakan bahan perekat

s) Selanjutnya finishing body awal, dengan mengerok bagian dalam body dan luar body, lalu di cuci menggunakan spoon busa agar body rata dan halus.

t) Lalu menunggu body keras selama 15 menit.

u) Setelah kering body dibalik.

v) Selanjutnya finishing body akhir, dengan cara mengerok bagian luar body dan bawah body, lalu di cuci menggunakan spoon busa agar body rata dan halus

w) Dan terakhir proses pengeringan awal. Produk dibiarkan diruang forming dan di tutupi kain berlapis 5. Tujuan ditutupi kain agar kelembaman produk tetap terjaga. Pada malam hari ruang forming di atur suhunya antara 49’C sampai 59’C.

2) Dry Body atau Pengeringan

Setelah proses forming selesai, body dibawa ke ruang Thermic atau pengeringan. Pengeringan dilakukan selama 18 jam, dimulai dari jam 10 pagi sampai jam empat pagi. Suhunya pun

(53)

tidak langsung maksimal, tetapi dimulai dari 30’C sampai 90’C. Fungsi dari proses pengeringan adalah agar kadar air yang berada di body hilang, sehingga body menjadi keras.

3) Pengecekan

Setelah proses pengeringan selesai, body di cek apakah body ada yang retak atau tidak.

4) Glazing atau pengecatan

Selanjutnya adalah proses glazing atau pengecatan. Produk yang sudah di cek, selanjutnya di bawa ke ruang glazing.

Produk di semprot menggunakan kompresor agar cairan cat yang keluar lebih maksimal dan rata. Sehabis proses glazing tidak memerlukan lagi proses penjemuran atau pengeringan cat, dikarenakan glazing lebih mudah kering.

5) Kama atau Pembakaran

Proses kama adalah proses pembakaran produk yang berfungsi agar produk lebih kuat, tahan lama dan lapisan glaze menjadi lebih mengkilap. Proses kama dilakukan dengan menjalankan produk dengan troli besar selama 23 jam menggunakan Rhiedammer, dimulai dengan suhu yang paling rendah 90’C dan untuk suhu tertingginya yaitu 1147’C. Setelah suhu tertinggi terakhir, suhu menurun menjadi 840’C.

(54)

38

6) Quality Control

Setelah proses pembakaran selesai, dilakukan pengecekan pada body tersebut sebelum dilanjutkan ke proses Assembling.

7) Perakitan dan Packing

Selanjutnya produk yang sudah lolos quality control di bawa ke tempat perakitan untuk dirakit. Selanjutnya setelah di rakit dilakukan packing. Setelah produk di packing, lalu dibawa ke gudang siap kirim.

d. Jenis cacat komponen body

K = Retak B = Debu karma

P = Lubang Kecil M = Bentuk berubah

G = Body ngelupas S = Glaze kurang

N = Body kurang V = Debu Body

I = Luka atau terbentur

2. Data Produksi CW 420 J

Tabel 4.1 Data Produksi CW 420 J

Waktu

Jumlah Produksi

(Unit)

Jumlah Cacat (Unit)

Jenis Cacat (Unit)

M K P G N V S I B

Sep 2018 5227 1079 11 241 197 64 223 88 151 69 35

Okt 2018 6418 1179 16 199 183 130 241 65 207 66 72

Nov 2018 5486 985 18 168 153 101 251 80 137 65 12

Des 2018 6070 1303 52 268 242 95 300 115 143 71 17

(55)

Lanjutan Tabel 4.1 Data Produksi CW 420 J

Waktu

Jumlah Produksi

(Unit)

Jumlah Cacat (Unit)

Jenis Cacat (Unit)

M K P G N V S I B

Jan 2019 4102 924 19 279 167 105 161 63 52 65 13

Feb 2019 7014 1665 22 431 328 126 398 105 143 78 34

Mar 2019 6675 1474 25 420 258 114 297 121 128 85 26

Apr 2019 6093 1401 45 257 309 215 272 120 95 55 33

Mei 2019 6989 1161 72 304 266 139 160 88 59 49 24

Jun 2019 6496 908 57 242 191 102 141 75 47 29 24

Jul 2019 4218 763 63 237 174 84 90 50 30 23 12

Agt 2019 4960 834 30 305 152 92 131 38 27 42 17

Total 69748 13676 430 3351 2620 1367 2665 1008 1219 697 319

3. Data Proporsi Kecacatan

Tabel 4.2 Data Proporsi Kecacatan

Waktu Jumlah Produksi (Unit)

Jumlah Cacat (Unit)

Proporsi Kecacatan

Sep 2018 5227 1079 0,21

Okt 2018 6418 1179 0,18

Nov 2018 5486 985 0,18

Des 2018 6070 1303 0,21

Jan 2019 4102 924 0,23

Feb 2019 7014 1665 0,24

Mar 2019 6675 1474 0,22

Apr 2019 6093 1401 0,23

Mei 2019 6989 1161 0,17

Referensi

Dokumen terkait