Tersedia online di
https://ojs.unublitar.ac.id/index.php/jtpdm Sejarah artikel
Diterima pada : 11 – 05 – 2022 Disetujui pada : 25 – 05 - 2022 Dipublikasikan pada : 01 – 06 – 2022
Kata kunci: Supervisi, Individual Conference, Metode Pembelajaran
DOI:https://doi.org/10.28926/jtpdm.v2i2.429
Meningkatkan Kemampuan Guru dalam Menentukan Metode Pembelajaran melalui Kegiatan Supervisi
dengan Teknik Individual Conference di SMK Negeri 1 Bojonegoro
Fatkhurrokhim (1)
1SMK Negeri 1 Bojonegoro, Indonesia Email: 1[email protected]
Abstrak: Dari hasil angket yang telah disebarkan dan hasil observasi yang dilakukan oleh peneliti maka terjadi perubahan kemampuan guru menentukan metode pembelajaran dalam penerapan supervisi Teknik Individual Conference, untuk lebih jelasnya maka penelitian akan membahas hasil penelitian berdasarkan kegiatan tersebut. Dari data yang
diserap dari responden maka dapat dikatakan bahwa sebelumnya pada siklus pertama masih terdapat guru yang belum mengerti akan pengertian supervisi dan 50% belum pernah disupervisi. Setelah dilaksanakan supervisi Teknik Individual Conference dengan baik maka pada siklus berikutnya, pengetahuan guru dan intensitas pelaksanaan supervisi meningkat yang pada akhirnya 75% guru pernah disupervisi khususnya dengan Teknik Individual Conference.Dan dari hasil observasi diketahui bahwa supervisi Teknik Individual Conference dapat memberikan dampak positif pada guru dan siswa karena semua guru menjawab hal tersebut dan jumlahnya 100% mengatakan hal yang sama. Kemampuan guru menentukan metode pembelajaran meningkat karena mereka dapat mengatasi masalah bersama dengan kepala sekolah saat supervisi Teknik Individual Conference berlangsung.
PENDAHULUAN
Dari berbagai macam metode yang diterapkan dalam proses belajar mengajar, seperti ceramah, tanya jawab, demonstrasi, diskusi, simulasi dan lain-lain.
Guru harus memilih metode yang tepat dalam pembelajaran, sehingga kegiatan belajar mengajar dapat dijalankan dengan baik.
Pendidikan tidak hanya ditujukan untuk meningkatkan kecerdasan intelektual, tetapi juga mengembangkan kecerdasan emosional, kecerdasan sosial, kecerdasan adversitas, kecerdasan ekologis, dan kecerdasan spiritual (Zainuddin, Waluyo, &
Saifudin, 2020). Pendidikan diartikan sebagai usaha sadar untuk mencapai suatu pengetahuan, sikap dan ketrampilan (Sholichin, Saifudin, & Buana, 2019).
Dalam dunia Pendidikan bagian terpenting adalah pendidik atau yang lebih kita kenal dangan sebutan guru. Pendidik diharapkan dapat mengembangkan materi pembelajaran, hal ini dipertegas melalui Permendiknas Nomor 41 tahun 2007 tentang standar proses yang berbunyi perencanaan proses pembelajaran yang mensyaratkan pendidik untuk mengembangkan rencana program semester (RPS) (Saifudin, 2018).
Berdasarkan pengamatan, guru di lapangan jarang menggunakan metode mengajar secara optimal. Kondisi ini disebabkan oleh kenyataan bahwa tugas yang diemban guru sebagai perancang pembelajaran adalah sangat rumit, karena berhadapan dengan 2 variabel yaitu cakupan isi pembelajaran dan seperangkat sikapm kemampuan dan karakter siswa yang masuk dalam pembelajaran.
Metode pembelajaran penting dilakukan karena metode pembelajaran adalah cara-cara atau tehnik penyajian bahan pelajaran yang akan digunakan oleh guru pada saat menyajikan bahan pelajaran, baik individual maupun secara kelompok. Agar tercapainya tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan, seorang guru harus mengetahui berbagai metode. Dengan memiliki pengetahuan mengenai sifat berbagai metode maka seorang guru akan lebih mudah menetapkan metode yang paling sesuai dengan situasi dan kondisi.
Dari berbagai pengertian diatas dapat diambil kesimpulan bahwa metode merupakan cara untuk menyajikan bahan pembelajaran agar dapat mencapai tujuan pembelajaran dengan cepat dan tepat.
Untuk menunjang reformasi di dunia pendidikan, dibutuhkan guru yang professional. Menurut Aqib (2002 : 14), guru yang profesional adalah guru yang memenuhi syarat-syarat berikut : (a) Memiliki semangat juang yang tinggi disertai kualitas keimanan dan ketakwaan yang mantap; (b) Mampu mewujudkan dirinya dalam keterkaitan dan pandangan dengan tuntutan lingkungan dan
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi;
(c) Mempunyai kualitas kompetensi pribadi dan profesional yang memadai disertai kerja yang kuat; (d) Memiliki kualitas kesejahteraan yang memadai; dan (e) mandiri, kreatif, dan berwawasan masa depan.
Terkait dengan hal di atas, untuk melaksanakan supervisi yang bervariasi dan tidak monoton, seorang pengawas atau supervisor dapat menggunakan bermacam-macam teknik yang bahkan dapat disesuaikan dengan kegiatan supervisi yang dilaksanakan. Dalam penelitian ini, peneliti ingin meningkatkan kemampuan guru menentukan metode pembelajaran dengan melaksanakan supervisi pada kegiatan mengajar guru yang menggunakan Teknik Individual Conference, dengan harapan akan tercapai kemampuan guru menentukan metode pembelajaran dan pada akhirnya yang menjadi guru yang profesional.
METODE
Supervisi yang dilakukan supervisor itu mempunyai bermacam-macam cara atau jenis yang dapat dilakukan. Maka untuk upaya meningkatkan kemampuan guru menentukan metode pembelajaran, salah satu jenis supervisi yang sesuai adalah Teknik Individual Conference.
Dengan Teknik Individual Conference dapat diketahui secara langsung kinerja guru sehingga guru meningkat efektivitas kerjanya. Kemampuan guru menentukan metode pembelajaran yang tinggi akibat adanya supervisi Teknik Individual Conference yang tepat dan berdampak terhadap guru sehingga dapat meningkatkan kinerjanya.
Sementara jika tidak dilaksanakan supervisi terutama dengan Teknik Individual Conference, maka berdampak pada rencahnya kemampuan guru menentukan metode pembelajaran.
Desain Penelitian
1. Mengadakan deseminasi kepada guru sekolah menengah pertama.
Mengadakan pembinaan kepada guru sekolah menengah pertama untuk menambah pemahaman bagi guru agar dapat meningkatkan kemampuan guru menentukan metode pembelajaran dengan Teknik Individual Conference.
2. Mengadakan pengamatan setelah diberi pembinaan tentang pemahaman terhadap pelaksanaan kemampuan guru menentukan metode pembelajaran dalam hubungannya dengan prinsip-prinsip pengajaran sesuai dengan kompetensinya.
3. Memberikan angket kepada guru selaku bawahannya yang menjadi subjek/
pelaksanaan tugas di sekolah. Di samping itu angket kepada guru sebagai jawaban atas dirinya terhadap kegiatan yang dilakukan. Bagi guru diberi angket tentang pendapat dan pelaksanaan kegiatan Teknik Individual
Conference untuk meningkatkan kemampuan guru menentukan metode pembelajaran.
Subjek Penelitian
Subjek dalam penelitian tindakan ini adalah guru SMK Negeri 1 Bojonegoro pada semester I tahun pelajaran 2021/2022. Dalam penelitian ini peneliti menjabat sebagai kepala di SMK Negeri 1 Bojonegoro.
Lokasi dan Waktu Penelitian 1. Lokasi
Lokasi penelitian tindakan sekolah ini adalah di SMK Negeri 1 Bojonegoro.
2. Waktu penelitian
Waktu penelitian dimulai pada akhir bulan Agustus sampai dengan pertengahan bulan Oktober 2021 dengan rincian :
- Pelaksanaan deseminasi tanggal 8 September 2021.
- Mengadakan pengamatan terhadap aktifitas guru tanggal 11 sampai dengan 25 September 2021.
- Pemberian angket kepada guru tanggal 26 September 2021 sebagai siklus 1.
- Siklus ke 2 tanggal 1 Oktober 2021.
- Siklus ke 3 tanggal 8 Oktober 2021.
Prosedur Penelitian
Gambar 3.1 Pelaksanaan Siklus Penelitian 1. Siklus Pertama
a. Tahap persiapan
- Merancang lembar observasi.
- Membuat lembar observasi.
b. Tahap pelaksanaan
Meliputi kegiatan-kegiatan berikut : o Menyampaikan tujuan observasi, o Peneliti mengadakan observasi,
o Peneliti memantau pelaksanaan Teknik Individual Conference di sekolah.
c. Observasi
Berdasarkan hasil di lapangan dilakukan pembahasan lebih lanjut.
d. Refleksi
Dengan berpedoman dari hasil observasi di atas maka penulis melakukan beberapa tindakan yang diperlukan untuk memperbaiki dampak yang ditimbulkan oleh suatu Teknik Individual Conference, agar nantinya terjadi peningkatan yang berarti pada siklus ke 2.
2. Siklus Kedua a. Perencanaan
o Peneliti menerangkan tujuan dari penelitian.
o Peneliti memberi bimbingan dan arahan tentang Teknik Individual Conference.
o Peneliti mengembangkan konsep dan strategi Teknik Individual Conference.
o Guru mengembangkan Teknik Individual Conference.
o Subjek penelitian membuat catatan pribadi.
b. Pelaksanaan
Semua kegiatan dapat dilaksanakan dalam pelaksanaan Teknik Individual Conference.
o Peneliti menyebarkan angket untuk diisi oleh responden di samping itu membuat lembar obsrevasi.
o Hasil sebaran angket dan lembar observasi kemudian diolah untuk mengetahui peningkatan kemampuan guru menentukan metode pembelajaran berdasarkan Teknik Individual Conference dibandingkan dengan siklus 1.
o Diharapkan nantinya Teknik Individual Conference yang diterapkan dapat membawa dampak positif terhadap peningkatan kemampuan guru menentukan metode pembelajaran.
c. Observasi
Berdasarkan hasil sebaran angket dan lembar observasi serta catatan yang diperoleh di lapangan saat berlangsungnya pelaksanaan dan penerapan Teknik Individual Conference.
d. Refleksi
Berdasarkan hasil pelaksanaan pada siklus kedua dan berpedoman dari hasil observasi di atas maka penulis melakukan beberapa tindakan yang diperlukan untuk mengeliminasi kelemahan-kelemahan dan hambatan- hambatan yang terdapat dalam penerapan Teknik Individual Conference yang diterapkan supervisor yang mendorong peningkatan kemampuan guru menentukan metode pembelajaran, agar nantinya pada siklus ke 3 terjadi peningkatan kemampuan guru menentukan metode pembelajaran yang signifikan.
Berdasarkan hasil pelaksanaan pada siklus kedua diperoleh temuan dan catatan yang berarti untuk diambil kesimpulan faktor pendorong dan penghambat dari Teknik Individual Conference terhadap kemampuan guru menentukan metode pembelajaran.
3. Siklus Ketiga a. Perencanaan
o Peneliti menyampaikan Teknik Individual Conference.
o Peneliti memberikan arahan dan bimbingan tentang penerapan Teknik Individual Conference.
o Peneliti dan kolaborator membuat catatan pribadi.
b. Pelaksanaan
Semua kegiatan dapat dilaksanakan dengan Teknik Individual Conference yang dapat meningkatkan kemampuan guru menentukan metode pembelajaran.
- Peneliti menyebarkan angket untuk diisi oleh responden disamping itu membuat lembar observasi.
- Hasil sebaran angket dan lembar observasi kemudian diiolah untuk mengetahui peningkatan penerapan Teknik Individual Conference yang diterapkan pengawas sekolah dibandingkan dengan siklus I dan II.
- Pada siklus ini semua kegiatan yang terkait dengan penerapan Teknik Individual Conference yang direncanakan dapat dilaksanakan dan membawa dampak yang signifikan terhadap peningkatan kemampuan guru menentukan metode pembelajaran.
c. Observasi
Berdasarkan hasil sebaran angket dan lembar observasi serta catatan yang diperoleh di lapangan dilakukan pembahasan lebih mendalam.
Yang berhasil dikumpulkan data yang menjadi dasar pelaksanaan Teknik Individual Conference.
d. Refleksi
Berdasarkan hasil pelaksanaan pada siklus ketiga dan berpedoman dari hasil observasi di atas maka diperoleh hal-hal yang berkenaan dengan siklus yang telah dilakukan.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Berdasarkan hasil sebaran angket dan survei Teknik Individual Conference yang dilakukan oleh peneliti maka diperoleh data pada siklus 1, siklus 2 dan siklus 3 sebagai berikut :
Berdasarkan data SMK Negeri 1 Bojonegoro - Siklus 1
Pengetahuan supervisi = 1 atau 25%
Pernah disupervisi = 2 atau 50%
Pengetahuan Individual Conference = 0 atau 0%
Pernah menjalani Individual Conference = 0 atau 0%
Antusiasme Individual Conference = 1 atau 25%
Dampak positif pada guru = 3 atau 75%
Dampak positif pada prestasi siswa = 2 atau 50%
Dampak negatif Individual Conference tidak ada atau 0%
- Siklus 2
Pengetahuan supervisi = 2 atau 50%
Pernah disupervisi = 3 atau 75%
Pengetahuan Individual Conference = 1 atau 25%
Pernah menjalani Individual Conference = 1 atau 25%
Antusiasme Individual Conference = 2 atau 50%
Dampak positif pada guru = 3 atau 75%
Dampak positif pada prestasi siswa = 2 atau 50%
Dampak negatif Individual Conference tidak ada atau 0%
- Siklus 3
Pengetahuan supervisi = 4 atau 100%
Pernah disupervisi = 3 atau 75%
Pengetahuan Individual Conference = 3 atau 75%
Pernah menjalani Individual Conference = 3 atau 75%
Antusiasme Individual Conference = 4 atau 100%
Dampak positif pada guru = 4 atau 100%
Dampak positif pada prestasi siswa = 4 atau 100%
Dampak negatif Individual Conference tidak ada atau 0%
Pembahasan
Dari hasil angket yang telah disebarkan dan hasil observasi yang dilakukan oleh peneliti maka terjadi perubahan kemampuan guru menentukan metode pembelajaran dalam penerapan supervisi Teknik Individual Conference,
untuk lebih jelasnya maka penelitian akan membahas hasil penelitian berdasarkan kegiatan tersebut.
Dari data yang diserap dari responden maka dapat dikatakan bahwa sebelumnya pada siklus pertama masih terdapat guru yang belum mengerti akan pengertian supervisi dan 50% belum pernah disupervisi.
Namun setelah dilaksanakan supervisi Teknik Individual Conference dengan baik maka pada siklus berikutnya, pengetahuan guru dan intensitas pelaksanaan supervisi meningkat yang pada akhirnya 75% guru pernah disupervisi khususnya dengan Teknik Individual Conference.
Dan dari hasil observasi diketahui bahwa supervisi Teknik Individual Conference dapat memberikan dampak positif pada guru dan siswa karena semua guru menjawab hal tersebut dan jumlahnya 100% mengatakan hal yang sama.
Kemampuan guru menentukan metode pembelajaran meningkat karena mereka dapat mengatasi masalah bersama dengan kepala sekolah saat supervisi Teknik Individual Conference berlangsung.
KESIMPULAN
1. Dari hasil observasi diketahui bahwa supervisi Teknik Individual Conference dapat memberikan dampak positif pada guru dan siswa karena semua guru menjawab hal tersebut dan jumlahnya 100% mengatakan hal yang sama.
Kemampuan guru menentukan metode pembelajaran meningkat karena mereka dapat mengatasi masalah bersama dengan pengawas sekolah saat supervisi Teknik Individual Conference berlangsung.
2. Upaya yang dilaksanakan oleh kepala sekolah melalui supervisi Teknik Individual Conference yang tepat yang melibatkan semua guru dapat meningkatkan kemampuan guru menentukan metode pembelajaran pada SMK Negeri 1 Bojonegoro.
3. Peningkatan kemampuan guru menentukan metode pembelajaran dapat optimal melalui penerapan supervisi Teknik Individual Conference yang tepat dan demokratis.
4. Bahwa dari hasil penelitian ini supervisi Teknik Individual Conference dapat meningkatkan kemampuan guru menentukan metode pembelajaran.
DAFTAR RUJUKAN
Dedy Sugono, dkk, 2008. Kamus Bahasa Indonesia, Jakarta, Pusat Bahasa, Depdiknas.
Depdiknas, 2008. Pengembangan Perangkat Penilaian Afektif, Jakarta, Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Atas, Dikdasmen.
Depdiknas, 2008. Pembelajaran Tuntas, Jakarta, Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Atas, Dikdasmen.
Sukestiarno, 2001, Paradigma Baru Sistem Pendidikan Diera Otonomi Pendidikan Menuntut Pelaku Pendidikan Melalui Matematika Lebih Mandiri dan Kreatif, Semarang. Makalah dalam Seminar Nasional UNNES,.
Depdiknas, 2000, Bekerja Dengan Guru, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah.
Depdikbud, 1997/1998, Pedoman Pelaksanaan Sistem Pembinaan Profesional Guru SMP melalui Gugus Sekolah, Jakarta : Dirjen Direktorat Pendidikan Menengah.
Depdikbud, 1995/1996, Pedoman Kerja Supervisi, Jakarta : Dirjen Dikdasmen, Direktorat Pendidikan Menengah.
Depdikbud, 1996, Pengelolaan Sekolah Di Sekolah Menengah, Jakarta : Dirjen Dikdasmen.
Depdiknas, 2001, Peningkatan Mutu Di Sekolah Menengah, Jakarta : Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah.
Depdikbud, 1997, Penyelenggaraan Pendidikan di Sekolah Menengah, Jakarta : Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah.
Piet, A., Sahertian, Drs; Frans Mataheru, 1981, Prinsip dan Teknik Supervisi Pendidikan, Surabaya : Usaha Nasional.
Purwanto, Ngalim. (2003). Administrasi dan Supervisi Pendidikan. Bandung:
Rosdakarya. Sergiovanni,
Soekarto Indrafachrudi, Drs. H., dkk, 1996, Bagaimana Memimpin Sekolah yang Efektif, Malang : CV. Ardi Manunggal Jaya.
Sahertian, Piet A. 2000. Konsep-Konsep dan Teknik Supervisi Pendidikan Dalam Rangka Pengembangan Sumber Daya Manusia. Jakarta: Rineka Cipta.
Saifudin, A. (2018). Pengembangan Buku Ajar Mata Kuliah Cross Cultural Understanding (CCU) Berbasis Media Sosial di Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Nahdlatul Ulama Blitar. Briliant: Jurnal Riset Dan Konseptual, 3(4), 516. https://doi.org/10.28926/briliant.v3i4.252
Sholichin, R., Saifudin, A., & Buana, V. G. (2019). Dynamics of Use of Methods And Teaching Books in TPQ Learning Under The Ring of LP. Ma’arif in Garum, Blitar.
Journal of Development Research, 3(1), 31–36.
Supandi. 1996. Administrasi dan Supervisi Pendidikan. Jakarta: Departemen Agama Universitas Terbuka.
Suprihatin, MD. 1989. Administrasi Pendidikan, Fungsi dan Tanggung Jawab Kepala Sekolah sebagai Administrator dan Supervisor Sekolah. Semarang: IKIP Semarang Press.
Zainuddin, H. M., Waluyo, B., & Saifudin, A. (2020). Developing Character by Applying the Model of “ Makan Kembul ” to Grow Attitudes of Independence, Togetherness, Responsibility, and Respect for Others . 487(Ecpe), 230–234.
https://doi.org/10.2991/assehr.k.201112.040